Pencarian

Rabu, 01 Juli 2026

Membangun Kesejahteraan Bangsa

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Di antara tanda benarnya mengikuti langkah Rasulullah SAW adalah terwujudnya pemakmuran alam dunia. Dengan taubat seseorang dibentuk untuk dapat mempersepsi dengan benar fenomena yang terjadi di alam dunia, mampu memahami makna yang terkandung pada apa yang terjadi dan mampu memikirkan langkah untuk membentuk keadaan yang lebih baik. Keadaan demikian merupakan bentuk keimanan yang harus diwujudkan umat Rasulullah SAW dengan memperbaiki kemuliaan akhlak melalui taubat. Kebanyakan manusia hanya mengikuti hawa nafsu dan keinginan duniawi dalam mensikapi kehidupan dunia, dan hal demikian itulah yang dikendalikan dari manusia dengan taubat. Lebih lanjut, taubat harus menjadikan manusia memahami fenomena kauniyah yang terjadi dan memikirkan langkah untuk menuju keadaan yang lebih baik.

﴾۶۹﴿وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS Al-A’raaf : 96)

Setiap manusia hendaknya beriman dan bertakwa agar Allah membukakan barakah dari langit dan bumi. Keimanan adalah cahaya Allah yang menerangi kehidupan, bukan sekadar suatu kepercayaan tentang benarnya sesuatu. Misalnya ayat kitabullah apabila dipahami dengan benar kandungan kebaikan yang ada padanya, maka itu merupakan keimanan berupa cahaya. Itu berlaku baik manakala seseorang mampu memahami sendiri ataupun manakala ia mendengarnya dari orang lain. Bila sekadar percaya bahwa ayat itu merupakan firman Allah, maka kepercayaan demikian belum menjadi suatu cahaya iman yang menerangi. Mungkin seseorang bukan tergolong kafir terhadap suatu ayat, akan tetapi bisa saja ia belum menjadi beriman dengan ayat tersebut. Mungkin saja seseorang baru mencapai keislaman belum keimanan. Seseorang menjadi beriman apabila ayat yang disampaikan kepada mereka menjadi cahaya yang menerangi kehidupan.

Keimanan diperoleh melalui pembentukan akhlak mulia, bukan melalui pemikiran logika. Suatu akhlak tertentu akan mendatangkan suatu pemahaman terhadap kebaikan setara dengan akhlaknya. Akhlak yang mulia akan memahami kebaikan dari tuntunan Allah secara lebih baik, dan akhlak yang buruk akan sulit memahami kebaikan dari tuntunan yang disampaikan. Seseorang dengan akhlak yang buruk mungkin bisa memahami perkataan dengan baik akan tetapi dorongan yang muncul dari pemahaman itu akan buruk. Hal itu sebenarnya merupakan pemahaman yang buruk. Pemahaman terhadap kebaikan harus dilakukan melalui pembinaan akhlak mulia.

Pembinaan akhlak mulia itu harus dilakukan melalui proses taubat kepada Allah dengan berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Seseorang yang kafir hendaknya melangkah untuk berserah diri (islam). Kaum muslimin harus melangkah untuk melakukan tazkiyatun-nafs. Orang yang disucikan harus berusaha untuk memahami tuntunan Allah baik yang dijumpai pada ayat kitabullah ataupun ayat kauniyah bagi mereka. Orang yang bisa memahami ayat Allah hendaknya berusaha untuk mengenal untuk peran apa dirinya diciptakan. Orang yang mengenal untuk apa dirinya diciptakan harus berusaha membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah agar ia menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah. Seluruh proses itu hendaknya dilakukan dengan berpegang erat pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sesuai dengan keadaan masing-masing. Ada yang harus membina pemahaman dengan mengikuti pengajaran orang lain, ada yang harus beramal shalih dengan menemukan sahabat, dan ada yang harus bergantung sepenuhnya kepada Allah saja, dan lain-lain yang seluruhnya harus dilakukan dengan berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tanpa melepaskannya. Manakala menyimpang, ia harus melepaskan selain kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak boleh terbalik. Kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW itu merupakan pembentuk akhlak mulia dan keimanan yang paling benar.

Iman dan Takwa Sebagai Pilar Kesejahteraan

Dengan pembinaan akhlak mulia, keimanan akan terbentuk pada suatu bangsa, dan Allah membukakan keberkahan dari langit dan bumi kepada mereka apabila mereka bertakwa. Keimanan yang terbentuk itu harus ditindaklanjuti dengan amal-amal shalih yang dilakukan berdasarkan keimanan yang benar. Amal-amal shalih demikian itu merupakan wujud ketakwaan yang harus dilakukan agar keberkahan dari langit dan bumi dibukakan. Apabila keimanan dibiarkan hanya berupa keyakinan tanpa suatu amal shalih, keberkahan itu tidak akan terbuka. Kadangkala suatu kaum hanya berwacana dengan keimanan-keimanan tanpa amal shalih yang nyata. Kadangkala suatu kaum justru mencegah upaya pewujudan amal shalih dari keimanan yang benar di antara mereka, maka mereka itu sebenarnya menutup pintu-pintu keberkahan yang hendak dibukakan Allah. Mereka mencegah orang-orang yang beriman di antara mereka untuk bertakwa, dan itu menutup pintu keberkahan.

Keimanan yang salah bisa melahirkan tindakan menutup pintu berkah. Misalnya ada orang-orang yang diberi kekuatan indera bathiniah berupa pendengaran, penglihatan dan qalb akan tetapi mereka tidak menggunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah. Kadangkala kaum demikian lebih mengikuti persepsi indera-indera bathiniah mereka daripada memahami dan melaksanakan tuntunan-tuntunan Allah. Itu adalah keimanan yang salah. Penghambaan demikian tidak jarang berbenturan dengan penghambaan orang-orang yang ingin mengikuti tuntunan Allah dan sunnah Rasulullah SAW, sedemikian langkah mereka untuk mengikuti tuntunan Allah dan Rasulullah SAW tertutup. Jalan ketakwaan itu menjadi tertutup dan pintu-pintu berkah menjadi tertutup. Itu merupakan salah satu contoh keimanan yang keliru. Mungkin banyak kasus lain yang dapat menutup pintu berkah bagi suatu bangsa.

Keimanan harus dibangun dengan benar. Setiap orang harus berusaha membangun keinginan menempuh shirat al-mustaqim dengan memahami makna shirat al-mustaqim, bahwa sebenarnya shirat itu berfungsi mengantarkan orang beriman bertemu dengan rabb-nya di ujung shirat tersebut. Shirat al-mustaqim itu ditandai dengan suatu seruan ayat kitabullah yang menjadi amanah. Setiap muslimin hendaknya berusaha menemukan ayat kitabullah yang menyeru mereka untuk beramal, dan itu harus dilakukan dengan menempuh jalan taubat. Banyak orang merasa berada di shirat al-mustaqim tanpa suatu pemahaman terhadap ayat kitabullah yang harus diperjuangkan, maka itu belum shirat al-mustaqim yang sebenarnya. Orang yang berada di shirat al-mustaqim benar-benar terbangkitkan motivasi mereka berjuang karena suatu ayat tertentu dari kitabullah yang terbuka kepada mereka, atau yang mereka pahami dengan benar. Membangun pemahaman yang benar terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW itu merupakan keimanan yang benar.

Memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW merupakan indikator yang lebih baik tentang benarnya keimanan daripada terminologi yang lain, misalnya terminologi mengenal Allah. Tidak jarang manusia keliru memahami terminologi mengenal Allah. Misalnya mungkin suatu kaum bersemangat untuk mengenal diri, tetapi tidak mau memahami urusan yang diperintahkan Allah melalui ayat-ayat-Nya. Keinginan demikian merupakan angan-angan. Seseorang akan mengenal diri apabila ia mempunyai keinginan menghamba kepada Allah menunaikan urusan-Nya, tidak akan mengenal melalui hasrat diri sendiri saja. Kadang terjadi perselisihan tentang kebenaran di antara umat. Sebagian bersandar pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah dan sebagian bersandar pada pendapat orang yang dianggap mengenal Allah tanpa mau memahami masalah berdasar ayat Allah. Lebih penting bagi umat untuk membina pemahaman terhadap ayat-ayat Allah mengikuti kitabullah, bukan taat hanya berdasarkan keyakinan pengenalan kepada Allah. Pemahaman terhadap tuntunan menjadi indikator yang lebih baik tentang keimanan yang benar, yang memunculkan keberkahan bagi suatu bangsa.

Keimanan kaum harus disusun dengan benar mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak boleh menyimpangkan umat. Setiap orang harus dibina untuk bisa memahami kebenaran dengan baik. Pemahaman terhadap ayat kitabullah itu harus diperoleh dengan tepat dan terinci selaras dengan segala yang tercantum dalam kitabullah, tidak berselisih berdasarkan ide besar ayatnya saja dengan pemahaman ala kadarnya. Bila berpendapat dengan berusaha memahami ayat kitabullah secara tepat dan terinci, perbincangan orang beriman akan tersusun dalam suatu pengetahuan besar keimanan, bukan perselisihan. Manakala seseorang yang mengenal shirat al-mustaqim membacakan ayat-ayat Allah yang sedang digelar, hendaknya setiap orang dapat memahami nilai kepentingannya, tidak mengabaikan kebenaran dalam pembacaannya. Mereka harus bisa mengerti kebaikan dari ayat yang dibacakan dan harus diperjuangkan. Suatu kaum akan lemah bila mengikuti kebenaran dalam pikiran sendiri tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, menganggap persepsi indera dan pikirannya sendiri sebagai shirat al-mustaqim. Hal demikian merupakan bentuk keimanan yang lemah yang mungkin akan tanggal ketika kematian tiba. Memahami dan berbuat mengikuti ayat Allah baik kitabullah maupun kauniyah akan menanamkan keimanan yang tidak akan tanggal ketika kematian tiba.

Merintis Kemakmuran

Pemakmuran suatu negeri harus dimulai dari ilmu para ulama, yaitu ulama yang mengenal Allah. Mengenal Allah dalam hal ini berupa terbinanya misykat cahaya yang dapat membentuk bayangan cahaya Allah. Misykat ini akan menjadikan mereka mengenal bagaimana rabb-nya akan mengenalkan diri-Nya. Mungkin mereka belum bertemu (liqaa’) dengan rabb-nya, tetapi telah mengenal bagaimana rabb-nya akan memperkenalkan diri-Nya kepadanya. Mereka juga mengetahui jalan untuk menjadi hamba yang didekatkan, jalan berupa amal yang ditentukan baginya dan amal itu ia ketahui disebutkan dalam kitabullah Alquran. Jalan itu adalah shirat al-mustaqim yang ditandai adanya suatu seruan dari ayat Alquran. Jalan itu bukan rekaan atau tebakan tanpa ada penyerunya dari kitabullah Alquran. Mereka mengetahui bahwa mereka akan bertemu rabb-nya apabila ia melaksanakan amal-amal itu. Mereka itu adalah ulama yang dapat mengusahakan pemakmuran bangsanya. Dalam perjalanan mereka akan menjumpai banyak keterbukaan ayat-ayat lain Alquran yang menjelaskan upaya yang harus dilakukan untuk mewujudkan seruan yang tertulis pada gerbang shirat al-mustaqim.

Ulama yang demikian itulah orang yang bisa membukakan keberkahan dari langit dan bumi hingga terwujud pemakmuran alam dunia. Bentuk dari pengetahuan mereka bukan hanya dalil-dalil saja, tetapi berupa pengetahuan integral antara hakikat di sisi Allah dengan keadaan alam kauniyah, sedemikian ilmu itu dapat mendatangkan perbaikan bagi kasab penghidupan bangsa, menentukan pemimpin yang baik bagi bangsa tersebut, dan menunjukkan keimanan sesungguhnya yang tidak akan tanggal dengan datangnya kematian. Banyak orang yang menggunakan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk merumuskan kehidupan yang lebih baik akan tetapi sebenarnya tidak menyentuh kandungan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hanya menyentuh redaksinya saja. Hal demikian merupakan suatu kebaikan selama dilakukan dengan ikhlas tidak ada iktikad tersembunyi pada perumusannya. Sebenarnya keikhlasan itu sendiri akan mendorong manusia untuk bisa menyentuh kandungan dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW manakala hati mereka bersih. Tetapi harus diperhatikan bahwa banyak pula orang munafik bahkan musyrik menggunakan ayat kitabullah untuk membuat-buat pengetahuan yang bathil bagi umat islam. Setiap muslim hendaknya berusaha menemukan ulama yang mengerti kandungan dalam kitabullah selaras dengan keadan kauniyah, sebagai sarana mendekati ulama yang sesungguhnya.

Sayangnya banyak umat islam tidak mengenali para ulama. Hal itu menyebabkan kehidupan di alam dunia menjadi sulit.

Dari Anas ibn Malik r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda :

ﺳﻴﺎٔﺗﻲ ﺯﻣﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍٔﻣﺘﻲ ﻳﻔﺮﻭﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ،ﻓﻴﺒﺘﻠﻴﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺜﻼﺙ ﺑﻠﻴﺎﺕ ﺍٔﻭﻻﻫﺎ ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻣﻦ ﻛﺴﺒﻬﻢ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻳﺴﻠّﻂ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺳﻠﻄﺎﻧﺎ ﻇﺎﻟﻤﺎ ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻳﺨﺮﺟﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺑﻐﻴﺮ ﺍٕﻳﻤﺎﻥ
Akan datang satu masa dimana umatku akan lari (menjauh) dari ulama dan fuqaha, maka Allah akan mendatangkan tiga bencana atas mereka: 1. Allah akan mengangkat barokah dari usaha mereka, 2. Allah akan menguasakan atas mereka pemimpin yang dzalim, 3. Allah akan keluarkan dari dunia dengan tanpa iman (HR Abu Nuaim)

Dewasa ini, keadaan umat islam di nusantara tampak sangat tidak baik-baik saja. Penghidupan kasab di antara kaum muslimin tampak sangat sulit. Harga-harga bergerak tidak terkendali karena para penguasa yang melakukan krupsi besar-besaran. Para ahli tersingkirkan dari kedudukannya oleh orang bodoh yang dekat dengan penguasa. Negara diurus oleh orang tanpa keahlian. Di masyarakat umum, menjalankan usaha menjadi sangat sulit karena umumnya penggunaan cara-cara yang tidak dihalalkan, dan rakyat harus menanggung beban penghidupan yang berat karena keadaan demikian. Sangat banyak fenomena kesulitan dalam kehidupan muslimin dewasa ini.

Keadaan ini terjadi karena ditinggalkannya para ulama oleh umat. Umat Islam hendaknya berusaha untuk tidak meninggalkan ulama dan fuqaha di antara mereka, khususnya ulama dan fuqaha yang mengenal Allah. Apabila mereka tidak mengenalnya, hendaknya mereka berusaha mencari dengan berusaha mengenali ilmu yang bisa dinilai sebagai penjelasan hakikat-hakikat dari sisi Allah dengan sepenuh kemampuan akalnya tidak hanya mengikuti perkataan orang. Melangkah bersama ulama dan fuqaha yang mengenal Allah akan mendatangkan kemakmuran bagi negeri mereka. Kasab kehidupan mereka akan menjadi lebih baik atau mudah dan pemimpin mereka akan diangkat dari orang yang baik tidak dzalim, dan mereka akan mengenal keimanan yang sebenarnya, keimanan yang tidak terlepas ketika kematian menghampiri. Sangat rugi manusia yang keimanan mereka tanggal ketika kematian tiba. Hal demikian biasanya terjadi karena mereka mengikuti keimanan tanpa berusaha memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, atau mensia-siakan pengajaran tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk mengikuti sistem keimanan mereka sendiri.

Ini adalah jalan agar berkah Allah dibukakan kepada suatu negeri. Jalan yang lain akan menjebak manusia menuju keadaan-keadaan yang lebih buruk. Allah akan menurunkan keburukan melalui upaya-upaya yang dilakukan orang-orang yang tidak mengikuti ayat-ayat Allah ataupun mendustakan ayat-ayat Allah. Mungkin mereka mengira usaha mereka akan mendatangkan kebaikan sedangkan Allah menetapkan keburukan karena kurangnya iman terhadap ayat-ayat Allah. Sebagai gambaran, dahulu seorang pemimpin tampak sangat buruk. Ketika pemimpin berganti, masyarakat negeri berharap kehidupan yang lebih baik karena sosok yang dipandang lebih baik. Kenyataannya, sosok yang dipandang lebih baik itu justru mendatangkan banyak kekonyolan. Itu merupakan ketetapan Allah karena umat atau masyarakat tidak memperhatikan tuntunan Allah. Untuk membukakan berkah dari langit dan bumi, umat manusia hendaknya beriman dan bertakwa. Iman dan takwa yang benar itu hendaknya dilakukan dengan mengikuti ulama dan fuqaha yang bertakwa.

Minggu, 28 Juni 2026

Membentuk Masyarakat Sejahtera

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan sejak kehidupan di alam dunia. Di antara tanda benarnya mengikuti langkah Rasulullah SAW adalah terwujudnya pemakmuran alam dunia. Bertaubat kepada Allah tidaklah menjauhkan manusia dari alam dunia, hanya saja harus dilakukan dengan disertai pengendalian diri agar dapat beramal dengan benar untuk alam dunia. Dengan bertaubat seseorang dibentuk untuk dapat mempersepsi dengan benar fenomena yang terjadi di alam dunia, mampu memahami makna yang terkandung pada apa yang terjadi dan mampu memikirkan langkah untuk membentuk keadaan yang lebih baik. Keadaan demikian dapat terjadi apabila seseorang memperbaiki kemuliaan akhlak dengan bertaubat. Kebanyakan manusia hanya mengikuti hawa nafsu dan keinginan duniawi dalam mensikapi kehidupan dunia, dan hal demikian itulah yang dikendalikan dari manusia dengan taubat. Pada tingkat lebih lanjut, taubat harus menjadikan manusia memahami fenomena kauniyah yang terjadi dan memikirkan langkah untuk menuju keadaan yang lebih baik.

Orang yang mengikuti langkah taubat akan menemukan suatu jamaah yang mempunyai pengetahuan yang benar, mengenal dan menjadi saksi Rasulullah SAW. Mereka itu adalah para ulama. Sayangnya banyak para ulama yang tidak dikenali oleh masyarakat karena kurangnya akal masyarakat. Hal itu menyebabkan kehidupan di alam dunia menjadi sulit.

Dari Anas ibn Malik r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda :

ﺳﻴﺎٔﺗﻲ ﺯﻣﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍٔﻣﺘﻲ ﻳﻔﺮﻭﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ،ﻓﻴﺒﺘﻠﻴﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺜﻼﺙ ﺑﻠﻴﺎﺕ ﺍٔﻭﻻﻫﺎ ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻣﻦ ﻛﺴﺒﻬﻢ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻳﺴﻠّﻂ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺳﻠﻄﺎﻧﺎ ﻇﺎﻟﻤﺎ ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻳﺨﺮﺟﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺑﻐﻴﺮ ﺍٕﻳﻤﺎﻥ
Akan datang satu masa dimana umatku akan lari (menjauh) dari ulama dan fuqaha, maka Allah akan mendatangkan tiga bencana atas mereka: 1. Allah akan mengangkat barokah dari usaha mereka, 2. Allah akan menguasakan atas mereka pemimpin yang dzalim, 3. Allah akan keluarkan dari dunia dengan tanpa iman (HR Abu Nuaim)

Akan dijumpai suatu masa di mana umat Rasulullah SAW akan lari menjauh dari ulama dan para fuqaha. Hal ini harus dipahami secara lebih baik. Sekian banyak para ulama dengan pengikut-pengikut yang berjuang bersama tidak mampu mewujudkan pemakmuran bangsa. Bangsa ini tetap dililit dengan sulitnya penghidupan dengan pemimpin yang dzalim. Sebagian kalangan justru mengalami kesulitan karena ketaatan kepada para ulama mereka. Ulama yang sebenarnya adalah orang-orang yang mempunyai pengetahuan dari sisi Allah berupa hakikat-hakikat, sedemikian pengetahuan itu menjadikan mereka takut kepada Allah. Mereka berusaha melangkah mengikuti tuntunan Allah untuk hampir setiap usaha yang mereka lakukan, tidak mengabaikan tuntunan Allah. Hasil dari pengetahuan mereka mendatangkan kemakmuran bagi kehidupan alam dunia.

Dewasa ini, keadaan umat islam tampak sangat tidak baik-baik saja. Penghidupan kasab di antara kaum muslimin tampak sangat sulit. Harga-harga bergerak tidak terkendali karena para penguasa yang melakukan korupsi besar-besaran. Para ahli tersingkirkan dari kedudukannya oleh orang bodoh yang dekat dengan penguasa. Negara diurus oleh orang tanpa keahlian. Di masyarakat umum, menjalankan usaha menjadi sangat sulit karena umumnya penggunaan cara-cara yang tidak dihalalkan, dan rakyat harus menanggung beban penghidupan yang berat karena keadaan demikian. Sangat banyak fenomena kesulitan dalam kehidupan muslimin dewasa ini.

Ulama Sebagai Perintis

Pemakmuran suatu negeri harus dimulai dari ilmu para ulama, yaitu ulama yang mengenal Allah. Mengenal Allah dalam hal ini berupa terbinanya misykat cahaya yang dapat membentuk bayangan cahaya Allah. Misykat ini akan menjadikan seseorang mengenal bagaimana rabb-nya akan mengenalkan diri-Nya. Mungkin mereka belum bertemu (liqaa’) dengan rabb-nya, tetapi telah mengenal bagaimana rabb-nya akan memperkenalkan diri-Nya kepadanya. Mereka juga mengetahui jalan untuk menjadi hamba yang didekatkan, jalan berupa amal yang ditentukan baginya dan amal itu ia ketahui disebutkan dalam kitabullah Alquran. Jalan itu adalah shirat al-mustaqim yang ditandai adanya suatu seruan dari ayat Alquran. Jalan itu bukan rekaan atau tebakan tanpa ada penyerunya dari kitabullah Alquran. Mereka mengetahui bahwa mereka akan bertemu rabb-nya apabila ia melaksanakan amal-amal itu. Mereka itu adalah ulama yang dapat mengusahakan pemakmuran bangsanya. Dalam perjalanan mereka akan menjumpai banyak keterbukaan ayat-ayat lain Alquran yang menjelaskan upaya yang harus dilakukan untuk mewujudkan seruan yang tertulis pada gerbang shirat al-mustaqim.

Ulama yang demikian itulah orang yang bisa menurunkan suatu hakikat dari sisi Allah hingga mewujud di alam dunia hingga terwujud pemakmuran alam dunia. Bentuk dari pengetahuan mereka bukan hanya dalil-dalil saja, tetapi berupa pengetahuan integral antara hakikat di sisi Allah dengan keadaan alam kauniyah, sedemikian ilmu itu dapat mendatangkan perbaikan bagi kasab penghidupan bangsa, menentukan pemimpin yang baik bagi bangsa tersebut, dan menunjukkan keimanan sesungguhnya yang tidak akan tanggal dengan datangnya kematian. Banyak orang yang menggunakan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk merumuskan kehidupan yang lebih baik akan tetapi sebenarnya tidak menyentuh kandungan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hanya menyentuh redaksinya saja. Hal demikian merupakan suatu kebaikan selama dilakukan dengan ikhlas tidak ada iktikad tersembunyi pada perumusannya. Sebenarnya keikhlasan itu sendiri akan mendorong manusia untuk bisa menyentuh kandungan dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW manakala hati mereka bersih. Tetapi harus diperhatikan bahwa banyak pula orang munafik bahkan musyrik menggunakan ayat kitabullah untuk membuat-buat pengetahuan yang bathil bagi umat islam. Setiap muslim hendaknya berusaha menemukan ulama yang mengerti kandungan dalam kitabullah selaras dengan keadan kauniyah, sebagai sarana mendekati ulama yang sesungguhnya.

Ada banyak bentuk ilmu yang mungkin diturunkan kepada orang yang mengenal Allah, dan macam-macam ilmu itu menentukan kedudukan dalam Al-Jamaah. Sebagian mempunyai pengetahuan paling fundamental berupa pembinaan tauhid, dan ilmu demikian ini merupakan ilmu yang paling penting dalam membentuk akhlak mulia. Ilmu yang lain berupa pengetahuan yang berangsur dari fundamental hingga yang lebih aplikatif, misalnmya ilmu pembinaan shilaturrahmi, ilmu penegakan jihad, ilmu pembinaan sumber daya manusia, ilmu pengolahan sumber daya alam, dan ilmu-ilmu lainnya. Pengetahuan yang lebih fundamental harus lebih diperhatikan agar aplikasi yang mengikutinya tidak menyimpang. Setiap orang harus memperhatikan pengetahuan-pengetahuan yang lebih fundamental tidak memisahkan diri. Pembina shilaturrahmi tidak boleh mengabaikan arahan dari pembinaan tauhid karena akan pengabaian akan menjadikan mereka menyimpang. Demikian seterusnya hingga pengolahan sumber daya alam tidak boleh menyalahi semua prinsip-prinsip yang lebih fundamental.

Pengetahuan para ulama dan fuqaha demikian pada tahap awal bisa bersifat pokok-pokok saja, dan berkembang semakin terinci seiring dengan perkembangan diri. Sebagian ulama berkembang hingga bisa memperoleh pengetahuan terhadap keadaan kauniyah secara terinci, dan rincian itu berkembang dari pokok pengetahuan yang benar. Yang harus diperhatikan oleh umat adalah pokok-pokok pengetahuan terlebih dahulu, yaitu pengetahuan yang tumbuh di atas kitabullah. Pengetahuan rincian hendaknya diperhatikan dengan prioritas berikutnya tanpa mengabaikan sikap taat kepada ulama. Mengutamakan perhatian terhadap pengetahuan rinci terlebih dahulu, atau mengagungkan pengetahuan rincian tanpa memperhatikan pokoknya bisa berbahaya bagi umat. Syaitan bisa menurunkan pengetahuan-pengetahuan rinci kepada seseorang meniru pengetahuan yang benar untuk menipu umat manusia yang tidak memperhatikan pokok kebenaran. Ada orang-orang yang mudah menerima pengetahuan kauniyah tanpa pokok pengetahuan yang benar, sedemikian mereka mudah disesatkan karena tidak dapat mengukur nilai manfaat dan madlarat dari pengetahuan yang diterimanya. Hal demikian bisa dimanfaatkan syaitan untuk menyesatkan manusia.

Ulama yang mengenal Allah mungkin saja berbuat salah, akan tetapi tidak akan mau menyimpang dari jalan Allah. Manakala mereka berbuat salah, mereka akan memandang kesalahan itu adalah kesalahan dirinya tidak akan mau menjadikan perbuatannya sebagai bagian dari perintah Allah. Dengan sikap demikian, mereka bisa meminta ampunan kepada Allah, tidak terus berbuat dzalim dengan memandang agung diri sendiri hingga menyimpang dari jalan Allah. Memandang perbuatan salah sebagai bagian perintah Allah akan menjadikan manusia kehilangan kemampuan melihat jalan yang benar-benar diperintahkan Allah. Itu menyerupai cara pandang syaitan terhadap dirinya sendiri. Seorang ulama yang berbuat salah akan berusaha mengkoreksi langkahnya agar kembali berada di jalan benar untuk menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah. Umat yang ingin mengikuti langkah ulama hendaknya memperhatikan sikap ulamanya ketika melakukan salah, apakah ia berusaha kembali kepada jalan Allah atau justru menjadikan amal menyimpangnya sebagai tauladan atau bagian amal shalih. Bila umat memperhatikan kesalahannya, sebenarnya setiap manusia berbuat salah. Kesalahan manusia tidak perlu dipermasalahkan kecuali karena madlarat yang mengikutinya. Manakala seseorang salah mensikapi kesalahan, madlarat yang mengikuti bisa sangat besar karena syaitan sangat menyukai kesesatan karena kesalahan bersikap tersebut.

Menjaga Kedekatan dengan Ulama

Umat Islam hendaknya berusaha untuk tidak meninggalkan ulama dan fuqaha di antara mereka, khususnya ulama dan fuqaha yang mengenal Allah. Apabila mereka tidak mengenalnya, hendaknya mereka berusaha mencari dengan berusaha mengenali ilmu yang bisa dinilai sebagai penjelasan hakikat-hakikat dari sisi Allah dengan sepenuh kemampuan akalnya tidak hanya mengikuti perkataan orang. Melangkah bersama ulama dan fuqaha yang mengenal Allah akan mendatangkan kemakmuran bagi negeri mereka. Kasab kehidupan mereka akan menjadi lebih baik atau mudah dan pemimpin mereka akan diangkat dari orang yang baik tidak dzalim, dan mereka akan mengenal keimanan yang sebenarnya, keimanan yang tidak terlepas ketika kematian menghampiri. Sangat rugi manusia yang keimanan mereka tanggal ketika kematian tiba. Hal demikian biasanya terjadi karena mereka mengikuti keimanan tanpa berusaha memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, atau mensia-siakan pengajaran tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk mengikuti sistem keimanan mereka sendiri.

Gambarannya, barangkali setiap orang berharap menempuh shirat al-mustaqim. Akan tetapi sedikit orang yang memahami makna shirat al-mustaqim, bahwa sebenarnya shirat itu berfungsi mengantarkan orang beriman bertemu dengan rabb-nya di ujung shirat tersebut. Rabb manusia berada di atas shirat al-mustaqim. Sedikit pula orang yang mengerti dan waspada bahwa tanda shirat al-mustaqim itu adalah seruan ayat kitabullah yang menjadi amanah. Banyak orang merasa berada di shirat al-mustaqim tanpa suatu pemahaman terhadap ayat kitabullah yang harus diperjuangkan. Manakala seseorang yang mengenal shirat al-mustaqim membacakan ayat-ayat Allah yang sedang digelar, mereka mengabaikan kebenaran dalam pembacaannya. Mereka tidak mengerti kebaikan dari ayat yang dibacakan dan harus diperjuangkan. Kadangkala pengabaian itu disertai dengan mengikuti kebenaran dalam pikiran sendiri tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, menganggap persepsi indera dan pikirannya sebagai shirat al-mustaqim. Hal demikian merupakan bentuk keimanan yang lemah yang mungkin akan tanggal ketika kematian tiba. Memahami dan berbuat mengikuti ayat Allah baik kitabullah maupun kauniyah akan menanamkan keimanan yang tidak akan tanggal.

Barangkali sangat sedikit orang yang mengenal shirat al-mustaqim, dan mereka itu membawa berkah yang besar bagi keselamatan umat manusia. Keselamatan tidak hanya bagi orang yang mengenal shirat al-mustaqim saja, tetapi juga bagi orang yang mengharapkan dengan benar shirat al-mustaqim, bukan hanya yang berangan-angan saja. Banyak orang merasa berharap shirat al-mustaqim tetapi abai atau bahkan mendustakan pembacaaan ayat Allah yang benar tidak mau memahami arti penting makna ayat Allah yang ditunjukkan ulama, maka orang demikian itu sebenarnya hanya berangan-angan shirat al-mustaqim saja. Berharap shirat al-mustaqim harus disertai dengan berusaha memahami ayat-ayat Allah baik kitabullah ataupun keadaan kauniyah. Harapan terhadap shirat al-mustaqim itu akan menjadi mudah terwujud apabila seseorang mengenal, mengikuti dan mendekat kepada ulama dan fuqaha, yaitu ulama dan fuqaha yang mengenal Allah.

Tidak sedikit muslimin yang meninggalkan ulama dan fuqaha. Tandanya yaitu diangkatnya pemimpin yang dzalim bagi mereka dan kasab penghidupan yang sulit. Apabila umat islam tidak meninggalkan ulama dan fuqaha mereka, kasab penghidupan tidak akan menjadi sangat sulit dan pemimpin mereka akan diangkat dari orang yang baik. Keadaan demikian hendaknya diperhatikan oleh kaum muslimin. Mereka mungkin telah berjuang untuk memperbaiki keadaan tetapi mengabaikan ulama dan fuqaha sedangkan yang ditinggalkan adalah ulama dan fuqaha yang mengenal Allah dan sebenarnya berjuang di shirat al-mustaqim. Dengan demikian maka mereka berbuat meninggalkan ulama dan fuqaha yang mengakibatkan kehidupan menjadi sulit, dan pemimpin mereka diangkat dari orang yang dzalim. Iman demikian mungkin akan tanggal manakala kematian mendatangi, karena telah ditinggalkannya perjuangan di shirat al-mustaqim, berupa perjuangan melaksanakan perintah Allah dari ayat kitabullah.

Sebagian orang meninggalkan ulama dan fuqaha dengan mendustakan apa-apa yang diperjuangkan. Syaitan mungkin saja menutup penglihatan, pendengaran dan akal mereka untuk memahami apa yang diserukan oleh para ulama dan fuqaha sedemikian shirat al-mustaqim itu didustakan. Sebagian orang mungkin meninggalkan ulama dengan menganggap para ulama dan fuqaha tidak berbuat apa-apa, tidak seperti diri mereka yang telah berjuang dengan harta dan amalnya. Mereka yang demikian itu tidak mengerti nilai kebenaran hingga tidak dapat membedakan arah perjalanan yang benar dan yang sia-sia. Ilmu yang disampaikan para ulama dan fuqaha itu tentu saja sangat bernilai apabila diikuti, dan ilmu itu tidak mendatangkan hasil karena kebodohan mereka saja bukan karena ulama tidak berbuat apa-apa. Sebagian orang mungkin meninggalkan ulama dan fuqaha dengan menganggap ilmu yang diberikan para ulama dan fuqaha bukan sesuatu yang harus atau layak untuk diperjuangkan, tidak tergerak untuk memperjuangkan ilmu tersebut. Itu merupakan merupakan bentuk yang ringan tetapi tetap saja merupakan kebodohan dan merupakan perbuatan meninggalkan para ulama dan fuqaha, sedemikian keadaan masyarakat menjadi sulit memperoleh kasab yang layak dan pemimpin mereka dari kalangan orang yang dzalim. Banyak bentuk perbuatan meninggalkan para ulama dan fuqaha yang dapat mengakibatkan hal demikian.

Mendekat kepada ulama harus dilakukan dengan akal yang benar. Setiap orang harus membangun keinginan mengenal Allah yang Maha Mulia, serta membangun keinginan untuk bertemu dengan sumber segala kemuliaan tersebut, membangun pemahaman terhadap jalan-jalan yang dapat mengantarkan menjadi dekat kepada Allah. Banyak orang terjebak pada waham dalam beragama. Jalan mendekat kepada Allah adalah melaksanakan amanah yang telah disampaikan Allah melalui kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan itulah yang dimaksud sebagai shirat al-mustaqim. Setiap orang beriman hendaknya memperhatikan pembacaan ayat-ayat Allah dengan sebaik-baiknya hingga memahami kebaikan-kebaikan dari pengetahuan yang diperoleh dan dapat berpikir untuk menempuh langkah paling baik. Apabila seseorang mendekati ulama dan fuqaha dengan tetap dalam kebodohannya, ia sebenarnya tidak menjadi dekat dengan ulama dan fuqaha. Akal dan pikiran yang menguat berdasarkan kebenaran itulah yang menjadi sarana mendekat kepada ulama dan fuqaha, yang akan menghilangkan kesulitan kasab di masyarakat, menjadikan pemimpin dari kalangan orang yang lebih layak dan membangun keimanan yang kokoh.

Minggu, 21 Juni 2026

Bermajelis dengan Baik

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan beramal untuk pemakmuran bumi. Setiap muslim hendaknya menjalin hubungan baik dengan muslim lain sesuai keadaan masing-masing. Di antara orang beriman, shilaturrahmi hendaknya dibentuk untuk mewujudkan kehendak Allah, membentuk suatu jamaah dengan hubungan tertentu antara satu orang dengan yang lain. Menjalin hubungan shilaturrahmi dengan jamaah yang lain harus dilakukan untuk mewujudkan khazanah-khazanah yang dikenal di antara orang beriman. orang-orang yang mengenal suatu kandungan kitabullah Alquran harus berusaha mengenal sahabat yang mengenal suatu kandungan lain kitabullah, dan memimpin mukminin lain untuk merumuskan amal-amal yang perlu dilakukan.

Di antara wahana untuk menjalin shilaturrahmi orang-orang beriman adalah bermajelis.

﴾۱۱﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah. Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. QS Al-Mujaadilah : 11)

Ayat di atas memberikan petunjuk tentang prinsip-prinsip bermajlis. Allah meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Mereka itu hendaknya dijadikan pemimpin-pemimpin dalam majelis musyawarah karena sebenarnya Allah meninggikan orang-orang demikian di antara kaum muslimin dan mukminin. Iman dan ilmu adalah nilai-nilai yang harus diangkat melalui majelis-majelis orang beriman. Dengan keimanan dan keilmuan di antara orang-orang beriman, Allah hendak meninggikan derajat kaum beriman seluruhnya melalui majelis musyawarah yang mereka selenggarakan. 

Keilmuan yang ada di antara orang beriman ada banyak macamnya dan banyak pula bentuk hubungan keilmuan antara satu orang dengan orang lain. Sebagian hubungan keilmuan di antara mereka berbentuk fundamen dan cabang, ada keilmuan seseorang yang menjadi fundamen bagi keilmuan orang lain yang merupakan cabang-cabang dari fundamen itu, dan ada hubungan sejajar antar keilmuan, di mana keilmuan sebagian orang dengan sebagian yang lain merupakan sahabat yang sejajar dan harus bekerja sama.

Untuk terwujudnya pemakmuran, diperintahkan kepada sebagian orang beriman untuk melapangkan diri dalam majelis. Perintah ini terutama ditujukan kepada orang beriman untuk menerima sahabatnya yang berkedudukan sejajar dengan dengan dirinya, sedemikian sahabatnya itu dapat bekerjasama dengan baik dalam menyelenggarakan urusan yang harus ditunaikan. orang beriman tidak perlu merasa takut urusan mereka akan menjadi sempit karena bertambahnya sahabat yang melaksanakan urusan yang sama bersama mereka. Urusan yang harus mereka kerjakan akan menjadi meluas karena Allah akan meluaskan urusan mereka. Setiap orang beriman pada dasarnya mempunyai ilmu yang unik untuk ditambahkan bagi majelis mereka, sedemikian urusan mereka tidak berdesak-desakan satu dengan lainnya.

Peluasan ini berlaku apabila orang beriman dapat melapangkan diri untuk menerima sumbangan dari sahabat yang diberi tempat. Manakala orang beriman merasa terganggu dalam hal kepakaran diri atau senioritas diri di antara majelis yang telah ada, majelis itu akan menjadi sempit bukan karena menyempitnya majelis, tetapi karena mereka tidak melapangkan majelis. Selain itu, meluasnya majelis juga dipengaruhi dengan penempatan yang tepat. Mungkin suatu keputusan menempatkan seseorang pada suatu kedudukan di antara majelis tidak tepat sedemikian orang yang tempatkan tidak meluaskan majelis. Menempatkan seseorang harus diukur berdasarkan keimanan dan keilmuan yang ada pada orang yang ditempatkan, tidak boleh menempatkan mengikuti keinginan yang menempatkan saja. Menempatkan seseorang berilmu tidak perlu menunggu seseorang meninggikan diri dengan iman dan ilmunya. Kadangkala suatu kaum mengabaikan keimanan dan keilmuan yang tumbuh pada diri seseorang dan ia tidak diberi kedudukan untuk ilmunya, maka sikap demikian sebenarnya merusak tatanan. Tidak jarang banyak ilmuwan menjadi sia-sia karena penempatan yang berantakan. Hal demikian mempengaruhi luasnya/sempitnya majelis yang dibentuk orang-orang beriman. Setiap orang harus ditempatkan dengan tepat berdasarkan keimanan dan keilmuan yang tampak pada diri masing-masing. orang yang lebih beriman dan lebih berilmu ditempatkan lebih tinggi karena Allah meninggikan derajat mereka.

Diperintahkan pula bagi sebagian orang beriman untuk berdiri. orang-orang yang beriman dan berilmu adalah orang-orang yang diperintahkan untuk berdiri, maka hendaknya mereka berdiri untuk memberikan sumbangan pandangan atau bahkan pengarahan kepada majelis orang beriman. Kata انشُزُوا menunjukkan perintah meninggikan diri layaknya kata nusyuz. Hal ini pada dasarnya tidak boleh dilakukan seseorang dalam suatu majelis kecuali hanya untuk menunjukkan kepada majelis tentang keimanan dan keilmuan sehingga dapat diikuti oleh majelis. orang beriman tidak boleh melakukan nusyuz dengan dasar perkataan : “saya akan lawan” karena harga diri dan hal bathil lainnya. Keimanan dan keilmuan yang harus ditinggikan merupakan materi yang akan menjadikan derajat orang-orang beriman dalam majelis itu menjadi teorangkat, karena Allah mengangkat derajat orang yang beriman dan diberi ilmu. Sekiranya ia tidak mengetahui tingginya nilai kebenaran dalam apa yang ia angkat, hendaknya ia tidak meninggikan diri di antara majlis. Ia hendaknya memberikan pandangan dirinya tanpa berusaha meninggikan dirinya.

Tidak mudah bagi seseorang untuk mengukur diri apakah ia harus meninggikan diri atau tidak, dan seberapa tinggi ia harus meninggikan diri. Ia harus benar-benar memahami makna keimanan dan ilmunya, dan ia harus mengukur pula apakah majlis bisa menerima keimanan dan keilmuannya. Tidak sedikit masyarakat yang tidak benar-benar menghargai keimanan dan keilmuan, bahkan manakala suatu kaum mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang mencari kebenaran. Ketika dibacakan dengan benar kepada mereka ayat-ayat Allah yang harus diperhatikan untuk menemukan amal shalih, mereka mungkin tidak memperhatikan nilai dari bacaan itu. Ini sebenarnya merupakan sikap pengabaian terhadap kebenaran. Manakala ayat-ayat kitabullah dan maknanya yang telah jelas tidak diperhatikan, mereka sebenarnya tidak mencari kebenaran. Ayat kitabullah merupakan kebenaran hakiki dari sisi Allah yang Maha Tinggi, tidak ada yang lebih penting nilai kebenarannya dari ayat kitabullah. Ayat ini seharusnya dapat dipahami oleh setiap orang beriman yang mencari kebenaran. Manakala seseorang menyangka mencari kebenaran tetapi mengabaikan kebenaran dari kitabullah, persangkaan mereka itu hanya persangkaan kosong. Keadaan demikian akan mempersulit mukmin dalam meninggikan keimanan dan keilmuan di hadapan majelis.

Sebagai pertimbangan meninggikan diri, hendaknya diperhatikan hirarki keilmuan dan keimanan secara tepat. Fundamen ilmu agama berupa pembinaan pengetahuan tentang kehendak Allah harus ditempatkan sebagai hal yang paling penting. Berikutnya kaum mukminin harus memperhatikan pembinaan shilaturrahmi di antara mereka. Pemberdayaan potensi orang-orang beriman menjadi perhatian berikutnya sebelum memperhatikan pengolahan sumber daya alam. Demikian pula hal-hal terkait jihad yang perlu dilakukan oleh jamaah mukminin harus diperhatikan bersamaan. Setiap aspek keimanan dan keilmuan mempunyai hierarki yang harus ditempatkan dengan tepat sebagai bahan untuk mempertimbangkan apakah seseorang harus meninggikan diri atau harus mengikuti arus majelis.

Kedekatan dengan Ulama

Allah meninggikan orang beriman dan orang berilmu beberapa derajat, akan tetapi mungkin bukan usaha yang mudah bagi seseorang yang beriman dan diberi ilmu untuk meninggikan diri manakala diperintahkan untuk meninggikan diri. Hal ini bisa terjadi karena mungkin saja suatu kaum meninggalkan orang-orang berilmu yang ada di antara mereka.

Dari Anas ibn Malik r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda :
ﺳﻴﺎٔﺗﻲ ﺯﻣﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍٔﻣﺘﻲ ﻳﻔﺮﻭﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ،ﻓﻴﺒﺘﻠﻴﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺜﻼﺙ ﺑﻠﻴﺎﺕ ﺍٔﻭﻻﻫﺎ ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻣﻦ ﻛﺴﺒﻬﻢ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻳﺴﻠّﻂ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺳﻠﻄﺎﻧﺎ ﻇﺎﻟﻤﺎ ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻳﺨﺮﺟﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺑﻐﻴﺮ ﺍٕﻳﻤﺎﻥ
Akan datang satu masa dimana umatku akan lari (menjauh) dari ulama dan fuqaha, maka Allah akan mendatangkan tiga bencana atas mereka: 1. Allah akan mengangkat barokah dari usaha mereka, 2. Allah akan menguasakan atas mereka pemimpin yang dhalim, 3. Allah akan keluarkan dari dunia dengan tanpa iman HR Abu Nuaim)

Akan dijumpai suatu masa di mana umat Rasulullah SAW akan lari menjauh dari orang-orang yang diberi ilmu dan dari para fuqaha di antara mereka. Para ulama dan fuqaha yang dimaksudkan secara khusus adalah ulama yang diberi pengetahuan tentang hakikat dari sisi Allah, berupa pengetahuan realitas kauniyah selaras ayat-ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Para fuqaha adalah orang-orang yang dapat menerapkan pengetahuan hakikat dari sisi Allah ke aspek-aspek kehidupan manusia. Pengetahuan hakikat pada umumnya bersifat keterbukaan bukan pengetahuan yang disusun-susun. Walaupun dari keterbukaan, hakikat dapat diverifikasi kebenarannya dengan ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kadang suatu kaum mengalami keterbukaan pengetahuan tetapi tidak mengetahui bagaimana kebenaran pengetahuan itu harus dibuktikan, maka pengetahuan demikian belum merupakan pengetahuan hakikat. Sebaliknya kadang bukti kebenaran harus berjenjang. Pengetahuan hakikat selalu berakar pada suatu tuntunan tertentu dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. orang yang lari menjauh dari ulama dan fuqaha adalah orang yang menjauhkan diri dari orang yang mempunyai pengetahuan hakikat dan penerapan hakikat dalam kehidupan.

Umat Rasulullah SAW akan mengalami suatu jaman dimana mereka sebenarnya meninggalkan para ulama dan fuqaha. Boleh jadi sebagian dari mereka tidak merasa meninggalkannya, di mana mereka itu adalah orang-orang beriman akan tetapi sebenarnya keimanan mereka itu akan terlepas ketika kematiannya datang. Hal demikian terjadi karena mereka meninggalkan kebenaran dari hakikat yang disampaikan kepada mereka, tidak ingin menerapkan pengetahuan hakikat dalam kehidupan dunia. Mereka beriman tetapi tidak mau memahami hakikat yang disampaikan kepada mereka. Boleh jadi mereka mempunyai mata tetapi tidak digunakan untuk melihat realitas yang digelar, mereka mempunyai telinga akan tetapi tidak digunakan untuk mendengarkan penjelasan yang disampaikan, dan mereka mempunyai hati tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat kitabullah yang disampaikan kepada mereka. Perbuatan demikian termasuk dalam kategori berlari menjauh dari para ulama dan fuqaha.

Mestinya orang-orang beriman juga menjalin kedekatan dan menyatu dengan ulama dan fuqaha, bukan hanya mengikuti ilmunya. Untuk menjalin kesatuan demikian, hendaknya mereka berusaha untuk memahami ilmu dan fiqh yang disampaikan oleh ulama dan fuqaha. Ketersambungan upaya orang beriman pada kehendak Allah harus dibentuk juga melalui wujud-wujud manusia yang memperoleh ilmu, bukan hanya melalui keilmuan saja. Para ulama dan fuqaha itu adalah wujud manusia yang dapat menghubungkan upaya manusia terhadap kehendak Allah. orang yang mengikuti ilmunya saja mungkin memperoleh kekuatan untuk terhubung pada kehendak Allah secara terbatas, tetapi mereka akan terlepas manakala mendustakan atau durhaka kepada orang yang diberi ilmu itu. Ibarat tali, ilmu seseorang itu tali yang ia ulurkan kepada orang lain hingga mereka dapat berpegang. Ketika mendustakan, tali itu bisa terlepas dari orang yang mengulurkan sedangkan orang lain memegang talinya. Keterhubungan terhadap kehendak Allah itu harus dibina dengan penyatuan langkah bersama orang-orang yang diberi ilmu, tidak sekadar menggunakan ilmunya saja.

Penyatuan dengan ulama dan fuqaha harus dilakukan dengan berusaha memahami ilmunya. Tanpa keinginan terhadap ilmu yang bermanfaat, akan sulit menjalin kesatuan dengan ulama. Para ulama dan fuqaha itu benar-benar menginginkan manusia untuk berakal memahami ilmu hingga dapat memahami kehendak Allah, sama sekali tidak ingin memperoleh pengikut yang mengikuti pendapat mereka secara membuta. Orang yang mengikuti dengan membuta akan menjadi tanggungan yang berat bagi ulama kelak di hadapan Allah, sehingga tidak mungkin ulama dan fuqaha melangkah membodohkan manusia dengan taklid. Orang yang membodohkan manusia agar bertaklid tidak termasuk dalam golongan ulama dan fuqaha. Mungkin seorang ulama atau fuqaha memaksakan seseorang pada suatu ilmu tertentu karena adanya keterbatasan untuk menjelaskan ilmu, tetapi sebenarnya tidak menginginkan pengikutnya untuk tetap bodoh dalam mengikuti. Para ulama dan fuqaha itu pasti ingin menjadikan akal pengikutnya lebih kuat, walaupun mungkin langkah itu tidak dipahami oleh pengikutnya.

Kaum muslimin harus berhati-hati dengan proses pembodohan dengan sesuatu yang ditampakkan sebagai ilmu. Banyak muslimin terjebak pada definisi ulama hanya mengikuti hawa nafsu. Pada jaman umat lari dari ulama dan fuqaha, mungkin akan banyak dijumpai pula ulama palsu. Mungkin ulama yang mereka ikuti berasal dari kalangan ashaghir yang sebenarnya hanya mencari dunia dengan ilmu mereka. Mungkin pula dijumpai orang-orang yang tersesat berdasarkan ilmu mereka. Banyak kasus lain bisa terjadi terkait dengan status keulamaan dan kefuqahaan. Ulama dan fuqaha yang benar adalah ulama yang dan fuqaha yang menginginkan manusia seluruhnya untuk memahami kehendak Allah, tidak menginginkan memperoleh pengikut dari kalangan umat manusia. Ulama dan fuqaha yang palsu akan menjadikan umat manusia bodoh agar mau menjadi pengikut bagi mereka, baik karena ulama itu menginginkannya ataupun karena mereka mengikuti tipuan syaitan. Umat Rasulullah SAW hendaknnya bersikap tepat dalam perkara ini. Keinginan untuk mengabdi kepada Allah dengan memahami kehendak-Nya secara benar harus ditumbuhkan dengan kuat, tidak sekadar mengikuti apa yang mereka anggap sebagai ulama dan fuqaha. Ini adalah bagian dari keikhlasan. Keikhlasan ini akan mencegah umat Rasulullah SAW lari menjauh dari ulama dan fuqaha yang benar.

Dampak Karena Jauh Dari Ulama

Perbuatan lari menjauh orang beriman juga akan diikuti oleh muslimin yang lainnya. Mungkin mereka mengikuti dalam bentuk yang lain bukan durhaka, mendustakan atau menjauhi ulama dan fuqaha secara langsung karena mungkin kurang dekatnya mereka. Dampak dari larinya mukminin dan muslimin dari ulama dan fuqaha akan membuat keadaan masyarakat menjadi sulit. Jalan kehidupan untuk memperoleh rejeki (kasab) akan menjadi sulit dan akan diangkat pemimpin-pemimpin yang dzalim bagi mereka, serta kematian tanpa iman.

Dewasa ini dapat disaksikan bahwa kesulitan dalam berusaha mencari penghidupan ditimpakan atas kaum muslimin secara luas, dan diangkat bagi mereka penguasa yang dzalim. Penguasa dapat berbuat semena-mena menjual kekayaan bangsa kepada pihak asing untuk mengambil keuntungan diri sendiri secara berlebih, tidak memberdayakan anak bangsa untuk mengolah kekayaan mereka sendiri. Banyak fasilitas diberikan kepada parasit masyarakat sebagai sarana mempertahankan kekuasaan. Hukum ditegakkan ketika mengganggu kepentingan penguasa, dan dimanfaatkan untuk mencari tambahan penghasilan yang buruk untuk penegak hukum. Menjadi ulama ditinggalkan umat hingga sulit mengusahakan dakwah dan syiar untuk membentuk kehidupan yang baik. Menjadi orang berilmu sulit menerapkan ilmu dengan benar karena kepentingan tersembunyi yang dipaksakan. orang yang setia dengan ilmunya sulit memperoleh tempat secara layak dalam kasabnya. Masyarakat kecil sulit memperoleh pekerjaan. Tidak bekerja tidak memperoleh uang, ketika mendapat pekerjaan justru terlibat hutang. Kadangkala masyarakat bertanya, kehidupan macam apakah yang digelar bagi mereka hingga kasab mereka menjadi sulit?. Sangat banyak macam kesulitan yang menimpa penghidupan umat jaman ini hanya karena umat lari meninggalkan ulama dan fuqaha di antara mereka. Bukan tidak ada ulama dan fuqaha, tetapi mereka meninggalkan ulama dan fuqaha yang ada di antara mereka. Mungkin mereka tidak menyadari, tetapi mereka meninggalkan ulama dalam bentuk tidak pedulinya mukminin terhadap hakikat-hakikat yang harus diperjuangkan.

Keilmuan orang beriman harus dikembangkan mencakup keilmuan yang menimbulkan pengaruh baik terhadap keadaan kasab umat, tidak hanya sikap personal dalam hubungan kepada Allah. Hal ini bisa tercapai apabila mereka mengikuti ulama dan fuqaha yang benar, tidak mudah terjebak dalam kurungan kebodohan dalam bertuhan. Untuk mewujudkan keadaan yang baik dalam penghidupan umat, kaum mukminin harus membentuk majelis dengan benar. orang-orang yang diberi ilmu diberi kedudukan yang semestinya, setiap orang diberi kedudukan dengan tepat diukur berdasarkan ilmu, tidak diabaikan keilmuan yang benar pada masing-masing hanya karena mengikuti pendapat atau pandangan sendiri. Setiap orang harus dapat meluaskan tempat duduk mereka manakala diperlukan, dan orang yang diperintahkan untuk meninggikan diri hendaknya meninggikan diri mereka dalam majelis tidak berdiam diri, hingga kaum mukminin mengetahui ilmu yang harus diikuti dan diterapkan dalam kehidupan untuk memperbaiki keadaan mereka.