Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Jalan kehidupan untuk kembali kepada Allah diberikan kepada orang-orang yang memperoleh nikmat Allah. Tumbuhnya akal manusia dan masyarakat merupakan bagian dari nikmat Allah dan kematian akal dalam memahami kehendak Allah merupakan bagian keingkaran. Akal adalah kemampuan seseorang untuk dapat memahami kehendak Allah dengan benar, dibina menempuh jalan kembali kepada Allah mengikuti uswatun hasanah membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Banyak orang yang merasa beribadah dengan sebaik-baiknya kepada Allah tetapi tidak melakukan tazkiyatun-nafs dan langkah lain dalam taubat mengikuti langkah uswatun hasanah, maka pemahaman mereka itu sebenarnya hanyalah pemahaman berdasarkan hawa nafsu. Akal hanya akan tumbuh manakala seseorang melangkah bertaubat dengan tazkiyatun nafs dan langkah taubat lain hingga membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Nikmat Allah akan dipahami oleh orang-orang yang berakal, dan tidak akan diperoleh orang yang tidak tumbuh akalnya.
Kebaikan dalam kehidupan di alam dunia akan terwujud manakala masyarakat membina akal agar dapat mengikuti langkah para ulama dan fuqaha, yaitu para ulama dan fuqaha yang mengenal kehendak Allah. Ulama dan fuqaha demikian pada dasarnya telah membawa benih-benih kebaikan bagi umat manusia yang bermanfaat untuk kehidupan di alam dunia dan alam-alam selanjutnya, akan tetapi benih itu harus disemaikan di umat manusia dengan akal yang memahami nilai kebaikannya dan beramal berdasarkan pengetahuan itu agar tumbuh kebaikan secara nyata. Manakala manusia tidak mau menumbuhkan benih-benih kebaikan dari ulama dan fuqaha, umat manusia akan mengalami kesulitan.
Dari Anas ibn Malik r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda :
ﺳﻴﺎٔﺗﻲ ﺯﻣﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍٔﻣﺘﻲ ﻳﻔﺮﻭﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ،ﻓﻴﺒﺘﻠﻴﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺜﻼﺙ ﺑﻠﻴﺎﺕ ﺍٔﻭﻻﻫﺎ ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻣﻦ ﻛﺴﺒﻬﻢ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻳﺴﻠّﻂ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺳﻠﻄﺎﻧﺎ ﻇﺎﻟﻤﺎ ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻳﺨﺮﺟﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺑﻐﻴﺮ ﺍٕﻳﻤﺎﻥ
Akan datang satu masa dimana umatku akan lari (menjauh) dari ulama dan fuqaha, maka Allah akan mendatangkan tiga bencana atas mereka: 1. Allah akan mengangkat barokah dari usaha mereka, 2. Allah akan menguasakan atas mereka pemimpin yang dzalim, 3. Allah akan keluarkan dari dunia tanpa iman (HR Abu Nuaim)
Mengikuti para ulama merupakan bentuk kebersyukuran terhadap nikmat Allah yang dapat dilakukan oleh masyarakat umum. Dalam hal ini mengikuti ulama dan fuqaha adalah yang dilakukan dengan membina akal tidak dilakukan dengan sikap membuta. Sikap mengikuti harus disertai dengan berusaha memahami nilai-nilai kebaikan dari apa yang mereka serukan. Inti dari nikmat Allah itu adalah akal yang memahami, bukan pada sekadar kepatuhannya. Manakala kepatuhan dilakukan dengan mematikan akal untuk memahami ayat Allah, hal itu merupakan pengingkaran terhadap nikmat Allah. Langkah yang terbaik adalah mematuhi ulama dengan menumbuhkan akal untuk memahami ajaran ulama.
Banyak orang yang keliru dalam mengikuti langkah ulama dan fuqaha, terutama kekeliruan berupa tidak menggunakan akal. Menggunakan akal adalah membangun fasilitas dalam diri berupa akhlak mulia untuk memahami bobot nilai dari kebenaran. Ada orang yang merasa menggunakan akal dengan kesukaan membantah apa yang diajarkan tidak memikirkan nilai kebaikan dari yang disampaikan ulama. Ada orang yang benar-benar menganggap apa yang disampaikan kepada mereka merupakan kebenaran hingga mereka menganggap perkataan yang disampaikan merupakan firman Allah tanpa membangun fasilitas dalam dirinya untuk memahami kebenaran yang disampaikan. Kaum muslimin hendaknya membangun dalam dirinya kemampuan untuk mengetahui bobot nilai suatu kebenaran dengan tepat dengan akhlak mulia hingga masing-masing mengenal kehendak Allah dalam firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Landasan membangun akhlak itu adalah sifat rahman dan rahim.
Agama Dzulkhuwaisirah
Banyak orang islam yang membina akhlak secara keliru. Tidak sedikit kaum muslimin mengikuti langkah Dzulkhuwaisirah dalam membina diri sebagai hamba Allah. Mereka membanggakan syariat-syariat yang mereka pegang untuk mendatangkan kekacauan terhadap kaum muslimin yang lain dengan tuduhan-tuduhan yang tidak tepat seperti ahli bid’ah, khurafat, penyembah kubur dan tuduhan-tuduhan lain yang tidak benar. Hal itu terjadi karena mereka membanggakan syariat yang mereka laksanakan tidak memahami bahwa landasan paling penting akhlak mulia adalah sifat rahman dan rahim. Itu adalah nilai dari pengajaran Dzulkhuwaisirah. Mereka menyangka Allah akan menyukai apa yang mereka pahami, sedangkan bagi muslimin lain pemahaman mereka tampak sebagai suatu kebodohan. Allah sama sekali tidak membutuhkan pelaksanaan syariat dari manusia. Yang Allah sukai dari manusia adalah akhlak mulia yang dapat memahami kebenaran dari firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW dan mampu beramal kebaikan dengan pemahaman tersebut.
Keadaan tersebut akan bisa tercapai dengan pelaksanaan syariat secara tepat, tanpa membanggakan pelaksanaan syariat tersebut. Tanda kebanggaan itu diantaranya kebodohan terhadap nilai syariat, sering mempertanyakan hal kecil yang memberatkan diri dan tidak perlu, tidak membangun akhlak yang mampu mengenal perkara yang perlu ditunaikan untuk mewujudkan kebaikan. Kaum muslimin hendaknya berbuat dengan apa yang diketahui merupakan kebaikan dari tuntunan Allah, dan menghindari perbuatan yang diketahui merupakan keburukan, tidak memberatkan diri dengan apa yang tidak diketahui. Allah tidak membutuhkan pelaksanaan syariat dari manusia, dan sebaliknya manusia yang membutuhkan pelaksanaan syariat untuk dirinya. Muslimin tidak perlu memberatkan diri mengulik rincian syariat yang ia tidak membutuhkan. Misalnya seseorang tidak perlu bertanya dan berbangga tentang hukum menggunakan pengeras suara untuk berkhutbah, atau pelaksanaan tarawih berjamaah dan sebagainya. Agama Dzulkhuwaisirah akan menjebak manusia dengan kebanggaan pelaksanaan rincian syariat, dan berikutnya membuat kekacauan di kalangan muslimin dengan rincian syariat yang sebenarnya tidak mereka pahami. Hanya sebagian muslimin saja yang harus menjaga dan mensyiarkan rincian dari tuntunan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tanpa perlu membanggakan dan/atau membangkitkan kekacauan pada kaum muslimin.
Kaum yang mengikuti agama Dzulkhuwaisirah akan mengalami kerusakan akal. Mereka menyangka bahwa rincian syariat yang mereka lakukan dengan kebodohan itu akan menjadi persembahan kepada Allah. Mereka sebenarnya hanya menjadi hamba para tetua mereka yang menipu dengan rincian syariat tanpa membangun akhlak mulia yang berakal untuk memahami kehendak Allah. Mereka seringkali tidak mampu melihat realitas ayat Allah dan justru menimbulkan kekacauan bagi kaum muslimin. Keburukan yang mereka tuduhkan kepada kaum muslimin seringkali merupakan keadaan mereka sendiri tetapi mereka tidak bisa menyadari karena parahnya kebodohan mereka. Mereka memandang diri mereka adalah yang terbaik dalam mengikuti sunnah Rasulullah SAW, sedangkan penghayatan mereka mengikuti Dzulkhuwaisirah. Anggapan demikian itu hanya anggapan kosong. Tidak ada pelaksanaan sunnah yang benar jika dilakukan mengikuti Dzulkhuwaisirah. Mereka kebanyakan akan menjadi pembela kaum musyrikin untuk mengalahkan perjuangan kaum muslimin. Dewasa ini sekian gencar kaum yang bodoh itu memecah belah dan mencela perjuangan kaum muslimin, selaras dan senada dengan upaya tuan mereka kaum musyrikin. Hal itu bukan suatu kebetulan, tetapi mereka itu memang merupakan bagian dari kaum musyrikin.
Ahli Bid’ah
Ada pula orang-orang yang keliru dalam membina akhlak mengikuti ahlul bid’ah, membuat dan melaksanakan amal-amal yang tidak ada dalam tuntunan Allah. Kaum demikian memandang amal yang mereka lakukan sebagai perintah Allah, sedangkan tidak ada perintah Allah terkait perkara yang mereka lakukan. Mereka juga tidak memahami amal yang mereka lakukan. Sebagian di antara mereka adalah orang-orang yang mempunyai penglihatan tetapi tidak digunakan untuk melihat ayat-ayat Allah, mempunyai pendengaran tetapi tidak digunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah, dan mempunyai qalb tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah. Banyak perbuatan bid’ah yang dipandang baik oleh umat manusia akan tetapi sebenarnya mendatangkan keburukan. Mereka tidak mau atau sulit memahami ayat-ayat Allah yang disampaikan atau digelar bagi mereka dan kemudian bersibuk mengerjakan amal-amal yang lain, maka urusan Allah ditinggalkan. Ditinggalkannya ayat-ayat Allah itu mendatangkan kerusakan bagi umat manusia.
Yang bisa dipandang bid’ah adalah amal yang dianggap oleh pelakunya sebagai realisasi suatu perintah tertentu dari Allah kepada mereka, sedangkan amal itu sebenarnya tidak ada dasarnya dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Barangkali ada suasana megalomania sebagai hamba yang khusus dalam amal tersebut, tetapi tidak selalu ada atau tampak. Demikian itulah bid’ah, hendaknya masalah ini tidak dikacaukan atau dituduhkan terhadap amal-amal yang dilakukan dengan mengharapkan kebaikan. Pemeluk agama Dzulkhuwaisirah menggunakan terminologi bid’ah secara rancu untuk membangkitkan perselisihan di antara muslimin tanpa berusaha memahami tuntunan dengan sebaik-baiknya. Sangat banyak orang yang melakukan sesuatu digolongkan sebagai ahli bid’ah, sedangkan yang dituduh tidak menganggap diri mereka sebagai penerima perintah Allah. Orang yang beramal dengan berharap untuk memperoleh kebaikan dengan amalnya banyak dituduh bid’ah oleh pengikut Dzulkhuwaisirah. Tuduhan itu adalah tuduhan yang tidak berdasar.
Sasaran dari amal-amal ahlul bid’ah adalah pembodohan dan ditinggalkannya urusan Allah yang seharusnya dilaksanakan oleh kaum mukminin. Ayat-ayat Allah yang digelar pada ayat kuaniyah tidak dipahami dengan baik, dan mukminin disibukkan dengan amal-amal yang dibuat-buat sendiri tanpa peduli dengan ayat-ayat Allah. Amal mereka berdiri sendiri tanpa hubungan yang kokoh terhadap suatu tuntunan tertentu dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tetapi dikatakan bahwa amal itu merupakan perintah Allah. Anggapan bahwa amal mereka merupakan perintah Allah itu merupakan suatu bid’ah yang akan merusak keadaan kaum mukminin. Akal kaum mukminin akan tercerabut dari ayat-ayat Allah hanya berpijak pada persepsi inderawi sendiri saja, tidak mengakar pada realitas ayat Allah. Amal bid’ah ini seringkali terlihat baik tetapi sebenarnya meninggalkan urusan Allah yang seharusnya diperhatikan oleh kaum mukminin. Seandainya anggapan itu adalah harapan terhadap jalan ibadah berupa pelaksanaan urusan Allah, hati mereka akan terbuka terhadap ayat-ayat Allah. Seandainya mereka berusaha memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan teliti, kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan meluruskan amal-amal mereka. Sayangnya seringkali mereka menganggap pemahaman diri mereka adalah perintah Allah, maka anggapan itu menjadi selubung penutup bid’ah yang mereka lakukan.
Pembinaan Masyarakat
Kesalahan-kesalahan pembinaan akhlak akan menjadikan umat manusia sebagai kaum yang meninggalkan ulama dan fuqaha. Akhlak yang keliru menjadikan manusia tidak mengenal kebenaran dan penyampainya. Ulama dan fuqaha yang sebenarnya adalah ulama dan fuqaha yang memahami dengan benar realitas kauniyah berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasululullah SAW. Ada orang-orang yang mengetahui keadaan kauniyah diri mereka tetapi tidak mempunyai pengetahuan tentang tuntunan Allah terkait kauniyah itu, maka mereka belum mencapai kedudukan ulama. Ada orang yang banyak membaca tuntunan kitabullah tetapi tidak mengetahui hubungannya dengan realitas kauniyah yang digelar, maka mereka tidak mengerti perintah Allah yang harus ditunaikan. Ulama dan fuqaha adalah orang-orang yang mengetahui kandungan dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW terkait dengan keadaan kauniyah mereka sedemikian mereka mempunyai pengetahuan untuk menentukan langkah yang perlu dilakukan untuk memperoleh kebaikan bagi kehidupan mereka.
