Pencarian

Selasa, 14 April 2026

Imam dan Pelaksanaan Urusan Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Rasulullah SAW adalah tauladan yang tertinggi bagi semesta alam, sebagai makhluk yang diberi kemampuan mengenal tajalliat Allah di ufuk yang tertinggi. Selain tauladan Rasulullah SAW, Allah juga menurunkan tauladan itu agar umat manusia merasa mudah untuk mengikuti langkah-langkah yang ditempuh. Nabi Musa a.s merupakan pemimpin yang menyeru untuk berhijrah menuju tempat yang dijanjikan bagi setiap manusia. Orang-orang yang berhasil mengikuti langkah nabi Musa a.s sebagian akan menjadi pemimpin-pemimpin yang bisa memberikan petunjuk kepada umat manusia.

﴾۴۲﴿وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami (QS As-Sajdah : 24)

Keberhasilan seseorang dalam mengikuti langkah nabi Musa a.s ditunjukkan dengan pengenalan diri untuk apa dirinya diciptakan. Mengenal untuk apa diri diciptakan adalah sampainya seseorang pada tanah yang dijanjikan. Ia akan mengenal tempat tinggal untuk melaksanakan amal-amal yang ditentukan Allah bagi dirinya. Manakala seseorang mengenal dirinya, ia akan mempunyai pengetahuan yang sangat luas terkait dengan urusan-urusan dirinya, dan dengan pengetahuan itu ia dapat memberikan petunjuk kepada orang lain urusan-urusan Allah yang terhampar di alam kauniyah mereka.

Luasnya pengetahuan itu terjadi melalui suatu keterbukaan (al-fath). Seseorang akan secara tiba-tiba mengetahui keadaan kauniyah dirinya secara luas sesuai dalam penjelasan kitabullah dan mengetahui amal-amal yang dapat dilakukannya sebagai penebus dosa-dosa dirinya yang telah lalu dan yang akan datang, mengenal nikmat Allah bagi dirinya dan memperoleh petunjuk tentang shirat al-mustaqim. Mereka akan melihat ayat-ayat Allah dalam kehidupan mereka. Pengenalan diri bukan terjadi melalui usaha pengumpulan fragmen-fragmen pengetahuan, tetapi melalui karunia Allah berupa suatu pembukaan pengetahuan. Usaha mengumpulkan pengetahuan akan mengarahkan diri seseorang untuk memperoleh karunia keterbukaan, tetapi karunia keterbukaan itu bukan ilmu yang dikumpulkan seseorang dengan usahanya.

Orang yang mengenal dirinya akan mempunyai keyakinan terhadap ayat-ayat Allah tanpa suatu keraguan. Keyakinan itu berlandaskan pada pengetahuan dari karunia keterbukaan, bukan suatu keyakinan yang dibuat-buat. Keyakinan mereka itu terbentuk tanpa ada kebenaran yang harus diabaikan baik dari ayat kauniyah maupun ayat kitabullah. Mungkin keyakinan itu berbeda dengan persepsi masyarakat kebanyakan, akan tetapi hakikat dari ayat Allah sebenarnya lebih diketahui oleh orang yang mengenal diri. Mungkin ia belum mengetahui suatu kebenaran tertentu di balik suatu ayat Allah karena tidak terbuka kepada dirinya, akan tetapi apa yang belum dia ketahui itu tidak bertentangan dengan keyakinan dalam dirinya. Mungkin pula apa yang disampaikan kepada orang lain tidak sepenuhnya berdasar keterbukaan yang dikaruniakan sedemikian tidak semua yang disampaikan dalam kualitas hakikat, tetapi ia mempunyai pengetahuan hakikat terkait ayat-ayat Allah yang menjadi landasan keyakinannya. Hal itu tidak menjadikan status keyakinannya hanya dibuat-buat, tetapi hanya menunjukkan batasan keterbukaan kepada dirinya. Keyakinan yang dibuat-buat mungkin harus disusun dengan mengabaikan atau bahkan menentang adanya suatu kebenaran pada suatu peristiwa kauniyah ataupun pada suatu ayat Allah tertentu.

Memperhatikan Urusan Allah Bersama Pemimpin

Dengan keyakinan demikian, orang-orang yang berhasil mengikuti langkah nabi Musa a.s berhijrah ke tanah yang dijanjikan akan layak dijadikan pemimpin. Mereka mempunyai pengetahuan-pengetahuan untuk menunjukkan umat mereka pada urusan-urusan Allah yang perlu dikerjakan. Ada syarat-syarat lain yang membatasi hingga tidak semua orang mengenal diri dijadikan pemimpin bagi umatnya, akan tetapi sebenarnya mereka telah mempunyai pengetahuan-pengetahuan terkait ayat-ayat Allah sebagai bekal memimpin. Pengetahuan terkait ayat-ayat Allah inilah bekal utama yang menjadikan mereka layak untuk dijadikan pemimpin yang dapat menunjukkan umatnya kepada urusan Allah.

Orang yang mengenal diri dan dijadikan Allah sebagai pemimpin bertugas menunjukkan umatnya pada urusan-urusan Allah yang perlu dikerjakan. Urusan-urusan Allah yang perlu dikerjakan itu benar-benar berurusan dengan ayat kauniyah yang terjadi terkait dengan suatu hakikat tertentu, bukan urusan-urusan yang dibuat agar manusia menjadi sibuk tanpa mengenal hakikat yang terjadi atau urusan mengejar fatamorgana. Mungkin mereka menunjukkan ayat kitabullah saja kepada umatnya agar umatnya memikirkan apa yang perlu diperbuat, atau mungkin mereka menunjukkan pembacaan kauniyah berdasar kitabullah agar umat dapat merumuskan langkah yang perlu dilakukan secara berjamaah, dan mungkin banyak cara lain yang bisa mereka pakai untuk memperkenalkan umatnya terhadap urusan Allah yang perlu dikerjakan. Yang lebih penting bagi mereka adalah agar umatnya menyadari urusan Allah yang harus dikerjakan, bukan hanya peduli urusan diri sendiri, atau agar umatnya tidak mengerjakan sesuatu tanpa mengenal urusan Allah.

Tugas pemimpin adalah menunjukkan urusan Allah yang perlu dikerjakan, sedangkan mengenali amal-amal yang perlu dikerjakan adalah tugas bagi setiap orang yang diarahkan. Seorang pemimpin hendaknya memberitahukan kepada umat agar umat mengetahui arah, dalam batas yang ia ketahui merupakan kebaikan dalam urusan Allah. Pemimpin tidak perlu mendiktekan amal-amal hingga urusan yang terlalu terperinci karena mungkin akan menutup potensi sumbangan karya terbaik dari umatnya. Umat hendaknya dapat merumuskan amal yang perlu dia kerjakan dengan kemampuan yang terbaik dari diri mereka selaras dengan arahan dari pemimpinnya.

Orang yang mengenal diri pada dasarnya mempunyai pengetahuan tentang urusan-urusan yang merupakan tanggung jawab dirinya. Urusan-urusan itu bisa diketahui dalam bentuk terperinci dengan batas-batas tertentu yang terkait dengan urusan-urusan sesama mukmin yang lain. Misalnya boleh jadi ia mengetahui urusan dirinya dan hubungan urusannya dengan tujuh orang sahabatnya atau sejumlah sahabat yang lain secara khusus. Hal demikian itu merupakan contoh sifat pengetahuan tentang urusan yang harus ditunaikan. Manakala seseorang hanya mengetahui urusannya tanpa mengetahui batas-batasnya, pengetahuan urusan itu sebenarnya masih bersifat samar. Jelasnya urusan yang harus ditunaikan seseorang itu sebenarnya ditunjukkan dengan jelasnya kedudukan dirinya dalam jalinan Al-Jamaah yang menunaikan urusan Rasulullah SAW, bukan pengetahuan yang bersifat berdiri sendiri secara bebas. Kebaikan dalam urusan Allah akan diketahui dengan mengetahui batas-batas urusan Allah yang harus ia tunaikan.

Umat hendaknya berusaha mengenali urusan Allah yang harus ditunaikan bersama dengan pemimpinnya, yaitu dengan cara memastikan bahwa urusan yang mereka kerjakan benar-benar merupakan urusan yang diperintahkan dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ia hendaknya mengenali pokok dari perintahnya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan mengenali kandungan dari pokok perintah itu yang disampaikan oleh pemimpinnya, kemudian ia menggunakan pikiran dan akalnya untuk mewujudkan amal berdasarkan pemahaman yang dilakukannya. Mereka bisa bersama-sama dengan orang yang lain memahami dan memikirkan arahan yang mereka terima untuk diwujudkan dengan lebih baik.

Di antara masalah umat dewasa ini adalah terbengkalainya urusan dari sisi Allah, sedangkan umat islam sibuk mengerjakan urusan tanpa mengetahui urusan Allah, atau mengerjakan urusan tanpa mengenali secara menyeluruh urusannya sebagai bagian dari Al-jamaah. Banyak umat islam tidak mengenal pemimpin yang menghubungkan mereka terhadap urusan Allah. Sebagian orang mungkin berusaha mengenali urusan Allah akan tetapi tidak dilakukan dengan seksama dengan mengenal urusan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sebagian memilih pemimpin hanya berdasarkan hawa nafsu dan sedikit harta yang diberikan. Ini sangat menyedihkan. Urusan Allah tidak akan terlaksana oleh umat manakala mereka mengabaikan pemimpin yang ditentukan Allah.

Ada beberapa contoh terabaikannya urusan Allah. Di tingkat bangsa, ketika kaum musyrikin berperang dengan muslimin, pemimpin negara muslim justru membela musyrikin menyediakan keamanan dan sarana penyerangan. Ini menunjukkan terbengkalainya urusan dari sisi Allah karena kurang memperhatikan pemimpin. Umat tidak mengetahui urusan yang harus ditunaikan dari sisi Allah karena kurang memperhatikan pemimpin. Di tingkat rumah tangga, pembinaan rumah tangga muslimin tampak tidak dibina dengan benar. Ini merupakan bentuk pengabaian urusan Allah tentang kepemimpinan dalam tingkat fundamental. Rumah tangga merupakan media inti bagi setiap orang untuk membangun visi pemimpin dan kepemimpinan, sedemikian suatu bangsa akan dapat bersatu secara terpimpin bila umat terdidik. Banyak rumah tangga muslimin yang berantakan karena kurangnya pembinaan, atau keliru dalam pembinaannya. Pasangan-pasangan yang berusaha keras membina rumah tangga mengikuti tuntunan agama justru dihalangi atau bahkan dibiarkan menjadi sasaran perusakan rumah tangga hingga tidak dapat mewujudkan rumah tangga yang baik. Hal seperti ini tidak boleh terjadi, karena rumah tangga merupakan setengah bagian agama dan inti dari pembinaan bangsa. Pemimpin harus menyusun landasan pembinaan rumah tangga berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tanpa pembinaan rumah tangga yang benar, suatu bangsa akan menjadi bangsa yang rapuh tidak mengetahui tatanan berbangsa dan bernegara.

Pemimpin dan Petunjuk

Para pemimpin dalam kategori mengenal diri dapat memberikan petunjuk sebagai perpanjangan petunjuk Allah kepada manusia. Arahan dari para pemimpin demikian dapat dihitung sebagai petunjuk oleh orang-orang yang ingin mendapatkan petunjuk, selama mereka mengetahui bahwa arahan itu merupakan bagian dari kandungan ayat Allah. Manakala seseorang atau umat tidak mengetahuinya, arahan itu belum bersifat petunjuk bagi mereka. Mereka boleh dan diperintahkan berpegang pada arahan pemimpin demikian dan mengikutinya agar kemudian bisa memahami petunjuk akan tetapi harus disadari bahwa mereka belum memperoleh petunjuk melalui arahan itu. Arahan itu menjadi petunjuk manakala seseorang memahami bahwa itu bagian dari kandungan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala mereka melihat pertentangan suatu arahan pemimpin dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, arahan itu tidak boleh dipandang sebagai petunjuk dan tidak boleh diikuti sekalipun dengan berharap untuk mendapat petunjuk.

Banyak ragam sikap orang terhadap petunjuk melalui pemimpin yang sebenarnya. Orang yang paling memperoleh manfaat dari arahan pemimpin demikian adalah orang-orang yang menginginkan petunjuk dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka akan melihat penjelasan kandungan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam arahan itu sedemikian arahan itu menjadi petunjuk yang jelas bagi kehidupan mereka. Banyak manusia tidak memperoleh manfaat dari arahan karena waham yang terbentuk dalam diri mereka. Seringkali perkataan-perkataan yang tidak jelas kedudukannya dari kitabullah dianggap sebagai petunjuk oleh orang-orang yang mengikuti waham. Ada orang-orang yang tidak memperoleh manfaat karena kurangnya keinginan untuk memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sekalipun arahan yang mereka dengar benar-benar merupakan bagian dari penjelasan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka tidak mampu melihat kebenaran dalam penjelasan itu. Karena itu, arahan itu tidak bisa menjadi petunjuk bagi mereka. Tidak sedikit pula orang yang bisa memahami kebenaran dalam suatu arahan sebagai bagian kandungan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, akan tetapi pengetahuan itu tidak diikutinya maka itu tidak menjadi petunjuk baginya, hanya menjadi pengetahuan saja. Akhlak mereka menjadikan tidak membutuhkan pelaksanaan amanah kitabullah itu.

Keterbukaan petunjuk atas diri seseorang hanya terjadi atas ijin Allah. Tidak ada usaha orang lain yang dapat membuka hati seseorang untuk menerima petunjuk, tetapi seseorang dapat berharap kepada Allah untuk mendapatkan petunjuk dengan menata hati untuk menghamba kepada Allah dengan benar. Manakala seseorang menginginkan memperoleh petunjuk dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka mungkin akan diijinkan Allah untuk memahami petunjuk. Tanpa keinginan demikian, tidak ada upaya orang lain yang bisa membukakan petunjuk. Lebih mudah bagi nabi Isa a.s untuk membangkitkan orang mati badannya dengan ijin Allah, tetapi beliau a.s merasa sangat berat untuk menjadikan cerdas orang-orang yang bersikap bodoh. Bodoh dalam hal ini adalah mengikuti pendapat diri sendiri saja. Untuk memperoleh petunjuk dari manusia, seseorang harus berharap kepada Allah untuk memberikan petunjuk, dan berpegang kepada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai wasilah petunjuk yang tidak pernah salah, dan memperhatikan perkataan imam yang memberikan petunjuk agar ia memahami petunjuk yang diberikan.

Inti dari kepemimpinan dalam agama adalah menunjukkan umat kepada urusan Allah. Kemampuan mempengaruhi atau menggerakkan umat untuk melakukan hal-hal yang ditentukan merupakan bagian lain dari kepemimpinan dalam agama sedangkan keterampilan utamanya adalah menunjukkan umat kepada urusan Allah. Keberhasilan mewujudkan kehendak Allah ditentukan oleh kebersamaan umat dalam mewujudkannya setelah memahaminya, bukan hasil dari satu orang saja. Dalam realita terkait kebersamaan, rumah tangga yang baik akan menentukan keberhasilan seorang pemimpin dalam melaksanakan tugasnya. Sekalipun sama-sama beramal menunaikan urusan Allah, seseorang akan lebih berhasil melaksanakannya manakala rumah tangganya lebih baik. Keberhasilan pelaksanaan itu bukan kriteria utama untuk diangkat sebagai pemimpin, tetapi setiap orang harus berusaha membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Allah menjadikan sebagian dari orang-orang yang mengenal diri sebagai pemimpin bagi umat manusia, yaitu orang yang sabar di antara orang-orang yang mengenal diri. Kriteria sabar lebih dipentingkan dalam agama dibandingkan kemampuan bersikap tegas dan disiplin. Bukan berarti ketegasan dan disiplin tidak dibutuhkan, akan tetapi sifat sabar lebih diperhatikan dalam menentukan kepemimpinan.

Kepemimpinan dalam agama terbentuk melalui kehendak Allah yang mengangkatnya dari orang-orang yang telah mengenal diri berhijrah ke tanah yang dijanjikan. Ada perbedaan kedudukan dari setiap imam yang ditentukan, dan masing-masing mengenal kedudukan dirinya dalam jalinan Al-jamaah, mengenal sahabat yang dekat dalam jalinan itu dan setidaknya mengenal Rasulullah SAW sebagai pemimpin tertinggi. Banyak orang yang terobsesi dengan kepemimpinan. Seorang Donald Trump mengilustrasikan diri dalam pakaian merah putih. Hal itu sama sekali tidak pantas dan tidak menjadikannya seorang pemimpin yang layak. Sang Merah Putih adalah pemimpin yang merupakan kekayaan simpanan milik Rasulullah SAW, dan sangat tidak pantas Donald Trump mengilustrasikan diri dalam citra demikian. Mungkin saja ada orang-orang yang terobsesi dengan kepemimpinan layaknya Donald Trump dalam bentuk yang lebih halus. Kaum mukminin yang sesungguhnya akan mengenal kedudukan Sang Merah Putih dalam jalinan Al-Jamaah, selain kedudukan dirinya sendiri dalam Al-Jamaah.

