Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Mengikuti jalan Rasulullah SAW akan mendatangkan kebaikan bagi umat manusia. Hal itu dimulai dari perubahan-perubahan yang terjadi pada nafs orang-orang mukmin yang mengikuti langkah Rasulullah SAW hingga mendatangkan perubahan yang lebih baik dalam kehidupan.
﴾۱۱﴿لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS Ar-Ra’du : 11)
Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada nafs mereka. Perubahan keadaan suatu kaum akan terjadi mengikuti perubahan dalam nafs-nafs pada kaum tersebut. Manakala nafs suatu kaum berubah menjadi baik, keadaan mereka akan berubah menjadi baik. Manakala nafs suatu kaum berubah menjadi lebih buruk, keadaan mereka akan menjadi lebih buruk. Perubahan-perubahan keadaan suatu kaum akan ditentukan dengan perubahan nafs-nafs pada kaum tersebut.
Banyak orang yang menyangka bahwa perubahan suatu kaum akan terjadi apabila kaum tersebut berusaha untuk mengubah keadaan mereka. Ini merupakan suatu pengertian yang kurang tepat. Sangat banyak kaum yang memandang keadaan diri mereka buruk dan kemudian berusaha mengubah tatanan di antara mereka untuk memperbaiki keadaan, tetapi hasil dari usaha yang mereka lakukan itu tidak menunjukkan perbaikan akan tetapi seringkali hanya usaha yang sia-sia saja atau bahkan justru keadaan berubah menjadi lebih buruk. Untuk memperoleh perubahan keadaan menuju kebaikan, suatu kaum hendaknya mengubah nafs mereka menjadi lebih baik, dimulai dari nafs masing-masing diikuti dengan amar ma’ruf nahy munkar agar nafs kaum menjadi lebih baik. Perubahan keadaan nafs menuju lebih baik itulah yang akan mendatangkan perubahan yang lebih baik.
Perubahan nafs menjadi lebih baik akan diperoleh manakala setiap individu bertaubat kepada Allah dengan membina akhlak yang mulia. Pembentuk akhlak mulia yang paling utama adalah sifat rahman dan sifat rahim. Akhlak adalah bentuk konstruk diri, tidak sepenuhnya ditunjukkan dengan etika. Akhlak yang baik akan menerbitkan etika yang baik, tetapi etika yang baik belum tentu menunjukkan akhlak yang baik. Hubungan etika dan etika tidak sepenuhnya terhubung secara lurus. Kadangkala manusia harus bersikap keras karena akhlak yang baik hingga mungkin saja dipandang beretika kurang baik, tetapi sebenarnya hasil yang diperoleh adalah kebaikan. Perang yang terjadi di Iran sedikit atau banyak dapat menunjukkan terbentuknya akhlak mulia. Akhlak rahmaniah seorang hamba Allah akan terbentuk dengan baik apabila ia membina diri sebagai misykat cahaya Allah.
Pembinaan akhlak mulia akan menjadikan nafs-nafs di masyarakat menjadi semakin baik dan keadaan mereka akan semakin baik. Pembinaan itu harus dilakukan terhadap masyarakat secara menyeluruh. Masyarakat yang masih gemar terhadap kehidupan duniawi hingga berbuat dosa hendaknya dibina untuk mengenal nilai-nilai yang lebih luhur daripada materi duniawi hingga mereka terhindar dari berbuat jahat. Masyarakat yang menginginkan nilai-nilai luhur hendaknya diseru untuk bertaubat agar dapat mengenal sumber keluhuran dan jalan mengalirnya hingga terwujud dalam kehidupan dunia. Orang yang bertaubat hendaknya dibina di atas sifat rahman dan rahim dan diberikan makanan akal yang selayaknya agar dapat memahami ayat-ayat Allah baik di alam kauniyah maupun dari kitabullah hingga mereka terbentuk sebagai misykat cahaya yang dapat membentuk bayangan dari cahaya Allah. Orang-orang yang telah membentuk misykat cahaya hendaknya diberi kedudukan yang semestinya agar mampu beramal shalih hingga kehendak Allah yang terbentuk dalam diri mereka dapat termanifestasi memberikan manfaat bagi kehidupan bersama. Demikian pembinaan akhlak mulia hendaknya dilaksanakan secara menyeluruh.
Mengubah Keadaan dengan Mengubah Diri
Perubahan keadaan suatu kaum terjadi bukan hanya karena perbaikan akhlak saja, tetapi bagaimana suatu nafs dengan perbaikan akhlak memperoleh objek yang tepat bagi dirinya. Perubahan keadaan suatu kaum menuju kebaikan akan terjadi manakala nafs-nafs bersanding dengan objek yang tepat. Yang mengubah keadaan adalah perubahan apa-apa yang ada pada nafs mereka, bukan hanya perubahan nafs mereka. Setiap perubahan akhlak suatu nafs akan membutuhkan objek yang berubah, kadangkala berubah jenisnya dan kadangkala hanya berubah kualitasnya. Apabila perubahan akhlak nafs tidak disertai dengan perubahan objek yang tepat bagi diri mereka, perubahan yang terjadi hanya akan sedikit saja. Semakin kuat akal seseorang dalam memahami tuntunan Allah, hendaknya ia semakin bersungguh-sungguh melaksanakan apa yang dipahami dari tuntunan Allah. Seseorang yang telah membentuk misykat cahaya harus mengurusi sepenuhnya bidang yang menjadi objek bagi dirinya tidak dicegah dari urusannya. Mengubah apa yang ada pada nafs-nafs umat yang akan mendatangkan kebaikan bagi umat.
Pernikahan adalah sesuatu yang paling utama dari apa yang ada pada nafs. Pasangan menikah merupakan sesuatu di luar diri seseorang dalam bentuk paling serupa dengan dirinya hingga dapat berproses bersama, dan ia dihadirkan melalui suatu perjanjian di hadirat Allah. Seseorang bisa menemukan bagian dirinya berupa jasmani, nafs dan amr Allah yang sama dalam wujud pasangannya. Pernikahan merupakan sesuatu yang ada pada nafs yang paling haq, yang menjadi sumber proses perubahan kebaikan yang dapat dibuat oleh manusia. Proses perubahan pada suatu kaum menuju kebaikan ditentukan oleh kebaikan pernikahan mereka. Manakala suatu pernikahan rusak, proses perubahan suatu kaum oleh pasangan itu akan menjadi rusak. Sekalipun seorang nabi, ia tidak akan bisa memberikan sumbangsih perubahan menuju kebaikan apabila pernikahannya tidak mendukungnya. Kerusakan pernikahan suatu bangsa akan mendatangkan kehancuran bagi bangsa itu.
Para nabi diperintahkan untuk menempatkan manusia pada urusannya. Pokok dari menempatkan manusia pada urusannya adalah menemukan pasangan yang tepat atau paling baik, kemudian membina mereka untuk mengenali nafs wahidah diri mereka. Pernikahan akan membuat pasangan manusia memperoleh tempat pertumbuhan layaknya pohon yang ditanam di ladang. Dengan proses demikian, mereka akan menemukan urusan Allah bagi masing-masing. Para nabi tidak membuka lapangan pekerjaan bagi orang-orang yang mengikutinya untuk menempatkan mereka pada urusan masing-masing, tetapi para nabi membuka pemahaman umat terhadap penciptaan diri mereka sendiri. Mungkin nabi menunjuk beberapa orang untuk kedudukan tertentu, tetapi utamanya adalah setiap orang dapat memahami penciptaan diri mereka. Setiap individu dapat menyumbangkan peran menolong agama dan menolong usaha para nabi dengan mengenali jodoh yang tepat dan membina pernikahan mereka dengan sebaik-baiknya, karena setiap individu diberi bagian kemampuan untuk mengusahakan yang terbaik bagi diri masing-masing dan pasangannya melalui pernikahan. Setiap manusia diberi kemampuan untuk mengidentifikasi jodohnya, berkomunikasi dan berkembang bersama dan bersinergi melaksanakan amal dan urusan agama melalui pernikahan. Setiap orang mempunyai kemampuan untuk menolong urusan nabi menempatkan manusia pada urusannya melalui pernikahannya. Kemampuan demikian itu akan menjadi bekal untuk menyumbangkan peran bagi masyarakat yang lebih besar.
Menempatkan manusia pada urusannya merupakan bagian dari agama. Dari sudut pandang pernikahan, menempatkan manusia pada tempatnya merupakan bagian dari pernikahan, karena sasaran dari pernikahan berkedudukan sangat tinggi lebih tinggi dari mengenal urusan diri, yaitu bersasaran membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Setiap tingkatan proses dalam proses taubat memperoleh media terbaik berupa pernikahan, termasuk proses dalam upaya mengenal urusan diri. Menempatkan manusia pada urusannya akan menjadi mudah bila pembinaan pernikahan dilakukan dengan sebaik-baiknya, dan sebaliknya tidak bisa dilakukan bila pembinaan pernikahan dirusak. Merusak pembinaan pernikahan pada dasarnya mendatangkan kerusakan fundamental pada tatanan manusia hingga tatanan manusia yang telah diikrarkan di hadapan Allah. Merusak pernikahan bernilai sama dengan mencabut atau mengusir seseorang dari urusannya. Tidak ada manfaat yang diperoleh orang lain atau suatu kaum manakala seseorang mengenal urusan Allah bila pernikahannya dirusak. Bahkan orang demikian akan menjadi beban kehidupan bermasyarakat.
Perubahan suatu kaum akan terjadi dengan perubahan apa yang ada pada nafs-nafs mereka. Hal ini dimulai dari perubahan nafs menuju kebaikan, kemudian nafs itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka, dari yang terdekat berupa pasangan menikahnya hingga menjangkau bergeraknya perubahan suatu kaum menuju perbaikan. Proses perubahan ini hendaknya tidak diputus pada mata rantainya, terutama mata rantai ikatan suami isteri karena akan memutuskan seluruh proses perubahan menuju kebaikan oleh individu yang mungkin telah mampu memberi manfaat. Individu yang telah mengenal urusan diri sekalipun akan mudah diusir dari urusannya manakala ikatan suami isteri mereka dirusak, hingga bahkan mereka akan kesulitan berusaha untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri.
Tetap Mengharapkan Petunjuk Allah
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu baik yang tampak ataupun tersembunyi dari pandangan makhluk-Nya. Allah Maha Mengetahui seluruh potensi dan sebab perubahan-perubahan yang mungkin terjadi atas suatu kaum, baik potensi yang tumbuh membesar ataupun potensi yang kurang sempurna. Tidak jarang suatu kaum sangat menginginkan sesuatu yang kurang sempurna yang tampak baik dalam pandangan mereka, sedangkan hal itu bisa saja mendatangkan kehendak Allah untuk menimpakan keburukan atas kaum tersebut. Manakala Allah berkehendak menimpakan keburukan atas suatu kaum, tidak ada yang bisa mencegah keburukan itu menimpa atas diri mereka, dan tidak ada pula yang dapat melindungi diri mereka dari keburukan itu.
Keinginan terhadap sesuatu itu merupakan tanda kurangnya keikhlasan manusia dalam menghamba kepada Allah. Manakala Allah menampakkan suatu kebaikan, manusia lebih menginginkan kebaikan itu daripada menghamba kepada Allah hingga mereka melupakan petunjuk Allah. Manakala manusia berbuat demikian, bisa saja hal itu mendatangkan kehendak Allah untuk menimpakan keburukan atas diri mereka. Keinginan mereka terhadap sesuatu yang tampak baik itu sendiri adalah keburukan yang mengundang keburukan. Setiap hamba Allah hendaknya terus berusaha memahami petunjuk Allah hingga pemahaman mereka semakin bertambah. Mustahil seorang hamba memahami secara sempurna seluruh petunjuk Allah, tetapi hal itu bukan suatu sebab yang mendatangkan keburukan. Keinginan untuk terus memahami petunjuk Allah itulah yang merupakan kehendak Allah untuk hamba-Nya, dan merasa sempurnanya pemahaman diri merupakan tanda kurang sempurnanya potensi keikhlasan yang dapat dilahirkan.
Allah tidaklah mengubah nikmat yang telah dilimpahkan atas suatu kaum hingga mereka mengubah apa-apa yang ada pada nafs-nafs mereka. Orang-orang yang telah memperoleh nikmat Allah bersanding dengan urusan-urusan yang diturunkan Allah kepada mereka, maka hendaknya mereka menunaikan urusan-urusan itu sesuai dengan petunjuk Allah. Apabila mereka bertindak tidak sesuai dengan petunjuk-petunjuk Allah, mereka sebenarnya mengubah apa-apa yang seharusnya ada pada nafs-nafs mereka. Demikian pula apabila mereka mengabaikan urusan-urusan yang disampaikan kepada mereka, mereka mengubah apa-apa yang ada pada nafs-nafs mereka.
﴾۳۵﴿ذٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِّعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَىٰ قَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Anfaal : 53)
Setiap hamba Allah hendaknya memperhatikan dengan sungguh-sungguh petunjuk-petunjuk terkait urusan yang harus mereka laksanakan, tidak terburu-buru mengejar hasil yang mereka inginkan atau harus dicapai. Itu merupakan suatu bentuk keikhlasan. Menyimpangnya pelaksanaan nikmat Allah oleh seseorang dari ketentuan yang digariskan dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW merupakan bentuk pengubahan nikmat Allah yang akan mendatangkan pengubahan nikmat oleh Allah. Manakala suatu nikmat telah Allah ubah, nikmat itu tidak lagi mendatangkan manfaat yang semestinya, berupa berkurangnya manfaat atau justru menjadi suatu madlarat. Sangat banyak bentuk nikmat-nikmat Allah yang bisa berubah, karena Allah mengubahnya. Suatu pemahaman tertentu dapat berubah menjadi waham yang menghalangi hamba Allah untuk mengerti kehendak Allah. Suatu amal tertentu yang diperintahkan dapat berubah mendatangkan kerusakan karena dilaksanakan tanpa berpegang pada petunjuk Allah yang lain. Suatu ketetapan tertentu yang baik dapat berubah menjadi suatu fitnah karena kurangnya keikhlasan dalam beribadah kepada Allah. Sangat banyak bentuk-bentuk nikmat yang dapat berubah sifat karena Allah mengubahnya.
Setiap orang harus berusaha untuk memahami kehendak Allah dengan sempurna, tanpa merasa sempurna. Sebenarnya tidak ada makhluk yang bisa memahami kehendak Allah secara sempurna, tetapi akan berbahaya manakala para hamba Allah tidak mau berusaha memahami. Hanya Rasulullah SAW yang bisa memahami secara sempurna sebatas apa yang dikehendaki Allah, sedangkan syaitan merasa sempurna. Tidak menjadi masalah manakala seseorang salah dalam memahami kehendak Allah, tetapi akan menjadi sangat berbahaya manakala ia tidak bisa menyadari kesalahannya. Tidak menjadi masalah apabila seseorang tidak sempurna dalam memahami, tetapi akan menjadi masalah manakala seseorang tidak mau memahami kebenaran yang disampaikan kepada dirinya. Masalah-masalah itu harus dihindari oleh setiap hamba Allah dengan berusaha memperhatikan sungguh-sungguh petunjuk Allah. Manakala hamba Allah lalai dalam memperhatikan petunjuk Allah, nikmat Allah yang ada pada mereka dapat berubah sifatnya karena Allah mungkin saja mengubahnya.
Merasa sempurna memahami tidak selalu berwujud tinggi hati. Merasa sempurna memahami seringkali muncul dalam bentuk mengabaikan kebenaran dan merendahkan orang lain. Manakala seseorang berbicara benar, orang yang merasa sempurna tidak mau memperhatikan kebenaran yang disampaikan dan menganggap remeh orang yang menyampaikan. Atau sebaliknya, seseorang yang menyampaikan kebenaran dipandang remeh kemudian ia tidak bisa mendengar kebenaran yang disampaikan orang tersebut. Ini merupakan bentuk kesombongan yang bisa menjadi tanda seseorang merasa sempurna. Hamba Allah harus selalu berusaha memahami kebenaran yang disampaikan kepada dirinya, baik oleh orang yang terpandang ataupun orang yang jahat. Mungkin tidak harus selalu mengikuti orang yang menyampaikan, akan tetapi harus bisa mengerti kebenaran yang disampaikan tidak boleh mengabaikannya.