Pencarian

Minggu, 08 Februari 2026

Buruknya Kesyirikan Bagi Manusia

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Para rasul mengajarkan tauhid dalam bentuk penyatuan langkah hamba Allah selaras dengan kehendak Allah. Setiap orang harus berusaha membangun pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah. Pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah bukan hanya merupakan pemahaman terhadap konsep-konsep langit tetapi juga akan mendatangkan pemakmuran di bumi. Orang-orang beriman harus berusaha untuk memahami tuntunan Allah hingga mempunyai pengetahuan tentang cara untuk mewujudkan kehidupan yang baik.

Untuk pembinaan pemahaman yang benar, Ada ketentuan dasar yang harus dipahami manusia di antaranya berupa hal-hal yang diharamkan Allah. Manakala ketentuan itu dilanggar, pemahaman manusia terhadap tuntunan Allah akan menyimpang dari apa yang dikehendaki Allah.

﴾۳۳﴿قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan berkata tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui" (QS Al-A’raaf : 33)

Allah mengharamkan kesyirikan bagi setiap manusia. Penyembahan manusia kepada selain Allah akan mendatangkan kerusakan yang sangat besar, baik kerusakan dalam diri para penyembahnya ataupun kepada alam semesta orang-orang yang musyrik. Orang-orang yang menyembah selain Allah akan menjadi parasit bagi alam semesta mereka, secara intrinsik mereka menjadi orang yang buruk dan secara fungsi sosial mereka menjadi makhluk yang mendatangkan kerugian bagi alam semesta.

Kebanyakan manusia tidak menyadari bahwa kehidupan mereka yang sulit sebenarnya terjadi di antaranya karena dihinggapi oleh parasit yang sangat besar berupa kumpulan orang-orang musyrik. File-file back up Jeffrey Epstein dapat menjadi bukti bahwa kehidupan manusia yang sulit dewasa ini sebenarnya terjadi karena parasitisme para penyembah syaitan yang mengatur dunia ini dengan kemampuan yang diperoleh melalui persekutuan dengan syaitan. Hanya sebagian kecil manusia yang menyadari keadaan ini sebelum terungkapnya file Epstein. Epstein hanyalah salah satu penyelenggara ritual kaum musyrikin yang ingin mengatur dunia, tetapi bukti-bukti yang terungkap benar-benar membuat manusia bergidik. Bisnis prostitusi atau file sebagai alat sandera tampaknya hanya kamuflase, sedangkan mereka adalah jaringan penyembah syaitan dan Epstein menjadi organisator event mereka. Masih sangat banyak petinggi yang lebih kaya dan berkuasa di jaringan musyrikin daripada Epstein yang menjadi parasit bagi dunia, membentuk jaringan besar yang menghisap kesejahteraan dari masyarakat dunia.

File epstein sedikit atau banyak dapat mengungkap sepak terjang kaum musyrikin dalam mendatangkan kesulitan bagi dunia. Mereka membentuk suatu persekutuan dalam mengatur dunia dengan cara yang sangat menjijikkan tanpa terlihat oleh manusia. Mereka menjadikan boneka-boneka dari kelompok mereka yang dipandang terhormat oleh masyarakat sebagai penguasa negeri sedangkan para penguasa yang sebenarnya tersembunyi dari pandangan manusia. Barangkali ritual yang mereka lakukan sangat menjijikkan, tetapi perbuatan tipu daya mereka yang mendatangkan kesengsaraan bagi masyarakat dunia harus diperhatikan untuk diantisipasi. Ritual mereka menjadikan mereka bertambah kejahatannya. Tipu daya mereka dalam mengatur kehidupan dunia menjerat manusia dalam kesengsaraan. Mereka menguasai aspek-aspek kehidupan untuk kesejahteraan diri sendiri dengan menyengsarakan masyarakat dunia. Seharusnya umat manusia dan orang-orang beriman memperhatikan perbuatan mereka lebih daripada terhadap ritual yang mereka lakukan.

Kaum mukminin mempunyai tugas untuk memakmurkan bumi. Sayangnya kaum mukminin dewasa ini tidak mempunyai pengetahuan tentang sepak terjang kaum musyrikin bersama syaitan dalam mendatangkan kesulitan yang besar bagi umat manusia, terlena dalam kehidupan duniawi sendiri. Sebagian negeri muslim diporak-porandakan musyrikin manakala ingin membina kesejahteraan, menggunakan pasukan musyrikin bahkan dari kalangan muslimin sendiri. Kaum mukminin di bumi persia selalu dimusuhi kaum musyrikin sedangkan mereka hanya sendirian saja. Sebagian kaum mukminin di negeri yang lain tidak menyadari masalah yang dibuat oleh kaum musyrikin. Mungkin kaum mukminin bukan berkeinginan mengumpulkan materi duniawi yang menjadikan bodoh dari masalah yang terjadi, tetapi karena tidak mau memahami tuntunan kitabullah Alquran terkait urusan yang seharusnya mereka tunaikan. Mereka terlena dengan parameter kesejahteraan yang dibuat sendiri, mengabaikan berbagai permasalahan yang terjadi di antara umat Rasulullah SAW.

Beberapa Kesyirikan di Antara Muslimin

Tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tentulah sangat mencukupi untuk mengatasi langkah-langkah yang dibuat oleh kaum musyrikin, yaitu apabila kaum mukminin dapat memahami tuntunan itu dengan benar. Sayangnya kebanyakan mukminin tidak berusaha sebaik-baiknya untuk memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW selaras dengan kehendak Allah. Tidak banyak orang yang ingin mengetahui kehendak Allah atas diri masing-masing, lebih banyak orang yang ingin memperoleh bagian dari kehidupan baik berupa materi maupun kehormatan menurut hawa nafsu diri. Sebagian manusia ingin mengenal kehendak Allah akan tetapi tidak benar-benar memperhatikan tuntunan Allah berupa kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ada landasan yang benar-benar harus diperhatikan setiap orang beriman yang ingin memahami tuntunan kitabullah dengan benar, yaitu ketentuan tentang yang diharamkan Allah. Apabila hal ini tidak diperhatikan, mereka tidak akan memahami tuntunan kitabullah dengan benar.

Pada pokoknya, Allah mengharamkan bagi manusia (1) perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, (2) perbuatan dosa, (3) Permusuhan atau melanggar hak orang lain tanpa alasan yang benar, (4) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (5) berkata tentang Allah tanpa suatu pengetahuan.

Mempersekutukan Allah dengan sesuatu tanpa sulthan yang diturunkan Allah merupakan salah satu hal yang diharamkan Allah, termasuk bagi kaum mukminin atau muslimin. Sebenarnya kesyirikan bisa saja terjadi di antara kaum muslimin dan mukminin dalam bentuk yang lebih halus, bukan bentuk ritual yang menjijikkan seperti kaum penyembah syaitan. Kaum mukminin muslimin seringkali tidak waspada dengan bentuk-bentuk kesyirikan yang dapat terjadi di antara mereka. Muslimin tidak akan memahami tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW dengan benar dan tepat tanpa memperhatikan kesyirikan yang mungkin mereka lakukan. Kesyirikan besar yang menguasai dunia tidak akan terlihat manakala umat islam tidak memperhatikan tentang kesyirikan yang dapat terjadi di antara mereka sendiri..

Hal ini hendaknya tidak disikapi dengan sembarangan melakukan tuduhan membabi buta bahwa kaum muslimin melakukan kesyirikan, atau bermudah-mudah mengatakan seseorang terjatuh pada kesyirikan karena suatu hal yang dikerjakannya. Allah telah menunjukkan bentuk-bentuk kesyirikan yang bisa terjadi di antara muslimin, dan hendaknya muslimin memperhatikan dan memahami petunjuk itu dengan seksama, agar mereka tidak terjatuh pada kesyirikan dan agar tidak secara ceroboh menuduh muslimin lain melakukan kesyirikan. Sebenarnya orang-orang musyrik membuat pedoman kesyirikan di antara muslimin tetapi pedoman itu dibuat untuk membuat kegaduhan di antara kaum muslimin, bukan bertujuan untuk membuat orang islam memahami ketentuan halal dan haram dalam perkara kesyirikan.

Memecah Belah Agama

Di antara bentuk kesyirikan yang bisa terjadi pada kaum muslimin atau mukminin adalah memecah-belah umat menjadi beberapa golongan, dan setiap golongan berbangga dengan golongannya.

﴾۱۳﴿ مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
﴾۲۳﴿مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
(31) dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, (32) yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka (QS Ar-Ruum : 31-32)

Allah melarang umat islam untuk menjadi kaum musyrikin, yaitu muslim tetapi sebenarnya musyrik. Ciri musyrikin di antara muslimin adalah mereka gemar memecah belah umat islam menjadi bergolongan-golongan, dan tiap-tiap golongan berbangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. Musyrikin demikian membanggakan bahwa mereka adalah kaum yang paling benar dalam ibadah kepada Allah seperti dzulkhuwaisirah, dan yang lain salah. Mereka tidak bersikap tawadhu’ dengan hatinya mengharap pemahaman yang benar kepada Allah, tetapi mengklaim kebenaran ada pada mereka. Kaum musyrikin benar-benar berkeinginan untuk membuat kegaduhan di antara kaum muslimin maka mereka membuat pengajaran-pengajaran kepada kaum muslimin yang membuat muslimin berpecah-belah dan berbangga-bangga dengan ajaran masing-masing.

Berbangga dengan ajaran masing-masing merupakan suatu tanda bahwa seseorang tidak menginginkan suatu kebaikan dalam mengikuti ajaran, tetapi mengikuti hawa nafsu sekalipun dalam hal kebenaran. Beribadah kepada Allah harus dilandasi dengan keikhlasan berbuat kebaikan untuk melayani kehendak Allah, bukan di atas landasan hawa nafsu. Keikhlasan itu akan diketahui seseorang dengan menimbang kebaikan dan keburukan dari suatu langkah atau sikap yang perlu dilakukan. Manakala seseorang berbangga dengan ajaran yang diikutinya, mereka sebenarnya tidak benar-benar menimbang kebaikan dan keburukan dalam mengikuti ajaran itu. Suatu ajaran atau interpretasi manusia terhadap ajaran kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW biasanya tidaklah benar-benar sesuatu yang sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah. Orang yang ikhlas akan berusaha mengikuti kebaikan untuk melayani kehendak Allah, tidak membanggakan kebenaran yang ada pada mereka sendiri.

Menjadikan Manusia Sebagai Tuhan Selain Allah

Bentuk kesyirikan lain yang bisa terjadi di antara kaum muslimin adalah menjadikan manusia sebagai tuhan-tuhan selain Allah layaknya kaum Yahudi atau Nasrani.

Dari ‘Adiy bin Hâtim r.a ia berkata :
أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي عُنُقِي صَلِيبٌ مِنْ ذَهَبٍ فَقَالَ يَا عَدِيُّ اطْرَحْ عَنْكَ هَذَا الْوَثَنَ وَسَمِعْتُهُ يَقْرَأُ فِي سُورَةِ بَرَاءَةَ ((اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ)) قَالَ أَمَا إِنَّهُمْ لَمْ يَكُونُوا يَعْبُدُونَهُمْ وَلَكِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا أَحَلُّوا لَهُمْ شَيْئًا اسْتَحَلُّوهُ وَإِذَا حَرَّمُوا عَلَيْهِمْ شَيْئًا حَرَّمُوهُ
Aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan pada leherku ada (kalung) salib yang terbuat dari emas. Maka beliau bersabda, ‘Hai ‘Adi, buanglah berhala itu darimu!” Dan aku mendengar beliau membaca (ayat al-Qur’an) dalam surat Barâ’ah (at-Taubah, yang artinya), “Mereka (orang-orang Yahudi dan Nashrani) menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb (tuhan-tuhan) selain Allâh”, beliau bersabda, ‘Sesungguhnya mereka itu (para pengikut) tidaklah beribadah kepada mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka). Akan tetapi jika mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka) menghalalkan sesuatu untuk mereka, merekapun menganggap halal. Jika mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka) mengharamkan sesuatu untuk mereka, merekapun menganggap haram”. [HR. Tirmidzi, no: 3095

Manusia akan terjerumus menjadikan manusia sebagai tuhan-tuhan apabila mereka mengikuti langkah para rahib dan orang alim mereka dalam mengharamkan yang dihalalkan Allah dan menghalalkan apa yang diharamkan Allah. Hal ini dapat dihindari dengan memperkuat akal dalam berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap orang harus mengembangkan kemampuan dalam mengenali hal-hal yang diharamkan Allah dan mengharamkannya tidak menghalalkannya. Manakala seseorang ikut menghalalkan apa yang diharamkan Allah karena mengikuti para alim dan rahib di antara mereka, mereka sebenarnya terjerumus pada sikap mempertuhankan manusia selain Allah. Ini merupakan salah satu bentuk kesyirikan yang dapat terjadi di antara umat Allah.

Kehendak Allah berlawanan dengan hal-hal yang diharamkan. Memahami dengan benar kehendak Allah hanya akan terjadi bila hamba Allah menjauhkan diri dari yang diharamkan. Setiap hamba Allah harus beribadah secara lurus kepada Allah jauh dari penyimpangan baik yang dzahir ataupun bathin, menjauhi perbuatan dosa, membentuk kasih sayang jauh dari permusuhan, menghindari kesyirikan dan menghindari perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan. Upaya demikian harus dilakukan dengan menggunakan akal tidak hanya mengikuti saja, karena banyak jebakan syaitan yang membuat manusia yang bodoh terjebak pada hal yang diharamkan Allah. Setiap langkah harus diperhatikan halal dan haramnya secara tepat hingga terlihat kebaikan dan keburukan dalam langkah itu agar terhindar dari hal yang diharamkan Allah.

Mempertuhankan Hawa Nafsu

Bentuk kesyirikan lain yang dapat menyesatkan kaum adalah menjadikan hawa nafsu sebagai ilah. Banyak macam orang-orang yang menjadikan hawa nafsu mereka sebagai ilah. Sebagian dari mereka adalah orang-orang yang berada di atas ilmu akan tetapi Allah menyesatkan mereka dengan ilmunya. Ilmu mereka justru menyebabkan mereka tersesat. Ada pula orang-orang yang hendak ditinggikan Allah dengan ilmu mereka akan tetapi mereka terjatuh karena berpaling ke dunia dan mengikuti hawa nafsu. Menjadikan hawa nafsu sebagai ilah bukan hanya terjadi atas orang berilmu saja. Sebagian orang bodoh mengikuti hawa nafsu mereka tanpa petunjuk ataupun ilmu. Hal demikian termasuk kesyirikan yang bisa terjadi di antara kaum muslimin, dan kaum muslimin harus menghindari hal demikian.

﴾۳۲﴿أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS al-Jatsiyah : 23)

setiap orang harus berusaha membangun penghambaan kepada Allah dengan berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW secara lurus tidak mengikuti dorongan hawa nafsu diri sendiri. Sangat banyak hamba Allah yang bisa tergelincir di atas ilmunya, atau kembali terjatuh ke alam bawah, atau melangkah tanpa arah karena memperturutkan hawa nafsu mereka. Setiap orang harus membina pemahaman diri mengikuti tuntunan Allah berupa kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Demikian itu adalah contoh bentuk-bentuk kesyirikan yang dapat terjadi di antara kaum muslimin. Bentuk-bentuk kesyirikan mungkin tidak terbatas pada tiga hal di atas, tetapi hendaknya manusia tidak membuat tuduhan-tuduhan secara sembarangan kepada muslimin lain tanpa suatu tuntunan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, atau hanya berdasarkan interpretasi sendiri berdasar kebanggaan keyakinannya. Setiap orang harus lebih memperhatikan kesyirikan diri sendiri terlebih dahulu, dan berikutnya mengajak muslimin lain menghindari kesyirikan yang mungkin tersamar dari pandangan kebanyakan.

Jumat, 06 Februari 2026

Bid'ah dan Perkataan Tentang Allah Tanpa Pengetahuan

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Para rasul mengajarkan tauhid dalam bentuk penyatuan langkah hamba Allah selaras dengan kehendak Allah. Setiap orang harus berusaha membangun pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah. Pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah bukan hanya merupakan pemahaman terhadap konsep-konsep langit tetapi juga akan mendatangkan pemakmuran di bumi. Orang-orang beriman harus berusaha untuk memahami tuntunan Allah hingga mempunyai pengetahuan tentang cara untuk mewujudkan kehidupan yang baik.

Untuk pembinaan pemahaman yang benar, Ada ketentuan dasar yang harus dipahami manusia di antaranya berupa hal-hal yang diharamkan Allah. Manakala ketentuan itu dilanggar, pemahaman manusia terhadap tuntunan Allah akan menyimpang dari apa yang dikehendaki Allah.

﴾۳۳﴿قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan berkata tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui" (QS Al-A’raaf : 33)

Allah mengharamkan perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan. Itu merupakan tuntutan bagi kaum muslimin untuk bertauhid secara benar. Perkataan yang benar tentang Allah akan terbentuk dalam diri seseorang yang membina diri sebagai misykat cahaya. Cahaya Allah yang mereka terima akan membentuk suatu bayangan tentang kehendak Allah karena misykat cahaya yang terbentuk, sedemikian mereka mempunyai pengetahuan terkait perkataan tentang Allah. Manakala suatu ayat kitabullah dibaca, mereka mengetahui apa yang disampaikan dalam ayat tersebut. Demikian pula manakala ayat kauniyah mereka lihat, mereka melihat suatu hakikat dari sisi Allah terkait fenomena yang terlihat. Pemahaman mereka terkait ayat-ayat Allah itu terintegrasi membentuk pengetahuan yang selaras dengan kehendak Allah.

Mencari pengetahuan yang benar terkait perkataan tentang Allah hendaknya dilakukan dengan membangun tauhid yang kokoh, ditempuh dengan membina diri sebagai misykat cahaya. Sebagian kelompok muslimin membangun suatu kerangka bertauhid dengan perkataan-perkataan tentang Allah tanpa mempunyai pengetahuan, secara sembarangan mencomot ayat-ayat Allah tanpa suatu komitmen kebaikan sebagai wujud kasih sayang. Konsep yang mereka bangun tanpa pengetahuan itu menjadikan manusia tidak dapat memahami kebaikan dalam tuntunan Allah, hanya membangun pengetahuan tentang Allah secara keliru. Di antara yang mengajarkan perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan itu adalah kaum khawarij. Mereka justru menjadi penyerang orang-orang yang berusaha menjadi hamba Allah dengan benar, menyerang hamba Allah dengan perkataan-perkataan mereka tentang Allah tanpa pengetahuan. Mereka adalah orang-orang yang ditipu dengan konsep tauhid yang dibuat oleh kaum musyrikin.

Munculnya Perbuatan Bid’ah

Selain tipuan oleh kaum musyrikin, kaum mukminin harus berhati-hati terhadap tipuan yang dibuat oleh syaitan secara langsung. Syaitan menggunakan perkataan-perkataan tentang Allah untuk menipu manusia, sedemikian orang-orang yang beriman dapat tertipu dengan perkataan itu. Syaitan bisa hadir ke hadapan manusia yang beriman dengan wujud yang indah dan mengatakan bahwa dirinya adalah Allah tuhan yang harus disembah. Itu salah satu contoh perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan yang digunakan syaitan untuk menipu. Orang yang mengenal Allah akan mengenal bahwa Allah memperkenalkan dirinya dalam suatu tajalli asma-Nya, tidak dengan cara syaitan yang sangat penipu. Tidak hanya demikian, syaitan bisa menipu manusia dengan perkataan-perkataan tentang Allah yang mungkin akan tampak baik dalam pandangan manusia yang tidak mempunyai pengetahuan. Mereka membuat perkataan-perkataan yang diada-adakan.

dari Jabir bin Abdullah ia berkata: Rasulullah SAW biasa memulai khutbah mengucapkan,
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad SAW. Seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim no. 867, Sunan Ibnu Majah no.44)

Sebaik-baik perkataan adalah kitabullah Alquran. Kitabullah menceritakan segala sesuatu dari sisi Allah dengan cara yang paling baik, sempurna dan tidak ada kesalahan di dalamnya, walaupun mungkin kebanyakan manusia tidak mengetahui tingkat kebaikannya. Orang yang mengetahui kebenaran dari sisi Allah akan mengetahui tingkat kebaikan dalam perkataan yang dikandung kitabullah Alquran. Barangkali mereka dapat membuat perkataan-perkataan yang selaras dengan apa yang dikatakan kitabullah Alquran tetapi tidak dapat menyampaikan dengan kesempurnaan, dan boleh jadi ada kesalahan dalam penyampaian dirinya. Mereka menyadari keterbatasan dirinya, dan dapat mengagumi cara berkata-kata kitabullah Alquran dengan keterbatasan dirinya.

Rasulullah SAW dapat menyampaikan dengan cara sebaik-baiknya petunjuk kepada manusia untuk memahami perkataan yang terbaik berupa kitabullah Alquran. Demikian pula orang-orang yang mengikuti langkah beliau SAW mungkin akan diberi kemampuan untuk menunjukkan kepada manusia cara memahami perkataan kitabullah Alquran, akan tetapi barangkali cara mereka menunjukkan tidak sebaik cara Rasulullah SAW menunjukkan. Rasulullah SAW selalu menunjukkan kepada manusia dengan tepat tanpa kesalahan, sedangkan orang lain tidak akan mampu melakukan cara tersebut karena keterbatasan ilmunya dan mungkin saja ia salah dalam menunjukkan. Walaupun demikian, mungkin saja seseorang mempunyai cara menunjukkan kebenaran kepada manusia secara terbatas, dalam batas-batas kemampuan dirinya.

Tidak semua orang menunjukkan kebenaran kepada manusia dengan benar. Ada orang-orang yang menunjukkan cerita tentang kebenaran dari sisi Allah kepada manusia tetapi sebenarnya tidak terhubung dan tidak mengarah untuk memahami perkataan kitabullah Alquran. Perkataan mereka itu hanya cerita-cerita yang dibuat-buat saja tentang Allah. Hendaknya setiap orang menghindari perkataan demikian. Manakala seseorang mencari pengetahuan tentang kebenaran dari sisi Allah, hendaknya mereka berpegang sepenuhnya pada kitabullah Alquran, dan tidak menganggap perkataan-perkataan yang mereka anggap baik sebagai kebenaran dari sisi Allah kecuali telah jelas hubungannya dengan firman Allah. Sekalipun demikian ia hendaknya berusaha memahami kebaikan pada kalimat yang disampaikan orang lain kepadanya, karena boleh jadi perkataan itu akan mengantarkannya memahami perkataan dari sisi Allah. Apabila perkataan yang disampaikan tidak diketahui kebaikannya, ia hendaknya tidak menjadikan perkataan itu sebagai petunjuk jalan. Sebenarnya syaitan juga membuat-buat perkataan tentang Allah dan mengajarkannya kepada manusia agar mereka mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa pengetahuan. Kaum mukminin hendaknya tidak mengikuti bisikan-bisikan ke hatinya tentang sesuatu dari Allah sebelum ia mengetahui tuntunan Allah tentang perkara itu, dan tidak menganggap benar suatu perkataan yang dikatakan dari Allah sebelum ditunjukkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tentang perkara itu.

Berbahayanya suatu perkataan timbul manakala dikatakan bahwa perkataan itu terkait dengan Allah. Orang didorong untuk menghormati perkataan itu layaknya perkataan tentang Allah sedangkan Allah mungkin saja tidak menghendaki perkataan demikian. Orang yang mengenal dan mengikuti suatu kebenaran relatif tetapi tidak menganggapnya sebagai kebenaran dalam tingkat kebenaran dari sisi Allah bukan termasuk orang yang mengikuti perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan, yaitu apabila ia dapat memahami maksud perkataan, menguji manfaat, kebaikan dan keburukan yang dapat timbul dari perkataan kebenaran itu berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala seseorang tidak lagi dapat atau tidak boleh menguji manfaat, kebaikan dan keburukan yang mungkin timbul dari perkataan itu, mungkin ia sebenarnya telah menganggap perkataan itu sebagai perkataan tentang Allah sedangkan ia tidak mempunyai pengetahuan. Setiap orang harus bersikap membenarkan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW baik ia mengetahui atau tidak mengetahui kandungannya, dan harus menimbang perkataan yang lain dengan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW untuk mengetahui bobot kebenarannya, tidak mengikuti secara membuta agar tidak terjebak pada perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan.

Perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan itu merupakan perkataan yang dibuat-buat, dan perkataan yang dibuat-buat itu merupakan bahan terwujudnya amal lahiriah sebagai perbuatan bid’ah. Perbuatan bid’ah dapat dijelaskan sebagai amal-amal yang dipandang sebagai bentuk amal mewujudkan kehendak Allah akan tetapi sebenarnya tidak mempunyai landasan dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Seseorang mungkin berbuat baik tanpa mempunyai sebelumnya pengetahuan tentang amalnya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan tetapi sebenarnya ada tuntunannya, maka amal tersebut bukan bid’ah. Demikian pula manakala seseorang beramal tetapi tidak memandang dirinya sebagai pelaksana bagi kehendak Allah, maka ia tidak berbuat bid’ah. Dengan kata lain, bid’ah terlahir karena memandang diri sebagai pelaksana urusan Allah tanpa landasan yang sah. Suatu bid’ah dilakukan dengan anggapan melaksanakan kehendak Allah sedangkan tidak ada tuntunan tentang hal itu. Bid’ah terlahir dari perkataan-perkataan yang diada-adakan tanpa mempunyai landasan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, atau perkataan-perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan.

Seluruh urusan yang disebutkan dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW adalah urusan Allah. Setiap orang akan memperoleh jalan mengenal amanah dirinya dengan memperhatikan ayat-ayat Allah pada kitabullah dan kauniyah. Jauh lebih mudah bagi seseorang untuk mengenal amanah dirinya apabila menemukan wali mursyid yang menunjukkan cara memahami kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tetapi urusan setiap orang hanya akan dikenali seseorang manakala ia mengenali ayat Allah yang menjadi amanah dirinya. Peran wali mursyid itu tidak terbatas menunjukkan ayat-ayat yang menjadi amanah bagi murid-muridnya, tetapi juga membimbing tazkiyatun-nafs sebagai landasan memahami ayat-ayat Allah, serta menjaga para murid agar tidak menyimpang dari kehendak Allah. Kemampuan seseorang untuk mengenal amanah dirinya dari kitabullah akan muncul setelah melakukan tazkiyatun-nafs, karena itu sangat penting bagi seseorang untuk menempuh jalan tazkiyatun-nafs.

Orang-orang yang memahami amanah dirinya dari kitabullah dan melaksanakan amanah itu sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak dikatakan berbuat bid’ah. Mungkin saja Allah menurunkan ilmu-ilmu yang baru dalam pandangan manusia tetapi sebenarnya merupakan penjelasan dari suatu ayat kitabullah tertentu, maka ilmu dan amal yang terwujud dari penjelasan itu tidak termasuk sebagai bid’ah. Urusan Allah tidak dibatasi oleh perkataan manusia, dan hanya dibatasi oleh kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Hanya Rasulullah SAW saja yang mengenal seluruh urusan itu secara sempurna. Seseorang hanya akan mengenal urusan yang harus ditunaikan dirinya sebagai bagian dari urusan Rasulullah SAW. Sayangnya hanya sedikit orang yang mengenal urusan dirinya yang merupakan bagian dari urusan Rasulullah SAW.

Memperoleh penjelasan ayat kitabullah Alquran (al-bayaan) dan sunnah Rasulullah SAW berbentuk suatu keterbukaan tentang kandungan ayat kitabullah di alam kauniyah. Ia mengetahui keadaan alam kauniyah sesuai dengan tuntunan kitabullah, dan ia mengetahui amal-amal yang harus dilakukan untuk mensikapi keadaan kauniyah tersebut. Ia tidak mengalami keterbukaan seluruh keadaan alam kauniyah, tetapi hanya keadaan kauniyah terkait amal yang harus ia tunaikan di alam dunia. Tidak jarang keterbukaan itu disertai dengan turunnya kemampuan tertentu untuk beramal sesuai dengan kehendak Allah. Melaksanakan amal berdasarkan ilmu demikian tidak termasuk sebagai bid’ah. Benarnya suatu penjelasan ayat kitabullah ditunjukkan dengan tidak menyimpangnya pemahaman yang terbuka dengan bunyi ayat kitabullah yang telah diturunkan kepada Rasulullah SAW. Mungkin seseorang mengalami ketercampuran pengetahuan antara penjelasan ayat kitabullah yang diberikan dengan yang dikumpulkannya hingga salah ketika menjelaskan, tetapi penjelasan mereka tidak menyimpang dari ayat kitabullah.

Kadangkala seseorang mengalami keterbukaan akan tetapi menjadikannya cenderung menyangkal redaksi suatu ayat tertentu dari kitabullah. Ia memperoleh atau mempunyai penjelasan yang menyimpang atau berbeda dengan redaksi kitabullah. Keterbukaan demikian bukanlah keterbukaan sebagai penjelasan (al-bayaan) dari Ar-Rahman, tetapi justru perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan. Tidak ada sedikitpun al-bayaan dari Ar-Rahman yang menyimpang dari bunyi ayat kitabullah, dan seluruh penjelasan yang dibukakan dapat dijelaskan dengan redaksi kitabullah Alquran. Amal-amal dari orang-orang mempunyai kecenderungan menyangkal redaksi ayat kitabullah demikian itu justru merupakan ciri paling nyata dari perbuatan bid’ah. Urusan-urusan yang mereka kerjakan sebenarnya tidak mempunyai landasan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW secara benar, hanya dibuat hubungannya  saja.

Amal dari pengetahuan demikian kadangkala terlihat baik, akan tetapi tidak dapat mengikuti Al-Jamaah dan justru menghalangi Al-jamaah dalam melaksanakan urusan Allah. Selisih penjelasan seseorang dari Al-bayaan demikian akan mendatangkan kerusakan yang besar, sekalipun perbuatan-perbuatan yang lain mungkin tampak baik. Selisih pengetahuan itu akan menyeret seseorang untuk berselisih dengan Al-Jamaah termasuk dalam amal-amalnya. Setiap pihak dalam perselisihan demikian akan memandang dirinya berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, akan tetapi sebenarnya ada yang menyimpang. Masalahnya bukan hanya adanya sedikit penyimpangan yang dapat diperbaiki, tetapi juga terkait dengan lurusnya pemahaman urusan Allah secara menyeluruh. Ketika ada bagian perkataan yang diada-adakan diikuti, sebenarnya ada peran syaitan yang membantu membangun perkataan yang mereka ikuti dengan perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan. Orang yang melakukan bid’ah akan sulit melihat kebenaran secara utuh, atau sulit melihat kesalahan diri. Setiap orang harus kembali meneliti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tentang perkataan mereka dan mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Perbuatan bid’ah juga akan menimbulkan kesulitan bagi manusia dalam kehidupan di dunia. Jalan-jalan pemakmuran akan menyimpang sedemikian manusia akan mengalami kesulitan dalam menjalani kehidupan. Nilai-nilai kebenaran yang diikuti manusia menjadi bengkok sedemikian mungkin saja orang yang benar dikatakan salah dan orang yang salah dikatakan benar, maka upaya untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang baik akan menjadi sulit. Jalan-jalan untuk menumbuhkan kesejahteraan di alam dunia mungkin akan menjadi rusak karena perbuatan-perbuatan mengikuti bid’ah, dan para manusia yang seharusnya menjadi pemakmur bumi mungkin akan melaksanakan pemakmuran secara menyimpang.

Selasa, 03 Februari 2026

Dasar Pembinaan Tauhid

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Para rasul mengajarkan tauhid dalam bentuk penyatuan langkah hamba Allah selaras dengan kehendak Allah. Penyatuan demikian harus dimulai dengan pembinaan diri dengan sifat-sifat yang baik selaras dengan kehendak Allah membentuk akhlak mulia. Akhlak mulia harus dibentuk sedemikian seseorang dapat memahami kehendak Allah dengan benar dengan membina diri sebagai misykat cahaya. Pemahaman terhadap ayat Allah harus dengan nafs yang disucikan Allah setelah seseorang menempuh proses tazkiyatun-nafs. Arah langkah membina tauhid yang diajarkan Rasulullah SAW dan para rasul utusan Allah yaitu berproses membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.

Pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah bukan hanya merupakan pemahaman terhadap konsep-konsep langit tetapi juga akan mendatangkan pemakmuran di bumi. Suatu pemahaman dapat diuji dengan cara ini, untuk menentukan apakah suatu pemahaman terhadap tuntunan Allah telah bersifat benar atau tidak tepat. Kadangkala dijumpai kaum yang tidak memandang baik kehidupan yang baik di dunia, maka hal itu merupakan pandangan yang tidak tepat dalam mengikuti tuntunan Allah. Memang seringkali dijumpai manusia berlomba dalam kehidupan dunia hingga melanggar ketentuan Allah tanpa mengetahui kehidupan yang baik, tetapi sebenarnya ada bentuk kehidupan yang baik di dunia yang harus terlahir melalui pemahaman terhadap kehendak Allah. Orang-orang beriman harus berusaha untuk memahami tuntunan Allah hingga mempunyai pengetahuan tentang cara untuk mewujudkan kehidupan yang baik.

Pengetahuan demikian hanya dapat dibangun dengan pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah. Untuk pembinaan pemahaman yang benar, Ada ketentuan dasar yang harus dipahami manusia di antaranya berupa hal-hal yang diharamkan Allah. Manakala ketentuan itu dilanggar, pemahaman manusia terhadap tuntunan Allah akan menyimpang dari apa yang dikehendaki Allah.

﴾۳۳﴿قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan berkata terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui" (QS Al-A’raaf : 33)

Pada pokoknya, Allah mengharamkan bagi manusia (1) perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, (2) perbuatan dosa, (3) Permusuhan atau melanggar hak orang lain tanpa alasan yang benar, (4) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (5) berkata tentang Allah tanpa suatu pengetahuan.

Itu adalah pokok dari keharaman yang ditentukan bagi manusia. Apabila ketentuan-ketentuan haram di atas tidak diperhatikan oleh manusia, pemahaman mereka terhadap tuntunan Allah akan menyimpang. Penyimpangan dalam pemahaman itu dapat mendatangkan madlarat terhadap kehidupan umat manusia ataupun kehidupan beragama orang-orang beriman. Mungkin saja kehidupan masyarakat menjadi kacau dan perhatian muslimin terhadap masalah itu tidak memadai. Banyak contoh kasus yang dapat terjadi. Penegak hukum menegakkan hukum tanpa mengerti keadilan dimana hukum hanya dijadikan permainan orang yang kuat. Nusantara negeri yang kaya sumber daya tetapi masyarakatnya sulit untuk sejahtera, dan kaum muslimin tidak mengetahui masalah yang terjadi. Kadang ada orang meninggalkan tuntunan kitabullah Alquran untuk melaksanakan perintah Allah mengikuti waham sendiri. Ini merupakan kesalahan pemahaman tentang perintah Allah. Hal demikian bisa menjadi contoh-contoh kasus yang bisa terjadi sebagai dampak dari penyimpangan dalam memahami tuntunan Allah. Sebagian muslim mungkin tidak memahami tuntunan, dan sebagian mungkin memahami tuntunan secara keliru. Seandainya orang beriman memahami tuntunan Allah dengan benar secara berjamaah, masalah-masalah yang buruk di masyarakat seharusnya dapat dihindarkan. Sebenarnya tuntunan Allah terhadap mukminin meliputi permasalahan demikian dan tugas orang beriman adalah mewujudkan kehidupan bermasyarakat yang baik dengan memahami dan mengikuti tuntunan dengan benar.

Perkataan Tentang Allah Tanpa Pengetahuan

Allah mengharamkan perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan. Itu merupakan tuntutan bagi kaum muslimin untuk bertauhid secara benar dengan hanya mengatakan perkataan yang benar tentang segala sesuatu dari sisi Allah dengan pengetahuan. Muslimin dituntut untuk bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dengan pengetahuan, dan dilarang untuk mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa mempunyai pengetahuan. Ini adalah tuntutan terhadap setiap muslim dalam bertauhid. Hal ini juga mencegah manusia agar tidak mudah ditipu syaitan.

Alquran dan sunnah Rasulullah SAW telah menjelaskan segala sesuatu tentang kebenaran dari sisi Allah dengan sempurna, dan seluruh perkataan dari kedua tuntunan itu adalah benar tidak ada yang keliru. Walaupun demikian, mungkin saja terjadi kesalahan pada diri orang-orang yang berusaha memahaminya atau orang yang menyampaikannya. Kaum muslimin sebenarnya tidak diperbolehkan membuat-buat perkataan terkait dengan kitabullah Alquran. Ini merupakan tuntutan agar seseorang mengatakan sesuatu dari Alquran dengan pengetahuan yang selaras dengan kehendak Allah, tidak mengatakan sesuatu darinya berdasarkan pemikiran sendiri. Membahas kandungan Alquran saja tanpa komitmen untuk berbuat kebaikan berdasar cahaya Allah tidak akan menjadikan manusia mempunyai pengetahuan yang benar tentang Allah. Pengetahuan selaras dengan kehendak Allah itu hanya diketahui oleh orang yang mempunyai komitmen kepada Allah untuk menyiarkan kemuliaan dari cahaya kitabullah Alquran setelah membina dirinya sebagai misykat cahaya membentuk akhlak mulia.

Kaum muslimin hendaknya juga berhati-hati dalam mengikuti perkataan tentang Allah agar tidak teerjebak mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa pengetahuan. Setiap orang hendaknya memperhatikan kebaikan dari perkataan-perkataan tauhid yang mereka ikuti, tidak bermudah-mudah untuk meyakini suatu perkataan berasal dari Allah tanpa berharap kepada Allah untuk memberikan pemahaman yang selaras dengan kehendak-Nya. Ini bukan sebuah larangan mengikuti penjelasan dari orang lain, tetapi hendaknya setiap orang tidak melupakan harapan kepada Allah untuk memberikan pemahaman selaras dengan kehendak-Nya, tidak terjerumus mengikuti perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan. Tidak pula terlarang bagi seseorang untuk mengikuti kebenaran yang bersifat relatif parsial selama ia tidak menutup diri dari pemahaman terhadap kebenaran yang lebih baik. Nabi Ibrahim a.s telah mencontohkan sikap hanif dalam mengenal Allah, walaupun muslimin jaman ini tidak perlu terlalu jauh melangkah dengan menyembah benda-benda.

Mencari pengetahuan yang benar terkait perkataan tentang Allah hendaknya dilakukan dengan membangun tauhid yang kokoh, ditempuh dengan membina diri sebagai misykat cahaya. Perkataan yang benar tentang Allah akan terbentuk dalam diri seseorang yang membina diri sebagai misykat cahaya. Cahaya Allah yang mereka terima akan membentuk suatu bayangan tentang kehendak Allah karena misykat cahaya yang terbentuk, sedemikian mereka mempunyai pengetahuan terkait perkataan tentang Allah. Manakala suatu ayat kitabullah dibaca, mereka mengetahui apa yang disampaikan dalam ayat tersebut. Demikian pula manakala ayat kauniyah mereka lihat, mereka melihat suatu hakikat dari sisi Allah terkait fenomena yang terlihat. Pemahaman mereka terkait ayat-ayat Allah itu terintegrasi membentuk pengetahuan yang selaras dengan kehendak Allah.

Sebagian kelompok muslimin membangun suatu kerangka bertauhid dengan perkataan-perkataan tentang Allah tanpa mempunyai pengetahuan, secara sembarangan mencomot ayat-ayat Allah tanpa suatu komitmen mengenal kebaikan dari sisi Allah untuk berbagi kepada orang lain sebagai wujud kasih sayang. Konsep yang mereka bangun tanpa pengetahuan itu menjadikan manusia tidak dapat memahami kebaikan dalam tuntunan Allah, hanya membangun pengetahuan tentang Allah secara keliru. Di antara yang mengajarkan perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan itu adalah kaum khawarij. Mereka justru menjadi penyerang orang-orang yang berusaha menjadi hamba Allah dengan benar, menyerang hamba Allah dengan perkataan-perkataan mereka tentang Allah tanpa pengetahuan.

Selain kaum khawarij, ada kelompok lain di antara kaum muslimin yang bermudah-mudah mengatakan sesuatu yang ada pada mereka sebagai kehendak Allah. Apa-apa yang melintas dalam persepsi indera mereka kemudian dipandang sebagai kehendak Allah tanpa berusaha mengetahui kedudukannya secara tepat dalam urusan Allah sebagaimana telah dicantumkan dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak pula mereka memikirkan akibat buruk dari apa yang mereka pandang sebagai perintah Allah. Tidak jarang sesuatu yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dianggap pula sebagai perintah Allah. Perkataan demikian itu termasuk sebagai perkataan tentang Allah tanpa landasan pengetahuan, dan hal itu merupakan hal yang diharamkan Allah. Di antara kelompok demikian itu adalah para ahli bid’ah yang mengerjakan banyak urusan-urusan tanpa memperhatikan urusan Rasulullah SAW.

Sikap para ahlul bid’ah akan mengganggu upaya Al-Jamaah. Orang-orang yang mengetahui urusan Rasulullah SAW yang harus diwujudkan pada ruang dan jaman mereka adalah bagian dari Al-jamaah. Kaum muslimin ahlul bid’ah mungkin akan melakukan usaha tanpa arah yang tepat karena tidak memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sedemikian sumber daya kaum muslimin akan tersedot melakukan upaya tanpa memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka mungkin meninggalkan usaha Al-Jamaah untuk mewujudkan urusan mereka sendiri. Bukan tidak mungkin pula mereka menghalangi atau menghancurkan usaha Al-jamaah sedangkan mereka memandang diri mereka melaksanakan urusan Allah. Keadaan ini bisa menjadi kuncian bagi mukminin yang tidak ingin terjebak kekacauan perselisihan, dimana mukminin hanya bisa menjauh. Hal demikian terjadi disebabkan menyimpangnya pemahaman terhadap kehendak Allah karena tidak mengharamkan apa yang diharamkan Allah dalam bentuk perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan. Untuk memahami dengan tepat kehendak Allah, setiap orang harus mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan menghalalkan apa yang dihalalkan Allah.

Mencari Pengetahuan Melalui Urusan Allah

Mengumpulkan pengetahuan tentang Allah bukanlah perkara mudah. Allah Maha Tinggi sedangkan manusia berada di alam bumi yang rendah. Demikian pula menyampaikan kepada manusia perkataan tentang Allah berdasarkan pengetahuan bukanlah perkara mudah. Sekalipun demikian selalu ada jalan bagi manusia untuk memperoleh pengetahuan tentang Allah. Allah memperkenalkan diri kepada manusia melalui berbagai urusan yang harus ditunaikan manusia hingga di alam dunia. Pengetahuan tentang Allah itu dapat diperoleh manusia dengan berusaha mengetahui urusan Allah yang harus ditunaikan masing-masing.

Setiap urusan Allah diturunkan melalui Rasulullah SAW dalam wujud kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan urusan Allah itu bisa membuahkan urusan-urusan yang banyak bagi setiap manusia. Setiap orang hendaknya berusaha mengenal urusan yang harus dikerjakan dirinya melalui pengenalan terhadap urusan Allah. Mengenal urusan Allah dan Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman menjadi jalan yang lebih aman bagi setiap mukmin untuk mengenal urusan diri sendiri, tidak sebaliknya. Kadangkala suatu kaum mengerjakan urusan-urusan sendiri yang mereka pandang baik disertai sikap mengabaikan seruan untuk melaksanakan urusan Allah dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka mereka itu akan menjadi golongan ahli bid’ah. Seringkali akan ditemukan adanya hal-hal yang diharamkan Allah dalam upaya mereka melaksanakan urusan. Orang yang ingin mengenal urusan dirinya hendaknya mencari pengenalannya melalui kepedulian terhadap urusan Rasulullah SAW, yaitu memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bersamaan dengan memperhatikan kauniyah diri mereka. Pengetahuan terkait perkatan tentang Allah selalu mempunyai landasan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, bukan berupa pengetahuan tentang keutamaan diri sendiri saja.

Seluruh urusan yang disebutkan dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW adalah urusan Allah. Urusan Allah yang hendak Dia perkenalkan tidak dibatasi oleh perkataan manusia, dan hanya dibatasi oleh kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Hanya Rasulullah SAW saja yang mengenal seluruh urusan itu secara sempurna. Seseorang hanya akan mengenal urusan yang harus ditunaikan dirinya sebagai bagian dari urusan Rasulullah SAW. Sayangnya hanya sedikit orang yang mengenal urusan dirinya yang merupakan bagian dari urusan Rasulullah SAW.

Kadangkala seorang muslim keliru dalam membuat batasan tentang urusan Allah. Mungkin saja ada muslim yang membatasi perintah Allah hanya dalam urusan-urusan tertentu terutama terkait dirinya saja, melupakan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai batasannya. Ketika ada orang lain mengerjakan urusan yang tidak benar-benar terkait dirinya, ia tidak memandang orang tersebut mengerjakan urusan Allah. Kadangkala seseorang tidak dapat mengenali washilah dirinya karena pembatasan keliru yang dilakukannya, memandang dirinya puncak dari urusan mengabaikan urusan Rasulullah SAW. Membatasi urusan Allah itu mungkin benar manakala seseorang merupakan pemangku urusan jamannya semisal khalifatullah Al-Mahdi. Seringkali orang keliru mengenal batasan urusan Allah. Hal itu bisa jadi disebabkan karena mungkin seseorang tidak benar-benar mengetahui urusan Allah bahkan bagi dirinya, dimana pengetahuan tentang urusan dirinya pun mungkin masih menyimpang dari tuntunan kitabullah. Pemangku urusan jaman yang benar akan menunjukkan urusan-urusan Allah kepada manusia berdasar ayat Allah, bukan membatasi urusan umat dalam batas urusan dirinya saja. Ia mengetahui batas urusan Allah adalah kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Kekeliruan batasan urusan Allah bisa juga terjadi dengan bentuk membatasi urusan Allah hanya pada urusan yang dicontohkan Rasulullah SAW semasa hidupnya saja. Kaum demikian membatasi pemahaman menurut kaum salaf saja tidak menyadari bahwa kitabullah merupakan pedoman sepanjang masa. Mereka memandang urusan Allah hanya dalam bentuk ibadah-ibadah mahdlah, dan selanjutnya umat islam diseret dalam perselisihan dalam ketelitian dalam melaksanakan ibadah mahdlah diajak bersaing dengan tatacara Dzulkhuwaisirah melaksanakan ibadahnya. Mereka tidak berusaha mengenal urusan Rasulullah SAW dengan hati yang jernih dan justru mencegah manusia untuk mengenal urusan yang seharusnya ditunaikan sebagai langkah mengikuti Rasulullah SAW.

Minggu, 01 Februari 2026

Tauhid dan Washilah Kepada Allah

 Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Para rasul mengajarkan tauhid dalam bentuk penyatuan langkah hamba Allah selaras dengan kehendak Allah. Penyatuan demikian harus ditempuh oleh umat Rasulullah SAW dengan pembinaan dalam diri, dimulai dari keadaan yang tercerai berai menuju keadaan yang mengarah pada penyatuan terhadap kehendak Allah. Banyak orang yang merasa mengikuti tuntunan Allah tetapi sebenarnya hanya mencomot potongan-potongan kebenaran tanpa melangkah menuju penyatuan terhadap kehendak Allah. Seringkali orang-orang demikian merasa sebagai orang-orang yang benar atau membawa kebenaran tanpa memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala mereka justru berbuat kerusakan yang besar dengan waham mereka sendiri tanpa menyadari kerusakan yang mereka lakukan. Orang-orang demikian tidak mengikuti langkah tauhid yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para rasul yang lain. Yang mengikuti langkah bertauhid adalah orang yang berusaha mengetahui kehendak Allah dan melaksanakannnya, bukan orang yang mengaku mengikuti.

Arah proses yang harus dijadikan pedoman dalam mengikuti langkah tauhid Rasulullah SAW dan khalilullah Ibrahim a.s adalah membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Bentuk bayt demikian adalah keluarga yang bersatu dalam mewujudkan kehendak Allah di bumi layaknya langkah keluarga nabi Ibrahim a.s beserta siti Hajar dan Ismail meninggikan pondasi baytullah. Hanya orang-orang yang mengarah pada pembentukan bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah saja yang benar-benar mengikuti langkah Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s. Manakala seseorang atau suatu kaum hanya mengikuti contoh tanpa mengetahui arah melangkah, mereka sebenarnya belum mengikuti Rasulullah SAW. Kadangkala seseorang atau suatu kaum melakukan kebaikan-kebaikan tetapi juga melakukan perusakan terhadap bayt atau pernikahan di antara mereka dan kemudian menyangka telah mengikuti langkah Rasulullah SAW. Hal demikian menunjukkan rusaknya langkah mengikuti tuntunan kitabullah dan Rasulullah SAW. Kebaikan mereka hanya pada kulitnya saja, tetapi inti dari agama mereka justru rusak.

Inti dari pembinaan bayt dalam meninggikan dan mendzikirkan asma Allah adalah pembinaan Al-Arham (الْأَرْحَامَ). Penyatuan diri seseorang terhadap kehendak Allah terjadi melalui penyatuan al-arham yang tumbuh dalam diri mereka terhadap Ar-Rahim, salah satu dari asma Allah yang tertinggi.

﴾۱﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari nafs wahidah, dan dari padanya Allah menciptakan pasangannya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan kasih sayang. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS An-Nisaa’ : 1)

Hubungan kasih sayang (الْأَرْحَامَ) merupakan isi di dalam nafs yang harus ditumbuhkan setiap orang dalam kehidupan, dan pernikahan merupakan media paling utama yang berguna untuk membina hubungan kasih sayang hingga dapat menghubungkan diri seseorang kepada Allah mencapai tauhid yang hakiki. Karena itu pernikahan merupakan sasaran utama pembinaan manusia dalam bertauhid. Hubungan kasih sayang itu merupakan perpanjangan dari sifat rahman dan rahim yang tumbuh di dalam jiwa setiap manusia. Terdapat banyak bentuk hubungan kasih sayang yang dapat terbentuk di antara manusia, dan yang paling utama adalah hubungan kasih sayang dalam keluarga dan intinya terdapat pada hubungan pernikahan. Manakala kasih sayang dalam pernikahan tumbuh dengan baik, akan tumbuh pula hubungan kasih sayang pada diri seseorang terhadap keluarga dan terhadap masyarakat. Manakala kasih sayang dalam pernikahan rusak, akan kering pula kasih sayang pada diri seseorang terhadap keluarganya dan terhadap masyarakat. Kadangkala suatu hubungan kasih sayang seseorang terhadap masyarakat bersifat palsu karena pernikahan yang rusak, dan kadangkala sifat kasih sayang tumbuh dengan benar akan tetapi kerdil. Pernikahan merupakan media menumbuhkan asma Allah terutama sifat rahman dan rahim.

Memahami Kebenaran Secara Utuh

Banyak orang yang ingin membina tauhid dalam dirinya akan tetapi tidak memperoleh jalan untuk mengenal tauhid yang terbaik. Sebagian orang membina tauhid dengan membentuk imajinasi dalam pikiran mereka tentang Allah. Sebagian orang melangkah membina diri untuk memahami kehendak Allah akan tetapi tidak selaras dengan tuntunan Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s. Sebagian manusia hanya mengikuti perkataan orang lain tanpa keberanian mengikuti kebenaran. Setiap orang demikian mungkin melakukan proses tauhid dengan membaca kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan tetapi tidak benar-benar memahami pembinaan yang sebaik-baiknya. Keinginan membina tauhid itu sendiri merupakan sesuatu yang berharga dalam diri setiap orang, akan tetapi seringkali hawa nafsu atau kebodohan mengalahkan keinginan baik itu. Seringkali seseorang yang berusaha bertauhid terjebak merasa menjadi orang yang paling benar tanpa mengetahui kebodohan dirinya. Banyak orang tergelincir justru mengikuti syaitan karena merasa tinggi dengan ilmu yang dikumpulkan. Setiap orang harus berusaha memahami tuntunan dengan utuh.

Utuhnya pemahaman seseorang terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan terjadi manakala mereka berhasil membentuk bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Maksud dari utuhnya pemahaman adalah benarnya pemahaman terhadap tuntunan sedemikian pemahaman yang terbentuk tidak mengandung potensi merusak, bukan tuntutan tentang sempurnanya pemahaman terhadap kehendak Allah. Utuhnya pemahaman ini hendaknya diperhatikan dengan benar-benar berusaha memahami kebaikan dari ilmu. Ilmu yang benar itu akan mendatangkan kebaikan bukan suatu waham kebenaran saja. Manakala suatu pengetahuan terlihat mendatangkan kerusakan, hal itu bukan ilmu yang benar. Manakala suatu pengetahuan belum terlihat kebaikannya, pengetahuan itu belum menjadi ilmu. Suatu pengetahuan menjadi ilmu yang benar apabila seseorang melihat kebaikan dalam ilmu itu. Hendaknya diperhatikan bahwa hasil penilaian seseorang terhadap pengetahuan akan sangat dipengaruhi akhlak masing-masing tidak dapat dipersamakan nilai suatu pengetahuan antara satu orang dengan orang lain.

Tidak jarang seseorang merasa sebagai orang yang benar tetapi sebenarnya hanya prasangka saja karena ia tidak memperhatikan keutuhan pemahamannya. Seseorang mungkin saja mempunyai cara pandang yang salah tanpa menyadarinya, dan hal itu wajar saja terjadi pada banyak orang. Akan tetapi hal itu akan menjadi suatu yang berbahaya manakala orang tersebut memandang kesalahan itu sebagai kebenaran. Seseorang akan sulit kembali kepada kebenaran manakala kesalahan dipandang sebagai kebenaran, sedangkan prasangka dalam intensitas demikian seringkali menjadi kendaraan syaitan untuk mendatangkan kerusakan. Setiap orang hendaknya memperhatikan keutuhan kebenaran yang mereka ikuti agar tidak terjebak pada kebenaran parsial yang berbahaya, dan hal itu lebih mudah dilakukan dengan memperhatikan arah berupa terbentuknya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Seseorang tidak harus merasa takut mengikuti kebenaran sekalipun baru parsial, akan tetapi harus disertai kemampuan untuk menyadari kesalahan yang mungkin terjadi. Manakala seseorang tidak mampu menyadari kesalahan, ia akan mudah dimanfaatkan syaitan.

Mencari kebenaran harus dilakukan dengan menggunakan akal secara setimbang. Kebenaran mungkin akan ditemukan manusia yang mencarinya dalam berbagai bentuk yang bercampur-campur bahkan dengan kebathilan dan setiap diri harus memilah antara kebenaran yang ada dengan sesuatu yang salah. Hal ini harus dilakukan dengan setimbang, tidak membuang sepenuhnya kebenaran karena adanya kebathilan atau tidak menghakimi suatu kesalahan secara berlebihan dari kesalahan yang terjadi. Tindakan demikian akan menambah kekuatan akal. Manakala seseorang mengikuti orang lain secara membuta tanpa berusaha memahami kebaikan pada langkah yang diikuti, mereka tidak akan menjadikan akalnya kuat dalam memahami kebenaran sekalipun jika langkahnya benar. Tidak jarang orang demikian terjemurus pada kerusakan. Demikian pula manakala seseorang bersikap berlebihan menolak kebenaran karena adanya kesalahan di dalamnya, atau menghakimi secara berlebihan tanpa melihat kedudukan kesalahan itu, akal mereka akan tetap lemah dalam memahami kehendak Allah. Orang demikian seringkali mudah menghakimi orang lain salah tanpa mengetahui kesalahannya, dan itu adalah kebodohan.

Kerusakan oleh orang-orang yang salah dalam membina tauhid akan semakin besar manakala mereka tidak menyadari kesalahannya. Bentuk-bentuk yang diharamkan Allah harus diperhatikan oleh orang yang membina tauhid karena hal-hal yang diharamkan itu akan merusak tauhid mereka. Wajar saja bila seseorang salah dalam perjalanan mereka membina tauhid, tetapi sikap mereka terhadap kesalahan akan berpengaruh terhadap akibat yang timbul. Akibat dari hal itu akan dipengaruhi sikap mereka terhadap kesalahan yang diperbuat. Orang yang melakukan kesalahan dengan suatu kesungguhan iktikad menganggap kesalahannya sebagai perintah Allah akan mendatangkan kerusakan yang paling besar. Apabila seseorang melakukan kesalahan dan menyadari kesalahannya serta berusaha menghindari kesalahan yang sama, ia mungkin tidak menimbulkan kerusakan karena Allah menutupi kesalahannya. Manakala seseorang atau suatu kaum tidak mengarahkan kehidupan mereka untuk sungguh-sungguh mengikuti Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, sistem kesadaran mereka terhadap kesalahan yang terjadi akan lemah.

Mengetahui arah itu akan memudahkan untuk melihat jalan dan menyadari kesalahan. Yang paling penting bagi setiap orang adalah berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sayangnya banyak orang yang merasa berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sedangkan mereka tidak mengetahui maksud dari tuntunan tersebut. Orang demikian kadangkala membantah ketika diberitahu kesalahan mereka dan mungkin mereka menguatkan diri dengan meminta pendapat orang lain tentang kebenaran diri mereka, sedangkan yang dimintai pendapat juga tidak mempunyai pemahaman. Hal demikian akan mendatangkan kebodohan yang menguat di masyarakat, merasa benar dengan kebodohan sendiri. Setiap orang harus berusaha melangkah mengikuti Rasulullah SAW dengan arah yang benar, tidak hanya meniru contoh tanpa mengarah pada tauhid yang benar. Arah akhir yang benar itu adalah terbentukya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.

Lurusnya Al-Arham

Bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah adalah pasangan suami dan isteri yang membina al-arham dalam diri mereka hingga terhubung pada Ar-Rahim.

dari Abdurrahman bin ‘Auf r.a ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda :
قَالَ اللهُ تعالى: أَنَا اللهُ وَأَنَا الرَّحْمنُ, خَلَقْتُ الرَّحِمَ وَشَقَقْتُ لَهَا اسْمًا مِنْ اسْمِي فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ وَمَنْ قَطَعَهَا قَطَعْتُهُ
Allah SWT berfirman, ‘Aku adalah Allah, dan Aku adalah Ar-Rahman, Aku menciptakan Ar-Rahim, dan Aku mengambilkan baginya satu nama dari nama-Ku. Maka barangsiapa yang menyambungnya niscaya Aku menyambung (hubungan dengan)nya dan barangsiapa yang memutuskannya niscaya Aku memutuskan (hubungan dengan)nya.”(HR. at-Tirmidzi no. 1907, Abu Daud 1694, dan Ahmad 1662 dan 1683.)

Tauhid hakiki akan diketahui seseorang manakala seseorang terhubung kepada Ar-Rahim. Terhubungnya seseorang terhadap Ar-Rahim terjadi melalui pertumbuhan Al-arham. Hubungan kasih sayang (الْأَرْحَامَ) merupakan isi di dalam nafs yang harus ditumbuhkan setiap orang dalam kehidupan, dan pernikahan merupakan media paling utama yang berguna untuk membina hubungan kasih sayang hingga dapat menghubungkan diri seseorang kepada Allah mencapai tauhid yang hakiki. Hubungan kasih sayang itu merupakan perpanjangan dari sifat rahman dan rahim yang tumbuh di dalam jiwa setiap manusia. Pertumbuhan al-arham itulah yang akan menyambungkan seseorang terhadap Ar-Rahim.

Pembinaan bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah harus dibina dengan memahami tuntunan Allah melalui pernikahan. Pembinaan pernikahan demikian itu harus dilakukan dengan mengikuti ketentuan-ketentuan Allah. Ada hal-hal yang diharamkan yang harus diharamkan berupa kekejian (al-fakhsya’) baik yang dzahir ataupun yang bathin, permusuhan (al-baghyu), dosa-dosa, kesyirikan dan perkataan-perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan. Apabila ketentuan-ketentuan itu tidak diperhatikan, manusia tidak akan dapat membina tauhid dengan benar untuk menuju penyatuan al-arham dalam diri mereka terhadap Ar-Rahim. Apabila al-arham dalam diri mereka tumbuh, ia tidak akan terhubung terhadap Ar-Rahim dan mungkin akan ditunggangi atau terhubung pada entitas lain di langit yang jahat. Sekalipun tampak baik, langkah mereka sangat mungkin akan mendatangkan kerusakan yang besar karena tidak taatnya seseorang dalam membangun pemahaman terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Pembinaan untuk mengenal Allah harus dijauhkan dari hal-hal yang diharamkan, karena hal yang haram menumbuhkan kerusakan dalam pengenalan kepada Allah. Sangat banyak kerusakan bisa terjadi karena hal yang diharamkan sedangkan manusia tidak menyadari kerusakan yang dilakukan. Setiap orang harus tumbuh akalnya untuk memahami keburukan dalam hal yang diharamkan Allah. Ada keburukan dalam hal yang haram yang secara umum diketahui manusia tanpa perlu pemberitahuan, walaupun mungkin saja menjadi terlihat rumit pada sebagian manusia. Sebagian keburukan hal yang haram baru diketahui manusia apabila menggunakan akal. Misalnya dalam perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan, seringkali manusia memandang baik perkataan demikian karena tampak layaknya perkataan yang memperkenalkan Allah pada makhluk, tetapi mungkin sebenarnya mendatangkan keruwetan logika berpikir dan merusak kemampuan akal. Demikian pula manakala seseorang menemukan suatu perkataan atau tindakan yang menimbulkan permusuhan di antara orang-orang yang benar atau beriman, perkataan itu tidak boleh dipersepsi sebagai perintah Allah sekalipun dikatakan kepadanya bahwa itu perintah Allah. Setiap orang harus memahami bahwa Allah tidak menghendaki permusuhan antara manusia. Pernyataan sebagai perintah Allah demikian itu merupakan perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan. Membangun kesadaran tentang hal ini membutuhkan tumbuhnya akal. Setiap orang harus menjauhkan diri dari apa yang diharamkan Allah dalam membina pengenalan kepada kehendak Allah.

Ujung dari pembinaan yang harus dijadikan tujuan adalah terhubungnya seseorang kepada Ar-Rahiim dengan menumbuhkan Al-arham dalam dirinya. Pembinaan bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah merupakan representasi pembinaan al-arham yang paling utama. Seseorang dapat memulai setengah pembinaan agama dirinya dengan melakukan pernikahan, dan pembinaan itu dapat dilakukan seterusnya hingga seseorang mampu menunaikan agamanya secara utuh. Pembinaan melalui pernikahan mencakup pembinaan agama dari awal hingga tercapainya tujuan beragama, sedangkan terkandung di dalam proses pernikahan itu pengajaran-pengajaran yang banyak hingga seseorang memahami urusan Allah dengan utuh. Manakala seseorang berbangga dengan pencapaian pengajaran-pengajaran secara parsial tanpa mengarahkan pembinaan menuju ujung sasaran yang harus dicapai, ia akan mudah tersimpangkan oleh syaitan dengan kebanggaannya. Kadangkala seseorang mengabaikan kebenaran karena kebanggaannya, sedangkan ia belum benar-benar bertauhid berupa tersambungnya washilah kepada Ar-Rahim.

Tanda dari terhubungnya seseorang terhadap Ar-Rahim diantaranya adalah pengenalan seseorang terhadap kedudukan Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s sebagai dua uswatun hasanah hingga ia mengetahui kedudukan dirinya dalam al-jamaah. Hal ini tentu saja harus disertai dengan kesadaran tentang pentingnya mengikuti langkah-langkah yang dicontohkan uswatun hasanah dengan benar. Seseorang yang bersaksi kedudukan uswatun hasanah tetapi tidak memahami atau bahkan merusak langkah yang dicontohkan uswatun hasanah menunjukkan dirinya tidak mengenal kedudukan Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s. Mungkin saja sebenarnya ia justru terlempar jauh dari Al-jamaah tanpa menyadarinya. Orang yang mengenal kedudukan dua uswatun hasanah akan berusaha mewujudkan tuntunan uswatun hasanah, bukan mewujudkan keinginan diri sendiri.