Minggu, 12 April 2026

Kecintaan Allah dan Sunnah Rasulullah SAW

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Rasulullah SAW adalah tauladan yang tertinggi bagi semesta alam, sebagai makhluk yang diberi kemampuan mengenal tajalliat Allah di ufuk yang tertinggi. Beliau menjadi tauladan utama bagi setiap makhluk agar menjadi dekat kepada Allah. Orang-orang yang mencintai Allah hendaknya mengikuti langkah-langkah yang beliau tempuh hingga menjadi dekat kepada Allah, maka seseorang akan menjadi orang yang dicintai Allah.

﴾۱۳﴿قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
﴾۲۳﴿قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ
(31)Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (32) Katakanlah: "Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir". (QS Al-An’aam : 31-32)

Mengikuti langkah Rasulullah SAW bukan hanya berupa pelaksanaan ibadah-ibadah yang dicontohkan saja, tetapi juga harus disertai dengan melangkah pada arah yang sama dengan langkah Rasulullah SAW. Beliau SAW melangkah kembali kepada Allah sebagaimana ketika beliau SAW dimi’rajkan ke ufuk yang tertinggi. Mi’raj demikian merupakan hadiah bagi Rasulullah SAW karena langkah-langkah yang telah beliau SAW tempuh untuk menjadi dekat kepada Allah yang ditunjukkan dengan kemuliaan akhlak pada diri beliau. Orang yang ingin mengikuti langkah Rasulullah SAW hendaknya juga melangkah untuk membentuk akhlak sebagaimana akhlak Rasulullah SAW.

Mi’raj merupakan kedudukan yang sangat tinggi, yang mungkin diberikan kepada hamba Allah yang telah membina bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya. Rasulullah SAW dimi’rajkan dari bayt al-aqsha dan diberangkatkan dari bayt al-haram. Keduanya adalah bayt yang merupakan millah nabi Ibrahim a.s dan keturunannya. Tanpa terbentuknya bayt, tidak ada tempat bertolak untuk mi’raj. Mi’raj Rasulullah SAW ke ufuk yang tertinggi menunjukkan kesempurnaan langkah seseorang kembali kepada Allah, dan membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah adalah titik tolak mi’raj. Mi’raj merupakan sasaran akhir yang dapat diusahakan oleh manusia untuk kembali bertaubat kepada Allah, sebagai tujuan dari taubat yang dapat dilakukan dalam kehidupan di bumi. Ada banyak tujuan pendahuluan dalam langkah taubat sebelum seseorang dapat membentuk bayt untuk membina bayt. Masuk ke dalam islam merupakan langkah pertama, kemudian diikuti dengan langkah tazkiyatun-nafs, kemudian membentuk misykat cahaya untuk dapat memahami cahaya Allah merupakan langkah-langkah pendahuluan yang harus ditempuh setiap orang untuk mengikuti langkah Rasulullah SAW menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti Langkah Rasulullah SAW

Mengikuti langkah Rasulullah SAW pada tuntunan ayat di atas harus dilakukan dengan membina diri sesuai dengan tahapan-tahapan langkah Rasulullah SAW secara urut. Mengikuti Rasulullah SAW bukan hanya dilakukan dengan meniru bentuk-bentuk fisik ibadah yang dicontohkan saja. Tentu saja pembinaan itu tidak dapat dilakukan tanpa melaksanakan bentuk fisik ibadah yang dicontohkan, tetapi melaksanakan bentuk fisik ibadah yang dicontohkan saja tidak menunjukkan seseorang telah mengikuti langkah Rasulullah SAW. Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan membina diri selaras dengan akhlak Rasulullah SAW. Sebagian umat Islam bersikap berlebihan dalam urusan ibadah yang dicontohkan tanpa memahami langkah yang harus ditempuh. Mereka bersikap berlebihan memandang ibadah yang dicontohkan untuk menuduh kesesatan kepada sebagian umat islam yang lain, tetapi sebenarnya mereka tidak memahami agama dengan benar. Kaum demikian ini kebanyakan berasal dari pengikut keturunan Dzulkhuwaisirah.

Setiap orang beriman hendaknya berusaha mengikuti langkah Rasulullah SAW agar menjadi orang yang dicintai Allah. Setiap orang bisa mengikuti langkah Rasulullah SAW dengan mencapai tahapan yang terdekat bagi dirinya, tidak perlu merasa susah dengan jauhnya perbedaan dirinya dengan kedudukan Rasulullah SAW. Apabila ia masih dalam keadaan kafir, ia dapat masuk Islam tanpa syarat yang menyusahkan. Awal keislaman saja merupakan bentuk ibadah kepada Allah, tetapi seseorang sebenarnya masih berada di tepian jurang yang mudah terjatuh ke neraka. Ia perlu melangkah bertaubat lebih lanjut dengan melakukan tazkiyatun-nafs agar dapat memahami tuntunan Allah. Setelah menempuh langkah tazkiyatun-nafs, hendaknya ia berusaha untuk menumbuhkan pohon thayibah diri dengan kalimah-kalimah Allah, sedemikian ia dapat membentuk misykat cahaya. Demikian seterusnya bahwa setiap orang dapat mengikuti langkah Rasulullah SAW menjadi hamba yang didekatkan tanpa perlu merasa susah karena keadaan dirinya yang mungkin belum cukup baik. Kedekatan kepada Allah itu tidak dapat terjadi manakala seseorang tetap dalam kebodohan dari mengenal kehendak Allah.

Yang penting diperhatikan dalam melangkah adalah kelurusan dalam mengikuti langkah Rasulullah SAW. Selama seseorang tidak menyimpang langkahnya dari tuntunan Rasulullah SAW, ia akan selamat walaupun mungkin baru saja memasuki keislaman. Sebaliknya, seseorang yang menyimpang dari langkah Rasulullah SAW walaupun telah menempuh perjalanan tahap yang lanjut, tetap saja ia akan celaka. Setiap orang harus memperhatikan kelurusan langkahnya dalam mengikuti tuntunan Rasulullah SAW. Sunnah dirinya harus selaras dengan sunnah Rasulullah SAW tidak menyimpang. Langkah seseorang menempuh jalan taubat merupakan sunnah dirinya. Sunnah tidak secara khusus menunjuk pada sesuatu yang dilekatkan kepada Rasulullah SAW, tetapi dapat pula menunjuk pada sesuatu yang melekat pada khulafa’ Ar-rasyidin maupun kaum mukminin dan muslimin secara umum. Lurus dan tepatnya langkah seseorang mengikuti langkah Rasulullah SAW merupakan suatu sunnah yang baik (hasanah), dan menyimpangnya langkah dan arah langkah seseorang dari sunnah Rasulullah SAW merupakan sunnah yang buruk.

Sebagian muslimin berlebih-lebihan dalam menggolongkan perbuatan manusia sebagai sunnah dan bid’ah karena terlalu sempit dalam memahami arti sunnah. Mereka sempit dalam memahami sunnah hanya dalam batas amal yang tampak dari Rasulullah SAW, bukan dalam batasan berupa langkah Rasulullah SAW mewujudkan kehendak Allah. Boleh jadi mereka tidak mengetahui langkah Rasulullah SAW mewujudkan kehendak Allah. Mereka mungkin menggolongkan segala perbuatan baik yang dilakukan seseorang tanpa dicontohkan Rasulullah SAW sebelumnya sebagai bid’ah. Sebenarnya orang-orang yang mengikuti perbuatan baik khulafa ar-rasyidin dan perbuatan baik mukminin umumnya merupakan sunnah yang baik manakala menjadikan yang beramal lebih dekat kepada Allah, tidak termasuk dalam kategori bid’ah. Perbuatan baik yang dapat mengantarkan seseorang mengikuti langkah Rasulullah SAW menjadi hamba yang didekatkan merupakan sunnah yang baik. Rasulullah SAW mengatakan tentang seorang anshar yang membawa makanan satu shurrah untuk tamu Rasulullah SAW, bahwa ia membuat sunnah yang baik (sunnah hasanah). Berbuat sesuatu mengikuti arah langkah Rasulullah SAW sekalipun tidak diperbuat Rasulullah SAW merupakan sunnah bukan bid’ah.

Untuk memudahkan memahami, gambaran bid’ah dapat dilihat pada kasus seseorang manakala mereka merasa tinggi memperoleh perintah Allah sedangkan perintah itu tidak ditemukan dalam kitabullah Alquran ataupun hadits Rasulullah SAW, atau bahkan mungkin bertentangan dengan tuntunan yang benar. Bid’ah bisa terjadi secara nyata atau secara halus, bisa tampak buruk ataupun tampak baik pada orang-orang yang berbuat dan memandang perbuatan mereka adalah perintah Allah sedangkan tidak ada tuntunan tentang perintah itu. Memandang diri tinggi dalam urusan Allah secara bathil merupakan sumber bid’ah. Pada sisi lain, sebenarnya ada orang yang memahami dengan benar perintah Allah yang harus ditunaikan untuk ruang dan jamannya. Suatu pemahaman terhadap perintah mungkin benar manakala dinemukan landasannya dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kalaupun bukan perintah Allah untuk ruang dan jamannya, amal yang dilakukan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW secara benar akan mendatangkan kebaikan. Orang-orang yang berbuat baik dengan niat berbuat baik tanpa merasa besar diri dengan amalnya tidak termasuk sebagai ahli bid’ah. Bid’ah sering terjadi manakala seseorang menyimpang dari Al-jamaah karena kurang memperhatikan urusan Rasulullah SAW bersama mukminin lainnya.

Ada orang yang memahami perintah Allah secara khusus dan ia tidak menyimpang. Perintah itu tumbuh dari petunjuk apabila seseorang memahami kebaikan dalam perintah itu berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Misalnya bisa saja seseorang memperoleh petunjuk tentang bentuk tertentu keluarga yang harus diwujudkan oleh dirinya bersama keluarganya, dan ia mengetahui bahwa petunjuk itu tidak bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Petunjuk yang benar tentang bentuk tertentu keluarga yang harus diwujudkan itu seringkali merupakan petunjuk untuk menuju sasaran akhir taubat dalam kehidupan di bumi yaitu membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Manakala ia mengetahui manfaat dan madlarat yang timbul dari petunjuk itu, petunjuk itu bisa menjadi suatu perintah.

Petunjuk yang benar hanya diperoleh oleh orang-orang yang telah melakukan tazkiyatun-nafs hingga taraf memadai. Tidak jarang orang merasa memperoleh petunjuk sedangkan sebenarnya hanya merupakan luapan dari syahwat, hawa nafsu atau bahkan tipuan syaitan yang berbahaya. Petunjuk-petunjuk demikian tidak termasuk sebagai petunjuk. Suatu petunjuk berupa persepsi indera bathiniah sebenarnya berfungsi membuka makna suatu ayat dari kitabullah atau sunnah Rasulullah SAW. Manakala masih berupa suatu persepsi indera bathiniah saja tanpa pemahaman hubungan dengan kitabullah atau sunnah Rasulullah SAW, petunjuk demikian kadang belum perlu dipandang sebagai petunjuk. Manakala telah jelas pemahaman makna petunjuk berdasar kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, orang tersebut harus mengikuti petunjuknya karena boleh jadi merupakan perintah. Bila suatu petunjuk bertentangan dengan syariat dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mengikuti petunjuk demikian merupakan bentuk bid’ah. Setiap orang harus membuang petunjuk demikian tidak mengikutinya. Tidak ada langkah yang benar dapat dilakukan secara menyimpang dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Seringkali melaksanakan petunjuk bukan suatu amal yang mudah. Banyak manusia tidak menyukai petunjuk karena beratnya amal yang harus dilakukan. Petunjuk ta’addud misalnya, barangkali orang yang memperoleh petunjuk tidak menyukainya. Para perempuan yang memperoleh petunjuk ta’addud seringkali menolak petunjuk yang datang kepada mereka karena kurangnya akhlak mulia dalam mengikuti langkah Rasulullah SAW. Sikap rahman dan rahim perlu ditumbuhkan pada setiap orang agar berakhlak mulia. Kadangkala akhlak manusia dididik dengan keliru hingga kadang justru dirusak dengan fitnah-fitnah. Mungkin para perempuan yang terlibat tidak cukup mengasihi sesama perempuan yang seharusnya menjadi madunya membentuk rumah tangga bersama, dan mungkin pula mereka dihasut untuk saling bermusuhan satu dengan yang lain, bahkan untuk membenci suami mereka. Fitnah sangat mudah beredar pada masyarakat yang berakhlak buruk. Syaitan pandai membuat fitnah-fitnah yang menjauhkan manusia dari pelaksanaan petunjuk mereka.

Kecintaan Allah

Langkah seseorang mengikuti langkah Rasulullah SAW akan mendatangkan kecintaan Allah. Kecintaan Allah tidak datang karena prasangka kecintaan seseorang, tetapi karena langkah mereka mengikuti Rasulullah SAW. Setiap orang mukmin mencintai Allah dengan pengetahuan yang ada pada diri mereka, tetapi ada orang beriman yang tidak Allah cintai karena tidak mengikuti langkah Rasulullah SAW. Hanya orang yang mengikuti langkah Rasulullah SAW yang mendatangkan kebaikan dari sisi Allah baik sedikit ataupun banyak, dan itu mendatangkan kecintaan Allah. Manakala seseorang tidak melangkah mengikuti Rasulullah SAW, mungkin mereka tidak benar-benar beriman. Tidak selalu berarti kafir, tetapi mungkin saja mereka muslim yang tidak mempunyai pengetahuan tentang kemuliaan dari sisi Allah. Orang yang menyimpang dari langkah Rasulullah SAW akan mendatangkan kerusakan bagi semesta dan Allah tidak menyukai kerusakan mereka. Kadangkala seseorang mencintai Allah dan menyangka Allah mencintainya tetapi sebenarnya ia justru merusak tuntunan Rasulullah SAW, maka persangkaan mereka itu tidak benar. Kecintaan Allah hanya terhadap orang-orang yang mengikuti langkah Rasulullah SAW, tidak mungkin terlimpah atas orang-orang yang justru merusak sunnah Rasulullah SAW.

Menyimpangnya seorang mukmin dari langkah mengikuti tuntunan Allah dan sunnah Rasulullah SAW dapat menjadikan diri mereka sebagai kafir. Manakala ada orang yang memperingatkan penyimpangan mereka dan menyeru untuk kembali pada ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Rasulullah SAW sedangkan mereka berpaling dari peringatan itu tidak berhenti dari penyimpangan mereka, maka mereka yang menyimpang itu termasuk sebagai orang-orang yang kafir. Allah tidak menyukai orang-orang yang kafir, termasuk orang yang kafir melalui cara demikian. Barangkali mereka orang-orang yang mencintai Allah akan tetapi tidak mau memperhatikan tuntunan Allah hanya mengikuti prasangka sendiri, maka mereka bisa saja terjerumus menjadi orang yang kafir.

Beberapa jenis penyimpangan kadangkala hanya diketahui oleh orang-orang yang berilmu sekalipun manakala tuntunan Allah terkait penyimpangan itu jelas. Banyak orang yang dibuat memandang bid’ah sebagai kebaikan sekalipun amal para ahli bid’ah itu jelas timbangannya dalam tuntunan kitabullah Alquran. Bisa saja terjadi suatu kasus kebanyakan manusia tidak cukup paham tentang penyimpangan yang terjadi, sedemikian hanya orang yang berilmu saja yang mengetahui. Banyaknya pendapat manusia tidak menentukan kebenaran penyimpangan. Demikian pula pandangan baik manusia tidak menjadikan suatu penyimpangan menjadi kebenaran. Peringatan tentang penyimpangan oleh orang-orang yang berilmu tidak boleh dianggap sebagai perselisihan pendapat di antara orang beriman. Orang-orang berilmu dapat merasakan atau mengetahui kerusakan yang akan terjadi karena penyimpangan itu. Pilihan atas peringatan itu hanya kembali mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW atau meneruskan mengikuti pendapat sendiri dan itu berarti akan menjerumuskan pada kekafiran.

Kamis, 09 April 2026

Keilmuan Tentang Alquran

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Rasulullah SAW adalah tauladan yang tertinggi bagi semesta alam, sebagai makhluk yang diberi kemampuan mengenal tajalliat Allah di ufuk yang tertinggi. Selain tauladan Rasulullah SAW, Allah juga menurunkan tauladan itu agar umat manusia merasa mudah untuk mengikuti langkah-langkah yang ditempuh sebagaimana millah nabi Ibrahim a.s. Millah yang dijadikan tauladan utama millah nabi Ibrahim a.s adalah membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Bayt demikian hanya dapat dibentuk oleh mukminin yang membina diri sebagai misykat cahaya.

﴾۵۳﴿ اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah misykat, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang penuh berkah, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QSAn-Nuur : 35)

Ayat tersebut menguraikan tentang cara yang dapat dilakukan manusia untuk memahami cahaya Allah, dan menjelaskan tentang mitsal bagi cahaya Allah. Mitsal itu bukan mitsal bagi Allah, tetapi mitsal bagi cahaya Allah. Mitsal tersebut dapat menjelaskan tentang cahaya Allah secara benar, yaitu mitsal berupa misykat cahaya dengan struktur tertentu yang terbentuk di dalam misykat cahaya tersebut.

Misykat cahaya dapat digambarkan layaknya suatu kamera. Kamera berfungsi membentuk cahaya dari objek yang dibidik menjadi suatu bayangan gambar. Terdapat badan kamera yang kedap cahaya dengan suatu lubang kecil yang dapat dibuka pada saat pengambilan gambar. Badan kamera itu adalah gambaran bagi misykat yang tidak tembus cahaya. Terdapat pula lensa yang mengarahkan cahaya membentuk bayangan dari objek yang dibidik. Lensa itu merupakan ibarat dari zujajah (bola kaca) yang terdapat dalam misykat cahaya. Terdapat beberapa fitur-fitur yang merupakan gambaran lebih lanjut tentang proses terbentuknya mitsal bagi cahaya Allah yang perlu penjelasan sangat panjang.

Misykat cahaya pada ayat di atas merupakan penjelasan tentang suatu akhlak yang seharusnya dibentuk pada setiap diri orang beriman. Setiap orang beriman mempunyai potensi dapat menemukan gambaran tentang kehendak Allah dalam diri masing-masing. Gambaran kehendak itu dibentuk dari cahaya Allah dengan akhlak mulia tertentu. Gambaran tentang kehendak Allah itu dapat dibentuk dengan berusaha membina misykat cahaya diri, tidak dapat dibentuk dengan memaksakan diri meraba kehendak Allah. Seandainya seseorang belum dapat membentuk gambar dari cahaya Allah, ia dapat mengikuti orang-orang yang telah membina diri sebagai misykat cahaya untuk dapat memahami cahaya Allah. Penjelasan tentang kehendak Allah yang terpancar pada ayat-ayat Allah akan diketahui oleh orang-orang yang membina diri sebagai misykat cahaya. Penjelasan orang yang membina diri sebagai misykat cahaya itu adalah mitsal bagi cahaya Allah, bukan mitsal bagi Allah.

Alquran merupakan cahaya Allah yang paling nyata untuk seluruh makhluk. Ia berbicara tentang seluruh hakikat dari sisi Allah tanpa tertinggal sedikitpun dengan bahasa yang dapat dipahami oleh makhluk hingga di tingkat jasmaniah. Sebenarnya apa yang disampaikan Alquran bukan hanya redaksi-redaksi jasmaniah, tetapi juga seluruh kandungan hakikat yang hendak digelar Allah sedangkan seluruh hakikat itu tidak terlepas dari redaksi jasmaniahnya. Sebagian manusia dapat memahami makna jasmaniahnya, dan sebagian manusia dapat memahami pula hakikat dari sisi Allah melalui redaksi kitabullah. Sebagian manusia tertutup hatinya untuk dapat memahaminya. Pemahaman yang komprehensif terhadap kandungan suatu ayat kitabullah Alquran hanya dibentuk oleh orang-orang yang membina diri sebagai misykat cahaya, dalam batasan kemampuan masing-masing.

Basis Keilmuan Alquran

Dewasa ini, kaidah tentang keilmuan kitabullah Alquran banyak bergeser dari basis akhlak kepada basis hafalan terhadap redaksi. Banyak orang-orang yang tidak membangun akhlak secara memadai kemudian menganggap diri sebagai ulama. Sebagian orang berafiliasi kepada penguasa-penguasa untuk dijadikan sebagai ulama yang membela kedudukan penguasa mereka tanpa sedikitpun ketakwaan kepada Allah. Mereka itu hanya memperalat hafalan untuk memperoleh kedudukan di sisi penguasa. Ini adalah ulama yang buruk, dan mereka memperoleh kedudukan di dunia karena upaya mereka yang buruk. Sebagian muslim berusaha untuk memperoleh ilmu dari kitabullah Alquran akan tetapi melupakan proses pembinaan akhlak, sedemikian ilmu mereka hanya merupakan suatu hafalan. Ilmu demikian ini mungkin akan bermanfaat untuk menjaga seorang muslim tergelincir ke neraka, tetapi tidak membangun pemahaman terhadap kehendak Allah. Pembinaan yang benar untuk memahami tuntunan kitabullah Alquran harus dilakukan dengan pembinaan akhlak dimulai dari pensucian diri hingga terbentuk akhlak sebagai misykat cahaya. Akhlak yang demikian itu akan menumbuhkan pemahaman yang kuat terhadap tuntunan kitabullah, sedemikian seseorang memahami persoalan yang terjadi di alam kauniyah mereka selaras dengan tuntunan kitabullah, bukan pemahaman berupa suatu hafalan saja.

Setiap usaha memahami tuntunan kitabullah akan mendatangkan manfaat yang besar bagi manusia, kecuali pemahaman orang-orang yang diniatkan untuk mencari kedudukan dari penguasa dengan ilmu mereka. Keburukan itu muncul dari hasrat rendah para ulama buruk itu, bukan dari tuntunan kitabullah. Dewasa ini banyak ulama yang buruk dikeluhkan oleh kaum muslimin lainnya, akan tetapi para ulama yang buruk itu tidak sedikitpun mengerti keburukan yang dikeluhkan kaum muslimin, dan justru menuduh muslimin hanya mengikuti syaitan-syaitan yang menjauhkan masyarakat dari ulama. Tidak semua orang yang berusaha memahami kitabullah tanpa membina diri sebagai misykat cahaya adalah ulama yang buruk, tidak demikian, tetapi benar-benar ada orang yang sebenarnya hanya menginginkan kedudukan dengan pengetahuan mereka. Tidak semua ulama yang kurang memahami masalah adalah ulama yang buruk, tetapi ada ulama yang tidak mempunyai pengetahuan karena niat mereka yang buruk.

Setiap ulama yang buruk tidak akan memahami masalah secara komprehensif karena terhalang niat yang tidak baik. Tentulah mereka tidak menempuh jalan untuk memahami cahaya Allah dengan benar. Barangkali mereka tidak menempuh proses tazkiyatun-nafs hingga Allah mensucikan jiwa mereka untuk dapat menyentuh ayat-ayat Allah. Barangkali mereka tidak membina sifat rahman dan rahim yang akan memfungsikan zujajah mereka memfokuskan cahaya Allah untuk membentuk bayangan dari cahaya Allah yang datang. Banyak hal yang benar-benar akan menghambat seseorang untuk memahami masalah secara komprehensif sesuai dengan ayat-ayat Allah. Mereka tidak dapat memahami realitas berdasarkan tuntunan kitabullah, hanya memahami perkataan-perkataan kuno yang mereka pelajari dari literatur-literatur yang dibuat oleh orang-orang sebelum mereka. Dengan keilmuan yang semacam ini, umat islam menjadi terbelakang dalam melakukan pemakmuran dunia yang menjadi kewajiban mereka. Ini bukan karena ajaran islam yang menghambat, akan tetapi perkataan para ulama buruk itu yang menghambat kemajuan umat Islam. Mereka seperti orang purba yang membanggakan masa lalu secara keliru, melupakan bahwa kitabullah Alquran merupakan petunjuk yang diturunkan Allah untuk dijadikan petunjuk sepanjang masa yang dapat dimanfaatkan oleh setiap generasi manusia untuk memahami ayat Allah.

Mengenali ulama yang buruk dapat dilakukan dengan melihat tuduhan yang mereka lakukan terhadap proses pembinaan misykat cahaya. Orang yang melakukan tuduhan paling keras terhadap pemahaman yang berbeda tanpa berusaha memahami kebenaran dari pihak lainnya, mereka adalah orang-orang yang memperjuangkan hasrat duniawi bagi diri mereka, bukan orang-orang yang berjuang untuk kalimat Allah. Mereka mungkin menggunakan teks-teks ajaran secara tekstual tanpa berusaha memahami nilai kebaikan dari teks yang digunakan, dan cenderung menahan masyarakat untuk memahami nilai-nilai mulia yang dapat diikuti. Mengalirnya pemahaman yang bernilai mulia dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW merupakan racun bagi upaya mereka, yang sebenarnya merupakan obat bagi penyakit di masyarakat.

Penyakit masyarakat itu banyak bersumber dari upaya para ulama yang buruk. Tidak jarang mereka membuat status diri mereka secara kelompok sebagai ulama, sedangkan masyarakat yang pandai tidak bisa melihat manfaat keilmuan mereka. Hanya orang yang bodoh yang mengakui keulamaan mereka, yaitu orang yang tidak mempunyai akal untuk menghayati kebaikan dalam tuntunan Allah dan memaksakan diri memandang doktrin mereka sebagai kebaikan. Para ulama buruk itu sering bertingkah laku seperti orang purba yang berbangga dengan masa lalu secara keliru, melupakan bahwa kitabullah Alquran merupakan petunjuk yang diberikan untuk sepanjang masa yang dapat dipahami dan dihayati oleh setiap generasi manusia. Seringkali keinginan masyarakat untuk memahami nilai kebaikan dalam tuntunan kitabullah dipandang sebagai racun yang merusak masyarakat, sedangkan sebenarnya doktrin mereka itulah yang merupakan penyakit bagi masyarakat. Ini tidak menutup fakta adanya sebagian pemikiran masyarakat yang menyimpang bukan terlahir dari keinginan yang baik, tetapi menunjukkan adanya upaya ulama yang buruk melakukan pembungkaman keinginan baik sebagian masyarakat untuk menghayati nilai kebaikan dari tuntunan kitabullah.

Penggolongan diri sebagai ulama’ oleh ulama yang buruk pada kaidahnya ditentang dengan status uswatun hasanah Rasulullah SAW sebagai orang yang ummi (tidak bisa membaca). Ada peraturan-peraturan yang dibuat untuk mengesahkan hak-hak keulamaan berdasarkan aturan sendiri, dan penetapan aturan ini menafikan bahwa nilai tuntunan kitabullah bersifat universal yang dapat dipahami oleh para ummi (orang buta huruf). Bahkan benar-benar makhluk paling mulia yang paling memahami nilai kemuliaan tuntunan kitabullah adalah seorang yang ummi. Mereka menghilangkan hak golongan selain mereka dengan membuat aturan keulamaan mereka sendiri, sedangkan aturan keulamaan itu buruk. Mereka menghilangkan metode atau jalan yang seharusnya ditempuh manusia agar dapat memahami tuntunan kitabullah dengan mengikuti Rasulullah SAW, dan menarik manusia untuk mengikuti cara memahami kitabullah mengikuti cara mereka, mencekoki manusia dengan pemahaman mereka sendiri.

Menimbang Manfaat Pengetahuan

Aturan keilmuan atau keulamaan terkait kandungan kitabullah Alquran hendaknya disusun secara haq mengikuti tuntunan kitabullah Alquran itu sendiri. Manusia yang paling utama keilmuannya terkait kandungan kitabullah Alquran adalah orang-orang yang telah membina diri mereka sebagai misykat cahaya. Mereka adalah orang-orang yang memahami ayat-ayat Allah secara selaras baik terhadap ayat kitabullah maupun ayat kauniyah. Derajat berikutnya adalah orang-orang yang berusaha membina diri sebagai misykat cahaya dengan mencapai tahapan orang yang disucikan sedemikian mereka dapat menyentuh kandungan ayat Alquran. Derajat lebih rendah dari keadaan demikian sebenarnya hanya dapat meraba kandungan dari ayat Alquran berdasarkan redaksi yang dzahiriahnya, bukan termasuk orang yang berilmu dengan Alquran. Ilmu-ilmu demikian dapat dimanfaatkan untuk menjaga diri dalam batas-batas syariat agar tidak menjadi orang celaka, tetapi sebenarnya belum dapat mengungkapkan suatu hakikat yang terkandung dalam suatu petunjuk kitabullah Alquran. Orang-orang yang menginginkan bagian duniawi baik harta ataupun kedudukan di antara manusia dengan keilmuan mereka hendaknya tidak dipandang sebagai golongan ulama, karena mereka dapat merusak tuntunan kitabullah dengan hasrat mereka terhadap bagian duniawi.

Tingkat keutamaan ilmu-ilmu demikian dapat dinilai berdasarkan penjelasan terperinci dalam ayat misykat cahaya. Keikhlasan beribadah kepada Allah merupakan dasar memahami ilmu Alquran, yaitu hanya menghadapkan wajah semata-mata untuk menghamba kepada Allah. Lubang misykat harus mengarah kepada cahaya Allah tidak boleh berlubang di sembarang tempat karena akan merusak bayangan. Pensucian jiwa dan raga dari dosa-dosa bermanfaat agar zujajah (lensa) bisa jernih tidak mengganggu cahaya, dan latihan pengaturan fokus dilakukan dengan membina sifat rahman dan rahim. Bayangan yang dibentuk adalah pohon thayibah yang akan mengantarkan seseorang mengenal diri untuk apa diciptakan. Dengan pengenalan diri itu, zujajah berupa nafs akan mendapatkan minyak yang berkilauan hingga tampak seolah-olah bercahaya sebelum disentuh api. Seorang ulama bukan orang yang bodoh tentang dirinya sendiri, dan orang yang bodoh tentang penciptaan dirinya sendiri hendaknya tidak menggolongkan diri sebagai ulama. Orang yang mengenal penciptaan dirinya sendiri akan bisa memberikan manfaat kepada orang lain menunjukkan ilmu tentang Allah utamanya terkait ilmu yang ada pada dirinya sendiri. Mungkin tidak semua ilmu bisa ditunjukkan, tetapi ia bisa menunjukkan kepada manusia ilmu yang bermanfaat untuk penghambaan kepada Allah dengan ilmu yang ada pada dirinya sendiri, tidak menunjukkan ilmu yang hanya dicomot dari perkataan orang lain.

Ilmu orang-orang demikian memberikan manfaat yang sangat baik kepada orang lain dan umat manusia untuk memahami bentuk pengabdian kepada Allah dan mewujudkan kebaikan. Ilmu mereka bukan ilmu yang menjerat akal, akan tetapi justru membuka akal untuk memahami petunjuk Allah. Dengan ilmu mereka, seseorang akan bisa menyadari kedudukan dirinya dalam kitabullah dan melangkah untuk memperbaiki keadaan diri apabila keadaan diri mereka salah atau melangkah mewujudkan amal shalih apabila mereka berada pada kedudukan yang benar. Tentu saja besarnya manfaat itu ditentukan oleh yang mendengarnya. Ada sebagian orang yang bodoh sulit untuk menyadari kebenaran yang disampaikan oleh orang yang berilmu, tetapi mereka merasa pandai dengan waham yang salah. Mereka mungkin banyak beramal dengan mengabaikan amal shalih yang diperintahkan Allah. Sebagian manusia merasa telah menjadi orang baik tidak membutuhkan ilmu yang benar. Sebagian orang kufur tidak ingin memperbaiki keadaan mengikuti petunjuk Allah. Bila demikian maka ilmu yang disampaikan orang berilmu tidak akan mendatangkan manfaat. Orang yang ikhlas akan memperoleh manfaat yang sangat besar dari ilmu yang disampaikan.

Ada orang-orang yang melangkah lebih lanjut membentuk bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya, maka mereka memperoleh kekuatan untuk mewujudkan ilmu mereka dari kitabullah hingga terwujud di alam dunia. Sebenarnya setiap orang yang terbentuk misykat cahaya akan terdorong melangkah membina bayt, akan tetapi mungkin banyak hambatan yang menghalangi langkah mereka sedemikian mereka hanya menyampaikan apa yang mereka pahami dari kitabullah tanpa mampu membentuk bayt. Ada pula orang yang dirusakkan rumah tangganya hingga tidak dapat membentuk bayt dan bahkan ditimpa fitnah yang buruk dalam pandangan masyarakat mereka. Apabila seseorang dapat membentuk bayt, hendaknya mereka membentuk bayt agar kandungan kitabullah dapat tersiar seluas-luasnya kepada masyarakat mereka.

Selasa, 31 Maret 2026

Dunia dan Wanita Shalihah sebagai Perhiasan

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Manusia harus hidup di dunia sebelum tinggal di tempat tinggal abadi yang sesungguhnya diperuntukkan bagi mereka di alam akhirat. Kehidupan di alam bumi dunia ditetapkan bagi manusia agar manusia menguasai khazanah-khazanah yang diajarkan Allah bagi mereka sedemikian manusia mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang baik hingga layak menjadi masterpiece ciptaan Allah.

﴾۹۳﴿يَا قَوْمِ إِنَّمَا هٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ
Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah perhiasan dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. (QS Al-Mu’min : 39)

Ayat di atas menjelaskan di antaranya tentang makna kehidupan di alam dunia. Kata “perhiasan (مَتَاعٌ)” sebenarnya juga bisa menunjukkan makna berupa perangkat olah dan penyajian yang memudahkan. Allah mengajarkan manusia cara kehidupan yang baik melalui kehidupan dunia kepada orang yang menginginkan kehidupan akhirat. Ada gambaran (simulasi) kehidupan alam akhirat ditemukan dalam kehidupan dunia. Hal itu seharusnya dikenali oleh setiap manusia untuk dijadikan bekal kehidupan yang abadi. Di antara simulasi yang dikenalkan itu adalah pemanfaatan hakikat-hakikat penciptaan. Seseorang dapat memperoleh kehidupan yang sebaik-baiknya apabila mengenal hakikat penciptaan dan bertindak mengikutinya. Pemanfaatan suatu hakikat untuk memperoleh kehidupan yang baik itu adalah alat (مَتَاعٌ) yang seharusnya diperoleh manusia dalam kehidupan di dunia untuk kehidupan akhiratnya.

Kehidupan yang abadi telah diciptakan secara berkelas-kelas memisahkan tempat kehidupan manusia menurut kemuliaan mereka. Kemuliaan itu diperoleh melalui tingkat perhatian mereka terhadap pengajaran Allah. Tingkat ini terlihat dalam bentuk kemuliaan akhlak di hadapan Allah. Seseorang yang mendustakan pengajaran-pengajaran Allah mengikuti dorongan syahwat atau hawa nafsu sendiri akan tinggal dalam jahannam, sedangkan orang yang mengikuti pengajaran Allah untuk memperoleh kemuliaan akan memperoleh kemuliaan yang diinginkan sesuai dengan perhatian mereka terhadap pengajaran Allah. Rasulullah SAW menempati kedudukan makhluk paling mulia karena kesempurnaan pemahaman terhadap Alquran, dan makhluk lain akan memperoleh kemuliaan sesuai dengan apa yang mereka hayati dari kemuliaan Alquran. Sebagian orang yang menginginkan kemuliaan celaka karena pendustaan mereka terhadap pengajaran kitabullah Alquran. Ini adalah orang-orang yang mengikuti kebenaran mereka sendiri tanpa berusaha mengikuti tuntunan kitabullah Alquran. Pengkelasan itu terjadi melalui proses dalam kehidupan di alam dunia.

Kemuliaan yang diperoleh seseorang di alam dunia tidak ditunjukkan dengan keberhasilan dalam wujud duniawi, tetapi ditunjukkan dengan pemahaman terhadap pengajaran-pengajaran hakikat dari sisi Allah. Pemahaman itulah yang merupakan bahan perhiasan (مَتَاعٌ) yang dimaksudkan. Sebenarnya pemahaman yang terbentuk akan memberikan pula pengetahuan tentang tatacara hidup di dunia, akan tetapi ada sebagian orang yang mungkin dikehendaki Allah untuk mengumpulkan pengetahuan tanpa memperoleh wujud keberhasilan dalam kehidupan dunia. Mereka itu mungkin mengalami kesulitan-kesulitan yang banyak dalam kehidupannya. Sebagian manusia diberikan keluasan kehidupan dunia dengan pengetahuan yang diperolehnya. Sebaiknya ada pula orang-orang yang dipandang sukses dalam kehidupan dunia akan tetapi sebenarnya ia tidak memahami sedikitpun pengajaran Allah, maka keberhasilannya akan menjadi tanggung jawab yang besar bagi dirinya di alam akhirat. Pemahaman yang diperoleh melalui kehidupan dunia itu itulah perhiasan atau perangkat (مَتَاعٌ) yang diperuntukkan bagi manusia.

Ini tidak menghilangkan arti tugas pemakmuran di bumi. Setiap ilmu yang diperoleh seseorang hendaknya digunakan untuk mewujudkan pemakmuran di bumi. Pemakmuran itu tidak boleh dimaknai mukminin dengan pemakmuran kehidupan dirinya saja, tetapi harus dalam bentuk pemakmuran bagi setiap elemen dunia secara berjamaah. Terwujudnya kemakmuran pada diri seorang mukmin tidak boleh dilakukan sebagai usaha pemakmuran diri sendiri saja, tetapi harus dilakukan dalam upaya pemakmuran bersama. Orang-orang mukmin hanya berusaha menemukan manfaat untuk dirinya sebagai bagian dari manfaat bersama, tidak melakukan usaha hanya untuk keuntungan bagi diri sendiri saja. Setiap mukmin harus berusaha memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kehidupan agar ia memperoleh manfaat yang kembali kepada dirinya. Memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kehidupan dunia akan dapat dilakukan manakala seseorang mempunyai ilmu, dan ilmu yang paling bermanfaat adalah pengetahuan tentang hakikat.

Pemakmuran dalam beberapa urusan bukan suatu yang mudah dilakukan karena banyaknya kebathilan yang menghalangi. Banyak kekuatan yang benar-benar berusaha mempertahankan kebathilan untuk keuntungan diri mereka sendiri. Dalam hal inilah pengetahuan tentang hakikat sangat diperlukan. Amerika Serikat dan Israel melakukan perang dengan Iran tanpa mempunyai alasan yang jelas. Sebenarnya alasan mereka hanya berlatar mempertahankan kekuasaan kebathilan. Bila alasan perang terhadap Iran dilakukan karena pengembangan senjata nuklir, langkah pertama membunuh Ayatullah Ali Khameini sangat bertentangan alasan itu. Beliau merupakan tokoh utama yang menahan pengembangan senjata nuklir di Iran. Eskalasi perang dilakukan kepada negara-negara lain dengan alasan untuk membuka jalur selat Hormuz, sedangkan selat Hormuz dalam posisi terbuka sebelum perang mereka kobarkan. Tidak ada alasan yang jelas yang bisa menjadi latar belakang peperangan. Alasan mereka memerangi Iran hanyalah mempertahankan kebathilan dan membungkam kebenaran. Dalam hal ini, pengetahuan tentang tuntunan agama dan hakikat di kalangan masyarakat Iran merupakan bentuk ancaman terhadap sistem kebathilan yang menjadi landasan kekuasaan mereka. Itu adalah contoh dari kejamnya kebathilan. Pemakmuran yang sebenarnya akan terjadi dengan baik manakala manusia mengenal hakikat dari sisi Allah. Pengetahuan hakikat itulah hal yang dapat mengatasi kebathilan.

Memperbaiki Kehidupan dengan Perhiasan (مَتَاعٌ)

Pemakmuran tidak akan dapat terjadi hanya melalui pengenalan terhadap kebenaran, tetapi hendaknya hakikat itu dapat diwujudkan di alam dunia. Untuk mewujudkan pemakmuran, seseorang harus mengolah alam duniawi mereka. Usaha demikian dapat dilakukan dengan memanfaatkan dunia sebagai perangkat (مَتَاعٌ). Misalnya untuk mendatangkan suatu manfaat tertentu, seseorang mungkin harus berbelanja atau berinvestasi dengan kadar tertentu agar pewujudan manfaat itu dapat terjadi. Mekanisme demikian ini menunjukkan fungsi bahwa dunia adalah perhiasan atau peralatan (مَتَاعٌ) secara jasmaniah. Selain mekanisme jasmaniah, terdapat suatu mekanisme mewujudkan manfaat melalui keberjamaahan, dan ini merupakan mekanisme yang bisa mendatangkan manfaat sangat besar. Bentuk materi mempunyai manfaat dengan batasan-batasan, sedangkan mekanisme keberjamaahan dapat mendatangkan manfaat dalam bentuk yang jauh lebih luas.

Ada hal duniawi yang dapat menghubungkan diri seseorang dengan masyarakat sekitar hingga mereka dapat membentuk mekanisme keberjamaahan. Penghubung demikian berupa perempuan shalihah. Seorang isteri yang shalihah merupakan perhiasan atau perangkat (مَتَاعٌ) yang terbaik bagi seorang suami untuk mewujudkan khazanah dalam dirinya.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr r.a ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:
اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ.
Dunia adalah perangkat, dan sebaik-baik perangkat dunia adalah wanita yang shalihah. (HR Muslim (no. 1467), an-Nasa-i (VI/69), Ahmad (II/168), Ibnu Hibban (no. 4020) dan al-Baihaqi (VII/80))

Isteri shalihah merupakan perangkat duniawi yang terbaik bagi manusia. Keterampilan seseorang dalam menempatkan diri dan berperan dalam rumah tangga mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW merupakan sumber dari keterampilan dan kemampuan seorang mukmin untuk melangkah berjamaah di antara kaum mukminin. Dengan isteri shalihah, seorang laki-laki dapat membentuk bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Bayt demikian itu dapat membentuk tatanan masyarakat yang tersusun dalam suatu Al-jamaah dalam usaha menunaikan kehendak Allah. Pada intinya, bayt demikian dibina melalui keluarga yang berjuang untuk menunaikan kehendak Allah, dan dapat meluas hingga bentuk Al-Jamaah yang sangat besar sebagaimana Rasulullah SAW bersama umahaatul mukminin dan umat Islam yang tegak meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Itu merupakan gambaran dari kalimat perempuan sebagai perhiasan atau perangkat (مَتَاعٌ) yang sebaik-baiknya di alam dunia.

Keshalihan perempuan adalah ketenangan seorang isteri dalam mendampingi suaminya dan sikap menjaga hal yang ghaib dalam dirinya sesuai dengan penjagaan Allah. Setiap perempuan pada dasarnya menyimpan suatu hal ghaib tertentu yang harus dijaga untuk diolah bersama suaminya. Hal ghaib itu benar-benar diturunkan gambarannya di tingkat jasmani sebagai telur yang hanya boleh dibuahi oleh suaminya agar terwujud menjadi anak-anak. Demikian pula hal ghaib itu harus dijaga oleh masing-masing perempuan bagi suaminya saja tidak diberikan kepada sembarang orang, dijadikan media untuk mewujudkan kemakmuran dunia melalui pernikahan mereka. Perempuan yang tidak dapat tenang mendampingi perjuangan suaminya di jalan Allah dan/atau tidak dapat menjaga hal yang ghaib dalam dirinya sebagaimana kehendak Allah belum termasuk sebagai perempuan yang shalihah. Pelaksanaan ibadah yang rajin oleh seorang isteri tanpa disertai memperhatikan suami tidak mempunyai nilai keshalihan diri seorang perempuan.

Tegaknya suatu bangsa ditentukan dari keshalihan para perempuan mereka. Seandainya para laki-laki mereka jahat, para perempuan yang shalihah akan menjadikan bangsa itu tetap makmur dalam urusan keduniaan dengan terwujudnya hal-hal duniawi. Seandainya para laki-laki suatu bangsa seluruhnya adalah para nabi, bila para perempuan mereka rusak akan mendatangkan kehancuran bagi bangsa. Keshalihan para perempuan suatu bangsa yang akan menentukan terwujudnya pemakmuran negeri, sedangkan para laki-laki berperan dalam mengenal khazanah kemuliaan dari sisi Allah. Setiap bangsa harus memperhatikan pembinaan para perempuan agar menjadi shalihah, karena para perempuan shalihah adalah tiang bagi tegaknya suatu bangsa. Pengabaian pembinaan perempuan atau pembinaan perempuan yang dilakukan secara salah akan menyebabkan suatu bangsa terpuruk pada berbagai masalah yang tidak perlu.

Kemuliaan martabat suatu bangsa akan diperoleh manakala setiap komponen bangsa bertakwa kepada Allah. Para laki-laki yang memperhatikan tuntunan Allah akan menjadi sumber kemuliaan dalam kehidupan berbangsa, dan para isteri shalihah merupakan perangkat untuk mewujudkan hasil ketakwaan para laki-laki dalam bentuk-bentuk duniawi. Seorang presiden yang bertakwa akan mempunyai pengaruh besar bagi bangsanya apabila didampingi oleh isteri yang shalihah. Para laki-laki akan menghasilkan sesuatu secara produktif manakala ia mensyukuri keadaan diri dengan didampingi isteri yang memperhatikan urusannya dengan baik. Sebaliknya suatu bangsa besar mungkin saja akan menjadi bulan-bulanan bangsa lainnya karena ibu negara yang tidak layak menjadi ibu negara.

Dewasa ini banyak persoalan yang terjadi terkait pembinaan para perempuan bahkan hingga kalangan mukminat. Mungkin mudah ditemukan gadis mukminat yang menginginkan suami yang telah kaya hingga kadangkala merendahkan laki-laki yang hadir kepada mereka secara haq karena kurang memiliki harta. Pikiran demikian hendaknya diluruskan, bahwa harta kekayaan yang baik sebenarnya terwujud melalui kebersamaan dalam pernikahan dengan peran sinergis antara suami dan isteri, bukan kekayaan yang dibawa oleh satu pihak. Potensi kekayaan yang dapat mereka peroleh dapat diperkirakan melalui kesesuaian potensi laki-laki dengan jodohnya dalam mengenali dan mengolah kekayaan melalui kebersamaan. Selama seorang perempuan menjaga diri untuk suaminya dan suaminya mau memahami dan mengolah khazanahnya, akan muncul kekayaan bersama melalui pernikahan. Potensi kekayaan tidak diukur berdasar kekayaan yang telah dibawa. Kekayaan yang dibawa hanya oleh satu pihak itu seringkali justru menjadi beban dalam hubungan pernikahan, sedangkan kekayaan yang merupakan hasil sinergi akan mendatangkan kesejahteraan.

Kadangkala dijumpai seorang isteri tidak dapat tenang mendampingi suaminya. Ketenangan mendampingi usaha suami merupakan hasil dari kebersyukuran seorang isteri terhadap suaminya. Kebersyukuran itu terwujud melalui pengenalan urusan yang harus ditunaikan bersama. Tidak jarang seorang isteri kurang memperhatikan urusan bersama sedemikian ia tidak mengenal urusan yang dipandang amal shalih oleh suaminya, bahkan manakala suaminya mengenal urusan Allah yang harus ditunaikan. Karena kurang memperhatikan urusan bersama, ia tidak mempunyai ketenangan atau keyakinan dalam mendampingi amal-amal suaminya. Dalam kasus yang lebih buruk, seorang perempuan mungkin terpalingkan perhatiannya kepada laki-laki lain yang ia pandang lebih baik. Ini merupakan tipuan syaitan. Bukan tidak mungkin syaitan menipu mukminat dengan memandang laki-laki lain lebih layak diperhatikan karena lebih baik dalam menunaikan agama, atau syaitan menjadikannya menganggap ia akan lebih baik dalam menolong agama dengan memperhatikan laki-laki lain tersebut. Ini benar-benar merupakan tipuan syaitan. Seorang perempuan bisa menolong Allah hanya dengan jalan memperhatikan urusan bersama suaminya, baik suaminya orang shalih ataupun seorang fir’aun. Tipuan syaitan demikian akan menyebabkan suatu bangsa runtuh sekalipun masyarakat memandang diri mereka orang yang baik ataupun shalih.

Pembinaan kaum perempuan harus diarahkan agar mereka menjadi perempuan shalihah yang tenang memperhatikan urusan Allah dengan benar melalui suaminya. Pembinaan perempuan menekankan tentang penempatan diri seorang perempuan dalam urusan Allah secara nyata, yaitu dalam pernikahan bersama suaminya. Sebenarnya pembinaan demikian juga berlaku dalam pembinaan agama bagi laki-laki di mana setiap laki-laki hendaknya menemukan tempatnya dalam susunan Al-Jamaah dengan menangani suatu urusan yang terjadi secara nyata, bukan hanya membina agama dengan teori saja. Hanya saja perjalanan laki-laki untuk menemukan hal demikian harus ditempuh lebih panjang dengan memperkuat akal, sedangkan perjalanan perempuan adalah mensyukuri kebersamaan dengan suaminya.

Tingkat kepentingan perempuan shalihah ini akan semakin tinggi manakala terkait amal-amal yang ditetapkan Allah bagi umat manusia. Seorang laki-laki dapat terputus sama sekali dalam beramal shalih yang ditetapkan Allah karena ditinggalkan oleh isterinya. Mungkin ia bisa berusaha dengan perangkat duniawi untuk kepentingan-kepentingan duniawi, tetapi tidak akan bisa menghasilkan dengan amal-amal yang ditetapkan Allah. Dalam kasus nabi Nuh dan nabi Luth a.s, ketidak shalihan isteri-isteri mereka justru membalikkan hasil dari keshalihan kedua nabi tersebut menjadi suatu adzab bagi kaumnya.