Pencarian

Kamis, 11 Juni 2026

Menguatkan Pondasi Jihad

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk berjihad di jalan Allah.

﴾۰۲﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ اللَّهِ وَأُولٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
﴾۱۲﴿يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُم بِرَحْمَةٍ مِّنْهُ وَرِضْوَانٍ وَجَنَّاتٍ لَّهُمْ فِيهَا نَعِيمٌ مُّقِيمٌ
(20) orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.(21) Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari pada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kenikmatan yang menetap QS At-Taubah : 20-21)

Setiap orang harus berusaha mengenali jalan jihad masing-masing hingga mengenali jihad di jalan Allah dengan baik. Seseorang mungkin harus berjihad untuk berikrar dua kalimah syahadat untuk menjadi muslim. Seorang muslim mungkin harus menempuh jalan tazkiyatun nafs agar iman masuk ke dalam hati mereka. orang yang menempuh jalan tazkiyatun nafs mungkin harus berjuang mengalahkan hawa nafsu dan berjuang memahami tuntunan kitabullah secara lurus. Seorang yang mengenal diri mungkin harus berjuang mengenali urusan yang dikenalinya dalam urusan Rasulullah SAW agar ia tetap dalam Al-Jamaah, dan ia berusaha membina bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya. Demikian seterusnya sedemikian setiap orang beriman membentuk akhlak mulia untuk memperoleh kesempurnaan iman. Dengan terbentuknya keimanan, seseorang akan mengenali sungguh-sungguh jihad di jalan Allah, bukan hanya persangkaan di jalan Allah saja. Setiap orang harus menemukan jihad masing-masing hingga mengenal jihad di jalan Allah.

Setiap orang harus melakukan jihad hingga mencapai jihad di jalan Allah. Jalan Allah adalah jalan yang dikenali oleh orang-orang yang mengenal kehendak Allah, yang diperoleh orang yang telah beriman dan telah berhijrah. Berjihad di jalan Allah adalah bersungguh-sungguh melakukan usaha untuk menunaikan kehendak Allah atas diri manusia. Jihad di jalan Allah tidak hanya ditunaikan oleh orang-orang yang secara pasti mengenal kehendak Allah atas diri mereka, karena orang-orang yang mengikuti langkah jihad di jalan Allah juga akan dihitung sebagai berjihad di jalan Allah selama niatnya ikhlas untuk Allah dan mengetahui tuntunan-tuntunan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW terkait dengan jihad yang mereka lakukan. Sebaliknya sekalipun mengikuti jihad bersama Rasulullah SAW di jalan Allah, seseorang yang niatnya tidak benar akan tetap menjadi orang yang celaka sekalipun ia terbunuh dalam jihad itu. Setiap orang harus berusaha membangun keikhlasan dalam berjihad dan membangun pengetahuan terkait dasar-dasar jihad yang dilakukan.

Prakondisi Jihad di Jalan Allah

Terdapat dua keadaan yang menjadi syarat agar suatu jihad bisa mengarah menjadi jihad di jalan Allah, yaitu beriman dan berhijrah. Dengan terpenuhinya kedua syarat tersebut, jihad yang dilakukan suatu kaum akan menjadi lurus sehingga efektif mendatangkan hasil-hasil berupa kebaikan. Banyak orang yang berjihad tetapi keimanan yang mereka ikuti hanya lemah, maka jihad mereka tidak mendatangkan hasil yang baik. Mungkin suatu kaum sibuk melakukan banyak amal-amal yang dipandang baik, tetapi amal-amal mereka tidak menyentuh akar masalah yang dihadapi. Keimanan yang lurus dan hijrah akan menjadikan jihad oleh suatu kaum mendatangkan kebaikan dengan efektif.

Keimanan bukan hanya ditunjukkan dengan adanya rasa percaya, tetapi juga pengetahuan dan keyakinan tentang adanya kebaikan pada hal-hal yang menjadi objek keimanan mereka. Percaya adanya Allah saja belum tentu menunjukkan seseorang beriman kepada Allah. Iman kepada Allah ditunjukkan dengan adanya pengetahuan dan keyakinan tentang kehendak Allah yang mengarahkan diri mereka pada kebaikan. Keimanan terhadap kitabullah juga ditunjukkan dengan pengetahuan seseorang terhadap kandungan dalam ayat demi ayat kitabullah, bukan sekadar mempercayai bahwa Alquran adalah firman yang diturunkan Allah. Kepercayaan demikian baru merupakan dasar keimanan. Orang-orang yang berserah diri (islam) tidak selalu tergolong sebagai orang-orang beriman. Keislaman ditunjukkan dengan sikap berserah terhadap ketentuan-ketentuan Allah dengan berusaha mengikuti perintah dan laorangan Rasulullah SAW, sedangkan keimanan ditunjukkan dengan adanya cahaya iman dari Allah yang memasuki hati seseorang, sedemikian orang tersebut menjadi beriman.

Pengetahuan dan keyakinan adanya kebaikan ini bukan berupa keyakinan membuta atau dibuat-buat, tetapi karena terbentuknya akhlak yang baik sedemikian seseorang mengerti nilai-nilai kebaikan pada objek yang diimaninya. Dalam jihad, orang beriman melangkah dengan suatu pengenalan terhadap nilai kebaikan dalam jihadnya, bukan melangkah dengan dasar fanatisme. Seseorang boleh saja berjihad berdasar niat hanya berupa persangkaan kebaikan saja, tetapi ia baru dalam kategori muslim, bukan orang beriman. Seorang yang beriman mengenal kebaikan dalam objek yang diimani. Orang beriman tidak mungkin menentang  ayat kitabullah. Orang beriman tidak terjebak pada suatu hal sia-sia atau keburukan yang dibuat indah oleh syaitan kecuali ia mengetahui kesalahan dalam langkahnya. Manakala seseorang terjebak pada hal demikian dan ia memandangnya baik, ia sebenarnya belum beriman dalam urusan tersebut. Akhlaknya belum mampu mengenali kesia-siaan atau keburukan pada urusan tersebut, maka sebenarnya ia belum beriman dalam urusan tersebut.

Ada banyak tingkatan keimanan yang mungkin ada pada seorang mukmin. Belum adanya keimanan tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang kafir. Kekafiran menunjukkan tidak adanya keimanan, tetapi ada banyak tingkatan yang mungkin ditemukan di antara keimanan dan kekafiran. Dalam keimanan-pun sangat banyak adanya tingkatan keimanan. Mungkin seseorang beriman dalam hatinya secara remang-remang saja hingga belum bisa benar-benar mengenali keburukan dan kebaikan pada suatu urusan. Mungkin pula seseorang telah beriman pada urusan-urusan tertentu dan belum beriman pada urusan tertentu lainnya. Keadaan demikian menunjukkan bahwa imannya belum sempurna. Keimanan adalah pengenalan terhadap nilai kebaikan dalam aspek keimanan karena terbentuknya akhlak mulia selaras dengan akhlak yang dikehendaki Allah.

Berhijrah dilakukan dengan berusaha selalu meningkatkan akhlak menuju kemuliaan sedemikian keimanan setiap mukmin menjadi sempurna relatif untuk dirinya sendiri. Kesempurnaan relatif ditandai dengan pengenalan seseorang terhadap untuk apa dirinya diciptakan. Seseorang yang mengenal nafsnya dikatakan telah mengenal rabb-nya. Ini adalah kesempurnaan iman secara relatif. Kesempurnaan iman mutlak ada pada diri Rasulullah SAW di mana beliau SAW mengenal seluruh kebenaran yang hendak diperkenalkan Allah kepada seluruh alam semesta, sedangkan kesempurnaan iman relatif bisa diperoleh oleh orang-orang yang mengenal penciptaan dirinya. Mereka mengenal kehendak Allah setidaknya untuk diri mereka sendiri, dan bisa menunjukkan (sebagian) kehendak Allah bagi orang lain atau umatnya. Mereka mengenal tuntunan Allah terkait urusan yang harus ditunaikannya, dan diberi kemudahan untuk memahami tuntunan Allah yang lain dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka dapat melihat langkah-langkah yang mendatangkan kebaikan bagi diri sendiri dan bagi umat mereka dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap orang beriman hendaknya berhijrah menuju peningkatan kemuliaan akhlak secara lurus.

Fundamen Berjihad dan Pertumbuhannya

Orang yang menyeru jihad di jalan Allah harus memperhatikan keadaan orang yang diseru berdasarkan keimanan dan hijrah mereka. orang yang berjihad di jalan Allah harus membangun pondasi keimanan terlebih dahulu sebagai pijakan untuk berjihad, dan mempunyai keinginan untuk berhijrah mewujudkan kehidupan yang lebih mulia dalam pandangan Allah tidak terus menerus hidup hanya memperturutkan hasrat rendah atau terus hidup tanpa arah. Manakala keimanan umat dalam keadaan ruwet bercampur-campur dengan kebathilan, jihad di jalan Allah akan sulit ditegakkan dengan lurus atau sulit mendatangkan hasil. Keimanan umat harus dibangun terlebih dahulu sedemikian umat mempunyai keimanan yang lurus. Demikian pula umat hendaknya mempunyai visi arah kehidupan yang harus ditempuh dan bisa dicapai sesuai dengan keadaan masing-masing, baik arah yang dekat ataupun cita-cita akhir dekat kepada Allah, tidak terjebak mensikapi keimanan layaknya utopia yang tidak mungkin diraih. Dengan keimanan dan visi melangkah, umat islam hendaknya diseru untuk berjihad.

Jihad di jalan Allah tidak selalu berbentuk peperangan secara fisik. Misalnya kaum khawarij berusaha meruntuhkan islam dengan menyebarkan ajaran tauhid yang mereka buat sendiri, maka ajaran demikian harus diluruskan dengan tauhid yang benar. Demikian pula kaum musyrikin membuat gerakan-gerakan menyemarakkan LGBT hingga bisa meluas di masyarakat agar manusia dan tatanan masyarakat menjadi berantakan, maka mencegah penyebaran waham LGBT merupakan jihad. Melawan hal-hal demikian termasuk jihad di jalan Allah. Pengajaran tauhid yang benar harus ditegakkan di antara kaum beriman terlebih dahulu untuk meluruskan jalan tauhid di antara umat islam. Mustahil menegakkan jihad secara lurus berdasarkan tauhid yang diajarkan oleh kaum khawarij. Muslimin tidak akan mengerti apa yang harus diluruskan dengan jihad manakala mereka tidak mengetahui jalan tauhid yang lurus, sedangkan sangat sulit membangun kemakmuran muslimin manakala tauhid mereka masih sama dengan tauhid kaum khawarij. Jihad menegakkan tauhid dan melawan perusakan masyarakat secara halus termasuk jihad di jalan Allah.

Dewasa ini upaya jihad orang-orang beriman tampaknya sangat lemah karena perhatian kaum mukminin terhadap kebenaran dari sisi Allah terlihat kurang memadai. Sebagian pengajaran kebenaran tampak hanya tersia-sia, dibiarkan tidak dipahami mukminin. Bahkan pengajaran tauhid sekalipun tidak mendapat perhatian yang mencukupi. Kaum munafiq khawarij sedemikian besar berinfaq untuk menyebarluaskan tauhid palsu, sedangkan kaum mukminin tidak terlihat berkeinginan menggali pengetahuan tentang tauhid dan tidak berjihad secara cukup untuk menyebarluaskan tauhid mengikuti Rasulullah SAW. Demikian pula tidak terlihat kaum mukminin berjihad secara sistematis melakukan pembinaan keluarga sebagai bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya, sedemikian gerakan LGBT tidak mempunyai lawan berupa kebenaran yang memadai hingga kesesatan LGBT bisa diterima oleh sebagian masyarakat. Masyarakat sendiri tidak mempunyai visi yang mencukupi seberapa merusaknya LGBT bagi manusia dan tatanan masyarakat sehingga ide LGBT bisa masuk. Melawan dosa-dosa demikian termasuk sebagai jihad di jalan Allah.

Tauhid dan pembinaan bayt merupakan benteng paling fundamental bagi kaum mukminin melawan perusakan akhlak manusia. Apabila kaum mukminin tidak cukup memperhatikan pembinaan fundamen tersebut, akan sangat sulit bagi kaum mukminin untuk memakmurkan bumi dengan amal shalih. Suatu kaum mungkin memandang suatu persoalan tertentu sebagai perusak, tetapi orang yang lain tidak bisa memahami kerusakan yang terjadi karena kurangnya pembinaan tauhid dan arah hijrah yang benar. Banyak masalah dapat timbul dalam jihad di jalan Allah karena kurangnya keimanan dan keinginan berhijrah di antara kaum mukminin. Kadangkala terjadi perselisihan berupa tidak adanya titik temu dalam melihat masalah dalam jihad. Misalnya mungkin sebagian orang beriman mungkin mengeluhkan suatu persoalan tertentu yang tidak diperhatikan oleh mukminin lain, sedangkan mukminin yang lain memperhatikan kebenaran yang lain yang mereka kenali. Mungkin masing-masing mengeluhkan hal yang tidak diperhatikan atau disia-siakan oleh umat manusia. Masing-masing pihak mengeluhkan satu hal dari pihak lain tanpa titik temu di antara keduanya. Persoalan ini bisa terjadi apabila manusia tidak mengerti fundamen-fundamen dalam pembinaan manusia.

Tauhid dan pembinaan bayt harus menjadi perhatian utama pembinaan sebagai fundamen pembinaan akhlak mulia. Kaum yang tidak membina akhlak mulia dengan fundamen yang benar tidak akan memahami ayat Allah yang digelar. Tidak jarang mereka tidak mengenali kebenaran yang disampaikan, dan tidak mempunyai perhatian yang mencukupi terhadap ayat-ayat yang digelar bagi mereka. Demikian pula kaum yang keimanan mereka tumbuh secara menyimpang, mereka mungkin memperhatikan ayat Allah akan tetapi dilakukan secara menyimpang tidak selaras dengan tuntunan Allah. Untuk membangkitkan kepedulian suatu kaum terhadap ayat-ayat Allah, hendaknya dibina keimanan dan keinginan berhijrah pada diri mereka secara benar. Pembinaan keimanan secara keliru akan membengkokkan proses yang seharusnya terjadi di antara kaum mukminin.

Pembinaan keimanan dan keinginan berhijrah harus dilakukan hingga umat menjadi bagian dari al-jamaah yang saling tolong menolong dalam kebaktian dan ketakwaan, tidak saling menjatuhkan satu dengan yang lain. Persoalan demikian seringkali menyentuh dasar pembinaan dan mendatangkan madlarat yang nyata bagi umat. Ketika seorang mukmin, yang biasanya dihormati manusia, menjatuhkan orang lain, orang tersebut akan kehilangan pijakan untuk beramal. Bila yang dijatuhkan adalah seorang mukmin, amr Allah yang ada pada dirinya akan tersia-sia. Kesalahan pembinaan demikian ini seringkali terkait dengan keimanan yang tidak lurus. Bila keimanan yang dibina lurus, seharusnya umat akan terbina dengan sendirinya sebagai kaum yang tolong menolong dalam berbakti dan ketakwaan. Bila keimanan menyimpang, suatu kaum bisa menjadi kaum yang menjatuhkan orang yang berbakti dan bertakwa. Kadangkala tiba-tiba seseorang yang berusaha berbakti dan bertakwa dijatuhkan dari landasan beramalnya tanpa alasan yang dibenarkan, maka jihad di jalan Allah bagi mereka terbengkalai.

Untuk tumbuh sebagai kaum yang berjihad di jalan Allah, pembinaan harus dilakukan dengan tertib dan terintegrasi. Keinginan mengenal kebenaran dan kehendak Allah, shilaturrahmi dengan sesama mukmin hingga terjalin hubungan yang semestinya, membentuk sikap saling tolong menolong kepada sesama mukmin, dan mengembangkan kemampuan mengenal dan memanfaatkan alam semesta, semuanya harus dikembangkan dengan tertib dan terintegrasi untuk dijadikan sebagai bekal jihad. Sebagai dasar, setiap mukmin hendaknya dibina untuk dapat memahami kebenaran dan kehendak Allah dengan benar. Berikutnya, setiap mukmin hendaknya dibina untuk mengenal orang-orang yang juga berjuang untuk mengikuti kehendak Allah hingga terbentuk shilaturrahmi. Shilaturrahmi selain membentuk kekuatan bersama dalam berjihad juga berfungsi menjaga kelurusan langkah di jalan Allah. Beberapa mukmin yang berusaha bersama mengenal kehendak Allah bisa menjadi cermin kelurusan langkah masing-masing satu sama lain. Berikutnya kebersamaan di antara mukminin harus disusun sesuai dengan potensi yang dapat dikenali, sedemikian setiap orang bisa berperan memberikan potensi manfaat masing-masing bagi sahabatnya dan umat manusia secara keseluruhan. Dengan keadaan yang terbentuk melalui pembinaan sebelumnya, mukminin hendaknya melangkah mengenali potensi alam semesta dan memanfaatkannya dengan cara yang sebaik-baiknya, maka jihad dapat ditegakkan dengan baik.

Dewasa ini, tertib dan integrasi pembinaan tampak kurang diperhatikan. Tauhid yang dibuat oleh kaum musyrikin tetap saja digunakan sebagai bahan pengajaran di antara muslimin. Pembinaan keluarga sebagai basis pembinaan shilaturahmi tidak memperoleh perhatian yang memadai dari kaum mukminin dan bahkan cenderung dirusak. Tata bernegara tampak dilaksanakan oleh kaum mukminin tanpa pengetahuan terkait shilaturrahmi, di mana para pejabat hanya mengejar kedudukan dan mencari keuntungan dari kedudukan mereka. Adapun fundamen tata negara yang dikenali oleh mukmin di antara mereka tidak dikembangkan hingga dapat menjadi prinsip operasinal bernegara. Ini merupakan satu tanda kurangnya perhatian kaum mukminin terhadap kebenaran dan shilaturahmi di antara mereka. Kekayaan alam negeri-negeri muslim banyak dimanfaatkan di atas kerakusan tidak memberikan manfaat yang sewajarnya bagi masyarakat luas. Hal demikian harus memperoleh perhatian kaum mukminin. Kaum mukminin harus melakukan pembinaan secara tertib dan terintegrasi.

Minggu, 07 Juni 2026

Menegakkan Jihad Secara Berjamaah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk berjihad di jalan Allah.

﴾۸۳﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ أَرَضِيتُم بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ
Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: "berangkatlah pada jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin kepada dunia? Apakah kamu rela dengan kehidupan di dunia dibandingkan akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan) akhirat hanyalah sedikit. ( QS At-Taubah 38-3)

Perintah ini harus diperhatikan oleh setiap mukmin. Ada orang-orang beriman yang merasa berat untuk berangkat berjihad karena keinginan mereka kepada dunia. Pemakmuran bumi yang dilakukan seseorang dalam bentuk menempatkan diri sebagai pihak yang memperoleh keuntungan saja merupakan wujud dari lebih berat keinginan kepada dunia. Dari sudut pandang pemakmuran dunia, jihad merupakan penataan sumber-sumber pemakmuran duniawi hingga upaya pemakmuran yang dilakukan manusia dapat terhubung dengan kehendak Allah. Banyak pemakmuran dilakukan manusia di dunia tetapi tidak benar-benar mendatangkan pemakmuran. Banyak sisi negatif yang mungkin menyertai pemakmuran yang dilakukan tanpa terhubung pada kehendak Allah. Mungkin sebagian manusia memperoleh pemakmuran tetapi sebagian lain dirugikan. Banyak bentuk negatif dari pemakmuran yang dilakukan tanpa memahami kehendak Allah.

Setiap orang harus melakukan jihad hingga mencapai jihad di jalan Allah. Jalan Allah adalah jalan yang dikenali oleh orang-orang yang mengenal kehendak Allah atas diri mereka. Mungkin banyak orang yang menyeru untuk berjihad di jalan Allah akan tetapi sebenarnya tidak mengenali kehendak Allah, maka hal demikian tidak menunjukkan jalan Allah. Setiap mukmin hendaknya memeriksa seruan yang disampaikan. Ada seruan jihad yang sebenarnya dibuat untuk tujuan yang bathil. Ada pula seruan yang terwujud tanpa pemahaman yang tepat. Mungkin seruan mereka merupakan kebaikan yang mendatangkan kebaikan di dunia ataupun di akhirat, tetapi jihad yang mereka lakukan belumlah mencapai pengenalan terhadap jalan Allah. Di antara seruan-seruan untuk jihad, setiap orang harus berusaha memahami dan mengikuti langkah berdasarkan pemahaman yang terbaik sebagai jalan jihad. Setiap orang harus berjihad dengan pemahaman terbaik yang diperoleh dirinya, karena jihad itu akan mengantarkan diri mereka masing-masing untuk mengenal jalan Allah.

Jihad di jalan Allah merupakan kewajiban bagi setiap mukmin. Seseorang yang mengenal Allah dan mengetahui urusan jamannya harus menyeru mukminin lain untuk menunaikan urusan Allah untuk jamannya. Seruan itu adalah seruan jihad di jalan Allah. Kaum mukminin yang mengetahui seruan itu hendaknya ikut serta berjihad untuk menunaikan amanah Allah, dan jihad itu menjadi jihad di jalan Allah bagi diri masing-masing. Kehadiran seseorang yang mengenal Allah pada dasarnya dapat mengangkat suatu kaum yang menolongnya untuk mengenal jalan Allah, dan umat itu menjadi kaum yang memperoleh berkah dari kehadiran orang tersebut. Hal itu akan mendatangkan manfaat yang sangat besar bagi kaum tersebut dan umat manusia pada umumnya bila seruannya disambut. Bila seruannya diabaikan, kaum tersebut akan ditimpa kehinaan dalam berbagai bentuknya misalnya kebodohan atau pemimpin yang bodoh. Apabila suatu kaum menyambut suatu seruan jihad dan tidak ada perbaikan dari jihad mereka, jihad itu sangat mungkin bukan jihad di jalan Allah. Kadangkala suatu jihad tampak seperti jihad di jalan Allah akan tetapi sebenarnya tidak benar-benar tepat karena disimpangkan, maka ia bukan jihad di jalan Allah yang secara efektif mendatangkan kebaikan bagi umat manusia.

Mengikuti yang terbaik merupakan kunci agar seseorang mengalir menuju jalan Allah. Setiap orang pada dasarnya harus membangun konstruk pemahaman terhadap kehendak Allah dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Pemahaman itu dapat diperoleh dengan jalan membaca secara langsung tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan memenuhi syarat-syarat yang ditentukan. Selain itu ada orang-orang yang mengajarkan kandungan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang memudahkan seseorang untuk membangun konstruk pemahaman terhadap kehendak Allah dengan benar. Hal ini harus dilakukan dengan cara yang benar, dengan berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai dasar kebenaran. Konstruk pengetahuan yang benar akan menjadikan seseorang dapat memahami kehendak Allah hingga mengetahui kehendak Allah secara spesifik dalam urusan yang ditangani atau urusan yang diperintahkan. Tanpa konstruk pengetahuan yang benar, seseorang tidak akan bisa menimbang bobot kebenaran secara tepat. Mungkin suatu kebenaran dianggap halusinasi, atau suatu kebathilan dianggap karomah yang ditunjukkan oleh wali Allah. Hal itu bisa terjadi karena tidak terbangunnya konstruk pemahaman yang benar.

Berjamaah dalam Jihad

Pada dasarnya jihad di jalan Allah merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap mukmin secara berjamaah, bukan tugas individu. Untuk ikut berjamaah, seseorang tidak harus mencapai pemahaman terhadap perintah Allah secara khusus bagi pribadinya, tetapi setiap mukmin harus bisa memahami secara jelas bahwa apa yang mereka lakukan bersama pimpinan jamaahnya merupakan upaya merealisasikan perintah Allah. Ia harus bisa mengerti teks dan konteks perintah Allah yang sedang mereka tunaikan, maka ia telah ikut berjamaah. Mengikuti yang terbaik harus dilakukan setiap orang dengan berusaha mencerap kebenaran yang disampaikan hingga ia memahami, kemudian ia mengikuti setelah memahami kebaikannya. Ini adalah jihad yang harus dilaksanakan setiap orang. Berjihad sendirian hanya boleh dilakukan manakala seseorang berada di atas jalan Allah benar-benar sendirian saja. Sebenarnya ada kewajiban infaq atas kaum mukminin untuk membiayai jihad di jalan Allah. Infaq itu bisa digunakan untuk membiayai suatu jihad termasuk untuk memberi nafkah bagi mujahid yang membutuhkan. Mukminin harus melahirkan amal-amal jihadnya di jalan Allah baik ia memperoleh biaya dari infaq ataupun tidak memperolehnya. Manakala mekanisme kebersamaan itu tidak ada, jihad di jalan Allah akan menjadi usaha yang sangat berat.

Amal dalam jihad di jalan Allah hanyalah amal yang dilakukan seseorang sebagai bagian dari Al-jamaah, bukan amal untuk keinginan atau kepentingan diri sendiri. Al-Jamaah dalam hal ini adalah orang yang di atas kebenaran, tidak ditentukan dari jumlah pengikut. Hanya amal untuk urusan Allah saja yang merupakan jihad di jalan Allah, dan hal ini terkait dengan imam yang harus ditaati dalam urusannya. Tanpa suatu pengesahan dari Al-Jamaah, suatu amal belum bisa digolongkan sebagai jihad di jalan Allah. Pada puncaknya sahnya amal sebagai jihad di jalan Allah itu berupa landasan amal yang jelas dari perintah kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, yang dapat dipahami secara tekstual dan kontekstual. Landasan perintah itu tidak bisa hanya berupa klaim tentang adanya suatu perintah Allah. Pada tingkat operasinal, amal itu bisa berbentuk aktifitas kebumian terkait dengan realisasi perintah kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, amal yang tumbuh sebagai cabang ataupun ranting dari perintah kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Teks dan konteks tersebut bukan hal yang boleh diperdebatkan, dimana setiap orang bisa dan harus ikut memahami, bukan pemahaman yang dibuat-buat hingga layak diperdebatkan.

Banyak masalah di antara umat dalam masalah jihad di jalan Allah. Tidak jarang seseorang mengabaikan kebenaran atau pemahaman yang terbaik yang disampaikan karena terwahami oleh kebenaran diri sendiri. Bahkan kadangkala seseorang menentang firman Allah terkait keadaan yang jelas terlihat pada diri sendiri hanya karena mengikuti waham kebenaran diri atau mengikuti suatu pendapat tertentu yang dipandang benar. Hal demikian menunjukkan seseorang tidak mengikuti yang terbaik atau mengikuti kebathilan. Ada orang-orang yang disesatkan Allah di atas ilmu mereka. Mereka orang yang berilmu akan tetapi sebenarnya berada dalam kesesatan sedemikian mereka sulit melihat kebathilan yang mereka ikuti. Kaum demikian termasuk kaum yang paling sulit diseru untuk mengikuti jalan Allah karena merasa telah berada di jalan Allah. Sebenarnya mereka tidak melihat perintah Allah secara jelas dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, atau tidak melihat dengan jelas hubungan amal mereka dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasuullah SAW. Mereka mungkin merasa menunaikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tetapi sebenarnya apa yang mereka tunaikan tidak berdasar dan tidak selaras dengan apa yang diperintahkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bahkan mungkin saja keadaan mereka jelas bertentangan dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tetapi mereka mempunyai ilmu yang membenarkan keadaan mereka.

Masalah Besar Jihad di Jalan Allah Jaman Mutakhir

Orang yang berjihad akan menemukan banyak tantangan, misalnya mereka bisa saja terhalang untuk memperoleh biaya untuk berjihad. Bukan berarti Allah tidak menolong orang yang berjihad. Seringkali Allah menurunkan petunjuk bagi orang yang berjihad terkait urusan yang harus diupayakan akan tetapi kadangkala ada yang bisa menjegal atau menghalangi pelaksanaan petunjuk-petunjuk yang diturunkan. Boleh jadi Allah belum membukakan keberhasilan dalam wujud duniawi atas jihad yang harus dilakukan, tetapi banyak pengetahuan yang muncul bagi orang yang berjihad. Keadaan semacam ini tidak boleh menjadi alasan bagi seseorang meninggalkan jihadnya. Jihad harus tetap ditunaikan sekalipun manakala ia harus melakukan sendirian saja.

Tentu saja ia harus tetap berhati-hati bahwa ia mungkin sendirian karena berada di jalan yang salah. Tetapi selama tidak ada orang yang bisa menunjukkan kesalahan secara fundamental pada jalannya, ia harus tetap menegakkan jihadnya sekalipun dalam kesendirian. Bisa saja seseorang benar-benar memahami jalan Allah sendirian, dan orang lain tetap mengikuti jalan yang salah mengikuti hawa nafsu. Rasulullah SAW sangat bersedih dengan keadaan umatnya di akhir jaman, di mana beliau SAW berseru kepada Allah pada saat mengajar : Yaa Allah umatku, umatku. Ini merupakan bentuk kesedihan beliau SAW atas keadaan mayoritas umat yang disesatkan tidak memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dan millah nabi Ibrahim a.s, hanya mengikuti kebenaran menurut hawa nafsu sendiri. Perbuatan umat demikian menyakiti Rasulullah SAW. Sekalipun seseorang sendirian di jalan Allah, ia harus tetap menegakkan jihadnya tidak boleh meninggalkan jalan jihad yang ditentukan baginya.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَلَا قَوْلَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي إِبْرَاهِيمَ { رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنْ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي } الْآيَةَ وَقَالَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَام { إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ } فَرَفَعَ يَدَيْهِ وَقَالَ اللَّهُمَّ أُمَّتِي أُمَّتِي وَبَكَى فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ وَرَبُّكَ أَعْلَمُ فَسَلْهُ مَا يُبْكِيكَ فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام فَسَأَلَهُ فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَا قَالَ وَهُوَ أَعْلَمُ فَقَالَ اللَّهُ يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ فَقُلْ إِنَّا سَنُرْضِيكَ فِي أُمَّتِكَ وَلَا نَسُوءُكَ
Dari Abdullah bin Amr bin al-'Ash bahwa Nabi SAW membaca firman Allah mengenai Ibrahim: "Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, Maka Sesungguhnya orang itu termasuk golonganku"' (QS Ibrahim: 36) , Dan mengenai Isa a.s : "Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana" (Qs. Al Maidah: 118), kemudian beliau mengangkat kedua tangannya seraya berdo'a: "Ya Allah, umatku, umatku" dengan bercucuran air mata. Kemudian Allah 'azza wajalla berkata kepada malaikat Jibril: "Temuilah Muhammad -dan Rabbmulah yang lebih tahu- dan tanyakan kepadanya, 'Apa yang membuatmu menangis? ' Maka malaikat Jibril pun bertanya kepada beliau, dan Beliau SAW menjawabnya dengan apa yang dikatakan Allah -dan Allah lebih mengetahui hal itu-. Kemudian Allah berkata: 'Wahai Jibril, temuilah Muhammad dan katakan bahwa Kami akan membuatmu ridha dengan umatmu dan tidak akan menyakitimu '.HR Muslim)

Umat Rasulullah SAW akan menyakiti hati Rasulullah SAW hingga Rasulullah SAW menangis sedih. Allah SWT lebih mengetahui perihal menangisnya Rasulullah SAW terkait umatnya, dan Jibril a.s diperintahkan untuk mengetahui perihal itu dari Rasulullah SAW. Hanya kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW yang lebih menjelaskan keadaan yang bisa membuat Rasulullah SAW menangis. Seandainya seseorang bisa bertanya kepada Jibril a.s, pengetahuan yang bisa disampaikan terkait perihal itu tidak akan lebih baik dari berita kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Boleh jadi orang-orang yang ikhlas dalam ibadah kepada Allah dapat merasakan kesedihan Rasulullah SAW karena keadaan itu. Mungkin mereka akan menjadi sakit pula merasakan bagian dari rasa sakitnya Rasulullah SAW.

Umat Rasulullah SAW akan menyakiti hati Rasulullah SAW hingga Rasulullah SAW menangis sedih. Kesedihan beliau SAW muncul karena umat tidak mengikuti langkah nabi Ibrahim a.s dan justru mengikuti berhala-berhala. Ada baiknya mukminin lebih menggali pengertian tentang berhala. Suasana penyembahan berhala di jaman ini sebenarnya bisa lebih tergambar pada hadirnya artis-artis ataupun klub-klub yang menjadi objek pujaan suatu kaum daripada patung modern, tetapi dalam intensitas bahwa patung sesembahan itu dapat memenuhi harapan para penyembahnya. Orang-orang jaman ini mungkin bisa dikatakan tidak bisa menangkap makna berhala dari penyembahan patung karena telah redupnya patung sebagai citra berhala. Hanya sebagian kecil saja orang yang mengerti makna patung sebagai berhala sebagaimana para penyembah patung Ba’al. Dalam beberapa kasus, penyembahan berhala itu dilakukan suatu kaum dengan suatu kesadaran bahwa berhala itu merupakan manifestasi tuhan yang dapat dipahami oleh penyembahnya.

Keserupaan pemujaan berhala ini sebenarnya masih mungkin ditemukan di kalangan umat Rasulullah SAW. Akan muncul kaum yang menyakiti Rasulullah SAW dengan berhala-berhala yang dianggap sebagai representasi dari hadirnya tuhan kepada mereka hingga pantas untuk disembah. Tentu berhala-berhala itu bukan dalam bentuk patung, tetapi sesuatu yang dianggap secara bathil sebagai representasi dari kehadiran Allah. Misalnya mungkin seorang muslim memandang perkataan seseorang di antara mereka lebih benar daripada firman dalam kitabullah sedangkan firman itu bisa dimengerti dengan mudah, maka hal demikian itu termasuk penyembahan berhala. Dari salah satu hadits dari ‘Adiy bin Hatim, dapat diketahui bahwa ikut mengharamkan yang halal atau mengharamkan yang halal merupakan perbuatan menjadikan para ulama dan rahib sebagai tuhan. Tindakan itu hanyalah batas penunjuk yang jelas tentang pemujaan berhala, sedangkan adanya pemujaan itu sendiri mungkin memunculkan fenomena yang banyak bukan sekadar perbuatan menghalalkan dan mengharamkan.

Menghindari berhala-berhala harus dilakukan oleh setiap orang beriman dengan memperkuat langkah mengikuti millah nabi Ibrahim a.s. Millah merupakan proses meningkatkan kualitas penyembahan kepada Allah melalui pembinaan akhlak mulia sedemikian seorang mukmin dapat semakin mengerti kehendak Allah atas diri mereka dan mempunyai kekuatan untuk melaksanakannya. Setiap mukmin harus melakukan tazkiyatun-nafs untuk membina diri sebagai misykat cahaya agar terbentuk akhlak yang dapat memahami cahaya Allah. Dengan pemahaman terhadap cahaya Allah, setiap orang harus menjalin shilaturrahmi agar diberi sarana untuk mewujudkan pemahaman terhadap cahaya Allah. Shilaturrahmi ini pada intinya berbentuk rumah tangga yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Itu merupakan bentuk penyembahan kepada Allah yang sebaik-baiknya. Mukmin tidak boleh terus menerus bersembah dalam kebodohan. Dengan pembinaan demikian, kaum mukminin akan terhindar dari penyembahan terhadap berhala-berhala dalam segala bentuknya. Demikian itu cara menghindari berhala-berhala yang harus dilakukan mukminin. Menyimpangnya seseorang dari millah nabi Ibrahim a.s akan menjadikan manusia mudah terjatuh pada penyembahan berhala-berhala, dan akan menyakiti hati Rasulullah SAW. Setiap orang harus berusaha untuk semakin memahami dan melaksanakan kehendak Allah dengan lebih baik, tidak terjebak dalam penyembahan-penyembahan kepada yang lain baik berbentuk patung, artis-artis, klub-klub lah raga, manusia-manusia ataupun segala bentuk berhala-berhala yang mungkin terbentuk di pikiran atau hati umat manusia. Menjaga kelurusan pemahaman itu dapat dilakukan dengan membangun dan mengukur semua pemahaman dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Allah akan mengubah umat yang menyakiti Rasulullah SAW menjadi umat yang Rasulullah SAW ridha dengan mereka dan mereka tidak lagi menyakiti Rasulullah SAW. Janji Allah ini merupakan harapan bagi orang-orang yang mengikuti langkah nabi Ibrahim a.s bahwa sahabat mereka akan menjadi kaum yang sama di jalan Allah. Dengan harapan demikian mereka tidak meninggalkan sahabatnya sekalipun mungkin ikut merasakan sakitnya Rasulullah SAW. Barangkali mereka berharap perubahan itu tidak terjadi secara keras atau menyakitkan, tetapi dengan cara yang sebaik-baiknya.



Kamis, 04 Juni 2026

Jihad dan Pemakmuran Dunia

 Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk berjihad di jalan Allah.

﴾۸۳﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ أَرَضِيتُم بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ
Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: "Berangkatlah pada jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin kepada dunia? Apakah kamu rela dengan kehidupan di dunia dibandingkan akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan) akhirat hanyalah sedikit. ( QS At-Taubah 38-3)

Ada orang-orang beriman yang merasa berat untuk berangkat berjihad karena keinginan mereka kepada dunia. Ayat ini tidak menunjukkan bahwa jihad bertentangan dengan pemakmuran duniawi, tetapi merupakan upaya penataan sumber-sumber pemakmuran duniawi secara tepat, secara khusus agar pemakmuran yang dilakukan dapat terhubung dengan kehendak Allah. Banyak pemakmuran dilakukan manusia di dunia tetapi tidak benar-benar mendatangkan pemakmuran. Banyak sisi negatif yang mungkin menyertai pemakmuran yang dilakukan tanpa terhubung pada kehendak Allah. Mungkin sebagian manusia memperoleh pemakmuran tetapi sebagian lain dirugikan. Banyak bentuk negatif dari pemakmuran yang dilakukan tanpa memahami kehendak Allah. Bentuk negatif itu sebagian mungkin bisa disembunyikan di kehidupan dunia akan tetapi kelak akan terbuka di akhirat. Pemakmuran bumi dalam bentuk hanya menempatkan diri sebagai pihak yang memperoleh keuntungan itulah yang disebut sebagai seseorang yang lebih berat keinginan kepada dunia.

Berbagai Sumber Pemakmuran

Banyak bentuk pemakmuran dapat dilakukan manusia di dunia, karena banyak bentuk sumber pemakmuran yang dapat digunakan. Sebagian besar manusia menggunakan prinsip-prinsip duniawi saja dalam pemakmuran yang mereka lakukan. Sebagian manusia melakukan kesyirikan menjadi pelayan bagi syaitan untuk memperoleh kemakmuran dari layanan yang mereka lakukan. Sebagian orang syirik dengan berusaha mengikuti keinginan diri sendiri saja, tidak menjadi pelayan syaitan tetapi tetap saja perbuatan mereka merugikan masyarakat besar. Sebagian manusia ingin melakukan pemakmuran dengan prinsip-prinsip tuntunan agama akan tetapi tidak disertai dengan pemahaman yang sungguh-sungguh terhadap tuntunan agama hanya berusaha menerapkan apa yang diperoleh. Mereka mungkin tampak terlalu memaksakan ayat-ayat secara mentah. Hanya sedikit orang-orang yang berusaha menerapkan tuntunan Allah dengan landasan pemahaman yang benar. Di antara orang-orang demikian adalah para rasul yang menyeru kepada jihad. Ada pula orang-orang selain para rasul yang juga memahami tuntunan Allah dengan benar dan berusaha menerapkan pemahamannya untuk pemakmuran dunia. orang-orang demikian itulah yang melakukan jihad di jalan Allah melaksanakan perintah Allah. Setiap bentuk usaha pemakmuran akan mendatangkan tanda-tanda kemakmuran, akan tetapi sebenarnya tidak benar-benar mendatangkan pemakmuran kecuali pemakmuran yang dilakukan atas dasar jihad di jalan Allah.

Kekuatan akal bangsa merupakan sumber utama pemakmuran suatu bangsa. Mustahil membangun bangsa menjadi makmur apabila akal mereka rusak. Ada tingkatan-tingkatan dalam sumber pemakmuran yang mendatangkan kemakmuran dengan benar, dan sumber pemakmuran dalam tingkatan yang paling baik adalah kebenaran dari sisi Allah. Membangun kecerdasan bangsa adalah pembuka sumber pemakmuran. Upaya mencerdaskan bangsa harus dilakukan dengan memperhatikan sumbernya pada tingkatan yang lebih tinggi terlebih dahulu diikuti dengan upaya pada tingkatan yang lebih rendah, tidak bisa dilakukan secara acak. Kadangkala suatu bangsa mengutamakan hal elementer jasmaniah untuk membangun kecerdasan tetapi mengacaukan akal yang lebih tinggi, maka seluruh kecerdasan bangsa menjadi rusak. Kerusakan demikian itu dapat menyebabkan kerusakan secara menyeluruh, dari kerusakan akal bangsa, rusaknya penguasaan bangsa terhadap science dan teknologi, maupun kerusakan kesehatan masyarakat sendiri karena salah membina jasmaniah. Orang-orang yang berakal akan tersingkir sedangkan orang-orang bodoh memperoleh kekuasaan.

Sebagai gambaran, seseorang mungkin menginginkan bangsanya untuk cerdas dan cara yang diusahakan adalah memberikan makanan bagi jasmani bangsanya. Ini adalah bentuk upaya mencerdaskan bangsa dengan mengolah sumber pemakmuran dalam tingkatan yang paling rendah. Usaha ini sangat elementer dan tidak fundamental karena banyak proses lain pembentuk kecerdasan yang sebenarnya harus lebih diperhatikan. Hasil usaha demikian saja akan sulit diprediksi oleh kebanyakan manusia. Boleh jadi anak-anak yang diberi makanan justru mengalami masalah obesitas atau masalah jasmaniah lainnya dan kecerdasannya tidak terbangun karena cara mencerdaskan bangsa yang ditempuh hanya pada tingkatan paling rendah. Upaya pencerdasan harus dilakukan dengan memperhatikan sumber pencerdasan, tidak hanya pada ujung bendawi. Pengolahan kecerdasan yang paling sempurna adalah membina akal untuk memahami ayat-ayat Allah. Sangat banyak hal lain yang menjadi media membangun kecerdasan bangsa di antara pemberian makanan jasmaniah dan pembinaan akal, misalnya penguasaan bangsa terhadap science dan teknologi.

Jihad merupakan pembuka jalan untuk melakukan penataan hingga umat manusia dapat melakukan upaya pemakmuran mengikuti tuntunan Allah. Membangun pemakmuran duniawi hanya dapat dilakukan dengan baik apabila orang-orang beriman berjihad untuk melakukan penataan mengikuti kehendak Allah. Jihad sendiri dapat ditunaikan dengan benar hanya apabila orang beriman membina akalnya dengan benar. Apabila akal terbangun secara keliru, akan banyak kerusakan yang terjadi dalam tatanan umat sedemikian umat justru akan menjadi terbelakang. Mungkin mereka merasa mengenal kehendak Allah sedangkan pemahaman mereka sebenarnya rusak. Mungkin mereka merasa berusaha membangun keilmuan tetapi keilmuan yang terbangun justru merusak prinsip-prinsip keilmuan. Mungkin seseorang berusaha untuk memberdayakan manusia untuk bisa melakukan upaya pemakmuran akan tetapi justru menyingkirkan orang-orang yang berpotensi besar memakmurkan. Mungkin mereka merasa membangun kesejahteraan duniawi tetapi sebenarnya tatanan duniawi menjadi kocar-kacir sedemikian umat manusia justru menjadi sengsara. Banyak keadaan lain yang bisa terjadi menunjukkan adanya selisih antara niat dan realisasi yang berbeda karena akal yang kurang lurus. Suatu jihad tidak boleh menjadikan kehidupan umat manusia menjadi lebih rusak. Suatu jihad harus dilakukan di jalan Allah, yaitu jalan untuk kembali kepada Allah berdasarkan pemahaman akal yang lurus.

Sebagian dari orang-orang beriman adalah orang-orang yang lebih berat ke dunia dan rela dengan kehidupan dunia. Mereka menginginkan dunia lebih berat daripada akhirat. Pada satu sisi, mereka dapat dilihat layaknya orang-orang yang tidak memikirkan akal sebagai bekal akhirat. Dunia yang mereka berat terhadapnya itu tidak mengantar mereka untuk mengenal hakikat-hakikat dari sisi Allah. Mungkin mereka hanya mengenal kebenaran dari apa yang dikatakan orang lain kepada mereka saja. Ini merupakan bentuk akhlak yang salah dalam diri orang beriman. Akhlak yang harus terbentuk pada diri orang beriman adalah kecintaan terhadap kebenaran dari sisi Allah dengan akal sebagai sumber kemakmuran yang tetap bisa mengalir hingga kehidupan akhirat. Segala sesuatu yang bersifat duniawi akan hilang dari diri seseorang setidaknya ketika kematian telah tiba, tetapi manusia dapat mengenal kebenaran dari alam dunia dengan membangun sumber pengalirannya dalam dirinya melalui pembinaan akal. Akal yang mengalirkan pengetahuan itulah yang akan dibawa manusia hingga ke alam akhirat sedemikian ia akan tetap memperoleh kemakmuran hingga alam akhirat.

Di akhirat, manusia akan menemukan bentuk kehidupan yang mempunyai realitas lebih tinggi dibandingkan kehidupan di dunia. Api di alam akhirat jauh lebih panas dibandingkan api dalam kehidupan dunia, dan manusia akan menemukan lebih banyak jenis api di akhirat dibandingkan di alam dunia. Demikian pula realitas bendawi seperti emas, permata dan setiap macam benda duniawi akan ditemukan dalam realitas yang lebih tinggi, tidak bercampur dengan kotoran sebagaimana benda-benda di dunia, dan mudah ditemukan dalam dalam jumlah yang diinginkan setiap manusia yang bisa menemukannya. Setiap hal yang dapat ditemukan manusia di alam dunia dapat ditemukan di akhirat dalam realitas yang lebih tinggi. Setiap orang akan menemukan sesuatu yang terbangun pada akalnya. Benar-benar setiap orang akan menemukan akhirat sesuai dengan akhlak dan akal yang terbina pada diri mereka, sedemikian mereka tidak akan merasa bosan dengan realitas yang mereka temukan di alam akhirat. Manakala seseorang tidak mempunyai akal yang benar dalam urusan yang mereka inginkan, mungkin mereka akan merasa bosan dengan melimpahnya realitas yang bisa mereka temukan di akhirat. Sebagian orang yang salah akalnya akan dijemput para malaikat di telaga haudh Rasulullah SAW untuk ditempatkan sesuai dengan keadaan mereka, tetapi sebenarnya tempat mereka dengan akal demikian sangatlah menyiksa.

Memahami Jalan Allah sebagai Syarat Jihad

Hanya jalan Allah saja yang mendatangkan pemakmuran sepenuhnya. Sebagai contoh, bangsa Iran terlihat telah berkembang sangat kuat karena jihad mereka di jalan Allah. Hanya citra mereka saja yang dibuat tampak buruk oleh kaum musyrikin, sedangkan kehidupan bermasyarakat mereka sangat baik. Sifat perkembangan bangsa tersebut berbeda dengan kaum musyrikin yang menjadi kuat karena kelicikan dan kejahatan yang mendatangkan kesengsaraan bagi para jajahan mereka, atau terhadap masyarakat umumnya. Demikian pula perkembangan kehidupan muslimin yang mengenal jalan Allah berbeda dengan muslimin lain yang tidak mengenal jalan Allah. Di negeri muslim yang lain, sekian banyak potensi kekayaan bangsa hancur atau dihancurkan untuk mewujudkan ide-ide mentah tanpa dukungan pengetahuan ilmiah bangsa mereka sendiri. Masyarakat tidak dibina atau didukung untuk mengenali potensi yang ada pada wilayahnya, dan didatangkan orang asing untuk mengolah wilayah. Mereka menyangka apa yang dilakukan akan mendatangkan kemakmuran, sedangkan kekayaan alam yang sangat besar yang menjadi hak intelektual anak-anak bangsa menjadi rusak. Anak-anak bangsa terlantar kecerdasannya hanya karena para penguasa mengejar apa yang mereka sangka sebuah kemakmuran. Hal ini bisa terjadi karena masyarakat tidak mengenal jalan Allah.

Jalan Allah hanya dikenali oleh orang-orang yang mengenal kehendak Allah atas diri mereka. Mungkin mudah ditemukan banyak orang yang menyeru untuk berjihad di jalan Allah akan tetapi sebenarnya tidak mengenali kehendak Allah atas diri mereka, maka hal demikian tidak benar-benar menunjukkan jalan Allah. Ada seruan-seruan yang sebenarnya dibuat untuk tujuan yang bathil. Ada pula seruan yang terwujud tanpa pemahaman yang tepat. Mungkin seruan mereka merupakan kebaikan yang mendatangkan kebaikan di dunia ataupun di akhirat, tetapi jihad yang mereka lakukan belumlah mencapai pengenalan terhadap jalan Allah. Amal yang mereka serukan boleh jadi akan mengantarkan manusia ke surga. Surga Allah sangatlah luas dan banyak tingkatan, dan tingkatan yang tinggi hanya bisa diperoleh oleh orang-orang yang menempuh jalan Allah, sedangkan amal orang-orang yang berbuat kebaikan saja akan mengantarkan masing-masing ke surga bagi orang-orang kebanyakan. Jalan Allah adalah jalan yang mengantarkan seseorang kembali kepada Allah, dikenali oleh orang yang mengenali kehendak Allah atas diri mereka, baik hanya kehendak atas masing-masing ataupun kehendak atas umat manusia.

Orang-orang yang berada di jalan Allah memahami kehendak Allah berdasarkan tuntunan ayat-ayat Allah terkait urusan mereka. Mereka memahami keadaan kauniyah selaras dengan ayat kitabullah, dan mereka mempunyai pengetahuan tentang amal yang harus dilakukan berdasarkan tuntunan kitabullah. Memahami kehendak Allah di jaman setelah Rasulullah SAW tidaklah terjadi dengan ilham-ilham saja, tetapi harus disertai dengan pemahaman terhadap tuntunan ayat-ayat kitabullah. Mungkin seorang muslim memahami suatu ayat kauniyah kemudian memperoleh penjelasan dari ayat kitabullah tentang pemahamannya. Mungkin seseorang memperoleh ilham terkait suatu perkara kemudian mengetahui tuntunan kitabullah terkait ilhamnya. Mungkin seseorang memperhatikan ayat kitabullah dan memahaminya kemudian melihat ayat kauniyah terkait pemahamannya itu. Pemahaman-pemahaman demikian bisa merupakan pemahaman yang benar terhadap kehendak Allah. Tanpa memahami ayat kitabullah, seseorang tidaklah bisa dikatakan memahami kehendak Allah.

Pada beberapa kaum, pemahaman terhadap kehendak Allah kadangkala diukur dari kekuatan indera bathiniah mempersepsi alam-alam bathiniah. Ini bukanlah kaidah yang benar. Pemahaman terhadap kehendak Allah harus diukur berdasarkan pemahaman terhadap ayat-ayat Allah, baik ayat kauniyah maupun kitabullah. Kekuatan indera-indera bathiniah tidak boleh digunakan untuk menentukan benarnya pemahaman terhadap kehendak Allah, hanya boleh digunakan sebagai pengantar untuk memahami kehendak Allah. Indera-indera bathiniah harus digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah hingga terbentuk pemahaman yang benar terhadap kehendak Allah. Menyangka kekuatan persepsi indera bathiniah sebagai standar kebenaran dari Allah akan mendatangkan kesalahan yang besar. Kesesatan akibat mengikuti kaidah yang keliru dalam urusan indera bathiniah bisa mendatangkan kesesatan yang sejauh-jauhnya karena mudahnya campur tangan kejahatan dari alam yang tinggi.

Amal berdasarkan pemahaman terhadap ayat kitabullah ini harus benar-benar diperhatikan oleh orang-orang yang ingin menempuh jalan Allah. Kadangkala orang menyangka berjihad di jalan Allah mengikuti langkah-langkah manusia tanpa memperhatikan firman Allah dalam kitabullah, maka mereka tidak berada di jalan Allah. Bahkan kadangkala sekalipun orang yang diikuti adalah orang yang mengenal jalan Allah, yang mengikuti tidak di jalan Allah karena tidak memperhatikan tuntunan kitabullah. Bukan tidak mungkin ketaklidan manusia mengikuti orang lain menjadikan mereka sebagai orang yang menentang tuntunan kitabullah sedangkan mereka ingin berjihad di jalan Allah. Manakala ada orang lain membacakan kehendak Allah berdasarkan kitabullah, mereka mengabaikan atau justru mendustakan apa yang dibacakan kepada mereka karena taklid kepada manusia, maka mereka menjadi para pendusta terhadap jalan Allah. Dasar pemahaman terhadap ayat kitabullah ini harus benar-benar diperhatikan oleh orang yang ingin menemukan jalan Allah, agar keinginan dan usaha orang beriman di jalan Allah tidak menjadi sia-sia.

Bobot dari pemahaman terhadap ayat Allah ini harus lebih berat ada pada setiap mukmin daripada keinginan kepada harta duniawi. Bila tidak, mereka itu termasuk orang yang berat kepada dunia dan rela terhadap kehidupan dunia. Kemakmuran kehidupan dunia harus dipandang hanya sebagai hasil dari jihad di jalan Allah, bukan sesuatu yang diinginkan. Hasil-hasil duniawi boleh dipandang sebagai indikator dari jihad yang dilakukan. Usaha di jalan Allah pastilah mendatangkan kemakmuran, tidak sebaliknya. Tanda dari usaha di jalan Allah adalah berkembangnya akal manusia. Mustahil orang yang benar berusaha di jalan Allah menjadi lebih bodoh akalnya. Manakala suatu bangsa menjadi lebih bodoh, mereka mungkin menempuh jalan yang salah, bukan menempuh jalan Allah. indikator dari benarnya jalan seseorang harus diukur dengan tuntunan kitabullah. Banyak kaum mengukur kebenaran hanya berdasar hawa nafsu mereka sedemikian orang yang benar dipandang salah dan orang yang salah diagungkan, sedangkan tuntunan kitabullah diabaikan. Hal demikian merupakan bentuk kebodohan suatu umat.



Senin, 25 Mei 2026

Menegakkan Pilar Jihad

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Jalan untuk menjadi hamba yang didekatkan di antaranya adalah melakukan pemakmuran bumi. Allah menciptakan manusia dari bumi dan menjadikannya sebagai pemakmurnya. Itu adalah tugas bagi manusia yang dijadikan sebagai jalan kembali kepada-Nya. Dengan jalan demikian, Allah sebenarnya dekat kepada hambaNya dan memperkenankan doa.

﴾۱۶﴿ وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلٰهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)" QS huud ; 61)

pemakmuran bumi dapat dilakukan dengan menegakkan pilar-pilarnya. Pilar-pilar pemakmuran itu berupa : 1. Tauhid dan keikhlasan, 2. Shilaturrahmi, 3. Pengembangan potensi diri, 4. Pengembangan potensi wilayah, 5. Jihad, 6. Sinergi dan kesetimbangan alam, 7. Pengolahan basis data. Tegaknya pilar secara sempurna akan terjadi apabila seseorang dapat membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Pilar-pilar tersebut tidak akan dapat ditegakkan oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah. Semakin sempurna taubat seseorang kepada Allah, semakin tegak pilar yang dapat ia tegakkan.

Jalan Allah sebagai Pokok Jihad

Jihad diambil dari kata al-juhd ( اَلْجُهْدُ ) yang artinya tenaga dan beban, dikatakan, جَاهَدَ – يُجَاهِدُ – جِهَادًا أَوْ مُجَاهَدَةً ,” apabila ia mencurahkan dan mengerahkan tenaga. Rasulullah SAW menjelaskan perihal jihad dengan bermacam-macam cara secara luas, dengan berbagai hal yang perlu dilakukan oleh setiap muslim. Jihad secara umum berupa upaya sungguh-sungguh untuk melaksanakan sesuatu yang disukai Allah dan juga upaya sungguh-sungguh untuk menolak segala sesuatu yang dibenci Allah seperti kemaksiatan, perbuatan dosa, kefasikan dan lain-lain. Dapat dikatakan bahwa jihad adalah mencurahkan segala daya dan upaya untuk mewujudkan kebaikan dari sisi Allah dan menghindari kerusakan yang tidak disukai Allah. Adapun jihad dalam pengertian khusus adalah berperang di jalan Allah SWT dengan senjata dalam rangka membela agama-Nya menghadapi orang-orang kafir.

Sekalipun cara Rasulullah SAW menjelaskan bermacam-macam, seluruh jihad selalu terkait dengan jalan Allah (sabilillah). Setiap hamba Allah harus berusaha untuk mengenal jalan Allah karena seluruh jihad pada dasarnya hanya dilakukan untuk menempuh jalan Allah, baik jihad yang bersifat pribadi maupun jihad yang bersifat bersama-sama. Tidak ada jihad yang boleh dilakukan secara menyimpang dari jalan Allah. pokok dari jihad adalah bahwa setiap muslim harus berusaha menemukan jalan Allah, baik ia berusaha mencari ilmu, mengenali dorongan hawa nafsu dan syahwat dirinya untuk membersihkan ibadah kepada Allah, atau hingga ia mengenali dan melaksanakan jihad yang sungguh-sungguh perlu dilakukan oleh kaum mukminin dalam memerangi musuh-musuh Islam.

Pengetahuan tentang jihad di jalan Allah harus dipahami berdasar tuntunan yang benar. Dewasa ini banyak seruan jihad yang palsu yang diserukan oleh musuh-musuh Allah. Musuh-musuh Islam dari kalangan musyrikin sebenarnya juga membangkitkan seruan kepada umat islam untuk berjihad tetapi untuk kepentingan musyrikin. Seruan itu disampaikan melalui sebagian kaum munafiq yang lebih menginginkan kehidupan duniawi, yang kemudian diikuti oleh banyak muslimin yang berakal sungsang. Selain seruan palsu demikian, keadaan muslimin sendiri saat ini berada dalam kegelapan karena banyaknya kebenaran yang bisa disembunyikan syaitan dari pandangan muslimin. Syaitan tidak akan mampu menyembunyikan petunjuk Allah, tetapi pandangan muslimin yang ditutupi dari petunjuk. Kegelapan demikian terlihat jelas terutama bagi pandangan orang-orang yang mengetahui. Seandainya tidak dalam kegelapan, kaum muslimin tidak akan bisa dikuasai musyrikin. Banyak kebenaran yang berhasil disembunyikan dari pandangan kaum muslimin. Ditemukan pula di jaman ini para penjual diri yang siap menjadi bunglon yang masuk kepada setiap golongan untuk menimbulkan fitnah dan merusak citra islam semacam Abu Janda, memanfaatkan ketersembunyian kebenaran dari kaum muslimin.

Sekalipun bentuk jihad sangat beragam, ada hal pokok yang menjadikan bentuk-bentuk usaha tertentu sebagai jihad. Pada pokoknya, jihad harus dilakukan di jalan Allah, bukan di jalan yang lain. Pengetahuan tentang jalan Allah harus diperkuat agar setiap muslimin dapat berjihad dengan benar dalam setiap keadaan. Niat jihad harus diwujudkan dengan benar dengan dasar pengetahuan tentang jalan Allah. Dengan pengetahuan tentang jalan Allah, jihad dapat diwujudkan dengan benar. Kaum mukminin yang berakal dapat berjihad di jalan Allah tanpa menyimpang ke jalan yang lain. Kaum muslimin umumnya dapat menemukan jihadnya dalam menumbuhkan akhlak mulia dalam dirinya selaras dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak terjerumus mengikuti hawa nafsu dan syahwat dirinya ataupun seruan orang-orang musyrik yang menjebak dengan ajaran-ajaran yang dibuat berdasar tuntunan tanpa nilai yang benar. Demikian pula setiap pihak dapat menemukan bentuk jihadnya dengan benar dengan mengenal jalan Allah. Tanpa memperkuat pengetahuan tentang jalan Allah, kaum muslimin akan sulit untuk menemukan dan melaksanakan jihad yang benar, yaitu jihad di jalan Allah.

Pengetahuan tentang jalan Allah itu adalah pengetahuan jalan yang dibangun di atas pembinaan tauhid dan shilaturrahmi. Pengetahuan tentang pembinaan kedua hal tersebut saat ini sebenarnya sangat disembunyikan dari pandangan kaum muslimin. Pembinaan tauhid adalah pembinaan akhlak mukminin agar dapat dapat memahami dan melasanakan kehendak Allah, dimulai dari pengucapan kedua kalimah syahadat, diikuti proses tazkiyatun-nafs, kemudian dilakukan pembinaan akal membentuk diri sebagai misykat cahaya agar dapat memahami kehendak Allah, kemudian diikuti dengan pembinaan bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah agar bisa menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah. Itu adalah pembinaan tauhid. Pengajaran tauhid demikian itu saat ini sangat disembunyikan oleh kaum musyrikin melalui kaum munafikin di antara muslimin. Pembinaan shilaturrahmi pada puncaknya berupa usaha yang dilakukan agar mukminin bisa mengenal kedudukan diri dalam Al-Jamaah yang menunaikan urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya. Dengan pembinaan tauhid dan shilaturrahmi yang benar, pengetahuan tentang jalan Allah akan diperoleh oleh muslimin secara benar.

Penopang Jihad

Jihad di jalan Allah harus dilakukan tidak terbatas pada pengetahuan tauhid dan shilaturrahmi. Kaum mukminin harus mewujudkan kekuatan berjihad dan mempersiapkan bekalnya dengan mengembangkan potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam. Mengembangkan sumber daya manusia harus dilakukan agar kaum mukminin mempunyai kekuatan untuk melaksanakan urusan Allah yang mereka pahami, terutama pemahaman-pemahaman yang benar-benar bersumber dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap orang yang memahami tuntunan Allah selaras dengan keadaan kauniyah hendaknya tidak dihalangi untuk menunaikan kehendak Allah yang dikenalnya mengikuti tuntunan Allah, dan lebih baik lagi bila kaum mukminin memberikan dukungan untuk mewujudkan pelaksanaan kehendak Allah. Pelaksanaan kehendak Allah itu seharusnya dilakukan hingga dalam bentuk penataan sumber daya alam yang ada agar jihad di jalan Allah itu dapat berlangsung dengan baik. Penataan manusia dan alam demikian hendaknya dapat dilakukan hingga kaum mukminin membentuk diri sebagai Al-Jamaah.

Saat ini kaum musyrikin dengan leluasa mengembangkan sumber daya manusia munafiqin untuk memperkuat langkah kaum musyrikin. Kaum musyrikin saat ini banyak membentuk kekuatan-kekuatan proksi untuk menundukkan kaum muslimin, dan banyak kaum muslimin mendukung proksi yang dibuat kaum musyrikin. Misalnya banyak muslimin yang mendukung ISIS atau Alqaida yang merupakan kekuatan bentukan musyrikin. Ketika banyak bukti telah tampak bahwa mereka adalah proksi musyrikin, proksi itu dibubarkan tetapi orang-orang kunci Alqaida atau ISIS dan proksi-proksi lain itu dicitrakan baik untuk dijadikan pemimpin bagi muslimin yang bodoh. Di sisi lain, dijumpai bahwa kaum mukminin buruk dalam mendukung pengembangan sumber daya mukminin. Kaum mukminin dilemahkan dengan cara yang berbeda, diantaranya dijadikan melangkah tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Orang-orang mukmin yang potensial untuk menunjukkan jalan Allah justru difitnah agar dipandang buruk, dilemahkan, dihalangi untuk berjihad karena mukminin mengikuti hawa nafsu. Demikian pula pengelolaan sumber daya alam di kalangan muslimin tidak dilakukan dengan baik. Banyak sumber daya alam yang ada di wilayah muslimin diolah justru untuk kepentingan kekuatan langkah kaum musyrikin tanpa disadari oleh kaum muslimin.

Tentu tidak semua mukminin demikian. Bangsa Iran berusaha menegakkan jihad terutama untuk bangsa mereka sendiri, dan beberapa pihak terbantu. Mereka berhasil mengelola sumber daya manusia hingga terbentuk bangsa yang kuat menegakkan jihad melawan musyrikin, mampu mengelola sumber daya alam untuk kepentingan jihad mereka hingga kaum musyrikin merasa gentar dengan kekuatan jihad mereka. Kaum muslimin di seluruh dunia hendaknya berusaha untuk mengambil pelajaran dari mereka, dan tidak membiarkan mukminin Iran berjuang sendiri untuk islam. Kaum muslimin harus mempersiapkan diri untuk meneruskan perjuangan mewujudkan tatanan mengikuti tuntunan Allah sedemikian dunia tidak terus menerus dikuasai oleh kaum musyrikin. Kemakmuran yang sebenarnya dan keadilan masyarakat akan terbentuk hanya apabila kaum muslimin menegakkan tatanan mengikuti tuntunan Allah.

Pemakmuran bumi hanya dapat dilakukan dengan tegaknya jihad. Sangat banyak pengetahuan syaitan yang disembah kaum musyrikin terkait pengelolaan sumber daya sedemikian kekayaan hanya terkumpul pada penyembah-penyembah syaitan yang ditopang dengan pemelaratan terhadap kaum yang beriman. Tidak ada kaum musyrikin yang berusaha mendatangkan pemakmuran kecuali untuk diri mereka sendiri. Kadang mereka merampok suatu bangsa dan perampokan itu dijadikan indah dalam pandangan dunia. Kadangkala para syaitan sembahan mereka menuntut kerjasama di antara kaum musyrikin dalam pengelolaan sumber daya bumi, akan tetapi tidak pernah ada upaya musyrikin dalam pengelolaan sumber daya yang berusaha memakmurkan masyarakat secara adil. Kaum muslimin harus berusaha mengenal tuntunan Allah terkait dengan proses pengelolaan sumber daya yang ada di bumi sedemikian terbentuk keadilan dalam pemakmuran bumi.

Kewajiban Jihad Bagi Setiap Mukmin

Setiap muslim dan mukmin harus berusaha menemukan jihad mereka, baik jihad pribadi ataupun jihad Al-jamaah. Setiap orang hendaknya menunaikan jihad yang mereka kenali. Ada bentuk-bentuk jihad pribadi yang ditentukan bagi setiap muslim pada setiap tahap langkah membina akhlak. Seorang muslim mungkin berada pada tahap harus berjuang menegakkan syariat secara lengkap seperti shalat 5 waktu, atau harus berjuang mengalahkan dorongan hawa nafsu melalui tazkiyatun nafs, atau harus berjuang untuk memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW mengalahkan waham diri atau masyarakat, dan bentuk-bentuk jihad pribadi yang lain yang dapat ditemui pada setiap tahap perkembangan. Setiap muslim harus menempuh perjalanan tauhid dan harus mengenali bentuk jihad tertentu yang diperintahkan pada setiap perkembangan perjalanan bertauhid.

Pada puncaknya, seseorang yang menempuh perjalanan tauhid akan menemukan perintah untuk berjihad menegakkan perintah Allah bahkan dengan meninggalkan keinginan dunia mereka.

﴾۸۳﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ أَرَضِيتُم بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ
Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: "Berangkatlah pada jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin kepada dunia? Apakah kamu rela dengan kehidupan di dunia dibandingkan akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan) akhirat hanyalah sedikit. ( QS At-Taubah 38-3)

Setiap mukminin pada jaman Rasulullah SAW seluruhnya menemukan perintah pada ayat di atas karena jelasnya kebenaran berkat kehadiran Rasulullah SAW. Pada jaman ini, ada banyak macam seruan jihad, bahkan ada seruan jihad yang keliru. Seruan jihad jaman ini bisa dilakukan oleh siapapun termasuk musyrikin yang berkepentingan mengalahkan kaum mukminin. Setiap muslim dan mukmin harus menempuh jihad pribadi mereka agar dapat menemukan bentuk jihad bersama Al-jamaah yang harus ditegakkan secara berjamaah. Walaupun terpisah dari jaman Rasulullah SAW, perintah demikian sebenarnya juga akan ditemui oleh orang-orang setiap jaman yang mengenal kedudukan dirinya dalam Al-Jamaah yang menunaikan urusan Rasulullah SAW. Orang-orang demikian termasuk orang-orang yang diperintah Allah untuk berjihad dengan meninggalkan kepentingan duniawi mereka. Mereka akan ditanya dengan ayat tersebut di atas.

Pertanyaan itu sebenarnya juga akan ditanyakan kepada orang-orang yang bertaubat. Orang-orang yang menempuh jalan taubat kepada Allah harus mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan di atas, mempersiapkan diri memahami seruan jihad bersama Al-Jamaah. Dalam beberapa hal, keengganan menjawab seruan berjihad dapat dihitung sebagai kemurtadan, yaitu berbaliknya langkah dari jalan Allah. Setiap orang yang bertaubat harus membentuk iktikad yang kuat untuk menjadi hamba Allah secara ikhlash hingga meninggalkan hal lain bila perlu, dan membentuk akhlak mulia untuk dapat memahami tuntunan Allah, bukan hanya mengikuti waham ataupun hawa nafsu. Apabila seseorang atau suatu kaum tidak membentuk akhlak secara benar, mereka tidak akan bisa memahami perintah Allah dalam urusan jihad yang harus ditunaikan. Bila suatu kaum dapat memahami perintah Allah terkait jihad yang harus mereka tunaikan, jihad itu hendaknya ditegakkan bersama-sama dengan jamaah muslimin.

Dalam realitas, banyak proses yang dapat menyebabkan jihad orang-orang yang bertaubat menjadi keropos. Ada orang-orang bertaubat yang menyisakan hatinya untuk mencintai dunia sedemikian iktikad mereka untuk melangkah bertaubat menjadi keropos. Ada orang-orang yang tulus tetapi pengetahuannya keropos, tidak benar-benar berkeinginan untuk menghamba kepada kehendak Allah tetapi hanya mengikuti pengetahuan yang mereka anggap benar. Manakala mereka berjumpa dengan orang-orang yang berjihad menunaikan urusan Rasulullah SAW, mereka tidak bisa memahami kebenaran urusan yang haq tersebut. Ada pula orang-orang yang terombang-ambing tanpa keyakinan, mempercayai suatu kebenaran akan tetapi tidak mempunyai keberanian untuk mengikutinya. Banyak keadaan lain yang bisa menyebabkan suatu jihad menjadi keropos.

Syaitan bisa saja menebarkan jerat sedemikian jihad untuk menegakkan urusan Rasulullah SAW menjadi terbengkalai. Kadangkala seorang isteri tidak mempunyai keberanian untuk mengikuti suaminya berjuang sedemikian jihad di jalan Allah yang harus mereka lakukan menjadi berantakan, hingga mungkin tidak ada infaq sedikitpun untuk jihad bahkan dari mujahid sendiri. Infaq di jalan Allah bukan suatu hal yang menunjukkan keinginan mujahid terhadap dunia. Upaya jihad harus dilakukan di dunia dan membutuhkan biaya secara duniawi. Infaq bukan keinginan duniawi mujahid, tetapi merupakan perintah Allah terkait harta manusia sedangkan harta infaq itu digunakan untuk berjihad berubah menjadi kebaikan. Keberhasilan jihad akan menyuburkan harta di dunia dari infaq yang diberikan.

Jumat, 22 Mei 2026

Pengembangan Potensi Wilayah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Jalan untuk menjadi hamba yang didekatkan di antaranya adalah melakukan pemakmuran bumi. Allah menciptakan manusia dari bumi dan menjadikannya sebagai pemakmurnya. Itu adalah tugas bagi manusia yang dijadikan sebagai jalan kembali kepada-Nya. Dengan jalan demikian, Allah sebenarnya dekat kepada hambaNya dan memperkenankan doa.

﴾۱۶﴿ وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلٰهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)" QS huud ; 61)

pemakmuran bumi dapat dilakukan dengan menegakkan pilar-pilarnya. Pilar-pilar pemakmuran itu berupa : 1. Tauhid dan keikhlasan, 2. Shilaturrahmi, 3. Pengembangan potensi diri, 4. Pengembangan potensi alam, 5. Jihad, 6. Sinergi dan kesetimbangan alam, 7. Pengolahan basis data. Tegaknya pilar secara sempurna akan terjadi apabila seseorang dapat membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Pilar-pilar tersebut tidak akan dapat ditegakkan oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah. Semakin sempurna taubat seseorang kepada Allah, semakin tegak pilar yang dapat ia tegakkan.

Proses Pengembangan Potensi

Manusia ditempatkan di alam bumi pada wilayah tertentu dengan berbagai karakteristik wilayah alam. Karakteristik-karakteristik wilayah itu merupakan ayat-ayat Allah yang digelar bagi orang yang bertempat tinggal pada wilayah tersebut. Allah menggelar ayat-ayat kauniyah di alam semesta dengan berbagai lapis pengetahuan yang sangat banyak hampir tidak terbatas yang dapat diperoleh manusia. Dalam satu objek yang sama, dapat ditemukan berbagai pengetahuan oleh setiap manusia. Satu orang dapat menemukan suatu pengetahuan, dan orang lain dapat menemukan pengetahuan yang berbeda dari satu hal yang sama. Misalnya satu jenis tumbuhan bisa memberikan pengetahuan yang berbeda-beda kepada setiap orang, berbeda pengetahuan antara tukang gembala, farmakolog dan ahli teknik kehutanan. Pada setiap objek yang ada di suatu wilayah, terdapat sangat banyak pengetahuan yang dapat diperoleh oleh manusia.

Pengembangan potensi alam dilakukan dengan mengembangkan pengetahuan manusia terhadap alam sebelum pengembangannya. Alam jasmaniah pada dasarnya bersifat relatif tertentu, tetapi pengetahuan manusia penghuninya terhadap alam dapat berkembang sangat luas. Pengembangan pengetahuan itulah yang merupakan potensi pemakmuran. Setiap manusia diciptakan untuk urusan tertentu, dan urusan yang ditetapkan baginya itu sebenarnya terkait dengan wilayah tempat ia berdiam dengan segala dinamika yang terjadi. Ada orang-orang yang diciptakan untuk urusan yang sangat spesifik urusan duniawi tertentu dengan penerapan secara mendalam, ada orang-orang yang diciptakan untuk urusan yang sangat luas dengan tugas menerapkan aturan-aturan dan pengetahuan-pengetahuan dasar. Bukan berarti pengetahuannya hanya pada dasar-dasar. Sekalipun menerapkan aturan dan pengetahuan dasar, pengetahuan yang bisa diperoleh mungkin saja sangat mendalam, hanya saja tidak diberi kemampuan melaksanakan urusan secara khusus dan mendalam. Sangat banyak ragam urusan manusia yang tidak dapat disebutkan, tetapi seluruhnya berhubungan dengan tempat tinggalnya di bumi.

Setiap manusia diperintahkan untuk menjadi pemakmur bumi tempat dirinya tinggal sebagai sarana ibadah dirinya kepada Allah Yang Maha Esa. Perintah itu sebenarnya hanya akan bisa dipenuhi secara benar oleh orang-orang tertentu, yaitu orang yang memohon ampunan Allah dan bertaubat kepada Allah. Kebanyakan manusia terliputi oleh syahwat dan hawa nafsu sedemikian kesadaran untuk memakmurkan bumi mereka tidak tumbuh, sedangkan yang tumbuh justru dari benih keserakahan dan kebutuhan penghormatan dari orang lain. Kadang benih itu tumbuh sangat besar sedemikian membuahkan kerusakan bagi kehidupan di bumi. Mereka mungkin hanya berkeinginan untuk pemakmuran diri saja tidak dapat memikirkan pemakmuran bumi secara menyeluruh. Manakala seseorang memohon ampunan, nafs mereka akan dijadikan bersih dan akalnya akan tumbuh untuk dapat memahami ayat-ayat Allah, sesuai dengan yang diperkenalkan Allah bukan pemahaman yang menyimpang. Dengan pemahaman dan iktikad yang benar, mereka melakukan pemakmuran di bumi secara setimbang. Ini sangat penting sebagai modal pemakmuran.

Banyak orang yang berkeinginan baik kemudian berusaha menggunakan pikiran dan akal akan tetapi tidak disertai dengan langkah memohon ampunan dan taubat, kemudian pikiran dan akal mereka menyimpang dari hakikat yang hendak diperkenalkan Allah. Orang-orang demikian mungkin memandang bahwa apa-apa yang ada dalam pikiran dan akal mereka sangat baik dan bermanfaat, akan tetapi tidak mengetahui bahwa sebenarnya ada penyimpangan-penyimpangan di dalamnya. Kesalahan suatu pemahaman sangat wajar terjadi dan tidak berbahaya bila seeseorang dapat menyadari kesalahannya, tetapi kesalahan yang sama bisa menjadi sangat berbahaya manakala seseorang tidak memohon ampunan dan tidak bertaubat. Suatu hasil pemikiran atau akal yang menyimpang bisa menjadi sangat berbahaya di tangan orang-orang yang merasa baik dengan penyimpangannya. Memohon ampunan dan bertaubat sangat penting dilakukan oleh setiap orang yang ingin memakmurkan bumi agar tidak menimbulkan kerusakan. Taubat dalam hal ini ditunjukkan dengan sikap seseorang memperhatikan dan mengikuti kebenaran yang ditunjukkan kepadanya. Setiap orang harus bisa menyusun pemahaman terhadap kebenaran dan tetap tegak mampu melihat kesalahan yang mungkin dilakukan, tidak memandang diri sendiri suci.

Kesalahan dalam berpikir dan menggunakan akal tidak jarang membuat upaya orang-orang menegakkan kehendak Allah tidak berhasil. Seseorang atau suatu kaum mungkin berusaha menegakkan kebenaran tetapi perintah dan larangan yang diperintahkan Allah kepada mereka justru ditinggalkan karena mengikuti kebenaran dalam pikiran mereka sendiri. Mereka memandang indah kebenaran pikiran mereka sendiri yang sebenarnya telah menyimpang dari tuntunan Allah, dan mereka meninggalkan ayat-ayat yang digelar Allah karena mengikuti kebenaran dalam pikiran mereka sendiri. Tidak jarang upaya demikian mendatangkan hasil yang berkebalikan dengan kehendak Allah. Misalnya Allah berkehendak manusia menjadi pandai, sedangkan suatu ajaran yang dipandang baik mungkin justru menjadikan manusia bodoh. Hal semacam ini sangat berbahaya karena sebenarnya pikiran demikian itu seringkali datang dari syaitan. Dampaknya, orang-orang beriman yang ingin melaksanakan perintah Allah dengan benar mungkin menjadi merasa sangat payah melakukan usaha. Bisa juga masyarakat mereka justru menjadi berantakann, karena keindahan langkah mereka itu sebenarnya fitnah. Bisa saja perintah Allah yang seharusnya ditegakkan justru ditinggalkan.

Ayat-ayat Allah yang digelar di alam kauniyah harus dipahami dengan tepat. Misalnya manakala membaca kesulitan dalam kehidupan, setiap orang hendaknya menimbang dengan seksama bahwa ada kesulitan yang disebabkan kesalahan sendiri sebagai adzab, dan ada kesulitan karena Allah menguji kehidupan manusia. Manakala suatu kaum mengingkari atau menghalangi pelaksanaan petunjuk Allah, kesulitan demikian harus dibaca sebagai adzab bagi mereka tidak boleh dipandang sebagai ujian yang membersihkan jiwa. Hanya orang yang menyadari kesalahan dan kekufuran mereka terhadap nikmat petunjuk yang akan dibersihkan jiwanya. Orang yang memandang kesulitan mereka sebagai pembersihan tanpa menyadari kesalahan diri akan selalu terlilit kesulitan sebagai adzab karena kebodohan mereka dalam membaca tuntunan Allah. Adzab itu tidak akan membersihkan dosa hingga mereka menyadari sebab-sebab dari adzab yang turun dan memohon ampunan atas kesalahan.

Setiap orang harus membangun keyakinan terhadap suatu kebenaran yang dapat dipahaminya, dengan tidak menutup pikiran dan akalnya untuk menerima penjelasan kebenaran yang lebih baik. Ia hendaknya bisa berpegang kuat terhadap kebenaran yang dapat dipahaminyan tanpa meragukannya, tetapi harus tetap bisa melihat kemungkinan adanya kekurangan atau kesalahan dalam pemahamannya dan mengerti manakala ada yang menjelaskan dan tetap bisa melihat kebenaran pada sesuatu yang lebih baik. Suatu hakikat akan terbuka apabila seseorang memahami ayat kauniyah dengan tepat, berupa keterbukaan makna kandungan ayat kitabullah terkait dengan ayat kauniyah yang diperhatikan. Itu akan menjadi sumber pemakmuran.

Setiap orang harus menghormati potongan-potongan kebenaran dengan selayaknya dalam membaca ayat-ayat Allah agar terbentuk pengetahuan yang benar. Orang atau kaum yang sering mengabaikan kebenaran akan mudah terjatuh pada kesesatan. Orang-orang yang benar di antara kaum itu akan mudah disingkirkan dari kedudukannya, dan kaum itu menjadi sesat tanpa menyadarinya. Kedua hal itu merupakan tanda dari kesombongan. Suatu kebenaran akan terbangun dari potongan-potongan kebenaran, dan kebenaran tidak akan dikenali oleh orang-orang yang tidak menghormati kebenaran. Misalnya dalam melakukan suatu penelitian, setiap orang harus menggunakan metode yang benar, tidak boleh menggunakan metode-metode yang telah diketahui salah. Ini merupakan bentuk penghormatan terhadap kebenaran. Manakala seseorang menggunakan metode yang jelas diketahui kesalahannya, hasil-hasil yang diperoleh dari penelitian itu akan salah atau tidak berguna. Manakala hasil penelitian menunjukkan potensi yang besar, potensi itu sangat mungkin hanya ilusi. Manakala hasil penelitian menunjukkan bahaya yang besar, bahaya itu sebenarnya mungkin tidak ada. Penelitan itu tidak mendatangkan hasil karena metode yang salah. Hal semacam ini berlaku pada setiap upaya membaca ayat-ayat Allah tidak hanya dalam penelitian. Setiap orang harus menghormati potongan kebenaran dalam membaca ayat-ayat Allah.

Pengetahuan yang benar tentang ayat-ayat Allah yang digelar di alam kauniyah akan menjadi modal bagi seseorang untuk melakukan pemakmuran bumi. Setiap orang sebenarnya mempunyai objek pengamatan pada ayat-ayat Allah yang terjadi di wilayah mereka. Pengetahuan yang benar terkait ayat-ayat Allah dapat digunakan setiap orang untuk melaksanakan penghambaan kepada Allah. Penghambaan (ibadah) setiap manusia kepada Allah pada dasarnya bukan hanya berbentuk syariat-syariat yang ditentukan, tetapi juga berbentuk amal-amal jasmaniah yang mendatangkan mashlahat bagi kehidupan dunia. Upaya pemakmuran alam dunia yang dilakukan dengan hati yang bersih oleh orang-orang yang bertaubat kepada Allah merupakan bentuk ibadah yang ditentukan Allah bagi setiap orang. Semakin banyak pengetahuan ayat Allah yang diperoleh oleh orang yang bertaubat, semakin besar potensi pemakmuran yang dapat dilakukan di suatu wilayah.

Pemakmuran bagi orang berakal bukan berbentuk berlimpahnya harta benda dunia. Pengusahaan kelimpahan harta benda dunia merupakan beban tanggung jawab yang besar di hadapan Allah. Hal ini tidak berarti orang berakal hanya menginginkan kecukupan makan saja. Adanya pemikiran demikian pada seorang pemimpin bisa dicurigai merupakan tanda kuatnya loby dari orang-orang yang bisa mencari keuntungan dari tatanan masyarakat yang rusak. Tidak pula berarti orang berakal menginginkan kekurangan dalam pemenuhan kebutuhan. Kemakmuran yang diharapkan oleh orang-orang berakal berupa bermanfaatnya pengetahuan yang ada pada mereka bagi kesejahteraan masyarakat dan alam semesta. Bentuk berlimpahnya harta benda duniawi dapat diterima oleh orang-orang berakal manakala diperoleh dari pemanfaatan pengetahuan yang ada pada mereka. Manakala ilmu pengetahuan yang ada pada diri mereka tidak bisa memberikan manfaat bagi masyarakat, orang berakal akan merasa sedih atau sengsara bukan karena kekurangan harta benda, tetapi karena kurangnya akal masyarakat untuk mengenal nilai ilmu pengetahuan. Dewasa ini, kebanyakan manusia menginginkan kelimpahan harta benda dunia tanpa perlu mengetahui kadar pengetahuan yang ada pada diri mereka. Ini merupakan bentuk kemakmuran semu.

Manusia sebagai Kunci Pengembangan

Manfaat dari pengetahuan yang diperoleh manusia akan sangat bergantung kepada orang-orang yang menguasainya. Pemakmuran bumi tidak hanya ditentukan oleh orang-orang yang memegang pengetahuan saja. Manakala seseorang yang shalih mempunyai pengetahuan yang banyak tentang ayat-ayat Allah, ia mempunyai potensi pemakmuran bumi yang besar. Sebaliknya manakala seseorang yang jahat mempunyai pengetahuan yang banyak, mereka mempunyai potensi yang besar untuk merusak. Terwujudnya potensi yang baik itu akan mudah apabila para penguasa tatanan manusia mempunyai keinginan yang baik atas pengetahuan yang ada di antara mereka, dan seringkali menjadi sia-sia manakala penguasa mereka orang yang bodoh atau jahat. Pemakmuran bumi bergantung kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan baik dari sisi kualitasnya ataupun kuantitasnya.

Khalifatullah sebenarnya adalah pemimpin pemakmuran bumi. Dalam tatanan semesta, khalifatullah merupakan perpanjangan dari kedua uswatun hasanah. Tatanan itu merupakan bayangan dari tatanan tajalli Allah, di mana Ar-Rahman dan Ar-Rahiim adalah inti tajalli Allah sedangkan Malik merupakan nafakh ruh Ar-Rahman sebagai perpanjangan dari tajalli inti. Hal ini menunjukkan bahwa pemakmuran bumi hanyalah perpanjangan dari terbinanya sifat rahman dan rahim. Setiap orang harus membina akhlak mulia berupa sifat rahman dan rahim terlebih dahulu, maka ia akan memperoleh kemampuan untuk melakukan pemakmuran bumi dengan benar menggunakan pengetahuan ayat-ayat Allah.

Dalam realitas kehidupan bumi, pengetahuan tentang alam kauniyah dengan mudah diperoleh oleh setiap orang sekalipun apabila ia tidak memperhatikan tuntunan Allah. Pengetahuan itu bisa berupa pengetahuan yang benar, bisa pengetahuan yang salah, atau bisa berupa suatu pengetahuan setengah kebenaran. Banyak pengetahuan duniawi bersifat netral, bisa digunakan untuk kebaikan ataupun kejahatan. Orang-orang yang jahat bisa menggunakan pengetahuan-pengetahuan duniawi yang benar untuk keuntungan mereka secara curang dengan semangat parasitis mencampurkan ilmu pengetahuan dalam metode mereka. Tugas orang beriman adalah merangkai pengetahuan dari potongan-potongan pengetahuan yang benar agar pengetahuan yang mereka susun mendatangkan manfaat yang besar bagi pemakmuran bumi. Rangkaian pengetahuan dan pemanfaatannya itulah yang akan mudah tersambung dengan tuntunan ayat-ayat kitabullah sehingga seseorang bisa mudah mengenal kehendak Allah dengan pengetahuan duniawinya.

Dewasa ini bisa dikatakan bahwa usaha orang jahat menggunakan pengetahuan untuk kehidupan manusia dilakukan lebih intensif daripada orang-orang beriman. Misalnya penggunaan perhitungan dalam muamalah, perhitungan keuangan dan ekonomi hingga saat ini banyak menggunakan sistem riba yang merugikan. Pengembangan teknologi nuklir banyak dimanfaatkan oleh orang-orang jahat untuk membuat bom yang merusak bukan pengembangan energi yang bersih. Jaringan komputer pada dasarnya dikembangkan untuk kepentingan tentara untuk memperoleh keunggulan atas pihak lain. Banyak penggunaan pengetahuan secara intensif dilakukan untuk kepentingan orang-orang yang sebenarnya jahat, dibanding penggunaannya oleh orang yang baik. Masyarakat umum dan muslim secara umum bersikap pragmatis sekadar berusaha menemukan kehidupan yang layak dalam tatanan yang sudah ada tanpa perlu memikirkan tuntunan yang harus diwujudkan dari sisi Allah. Sebagian orang beriman barangkali berusaha untuk lebih mengenal semesta diri mereka, tetapi mungkin terhenti hanya pada permulaannya saja karena akal yang kurang berkembang atau justru terkekang dengan aturan yang keliru. Inisiatif di antara mukminin untuk mencari pengetahuan secara lebih luas tampak kurang tumbuh, atau manakala tumbuh terkendala atau terkekang dengan batasan yang tidak perlu. Usaha demikian itu menjadikan potensi alam mereka tidak berkembang karena akal masyarakat yang kurang berkembang.