Ulama dan fuqaha demikian itulah yang dapat mendatangkan kebaikan bagi kasab kaum muslimin di suatu negeri dan menjadikan Allah mengangkat pemimpin yang baik bagi negeri tersebut, serta dapat menunjukkan keimanan yang sungguh-sungguh. Akan tetapi ulama dan fuqaha tidak bisa berbuat sendirian mendatangkan kebaikan-kebaikan tersebut. Manakala suatu kaum meninggalkan ulama dan fuqaha, seluruh kaum akan ditimpa keadaan yang buruk berupa sulitnya kasab kaum tersebut, diangkatnya pemimpin yang dzalim dan kematian tanpa iman. Ulama dan fuqaha itu akan tampak sebagai orang yang susah kala ditinggalkan kaumnya. Seringkali kaum yang meninggalkan ulama dan fuqaha tidak menyadari keadaan, menyangka bahwa mereka adalah orang-orang yang berbuat kebaikan tanpa mengetahui bahwa sebenarnya mereka mengalami kesulitan karena urusan Allah yang ditinggalkan, dengan ditinggalkannya ulama dan fuqaha.
Meninggalkan ulama dan fuqaha menunjukkan manusia meninggalkan urusan Allah yang harus ditunaikan. Ini bukan masalah panteisme. Usaha manusia untuk memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW belum tentu dilakukan dengan benar. Perselisihan di antara kaum muslimin bisa saja terjadi sedangkan masing-masing berpegang pada tuntunan kitabullah. Hal itu bisa terjadi karena ada yang tidak tepat dalam memahami kitabullah. Ulama dan fuqaha bisa memahami dengan benar kandungan dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, selaras dengan pemahaman terhadap kauniyah yang digelar bagi masing-masing. Manakala ada ulama dan fuqaha yang benar ditinggalkan umat, mereka sebenarnya meninggalkan urusan Allah sekalipun mereka berusaha keras untuk berbuat kebaikan mengikuti hawa nafsu masing-masing.
Menyeru pemakmuran kehidupan alam dunia dengan akal yang memahami merupakan tugas para ulama. Ulama harus memikirkan agar kasab kehidupan bangsa menjadi lebih baik, menunjukkan pemimpin dari orang yang baik tidak dzalim, dan mengenalkan keimanan yang sebenarnya, keimanan yang tidak terlepas ketika kematian menghampiri. Penataan umat manusia hendaknya dilakukan secara menyeluruh, baik penataan masing-masing individu maupun penataan masyarakat dimulai dari penataan keluarga. Sebenarnya ada suatu tatanan dalam diri individu yang ditentukan Allah, dan tatanan itu hanya dapat dicapai melalui pembinaan akhlak. Secara ideal, manusia harus menundukkan keinginan duniawi dan hawa nafsu untuk mengikuti nafs wahidah, dan nafs wahidah mengikuti ruh yang mengajarkan urusan Allah. Tanpa pembinaan akhlak, manusia atau masyarakat tidak akan mengetahui tatanan yang ditentukan. Selain itu ada penataan yang harus dilakukan di tingkat masyarakat, dimulai dengan upaya penataan keluarga dan diluaskan hingga terbentuk tatanan masyarakat. Bila tatanan keluarga dirusak, masyarakat akan ikut menjadi rusak bahkan seandainya individu di masyarakat tersebut adalah orang-orang yang shalih.
Hal demikian hanya dapat dicapai melalui pembinaan akhlak dengan keimanan yang benar. Banyak orang yang merasa beriman tetapi sebenarnya tidak menyentuh tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak jarang ditemui orang beriman yang selalu memandang masalah hanya dari satu sudut pandang, misalnya dipandang ujian dari Allah. Hal demikian mungkin benar tetapi bisa saja hanya berlaku pada satu tahap atau satu kasus tertentu saja. Ada banyak kasus penyebab kesulitan dalam kehidupan yang harus diungkap selaras dengan petunjuk Allah. Misalnya bisa saja kesulitan itu sebenarnya merupakan dampak dari sikap yang salah yang harus diperbaiki. Kesalahan demikian tidak sama dengan ujian Allah karena akan mendatangkan kesulitan di dunia dan juga kelak di akhirat. Kadangkala keimanan menjadi lebih buruk dari itu. Misalnya mungkin saja ada orang-orang yang memperoleh petunjuk untuk memperbaiki keadaan diri mereka dan masyarakatnya, tetapi umat manusia kemudian merusak pelaksanaan petunjuk itu karena keimanan yang keliru hingga menghalangi seseorang dari agamanya. Dengan keimanan yang keliru demikian keadaan masyarakat akan semakin berantakan. Setiap orang harus menambah keimanan secara benar dengan berusaha menggali tuntunan kitabullah terkait kehidupan masing-masing.