Pencarian

Selasa, 07 Juli 2026

Usaha Bersyukur Untuk Menumbuhkan Berkah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Di antara tanda benarnya mengikuti langkah Rasulullah SAW adalah terwujudnya pemakmuran alam dunia. Ada bentuk-bentuk keimanan yang harus ditumbuhkan umat dengan memperbaiki kemuliaan akhlak. Keimanan yang ditumbuhkan oleh umat manusia merupakan benih yang akan tumbuh sebagai kesejahteraan dunia. Suatu keimanan tidak akan mendatangkan kerusakan di bumi kecuali keimanan itu sesuatu yang salah. Ini sangat dimengerti oleh orang yang beriman dengan benar. Akan tetapi ada orang-orang yang tidak benar dalam beriman sedemikian keimanan itu menjadi sesuatu yang mendatangkan kerusakan bagi kehidupan di dunia.

﴾۹۱﴿فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّن قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: "Ya Tuhanku berilah aku kedudukan untuk mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh".(QS An-Naml :19)

Nabi Sulaiman a.s adalah seorang pemakmur bumi yang mendirikan bayt Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah di Yerusalem. Beliau seorang yang beriman dengan benar dan mengerti amanah yang harus ditunaikan untuk memakmurkan bumi. Walaupun demikian, sebagian makhluk tetap merasa terancam bahwa mereka akan terinjak-injak oleh langkah nabi Sulaiman a.s dan pasukannya sedangkan beliau tidak menyadari kerusakan yang terjadi. Hal itu merupakan suatu dugaan yang tidak sesuai dengan pengetahuan nabi Sulaiman terkait langkah yang akan beliau tempuh. Karena itu beliau tersenyum dan tertawa dengan perkataan mereka.

Nabi Sulaiman a.s mempunyai pengetahuan tentang apa yang harus dicapai melalui pelaksanaan amanahnya, dan pasti langkahnya tidak akan mendatangkan kerusakan bagi koloni semut sekalipun, baik dari iktikadnya ataupun dari dampak sampingan yang tidak disadari. Pengetahuan nabi Sulaiman a.s mencakup sasaran, tujuan dan dampak samping dari apa yang dilakukan. Keimanan demikian ini hendaknya juga diusahakan oleh orang-orang beriman. Umat hendaknya tidak mengikuti suatu keimanan secara ngawur hingga melakukan tindakan yang merusak. Kadangkala manusia mempercayai suatu keimanan secara ngawur sedangkan perbuatan mereka merusak. Sebagian merusak karena dampak sampingan yang tidak disadari, sebagian berupa keimanan yang tidak benar. Bahkan ada pula orang yang percaya dengan suatu keimanan yang sebenarnya merusak agama, diri mereka sendiri dan orang-orang yang dekat dengan diri mereka, bukan keimanan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan di bumi. Hal demikian biasanya terjadi atas orang-orang yang tidak menggunakan akal. Keimanan yang benar akan mendatangkan kebaikan bagi kehidupan di bumi, dapat dibuktikan melalui evaluasi yang komprehensif terhadap nilai manfaat keimanan. Keimanan bukan sekadar suatu kepercayaan terhadap suatu nilai yang dianggap benar.

Ini tidak membatasi keimanan hanya dilakukan dalam batas lingkup pengetahuan seseorang. Mungkin sangat banyak manusia harus mengikuti suatu keimanan yang belum dapat ia buktikan nilai manfaatnya, tetapi hendaknya ia berusaha memahami nilai manfaat dari keimanannya. Cara demikian akan meningkatkan keimanan. Sangat banyak kebenaran digelar Allah di alam ciptaannya yang tidak dapat dipahami seorang manusia dengan pikirannya sendiri, tetapi sebenarnya dapat dipahami oleh orang-orang yang berakal. Orang berakal mungkin memahami rahasia atau hakikat dibalik suatu fenomena yang terjadi dan mengetahui amal yang paling bermanfaat dalam urusan fenomena tersebut, sedangkan orang lain mungkin saja tidak mengetahui. Bila seseorang atau suatu umat mengikuti orang berakal tersebut, mereka bisa ikut memahami kebenaran yang diperjuangkan. Dengan demikian mereka dapat meningkatkan keimanan diri mereka. Hanya saja tidak jarang dijumpai orang yang mengajarkan sesuatu yang ditampakkan sebagai suatu kebenaran tetapi kosong. Umat yang mengikuti tidak akan menemukan sesuatu yang memberikan nilai manfaat melalui keimanan demikian sedangkan mereka bersusah payah mengikutinya. Kadang dijumpai pula kaum yang membeo mengatakan kebenaran yang tidak mereka pahami karena hanya mengikuti perkataan orang lain. Kadangkala suatu kaum meninggalkan kebenaran hanya untuk mengikuti perkataan yang kosong dari nilai manfaat. Setiap orang hendaknya berusaha memahami nilai manfaat dari suatu keimanan yang mereka ikuti.

Kedudukan Tertentu untuk Bersyukur

Sekalipun nabi Sulaiman a.s telah mengetahui nilai manfaat dari apa yang diperjuangkannya, beliau tidaklah menyombongkan diri dengan langkah yang ditempuh. Ketika beliau mendengar perkataan semut yang merasa takut dengan dampak langkah nabi Sulaiman, beliau berdoa kepada Allah : "Ya Tuhanku berikanlah aku kedudukan (yang tepat) untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan (kedudukan) untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh". Nabi Sulaiman a.s memohon kepada Allah agar menempatkan dirinya pada kedudukan yang mendukungnya bersyukur atas nikmat yang telah dikaruniakan Allah kepada beliau dan kedua orang tuanya, dan memohon agar beliau diberi kedudukan untuk beramal shalih yang diridhai Allah, serta memohon agar dimasukkan ke dalam golongan hamba yang shalih dengan rahmat Allah.

Doa ini dikenal sebagai doa usia 40 tahun. Usia 40 tahun komariah adalah usia di mana orang beriman bisa mengenal nikmat Allah yang dikaruniakan kepada dirinya. Mereka akan mengenal nikmat Allah yang menjadi amanah bagi dirinya, mengenal peran diri mengikuti peran orang tuanya apabila orang tuanya mengenal dirinya, dan mengenal amal shalih yang diridhai Allah. Dari ayat lain, mereka akan mengharap kebaikan pada keadaan anak keturunan mereka. Ini adalah keadaan yang bisa terjadi dan harapan-harapan yang tumbuh pada orang beriman pada usia 40 tahun. Mereka mengharapkan untuk memperoleh kedudukan yang tepat agar dapat mensyukuri nikmat Allah, dapat beramal shalih yang diridhai Allah dan menjadi hamba yang memperoleh rahmat Allah hingga menjadi golongan orang shalih, serta berharap anak keturunannya memperoleh kebaikan dalam kehidupannya.

Doa ini sangat penting atas orang beriman yang memperoleh nikmat Allah. Usaha syaitan untuk menghalangi orang untuk dapat mensyukuri nikmat Allah terhadap diri mereka sangat kuat. Mereka seringkali tidak memperoleh kedudukan yang mendukung kebersyukuran atas nikmat Allah yang dikenalnya karena syaitan pasti berusaha keras menghalangi mereka untuk bersyukur dengan berbagai cara. Demikian pula tidak jarang mereka menemukan bahwa keluarga mereka dalam keadaan berantakan hingga tidak mampu membantu pelaksanaan urusan Allah, karena syaitan menjadikannya berantakan. Itu merupakan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi atas mukmin yang memperoleh nikmat Allah. Sangat banyak kemungkinan dapat terjadi. Yang penting bagi orang beriman yang mengenal nikmat Allah adalah harapan kepada Allah agar ia memperoleh kedudukan untuk bersyukur atas nikmat Allah dan kemampuan beramal shalih yang diridhai Allah, serta diberikan keshalihan bagi keluarganya untuk mendukung amal shalih yang harus ditunaikan.

Dari satu sisi, pendukung kebersyukuran seseorang pada ayat di atas merupakan buah dari terbentuknya rumah tangga yang baik. Kedudukan yang diperoleh seseorang di antara umat dalam beramal shalih merupakan cerminan dari cara pandang isteri terhadap suaminya. Apabila seorang isteri dapat memahami kebenaran amal shalih suaminya dan memahami nilai kepentingan urusannya, suaminya akan mempunyai kedudukan yang kokoh di masyarakat dalam bersyukur dan melakukan amal shalih. Apabila seorang isteri memandang rendah pengenalan amal shalih yang diperoleh suaminya, mereka seringkali kesulitan untuk memperoleh kedudukan yang layak untuk melaksanakan amal shalih, karena cara pandang masyarakat dalam urusan amal shalih akan menyerupai cara pandang isteri kepada suaminya. Kadangkala seorang isteri sangat baik terhadap suaminya tetapi tidak bisa memahami kepentingan amal shalih suaminya, maka amal shalih itu akan terbengkalai. Demikian pula dalam pendidikan anak-anak, mereka akan lebih mudah mendidik anak keturunan menjadi shalih apabila terbentuk rumah tangga yang baik, dan sulit mendidik anak menjadi shalih apabila rumah tangga mereka buruk. Dapat dikatakan bahwa kandungan doa di atas terkait erat dengan pembinaan bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.

Upaya syaitan menghalangi seseorang untuk bersyukur kadang dilakukan secara meluas hingga melibatkan masyarakat di sekitar orang yang memperoleh nikmat Allah, dan dilakukan dengan sasaran merusak pokok yang membuahkan sarana bersyukur, yaitu kerusakan rumah tangga. Seseorang yang mengenal nikmat Allah dan ingin bersyukur dibuat syaitan untuk tidak dapat bersyukur karena tidak terwujudnya sarana bersyukur. Mereka tidak ingin meninggalkan kebersyukuran akan tetapi tidak memperoleh sarana bersyukur secara layak, tidak memperoleh kedudukan yang layak untuk menunaikan amanah dan tidak mempunyai kekuatan yang cukup untuk beramal shalih. Syaitan menjadikan keadaan mereka demikian dan Allah mengijinkan hal itu terjadi atas mereka. Dalam beberapa kasus, Allah mengijinkan keadaan demikian terjadi karena masyarakat yang tidak bisa mensyukuri nikmat Allah yang dikaruniakan di antara mereka.

Masyarakat yang Bersyukur

Tegak dan makmurnya suatu bangsa juga dipengaruhi oleh kebersyukuran masyarakat secara luas, tidak hanya seseorang yang memperoleh nikmat Allah. Wujud kemakmuran secara fisik ditentukan terutama kebersyukuran kaum perempuan. Manakala para perempuan suatu negeri kufur terhadap suami-suami mereka, negeri itu akan runtuh. Upaya masyarakat untuk menumbuhkan pemakmuran akan menjadi sangat sulit karena gersangnya para perempuan. Dalam tingkat yang lain, suatu bangsa akan hidup dengan tingkat kemampuan berpikir yang rendah karena tidak mampu bersyukur, tidak membentuk pengetahuan kebenaran yang kokoh dan kurang akal untuk memahami kehendak Allah yang harus diwujudkan dalam kehidupan. Barangkali mereka menyangka pemikiran-pemikiran mereka merupakan kebenaran padahal hanya hawa nafsu saja karena tidak mengetahui nikmat Allah. Tegak dan makmurnya suatu bangsa akan terwujud apabila masyarakat secara luas dapat bersyukur, yaitu bisa memahami kebenaran yang disampaikan kepada mereka dan ikut berperan dalam amal yang harus ditunaikan layaknya istri membantu suaminya.

Di antara ketidakbersyukuran masyarakat berbentuk ditinggalkannya para ulama dan fuqaha oleh kaum muslimin dan mukminin. Karena perbuatan demikian, Allah akan menurunkan tiga bencana berupa : 1. Allah akan mengangkat barokah dari usaha mereka, 2. Allah akan menguasakan atas mereka pemimpin yang dzalim, 3. Allah akan keluarkan dari dunia tanpa iman. Bentuk kesengsaraan demikian itu bukanlah suatu ujian dari sisi Allah yang membersihkan orang-orang yang meninggalkannya, karena mungkin mereka akan mati dalam keadaan tanpa iman. Itu merupakan bencana dunia dan akhirat.

Dari Anas ibn Malik r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda :

ﺳﻴﺎٔﺗﻲ ﺯﻣﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍٔﻣﺘﻲ ﻳﻔﺮﻭﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ،ﻓﻴﺒﺘﻠﻴﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺜﻼﺙ ﺑﻠﻴﺎﺕ ﺍٔﻭﻻﻫﺎ ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻣﻦ ﻛﺴﺒﻬﻢ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻳﺴﻠّﻂ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺳﻠﻄﺎﻧﺎ ﻇﺎﻟﻤﺎ ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻳﺨﺮﺟﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺑﻐﻴﺮ ﺍٕﻳﻤﺎﻥ
Akan datang satu masa dimana umatku akan lari (menjauh) dari ulama dan fuqaha, maka Allah akan mendatangkan tiga bencana atas mereka: 1. Allah akan mengangkat barokah dari usaha mereka, 2. Allah akan menguasakan atas mereka pemimpin yang dzalim, 3. Allah akan keluarkan dari dunia tanpa iman (HR Abu Nuaim)

Kaum muslimin dan mukminin di nusantara pada jaman ini tampak secara jelas mengalami kesulitan berupa 2 musibah di atas. Usaha mereka tampak mengalami kesulitan. Kekayaan negeri diserahkan kepada orang-orang asing, harta terkumpul pada orang-orang jahat di antara mereka, sedangkan masyarakat yang baik harus memikul beban kehidupan dalam kemelaratan. Para cendekiawan di tingkat universitas hanya memperoleh imbalan yang sangat kecil tidak sesuai dengan kapasitas mereka. Ini merupakan bentuk diangkatnya barakah dari usaha masyarakat. Demikian pula pemimpin berbuat secara dzalim. Sekalipun dahulu pemimpin itu tampak sebagai orang yang dapat diharapkan, kenyataannya ia tidak dapat berbuat banyak melawan sistem yang menggurita karena diijinkan Allah.

Hal itu terjadi karena ditinggalkannya ulama dan fuqaha yang ada di antara mereka. Cukuplah dua tanda menjadi peringatan bagi mukminin. Tanda ketiga merupakan hal yang sulit dibuktikan, tetapi itu akan menjadi penyesalan yang sangat besar bagi orang-orang yang ingin membuktikan. Tidak perlu kaum mukminin mengandalkan status keimanannya untuk menentang ayat Allah atau meninggalkan ilmu yang diperoleh dari firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW, karena keimanan demikian itu akan ditanggalkan. Mungkin ada yang tanggal ketika kematian tiba, mungkin tanggal pada hari akhirat, atau mungkin kelak ketika di haudh Rasulullah SAW. Keimanan yang tanggal itu akan menjadikan seseorang masuk neraka karena keadilan Allah. Mustahil seseorang akan nyaman tinggal di surga dalam keadaan telanjang misalnya, tentulah ia akan memilih tinggal ditempat yang ia merasa layak bersama yang lain. Kaum mukminin harus berusaha mengenali pengetahuan-pengetahuan yang dapat mengentaskan dua kesulitan yang menimpa diri mereka dengan menempatkan orang-orang sesuai dengan keadaannya, terutama terhadap orang-orang yang mengenal nikmat Allah dan membutuhkan sarana bersyukur.

Kebutuhan paling dasar orang yang memperoleh nikmat Allah untuk bersyukur adalah rumah tangga yang baik, karena dasar pjakan mereka berupa bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Umat muslimin dan mukminin hendaknya tidak merusak rumah tangga siapapun di antara mereka apalagi orang yang memperoleh nikmat Allah. Pembinaan rumah tangga di kalangan muslimin saat ini tampak lemah dan cenderung rusak. Banyak dijumpai para perempuan yang dibunuh dengan kejam oleh pasangannya karena tidak dijaganya adab mereka terhadap pasangannya. Demikian pula banyak rumah tangga yang tidak dapat melangkah secara layak menempuh kehidupan. Banyak pasangan orang beriman yang berselisih paham dalam rumah tangga mereka, dan bahkan terjadi perusakan ketentuan berumah tangga. Seorang guru besar menuduh penetapan aturan LGBT sebagai pengalihan isu, tidak paham dengan fundamennya rumah tangga yang benar dalam bernegara. Dengan fenomena ini, bisa dikatakan sebagian kaum muslimin tidak menghargai pembinaan rumah tangga. Perusakan demikian termasuk perusakan masyarakat yang paling berat, fitnah terbesar bagi umat manusia. Kurangnya penghargaan atau perusakan terhadap bayt itu akan mendatangkan dampak paling buruk apabila terjadi atas keluarga orang-orang yang memperoleh nikmat Allah.

Untuk memperbaiki keadaan umat, hendaknya umat kembali kepada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan mengikuti pengetahuan para ulama dan fuqaha. Upaya itu akan lebih berhasil apabila umat islam memperbaiki apa yang telah dirusak. Ada orang yang berbuat dan tidak menyadari bahwa mereka berbuat kerusakan maka kerusakan itu terus bertambah. Ada orang yang menyadari kesalahan kemudian ia tidak lagi berbuat kesalahan tetapi ia tidak memperbaiki kesalahan yang terjadi, maka dampak kerusakan itu mungkin tetap muncul dari kesalahannya. Ada orang yang menyadari kesalahan dan bertobat dengan memperbaiki kesalahan dan dampak kesalahannya hingga berubah menjadi kebaikan, maka hal demikian itu merupakan perbuatan memperbaiki apa yang dirusak. Itu adalah bertaubat dengan cara yang paling baik. Para ulama dan fuqaha mempunyai pengetahuan tentang kerusakan-kerusakan yang telah terjadi dalam bidangnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar