Pencarian

Selasa, 28 Juli 2026

Ishlah Mukminin Sebagai Basis Penataan Bermasyarakat

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Di antara tanda benarnya mengikuti langkah Rasulullah SAW adalah terwujudnya pemakmuran alam dunia dengan tatanan bermasyarakat yang baik berdasar pengetahuan yang benar. Kaum mukminin harus mengambil peran sebagai pelopor perubahan yang baik di masyarakat. Perubahan yang baik hanya dapat dilakukan dengan memperhatikan keilmuan yang bermanfaat dan menerapkan keilmuan itu secara luas. Tidak ada kaum yang lebih bertanggungjawab atas keadaan umat selain kaum mukminin. Manakala kaum mukminin tidak memperhatikan keilmuan, umat akan berada dalam keadaan buruk dengan kasab yang tidak berkah, pemimpin yang dzalim dan keimanan yang tercerabut ketika kematian. Demikian pula buruknya keadaan muslimin merupakan akibat dari keteledoran kaum mukminin dalam memperhatikan keilmuan.

Kaum mukminin hendaknya memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk diterapkan dalam kehidupan, tidak hanya bertindak berdasar pikiran sendiri. Tidak sedikit orang beriman yang mengabaikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, baik untuk kehidupan di antara mukminin sendiri maupun untuk bermasyarakat secara luas. Penataan kehidupan di antara mukminin merupakan pangkal penataan kehidupan bermasyarakat secara lebih luas, baik mukminin, muslimin, hingga tatanan berbangsa dan antar bangsa. Bila tatanan di antara mukminin sendiri berantakan, sulit bagi mukminin memahami tuntunan Allah tentang tatanan masyarakat yang lebih luas.

Kerukunan di antara kaum mukminin misalnya, harus ditata dengan tuntunan Allah tidak boleh ditata mengikuti pendapat yang keliru.

﴾۰۱﴿إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara, maka perbaikilah hubungan antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (QS Al-Hujurat : 10)

Di antara bentuk penataan yang harus dilakukan adalah hendaknya orang beriman mengishlahkan hubungan di antara saudara-saudara mereka hingga terbentuk hubungan peran yang baik di antara orang beriman. Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara satu dengan yang lain, maka hendaknya dibangun hubungan sinergis di antara kaum mukminin. Ini merupakan salah satu pangkal dari tatanan bermasyarakat. Melupakan hal ini akan merusak tatanan bermasyarakat secara luas karena orang beriman merupakan pusat dari penataan manusia. Kaum mukminin tidak boleh bersikap seenaknya sendiri bertentangan dengan tuntunan ayat di atas, karena itu akan mendatangkan madlarat pada tatanan umat manusia baik antara kaum mukminin, muslimin dan berbangsa dan antar bangsa.

Ishlah di antara mukmin dilakukan pada berbagai keadaan mukminin. Ishlah seorang mukmin terhadap yang lain bukan hanya dibentuk atas hubungan antara diri sendiri dengan mukmin lain tetapi juga atas hubungan satu mukmin dengan mukmin lain dalam berbagai bentuk hubungannya. Terdapat sangat banyak keadaan yang mungkin terjadi di antara mukminin. Misalnya di antara mukminin yang mengenal diri, mungkin terdapat hubungan yang erat antara amr yang harus dikerjakan oleh satu mukmin dengan amr yang harus dikerjakan oleh mukmin lain. Hubungan amr demikian harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya dengan membentuk sinergi di antara kedua usaha yang harus dilakukan. Membentuk sinergi yang sebaik-baiknya itu merupakan bentuk ishlah di antara al-mukminin. Contoh lainnya, mungkin terdapat perbedaan pendapat atau perselisihan antara satu orang mukmin dengan mukmin lain yang harus didamaikan oleh kaum mukminin. Pendamaian pihak-pihak mukminin yang berselisih demikian termasuk sebagai upaya ishlah. Sangat banyak bentuk ishlah yang harus dilakukan, meliputi setiap bentuk hubungan yang bisa terjadi di antara individu kaum mukminin.

Ishlah yang dilakukan atas kaum mukminin merupakan pendahuluan yang akan menjadi moda penataan umat secara menyeluruh. Bila kaum mukminin tidak membentuk ishlah di antara mereka, umat secara menyeluruh tidak akan berproses untuk membentuk masyarakat yang baik. Mungkin banyak orang di antara masyarakat menginginkan perbaikan tetapi tidak menemukan rintisan yang dilakukan dengan benar. Bila penataan mukminin tidak dilakukan atas kaum mukminin terlebih dahulu, penataan umat pada tingkat yang lain akan sulit dilakukan atau tidak akan terlaksana dengan baik. Penataan tanpa melibatkan kaum mukminin terlebih dahulu bisa saja menjadikan penataan menjadi tidak seimbang atau timpang. Tidak jarang justru terjadi kerusakan tatanan bermasyarakat manakala tidak dilakukan dimulai dari kaum mukminin. Ishlah di antara mukminin merupakan pendahuluan moda penataan umat.

Membentuk ishlah harus dijadikan kultur di antara orang beriman bukan suatu usaha yang dilakukan secara kadang-kadang saja. Ishlah dilakukan dengan memperhatikan keadaan setiap orang beriman. Pada dasarnya satu orang beriman merupakan saudara orang beriman lainnya, terdapat di dalamnya suatu bentuk hubungan tertentu yang harus diwujudkan. Mungkin persaudaraan itu bersifat saudara dekat, dan mungkin pula bersifat saudara jauh yang berikatan melalui beberapa bentuk hubungan yang lain. Mungkin pula terdapat perselisihan dalam hubungan itu yang harus diluruskan untuk terwujudnya ishlah. Tidak boleh ada mukminin yang tidak diperhatikan, setidaknya oleh sahabat dekatnya. Mungkin seseorang tidak harus memperhatikan seluruh mukminin, tetapi harus ada orang tertentu yang memperhatikan setiap mukminin. Membentuk ishlah demikian akan memudahkan orang beriman untuk menempuh perjalanan menuju kedekatan kepada Allah, dan merupakan tunas terwujudnya tatanan yang baik di masyarakat luas.

Memperhatikan keadaan orang beriman lain hendaknya dilakukan dengan mengikuti keilmuan yang benar berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kaum mukminin harus berkembang menuju arah kebaikan di atas ilmu yang benar tidak boleh tumbuh menuju kebathilan. Hendaknya orang yang mempunyai pengetahuan dari kitabullah memimpin arah perkembangan kaum mukminin. Berikutnya orang-orang yang berilmu ditempatkan sesuai kedudukan ilmunya untuk memimpin saudara-saudara yang mempunyai perhatian yang selaras, dan orang-orang beriman secara umum memperhatikan sahabatnya dengan keilmuan yang benar yang diajarkan orang berilmu. Perkembangan itu harus ditumbuhkan di atas pondasi yang kokoh dengan teratur tidak berdasarkan prasangka saja.

Memperhatikan keadaan sahabat dengan hawa nafsu (ataupun pendapat syaitan) merupakan benih kerusakan. Keimanan terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hendaknya dijadikan pedoman dalam memperhatikan keadaan sahabat orang beriman. Menilai keilmuan harus dilakukan dengan hati yang bersih berpedoman pada tuntunan yang benar, tidak dengan prasangka buruk terhadap sahabatnya. Dengan cara demikian, seseorang dapat melihat keadaan sahabatnya dengan benar dan membantu memberikan ishlah secara tepat kepada sahabatnya terhadap dirinya, terhadap sahabat yang lain dan jamaah secara keseluruhan. Bila masukan terhadap sahabat untuk ishlah tidak ditimbang kebenarannya berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, masukan itu justru bisa menjadi penghancur ishlah dan tatanan yang baik di antara orang-orang beriman. Orang berilmu mungkin dipandang hina, dan orang bodoh dipandang berilmu, maka tatanan masyarakat akan menjadi berantakan.

Seringkali mukminin tidak membentuk hubungan sinergis di antara mereka karena tidak menyadari makna perintah ayat di atas. Kadangkala orang beriman bertindak tidak tepat karena ilmu yang salah. Misalnya orang beriman kadang tidak mengishlahkan saudara-saudara mereka yang berselisih, bahkan lebih buruk lagi justru membangkitkan perselisihan di antara orang-orang yang ingin melakukan ishlah dari perselisihan mereka. Ini adalah sikap yang sangat buruk mengikuti pendapat sendiri bertentangan dengan perintah kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW yang akan mendatangkan kerusakan bagi tatanan umat islam dan umat manusia secara umum. Bahkan kadang dijumpai perbuatan yang paling buruk menimbulkan kerusakan pada tatanan umat manusia. Keadaan yang paling buruk bisa terjadi manakala orang beriman menggunakan fitnah-fitnah menjadikan suami isteri yang beriman berselisih jalan, atau menjadikan pasangan suami isteri mukminin terpisah, dan hal itu akan mendatangkan fitnah yang paling besar bagi umat manusia.

Kerusakan akibat pelanggaran terhadap tuntunan demikian sangat besar. Suatu bangsa akan menjadi lemah sedemikian kasab penghidupan mereka tidak mendatangkan berkah bagi kehidupan bermasyarakat, para penguasa di antara mereka berbuat dzalim terhadap masyarakat luas, dan keimanan mereka akan tanggal ketika kematian tiba. Untuk memperbaiki keadaan, keadaan mukminin harus diperbaiki dari kerusakannya. Tatanan dalam rumah tangga menurut tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW harus disosialisasikan pada keluarga-keluarga mukminin, pasangan-pasangan jiwa yang terpisah hendaknya dipersatukan kembali, orang-orang beriman yang menginginkan ishlah hendaknya diishlahkan, demikian pula orang-orang yang berselisih hendaknya diishlahkan. Mukminin tidak boleh menentukan sikap lain yang bertentangan dengan tuntunan ayat kitabullah ini, karena akan mendatangkan kerusakan yang besar bagi tatanan bermasyarakat.

Sarana Membaca Ayat Allah

Ada tingkat fundamentalitas hubungan sosial yang harus diperhatikan dalam melakukan ishlah antar mukminin dan membentuk tatanan bermasyarakat, satu tatanan menjadi fundamen bagi tatanan yang lain. Bentuk hubungan sosial antar mukmin paling fundamental adalah pernikahan, yang bersifat melekat setiap saat dan berlaku abadi kecuali keduanya bersepakat bercerai. Pernikahan dan bentuk ta’addudnya merupakan bentuk sinergi paling fundamental diantara kaum mukminin, baik hubungan sinergi antara suami isteri ataupun hubungan sinergi di antara para madu. Perbaikan hubungan di tingkat pernikahan itu akan mendatangkan perbaikan hubungan sinergi di antara komunitas orang beriman. Setiap mukmin hendaknya berusaha untuk dapat menempatkan dirinya secara tepat dalam kebersamaan dengan pasangan menikahnya. Mengenal urusan Rasulullah SAW dapat dilakukan dengan melihat ayat-ayat Allah, terutama yang terjadi secara aktual baik secara dzahir ataupun bathin. Interaksi antara suami dan isteri dan keluarga mereka selalu memunculkan ayat-ayat ini. Demikian pula interaksi di antara orang beriman merupakan sumber utama yang memunculkan ayat-ayat ini. Ayat-ayat ini hendaknya diperhatikan berdasarkan tuntunan Allah agar masing-masing mengerti urusan Rasulullah SAW.

Mustahil membangun hubungan peran sinergis antara orang-orang beriman apabila fundamen sinergi justru dirusak. Pasangan menikah akan mampu menampilkan potensi diri mereka dengan baik apabila pernikahan mereka dalam keadaan baik sedemikian mukminin lain dapat menimbang dengan tepat bobot nilai potensi mereka terhindar dari fitnah. Itu akan menumbuhkan sinergi yang baik di antara orang beriman. Terbangunnya sinergi di antara orang beriman akan mendatangkan perbaikan tatanan bermasyarakat di antara muslimin, dan berikutnya akan mendatangkan tatanan yang baik bagi seluruh bangsa. Sebaliknya apabila fundamen tatanan bermasyarakat dirusak, akan timbul fitnah lebih besar terhadap mereka.

Suatu pernikahan akan menjadikan seseorang menyadari arti penting membangun hubungan sosial bermasyarakat secara vertikal ke atas dan ke bawah sebagaimana hubungan isteri dan suami, atau secara horizontal sebagaimana hubungan para madu, dan pentingnya membangun keterampilan dalam melaksanakan peran masing-masing bagi yang lain. Proses ishlah akan selalu terasah di dalam pernikahan yang akan akan menjadikan mereka mempunyai kemampuan untuk memberikan manfaat secara benar, baik dengan amal-amal yang terlihat kecil ataupun amal yang tampak layaknya pekerjaan besar. Suatu amal yang terlihat kecil yang dilakukan dengan benar sesuai dengan kehendak Allah sebenarnya bisa mendatangkan manfaat yang sangat besar. Amal yang terlahir dari pasangan yang memperoleh pengetahuan dari pernikahannya akan memberikan potensi manfaat yang sangat besar bagi masyarakat luas karena kesesuaian amal mereka terhadap kehendak Allah, dan potensi manfaat itu akan lebih mudah terwujud manakala terbentuk sinergi yang baik di antara pasangan menikah.

Ishlah akan mengantarkan seseorang untuk memperoleh washilah secara vertikal kepada kedua uswatun hasanah melalui terbentuknya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Washilah tidak selalu ditunjukkan besarnya nama seseorang dalam pandangan manusia, tetapi selalu menunjukkan nilai manfaat yang besar dari amal mereka bagi umat manusia yang kadangkala tidak disadari oleh orang lain. Nilai manfaat itu disadari oleh orang yang cukup kuat akalnya, sedangkan kebanyakan manusia hidup hanya mengikuti waham sendiri atau cara pikir masyarakat umum sehingga mungkin tidak mengerti nilai manfaatnya. Melalui pernikahan, akal seorang laki-laki akan memperoleh jalan untuk memahami kehendak Allah mengikuti Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s mewujudkan sifat Rahman dan Rahim di bumi. Manakala seorang isteri dapat mengikuti suaminya mewujudkannya, umat akan mudah memahami nilai manfaat yang dapat diberikan pasangan itu. Bayt itu menjadi sarana yang efektif bagi mereka untuk dapat mengenali kehendak Allah dan mensyiarkan kehendak Allah itu kepada umat mereka dengan mudah. Mereka bisa memimpin umat mereka untuk membentuk ishlah di antara kaum mukminin dan mendatangkan kemakmuran di bumi.

Kadangkala manusia berusaha mencari washilah kepada uswatun hasanah melalui hal-hal yang dipandang mendatangkan washilah tanpa berusaha menghayati uswah berupa sunnah dan millah kedua uswatun hasanah. Ketika sesuatu dikatakan bisa mendatangkan washilah, umat berbondong mengikutinya tanpa berusaha memahami nilai sesuatu itu berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Yang menjadi washilah kepada uswatun hasanah itu adalah kemampuan akal untuk memahami tuntunan Allah, bukan amal yang dilakukan. Amal memperkuat akal untuk memahami tuntunan Allah, tetapi kadangkala amal hanya sia-sia saja karena kurangnya keikhlasan dalam beramal, yang seringkali dilaksanakan hanya mengikuti arus perkataan manusia saja. Untuk dapat memperoleh washilah, seseorang hendaknya berusaha untuk menempatkan diri dalam suatu jalan sunnah dengan berusaha mengenali urusan Rasulullah SAW dan berusaha mengarahkan amalnya untuk membantu urusan Rasulullah SAW yang dikenalinya.

Mengenal urusan Rasulullah SAW dapat dilakukan dengan melihat ayat-ayat Allah, terutama yang terjadi secara aktual baik secara dzahir ataupun bathin. Interaksi antara suami dan isteri dan keluarga mereka selalu memunculkan ayat-ayat ini. Demikian pula interaksi di antara orang beriman merupakan sumber utama yang memunculkan ayat-ayat ini. Ayat-ayat ini hendaknya diperhatikan berdasarkan tuntunan Allah agar masing-masing mengerti urusan Rasulullah SAW. Seringkali manusia tergesa-gesa dalam berusaha menemukan amal dalam bentuk yang nyata tanpa berusaha mengenali ayat-ayat Allah. Ketika suatu amal dikatakan sebagai washilah, mereka berbondong-bondong mengikuti amal itu tanpa menilai ayat Allah yang menjadi landasan amalnya. Tidak jarang urusan Allah ditinggalkan untuk mengejar apa yang mereka pandang sebagai washilah. Manakala dibacakan ayat-ayat Allah yang seharusnya lebih diperhatikan untuk menjadi sarana memperoleh washilah, mereka mengabaikan ayat-ayat itu karena lebih berhasrat terhadap bentuk-bentuk yang lebih dzahir karena lebih terlihat manusia, terlupa dengan sarana yang lebih haq. Tanpa suatu pemahaman terhadap urusan Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s, akan sulit bagi manusia untuk memperoleh washilah kedua uswatun hasanah tersebut.

Ishlah merupakan bagian utama dari upaya setiap mukmin agar dapat mengenal jalan memperoleh washilah kepada Rasulullah SAW. Ishlah dimulai dengan memahami keadaan masing-masing dan diikuti memperhatikan keadaan orang beriman yang ada di sekitarnya secara benar. Ilmu seseorang terkait tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW harus dihargai sesuai dengan nilainya, tidak boleh dinilai berdasarkan pendapat yang keliru. Demikian pula orang yang berilmu dihargai menurut nilai kebenarannya tidak direndahkan mengikuti pendapat manusia yang tidak tepat. Ini terkait dengan penghargaan akal diri sendiri, sedemikian akal seseorang menjadi berharga bagi dirinya sendiri. Penghormatan terhadap nilai akal ini akan mengantarkan seseorang atau suatu kaum untuk mengenal urusan Rasulullah SAW hingga mereka memperoleh wasilah, tidak hanya mengikuti arus perkataan manusia.

Senin, 20 Juli 2026

Membentuk Tatanan Masyarakat

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Tauladan Rasulullah SAW sebenarnya diperpanjang hingga mencapai kehidupan jaman ini dan juga seterusnya, tidak berhenti pada jaman Rasulullah SAW saja. Di antara bentuk perpanjangan tauladan Rasulullah SAW adalah kehadiran para ulama dan fuqaha, yaitu para ulama dan fuqaha yang mengenal kehendak Allah. Kebaikan dalam kehidupan di alam dunia akan terwujud manakala masyarakat membina akal agar dapat mengikuti langkah para ulama dan fuqaha. Ulama dan fuqaha pada dasarnya membawa benih-benih kebaikan bagian dari Rasulullah SAW bagi umat manusia yang bermanfaat untuk kehidupan di alam dunia dan alam-alam selanjutnya. Benih-benih itu harus disemaikan di umat manusia agar tumbuh kebaikan secara nyata dengan akal yang memahami nilai kebaikannya dan beramal berdasarkan pengteahuan itu. Manakala manusia tidak mau menumbuhkan benih-benih kebaikan dari ulama dan fuqaha, umat manusia akan mengalami kesulitan.

Dari Anas ibn Malik r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda :

ﺳﻴﺎٔﺗﻲ ﺯﻣﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍٔﻣﺘﻲ ﻳﻔﺮﻭﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ،ﻓﻴﺒﺘﻠﻴﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺜﻼﺙ ﺑﻠﻴﺎﺕ ﺍٔﻭﻻﻫﺎ ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻣﻦ ﻛﺴﺒﻬﻢ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻳﺴﻠّﻂ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺳﻠﻄﺎﻧﺎ ﻇﺎﻟﻤﺎ ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻳﺨﺮﺟﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺑﻐﻴﺮ ﺍٕﻳﻤﺎﻥ
Akan datang satu masa dimana umatku akan lari (menjauh) dari ulama dan fuqaha, maka Allah akan mendatangkan tiga bencana atas mereka: 1. Allah akan mengangkat barokah dari usaha mereka, 2. Allah akan menguasakan atas mereka pemimpin yang dzalim, 3. Allah akan keluarkan dari dunia tanpa iman (HR Abu Nuaim)

Dewasa ini, keadaan umat islam di nusantara tampak sangat tidak baik-baik saja. Penghidupan kasab di antara kaum muslimin tampak sangat sulit. Para pemimpin umat hanya memikirkan kekuasaan mereka sendiri. Bahkan ketika pemimpin itu memperoleh kedudukannya dengan citra keislaman, mereka banyak yang tidak peduli dengan tatanan sosial yang baik, hanya memikirkan bagaimana memperoleh kedudukan dalam penataan sumber daya yang bisa dikuasai. Keadaan demikian banyak tidak disadari oleh umat islam, memandang bahwa sistem pemerintahan yang mereka terapkan adalah sistem yang paling baik, sedangkan kenyataannya hanya menghasilkan para penguasa dan pejabat yang memikirkan diri sendiri. Orang-orang baik yang berkomitmen menjadi wakil-wakil rakyat yang baik banyak yang kemudian meninggalkan kedudukan mereka karena sistem yang tidak mendukung untuk memperjuangkan kebaikan bagi rakyat.

Masalah demikian sebenarnya terkait dengan keadaan umat sendiri, di mana mereka tidak memperhatikan pengajaran dan arahan dari para ulama dan fuqaha di antara mereka. Para ulama dan fuqaha itu mempunyai pengetahuan tentang akar permasalahan yang terjadi pada bangsa mereka setidaknya dalam bentuk hakikatnya, sedemikian mereka dapat memberikan arahan tentang upaya yang harus dilakukan untuk mewujudkan keadaan yang lebih baik. Apabila umat menyambut yang disampaikan ulama dan fuqaha, mereka akan semakin mengetahui hubungan hakikat itu dengan realitas yang terjadi, dan umat secara umum akan memperoleh jalan untuk mewujudkan perbaikan keadaan umat. Apabila umat tidak memperhatikan pengajaran dan arahan ulama dan fuqaha, mereka akan terliputi oleh keadaan yang tampak tidak mempunyai ujung pangkal masalah.

Proses pengentasan dari masalah ini berlaku terkait ulama dan fuqaha yang mengenal Allah. Banyak tingkatan di antara para ulama, dari ulama yang mengenal Allah hingga ulama buruk yang memanfaatkan dalil-dalil untuk memperoleh kedudukan di antara masyarakat, serta sangat banyak tingkatan ulama-ulama yang di antara keduanya. Semakin dekat ilmu seseorang dengan pengenalan kepada Allah, semakin baik pengetahuan mereka tentang hakikat dari keadaan yang terjadi, kecuali apabila seseorang tersesat dari jalan kembali kepada Allah. Kesesatan itu akan mendatangkan kerusakan selain kebaikan dari sebagian ilmunya yang benar, sedangkan kerusakan itu lebih besar daripada kebaikan yang muncul. Semakin jelas pengetahuan seseorang tentang kehendak Allah, semakin besar manfaat yang dapat muncul dari pengetahuan tersebut.

Sangat banyak fenomena yang menunjukkan ditinggalkannya ulama dan fuqaha oleh umat, berupa tidak adanya perhatian memadai terhadap pengajaran keilmuan yang benar. Sebagian kaum bertindak hanya mengikuti hawa nafsu dan keinginan duniawi mereka sendiri tidak memperhatikan keadaan secara lebih luas. Sebagian kaum berusaha mengikuti panutan-panutan mereka tanpa memperhatikan nilai kebaikan dan benar atau salahnya langkah yang ditempuh panutan mereka. Sebagian orang merasa menjadi ulama tanpa mau memperhatikan kemungkinan adanya kebaikan pada perkataan orang lain, terliputi oleh kesombongan dirinya. Seringkali mereka diikuti oleh kalangan besar pengikut yang bodoh. Orang-orang demikian itu sebenarnya bukanlah ulama. Ulama adalah orang yang berusaha dengan sebaik-baiknya memahami dan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW agar terwujud kebaikan bagi masyarakat secara luas. Sangat banyak bentuk fenomena yang menunjukkan ditinggalkannya ulama dan fuqaha oleh umat. Gejala yang menjadi tanda ditinggalkannya ulama dan fuqaha adalah ketidakberkahan pada kasab-kasab penghidupan umat, diangkatnya para penguasa yang dzalim dan tanggalnya keimanan ketika seseorang meninggalkan dunia.

Sekalipun tampak berkecimpung dalam keilmuan, mungkin saja sebenarnya umat meninggalkan ulama dan fuqaha mereka, yaitu apabila mereka tidak memperhatikan nilai manfaat dari ilmu mereka.Sangat banyak bentuk ditinggalkannya ilmu saat ini baik oleh orang yang tidak peduli dengan ilmu yang bermanfaat ataupun orang yang tidak memperhatikan manfaat dari ilmu yang mereka caari. Kaum khawarij sedemikian mengagungkan ilmu syariat sedemikian mereka tampak menyembah syariat itu seperti langkah Dzulkhuwaisirah tanpa merasa perlu memahami kehendak Allah ataupun manfaat yang harus diperoleh dari ilmu mereka. Sebagian orang sedemikian mengagungkan ilmu pada diri seseorang tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Untuk mengikuti ulama dan fuqaha, setiap orang harus belajar mengenali nilai manfaat dari ilmu yang mereka berkomitmen terhadapnya.

Keilmuan yang tidak menjadikan kasab-kasab suatu umat sebagai sumber barakah, tidak menjadikan umat mengerti tatanan masyarakat yang lebih baik, dan tidak menjadi keimanan yang tidak tanggal ketika kematian tiba bukanlah keilmuan yang menjadikan seseorang dapat digolongkan sebagai ulama dan fuqaha. Mungkin seorang ulama tidak mempunyai seluruh pengetahuan yang menjadikan umat menjadi lebih baik, akan tetapi pengetahuan yang diberikan ulama akan menjadikan umat lebih baik, sedikit ataupun banyak. Bila pengetahuan yang diberikan hanya sia-sia saja atau justru menimbulkan keadaan yang lebih buruk bagi umat baik dalam urusan kasab umat ataupun tatanan bermasyarakat dan keimanan mereka, maka itu bukan keilmuan yang benar. Umat harus menimbang keilmuan dengan nilai manfaat yang ditumbuhkan ilmu tersebut, tidak terburu-buru memandang segala yang disampaikan orang lain merupakan ilmu yang bermanfaat. Sikap ini hendaknya tidak digunakan untuk menghakimi orang lain, tetapi untuk menemukan manfaat dari suatu ilmu. Para fanatik seringkali tidak bisa menimbang nilai manfaat dari ilmu hingga kadang ilmu yang merusak dipandang sebagai ilmu yang bermanfaat.

Pengabaian ilmu-ilmu yang mendatangkan berkah dalam kasab-kasab penghidupan umat, perbaikan dalam tatanan bermasyarakat, dan tumbuhnya keimanan yang tidak tanggal ketika kematian tiba merupakan tindakan meninggalkan para ulama dan fuqaha. Dalam banyak peristiwa, para ulama dan fuqaha bukanlah orang yang ingin memperoleh perhatian terhadap dirinya, tetapi menginginkan perhatian umat terhadap keilmuan yang mereka sampaikan, untuk kebaikan umat. Ditinggalkannya ilmu yang bermanfaat oleh umat lebih mengecewakan para ulama dan fuqaha dibandingkan ditinggalkannya diri mereka oleh umat. Sekalipun demikian, Rasulullah SAW tetap menyebutkan ditinggalkannya ulama dan fuqaha sebagai penyebab permasalahan umat. Hal ini tidak terkait dengan emosi para ulama dan fuqaha, tetapi karena duduknya ilmu itu pada diri ulama dan fuqaha sebagai pengikut Rasulullah SAW. Para ulama dan fuqaha itu akan merasa kecewa karena ditinggalkannya ilmu mereka oleh umat.

Landasan Tatanan Bermasyarakat

Saat ini tatanan umat muslim tampak sangat berantakan mengadopsi tatanan yang dirumuskan oleh kaum lain. Umat muslimin tampak tidak mempunyai rumusan tatanan bermasyarakat yang dapat diterapkan untuk kehidupan bermasyarakat di antara mereka. Penguasaan sendi kehidupan bermasyarakat dengan mudah direbut oleh orang-orang yang tamak dengan harta benda dan kehormatan diri sendiri, sedangkan orang-orang yang berintegritas tinggi justru disingkirkan. Demikian pula dalam kehidupan di antara muslimin dan mukminin, orang-orang yang mempunyai ilmu yang bermanfaat dengan mudah disingkirkan dari kehidupan bermasyarakat. Banyak orang di masyarakat justru mengagung-agungkan ilmu yang tidak jelas nilai manfaatnya bagi mereka seperti kaum khawarij yang mengagungkan pengetahuan mereka tentang syariat. Masyarakat muslim tampak tidak mempunyai identitas sendiri yang dibangun mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Membangun tatanan bermasyarakat harus dilakukan dengan menggali pengetahuan dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang terkait, diperhatikan dengan seksama dengan memperhatikan hubungan satu pengetahuan dengan pengetahuan yang lain, tidak hanya dilakukan dengan mencomot secara acak. Kaum mukminin harus menjadi pelopor perubahan di masyarakat muslimin dengan memperhatikan keilmuan yang bermanfaat dan menerapkan keilmuan itu secara luas. Tidak ada kaum yang lebih bertanggungjawab atas keadaan umat selain kaum mukminin, baik perbaikan keadaan umat ataupun buruknya keadaan umat. Manakala kaum mukminin tidak memperhatikan keilmuan mereka, umat akan berada dalam keadaan buruk dengan kasab yang tidak berkah, pemimpin yang dzalim dan keimanan yang tercerabut ketika kematian. Demikian pula buruknya keadaan muslimin demikian merupakan akibat dari keteledoran kaum mukminin dalam memperhatikan keilmuan mereka.

Kaum mukminin harus memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk diterapkan dalam kehidupan, tidak hanya bertindak dengan kepandaian mereka sendiri. Tidak sedikit orang beriman yang mengabaikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW mengikuti kepandaian mereka sendiri, baik untuk kehidupan di antara mukminin sendiri maupun untuk bermasyarakat secara luas. Penataan kehidupan di antara mukminin merupakan pangkal penataan kehidupan bermasyarakat secara lebih luas, baik mukminin, muslimin, hingga tatanan berbangsa dan antar bangsa. Bila tatanan di antara mukminin sendiri berantakan, sulit bagi mukminin memahami tuntunan Allah tentang tatanan masyarakat yang lebih luas.

Kerukunan di antara kaum mukminin misalnya, harus ditata dengan tuntunan Allah tidak boleh ditata mengikuti pendapat yang keliru.

﴾۰۱﴿إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara, maka perbaikilah hubungan antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (QS Al-Hujurat : 10)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara satu dengan yang lain, maka hendaknya dibangun hubungan sinergis di antara kaum mukminin. Ini merupakan salah satu pangkal dari tatanan bermasyarakat yang harus dihayati oleh setiap orang beriman tidak melupakannya. Melupakan hal ini akan merusak tatanan bermasyarakat secara luas karena orang beriman merupakan pusat dari penataan manusia. Di antara bentuk penataan yang harus dilakukan adalah hendaknya orang beriman mengishlahkan hubungan di antara saudara-saudara mereka hingga terbentuk hubungan peran yang baik di antara orang beriman. Orang-orang yang berilmu ditempatkan memimpin saudara-saudara yang mempunyai perhatian yang selaras, dan setiap orang bisa memberikan sumbangsih bagi saudara yang lain tidak dihalangi atau difitnah. Selain itu orang-orang beriman yang berselisih antara satu dengan yang lain hendaknya didamaikan.

Kaum mukminin tidak boleh bersikap seenaknya sendiri bertentangan dengan tuntunan ayat di atas, karena itu akan mendatangkan madlarat pada tatanan umat manusia. Kadangkala orang beriman tidak berusaha membentuk hubungan peran sinergis karena tidak menyadari makna perintah ayat di atas. Atau orang beriman kadang tidak mengishlahkan saudara-saudara mereka yang berselisih, bahkan lebih buruk lagi justru membangkitkan perselisihan di antara orang-orang yang ingin melakukan ishlah dari perselisihan mereka. Ini adalah sikap yang sangat buruk mengikuti pendapat sendiri bertentangan dengan perintah kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW yang akan mendatangkan kerusakan bagi tatanan umat islam dan umat manusia secara umum. Keadaan yang paling buruk bisa terjadi manakala orang beriman menggunakan fitnah-fitnah menjadikan suami isteri yang beriman berselisih jalan, atau menjadikan pasangan suami isteri mukminin terpisah, dan hal itu akan mendatangkan fitnah yang paling besar bagi umat manusia. Kaum mukminin tidak boleh bersikap seenaknya dalam membentuk tatanan bermasyarakat di antara kaum mukminin, muslimin dan berbangsa dan antar bangsa, harus memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan semakin terperinci.
Ada tingkat fundamentalitas yang harus diperhatikan dalam melakukan perbaikan tatanan bermasyarakat, satu tatanan menjadi fundamen bagi tatanan yang lain. Mustahil membangun hubungan peran sinergis antara orang-orang beriman apabila fundamen sinergi justru dirusak. Pernikahan dan bentuk ta’addudnya merupakan bentuk sinergi paling fundamental diantara kaum mukminin, baik hubungan sinergi antara suami isteri ataupun hubungan sinergi antara madu. Perbaikan hubungan di tingkat pernikahan itu akan mendatangkan perbaikan hubungan sinergi di antara komunitas orang beriman. Pasangan menikah akan mampu menampilkan potensi diri mereka dengan baik apabila pernikahan mereka baik sedemikian mukminin lain dapat menimbang dengan tepat bobot nilai potensi mereka terhindar dari fitnah. Itu akan menumbuhkan sinergi yang baik di antara orang beriman. Terbangunnya sinergi di antara orang beriman akan mendatangkan perbaikan tatanan bermasyarakat di antara muslimin, dan berikutnya akan mendatangkan tatanan yang baik bagi seluruh bangsa. Sebaliknya apabila fundamen tatanan bermasyarakat dirusak, akan timbul fitnah lebih besar terhadap mereka.

Kerusakan akibat pelanggaran terhadap tuntunan demikian sangat besar. Suatu bangsa akan menjadi lemah sedemikian kasab penghidupan mereka tidak mendatangkan berkah bagi kehidupan bermasyarakat, para penguasa di antara mereka berbuat dzalim terhadap masyarakat luas, dan keimanan mereka akan tanggal ketika kematian tiba. Untuk memperbaiki keadaan, keadaan mukminin harus diperbaiki dari kerusakannya. Tatanan dalam rumah tangga menurut tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW harus disosialisasikan pada keluarga-keluarga mukminin, pasangan-pasangan jiwa yang terpisah hendaknya dipersatukan kembali, orang-orang beriman yang pernah menginginkan ishlah yang justru dibuat berselisih hendaknya diishlahkan lagi, demikian pula orang-orang yang berselisih hendaknya diishlahkan. Mukminin tidak boleh menentukan sikap lain yang bertentangan dengan tuntunan ayat kitabullah ini, karena akan mendatangkan kerusakan yang besar bagi tatanan bermasyarakat.






Jumat, 17 Juli 2026

Peran Ulama dan Fuqaha dalam Pensejahteraan

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Tauladan Rasulullah SAW sebenarnya diperpanjang hingga mencapai kehidupan jaman ini dan juga seterusnya, tidak berhenti pada jaman Rasulullah SAW saja. Di antara bentuk perpanjangan tauladan Rasulullah SAW adalah kehadiran para ulama dan fuqaha, yaitu para ulama dan fuqaha yang mengenal kehendak Allah. Kebaikan dalam kehidupan di alam dunia akan terwujud manakala masyarakat membina akal agar dapat mengikuti langkah para ulama dan fuqaha. Ulama dan fuqaha pada dasarnya membawa benih-benih kebaikan bagian dari Rasulullah SAW bagi umat manusia yang bermanfaat untuk kehidupan di alam dunia dan alam-alam selanjutnya. Benih-benih itu harus disemaikan di umat manusia agar tumbuh kebaikan secara nyata dengan akal yang memahami nilai kebaikannya dan beramal berdasarkan pengteahuan itu. Manakala manusia tidak mau menumbuhkan benih-benih kebaikan dari ulama dan fuqaha, umat manusia akan mengalami kesulitan.

Dari Anas ibn Malik r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda :

ﺳﻴﺎٔﺗﻲ ﺯﻣﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍٔﻣﺘﻲ ﻳﻔﺮﻭﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ،ﻓﻴﺒﺘﻠﻴﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺜﻼﺙ ﺑﻠﻴﺎﺕ ﺍٔﻭﻻﻫﺎ ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻣﻦ ﻛﺴﺒﻬﻢ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻳﺴﻠّﻂ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺳﻠﻄﺎﻧﺎ ﻇﺎﻟﻤﺎ ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻳﺨﺮﺟﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺑﻐﻴﺮ ﺍٕﻳﻤﺎﻥ
Akan datang satu masa dimana umatku akan lari (menjauh) dari ulama dan fuqaha, maka Allah akan mendatangkan tiga bencana atas mereka: 1. Allah akan mengangkat barokah dari usaha mereka, 2. Allah akan menguasakan atas mereka pemimpin yang dzalim, 3. Allah akan keluarkan dari dunia tanpa iman (HR Abu Nuaim)

Ulama dan fuqaha mempunyai tiga tanggung jawab berupa pengupayaan kesejahteraan umat, pemilihan pemimpin yang adil dan pembinaan keimanan umat hingga terbentuk iman yang sesungguhnya, iman yang tidak akan tanggal manakala kematian tiba pada seseorang di antara umat. Itu merupakan tanggung jawab ulama dan fuqaha yang mengenal Allah. Tugas-tugas itu merupakan tugas yang besar dan barangkali tidak akan dapat ditanggung oleh selain ulama dan fuqaha yang mengenal Allah. Pembinaan keimanan yang baik misalnya, kebanyakan manusia bahkan tidak mempunyai pengetahuan bentuk kehidupan dirinya di dunia yang harus diupayakan, tidak pula berpengetahuan tentang kehidupan setelah kematian dirinya sendiri. Hanya orang yang mengenal kehendak Allah yang mempunyai pengetahuan tentang pembinaan keimanan yang baik. Ulama dan fuqaha dari kalangan orang yang mengenal Allah -lah yang mampu berusaha melaksanakan tugas dan tanggung jawab demikian.

Ulama dan fuqaha yang mengenal Allah sedikit atau banyak mempunyai pengetahuan-pengetahuan terkait tugas-tugas yang harus ditunaikan. Seorang ulama dan fuqaha mungkin tidak menanggung keseluruhan tanggung jawab tersebut, tetapi mereka mempunyai bagian pengetahuan yang harus disampaikan kepada umat agar umat mewujudkan keadaan yang baik berdasarkan yang disampaikannya. Tanggung jawab ulama tersebut adalah menyampaikan seluruh amanah yang diberikan kepada dirinya, bukan menanggung seluruh amanah Allah. Umat hendaknya memperhatikan ilmu-ilmu yang disampaikan oleh para ulama dan fuqaha, berusaha memahami dan berusaha melaksanakan amal-amal berdasarkan ilmu-ilmu yang disampaikan. Bila umat bersikap demikian, mereka akan tumbuh pada bidang-bidang yang menjadi amanah ulama yang mereka ikuti. Ulama itu tidak bertanggungjawab atas hasil yang harus dicapai oleh umatnya, tetapi hanya menyampaikan apa yang yang menjadi amanah atas dirinya.

Hal ini tidak berarti ulama dan fuqaha sama sekali terbebas dari tanggung jawab kegagalan umat apabila umat tidak tumbuh. Ulama dan fuqaha harus berusaha menyampaikan kepada umat dengan cara yang sebaik-baiknya hingga umat dapat memahami dan beramal. Bila ilmu yang disampaikan kepada umat menyimpang dari kebenaran, mustahil umat akan bisa tumbuh dengan baik dan justru mereka akan celaka karena ilmu yang disampaikan. Kekurangfasihan dalam penyampaian seringkali membuat umat tidak dapat memahami, maka hendaknya ulama dan fuqaha mengikuti cara kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW menyampaikan. Ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW merupakan pokok dari amanah yang harus disampaikan, sedangkan umat membutuhkan penjelasan dari amanah yang harus ditindaklanjuti. Para ulama dan fuqaha hendaknya membuat penjelasan-penjelasan yang baik agar umat dapat memahami amanah Allah sesuai dengan firman dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak semata mengikuti ulama dan fuqaha dengan membuta. Banyak hal yang menjadi tanggung jawab para ulama dan fuqaha yang harus dijaga agar umat tidak mengalami kegagalan dalam menumbuhkan keadaan yang baik dalam urusan amanahnya.

Manakala ulama dan fuqaha menjadikan umat mengikuti secara membuta, para ulama dan fuqaha itu sebenarnya telah membuat kesalahan paling mendasar dalam pelaksanaan amanahnya. Akal manusia merupakan bagian dari nikmat Allah yang melekat pada diri setiap manusia yang bisa tumbuh untuk mengenal nikmat secara menyeluruh. Manakala akal pada diri seseorang atau umat dihilangkan, sebenarnya pangkal dari kenikmatan Allah itu dihilangkan. Ini serupa dengan pembunuhan anak-anak laki oleh fir’aun di kalangan bani Israel. Orang-orang yang terpotong akalnya akan tumbuh sebagai orang-orang yang kufur terhadap kebenaran tidak mendatangkan nikmat Allah. Kekufuran mereka itu bisa saja tampak layaknya keshalihan tetapi sebenarnya tersesat. Akal pada diri setiap manusia hendaknya ditumbuhkan dan dijaga agar tidak menyimpang.

Amanah hendaknya disampaikan hingga setiap orang yang mengikuti ulama dan fuqaha dapat berbuat mengikuti kebenaran, bukan hanya menjadi teori-teori tanpa suatu langkah lanjutan yang benar. Masalah keimanan misalnya, umat hendaknya tidak terkacaukan sikapnya oleh musuh-musuh islam yang muncul dalam tampilan shalih tetapi merusak. Ajaran-ajaran Dzulkhuwaisirah misalnya, tidak boleh merasuk di kalangan muslimin hingga muncul sikap-sikap khawarij di antara muslimin. Mereka merupakan alat utama kaum musyrikin untuk membangkitkan kekacauan di antara kaum muslimin yang harus dicegah penyebarannya. Ketika sedang tidak digunakan, mereka membangkitkan kebodohan di antara muslimin. Ketika digunakan, mereka akan menyerang kaum muslimin. Saat ini, ajaran ini tampak melenggang dengan leluasa di antara muslimin nusantara dianggap sebagai islam yangg murni oleh umat tanpa terlihat upaya yang memadai untuk menampakkan sisi buruk ajaran tersebut agar umat tidak terseret ajarannya. Sebagian muslimin telah merasa gerah dengan dampak ajaran itu tanpa pemahaman yang baik terhadap masalah yang dibuat sedemikian perlawanan mereka tampak layaknya kekacauan. Sebagian orang yang memahami masalah yang terjadi hanya bergerak sendirian menyuarakan masalahnya, dan umat dihalangi untuk memahami masalah dan membantu upayanya sedangkan itu adalah amanah yang harus disampaikan ulama dan fuqaha kepada umat. Keilmuan tentang keimanan yang disampaikan ulama dan fuqaha hendaknya disampaikan hingga umat dapat memahami dan bertindak dengan benar sesuai dengan masalah yang dihadapi.

Mengikuti Ulama dan Fuqaha

Dewasa ini, keadaan umat islam di nusantara tampak sangat tidak baik-baik saja. Penghidupan kasab di antara kaum muslimin tampak sangat sulit. Harga-harga bergerak tidak terkendali karena para penguasa yang melakukan korupsi besar-besaran. Para ahli tersingkirkan dari kedudukannya oleh orang bodoh yang dekat dengan penguasa. Negara diurus oleh orang tanpa keahlian. Di masyarakat umum, menjalankan usaha menjadi sangat sulit karena umumnya penggunaan cara-cara yang tidak dihalalkan, dan rakyat harus menanggung beban penghidupan yang berat karena keadaan demikian. Sangat banyak fenomena kesulitan dalam kehidupan muslimin dewasa ini. Keadaan demikian menunjukkan bahwa sebenarnya umat islam nusantara masih terkungkung dalam kebodohan tidak mengikuti tuntunan Allah mengikuti ulama.

Umat harus berusaha mengikuti ulama dan fuqaha di antara mereka. Ulama dan fuqaha yang harus diikuti itu berasal dari muslimin yang menempuh langkah taubat membentuk misykat cahaya untuk memahami cahaya Allah. Misykat cahaya adalah insan kamil yang menjadi mitsal bagi cahaya Allah. Mereka bukan mitsal bagi Allah tetapi mitsal bagi cahaya Allah. Artinya, mereka bisa mengatakan kepada umat manusia makna dari cahaya Allah yang terpancar pada semesta diri mereka dengan benar sesuai dengan kehendak Allah tidak keliru. Bukan pula perkataan mereka itu suatu rekaan atau bisikan dari alam yang lain. Mereka diibaratkan kamera yang dapat membentuk bayangan dari cahaya yang datang. Bayangan yang terbentuk pada misykat cahaya itu terbentuk secara jelas serupa dengan sinar-sinar dari objek yang datang, dan kadangkala sebagian ulama dan fuqaha dapat memunculkan perbesaran gambar (zoom) dari objek yang dibidik yang tidak diketahui oleh manusia sebelumnya. Gambar perbesaran itu muncul sesuai dengan objek yang dibidik, bukan gambar asing yang dimasukkan ke dalam gambar yang terbentuk.

Ilmu dari ulama dan fuqaha dengan misykat cahaya demikian itu dapat menggerakkan keadaan masyarakat menjadi lebih baik. Tentu hanya berlaku apabila umat bergerak mengikuti ilmu tersebut, tidak hanya disia-siakan. Apabila ulama dan fuqaha demikian ditinggalkan umatnya, mereka akan menjadi kaum yang mengalami keburukan. Ulama dan fuqaha mungkin akan terlihat seperti orang bodoh, dan kaum mereka tidak mengetahui jalan keluar dari masalah yang menimpa diri mereka. Ilmu ulama dan fuqaha demikian ini berbeda dengan ilmu yang diperoleh dari pengumpulan literasi-literasi saja. Tentu saja literasi memberikan manfaat yang besar bagi umat, tetapi ilmu dari misykat cahaya mempunyai kekuatan yang berbeda. Ilmu literasi yang benar akan menjaga keadaan umat tetap baik. Akan tetapi sebenarnya ada ilmu-ilmu literasi yang merupakan permainan kata-kata manusia menggunakan bahan dari kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW maka ilmu itu tidak memberikan manfaat, seperti ilmu tentang pembagian tiga tauhid. Ada pula ilmu literasi yang merupakan rumusan orang-orang musyrik yang diajarkan kepada muslimin maka ilmu demikian mendatangkan kerusakan bagi kaum muslimin. Kadangkala orang-orang yang mengikuti ilmu literasi membantah keilmuan yang diperoleh melalui misykat cahaya maka sebenarnya itu merupakan kekurangan dari akal orang yang membantahnya. Setiap orang hendaknya lebih memperhatikan ulama dan fuqaha yang membentuk akhlak diri sebagai misykat cahaya, karena perkataan mereka adalah mitsal bagi cahaya Allah.

Ilmu dari misykat cahaya sepenuhnya selaras dengan cahaya Allah yang datang. Cahaya Allah yang paling utama adalah kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, serta para ulama dan fuqaha yang membentuk akhlak mulia sebagai misykat cahaya Allah. Ini adalah pokok dari ilmu dari misykat cahaya yang benar. Umat hendaknya memperhatikan pokok dari ilmu, yaitu hubungan suatu ilmu dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sikap ini akan memudahkan akal tumbuh dengan baik. Tidak ada ilmu yang benar yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Cahaya Allah juga terpancar di langit dan di bumi. Setiap orang hendaknya berusaha untuk dapat memahami cahaya Allah melalui alam kauniyah mereka sedemikian mereka sebagai umat memahami ayat Allah secara lebih sempurna.

Kadangkala umat menyangka bahwa seseorang adalah misykat cahaya Allah sedangkan dasar ilmunya tidak diperhatikan. Hal demikian menjadikan akal umat tidak tumbuh untuk dapat menimbang kebenaran, tidak dapat mengetahui kemungkinan adanya sisipan-sisipan dari syaitan dan tidak bisa mengenali kebenaran yang sungguh-sungguh berdasar pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap orang hendaknya memperhatikan pokok ini.  Tidak ada ilmu yang benar yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Dasar ilmu yang benar akan menjadi pondasi pertumbuhan akal. Penilaian umat yang bersikap demikian terhadap kebenaran seringkali hanya berdasar prasangka saja, tidak berdasarkan akal yang tumbuh pemahamannya. Kesertaan kepada ulama dengan cara demikian sebenarnya sia-sia. Kesertaan dan kepatuhan umat kepada ulama dan fuqaha akan tumbuh nilainya hanya apabila akal umat tumbuh memahami cahaya Allah sesuai tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Keadaan Umat

Terdapat beberapa tingkat pertumbuhan akal dalam proses memahami cahaya Allah. Sebagian besar muslimin sebenarnya harus berproses hanya mengikuti perkataan para ulama dan fuqaha saja dengan menggali nilai kebenaran dari apa yang disampaikan. Ini adalah tahapan awal yang harus ditempuh melalui tazkiyatun-nafs. Kelompok awal ini belum mempunyai kemampuan untuk mempersepsi suatu ayat dengan benar karena kuatnya pengaruh hawa nafsu dan syahwat. Walaupun demikian, sikap mengikuti ini harus disertai dengan berusaha memahami kebaikan dari ayat-ayat yang disampaikan tanpa berlebihan. Mereka hendaknya taat baik pada apa yang dipahami atau tidak dipahami, tetapi tidak mengikuti apa yang diketahui bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala seseorang perlu berusaha membongkar struktur pengetahuan lama untuk dapat memahami ilmu cahaya Allah karena pengetahuan lama bisa menjadi penghalang memahami cahaya Allah. Bersikap mengagumi suatu pengajaran yang sebenarnya belum dimengerti merupakan sikap berlebihan, akan menjadikan seseorang bodoh tetapi merasa mengerti. Tidak jarang mereka menjadi pemuja kebodohan. Mengertinya seseorang terhadap kebenaran dapat diukur dengan keselarasan akhlak dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Seseorang dikatakan mengerti suatu kebenaran apabila ia bersepakat dengan tuntunan ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam kebenaran itu, walaupun mungkin masih banyak kebenaran yang belum ia mengerti. Manakala akhlak belum selaras tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, seseorang belum bisa dikatakan mengerti suatu kebenaran.

Pada tahap selanjutnya, seseorang mungkin telah bersih hatinya dan langkahnya tidak terlalu terpengaruh oleh hawa nafsu dan syahwatnya. Dalam keadaan demikian, mereka hendaknya berusaha belajar untuk dapat memahami kandungan dalam ayat-ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kebersihan hati ini tidak dapat diukur sendiri. Allah yang membersihkan hati hamba-Nya karena hamba itu ingin mensucikan diri. Kebersihan hati ini bukan diperoleh karena usaha seseorang mensucikan diri, karena itu seseorang tidak boleh menyangka ia telah bersih dari dosa. Usaha membaca kandungan kitabullah harus dilakukan dengan hati-hati, tidak menyangka bahwa pemahaman yang diperoleh merupakan kebenaran final. Tentu firman Allah merupakan kebenaran final, tetapi pemahaman yang muncul pasti bukan kebenaran final. Pemahaman itu mungkin merupakan bagian dari kebenaran holistik, tetapi pasti bukan kebenaran holistik. Bila tidak bisa menyatu dengan kebenaran holistik, pemahaman itu merupakan pemahaman yang salah.

Berusaha menjadi bagian dari kebenaran menyeluruh ini harus menjadi penghayatan utama. Setiap orang hendaknya berusaha mengenal urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya dan berusaha menjadi bagian dari urusan itu. Ini merupakan rukun islam yang pertama. Sia-sia saja umat Rasulullah SAW mencari kebenaran apabila tidak berusaha untuk menjadi bagian dari urusan Rasulullah SAW. Ada orang yang belajar agama untuk menjadi ahli berbantah-bantah tentang kebenaran sebagaimana kaum khawarij. Kadangkala seseorang berusaha mengenal kebenaran untuk dikenal sebagai orang benar atau berjasa, maka mereka akan mudah tersesat karena keinginan itu. Setiap orang harus berusaha untuk mengenal kebenaran untuk mengikuti Rasulullah SAW memberikan kebaikan bagi semesta diri mereka. Apabila seseorang berusaha untuk menjadi bagian dari Rasulullah SAW, mereka akan mudah mengerti dan mengenal kebenaran yang digelar sebagai cahaya Allah.

Sekalipun telah kokoh keinginannya mengikuti Rasulullah SAW, kadangkala seseorang tetap menemukan penentangan-penentangan dari orang lain, sahabatnya ataupun keluarganya. Hendaknya mereka benar-benar berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan kuat tidak selalu mengikuti pendapat orang-orang yang menentangnya. Musuh mereka pasti akan menentang, dan mungkin pula shahabat seperjalanan ataupun keluarganya mungkin saja menentang pemahaman dirinya dalam mengikuti tuntunan Rasulullah SAW. Hendaknya seseorang mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sikap ini tidak harus dilakukan dengan membantah atau menentang pendapat orang lain, tetapi dengan menimbang perkataan orang lain dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk menambah pengetahun. Ia hendaknya menyampaikan pengetahuannya baik bila yang membantah mau atau tidak mau menerima tanpa perlu berbantah-bantahan. Ini hanya dilakukan setelah menimbang kebenaran dalam perkataan dari orang lain dengan tuntunan kitabullah, tidak hanya menyampaikan untuk membantah kemudian lari menghindar seperti pengecut.

Selasa, 14 Juli 2026

Fundamen Pembinaan Tatanan Bermasyarakat

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Jalan kehidupan untuk kembali kepada Allah diberikan kepada orang-orang yang memperoleh nikmat Allah. Tumbuhnya akal manusia dan masyarakat merupakan bagian dari nikmat Allah dan kematian akal dalam memahami kehendak Allah merupakan bagian keingkaran. Akal adalah kemampuan seseorang untuk dapat memahami kehendak Allah dengan benar, dibina menempuh jalan kembali kepada Allah mengikuti uswatun hasanah membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Banyak orang yang merasa beribadah dengan sebaik-baiknya kepada Allah tetapi tidak melakukan tazkiyatun-nafs dan langkah lain dalam taubat mengikuti langkah uswatun hasanah, maka pemahaman mereka itu sebenarnya hanyalah pemahaman berdasarkan hawa nafsu. Akal hanya akan tumbuh manakala seseorang melangkah bertaubat dengan tazkiyatun nafs dan langkah taubat lain hingga membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Nikmat Allah akan dipahami oleh orang-orang yang berakal, dan tidak akan diperoleh orang yang tidak tumbuh akalnya.

Kebaikan dalam kehidupan di alam dunia akan terwujud manakala masyarakat membina akal agar dapat mengikuti langkah para ulama dan fuqaha, yaitu para ulama dan fuqaha yang mengenal kehendak Allah. Ulama dan fuqaha demikian pada dasarnya telah membawa benih-benih kebaikan bagi umat manusia yang bermanfaat untuk kehidupan di alam dunia dan alam-alam selanjutnya, akan tetapi benih itu harus disemaikan di umat manusia dengan akal yang memahami nilai kebaikannya dan beramal berdasarkan pengetahuan itu agar tumbuh kebaikan secara nyata. Manakala manusia tidak mau menumbuhkan benih-benih kebaikan dari ulama dan fuqaha, umat manusia akan mengalami kesulitan.

Dari Anas ibn Malik r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda :

ﺳﻴﺎٔﺗﻲ ﺯﻣﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍٔﻣﺘﻲ ﻳﻔﺮﻭﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ،ﻓﻴﺒﺘﻠﻴﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺜﻼﺙ ﺑﻠﻴﺎﺕ ﺍٔﻭﻻﻫﺎ ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻣﻦ ﻛﺴﺒﻬﻢ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻳﺴﻠّﻂ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺳﻠﻄﺎﻧﺎ ﻇﺎﻟﻤﺎ ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻳﺨﺮﺟﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺑﻐﻴﺮ ﺍٕﻳﻤﺎﻥ
Akan datang satu masa dimana umatku akan lari (menjauh) dari ulama dan fuqaha, maka Allah akan mendatangkan tiga bencana atas mereka: 1. Allah akan mengangkat barokah dari usaha mereka, 2. Allah akan menguasakan atas mereka pemimpin yang dzalim, 3. Allah akan keluarkan dari dunia tanpa iman (HR Abu Nuaim)

Mengikuti para ulama merupakan bentuk kebersyukuran terhadap nikmat Allah yang dapat dilakukan oleh masyarakat umum. Dalam hal ini mengikuti ulama dan fuqaha adalah yang dilakukan dengan membina akal tidak dilakukan dengan sikap membuta. Sikap mengikuti harus disertai dengan berusaha memahami nilai-nilai kebaikan dari apa yang mereka serukan. Inti dari nikmat Allah itu adalah akal yang memahami, bukan pada sekadar kepatuhannya. Manakala kepatuhan dilakukan dengan mematikan akal untuk memahami ayat Allah, hal itu merupakan pengingkaran terhadap nikmat Allah. Langkah yang terbaik adalah mematuhi ulama dengan menumbuhkan akal untuk memahami ajaran ulama.

Banyak orang yang keliru dalam mengikuti langkah ulama dan fuqaha, terutama kekeliruan berupa tidak menggunakan akal. Menggunakan akal adalah membangun fasilitas dalam diri berupa akhlak mulia untuk memahami bobot nilai dari kebenaran. Ada orang yang merasa menggunakan akal dengan kesukaan membantah apa yang diajarkan tidak memikirkan nilai kebaikan dari yang disampaikan ulama. Ada orang yang benar-benar menganggap apa yang disampaikan kepada mereka merupakan kebenaran hingga mereka menganggap perkataan yang disampaikan merupakan firman Allah tanpa membangun fasilitas dalam dirinya untuk memahami kebenaran yang disampaikan. Kaum muslimin hendaknya membangun dalam dirinya kemampuan untuk mengetahui bobot nilai suatu kebenaran dengan tepat dengan akhlak mulia hingga masing-masing mengenal kehendak Allah dalam firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Landasan membangun akhlak itu adalah sifat rahman dan rahim.

Agama Dzulkhuwaisirah

Banyak orang islam yang membina akhlak secara keliru. Tidak sedikit kaum muslimin mengikuti langkah Dzulkhuwaisirah dalam membina diri sebagai hamba Allah. Mereka membanggakan syariat-syariat yang mereka pegang untuk mendatangkan kekacauan terhadap kaum muslimin yang lain dengan tuduhan-tuduhan yang tidak tepat seperti ahli bid’ah, khurafat, penyembah kubur dan tuduhan-tuduhan lain yang tidak benar. Hal itu terjadi karena mereka membanggakan syariat yang mereka laksanakan tidak memahami bahwa landasan paling penting akhlak mulia adalah sifat rahman dan rahim. Itu adalah nilai dari pengajaran Dzulkhuwaisirah. Mereka menyangka Allah akan menyukai apa yang mereka pahami, sedangkan bagi muslimin lain pemahaman mereka tampak sebagai suatu kebodohan. Allah sama sekali tidak membutuhkan pelaksanaan syariat dari manusia. Yang Allah sukai dari manusia adalah akhlak mulia yang dapat memahami kebenaran dari firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW dan mampu beramal kebaikan dengan pemahaman tersebut.

Keadaan tersebut akan bisa tercapai dengan pelaksanaan syariat secara tepat, tanpa membanggakan pelaksanaan syariat tersebut. Tanda kebanggaan itu diantaranya kebodohan terhadap nilai syariat, sering mempertanyakan hal kecil yang memberatkan diri dan tidak perlu, tidak membangun akhlak yang mampu mengenal perkara yang perlu ditunaikan untuk mewujudkan kebaikan. Kaum muslimin hendaknya berbuat dengan apa yang diketahui merupakan kebaikan dari tuntunan Allah, dan menghindari perbuatan yang diketahui merupakan keburukan, tidak memberatkan diri dengan apa yang tidak diketahui. Allah tidak membutuhkan pelaksanaan syariat dari manusia, dan sebaliknya manusia yang membutuhkan pelaksanaan syariat untuk dirinya. Muslimin tidak perlu memberatkan diri mengulik rincian syariat yang ia tidak membutuhkan. Misalnya seseorang tidak perlu bertanya dan berbangga tentang hukum menggunakan pengeras suara untuk berkhutbah, atau pelaksanaan tarawih berjamaah dan sebagainya. Agama Dzulkhuwaisirah akan menjebak manusia dengan kebanggaan pelaksanaan rincian syariat, dan berikutnya membuat kekacauan di kalangan muslimin dengan rincian syariat yang sebenarnya tidak mereka pahami. Hanya sebagian muslimin saja yang harus menjaga dan mensyiarkan rincian dari tuntunan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tanpa perlu membanggakan dan/atau membangkitkan kekacauan pada kaum muslimin.

Kaum yang mengikuti agama Dzulkhuwaisirah akan mengalami kerusakan akal. Mereka menyangka bahwa rincian syariat yang mereka lakukan dengan kebodohan itu akan menjadi persembahan kepada Allah. Mereka sebenarnya hanya menjadi hamba para tetua mereka yang menipu dengan rincian syariat tanpa membangun akhlak mulia yang berakal untuk memahami kehendak Allah. Mereka seringkali tidak mampu melihat realitas ayat Allah dan justru menimbulkan kekacauan bagi kaum muslimin. Keburukan yang mereka tuduhkan kepada kaum muslimin seringkali merupakan keadaan mereka sendiri tetapi mereka tidak bisa menyadari karena parahnya kebodohan mereka. Mereka memandang diri mereka adalah yang terbaik dalam mengikuti sunnah Rasulullah SAW, sedangkan penghayatan mereka mengikuti Dzulkhuwaisirah. Anggapan demikian itu hanya anggapan kosong. Tidak ada pelaksanaan sunnah yang benar jika dilakukan mengikuti Dzulkhuwaisirah. Mereka kebanyakan akan menjadi pembela kaum musyrikin untuk mengalahkan perjuangan kaum muslimin. Dewasa ini sekian gencar kaum yang bodoh itu memecah belah dan mencela perjuangan kaum muslimin, selaras dan senada dengan upaya tuan mereka kaum musyrikin. Hal itu bukan suatu kebetulan, tetapi mereka itu memang merupakan bagian dari kaum musyrikin.

Ahli Bid’ah

Ada pula orang-orang yang keliru dalam membina akhlak mengikuti ahlul bid’ah, membuat dan melaksanakan amal-amal yang tidak ada dalam tuntunan Allah. Kaum demikian memandang amal yang mereka lakukan sebagai perintah Allah, sedangkan tidak ada perintah Allah terkait perkara yang mereka lakukan. Mereka juga tidak memahami amal yang mereka lakukan. Sebagian di antara mereka adalah orang-orang yang mempunyai penglihatan tetapi tidak digunakan untuk melihat ayat-ayat Allah, mempunyai pendengaran tetapi tidak digunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah, dan mempunyai qalb tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah. Banyak perbuatan bid’ah yang dipandang baik oleh umat manusia akan tetapi sebenarnya mendatangkan keburukan. Mereka tidak mau atau sulit memahami ayat-ayat Allah yang disampaikan atau digelar bagi mereka dan kemudian bersibuk mengerjakan amal-amal yang lain, maka urusan Allah ditinggalkan. Ditinggalkannya ayat-ayat Allah itu mendatangkan kerusakan bagi umat manusia.

Yang bisa dipandang bid’ah adalah amal yang dianggap oleh pelakunya sebagai realisasi suatu perintah tertentu dari Allah kepada mereka, sedangkan amal itu sebenarnya tidak ada dasarnya dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Barangkali ada suasana megalomania sebagai hamba yang khusus dalam amal tersebut, tetapi tidak selalu ada atau tampak. Demikian itulah bid’ah, hendaknya masalah ini tidak dikacaukan atau dituduhkan terhadap amal-amal yang dilakukan dengan mengharapkan kebaikan. Pemeluk agama Dzulkhuwaisirah menggunakan terminologi bid’ah secara rancu untuk membangkitkan perselisihan di antara muslimin tanpa berusaha memahami tuntunan dengan sebaik-baiknya. Sangat banyak orang yang melakukan sesuatu digolongkan sebagai ahli bid’ah, sedangkan yang dituduh tidak menganggap diri mereka sebagai penerima perintah Allah. Orang yang beramal dengan berharap untuk memperoleh kebaikan dengan amalnya banyak dituduh bid’ah oleh pengikut Dzulkhuwaisirah. Tuduhan itu adalah tuduhan yang tidak berdasar.

Sasaran dari amal-amal ahlul bid’ah adalah pembodohan dan ditinggalkannya urusan Allah yang seharusnya dilaksanakan oleh kaum mukminin. Ayat-ayat Allah yang digelar pada ayat kuaniyah tidak dipahami dengan baik, dan mukminin disibukkan dengan amal-amal yang dibuat-buat sendiri tanpa peduli dengan ayat-ayat Allah. Amal mereka berdiri sendiri tanpa hubungan yang kokoh terhadap suatu tuntunan tertentu dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tetapi dikatakan bahwa amal itu merupakan perintah Allah. Anggapan bahwa amal mereka merupakan perintah Allah itu merupakan suatu bid’ah yang akan merusak keadaan kaum mukminin. Akal kaum mukminin akan tercerabut dari ayat-ayat Allah hanya berpijak pada persepsi inderawi sendiri saja, tidak mengakar pada realitas ayat Allah. Amal bid’ah ini seringkali terlihat baik tetapi sebenarnya meninggalkan urusan Allah yang seharusnya diperhatikan oleh kaum mukminin. Seandainya anggapan itu adalah harapan terhadap jalan ibadah berupa pelaksanaan urusan Allah, hati mereka akan terbuka terhadap ayat-ayat Allah. Seandainya mereka berusaha memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan teliti, kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan meluruskan amal-amal mereka. Sayangnya seringkali mereka menganggap pemahaman diri mereka adalah perintah Allah, maka anggapan itu menjadi selubung penutup bid’ah yang mereka lakukan.

Pembinaan Masyarakat

Kesalahan-kesalahan pembinaan akhlak akan menjadikan umat manusia sebagai kaum yang meninggalkan ulama dan fuqaha. Akhlak yang keliru menjadikan manusia tidak mengenal kebenaran dan penyampainya. Ulama dan fuqaha yang sebenarnya adalah ulama dan fuqaha yang memahami dengan benar realitas kauniyah berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasululullah SAW. Ada orang-orang yang mengetahui keadaan kauniyah diri mereka tetapi tidak mempunyai pengetahuan tentang tuntunan Allah terkait kauniyah itu, maka mereka belum mencapai kedudukan ulama. Ada orang yang banyak membaca tuntunan kitabullah tetapi tidak mengetahui hubungannya dengan realitas kauniyah yang digelar, maka mereka tidak mengerti perintah Allah yang harus ditunaikan. Ulama dan fuqaha adalah orang-orang yang mengetahui kandungan dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW terkait dengan keadaan kauniyah mereka sedemikian mereka mempunyai pengetahuan untuk menentukan langkah yang perlu dilakukan untuk memperoleh kebaikan bagi kehidupan mereka.

Ulama dan fuqaha demikian itulah yang dapat mendatangkan kebaikan bagi kasab kaum muslimin di suatu negeri dan menjadikan Allah mengangkat pemimpin yang baik bagi negeri tersebut, serta dapat menunjukkan keimanan yang sungguh-sungguh. Akan tetapi ulama dan fuqaha tidak bisa berbuat sendirian mendatangkan kebaikan-kebaikan tersebut. Manakala suatu kaum meninggalkan ulama dan fuqaha, seluruh kaum akan ditimpa keadaan yang buruk berupa sulitnya kasab kaum tersebut, diangkatnya pemimpin yang dzalim dan kematian tanpa iman. Ulama dan fuqaha itu akan tampak sebagai orang yang susah kala ditinggalkan kaumnya. Seringkali kaum yang meninggalkan ulama dan fuqaha tidak menyadari keadaan, menyangka bahwa mereka adalah orang-orang yang berbuat kebaikan tanpa mengetahui bahwa sebenarnya mereka mengalami kesulitan karena urusan Allah yang ditinggalkan, dengan ditinggalkannya ulama dan fuqaha.

Meninggalkan ulama dan fuqaha menunjukkan manusia meninggalkan urusan Allah yang harus ditunaikan. Ini bukan masalah panteisme. Usaha manusia untuk memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW belum tentu dilakukan dengan benar. Perselisihan di antara kaum muslimin bisa saja terjadi sedangkan masing-masing berpegang pada tuntunan kitabullah. Hal itu bisa terjadi karena ada yang tidak tepat dalam memahami kitabullah. Ulama dan fuqaha bisa memahami dengan benar kandungan dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, selaras dengan pemahaman terhadap kauniyah yang digelar bagi masing-masing. Manakala ada ulama dan fuqaha yang benar ditinggalkan umat, mereka sebenarnya meninggalkan urusan Allah sekalipun mereka berusaha keras untuk berbuat kebaikan mengikuti hawa nafsu masing-masing.

Menyeru pemakmuran kehidupan alam dunia dengan akal yang memahami merupakan tugas para ulama. Ulama harus memikirkan agar kasab kehidupan bangsa menjadi lebih baik, menunjukkan pemimpin dari orang yang baik tidak dzalim, dan mengenalkan keimanan yang sebenarnya, keimanan yang tidak terlepas ketika kematian menghampiri. Penataan umat manusia hendaknya dilakukan secara menyeluruh, baik penataan masing-masing individu maupun penataan masyarakat dimulai dari penataan keluarga. Sebenarnya ada suatu tatanan dalam diri individu yang ditentukan Allah, dan tatanan itu hanya dapat dicapai melalui pembinaan akhlak. Secara ideal, manusia harus menundukkan keinginan duniawi dan hawa nafsu untuk mengikuti nafs wahidah, dan nafs wahidah mengikuti ruh yang mengajarkan urusan Allah. Tanpa pembinaan akhlak, manusia atau masyarakat tidak akan mengetahui tatanan yang ditentukan. Selain itu ada penataan yang harus dilakukan di tingkat masyarakat, dimulai dengan upaya penataan keluarga dan diluaskan hingga terbentuk tatanan masyarakat. Bila tatanan keluarga dirusak, masyarakat akan ikut menjadi rusak bahkan seandainya individu di masyarakat tersebut adalah orang-orang yang shalih.

Hal demikian hanya dapat dicapai melalui pembinaan akhlak dengan keimanan yang benar. Banyak orang yang merasa beriman tetapi sebenarnya tidak menyentuh tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak jarang ditemui orang beriman yang selalu memandang masalah hanya dari satu sudut pandang, misalnya dipandang ujian dari Allah. Hal demikian mungkin benar tetapi bisa saja hanya berlaku pada satu tahap atau satu kasus tertentu saja. Ada banyak kasus penyebab kesulitan dalam kehidupan yang harus diungkap selaras dengan petunjuk Allah. Misalnya bisa saja kesulitan itu sebenarnya merupakan dampak dari sikap yang salah yang harus diperbaiki. Kesalahan demikian tidak sama dengan ujian Allah karena akan mendatangkan kesulitan di dunia dan juga kelak di akhirat. Kadangkala keimanan menjadi lebih buruk dari itu. Misalnya mungkin saja ada orang-orang yang memperoleh petunjuk untuk memperbaiki keadaan diri mereka dan masyarakatnya, tetapi umat manusia kemudian merusak pelaksanaan petunjuk itu karena keimanan yang keliru hingga menghalangi seseorang dari agamanya. Dengan keimanan yang keliru demikian keadaan masyarakat akan semakin berantakan. Setiap orang harus menambah keimanan secara benar dengan berusaha menggali tuntunan kitabullah terkait kehidupan masing-masing.

Jumat, 10 Juli 2026

Berbagai Nikmat Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Perjalanan taubat kepada Allah yang benar akan mendatangkan keselamatan bagi manusia dari kekejaman perilaku duniawi para makhluk. Keselamatan demikian merupakan suatu wujud dari nikmat Allah kepada umat manusia yang mengikuti tuntunan Allah. Orang-orang yang tidak mengikuti tuntunan Allah akan selalu berada pada kungkungan kekejaman duniawi, sedangkan orang-orang yang mengikuti tuntunan Allah dengan benar akan terlepas dari kungkungan duniawi. Barangkali kungkungan kejamnya dunia itu akan mengejar, akan tetapi orang yang tetap mengikuti tuntunan Allah akan terlepas dari kejaran kungkungan kekejaman dunia. Keterlepasan dari kungkungan kekejaman dunia itu merupakan bagian dari nikmat Allah.

﴾۶﴿وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ أَنجَاكُم مِّنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ وَيُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ وَفِي ذٰلِكُم بَلَاءٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari Fir'aun dan pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu; dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari Tuhanmu".(QS Ibrahim : 6)

Fir’aun adalah para raja di negeri mesir, merupakan sosok yang menggambarkan kekuatan duniawi atas manusia, dan dengan rekayasa perilaku duniawi mereka berkuasa. Mereka para penyembah dewa-dewa kesesatan dengan mengharapkan diberi kekuasaan duniawi. Perilaku duniawi sendiri pada umumnya berada dalam kekuasaan syaitan hingga hari yang ditentukan. Apabila manusia mempertuhankan kehidupan duniawi, sebenarnya mereka secara tidak langsung menjadikan diri mereka sebagai budak bagi syaitan. Sebagian orang-orang beriman diberi kekuasaan atas harta tertentu hingga dapat menguasai harta mereka, tetapi sebagian terjatuh diperbudak harta. Setiap manusia akan terikat pada suatu kungkungan dunia apabila mereka tidak mengikuti tuntunan Allah terkait alam dunia mereka.

Keterlepasan manusia dari kungkungan kekejaman alam dunia karena mengikuti tuntunan Allah merupakan suatu bentuk nikmat Allah yang berlaku bagi masyarakat luas. Nikmat Allah secara khusus berbentuk pengetahuan tentang jalan kembali kepada Allah yang ditentukan bagi diri seseorang dan kemampuan melangkah mengikuti pengetahuan itu. Nikmat demikian itu merupakan tujuan puncak dari kehidupan manusia di dunia. Selain nikmat khusus demikian, Allah juga memberikan nikmat-nikmat yang menjadi pengantar manusia untuk mencapai nikmat Allah yang khusus. Di antara bentuk nikmat pengantar demikian adalah keterlepasan manusia dari kungkungan kekejaman alam duniawi dengan mengikuti tuntunan Allah.

Ciri utama kekejaman alam duniawi adalah pembunuhan anak-anak laki-laki dan dibiarkannya hidup anak-anak perempuan. Para laki-laki adalah para pemilik akal yang mampu memahami ayat-ayat Allah, sedangkan para perempuan adalah kesuburan dalam mewujudkan bentuk-bentuk duniawi. Kekejaman alam duniawi dapat ditandai dengan kecenderungan penghilangan calon-calon pemilik akal, penghilangan akal ketika masih dalam bentuk belum terlihat, hingga hanya menyisakan potensi-potensi duniawi bagi diri seorang manusia. Apabila manusia hanya berusaha untuk kehidupan alam duniawi saja tanpa keinginan memikirkan kebenaran, mereka sebenarnya dalam pengaruh kekejaman duniawi. Orang yang terlepas dari kekejaman duniawi akan terlihat mampu memahami dan memikirkan kebenaran yang bermanfaat bagi manusia banyak. Mereka tidak membunuh anak perempuan dan membiarkan anak laki-laki, tetapi mengasuh seluruh bentuk anak-anak agar terbentuk kehidupan dunia yang makmur dan sejahtera.

Tumbuhnya akal manusia dan masyarakat merupakan bagian dari nikmat Allah, dan kematian akal dalam memahami kehendak Allah merupakan bagian keingkaran. Mengikuti para ulama merupakan bentuk kebersyukuran terhadap nikmat Allah yang dapat dilakukan oleh masyarakat umum. Dalam hal ini mengikuti ulama dan fuqaha tidak boleh dilakukan dengan sikap membuta, tetapi disertai dengan berusaha memahami nilai-nilai kebaikan dari apa yang mereka serukan. Inti dari nikmat Allah itu adalah akal yang memahami, bukan pada kepatuhannya. Manakala kepatuhan dilakukan dengan mematikan akal untuk memahami ayat Allah, hal itu merupakan pengingkaran terhadap nikmat Allah. Langkah yang terbaik adalah mematuhi ulama dengan menumbuhkan akal untuk memahami ajaran ulama. Mematuhi ajaran orang yang dipandang sebagai ulama dengan mematikan akal merupakan kepatuhan yang salah dan hal itu akan mendatangkan bala bencana bagi orang-orang yang melakukannya. Kematian akal akan mendatangkan bala bencana dari sisi Allah. Kesalahan dalam mensikapi keilmuan  akan mengundang tiga bencana atas suatu kaum bahkan manakala mereka beriman, yaitu : 1. Allah akan mengangkat barokah dari usaha mereka, 2. Allah akan menguasakan atas mereka pemimpin yang dzalim, 3. Allah akan keluarkan dari dunia tanpa iman

Mengikuti para ulama merupakan bentuk kebersyukuran terhadap nikmat Allah yang dapat dilakukan oleh masyarakat umum. Orang-orang yang mengenal shirat al-mustaqim harus bersyukur atas nikmat yang dilimpahkan kepada mereka dengan melaksanakan perintah-perintah Allah yang mereka pahami sebagai jalan untuk kembali kepada Allah, sedangkan masyarakat umum harus mensyukuri nikmat Allah dengan berusaha memahami tuntunan-tuntunan Allah terkait dengan kehidupan mereka dengan menggunakan akal dan mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW serta apa yang mereka pahami dari para ulama dan fuqaha. Melangkah bersama ulama dan fuqaha yang mengenal Allah akan mendatangkan kemakmuran bagi negeri.

Tumbuhnya Akal dan Kedekatan dengan Ulama

Dewasa ini, keadaan umat islam di nusantara tampak sangat tidak baik-baik saja. Penghidupan kasab di antara kaum muslimin tampak sangat sulit. Harga-harga bergerak tidak terkendali karena para penguasa yang melakukan korupsi besar-besaran. Para ahli tersingkirkan dari kedudukannya oleh orang bodoh yang dekat dengan penguasa. Negara diurus oleh orang tanpa keahlian. Di masyarakat umum, menjalankan usaha menjadi sangat sulit karena umumnya penggunaan cara-cara yang tidak dihalalkan, dan rakyat harus menanggung beban penghidupan yang berat karena keadaan demikian. Sangat banyak fenomena kesulitan dalam kehidupan muslimin dewasa ini. Keadaan demikian menunjukkan bahwa sebenarnya umat islam nusantara masih terkungkung dalam kekejaman dunia karena tidak mengikuti tuntunan Allah.

Dari Anas ibn Malik r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda :

ﺳﻴﺎٔﺗﻲ ﺯﻣﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍٔﻣﺘﻲ ﻳﻔﺮﻭﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ،ﻓﻴﺒﺘﻠﻴﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺜﻼﺙ ﺑﻠﻴﺎﺕ ﺍٔﻭﻻﻫﺎ ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻣﻦ ﻛﺴﺒﻬﻢ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻳﺴﻠّﻂ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺳﻠﻄﺎﻧﺎ ﻇﺎﻟﻤﺎ ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻳﺨﺮﺟﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺑﻐﻴﺮ ﺍٕﻳﻤﺎﻥ
Akan datang satu masa dimana umatku akan lari (menjauh) dari ulama dan fuqaha, maka Allah akan mendatangkan tiga bencana atas mereka: 1. Allah akan mengangkat barokah dari usaha mereka, 2. Allah akan menguasakan atas mereka pemimpin yang dzalim, 3. Allah akan keluarkan dari dunia tanpa iman (HR Abu Nuaim)

Keadaan ini terjadi karena ditinggalkannya para ulama oleh umat. Umat Islam hendaknya berusaha untuk tidak meninggalkan ulama dan fuqaha di antara mereka, khususnya ulama dan fuqaha yang mengenal Allah. Apabila mereka tidak mengenalnya, hendaknya mereka berusaha mencari dengan berusaha mengenali ilmu yang bisa dinilai sebagai penjelasan hakikat-hakikat dari sisi Allah dengan sepenuh kemampuan akalnya tidak hanya mengikuti perkataan orang. Anak-anak laki-laki mereka tidak boleh terbunuh hingga menjadi sebab mereka terkungkung dalam kekejaman dunia. Manakala akal tidak digunakan untuk mengenali kebenaran, mereka sebenarnya ikut membunuh anak-anak laki-laki mereka sendiri. Mungkin bukan kekejaman dunia yang membunuh anak-anak laki-laki mereka, tetapi mereka sendiri yang membunuhnya. Dalam perjalanan manusia menumbuhkan akal, masih banyak bahaya lain yang dapat membunuh anak-anak laki-laki karena hal demikian sebenarnya merupakan upaya syaitan, bukan hanya natur duniawi saja. Setiap upaya pembunuhan akal manusia, ada keinginan syaitan yang mungkin tersembunyi dari pandangan manusia.

Menyeru pemakmuran kehidupan alam dunia dengan akal yang memahami merupakan tugas para ulama. Ulama tidak boleh terlalai memperhatikan hal ini, dan masyarakat hendaknya memperhatikan. Ulama harus memikirkan agar kasab kehidupan bangsa menjadi lebih baik, menunjukkan pemimpin dari orang yang baik tidak dzalim, dan mengenalkan keimanan yang sebenarnya, keimanan yang tidak terlepas ketika kematian menghampiri. Hal-hal itu dapat dirumuskan dengan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sangat rugi manusia yang keimanan mereka tanggal ketika kematian tiba. Hal demikian biasanya terjadi karena mereka mengikuti keimanan tanpa berusaha memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, atau mensia-siakan pengajaran tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk mengikuti sistem keimanan mereka sendiri. Apabila ulama dan fuqaha tidak mengusahakan demikian, mereka akan menanggung tanggung jawab yang sangat berat di alam akhirat.

Keulamaan dan kefaqihan bukanlah berbentuk hafalan-hafalan terhadap bunyi dalil-dalil, tetapi pengetahuan terhadap kandungan yang ada pada lafadz-lafadz petunjuk dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk diterapkan dalam kehidupan. Pengetahuan itu tidak hanya bermanfaat untuk masa depan, tetapi juga terkait dengan kehidupan sejak di alam dunia. Kadangkala seseorang meninggalkan pemahaman terkait kehidupan hari ini karena mengharapkan kehidupan yang akan datang. Ini merupakan bentuk kurangnya pengetahuan terhadap kandungan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Para ulama dan fuqaha adalah orang yang mempunyai pengetahuan bentuk kehidupan yang seharusnya diusahakan manusia saat ini berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sehingga dapat memperoleh kebaikan yang abadi, baik untuk masa depan ataupun masa yang dekat dan hari ini.

Keberhasilan dan kegagalan pemakmuran tentu bukan hanya tanggung jawab ulama dan fuqaha. Ulama dan fuqaha hanya bertanggung jawab menyeru manusia untuk memahami urusan Allah yang harus ditunaikan, sedangkan menjaga pertumbuhan akal dan melangkah mengikuti kehendak Allah merupakan tanggung jawab masing-masing manusia di masyarakat. Pada umat nabi Muhammad SAW, banyak orang di antara umat yang meninggalkan para ulama. Bila tidak ada seruan tentang urusan Allah di masyarakat, itu adalah kesalahan ulama dan fuqaha. Bila seruan terkait nikmat Allah itu salah maka itu kesalahan ulama dan fuqaha. Bila seruan itu tidak efektif, mungkin itu kesalahan ulama dan fuqaha bersama dengan lemahnya akal masyarakat. Bila seruan itu tidak diikuti oleh masyarakat, kegagalan dalam pemakmuran negeri merupakan kegagalan masyarakat. Kadangkala tanggung jawab kesalahan itu terletak pada para pemimpin masyarakat yang tidak menyiarkan secara memadai seruan yang benar. Tidak jarang masyarakat justru terjebak dalam kesibukan menyiarkan sesuatu yang kurang mendatangkan manfaat bagi umat manusia dan meninggalkan yang penting dilakukan. Nusantara saat ini terasa berada dalam keadaan yang sangat memprihatinkan, hendaknya setiap pihak menghisab diri masing-masing.

Kadangkala suatu masyarakat bertanya-tanya mengapa mereka tetap mengalami kesulitan kehidupan sedangkan mereka telah hidup dekat dengan ulama dan fuqaha mereka. Tumbuhnya kehidupan yang baik itu mengikuti tumbuhnya akal pada diri mereka. Barangkali mereka belum cukup menumbuhkan akal untuk memahami ayat-ayat Allah ketika mengikuti para ulama mereka, maka kedekatan ataupun kepatuhan itu pada dasarnya belum benar-benar terjadi. Bila suatu masyarakat hidup dekat dengan ulama mereka dengan akal yang ditumbuhkan, maka kehidupan mereka akan menjadi baik. Hendaknya dipahami bahwa para ulama itu sungguh-sungguh ingin dengan pengajarannya menumbuhkan akal manusia untuk memahami ayat Allah, bukan untuk patuh pada para ulama dan fuqaha. Mestinya tumbuhnya akal itu juga akan menumbuhkan kepatuhan. Jika seandainya tidak tumbuh kepatuhan, pertumbuhan akal masyarakat mungkin menyimpang. Bukan mustahil ajaran yang diikuti keliru maka kekeliruan itu menghambat tumbuhnya akal. Ajaran yang benar-benar keliru akan menumbuhkan fitnah di antara masyarakat yang justru menimbulkan kesengsaraan bagi umat. Setiap orang hendaknya berusaha untuk menumbuhkan akal sebagai sarana untuk dekat kepada para ulama dan fuqaha di antara mereka, tidak hanya dekat dengan membuta terhadap kehendak Allah. Tanda ajaran yang benar adalah meningkatnya pemahaman umat terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk urusan yang seharusnya mereka kerjakan.

Penting diperhatikan bahwa ulama dan fuqaha yang harus mereka ikuti adalah ulama dan fuqaha yang mengerti dengan benar kehendak Allah untuk ruang dan jaman mereka. Para ulama dan fuqaha adalah orang yang mempunyai pengetahuan bentuk kehidupan yang diusahakan manusia saat ini berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sehingga dapat memenuhi harapan manusia terhadap kebaikan yang abadi, baik masa depan ataupun masa yang dekat dan hari ini. Kandungan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW meliputi hal demikian. Mungkin seorang ulama tidak memperoleh seluruh pengetahuan tentang berbagai aspek kehidupan, tetapi pasti mempunyai pengetahuan terhadap aspek tertentu dari kehidupan. Pada aspek yang tidak diketahui, seseorang berilmu tidak akan berpegang dengan  pengetahuan yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ada orang yang berpengetahuan benar dalam sebagian urusan, tetapi memperoleh pula bagian pengetahuan yang lain mendatangkan kerusakan. Hal demikian merupakan bagian dari tipu daya syaitan kepada orang yang tidak benar-benar membina kemuliaan akhlak sehingga tidak dapat merasakan keburukan dari suatu ajaran yang sampai kepada diri mereka. Seorang ulama tidak akan berpendapat atau berbuat menyalahi tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW kecuali ia merasakan suatu kesalahan dalam perkara itu baik samar-samar ataupun secara jelas.