Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Tauladan Rasulullah SAW sebenarnya diperpanjang hingga mencapai kehidupan jaman ini dan juga seterusnya, tidak berhenti pada jaman Rasulullah SAW saja. Di antara bentuk perpanjangan tauladan Rasulullah SAW adalah kehadiran para ulama dan fuqaha, yaitu para ulama dan fuqaha yang mengenal kehendak Allah. Kebaikan dalam kehidupan di alam dunia akan terwujud manakala masyarakat membina akal agar dapat mengikuti langkah para ulama dan fuqaha. Ulama dan fuqaha pada dasarnya membawa benih-benih kebaikan bagian dari Rasulullah SAW bagi umat manusia yang bermanfaat untuk kehidupan di alam dunia dan alam-alam selanjutnya. Benih-benih itu harus disemaikan di umat manusia agar tumbuh kebaikan secara nyata dengan akal yang memahami nilai kebaikannya dan beramal berdasarkan pengteahuan itu. Manakala manusia tidak mau menumbuhkan benih-benih kebaikan dari ulama dan fuqaha, umat manusia akan mengalami kesulitan.
Dari Anas ibn Malik r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda :
ﺳﻴﺎٔﺗﻲ ﺯﻣﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍٔﻣﺘﻲ ﻳﻔﺮﻭﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ،ﻓﻴﺒﺘﻠﻴﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺜﻼﺙ ﺑﻠﻴﺎﺕ ﺍٔﻭﻻﻫﺎ ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻣﻦ ﻛﺴﺒﻬﻢ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻳﺴﻠّﻂ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺳﻠﻄﺎﻧﺎ ﻇﺎﻟﻤﺎ ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻳﺨﺮﺟﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺑﻐﻴﺮ ﺍٕﻳﻤﺎﻥ
Akan datang satu masa dimana umatku akan lari (menjauh) dari ulama dan fuqaha, maka Allah akan mendatangkan tiga bencana atas mereka: 1. Allah akan mengangkat barokah dari usaha mereka, 2. Allah akan menguasakan atas mereka pemimpin yang dzalim, 3. Allah akan keluarkan dari dunia tanpa iman (HR Abu Nuaim)
Ulama dan fuqaha mempunyai tiga tanggung jawab berupa pengupayaan kesejahteraan umat, pemilihan pemimpin yang adil dan pembinaan keimanan umat hingga terbentuk iman yang sesungguhnya, iman yang tidak akan tanggal manakala kematian tiba pada seseorang di antara umat. Itu merupakan tanggung jawab ulama dan fuqaha yang mengenal Allah. Tugas-tugas itu merupakan tugas yang besar dan barangkali tidak akan dapat ditanggung oleh selain ulama dan fuqaha yang mengenal Allah. Pembinaan keimanan yang baik misalnya, kebanyakan manusia bahkan tidak mempunyai pengetahuan bentuk kehidupan dirinya di dunia yang harus diupayakan, tidak pula berpengetahuan tentang kehidupan setelah kematian dirinya sendiri. Hanya orang yang mengenal kehendak Allah yang mempunyai pengetahuan tentang pembinaan keimanan yang baik. Ulama dan fuqaha dari kalangan orang yang mengenal Allah -lah yang mampu berusaha melaksanakan tugas dan tanggung jawab demikian.
Ulama dan fuqaha yang mengenal Allah sedikit atau banyak mempunyai pengetahuan-pengetahuan terkait tugas-tugas yang harus ditunaikan. Seorang ulama dan fuqaha mungkin tidak menanggung keseluruhan tanggung jawab tersebut, tetapi mereka mempunyai bagian pengetahuan yang harus disampaikan kepada umat agar umat mewujudkan keadaan yang baik berdasarkan yang disampaikannya. Tanggung jawab ulama tersebut adalah menyampaikan seluruh amanah yang diberikan kepada dirinya, bukan menanggung seluruh amanah Allah. Umat hendaknya memperhatikan ilmu-ilmu yang disampaikan oleh para ulama dan fuqaha, berusaha memahami dan berusaha melaksanakan amal-amal berdasarkan ilmu-ilmu yang disampaikan. Bila umat bersikap demikian, mereka akan tumbuh pada bidang-bidang yang menjadi amanah ulama yang mereka ikuti. Ulama itu tidak bertanggungjawab atas hasil yang harus dicapai oleh umatnya, tetapi hanya menyampaikan apa yang yang menjadi amanah atas dirinya.
Hal ini tidak berarti ulama dan fuqaha sama sekali terbebas dari tanggung jawab kegagalan umat apabila umat tidak tumbuh. Ulama dan fuqaha harus berusaha menyampaikan kepada umat dengan cara yang sebaik-baiknya hingga umat dapat memahami dan beramal. Bila ilmu yang disampaikan kepada umat menyimpang dari kebenaran, mustahil umat akan bisa tumbuh dengan baik dan justru mereka akan celaka karena ilmu yang disampaikan. Kekurangfasihan dalam penyampaian seringkali membuat umat tidak dapat memahami, maka hendaknya ulama dan fuqaha mengikuti cara kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW menyampaikan. Ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW merupakan pokok dari amanah yang harus disampaikan, sedangkan umat membutuhkan penjelasan dari amanah yang harus ditindaklanjuti. Para ulama dan fuqaha hendaknya membuat penjelasan-penjelasan yang baik agar umat dapat memahami amanah Allah sesuai dengan firman dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak semata mengikuti ulama dan fuqaha dengan membuta. Banyak hal yang menjadi tanggung jawab para ulama dan fuqaha yang harus dijaga agar umat tidak mengalami kegagalan dalam menumbuhkan keadaan yang baik dalam urusan amanahnya.
Manakala ulama dan fuqaha menjadikan umat mengikuti secara membuta, para ulama dan fuqaha itu sebenarnya telah membuat kesalahan paling mendasar dalam pelaksanaan amanahnya. Akal manusia merupakan bagian dari nikmat Allah yang melekat pada diri setiap manusia yang bisa tumbuh untuk mengenal nikmat secara menyeluruh. Manakala akal pada diri seseorang atau umat dihilangkan, sebenarnya pangkal dari kenikmatan Allah itu dihilangkan. Ini serupa dengan pembunuhan anak-anak laki oleh fir’aun di kalangan bani Israel. Orang-orang yang terpotong akalnya akan tumbuh sebagai orang-orang yang kufur terhadap kebenaran tidak mendatangkan nikmat Allah. Kekufuran mereka itu bisa saja tampak layaknya keshalihan tetapi sebenarnya tersesat. Akal pada diri setiap manusia hendaknya ditumbuhkan dan dijaga agar tidak menyimpang.
Amanah hendaknya disampaikan hingga setiap orang yang mengikuti ulama dan fuqaha dapat berbuat mengikuti kebenaran, bukan hanya menjadi teori-teori tanpa suatu langkah lanjutan yang benar. Masalah keimanan misalnya, umat hendaknya tidak terkacaukan sikapnya oleh musuh-musuh islam yang muncul dalam tampilan shalih tetapi merusak. Ajaran-ajaran Dzulkhuwaisirah misalnya, tidak boleh merasuk di kalangan muslimin hingga muncul sikap-sikap khawarij di antara muslimin. Mereka merupakan alat utama kaum musyrikin untuk membangkitkan kekacauan di antara kaum muslimin yang harus dicegah penyebarannya. Ketika sedang tidak digunakan, mereka membangkitkan kebodohan di antara muslimin. Ketika digunakan, mereka akan menyerang kaum muslimin. Saat ini, ajaran ini tampak melenggang dengan leluasa di antara muslimin nusantara dianggap sebagai islam yangg murni oleh umat tanpa terlihat upaya yang memadai untuk menampakkan sisi buruk ajaran tersebut agar umat tidak terseret ajarannya. Sebagian muslimin telah merasa gerah dengan dampak ajaran itu tanpa pemahaman yang baik terhadap masalah yang dibuat sedemikian perlawanan mereka tampak layaknya kekacauan. Sebagian orang yang memahami masalah yang terjadi hanya bergerak sendirian menyuarakan masalahnya, dan umat dihalangi untuk memahami masalah dan membantu upayanya sedangkan itu adalah amanah yang harus disampaikan ulama dan fuqaha kepada umat. Keilmuan tentang keimanan yang disampaikan ulama dan fuqaha hendaknya disampaikan hingga umat dapat memahami dan bertindak dengan benar sesuai dengan masalah yang dihadapi.
Mengikuti Ulama dan Fuqaha
Dewasa ini, keadaan umat islam di nusantara tampak sangat tidak baik-baik saja. Penghidupan kasab di antara kaum muslimin tampak sangat sulit. Harga-harga bergerak tidak terkendali karena para penguasa yang melakukan korupsi besar-besaran. Para ahli tersingkirkan dari kedudukannya oleh orang bodoh yang dekat dengan penguasa. Negara diurus oleh orang tanpa keahlian. Di masyarakat umum, menjalankan usaha menjadi sangat sulit karena umumnya penggunaan cara-cara yang tidak dihalalkan, dan rakyat harus menanggung beban penghidupan yang berat karena keadaan demikian. Sangat banyak fenomena kesulitan dalam kehidupan muslimin dewasa ini. Keadaan demikian menunjukkan bahwa sebenarnya umat islam nusantara masih terkungkung dalam kebodohan tidak mengikuti tuntunan Allah mengikuti ulama.
Umat harus berusaha mengikuti ulama dan fuqaha di antara mereka. Ulama dan fuqaha yang harus diikuti itu berasal dari muslimin yang menempuh langkah taubat membentuk misykat cahaya untuk memahami cahaya Allah. Misykat cahaya adalah insan kamil yang menjadi mitsal bagi cahaya Allah. Mereka bukan mitsal bagi Allah tetapi mitsal bagi cahaya Allah. Artinya, mereka bisa mengatakan kepada umat manusia makna dari cahaya Allah yang terpancar pada semesta diri mereka dengan benar sesuai dengan kehendak Allah tidak keliru. Bukan pula perkataan mereka itu suatu rekaan atau bisikan dari alam yang lain. Mereka diibaratkan kamera yang dapat membentuk bayangan dari cahaya yang datang. Bayangan yang terbentuk pada misykat cahaya itu terbentuk secara jelas serupa dengan sinar-sinar dari objek yang datang, dan kadangkala sebagian ulama dan fuqaha dapat memunculkan perbesaran gambar (zoom) dari objek yang dibidik yang tidak diketahui oleh manusia sebelumnya. Gambar perbesaran itu muncul sesuai dengan objek yang dibidik, bukan gambar asing yang dimasukkan ke dalam gambar yang terbentuk.
Ilmu dari ulama dan fuqaha dengan misykat cahaya demikian itu dapat menggerakkan keadaan masyarakat menjadi lebih baik. Tentu hanya berlaku apabila umat bergerak mengikuti ilmu tersebut, tidak hanya disia-siakan. Apabila ulama dan fuqaha demikian ditinggalkan umatnya, mereka akan menjadi kaum yang mengalami keburukan. Ulama dan fuqaha mungkin akan terlihat seperti orang bodoh, dan kaum mereka tidak mengetahui jalan keluar dari masalah yang menimpa diri mereka. Ilmu ulama dan fuqaha demikian ini berbeda dengan ilmu yang diperoleh dari pengumpulan literasi-literasi saja. Tentu saja literasi memberikan manfaat yang besar bagi umat, tetapi ilmu dari misykat cahaya mempunyai kekuatan yang berbeda. Ilmu literasi yang benar akan menjaga keadaan umat tetap baik. Akan tetapi sebenarnya ada ilmu-ilmu literasi yang merupakan permainan kata-kata manusia menggunakan bahan dari kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW maka ilmu itu tidak memberikan manfaat, seperti ilmu tentang pembagian tiga tauhid. Ada pula ilmu literasi yang merupakan rumusan orang-orang musyrik yang diajarkan kepada muslimin maka ilmu demikian mendatangkan kerusakan bagi kaum muslimin. Kadangkala orang-orang yang mengikuti ilmu literasi membantah keilmuan yang diperoleh melalui misykat cahaya maka sebenarnya itu merupakan kekurangan dari akal orang yang membantahnya. Setiap orang hendaknya lebih memperhatikan ulama dan fuqaha yang membentuk akhlak diri sebagai misykat cahaya, karena perkataan mereka adalah mitsal bagi cahaya Allah.
Ilmu dari misykat cahaya sepenuhnya selaras dengan cahaya Allah yang datang. Cahaya Allah yang paling utama adalah kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, serta para ulama dan fuqaha yang membentuk akhlak mulia sebagai misykat cahaya Allah. Ini adalah pokok dari ilmu dari misykat cahaya yang benar. Umat hendaknya memperhatikan pokok dari ilmu, yaitu hubungan suatu ilmu dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sikap ini akan memudahkan akal tumbuh dengan baik. Tidak ada ilmu yang benar yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Cahaya Allah juga terpancar di langit dan di bumi. Setiap orang hendaknya berusaha untuk dapat memahami cahaya Allah melalui alam kauniyah mereka sedemikian mereka sebagai umat memahami ayat Allah secara lebih sempurna.
Kadangkala umat menyangka bahwa seseorang adalah misykat cahaya Allah sedangkan dasar ilmunya tidak diperhatikan. Hal demikian menjadikan akal umat tidak tumbuh untuk dapat menimbang kebenaran, tidak dapat mengetahui kemungkinan adanya sisipan-sisipan dari syaitan dan tidak bisa mengenali kebenaran yang sungguh-sungguh berdasar pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap orang hendaknya memperhatikan pokok ini. Tidak ada ilmu yang benar yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Dasar ilmu yang benar akan menjadi pondasi pertumbuhan akal. Penilaian umat yang bersikap demikian terhadap kebenaran seringkali hanya berdasar prasangka saja, tidak berdasarkan akal yang tumbuh pemahamannya. Kesertaan kepada ulama dengan cara demikian sebenarnya sia-sia. Kesertaan dan kepatuhan umat kepada ulama dan fuqaha akan tumbuh nilainya hanya apabila akal umat tumbuh memahami cahaya Allah sesuai tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Keadaan Umat
Terdapat beberapa tingkat pertumbuhan akal dalam proses memahami cahaya Allah. Sebagian besar muslimin sebenarnya harus berproses hanya mengikuti perkataan para ulama dan fuqaha saja dengan menggali nilai kebenaran dari apa yang disampaikan. Ini adalah tahapan awal yang harus ditempuh melalui tazkiyatun-nafs. Kelompok awal ini belum mempunyai kemampuan untuk mempersepsi suatu ayat dengan benar karena kuatnya pengaruh hawa nafsu dan syahwat. Walaupun demikian, sikap mengikuti ini harus disertai dengan berusaha memahami kebaikan dari ayat-ayat yang disampaikan tanpa berlebihan. Mereka hendaknya taat baik pada apa yang dipahami atau tidak dipahami, tetapi tidak mengikuti apa yang diketahui bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala seseorang perlu berusaha membongkar struktur pengetahuan lama untuk dapat memahami ilmu cahaya Allah karena pengetahuan lama bisa menjadi penghalang memahami cahaya Allah. Bersikap mengagumi suatu pengajaran yang sebenarnya belum dimengerti merupakan sikap berlebihan, akan menjadikan seseorang bodoh tetapi merasa mengerti. Tidak jarang mereka menjadi pemuja kebodohan. Mengertinya seseorang terhadap kebenaran dapat diukur dengan keselarasan akhlak dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Seseorang dikatakan mengerti suatu kebenaran apabila ia bersepakat dengan tuntunan ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam kebenaran itu, walaupun mungkin masih banyak kebenaran yang belum ia mengerti. Manakala akhlak belum selaras tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, seseorang belum bisa dikatakan mengerti suatu kebenaran.
Pada tahap selanjutnya, seseorang mungkin telah bersih hatinya dan langkahnya tidak terlalu terpengaruh oleh hawa nafsu dan syahwatnya. Dalam keadaan demikian, mereka hendaknya berusaha belajar untuk dapat memahami kandungan dalam ayat-ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kebersihan hati ini tidak dapat diukur sendiri. Allah yang membersihkan hati hamba-Nya karena hamba itu ingin mensucikan diri. Kebersihan hati ini bukan diperoleh karena usaha seseorang mensucikan diri, karena itu seseorang tidak boleh menyangka ia telah bersih dari dosa. Usaha membaca kandungan kitabullah harus dilakukan dengan hati-hati, tidak menyangka bahwa pemahaman yang diperoleh merupakan kebenaran final. Tentu firman Allah merupakan kebenaran final, tetapi pemahaman yang muncul pasti bukan kebenaran final. Pemahaman itu mungkin merupakan bagian dari kebenaran holistik, tetapi pasti bukan kebenaran holistik. Bila tidak bisa menyatu dengan kebenaran holistik, pemahaman itu merupakan pemahaman yang salah.
Berusaha menjadi bagian dari kebenaran menyeluruh ini harus menjadi penghayatan utama. Setiap orang hendaknya berusaha mengenal urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya dan berusaha menjadi bagian dari urusan itu. Ini merupakan rukun islam yang pertama. Sia-sia saja umat Rasulullah SAW mencari kebenaran apabila tidak berusaha untuk menjadi bagian dari urusan Rasulullah SAW. Ada orang yang belajar agama untuk menjadi ahli berbantah-bantah tentang kebenaran sebagaimana kaum khawarij. Kadangkala seseorang berusaha mengenal kebenaran untuk dikenal sebagai orang benar atau berjasa, maka mereka akan mudah tersesat karena keinginan itu. Setiap orang harus berusaha untuk mengenal kebenaran untuk mengikuti Rasulullah SAW memberikan kebaikan bagi semesta diri mereka. Apabila seseorang berusaha untuk menjadi bagian dari Rasulullah SAW, mereka akan mudah mengerti dan mengenal kebenaran yang digelar sebagai cahaya Allah.
Sekalipun telah kokoh keinginannya mengikuti Rasulullah SAW, kadangkala seseorang tetap menemukan penentangan-penentangan dari orang lain, sahabatnya ataupun keluarganya. Hendaknya mereka benar-benar berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan kuat tidak selalu mengikuti pendapat orang-orang yang menentangnya. Musuh mereka pasti akan menentang, dan mungkin pula shahabat seperjalanan ataupun keluarganya mungkin saja menentang pemahaman dirinya dalam mengikuti tuntunan Rasulullah SAW. Hendaknya seseorang mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sikap ini tidak harus dilakukan dengan membantah atau menentang pendapat orang lain, tetapi dengan menimbang perkataan orang lain dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk menambah pengetahun. Ia hendaknya menyampaikan pengetahuannya baik bila yang membantah mau atau tidak mau menerima tanpa perlu berbantah-bantahan. Ini hanya dilakukan setelah menimbang kebenaran dalam perkataan dari orang lain dengan tuntunan kitabullah, tidak hanya menyampaikan untuk membantah kemudian lari menghindar seperti pengecut.