Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Mengikuti langkah Rasulullah SAW dilakukan dengan langkah membina tauhid pada setiap diri orang-orang beriman hingga setiap orang beriman dapat beribadah kepada Allah dengan sebaik-baiknya terbebas dari syirik dan kekufuran. Tauhid harus dibina dalam diri setiap mukmin dengan cara membina akhlak mulia yang tumbuh di atas sifat pengasih dan penyayang. Hampir setiap orang islam mengetahui terminologi tauhid, tetapi sangat banyak yang tidak mengetahui jalan yang harus ditempuh untuk meningkatkan kualitas tauhid dalam diri mereka. Sebagian besar kaum muslimin menempuh cara pemurnian ibadah dengan membayangkan diri hanya beribadah semata-mata untuk Allah, dan dengan cara itu mereka merasa telah menjadi hamba terbaik dalam beribadah kepada Allah. Sebenarnya tidak demikian. Pembinaan akhlak mulia hanya dapat dilakukan dengan membina sifat rahman dan sifat rahim sebagai landasan pertumbuhan akhlak.
﴾۱﴿بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.(QS Al-Fatihah : 1)
Sifat rahman menunjukkan pada pengenalan seseorang terhadap kehendak Allah. Hal itu ditunjukkan dengan kekuatan akal dalam memahami firman Allah dalam Alquran dan pada ayat kauniyah secara sinergis. Sifat rahim menunjuk pada keinginan untuk memberikan kebaikan bagi makhluk lain. Gambaran besar sifat ini terdapat pada diri perempuan yang menyayangi anaknya dengan selalu siap memberikan yang terbaik untuk anaknya. Sebenarnya semua manusia mempunyai potensi untuk menumbuhkan rasa sayang terhadap makhluk lain sebagaimana seorang ibu menyayangi anaknya, walaupun mungkin dalam intensitas yang lebih rendah. Setiap orang harus berusaha menumbuhkan sifat demikian dengan sebaik-baiknya.
Sifat rahman harus dibina dengan menempuh jalan taubat, melakukan tazkiyatun-nafs sebagai awal melangkah dan membina nafs untuk mencintai tuntunan-tuntunan yang diturunkan Allah. Pembinaan demikian ini akan menjadikan seseorang sebagai misykat cahaya yang dapat membentuk bayangan cahaya Allah dalam dirinya. Ia dapat mengarahkan cahaya Allah yang datang untuk membentuk bayangan kehendak-Nya secara tepat, dan dapat menahan kebathilan-kebathilan untuk mencampuri bayangan yang terbentuk. Sifat rahman harus disertai dengan pembinaan sifat rahim. Sifat pembinaan sifat rahim mengikuti sifat rahman. Mengusahakan kebaikan harus dilakukan dengan seksama dengan mengikuti tuntunan. Tanda mengikuti tuntunan itu adalah terbentuknya diri dalam jamaah Rasulullah SAW. Manakala proses pengusahaan kebaikan justru membuat seseorang keluar dari al-jamaah, mereka sebenarnya tidak berbuat kebaikan karena kebaikan yang mereka lakukan sebenarnya justru merusak.
Pertumbuhan akhlak mulia akan menjadikan seseorang mengenal Allah. Ini adalah pengenalan kepada Allah yang sebenarnya, terjadi karena terbinanya sifat-sifat baik pada diri seseorang. Kemuliaan sifat Allah akan dikenali oleh orang-orang yang memperoleh percikan sifat mulia. Misalnya seseorang dengan sifat pemaaf-lah yang akan mempunyai penghormatan terhadap sifat pemaaf Allah. Seseorang yang menyimpan sifat pendendam akan memandang buruk sifat pemaaf karena mungkin dipandang lemah. Terbangunnya sifat-sifat mulia pada diri seseorang itulah yang akan mengantarkan mereka untuk mengenal Allah. Dengan pengenalan terhadap Allah, seseorang dapat menunaikan kehendak Allah dengan benar tidak menyimpang baik karena mengikuti hawa nafsu ataupun karena tipuan syaitan, maka ia dapat beribadah kepada Allah dengan lebih murni. Manakala seseorang tidak mengenal Allah, barangkali ia berkeinginan bersembah kepada Allah tetapi berbuat justru mengikuti dorongan hawa nafsu atau syaitan, maka ia tidak dapat beribadah dengan benar kepada Allah, sebagaimana Dzulkhuwaisirah merasa beribadah dengan baik kepada Allah.
Mewujudkan Keadaan yang Baik
Mengusahakan kebaikan harus dilakukan dengan seksama dengan mengikuti tuntunan. Tanda mengikuti tuntunan itu adalah terbentuknya diri dalam jamaah Rasulullah SAW. Manakala proses pengusahaan kebaikan justru membuat seseorang keluar dari al-jamaah, mereka sebenarnya tidak berbuat kebaikan karena kebaikan yang mereka lakukan sebenarnya justru merusak. Hal ini seperti seorang perempuan yang berjuang untuk agama tetapi berbuat durhaka terhadap suaminya, maka ia sebenarnya berbuat kerusakan bagi bangsanya. Fungsi diri seorang perempuan sebagai tiang negara akan rusak manakala ia durhaka terhadap suaminya. Setiap orang beriman harus berusaha sebaik-baiknya untuk berbuat kebaikan dengan mengikuti tuntunan yang diturunkan Allah hingga ia termasuk dalam golongan al-jamaah.
Al-jamaah merupakan persatuan orang-orang yang membangun akhlak mulia di atas sifat rahman dan rahim. Mereka orang-orang yang berusaha mewujudkan kehendak Allah dengan benar dalam suatu jalinan bersama yang berjalin satu dengan yang lain dalam satu urusan Allah yaitu amr jami’ yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. Masing-masing mengetahui kedudukan diri dalam urusan amr jami’ tersebut dan dapat berjalin rapi dengan orang lain yang bersama mereka dalam urusan itu tanpa mengunggulkan diri. Di antara mereka diberi urusan yang lebih luas sebagai ulil amri yang memegang urusan tertentu dalam al-jamaah.
﴾۹۵﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An-Nisaa : 59)
Orang-orang beriman hendaknya menyatukan diri mereka dalam urusan Allah melalui ketaatan kepada Rasulullah SAW dan ketaatan pada para ulil amri di antara mereka dalam suatu al-jamaah. Mereka harus berusaha untuk memahami urusan Allah untuk ruang dan jaman mereka sebagai bagian dari amr jami’ Rasulullah SAW dan menemukan para ulil amri di antara mereka untuk dapat mengerjakan urusan Allah dengan tepat. Manakala kaum muslimin tidak berusaha, mereka akan terjebak dalam urusan-urusan yang memayahkan diri mereka tidak mendapatkan sahabat yang berusaha membersamai berusaha memberikan kebaikan bagi kehidupan di alam semesta. Perjalanan menemukan al-jamaah membutuhkan usaha sungguh-sungguh dengan berusaha memahami tuntunan Allah.
Setiap orang harus berusaha menempatkan diri dalam al-jamaah melalui para ulil amr yang ada di antara mereka. Pokok dari al-jamaah itu adalah ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Rasulullah SAW, sedangkan wujud al-jamaah itu ditunjukkan oleh ulul amri dalam urusan ulul amri itu. Umat manusia hendaknya berusaha mentaati ulul amri di antara mereka karena dapat menunjukkan kepada al-jamaah. Tetapi ketaatan pada ulul amri berlaku dengan syarat tidak menyelisihi atau menentang tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala menentang tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka tidak menunjukkan kepada Aljamaah. Manakala menyelisihinya, mereka tidak tepat dalam menunjukkan manusia kepada Al-jamaah. Dalam kasus tertentu, umat manusia boleh tidak bersepakat dengan para ulul amri tetapi harus mendasarkan pendapatnya pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Manusia ditempatkan di alam bumi yang diberi kerumitan kehidupan tinggi. Manakala tidak berusaha sungguh-sungguh menemukan al-jamaah, mereka akan menemukan pemimpin yang keliru mengarahkan kehidupan tidak menuju kebaikan. Sebagian manusia berusaha menempatkan diri sebagai pemimpin dengan berbagai pencitraan yang menipu tanpa mempunyai pengetahuan tentang ketentuan Allah atau bahkan tidak mempunyai iktikad yang baik. Banyak di antara pemimpin manusia sebenarnya hanya mencari keuntungan duniawi yang memuaskan syahwat dan hawa nafsu tidak memikirkan kebaikan bersama-sama dengan yang lain, apalagi mengusahakan terwujudnya tatanan mengikuti kehendak Allah. Mereka menonjolkan diri dengan kekuatan diri yang kadangkala disertai suatu persekutuan dengan syaitan. Orang-orang yang berkeinginan baik ditenggelamkan kiprahnya dari tata bermasyarakat, dan orang-orang yang buruk diikutsertakan dalam kiprah mereka seraya dijebak dengan berbagai jeratan untuk membuat mereka tunduk. Orang-orang yang bodoh dibuat terpesona dengan keunggulan dirinya agar menjadikannya pemimpin, dan dengan mudahnya manusia tertipu untuk menjadikan orang-orang demikian sebagai pemimpin.
Aljamaah merupakan keadaan terbaik yang benar-benar dapat dicapai oleh umat manusia, dan pangkal keberjamaahan adalah para ulul amr. Pada setiap jaman, ada orang-orang yang mengerti urusan yang harus ditunaikan sesuai dengan penciptaan dirinya hingga ia menjadi seorang ulul amr. Mereka adalah pokok yang akan mengarahkan masyarakat untuk menuju tatanan Aljamaah. Manakala orang-orang atau masyarakat memperhatikan dan mentaati penjelasan-penjelasan yang disampaikan para ulul amri, mereka akan dapat mengarahkan kehidupan untuk menyatukan diri dengan al-jamaah. Sebaliknya manakala mereka mengabaikan penjelasan-penjelasan dari para ulul amri, mereka akan terjebak pada kerumitan kehidupan alam dunia hingga dipimpin oleh orang-orang yang menjadikan diri sebagai pemimpin dengan jalan yang kotor hingga kehidupan mereka akan menjadi semakin sulit. Ketaatan kepada ulil amri setidaknya akan menjadikan seseorang mempunyai arah kehidupan sekalipun masyarakat besar sedang terjebak pada tata bermasyarakat yang buruk. Semakin baik ketaatan masyarakat pada ulul amr maka akan semakin baik pula tatanan masyarakat besar mereka.
Ketaatan pada ulul amr tidak selalu ditunjukkan dengan ketaatan pada pemimpin. Para ulil amr tidaklah selalu menjadi pemimpin bagi para manusia, dan sebaliknya para pemimpin manusia tidak selalu dari kalangan ulil amri. Pada umat yang buruk, pemimpin yang diangkat bagi mereka adalah pemimpin yang buruk. Pada umat yang baik, pemimpin yang diangkat bagi mereka adalah pemimpin yang baik. Manakala umat dalam keadaan buruk, ketaatan sepenuhnya seseorang pada pemimpin sangat mungkin akan menjadikan mereka sebagai orang-orang yang buruk. Para pemimpin buruk itu akan menjadikan orang yang sepenuhnya mentaati mereka sebagai pelaksana perbuatan-perbuatan yang buruk, sedangkan orang yang mengusahakan kebaikan akan mereka singkirkan. Manakala umat dalam keadaan buruk, hendaknya setiap orang mengusahakan kebaikan yang diketahuinya, tidak terlarut dalam kehidupan yang buruk, tetapi harus dengan sebisa mungkin menghindari perbuatan membangkang terhadap pemimpin.
Perlawanan terhadap pemimpin masyarakat pada satu sisi merupakan kebodohan masyarakat terhadap keadaan diri mereka sendiri. Pada dasarnya pemimpin suatu masyarakat diangkat sesuai dengan keadaan diri terutama orang-orang beriman, maka perbaikan tatanan masyarakat harus dimulai dengan memperhatikan diri orang beriman sendiri. Manakala pemimpin mereka buruk, maka keburukan itu ada pada diri mereka sendiri. Bila masyarakat tidak mengenali dan memperbaiki keburukan diri itu, mereka tidak akan dapat mermperbaiki keburukan tatanan masyarakat. Setiap usaha memperbaiki keadaan tatanan masyarakat harus disertai dengan usaha mengenali dan memperbaiki keburukan dalam diri orang-orang beriman, terutama dalam hubungan mereka kepada para ulul amr yang tergabung dalam jamaah Rasulullah SAW. Para ulul amri itulah orang-orang yang mengetahui keburukan yang ada pada diri mereka dalam urusan Allah. Melakukan perlawanan terhadap pemimpin-pemimpin masyarakat tanpa disertai dengan memperbaiki keburukan dalam tatanan orang-orang beriman akan menyebabkan keburukan yang lebih besar.
Manakala terjadi suatu proses menuju keadaan yang lebih baik, proses perubahan seringkali terjadi dengan cara yang berat, karena itu setiap orang beriman harus banyak berdoa kepada Allah. Syaitan dan orang-orang yang mengikuti mereka cenderung untuk mempertahankan keadaan yang buruk untuk keuntungan mereka dengan menghambat usaha-usaha orang-orang yang keadaan mereka telah berubah. Secara ideal, seharusnya orang beriman menjadi aktor-aktor perubahan masyarakat menuju kebaikan, tetapi kadangkala keadaan tidak memungkinkan terjadi demikian. Boleh jadi kebanyakan orang beriman hanya menjadi orang tidak terpandang di masyarakat karena keadaan yang buruk maka mereka tidak mempunyai kuasa untuk ikut serta dalam melakukan perubahan, tetapi perubahan tetap berjalan karena suatu perubahan pada keadaan orang beriman. Oleh karena itu mereka harus memberikan dukungan perubahan dalam bentuk doa-doa agar perubahan itu dapat berjalan dengan baik.
Hendaknya orang-orang beriman tidak memaksakan diri melakukan perubahan melebihi perbaikan tatanan masyarakat lebih dari perbaikan diri yang telah dilakukan. Dorongan perbaikan demikian merupakan dorongan hawa nafsu. Manakala orang-orang beriman dalam keadaan buruk, mungkin saja diangkat bagi mereka pemimpin yang justru menjual kekayaan negeri mereka kepada orang asing dan memberikan orang asing layanan melebihi kepada masyarakat sendiri. Apabila keadaan masyarakat telah benar-benar baik, mereka akan mengetahui para ulul amr dan menempatkan ulul amr untuk menjadi pelaksana urusan di masyarakat, dan orang-orang yang baik akan memperoleh tempat secara layak di antara mereka dalam sistem meritokrasi. Ada banyak macam keadaan yang mungkin diberikan kepada orang beriman di antara dua ujung keadaan tersebut, dan keadaan itu ditentukan keadaan masyarakatnya. Manakala menginginkan perubahan, hendaknya masyarakat mengukur keadaan diri mereka terutama dalam pelaksanaan urusan Allah, termasuk hubungan mereka dengan para ulul amr. Hubungan yang buruk dengan ulul amr akan melahirkan keadaan yang buruk. Menginginkan perubahan melebihi perbaikan keadaan diri akan menjadikan usaha mereka mudah ditunggangi oleh pihak-pihak lain yang tidak baik. Sebaliknya perubahan keadaan yang terjadi menuju kebaikan hendaknya didoakan agar terkabul diiringi perbaikan dalam diri masing-masing orang beriman karena perubahan yang terjadi mungkin menunjukkan perbaikan yang harus dilakukan orang beriman.
Baiknya keadaan masyarakat adalah bagaimana urusan Allah yang diturunkan kepada Rasulullah SAW dilaksanakan oleh orang-orang beriman. Para ulul amr dalam sudut pandang tertentu adalah orang yang dijadikan Allah sebagai pengawas pelaksana urusan-Nya. Manakala umat manusia tidak memperhatikan arahan mereka, mereka tidak memperhatikan urusan Allah. Mungkin seseorang berkeinginan baik tetapi tidak memperhatikan tuntunan Allah, maka keinginan itu hanya kebaikan tingkatan rendah. Kadangkala suatu kaum terlalu taat dengan arahan yang buruk tentang urusan Allah, maka kaum tersebut merupakan kaum yang bodoh karena sama saja dengan orang yang tidak memperhatikan urusan Allah dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, maka keadaan masyarakat mereka menjadi buruk. Baiknya keadaan akan diperoleh masyarakat manakala mereka memperhatikan dan melaksanakan urusan Allah yang diturunkan kepada Rasulullah SAW, melalui perhatian kepada para ulil amr.
Kadangkala suatu masyarakat memandang diri mereka sebagai hamba Allah yang baik tetapi keadaan mereka buruk dan semakin memburuk. Hal ini mungkin terjadi karena mereka tidak benar dalam memperhatikan urusan Allah. Mereka mungkin hanya merasa memperhatikan urusan Allah sedangkan mungkin saja ulul amr mereka tidak diperhatikan. Atau mungkin saja seorang ulul amr keliru dalam menjelaskan urusan Allah kepada umat manusia maka manusia tidak memperhatikan urusan Allah. Dalam hal ini urusan Allah adalah apa-apa yang diturunkan melalui Rasulullah SAW baik Alquran maupun sunnah Rasulullah SAW, bukan urusan ulul amr itu sendiri. Mungkin saja manusia berselisih dengan ulul amr manakala seorang ulul amr tidak selaras dengan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW dan orang tersebut tidak berdosa karena perselisihannya. Untuk memperoleh perbaikan, hendaknya mereka memperhatikan dan melaksanakan urusan Allah yang diturunkan kepada Rasulullah SAW melalui arahan ulul amr di antara mereka dengan ketaatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar