Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Ada suatu kelengkapan dalam diri manusia yang bermanfaat untuk mengenal kehendak Allah dengan benar. Setiap manusia diciptakan dari nafs wahidah yang akan menjadi teman dekat baginya dalam bertaubat kembali kepada Allah. Nafs wahidah merupakan pembawa perintah Allah bagi seseorang secara khusus yang harus dikerjakan dalam kehidupannya. Manakala seseorang mengenal nafs wahidah tersebut, ia akan mengenal rabb-nya karena nafs wahidah tersebut mengenal rabb-nya.
﴾۱﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari nafs wahidah, dan dari padanya Allah menciptakan pasangannya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan al-arham. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS An-Nisaa : 1)
Nafs wahidah itu merupakan bagian dari diri setiap manusia yang memahami kedudukan dirinya sebagai hamba Allah, kedudukan dirinya dalam amr jami’ Rasulullah SAW, kedudukan dirinya dalam al-jamaah, dan fungsi dirinya di alam ciptaan. Nafs wahidah merupakan khalil bagi entitas jasmaniah seorang manusia yang berfungsi sebagai penghubung terhadap alam semesta secara lebih komprehensif. Entitas jasmani seorang manusia mempunyai keterbatasan dalam mencerap keseluruhan alam semesta sehingga tidak akan mampu memahami alam semesta secara komprehensif. Dengan nafs wahidah, pemahaman seseorang dapat terbangun secara lebih komprehensif, hingga dapat menyatukan diri dengan kebenaran universal yang menjadi bagian darinya.
Hubungan khalil menunjukkan suatu hubungan kedekatan di antara dua pihak sedemikian satu pihak dapat dikenali dengan kehadiran pihak yang lain. Dalam agama, khalil tidak dapat dibina secara sembarangan. Rasulullah SAW tidak diperbolehkan mengambil khalil dari kalangan makhluk bumi sekalipun Abu Bakar r.a. Tidak ada seorang manusia dapat memahami dan berbuat sepenuhnya sesuai dengan keinginan manusia lain, karena pasti ada perbedaan di antara keduanya. Hubungan entitas jasmani dan nafs wahidah merupakan dua pihak yang saling membentuk hubungan khalil yang sebenarnya. Setiap orang dapat memahami sepenuhnya apa yang ada pada khalilnya, maka keduanya akan bisa mengerjakan sesuatu sesuai dengan keinginan khalilnya. Dengan demikian, nafs wahidah seseorang dapat dikenali dengan amal yang dilakukan entitas fisiknya, dan entitas jasmani manusia akan berkedudukan sama dengan nafs wahidahnya.
Tidak semua orang mengenal nafs wahidah dirinya. Ada perbedaan kedudukan di antara kedua entitas manusia tersebut. Manusia dalam bentuk jasmani merupakan makhluk bodoh dari alam dunia, sedangkan bentuk khalilnya merupakan makhluk langit dari alam cahaya yang lebih cerdas dalam memahami kehendak Allah. Manakala seseorang berkeinginan untuk menjadi hamba Allah yang benar, Allah akan memperkenalkan sang khalil kepada dirinya, maka ia akan mengetahui jalan ibadahnya kepada Allah melalui khalil tersebut dan dikatakan ia mengenal dirinya sendiri. Bila orang tersebut terus bersungguh-sungguh dalam ibadah kepada Allah setelah mengenal dirinya, ia dapat menyatu dalam satu entitas dengan khalilnya hingga suatu asma tertentu tersemat bagi orang tersebut. Bila seseorang tidak berkeinginan untuk beribadah kepada Allah, ia tidak akan mengenal nafs wahidah, hanya mengenal hawa nafsu – hawa nafsu dirinya saja.
Mengenali Nafs Wahidah
Nafs wahidah tidak akan dikenali dengan upaya mencari identitas diri, dan justru syaitan dapat mengarahkannya ke pohon khuldi. Pengenalan demikian itu tidak menunjukkan pengenalan terhadap Allah. Pengenalan nafs wahidah harus diupayakan melalui keinginan untuk menemukan jalan ibadah, maka ia akan memperoleh pengajaran-pengajaran jalan ibadah yang disampaikan oleh nafs wahidah, dan juga pengetahuan nafs wahidah tentang rabb-nya. Landasan jalan ibadah itu adalah terbinanya sifat rahman dan rahim dalam diri seseorang, dan media terbinanya sifat-sifat itu adalah keberpasangan di antara nafs wahidah melalui pernikahan. Sebenarnya pernikahan itu akan menjadi kunci yang membuka peran sosial bagi seorang mukmin hingga terbentuk ladang yang lebih luas bagi seseorang untuk mewujudkan sifat rahman dan rahim.
Nafs
wahidah akan dapat dikenali dengan terbinanya akhlak mulia dalam diri
seseorang. Pembinaan itu kadangkala harus dilakukan dengan
pembersihan sifat-sifat buruk. Nafs
wahidah seringkali bertentangan dengan hawa nafsu. Seseorang yang
menginginkan sesuatu untuk dirinya berdasarkan hawa nafsu akan sulit
untuk mengenali nafs wahidah. Dalam masalah pasangan misalnya,
kadangkala seseorang tidak dapat menerima petunjuk tentang
pasangannya bahkan hingga
memakinya
secara berlebihan tanpa alasan yang jelas karena merasa buruk bila
mengikuti petunjuk. Petunjuk
pasangan merupakan petunjuk terdekat untuk mengenal nafs wahidah.
Perbuatan buruk
demikian
akan menjadi tembok penghalang untuk mengenal nafs wahidah. Mungkin
tembok
itu
bisa dilalui, akan tetapi perlu usaha besar untuk melewati penghalang
yang mereka buat sendiri. Keburukan demikian
hendaknya dihindari, tanpa mengabaikan pertimbangan-pertimbangan
untuk terwujudnya pernikahan yang
baik
dan menghindari pernikahan yang terlalu dipaksakan. Kedua pihak harus
dapat menerima dengan baik pihak lainnya sebelum
melangkah bersama dalam rumah tangga. Rumah tangga akan menjadi media yang baik untuk membina akhlak mulia.
Pengetahuan nafs wahidah merupakan turunan atau penjelasan tentang hakikat dalam kitabullah Alquran. Kadang manusia salah mengira bahwa pengetahuan nafs wahidah menjadikan seseorang bisa/boleh mengetahui segala hal. Tidak demikian. Seseorang akan mengetahui keadaan kauniyah dirinya sesuai dengan tuntunan kitabullah Alquran manakala mengenal nafs wahidah dirinya. Secara umum, pengetahuan nafs wahidah itu sangat luas dibandingkan dengan pengetahuan entitas jasmaniahnya, tetapi tetap saja mempunyai batasan luasannya. Ada pengetahuan luas yang terbuka seketika bagi entitas jasmani seseorang yang mulai mengenal dirinya, dan ada pengetahuan-pengetahuan tambahan yang kemudian turun secara bertahap mengikuti kauniyah yang dihadapi. Pengetahuan tambahan itu akan menambah pengetahuan yang telah terbuka saat mengenal diri, tidak menggantikan pengetahuan itu. Terhadap pengetahuan jasmaniah sebelumnya, pengetahuan yang terbuka dan tambahannya dapat bersifat membongkar atau menggantikan pengetahuan lama.
Terkait dengan petunjuk, pengetahuan-pengetahuan yang terbuka saat pengenalan diri merupakan petunjuk pokok yang menjelaskan ayat-ayat Allah secara terintegrasi baik ayat kitabullah, ayat kauniyah maupun ayat dalam dada seseorang. Petunjuk demikian menjadi landasan bagi petunjuk yang lain. Petunjuk yang baru akan bersifat menambahkan pengetahuan di atas petunjuk pokok tersebut, bukan merupakan perintah yang sama sekali baru tanpa suatu akar terhadap petunjuk pokok. Suatu petunjuk yang diterima seseorang hendaknya ditinjau berdasarkan pengetahuan terhadap kitabullah, dan nafs wahidah akan sangat memudahkan seseorang memahami petunjuk yang benar berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala suatu petunjuk bertentangan dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka petunjuk demikian tidak boleh diikuti. Bahkan manakala secara jasmaniah diketahui bertentangan, petunjuk demikian tidak boleh diikuti.
Manakala seseorang mengenal nafs wahidah, ia telah mengenal khalil yang haq bagi dirinya. Ia harus berusaha untuk bertindak sepenuhnya sebagaimana yang diperintahkan nafs wahidahnya menghindari untuk melakukan atau memikirkan hal-hal lain. Entitas jasmaniahnya harus berusaha memahami apa yang diperintahkan oleh nafs wahidah dan kemudian melakukannya. Ia benar-benar diberi kemampuan untuk memahami perintah itu sepenuhnya, tidak ada ruang yang tidak bisa dipahami oleh entitas jasmaniah. Demikian itu bentuk hubungan khalil dengan khalilnya, bahwa dia adalah dirinya dan dirinya adalah dia. Seringkali entitas jasmani memahami masalahnya secara terlambat dibandingkan nafs wahidah, maka perintah itu berlaku manakala entitas jasmani telah memahami. Seandainya ada perintah yang tidak bisa dipahami di tingkatan pikiran jasmaniah, barangkali ada selipan syaitan pada perintah itu. Hal itu akan dapat diketahui apabila ia telah sungguh-sungguh berusaha memahami perintah itu berdasarkan integrasi pemahaman ayat-ayat Allah. Kadang-kadang pengetahuan di tingkat jasmaniah terhadap nafs wahidah harus dibangun melalui pengetahuan yang rumit yang mungkin saja diabaikan sebelumnya.
Jalan yang Teguh
Orang yang mengenal nafs wahidah akan menemukan jalan kehidupan yang teguh. Ia akan mengalami kesulitan bila diperintahkan untuk meninggalkan jalan kehidupan itu manakala tidak diterima oleh kaumnya. Ia tidak akan menemukan jalan kehidupan yang lebih baik daripada yang diketahui bersama nafs wahidahnya. Manakala suatu kaum memaksanya untuk mencari bentuk kehidupan yang lebih baik, ia tidak akan bisa menemukannya, karena ia melihat bahwa ia akan menemui rabb-Nya di atas jalan yang diketahuinya tersebut. Dalam hal ini kaum yang memaksa tersebut yang berbuat tidak adil. Mereka harus berusaha memahami apa yang diketahui orang tersebut, bukan sebaliknya memaksa orang tersebut untuk mencari bentuk kehidupan yang lebih tepat bagi dirinya. Barangkali ia bisa berusaha di bidang lain untuk kebutuhan jasmaniahnya, tetapi tidak akan bisa mengerjakan pekerjaan itu dengan sepenuh hati, karena hatinya berada pada jalan kehidupan yang teguh. Ia akan memperoleh manfaatnya walaupun tidak sepenuh hati mengerjakannya.
Keteguhan jalan itu terjadi karena khalil yang haqiqi tersebut merupakan kunci yang membuka jalan bagi seseorang untuk terhubung pada kebenaran universal mengikuti amr jami’ Rasulullah SAW, dan ia terhubung dengan Al-jamaah. Amr yang diketahui seseorang dari pengenalan nafs wahidah merupakan bagian dari amr Rasulullah SAW, bukan menemukan suatu amr baru yang berdiri sendiri. Manakala seseorang menemukan suatu amr yang berdiri sendiri manakala mengenal dirinya, amr tersebut merupakan suatu bid’ah yang akan menyesatkan tidak mengantarkan pada Al-Jamaah. Setiap orang harus menemukan amr dirinya sebagai bagian dari amr jami’ Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya, dan hal itu dapat terjadi bila amr tersebut mempunyai landasan dari kitabullah Alquran. Tanpa suatu landasan kitabullah Alquran, amr tersebut sangat mungkin merupakan bid’ah.
Allah secara tersirat melarang orang-orang beriman untuk menjadikan orang lain sebagai khalil. Menjadikan orang lain sebagai khalil secara sembarangan akan menjadikan seseorang tersesat dalam mengambil pengajaran. Bentuk hubungan yang tepat antara diri seseorang dengan orang lain akan tersingkap manakala ia mengenal nafs wahidah. Sebelum itu, hubungan seseorang dengan orang lain hanya merupakan bentuk persangkaan yang tidak boleh diyakini kebenarannya. Manakala seseorang meyakini kebenaran dari seluruh apa yang diucapkan orang lain tanpa mendengarkan kata akal dalam hatinya, ia akan tersesat dari jalan Allah.
﴾۸۲﴿يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا
Sungguh celaka bagiku; alangkah baik kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu sebagai khalil (bagiku). (QS Al-Furqan : 28)
Menjadikan orang lain sebagai khalil dalam ayat di atas menunjuk pada seseorang yang berusaha mengikuti kebenaran dengan menjadikan orang lain sebagai sumber kebenaran sepenuhnya, hingga menganggap tidak ada hal lain yang perlu dikerjakan selain apa yang muncul dari orang tersebut dan menganggap tidak mungkin ada yang salah dari orang tersebut. Keadaan demikian kadangkala mencapai taraf sedemikian hingga suatu kaum mendustakan tuntunan kitabullah Alquran untuk mengikuti khalilnya. Semua tanda-tanda yang mengarah pada sikap mengangkat khalil hendaknya diperhatikan secara seksama karena hal itu dapat menjadikan suatu kaum tersesat dalam mengambil pengajaran.
Khalil yang haq bagi setiap orang adalah nafs wahidah dirinya, dan nafs itu ada di dalam dirinya. Manakala ia berusaha mengikuti kebenaran, hendaknya ia memperhatikan suara dari hatinya dengan memperhatikan ayat-ayat Allah baik ayat kauniyah ataupun ayat kitabullah, tidak mengalahkannya dengan perkataan seseorang yang dijadikannya khalil. Hal itu perlu dilakukan manakala ia memperhatikan ayat Allah, bukan mengikuti keinginan diri sendiri. Manakala mengikuti keinginan sendiri, suara itu merupakan suara hawa nafsu. Di sisi lain secara praktis, seseorang harus mentaati ulul amr selama tidak melihat kemunkaran pada ulul amr, tetapi hal itu tidak dilakukan dengan menghapus pemahaman akal hatinya dalam mengikuti ayat-ayat Allah. Allah kelak akan membukakan jalan untuk mewujudkan kebenaran yang dikenali hatinya. Ia boleh berbagi pengetahuan dengan yang lain bila tidak mengganggu ulul amr hingga tatanan umat menjadi rusak. Hal demikian merupakan jalan bagi seseorang untuk memperoleh khalil yang haq. Bila hanya mengikuti orang lain, ia mungkin akan terjatuh menjadikan orang lain sebagai khalil secara bathil.
Manakala seseorang menjadikan orang lain sebagai khalil secara bathil, ia akan mengalami penyesalan. Mereka akan mengalami kesesatan dalam mengambil pengajaran, dan akan banyak kerusakan terjadi manakala suatu kaum mengalami kesesatan dalam mengambil pengajaran sehingga mereka menyesalinya. Sebagian orang akan menyesalinya dalam kehidupan dunia dan mereka dapat mengubah arah kehidupan mereka untuk memahami pengajaran dengan lebih tepat. Sebagian orang akan menyesalinya manakala mereka telah tiba di akhirat, maka mereka akan mengumpat orang yang mereka jadikan sebagai khalil secara bathil.
Bagi orang yang menyadari kekeliruannya dalam kehidupan dunia, mereka harus mengetahui bahwa mereka berhadapan dengan tipuan syaitan. Syaitan itu tidak akan membantu mereka untuk keluar dari masalah yang dialami. Sebenarnya syaitan membuat waham-waham yang menjerat suatu kaum hingga mereka menyimpang dari pengajaran yang benar. Waham itu diterapkan melalui jalan-jalan manusia yang mengangkat khalil secara bathil. Seseorang harus keluar dari aturan-aturan wahamiah yang selama ini diterapkan atas dirinya maka ia akan melihat jalan untuk menjauhi kesesatan. Selama penyelesaian masalah dilakukan dengan waham yang diikuti, mereka akan sulit keluar dari masalahnya. Tetapi itu bukan satu-satunya langkah yang perlu dilakukan. Kadangkala syaitan mencari celah yang baru untuk menghalangi manusia tidak bertahan menggunakan waham yang lama, tetapi akan relatif lebih mudah dikenali dibandingkan jika seseorang bertahan pada waham lama. Misalnya manakala seseorang menjadi sulit berjodoh karena waham yang diikuti, ia harus mempunyai pengetahuan yang benar tentang jodoh dan berusaha tidak bergantung pada waham dan jalan lamanya tentang perjodohan. Terkait khalil, ia harus memutus waham-waham tentang khalilnya untuk mengikuti tuntunan kitabullah. Keluarnya seseorang dari jerat waham hanya dapat dilakukan dengan berpegang teguh pada firman Allah. Manakala tidak demikian, seseorang hanya akan berpindah dari satu waham pada waham yang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar