Pencarian

Senin, 11 Mei 2026

Menimbang Manfaat Ilmu

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan hingga seseorang mengenal shirat al-mustaqim dan menempuhnya dengan hati-hati dan seksama tidak terjebak pada langkah-langkah yang menyimpang. Pengenalan shirat al-mustaqim berupa suatu keterbukaan pengetahuan tentang jalan kehidupan yang dikehendaki Allah. Pengetahuan itu bisa sangat luas walaupun tetap terbatas. Dengan pengetahuan itu, seseorang bisa bersaksi bahwa “Tiada Ilah selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah rasulullah”. Seseorang yang memperoleh nikmat Allah bisa mengetahui keadaan kauniyah dengan benar melampaui batas persepsi indera jasmaniah dirinya. Mungkin pula akan ditemukan sangat banyak jebakan pengetahuan yang keliru, maka setiap orang hendaknya menggunakan pengetahuan yang jelas manfaat bagi jalan kehidupan mereka, tidak bermudah menggunakan atau mempercayai setiap pengetahuan yang terbuka kepada dirinya. Syaitan akan menyertai keterbukaan pengetahuan seseorang, di mana tanduk syaitan terbit bersama terbitnya matahari.

Integritas Ilmu Terhadap Rasulullah SAW

Tidak semua kebenaran dapat dimengerti dengan mudah oleh masyarakat umum. Misalnya pengetahuan tentang pasukan syaitan. Dalam banyak kasus, pengetahuan demikian dapat menjerumuskan manusia dalam tipuan syaitan. Pengetahuan-pengetahuan terkait syaitan tidak perlu dipelajari oleh manusia kecuali dengan cara mengikuti penjelasan yang disampaikan oleh para nabi. Setiap orang hendaknya berusaha memahami dengan tepat apa yang dimaksud oleh para nabi dalam ajarannya, tidak membuat makna yang menyimpang. Dalam hal ini syaitan akan mendorong manusia yang ingin memperoleh pengetahuan tentang mereka agar menyimpang. Setiap orang hendaknya berusaha untuk memahami dengan benar nilai dari pengetahuan yang diperolehnya.

Akan tetapi sebenarnya tidak tertutup kemungkinan seseorang memperoleh pengetahuan demikian dengan benar. Ilmu yang benar itu bisa bermanfaat karena duduk pada urusannya secara benar. Misalnya mungkin ada orang-orang yang mempunyai komitmen yang kuat terhadap jamaah, berkeinginan untuk membantu urusan Rasulullah SAW. Mungkin orang demikian kemudian memahami urusan Rasulullah SAW terkait alam syaitan. Pemahaman demikian itupun seringkali bukan pengetahuan yang diperoleh secara mandiri, tetapi berada di belakang pemahaman terhadap urusan seorang wasilah misalnya khalifatullah Al-Mahdi. Bagi yang memperolehnya, ia mengetahui bahwa pengetahuan tentang syaitan itu hanya merupakan sisi koin yang lain dari pengetahuan yang diperoleh karena komitmen membantu khalifatullah untuk menolong urusan Rasulullah SAW. Bila suatu ilmu mempunyai kedudukan demikian, ilmu yang tampak seperti fitnah itu bisa memberikan manfaat, dan itu merupakan ilmu yang bisa dianggap benar selama tidak disalahgunakan.

Ilmu demikian tergolong ilmu yang bersumber dari kitabullah Alquran. Sebagai penjelasan, ayat 3 dan 4 surat Al-Fatihah sebenarnya dapat dipandang sebagai penjelasan tentang kedudukan kedua uswatun hasanah dan khalifatullah. Penyaksian seseorang terhadap risalah Rasulullah SAW merupakan bukti kebenaran musyahadah seseorang terhadap Ilahiah Allah. Musyahadah terhadap risalah itu telah dijadikan sebagai bagian dari ummul kitab. Dalam umul kitab, musyahadah itu sebenarnya tidak berdiri sendiri. Seorang mukmin yang benar kesaksiannya terhadap risalah sebenarnya juga akan mempunyai pengetahuan tentang khalilullah Ibrahim a.s sebagai uswatun hasanah, dan juga mempunyai pengetahuan tentang khalifatullah sebagai perpanjangan bayangan Rasulullah SAW di alam dunia.

﴾۳﴿الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
﴾۴﴿مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
(3)Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (4) Raja di Hari Agama (QS Al-Faatihah : 3-4)

Allah memperkenalkan diri-Nya kepada makhluk dalam berbagai derajat. Derajat tertinggi adalah asma Ar-Rahman yang beristiwa di atas ‘Arsy. Pada derajat yang berdekatan, Allah memperkenalkan diri-Nya dengan asma Ar-Rahim, berkedudukan sangat tinggi melekat pada ‘arsy. Rasulullah SAW merupakan insan paling sempurna yang diberi kemampuan memanifestasikan asma yang tertinggi Ar-Rahman, dan nabi Ibrahim a.s merupakan insan yang diberi kemampuan memanifestasikan asma Ar-Rahiim secara sempurna. Kedua insan tersebut merupakan uswatun hasanah yang memanifestasikan asma Allah dengan benar sepanjang masa. Kedua asma itu dipanjangkan bayangannya hingga asma yang bertakhta di Kursy sebagai Malik (raja), dan khalifatullah Al-Mahdi merupakan insan yang diberi kemampuan memanifestasikan asma Malik. Asma Malik hanya merupakan manifestasi asma Allah yang bersifat temporer pada waktu yang ditentukan yaitu pada hari agama, dan khalifatullah bukan termasuk sebagai uswatun hasanah.

Hari agama pada satu sisi adalah landmark dimulainya masa kekuasaan khalifatullah Al-Mahdi, dan sisi lainnya merupakan landmark berakhirnya kekuasaan Iblis sebagai penguasa bumi. Kebanyakan muslimin tidak tepat merujukkan istilah hari agama. Sebagian besar merujukkan hari agama sebagai hari pembalasan atau hari-hari di alam akhirat. Sebenarnya Alquran sendiri telah menunjukkan apa yang dimaksud sebagai hari agama. Hari agama adalah hari di mana kekuasaan Iblis di dunia seharusnya akan berakhir. Iblis meminta perpanjangan waktu penguasaan kepada Allah, dari yang seharusnya berakhir pada hari agama memohon diperpanjang hingga hari kebangkitan. Allah mengabulkannya akan tetapi hanya hingga hari yang ditentukan, yaitu hari kiamat. Hari agama sebenarnya adalah hari-hari dimana khalifatullah Al-Mahdi diberi kekuasaan di bumi sedemikian agama yang telah sempurna diturunkan kepada Rasulullah SAW ditegakkan. Pada masa kekuasaan khalifatullah itu Allah memperkenalkan tajalliat diri-Nya sebagai Malik.

Pengetahuan seseorang tentang Iblis dan balatentaranya merupakan sisi koin yang lain dari pengetahuan terhadap khalifatullah Al-Mahdi. Pencarian pengetahuan tentang Rasulullah SAW, Khalilullah a.s dan khalifatullah merupakan bentuk utama pencarian pengetahuan dalam beribadah kepada Allah, sedangkan pengetahuan tentang syaitan hanya imbas yang tumbuh dari pengetahuan yang harus dicari hamba Allah. Pengetahuan imbas saja kadang berbahaya tidak boleh diusahakan dengan niat mencarinya. Pengetahuan demikian bisa bermanfaat manakala merupakan imbas karena kepedulian seseorang terhadap urusan Rasulullah SAW dan perpanjangannya. Seseorang yang peduli pada urusan khalifatullah akan terdorong untuk memperoleh pengetahuan tentang apa yang seharusnya dikerjakan termasuk dalam hal ini pengetahuan tentang musuh yang harus dihadapi sang khalifatullah. Manakala seseorang memperoleh pengetahuan yang mencurigakan dengan jalan yang haqq seperti di atas, pengetahuan itu bisa tidak berbahaya bagi dirinya dan justru memberikan manfaat yang besar bagi umat manusia.

Dengan terintegrasi pada kebenaran universal, pengetahuan-pengetahuan yang sekilas tampak berbahaya bisa memberikan manfaat kepada orang-orang yang memperolehnya selama pengetahuan itu benar. Misalnya boleh jadi seseorang melihat sepak terjang para syaitan pengikut Asytoret memalsukan nilai-nilai pengajaran agama, maka ia bisa berusaha menangkalnya dengan merumuskan ilmu tauhid yang lebih mendekati kehendak Allah. Atau manakala seseorang melihat iblis pengamat memporakporandakan tatanan kaum mukminin melalui perusakan pernikahan, ia bisa menyeru kaum mukminin untuk menata barisan dengan benar mengikuti tuntunan Allah sekalipun apabila ia bukan musuh si pengamat secara langsung. Seseorang yang mengetahui tipu daya dapat membantu sahabatnya yang berurusan untuk menghadapi tipu daya Iblis. Demikian gambaran manfaat yang dapat diperoleh dari ilmu yang terintegrasi dengan kebenaran Rasulullah SAW.

Melampaui Kesemuan Pada Ilmu

Pada sisi lainnya, ada pengetahuan-pengetahuan yang tampaknya berkilau akan tetapi sebenarnya merupakan fitnah. Syaitan menyesatkan manusia tidak hanya menggunakan ilmu yang salah, akan tetapi juga menggunakan kebenaran yang tidak diketahui nilainya. Iblis dahulu mendorong Adam dan Hawa untuk mendatangi pohon khuldi. Pada dasarnya setiap manusia merupakan pohon yang harus tumbuh dan berbuah sebagai kalimah Allah. Itu merupakan kebenaran. Tetapi sebenarnya syaitan bisa menggunakan kebenaran yang tidak diketahui nilainya oleh manusia untuk menyesatkan mereka. Manakala seseorang tergesa-gesa atau bisa dibuat tergesa-gesa mendatangi pohon thayibah dirinya, syaitan sebenarnya menunggu mereka pada pohon itu. Tanduk syaitan akan terbit bersama dengan terbitnya matahari. Setiap orang harus membina keikhlasan yang kokoh dalam berusaha mengenali pohon thayibah dirinya sedemikian ia bisa mengenali tanduk syaitan yang menyertai pohon thayibah manakala berbuah.

Seseorang yang kokoh dalam keikhlasan akan lebih berusaha mengenali kedudukan dirinya dalam urusan Rasulullah SAW, tidak menempatkan dirinya dalam urusan mandiri yang terpisah. Pengetahuan yang mereka bangun seringkali disertai pengetahuan tentang silsilah urusan dirinya. Misalnya jika seseorang adalah pembantu khalifatullah maka ia mengenal khalifatullah sebagai wasilah yang menghubungkan dirinya kepada Rasulullah SAW. Seseorang yang merasa sebagai puncak pemegang urusan menunjukkan ia tidak sepenuhnya mengetahui kedudukan Rasulullah SAW, termasuk bagi urusan dirinya. Itu bisa menjadi tanda bahwa ia mungkin mengikuti tanduk syaitan. Seseorang yang benar akan mengetahui dirinya merupakan bagian dari amr jami’ Rasulullah SAW bukan sumber urusan. Yang penting bagi orang yang benar adalah pelaksanaan urusan Rasulullah SAW bukan urusan dirinya sendiri. Mungkin ia tidak peduli urusan dirinya. Ia hanya memperhatikan urusan yang keluar dalam bentuk ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan menggunakan apa yang ada dalam dirinya untuk mewujudkan urusan dari firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW tidak mengutamakan apa yang ada dalam dirinya. Seandainya ia berjumpa dengan wasilahnya, ia akan lebih mendengarkan arahan wasilahnya daripada yang ada dalam dirinya karena arahan itu lebih sempurna mendekati urusan Rasulullah SAW.

Dalam pelaksanaan amal, seseorang yang mengenal urusan diri perlu memperhatikan banyak hal. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW terkait urusan dan pelaksanaan urusan yang harus ditunaikan. Selanjutnya ia harus memperhatikan segala sesuatu yang terkandung dalam dirinya berupa pengetahuan-pengetahuan internal ataupun hal lain yang ada dalam dirinya. Ia juga perlu memperhatikan objek untuk mewujudkan amalnya dan bila perlu melakukan penyesuaian seperlunya dengan keadaan. Kadangkala keadaan yang harus diperhatikan terkait dengan langkah musuh yang merusak urusannya. Misalnya seseorang mengetahui urusan musuh, ia perlu mempertimbangkan kerusakan yang telah diperbuat oleh musuhnya dan memperbaikinya dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala keadaan yang harus diperhatikan adalah sinergi dengan sahabat-sahabat yang menolong agama baik dalam urusan wasilah yang sama atau sahabat yang lebih jauh.

Mengenal urusan wasilah kepada Rasulullah SAW akan menjadikan seseorang dapat bekerjasama dengan sahabatnya. Misalnya apabila urusan seseorang adalah membantu khalifatullah pada satu bagian urusan, ia dapat membantu sahabatnya dalam membantu khalifatullah pada bagian yang lain sesuai dengan keadaan dirinya. Hubungan bantu membantu ini pasti ada, tidak ada seseorang yang diciptakan dengan urusan sendirian. Bila ia tidak mengenal urusan wasilahnya, ia mungkin tidak menyadari manfaat dari urusan sahabatnya hingga ia mungkin bekerja sendiri tanpa peduli sahabatnya atau justru merusak urusan sahabatnya yang lain. Ia mungkin hanya memandang penting urusannya sendiri dan memandang yang lain tidak penting. Lebih buruk lagi mungkin seseorang memandang sahabatnya sebagai pesaing atau justru lawan karena kurangnya pemahaman terhadap urusan Al-Jamaah. Hal demikian tidak boleh terjadi. Setiap orang hendaknya berusaha menemukan dirinya sebagai bagian dari Al-Jamaah yang membantu pelaksanaan urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya. Pengenalan sebagai bagian Al-Jamaah hendaknya dibentuk hingga seseorang mengetahui urusan jaman dan hubungan wasilah yang seharusnya dibentuk pada jamaah tersebut, bukan terus menerus hanya sebagai kumpulan orang-orang yang bekerja bersama tanpa mengetahui hubungan urusan masing-masing dengan sahabatnya. Saling membantu di jalan Allah berlaku bagi setiap muslim.

Bukan hanya membantu, seseorang perlu bisa melihat apa yang bisa menolong dirinya menempuh jalan Allah dari sahabatnya. Hal itu bisa dilakukan dengan benar bila setiap orang berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan benar. Keberhasilan seorang mukmin dalam mengenali urusan jaman sebenarnya akan sangat memudahkan mukminin lain untuk mengenal urusan bagi dirinya. Manakala seseorang mengenali urusannya, seharusnya kaum mukminin lainnya akan mudah mengikuti langkahnya mengenali urusan Allah yang harus ditunaikan dengan memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang ditunaikan sahabatnya. Akan tetapi tidak jarang suatu kaum terliputi oleh waham yang menjadikan mereka sulit untuk mengenali urusan Allah. Kadangkala suatu kaum hanya mengikuti suatu ajaran tanpa memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang ditunaikan, maka mereka tidak menemukan urusan Allah hanya mengikuti doktrin secara membuta. Kadangkala seseorang tidak berhati-hati memahami urusan Allah hingga terjebak mengerjakan urusan sendiri bukan mengerjakan urusan Allah, tetapi menyangka itu urusan Allah. Bila tidak memperhatikan tuntunan Allah, suatu kaum tersebut akan kesulitan untuk mengenal urusan Allah. Urusan Allah akan ditemukan oleh orang yang mengikuti sahabatnya dengan memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Setiap orang harus membangun ilmu yang terintegrasi dengan Rasulullah SAW agar ilmu yang diperoleh semakin bertambah bobot manfaatnya semakin mendekati nilai hakikat. Banyak muslimin yang tidak melangkah dengan benar hingga menjadi tersesat. Sebagian muslimin yang bodoh mengikuti nilai-nilai syaitaniah yang disusun dengan dalil-dalil tanpa berusaha memahami hingga menjadi kaum khawarij yang terlempar dari islam. Sebagian muslimin mengasah kemampuan menggunakan akal tetapi tidak mengintegrasikan pemahaman mereka dengan amr jami’ Rasulullah SAW sedemikian mereka berbuat baik secara menyimpang dari maksud Rasulullah SAW menjadi ahlul bidah. Dalam beberapa hal, amal yang dipandang ahlul bid’ah sebagai kebaikan itu sebenarnya menghancurkan upaya orang-orang yang benar-benar peduli dengan pelaksanaan urusan Rasulullah SAW. Beberapa kaum muslimin mungkin hanya memperhatikan urusan diri sendiri hingga tidak berjalan mendekat kepada Allah dengan melaksanakan amal-amal yang ditentukan bagi mereka, terus saja berada di tepian jurang dalam ibadahnya kepada Allah.

Sabtu, 09 Mei 2026

Berubahnya Nikmat Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan hati-hati dan seksama tidak terjebak pada langkah-langkah yang menyimpang. Penyimpangan langkah dari sunnah Rasulullah SAW dapat terjadi pada seluruh tingkat perjalanan manusia, bahkan sekalipun manakala seseorang telah mengenal nikmat Allah bagi diri mereka. Setiap orang atau setiap kaum hendaknya selalu berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam mensyukuri nikmat yang dianugerahkan kepada mereka.

﴾۳۵﴿ذٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِّعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَىٰ قَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Anfaal : 53)

Pada dasarnya Allah tidaklah mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan kepada suatu kaum, akan tetapi tetap saja nikmat Allah tersebut dapat berubah yaitu manakala mereka mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri. Orang-orang yang telah memperoleh nikmat Allah sebenarnya hanya mengerjakan urusan-urusan yang diturunkan Allah kepada mereka, maka hendaknya mereka menunaikan urusan-urusan itu sesuai dengan petunjuk Allah. Amal demikian itulah yang mengekalkan mereka dalam nikmat Allah. Urusan-urusan yang dikerjakan sesuai dengan kehendak Allah, untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan Allah, dikerjakan sesuai dengan tuntunan-tuntunan Allah yang secara jelas sesuai dengan tuntunan yang nyata berupa kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW itu merupakan bentuk kebersyukuran terhadap nikmat Allah yang menjadikan seseorang diberi lebih banyak nikmat lagi.

Boleh jadi ada orang-orang yang tidak mensyukuri nikmat Allah. Suatu kaum mungkin saja tidak mengerjakan amal yang diperintahkan Allah, atau tidak peduli tujuan yang dikehendaki Allah atas amal harus dilakukan, atau mengerjakan amal dengan cara yang tidak dikehendaki Allah dan bentuk amal lainnya yang serupa, maka hal itu sebenarnya merupakan perbuatan mengubah nikmat Allah. Apabila mereka bertindak tidak sesuai dengan petunjuk-petunjuk Allah, mereka sebenarnya mengubah nikmat Allah yang dilimpahkan atas diri mereka. Hal itu akan menjadi sebab berubahnya suatu nikmat Allah atas diri suatu kaum.

Mengubah nikmat Allah dapat terjadi karena kurangnya keikhlasan dalam beribadah kepada Allah. Bisa saja seseorang memandang dirinya tinggi di antara manusia karena urusan Allah yang dianugerahkan kepada diri mereka sedemikian mereka menyombongkan diri dengannya. Mungkin juga seseorang lebih menginginkan apa yang tampak baik bagi pandangannya daripada yang diperintahkan Allah hingga ia mengusahakan tujuannya sendiri. Tidak jarang suatu kaum sangat menginginkan sesuatu yang kurang sempurna yang tampak baik dalam pandangan mereka, sedangkan hal itu bisa saja mendatangkan keburukan atas kaum tersebut ketika mereka melupakan petunjuk Allah. Mereka kehilangan orientasi beribadah kepada Allah karena nikmat yang dianugerahkan kepada mereka.

Pengubahan nikmat semacam ini merupakan suatu hal yang bisa saja terjadi atas suatu kaum apabila kaum tersebut tidak memperhatikan petunjuk-petunjuk Allah. Tidak ada seseorang atau suatu kaum yang bisa merasa aman memperoleh nikmat Allah hingga boleh melupakan petunjuk-petunjuk Allah dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, karena nikmat tersebut bisa berubah tanpa mereka ketahui perubahannya. Perubahan sifat nikmat itu hanya akan diketahui oleh seseorang yang benar-benar berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Apabila seseorang atau suatu kaum berpegang pada keyakinannya sendiri bahwa mereka kaum yang lurus, nikmat mereka sebenarnya telah berubah. Ketika Allah mengubah nikmat-Nya atas suatu kaum, sebenarnya kaum itu sendirilah yang mengubah apa-apa yang ada pada nafs mereka. Allah tidak mengubah nikmat yang dianugerahkan kepada suatu kaum kecuali kaum tersebut mengubah apa-apa yang ada pada nafs mereka. Perubahan nikmat itu sebenarnya menunjukkan apa yang ada pada nafs mereka.

Beberapa Dampak Karena Berubahnya Nikmat Allah

Nikmat Allah adalah pengetahuan yang diberikan kepada manusia tentang jalan kehidupan yang dikehendaki Allah. Orang-orang yang diberi nikmat Allah akan memperoleh pengetahuan tentang shirat al-mustaqim, yaitu jalan kehidupan yang paling pendek yang dapat ditempuh seorang hamba Allah untuk menjadi hamba yang didekatkan. Pengenalan shirat al-mustaqim berupa suatu keterbukaan pengetahuan tentang jalan kehidupan yang dikehendaki Allah, seringkali bukan berupa pengetahuan yang dikumpulkan manusia melalui upaya dalam kehidupannya. Berjalan bersama orang yang mengenal shirat al-mustaqim mendatangkan manfaat yang sangat besar dan bisa pula menjadikan diri seseorang mengenal jalan untuk menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah.

Pada dasarnya, nikmat Allah akan mendatangkan suatu manfaat yang besar bagi kehidupan umat manusia hingga masyarakat dapat hidup sejahtera, akan tetapi manfaat ittu tidak selalu dapat mengalir dalam wujud yang nyata. Masyarakat yang kafir mungkin saja menghalangi jalan mengalirnya nikmat Allah melalui orang yang memperolehnya. Seorang yang memperoleh nikmat Allah mungkin saja tampak sebagai orang yang tidak bermanfaat di masyarakat. Problemnya ada pada masyaarakat bukan orang yang memperoleh nikmat Allah. Kadangkala problem itu bisa sedemikian tersembunyi karena peliknya masalah. Suatu kaum yang ingin bertaubat tetapi tersesat mungkin saja memandang orang yang memperoleh nikmat Allah sebagai suatu masalah bagi mereka. Mereka memilih waham mereka sendiri untuk kembali kepada Allah dibandingkan berpegang pada al-bayaan yang diberikan kepada seseorang di antara mereka. Masalah paling pelik dapat terjadi terutama apabila Allah mengubah nikmat-Nya yang diberikan kepada hamba-Nya.

Banyak masalah dapat timbul dari pengubahan nikmat Allah yang dianugerahkan atas suatu kaum. Sesuatu yang dipandang tampak mendatangkan kebaikan seringkali justru mendatangkan keburukan bagi mereka, hanya karena berubahnya sifat nikmat Allah. Seseorang mungkin merasa tinggi derajatnya di sisi Allah sedangkan sebenarnya mungkin saja Allah menghinakannya seperti syaitan dihinakan. Syaitan tidaklah kehilangan pengetahuan-pengetahuannya akan tetapi pengetahuan-pengetahuan itu sebenarnya hanya pengetahuan yang tidak berharga. Demikian pula manakala nikmat atas suatu kaum diubah Allah, nikmat-nikmat itu mungkin tampak tetap melekat pada mereka akan tetapi sebenarnya Allah telah mengubah nilai dari nikmat-nikmat yang mereka peroleh. Ilmu mereka bisa saja tidak dicabut akan tetapi justru mendatangkan keuntungan bagi pihak syaitan.

Kehidupan masyarakat akan menjadi pelik karena berubahnya nikmat Allah, misalnya munculnya banyak pengangguran dari orang-orang yang sebenarnya mempunyai potensi memberikan manfaat yang besar. Mungkin banyak orang yang ingin membangun tatanan bermasyarakat sesuai dengan potensi diri, akan tetapi orang-orang yang potensi diri mereka telah berkembang justru menjadi orang-orang yang tersia-siakan karena berubahnya nikmat Allah. Mungkin pula para pemegang jabatan di antara mereka justru berasal dari kalangan orang-orang yang jahat hingga mereka menyingkirkan orang-orang yang baik. Kehidupan orang-orang yang baik justru menjadi sulit, melaksanakan urusan Allah tanpa ada yang mendukung langkah mereka. Manakala bersungguh-sungguh melaksanakan amal shalih, mungkin mereka ditekan oleh keluarga sendiri untuk mencari penghidupan yang lebih baik tidak menyadari bahwa upaya berdasar amal shalih itu akan mendatangkan kebaikan secara umum. Mungkin sangat banyak orang bersuara untuk memperoleh pekerjaan, tetapi upaya untuk mewujudkan tatanan yang baik justru disingkirkan oleh masyarakat sendiri.

Setiap hamba Allah hendaknya selalu berusaha ikhlas, mengenal dengan benar kehendak Allah atas hamba-hamba-Nya. Prinsip paling dasar dari kehendak Allah yang benar adalah adanya sifat rahman dan rahim. Tidak ada kehendak Allah yang memunculkan madlarat mencelakakan bagi makhluk, dan setiap orang yang ikhlas hendaknya berusaha mengenali sifat rahman dan rahim dalam kehendak-Nya. Manakala seseorang merasa mengetahui kehendak Allah tetapi tidak bisa mengenali kebaikan dalam kehendak Allah yang diketahuinya, ia sebenarnya belum benar-benar mengenal kehendak-Nya. Manakala diketahui dengan benar adanya madlarat dalam kehendak yang dikenali, pengetahuan tentang kehendak-Nya itu hanya pengetahuan yang palsu. Manakala kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bertentangan dengan pengetahuannya, pengetahuan demikian itu merupakan kesesatan. Manakala ia mengetahui adanya kebaikan dalam kehendak yang dikenalinya, boleh jadi itu merupakan pengenalan yang benar terhadap kehendak-Nya. Selanjutnya ia hendaknya memperhatikan benar-benar cara menunaikan kehendak itu sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak ada seseorang mengenal kehendak Allah tanpa mengenali adanya kebaikan di dalamnya. Suatu kebaikan dalam kehendak Allah hanya ada pada keselarasan dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak ada kebaikan pada sesuatu yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Mengenali kehendak Allah hendaknya ditimbang secara seksama, selaras dengan ayat kitabullah dan ayat kauniyah. Kehendak Allah terkait ruang dan jaman kehidupan selalu tercermin dalam keadaan kauniyah jaman itu. Keselarasan pemahaman dengan ayat Allah itu harus ditimbang kebenarannya dengan logika yang benar. Keselarasan tidak boleh ditimbang dengan memandang segala sesuatu yang muncul atau terpikirkan dalam diri merupakan kebenaran yang selaras dengan kitabullah. Keselarasan itu terjadi manakala apa yang muncul atau terpikirkan itu sesuai dengan redaksi kitabullah, sedangkan apabila yang muncul atau terpikirkan itu bertentangan dengan redaksi kitabullah, maka pikiran itu menyimpang tidak boleh dikatakan selaras kitabullah. Ini merupakan logika dasar yang sebenarnya bisa dimengerti oleh setiap orang, (dan mungkin sebenarnya tidak perlu dijelaskan), akan tetapi kadangkala seseorang atau suatu kaum bisa berlogika dengan cara yang berbeda dan merasa benar dengan logikanya. Dengan logika yang keliru, nikmat Allah yang telah dianugerahkan bagi mereka dapat diubah hingga mendatangkan madlarat bagi manusia.

Beberapa Keadaan Orang yang Memperoleh Nikmat Allah

Nikmat Allah adalah pengetahuan yang diberikan kepada manusia tentang kehidupan dan jalan kehidupan yang dikehendaki Allah berupa shirat al-mustaqim. Pengenalan shirat al-mustaqim berupa suatu keterbukaan pengetahuan tentang jalan kehidupan yang dikehendaki Allah. Pengetahuan itu bisa sangat luas walaupun terbatas, dan seringkali bukan berupa pengetahuan yang dikumpulkan manusia melalui upaya dalam kehidupannya. Dengan pengetahuan itu, seseorang bisa bersaksi bahwa “Tiada Ilah selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah rasulullah”. Seseorang yang memperoleh nikmat Allah bisa mengetahui keadaan kauniyah dengan benar melampaui batas persepsi indera jasmaniah dirinya. Mungkin akan ditemukan sangat banyak jebakan pengetahuan yang keliru, maka setiap orang hendaknya menggunakan pengetahuan yang jelas manfaat bagi jalan kehidupan mereka, tidak bermudah menggunakan atau mempercayai setiap pengetahuan yang terbuka kepada dirinya hingga mungkin bisa mengubah nikmat Allah.

Berikut ini contoh pengetahuan yang bisa diperoleh dari nikmat Allah. Dewasa ini kehidupan umat manusia tampak berguncang, sedangkan keadaan ini sebenarnya baru merupakan permulaan. Saat ini, kekuatan Iblis atas diri dunia sebenarnya sangat dibatasi atas kehendak Allah. Iblis besar yang menentang perintah bersujud kepada Adam sedang dan masih kehilangan banyak kekuatannya, karena staf-staf pembantu utamanya telah disingkirkan atas kehendak Allah dari membantu urusannya. Ia seolah sendirian saja karena pembantunya hanya syaitan yang jauh lebih rendah. Semyaza (pemimpin para pengamat/the watchers) dengan setidaknya dua ratus eselon tertinggi urusan mereka diikat dalam penjara hingga waktu yang ditentukan. Azazil staf Iblis dengan banyak pembantu urusannya ditimbun dalam batuan yang tajam hingga tidak dapat membantu mengatur manusia. Demikian pula Terafim dan Abadon telah ditangkap tidak diijinkan untuk membantu Iblis “menata” manusia dalam kehidupan di bumi. Ba’al, Ashera dan Asytoret sebagai pembantu-pembantu utama lain Iblis telah terbunuh oleh para malaikat hingga tidak dapat membantu Iblis. Kehidupan manusia pada jaman ini sebenarnya berada dalam keamanan anugerah Allah dari godaan syaitan yang kuat. Keamanan ini akan terjadi hingga waktu yang ditentukan, yaitu manakala para pembantu utama Iblis itu diijinkan Allah untuk dilepaskan kembali termasuk yang telah terbunuh. Dajjal adalah manifestasi dari kembalinya Ba’al ke dunia. Ia bukan dalam bentuk sapi sebagaimana yang disembah musyrikin penguasa dunia saat ini, tetapi jauh lebih mengerikan, dan ia akan bersekutu dengan manusia untuk menguasai dunia.

Sebagian kisah ini dapat ditemukan dalam kitab nabi Idris a.s. dan sebagian merupakan contoh pengetahuan keadaan kauniyah yang dapat diperoleh melalui nikmat Allah. Pengetahuan demikian sebagian tidak dapat dicari manusia, tetapi seringkali bersifat keterbukaan pengetahuan terkait keadaan. Keterbukaan demikian berhubungan erat dengan shirat al-mustaqim yang ditentukan bagi seseorang. Mukmin hendaknya melaksanakan apa yang ditentukan dalam shirat al-mustaqim dengan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang terkait dengan urusannya. Shirat al-mustaqim tidak berbentuk pelaksanaan perintah-perintah yang bersifat acak, tetapi berupa amal-amal yang ditentukan bagi seseorang sesuai dengan pengetahuan tentang keadaan kauniyah yang didapat melalui keterbukaan (al-fath) pengetahuan dari sisi Allah.

Urusan Allah yang ditentukan bagi manusia seringkali bukan berupa pengetahuan yang sesuai dengan hawa nafsu. Kadangkala hawa nafsu manusia bergejolak manakala mendengar berita sekalipun yang baik. Misalnya manakala seorang syaikh memberitakan tentang kebangkitan Islam, sebagian murid mungkin akan berusaha dengan keras untuk mewujudkan apa yang mereka bayangkan dengan hawa nafsu tentang apa yang diberitakan tanpa mengetahui lebih lengkap bagaimana penjelasan syaikh tentang kebangkitan Islam. Upaya demikian seringkali tidak menyentuh apa yang diajarkan sang syaikh dan mengecewakan syaikh karena murid tidak mengerti urusan Allah. Urusan Allah terkait apa yang syaikh jelaskan harus diperhatikan seluruhnya termasuk dalam urusan yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan hawa nafsu. Mungkin saja para murid seharusnya memikirkan terlebih dahulu tantangan keadaan yang mereka hadapi sebelum tergesa mengejar kemakmuran yang ada dalam bayangan hawa nafsu mereka, sebagai bukti keikhlasan diri mereka.

Bagi orang beriman, tantangan bagi mereka tidaklah kecil. Walaupun dengan terkekangnya Azazil dan pengikutnya, umat manusia masih terancam dengan perang bom nuklir. Kaum musyrikin penyembah Ba’al juga masih bisa menjadi pemimpin bangsa yang besar walaupun Ba’al telah terbunuh. Terbunuhnya Ashera juga tidak menyebabkan manusia terbebas dari lilitan sistem ekonomi ribawi yang merugikan sebagian besar manusia. Demikian pula pengikut Asytoret masih menikmati kedudukan sebagai pemimpin-pemimpin agama yang bekerja untuk kalangan musyrikin dengan pengetahuan yang mereka buat untuk melenakan manusia merasa dalam kebenaran. Pengikut Terafim masih dengan leluasa membuat penyakit-penyakit dan pura-pura menyediakan obat bagi manusia. Bagi sebagian orang yang mengetahui, keadaan kaum mukminin saat ini sedemikian menjadi berantakan karena ulah “si pengamat” anak buah Semyaza. Itu contoh bentuk-bentuk tantangan bagi kaum mukminin, dan tantangan itu sebenarnya akan menjadi lebih lebih besar pada masa yang ditentukan menghadapi tujuh pembantu utama syaitan yang dikembalikan berperan di dunia.

Tantangan itu harus dihadapi dengan nikmat yang lurus. Manakala suatu kaum mengikuti nikmat yang telah diubah, nikmat itu akan berpihak pada syaitan bukan pada urusan Allah. Setiap mukmin hendaknya memperhatikan dengan sungguh-sungguh urusan dan pelaksanaan urusan yang diketahuinya berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Selasa, 05 Mei 2026

Membangkitkan Perubahan Kaum

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti jalan Rasulullah SAW akan mendatangkan kebaikan bagi umat manusia. Hal itu dimulai dari perubahan-perubahan yang terjadi pada nafs orang-orang mukmin yang mengikuti langkah Rasulullah SAW hingga mendatangkan perubahan yang lebih baik dalam kehidupan.

﴾۱۱﴿لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS Ar-Ra’du : 11)

Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada nafs mereka. Perubahan keadaan suatu kaum akan terjadi mengikuti perubahan dalam nafs-nafs pada kaum tersebut. Manakala nafs suatu kaum berubah menjadi baik, keadaan mereka akan berubah menjadi baik. Manakala nafs suatu kaum berubah menjadi lebih buruk, keadaan mereka akan menjadi lebih buruk. Perubahan-perubahan keadaan suatu kaum akan ditentukan dengan perubahan nafs-nafs pada kaum tersebut.

Banyak orang yang menyangka bahwa perubahan suatu kaum akan terjadi apabila kaum tersebut berusaha untuk mengubah keadaan mereka. Ini merupakan suatu pengertian yang kurang tepat. Sangat banyak kaum yang memandang keadaan diri mereka buruk dan kemudian berusaha mengubah tatanan di antara mereka untuk memperbaiki keadaan, tetapi hasil dari usaha yang mereka lakukan itu tidak menunjukkan perbaikan akan tetapi seringkali hanya usaha yang sia-sia saja atau bahkan justru keadaan berubah menjadi lebih buruk. Untuk memperoleh perubahan keadaan menuju kebaikan, suatu kaum hendaknya mengubah nafs mereka menjadi lebih baik, dimulai dari nafs masing-masing diikuti dengan amar ma’ruf nahy munkar agar nafs kaum menjadi lebih baik. Perubahan keadaan nafs menuju lebih baik itulah yang akan mendatangkan perubahan yang lebih baik.

Perubahan nafs menjadi lebih baik akan diperoleh manakala setiap individu bertaubat kepada Allah dengan membina akhlak yang mulia. Pembentuk akhlak mulia yang paling utama adalah sifat rahman dan sifat rahim. Akhlak adalah bentuk konstruk diri, tidak sepenuhnya ditunjukkan dengan etika. Akhlak yang baik akan menerbitkan etika yang baik, tetapi etika yang baik belum tentu menunjukkan akhlak yang baik. Hubungan etika dan etika tidak sepenuhnya terhubung secara lurus. Kadangkala manusia harus bersikap keras karena akhlak yang baik hingga mungkin saja dipandang beretika kurang baik, tetapi sebenarnya hasil yang diperoleh adalah kebaikan. Perang yang terjadi di Iran sedikit atau banyak dapat menunjukkan terbentuknya akhlak mulia. Akhlak rahmaniah seorang hamba Allah akan terbentuk dengan baik apabila ia membina diri sebagai misykat cahaya Allah.

Pembinaan akhlak mulia akan menjadikan nafs-nafs di masyarakat menjadi semakin baik dan keadaan mereka akan semakin baik. Pembinaan itu harus dilakukan terhadap masyarakat secara menyeluruh. Masyarakat yang masih gemar terhadap kehidupan duniawi hingga berbuat dosa hendaknya dibina untuk mengenal nilai-nilai yang lebih luhur daripada materi duniawi hingga mereka terhindar dari berbuat jahat. Masyarakat yang menginginkan nilai-nilai luhur hendaknya diseru untuk bertaubat agar dapat mengenal sumber keluhuran dan jalan mengalirnya hingga terwujud dalam kehidupan dunia. Orang yang bertaubat hendaknya dibina di atas sifat rahman dan rahim dan diberikan makanan akal yang selayaknya agar dapat memahami ayat-ayat Allah baik di alam kauniyah maupun dari kitabullah hingga mereka terbentuk sebagai misykat cahaya yang dapat membentuk bayangan dari cahaya Allah. Orang-orang yang telah membentuk misykat cahaya hendaknya diberi kedudukan yang semestinya agar mampu beramal shalih hingga kehendak Allah yang terbentuk dalam diri mereka dapat termanifestasi memberikan manfaat bagi kehidupan bersama. Demikian pembinaan akhlak mulia hendaknya dilaksanakan secara menyeluruh. 

Mengubah Keadaan dengan Mengubah Diri

Perubahan keadaan suatu kaum terjadi bukan hanya karena perbaikan akhlak saja, tetapi bagaimana suatu nafs dengan perbaikan akhlak memperoleh objek yang tepat bagi dirinya. Perubahan keadaan suatu kaum menuju kebaikan akan terjadi manakala nafs-nafs bersanding dengan objek yang tepat. Yang mengubah keadaan adalah perubahan apa-apa yang ada pada nafs mereka, bukan hanya perubahan nafs mereka. Setiap perubahan akhlak suatu nafs akan membutuhkan objek yang berubah, kadangkala berubah jenisnya dan kadangkala hanya berubah kualitasnya. Apabila perubahan akhlak nafs tidak disertai dengan perubahan objek yang tepat bagi diri mereka, perubahan yang terjadi hanya akan sedikit saja. Semakin kuat akal seseorang dalam memahami tuntunan Allah, hendaknya ia semakin bersungguh-sungguh melaksanakan apa yang dipahami dari tuntunan Allah. Seseorang yang telah membentuk misykat cahaya harus mengurusi sepenuhnya bidang yang menjadi objek bagi dirinya tidak dicegah dari urusannya. Mengubah apa yang ada pada nafs-nafs umat yang akan mendatangkan kebaikan bagi umat.

Pernikahan adalah sesuatu yang paling utama dari apa yang ada pada nafs. Pasangan menikah merupakan sesuatu di luar diri seseorang dalam bentuk paling serupa dengan dirinya hingga dapat berproses bersama, dan ia dihadirkan melalui suatu perjanjian di hadirat Allah. Seseorang bisa menemukan bagian dirinya berupa jasmani, nafs dan amr Allah yang sama dalam wujud pasangannya. Pernikahan merupakan sesuatu yang ada pada nafs yang paling haq, yang menjadi sumber proses perubahan kebaikan yang dapat dibuat oleh manusia. Proses perubahan pada suatu kaum menuju kebaikan ditentukan oleh kebaikan pernikahan mereka. Manakala suatu pernikahan rusak, proses perubahan suatu kaum oleh pasangan itu akan menjadi rusak. Sekalipun seorang nabi, ia tidak akan bisa memberikan sumbangsih perubahan menuju kebaikan apabila pernikahannya tidak mendukungnya. Kerusakan pernikahan suatu bangsa akan mendatangkan kehancuran bagi bangsa itu.

Para nabi diperintahkan untuk menempatkan manusia pada urusannya. Pokok dari menempatkan manusia pada urusannya adalah menemukan pasangan yang tepat atau paling baik, kemudian membina mereka untuk mengenali nafs wahidah diri mereka. Pernikahan akan membuat pasangan manusia memperoleh tempat pertumbuhan layaknya pohon yang ditanam di ladang. Dengan proses demikian, mereka akan menemukan urusan Allah bagi masing-masing. Para nabi tidak membuka lapangan pekerjaan bagi orang-orang yang mengikutinya untuk menempatkan mereka pada urusan masing-masing, tetapi para nabi membuka pemahaman umat terhadap penciptaan diri mereka sendiri. Mungkin nabi menunjuk beberapa orang untuk kedudukan tertentu, tetapi utamanya adalah setiap orang dapat memahami penciptaan diri mereka. Setiap individu dapat menyumbangkan peran menolong agama dan menolong usaha para nabi dengan mengenali jodoh yang tepat dan membina pernikahan mereka dengan sebaik-baiknya, karena setiap individu diberi bagian kemampuan untuk mengusahakan yang terbaik bagi diri masing-masing dan pasangannya melalui pernikahan. Setiap manusia diberi kemampuan untuk mengidentifikasi jodohnya, berkomunikasi dan berkembang bersama dan bersinergi melaksanakan amal dan urusan agama melalui pernikahan. Setiap orang mempunyai kemampuan untuk menolong urusan nabi menempatkan manusia pada urusannya melalui pernikahannya. Kemampuan demikian itu akan menjadi bekal untuk menyumbangkan peran bagi masyarakat yang lebih besar.

Menempatkan manusia pada urusannya merupakan bagian dari agama. Dari sudut pandang pernikahan, menempatkan manusia pada tempatnya merupakan bagian dari pernikahan, karena sasaran dari pernikahan berkedudukan sangat tinggi lebih tinggi dari mengenal urusan diri, yaitu bersasaran membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Setiap tingkatan proses dalam proses taubat memperoleh media terbaik berupa pernikahan, termasuk proses dalam upaya mengenal urusan diri. Menempatkan manusia pada urusannya akan menjadi mudah bila pembinaan pernikahan dilakukan dengan sebaik-baiknya, dan sebaliknya tidak bisa dilakukan bila pembinaan pernikahan dirusak. Merusak pembinaan pernikahan pada dasarnya mendatangkan kerusakan fundamental pada tatanan manusia hingga tatanan manusia yang telah diikrarkan di hadapan Allah. Merusak pernikahan bernilai sama dengan mencabut atau mengusir seseorang dari urusannya. Tidak ada manfaat yang diperoleh orang lain atau suatu kaum manakala seseorang mengenal urusan Allah bila pernikahannya dirusak. Bahkan orang demikian akan menjadi beban kehidupan bermasyarakat.

Perubahan suatu kaum akan terjadi dengan perubahan apa yang ada pada nafs-nafs mereka. Hal ini dimulai dari perubahan nafs menuju kebaikan, kemudian nafs itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka, dari yang terdekat berupa pasangan menikahnya hingga menjangkau bergeraknya perubahan suatu kaum menuju perbaikan. Proses perubahan ini hendaknya tidak diputus pada mata rantainya, terutama mata rantai ikatan suami isteri karena akan memutuskan seluruh proses perubahan menuju kebaikan oleh individu yang mungkin telah mampu memberi manfaat. Individu yang telah mengenal urusan diri sekalipun akan mudah diusir dari urusannya manakala ikatan suami isteri mereka dirusak, hingga bahkan mereka akan kesulitan berusaha untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri.

Tetap Mengharapkan Petunjuk Allah

Allah Maha Mengetahui segala sesuatu baik yang tampak ataupun tersembunyi dari pandangan makhluk-Nya. Allah Maha Mengetahui seluruh potensi dan sebab perubahan-perubahan yang mungkin terjadi atas suatu kaum, baik potensi yang tumbuh membesar ataupun potensi yang kurang sempurna. Tidak jarang suatu kaum sangat menginginkan sesuatu yang kurang sempurna yang tampak baik dalam pandangan mereka, sedangkan hal itu bisa saja mendatangkan kehendak Allah untuk menimpakan keburukan atas kaum tersebut. Manakala Allah berkehendak menimpakan keburukan atas suatu kaum, tidak ada yang bisa mencegah keburukan itu menimpa atas diri mereka, dan tidak ada pula yang dapat melindungi diri mereka dari keburukan itu.

Keinginan terhadap sesuatu itu merupakan tanda kurangnya keikhlasan manusia dalam menghamba kepada Allah. Manakala Allah menampakkan suatu kebaikan, manusia lebih menginginkan kebaikan itu daripada menghamba kepada Allah hingga mereka melupakan petunjuk Allah. Manakala manusia berbuat demikian, bisa saja hal itu mendatangkan kehendak Allah untuk menimpakan keburukan atas diri mereka. Keinginan mereka terhadap sesuatu yang tampak baik itu sendiri adalah keburukan yang mengundang keburukan. Setiap hamba Allah hendaknya terus berusaha memahami petunjuk Allah hingga pemahaman mereka semakin bertambah. Mustahil seorang hamba memahami secara sempurna seluruh petunjuk Allah, tetapi hal itu bukan suatu sebab yang mendatangkan keburukan. Keinginan untuk terus memahami petunjuk Allah itulah yang merupakan kehendak Allah untuk hamba-Nya, dan merasa sempurnanya pemahaman diri merupakan tanda kurang sempurnanya potensi keikhlasan yang dapat dilahirkan.

Allah tidaklah mengubah nikmat yang telah dilimpahkan atas suatu kaum hingga mereka mengubah apa-apa yang ada pada nafs-nafs mereka. Orang-orang yang telah memperoleh nikmat Allah bersanding dengan urusan-urusan yang diturunkan Allah kepada mereka, maka hendaknya mereka menunaikan urusan-urusan itu sesuai dengan petunjuk Allah. Apabila mereka bertindak tidak sesuai dengan petunjuk-petunjuk Allah, mereka sebenarnya mengubah apa-apa yang seharusnya ada pada nafs-nafs mereka. Demikian pula apabila mereka mengabaikan urusan-urusan yang disampaikan kepada mereka, mereka mengubah apa-apa yang ada pada nafs-nafs mereka.

﴾۳۵﴿ذٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِّعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَىٰ قَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Anfaal : 53)

Setiap hamba Allah hendaknya memperhatikan dengan sungguh-sungguh petunjuk-petunjuk terkait urusan yang harus mereka laksanakan, tidak terburu-buru mengejar hasil yang mereka inginkan atau harus dicapai. Itu merupakan suatu bentuk keikhlasan. Menyimpangnya pelaksanaan nikmat Allah oleh seseorang dari ketentuan yang digariskan dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW merupakan bentuk pengubahan nikmat Allah yang akan mendatangkan pengubahan nikmat oleh Allah. Manakala suatu nikmat telah Allah ubah, nikmat itu tidak lagi mendatangkan manfaat yang semestinya, berupa berkurangnya manfaat atau justru menjadi suatu madlarat. Sangat banyak bentuk nikmat-nikmat Allah yang bisa berubah, karena Allah mengubahnya. Suatu pemahaman tertentu dapat berubah menjadi waham yang menghalangi hamba Allah untuk mengerti kehendak Allah. Suatu amal tertentu yang diperintahkan dapat berubah mendatangkan kerusakan karena dilaksanakan tanpa berpegang pada petunjuk Allah yang lain. Suatu ketetapan tertentu yang baik dapat berubah menjadi suatu fitnah karena kurangnya keikhlasan dalam beribadah kepada Allah. Sangat banyak bentuk-bentuk nikmat yang dapat berubah sifat karena Allah mengubahnya.

Setiap orang harus berusaha untuk memahami kehendak Allah dengan sempurna, tanpa merasa sempurna. Sebenarnya tidak ada makhluk yang bisa memahami kehendak Allah secara sempurna, tetapi akan berbahaya manakala para hamba Allah tidak mau berusaha memahami. Hanya Rasulullah SAW yang bisa memahami secara sempurna sebatas apa yang dikehendaki Allah, sedangkan syaitan merasa sempurna. Tidak menjadi masalah manakala seseorang salah dalam memahami kehendak Allah, tetapi akan menjadi sangat berbahaya manakala ia tidak bisa menyadari kesalahannya. Tidak menjadi masalah apabila seseorang tidak sempurna dalam memahami, tetapi akan menjadi masalah manakala seseorang tidak mau memahami kebenaran yang disampaikan kepada dirinya. Masalah-masalah itu harus dihindari oleh setiap hamba Allah dengan berusaha memperhatikan sungguh-sungguh petunjuk Allah. Manakala hamba Allah lalai dalam memperhatikan petunjuk Allah, nikmat Allah yang ada pada mereka dapat berubah sifatnya karena Allah mungkin saja mengubahnya.

Merasa sempurna memahami tidak selalu berwujud tinggi hati. Merasa sempurna memahami seringkali muncul dalam bentuk mengabaikan kebenaran dan merendahkan orang lain. Manakala seseorang berbicara benar, orang yang merasa sempurna tidak mau memperhatikan kebenaran yang disampaikan dan menganggap remeh orang yang menyampaikan. Atau sebaliknya, seseorang yang menyampaikan kebenaran dipandang remeh kemudian ia tidak bisa mendengar kebenaran yang disampaikan orang tersebut. Ini merupakan bentuk kesombongan yang bisa menjadi tanda seseorang merasa sempurna. Hamba Allah harus selalu berusaha memahami kebenaran yang disampaikan kepada dirinya, baik oleh orang yang terpandang ataupun orang yang jahat. Mungkin tidak harus selalu mengikuti orang yang menyampaikan, akan tetapi harus bisa mengerti kebenaran yang disampaikan tidak boleh mengabaikannya.

Jumat, 01 Mei 2026

Mengikuti Jalan Orang Beriman

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Rasulullah SAW merupakan tauladan puncak bagi seluruh hamba Allah. Setiap hamba Allah yang ingin menjadi dekat kepada Allah harus mengikuti langkah beliau SAW tidak boleh menempuh langkah yang lain. Setiap orang yang melangkah menyimpang dari jalan Rasulullah SAW akan dimasukkan ke dalam jahannam sebagai seburuk-buruk tempat kembali. Ini berkebalikan dengan kedekatan kepada Allah sebagai semulia-mulia tempat kembali.

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Dan barang siapa yang menyelisihi Rasul sesudah jelas petunjuk baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. Kami biarkan ia berkuasa atas apa yang ia telah usahakan itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-seburuk tempat kembali . [QS An-Nisaa : 115]

Jalan orang beriman berupa jalan mewujudkan kehendak Allah yang terdapat pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW berdasar suatu penjelasan (al-bayaan) kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bukan pemikiran sendiri. Ada suatu penjelasan (al-bayaan) tentang suatu firman Allah yang menjadi landasan upaya mereka, tetapi penjelasan tersebut sama sekali tidak keluar dari ayat kitabullah. Mereka berusaha mewujudkan suatu tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tanpa berbantah-bantah dengan mukminin lain karena kurang jelasnya pemahaman, melakukannya berdasar suatu kejelasan pemahaman terhadap kehendak Allah. Al-bayaan demikian seringkali terkait dengan realitas yang terjadi dan menyentuh inti persoalan yang harus dihadapi. Al-bayaan akan bisa dipahami dengan benar oleh orang-orang yang membina sifat rahman dan rahim.

Al-bayaan bisa diterima oleh orang-orang yang benar-benar beriman, bukan hanya diperoleh oleh rasul-rasul. Tidak semua orang beriman bisa memperoleh al-bayaan, tetapi hanya orang-orang dalam kualifikasi mengenal shirat al-mustaqim. Mereka adalah orang-orang yang mengalami keterbukaan tentang penciptaan diri mereka disertai dengan pengenalan terhadap shirat al-mustaqim yang harus ditunaikan agar mereka dijadikan hamba yang didekatkan kepada Allah. Shirat al-mustaqim merupakan lintasan paling dekat yang harus ditempuh seorang hamba untuk menjadi dekat dengan Allah, berupa pelaksanaan tugas-tugas yang ditetapkan Allah bagi dirinya sebelum ia dilahirkan ke dunia. Tanda dari orang yang mengenal nafs wahidah adalah mereka mengetahui peran dirinya dalam urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya. Sebenarnya syaitan juga mendorong manusia untuk mengenal diri tetapi pengenalan diri demikian digunakan untuk menyesatkan, seperti pohon khuldi.

Petunjuk yang terjelaskan merupakan pengetahuan yang terintegrasi dan dipahami sesuai dengan realitas. Integrasi pengetahuan yang membentuk petunjuk yang terjelaskan mencakup ayat kitabullah, ayat kauniyah maupun ayat-ayat di dalam qalb. Derajat integritas pemahaman dan petunjuk yang terjelaskan berada di atas persepsi inderawi. Yang disebut petunjuk bukan hanya berbentuk persepsi inderawi tetapi juga disertai terbentuknya pemahaman berupa al-bayaan. Tidak sedikit orang yang berselisih atau menentang orang lain yang memahami atau memberitakan petunjuk yang terjelaskan hanya karena persepsi inderawi yang mereka terima. Mungkin seseorang diberi qalb, diberi pendengaran bathin, dan diberi penglihatan bathin tetapi tidak menggunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah dan realitas yang digelar, maka mereka itu sebenarnya termasuk ahli neraka. Pertentangan demikian merupakan suatu kesesatan dan menyebabkan seseorang termasuk ahli neraka. Jalan yang mereka tempuh bukan termasuk sebagai jalan orang-orang beriman.

Seseorang bisa memahami al-bayaan baik langsung menerimanya atau mendengar perkataan orang lain. Setelah memahami, seseorang bisa menyampaikan al-bayaan yang dipahaminya kepada orang lain, dan demikian orang seterusnya. Manakala seseorang telah memahami suatu penjelasan (al-bayaan) kandungan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka sebenarnya telah menemukan tanda-tanda jalan orang-orang beriman, dan mereka harus mengikuti jalan orang beriman tersebut. Manakala mereka tidak memperhatikan jalan orang-orang beriman, mereka telah menempuh selain jalan orang-orang beriman. Tidak sedikit orang yang memandang pengetahuan diri mereka lebih baik dibandingkan penjelasan yang selaras dengan apa yang diajarkan Rasulullah SAW kemudian mereka menyelisihi penjelasan tersebut. Bila terjadi demikian, mereka menempuh jalan kehidupan selain jalan kehidupan mukminin. Boleh jadi Allah melapangkan bagi mereka penguasaan terhadap implementasi pengetahuan yang ada pada diri mereka hingga barangkali mereka akan memandangnya sebagai suatu berkah karena meluasnya kehidupan mereka, sedangkan sebenarnya tidak demikian. Allah meluaskan kekuasaan mereka dalam menempuh jalan kehidupan yang menyelisihi al-bayaan dan jalan kehidupan kaum mukminin, tetapi kemudian Allah akan memasukkan mereka ke dalam jahannam.

Mengenali Jalan Mukminin

Menempuh jalan selain jalan orang-orang beriman dapat terjadi pada muslimin yang tidak memperhatikan jalan keimanan, atau orang-orang yang memilih mengikuti langkah yang salah. Setiap muslim hendaknya berusaha mengenali dan memperhatikan al-bayaan dan jalan orang-orang beriman dan mengikuti langkah yang ditempuh orang-orang beriman. Demikian pula orang beriman hendaknya memperhatikan langkah orang beriman lainnya, tidak membiarkan orang beriman melangkah sendirian. Adanya seorang beriman yang melangkah sendirian menunjukkan langkah yang celaka, baik orang yang berjalan sendirian yang celaka atau orang banyak yang celaka, atau keduanya celaka. Ini bisa terjadi karena umat tidak memperhatikan jalan orang beriman dan prinsip keberjamaahan kaum mukminin.

Jalan orang-orang beriman adalah apa-apa yang mereka usahakan untuk mewujudkan kehendak Allah sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sesuai al-bayaan kepada mereka. Untuk mengenal jalan orang beriman, hendaknya setiap muslimin benar-benar memperhatikan urusan yang diperjuangkan. Banyak orang yang berusaha untuk mewujudkan kehendak Allah tetapi sebenarnya tidak benar-benar memahami tuntunan Allah dengan tepat. Mereka barangkali bukan orang yang mengikuti selain jalan orang-orang beriman tetapi tidak pula mengikuti jalan orang beriman. Ada pula orang-orang yang merasa benar-benar berada pada jalan orang-orang beriman sedangkan mereka sebenarnya mengabaikan al-bayaan yang diturunkan Allah. Jalan orang-orang beriman adalah apa-apa yang diusahakan untuk mewujudkan kehendak Allah sesuai dengan al-bayaan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Upaya mengenali jalan orang-orang beriman dapat dilakukan dengan membina akhlak al-karimah rahman dan rahim dengan membina diri sebagai misykat cahaya Allah.

Membina diri sebagai misykat cahaya pun harus dilakukan dengan berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak sedikit orang menempuh jalan taubat tetapi tidak membentuk akhlak mulia. Ada orang-orang yang menjadi sombong karena ilmu yang diberikan kepada mereka hingga mereka meremehkan orang lain dan mengabaikan kebenaran, bahkan mengabaikan al-bayaan yang disampaikan kepada mereka. Manakala ada orang lain memberikan peringatan tentang langkah yang menyimpang, mereka tidak mau memperhatikan apa-apa yang diperingatkan sahabatnya, dan kadang menganggap orang tersebut sebagai lawan yang pantas dihinakan. Kadang hal demikian membesar menjadi suatu sikap massa sedemikian orang yang memberikan peringatan itu menjadi objek dipandang buruk suatu kaum. Ia mungkin mestinya menjelaskan albayaan kepada umat tetapi kehilangan tempat berpijak. Manakala satu orang menyadari seruannya atau kesalahan dirinya, massa yang mengikuti sikap mereka belum tentu ikut menyadari hingga tetap bersikap memandang rendah. Mereka tidak bisa menyadari akhlak buruknya. Sebenarnya kaum demikian kurang berakal karena tidak bisa menimbang kebenaran. Semua akhlak mulia harus dibina berdasarkan pemahaman terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak boleh mengikuti waham sendiri.

Orang-orang demikian tidak termasuk orang yang mengikuti jalan orang beriman sekalipun apabila dipandang indah. Ilmu yang bercampur kesombongan demikian itu sebenarnya hanya sedikit. Masalah utamanya bukan ilmu yang sedikit, tetapi kerdilnya akal kaum dalam memahami kebenaran, dan mungkin terkandung kesesatan dalam pemahaman demikian. Kerdilnya akal suatu kaum akan menyebabkan pemahaman terhadap kehendak Allah tidak subur hingga masyarakat menjadi kacau. Kebenaran hanya menjadi jargon-jargon yang tidak dipahami nilai kebaikannya. Orang-orang yang seharusnya menyampaikan al-bayaan justru akan tersingkir karena kerdilnya akal kaum. Kesesatan pemahaman akan mendatangkan kerusakan terhadap kehidupan umat manusia, menjadi racun bagi agama. Mungkin tercampur dalam usaha mereka pemikiran-pemikiran sendiri yang bukan merupakan bagian dari kandungan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, atau pemahaman mereka tidak menyentuh persoalan realitas yang terjadi hingga usaha mereka tidak mendatangkan kebaikan atau bahkan membuat kerusakan tertentu. Jalan orang beriman benar-benar berupa jalan mewujudkan kehendak Allah yang terdapat pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tentu saja ada penjelasan (al-bayaan) tentang suatu firman Allah pada usaha mereka yang mungkin tidak terlihat sepenuhnya sebagai kandungan kitabullah, tetapi sebenarnya penjelasan tersebut sama sekali tidak keluar dari ayat kitabullah. Al-bayaan tersebut merupakan bagian dari kitabullah Alquran bukan pikiran yang dibuat-buat. Al-bayaan demikian seringkali terkait dengan realitas yang terjadi dan menyentuh inti persoalan yang harus dihadapi. Al-bayaan akan sepenuhnya dipahami oleh orang-orang yang membina sifat rahman dan rahim.

Mengenal Bobot Ilmu

Dewasa ini, penjelasan petunjuk untuk mengenali jalan orang beriman sangat sedikit. Hal ini tidak boleh menghalangi manusia untuk menemukan jalan orang beriman. Sumber petunjuk pokok berupa kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW tidak akan pernah hilang dari kalangan muslimin, dan hal itu merupakan hal yang lebih besar daripada penjelasan petunjuknya. Kaum muslimin tetap dapat berpegang pada pokok petunjuk sekalipun penjelasan berupa Al-bayan mungkin telah sulit ditemui. Selama setiap muslim berpegang dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka akan berada pada jalan keselamatan. Hanya saja untuk melakukan pemakmuran, setiap orang harus berusaha untuk mengenal Al-Bayaan. Al-Bayaan itu ilmu yang hidup yang bisa memberikan penjelasan kepada umat hingga dapat mendatangkan kebaikan bagi umat.

Umat Islam dewasa ini banyak terjebak pada ilmu-ilmu yang sebenarnya tidak bersumber dari tuntunan kitabullah Alquran, dan tidak bisa menghubungkan ilmu dengan amanah dari kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Misalnya tentang ilmu hadits. Tentulah ilmu tersebut sangat bermanfaat untuk agama apabila digunakan oleh orang yang berharap menolong agama. Para pendahulu ilmu hadits merupakan para penolong agama. Sayangnya, pengembangan ilmu tersebut dewasa ini banyak digunakan tidak untuk menolong agama tetapi justru membuat kekacauan di antara umat Islam. Para pemegang ilmu hadits dewasa ini cenderung mengambil peran penghakiman terhadap para perawi yang sebenarnya tidak mereka kenal. Dengan kurangnya pengenalan, pemegang ilmu berani mengumbar keburukan perawi-perawi. Tidak jarang pemegang ilmu itu menggunakan ilmunya untuk menghakimi kebenaran yang tidak mereka pahami. Ini telah menyimpang dan sangat berbeda dengan harapan para pendahulu ilmu hadits. Dengan batasan tertentu bisa dikatakan bahwa ilmu hadits yang demikian merupakan ilmu yang tidak diajarkan Rasulullah SAW. Demikian pula muncul pembagian-pembagian ilmu tauhid tanpa ada kejelasan asal-usul pembagiannya. Atau pembagian firqah-firqah di antara umat untuk mengadu domba umat. Mereka melalaikan umat untuk mengenali jalan orang-orang beriman dan menyeretnya untuk berbantah-bantahan. Mereka meninggalkan ilmu untuk mengenali jalan orang beriman dan lebih mementingkan pengenalan firqah-firqah sebagai bahan cacian terhadap golongan lain. Ilmu-ilmu demikian banyak menjebak manusia hingga tidak mengenali arah dari agama yang diajarkan Rasulullah SAW. Setiap muslim hendaknya memperkuat akal untuk mengenali nilai kebaikan dalam suatu ajaran hingga mengenal arah dalam mencari ilmu, tidak terombang-ambing dalam ilmu yang tidak berguna.

Sebagian ilmu merupakan fitnah bagi manusia. Manakala seseorang mempelajarinya, ilmu itu akan mencelakakan dirinya atau bahkan mencelakakan umat manusia. Ada ilmu yang bersifat sia-sia, seperti ilmu-ilmu tauhid yang disusun oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah dan tidak bertakwa kepada Allah. Ilmu demikian tidak menunjukkan kebenaran bagi yang mempelajarinya walaupun mungkin ilmunya tidak salah, hanya menjadi ilmu yang membingungkan umat manusia. Manusia tidak akan memperoleh manfaat dari ilmu demikian. Ada pula ilmu-ilmu yang sebenarnya mempunyai manfaat besar akan tetapi bisa menjadi ilmu yang tidak bermanfaat atau justru merusak manakala tidak dilandasi dengan akhlak mulia. Kebanyakan ilmu bersifat demikian. Setiap muslim hendaknya memperkuat akal untuk mengenali nilai kebaikan dalam suatu ajaran hingga mengenal arah dalam mencari ilmu, tidak terombang-ambing dalam ilmu yang tidak berguna.

Proses membangun akal dan pemahaman terhadap ilmu yang paling mendasar adalah pembinaan akhlak mulia. Pembinaan akhlak mulia yang paling utama adalah membina sifat rahman dan sifat rahim. Sifat rahman adalah keinginan memberikan kebaikan kepada orang lain menunjukkan kebenaran secara khusus memberitakan kehendak Allah. Sifat rahim adalah keinginan memberikan kebaikan secara umum kepada orang lain. Tidak ada akhlak mulia tanpa sifat rahman dan rahim. Pembinaan sifat rahmaniah yang paling utama berupa membina diri sebagai misykat cahaya. Pembinaan akhlak mulia ini merupakan proses tauhid yang sebenarnya, dimana seseorang dapat memanunggalkan amal jasmaniah dirinya dengan kehendak Allah dengan sifat-sifat mulia berdasarkan pemahaman terhadap cahaya Allah.

Jalan orang-orang beriman akan dikenali dengan benar oleh orang-orang yang membina akhlak mulia. Setiap muslim hendaknya membina tauhid dalam dirinya hingga mengenal kehendak Allah bagi dirinya, dan pembinaan tauhid itu akan semakin mudah manakala ia bertemu dengan orang-orang yang menempuh jalan orang-orang beriman.



Rabu, 29 April 2026

Tidak Menyelisihi Petunjuk Rasulullah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Rasulullah SAW merupakan tauladan puncak bagi seluruh hamba Allah. Setiap hamba Allah yang ingin menjadi dekat kepada Allah harus mengikuti langkah beliau SAW tidak boleh menempuh langkah yang lain. Setiap orang yang melangkah menyimpang dari jalan Rasulullah SAW akan dimasukkan ke dalam jahannam sebagai seburuk-buruk tempat kembali. Ini berkebalikan dengan kedekatan kepada Allah sebagai semulia-mulia tempat kembali.

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Dan barang siapa yang menyelisihi Rasul sesudah jelas petunjuk baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. Kami biarkan ia berkuasa atas apa yang ia telah usahakan itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-seburuk tempat kembali . [QS An-Nisaa : 115]

Ayat ini terkait dengan orang-orang muslim atau mukmin, tetapi tidak bersungguh-sungguh berusaha mengikuti langkah Rasulullah SAW, tidak ditujukan kepada orang-orang kafir ataupun musyrik yang jelas tidak mengikuti Rasulullah SAW. Secara khusus, dijelaskan bahwa ada orang-orang muslim atau mukmin yang mempunyai keinginan atau tujuan-tujuan hidup tertentu yang mereka telah mengusahakan keinginan dan tujuan kehidupan itu. Tujuan mereka itu menjadikan mereka tidak sungguh-sungguh mengikuti petunjuk Rasulullah SAW. Dengan apa yang mereka usahakan, kemudian mereka tidak mengikuti pengajaran Rasulullah SAW dan menyelisihinya karena keinginan yang ada pada diri mereka.

Pengajaran Rasulullah SAW adalah pengajaran kemuliaan bagi seluruh makhluk, termasuk makhluk rendah di alam bumi seperti manusia. Manusia memiliki dorongan-dorongan alam rendah sebagaimana makhluk bumi yang lain dan bahkan dorongan pada manusia itu bisa lebih kuat dan buruk lagi karena sifat kecerdasan makhluk tinggi yang mengalir kepada manusia. Manusia dapat berbuat kejahatan dalam berbagai bentuk yang sangat buruk yang dapat dilihat manusia, bahkan bisa berbuat kejahatan yang sangat buruk dan dipandang baik oleh manusia. Itu adalah kejahatan yang paling buruk. Pengajaran Rasulullah SAW berfungsi mengangkat manusia dari kecenderungan kehidupan yang buruk menuju kehidupan yang mulia.

Walaupun demikian, tidak semua orang bersepakat dengan kemuliaan dalam ajaran Rasulullah SAW, bahkan sekalipun di antara orang-orang muslim ataupun mukmin. Sebagian orang terkalahkan oleh dorongan syahwat dan hawa nafsu hingga mereka lebih menginginkan kehidupan dunia yang tampak baik dalam pandangan mereka. Sebagian manusia tidak sungguh-sungguh memahami ajaran mulia dan mengikuti pendapat sendiri atau bahkan lebih percaya bisikan-bisikan syaitan daripada apa yang tersurat dari ajaran Rasulullah SAW. Banyak kasus-kasus lain yang merupakan bentuk menyimpangnya pandangan manusia terhadap kemuliaan ajaran Rasulullah SAW hingga kemuliaan menjadi tampak kabur dalam pandangan masing-masing. Dengan sebab demikian, mereka menyelisihi ajaran Rasulullah SAW. Orang-orang muslim atau mukmin yang lebih mengikuti dorongan selain apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW inilah yang disebutkan dalam ayat di atas. Mereka tidak sungguh-sungguh menginginkan kemuliaan bersama Rasulullah SAW, tetapi tercampur dengan keinginan rendah atau akal yang lemah maka mereka menyelisihi ajaran Rasulullah SAW.

Muslim dan mukmin akan bisa benar-benar mengikuti ajaran Rasulullah SAW manakala mereka membina akhlak mulia, utamanya berupa membina sifat rahman dan rahim. Sifat rahman dan rahim bukanlah suatu sikap yang lemah, tetapi sikap menginginkan kebaikan bagi semua makhluk dengan landasan pengetahuan terhadap kehendak Allah. Apabila Allah menghendaki seorang hamba untuk berbuat baik, ia berbuat sebagaimana kehendak Allah dengan berusaha mengenali kebaikan yang ada pada kehendak itu. Manakala Allah tidak menyukai sesuatu, mereka berusaha untuk tidak menyukai dan bahkan mematuhi perintah untuk memerangi bila diperintahkan karena kebaikan yang akan timbul dari amal yang dilakukan. Mereka mengetahui bahwa segala yang datang dari sisi Allah merupakan kebaikan, dan keburukan berasal dari yang bathil. Dengan demikian mereka selalu memuji Allah dengan semua kebaikan yang datang dari sisi Allah. Dengan sikap demikian itu maka seseorang akan bisa benar-benar mengikuti ajaran Rasulullah SAW.

Tidak sedikit orang yang memandang pengetahuan diri mereka lebih baik dibandingkan apa yang diajarkan Rasulullah SAW kemudian mereka menyelisihi ajaran Rasulullah SAW dan menempuh jalan kehidupan selain jalan kehidupan mukminin. Dengan perbuatan demikian, Allah melapangkan bagi mereka penguasaan terhadap implementasi pengetahuan yang ada pada diri mereka. Barangkali mereka akan memandang bahwa apa yang mereka kuasai itu adalah suatu berkah karena meluasnya kehidupan mereka dengan jalan demikian, sedangkan sebenarnya tidak demikian. Allah meluaskan kekuasaan mereka dalam menempuh jalan kehidupan yang menyelisihi ajaran Rasulullah SAW dan jalan kehidupan kaum mukminin, tetapi kemudian Allah akan memasukkan mereka ke dalam jahannam.

Jalannya Orang-Orang Beriman

Orang-orang yang termasuk ahli jahannam adalah orang yang telah datang bagi diri mereka petunjuk tetapi mereka menyelisihi dan menempuh jalan selain jalan orang-orang yang beriman. Orang-orang beriman adalah orang-orang yang memperoleh keterbukaan terhadap kebaikan dari ajaran Rasulullah SAW. Mereka mendengar dan melihat apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, memahami kebaikan dari ajaran Rasulullah SAW dan beramal dengan pemahaman itu untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Mungkin ada orang-orang yang telah mendengar atau melihat ajaran Rasulullah SAW dan mengikutinya akan tetapi sebenarnya belum memahami kebaikan yang terkandung dalam ajaran itu, maka mereka itu adalah muslimin. Kaum muslimin termasuk dalam kategori orang-orang yang telah mendapatkan kejelasan petunjuk, karena ajaran Rasulullah SAW merupakan petunjuk. Manakala muslimin atau mukminin mengabaikan petunjuk yang telah diturunkan dan menempuh jalan selain jalan kehidupan orang-orang mukminin, mereka akan termasuk sebagai orang-orang yang dikembalikan ke neraka jahannam.

Menempuh jalan selain jalan orang-orang beriman dilakukan oleh orang-orang yang tidak peduli pada jalan keimanan ataupun orang-orang yang memilih mengikuti langkah yang salah. Setiap muslim hendaknya berusaha mengenali dan memperhatikan langkah orang-orang beriman dan mengikuti langkah yang ditempuh orang-orang beriman. Demikian pula orang beriman hendaknya memperhatikan langkah orang beriman lainnya, tidak membiarkan orang beriman melangkah sendirian. Adanya seorang beriman yang melangkah sendirian menjadi tanda adanya langkah yang celaka, baik orang yang berjalan sendirian yang celaka atau orang banyak yang celaka. Ini bisa terjadi karena umat tidak memperhatikan langkah orang beriman dan prinsip keberjamaahan kaum mukminin. Yang menjadi jalan orang-orang beriman adalah apa-apa yang mereka usahakan untuk mewujudkan kehendak Allah sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak setiap amal yang diperbuat orang beriman merupakan jalan orang beriman yaitu bila tidak mempunyai tujuan mewujudkan tuntunan kitabullah ataupun tuntunan Rasulullah SAW.

Manusia akan menjumpai banyak bentuk langkah orang-orang beriman. Amal setiap orang beriman dapat berbeda-beda satu dengan yang lain, tetapi seluruhnya adalah amal yang mewujudkan kehendak Allah sesuai kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Demikian pula akan dijumpai banyak tingkatan orang beriman. Ada orang beriman yang apabila dibuka lubang misykat cahayanya, jasmani mereka ribut memunculkan keburukan yang masih ada dalam dirinya. Ada orang beriman yang dengan misykat cahayanya membentuk bayangan cahaya Allah yang harus ditunaikan oleh kaum mukminin, sedangkan mereka mengetahui peran dan kedudukan diri mereka dalam amr Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya sebagai bagian dari Al-Jamaah. Dapat dijumpai sangat banyak keadaan akhlak orang beriman, di antara orang yang ribut karena keburukan sendiri dan orang yang mengetahui peran mereka dalam amr Rasulullah SAW. Apabila seseorang menemukannya, hendaknya mereka mengikuti jalannya orang-orang yang mengetahui peran dan kedudukan diri mereka dalam amr Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya. Mereka orang-orang yang terlihat hanya mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak membuat langkah-langkah di luar tuntunan. Meskipun demikian, mungkin saja sangat banyak ilmu yang tampak baru tetapi seluruhnya berakar hanya pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Ada orang yang melangkah sesat dan ada yang melangkah dengan benar. Lurusnya orang melangkah ditentukan dari keselarasan langkah dengan petunjuk kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak diukur dari keberhasilan ataupun tingkatan keadaan mukmin. Nabi Nuh a.s dan nabi Luth a.s mungkin tampak gagal menyeru umatnya, akan tetapi beliau a.s bukan orang yang salah melangkah. Sebaliknya sebenarnya Allah juga menjadikan orang-orang yang menempuh jalan selain jalan keimanan berkuasa terhadap apa yang mereka usahakan hingga mereka mungkin menjadi orang sukses. Kesuksesan ataupun kegagalan dalam menempuh kehidupan tidak menjadi tanda bahwa seseorang melangkah dengan benar. Terkait tingkatan, seharusnya orang yang telah jauh mengikuti langkah Rasulullah SAW akan selamat, dan orang yang berada di tepian mudah celaka. dalam realitas, banyak mukmin dalam tingkatan awal yang selamat, dan mungkin saja ditemukan mukmin tingkatan lanjut yang celaka.  Benarnya langkah dalam mengikuti jalan keimanan hanya ditentukan dengan keselarasan langkah dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Kehinaan Umat Islam dan Petunjuk Rasulullah SAW

Dewasa ini banyak persoalan yang dihadapi oleh orang-orang beriman, sedangkan pandangan umat manusia terhadap tuntunan Rasulullah SAW dalam keadaan kabur. Ini dapat dilihat pada keadaan muslimin yang terlihat berada pada ketiak orang-orang musyrik. Indonesia negeri yang penduduknya mayoritas beragama islam, akan tetapi pemerintahnya terlihat condong membela zionis Israel. Misalnya tentang dukungan Indonesia agar negara-negara timur tengah meminta ganti rugi kerusakan akibat peperangan kepada Iran, sebenarnya itu merupakan dukungan terhadap zionis Amerika-Israel karena pada ujungnya negara-negara teluk sebenarnya diperas oleh Amerika untuk membiayai perangnya. Bila seseorang atau suau bangsa berpikir sehat, dukungan itu mestinya meminta Amerika-Israel untuk mempertanggungjawabkan kerusakan akibat perang karena Israel-Amerika yang memulai peperangan. Demikian pula isu ungkapan pengusiran ke negeri Yaman, suatu isu yang dibuat oleh pembela zionisme. Demikianlah keadaan kaum muslimin. Itu menunjukkan rendahnya kedudukan kaum muslimin di antara bangsa. Bila kaum muslimin bisa melihat dengan jelas tuntunan Rasulullah SAW, niscaya mereka tidak dalam keadan yang hina.

Terkait tentang keadaan tersebut, Rasulullah SAW memberikan tuntunan :
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ
Apabila kamu melakukan jual beli dengan sistem ‘iinah, menjadikan dirimu berada di belakang ekor sapi, ridha dengan cocok tanam dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menjadikan kamu diliputi oleh kehinaan, Allah tidak akan mencabut kehinaan itu dari dirimu sebelum kamu kembali kepada dien kamu“. [HR Abu Dawud].

Untuk mencabut kehinaan dari kaum muslimin, muslimin harus kembali kepada dienullah. Ada beberapa parameter terkait diin yang harus diperhatikan berupa: sistem jual beli ‘iinah, menempatkan diri di belakang ekor sapi, ridha dengan cocok tanam dan meninggalkan jihad. Apabila kaum muslimin tidak memperhatikan atau memahami parameter-parameter di atas, niscaya kehinaan mereka tidak akan diangkat hingga mereka tetap dalam keadaan yang hina.

Barangkali mudah bagi kaum salaf untuk memahami perintah demikian, tetapi berbeda dengan muslimin jaman ini. Agak sulit memahami tuntunan di atas bagi orang umum jaman ini, tetapi mungkin saja ada orang-orang yang dapat memahami tuntunan demikian. Orang-orang yang membina misykat cahaya akan memahami tuntunan demikian sesuai dengan tingkat pembinaan misykat cahaya dirinya, dan mungkin saja memahami dari berbagai perspektif yang berbeda. Kesulitan memahami dapat dilihat misalnya pada kesulitan memahami hubungan menempatkan diri di belakang sapi dengan kehinaan yang menimpa. Atau mungkin sebagian umat islam berpikir ini adalah larangan untuk beternak sapi dan larangan bercocok tanam. Sebagian mungkin menganggap bercocok tanam akan mendatangkan kehinaan kepada mereka. Tentu mestinya tidak demikian. Umat harus mengusahakan pertanian dan peternakan untuk memenuhi kebutuhan bersama, dan melakukan perdagangan untuk menyebarkan manfaat di antara umat.

Dari satu perspektif, hadits di atas dapat dipahami dari sisi bahwa dunia ini pada dasarnya masih dikuasakan sebagai kerajaan para Iblis. Iblis diberi ijin untuk menguasai bumi hingga masa yang ditentukan Allah yaitu hingga pada hari agama, walaupun kemudian meminta tangguh dan dikabulkan Allah. Di antara pasukan iblis penguasa bumi itu berbentuk sapi yang disangka manusia sebagai Ba’al dan disembah. Penyembahan terhadap Ba’al ini dapat dilihat dari kasus pembakaran patung Ba’al di Iran baru-baru ini yang mendatangkan kemarahan penyembahnya hingga menjadi salah satu sebab terjadinya perang Iran. Sebenarnya bentuk sapi itu hanya anak buah Ba’al yang bertempat tinggal di lautan, sedangkan Ba’al sendiri telah mati hingga dijadikan oleh Iblis besar sebagai sesembahan manusia, dihadirkan kepada penyembahnya dalam bentuk anak buah Ba’al berwujud sapi

Penyembahan Ba’al itu sendiri sebenarnya hanya sebagian dari penyembahan manusia kepada Iblis. Para Iblis yang pandai dan masih hidup tidak sanggup dijadikan sesembahan karena takut Allah, dan Iblis yang telah mati atau iblis yang kurang pandai dijadikan oleh Iblis besar sebagai sesembahan manusia di antaranya Ba’al, Ashera dan Asytoret dari iblis yang pandai, dan iblis-iblis kecil yang masih hidup tetapi tidak pandai. Anak buah Ba’al memberikan dukungan kepada para penyembah Ba’al untuk memperoleh kekuasaan, anak buah Ashera mengajarkan cara mengendalikan ekonomi dan pertanian kepada para penyembah Ashera, dan anak buah Asytoret mengajarkan ilmu-ilmu dengan cara yang keliru termasuk ilmu agama palsu yang menjadikan manusia meninggalkan jihad dan agama. Iblis-iblis kecil yang masih hidup dan disembah manusia memberikan bantuan memenuhi hasrat manusia rendah yang menyembah mereka.

Kehinaan yang menimpa umat islam pada jaman ini berasal dari alam Iblis yang tinggi, dan selama umat islam tidak menyadari tipu daya Iblis-Iblis yang mengalir melalui para penyembah mereka, umat akan terliputi kehinaan. Umat Islam terliputi kehinaan karena tipu daya mereka, dan tidak akan terlepas dari kehinaan itu, hingga petunjuk Rasulullah SAW ditunaikan. Para penyembah Iblis itu akan memperoleh jalan untuk merendahkan muslimin sebelum parameter yang disebutkan Rasulullah SAW dipenuhi. Kehinaan kaum muslimin itu akan terangkat apabila kaum muslimin memahami tuntunan diinullah terkait dengan tipu daya para syaitan yang dapat menyentuh kehidupan umat melalui para penyembah mereka. Pemahaman itu akan efektif manakala tatanan mengikuti diinullah diterapkan dalam kehidupan umat. Bila umat Islam terus menerus hanya mengikuti konsep-konsep kehidupan yang dirumuskan oleh kaum musyrikin, mereka akan selalu berada dalam jerat kehinaan. Demikian pula manakala umat hanya mengikuti pikiran sendiri, kehinaan yang menyelimuti itu tidak akan diangkat dari umat.

Dalam perspektif lain, boleh jadi ada orang-orang tertentu yang tidak dibolehkan untuk menyentuh bidang peternakan, jual beli tertentu dan pertanian karena akan meninggalkan jihad di jalan Allah. Boleh jadi seseorang mempunyai potensi untuk beternak sapi, bercocok tanam, berjual beli dan lain-lain tetapi kesempatan itu tidak boleh digunakan, karena ia harus bersungguh-sungguh mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya. Rasulullah SAW tidak mengijinkannya untuk melakukan karena barangkali mengganggu jihadnya, atau ada hal-hal lain yang harus dipatuhi. Hal demikian mungkin tampak sebagai sesuatu yang aneh bagi kaum jaman ini, tetapi sungguh-sungguh ada peristiwa demikian.