Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Rasulullah SAW merupakan tauladan puncak bagi seluruh hamba Allah. Setiap hamba Allah yang ingin menjadi dekat kepada Allah harus mengikuti langkah beliau SAW tidak boleh menempuh langkah yang lain. Setiap orang yang melangkah menyimpang dari jalan Rasulullah SAW akan dimasukkan ke dalam jahannam sebagai seburuk-buruk tempat kembali. Ini berkebalikan dengan kedekatan kepada Allah sebagai semulia-mulia tempat kembali.
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Dan barang siapa yang menyelisihi Rasul sesudah jelas petunjuk baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. Kami biarkan ia berkuasa atas apa yang ia telah usahakan itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-seburuk tempat kembali . [QS An-Nisaa : 115]
Ayat ini terkait dengan orang-orang muslim atau mukmin, tetapi tidak bersungguh-sungguh berusaha mengikuti langkah Rasulullah SAW, tidak ditujukan kepada orang-orang kafir ataupun musyrik yang jelas tidak mengikuti Rasulullah SAW. Secara khusus, dijelaskan bahwa ada orang-orang muslim atau mukmin yang mempunyai keinginan atau tujuan-tujuan hidup tertentu yang mereka telah mengusahakan keinginan dan tujuan kehidupan itu. Tujuan mereka itu menjadikan mereka tidak sungguh-sungguh mengikuti petunjuk Rasulullah SAW. Dengan apa yang mereka usahakan, kemudian mereka tidak mengikuti pengajaran Rasulullah SAW dan menyelisihinya karena keinginan yang ada pada diri mereka.
Pengajaran Rasulullah SAW adalah pengajaran kemuliaan bagi seluruh makhluk, termasuk makhluk rendah di alam bumi seperti manusia. Manusia memiliki dorongan-dorongan alam rendah sebagaimana makhluk bumi yang lain dan bahkan dorongan pada manusia itu bisa lebih kuat dan buruk lagi karena sifat kecerdasan makhluk tinggi yang mengalir kepada manusia. Manusia dapat berbuat kejahatan dalam berbagai bentuk yang sangat buruk yang dapat dilihat manusia, bahkan bisa berbuat kejahatan yang sangat buruk dan dipandang baik oleh manusia. Itu adalah kejahatan yang paling buruk. Pengajaran Rasulullah SAW berfungsi mengangkat manusia dari kecenderungan kehidupan yang buruk menuju kehidupan yang mulia.
Walaupun demikian, tidak semua orang bersepakat dengan kemuliaan dalam ajaran Rasulullah SAW, bahkan sekalipun di antara orang-orang muslim ataupun mukmin. Sebagian orang terkalahkan oleh dorongan syahwat dan hawa nafsu hingga mereka lebih menginginkan kehidupan dunia yang tampak baik dalam pandangan mereka. Sebagian manusia tidak sungguh-sungguh memahami ajaran mulia dan mengikuti pendapat sendiri atau bahkan lebih percaya bisikan-bisikan syaitan daripada apa yang tersurat dari ajaran Rasulullah SAW. Banyak kasus-kasus lain yang merupakan bentuk menyimpangnya pandangan manusia terhadap kemuliaan ajaran Rasulullah SAW hingga kemuliaan menjadi tampak kabur dalam pandangan masing-masing. Dengan sebab demikian, mereka menyelisihi ajaran Rasulullah SAW. Orang-orang muslim atau mukmin yang lebih mengikuti dorongan selain apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW inilah yang disebutkan dalam ayat di atas. Mereka tidak sungguh-sungguh menginginkan kemuliaan bersama Rasulullah SAW, tetapi tercampur dengan keinginan rendah atau akal yang lemah maka mereka menyelisihi ajaran Rasulullah SAW.
Muslim dan mukmin akan bisa benar-benar mengikuti ajaran Rasulullah SAW manakala mereka membina akhlak mulia, utamanya berupa membina sifat rahman dan rahim. Sifat rahman dan rahim bukanlah suatu sikap yang lemah, tetapi sikap menginginkan kebaikan bagi semua makhluk dengan landasan pengetahuan terhadap kehendak Allah. Apabila Allah menghendaki seorang hamba untuk berbuat baik, ia berbuat sebagaimana kehendak Allah dengan berusaha mengenali kebaikan yang ada pada kehendak itu. Manakala Allah tidak menyukai sesuatu, mereka berusaha untuk tidak menyukai dan bahkan mematuhi perintah untuk memerangi bila diperintahkan karena kebaikan yang akan timbul dari amal yang dilakukan. Mereka mengetahui bahwa segala yang datang dari sisi Allah merupakan kebaikan, dan keburukan berasal dari yang bathil. Dengan demikian mereka selalu memuji Allah dengan semua kebaikan yang datang dari sisi Allah. Dengan sikap demikian itu maka seseorang akan bisa benar-benar mengikuti ajaran Rasulullah SAW.
Tidak sedikit orang yang memandang pengetahuan diri mereka lebih baik dibandingkan apa yang diajarkan Rasulullah SAW kemudian mereka menyelisihi ajaran Rasulullah SAW dan menempuh jalan kehidupan selain jalan kehidupan mukminin. Dengan perbuatan demikian, Allah melapangkan bagi mereka penguasaan terhadap implementasi pengetahuan yang ada pada diri mereka. Barangkali mereka akan memandang bahwa apa yang mereka kuasai itu adalah suatu berkah karena meluasnya kehidupan mereka dengan jalan demikian, sedangkan sebenarnya tidak demikian. Allah meluaskan kekuasaan mereka dalam menempuh jalan kehidupan yang menyelisihi ajaran Rasulullah SAW dan jalan kehidupan kaum mukminin, tetapi kemudian Allah akan memasukkan mereka ke dalam jahannam.
Jalannya Orang-Orang Beriman
Orang-orang yang termasuk ahli jahannam adalah orang yang telah datang bagi diri mereka petunjuk tetapi mereka menyelisihi dan menempuh jalan selain jalan orang-orang yang beriman. Orang-orang beriman adalah orang-orang yang memperoleh keterbukaan terhadap kebaikan dari ajaran Rasulullah SAW. Mereka mendengar dan melihat apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, memahami kebaikan dari ajaran Rasulullah SAW dan beramal dengan pemahaman itu untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Mungkin ada orang-orang yang telah mendengar atau melihat ajaran Rasulullah SAW dan mengikutinya akan tetapi sebenarnya belum memahami kebaikan yang terkandung dalam ajaran itu, maka mereka itu adalah muslimin. Kaum muslimin termasuk dalam kategori orang-orang yang telah mendapatkan kejelasan petunjuk, karena ajaran Rasulullah SAW merupakan petunjuk. Manakala muslimin atau mukminin mengabaikan petunjuk yang telah diturunkan dan menempuh jalan selain jalan kehidupan orang-orang mukminin, mereka akan termasuk sebagai orang-orang yang dikembalikan ke neraka jahannam.
Menempuh jalan selain jalan orang-orang beriman dilakukan oleh orang-orang yang tidak peduli pada jalan keimanan ataupun orang-orang yang memilih mengikuti langkah yang salah. Setiap muslim hendaknya berusaha mengenali dan memperhatikan langkah orang-orang beriman dan mengikuti langkah yang ditempuh orang-orang beriman. Demikian pula orang beriman hendaknya memperhatikan langkah orang beriman lainnya, tidak membiarkan orang beriman melangkah sendirian. Adanya seorang beriman yang melangkah sendirian menjadi tanda adanya langkah yang celaka, baik orang yang berjalan sendirian yang celaka atau orang banyak yang celaka. Ini bisa terjadi karena umat tidak memperhatikan langkah orang beriman dan prinsip keberjamaahan kaum mukminin. Yang menjadi jalan orang-orang beriman adalah apa-apa yang mereka usahakan untuk mewujudkan kehendak Allah sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak setiap amal yang diperbuat orang beriman merupakan jalan orang beriman yaitu bila tidak mempunyai tujuan mewujudkan tuntunan kitabullah ataupun tuntunan Rasulullah SAW.
Manusia akan menjumpai banyak bentuk langkah orang-orang beriman. Amal setiap orang beriman dapat berbeda-beda satu dengan yang lain, tetapi seluruhnya adalah amal yang mewujudkan kehendak Allah sesuai kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Demikian pula akan dijumpai banyak tingkatan orang beriman. Ada orang beriman yang apabila dibuka lubang misykat cahayanya, jasmani mereka ribut memunculkan keburukan yang masih ada dalam dirinya. Ada orang beriman yang dengan misykat cahayanya membentuk bayangan cahaya Allah yang harus ditunaikan oleh kaum mukminin, sedangkan mereka mengetahui peran dan kedudukan diri mereka dalam amr Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya sebagai bagian dari Al-Jamaah. Dapat dijumpai sangat banyak keadaan akhlak orang beriman, di antara orang yang ribut karena keburukan sendiri dan orang yang mengetahui peran mereka dalam amr Rasulullah SAW. Apabila seseorang menemukannya, hendaknya mereka mengikuti jalannya orang-orang yang mengetahui peran dan kedudukan diri mereka dalam amr Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya. Mereka orang-orang yang terlihat hanya mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak membuat langkah-langkah di luar tuntunan. Meskipun demikian, mungkin saja sangat banyak ilmu yang tampak baru tetapi seluruhnya berakar hanya pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Ada orang yang melangkah sesat dan ada yang melangkah dengan benar. Lurusnya orang melangkah ditentukan dari keselarasan langkah dengan petunjuk kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak diukur dari keberhasilan ataupun tingkatan keadaan mukmin. Nabi Nuh a.s dan nabi Luth a.s mungkin tampak gagal menyeru umatnya, akan tetapi beliau a.s bukan orang yang salah melangkah. Sebaliknya sebenarnya Allah juga menjadikan orang-orang yang menempuh jalan selain jalan keimanan berkuasa terhadap apa yang mereka usahakan hingga mereka mungkin menjadi orang sukses. Kesuksesan ataupun kegagalan dalam menempuh kehidupan tidak menjadi tanda bahwa seseorang melangkah dengan benar. Terkait tingkatan, seharusnya orang yang telah jauh mengikuti langkah Rasulullah SAW akan selamat, dan orang yang berada di tepian mudah celaka. dalam realitas, banyak mukmin dalam tingkatan awal yang selamat, dan mungkin saja ditemukan mukmin tingkatan lanjut yang celaka. Benarnya langkah dalam mengikuti jalan keimanan hanya ditentukan dengan keselarasan langkah dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Kehinaan Umat Islam dan Petunjuk Rasulullah SAW
Dewasa ini banyak persoalan yang dihadapi oleh orang-orang beriman, sedangkan pandangan umat manusia terhadap tuntunan Rasulullah SAW dalam keadaan kabur. Ini dapat dilihat pada keadaan muslimin yang terlihat berada pada ketiak orang-orang musyrik. Indonesia negeri yang penduduknya mayoritas beragama islam, akan tetapi pemerintahnya terlihat condong membela zionis Israel. Misalnya tentang dukungan Indonesia agar negara-negara timur tengah meminta ganti rugi kerusakan akibat peperangan kepada Iran, sebenarnya itu merupakan dukungan terhadap zionis Amerika-Israel karena pada ujungnya negara-negara teluk sebenarnya diperas oleh Amerika untuk membiayai perangnya. Bila seseorang atau suau bangsa berpikir sehat, dukungan itu mestinya meminta Amerika-Israel untuk mempertanggungjawabkan kerusakan akibat perang karena Israel-Amerika yang memulai peperangan. Demikian pula isu ungkapan pengusiran ke negeri Yaman, suatu isu yang dibuat oleh pembela zionisme. Demikianlah keadaan kaum muslimin. Itu menunjukkan rendahnya kedudukan kaum muslimin di antara bangsa. Bila kaum muslimin bisa melihat dengan jelas tuntunan Rasulullah SAW, niscaya mereka tidak dalam keadan yang hina.
Terkait tentang keadaan tersebut, Rasulullah SAW memberikan tuntunan :إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ
Apabila kamu melakukan jual beli dengan sistem ‘iinah, menjadikan dirimu berada di belakang ekor sapi, ridha dengan cocok tanam dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menjadikan kamu diliputi oleh kehinaan, Allah tidak akan mencabut kehinaan itu dari dirimu sebelum kamu kembali kepada dien kamu“. [HR Abu Dawud].
Untuk mencabut kehinaan dari kaum muslimin, muslimin harus kembali kepada dienullah. Ada beberapa parameter terkait diin yang harus diperhatikan berupa: sistem jual beli ‘iinah, menempatkan diri di belakang ekor sapi, ridha dengan cocok tanam dan meninggalkan jihad. Apabila kaum muslimin tidak memperhatikan atau memahami parameter-parameter di atas, niscaya kehinaan mereka tidak akan diangkat hingga mereka tetap dalam keadaan yang hina.
Barangkali mudah bagi kaum salaf untuk memahami perintah demikian, tetapi berbeda dengan muslimin jaman ini. Agak sulit memahami tuntunan di atas bagi orang umum jaman ini, tetapi mungkin saja ada orang-orang yang dapat memahami tuntunan demikian. Orang-orang yang membina misykat cahaya akan memahami tuntunan demikian sesuai dengan tingkat pembinaan misykat cahaya dirinya, dan mungkin saja memahami dari berbagai perspektif yang berbeda. Kesulitan memahami dapat dilihat misalnya pada kesulitan memahami hubungan menempatkan diri di belakang sapi dengan kehinaan yang menimpa. Atau mungkin sebagian umat islam berpikir ini adalah larangan untuk beternak sapi dan larangan bercocok tanam. Sebagian mungkin menganggap bercocok tanam akan mendatangkan kehinaan kepada mereka. Tentu mestinya tidak demikian. Umat harus mengusahakan pertanian dan peternakan untuk memenuhi kebutuhan bersama, dan melakukan perdagangan untuk menyebarkan manfaat di antara umat.
Dari satu perspektif, hadits di atas dapat dipahami dari sisi bahwa dunia ini pada dasarnya masih dikuasakan sebagai kerajaan para Iblis. Iblis diberi ijin untuk menguasai bumi hingga masa yang ditentukan Allah yaitu hingga pada hari agama, walaupun kemudian meminta tangguh dan dikabulkan Allah. Di antara pasukan iblis penguasa bumi itu berbentuk sapi yang disangka manusia sebagai Ba’al dan disembah. Penyembahan terhadap Ba’al ini dapat dilihat dari kasus pembakaran patung Ba’al di Iran baru-baru ini yang mendatangkan kemarahan penyembahnya hingga menjadi salah satu sebab terjadinya perang Iran. Sebenarnya bentuk sapi itu hanya anak buah Ba’al yang bertempat tinggal di lautan, sedangkan Ba’al sendiri telah mati hingga dijadikan oleh Iblis besar sebagai sesembahan manusia, dihadirkan kepada penyembahnya dalam bentuk anak buah Ba’al berwujud sapi.
Penyembahan Ba’al itu sendiri sebenarnya hanya sebagian dari penyembahan manusia kepada Iblis. Para Iblis yang pandai dan masih hidup tidak sanggup dijadikan sesembahan karena takut Allah, dan Iblis yang telah mati atau iblis yang kurang pandai dijadikan oleh Iblis besar sebagai sesembahan manusia di antaranya Ba’al, Ashera dan Asytoret dari iblis yang pandai, dan iblis-iblis kecil yang masih hidup tetapi tidak pandai. Anak buah Ba’al memberikan dukungan kepada para penyembah Ba’al untuk memperoleh kekuasaan, anak buah Ashera mengajarkan cara mengendalikan ekonomi dan pertanian kepada para penyembah Ashera, dan anak buah Asytoret mengajarkan ilmu-ilmu dengan cara yang keliru termasuk ilmu agama palsu yang menjadikan manusia meninggalkan jihad dan agama. Iblis-iblis kecil yang masih hidup dan disembah manusia memberikan bantuan memenuhi hasrat manusia rendah yang menyembah mereka.
Kehinaan yang menimpa umat islam pada jaman ini berasal dari alam Iblis yang tinggi, dan selama umat islam tidak menyadari tipu daya Iblis-Iblis yang mengalir melalui para penyembah mereka, umat akan terliputi kehinaan. Umat Islam terliputi kehinaan karena tipu daya mereka, dan tidak akan terlepas dari kehinaan itu, hingga petunjuk Rasulullah SAW ditunaikan. Para penyembah Iblis itu akan memperoleh jalan untuk merendahkan muslimin sebelum parameter yang disebutkan Rasulullah SAW dipenuhi. Kehinaan kaum muslimin itu akan terangkat apabila kaum muslimin memahami tuntunan diinullah terkait dengan tipu daya para syaitan yang dapat menyentuh kehidupan umat melalui para penyembah mereka. Pemahaman itu akan efektif manakala tatanan mengikuti diinullah diterapkan dalam kehidupan umat. Bila umat Islam terus menerus hanya mengikuti konsep-konsep kehidupan yang dirumuskan oleh kaum musyrikin, mereka akan selalu berada dalam jerat kehinaan. Demikian pula manakala umat hanya mengikuti pikiran sendiri, kehinaan yang menyelimuti itu tidak akan diangkat dari umat.
Dalam perspektif lain, boleh jadi ada orang-orang tertentu yang tidak dibolehkan untuk menyentuh bidang peternakan, jual beli tertentu dan pertanian karena akan meninggalkan jihad di jalan Allah. Boleh jadi seseorang mempunyai potensi untuk beternak sapi, bercocok tanam, berjual beli dan lain-lain tetapi kesempatan itu tidak boleh digunakan, karena ia harus bersungguh-sungguh mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya. Rasulullah SAW tidak mengijinkannya untuk melakukan karena barangkali mengganggu jihadnya, atau ada hal-hal lain yang harus dipatuhi. Hal demikian mungkin tampak sebagai sesuatu yang aneh bagi kaum jaman ini, tetapi sungguh-sungguh ada peristiwa demikian.