Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Kemuliaan akhlak akan mendatangkan kebaikan, baik untuk kehidupan di akhirat maupun kehidupan di bumi. Allah meneguhkan kehidupan orang-orang beriman dengan perkataan yang teguh dalam kehidupan dunia maupun untuk akhirat.
﴾۷۲﴿يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ
Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan kalimat yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki (QS Ibrahim : 27)
Seseorang yang beriman akan memperoleh pengetahuan tentang kehidupan mereka sedemikian mereka dapat melangkah dengan teguh dalam kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat dengan baik. Perkataan yang teguh itu merupakan cahaya Allah yang terpantul dari seluruh ciptaan di lelangit dan bumi yang tercerap oleh akal makhluk. Perkataan paling teguh yang dapat diperoleh seorang mukmin berupa keterbukaan terhadap kandungan kitabullah Alquran, karena setiap ayat kitabullah Alquran merupakan paket hakikat dari sisi Allah dengan cahaya yang paling terang. Perkataan yang teguh tidak terbatas pada pemahaman terhadap tuntunan kitabullah Alquran tetapi juga dapat ditemukan melalui pemahaman ayat kauniyah lainnya. Akan tetapi keteguhan ayat yang lain itu tidak sebanding dengan pemahaman terhadap kitabullah Alquran. Sangat banyak suatu perkataan yang benar terbentuk pada seseorang tanpa landasan pemahaman terhadap kitabullah Alquran. Seseorang yang demikian akan mempunyai pengetahuan tentang suatu kebenaran tetapi juga akan merasakan kekurangan dalam pengetahuannya itu. Ayat kauniyah yang terhampar pada seluruh alam kauniyah merupakan cabang-cabang yang bisa mengantarkan seseorang memahami tuntunan kitabullah Alquran. Manakala seseorang mengenali suatu tuntunan kitabullah terkait dengan pengetahuan kauniyah yang ia kenali, ia akan merasakan suatu kepuasan mengenal kebenaran pada tingkat tertingginya.
Tidak ada perkataan yang lebih baik daripada ayat kitabullah Alquran. Sekalipun dibandingkan dengan jumlah perkataan yang sangat banyak, satu ayat kitabullah Alquran yang dibukakan kandungannya lebih baik dari seluruh perkataan selain Alquran. Seandainya manusia atau makhluk di seluruh dunia bersaksi tentang kebenaran sesuatu sedangkan kitabullah Alquran mengatakan salah, atau sebaliknya, maka kesaksian makhluk itu lebih ringan daripada firman Allah. Ilmu-ilmu yang benar terkait ayat-ayat kauniyah apabila disikapi dengan benar merupakan pengantar bagi manusia dan makhluk lain untuk bisa memahami kitabullah sedemikian seseorang bisa memahami kehendak Allah dengan pengetahuan ayat kauniyah meskipun mungkin hanya sedikit. Pengetahuan yang terbuka dari tuntunan kitabullah jauh lebih besar nilainya daripada pengetahuan kauniyah saja.
Menyusun Perkataan Yang Teguh
Orang-orang beriman mudah memperoleh perkataan yang teguh bagi kehidupan dunia dan akhirat. Keterbukaan perkataan yang teguh terjadi mengikuti keterbukaan kandungan kitabullah. Kemudahan di jamaah orang beriman menyusun perkataan yang teguh terbentuk melalui susunan tertentu dalam berjamaah. Manakala seseorang beriman mengalami keterbukaan terhadap kandungan suatu ayat kitabullah Alquran bagi dirinya, ia dapat mengajak orang lain untuk mengenal perkataan yang teguh itu. Keterbukaan pengetahuan kitabullah itu ditandai keterbukaan tentang kedudukan dirinya dalam amr jami’ Rasulullah SAW. Setiap orang mempunyai kedudukan yang berbeda dengan orang lain akan tetapi terhubung melalui jalinan Al-jamaah. Orang-orang yang mengenal kedudukan dirinya dalam al-jamaah dapat mengajak orang lain untuk mengenal amr jami’ untuk ruang dan jaman mereka. Dengan demikian seluruh kaum mukminin akan dimudahkan untuk mengenal perkataan yang teguh bagi mereka.
Upaya mengenal perkataan yang teguh akan terjadi dengan benar manakala setiap orang beriman membina akhlak mulia. Kadangkala suatu kaum beriman keliru dalam membina akhlak mulia hingga tidak dapat memahami tuntunan kitabullah dengan benar. Suatu ayat kitabullah Alquran yang dibacakan mungkin saja tidak dianggap sebagai perkataan yang teguh di antara mereka karena akhlak keliru yang terbentuk. Ini menunjukkan akal yang salah bentuk. Akal yang benar akan menjadikan manusia mudah memahami perkataan yang teguh. Kesalahan semacam ini akan menghambat terbentuknya perkataan yang teguh sedemikian mereka tidak mengerti masalah yang terjadi dalam kehidupan. Boleh jadi mereka sibuk mengerjakan amal-amal yang dipandang baik akan tetapi tidak mendatangkan suatu kebaikan yang dibutuhkan dalam bermasyarakat. Kadangkala suatu kaum hanya melangkah di tempat tanpa mewujudkan perbaikan dalam kehidupan. Hal-hal demikian itu pada satu kasus terjadi disebabkan tidak tepatnya perkataan keimanan dalam kehidupan orang beriman.
Perkataan teguh di antara umat tidak berdiri masing-masing, tetapi berjamaah. Mungkin perkataan teguh itu berbeda-beda pada setiap manusia, akan tetapi berakar pada satu kebenaran dari Allah. Pada puncaknya, seseorang akan mengenal nafs wahidah dirinya sebagai bagian dari Rasulullah SAW. Satu orang mukmin tidak berusaha menegakkan perkataan yang teguh sendirian saja, tetapi berusaha dengan bersinergi satu dengan yang lain berdasar perkataan yang teguh. Masing-masing orang mengusahakan suatu bagian dari amr jami’ Rasulullah SAW, dan usaha itu dilakukan dengan susunan tertentu menurut kedudukan masing-masing orang. Tidak ada manfaat dari suatu pengetahuan yang diperoleh apabila tidak digunakan sebagai usaha menolong bagian dari urusan Rasulullah SAW, dan pengetahuan yang kecil akan mempunyai manfaat besar manakala digunakan untuk menolong Rasulullah SAW. Orang yang ingin bertakwa akan tertolong melalui orang lain apabila menginginkan mengetahui kedudukan dirinya sebagai nafs wahidah.
Kurangnya keinginan untuk memahami perkataan yang teguh menjadikan muslimin berselisih satu sama lain, sedangkan upaya mereka tidak mendatangkan kebaikan secara layak. Keinginan memahami itu harus disertai keinginan bersikap mengikuti tuntunan Rasulullah SAW, bukan waham mengikuti Rasulullah SAW. Banyak orang merasa mengikuti tetapi sebenarnya tidak memahami, maka perasaan demikian hanya dari hawa nafsu saja. Ada kaum muslimin yang merasa menjadi kelompok yang paling mengikuti sunnah tetapi sebenarnya tidak memahami sedikitpun ajaran Rasulullah SAW. Selama ratusan tahun kaum itu berpegang pada satu ajaran mengikuti Dzulkhuwaisirah yang membodohkan, dan mereka tidak mengetahui kerusakan yang mereka timbulkan dengan keyakinan bodoh mereka. Sebagian kaum merasa sebagai kelompok yang akan menjadi agen kebangkitan Islam tetapi tidak ada tanda perubahan menuju kebaikan setelah sekian waktu dan justru kehidupan masyarakat semakin berantakan. Hal demikian menunjukkan kurangnya keinginan memahami dan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW, hanya mengikuti hawa nafsu sendiri sekalipun berdasar tuntunan dan hawa nafsu itu menipu mereka.
Perkataan yang teguh itu diperoleh dengan berusaha memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan akhlak mulia. Sangat banyak muslimin berusaha memahami tuntunan Allah tetapi terjatuh pada sikap menyombongkan diri, tidak bersungguh-sungguh memahami kemuliaan yang harus diwujudkan dari tuntunan yang dipahaminya. Muslim demikian seringkali menganggap bahwa tuntunan itu pastilah kemuliaan, tetapi tidak mengetahui bahwa dirinya mungkin belum memahami kemuliaannya. Tentu benar bahwa tuntunan Allah itu mulia, tetapi pemahaman seseorang belum tentu benar. Ini tidak berarti mencegah upaya muslimin untuk menyampaikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan pemahaman yang sedikit, tetapi mencegah muslim dan mukmin bersikap keliru atau sombong dengan pengetahuannya terhadap bunyi tuntunan. Yang penting diusahakan setiap muslim adalah berusaha memahami kemuliaan dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dan berusaha mewujudkan kemuliaan itu. Perkataan yang teguh itu merupakan cahaya Allah yang dapat dipersepsi kemuliaannya oleh hamba Allah sedemikian membuat mereka termasuk sebagai orang beriman.
Perkataan yang teguh itu harus disusun terus menerus hingga semakin teguh. Satu kemuliaan yang dipahami hendaknya ditambah dengan kemuliaan lain yang mungkin baru diperoleh sedemikian perkataan mereka semakin teguh. Manakala terhenti hanya pada satu perkataan saja, manusia akan mudah terjebak pada waham. Misalnya suatu perkataan “lebih baik mengikuti kehendak Allah daripada mengejar cita-cita sendiri”, hal itu merupakan suatu potongan perkataan yang teguh. Perkataan itu akan tetap merupakan perkataan yang teguh manakala diikuti dengan langkah tazkiyatun-nafs, dan bisa berubah menjadi hanya suatu waham manakala tidak diikuti dengan tazkiyatun nafs atau langkah lain yang dapat mewujudkan pengenalan terhadap kehendak Allah. Kadangkala seseorang menjadi sombong merasa orang yang paling mengenal kehendak Allah karena suatu perkataan teguh menjadi waham. Sangat banyak ditemukan contoh lain setara kasus demikian yang dapat terjadi pada semua tingkatan keadaan manusia. Perkataan teguh orang beriman hendaknya dibentuk dari bertambahnya perkataan-perkataan yang teguh sedemikian suatu perkataan tidak menjadi hanya suatu waham.
Suatu pemahaman tentang suatu kemuliaan hendaknya tidak disia-siakan dengan selalu membangun akal yang lurus. Kadangkala manusia tertutupi oleh waham dari potongan perkataan yang teguh sedemikian mereka tidak dapat mengenali perkataan teguh yang lain. Mungkin mereka tidak memahami kemuliaannya, atau mungkin menganggap ringan kemuliaan yang disampaikan orang lain secara tidak benar. Akalnya sedikit dibentuk kemudian dibiarkan menyimpang. Kaum mukminin tidak akan memperoleh perkataan yang teguh manakala mensia-siakan kemuliaan. Tidak jarang waham itu menjadikan mereka berakhlak buruk baik berupa kesombongan ataupun sikap buruk lainnya, dan ketidakmampuan mengenali bobot perkataan teguh dari orang lain menjadi tanda akhlak buruk yang tumbuh. Itu berawal dari kesalahan mengikuti perkataan. Kesalahan dalam membina perkataan yang teguh akan menyebabkan kesesatan. Allah akan menyesatkan orang-orang yang dzalim dengan perkataan-perkataan yang tidak mendatangkan kebaikan dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat.
Kadangkala seseorang menemukan suatu kesalahan pada pemahaman yang telah ada pada dirinya manakala menemukan suatu pemahaman baru, maka kesalahan itu hendaknya diperbaiki dengan yang lebih baik. Hal demikian wajar terjadi dan Allah mudah untuk mengampuni kesalahan demikian selama seseorang berusaha memahami kemuliaan tuntunan Allah. Selama seseorang berkeingainan untuk membina akhlak mulia, Allah akan mengampuni kesalahan yang ada. Manakala suatu pemahaman menjadikan seseorang sombong, barangkali Allah tidak menghapus kesalahan yang mereka ikuti sedangkan keinginan berakhlak mulia pada mereka hanya tipis atau mungkin hanya ilusi. Perkataan yang teguh pada orang beriman itu harus selalu bertambah untuk menambahkan keteguhannya.
Kesesatan karena Perkataan Keliru
Kesalahan dalam membina perkataan yang teguh akan menyebabkan kesesatan. Allah akan menyesatkan orang-orang yang dzalim dengan perkataan-perkataan yang tidak mendatangkan kebaikan dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat. Mereka mungkin akan mengalami kesulitan dalam kehidupan di dunia dengan perkataan-perkataan mereka yang keliru tanpa landasan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan demikian pula boleh jadi mereka akan mengalami kehidupan yang sangat sulit dalam kehidupan setelah kematian di dunia. Apa yang mereka sangka sebagai cahaya mungkin sebenarnya hanya sesuatu yang akan hilang setelah kematian mereka. Keimanan mereka bisa saja tercabut dalam kehidupan di alam dunia, atau ketika di alam kubur, atau di alam makhsyar ataupun ketika berada di haudh Al-kautsar Rasulullah SAW. Setiap kehilangan keimanan pada setiap tahap kehidupan merupakan hasil dari kesesatan yang harus dihindari oleh orang beriman.
Allah menyesatkan orang-orang yang dzalim dan Dia berbuat apa yang Dia kehendaki. Allah memberitahukan kepada manusia bahwa Dia akan menyesatkan manusia yang dzalim. Bukan manusia atau syaitan yang menyesatkan, tetapi Allah yang akan menyesatkan. Akan sangat sulit bagi hamba Allah untuk mengenali kesesatan yang ditimpakan Allah kepada mereka. Hamba Allah hendaknya tidak membuat prasangka-prasangka tentang kehendak Allah terkait kedzaliman yang dia perbuat, bersikap tegas bahwa kedzaliman dirinya adalah kedzaliman. Kadang manusia menyangka Allah tidak akan menyesatkan diri mereka ketika berbuat salah, sedangkan Allah menyesatkan orang yang dzalim. Apabila seseorang dzalim, Allah mungkin akan menyesatkannya. Apabila seseorang berbuat dzalim, hendaknya ia takut akan perbuatan Allah, yaitu perbuatan-Nya menyesatkannya. Allah berbuat kepada orang dzalim sesuai dengan kehendak-Nya sendiri tidak berdasarkan prasangka makhluk-Nya, dan Dia telah memberitahukan kepada manusia bahwa Dia akan menyesatkan manusia yang dzalim.
Allah tidaklah berbuat semena-mena kepada makhluk, tetapi makhluk sendiri yang harus mengetahui perbuatan dzalim yang dia lakukan. Orang-orang yang berusaha berpegang pada tuntunan Allah yang diturunkan secara nyata berupa kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW dan membina akhlak mulia dalam dirinya tentu tidak akan disesatkan Allah. Orang yang mengikuti persangkaan sendiri menomorduakan tuntunan Allah akan mudah terjatuh berbuat dzalim hingga disesatkan. Manakala seseorang membangun keyakinan dengan mengutamakan persangkaan sendiri daripada tuntunan Allah, mereka akan terjatuh pada kedzaliman. Kadangkala orang dzalim tampak layaknya orang yang peduli tentang kandungan kitabullah sedangkan ia sebenarnya mengutamakan pendapatnya sendiri dan kadang bersesuaian dengan kitabullah. Kadangkala seseorang bersikap jelas tidak peduli dengan isi redaksi dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hanya mengikuti keyakinan sendiri. Boleh jadi seseorang membuat suatu keyakinan tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah hingga menganggap ringan perkataan orang lain yang disampaikan berdasarkan tuntunan kitabullah, maka mereka itu termasuk orang yang dzalim. Manakala seseorang telah dalam keadaan demikian, Allah sangat mungkin akan menyesatkan mereka dengan sesuatu yang dipandang benar. Keadaan ini berbeda dengan orang yang salah. Orang yang keliru dalam keyakinannya atau salah dalam usaha memahami tuntunan kitabullah mungkin saja tidak termasuk orang yang dzalim, terutama bila ada tanda ia bisa memahami perkataan yang baik apabila diberitahu. Tentu Allah tidak akan menyesatkannya, tetapi ia mungkin harus menanggung suatu akibat dari kesalahannya ataupun dihapuskan kesalahannya.
Kesesatan orang-orang yang dzalim itu akan mendatangkan kesulitan dalam kehidupan bagi umat manusia. Kesulitan ini muncul dari kekeliruan pada sumber yang mereka lakukan. Kebenaran-kebenaran yang mereka yakini boleh jadi sebenarnya merupakan kekufuran-kekufuran, dan kebathilan-kebathilan yang mereka cegah boleh jadi merupakan kebenaran yang seharusnya diwujudkan. Urusan-urusan yang dikerjakan untuk mendatangkan kebaikan seringkali justru mendatangkan kemadlaratan karena salah dalam mengidentifikasi masalah. Amal-amal yang dipandang baik seringkali sebenarnya justru merupakan amal yang buruk. Keadaan ini menjadi ciri dari suatu kesesatan yang menimpa orang atau kaum yang disesatkan. Keadaan mereka akan mendatangkan kesulitan bagi umat manusia baik kehidupan di dunia maupun di akhirat. Kadangkala kesulitan itu menimbulkan dampak yang luas bukan hanya atas diri atau kaum mereka sendiri, tetapi juga atas negeri mereka.
Misalnya terkait diangkatnya pemimpin yang dzalim. Kadangkala seseorang yang tidak dzalim berubah menjadi dzalim ketika menjadi pemimpin karena kesesatan masyarakatnya. Tentu ada andil pribadi tetapi keterbukaan kesempatan itu karena kesesatan masyarakat. Apabila seseorang yang dzalim menjadi pemimpin suatu kaum, ia akan mendatangkan masalah yang sangat banyak bagi kaum itu seluruhnya. Sekalipun program yang dibuat tampak indah untuk kebaikan bersama, pada prakteknya program itu hanya menguntungkan orang-orang tertentu saja merugikan masyarakat luas. Kasus lainnya, orang-orang yang berakal kuat seringkali kehilangan makna kehidupan manakala hidup di antara kaum yang tersesat Mereka tidak bisa memberikan manfaat bagi orang lain dan menjadi tidak mengerti untuk apa dirinya harus ada di tempat demikian. Sangat banyak fenomena buruk yang dapat terjadi pada kaum yang tersesat.