Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan hati-hati dan seksama tidak terjebak pada langkah-langkah yang menyimpang. Penyimpangan langkah dari sunnah Rasulullah SAW dapat terjadi pada seluruh tingkat perjalanan manusia, bahkan sekalipun manakala seseorang telah mengenal nikmat Allah bagi diri mereka. Setiap orang atau setiap kaum hendaknya selalu berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam mensyukuri nikmat yang dianugerahkan kepada mereka.
﴾۳۵﴿ذٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِّعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَىٰ قَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Anfaal : 53)
Pada dasarnya Allah tidaklah mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan kepada suatu kaum, akan tetapi tetap saja nikmat Allah tersebut dapat berubah yaitu manakala mereka mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri. Orang-orang yang telah memperoleh nikmat Allah sebenarnya hanya mengerjakan urusan-urusan yang diturunkan Allah kepada mereka, maka hendaknya mereka menunaikan urusan-urusan itu sesuai dengan petunjuk Allah. Amal demikian itulah yang mengekalkan mereka dalam nikmat Allah. Urusan-urusan yang dikerjakan sesuai dengan kehendak Allah, untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan Allah, dikerjakan sesuai dengan tuntunan-tuntunan Allah yang secara jelas sesuai dengan tuntunan yang nyata berupa kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW itu merupakan bentuk kebersyukuran terhadap nikmat Allah yang menjadikan seseorang diberi lebih banyak nikmat lagi.
Boleh jadi ada orang-orang yang tidak mensyukuri nikmat Allah. Suatu kaum mungkin saja tidak mengerjakan amal yang diperintahkan Allah, atau tidak peduli tujuan yang dikehendaki Allah atas amal harus dilakukan, atau mengerjakan amal dengan cara yang tidak dikehendaki Allah dan bentuk amal lainnya yang serupa, maka hal itu sebenarnya merupakan perbuatan mengubah nikmat Allah. Apabila mereka bertindak tidak sesuai dengan petunjuk-petunjuk Allah, mereka sebenarnya mengubah nikmat Allah yang dilimpahkan atas diri mereka. Hal itu akan menjadi sebab berubahnya suatu nikmat Allah atas diri suatu kaum.
Mengubah nikmat Allah dapat terjadi karena kurangnya keikhlasan dalam beribadah kepada Allah. Bisa saja seseorang memandang dirinya tinggi di antara manusia karena urusan Allah yang dianugerahkan kepada diri mereka sedemikian mereka menyombongkan diri dengannya. Mungkin juga seseorang lebih menginginkan apa yang tampak baik bagi pandangannya daripada yang diperintahkan Allah hingga ia mengusahakan tujuannya sendiri. Tidak jarang suatu kaum sangat menginginkan sesuatu yang kurang sempurna yang tampak baik dalam pandangan mereka, sedangkan hal itu bisa saja mendatangkan keburukan atas kaum tersebut ketika mereka melupakan petunjuk Allah. Mereka kehilangan orientasi beribadah kepada Allah karena nikmat yang dianugerahkan kepada mereka.
Pengubahan nikmat semacam ini merupakan suatu hal yang bisa saja terjadi atas suatu kaum apabila kaum tersebut tidak memperhatikan petunjuk-petunjuk Allah. Tidak ada seseorang atau suatu kaum yang bisa merasa aman memperoleh nikmat Allah hingga boleh melupakan petunjuk-petunjuk Allah dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, karena nikmat tersebut bisa berubah tanpa mereka ketahui perubahannya. Perubahan sifat nikmat itu hanya akan diketahui oleh seseorang yang benar-benar berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Apabila seseorang atau suatu kaum berpegang pada keyakinannya sendiri bahwa mereka kaum yang lurus, nikmat mereka sebenarnya telah berubah. Ketika Allah mengubah nikmat-Nya atas suatu kaum, sebenarnya kaum itu sendirilah yang mengubah apa-apa yang ada pada nafs mereka. Allah tidak mengubah nikmat yang dianugerahkan kepada suatu kaum kecuali kaum tersebut mengubah apa-apa yang ada pada nafs mereka. Perubahan nikmat itu sebenarnya menunjukkan apa yang ada pada nafs mereka.
Beberapa Dampak Karena Berubahnya Nikmat Allah
Nikmat Allah adalah pengetahuan yang diberikan kepada manusia tentang jalan kehidupan yang dikehendaki Allah. Orang-orang yang diberi nikmat Allah akan memperoleh pengetahuan tentang shirat al-mustaqim, yaitu jalan kehidupan yang paling pendek yang dapat ditempuh seorang hamba Allah untuk menjadi hamba yang didekatkan. Pengenalan shirat al-mustaqim berupa suatu keterbukaan pengetahuan tentang jalan kehidupan yang dikehendaki Allah, seringkali bukan berupa pengetahuan yang dikumpulkan manusia melalui upaya dalam kehidupannya. Berjalan bersama orang yang mengenal shirat al-mustaqim mendatangkan manfaat yang sangat besar dan bisa pula menjadikan diri seseorang mengenal jalan untuk menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah.
Pada dasarnya, nikmat Allah akan mendatangkan suatu manfaat yang besar bagi kehidupan umat manusia hingga masyarakat dapat hidup sejahtera, akan tetapi manfaat ittu tidak selalu dapat mengalir dalam wujud yang nyata. Masyarakat yang kafir mungkin saja menghalangi jalan mengalirnya nikmat Allah melalui orang yang memperolehnya. Seorang yang memperoleh nikmat Allah mungkin saja tampak sebagai orang yang tidak bermanfaat di masyarakat. Problemnya ada pada masyaarakat bukan orang yang memperoleh nikmat Allah. Kadangkala problem itu bisa sedemikian tersembunyi karena peliknya masalah. Suatu kaum yang ingin bertaubat tetapi tersesat mungkin saja memandang orang yang memperoleh nikmat Allah sebagai suatu masalah bagi mereka. Mereka memilih waham mereka sendiri untuk kembali kepada Allah dibandingkan berpegang pada al-bayaan yang diberikan kepada seseorang di antara mereka. Masalah paling pelik dapat terjadi terutama apabila Allah mengubah nikmat-Nya yang diberikan kepada hamba-Nya.
Banyak masalah dapat timbul dari pengubahan nikmat Allah yang dianugerahkan atas suatu kaum. Sesuatu yang dipandang tampak mendatangkan kebaikan seringkali justru mendatangkan keburukan bagi mereka, hanya karena berubahnya sifat nikmat Allah. Seseorang mungkin merasa tinggi derajatnya di sisi Allah sedangkan sebenarnya mungkin saja Allah menghinakannya seperti syaitan dihinakan. Syaitan tidaklah kehilangan pengetahuan-pengetahuannya akan tetapi pengetahuan-pengetahuan itu sebenarnya hanya pengetahuan yang tidak berharga. Demikian pula manakala nikmat atas suatu kaum diubah Allah, nikmat-nikmat itu mungkin tampak tetap melekat pada mereka akan tetapi sebenarnya Allah telah mengubah nilai dari nikmat-nikmat yang mereka peroleh. Ilmu mereka bisa saja tidak dicabut akan tetapi justru mendatangkan keuntungan bagi pihak syaitan.
Kehidupan masyarakat akan menjadi pelik karena berubahnya nikmat Allah, misalnya munculnya banyak pengangguran dari orang-orang yang sebenarnya mempunyai potensi memberikan manfaat yang besar. Mungkin banyak orang yang ingin membangun tatanan bermasyarakat sesuai dengan potensi diri, akan tetapi orang-orang yang potensi diri mereka telah berkembang justru menjadi orang-orang yang tersia-siakan karena berubahnya nikmat Allah. Mungkin pula para pemegang jabatan di antara mereka justru berasal dari kalangan orang-orang yang jahat hingga mereka menyingkirkan orang-orang yang baik. Kehidupan orang-orang yang baik justru menjadi sulit, melaksanakan urusan Allah tanpa ada yang mendukung langkah mereka. Manakala bersungguh-sungguh melaksanakan amal shalih, mungkin mereka ditekan oleh keluarga sendiri untuk mencari penghidupan yang lebih baik tidak menyadari bahwa upaya berdasar amal shalih itu akan mendatangkan kebaikan secara umum. Mungkin sangat banyak orang bersuara untuk memperoleh pekerjaan, tetapi upaya untuk mewujudkan tatanan yang baik justru disingkirkan oleh masyarakat sendiri.
Setiap hamba Allah hendaknya selalu berusaha ikhlas, mengenal dengan benar kehendak Allah atas hamba-hamba-Nya. Prinsip paling dasar dari kehendak Allah yang benar adalah adanya sifat rahman dan rahim. Tidak ada kehendak Allah yang memunculkan madlarat mencelakakan bagi makhluk, dan setiap orang yang ikhlas hendaknya berusaha mengenali sifat rahman dan rahim dalam kehendak-Nya. Manakala seseorang merasa mengetahui kehendak Allah tetapi tidak bisa mengenali kebaikan dalam kehendak Allah yang diketahuinya, ia sebenarnya belum benar-benar mengenal kehendak-Nya. Manakala diketahui dengan benar adanya madlarat dalam kehendak yang dikenali, pengetahuan tentang kehendak-Nya itu hanya pengetahuan yang palsu. Manakala kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bertentangan dengan pengetahuannya, pengetahuan demikian itu merupakan kesesatan. Manakala ia mengetahui adanya kebaikan dalam kehendak yang dikenalinya, boleh jadi itu merupakan pengenalan yang benar terhadap kehendak-Nya. Selanjutnya ia hendaknya memperhatikan benar-benar cara menunaikan kehendak itu sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak ada seseorang mengenal kehendak Allah tanpa mengenali adanya kebaikan di dalamnya. Suatu kebaikan dalam kehendak Allah hanya ada pada keselarasan dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak ada kebaikan pada sesuatu yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Mengenali kehendak Allah hendaknya ditimbang secara seksama, selaras dengan ayat kitabullah dan ayat kauniyah. Kehendak Allah terkait ruang dan jaman kehidupan selalu tercermin dalam keadaan kauniyah jaman itu. Keselarasan pemahaman dengan ayat Allah itu harus ditimbang kebenarannya dengan logika yang benar. Keselarasan tidak boleh ditimbang dengan memandang segala sesuatu yang muncul atau terpikirkan dalam diri merupakan kebenaran yang selaras dengan kitabullah. Keselarasan itu terjadi manakala apa yang muncul atau terpikirkan itu sesuai dengan redaksi kitabullah, sedangkan apabila yang muncul atau terpikirkan itu bertentangan dengan redaksi kitabullah, maka pikiran itu menyimpang tidak boleh dikatakan selaras kitabullah. Ini merupakan logika dasar yang sebenarnya bisa dimengerti oleh setiap orang, (dan mungkin sebenarnya tidak perlu dijelaskan), akan tetapi kadangkala seseorang atau suatu kaum bisa berlogika dengan cara yang berbeda dan merasa benar dengan logikanya. Dengan logika yang keliru, nikmat Allah yang telah dianugerahkan bagi mereka dapat diubah hingga mendatangkan madlarat bagi manusia.
Beberapa Keadaan Orang yang Memperoleh Nikmat Allah
Nikmat Allah adalah pengetahuan yang diberikan kepada manusia tentang kehidupan dan jalan kehidupan yang dikehendaki Allah berupa shirat al-mustaqim. Pengenalan shirat al-mustaqim berupa suatu keterbukaan pengetahuan tentang jalan kehidupan yang dikehendaki Allah. Pengetahuan itu bisa sangat luas walaupun terbatas, dan seringkali bukan berupa pengetahuan yang dikumpulkan manusia melalui upaya dalam kehidupannya. Dengan pengetahuan itu, seseorang bisa bersaksi bahwa “Tiada Ilah selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah rasulullah”. Seseorang yang memperoleh nikmat Allah bisa mengetahui keadaan kauniyah dengan benar melampaui batas persepsi indera jasmaniah dirinya. Mungkin akan ditemukan sangat banyak jebakan pengetahuan yang keliru, maka setiap orang hendaknya menggunakan pengetahuan yang jelas manfaat bagi jalan kehidupan mereka, tidak bermudah menggunakan atau mempercayai setiap pengetahuan yang terbuka kepada dirinya hingga mungkin bisa mengubah nikmat Allah.
Berikut ini contoh pengetahuan yang bisa diperoleh dari nikmat Allah. Dewasa ini kehidupan umat manusia tampak berguncang, sedangkan keadaan ini sebenarnya baru merupakan permulaan. Saat ini, kekuatan Iblis atas diri dunia sebenarnya sangat dibatasi atas kehendak Allah. Iblis besar yang menentang perintah bersujud kepada Adam sedang dan masih kehilangan banyak kekuatannya, karena staf-staf pembantu utamanya telah disingkirkan atas kehendak Allah dari membantu urusannya. Ia seolah sendirian saja karena pembantunya hanya syaitan yang jauh lebih rendah. Semyaza (pemimpin para pengamat/the watchers) dengan setidaknya dua ratus eselon tertinggi urusan mereka diikat dalam penjara hingga waktu yang ditentukan. Azazil staf Iblis dengan banyak pembantu urusannya ditimbun dalam batuan yang tajam hingga tidak dapat membantu mengatur manusia. Demikian pula Terafim dan Abadon telah ditangkap tidak diijinkan untuk membantu Iblis “menata” manusia dalam kehidupan di bumi. Ba’al, Ashera dan Asytoret sebagai pembantu-pembantu utama lain Iblis telah terbunuh oleh para malaikat hingga tidak dapat membantu Iblis. Kehidupan manusia pada jaman ini sebenarnya berada dalam keamanan anugerah Allah dari godaan syaitan yang kuat. Keamanan ini akan terjadi hingga waktu yang ditentukan, yaitu manakala para pembantu utama Iblis itu diijinkan Allah untuk dilepaskan kembali termasuk yang telah terbunuh. Dajjal adalah manifestasi dari kembalinya Ba’al ke dunia. Ia bukan dalam bentuk sapi sebagaimana yang disembah musyrikin penguasa dunia saat ini, tetapi jauh lebih mengerikan, dan ia akan bersekutu dengan manusia untuk menguasai dunia.
Sebagian kisah ini dapat ditemukan dalam kitab nabi Idris a.s. dan sebagian merupakan contoh pengetahuan keadaan kauniyah yang dapat diperoleh melalui nikmat Allah. Pengetahuan demikian sebagian tidak dapat dicari manusia, tetapi seringkali bersifat keterbukaan pengetahuan terkait keadaan. Keterbukaan demikian berhubungan erat dengan shirat al-mustaqim yang ditentukan bagi seseorang. Mukmin hendaknya melaksanakan apa yang ditentukan dalam shirat al-mustaqim dengan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang terkait dengan urusannya. Shirat al-mustaqim tidak berbentuk pelaksanaan perintah-perintah yang bersifat acak, tetapi berupa amal-amal yang ditentukan bagi seseorang sesuai dengan pengetahuan tentang keadaan kauniyah yang didapat melalui keterbukaan (al-fath) pengetahuan dari sisi Allah.
Urusan Allah yang ditentukan bagi manusia seringkali bukan berupa pengetahuan yang sesuai dengan hawa nafsu. Kadangkala hawa nafsu manusia bergejolak manakala mendengar berita sekalipun yang baik. Misalnya manakala seorang syaikh memberitakan tentang kebangkitan Islam, sebagian murid mungkin akan berusaha dengan keras untuk mewujudkan apa yang mereka bayangkan dengan hawa nafsu tentang apa yang diberitakan tanpa mengetahui lebih lengkap bagaimana penjelasan syaikh tentang kebangkitan Islam. Upaya demikian seringkali tidak menyentuh apa yang diajarkan sang syaikh dan mengecewakan syaikh karena murid tidak mengerti urusan Allah. Urusan Allah terkait apa yang syaikh jelaskan harus diperhatikan seluruhnya termasuk dalam urusan yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan hawa nafsu. Mungkin saja para murid seharusnya memikirkan terlebih dahulu tantangan keadaan yang mereka hadapi sebelum tergesa mengejar kemakmuran yang ada dalam bayangan hawa nafsu mereka, sebagai bukti keikhlasan diri mereka.
Bagi orang beriman, tantangan bagi mereka tidaklah kecil. Walaupun dengan terkekangnya Azazil dan pengikutnya, umat manusia masih terancam dengan perang bom nuklir. Kaum musyrikin penyembah Ba’al juga masih bisa menjadi pemimpin bangsa yang besar walaupun Ba’al telah terbunuh. Terbunuhnya Ashera juga tidak menyebabkan manusia terbebas dari lilitan sistem ekonomi ribawi yang merugikan sebagian besar manusia. Demikian pula pengikut Asytoret masih menikmati kedudukan sebagai pemimpin-pemimpin agama yang bekerja untuk kalangan musyrikin dengan pengetahuan yang mereka buat untuk melenakan manusia merasa dalam kebenaran. Pengikut Terafim masih dengan leluasa membuat penyakit-penyakit dan pura-pura menyediakan obat bagi manusia. Bagi sebagian orang yang mengetahui, keadaan kaum mukminin saat ini sedemikian menjadi berantakan karena ulah “si pengamat” anak buah Semyaza. Itu contoh bentuk-bentuk tantangan bagi kaum mukminin, dan tantangan itu sebenarnya akan menjadi lebih lebih besar pada masa yang ditentukan menghadapi tujuh pembantu utama syaitan yang dikembalikan berperan di dunia.
Tantangan itu harus dihadapi dengan nikmat yang lurus. Manakala suatu kaum mengikuti nikmat yang telah diubah, nikmat itu akan berpihak pada syaitan bukan pada urusan Allah. Setiap mukmin hendaknya memperhatikan dengan sungguh-sungguh urusan dan pelaksanaan urusan yang diketahuinya berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar