Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Mengikuti langkah Rasulullah SAW dapat dilakukan dengan beribadah dengan ikhlash kepada Allah secara hanif.
﴾۵﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya secara hanif, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS Al-Bayyinah : 5)
Hanif menunjuk pada sikap mengikuti kebenaran yang terbaik tidak terkungkung pada waham-waham. Tauladan utama sikap hanif terdapat pada nabi Ibrahim a.s ketika mencari pengenalan terhadap Allah. Beliau berusaha mengenali kebenaran-kebenaran yang terhampar pada semesta dirinya, kemudian berusaha menemukan ilah yang terbaik untuk tujuan dari ibadah yang harus dilakukannya tidak terjebak pada suatu waham. Demikian setiap manusia harus berusaha seperti nabi Ibrahim a.s menemukan ilah yang terbaik. Tentunya di jaman ini manusia tidak perlu mencari ilah dalam bentuk makhluk karena para nabi dan rasul yang telah diutus telah mengajarkan tentang ilah yang benar maka mengulang perbuatan nabi Ibrahim a.s akan merepotkan dan akan menyimpang karena kekuatan akal yang tidak sama. Tetapi setiap orang pada setiap jaman harus tetap berusaha menemukan pengenalan yang terbaik terhadap bentuk ibadah dirinya kepada Allah mengikuti sikap hanif nabi Ibrahim a.s.
Menumbuhkan sikap hanif dapat dilakukan dengan berusaha mencerap dan menimbang nilai-nilai kebaikan dalam kebenaran yang dapat diikuti. Tidak semua kebenaran yang didengar harus diuji misalnya dalam hal tuntunan syariat, tetapi pemahaman yang terbentuk ditingkatkan. Kadangkala seseorang mendengar atau melihat suatu kebenaran dalam suatu perkara yang dapat dipahami dan kemudian mengikutinya tetapi tidak pernah berusaha menimbang nilai kebaikan pada kebenaran itu maka ia berhenti pada suatu kejumudan dan menjadi seorang fanatik tanpa suatu pemahaman. Hal demikian merupakan tindakan tidak hanif. Setiap sikap hanif akan mengantarkan seseorang untuk memahami masalah dengan lebih baik dan menjadi landasan bertindak yang lebih baik.
Sikap hanif ini sangat penting diperhatikan oleh setiap orang beriman agar mereka terbentuk sebagai pohon thayibah yang berakar kuat dan dapat memberikan buah di setiap waktu. Di jaman ini, sikap hanif jarang ditemukan di antara manusia bahkan di antara kaum mukminin. Kaum muslimin banyak terjebak pada ajaran-ajaran yang tidak mengakar pada buminya seperti pohon yang buruk tercerabut dari buminya. Konsep-konsep ibadah dibentuk sedemikian oleh orang-orang yang tidak bertakwa kepada Allah atau bahkan oleh kaum musyrikin dan diajarkan kepada orang beriman sedemikian orang beriman tidak dapat tumbuh berakar pada buminya. Sebagian ajaran itu bahkan menjadikan orang yang berusaha menumbuhkan akar pada buminya justru tercerabut kembali hingga tersisa konsep-konsep yang hanya dapat diceritakan. Hal ini bisa terjadi karena kurangnya umat islam atau orang-orang beriman dalam bersikap hanif.
Ikhlas menunjukkan pada kemurnian ibadah yang dilakukan semata-mata untuk melaksanakan urusan Allah. Setiap orang harus berusaha untuk melaksanakan perintah Allah bagi dirinya secara tepat tanpa suatu campuran urusan dari yang lain sebagai ibadah dirinya kepada Allah. Campuran-campuran terhadap ibadah seorang muslim bisa muncul dari keinginan badaniah terhadap materi duniawi ataupun lawan jenis, keinginan hawa nafsu berupa kehormatan di antara makhluk ataupun muncul dari bisikan syaitan dan thaghut-thaghut yang mungkin muncul kepada seseorang. Adapun kesyirikan dalam bentuk nyata merupakan akibat dari adanya ketiga sebab tersebut yang dapat dibersihkan bila dibersihkan sebabnya. Ketiga hal tersebut bisa memunculkan kotoran yang mengotori keikhlasan ibadah seseorang. Suatu keikhlasan akan terbentuk apabila seseorang berusaha melaksanakan perintah Allah secara tepat dengan menghindarkan pengotor-pengotor yang mungkin menghinggapi.
Membina Keikhlasan dan Kehanifan
Sangat banyak tingkatan keikhlasan dan kehanifan ibadah di antara manusia. Bentuk terbaik ibadah yang ikhlas dan hanif yang dapat dicapai adalah terwujudnya bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya. Unsur bayt demikian adalah seorang laki-laki yang mengenal dengan tepat perintah Allah untuk dirinya, dan isteri atau isteri-isterinya dan anak-anaknya mengikuti dan menolong mewujudkan pemahaman suaminya terhadap urusan Allah yang dikenalinya. Ini adalah puncak millah nabi Ibrahim a.s dalam mewujudkan keikhlasan dan kehanifan beribadah kepada Allah. Millah ini merupakan pokok tauladan kebenaran dalam beribadah kepada Allah. Seseorang yang terhubung dengan benar kepada millah Ibrahim a.s akan terhubung kepada Rasulullah SAW. Setiap penentangan atau penyimpangan dari millah ini merupakan kesesatan. Setiap orang hendaknya berusaha mengikuti millah nabi Ibrahim a.s membina keikhlasan dan hanif dalam beribadah kepada Allah.
Setiap usaha bertindak dengan benar berlandaskan pemahaman yang benar terhadap kehendak Allah merupakan bentuk keikhlasan walaupun mungkin baru keikhlasan tahap awal. Kebenaran tindakan dan pemahaman demikian harus dibuktikan dengan kehanifan. Seseorang yang bertindak berdasarkan waham dan/atau kejumudan berpikir tidak termasuk dalam keikhlasan. Tidak sedikit orang yang memandang dirinya berusaha bertindak dengan benar dengan pemahaman yang benar tetapi menutup mata tidak mau berusaha memahami kebenaran yang disampaikan dari orang lain. Hal ini samasekali bukan keikhlasan. Suatu keikhlasan ditunjukkan dengan kemauan untuk berusaha memahami kebenaran. Mungkin seseorang belum benar-benar memahami suatu kebenaran, tetapi ia mau menampung cercah kebenaran yang disampaikan maka ia mempunyai bahan keikhlasan. Manakala seseorang sombong dengan kebenaran yang ada pada dirinya dan memandang rendah kebenaran dari orang lain, maka tidak ada keikhlasan dalam diri mereka. Hal ini berlaku bagi setiap orang yang sombong sekalipun seseorang telah mencapai kedudukan atau ilmu yang tinggi. Dengan cara ini maka seseorang dapat mulai membina keikhlasan dan kehanifan dirinya dalam beribadah kepada Allah.
Arah yang perlu dituju dalam membina keikhlasan dan kehanifan adalah membentuk bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Bayt ini adalah rumah tangga yang berusaha meninggikan dan mendzikirkan asma Allah dengan kondisi tertentu. Aspek utama yang harus dibentuk dalam diri setiap manusia sebagai landasan akhlak adalah sifat rahman dan sifat rahim, dan sifat-sifat ini dapat terwujud secara benar dan kokoh bila disertai membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Kadangkala seseorang mengenal kehendak Allah tetapi hanya dapat mewujudkan berupa kata-kata saja sedangkan sifatnya sendiri tidak tumbuh kokoh karena media pernikahan amburadul. Atau kadangkala ia dapat berbuat dengan amal-amal berdasar pemahaman terhadap kehendak Allah tetapi amal-amal itu tidak mendatangkan hasil yang layak karena rumah tangga buruk. Kokohnya pertumbuhan seseorang akan dipengaruhi pernikahannya.
Sebenarnya tidak hanya aspek utama itu saja yang terbentuk dalam proses membina bayt. Sangat banyak aspek terkait dengan akhlak mulia yang dapat terbentuk pada diri setiap orang. Aspek-aspek pembinaan akhlak mulia akan tumbuh mengakar dengan kokoh pada diri setiap orang apabila ia berusaha membina aspek-aspeknya melalui pembinaan rumah tangga mengikuti tuntunan Allah. Membentuk bayt untuk meninggikan asma Allah akan menumbuhkan aspek-aspek akhlak mulia secara kokoh dan benar pada diri seseorang, dan pertumbuhan akhlak mulia akan dipengaruhi rumah tangganya.
Membentuk bayt demikian harus ditempuh dengan memenuhi prasyarat-prasyarat yang ditentukan. Bayt demikian tidak dapat dilakukan sembarangan, hanya dapat dilakukan di tanah suci yang ditentukan berupa fitrah diri. Menempuh jalan tazkiyatun nafs merupakan prasyarat awal agar seseorang dapat memahami kehendak Allah secara benar. Tanpa tazkiyatun-nafs seseorang tidak akan memahami kehendak Allah dengan benar, tercampur dengan syahwat dan hawa nafsu diri atau bahkan syaitan sehingga seseorang tidak dapat memurnikan ibadah kepada Allah. Tazkiyatun-nafs akan membentuk seseorang sebagai misykat cahaya yang membentuk bayangan cahaya Allah dalam dirinya. Pembentukan diri sebagai misykat cahaya akan menjadikan seseorang mengenal untuk apa dirinya diciptakan. Fitrah diri merupakan tanah suci bagi setiap orang tempat mendirikan bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Dengan pengenalan fitrah diri, seseorang akan memperoleh tempat untuk membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah bersama dengan isteri-isterinya dan anak-anaknya.
Pengotor Keikhlasan
Menempuh tahapan-tahapan membentuk bayt harus dilakukan dengan proses dan pertumbuhan yang benar. Pada pokoknya, tidak boleh terjadi kekejian dalam menempuh proses membentuk bayt, dan setiap langkah yang ditempuh akan menyibak kemunkaran yang harus dihindari. Proses yang benar akan mendatangkan makrifat terhadap kehendak Allah sehingga seseorang dapat mengenali fitrah penciptaan dirinya. Setiap tahapan ditempuh dengan tertib tanpa kehilangan orientasi dalam melangkah membina tahap keikhlasan dan kehanifan berikutnya, tidak kemudian menimbulkan kerusakan manakala telah mencapai tahap tertentu. Mungkin saja seseorang berbuat kufur manakala mengenal fitrah dirinya dengan merusak pembinaan keikhlasan. Hal demikian tidak boleh terjadi. Manakala telah mengenal fitrah diri, seseorang harus tetap berpegang pada tuntunan Allah untuk dapat membina keikhlasan diri dan kehanifan sebagaimana nabi Ibrahim a.s membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, tidak meninggalkan atau berpaling.
Tetapnya berpegang pada tuntunan agama harus dilakukan pada setiap tahapan. Manakala menempuh tahapan proses tazkiyatun-nafs, seseorang bisa memperhatikan gejolak hawa nafsu dan syahwat diri serta syaitan yang dapat mengganggu pertumbuhan pemahaman yang benar dan belajar mengendalikan gejolak tersebut dengan berpegang pada tuntunan Allah. Hendaknya ia tidak berpaling dalam mengikuti millah nabi Ibrahim a.s membentuk bayt. Manakala tazkiyatun nafs tidak diikuti usaha memahami ayat Allah, proses tazkiyatun-nafs tidak mendatangkan manfaat yang seharusnya. Kadangkala seseorang menjadi ujub dengan tazkiyatun-nafs yang dilakukannya. Tazkiyatun nafs harus menjadi bekal untuk memahami ayat-ayat Allah. Demikian pula suatu pengenalan terhadap fitrah diri harus diikuti dengan proses membentuk bayt, tidak berpaling dari millah karena pengenalan fitrah diri itu justru dapat merusak umat manusia manakala tidak disertai dengan membentuk bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya.
Kekejian menunjukkan tersimpangnya manusia dari yang kebenaran yang menyebabkan kesalahan dalam memahami kehendak Allah. Misalnya manakala seseorang mengikuti suatu pemahaman dari syaitan, ia tersimpangkan dari kebenaran tidak memahami kebenaran dengan tepat. Keadaan demikian itu seperti seorang perempuan yang berbuat keji kepada laki-laki selain suaminya maka akalnya menyimpang tidak lagi dapat memahami maksud suaminya dengan benar. Seringkali seorang suami harus menanggung luapan perkataan-perkataan isteri yang tidak benar karena terjadinya kekejian dalam rumah tangganya. Tidak semua perkataan isteri yang tidak benar muncul dari kekejian, karena sekadar akal yang lemah saja bisa membuat perempuan berkata-kata tidak semestinya, tetapi setiap kekejian akan memunculkan fenomena tidak bisa pahamnya seorang isteri terhadap suaminya. Kekejian seorang laki-laki tampak dalam penyimpangan dalam memahami kehendak Allah, sedangkan kekejian perempuan tampak dalam penyimpangan dalam memahami suaminya.
Kekejian dapat muncul dalam suasana ibadah kepada Allah, tidak hanya muncul dalam suasana durhaka. Orang-orang yang tidak menyukai kebenaran hampir-hampir selalu salah dalam memahami kehendak Allah, sedangkan orang-orang yang ingin beribadah kepada Allah tidak selalu benar dalam memahami kehendak Allah. Orang yang ingin beribadah dengan benar kepada Allah harus berusaha menyertai keinginannya dengan sikap hanif, memahami dan menimbang nilai kebaikan dalam amal yang dilakukan dirinya dan berusaha mengikuti yang terbaik. Jika seseorang berbuat demikian, ia akan terhindar dari kekejian. Bila ia selalu memandang baik keadaan dirinya tanpa menimbangnya dengan tuntunan Allah, mungkin perbuatan memandang baik terhadap keadaan diri akan menjadi celah yang menimbulkan kesalahan pemahaman terhadap kehendak Allah.
Menemukan washilah akan sangat membantu menghindarkan manusia dari kekejian. Para washilah yang mengenal kebenaran mempunyai kepekaan lebih baik terhadap penyimpangan dibandingkan orang kebanyakan, maka mereka dapat mengingatkan orang yang mengikutinya dari penyimpangan. Manakala pengingatan itu diabaikan, orang akan menyimpang dari jalan yang benar karena pelanggarannya. Kadangkala seseorang jatuh menyangka bahwa kebenaran itu hanya ada pada dirinya. Dalam hubungan dengan orang yang dihormati, mereka mungkin membenarkan apa yang sesuai dengan sangkaan dirinya dan hanya menganggap salah kebenaran yang tidak sesuai. Dengan orang lemah, tidak ada kebenaran terlihat dari orang lemah. Sikap demikian bisa menjadi masalah rumit bagi umat, karena mungkin sejumlah besar akan ikut mengabaikan kebenaran.
Gambaran nyata upaya mencari washilah ditemukan pada perempuan yang menikah dengan suami yang tepat. Suami merupakan media bagi isteri untuk memahami kehendak Allah yang terpancar pada semesta dirinya. Apabila seorang suami berkembang akalnya dengan benar dalam memahami kehendak Allah, isteri hendaknya berusaha mengikuti pemahaman suaminya dan menolongnya mewujudkan amal shalih. Keadaan demikian akan merupakan cikal bakal terbentuknya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, sedangkan rumah tersebut terwarnai dengan sikap mawaddah dan rahmah. Manakala suaminya bukan dari kalangan mukminin, seorang isteri harus berusaha berperan untuk membentuk suaminya dan keluarganya sebagai orang yang bermanfaat bagi masyarakat. Manakala suami layaknya fir’aun, seorang isteri hendaknya dapat bersikap layaknya siti Asiyah binti Muzahim r.a. Keseluruhan sikap isteri harus dibangun dengan mengikuti tuntunan Allah yang dapat diterapkan pada rumah tangganya. Menyimpangnya perhatian seorang isteri dari suami dan keluarganya merupakan bentuk kekejian yang akan menyimpangkan langkah taubatnya.
Setiap orang harus berusaha membentuk sikap-sikap yang baik agar dapat membangun keikhlasan dan kehanifan. Seorang perempuan yang tidak mau bersyukur dengan petunjuk suami yang diberikan kepadanya akan kesulitan untuk memperoleh tingkat keikhlasan yang lebih baik. Suatu rumah tangga akan menghadapi banyak permasalahan yang harus disikapi dengan baik dengan komitmen terhadap kebenaran, dan hal itu kadangkala harus diwujudkan melalui suatu washilah. Seandainya suaminya menjual diri dan hartanya kepada Allah untuk mengharapkan ridha Allah, seorang isteri tidak boleh mencaci-maki atau merendahkan suaminya ketika tindakannya menyebabkan sedikitnya harta. Sebisa-bisa isteri hendaknya memahami langkah suaminya dan ikut mendukung agar upayanya mendatangkan ridha Allah. Bila para perempuan tidak dapat mengikuti suami, tidak akan terbentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, atau salah-salah para perempuan itu menjadi kaum yang kafir terhadap nikmat Allah.
Keadaan demikian akan membuat peradaban yang buruk. Suatu bayt pada dasarnya merupakan pondasi perpanjangan sifat rahman dan rahim Allah hingga dapat tersebar ke bumi. Manakala tidak terbentuk bayt, pengetahuan tentang asma tertinggi akan terhenti pada orang yang mengenalnya saja. Manakala terbentuk bayt, pengenalan itu dapat menyebar luas ke bumi melalui bayt tersebut hingga membentuk peradaban yang mulia. Para isteri memegang kunci pokok bangkitnya suatu bangsa untuk membentuk peradaban bangsa yang baik. Manakala para perempuan rusak atau tidak mau membina diri dalam keikhlasan dan hanif beribadah kepada Allah, bangsa mereka akan menjadi buruk atau runtuh karena masyarakat yang tidak dapat diberi pengetahuan tentang hal yang baik. Syaitan sangat menyukai kerusakan pada kaum perempuan suatu bangsa karena akan menimbulkan penderitaan yang besar bagi bangsa tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar