Pencarian

Selasa, 05 Mei 2026

Membangkitkan Perubahan Kaum

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti jalan Rasulullah SAW akan mendatangkan kebaikan bagi umat manusia. Hal itu dimulai dari perubahan-perubahan yang terjadi pada nafs orang-orang mukmin yang mengikuti langkah Rasulullah SAW hingga mendatangkan perubahan yang lebih baik dalam kehidupan.

﴾۱۱﴿لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS Ar-Ra’du : 11)

Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada nafs mereka. Perubahan keadaan suatu kaum akan terjadi mengikuti perubahan dalam nafs-nafs pada kaum tersebut. Manakala nafs suatu kaum berubah menjadi baik, keadaan mereka akan berubah menjadi baik. Manakala nafs suatu kaum berubah menjadi lebih buruk, keadaan mereka akan menjadi lebih buruk. Perubahan-perubahan keadaan suatu kaum akan ditentukan dengan perubahan nafs-nafs pada kaum tersebut.

Banyak orang yang menyangka bahwa perubahan suatu kaum akan terjadi apabila kaum tersebut berusaha untuk mengubah keadaan mereka. Ini merupakan suatu pengertian yang kurang tepat. Sangat banyak kaum yang memandang keadaan diri mereka buruk dan kemudian berusaha mengubah tatanan di antara mereka untuk memperbaiki keadaan, tetapi hasil dari usaha yang mereka lakukan itu tidak menunjukkan perbaikan akan tetapi seringkali hanya usaha yang sia-sia saja atau bahkan justru keadaan berubah menjadi lebih buruk. Untuk memperoleh perubahan keadaan menuju kebaikan, suatu kaum hendaknya mengubah nafs mereka menjadi lebih baik, dimulai dari nafs masing-masing diikuti dengan amar ma’ruf nahy munkar agar nafs kaum menjadi lebih baik. Perubahan keadaan nafs menuju lebih baik itulah yang akan mendatangkan perubahan yang lebih baik.

Perubahan nafs menjadi lebih baik akan diperoleh manakala setiap individu bertaubat kepada Allah dengan membina akhlak yang mulia. Pembentuk akhlak mulia yang paling utama adalah sifat rahman dan sifat rahim. Akhlak adalah bentuk konstruk diri, tidak sepenuhnya ditunjukkan dengan etika. Akhlak yang baik akan menerbitkan etika yang baik, tetapi etika yang baik belum tentu menunjukkan akhlak yang baik. Hubungan etika dan etika tidak sepenuhnya terhubung secara lurus. Kadangkala manusia harus bersikap keras karena akhlak yang baik hingga mungkin saja dipandang beretika kurang baik, tetapi sebenarnya hasil yang diperoleh adalah kebaikan. Perang yang terjadi di Iran sedikit atau banyak dapat menunjukkan terbentuknya akhlak mulia. Akhlak rahmaniah seorang hamba Allah akan terbentuk dengan baik apabila ia membina diri sebagai misykat cahaya Allah.

Pembinaan akhlak mulia akan menjadikan nafs-nafs di masyarakat menjadi semakin baik dan keadaan mereka akan semakin baik. Pembinaan itu harus dilakukan terhadap masyarakat secara menyeluruh. Masyarakat yang masih gemar terhadap kehidupan duniawi hingga berbuat dosa hendaknya dibina untuk mengenal nilai-nilai yang lebih luhur daripada materi duniawi hingga mereka terhindar dari berbuat jahat. Masyarakat yang menginginkan nilai-nilai luhur hendaknya diseru untuk bertaubat agar dapat mengenal sumber keluhuran dan jalan mengalirnya hingga terwujud dalam kehidupan dunia. Orang yang bertaubat hendaknya dibina di atas sifat rahman dan rahim dan diberikan makanan akal yang selayaknya agar dapat memahami ayat-ayat Allah baik di alam kauniyah maupun dari kitabullah hingga mereka terbentuk sebagai misykat cahaya yang dapat membentuk bayangan dari cahaya Allah. Orang-orang yang telah membentuk misykat cahaya hendaknya diberi kedudukan yang semestinya agar mampu beramal shalih hingga kehendak Allah yang terbentuk dalam diri mereka dapat termanifestasi memberikan manfaat bagi kehidupan bersama. Demikian pembinaan akhlak mulia hendaknya dilaksanakan secara menyeluruh. 

Mengubah Keadaan dengan Mengubah Diri

Perubahan keadaan suatu kaum terjadi bukan hanya karena perbaikan akhlak saja, tetapi bagaimana suatu nafs dengan perbaikan akhlak memperoleh objek yang tepat bagi dirinya. Perubahan keadaan suatu kaum menuju kebaikan akan terjadi manakala nafs-nafs bersanding dengan objek yang tepat. Yang mengubah keadaan adalah perubahan apa-apa yang ada pada nafs mereka, bukan hanya perubahan nafs mereka. Setiap perubahan akhlak suatu nafs akan membutuhkan objek yang berubah, kadangkala berubah jenisnya dan kadangkala hanya berubah kualitasnya. Apabila perubahan akhlak nafs tidak disertai dengan perubahan objek yang tepat bagi diri mereka, perubahan yang terjadi hanya akan sedikit saja. Semakin kuat akal seseorang dalam memahami tuntunan Allah, hendaknya ia semakin bersungguh-sungguh melaksanakan apa yang dipahami dari tuntunan Allah. Seseorang yang telah membentuk misykat cahaya harus mengurusi sepenuhnya bidang yang menjadi objek bagi dirinya tidak dicegah dari urusannya. Mengubah apa yang ada pada nafs-nafs umat yang akan mendatangkan kebaikan bagi umat.

Pernikahan adalah sesuatu yang paling utama dari apa yang ada pada nafs. Pasangan menikah merupakan sesuatu di luar diri seseorang dalam bentuk paling serupa dengan dirinya hingga dapat berproses bersama, dan ia dihadirkan melalui suatu perjanjian di hadirat Allah. Seseorang bisa menemukan bagian dirinya berupa jasmani, nafs dan amr Allah yang sama dalam wujud pasangannya. Pernikahan merupakan sesuatu yang ada pada nafs yang paling haq, yang menjadi sumber proses perubahan kebaikan yang dapat dibuat oleh manusia. Proses perubahan pada suatu kaum menuju kebaikan ditentukan oleh kebaikan pernikahan mereka. Manakala suatu pernikahan rusak, proses perubahan suatu kaum oleh pasangan itu akan menjadi rusak. Sekalipun seorang nabi, ia tidak akan bisa memberikan sumbangsih perubahan menuju kebaikan apabila pernikahannya tidak mendukungnya. Kerusakan pernikahan suatu bangsa akan mendatangkan kehancuran bagi bangsa itu.

Para nabi diperintahkan untuk menempatkan manusia pada urusannya. Pokok dari menempatkan manusia pada urusannya adalah menemukan pasangan yang tepat atau paling baik, kemudian membina mereka untuk mengenali nafs wahidah diri mereka. Pernikahan akan membuat pasangan manusia memperoleh tempat pertumbuhan layaknya pohon yang ditanam di ladang. Dengan proses demikian, mereka akan menemukan urusan Allah bagi masing-masing. Para nabi tidak membuka lapangan pekerjaan bagi orang-orang yang mengikutinya untuk menempatkan mereka pada urusan masing-masing, tetapi para nabi membuka pemahaman umat terhadap penciptaan diri mereka sendiri. Mungkin nabi menunjuk beberapa orang untuk kedudukan tertentu, tetapi utamanya adalah setiap orang dapat memahami penciptaan diri mereka. Setiap individu dapat menyumbangkan peran menolong agama dan menolong usaha para nabi dengan mengenali jodoh yang tepat dan membina pernikahan mereka dengan sebaik-baiknya, karena setiap individu diberi bagian kemampuan untuk mengusahakan yang terbaik bagi diri masing-masing dan pasangannya melalui pernikahan. Setiap manusia diberi kemampuan untuk mengidentifikasi jodohnya, berkomunikasi dan berkembang bersama dan bersinergi melaksanakan amal dan urusan agama melalui pernikahan. Setiap orang mempunyai kemampuan untuk menolong urusan nabi menempatkan manusia pada urusannya melalui pernikahannya. Kemampuan demikian itu akan menjadi bekal untuk menyumbangkan peran bagi masyarakat yang lebih besar.

Menempatkan manusia pada urusannya merupakan bagian dari agama. Dari sudut pandang pernikahan, menempatkan manusia pada tempatnya merupakan bagian dari pernikahan, karena sasaran dari pernikahan berkedudukan sangat tinggi lebih tinggi dari mengenal urusan diri, yaitu bersasaran membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Setiap tingkatan proses dalam proses taubat memperoleh media terbaik berupa pernikahan, termasuk proses dalam upaya mengenal urusan diri. Menempatkan manusia pada urusannya akan menjadi mudah bila pembinaan pernikahan dilakukan dengan sebaik-baiknya, dan sebaliknya tidak bisa dilakukan bila pembinaan pernikahan dirusak. Merusak pembinaan pernikahan pada dasarnya mendatangkan kerusakan fundamental pada tatanan manusia hingga tatanan manusia yang telah diikrarkan di hadapan Allah. Merusak pernikahan bernilai sama dengan mencabut atau mengusir seseorang dari urusannya. Tidak ada manfaat yang diperoleh orang lain atau suatu kaum manakala seseorang mengenal urusan Allah bila pernikahannya dirusak. Bahkan orang demikian akan menjadi beban kehidupan bermasyarakat.

Perubahan suatu kaum akan terjadi dengan perubahan apa yang ada pada nafs-nafs mereka. Hal ini dimulai dari perubahan nafs menuju kebaikan, kemudian nafs itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka, dari yang terdekat berupa pasangan menikahnya hingga menjangkau bergeraknya perubahan suatu kaum menuju perbaikan. Proses perubahan ini hendaknya tidak diputus pada mata rantainya, terutama mata rantai ikatan suami isteri karena akan memutuskan seluruh proses perubahan menuju kebaikan oleh individu yang mungkin telah mampu memberi manfaat. Individu yang telah mengenal urusan diri sekalipun akan mudah diusir dari urusannya manakala ikatan suami isteri mereka dirusak, hingga bahkan mereka akan kesulitan berusaha untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri.

Tetap Mengharapkan Petunjuk Allah

Allah Maha Mengetahui segala sesuatu baik yang tampak ataupun tersembunyi dari pandangan makhluk-Nya. Allah Maha Mengetahui seluruh potensi dan sebab perubahan-perubahan yang mungkin terjadi atas suatu kaum, baik potensi yang tumbuh membesar ataupun potensi yang kurang sempurna. Tidak jarang suatu kaum sangat menginginkan sesuatu yang kurang sempurna yang tampak baik dalam pandangan mereka, sedangkan hal itu bisa saja mendatangkan kehendak Allah untuk menimpakan keburukan atas kaum tersebut. Manakala Allah berkehendak menimpakan keburukan atas suatu kaum, tidak ada yang bisa mencegah keburukan itu menimpa atas diri mereka, dan tidak ada pula yang dapat melindungi diri mereka dari keburukan itu.

Keinginan terhadap sesuatu itu merupakan tanda kurangnya keikhlasan manusia dalam menghamba kepada Allah. Manakala Allah menampakkan suatu kebaikan, manusia lebih menginginkan kebaikan itu daripada menghamba kepada Allah hingga mereka melupakan petunjuk Allah. Manakala manusia berbuat demikian, bisa saja hal itu mendatangkan kehendak Allah untuk menimpakan keburukan atas diri mereka. Keinginan mereka terhadap sesuatu yang tampak baik itu sendiri adalah keburukan yang mengundang keburukan. Setiap hamba Allah hendaknya terus berusaha memahami petunjuk Allah hingga pemahaman mereka semakin bertambah. Mustahil seorang hamba memahami secara sempurna seluruh petunjuk Allah, tetapi hal itu bukan suatu sebab yang mendatangkan keburukan. Keinginan untuk terus memahami petunjuk Allah itulah yang merupakan kehendak Allah untuk hamba-Nya, dan merasa sempurnanya pemahaman diri merupakan tanda kurang sempurnanya potensi keikhlasan yang dapat dilahirkan.

Allah tidaklah mengubah nikmat yang telah dilimpahkan atas suatu kaum hingga mereka mengubah apa-apa yang ada pada nafs-nafs mereka. Orang-orang yang telah memperoleh nikmat Allah bersanding dengan urusan-urusan yang diturunkan Allah kepada mereka, maka hendaknya mereka menunaikan urusan-urusan itu sesuai dengan petunjuk Allah. Apabila mereka bertindak tidak sesuai dengan petunjuk-petunjuk Allah, mereka sebenarnya mengubah apa-apa yang seharusnya ada pada nafs-nafs mereka. Demikian pula apabila mereka mengabaikan urusan-urusan yang disampaikan kepada mereka, mereka mengubah apa-apa yang ada pada nafs-nafs mereka.

﴾۳۵﴿ذٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِّعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَىٰ قَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Anfaal : 53)

Setiap hamba Allah hendaknya memperhatikan dengan sungguh-sungguh petunjuk-petunjuk terkait urusan yang harus mereka laksanakan, tidak terburu-buru mengejar hasil yang mereka inginkan atau harus dicapai. Itu merupakan suatu bentuk keikhlasan. Menyimpangnya pelaksanaan nikmat Allah oleh seseorang dari ketentuan yang digariskan dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW merupakan bentuk pengubahan nikmat Allah yang akan mendatangkan pengubahan nikmat oleh Allah. Manakala suatu nikmat telah Allah ubah, nikmat itu tidak lagi mendatangkan manfaat yang semestinya, berupa berkurangnya manfaat atau justru menjadi suatu madlarat. Sangat banyak bentuk nikmat-nikmat Allah yang bisa berubah, karena Allah mengubahnya. Suatu pemahaman tertentu dapat berubah menjadi waham yang menghalangi hamba Allah untuk mengerti kehendak Allah. Suatu amal tertentu yang diperintahkan dapat berubah mendatangkan kerusakan karena dilaksanakan tanpa berpegang pada petunjuk Allah yang lain. Suatu ketetapan tertentu yang baik dapat berubah menjadi suatu fitnah karena kurangnya keikhlasan dalam beribadah kepada Allah. Sangat banyak bentuk-bentuk nikmat yang dapat berubah sifat karena Allah mengubahnya.

Setiap orang harus berusaha untuk memahami kehendak Allah dengan sempurna, tanpa merasa sempurna. Sebenarnya tidak ada makhluk yang bisa memahami kehendak Allah secara sempurna, tetapi akan berbahaya manakala para hamba Allah tidak mau berusaha memahami. Hanya Rasulullah SAW yang bisa memahami secara sempurna sebatas apa yang dikehendaki Allah, sedangkan syaitan merasa sempurna. Tidak menjadi masalah manakala seseorang salah dalam memahami kehendak Allah, tetapi akan menjadi sangat berbahaya manakala ia tidak bisa menyadari kesalahannya. Tidak menjadi masalah apabila seseorang tidak sempurna dalam memahami, tetapi akan menjadi masalah manakala seseorang tidak mau memahami kebenaran yang disampaikan kepada dirinya. Masalah-masalah itu harus dihindari oleh setiap hamba Allah dengan berusaha memperhatikan sungguh-sungguh petunjuk Allah. Manakala hamba Allah lalai dalam memperhatikan petunjuk Allah, nikmat Allah yang ada pada mereka dapat berubah sifatnya karena Allah mungkin saja mengubahnya.

Merasa sempurna memahami tidak selalu berwujud tinggi hati. Merasa sempurna memahami seringkali muncul dalam bentuk mengabaikan kebenaran dan merendahkan orang lain. Manakala seseorang berbicara benar, orang yang merasa sempurna tidak mau memperhatikan kebenaran yang disampaikan dan menganggap remeh orang yang menyampaikan. Atau sebaliknya, seseorang yang menyampaikan kebenaran dipandang remeh kemudian ia tidak bisa mendengar kebenaran yang disampaikan orang tersebut. Ini merupakan bentuk kesombongan yang bisa menjadi tanda seseorang merasa sempurna. Hamba Allah harus selalu berusaha memahami kebenaran yang disampaikan kepada dirinya, baik oleh orang yang terpandang ataupun orang yang jahat. Mungkin tidak harus selalu mengikuti orang yang menyampaikan, akan tetapi harus bisa mengerti kebenaran yang disampaikan tidak boleh mengabaikannya.

Jumat, 01 Mei 2026

Mengikuti Jalan Orang Beriman

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Rasulullah SAW merupakan tauladan puncak bagi seluruh hamba Allah. Setiap hamba Allah yang ingin menjadi dekat kepada Allah harus mengikuti langkah beliau SAW tidak boleh menempuh langkah yang lain. Setiap orang yang melangkah menyimpang dari jalan Rasulullah SAW akan dimasukkan ke dalam jahannam sebagai seburuk-buruk tempat kembali. Ini berkebalikan dengan kedekatan kepada Allah sebagai semulia-mulia tempat kembali.

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Dan barang siapa yang menyelisihi Rasul sesudah jelas petunjuk baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. Kami biarkan ia berkuasa atas apa yang ia telah usahakan itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-seburuk tempat kembali . [QS An-Nisaa : 115]

Jalan orang beriman berupa jalan mewujudkan kehendak Allah yang terdapat pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW berdasar suatu penjelasan (al-bayaan) kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bukan pemikiran sendiri. Ada suatu penjelasan (al-bayaan) tentang suatu firman Allah yang menjadi landasan upaya mereka, tetapi penjelasan tersebut sama sekali tidak keluar dari ayat kitabullah. Mereka berusaha mewujudkan suatu tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tanpa berbantah-bantah dengan mukminin lain karena kurang jelasnya pemahaman, melakukannya berdasar suatu kejelasan pemahaman terhadap kehendak Allah. Al-bayaan demikian seringkali terkait dengan realitas yang terjadi dan menyentuh inti persoalan yang harus dihadapi. Al-bayaan akan bisa dipahami dengan benar oleh orang-orang yang membina sifat rahman dan rahim.

Al-bayaan bisa diterima oleh orang-orang yang benar-benar beriman, bukan hanya diperoleh oleh rasul-rasul. Tidak semua orang beriman bisa memperoleh al-bayaan, tetapi hanya orang-orang dalam kualifikasi mengenal shirat al-mustaqim. Mereka adalah orang-orang yang mengalami keterbukaan tentang penciptaan diri mereka disertai dengan pengenalan terhadap shirat al-mustaqim yang harus ditunaikan agar mereka dijadikan hamba yang didekatkan kepada Allah. Shirat al-mustaqim merupakan lintasan paling dekat yang harus ditempuh seorang hamba untuk menjadi dekat dengan Allah, berupa pelaksanaan tugas-tugas yang ditetapkan Allah bagi dirinya sebelum ia dilahirkan ke dunia. Tanda dari orang yang mengenal nafs wahidah adalah mereka mengetahui peran dirinya dalam urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya. Sebenarnya syaitan juga mendorong manusia untuk mengenal diri tetapi pengenalan diri demikian digunakan untuk menyesatkan, seperti pohon khuldi.

Petunjuk yang terjelaskan merupakan pengetahuan yang terintegrasi dan dipahami sesuai dengan realitas. Integrasi pengetahuan yang membentuk petunjuk yang terjelaskan mencakup ayat kitabullah, ayat kauniyah maupun ayat-ayat di dalam qalb. Derajat integritas pemahaman dan petunjuk yang terjelaskan berada di atas persepsi inderawi. Yang disebut petunjuk bukan hanya berbentuk persepsi inderawi tetapi juga disertai terbentuknya pemahaman berupa al-bayaan. Tidak sedikit orang yang berselisih atau menentang orang lain yang memahami atau memberitakan petunjuk yang terjelaskan hanya karena persepsi inderawi yang mereka terima. Mungkin seseorang diberi qalb, diberi pendengaran bathin, dan diberi penglihatan bathin tetapi tidak menggunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah dan realitas yang digelar, maka mereka itu sebenarnya termasuk ahli neraka. Pertentangan demikian merupakan suatu kesesatan dan menyebabkan seseorang termasuk ahli neraka. Jalan yang mereka tempuh bukan termasuk sebagai jalan orang-orang beriman.

Seseorang bisa memahami al-bayaan baik langsung menerimanya atau mendengar perkataan orang lain. Setelah memahami, seseorang bisa menyampaikan al-bayaan yang dipahaminya kepada orang lain, dan demikian orang seterusnya. Manakala seseorang telah memahami suatu penjelasan (al-bayaan) kandungan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka sebenarnya telah menemukan tanda-tanda jalan orang-orang beriman, dan mereka harus mengikuti jalan orang beriman tersebut. Manakala mereka tidak memperhatikan jalan orang-orang beriman, mereka telah menempuh selain jalan orang-orang beriman. Tidak sedikit orang yang memandang pengetahuan diri mereka lebih baik dibandingkan penjelasan yang selaras dengan apa yang diajarkan Rasulullah SAW kemudian mereka menyelisihi penjelasan tersebut. Bila terjadi demikian, mereka menempuh jalan kehidupan selain jalan kehidupan mukminin. Boleh jadi Allah melapangkan bagi mereka penguasaan terhadap implementasi pengetahuan yang ada pada diri mereka hingga barangkali mereka akan memandangnya sebagai suatu berkah karena meluasnya kehidupan mereka, sedangkan sebenarnya tidak demikian. Allah meluaskan kekuasaan mereka dalam menempuh jalan kehidupan yang menyelisihi al-bayaan dan jalan kehidupan kaum mukminin, tetapi kemudian Allah akan memasukkan mereka ke dalam jahannam.

Mengenali Jalan Mukminin

Menempuh jalan selain jalan orang-orang beriman dapat terjadi pada muslimin yang tidak memperhatikan jalan keimanan, atau orang-orang yang memilih mengikuti langkah yang salah. Setiap muslim hendaknya berusaha mengenali dan memperhatikan al-bayaan dan jalan orang-orang beriman dan mengikuti langkah yang ditempuh orang-orang beriman. Demikian pula orang beriman hendaknya memperhatikan langkah orang beriman lainnya, tidak membiarkan orang beriman melangkah sendirian. Adanya seorang beriman yang melangkah sendirian menunjukkan langkah yang celaka, baik orang yang berjalan sendirian yang celaka atau orang banyak yang celaka, atau keduanya celaka. Ini bisa terjadi karena umat tidak memperhatikan jalan orang beriman dan prinsip keberjamaahan kaum mukminin.

Jalan orang-orang beriman adalah apa-apa yang mereka usahakan untuk mewujudkan kehendak Allah sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sesuai al-bayaan kepada mereka. Untuk mengenal jalan orang beriman, hendaknya setiap muslimin benar-benar memperhatikan urusan yang diperjuangkan. Banyak orang yang berusaha untuk mewujudkan kehendak Allah tetapi sebenarnya tidak benar-benar memahami tuntunan Allah dengan tepat. Mereka barangkali bukan orang yang mengikuti selain jalan orang-orang beriman tetapi tidak pula mengikuti jalan orang beriman. Ada pula orang-orang yang merasa benar-benar berada pada jalan orang-orang beriman sedangkan mereka sebenarnya mengabaikan al-bayaan yang diturunkan Allah. Jalan orang-orang beriman adalah apa-apa yang diusahakan untuk mewujudkan kehendak Allah sesuai dengan al-bayaan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Upaya mengenali jalan orang-orang beriman dapat dilakukan dengan membina akhlak al-karimah rahman dan rahim dengan membina diri sebagai misykat cahaya Allah.

Membina diri sebagai misykat cahaya pun harus dilakukan dengan berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak sedikit orang menempuh jalan taubat tetapi tidak membentuk akhlak mulia. Ada orang-orang yang menjadi sombong karena ilmu yang diberikan kepada mereka hingga mereka meremehkan orang lain dan mengabaikan kebenaran, bahkan mengabaikan al-bayaan yang disampaikan kepada mereka. Manakala ada orang lain memberikan peringatan tentang langkah yang menyimpang, mereka tidak mau memperhatikan apa-apa yang diperingatkan sahabatnya, dan kadang menganggap orang tersebut sebagai lawan yang pantas dihinakan. Kadang hal demikian membesar menjadi suatu sikap massa sedemikian orang yang memberikan peringatan itu menjadi objek dipandang buruk suatu kaum. Ia mungkin mestinya menjelaskan albayaan kepada umat tetapi kehilangan tempat berpijak. Manakala satu orang menyadari seruannya atau kesalahan dirinya, massa yang mengikuti sikap mereka belum tentu ikut menyadari hingga tetap bersikap memandang rendah. Mereka tidak bisa menyadari akhlak buruknya. Sebenarnya kaum demikian kurang berakal karena tidak bisa menimbang kebenaran. Semua akhlak mulia harus dibina berdasarkan pemahaman terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak boleh mengikuti waham sendiri.

Orang-orang demikian tidak termasuk orang yang mengikuti jalan orang beriman sekalipun apabila dipandang indah. Ilmu yang bercampur kesombongan demikian itu sebenarnya hanya sedikit. Masalah utamanya bukan ilmu yang sedikit, tetapi kerdilnya akal kaum dalam memahami kebenaran, dan mungkin terkandung kesesatan dalam pemahaman demikian. Kerdilnya akal suatu kaum akan menyebabkan pemahaman terhadap kehendak Allah tidak subur hingga masyarakat menjadi kacau. Kebenaran hanya menjadi jargon-jargon yang tidak dipahami nilai kebaikannya. Orang-orang yang seharusnya menyampaikan al-bayaan justru akan tersingkir karena kerdilnya akal kaum. Kesesatan pemahaman akan mendatangkan kerusakan terhadap kehidupan umat manusia, menjadi racun bagi agama. Mungkin tercampur dalam usaha mereka pemikiran-pemikiran sendiri yang bukan merupakan bagian dari kandungan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, atau pemahaman mereka tidak menyentuh persoalan realitas yang terjadi hingga usaha mereka tidak mendatangkan kebaikan atau bahkan membuat kerusakan tertentu. Jalan orang beriman benar-benar berupa jalan mewujudkan kehendak Allah yang terdapat pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tentu saja ada penjelasan (al-bayaan) tentang suatu firman Allah pada usaha mereka yang mungkin tidak terlihat sepenuhnya sebagai kandungan kitabullah, tetapi sebenarnya penjelasan tersebut sama sekali tidak keluar dari ayat kitabullah. Al-bayaan tersebut merupakan bagian dari kitabullah Alquran bukan pikiran yang dibuat-buat. Al-bayaan demikian seringkali terkait dengan realitas yang terjadi dan menyentuh inti persoalan yang harus dihadapi. Al-bayaan akan sepenuhnya dipahami oleh orang-orang yang membina sifat rahman dan rahim.

Mengenal Bobot Ilmu

Dewasa ini, penjelasan petunjuk untuk mengenali jalan orang beriman sangat sedikit. Hal ini tidak boleh menghalangi manusia untuk menemukan jalan orang beriman. Sumber petunjuk pokok berupa kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW tidak akan pernah hilang dari kalangan muslimin, dan hal itu merupakan hal yang lebih besar daripada penjelasan petunjuknya. Kaum muslimin tetap dapat berpegang pada pokok petunjuk sekalipun penjelasan berupa Al-bayan mungkin telah sulit ditemui. Selama setiap muslim berpegang dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka akan berada pada jalan keselamatan. Hanya saja untuk melakukan pemakmuran, setiap orang harus berusaha untuk mengenal Al-Bayaan. Al-Bayaan itu ilmu yang hidup yang bisa memberikan penjelasan kepada umat hingga dapat mendatangkan kebaikan bagi umat.

Umat Islam dewasa ini banyak terjebak pada ilmu-ilmu yang sebenarnya tidak bersumber dari tuntunan kitabullah Alquran, dan tidak bisa menghubungkan ilmu dengan amanah dari kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Misalnya tentang ilmu hadits. Tentulah ilmu tersebut sangat bermanfaat untuk agama apabila digunakan oleh orang yang berharap menolong agama. Para pendahulu ilmu hadits merupakan para penolong agama. Sayangnya, pengembangan ilmu tersebut dewasa ini banyak digunakan tidak untuk menolong agama tetapi justru membuat kekacauan di antara umat Islam. Para pemegang ilmu hadits dewasa ini cenderung mengambil peran penghakiman terhadap para perawi yang sebenarnya tidak mereka kenal. Dengan kurangnya pengenalan, pemegang ilmu berani mengumbar keburukan perawi-perawi. Tidak jarang pemegang ilmu itu menggunakan ilmunya untuk menghakimi kebenaran yang tidak mereka pahami. Ini telah menyimpang dan sangat berbeda dengan harapan para pendahulu ilmu hadits. Dengan batasan tertentu bisa dikatakan bahwa ilmu hadits yang demikian merupakan ilmu yang tidak diajarkan Rasulullah SAW. Demikian pula muncul pembagian-pembagian ilmu tauhid tanpa ada kejelasan asal-usul pembagiannya. Atau pembagian firqah-firqah di antara umat untuk mengadu domba umat. Mereka melalaikan umat untuk mengenali jalan orang-orang beriman dan menyeretnya untuk berbantah-bantahan. Mereka meninggalkan ilmu untuk mengenali jalan orang beriman dan lebih mementingkan pengenalan firqah-firqah sebagai bahan cacian terhadap golongan lain. Ilmu-ilmu demikian banyak menjebak manusia hingga tidak mengenali arah dari agama yang diajarkan Rasulullah SAW. Setiap muslim hendaknya memperkuat akal untuk mengenali nilai kebaikan dalam suatu ajaran hingga mengenal arah dalam mencari ilmu, tidak terombang-ambing dalam ilmu yang tidak berguna.

Sebagian ilmu merupakan fitnah bagi manusia. Manakala seseorang mempelajarinya, ilmu itu akan mencelakakan dirinya atau bahkan mencelakakan umat manusia. Ada ilmu yang bersifat sia-sia, seperti ilmu-ilmu tauhid yang disusun oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah dan tidak bertakwa kepada Allah. Ilmu demikian tidak menunjukkan kebenaran bagi yang mempelajarinya walaupun mungkin ilmunya tidak salah, hanya menjadi ilmu yang membingungkan umat manusia. Manusia tidak akan memperoleh manfaat dari ilmu demikian. Ada pula ilmu-ilmu yang sebenarnya mempunyai manfaat besar akan tetapi bisa menjadi ilmu yang tidak bermanfaat atau justru merusak manakala tidak dilandasi dengan akhlak mulia. Kebanyakan ilmu bersifat demikian. Setiap muslim hendaknya memperkuat akal untuk mengenali nilai kebaikan dalam suatu ajaran hingga mengenal arah dalam mencari ilmu, tidak terombang-ambing dalam ilmu yang tidak berguna.

Proses membangun akal dan pemahaman terhadap ilmu yang paling mendasar adalah pembinaan akhlak mulia. Pembinaan akhlak mulia yang paling utama adalah membina sifat rahman dan sifat rahim. Sifat rahman adalah keinginan memberikan kebaikan kepada orang lain menunjukkan kebenaran secara khusus memberitakan kehendak Allah. Sifat rahim adalah keinginan memberikan kebaikan secara umum kepada orang lain. Tidak ada akhlak mulia tanpa sifat rahman dan rahim. Pembinaan sifat rahmaniah yang paling utama berupa membina diri sebagai misykat cahaya. Pembinaan akhlak mulia ini merupakan proses tauhid yang sebenarnya, dimana seseorang dapat memanunggalkan amal jasmaniah dirinya dengan kehendak Allah dengan sifat-sifat mulia berdasarkan pemahaman terhadap cahaya Allah.

Jalan orang-orang beriman akan dikenali dengan benar oleh orang-orang yang membina akhlak mulia. Setiap muslim hendaknya membina tauhid dalam dirinya hingga mengenal kehendak Allah bagi dirinya, dan pembinaan tauhid itu akan semakin mudah manakala ia bertemu dengan orang-orang yang menempuh jalan orang-orang beriman.



Rabu, 29 April 2026

Tidak Menyelisihi Petunjuk Rasulullah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Rasulullah SAW merupakan tauladan puncak bagi seluruh hamba Allah. Setiap hamba Allah yang ingin menjadi dekat kepada Allah harus mengikuti langkah beliau SAW tidak boleh menempuh langkah yang lain. Setiap orang yang melangkah menyimpang dari jalan Rasulullah SAW akan dimasukkan ke dalam jahannam sebagai seburuk-buruk tempat kembali. Ini berkebalikan dengan kedekatan kepada Allah sebagai semulia-mulia tempat kembali.

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Dan barang siapa yang menyelisihi Rasul sesudah jelas petunjuk baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. Kami biarkan ia berkuasa atas apa yang ia telah usahakan itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-seburuk tempat kembali . [QS An-Nisaa : 115]

Ayat ini terkait dengan orang-orang muslim atau mukmin, tetapi tidak bersungguh-sungguh berusaha mengikuti langkah Rasulullah SAW, tidak ditujukan kepada orang-orang kafir ataupun musyrik yang jelas tidak mengikuti Rasulullah SAW. Secara khusus, dijelaskan bahwa ada orang-orang muslim atau mukmin yang mempunyai keinginan atau tujuan-tujuan hidup tertentu yang mereka telah mengusahakan keinginan dan tujuan kehidupan itu. Tujuan mereka itu menjadikan mereka tidak sungguh-sungguh mengikuti petunjuk Rasulullah SAW. Dengan apa yang mereka usahakan, kemudian mereka tidak mengikuti pengajaran Rasulullah SAW dan menyelisihinya karena keinginan yang ada pada diri mereka.

Pengajaran Rasulullah SAW adalah pengajaran kemuliaan bagi seluruh makhluk, termasuk makhluk rendah di alam bumi seperti manusia. Manusia memiliki dorongan-dorongan alam rendah sebagaimana makhluk bumi yang lain dan bahkan dorongan pada manusia itu bisa lebih kuat dan buruk lagi karena sifat kecerdasan makhluk tinggi yang mengalir kepada manusia. Manusia dapat berbuat kejahatan dalam berbagai bentuk yang sangat buruk yang dapat dilihat manusia, bahkan bisa berbuat kejahatan yang sangat buruk dan dipandang baik oleh manusia. Itu adalah kejahatan yang paling buruk. Pengajaran Rasulullah SAW berfungsi mengangkat manusia dari kecenderungan kehidupan yang buruk menuju kehidupan yang mulia.

Walaupun demikian, tidak semua orang bersepakat dengan kemuliaan dalam ajaran Rasulullah SAW, bahkan sekalipun di antara orang-orang muslim ataupun mukmin. Sebagian orang terkalahkan oleh dorongan syahwat dan hawa nafsu hingga mereka lebih menginginkan kehidupan dunia yang tampak baik dalam pandangan mereka. Sebagian manusia tidak sungguh-sungguh memahami ajaran mulia dan mengikuti pendapat sendiri atau bahkan lebih percaya bisikan-bisikan syaitan daripada apa yang tersurat dari ajaran Rasulullah SAW. Banyak kasus-kasus lain yang merupakan bentuk menyimpangnya pandangan manusia terhadap kemuliaan ajaran Rasulullah SAW hingga kemuliaan menjadi tampak kabur dalam pandangan masing-masing. Dengan sebab demikian, mereka menyelisihi ajaran Rasulullah SAW. Orang-orang muslim atau mukmin yang lebih mengikuti dorongan selain apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW inilah yang disebutkan dalam ayat di atas. Mereka tidak sungguh-sungguh menginginkan kemuliaan bersama Rasulullah SAW, tetapi tercampur dengan keinginan rendah atau akal yang lemah maka mereka menyelisihi ajaran Rasulullah SAW.

Muslim dan mukmin akan bisa benar-benar mengikuti ajaran Rasulullah SAW manakala mereka membina akhlak mulia, utamanya berupa membina sifat rahman dan rahim. Sifat rahman dan rahim bukanlah suatu sikap yang lemah, tetapi sikap menginginkan kebaikan bagi semua makhluk dengan landasan pengetahuan terhadap kehendak Allah. Apabila Allah menghendaki seorang hamba untuk berbuat baik, ia berbuat sebagaimana kehendak Allah dengan berusaha mengenali kebaikan yang ada pada kehendak itu. Manakala Allah tidak menyukai sesuatu, mereka berusaha untuk tidak menyukai dan bahkan mematuhi perintah untuk memerangi bila diperintahkan karena kebaikan yang akan timbul dari amal yang dilakukan. Mereka mengetahui bahwa segala yang datang dari sisi Allah merupakan kebaikan, dan keburukan berasal dari yang bathil. Dengan demikian mereka selalu memuji Allah dengan semua kebaikan yang datang dari sisi Allah. Dengan sikap demikian itu maka seseorang akan bisa benar-benar mengikuti ajaran Rasulullah SAW.

Tidak sedikit orang yang memandang pengetahuan diri mereka lebih baik dibandingkan apa yang diajarkan Rasulullah SAW kemudian mereka menyelisihi ajaran Rasulullah SAW dan menempuh jalan kehidupan selain jalan kehidupan mukminin. Dengan perbuatan demikian, Allah melapangkan bagi mereka penguasaan terhadap implementasi pengetahuan yang ada pada diri mereka. Barangkali mereka akan memandang bahwa apa yang mereka kuasai itu adalah suatu berkah karena meluasnya kehidupan mereka dengan jalan demikian, sedangkan sebenarnya tidak demikian. Allah meluaskan kekuasaan mereka dalam menempuh jalan kehidupan yang menyelisihi ajaran Rasulullah SAW dan jalan kehidupan kaum mukminin, tetapi kemudian Allah akan memasukkan mereka ke dalam jahannam.

Jalannya Orang-Orang Beriman

Orang-orang yang termasuk ahli jahannam adalah orang yang telah datang bagi diri mereka petunjuk tetapi mereka menyelisihi dan menempuh jalan selain jalan orang-orang yang beriman. Orang-orang beriman adalah orang-orang yang memperoleh keterbukaan terhadap kebaikan dari ajaran Rasulullah SAW. Mereka mendengar dan melihat apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, memahami kebaikan dari ajaran Rasulullah SAW dan beramal dengan pemahaman itu untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Mungkin ada orang-orang yang telah mendengar atau melihat ajaran Rasulullah SAW dan mengikutinya akan tetapi sebenarnya belum memahami kebaikan yang terkandung dalam ajaran itu, maka mereka itu adalah muslimin. Kaum muslimin termasuk dalam kategori orang-orang yang telah mendapatkan kejelasan petunjuk, karena ajaran Rasulullah SAW merupakan petunjuk. Manakala muslimin atau mukminin mengabaikan petunjuk yang telah diturunkan dan menempuh jalan selain jalan kehidupan orang-orang mukminin, mereka akan termasuk sebagai orang-orang yang dikembalikan ke neraka jahannam.

Menempuh jalan selain jalan orang-orang beriman dilakukan oleh orang-orang yang tidak peduli pada jalan keimanan ataupun orang-orang yang memilih mengikuti langkah yang salah. Setiap muslim hendaknya berusaha mengenali dan memperhatikan langkah orang-orang beriman dan mengikuti langkah yang ditempuh orang-orang beriman. Demikian pula orang beriman hendaknya memperhatikan langkah orang beriman lainnya, tidak membiarkan orang beriman melangkah sendirian. Adanya seorang beriman yang melangkah sendirian menjadi tanda adanya langkah yang celaka, baik orang yang berjalan sendirian yang celaka atau orang banyak yang celaka. Ini bisa terjadi karena umat tidak memperhatikan langkah orang beriman dan prinsip keberjamaahan kaum mukminin. Yang menjadi jalan orang-orang beriman adalah apa-apa yang mereka usahakan untuk mewujudkan kehendak Allah sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak setiap amal yang diperbuat orang beriman merupakan jalan orang beriman yaitu bila tidak mempunyai tujuan mewujudkan tuntunan kitabullah ataupun tuntunan Rasulullah SAW.

Manusia akan menjumpai banyak bentuk langkah orang-orang beriman. Amal setiap orang beriman dapat berbeda-beda satu dengan yang lain, tetapi seluruhnya adalah amal yang mewujudkan kehendak Allah sesuai kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Demikian pula akan dijumpai banyak tingkatan orang beriman. Ada orang beriman yang apabila dibuka lubang misykat cahayanya, jasmani mereka ribut memunculkan keburukan yang masih ada dalam dirinya. Ada orang beriman yang dengan misykat cahayanya membentuk bayangan cahaya Allah yang harus ditunaikan oleh kaum mukminin, sedangkan mereka mengetahui peran dan kedudukan diri mereka dalam amr Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya sebagai bagian dari Al-Jamaah. Dapat dijumpai sangat banyak keadaan akhlak orang beriman, di antara orang yang ribut karena keburukan sendiri dan orang yang mengetahui peran mereka dalam amr Rasulullah SAW. Apabila seseorang menemukannya, hendaknya mereka mengikuti jalannya orang-orang yang mengetahui peran dan kedudukan diri mereka dalam amr Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya. Mereka orang-orang yang terlihat hanya mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak membuat langkah-langkah di luar tuntunan. Meskipun demikian, mungkin saja sangat banyak ilmu yang tampak baru tetapi seluruhnya berakar hanya pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Ada orang yang melangkah sesat dan ada yang melangkah dengan benar. Lurusnya orang melangkah ditentukan dari keselarasan langkah dengan petunjuk kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak diukur dari keberhasilan ataupun tingkatan keadaan mukmin. Nabi Nuh a.s dan nabi Luth a.s mungkin tampak gagal menyeru umatnya, akan tetapi beliau a.s bukan orang yang salah melangkah. Sebaliknya sebenarnya Allah juga menjadikan orang-orang yang menempuh jalan selain jalan keimanan berkuasa terhadap apa yang mereka usahakan hingga mereka mungkin menjadi orang sukses. Kesuksesan ataupun kegagalan dalam menempuh kehidupan tidak menjadi tanda bahwa seseorang melangkah dengan benar. Terkait tingkatan, seharusnya orang yang telah jauh mengikuti langkah Rasulullah SAW akan selamat, dan orang yang berada di tepian mudah celaka. dalam realitas, banyak mukmin dalam tingkatan awal yang selamat, dan mungkin saja ditemukan mukmin tingkatan lanjut yang celaka.  Benarnya langkah dalam mengikuti jalan keimanan hanya ditentukan dengan keselarasan langkah dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Kehinaan Umat Islam dan Petunjuk Rasulullah SAW

Dewasa ini banyak persoalan yang dihadapi oleh orang-orang beriman, sedangkan pandangan umat manusia terhadap tuntunan Rasulullah SAW dalam keadaan kabur. Ini dapat dilihat pada keadaan muslimin yang terlihat berada pada ketiak orang-orang musyrik. Indonesia negeri yang penduduknya mayoritas beragama islam, akan tetapi pemerintahnya terlihat condong membela zionis Israel. Misalnya tentang dukungan Indonesia agar negara-negara timur tengah meminta ganti rugi kerusakan akibat peperangan kepada Iran, sebenarnya itu merupakan dukungan terhadap zionis Amerika-Israel karena pada ujungnya negara-negara teluk sebenarnya diperas oleh Amerika untuk membiayai perangnya. Bila seseorang atau suau bangsa berpikir sehat, dukungan itu mestinya meminta Amerika-Israel untuk mempertanggungjawabkan kerusakan akibat perang karena Israel-Amerika yang memulai peperangan. Demikian pula isu ungkapan pengusiran ke negeri Yaman, suatu isu yang dibuat oleh pembela zionisme. Demikianlah keadaan kaum muslimin. Itu menunjukkan rendahnya kedudukan kaum muslimin di antara bangsa. Bila kaum muslimin bisa melihat dengan jelas tuntunan Rasulullah SAW, niscaya mereka tidak dalam keadan yang hina.

Terkait tentang keadaan tersebut, Rasulullah SAW memberikan tuntunan :
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ
Apabila kamu melakukan jual beli dengan sistem ‘iinah, menjadikan dirimu berada di belakang ekor sapi, ridha dengan cocok tanam dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menjadikan kamu diliputi oleh kehinaan, Allah tidak akan mencabut kehinaan itu dari dirimu sebelum kamu kembali kepada dien kamu“. [HR Abu Dawud].

Untuk mencabut kehinaan dari kaum muslimin, muslimin harus kembali kepada dienullah. Ada beberapa parameter terkait diin yang harus diperhatikan berupa: sistem jual beli ‘iinah, menempatkan diri di belakang ekor sapi, ridha dengan cocok tanam dan meninggalkan jihad. Apabila kaum muslimin tidak memperhatikan atau memahami parameter-parameter di atas, niscaya kehinaan mereka tidak akan diangkat hingga mereka tetap dalam keadaan yang hina.

Barangkali mudah bagi kaum salaf untuk memahami perintah demikian, tetapi berbeda dengan muslimin jaman ini. Agak sulit memahami tuntunan di atas bagi orang umum jaman ini, tetapi mungkin saja ada orang-orang yang dapat memahami tuntunan demikian. Orang-orang yang membina misykat cahaya akan memahami tuntunan demikian sesuai dengan tingkat pembinaan misykat cahaya dirinya, dan mungkin saja memahami dari berbagai perspektif yang berbeda. Kesulitan memahami dapat dilihat misalnya pada kesulitan memahami hubungan menempatkan diri di belakang sapi dengan kehinaan yang menimpa. Atau mungkin sebagian umat islam berpikir ini adalah larangan untuk beternak sapi dan larangan bercocok tanam. Sebagian mungkin menganggap bercocok tanam akan mendatangkan kehinaan kepada mereka. Tentu mestinya tidak demikian. Umat harus mengusahakan pertanian dan peternakan untuk memenuhi kebutuhan bersama, dan melakukan perdagangan untuk menyebarkan manfaat di antara umat.

Dari satu perspektif, hadits di atas dapat dipahami dari sisi bahwa dunia ini pada dasarnya masih dikuasakan sebagai kerajaan para Iblis. Iblis diberi ijin untuk menguasai bumi hingga masa yang ditentukan Allah yaitu hingga pada hari agama, walaupun kemudian meminta tangguh dan dikabulkan Allah. Di antara pasukan iblis penguasa bumi itu berbentuk sapi yang disangka manusia sebagai Ba’al dan disembah. Penyembahan terhadap Ba’al ini dapat dilihat dari kasus pembakaran patung Ba’al di Iran baru-baru ini yang mendatangkan kemarahan penyembahnya hingga menjadi salah satu sebab terjadinya perang Iran. Sebenarnya bentuk sapi itu hanya anak buah Ba’al yang bertempat tinggal di lautan, sedangkan Ba’al sendiri telah mati hingga dijadikan oleh Iblis besar sebagai sesembahan manusia, dihadirkan kepada penyembahnya dalam bentuk anak buah Ba’al berwujud sapi

Penyembahan Ba’al itu sendiri sebenarnya hanya sebagian dari penyembahan manusia kepada Iblis. Para Iblis yang pandai dan masih hidup tidak sanggup dijadikan sesembahan karena takut Allah, dan Iblis yang telah mati atau iblis yang kurang pandai dijadikan oleh Iblis besar sebagai sesembahan manusia di antaranya Ba’al, Ashera dan Asytoret dari iblis yang pandai, dan iblis-iblis kecil yang masih hidup tetapi tidak pandai. Anak buah Ba’al memberikan dukungan kepada para penyembah Ba’al untuk memperoleh kekuasaan, anak buah Ashera mengajarkan cara mengendalikan ekonomi dan pertanian kepada para penyembah Ashera, dan anak buah Asytoret mengajarkan ilmu-ilmu dengan cara yang keliru termasuk ilmu agama palsu yang menjadikan manusia meninggalkan jihad dan agama. Iblis-iblis kecil yang masih hidup dan disembah manusia memberikan bantuan memenuhi hasrat manusia rendah yang menyembah mereka.

Kehinaan yang menimpa umat islam pada jaman ini berasal dari alam Iblis yang tinggi, dan selama umat islam tidak menyadari tipu daya Iblis-Iblis yang mengalir melalui para penyembah mereka, umat akan terliputi kehinaan. Umat Islam terliputi kehinaan karena tipu daya mereka, dan tidak akan terlepas dari kehinaan itu, hingga petunjuk Rasulullah SAW ditunaikan. Para penyembah Iblis itu akan memperoleh jalan untuk merendahkan muslimin sebelum parameter yang disebutkan Rasulullah SAW dipenuhi. Kehinaan kaum muslimin itu akan terangkat apabila kaum muslimin memahami tuntunan diinullah terkait dengan tipu daya para syaitan yang dapat menyentuh kehidupan umat melalui para penyembah mereka. Pemahaman itu akan efektif manakala tatanan mengikuti diinullah diterapkan dalam kehidupan umat. Bila umat Islam terus menerus hanya mengikuti konsep-konsep kehidupan yang dirumuskan oleh kaum musyrikin, mereka akan selalu berada dalam jerat kehinaan. Demikian pula manakala umat hanya mengikuti pikiran sendiri, kehinaan yang menyelimuti itu tidak akan diangkat dari umat.

Dalam perspektif lain, boleh jadi ada orang-orang tertentu yang tidak dibolehkan untuk menyentuh bidang peternakan, jual beli tertentu dan pertanian karena akan meninggalkan jihad di jalan Allah. Boleh jadi seseorang mempunyai potensi untuk beternak sapi, bercocok tanam, berjual beli dan lain-lain tetapi kesempatan itu tidak boleh digunakan, karena ia harus bersungguh-sungguh mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya. Rasulullah SAW tidak mengijinkannya untuk melakukan karena barangkali mengganggu jihadnya, atau ada hal-hal lain yang harus dipatuhi. Hal demikian mungkin tampak sebagai sesuatu yang aneh bagi kaum jaman ini, tetapi sungguh-sungguh ada peristiwa demikian.


Senin, 27 April 2026

Akhlak Mulia dan Sifat Rahmaniah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW membentuk akhlak al-karimah dilakukan dengan membina sifat rahman dan rahim di dalam diri. Sifat rahman adalah keinginan memberikan kebaikan berupa kebenaran dan secara khusus pengetahuan tentang kehendak Allah, sedangkan sifat rahim berupa keinginan untuk memberikan kebaikan secara umum terhadap semua makhluk. Kedua sifat itu adalah unsur utama membentuk akhlak al-karimah. Sifat-sifat tersebut harus diwujudkan oleh setiap orang yang ingin mengikuti langkah Rasulullah SAW disertai dengan adab yang baik. Akhlak mulia hanya terbentuk pada orang-orang yang membina sifat rahman dan rahim. Ada orang-orang munafik yang membina adab yang baik hingga mungkin mengagumkan tetapi tidak mempunyai keinginan membina sifat rahman dan rahim, maka sebenarnya tidak terbentuk akhlak al-karimah pada diri orang tersebut. Tuntunan pertama dalam kitabullah adalah ayat berikut :

﴾۱﴿بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (l-Fatihah : 1)

Ayat tersebut merupakan dasar tuntunan dalam pembinaan akhlak mulia mengikuti langkah Rasulullah SAW. Membina sifat rahman dan rahim merupakan syarat utama yang harus dipenuhi setiap hamba Allah untuk bertauhid. Tauhid dalam bentuk ini harus dipahami oleh setiap hamba Allah dengan baik. Dewasa ini, kebanyakan muslimin bertauhid hanya dengan membentuk imajinasi semu bertauhid, tidak mengetahui langkah yang benar-benar memperkuat langkah tauhid. Kebanyakan muslim dewasa ini bertauhid dengan membayangkan bahwa ia benar-benar melakukan amal-amalnya hanya untuk Allah, tidak mengetahui bahwa ibadah yang sebenarnya adalah amal yang diperbuat dengan landasan pengetahuan terhadap kehendak Allah. Seorang hamba yang benar adalah hamba yang mengerjakan apa yang ia ketahui diperintahkan oleh tuannya, bukan hamba yang mengerjakan amal-amal secara acak sembarangan dan membayangkan amal itu dilaksanakan untuk tuannya.

Tingginya Derajat Sifat Rahmaniah

Sifat rahmaniah merupakan akhlak tertinggi yang harus dibentuk oleh setiap hamba Allah. Kedudukan akhlak ini lebih tinggi dibandingkan dengan akhlak rahim, walaupun sebenarnya tidak ada sifat rahman tanpa sifat rahim karena keduanya merupakan kesatuan dari dua sifat yang harus ditumbuhkan oleh orang beriman. Sekalipun merupakan kesatuan, setiap orang harus mempunyai gambaran tentang lebih tingginya kedudukan sifat rahman. Banyak potensi kekacauan yang mungkin terjadi manakala umat manusia atau para hamba Allah tidak mempunyai gambaran tentang tingginya kedudukan sifat rahmaniah, sebagaimana kekacauan umat manusia manakala arah kehidupan manusia ditentukan oleh para perempuan.

Sebagai ilustrasi, seorang presiden negara adi daya berkoar-koar berkeinginan menegakkan perdamaian di dunia kemudian ia mengambil tindakan menyerang negara muslim yang hidup dalam kedamaian. Presiden adi daya itu sebenarnya hanya mengikuti pendapat sendiri tentang perdamaian dunia tidak mempunyai gambaran yang benar tentang perdamaian dunia. Ia tidak mempunyai landasan yang benar sedikitpun untuk menimbang perdamaian dunia yang seharusnya dibentuk, tidak mempertimbangkan cara pandang negara-negara lain termasuk negara yang diserang untuk menegakkan perdamaian dunia. Perdamaian dalam pandangan presiden negara adi daya itu hanyalah perdamaian yang mendukung kepentingan diri mereka sendiri beserta orang-orang yang mendukung mereka.

Pada kasus yang lain, ada sebagian muslimin yang berbantah-bantah dan berselisih dengan golongan muslimin lain hingga menggolongkan muslimin lainnya ahli bid’ah, ayat syaitan dan penggolongan buruk lainnya. Keduanya saling berbangga-bangga dengan dasar-dasar kebenaran yang mereka pilih sendiri tanpa berusaha untuk memahami kebaikan, dan tidak pula berusaha memahami kebenaran yang disampaikan pihak lainnya. Setiap pihak tidak berusaha memahami dengan tepat kerangka kebenaran yang mereka pilih berdasarkan pertimbangan kebaikan yang harus diwujudkan, hanya membanggakan kebenaran yang mereka susun, kemudian mereka menyerang pihak lainnya dengan kerangka kebenaran mereka sendiri.

Ada pula orang-orang beriman yang membina kasih sayang tetapi mengabaikan sifat rahmaniah. Mereka membangun sifat baik tetapi tanpa  keinginan memahami dengan benar tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka tertutup memandang baik diri mereka sendiri. Sifat menyayangi itu mungkin terwujud hingga bentuk-bentuk menjaga umat dari kesesatan, akan tetapi mereka sendiri tidak berhati-hati dengan kesesatan. Kadangkala seseorang dipandang sesat dan dengan kasih sayang yang ada diseru untuk kembali kepada kebenaran sesuai dengan pikiran mereka. Kadangkala seorang telah menemukan bentuk perjuangan dirinya dari kitabullah diseru untuk kembali berjamaah sedangkan jamaah yang dimaksud tidak mewadahi bentuk perjuangannya, karena wadah yang mereka bentuk sebenarnya hanya berdasar waham tidak berdasar pemahaman tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kelompok mukminin yang seharusnya bisa berjalan beriring meninggikan kalimat Allah kemudian berselisih karena kurangnya keinginan memahami tuntunan. Bisa saja orang yang benar dipandang sesat dan (seolah) dipaksa untuk kembali, sedangkan orang yang diharapkan kembali pada kebenaran sama sekali tidak bisa memahami apa yang diserukan sahabatnya, tidak mengetahui apa yang sesat dalam dirinya. Mungkin saja orang-orang yang menyeru tidak dapat memberitahu apa yang salah dari orang-orang yang diseru, atau sebaliknya karena tertutupnya mereka oleh waham, tertutup dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW karena pandangan baik terhadap diri mereka sendiri. Kasus semacam ini akan mendatangkan kekacauan.

Keadaan demikian sebenarnya sangat buruk, menunjukkan bahwa manusia hanya mengikuti pendapat mereka sendiri. Dengan keadaan demikian, para hamba Allah tidak akan bisa melangkah mewujudkan kebaikan bagi kehidupan mereka berdasarkan tuntunan Allah. Mungkin setiap pihak di antara orang beriman ingin mewujudkan kebaikan, akan tetapi langkah untuk mewujudkan kebaikan saling berlawanan. Orang yang mengetahui langkah yang dituntun dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW mungkin akan terhalang dengan pencegahan orang-orang yang merasa diri mereka baik. Sebaliknya orang-orang yang merasa diri mereka baik sebenarnya tidak mempunyai pengetahuan tentang kehendak Allah berdasar tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka tertutup pikiran mereka sendiri. Kehidupan umat hamba Allah akan menjadi buruk karena keadaan demikian dan mungkin tidak mempunyai jalan keluar untuk mewujudkan tuntunan dari sisi Allah. Mewujudkan kebaikan dari sisi Allah hanya dapat dilakukan dengan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Seandainya setiap pihak kaum muslimin dan mukminin memahami kedudukan sifat rahmaniah dalam membina akhlak mulia, mereka akan mudah untuk menemukan langkah yang haru ditempuh, dan bahkan menemukan bentuk ibadah yang diperintahkan Allah hingga mereka bertauhid dengan sebenar-benarnya, tidak hanya beribadah hanya berdasarkan waham saja. Ibadah hanya dengan waham saja kadangkala mendatangkan keburukan. Kadangkala terjadi perselisihan yang tidak dapat diselesaikan di antara orang beriman. Perselisihan antara orang beriman harus diputuskan dengan merujuk pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak diputuskan dengan mengandalkan persangkaan diri sendiri. Tanpa sifat rahmaniah, perselisihan di antara orang beriman mungkin saja tidak memperoleh jalan penyelesaian.

Sifat rahman akan menumbuhkan persatuan hamba Allah. Bila terjadi perselisihan, keinginan baik satu pihak terhadap pihak lain saja kadangkala tidak membantu menyelesaikan perselisihan, kecuali dengan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Misalnya boleh jadi setiap pihak yang berselisih sebenarnya menginginkan kebaikan atas pihak lain, misalnya berupa kembalinya pihak yang lain pada kebenaran. Tetapi bisa jadi sebenarnya para pihak itu hanya bisa melihat kesalahan pihak lain tanpa kemampuan mengetahui kesesatan dalam dirinya. Perbaikan hanya bisa terjadi apabila seseorang mengetahui apa yang harus diperbaiki dari dirinya. Kemampuan mengetahui kesesatan dalam diri masing-masing orang beriman seringkali hanya diperoleh dengan sifat rahmaniah manakala memperoleh kabar dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, baik tuntunan itu diberitahukan sahabatnya ataupun ia mengetahui dengan sendirinya. Manakala yang diberitahu tidak mempunyai sifat rahmaniah, pemberitahuan demikian hanya akan sia-sia saja sedangkan setiap pihak merasa sebagai orang yang baik. Atau bila satu pihak hanya memberitahu pihak lain kesalahan atau kesesatannya tanpa menunjukkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang terkait, pemberitahuan itu bisa saja tidak dipahami orang beriman sahabatnya. Demikian gambaran pentingnya memahami tingginya kedudukan sifat rahman dibandingkan sifat baik yang lain termasuk sifat rahim.

Sifat rahmaniah akan memunculkan kemakmuran pada suatu kaum. Manakala suatu kaum tidak membina sifat rahmaniah, mereka tidak akan mengetahui sumber-sumber kemakmuran dan cara mengalirkannya. Upaya kaum yang tidak membina sifat rahmaniah seringkali terjebak dalam langkah di tempat, atau terjebak usaha yang berputar-putar saja dari satu masalah kepada masalah yang lain. Mereka menyangka bahwa perpindahan dari satu masalah mendatangkan keadaan yang lebih baik, tetapi sebenarnya tidak demikian, hanya memindahkan satu masalah kepada masalah yang lain. Manakala suatu kaum membina pengetahuan terhadap kehendak Allah, pengetahuan terhadap kehendak Allah itu akan memindahkan keadaan mereka menuju keadaan yang lebih baik. Suatu kaum akan mengetahui sumber kemakmuran dan cara mengalirkannya. Repotnya, seringkali kaum yang tidak membina sifat rahmaniah seringkali tidak menyadari masalahnya maka mereka terus terjebak dalam keadaan yang sama tanpa melangkah menuju perbaikan sedangkan mereka merasa sudah benar melangkahnya.

Membina Sifat Rahmaniah

Untuk pembinaan sifat rahmaniah, setiap hamba Allah harus dibina mengarah pada pembinaan misykat cahaya. Misykat cahaya merupakan gambaran tentang akhlak tertinggi berupa akhlak rahmaniah yang seharusnya dibentuk pada setiap diri orang beriman. Setiap orang beriman mempunyai potensi kemampuan menemukan gambaran tentang kehendak Allah dalam diri masing-masing, dibentuk dengan akhlak mulia berupa terbentuknya misykat cahaya diri.

﴾۵۳﴿ اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah misykat, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang penuh berkah, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QSAn-Nuur : 35)

Misykat cahaya dapat digambarkan layaknya suatu kamera yang berfungsi membentuk gambar dari objek yang dibidik. Terdapat badan kamera yang kedap cahaya dengan suatu lubang kecil yang dapat dibuka pada saat pengambilan gambar. Badan kamera itu adalah gambaran bagi misykat yang tidak tembus cahaya. Terdapat pula lensa yang mengarahkan cahaya membentuk bayangan dari objek yang dibidik. Lensa itu merupakan ibarat dari zujajah (bola kaca) yang terdapat dalam misykat cahaya. Pembinaan sifat rahman yang paling utama dilakukan dengan membentuk akhlak sebagai misykat cahaya.

Langkah awal membina misykat cahaya adalah tazkiyatun-nafs. Setelah melakukan tazkiyatun-nafs, seseorang akan mudah memahami kebenaran yang disampaikan kepada dirinya. Ia akan mudah memahami perkataan orang-orang yang menyampaikan kebenaran, dan memperoleh kemampuan mengenali kebathilan sekalipun kala muncul dalam diri sendiri dan ditampakkan dalam wujud yang baik. Kadangkala tanda itu disertai kemampuan merasakan hawa nafsu orang-orang yang memfasih-fasihkan diri atau mengenali kebathilan pada perkataan orang lain. Seandainya ada orang lain yang memfasihkan diri dengan kebenaran, ia dapat melihat kebenaran pada perkataan yang disampaikan, dan mensikapi hawa nafsu orang lain tersebut secara terpisah. Dalam tingkat lanjut, seharusnya setiap orang dapat mengenali kebathilan sekalipun keluar dari lisan orang yang pandai. Sikap demikian ini adalah sasaran yang harus dicapai setiap orang yang melakukan tazkiyatun-nafs. Seorang yang bertaubat harus membentuk kecerdasan mengenali dan menimbang kebenaran dan kebathilan dengan hatinya tidak boleh terjebak pada kebodohan dan faham sempit atau waham diri sendiri.

Setelah seseorang mencapai keadaan yang dibersihkan, ditandai dengan mudahnya memahami kebenaran, ia hendaknya menumbuhkan sifat rahman dan rahim dalam dirinya dengan memperhatikan keadaan kauniyah yang terjadi di lingkungan dirinya dengan landasan keinginan mulia dan membaca kauniyah itu sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bila seseorang hanya peduli tentang dirinya tidak memperhatikan keadaan lingkungannya, ia sebenarnya tidak mempedulikan ayat Allah. Membaca kitabullah saja tanpa suatu kepedulian terhadap keadaan kauniyah mungkin akan menumbuhkan kesombongan. Memperhatikan keadaan lingkungan saja tanpa memperhatikan tuntunan kitabullah tidak akan menjadikan seseorang bisa mengenal cahaya Allah. Kepedulian terhadap keadaan kauniyah selaras dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasullllah SAW akan menjadikan seseorang mengarahkan pandangan pada cahaya Allah. Tumbuhnya sifat rahman dan rahim akan menjadikan seseorang dapat mengatur fokus zujajah dirinya untuk membentuk bayangan dari cahaya Allah yang terpancar pada ayat kauniyah dan ayat kitabullah.

Tanpa kemampuan menimbang bobot nilai manfaat dan madlarat pada suatu pengetahuan, seseorang akan terkurung dalam waham atau menyimpang dari langkah yang benar. Ada orang-orang yang tidak memperoleh landasan berpijak untuk amalnya karena selalu meragukan pengetahuan kebenaran yang ada dalam dirinya. Ada pula orang-orang yang menyimpang karena meyakini kebenaran setiap pengetahuan yang sampai kepada dirinya tanpa menimbang pengetahuan itu dengan benar. Mungkin saja suatu kaum terkurung dalam suatu doktrin karena tidak mampu melihat manfaaat dari suatu pengetahuan kebenaran. Bisa saja kombinasi peristiwa itu terjadi secara bersamaan, seseorang tidak mempunyai pijakan pengetahuan yang kokoh dan meyakini kebenaran bisikan-bisikan yang sampai kepada diri mereka, hingga ia beramal tanpa pijakan dan meyakini kebenaran amal-amal yang buruk tetapi merasa sebagai hamba Allah yang paling benar. Sangat banyak keburukan yang dapat terjadi di masyarakat manakala manusia tidak mempunyai kemampuan menimbang bobot nilai manfaat dan madlarat pada pengetahuan yang diperoleh. Manakala mempunyai kemampuan menimbang, seseorang akan dapat memilih atau menentukan langkah yang paling besar nilai manfaatnya dan tidak tertimpa madlarat.

Membina diri sebagai misykat cahaya akan mengantarkan seorang hamba untuk memahami kehendak Allah atas diri mereka hingga mereka menjadi hamba Allah yang benar, hamba yang mengerjakan perintah Allah dengan pemahaman, bukan sekadar hamba yang berbuat secara acak dan sembarangan dan mengira perbuatannya dilakukan semata-mata bagi Allah. Berbuat baik untuk Allah tanpa memahami perintah Allah itu merupakan kebaikan bagi para penempuh tauhid awal, tetapi seharusnya hamba Allah tidak terhenti hanya pada langkah awal bertauhid. Setiap hamba Allah harus berusaha memahami kehendak Allah atas dirinya dengan membina diri sebagai misykat cahaya hingga ia menjadi hamba Allah yang sebenarnya.

Jumat, 24 April 2026

Membangun Ketaatan Kepada Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus ditempuh dengan lurus sebagaimana jalan Rasulullah SAW dimi’rajkan hingga ufuk tertinggi tidak menyimpang. Keselamatan perjalanan setiap hamba Allah bergantung pada kesesuaian langkahnya terhadap sunnah Rasulullah SAW. Tidak ada orang yang selamat menempuh perjalanan dengan menyimpang dari langkah Rasulullah SAW. Lurusnya langkah seseorang akan ditentukan dengan ketaatannya terhadap tuntunan kitabullah, ketaatan terhadap sunnah Rasulullah SAW serta pada ulul amr di antara mereka. Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk taat kepada Allah dan taat kepada Rasulullah SAW dan ulul amr.

﴾۹۵﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An-Nisaa : 59)

Manusia berpikir dengan cara berpikir yang bermacam-macam, dan pikiran yang benar hanyalah pikiran yang terbit dari orang-orang yang selamat mengikuti tuntunan kitabullah. Di suatu negara besar dan kuat, seorang presiden memimpin bangsanya untuk kembali menjadi bangsa yang besar. Mereka kemudian merampok negara Venezuela, Iran dan Kuba untuk merampas kekayaan alam di negeri tersebut. Ini adalah cara berpikir yang salah. Besarnya suatu bangsa tidak ditentukan hanya berdasar penguasaan kekayaan di dunia, akan tetapi di antaranya adalah bagaimana setiap manusia dapat memberikan sumbangsih manfaat bagi kehidupan. Merampok negeri-negeri lain adalah contoh cara berpikir yang keliru pada manusia.

Cara berpikir keliru demikian dapat terjadi tidak hanya pada orang-orang musyrik tetapi juga orang-orang yang tidak membina diri dengan benar mengikuti langkah Rasulullah SAW, baik mereka orang kafir, orang yang tidak cukup baik mengikuti langkah Rasulullah SAW ataupun orang yang membina diri secara menyimpang. Ada presiden yang ingin mensejahterakan rakyatnya dengan makanan jasmaniah. Sebagian muslimin mengikuti ajaran orang-orang musyrik berpecah-belah dengan kebanggaan kebenaran yang mereka pahami, tidak berusaha membina persaudaraan mengikuti langkah Rasulullah SAW. Sebagian muslimin berusaha mengikuti langkah Rasulullah SAW akan tetapi tidak memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah dengan seksama. Akan muncul kerusakan-kerusakan dari apa yang mereka perbuat. Sebagian mungkin membuat kerusakan yang kecil, dan sebagian membuat kerusakan yang besar.

Untuk berbuat kebaikan, seseorang harus taat kepada Allah. Ketaatan kepada Allah hanya dapat dilakukan dengan mentaati tuntunan yang diturunkan melalui Rasulullah SAW. Rasulullah SAW merupakan satu-satunya sumber utama mengalirnya kebenaran dari sisi Allah. Setiap kebenaran dari sisi Allah mengalir melaui Rasulullah SAW baik berupa kitabullah Alquran ataupun sunnah beliau SAW. Akan tetapi walaupun sumber utamanya tunggal, kebenaran dapat ditemukan oleh makhluk mengalir melalui banyak bentuk sumber yang seluruhnya sebenarnya berpokok pada tuntunan yang diturunkan melalui Rasulullah SAW. Segala sesuatu yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW merupakan kebathilan. Tunggalnya sumber pengaliran kebenaran merupakan mekanisme kepastian bahwa Allah benar-benar menurunkan kebenaran secara haq tidak berselisih satu kebenaran dengan kebenaran yang lain. Tidak ada makhluk yang bisa mengaku mengenal kebenaran sedangkan ia bertentangan dengan apa yang disampaikan Rasulullah SAW. Tidak ada makhluk yang bisa mengaku melakukan ketaatan kepada Allah dengan menyimpang dari tuntunan Rasulullah SAW. Semua pengakuan tentang sesuatu dari sisi Allah harus dapat dibuktikan dengan tuntunan yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. Kebenaran yang diturunkan Allah bersifat menunggal dan dapat ditemukan hanya pada diri Rasulullah SAW.

Ada orang-orang yang bisa mengalirkan kebenaran dari sisi Allah kepada semesta mereka, tetapi sebenarnya hanya bersifat perpanjangan dari Rasulullah SAW. Mereka bukan makhluk yang berdiri sendiri mengalirkan kebenaran dari sisi Allah, tetapi seluruhnya bersandar kepada Rasulullah SAW. Ada makhluk-makhluk yang bisa mengalirkan potongan kebenaran dari alam yang tinggi tanpa bersandar kepada Rasulullah SAW tetapi merupakan kebenaran palsu yang menipu manusia. Ini tidak menunjukkan bahwa orang yang mengenal kebenaran tanpa mengenal sebelumnya dari ajaran Rasulullah SAW selalu merupakan kebenaran palsu. Boleh jadi mereka sebenarnya mengikuti Rasulullah SAW tetapi belum sampai mengenal Rasulullah SAW. Hanya kebenaran yang tidak dapat dibuktikan keselarasannya dengan tuntunan Rasulullah SAW merupakan kebenaran palsu. Bisa jadi kebenaran palsu itu berupa kebenaran yang bercampur dengan kebathilan, atau boleh jadi berupa kebathilan yang dibungkus dengan keindahan.

Mentaati Ulul Amri

Orang yang mengalirkan kebenaran sebagai perpanjangan dari Rasulullah SAW adalah para ulul amr, yaitu orang-orang yang mengenal urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman mereka. Ketaatan seseorang kepada Allah harus terbentuk hingga ketaatan yang nyata berupa ketaatan kepada ulul amr, tidak sebatas pada bentuk yang dipandang sebagai ketaatan kepada Allah ataupun ketaatan kepada Rasulullah SAW. Ketaatan harus terbentuk pada wujud ketaatan yang nyata layaknya ketaatan seorang isteri kepada suami, bukan hanya bentuk ketaatan kepada sesuatu yang sebenarnya belum nyata bagi seseorang. Allah merupakan dzat yang Maha Wujud, dan Rasulullah SAW benar-benar merupakan pembawa kebenaran dari sisi Allah, akan tetapi boleh jadi Maha Wujud-Nya dan kedudukan Rasulullah SAW sebenarnya tidak benar-benar nyata dalam pandangan seseorang. Kadangkala orang demikian memandang dirinya mentaati Allah dan mentaati Rasulullah SAW ketika menentang ulul amri. Pandangan ketaatan demikian merupakan ketaatan yang tidak jelas kenyataannya. Ketaatan seseorang kepada Allah harus terbentuk hingga ketaatan yang nyata berupa ketaatan kepada ulul amr.

Arahan dari para ulul amri dapat dipandang sebagai petunjuk oleh pengikutnya, sebagai perpanjangan dari petunjuk Allah kepada mereka. Tentu saja ini hanya berlaku bagi orang-orang yang mengharapkan petunjuk Allah melalui kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka bisa berupaya memahami urusan Allah melalui tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan penjelasan dari ulul amri, maka penjelasan ulul amri itu menjadi perpanjangan dari petunjuk Allah. Umat hendaknya tidak berlebih-lebihan bersikap memandang terlalu tinggi ulul amri sebagai wakil Allah hingga melupakan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan tidak pula memandang lebih rendah dari kedudukan ulul amri sebagai pemimpin yang harus ditaati. Dengan cara demikian, perkataan dari ulul amri dapat dipandang sebagai petunjuk bagi umat untuk mengenal urusan Allah dengan tepat.

Seruan para ulul amri dilakukan berdasarkan pengetahuan terhadap urusan Allah yang diturunkan kepada diri sebagai bagian dari urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman mereka. Pada pokoknya, mereka menyeru urusan yang harus ia tunaikan bersama umatnya, dan pada umumnya mereka mempunyai pengetahuan secara terbatas terhadap urusan sahabat yang terkait dengan dirinya sesuai tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mungkin saja mereka tidak selalu menyampaikan urusan Allah, maka hendaknya setiap orang berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak ada ulul amri yang mempunyai keberanian menentang tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mungkin mereka berbuat dosa tetapi mempunyai rasa takut terhadap tuntunan Allah dan sunnah Rasulullah SAW tidak berani menentangnya. Ketaatan kepada Allah akan terwujud manakala umat mentaati ulul amri berdasarkan pengetahuan terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Banyak orang tidak mempunyai kepedulian terhadap kehendak Allah maka mereka tidak mengenali ulul amri yang ada di antara mereka. Manakala suatu umat tidak mengenal ulul amri, mereka akan terpimpin oleh orang-orang yang buruk, yang mungkin saja menyamar sebagai ulul amri. Tidak sedikit kaum yang terjajah oleh kekuasan kedzaliman tanpa mengetahui jalan keluar dari kedzaliman itu. Barangkali mereka mengubah-ubah sistem pemilihan pemimpin untuk mendapatkan pemimpin yang baik akan tetapi tetap saja pemimpin yang terpilih adalah orang-orang yang dzalim di antara mereka dan kehidupan berbangsa tetap dalam keadaan buruk. Hal demikian terjadi karena sebenarnya mereka tidak mempedulikan urusan Allah yang harus ditunaikan. Para ulul amri yang ada di antara mereka mungkin tersia-sia saja tidak dapat berbuat banyak menyeru umat untuk mempedulikan urusan Allah. Umat yang bisa mengenal ulul amri di antara mereka akan menjadi mulia karena sebenarnya mereka mempunyai kepedulian terhadap urusan Allah yang harus ditunaikan.

Para ulul amri itu adalah orang yang mengenal kedudukan diri dalam Al-Jamaah mengerjakan amal berdasar urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman mereka. Ulul amri bukan orang yang bekerja hanya pada urusan diri sendiri, akan tetapi bekerja untuk mewujudkan urusan Rasulullah SAW bersama ulul amri yang lain. Manakala seseorang dipandang sebagai ulul amri hanya bekerja untuk urusan diri sendiri, barangkali mereka belum benar-benar mengetahui urusan jamaah. Satu orang dengan ulul amri yang lain mempunyai pengetahuan hubungan urusan di antara mereka. Ulul amri yang mengerjakan urusan al-jamaah akan mempunyai pengetahuan tentang hubungan dirinya dengan ulul amri yang lain yang dekat dengan dirinya. Mungkin saja satu ulul amri belum mengenal ulul amri lainnya dalam bentuk manusianya, akan tetapi mempunyai pengetahuan tentang hubungan urusan yang harus terjalin di antara sahabat ulul amri, tidak bekerja untuk urusan sendiri secara acak.

Kedudukan para ulul amri membentuk suatu barisan bershaf-shaf dengan kedudukan yang berbeda-beda. Satu atau sekelompok orang mungkin berada pada shaf lebih tinggi dibanding yang lain dan yang lain mengikuti pemimpinnya. Setiap orang harus berusaha mengikuti pemimpinnya dengan sebaik-baiknya secara bersambung hingga Rasulullah SAW. Contoh hubungan demikian misalnya dalam hubungan imam agama hingga murid-murid seorang syaikh. Seorang pemimpin agama harus memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk urusannya. Mungkin ia terhubung langsung tanpa perantara kepada Rasulullah SAW dan tinggi kedudukannya, tetapi tetap ada bentuk ketaatan yang harus ia penuhi. Shaf berikutnya, para pembimbing tazkiyatun-nafs harus mentaati imam agama mewujudkan mandat yang disampaikan imam agamanya dengan memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ketaatan terhadap imam agama merupakan bentuk ketaatan terhadap ulul amr yang harus dipenuhi pembimbing tazkiyatun-nafs. Shaf berikutnya, para murid mengikuti arahan pembimbing tazkiyatun-nafs dengan memperhatikan arahan dari pemimpin agamanya dan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Hal demikian berlaku pada setiap bidang urusan yang diturunkan kepada ulul amr, tidak terbatas pada urusan tazkiyatun-nafs. Tidak ada seseorang yang terbebas dari tugas ketaatan. Penyimpangan dari hal demikian akan menyebabkan rusaknya ketaatan.

Hubungan demikian tidak menunjukkan kemuliaan, tetapi menunjukkan suatu hirarki kaum mukminin dalam mewujudkan urusan Allah. Kemuliaan setiap makhluk ditentukan dengan ketakwaan masing-masing. Hubungan hirarki demikian terbentuk karena jati diri yang dibawa setiap manusia dengan kapasitas menanggung amanah yang ditentukan Allah. Sekalipun seseorang berada dalam kedudukan sepenuhnya sebagai pengikut tanpa ada pengikutnya, mereka bisa saja benar-benar memberikan sumbangan yang bernilai sangat besar dengan ketakwaan. Para pemimpin mungkin memperoleh pemahaman yang besar, tetapi tidak mempunyai kemampuan untuk mewujudkan tanpa bantuan para pengikutnya. Dalam banyak kasus, terwujudnya kehendak Allah lebih banyak terlihat karena pengetahuan dari masyarakat umum yang ingin menyatukan diri dalam urusan Allah. Kualitas dari pewujudan kehendak Allah ditentukan oleh ketakwaan setiap pihak yang ingin berperan mewujudkan kehendak Allah.

Ulul Amr dan Menolong Allah

Para ulul amri menyeru umat untuk mengenal urusan Rasulullah SAW dan mungkin pula menyerukan pekerjaan yang perlu dibantu dari urusan dirinya. Membantu pelaksanaan urusan ulul amri merupakan bagian dari amal shalih yang mudah ditemukan oleh umat manusia. Bekerja membantu mewujudkan seruan ulul amri merupakan bentuk amal shalih, karena sebenarnya mereka juga membantu Rasulullah SAW mewujudkan kehendak Allah. Amal yang diperintahkan ulul amri hendaknya tidak dipandang atau disikapi hanya sebagai usaha coba-coba menemukan amal shalih. Misalnya bila ulul amri memerintahkan suatu upaya membuat radar yang dapat mendeteksi pesawat-pesawat siluman musuh, amal demikian dapat digolongkan sebagai mata yang mengawasi musuh islam, bagian dari tugas pasukan Rasulullah SAW yang diturunkan melalui ulul amr. Perintah ulul amri demikian muncul karena kebutuhan yang diketahui oleh ulul amri sebagai urusan Allah, bukan urusan yang dibuat-buat oleh ulul amri untuk kebutuhan hawa nafsunya. Seandainya seseorang mempunyai potensi untuk disumbangkan dalam mewujudkan hal demikian, upaya yang dilakukan untuk mewujudkan perintah itu merupakan suatu amal shalih.

Mungkin tidak semua orang memperoleh bagian dalam perintah Allah dari ulul amri tertentu karena barangkali urusannya yang sesungguhnya turun melalui ulul amri yang lain. Seandainya seseorang membantu ulul amri dalam urusan selain dalam urusan yang ditetapkan Allah tetapi dibutuhkan ulul amri, sebenarnya ulul amri telah meneguhkan dirinya untuk melaksanakan urusan Allah maka seseorang sebenarnya membantu urusan Allah. Mungkin bukan amal shalih dalam kategori perintah Allah, tetapi tetap saja ia membantu urusan Allah yang akan mengantarkannya kepada washilah yang tepat bagi dirinya. Ulul amri itu mungkin akan mengantarkan orang yang membantunya pada ulul amri dengan urusan yang paling tepat dengan keadaan orang yang membantu. Sebenarnya ada hubungan antara satu ulul amri terhadap ulul amri yang lain, dan mereka saling membantu terlaksananya urusan Allah yang diturunkan kepada mereka hingga terwujud kehendak Allah dengan kualitas terbaiknya. Manakala ada urusan Allah pada salah satu ulul amri yang terbengkalai, mungkin ulul amr yang lain sebenarnya tidak benar-benar memperhatikan urusan Allah yang harus ditunaikan, atau tidak benar-benar mengenal urusan Allah yang harus ditunaikan.

Tidak jarang suatu kaum merasa telah berusaha mentaati Allah tetapi sebenarnya dalam keadaan mensia-siakan kebenaran yang diserukan kepada mereka maka mereka tetap dalam keadaan yang buruk. Kebaikan dari sisi Allah akan mengalir kepada orang-orang yang peduli kepada urusan Allah, yaitu dengan memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW serta mentaati ulul amri. Orang yang memperhatikan ulul amri akan tetapi mengikutinya menentang tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebenarnya tidak memperhatikan urusan Allah. Pelaksanaan perintah Allah dan ketaatan kepada Rasulullah SAW tidak dapat dilakukan dengan menentang tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan dalih mentaati ulul amri. Memperhatikan perintah Allah hanya dapat dilakukan dengan memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ada orang yang tidak mengetahui urusan Allah dan menyeru manusia untuk urusan yang mereka lakukan, maka seruan mereka tidak menjadikan seseorang menjadi mengenal urusan Allah. Ulul amr adalah orang yang mengenal urusan Allah untuk mereka bersama umatnya.

Ketaatan kepada Allah dengan memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan mendatangkan kebaikan bagi alam semesta. Urusan Allah diturunkan melalui ulul amri dan umat dapat turut serta mewujudkan kehendak Allah bersama para ulul amri di antara mereka. Urusan yang merupakan kehendak Allah adalah urusan yang ditemukan perintahnya dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kesertaan dalam mewujudkan urusan itu menjadikan seseorang beramal shalih sesuai dengan kehendak Allah, dengan berusaha memahami tuntunan kitabullah dengan mengikuti arahan ulul amri. Hal demikian telah cukup untuk beramal shalih dan akan mendatangkan kebaikan yang banyak bagi kehidupan di bumi. Adapun orang yang mengetahui perintah Allah untuk dirinya selaras dengan kitabullah, hal itu merupakan keutamaan yang lebih baik. Hal itu benar apabila tidak berselisih dengan ulul amri. Adapun jika berselisih, seseorang hendaknya mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW setelah terbukti arahan ulil amri salah berdasarkan timbangan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, bukan berdasar pendapat sendiri.