Pencarian

Selasa, 03 Februari 2026

Dasar Pembinaan Tauhid

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Para rasul mengajarkan tauhid dalam bentuk penyatuan langkah hamba Allah selaras dengan kehendak Allah. Penyatuan demikian harus dimulai dengan pembinaan diri dengan sifat-sifat yang baik selaras dengan kehendak Allah membentuk akhlak mulia. Akhlak mulia harus dibentuk sedemikian seseorang dapat memahami kehendak Allah dengan benar dengan membina diri sebagai misykat cahaya. Pemahaman terhadap ayat Allah harus dengan nafs yang disucikan Allah setelah seseorang menempuh proses tazkiyatun-nafs. Arah langkah membina tauhid yang diajarkan Rasulullah SAW dan para rasul utusan Allah yaitu berproses membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.

Pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah bukan hanya merupakan pemahaman terhadap konsep-konsep langit tetapi juga akan mendatangkan pemakmuran di bumi. Suatu pemahaman dapat diuji dengan cara ini, untuk menentukan apakah suatu pemahaman terhadap tuntunan Allah telah bersifat benar atau tidak tepat. Kadangkala dijumpai kaum yang tidak memandang baik kehidupan yang baik di dunia, maka hal itu merupakan pandangan yang tidak tepat dalam mengikuti tuntunan Allah. Memang seringkali dijumpai manusia berlomba dalam kehidupan dunia hingga melanggar ketentuan Allah tanpa mengetahui kehidupan yang baik, tetapi sebenarnya ada bentuk kehidupan yang baik di dunia yang harus terlahir melalui pemahaman terhadap kehendak Allah. Orang-orang beriman harus berusaha untuk memahami tuntunan Allah hingga mempunyai pengetahuan tentang cara untuk mewujudkan kehidupan yang baik.

Pengetahuan demikian hanya dapat dibangun dengan pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah. Untuk pembinaan pemahaman yang benar, Ada ketentuan dasar yang harus dipahami manusia di antaranya berupa hal-hal yang diharamkan Allah. Manakala ketentuan itu dilanggar, pemahaman manusia terhadap tuntunan Allah akan menyimpang dari apa yang dikehendaki Allah.

﴾۳۳﴿قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan berkata terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui" (QS Al-A’raaf : 33)

Pada pokoknya, Allah mengharamkan bagi manusia (1) perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, (2) perbuatan dosa, (3) Permusuhan atau melanggar hak orang lain tanpa alasan yang benar, (4) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (5) berkata tentang Allah tanpa suatu pengetahuan.

Itu adalah pokok dari keharaman yang ditentukan bagi manusia. Apabila ketentuan-ketentuan haram di atas tidak diperhatikan oleh manusia, pemahaman mereka terhadap tuntunan Allah akan menyimpang. Penyimpangan dalam pemahaman itu dapat mendatangkan madlarat terhadap kehidupan umat manusia ataupun kehidupan beragama orang-orang beriman. Mungkin saja kehidupan masyarakat menjadi kacau dan perhatian muslimin terhadap masalah itu tidak memadai. Banyak contoh kasus yang dapat terjadi. Penegak hukum menegakkan hukum tanpa mengerti keadilan dimana hukum hanya dijadikan permainan orang yang kuat. Nusantara negeri yang kaya sumber daya tetapi masyarakatnya sulit untuk sejahtera, dan kaum muslimin tidak mengetahui masalah yang terjadi. Kadang ada orang meninggalkan tuntunan kitabullah Alquran untuk melaksanakan perintah Allah mengikuti waham sendiri. Ini merupakan kesalahan pemahaman tentang perintah Allah. Hal demikian bisa menjadi contoh-contoh kasus yang bisa terjadi sebagai dampak dari penyimpangan dalam memahami tuntunan Allah. Sebagian muslim mungkin tidak memahami tuntunan, dan sebagian mungkin memahami tuntunan secara keliru. Seandainya orang beriman memahami tuntunan Allah dengan benar secara berjamaah, masalah-masalah yang buruk di masyarakat seharusnya dapat dihindarkan. Sebenarnya tuntunan Allah terhadap mukminin meliputi permasalahan demikian dan tugas orang beriman adalah mewujudkan kehidupan bermasyarakat yang baik dengan memahami dan mengikuti tuntunan dengan benar.

Perkataan Tentang Allah Tanpa Pengetahuan

Allah mengharamkan perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan. Itu merupakan tuntutan bagi kaum muslimin untuk bertauhid secara benar dengan hanya mengatakan perkataan yang benar tentang segala sesuatu dari sisi Allah dengan pengetahuan. Muslimin dituntut untuk bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dengan pengetahuan, dan dilarang untuk mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa mempunyai pengetahuan. Ini adalah tuntutan terhadap setiap muslim dalam bertauhid. Hal ini juga mencegah manusia agar tidak mudah ditipu syaitan.

Alquran dan sunnah Rasulullah SAW telah menjelaskan segala sesuatu tentang kebenaran dari sisi Allah dengan sempurna, dan seluruh perkataan dari kedua tuntunan itu adalah benar tidak ada yang keliru. Walaupun demikian, mungkin saja terjadi kesalahan pada diri orang-orang yang berusaha memahaminya atau orang yang menyampaikannya. Kaum muslimin sebenarnya tidak diperbolehkan membuat-buat perkataan terkait dengan kitabullah Alquran. Ini merupakan tuntutan agar seseorang mengatakan sesuatu dari Alquran dengan pengetahuan yang selaras dengan kehendak Allah, tidak mengatakan sesuatu darinya berdasarkan pemikiran sendiri. Membahas kandungan Alquran saja tanpa komitmen untuk berbuat kebaikan berdasar cahaya Allah tidak akan menjadikan manusia mempunyai pengetahuan yang benar tentang Allah. Pengetahuan selaras dengan kehendak Allah itu hanya diketahui oleh orang yang mempunyai komitmen kepada Allah untuk menyiarkan kemuliaan dari cahaya kitabullah Alquran setelah membina dirinya sebagai misykat cahaya membentuk akhlak mulia.

Kaum muslimin hendaknya juga berhati-hati dalam mengikuti perkataan tentang Allah agar tidak teerjebak mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa pengetahuan. Setiap orang hendaknya memperhatikan kebaikan dari perkataan-perkataan tauhid yang mereka ikuti, tidak bermudah-mudah untuk meyakini suatu perkataan berasal dari Allah tanpa berharap kepada Allah untuk memberikan pemahaman yang selaras dengan kehendak-Nya. Ini bukan sebuah larangan mengikuti penjelasan dari orang lain, tetapi hendaknya setiap orang tidak melupakan harapan kepada Allah untuk memberikan pemahaman selaras dengan kehendak-Nya, tidak terjerumus mengikuti perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan. Tidak pula terlarang bagi seseorang untuk mengikuti kebenaran yang bersifat relatif parsial selama ia tidak menutup diri dari pemahaman terhadap kebenaran yang lebih baik. Nabi Ibrahim a.s telah mencontohkan sikap hanif dalam mengenal Allah, walaupun muslimin jaman ini tidak perlu terlalu jauh melangkah dengan menyembah benda-benda.

Mencari pengetahuan yang benar terkait perkataan tentang Allah hendaknya dilakukan dengan membangun tauhid yang kokoh, ditempuh dengan membina diri sebagai misykat cahaya. Perkataan yang benar tentang Allah akan terbentuk dalam diri seseorang yang membina diri sebagai misykat cahaya. Cahaya Allah yang mereka terima akan membentuk suatu bayangan tentang kehendak Allah karena misykat cahaya yang terbentuk, sedemikian mereka mempunyai pengetahuan terkait perkataan tentang Allah. Manakala suatu ayat kitabullah dibaca, mereka mengetahui apa yang disampaikan dalam ayat tersebut. Demikian pula manakala ayat kauniyah mereka lihat, mereka melihat suatu hakikat dari sisi Allah terkait fenomena yang terlihat. Pemahaman mereka terkait ayat-ayat Allah itu terintegrasi membentuk pengetahuan yang selaras dengan kehendak Allah.

Sebagian kelompok muslimin membangun suatu kerangka bertauhid dengan perkataan-perkataan tentang Allah tanpa mempunyai pengetahuan, secara sembarangan mencomot ayat-ayat Allah tanpa suatu komitmen mengenal kebaikan dari sisi Allah untuk berbagi kepada orang lain sebagai wujud kasih sayang. Konsep yang mereka bangun tanpa pengetahuan itu menjadikan manusia tidak dapat memahami kebaikan dalam tuntunan Allah, hanya membangun pengetahuan tentang Allah secara keliru. Di antara yang mengajarkan perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan itu adalah kaum khawarij. Mereka justru menjadi penyerang orang-orang yang berusaha menjadi hamba Allah dengan benar, menyerang hamba Allah dengan perkataan-perkataan mereka tentang Allah tanpa pengetahuan.

Selain kaum khawarij, ada kelompok lain di antara kaum muslimin yang bermudah-mudah mengatakan sesuatu yang ada pada mereka sebagai kehendak Allah. Apa-apa yang melintas dalam persepsi indera mereka kemudian dipandang sebagai kehendak Allah tanpa berusaha mengetahui kedudukannya secara tepat dalam urusan Allah sebagaimana telah dicantumkan dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak pula mereka memikirkan akibat buruk dari apa yang mereka pandang sebagai perintah Allah. Tidak jarang sesuatu yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dianggap pula sebagai perintah Allah. Perkataan demikian itu termasuk sebagai perkataan tentang Allah tanpa landasan pengetahuan, dan hal itu merupakan hal yang diharamkan Allah. Di antara kelompok demikian itu adalah para ahli bid’ah yang mengerjakan banyak urusan-urusan tanpa memperhatikan urusan Rasulullah SAW.

Sikap para ahlul bid’ah akan mengganggu upaya Al-Jamaah. Orang-orang yang mengetahui urusan Rasulullah SAW yang harus diwujudkan pada ruang dan jaman mereka adalah bagian dari Al-jamaah. Kaum muslimin ahlul bid’ah mungkin akan melakukan usaha tanpa arah yang tepat karena tidak memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sedemikian sumber daya kaum muslimin akan tersedot melakukan upaya tanpa memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka mungkin meninggalkan usaha Al-Jamaah untuk mewujudkan urusan mereka sendiri. Bukan tidak mungkin pula mereka menghalangi atau menghancurkan usaha Al-jamaah sedangkan mereka memandang diri mereka melaksanakan urusan Allah. Keadaan ini bisa menjadi kuncian bagi mukminin yang tidak ingin terjebak kekacauan perselisihan, dimana mukminin hanya bisa menjauh. Hal demikian terjadi disebabkan menyimpangnya pemahaman terhadap kehendak Allah karena tidak mengharamkan apa yang diharamkan Allah dalam bentuk perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan. Untuk memahami dengan tepat kehendak Allah, setiap orang harus mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan menghalalkan apa yang dihalalkan Allah.

Mencari Pengetahuan Melalui Urusan Allah

Mengumpulkan pengetahuan tentang Allah bukanlah perkara mudah. Allah Maha Tinggi sedangkan manusia berada di alam bumi yang rendah. Demikian pula menyampaikan kepada manusia perkataan tentang Allah berdasarkan pengetahuan bukanlah perkara mudah. Sekalipun demikian selalu ada jalan bagi manusia untuk memperoleh pengetahuan tentang Allah. Allah memperkenalkan diri kepada manusia melalui berbagai urusan yang harus ditunaikan manusia hingga di alam dunia. Pengetahuan tentang Allah itu dapat diperoleh manusia dengan berusaha mengetahui urusan Allah yang harus ditunaikan masing-masing.

Setiap urusan Allah diturunkan melalui Rasulullah SAW dalam wujud kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan urusan Allah itu bisa membuahkan urusan-urusan yang banyak bagi setiap manusia. Setiap orang hendaknya berusaha mengenal urusan yang harus dikerjakan dirinya melalui pengenalan terhadap urusan Allah. Mengenal urusan Allah dan Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman menjadi jalan yang lebih aman bagi setiap mukmin untuk mengenal urusan diri sendiri, tidak sebaliknya. Kadangkala suatu kaum mengerjakan urusan-urusan sendiri yang mereka pandang baik disertai sikap mengabaikan seruan untuk melaksanakan urusan Allah dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka mereka itu akan menjadi golongan ahli bid’ah. Seringkali akan ditemukan adanya hal-hal yang diharamkan Allah dalam upaya mereka melaksanakan urusan. Orang yang ingin mengenal urusan dirinya hendaknya mencari pengenalannya melalui kepedulian terhadap urusan Rasulullah SAW, yaitu memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bersamaan dengan memperhatikan kauniyah diri mereka. Pengetahuan terkait perkatan tentang Allah selalu mempunyai landasan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, bukan berupa pengetahuan tentang keutamaan diri sendiri saja.

Seluruh urusan yang disebutkan dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW adalah urusan Allah. Urusan Allah yang hendak Dia perkenalkan tidak dibatasi oleh perkataan manusia, dan hanya dibatasi oleh kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Hanya Rasulullah SAW saja yang mengenal seluruh urusan itu secara sempurna. Seseorang hanya akan mengenal urusan yang harus ditunaikan dirinya sebagai bagian dari urusan Rasulullah SAW. Sayangnya hanya sedikit orang yang mengenal urusan dirinya yang merupakan bagian dari urusan Rasulullah SAW.

Kadangkala seorang muslim keliru dalam membuat batasan tentang urusan Allah. Mungkin saja ada muslim yang membatasi perintah Allah hanya dalam urusan-urusan tertentu terutama terkait dirinya saja, melupakan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai batasannya. Ketika ada orang lain mengerjakan urusan yang tidak benar-benar terkait dirinya, ia tidak memandang orang tersebut mengerjakan urusan Allah. Kadangkala seseorang tidak dapat mengenali washilah dirinya karena pembatasan keliru yang dilakukannya, memandang dirinya puncak dari urusan mengabaikan urusan Rasulullah SAW. Membatasi urusan Allah itu mungkin benar manakala seseorang merupakan pemangku urusan jamannya semisal khalifatullah Al-Mahdi. Seringkali orang keliru mengenal batasan urusan Allah. Hal itu bisa jadi disebabkan karena mungkin seseorang tidak benar-benar mengetahui urusan Allah bahkan bagi dirinya, dimana pengetahuan tentang urusan dirinya pun mungkin masih menyimpang dari tuntunan kitabullah. Pemangku urusan jaman yang benar akan menunjukkan urusan-urusan Allah kepada manusia berdasar ayat Allah, bukan membatasi urusan umat dalam batas urusan dirinya saja. Ia mengetahui batas urusan Allah adalah kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Kekeliruan batasan urusan Allah bisa juga terjadi dengan bentuk membatasi urusan Allah hanya pada urusan yang dicontohkan Rasulullah SAW semasa hidupnya saja. Kaum demikian membatasi pemahaman menurut kaum salaf saja tidak menyadari bahwa kitabullah merupakan pedoman sepanjang masa. Mereka memandang urusan Allah hanya dalam bentuk ibadah-ibadah mahdlah, dan selanjutnya umat islam diseret dalam perselisihan dalam ketelitian dalam melaksanakan ibadah mahdlah diajak bersaing dengan tatacara Dzulkhuwaisirah melaksanakan ibadahnya. Mereka tidak berusaha mengenal urusan Rasulullah SAW dengan hati yang jernih dan justru mencegah manusia untuk mengenal urusan yang seharusnya ditunaikan sebagai langkah mengikuti Rasulullah SAW.

Minggu, 01 Februari 2026

Tauhid dan Washilah Kepada Allah

 Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Para rasul mengajarkan tauhid dalam bentuk penyatuan langkah hamba Allah selaras dengan kehendak Allah. Penyatuan demikian harus ditempuh oleh umat Rasulullah SAW dengan pembinaan dalam diri, dimulai dari keadaan yang tercerai berai menuju keadaan yang mengarah pada penyatuan terhadap kehendak Allah. Banyak orang yang merasa mengikuti tuntunan Allah tetapi sebenarnya hanya mencomot potongan-potongan kebenaran tanpa melangkah menuju penyatuan terhadap kehendak Allah. Seringkali orang-orang demikian merasa sebagai orang-orang yang benar atau membawa kebenaran tanpa memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala mereka justru berbuat kerusakan yang besar dengan waham mereka sendiri tanpa menyadari kerusakan yang mereka lakukan. Orang-orang demikian tidak mengikuti langkah tauhid yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para rasul yang lain. Yang mengikuti langkah bertauhid adalah orang yang berusaha mengetahui kehendak Allah dan melaksanakannnya, bukan orang yang mengaku mengikuti.

Arah proses yang harus dijadikan pedoman dalam mengikuti langkah tauhid Rasulullah SAW dan khalilullah Ibrahim a.s adalah membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Bentuk bayt demikian adalah keluarga yang bersatu dalam mewujudkan kehendak Allah di bumi layaknya langkah keluarga nabi Ibrahim a.s beserta siti Hajar dan Ismail meninggikan pondasi baytullah. Hanya orang-orang yang mengarah pada pembentukan bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah saja yang benar-benar mengikuti langkah Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s. Manakala seseorang atau suatu kaum hanya mengikuti contoh tanpa mengetahui arah melangkah, mereka sebenarnya belum mengikuti Rasulullah SAW. Kadangkala seseorang atau suatu kaum melakukan kebaikan-kebaikan tetapi juga melakukan perusakan terhadap bayt atau pernikahan di antara mereka dan kemudian menyangka telah mengikuti langkah Rasulullah SAW. Hal demikian menunjukkan rusaknya langkah mengikuti tuntunan kitabullah dan Rasulullah SAW. Kebaikan mereka hanya pada kulitnya saja, tetapi inti dari agama mereka justru rusak.

Inti dari pembinaan bayt dalam meninggikan dan mendzikirkan asma Allah adalah pembinaan Al-Arham (الْأَرْحَامَ). Penyatuan diri seseorang terhadap kehendak Allah terjadi melalui penyatuan al-arham yang tumbuh dalam diri mereka terhadap Ar-Rahim, salah satu dari asma Allah yang tertinggi.

﴾۱﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari nafs wahidah, dan dari padanya Allah menciptakan pasangannya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan kasih sayang. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS An-Nisaa’ : 1)

Hubungan kasih sayang (الْأَرْحَامَ) merupakan isi di dalam nafs yang harus ditumbuhkan setiap orang dalam kehidupan, dan pernikahan merupakan media paling utama yang berguna untuk membina hubungan kasih sayang hingga dapat menghubungkan diri seseorang kepada Allah mencapai tauhid yang hakiki. Karena itu pernikahan merupakan sasaran utama pembinaan manusia dalam bertauhid. Hubungan kasih sayang itu merupakan perpanjangan dari sifat rahman dan rahim yang tumbuh di dalam jiwa setiap manusia. Terdapat banyak bentuk hubungan kasih sayang yang dapat terbentuk di antara manusia, dan yang paling utama adalah hubungan kasih sayang dalam keluarga dan intinya terdapat pada hubungan pernikahan. Manakala kasih sayang dalam pernikahan tumbuh dengan baik, akan tumbuh pula hubungan kasih sayang pada diri seseorang terhadap keluarga dan terhadap masyarakat. Manakala kasih sayang dalam pernikahan rusak, akan kering pula kasih sayang pada diri seseorang terhadap keluarganya dan terhadap masyarakat. Kadangkala suatu hubungan kasih sayang seseorang terhadap masyarakat bersifat palsu karena pernikahan yang rusak, dan kadangkala sifat kasih sayang tumbuh dengan benar akan tetapi kerdil. Pernikahan merupakan media menumbuhkan asma Allah terutama sifat rahman dan rahim.

Memahami Kebenaran Secara Utuh

Banyak orang yang ingin membina tauhid dalam dirinya akan tetapi tidak memperoleh jalan untuk mengenal tauhid yang terbaik. Sebagian orang membina tauhid dengan membentuk imajinasi dalam pikiran mereka tentang Allah. Sebagian orang melangkah membina diri untuk memahami kehendak Allah akan tetapi tidak selaras dengan tuntunan Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s. Sebagian manusia hanya mengikuti perkataan orang lain tanpa keberanian mengikuti kebenaran. Setiap orang demikian mungkin melakukan proses tauhid dengan membaca kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan tetapi tidak benar-benar memahami pembinaan yang sebaik-baiknya. Keinginan membina tauhid itu sendiri merupakan sesuatu yang berharga dalam diri setiap orang, akan tetapi seringkali hawa nafsu atau kebodohan mengalahkan keinginan baik itu. Seringkali seseorang yang berusaha bertauhid terjebak merasa menjadi orang yang paling benar tanpa mengetahui kebodohan dirinya. Banyak orang tergelincir justru mengikuti syaitan karena merasa tinggi dengan ilmu yang dikumpulkan. Setiap orang harus berusaha memahami tuntunan dengan utuh.

Utuhnya pemahaman seseorang terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan terjadi manakala mereka berhasil membentuk bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Maksud dari utuhnya pemahaman adalah benarnya pemahaman terhadap tuntunan sedemikian pemahaman yang terbentuk tidak mengandung potensi merusak, bukan tuntutan tentang sempurnanya pemahaman terhadap kehendak Allah. Utuhnya pemahaman ini hendaknya diperhatikan dengan benar-benar berusaha memahami kebaikan dari ilmu. Ilmu yang benar itu akan mendatangkan kebaikan bukan suatu waham kebenaran saja. Manakala suatu pengetahuan terlihat mendatangkan kerusakan, hal itu bukan ilmu yang benar. Manakala suatu pengetahuan belum terlihat kebaikannya, pengetahuan itu belum menjadi ilmu. Suatu pengetahuan menjadi ilmu yang benar apabila seseorang melihat kebaikan dalam ilmu itu. Hendaknya diperhatikan bahwa hasil penilaian seseorang terhadap pengetahuan akan sangat dipengaruhi akhlak masing-masing tidak dapat dipersamakan nilai suatu pengetahuan antara satu orang dengan orang lain.

Tidak jarang seseorang merasa sebagai orang yang benar tetapi sebenarnya hanya prasangka saja karena ia tidak memperhatikan keutuhan pemahamannya. Seseorang mungkin saja mempunyai cara pandang yang salah tanpa menyadarinya, dan hal itu wajar saja terjadi pada banyak orang. Akan tetapi hal itu akan menjadi suatu yang berbahaya manakala orang tersebut memandang kesalahan itu sebagai kebenaran. Seseorang akan sulit kembali kepada kebenaran manakala kesalahan dipandang sebagai kebenaran, sedangkan prasangka dalam intensitas demikian seringkali menjadi kendaraan syaitan untuk mendatangkan kerusakan. Setiap orang hendaknya memperhatikan keutuhan kebenaran yang mereka ikuti agar tidak terjebak pada kebenaran parsial yang berbahaya, dan hal itu lebih mudah dilakukan dengan memperhatikan arah berupa terbentuknya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Seseorang tidak harus merasa takut mengikuti kebenaran sekalipun baru parsial, akan tetapi harus disertai kemampuan untuk menyadari kesalahan yang mungkin terjadi. Manakala seseorang tidak mampu menyadari kesalahan, ia akan mudah dimanfaatkan syaitan.

Mencari kebenaran harus dilakukan dengan menggunakan akal secara setimbang. Kebenaran mungkin akan ditemukan manusia yang mencarinya dalam berbagai bentuk yang bercampur-campur bahkan dengan kebathilan dan setiap diri harus memilah antara kebenaran yang ada dengan sesuatu yang salah. Hal ini harus dilakukan dengan setimbang, tidak membuang sepenuhnya kebenaran karena adanya kebathilan atau tidak menghakimi suatu kesalahan secara berlebihan dari kesalahan yang terjadi. Tindakan demikian akan menambah kekuatan akal. Manakala seseorang mengikuti orang lain secara membuta tanpa berusaha memahami kebaikan pada langkah yang diikuti, mereka tidak akan menjadikan akalnya kuat dalam memahami kebenaran sekalipun jika langkahnya benar. Tidak jarang orang demikian terjemurus pada kerusakan. Demikian pula manakala seseorang bersikap berlebihan menolak kebenaran karena adanya kesalahan di dalamnya, atau menghakimi secara berlebihan tanpa melihat kedudukan kesalahan itu, akal mereka akan tetap lemah dalam memahami kehendak Allah. Orang demikian seringkali mudah menghakimi orang lain salah tanpa mengetahui kesalahannya, dan itu adalah kebodohan.

Kerusakan oleh orang-orang yang salah dalam membina tauhid akan semakin besar manakala mereka tidak menyadari kesalahannya. Bentuk-bentuk yang diharamkan Allah harus diperhatikan oleh orang yang membina tauhid karena hal-hal yang diharamkan itu akan merusak tauhid mereka. Wajar saja bila seseorang salah dalam perjalanan mereka membina tauhid, tetapi sikap mereka terhadap kesalahan akan berpengaruh terhadap akibat yang timbul. Akibat dari hal itu akan dipengaruhi sikap mereka terhadap kesalahan yang diperbuat. Orang yang melakukan kesalahan dengan suatu kesungguhan iktikad menganggap kesalahannya sebagai perintah Allah akan mendatangkan kerusakan yang paling besar. Apabila seseorang melakukan kesalahan dan menyadari kesalahannya serta berusaha menghindari kesalahan yang sama, ia mungkin tidak menimbulkan kerusakan karena Allah menutupi kesalahannya. Manakala seseorang atau suatu kaum tidak mengarahkan kehidupan mereka untuk sungguh-sungguh mengikuti Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, sistem kesadaran mereka terhadap kesalahan yang terjadi akan lemah.

Mengetahui arah itu akan memudahkan untuk melihat jalan dan menyadari kesalahan. Yang paling penting bagi setiap orang adalah berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sayangnya banyak orang yang merasa berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sedangkan mereka tidak mengetahui maksud dari tuntunan tersebut. Orang demikian kadangkala membantah ketika diberitahu kesalahan mereka dan mungkin mereka menguatkan diri dengan meminta pendapat orang lain tentang kebenaran diri mereka, sedangkan yang dimintai pendapat juga tidak mempunyai pemahaman. Hal demikian akan mendatangkan kebodohan yang menguat di masyarakat, merasa benar dengan kebodohan sendiri. Setiap orang harus berusaha melangkah mengikuti Rasulullah SAW dengan arah yang benar, tidak hanya meniru contoh tanpa mengarah pada tauhid yang benar. Arah akhir yang benar itu adalah terbentukya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.

Lurusnya Al-Arham

Bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah adalah pasangan suami dan isteri yang membina al-arham dalam diri mereka hingga terhubung pada Ar-Rahim.

dari Abdurrahman bin ‘Auf r.a ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda :
قَالَ اللهُ تعالى: أَنَا اللهُ وَأَنَا الرَّحْمنُ, خَلَقْتُ الرَّحِمَ وَشَقَقْتُ لَهَا اسْمًا مِنْ اسْمِي فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ وَمَنْ قَطَعَهَا قَطَعْتُهُ
Allah SWT berfirman, ‘Aku adalah Allah, dan Aku adalah Ar-Rahman, Aku menciptakan Ar-Rahim, dan Aku mengambilkan baginya satu nama dari nama-Ku. Maka barangsiapa yang menyambungnya niscaya Aku menyambung (hubungan dengan)nya dan barangsiapa yang memutuskannya niscaya Aku memutuskan (hubungan dengan)nya.”(HR. at-Tirmidzi no. 1907, Abu Daud 1694, dan Ahmad 1662 dan 1683.)

Tauhid hakiki akan diketahui seseorang manakala seseorang terhubung kepada Ar-Rahim. Terhubungnya seseorang terhadap Ar-Rahim terjadi melalui pertumbuhan Al-arham. Hubungan kasih sayang (الْأَرْحَامَ) merupakan isi di dalam nafs yang harus ditumbuhkan setiap orang dalam kehidupan, dan pernikahan merupakan media paling utama yang berguna untuk membina hubungan kasih sayang hingga dapat menghubungkan diri seseorang kepada Allah mencapai tauhid yang hakiki. Hubungan kasih sayang itu merupakan perpanjangan dari sifat rahman dan rahim yang tumbuh di dalam jiwa setiap manusia. Pertumbuhan al-arham itulah yang akan menyambungkan seseorang terhadap Ar-Rahim.

Pembinaan bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah harus dibina dengan memahami tuntunan Allah melalui pernikahan. Pembinaan pernikahan demikian itu harus dilakukan dengan mengikuti ketentuan-ketentuan Allah. Ada hal-hal yang diharamkan yang harus diharamkan berupa kekejian (al-fakhsya’) baik yang dzahir ataupun yang bathin, permusuhan (al-baghyu), dosa-dosa, kesyirikan dan perkataan-perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan. Apabila ketentuan-ketentuan itu tidak diperhatikan, manusia tidak akan dapat membina tauhid dengan benar untuk menuju penyatuan al-arham dalam diri mereka terhadap Ar-Rahim. Apabila al-arham dalam diri mereka tumbuh, ia tidak akan terhubung terhadap Ar-Rahim dan mungkin akan ditunggangi atau terhubung pada entitas lain di langit yang jahat. Sekalipun tampak baik, langkah mereka sangat mungkin akan mendatangkan kerusakan yang besar karena tidak taatnya seseorang dalam membangun pemahaman terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Pembinaan untuk mengenal Allah harus dijauhkan dari hal-hal yang diharamkan, karena hal yang haram menumbuhkan kerusakan dalam pengenalan kepada Allah. Sangat banyak kerusakan bisa terjadi karena hal yang diharamkan sedangkan manusia tidak menyadari kerusakan yang dilakukan. Setiap orang harus tumbuh akalnya untuk memahami keburukan dalam hal yang diharamkan Allah. Ada keburukan dalam hal yang haram yang secara umum diketahui manusia tanpa perlu pemberitahuan, walaupun mungkin saja menjadi terlihat rumit pada sebagian manusia. Sebagian keburukan hal yang haram baru diketahui manusia apabila menggunakan akal. Misalnya dalam perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan, seringkali manusia memandang baik perkataan demikian karena tampak layaknya perkataan yang memperkenalkan Allah pada makhluk, tetapi mungkin sebenarnya mendatangkan keruwetan logika berpikir dan merusak kemampuan akal. Demikian pula manakala seseorang menemukan suatu perkataan atau tindakan yang menimbulkan permusuhan di antara orang-orang yang benar atau beriman, perkataan itu tidak boleh dipersepsi sebagai perintah Allah sekalipun dikatakan kepadanya bahwa itu perintah Allah. Setiap orang harus memahami bahwa Allah tidak menghendaki permusuhan antara manusia. Pernyataan sebagai perintah Allah demikian itu merupakan perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan. Membangun kesadaran tentang hal ini membutuhkan tumbuhnya akal. Setiap orang harus menjauhkan diri dari apa yang diharamkan Allah dalam membina pengenalan kepada kehendak Allah.

Ujung dari pembinaan yang harus dijadikan tujuan adalah terhubungnya seseorang kepada Ar-Rahiim dengan menumbuhkan Al-arham dalam dirinya. Pembinaan bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah merupakan representasi pembinaan al-arham yang paling utama. Seseorang dapat memulai setengah pembinaan agama dirinya dengan melakukan pernikahan, dan pembinaan itu dapat dilakukan seterusnya hingga seseorang mampu menunaikan agamanya secara utuh. Pembinaan melalui pernikahan mencakup pembinaan agama dari awal hingga tercapainya tujuan beragama, sedangkan terkandung di dalam proses pernikahan itu pengajaran-pengajaran yang banyak hingga seseorang memahami urusan Allah dengan utuh. Manakala seseorang berbangga dengan pencapaian pengajaran-pengajaran secara parsial tanpa mengarahkan pembinaan menuju ujung sasaran yang harus dicapai, ia akan mudah tersimpangkan oleh syaitan dengan kebanggaannya. Kadangkala seseorang mengabaikan kebenaran karena kebanggaannya, sedangkan ia belum benar-benar bertauhid berupa tersambungnya washilah kepada Ar-Rahim.

Tanda dari terhubungnya seseorang terhadap Ar-Rahim diantaranya adalah pengenalan seseorang terhadap kedudukan Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s sebagai dua uswatun hasanah hingga ia mengetahui kedudukan dirinya dalam al-jamaah. Hal ini tentu saja harus disertai dengan kesadaran tentang pentingnya mengikuti langkah-langkah yang dicontohkan uswatun hasanah dengan benar. Seseorang yang bersaksi kedudukan uswatun hasanah tetapi tidak memahami atau bahkan merusak langkah yang dicontohkan uswatun hasanah menunjukkan dirinya tidak mengenal kedudukan Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s. Mungkin saja sebenarnya ia justru terlempar jauh dari Al-jamaah tanpa menyadarinya. Orang yang mengenal kedudukan dua uswatun hasanah akan berusaha mewujudkan tuntunan uswatun hasanah, bukan mewujudkan keinginan diri sendiri.

Jumat, 30 Januari 2026

Shilaturrahmi untuk Memperoleh Washilah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Para rasul mengajarkan tauhid dalam bentuk penyatuan langkah hamba Allah selaras dengan kehendak Allah. Penyatuan demikian harus dimulai dengan pembinaan diri dengan sifat-sifat yang baik selaras dengan kehendak Allah membentuk akhlak mulia. Tauhid demikian dapat dengan mudah diingat dan dipahami apabila orang-orang beriman benar-benar menghayati makna doa “Bismillahirrahmaanirrahiim”, yang artinya “dengan asma Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”. Untuk benarnya pembinaan akhlak demikian, ada arah langkah membina tauhid yang diajarkan Rasulullah SAW dan para rasul utusan Allah yaitu berproses membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.

Dalam pembinaan bayt, terkandung suatu proses pembinaan akhlak manusia menuju kemuliaan berupa pembinaan hubungan kasih sayang (الْأَرْحَامَ).

﴾۱﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari nafs wahidah, dan dari padanya Allah menciptakan pasangannya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan kasih sayang. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS An-Nisaa’ : 1)

Hubungan kasih sayang (الْأَرْحَامَ) merupakan isi di dalam nafs yang harus ditumbuhkan setiap orang dalam kehidupan mereka, dan pernikahan merupakan media paling utama yang berguna untuk membina hubungan kasih sayang. Hubungan kasih sayang itu merupakan perpanjangan dari sifat rahman dan rahim yang tumbuh di dalam jiwa setiap manusia. Terdapat banyak bentuk hubungan kasih sayang yang dapat terbentuk di antara manusia, dan yang paling utama adalah hubungan kasih sayang dalam keluarga dan intinya terdapat pada hubungan pernikahan. Manakala kasih sayang dalam pernikahan tumbuh dengan baik, akan tumbuh pula hubungan kasih sayang pada diri seseorang terhadap keluarga dan terhadap masyarakat. Manakala kasih sayang dalam pernikahan rusak, akan kering pula kasih sayang pada diri seseorang terhadap keluarganya dan terhadap masyarakat. Kadangkala suatu hubungan kasih sayang seseorang terhadap masyarakat bersifat palsu karena pernikahan yang rusak, dan kadangkala sifat kasih sayang tumbuh dengan benar akan tetapi kerdil. Pernikahan merupakan media menumbuhkan asma Allah terutama sifat rahman dan rahim. Pertumbuhannya dalam diri seseorang akan terganggu manakala hubungan nafs wahidah diri seseorang dengan pasangannya diganggu.

Keberhasilan dalam membina pernikahan akan mewujudkan suatu bayt yang memperoleh izin Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya. Fungsi sosial diri pasangan itu akan berjalan dengan baik selaras dengan kehendak Allah. Seorang suami yang mengenal amal yang ditetapkan bagi dirinya akan berhasil menempati kedudukan dirinya dan melaksanakan amal yang ditetapkan sesuai dengan dengan kehendak Allah. Gambarannya, apabila jati diri suami adalah raja, ia akan mengetahui fungsi dirinya sebagai raja, dan ia memperoleh jalan untuk mengatur rakyat dan wilayah kerajaannya. Bila ia tidak berhasil membina pernikahannya, ia mungkin mengetahui jati dirinya sebagai raja akan tetapi tidak memperoleh jalan mengatur rakyat dan wilayah kerajaannya. Jangankan kerajaan, bahkan isterinya pun kadangkala tidak mau mengakui atau tidak mau mengenali fungsi diri mereka. Hal itu menunjukkan kegagalan membentuk bayt yang memperoleh ijin Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya.

Tanda keberhasilan pembinaan pernikahan dapat dilihat dari pertumbuhan hubungan kasih sayang (الْأَرْحَامَ) di antara suami dan isteri. Pada dasarnya setiap pihak dapat menumbuhkan sendiri rasa kasih sayang tetapi hanya secara terbatas bila pertumbuhan hanya sepihak. Manakala pertumbuhan (الْأَرْحَامَ) terjadi pada kedua pihak, hubungan kasih sayang itu akan menjadi subur dan saling menguatkan. Seorang suami dapat tumbuh membentuk misykat cahaya mengenal asma Allah melalui pernikahan sekalipun apabila isterinya tidak mengimbanginya, yaitu apabila ia menumbuhkan (الْأَرْحَامَ) secara lurus. Demikian pula seorang isteri dapat tumbuh menjadi perempuan subur yang memakmurkan negerinya manakala ia menumbuhkan (الْأَرْحَامَ) dalam dirinya secara lurus, sekalipun suaminya tidak tumbuh mengenal asma Allah. Suatu negeri akan rusak apabila (الْأَرْحَامَ) dalam pernikahan tumbuh secara keji. Keberhasilan pembinaan pernikahan akan terjadi manakala pihak suami dan isteri dapat membina hubungan kasih sayang (الْأَرْحَامَ) bersama-sama secara timbal balik dalam pernikahan mereka.

Kesuburan pertumbuhan al-arham akan mempengaruhi kesuburan pengetahuan seseorang atau pasangan terhadap kehendak-kehendak Allah. Seseorang bisa memperoleh pengetahuan tentang kehendak Allah melalui keberpasangan mereka, dan pengetahuan terhadap kehendak Allah itu akan menjadi semakin dalam apabila al-arham tumbuh kuat. Kadangkala seseorang hanya mempunyai pengetahuan berupa kilasan-kilasan tanpa memperoleh kedalaman makna karena kerdilnya pertumbuhan al-arham dalam dirinya. Ada orang-orang yang memperoleh kedalaman pengetahuan dan ia memperoleh jangkauan terhadap objek dari pengetahuannya karena kebersamaan pertumbuhan al-arham dalam pernikahannya. Ada pula orang-orang yang memperoleh kedalaman pengetahuan karena pertumbuhan al-arham tetapi tidak memperoleh jangkauan terhadap objek pengetahuannya karena pertumbuhan al-arham hanya sepihak. Pertumbuhan al-arham akan mempengaruhi pengetahahuan manusia terhadap kehendak-kehendak Allah.

Agama adalah pengenalan dan pelaksanaan fitrah diri seseorang berupa nafs wahidah. Pengenalan nafs wahidah tersebut terjadi dengan terkumpulnya pengetahuan seseorang terhadap kehendak Allah. Terkumpulnya pengetahuan dipengaruhi dengan pertumbuhan al-arham dalam diri. Terkumpulnya pengetahuan tersebut akan mengarahkan seseorang untuk mengenal diri, tetapi pengenalan terhadap nafs wahidah itu akan terjadi secara tiba-tiba berupa keterbukaan pengetahuan terhadap fitrah diri, suatu proses yang diskrit tetapi tetap berkorelasi dengan terkumpulnya pengetahuan. Dengan pengetahuan yang terkumpul, seseorang akan mengarah pada pengenalan diri tetapi tidak akan mencapai pengenalan diri kecuali Allah membukakan pengenalan diri tersebut. Sekalipun demikian, kumpulan pengetahuan itu sangat berguna untuk dijadikan landasan dalam beramal shalih. Seseorang dapat beramal shalih dengan terkumpulnya pengetahuan terhadap kehendak Allah melalui usahanya, tetapi bobot amal itu sama sekali tidak sama dengan orang yang memperoleh keterbukaan terhadap pengenalan nafs wahidah.

Washilah Kepada Ar-Rahim

Salah satu hal yang membedakan bobot amal shalih orang yang mengenal nafs wahidah dan amal shalih orang yang (baru) mengumpulkan pengetahuan kehendak Allah melalui usahanya adalah keterhubungan dengan Allah. Orang yang mengalami keterbukaan pengenalan terhadap nafs wahidah akan terhubung kepada Allah dengan mekanisme tertentu. Keterhubungan seseorang dengan Allah terjadi melalui keterhubungan dirinya kepada Ar-Rahim.

dari Abdurrahman bin ‘Auf r.a ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda :
قَالَ اللهُ تعالى: أَنَا اللهُ وَأَنَا الرَّحْمنُ, خَلَقْتُ الرَّحِمَ وَشَقَقْتُ لَهَا اسْمًا مِنْ اسْمِي فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ وَمَنْ قَطَعَهَا قَطَعْتُهُ
Allah SWT berfirman, ‘Aku adalah Allah, dan Aku adalah Ar-Rahman, Aku menciptakan Ar-Rahim, dan Aku mengambilkan baginya satu nama dari nama-Ku. Maka barangsiapa yang menyambungnya niscaya Aku menyambung (hubungan dengan)nya dan barangsiapa yang memutuskannya niscaya Aku memutuskan (hubungan dengan)nya.”(HR. at-Tirmidzi no. 1907, Abu Daud 1694, dan Ahmad 1662 dan 1683.)

Orang yang mengenal nafs wahidah dirinya dikatakan sebagai orang yang telah mengenal Allah (ma’rifatullah). Sebenarnya ma’rifatnya seseorang yang mengenal nafs wahidah tidaklah menunjukkan sempurnanya pengetahuan dirinya kepada Allah, hanya menunjukkan lurusnya pengetahuan dirinya terhadap Allah. Pengenalan nafs wahidah terkait dengan pengenalan kepada Allah melalui beberapa turunan, di antaranya pengenalan terhadap Ar-Rahman, pengenalan terhadap Ar-Rahim hingga pengenalan terhadap suatu asma’ tertentu yang diperkenalkan Allah kepada diri seseorang yang mengenal nafs wahidah. Nafs wahidah seseorang itu hanya memperoleh kemampuan mengenal asma’ tertentu yang diperkenalkan kepada dirinya, dan asma’ itu yang mengenal Ar-Rahim, dan Ar-Rahim itu yang terhubung kepada Ar-Rahman. Ada rangkaian washilah yang terbentuk yang menjadikan seseorang dikatakan mengenal Allah.

Manusia yang mengenal Allah dalam tajalli Ar-Rahman hanyalah Rasulullah SAW dan beliau SAW menghimpun seluruh pengetahuan terkait asma Allah. Manusia yang mengenal Allah dalam tajalli Ar-Rahim adalah nabi Ibrahim a.s. Kedua manusia itu menjadi uswatun hasanah bagi setiap makhluk yang ingin mengenal Allah. Tidak ada makhluk yang dapat mengenal Allah tanpa melalui pengenalan terhadap kedua uswatun hasanah. Adapun para nabi selain kedua uswatun hasanah tersebut, sebagian manusia harus terhubung melalui mereka a.s dan sebagian makhluk tidak harus terhubung melalui mereka a.s, akan tetapi seluruh nabi menjelaskan tentang kehendak Allah. Tidak ada orang mengenal Allah tetapi merasa sendirian dalam mengenal Allah.

Kisah yang menggambarkan rangkaian demikian dapat ditemukan pada kisah nabi Musa a.s. Manakala beliau bertemu dengan pohon berapi di lembah Thuwa yang mengatakan diri-Nya : “sesungguhnya Aku adalah Aku, (yaitu) Allah tidak ada tuhan selain Aku”, nabi Musa a.s saat itu sebenarnya bertemu dengan tajalli asma Allah yang diperkenalkan kepada beliau a.s. Pada suatu kesempatan yang lain, beliau a.s memohon kepada Allah untuk melihat rabb dalam bentuk sebenarnya. Beliau a.s mengetahui bahwa rabb yang memperkenalkan diri-Nya kepadanya hanya merupakan bentuk turunan dari rabb yang sesungguhnya. Maka beliau a.s diperintahkan untuk melihat suatu bukit dan hal itu menyebabkan beliau a.s pingsan atau mati sementara waktu. Yang dilihat nabi Musa a.s pada bukit itu merupakan tajalli asma Allah dalam derajat yang lebih tinggi dan pasti bukan tajalli Ar-Rahman. Tajalli Ar-Rahman hanya terjadi paling rendah di firdaus manakala Ia berkehendak menurunkan diri-Nya, dan umumnya tajalli-Nya berada di atas ‘Arsy.

Demikian hubungan seseorang dengan Allah sebenarnya terjadi melalui berbagai penurunan hingga seseorang mengenal Allah sesuai dengan keadaan diri masing-masing. Tidak ada seseorang mengenal Allah dengan sempurna, tetapi hanya mengenal apa yang diperkenalkan Allah kepada dirinya sebagai bagian dari Rasulullah SAW. Rasulullah SAW adalah makhluk yang paling mengenal Allah, tetapi sebenarnya beliau SAW hanya mengenal apa yang diperkenalkan Allah, bukan mengenal Allah secara sempurna. Tanda dari benarnya pengenalan seseorang kepada Allah adalah pengenalan dirinya terhadap kedudukan Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s. Tidak mungkin seseorang yang mengenal Allah mengabaikan kedudukan Rasulullah SAW dalam bertindak. Seseorang yang mengenal Allah akan berusaha bertindak sebatas dalam urusan dirinya saja yang diambil dari urusan Rasulullah SAW, tidak akan membuat tindakan sendiri di luar tuntunan Rasulullah SAW misalnya menghalalkan yang diharamkan dan lain-lain. Mungkin ia bertindak salah, tetapi tidak ada keinginan keluar dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Tumbuhnya pengenalan makhluk kepada Allah terjadi melalui tumbuhnya al-arham. Terhubungnya seseorang kepada Allah terjadi melalui terhubungnya al-arham dalam diri seseorang hingga mengenal Ar-Rahim. Keterhubungan seseorang kepada Ar-Rahim merupakan bentuk hakiki dari shilaturrahmi. Banyak bentuk turunan dari shilaturrahmi dan bentuk-bentuk turunan dari shilaturrahmi dalam hubungan manusia di bumi akan mendatangkan manfaat semisal dari manfaat shilaturrahmi. Bahkan sebenarnya hubungan terhadap Ar-Rahim hanya akan tumbuh dari shilaturrahmi dalam bentuk-bentuk duniawi yang merupakan turunan dari shilaturrahmi yang hakiki.

Sarana Membina Shilaturrahmi

Media paling baik dalam menumbuhkan hubungan kasih sayang di dunia adalah pernikahan dan hubungan keluarga. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فِى اْلأَهْلِ وَمَثرَاةٌ فِى الْمَالِ وَمَنْسَأَةٌ فِى اْلأَثَرِ
Sesungguhnya silaturrahim adalah rasa cinta di dalam keluarga, bertambahnya harta, dan memperkokoh jejak (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi)

Hadits di atas merupakan tuntunan bagi orang beriman dalam membina shilaturrahmi dalam media terbaik berupa pernikahan. Pernikahan merupakan cerminan di alam dunia bagi hubungan nafs wahidah dengan jasmani seseorang, dan representasi dari jalan keterhubungan seorang hamba Allah dengan Ar-Rahim. Pembinaan shilaturrahmi di media pernikahan hendaknya dilakukan selayaknya sebagai cerminan dari pembinaan hubungan seorang hamba dengan Ar-Rahim, dimanifestasikan dalam parameter terbinanya mahabbah antara dua insan menikah, penambahan harta bagi mereka, serta terbentuknya jejak yang kokoh di bumi sebagai hamba Allah.

Mahabbah dalam pernikahan hendaknya ditumbuhkan layaknya hubungan hamba Allah dengan Ar-Rahim, di mana seorang hamba mencintai Ar-Rahim dengan mengenal kebaikan yang tersimpan pada Ar-Rahim. Demikianlah seorang isteri hendaknya mencintai suaminya sebagai sumber kebaikan dari sisi Allah bagi dirinya. Baik ataupun buruk seorang suami, ia adalah wujud yang dihadirkan bagi diri seorang isteri untuk mengabdi kepada Allah sedemikian ia dapat mengabdi kepada Allah dalam bentuk amal yang nyata. Hendaknya ia bersyukur terhadap kehadiran suami yang menikahi dirinya dengan membina mahabbah karena Allah. Manakala suami memperoleh pengetahuan tentang kebaikan dari sisi Allah, isteri hendaknya mendukung dengan jiwa raga untuk mewujudkannya, tidak memaksa suaminya mengikuti keinginan sendiri atau keinginan orang lain. Demikian pula suami hendaknya mencintai isteri dan keluarganya sebagai bagian dari dirinya sendiri yang harus dimuliakan hingga bentuk-bentuk duniawi. Suatu mahabbah yang tumbuh di antara pasangan suami isteri akan memudahkan pasangan itu dalam menambah harta benda dan memperkokoh jejak keberadaan diri mereka sebagai hamba Allah.

Di antara tujuan menumbuhkan al-arham melalui pernikahan adalah mengumpulkan harta dan membuat karya-karya sebagai jejak sebagai hamba Allah yang dapat dilihat oleh makhluk lain. Mengumpulkan harta melalui pembinaan shilaturrahmi bukanlah perbuatan yang didasari sikap tamak ataupun rasa takut kekurangan, tetapi suatu usaha mengumpulkan segala sesuatu yang terserak bagi diri mereka yang dilakukan dengan melaksanakan amal-amal yang ditentukan Allah. Pelaksanaan amal demikian merupakan suatu ibadah yang akan menambah harta bagi mereka, dan harta itu tidak membahayakan. Demikian pula membuat karya-karya perlu dilakukan para hamba Allah sebagai jejak orang beriman dengan membina Al-Arham. Amal demikian tidak boleh dilakukan untuk kemasyhuran diri, tetapi dilakukan untuk menunjukkan kehendak-kehendak Allah kepada manusia sebagai suatu jalan kehidupan bertaubat kepada Allah, sebagaimana nabi Ibrahim a.s meninggalkan jejak yang panjang bagi seluruh hamba Allah berupa pembangunan bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Terbinanya Al-arham di antara suami dan isteri akan memanjangkan dan memperkokoh jejak langkah mereka dalam memberitakan khazanah di sisi Allah.

Banyak mukminin tidak berhasil dalam membina shilaturrahmi dalam pernikahan. Banyak mukminat tidak dapat mensyukuri jodoh yang diberikan kepada dirinya, lebih mencintai harta ataupun tergoda laki-laki lain daripada mensyukuri kehidupan bersama suami yang dinikahkan di hadapan Allah. Kadangkala seorang mukminat tidak mau menikah dengan jodoh yang baik bagi dirinya karena calon suaminya dipandang tidak mempunyai harta yang mencukupi dirinya. Banyak mukminat tidak menyadari bahwa peran keumatan dirinya adalah menumbuhkan kekayaan bersama suami dan memperkokoh jejak langkah melalui pernikahan. Demikian pula banyak mukminin yang tidak sungguh-sungguh mengharap kedekatan kepada Allah melalui jalan yang disediakan, tidak mensyukuri sarana yang disediakan bagi dirinya. Sumber kegagalan kadangkala datang dari syaitan yang berhasil memperoleh jalan merusak pembinaan shilaturahmi pernikahan sedemikian pembinaan gagal atau keberhasilan hanya terjadi pada satu pihak saja. Hal itu membuat syiar agama tidak dapat tersebar dengan baik kepada umat. Hal demikian menjadi suatu masalah penyebab umat tetap terbelakang dan berada dalam kemiskinan sekalipun tanpa gangguan dari musyrikin. Orang beriman hendaknya berusaha tidak dalam keadaan demikian.