Pencarian

Selasa, 17 Juni 2025

Pengajaran dan Kesejahteraan

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Berpegang pada tuntunan kitabullah akan menjadikan umat menemukan jalan keluar dari kesempitan kehidupan mereka. Banyak masalah kesempitan kehidupan dunia disebabkan karena manusia berpaling dari pengajaran Allah, dan kesempitan karena hal itu akan diangkat Allah dengan melaksanakan pengajaran-pengajaran Allah. Sebaliknya orang-orang beriman akan terpuruk pada kehidupan yang sempit manakala mereka meninggalkan pengajaran-pengajaran Allah.

﴾۴۲۱﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
Dan barangsiapa berpaling dari pengajaran-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (QS Thaahaa :124)

Pengajaran Allah ( ذِكْرِي ) pada ayat di atas menunjuk pada petunjuk yang telah dipahami oleh orang beriman secara matang hingga siap untuk dilaksanakan. Ayat-ayat kitabullah merupakan petunjuk paling benar yang diturunkan Allah kepada umat manusia agar manusia dapat memahami kehendak Allah atas diri mereka. Selain kitabullah, Allah menurunkan pula petunjuk-petunjuk kepada umat manusia ke dalam hati-hati orang beriman. Petunjuk-petunjuk demikian bertujuan agar manusia memahami ayat kitabullah. Kumpulan petunjuk-petunjuk pada diri manusia yang menjadikan akalnya dapat memahami urusan Allah yang tertera dalam kitabullah Alquran akan membentuk suatu pengajaran Allah ( ذِكْرِي ) yang merupakan jalan keluar untuk mengatasi kesempitan kehidupan dunia.

Suatu pengajaran yang diberikan kepada seseorang dapat memberikan manfaat yang besar bagi umat. Suatu pengajaran hampir selalu bersifat berlaku umum walaupun mungkin saja yang wajib melaksanakan hanya orang-orang tertentu. Kadangkala suatu adz-dzikra harus dilaksanakan oleh beberapa orang secara berjamaah. Misalnya boleh jadi suatu pengajaran disampaikan agar suatu kaum membentuk organisasi pada mereka. Pengajaran demikian mungkin disampaikan kepada satu atau beberapa orang di antara mereka, dan masing-masing orang yang terlibat harus membina diri untuk layak melaksanakan perannya dalam organisasi itu. Kadangkala orang yang terlibat tidak menerima pengajaran itu tetapi mau mengikuti pengajaran untuk melaksanakan urusan Allah.

Akhlak Sebagai Sasaran Pengajaran

Pembinaan untuk mewujudkan pengajaran Allah demikian tidak hanya dilakukan terkait keterampilan melaksanakan tugas, tetapi yang lebih utama adalah akhlak mulia untuk melaksanakan kehendak Allah. Sebagai gambaran dapat dilihat pada kasus pengajaran yang harus ditunaikan dalam skala rumah tangga, misalnya suatu rumah tangga harus membentuk rumah tangga ta’addud karena ada petunjuk Allah kepada mereka. Seorang suami mungkin harus berpikir keras untuk memahami urusan ta’addud yang diberikan kepada dirinya dengan menimbang berbagai faktor dalam kehidupan dirinya dan tuntunan kitabullah tentang urusan pernikahan. Seorang isteri mungkin harus berjuang keras menerima tuntunan itu manakala benar, atau ia terjebak pada sikap memandang rendah suaminya yang terseret syahwat dan hawa nafsu terhadap banyak perempuan selain dirinya. Demikian pula perempuan yang terlibat dalam urusan ta’addud itu harus berusaha menerima urusan itu sebagai isteri kedua atau seterusnya. Melaksanakan pengajaran demikian membutuhkan akhlak mulia lebih daripada kemampuan untuk membentuk sekian rumah tangga dalam satu keluarga, karena Allah memberikan pengajaran kepada setiap pihak untuk membentuk akhlak mulia bagi diri mereka.

Melalui pernikahan ta’addud, seorang isteri mungkin harus belajar untuk menyayangi perempuan lain sebagaimana ia menyayangi dirinya sebagai isteri dari suaminya. Itu merupakan standar akhlak yang seharusnya dicapai dan diwujudkan dalam dirinya. Seorang perempuan lain mungkin harus mewujudkan akhlak untuk mau/mampu berperan menolong suaminya dalam menunaikan pengajaran-pengajaran yang diperoleh suaminya, bersama madunya. Seorang suami mungkin harus berusaha memahami dengan lebih baik setengah bagian agama bagi dirinya melalui ta’addud, selain bahwa ia harus menambah amal shalih karena memperoleh penolong untuk melaksanakan amanah yang diberikan kepada dirinya, dan pengurai amanahnya. Pembentukan akhlak ini harus dipahami dan diwujudkan oleh setiap orang yang menerima pengajaran. Dalam hal ini, pengajaran berbentuk petunjuk dalam hati yang telah dipahami kemaslahatannya oleh seorang laki-laki berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, bukan petunjuk dalam bentuk yang belum terpahami.

Berbalik dari pengajaran demikian akan mendatangkan kesempitan dalam kehidupan bagi masing-masing pihak, bahkan mungkin kesempitan bagi semua pihak. Sekalipun misalnya pengajaran itu berupa pengajaran membentuk rumah tangga, tetapi boleh jadi rumah tangga itu akan menjadi sumber mengalirnya khazanah Allah bagi umat manusia. Terganggunya rumah tangga akan mendatangkan kesempitan bagi umat seluruhnya. Setiap orang harus berusaha mewujudkan pengajaran yang telah sampai kepada dirinya manakala dapat dilakukan. Mungkin pengajaran itu berat, tetapi meninggalkan pengajaran itu lebih berat konsekuensinya. Bila tidak dapat dilakukan maka tidak mengapa ia mengesampingkan sejenak niat melaksanakannya untuk mengerjakan amal-amal yang lain, hingga datang kesempatan untuk melaksanakan pengajaran. Kadangkala memaksakan diri berusaha melaksanakan suatu pengajaran lebih mendatangkan kerusakan pada banyak pihak daripada manfaatnya, maka hal ini bisa menjadi alasan untuk mengesampingkan sementara waktu pelaksanaannya. Misalnya bila para perempuan saling menyerang satu dengan yang lain dan menghinakan suaminya karena pengajaran yang diberikan, maka seseorang bisa menunda usaha pelaksanaan hingga keadaan menjadi memungkinkan.

Sangat banyak pihak yang akan mengganggu proses memahami dan melaksanakan pengajaran demikian karena nilai manfaat yang akan tumbuh dari pelaksanaan pengajaran. Sekadar untuk memahami pengajaran pun akan ada pihak yang berusaha membengkokkan agar manusia tidak memperoleh pengajaran yang benar. Manakala seorang laki-laki dapat memahami pengajaran dengan lurus, mungkin para perempuan akan diberi perkataan-perkataan yang menyimpang agar timbul perselisihan di antara mereka hingga mengganggu atau menggagalkan pelaksanaan pengajaran. Demikian pula umat mungkin akan dibuat memandang buruk pelaksanaan pengajaran di antara mereka. Alih-alih membina akhlak untuk menyayangi calon madunya, seorang isteri bisa saja justru berselisih dengan calon madunya tidak mau menerima pengajaran suaminya, atau seorang calon madu membakar permusuhan di antara suami dan isteri dengan perkataan tidak baik terhadap keluarga yang sudah terjalin. Itu adalah contoh-contoh gangguan yang bisa muncul dalam melaksanakan pengajaran. Syaitan sangat berkepentingan untuk menggagalkan pelaksanaan pengajaran.

Selain menyebabkan kesempitan dalam kehidupan, meninggalkan pelaksanaan pengajaran akan menyebabkan seseorang akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan buta. Setiap ditinggalkannya pengajaran akan mendatangkan kesempitan kehidupan baik bagi diri sendiri ataupun orang-orang yang terkait dengan mereka, baik ditinggalkan dengan terpaksa karena keadaan yang tidak memungkinkan ataupun ditinggalkan karena seseorang mengikuti hawa nafsu. Manakala seseorang meninggalkan pengajaran karena mengikuti hawa nafsu, mereka akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan buta. Manakala seseorang meninggalkan pengajaran karena terpaksa tidak dapat melaksanakannya, barangkali ia dapat berharap ampunan Allah tidak mampu melaksanakannya dan berharap agar ia tetap diberi penglihatan kelak di akhirat. Tetapi tetap saja ia akan dihantui ketakutan tertutupnya penglihatannya di akhirat. Setiap orang harus selalu berusaha mengukur kemungkinan pelaksanaannya manakala meninggalkannya.

Kesempitan akan terjadi atas orang-orang yang meninggalkan pengajaran Allah. Orang-orang yang tidak menyadari masalah mungkin akan berusaha menghindari kesempitan itu tetapi tidak memperoleh jalan untuk mencapai kehidupan yang layak. Ada hal buruk yang mungkin timbul dari hal demikian, bahwa ia akan sulit mensyukuri keadaan yang diberikan Allah dan mungkin bersikap kufur terhadap ketetapan atas dirinya. Mungkin ia akan mencela orang-orang yang ada di sekitarnya. Sebenarnya kesempitan yang terjadi atas diri mereka disebabkan karena mereka meninggalkan pengajaran Allah, bukan karena orang lain bertindak tidak sesuai keinginannya. Sebagian orang yang menyadari telah meninggalkannya mungkin akan bersikap memilih kesempitan sekalipun manakala melihat peluang mencapai kemakmuran karena mengetahui ketetapan atau pilihan Allah atas dirinya, atau karena berpikir bahwa peluang yang terlihat itu hanyalah sebuah prank. Walaupun bersikap demikian, bisa saja ia terjebak bersikap mencela orang-orang yang ada di sekitarnya. Hal ini harus diwaspadai. Ia hendaknya selalu memperhatikan setiap kesempatan terbukanya peluang untuk melaksanakan pengajaran yang sampai kepada dirinya, atau bahkan berusaha untuk membuka kesempatan bila memungkinkan.

Pengajaran hendaknya disampaikan kepada orang-orang yang mau menggunakan akalnya. Hal ini sedikit banyak akan membantu membuka kesempatan untuk melaksanakan pengajaran. Kadangkala penghalang pelaksanaan pengajaran tidak hanya disebabkan oleh orang-orang yang terlibat dalam pengajaran itu tetapi juga karena adab dan cara berpikir masyarakat yang lebih luas. Kebanyakan orang hanya mengikuti waham, dan ini merupakan penghalang yang paling sulit untuk menyampaikan pengajaran, tetapi selalu ada kemungkinan seseorang menggunakan akalnya yang mungkin kemudian akan membantu dirinya untuk melaksanakan pengajaran. Seringkali orang yang tidak berpengetahuan lebih mudah melihat kebenaran pada suatu pengajaran yang disampaikan, daripada orang-orang yang mengikuti waham tertutupi dengan wahamnya. Waham pada umat itu bertingkat-tingkat hingga kadang dapat terbentuk sedemikian kuat sedemikian suatu maksiat dipandang sebagai suatu kebenaran. Ketika pengajaran disampaikan kepada orang yang mengikuti waham, seringkali mereka tidak melihat kebenaran pada pengajaran karena tertutupi waham mereka. Tidak jarang mereka memaksakan waham mereka untuk menghalangi kesempatan melaksanakan pengajaran. Hal demikian ini akan menjadi sumber kesempitan kehidupan secara luas.

Keadaan Umat

Umat islam dewasa ini kebanyakan bersikap seperti perempuan yang tidak mau dimadu untuk melaksanakan pengajaran Allah. Mereka menyangka tidak ada suatu pengajaran Allah yang harus dilaksanakan kecuali apa yang mereka pahami saja. Barangkali menurut mereka perintah Allah itu hanyalah apa-apa yang dapat dibaca dari kertas saja. Manakala menemukan suatu pengajaran barangkali mereka mengira bahwa hal itu hanya omong kosong orang yang mencari keuntungan, tidak berusaha membaca kebenaran pada pengajaran yang disampaikan kepada mereka oleh seseorang yang menerima pengajaran. Manakala mengenali kebenarannya, mereka berusaha menghindar dari pelaksanaannya karena tidak sesuai dengan hawa nafsunya. Pola pikir demikian diperparah dengan tingkah orang-orang yang memang mencari keuntungan dengan ajaran agama atau orang-orang yang salah menempuh jalan. Hal demikian ini akan menimbulkan kesulitan dalam proses pemakmuran.

Keberhasilan pensejahteraan kehidupan akan dipengaruhi oleh setiap pihak yang seharusnya terlibat dalam suatu pengajaran. Manakala seseorang tidak mau mengikuti pengajaran dan berpaling dari pengajaran itu, akan muncul suatu kesempitan terhadap diri mereka. Acapkali manusia berusaha menghindari kesempitan kehidupan sedangkan jelas mereka telah meninggalkan suatu pengajaran yang seharusnya dilaksanakan, maka upaya mereka untuk mencapai kesejahteraan akan sia-sia karena Allah menentukan kesempitan bagi mereka. Mungkin suatu kesejahteraan akan lebih mudah terwujud apabila mereka menjadi kafir, tetapi itu hanya kesejahteraan ragawi saja. Akhlak mereka akan menjadi buruk hingga tidak dapat mengenal kebenaran yang menjadi sumber kesejahteraan jiwa, dan keadaan mereka secara keseluruhan selain harta benda akan buruk.

Terlaksananya suatu pengajaran akan membuka jalan turunnya pengajaran lain yang akan memberikan manfaat besar bagi masyarakat secara lebih luas. Seseorang harus menata dirinya, maka mungkin ia akan memperoleh suatu pengajaran untuk menata keluarga. Manakala ia telah menata keluarga, boleh jadi ia akan memperoleh pengajaran untuk menata umat dalam skala yang kecil. Manakala pengajaran umat skala kecil telah ditunaikan, ia mungkin akan memperoleh pengajaran untuk menata umat yang lebih besar. Demikian seterusnya bahwa suatu pengajaran akan membuka kesejahteraan bagi umat manusia secara luas. Pusat dari pengajaran itu bersumber dari pernikahan sebagai setengah bagian dari agama. Landasan pembinaan akhlak mulia berupa sifat rahman dan rahim sebagian besar ditemukan dalam rumah tangga, dan harus ditumbuhkan dalam keluarga. Wujud sifat rahman dan rahim itu kadangkala dituntut hingga setiap orang dapat menyayangi seluruh anggota keluarga ta’addudnya sebagaimana ia menyayangi diri sendiri, dan suami memahami urusan Allah melalui keluarga yang lebih kompleks. Peran keumatan secara lebih luas harus terbangun di atas pertumbuhan sifat rahman dan rahim dalam keluarga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar