Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Kesejahteraan umat akan muncul manakala akhlak mulia terbentuk pada umat, yaitu tumbuhnya sifat-sifat mulia berupa sifat rahman dan rahim. Orang-orang yang menumbuhkan sifat mulia termasuk dalam golongan orang-orang yang berharap menemukan shirat al-mustaqim. Banyak masalah kesempitan kehidupan dunia disebabkan karena manusia berpaling dari pengajaran Allah, dan kesempitan karena hal itu akan diangkat Allah dengan melaksanakan pengajaran-pengajaran Allah. Sebaliknya orang-orang beriman akan terpuruk pada kehidupan yang sempit manakala mereka meninggalkan pengajaran-pengajaran Allah. Orang-orang demikian akan mudah terjerumus pada suatu kesesatan, yaitu sekalipun mereka menginginkan kembali kepada Allah tetapi langkah mereka sebenarnya tidak mendekat kepada Allah.
﴾۷﴿صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS Al-Fatihah : 7)
Orang beriman hendaknya benar-benar berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW agar tidak terjebak pada suatu kesesatan. Suatu keinginan untuk bertaubat saja tidaklah mencukupi bagi hamba Allah untuk menempuh langkah taubat yang benar, tetapi harus disertai dengan sikap berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala seseorang menempuh langkah taubat tanpa berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, ia akan sangat mudah tersesat atau disesatkan oleh syaitan. Tidak ada jaminan tertulis sama sekali atas keselamatan perjalanan kembali kepada Allah bagi orang-orang yang menginginkannya, kecuali jaminan bagi orang-orang yang berpegang teguh dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sangat banyak peringatan bagi manusia dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW agar mereka tidak tersesat. Jika manusia melupakan peringatan-peringatan itu niscaya mereka tersesat. Hendaknya manusia tidak terlena dengan keinginan baiknya saja, tetapi harus melangkah bertaubat dengan berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Hubungan
seorang hamba kepada Allah tidaklah dapat dibangun dengan daya upaya
sendiri kecuali melalui washilah yang telah diturunkan Allah.
Washilah yang paling utama bagi manusia untuk membina hubungan
demikian adalah kitabullah Alquran dan Rasulullah SAW. Keduanya
adalah titik puncak washilah bagi makhluk untuk terhubung pada Allah
dengan benar. Ada banyak washilah lain yang ada sebagai perpanjangan washilah yang dapat terhubung kepada manusia. Ciri
perpanjangan washilah tersebut adalah terhubung secara baik kepada
kitabullah dan Rasulullah SAW. Manakala suatu washilah tidak
terhubung kepada kitabullah Alquran dan Rasulullah SAW, mereka
bukanlah washilah yang dapat mengantarkan seseorang untuk terhubung
kepada Allah dengan benar. Para washilah yang benar akan sangat
membantu seseorang untuk terhubung kepada kitabullah dan Rasulullah
SAW. Hendaknya
seseorang tidak mengabaikan orang-orang yang dapat menghubungkan diri
mereka kepada kitabullah Alquran dan Rasulullah SAW. Dalam banyak hal tertentu, menyelisihi mereka adalah menyelisihi Allah dan Rasulullah SAW.
Di antara orang yang tersesat adalah orang-orang yang merasa terhubung kepada Allah tanpa mengenal atau menghormati secara selayaknya kedudukan Rasulullah SAW dan kitabullah Alquran sebagai penghubung kepada Allah. Merasa terhubung secara langsung kepada Allah tanpa mengenal kedudukan Rasulullah SAW dan kitabullah Alquran merupakan sumber kesesatan. Kadangkala orang-orang demikian merasa menjadi wakil Allah bagi umat manusia sedemikian perbuatan-perbuatan buruk mereka pun dipandang sebagai wujud dari perintah Allah. Misalnya manakala berbuat kekejian, mereka memandang bahwa para sesepuh yang mereka ikuti juga berbuat yang sama dengan perbuatan mereka dan perbuatan keji yang mereka lakukan itu merupakan perintah Allah. Mereka memperoleh perintah dari langit untuk berbuat sesuatu tanpa melakukan pemeriksaan dengan benar siapa yang memberikan perintah itu. Hal itu terjadi karena mereka tidak berpegang erat pada tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Seandainya mereka berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, niscaya mereka mengetahui bahwa pendapat mereka tidak benar.
Suatu kesesatan akan mendatangkan madlarat yang besar terhadap umat manusia. Secara kasus, bisa saja orang-orang tersesat itu merasa berbuat kebaikan terhadap umat manusia, tetapi mungkin ada amal-amal yang membuka kerusakan yang besar melalui kesesatan yang terjadi. Mereka memandang indah keadaan diri mereka karena perbuatan baik yang dilakukan tanpa menyadari keburukan yang terjadi karena kesesatan yang tidak tampak, atau hanya tampak secuil. Pada umumnya, kesesatan itu menjadikan akhlak manusia tumbuh tidak selaras dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW maka kemudian akhlak itu menumbuhkan keburukan yang besar. Kadangkala suatu kesesatan membuka pintu fitnah yang sangat besar sebagai jalan syaitan untuk merusak umat manusia. Banyak kemungkinan munculnya keburukan karena kesesatan yang terjadi di antara manusia.
Pokok kebaikan suatu masyarakat adalah tumbuhnya akhlak mulia pada anggota masyarakat yang muncul karena ingin mengikuti kehendak Allah dan memberikan kebaikan bagi orang lain. Salah satu pokok pertumbuhan akhlak mulia adalah akal dalam memahami kehendak Allah. Tanpa akal yang tumbuh, manusia akan tetap bodoh dan masyarakat akan tetap dalam keadaan yang buruk. Pertumbuhan akhlak manusia dimulai dari keinginan untuk melakukan tazkiyatun nafs agar dapat memahami petunjuk Allah dengan tepat, kemudian mengenal amanah yang ditetapkan Allah untuk dilaksanakan dalam kehidupan di bumi dengan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Itu adalah tahapan-tahapan perkembangan akhlak pada diri manusia. Kadangkala suatu kaum menilai kebaikan akhlak pada bentuk-bentuk amal yang menyenangkan bagi mereka saja tanpa melihat keselarasan dengan tuntunan Allah. Hal ini tidak menunjukkan secara tepat pada akhlak mulia. Sikap kebaikan manusia kadangkala muncul karena keinginan dipandang baik oleh orang lain maka hal itu tidak menunjukkan akhlak mulia. Hanya sikap kebaikan yang muncul karena ingin mengikuti kehendak Allah dan memberikan kebaikan bagi orang lain yang termasuk akhlak mulia.
Kelurusan Langkah Pemakmuran
Setiap akhlak mulia yang tumbuh akan memberikan kebaikan bagi masyarakat, tetapi ada tuntutan bagi setiap orang untuk menyeru pada al-ma’ruf dan mencegah kemunkaran. Seorang beriman tidak boleh tumbuh sendirian tanpa mencari sahabat untuk tumbuh, setidaknya ia menyeru isteri dan anak-anaknya untuk menumbuhkan akhlak mulia hingga mampu melaksanakan penghambaan sesuai tuntunan Allah. Bila gagal dalam menyeru isteri dan anak-anaknya untuk mengikuti pembinaan akhlak mulia, seseorang tidak akan dapat memberikan kebaikan dirinya kepada masyarakatnya. Sekalipun demikian, kegagalan dalam keluarga itu bukanlah udzur yang boleh menghambat usaha untuk menyeru orang lain menunaikan al-ma’ruf dan mencegah kemungkaran. Setiap orang harus berusaha sebaik-baiknya untuk melaksanakan amal shalih, adapun berhasil atau gagal bukan tanggung jawab dirinya.
Hasil duniawi yang bisa tumbuh dari seruan itu akan terlihat bila suatu keluarga bisa tumbuh bersama berjuang melaksanakan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Hasil usaha demikian dapat diibaratkan perkembangbiakan yang bisa terjadi manakala benih dari laki-laki dan perempuan dapat bersatu bersama. Benih akhlak laki-laki akan cenderung tumbuh pada sisi rahmaniah berupa kekuatan pemahaman akal sedangkan benih akhlak perempuan akan tumbuh lebih dominan pada sisi rahimiah berupa terwujudnya kebaikan aspek-aspek duniawi. Kebaikan dalam wujud duniawi akan diperoleh manakala terjadi penyatuan urusan antara laki-laki dan perempuan. Tanpa penyatuan laki-laki dan perempuan pada urusan yang sama, seorang yang shalih akan kesulitan mewujudkan pemahamannya pada tingkatan duniawi. Sekalipun keduanya berkeinginan menjalankan urusan Allah tetapi pada urusan yang berbeda, tidak akan diperoleh hasil yang memadai dari masing-masing dengan usahanya. Secara duniawi, mungkin terbentuk pemakmuran melalui pihak perempuan tetapi tidak kokoh karena tidak terhubung pada suatu kehendak tertentu Allah.
Para isteri hendaknya dapat mengikuti pemahaman suaminya dalam menunaikan amanah Allah, maka Allah akan memberikan bagian kesejahteraan duniawi bagi mereka. Seorang isteri yang mengharap kesejahteraan dari suaminya hendaknya tidak menuntut suaminya untuk melayani laki-laki lain, tetapi harus berusaha memahami keadaan suaminya dan membantunya untuk melahirkan pemahamannya. Imam bagi mereka akan ditemukan suaminya, sedangkan imam bagi perempuan adalah suaminya. Kadangkala seorang perempuan melihat laki-laki lain dengan kekaguman hingga menganggap remeh suaminya. Hal demikian tidak boleh terjadi, apalagi menjadi alasan untuk memaksa suaminya untuk menjadi pelayan orang yang dikaguminya. Menyimpangnya seorang isteri terhadap suaminya, atau seorang laki-laki dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW merupakan bentuk kekejian (al-fakhsyaa). Keduanya sebenarnya mempunyai nilai yang sama sekalipun dalam bentuk yang berbeda. Tidak akan terbentuk kesejahteraan manakala suatu masyarakat terwarnai atau terliputi dengan kekejian. Prinsip-prinsip bermasyarakat akan bergeser dari pondasinya manakala masyarakat membiasakan kekejian di antara mereka, dan prinsip-prinsip tanpa pondasi yang kuat itu tidak akan menghasilkan kesejahteraan yang kokoh.
Melencengnya para laki-laki dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dapat terjadi melalui berbagai cara. Di antara hal yang menyebabkan orang menyimpang adalah tidak berusaha memahami tuntunan Allah dan sunnah Rasulullah SAW dalam melaksanakan amanah bagi diri mereka.
﴾۹۷۱﴿وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka) Jahannam banyak dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS Al-A’raaf : 179)
Ayat di atas bisa menjadi contoh penyebab menyimpangnya (kekejian/al-fakhsya) umat manusia dari pengabdian kepada Allah. Mereka diberi qalb yang mestinya bisa digunakan untuk memahami, mempunyai mata yang mestinya bisa melihat ayat-ayat Allah, dan mempunyai telinga yang mestinya bisa digunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah, tetapi mereka tidak menggunakannya. Mereka bukan orang-orang yang hanya menginginkan dunia, tetapi tidak menggunakan indera bathiniah mereka untuk memahami ayat Allah. Dalam beberapa kasus, mereka menjadikan persepsi indera bathiniah sebagai puncak kebenaran, melupakan kedudukan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bergesernya arah kebenaran itu bisa menjadi awal menyimpangnya langkah pengabdian kepada Allah. Lurusnya langkah akan dapat dijaga apabila kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dijadikan kebenaran puncak. Sebanyak apapun kebodohan dan kesalahan pemahaman atau sikap umat manusia, sikap-sikap itu bisa diluruskan selama mereka menjadikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai puncak kebenaran. Sebaliknya manakala puncak kebenaran itu digantikan, sepandai apapun umat mereka akan mudah digoyang akalnya dengan bergantinya arah kebenaran.
Kesejahteraan dapat diwujudkan di masyarakat apabila ada orang-orang yang berusaha untuk memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dan menerapkan pemahaman itu sesuai dengan keadaan mereka. Kadangkala suatu kaum berusaha untuk memaksakan penerapan suatu tuntunan tanpa mengetahui keadaan diri sendiri dalam tuntunan kitabullah, maka apa yang mereka usahakan tidak mendatangkan hasil yang memadai. Hal demikian sedikit banyak menunjukkan kurangnya kefahaman terhadap tuntunan Allah. Setiap orang harus berusaha memahami kedudukan diri dan masyarakat mereka dalam tuntunan kitabullah secara tepat dan kemudian menempuh jalan yang dapat dilihat dari tuntunan kitabullah tentang keadaan itu, maka mereka akan mendapat pemahaman terhadap tuntunan kitabullah. Seseorang yang sedang dalam kegelapan tidak dapat mendatangkan cahaya kepada dunia mereka. Mereka harus bergerak menuju cahaya maka ia akan dapat mendatangkan cahaya itu kepada dunia. Tanpa suatu pemahaman terhadap keadaan diri menurut kitabullah, seseorang tidak dapat memberikan cahaya kitabullah kepada kaumnya dengan tepat. Pastinya, kemajuan dalam menerapkan tuntunan kitabullah tidak akan terealisasi manakala seseorang tidak menyadari keadaan diri mereka dalam kitabullah. Manakala setiap orang menyadari keadaan diri dan keadaan kaum, mereka dapat bergerak bersama dengan mendatangkan hasil kemajuan masing-masing.
Kesejahteraan bergantung pada akhlak masyarakat, bukan datang dari kekayaan alam. Suatu negeri yang kaya raya tidak menjamin masyarakat hidup sejahtera. Sekian banyak masyarakat di negeri yang kaya raya sumber daya alam terhimpit dengan kesulitan kehidupan. Sebagian besar modal melakukan aktifitas ekonomi ditumpuk pada segelintir orang, dan dari sebagian modal yang beredar di masyarakat dikumpulkan para koruptor untuk keserakahan terhadap kekuasaan. Banyak pekerja tidak dapat bekerja dengan layak karena modal usaha tertahan pada segelintir pihak yang berkepentingan buruk dengan kekuatan modal yang terkumpul pada dirinya. Karena tertahannya modal ekonomi pada segelintir pihak, masyarakat umum relatif sulit memperoleh modal untuk melakukan aktifitas ekonomi. Sebenarnya demikian pula para koruptor kecil mengalami kesulitan yang semakin besar melayani koruptor besar yang ingin mempertahankan kekuasaannya dengan jalan tidak semestinya. Banyak hal buruk dapat terjadi pada suatu negeri yang kaya manakala akhlak mulia tidak tumbuh pada diri mereka. Orang-orang beriman harus berusaha untuk dapat mewujudkan tatanan bermasyarakat yang baik dengan membina akhlak mulia yang tumbuh di atas landasan sifat rahman dan rahim, yaitu pengetahuan terhadap kehendak Allah melalui tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW serta keinginan memberikan kebaikan kepada orang lain.
Qalb, penglihatan bathin dan pendengaran bathin hendaknya digunakan sebaik-baiknya untuk memahami keadaan sesuai dengan tuntunan kitabullah. Dengan penglihatan, pendengaran dan qalb setiap orang harus melihat keadaan diri dan tuntunan kitabullah secara jujur dan seksama hingga diketahui kedudukan diri dalam kitabullah. Manakala menemukan diri dalam keadaan buruk, hendaknya seseorang berusaha menemukan jalan untuk memperbaiki diri. Manakala menemukan diri dalam keadaan baik, hendaknya seseorang beramal dengan kebaikan yang diketahui ada dalam dirinya. Hal-hal demikian itu akan ditemukan oleh setiap orang dengan menggunakan qalb, penglihatan dan pendengaran bathin secara tepat, tidak melakukan klaim-klaim kebaikan dan kebenaran hanya untuk diri sendiri dan kelompoknya dan tidak membuat tuduhan keburukan hanya untuk orang lain. Manakala telah bisa bersikap jujur tidak terliputi waham, seseorang akan dijadikan mampu mengetahui berita-berita dalam kitabullah Alquran terkait dengan keadaan kauniyah yang terjadi di sekitar diri mereka. Dengan pengetahuan demikian, suatu kaum akan mampu memahami langkah yang harus diperbuat untuk memperbaiki keadaan diri dan masyarakat mereka.
Keberjamaahan akan menjaga lurusnya langkah membentuk akhlak mulia. Mengikuti al-jamaah harus dilakukan dengan memperkuat akal dalam memahami kehendak Allah tidak hanya dengan pikiran hawa nafsu. Pada pokoknya berjamaah tumbuh di atas tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Pada cabangnya, berjamaah terlihat pada kebersamaan dengan orang-orang yang melangkah pada tujuan yang sama dalam suatu tatanan menurut urusan Allah. Mungkin akan banyak perselisihan terjadi di antara orang-orang yang berkumpul bersama, maka orang yang mentaati kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW adalah yang berada di atas al-jamaah. Secara kongkrit, berjamaah itu ditunjukkan dengan ketaatan kepada ulil amr, tetapi tidak bersifat mutlak yaitu manakala ulil amri berada pada urusan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala setiap orang berjamaah, akan terwujud kemajuan dalam bermasyarakat. Manakala tidak berjamaah, mungkin tidak terbentuk suatu sinergi pemakmuran hingga mungkin saja langkah orang yang benar akan terjegal oleh perkataan orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar