Pencarian

Rabu, 25 Juni 2025

Membina Jamaah dengan Tauhid

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW untuk menjadi hamba yang didekatkan merupakan langkah tauhid. Tauhid bukan hanya urusan seseorang dengan rabb-nya saja, tetapi juga terkait dengan keberjamaahan berupa ketaatan terhadap perintah Allah hingga dalam bentuk perintah-perintah secara konkrit dari para ulul amri. Para ulul amr adalah orang-orang yang mengemban amr Allah dengan suatu landasan pengetahuan tentang urusan Allah untuk ruang dan jaman bagi mereka. Keberjamaahan itu akan terjadi melalui ketaatan kepada mereka karena mereka melaksanakan urusan Allah sebagai bagian dari perjuangan Rasulullah SAW.

﴾۹۵﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An-Nisaa : 59)

Terdapat urutan prioritas yang perlu dilakukan oleh umat dalam mengikuti keberjamaahan. Pokok dari keberjamaahan adalah ketaatan terhadap tuntunan Allah dan ketaatan terhadap sunnah Rasulullah SAW. Dengan kedua ketaatan tersebut, setiap orang harus berusaha mengenali ulul amri yang ada di antara mereka. Umat tidak boleh mengikuti langkah-langkah seseorang yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW karena akan menjadikan mereka durhaka terhadap Allah dan terhadap Rasulullah SAW. Hal ini menjauhkan mereka dari keberjamaahan, walaupun mungkin tampak bergerombol. Untuk mengenal ulul amr di antara mereka, seseorang harus menyusun pemahaman yang benar berdasar tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW maka ia akan mengenali ulul amr bagi mereka. Setiap ulul amr mengenal tuntunan Allah yang menjadi amanah bagi mereka, dan memahami penjelasan dari sunnah Rasulullah SAW terkait dengan urusan mereka. Mungkin mereka tidak mengetahui hal-hal yang bukan merupakan amanah bagi mereka, tetapi tidak mungkin melakukan perbuatan yang menentang tuntunan Allah dan sunnah Rasulullah SAW.

Keadaan Umat

Dewasa ini umat islam banyak mengalami kerancuan dalam berjamaah. Pangkal masalah dari kerancuan ini karena kurangnya pemahaman umat islam terhadap urusan Allah untuk ruang dan jaman mereka berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Apa yang terjadi pada semesta mereka dipandang sebagai sesuatu yang terpisah dari firman dalam kitabullah. Manakala ulul amri menjelaskan tuntunan kitabullah terkait fenomena kauniyah mereka, umat tidak mau memahami penjelasan itu dan lebih mengikuti pendapat mereka sendiri sekalipun mungkin tidak mempunyai landasan apapun dari tuntunan Allah, atau hanya mencomot tuntunan tanpa pemahaman hakikat, atau bahkan justru mengikuti pendapat yang sesat. Kadangkala umat mengikuti suatu panutan yang mereka inginkan tanpa mencari dasar langkah-langkah yang mereka ikuti hingga terjebak pada hal yang tidak baik. Manakala orang yang mereka ikuti memasuki lubang biawak tanpa suatu tujuan yang benar, mereka mengikuti pula masuk lubang biawak. Hal-hal demikian ini menjadikan umat islam tidak dapat berjamaah dengan benar.

Sebagai contoh, umat mungkin akan dibuat syaitan tercerai-berai mensikapi peperangan umat islam terhadap israel akhir-akhir ini. Mungkin umat akan dipecah belah agar tidak bersepakat untuk memerangi israel. Sebagian orang mungkin akan memunculkan opini bahwa Iran bukanlah islam karena syiah. Atau sebagian orang mungkin akan mengatakan bahwa tanah palestina telah ditentukan untuk orang-orang Israel maka umat islam harus melindungi upaya bangsa Israel saat ini. Ada banyak kemungkinan lain yang menjadikan orang islam berpecah belah. Bagi seorang ulul amri terkait urusan tersebut, telah jelas bahwa amanah yang harus ditunaikan meliputi permusuhan dengan bangsa israel tersebut. Mereka mengetahui hakikat dari kasusnya berdasarkan tuntunan kitabullah. Demikian pula mereka mempunyai pengetahuan hal-hal terkait dengan amanah itu.

﴾۲۰۱﴿وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُوا الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُم بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Dan mereka mengikuti pembacaan syaitan-syaitan atas kerajaan Sulaiman, padahal Sulaiman tidak kafir, tetapi syaitan-syaitan-lah yang kafir. Mereka (syaitan-syaitan) mengajarkan sihir kepada manusia dan (mengajarkan) apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (ilmu itu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya fitnah (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka (para syaitan) mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan (ilmu) itu dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (para syaitan) tidak memberi mudharat dengan (ilmu) itu kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka (manusia) mempelajari sesuatu yang membahayakan mereka dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa barangsiapa yang membeli (ilmu) itu, tiadalah baginya akhlak itu di akhirat, dan amat buruklah perbuatan mereka membeli (ilmu) itu dengan dirinya, kalau mereka mengetahui. (QS Al-Baqarah : 102)

Zionis di Israel saat ini adalah kumpulan orang-orang yang mengikuti pembacaan syaitan tentang kerajaan Sulaiman, pembacaan dalam format kafirnya. Mereka berkeinginan mewujudkan kembali suatu kerajaan seperti kerajaan Sulaiman dalam bentuk yang sangat kafir. Kaum itu telah ada setelah jaman nabi Sulaiman a.s yang menyebabkan terpecahnya bani israel menjadi dua bangsa, yaitu bangsa Yahudi di selatan yang tetap beribadah kepada Allah dan bangsa Israel di utara yang mengikuti syaitan-syaitan. Bangsa Yahudi sendiri sering diperintahkan memerangi bangsa Israel bahkan hingga pernah diturunkan perintah untuk memusnahkan seluruh yang hidup di permukaan negeri utara. Bangsa yang pernah dimusnahkan itu hidup kembali pada zaman ini sebagai Zionis Israel, dan sebenarnya telah ada pula pada jaman Rasulullah SAW. Kaum itu merupakan sumber masalah bagi dunia.

Peperangan Iran-Israel saat ini merupakan fenomena besar yang muncul menjelaskan kandungan ayat tersebut di atas. Fenomena ini dimunculkan secara jelas dalam waktu yang cukup lama dalam bentuk kekerasan yang menyertai orang-orang jahat dengan fitnah-fitnah yang membelokkan informasi bagi masyarakat luas. Sebenarnya sangat banyak orang islam yang seharusnya berurusan dengan fenomena semacam ini, atau boleh dikatakan bahwa semua orang islam sebenarnya harus berurusan dengan masalah demikian. Setiap orang islam hendaknya membangun kepedulian terhadap masalah ini dan berusaha memberikan sumbangsih sesuai dengan keadaan masing-masing dengan cara yang terbaik. Sumbangsih dalam masalah ini tidak selalu berupa bantuan harta dan nyawa, tetapi juga pemikiran-pemikiran yang dapat mengubah keadaan menjadi lebih baik bagi umat secara keseluruhan. Dalam hal ini ketaatan kepada ulul amr akan cukup membantu memperbaiki keadaan dan memberikan sumbangsih yang memadai terhadap keadaan.

Ulul amr yang terkait dengan ayat di atas mempunyai pengetahuan tentang kaum pengikut bacaan syaitan dari ayat tersebut, dan/atau pengetahuan yang dibenarkan oleh ayat tersebut. Mereka bukan mencomot ayat untuk pembenaran langkah. Misalnya pengetahuan tentang dasar-dasar perjuangan. Untuk mengalahkan para pengikut syaitan, umat Islam harus melakukan dekoding sihir-sihir yang mereka gunakan. Kekuatan pengikut syaitan utamanya pada sihir-sihir, dan mereka menggunakan senjata-senjata fisik yang hebat hanya untuk kekuatan perusakan fisiknya. Untuk memperkuat perjuangan melawan kekuatan pengikut syaitan, umat islam harus mengarahkan dan memanfaatkan rumah tangga dengan sebaik-baiknya sesuai tuntunan Allah. Manakala rumah tangga muslimin dirusak, kaum muslimin akan menjadi lemah menghadapi strategi-strategi mendirikan kerajaan syaitaniah. Para ulul amr bergerak tidak berdasarkan persangkaan. Dalam urusan melawan gerak para pengikut syaitan, para ulul amri mempunyai pengetahuan tentang amanah yang harus diemban dalam tingkatan pengetahuan hakikat, karena itu hendaknya kaum muslimin mentaati ulul amri agar terhubung dengan urusan Allah untuk ruang dan jaman mereka, sehingga dapat melangkah secara berjamaah.

Keberjamaahan terutama terbentuk manakala pengetahuan suatu kaum menyentuh pengetahuan hakikat. Pengetahuan itu merupakan pemahaman yang benar terhadap kehendak Allah. Umat manusia bisa memperoleh pengetahuan-pengetahuan yang banyak walaupun mungkin belum menyentuh hakikatnya, tetapi belum tentu efektif melawan pengetahuan dari alam yang lebih tinggi. Hal itu merupakan kebaikan manakala dilandasi hati yang baik, tetapi mungkin masih akan ditemukan berbagai perselisihan antara satu orang dengan orang lainnya hingga tidak dapat menyatukan manusia dalam suatu jamaah. Langkah yang dirumuskan dari pengetahuan tanpa mengenal hakikat suatu masalah tidak akan seefektif langkah yang ditempuh berdasarkan pengetahuan hakikat. Manakala suatu pengetahuan terkait dengan hakikat dari sisi Allah, setiap makhluk berakal akan berusaha memperhatikan dan melaksanakan hakikat itu kecuali orang-orang yang tidak memahami.

Membina Jamaah

Sihir syaitan yang menjalar di antara manusia saat ini sebenarnya telah memasuki hampir setiap sendi kehidupan. Riba yang dibuat oleh para pengikut syaitan itu telah sedemikian menguasai umat manusia di hampir seluruh permukaan dunia kecuali beberapa bangsa saja. Pada riba itu sebenarnya terdapat simpul-simpul sihir penguasaan dunia yang harus diurai simpulnya oleh kaum mukminin. Demikian pula sihir menjalar di banyak aspek lain kehidupan manusia. Orang-orang islam dijadikan tercerabut dari tauhid yang hakiki digantikan dengan tauhid yang menjadikan diri mereka sebagai golongan yang berbangga-bangga dengan diri mereka sendiri dan merusak orang lain. Orang-orang Islam mungkin saja akan dibuat berselisih sendiri dalam menghadapi sepak terjang para pengikut syaitan, dan sebagian muslim justru menjadi para pelindung bagi pengikut syaitan dari upaya kaum muslimin lain mencegah kejahatan mereka. Pada puncaknya, syaitan menggunakan ilmu Harut Marut (bukan hanya sihir) untuk mencerai-beraikan manusia yang berusaha mengurai simpul-simpul sihir mereka. Segolongan manusia dijadikan syaitan alat menceraikan para pengurai simpul sihir syaitan dari isteri-isterinya hingga tidak mampu berbuat banyak dalam usahanya.

Umat islam harus kembali bertauhid dengan sebenarnya yaitu membina akhlak mulia dalam bentuk memahami kehendak Allah dan mencintai orang lain sebagaimana mencintai diri sendiri. Tidak ada kebodohan yang boleh diikuti umat islam karena akan mencoreng kemurnian ibadah mereka kepada Allah. Orang-orang yang tidak berakal kadang-kadang merasa beribadah semata-mata kepada Allah tetapi sebenarnya hanya mengikuti hawa nafsu mereka sendiri bodoh terhadap kehendak Allah. Kadangkala mereka merasa sebagai pelaksana perintah-perintah Allah tetapi sebenarnya hanya membantu syaitan menimbulkan kekacauan di bumi. Manakala suatu ayat Allah dalam bentuk ayat kauniyah dan ayat kitabullah dibacakan, mereka meninggalkan ayat-ayat itu untuk mengikuti urusan mereka sendiri tanpa tuntunan Allah. Manakala seorang mukmin berusaha mengurai simpul-simpul sihir syaitan melalui para pengikutnya, orang-orang kurang akal itu mungkin akan mengganggu proses penguraian itu. Hal-hal demikian tidak boleh terjadi. Setiap orang harus berusaha memperjelas kemurnian ibadah mereka kepada Allah sebagai tauhid dalam bentuk akhlak mulia, yaitu memahami kehendak Allah dan mencintai orang lain sebagaimana mencintai diri sendiri.

Dampak dari tauhid yang tidak tepat di antaranya adalah sulitnya terbentuk keberjamaahan di antara kaum muslimin. Kadangkala suatu kaum berusaha sungguh-sungguh untuk merealisasikan kebenaran tetapi kebenaran mereka tidak terhubung dengan baik pada suatu hakikat yang digelar pada kauniyah mereka. Yang seringkali terjadi, para penyeru kepada Allah di antara mereka itu diabaikan karena mereka hanya mengikuti pendapat mereka sendiri. Suatu kaum mungkin terwahami mencari jati diri untuk beribadah kepada Allah, tetapi tidak memperhatikan urusan Allah yang digelar pada kauniyah semesta diri mereka. Manakala ada ulil amri di antara mereka, mereka tidak memperhatikannya karena tidak mengenal kehendak Allah sekalipun kehendak itu telah tertulis secara nyata di dalam kitabullah menyentuh kecerdasan jasmaniah. Manakala tidak mengenali ulul amri, mereka tidak akan dapat mentaati ulil amri, dan tidak dapat membentuk al-jamaah mengikuti langkah-langkah Rasulullah SAW. Hal-hal demikian ini sering menjadi warna ironi pada orang-orang yang bertauhid tetapi tidak mengetahui arah yang harus ditempuh.

Tauhid harus dibina di antara pengikut Rasulullah SAW dengan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW disertai memperhatikan penjelasan-penjelasan yang terjadi pada ayat-ayat kauniyah. Fikiran pada tingkatan jasmaniah harus digunakan untuk mencari pengetahuan-pengetahuan kebenaran dan melakukan penalaran dengan benar, tidak disia-siakan. Pengetahuan yang paling benar adalah tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Sekalipun apabila seseorang tidak mengerti makna kebenarannya, hendaknya ia tidak mendustakan. Apa yang selain Alquran dan sunnah Rasulullah SAW bisa mengandung kebenaran dan kebathilan, maka hal ini membutuhkan kekuatan fikiran dan akal untuk memisahkannya. Seseorang boleh mengikuti perkataan yang lain dengan berusaha memisahkan kebenaran dan kebathilan yang ada di dalamnya, maka pikiran dan akalnya akan menguat. Mengikuti perkataan-perkataan yang tidak jelas kebenarannya akan menjadikan pikiran manusia lemah.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar