Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Secara umum ditemukaan 3 golongan manusia dalam urusan Allah. Golongan yang utama adalah orang-orang yang diberi nikmat Allah. Selain itu ada golongan orang-orang yang dimurkai Allah karena hanya mempertuhankan kepentingan diri mereka sendiri sama sekali mengabaikan atau bahkan melawan urusan Allah. Di antara kedua golonga itu ada orang-orang yang berusaha mendekat kepada Allah tetapi tidak memperhatikan urusan Allah dengan benar. Kaum muslimin hendaknya berdoa agar dapat menyatukan diri dengan orang-orang yang memperoleh nikmat Allah dan beramal mengikuti mereka dengan benar.
﴾۷﴿صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS Al-Fatihah : 7)
Ada orang-orang yang diberi nikmat Allah. Mereka adalah orang-orang yang mengenal kehendak Allah untuk ruang dan jaman mereka sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan memahami urusan yang harus ditunaikan dalam kehidupan diri untuk mengikuti kehendak Allah. Mereka memahami suatu hakikat yang menghubungkan peristiwa di alam dunia dengan kehendak-Nya sehingga dapat memahami fenomena kauniyah sesuai dengan kehendak-Nya. Hakikat itu berupa penjelasan (bayyinah) atau/dan petunjuk yang diturunkan Allah kepada mereka mengikuti tuntunan suatu ayat dalam kitabullah. Demikian itulah keadaan orang-orang yang diberi nikmat Allah. Kadangkala seseorang menggunakan akalnya untuk memahami kauniyah mereka maka Allah memberitahukan kepadanya hakikat dari yang ada pada akalnya, kemudian ia mencari penjelasannya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ada kalanya seseorang membaca ayat dalam kitabullah maka Allah memberitahukan hakikat dari apa yang dibacanya. Kebenaran dari hakikat itu kemudian diperiksa melalui hubungan antara suatu ayat dengan ayat kitabullah lainnya.
Tidak semua manusia memperoleh nikmat Allah sekalipun jika mereka bukan termasuk orang-orang yang celaka. Nikmat Allah merupakan hadiah bagi hamba-Nya yang baik. Umat manusia hendaknya berusaha mengikuti golongan yang diberi nikmat Allah maka ia akan memperoleh hidayah. Sekalipun mungkin belum sampai memperoleh nikmat Allah, mereka akan bergerak menuju nikmat Allah tidak berjalan menuju neraka yang menyiksa. Yang dimaksud mengikuti dengan benar adalah tumbuhnya akhlak mulia diri di atas sifat rahman dan rahim. Banyak orang yang berkata bahwa mereka adalah orang-orang yang paling benar mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tetapi tidak tumbuh pada mereka sifat rahman dan rahim. Itu menunjukkan bahwa mereka hanya meniru syariat Rasulullah SAW tanpa landasan pengetahuan tentang arah kehidupan yang harus ditempuh sehingga tidak dapat dikatakan mengikuti orang-orang yang diberi nikmat Allah.
Perkembangan akhlak setiap hamba harus melalui tanda-tanda yang mengarah kedekatan kepada Allah sesuai dengan langkah yang dicontohkan para nabi. Pada tahap awal, melangkah mendekat kepada Allah harus dilakukan dengan tazkiyatun-nafs hingga seorang hamba dapat memahami petunjuk Allah secara tepat tanpa interferensi dari petunjuk lain. Akal dan pikiran seseorang harus menjadi kuat dalam memahami kehendak Allah. Hal ini akan mengantarkan seseorang untuk memahami fitrah penciptaan diri masing-masing. Ini adalah melangkah hijrah menuju tanah suci. Setelah seseorang telah mengenal fitrah dirinya, ia harus berusaha meninggikan dan mendzikirkan asma Allah melalui pembentukan bayt yang diijinkan untuk itu. Seseorang yang telah mengenal diri tidaklah bertujuan untuk menonjolkan diri, tetapi memberikan manfaat dari pengenalan dirinya kepada Allah dengan meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya. Ini adalah akhir perjalanan yang dapat diusahakan oleh setiap hamba Allah. Adapun langkah didekatkan kepada Allah dengan mi’raj sepenuhnya merupakan kehendak Allah, apakah Dia memberikan mi’raj atau tidak kepada hamba-Nya sedangkan hamba Allah tidak perlu mengusahakannya.
Perlu ketelitian bagi setiap hamba Allah dalam menempuh perjalanan dengan berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Semakin jauh perjalanan seorang hamba kembali kepada Allah untuk menjadi hamba yang diberi nikmat, akan semakin terbuka pemahaman terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hingga suatu saat mungkin Allah berkenan membukakan kepadanya keterbukaan yang menjelaskan (fathan mubiinan). Apabila pemahaman seseorang terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak semakin bertambah, mungkin ia terkungkung oleh waham. Hal ini bisa menjadi pangkal kesesatan dalam perjalanan taubat. Kadangkala kungkungan waham tidak menjadikan seseorang tersesat tetapi hanya mengurungnya terus dalam keadaan berpegang pada waham yang diyakininya tidak dapat memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bahkan manakala orang lain membacakan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah kepadanya terkait ayat kitabullah. Bila seseorang melangkah dengan benar, mereka akan semakin mudah memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Membaca keadaan kauniyah akan membantu seseorang untuk memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak terjebak dalam waham yang menghambat perjalanan. Tuntunan kitabullah merupakan berita tentang hakikat yang menjadi sumber peristiwa kauniyah. Manakala berita itu dipahami dengan tepat maka langkah yang dilaksanakan berdasar pemahaman itu akan mendatangkan kebaikan bagi alam kauniyah. Manakala pemahaman tidak tepat atau kurang lengkap, langkah yang dilaksanakan mungkin tidak efektif mendatangkan hasil yang baik. Tidak jarang manusia tidak memperhatikan tuntunan kitabullah maka upaya mendatangkan kebaikan hanya berputar-putar tidak mendatangkan hasil yang layak. Misalnya manakala suatu bangsa muslim mengusahakan kesejahteraan dan keadilan, mereka seringkali diguncang oleh oligarki dengan tatanan ekonomi riba sedangkan muslimin tidak memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bila kaum muslimin berharap kepada Allah untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan dengan memperhatikan tuntunan kitabullah dan melakukan usaha perubahan keadaan secara bertahap menuju tuntunan yang terbaik, akan sulit bagi para kepitalis untuk mengguncang langkah mewujudkan kesejahteraan dan keadilan. Kebanyakan kaum muslimin hanya mengikuti tatanan ribawi tanpa memikirkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sesuai dengan keadaan kauniyah, maka kaum muslimin tampak seperti dipermainkan oleh para kapitalis.
Pengajaran Allah dan Kesempitan Kehidupan
Berpegang pada tuntunan kitabullah akan menjadikan umat menemukan jalan keluar dari kesempitan kehidupan mereka. Banyak masalah kesempitan kehidupan dunia disebabkan karena manusia berpaling dari pengajaran Allah, dan kesempitan karena hal itu akan diangkat Allah dengan melaksanakan pengajaran-pengajaran Allah. Sebaliknya orang-orang beriman akan terpuruk pada kehidupan yang sempit manakala mereka meninggalkan pengajaran-pengajaran Allah.
﴾۴۲۱﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
Dan barangsiapa berpaling dari pengajaran-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (QS Thaahaa :124)
Pengajaran Allah ( ذِكْرِي ) pada ayat di atas menunjuk pada petunjuk yang telah dipahami oleh orang beriman secara matang hingga siap untuk dilaksanakan. Ayat-ayat kitabullah merupakan petunjuk paling benar yang diturunkan Allah kepada umat manusia agar manusia dapat memahami kehendak Allah atas diri mereka. Selain kitabullah, Allah menurunkan pula petunjuk-petunjuk kepada umat manusia hingga banyak makhluk diperintahkan untuk memberikan petunjuk kepada manusia. Misalnya Allah mengutus alam langit menurunkan hujan deras yang merupakan pengetahuan bathiniah bagi manusia yang memohon ampunan Allah. Petunjuk-petunjuk demikian sebenarnya bertujuan agar manusia memahami ayat kitabullah. Kumpulan petunjuk-petunjuk pada diri manusia yang menjadikan akalnya dapat memahami urusan Allah yang tertera dalam kitabullah Alquran akan membentuk suatu pengajaran Allah ( ذِكْرِي ) yang merupakan jalan keluar untuk mengatasi kesempitan kehidupan dunia.
Dalam perjalanan taubat seorang muslim, sangat banyak ditemukan bentuk petunjuk yang benar dan tiruan-tiruan dari petunjuk yang muncul dari syahwat ataupun hawa nafsu diri, dan juga syaitan yang membuat petunjuk-petunjuk yang menyesatkan. Petunjuk yang benar adalah petunjuk-petunjuk yang mengantarkan seseorang untuk bisa memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hingga mereka menemukan jalan ibadah sesuai kehendak Allah. Manakala suatu petunjuk tidak dapat mengantarkan seseorang untuk dapat memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, petunjuk demikian belum diketahui nilai kebenarannya. Segala petunjuk yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah merupakan petunjuk yang salah menyesatkan perjalanan manusia bertaubat kepada Allah. Nilai kebenaran ini akan diketahui oleh orang-orang yang mempunyai keikhlasan dalam mencari jalan kembali kepada Allah dengan berusaha mengenal kehendak Allah dengan benar.
Banyak orang bertaubat tidak tepat mensikapi petunjuk dalam mencari jalan taubat, utamanya tidak bersungguh-sungguh berusaha memahami tuntunan kitabullah untuk kehidupan diri mereka. Mereka tidak memperhatikan sesuatu berdasarkan cara pandang kitabullah. Petunjuk dari alam kauniyah, petunjuk yang diturunkan dalam hati dan petunjuk-petunjuk lain disikapi tanpa terintegrasi dengan tuntunan kitabullah. Kadangkala suatu kaum lebih mengikuti perkataan manusia dibandingkan dengan tuntunan kitabullah, bahkan sekalipun jelas bertentangan. Kadangkala seseorang memperoleh suatu petunjuk yang jelas di dalam hatinya, Rasululullah SAW dalam buku-buku hadits shahih telah berbicara tentang petunjuk dalam hatinya tersebut, dan demikian pula Alquran membicarakan tema dalam petunjuk itu, tetapi orang tersebut tidak mempunyai suatu keinginan untuk mengetahui makna petunjuk yang diterimanya menurut tuntunan Allah. Manakala orang lain menunjukkan ayat Allah terkait petunjuknya, mereka tidak mau mengikuti ayat Allah tersebut karena manusia tidak mengatakannya. Hal ini menunjukkan sikap tidak menggunakan akal untuk memahami kehendak Allah, justru mempertuhankan manusia.
Bila bersikap dengan cara demikian, orang bertaubat tidak akan tumbuh memahami kehendak Allah. Hal terpenting bagi setiap orang adalah memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, baik dengan petunjuk yang lain ataupun tidak. Bila suatu petunjuk bentuk lain tidak digunakan untuk memahami tuntunan Allah, petunjuk itu sebenarnya tidak bermanfaat. Seringkali petunjuk demikian itu hanya mengombang-ambingkan manusia dalam ombak hawa nafsu. Sebaliknya suatu petunjuk yang sesat sekalipun akan bisa bermanfaat manakala digunakan untuk memahami tuntunan Allah dengan benar. Manakala syaitan membisikkan sesuatu kesesatan, seseorang bisa membalik kesesatan itu untuk memahami kehendak Allah dengan berpegang pada kitabullah Alquran. Pemahaman petunjuk-petunjuk secara terintegrasi dengan tuntunan Allah akan membentuk pengajaran, dan langkah mengikuti pengajaran itu akan mengentaskan manusia dari kesempitan kehidupan baik untuk diri sendiri ataupun untuk umatnya.
Dewasa ini umat islam tampak tertinggal dari kaum lainnya dalam kehidupan dunia. Hal ini tidak menunjukkan ketiadaan orang yang memperoleh pengajaran Allah hingga menyebabkan pengetahuan kaum muslimin tertinggal. Boleh jadi orang-orang yang memperoleh pengajaran Allah tidak dapat berbuat leluasa karena keadaan umat yang tidak baik, bukan karena tidak adanya pengajaran Allah. Manakala mereka mengungkapkan suatu kebenaran, kaum yang tidak baik mungkin akan menyalahgunakan apa yang diungkapkan. Kadangkala umat sendiri membatasi ruang gerak orang yang memperoleh pengajaran Allah karena wahamnya hingga sulit memberikan kebaikan bagi umat. Seringkali umat manusia terjebak dalam waham sendiri sehingga menghambat perbaikan keadaan.
Kadangkala jebakan waham itu berupa pemikiran deterministik. Misalnya ketika seseorang atau suatu kaum dalam keadaan sulit mereka menganggap secara terus menerus bahwa Allah memberikan ujian kesulitan atas diri mereka. Pemikiran itu mungkin benar untuk sementara waktu, tetapi boleh jadi bila seseorang membaca tuntunan kitabullah dan keadaan kauniyah dengan benar ia akan menemukan bahwa sebenarnya masalah mereka muncul dari ketidaktaatan dalam melaksanakan petunjuk Allah. Atau mungkin akan banyak persoalan yang berkelindan mendatangkan masalah bagi dirinya diterangkan dalam kitabullah. Tentu saja Allah menimpakan kehidupan yang sempit bagi mereka karena keberpalingan dari melaksanakan petunjuk Allah atau menghalangi manusia untuk melaksanakan pengajaran Allah, dan kelak Allah akan menghimpunkan mereka dalam keadaan buta di alam makhsyar. Hal-hal semacam ini harus diperhatikan oleh orang-orang yang berusaha berpegang pada tuntunan kitabullah agar tidak terjebak pada suatu waham yang menghambat pemahaman terhadap kehendak Allah.
Setiap orang hendaknya berusaha untuk berpegang pada tuntunan kitabullah dengan sebaik-baiknya untuk dapat mengikuti langkah dan menjadikan diri dalam golongan orang-orang yang diberi nikmat Allah. Orang-orang yang diberi nikmat Allah merupakan orang yang dapat memahami sesuatu yang terjadi sesuai dengan tuntunan Allah. Kebersamaan dengan orang-orang yang diberi nikmat Allah akan mendatangkan manfaat yang besar bagi kehidupan di alam dunia. Sekalipun seseorang belum memahami suatu hakikat, kebersamaan dengan orang-orang yang diberi nikmat Allah akan mendatangkan manfaat yang besar karena benarnya langkah yang dilakukan oleh umat manusia melaksanakan kehendak Allah. Kebersamaan itu dalam bentuk pelaksanaan amanah dalam kitabullah bukan kebersamaan membuta. Mungkin saja orang-orang yang diberi nikmat Allah tidak dapat berbuat banyak karena sedikitnya orang-orang yang benar-benar berharap petunjuk shirat al-mustaqim, atau justru karena halangan yang dibuat oleh umat terhadap langkah yang perlu dilakukan untuk mengikuti pengajaran Allah, maka keadaan mereka tidak baik. Walaupun sebenarnya mengetahui jalan untuk memperbaiki keadaan umat, orang yang diberi nikmat Allah belum tentu diberi kemampuan untuk mewujudkannya karena keadaan umatnya. Bila memungkinkan untuk beramal, mereka akan beramal dengan sebaik-baiknya memberikan kebaikan umat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar