Pencarian

Jumat, 22 Mei 2026

Pengembangan Potensi Wilayah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Jalan untuk menjadi hamba yang didekatkan di antaranya adalah melakukan pemakmuran bumi. Allah menciptakan manusia dari bumi dan menjadikannya sebagai pemakmurnya. Itu adalah tugas bagi manusia yang dijadikan sebagai jalan kembali kepada-Nya. Dengan jalan demikian, Allah sebenarnya dekat kepada hambaNya dan memperkenankan doa.

﴾۱۶﴿ وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلٰهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)" QS huud ; 61)

pemakmuran bumi dapat dilakukan dengan menegakkan pilar-pilarnya. Pilar-pilar pemakmuran itu berupa : 1. Tauhid dan keikhlasan, 2. Shilaturrahmi, 3. Pengembangan potensi diri, 4. Pengembangan potensi alam, 5. Jihad, 6. Sinergi dan kesetimbangan alam, 7. Pengolahan basis data. Tegaknya pilar secara sempurna akan terjadi apabila seseorang dapat membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Pilar-pilar tersebut tidak akan dapat ditegakkan oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah. Semakin sempurna taubat seseorang kepada Allah, semakin tegak pilar yang dapat ia tegakkan.

Proses Pengembangan Potensi

Manusia ditempatkan di alam bumi pada wilayah tertentu dengan berbagai karakteristik wilayah alam. Karakteristik-karakteristik wilayah itu merupakan ayat-ayat Allah yang digelar bagi orang yang bertempat tinggal pada wilayah tersebut. Allah menggelar ayat-ayat kauniyah di alam semesta dengan berbagai lapis pengetahuan yang sangat banyak hampir tidak terbatas yang dapat diperoleh manusia. Dalam satu objek yang sama, dapat ditemukan berbagai pengetahuan oleh setiap manusia. Satu orang dapat menemukan suatu pengetahuan, dan orang lain dapat menemukan pengetahuan yang berbeda dari satu hal yang sama. Misalnya satu jenis tumbuhan bisa memberikan pengetahuan yang berbeda-beda kepada setiap orang, berbeda pengetahuan antara tukang gembala, farmakolog dan ahli teknik kehutanan. Pada setiap objek yang ada di suatu wilayah, terdapat sangat banyak pengetahuan yang dapat diperoleh oleh manusia.

Pengembangan potensi alam dilakukan dengan mengembangkan pengetahuan manusia terhadap alam sebelum pengembangannya. Alam jasmaniah pada dasarnya bersifat relatif tertentu, tetapi pengetahuan manusia penghuninya terhadap alam dapat berkembang sangat luas. Pengembangan pengetahuan itulah yang merupakan potensi pemakmuran. Setiap manusia diciptakan untuk urusan tertentu, dan urusan yang ditetapkan baginya itu sebenarnya terkait dengan wilayah tempat ia berdiam dengan segala dinamika yang terjadi. Ada orang-orang yang diciptakan untuk urusan yang sangat spesifik urusan duniawi tertentu dengan penerapan secara mendalam, ada orang-orang yang diciptakan untuk urusan yang sangat luas dengan tugas menerapkan aturan-aturan dan pengetahuan-pengetahuan dasar. Bukan berarti pengetahuannya hanya pada dasar-dasar. Sekalipun menerapkan aturan dan pengetahuan dasar, pengetahuan yang bisa diperoleh mungkin saja sangat mendalam, hanya saja tidak diberi kemampuan melaksanakan urusan secara khusus dan mendalam. Sangat banyak ragam urusan manusia yang tidak dapat disebutkan, tetapi seluruhnya berhubungan dengan tempat tinggalnya di bumi.

Setiap manusia diperintahkan untuk menjadi pemakmur bumi tempat dirinya tinggal sebagai sarana ibadah dirinya kepada Allah Yang Maha Esa. Perintah itu sebenarnya hanya akan bisa dipenuhi secara benar oleh orang-orang tertentu, yaitu orang yang memohon ampunan Allah dan bertaubat kepada Allah. Kebanyakan manusia terliputi oleh syahwat dan hawa nafsu sedemikian kesadaran untuk memakmurkan bumi mereka tidak tumbuh, sedangkan yang tumbuh justru dari benih keserakahan dan kebutuhan penghormatan dari orang lain. Kadang benih itu tumbuh sangat besar sedemikian membuahkan kerusakan bagi kehidupan di bumi. Mereka mungkin hanya berkeinginan untuk pemakmuran diri saja tidak dapat memikirkan pemakmuran bumi secara menyeluruh. Manakala seseorang memohon ampunan, nafs mereka akan dijadikan bersih dan akalnya akan tumbuh untuk dapat memahami ayat-ayat Allah, sesuai dengan yang diperkenalkan Allah bukan pemahaman yang menyimpang. Dengan pemahaman dan iktikad yang benar, mereka melakukan pemakmuran di bumi secara setimbang. Ini sangat penting sebagai modal pemakmuran.

Banyak orang yang berkeinginan baik kemudian berusaha menggunakan pikiran dan akal akan tetapi tidak disertai dengan langkah memohon ampunan dan taubat, kemudian pikiran dan akal mereka menyimpang dari hakikat yang hendak diperkenalkan Allah. Orang-orang demikian mungkin memandang bahwa apa-apa yang ada dalam pikiran dan akal mereka sangat baik dan bermanfaat, akan tetapi tidak mengetahui bahwa sebenarnya ada penyimpangan-penyimpangan di dalamnya. Kesalahan suatu pemahaman sangat wajar terjadi dan tidak berbahaya bila seeseorang dapat menyadari kesalahannya, tetapi kesalahan yang sama bisa menjadi sangat berbahaya manakala seseorang tidak memohon ampunan dan tidak bertaubat. Suatu hasil pemikiran atau akal yang menyimpang bisa menjadi sangat berbahaya di tangan orang-orang yang merasa baik dengan penyimpangannya. Memohon ampunan dan bertaubat sangat penting dilakukan oleh setiap orang yang ingin memakmurkan bumi agar tidak menimbulkan kerusakan. Taubat dalam hal ini ditunjukkan dengan sikap seseorang memperhatikan dan mengikuti kebenaran yang ditunjukkan kepadanya. Setiap orang harus bisa menyusun pemahaman terhadap kebenaran dan tetap tegak mampu melihat kesalahan yang mungkin dilakukan, tidak memandang diri sendiri suci.

Kesalahan dalam berpikir dan menggunakan akal tidak jarang membuat upaya orang-orang menegakkan kehendak Allah tidak berhasil. Seseorang atau suatu kaum mungkin berusaha menegakkan kebenaran tetapi perintah dan larangan yang diperintahkan Allah kepada mereka justru ditinggalkan karena mengikuti kebenaran dalam pikiran mereka sendiri. Mereka memandang indah kebenaran pikiran mereka sendiri yang sebenarnya telah menyimpang dari tuntunan Allah, dan mereka meninggalkan ayat-ayat yang digelar Allah karena mengikuti kebenaran dalam pikiran mereka sendiri. Tidak jarang upaya demikian mendatangkan hasil yang berkebalikan dengan kehendak Allah. Misalnya Allah berkehendak manusia menjadi pandai, sedangkan suatu ajaran yang dipandang baik mungkin justru menjadikan manusia bodoh. Hal semacam ini sangat berbahaya karena sebenarnya pikiran demikian itu seringkali datang dari syaitan. Dampaknya, orang-orang beriman yang ingin melaksanakan perintah Allah dengan benar mungkin menjadi merasa sangat payah melakukan usaha. Bisa juga masyarakat mereka justru menjadi berantakann, karena keindahan langkah mereka itu sebenarnya fitnah. Bisa saja perintah Allah yang seharusnya ditegakkan justru ditinggalkan.

Ayat-ayat Allah yang digelar di alam kauniyah harus dipahami dengan tepat. Misalnya manakala membaca kesulitan dalam kehidupan, setiap orang hendaknya menimbang dengan seksama bahwa ada kesulitan yang disebabkan kesalahan sendiri sebagai adzab, dan ada kesulitan karena Allah menguji kehidupan manusia. Manakala suatu kaum mengingkari atau menghalangi pelaksanaan petunjuk Allah, kesulitan demikian harus dibaca sebagai adzab bagi mereka tidak boleh dipandang sebagai ujian yang membersihkan jiwa. Hanya orang yang menyadari kesalahan dan kekufuran mereka terhadap nikmat petunjuk yang akan dibersihkan jiwanya. Orang yang memandang kesulitan mereka sebagai pembersihan tanpa menyadari kesalahan diri akan selalu terlilit kesulitan sebagai adzab karena kebodohan mereka dalam membaca tuntunan Allah. Adzab itu tidak akan membersihkan dosa hingga mereka menyadari sebab-sebab dari adzab yang turun dan memohon ampunan atas kesalahan.

Setiap orang harus membangun keyakinan terhadap suatu kebenaran yang dapat dipahaminya, dengan tidak menutup pikiran dan akalnya untuk menerima penjelasan kebenaran yang lebih baik. Ia hendaknya bisa berpegang kuat terhadap kebenaran yang dapat dipahaminyan tanpa meragukannya, tetapi harus tetap bisa melihat kemungkinan adanya kekurangan atau kesalahan dalam pemahamannya dan mengerti manakala ada yang menjelaskan dan tetap bisa melihat kebenaran pada sesuatu yang lebih baik. Suatu hakikat akan terbuka apabila seseorang memahami ayat kauniyah dengan tepat, berupa keterbukaan makna kandungan ayat kitabullah terkait dengan ayat kauniyah yang diperhatikan. Itu akan menjadi sumber pemakmuran.

Setiap orang harus menghormati potongan-potongan kebenaran dengan selayaknya dalam membaca ayat-ayat Allah agar terbentuk pengetahuan yang benar. Orang atau kaum yang sering mengabaikan kebenaran akan mudah terjatuh pada kesesatan. Orang-orang yang benar di antara kaum itu akan mudah disingkirkan dari kedudukannya, dan kaum itu menjadi sesat tanpa menyadarinya. Kedua hal itu merupakan tanda dari kesombongan. Suatu kebenaran akan terbangun dari potongan-potongan kebenaran, dan kebenaran tidak akan dikenali oleh orang-orang yang tidak menghormati kebenaran. Misalnya dalam melakukan suatu penelitian, setiap orang harus menggunakan metode yang benar, tidak boleh menggunakan metode-metode yang telah diketahui salah. Ini merupakan bentuk penghormatan terhadap kebenaran. Manakala seseorang menggunakan metode yang jelas diketahui kesalahannya, hasil-hasil yang diperoleh dari penelitian itu akan salah atau tidak berguna. Manakala hasil penelitian menunjukkan potensi yang besar, potensi itu sangat mungkin hanya ilusi. Manakala hasil penelitian menunjukkan bahaya yang besar, bahaya itu sebenarnya mungkin tidak ada. Penelitan itu tidak mendatangkan hasil karena metode yang salah. Hal semacam ini berlaku pada setiap upaya membaca ayat-ayat Allah tidak hanya dalam penelitian. Setiap orang harus menghormati potongan kebenaran dalam membaca ayat-ayat Allah.

Pengetahuan yang benar tentang ayat-ayat Allah yang digelar di alam kauniyah akan menjadi modal bagi seseorang untuk melakukan pemakmuran bumi. Setiap orang sebenarnya mempunyai objek pengamatan pada ayat-ayat Allah yang terjadi di wilayah mereka. Pengetahuan yang benar terkait ayat-ayat Allah dapat digunakan setiap orang untuk melaksanakan penghambaan kepada Allah. Penghambaan (ibadah) setiap manusia kepada Allah pada dasarnya bukan hanya berbentuk syariat-syariat yang ditentukan, tetapi juga berbentuk amal-amal jasmaniah yang mendatangkan mashlahat bagi kehidupan dunia. Upaya pemakmuran alam dunia yang dilakukan dengan hati yang bersih oleh orang-orang yang bertaubat kepada Allah merupakan bentuk ibadah yang ditentukan Allah bagi setiap orang. Semakin banyak pengetahuan ayat Allah yang diperoleh oleh orang yang bertaubat, semakin besar potensi pemakmuran yang dapat dilakukan di suatu wilayah.

Pemakmuran bagi orang berakal bukan berbentuk berlimpahnya harta benda dunia. Pengusahaan kelimpahan harta benda dunia merupakan beban tanggung jawab yang besar di hadapan Allah. Hal ini tidak berarti orang berakal hanya menginginkan kecukupan makan saja. Adanya pemikiran demikian pada seorang pemimpin bisa dicurigai merupakan tanda kuatnya loby dari orang-orang yang bisa mencari keuntungan dari tatanan masyarakat yang rusak. Tidak pula berarti orang berakal menginginkan kekurangan dalam pemenuhan kebutuhan. Kemakmuran yang diharapkan oleh orang-orang berakal berupa bermanfaatnya pengetahuan yang ada pada mereka bagi kesejahteraan masyarakat dan alam semesta. Bentuk berlimpahnya harta benda duniawi dapat diterima oleh orang-orang berakal manakala diperoleh dari pemanfaatan pengetahuan yang ada pada mereka. Manakala ilmu pengetahuan yang ada pada diri mereka tidak bisa memberikan manfaat bagi masyarakat, orang berakal akan merasa sedih atau sengsara bukan karena kekurangan harta benda, tetapi karena kurangnya akal masyarakat untuk mengenal nilai ilmu pengetahuan. Dewasa ini, kebanyakan manusia menginginkan kelimpahan harta benda dunia tanpa perlu mengetahui kadar pengetahuan yang ada pada diri mereka. Ini merupakan bentuk kemakmuran semu.

Manusia sebagai Kunci Pengembangan

Manfaat dari pengetahuan yang diperoleh manusia akan sangat bergantung kepada orang-orang yang menguasainya. Pemakmuran bumi tidak hanya ditentukan oleh orang-orang yang memegang pengetahuan saja. Manakala seseorang yang shalih mempunyai pengetahuan yang banyak tentang ayat-ayat Allah, ia mempunyai potensi pemakmuran bumi yang besar. Sebaliknya manakala seseorang yang jahat mempunyai pengetahuan yang banyak, mereka mempunyai potensi yang besar untuk merusak. Terwujudnya potensi yang baik itu akan mudah apabila para penguasa tatanan manusia mempunyai keinginan yang baik atas pengetahuan yang ada di antara mereka, dan seringkali menjadi sia-sia manakala penguasa mereka orang yang bodoh atau jahat. Pemakmuran bumi bergantung kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan baik dari sisi kualitasnya ataupun kuantitasnya.

Khalifatullah sebenarnya adalah pemimpin pemakmuran bumi. Dalam tatanan semesta, khalifatullah merupakan perpanjangan dari kedua uswatun hasanah. Tatanan itu merupakan bayangan dari tatanan tajalli Allah, di mana Ar-Rahman dan Ar-Rahiim adalah inti tajalli Allah sedangkan Malik merupakan nafakh ruh Ar-Rahman sebagai perpanjangan dari tajalli inti. Hal ini menunjukkan bahwa pemakmuran bumi hanyalah perpanjangan dari terbinanya sifat rahman dan rahim. Setiap orang harus membina akhlak mulia berupa sifat rahman dan rahim terlebih dahulu, maka ia akan memperoleh kemampuan untuk melakukan pemakmuran bumi dengan benar menggunakan pengetahuan ayat-ayat Allah.

Dalam realitas kehidupan bumi, pengetahuan tentang alam kauniyah dengan mudah diperoleh oleh setiap orang sekalipun apabila ia tidak memperhatikan tuntunan Allah. Pengetahuan itu bisa berupa pengetahuan yang benar, bisa pengetahuan yang salah, atau bisa berupa suatu pengetahuan setengah kebenaran. Banyak pengetahuan duniawi bersifat netral, bisa digunakan untuk kebaikan ataupun kejahatan. Orang-orang yang jahat bisa menggunakan pengetahuan-pengetahuan duniawi yang benar untuk keuntungan mereka secara curang dengan semangat parasitis mencampurkan ilmu pengetahuan dalam metode mereka. Tugas orang beriman adalah merangkai pengetahuan dari potongan-potongan pengetahuan yang benar agar pengetahuan yang mereka susun mendatangkan manfaat yang besar bagi pemakmuran bumi. Rangkaian pengetahuan dan pemanfaatannya itulah yang akan mudah tersambung dengan tuntunan ayat-ayat kitabullah sehingga seseorang bisa mudah mengenal kehendak Allah dengan pengetahuan duniawinya.

Dewasa ini bisa dikatakan bahwa usaha orang jahat menggunakan pengetahuan untuk kehidupan manusia dilakukan lebih intensif daripada orang-orang beriman. Misalnya penggunaan perhitungan dalam muamalah, perhitungan keuangan dan ekonomi hingga saat ini banyak menggunakan sistem riba yang merugikan. Pengembangan teknologi nuklir banyak dimanfaatkan oleh orang-orang jahat untuk membuat bom yang merusak bukan pengembangan energi yang bersih. Jaringan komputer pada dasarnya dikembangkan untuk kepentingan tentara untuk memperoleh keunggulan atas pihak lain. Banyak penggunaan pengetahuan secara intensif dilakukan untuk kepentingan orang-orang yang sebenarnya jahat, dibanding penggunaannya oleh orang yang baik. Masyarakat umum dan muslim secara umum bersikap pragmatis sekadar berusaha menemukan kehidupan yang layak dalam tatanan yang sudah ada tanpa perlu memikirkan tuntunan yang harus diwujudkan dari sisi Allah. Sebagian orang beriman barangkali berusaha untuk lebih mengenal semesta diri mereka, tetapi mungkin terhenti hanya pada permulaannya saja karena akal yang kurang berkembang atau justru terkekang dengan aturan yang keliru. Inisiatif di antara mukminin untuk mencari pengetahuan secara lebih luas tampak kurang tumbuh, atau manakala tumbuh terkendala atau terkekang dengan batasan yang tidak perlu. Usaha demikian itu menjadikan potensi alam mereka tidak berkembang karena akal masyarakat yang kurang berkembang.

Selasa, 19 Mei 2026

Pengembangan Potensi Manusia sebagai Pilar Pemakmuran

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Jalan untuk menjadi hamba yang didekatkan di antaranya adalah melakukan pemakmuran bumi. Allah menciptakan manusia dari bumi dan menjadikannya sebagai pemakmurnya. Itu adalah tugas bagi manusia yang dijadikan sebagai jalan kembali kepada-Nya. Dengan jalan demikian, Allah sebenarnya dekat kepada hambaNya dan memperkenankan doa.

﴾۱۶﴿ وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلٰهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)" QS huud ; 61)

pemakmuran bumi dapat dilakukan dengan menegakkan pilar-pilarnya. Pilar-pilar pemakmuran itu berupa : 1. Tauhid dan keikhlasan, 2. Shilaturrahmi, 3. Pengembangan potensi diri, 4. Pengembangan potensi wilayah, 5. Jihad, 6. Sinergi dan kesetimbangan alam, 7. Pengolahan basis data. Tegaknya pilar secara sempurna akan terjadi apabila seseorang dapat membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Pilar-pilar tersebut tidak akan dapat ditegakkan oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah. Semakin sempurna taubat seseorang kepada Allah, semakin tegak pilar yang dapat ia tegakkan.

Kepedulian terhadap Potensi Manusia

Pemakmuran akan terlaksana apabila potensi manusia yang menghuni bumi berkembang dengan baik dan dapat mengerjakan tugas-tugas terkait kedudukan diri mereka. Setiap orang pada dasarnya ditugaskan untuk mengerjakan tugas-tugas tertentu di alam dunia ini sebagai sarana untuk mengenal Allah. Untuk tugas-tugas itu, masing-masing manusia sebenarnya diberi potensi kekuatan untuk melaksanakan tugas yang harus diemban. Kekuatan itu bukan hanya berbentuk pengetahuan tetapi juga keterampilan untuk membangkitkan proses perubahan seperti yang diharapkan. Kekuatan-kekuatan itu seringkali tersembunyi dari pandangan masing-masing dan setiap orang harus berusaha untuk membangkitkan potensi kekuatan yang diberikan kepada diri mereka.

Potensi setiap diri manusia terkait erat dengan ayat-ayat Allah yang terjadi pada alam kauniyah diri mereka dan kedudukan diri dalam Al-Jamaah. Potensi diri manusia akan bangkit mengikuti akalnya apabila mereka mengerjakan urusan yang diberikan. Seseorang yang berada pada keadaan yang tepat akan lebih mudah untuk melihat ayat-ayat Allah yang terhampar bagi dirinya, sehingga ia bisa memahami potensi dirinya dengan lebih mudah. Demikian pula manakala seseorang berada pada suatu Al-Jamaah yang mengerti urusan jaman mereka akan lebih mudah untuk mengenal potensi diri mereka untuk disumbangkan kepada Al-Jamaah karena telah terarahnya urusan yang dikerjakan, dan ia akan mudah menempatkan diri pada langkah Al-Jamaah berdasarkan potensi yang ada pada diri masing-masing. Manakala seseorang hidup di antara kaum yang kafir, mungkin ia tidak nmemperoleh kemudahan untuk mengenal urusan yang perlu dilakukan.

Pengembangan potensi manusia harus dilakukan agar seseorang atau suatu bangsa mempunyai kemampuan untuk membangkitkan proses pemakmuran di bumi. Pembinaan potensi manusia dapat dilakukan dengan memperhatikan ayat-ayat Allah pada kauniyah mereka hingga orang-orang pada suatu kaum mengetahui perilaku objek pada ayat Allah yang diperhatikan. Pembinaan itu harus dilakukan hingga terbentuk pengetahuan yang benar dan mendasar terkait kehidupan alam bumi dan terbentuk keterampilan melakukan proses pemakmuran berdasarkan pengetajhuan itu. Keterampilan demikian hendaknya disertai kemampuan bekerja bersama dengan orang lain. Kebanyakan orang harus dibina agar dapat bekerjasama dengan orang lain untuk melakukan proses, tidak boleh dibina hanya untuk bekerja sendirian. Hanya sebagian kecil orang yang seharusnya bekerja dengan sedikit orang atau sendiri.

Masyarakat mempunyai pengaruh yang besar dalam pembinaan potensi manusia di antara mereka. Ada bentuk budaya yang harus diperhatikan agar potensi manusia yang ada pada mereka berkembang dengan baik, dan ada budaya-budaya buruk yang mempersulit pengembangan potensi manusia. Kaum yang menggunakan akal untuk memahami tuntunan Allah akan menjadi kaum yang menyuburkan pembinaan potensi manusia selama mereka tidak menyimpang dalam menggunakan akal. Kadangkala suatu kaum merasa berbudaya baik sedangkan mereka membunuh potensi manusia di antara mereka. Ada bermacam-macam pola pembunuhan potensi yang dapat terjadi. Mungkin ada orang yang mempunyai pengetahuan yang baik tidak diberi tempat untuk mengembangkan keterampilan memakmurkan bumi berdasarkan pengetahuannya. Mungkin ada orang yang ingin mengabdi kepada Allah justru diperbudak untuk mengabdi secara keliru bukan dikembangkan pengetahuannya mengenal urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman. Kadangkala orang-orang yang mempunyai potensi yang terlihat berbeda kemudian tidak dihormati potensi dirinya. Banyak macam budaya yang bisa membunuh pengembangan potensi manusia. 

Budaya yang menyuburkan pertumbuhan potensi manusia ditumbuhkan melalui pilar tauhid dan shilaturrahmi. Masyarakat yang bertauhid dan membangun shilaturrahmi akan bisa menghormati secara benar setiap perkembangan manusia, tidak terjebak menghakimi orang-orang berdasarkan selera masing-masing. Dengan tauhid masyarakat memperleh landasan yang kokoh dalam menilai kebenaran, dan dengan shilaturrahmi setiap komponen masyarakat bisa membangun kesepahaman dalam melangkah terhindar dari prasangka buruk. Hal ini pada dasarnya berlaku timbal balik. Manakala suatu kaum mudah terjebak dalam prasangka buruk sebenarnya shilaturrahmi di antara mereka buruk. Demikian pula manakala kebenaran yang mereka anut dalam keadaan kacau, tauhid di antara mereka sebenarnya tidak lurus. Kadangkala suatu kaum merasa bertauhid sedangkan kebenaran di antara mereka tersia-sia dan prasangka buruk terhadap orang-orang yang menyampaikan kebenaran begitu kuat. Kadangkala mereka sedemikian terhalangi untuk berprasangka baik terhadap orang lain hingga bisa saja seseorang dibuat memandang buruk jodohnya hanya berdasar perasaan, atau bahkan seorang isteri dibuat memandang buruk suaminya atau sebaliknya karena dihambatnya proses komunikasi di antara mereka. Hal itu menunjukkan rusaknya shilaturrahmi di antara mereka. Hal demikian itu bisa menjadi tanda bahwa pengembangan potensi manusia di antara mereka sebenarnya sangat buruk atau justru sebenarnya terjadi perusakan potensi manusia.

Pengembangan potensi manusia harus dilakukan mengarah pada terbentuknya masyarakat bertauhid dan bershilaturrahmi mewujudkan kebenaran dan kasih sayang di antara manusia,. Potensi diri masing-masing orang di antara masyarakat harus digunakan sebagai alat untuk dapat memberikan manfaat diri dengan sebaik-baiknya. Manakala orang bertauhid dan bershilaturrahmi tidak mempunyai pengetahuan dan keterampilan, manfaat yang muncul di antara mereka hanya sedikit hingga pemakmuran mungkin tidak terjadi. Sebaliknya, manakala pengembangan potensi tidak berlandaskan tauhid dan shilaturrahmi, berkembangnya potensi manusia itu bisa berbalik menimbulkan kesengsaraan bagi masyarakat. Kerusakan pengembangan potensi manusia banyak yang terjadi bukan karena berkurangnya penguasaan pengetahuan dan keterampilan, tetapi karena rusaknya arah pembinaan manusia. Orang-orang yang dibina agar berpengetahuan dan terampil kemudian membuat langkah-langkah yang merugikan masyarakat, tidak berbuat yang terbaik bagi masyarakat. Ini merupakan akhlak yang buruk.

Pengembangan potensi manusia harus dilakukan sedemikian seseorang memperoleh kedudukan yang terbaik untuk memanfaatkan potensi yang berkembang pada diri mereka. Semakin kokoh kedudukan yang diberikan kepada seseorang, ia akan semakin mudah berusaha untuk memberikan manfaat kepada masyarakatnya. Demikian pula sebaliknya, semakin lemah kedudukan yang diberikan kepada seseorang, semakin banyak kesulitan ditemukan seseorang dalam upaya memberikan manfaat dari potensi dirinya. Manakala seseorang dicabut dari kedudukan yang seharusnya, mereka akan kesulitan untuk memberikan manfaat dirinya. Setiap orang harus diberi kedudukan yang layak sesuai dengan kemampuan dirinya tidak dihalangi untuk memberikan manfaat. Seseorang yang sangat berpotensi besar sekalipun tidak akan bisa memberikan manfaat kepada orang lain apabila tidak memperoleh kedudukan yang layak.

Kedudukan paling mendasar bagi seseorang untuk memberikan manfaat bagi masyarakat berdasar potensi yang diberikan Allah adalah kedudukan dalam keluarga. Kokohnya kedudukan seseorang dalam keluarga akan menambahkan kekuatan kedudukan dirinya di masyarakat. Demikian pula manakala seseorang kehilangan kedudukan dirinya dalam keluarga, ia bisa kehilangan seluruh kedudukan sosialnya. Bila suatu masyarakat tidak memperhatikan azas demikian, mereka sebenarnya tidaklah memperhatikan pengembangan potensi manusia di antara mereka dengan benar. Kadangkala suatu masyarakat terwahami suatu keinginan untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas akan tetapi tidak memperhatikan kedudukan dasar manusia yang harus diberikan, maka sebenarnya mereka hanya mengikuti hawa nafsu saja. Setiap orang harus diberikan hak untuk hidup berkeluarga dengan sebaik-baiknya. Para lajang diberi haknya untuk menemukan pasangan yang terbaik bagi dirinya. Para suami diberi hak untuk membimbing dan mengajak keluarganya untuk beribadah kepada Allah, dan para isteri dibina untuk bisa memahami amal shalih suaminya tidak hanya dididik menuntut suami untuk mengejar keinginan isterinya. Bila hak demikian dilanggar, tidak ada pengembangan potensi manusia yang dilakukan dengan benar.

Orang yang telah berkembang akalnya dalam memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hendaknya didukung sedemikian mereka dapat memberikan manfaat diri mereka dengan sebaik-baiknya. Perkembangan akal pada diri seseorang itu ditunjukkan dengan kemampuan memahami perintah-perintah yang ada pada suatu ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW baik perintah yang tertulis ataupun penjelasan-penjelasan yang tersirat dibalik segala sesuatu yang tertulis. Kalam kitabullah bagi orang-orang demikian merupakan kalam yang berbicara, dan mereka menghidupkan sebagian pemahaman dan semangat Rasulullah SAW dalam kalam itu. Itu adalah tanda dari akal yang berkembang pada diri seseorang sehingga layak didukung, bukan orang yang mencomot apa yang ada dalam kitabullah untuk mencari keuntungan sendiri.

Mengentaskan Penjajahan

Setiap elemen masyarakat hendaknya mempunyai kepedulian terhadap pengembangan potensi manusia di antara mereka. Pengembangan potensi manusia dapat dibentuk oleh setiap masyarakat tidak harus bergantung pada pemerintah. Dalam beberapa kasus, pemerintah suatu masyarakat sebenarnya hanyalah administratur penjajahan atas suatu negeri yang justru berfungsi untuk menghambat kemajuan suatu bangsa. Tatanan yang dirumuskan administratur tidak jarang menimbulkan kerugian yang banyak bagi kehidupan bermasyarakat. Banyak kalangan mungkin merasa kehidupannya dipersulit oleh pemerintah. Ini tidak bersifat umum seluruhnya. Boleh jadi ada banyak aparatur pemerintah yang mempunyai keinginan besar memakmurkan kehidupan bangsa, akan tetapi mereka terikat pada tatanan yang lebih besar sedemikian hanya dapat berusaha secara terbatas. Dalam keadaan demikian, masyarakat sendiri harus berusaha mengembangkan potensi manusia yang ada di sekitar mereka agar tumbuh manusia-manusia yang bertauhid dan mempunyai kasih-sayang yang besar dengan sesama. Membuat perlawanan-perlawanan tanpa suatu konsep berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak jarang menjebak manusia dalam kekacauan, justru membuat kerusakan yang banyak terhadap tatanan dan kesejahteraan masyarakat.

Dalam agama, kemerdekaan atau penjajahan atas suatu kaum bukanlah sesuatu yang bersifat esensial karena hanya merupakan cerminan dari keadaan nafs manusia pada kaum tersebut. Para pengikut nabi Isa a.s diperintahkan untuk memberikan koin pajak kepada raja sebagai hak raja. Ajaran nabi Isa a.s belum mengajarkan pembebasan diri dari penjajahan dalam tingkat duniawi. Mengikuti ajaran demikian bukanlah suatu kesalahan. Dalam Islam, penjajahan merupakan manifestasi dari keterjajahan manusia terhadap hawa nafsu atau waham diri sendiri. Apabila suatu kaum bisa memahami kebenaran dan mengikutinya, maka penjajahan akan tersingkir dari kaum tersebut bila disertai dengan perjuangan menegakkan pilar-pilar kebenaran. Penjajahan atas suatu kaum tidak akan terangkat manakala masyarakat tidak memahami kebenaran yang diturunkan Allah dan berjihad untuk menegakkannya. Keadaan diri mereka sendiri itulah yang menjajah mereka. Masyarakat yang rakus akan terjajah dengan kerakusannya, masyarakt yang bodoh akan terjajah dengan kebodohannya dan seterusnya. Kadangkala suatu bangsa terlilit dalam penjajahan yang rumit. Penjajahan akan terangkat manakala suatu masyarakat terbentuk sebagai orang yang mampu memahami kebenaran hingga dapat diperjuangkan untuk menggantikan tatanan penjajahan. Konsep ekonomi, keuangan, perbankan dan semua aspek kehidupan yang lain berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW harus dipersiapkan terlebih dahulu oleh suatu kaum untuak menggantikan tatanan penjajahan, maka penjajahan itu dapat disingkirkan dengan cara yang baik dari mereka. Tanpa suatu persiapan, menghapuskan penjajahan seringkali tidak dapat terwujud dengan baik. Kadangkala suatu bangsa tampak merdeka tetapi sebenarnya tetap dalam kungkungan penjajahan. Memahami kehendak Allah dengan benar merupakan kunci menyingkirkan penjajahan dari suatu bangsa. Manakala suatu kaum mengikuti kebenaran yang salah, mereka tidak akan terbebas dari penjajahan atas diri mereka.

Usaha mengembangkan potensi manusia secara mandiri dapat dilakukan masyarakat setidaknya dengan tidak merusak kedudukan dasar seseorang. Seorangpun tidak boleh diganggu kedudukan dasarnya tanpa suatu alasan yang dibenarkan, terlebih lagi orang yang membangun tauhid di masyarakat. Lebih baik lagi apabila masyarakat bisa mendukung upaya membangun masyarakat untuk bertauhid. Untuk hal itu, kaum muslimin hendaknya memperhatikan kebenaran agar dapat mendukung dan tidak menghalangi seseorang mendatangkan manfaat. Bila muslimin hanya mengikuti kebenaran yang mereka tentukan sendiri tanpa berlandaskan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka mungkin justru akan membunuh potensi sumber daya manusia yang ada di antara mereka. Mungkin saja orang-orang yang berjuang untuk menegakkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW justru menjadi orang-orang yang tersingkir karena kaum muslimin hanya mengikuti kebenaran mereka sendiri tanpa memperhatikan asas-asas sikap dan tindakan mereka dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Hal demikian menambah kesulitan bagi orang-orang yang berusaha meningkatkan potensi sumber daya manusia.

Kamis, 14 Mei 2026

Beberapa Pilar Pemakmuran

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Penyaksian terhadap risalah Rasulullah SAW merupakan bukti kebenaran musyahadah seseorang terhadap Ilahiah Allah. Musyahadah terhadap risalah itu secara tersirat dijadikan sebagai bagian dari ummul kitab. Dalam umul kitab, musyahadah itu sebenarnya tidak berdiri sendiri. Seorang mukmin yang benar kesaksiannya terhadap risalah sebenarnya juga akan mempunyai pengetahuan tentang khalilullah Ibrahim a.s sebagai uswatun hasanah, dan juga mempunyai pengetahuan tentang khalifatullah sebagai perpanjangan bayangan Rasulullah SAW di alam bumi.

﴾۳﴿الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
﴾۴﴿مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
(3)Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (4) Raja di Hari Agama (QS Al-Faatihah : 3-4)

Allah memperkenalkan diri-Nya kepada makhluk dalam berbagai derajat. Derajat tertinggi adalah asma Ar-Rahman yang beristiwa di atas ‘Arsy. Pada derajat yang berdekatan, Allah memperkenalkan diri-Nya dengan asma Ar-Rahim, berkedudukan sangat tinggi melekat pada ‘arsy. Rasulullah SAW merupakan insan paling sempurna yang diberi kemampuan memanifestasikan asma yang tertinggi Ar-Rahman, dan nabi Ibrahim a.s merupakan insan yang diberi kemampuan memanifestasikan asma Ar-Rahiim secara sempurna. Kedua insan tersebut merupakan uswatun hasanah yang memanifestasikan asma Allah dengan benar sepanjang masa. Kedua asma itu dipanjangkan bayangannya hingga asma yang bertakhta di Kursy sebagai Malik (raja), dan khalifatullah Al-Mahdi merupakan insan yang diberi kemampuan memanifestasikan asma Malik.

Derajat-derajat tajalliat di atas menunjukkan tingkatan fundamen jalan kembali kepada Allah. Jalan kembali itu hendaknya ditempuh oleh setiap hamba Allah dengan memperhatikan tingkatan tersebut dimulai dengan membina sifat rahman seperti Rasulullah SAW, sifat rahim seperti khalilullah hingga melakukan pemakmuran bumi sebagaimana khalifatullah. Ibadah setiap manusia berbentuk pemakmuran bumi yang harus dilakukan sesuai dengan penciptaan diri dan keadaan masing-masing dalam bentuk amal-amal. Untuk melakukan pemakmuran, setiap orang harus membina diri mengikuti tuntunan uswatun hasanah. Pemakmuran tidak akan benar-benar dapat dilakukan apabila tidak terbangun sifat rahman dan rahim pada diri manusia yang melaksanakannya.

Sifat rahman ditunjukkan dengan kemampuan seseorang untuk memahami kehendak Allah yang digelar melalui ayat-ayat-Nya, selaras antara ayat kauniyah dengan ayat kitabullah. Sifat ini merupakan pembentuk utama akhlak mulia. Sifat rahman terbentuk melalui pembinaan akhlak hamba Allah sebagai misykat cahaya yang dapat membentuk bayangan dari cahaya Allah. Sifat rahim merupakan pembentuk akhlak mulia yang akan mendukung terbentuknya sifat rahman pada diri seseorang. Tanpa adanya sifat rahim, sifat rahman tidak akan terbentuk pada diri seseorang. Manakala seseorang membentuk sifat rahman tanpa membina sifat rahim, bayangan cahaya Allah yang terbentuk bisa kacau, tidak benar dalam membentuk bayangan kehendak Allah. Pemakmuran bumi yang sebenarnya akan terbentuk manakala sifat rahman dan sifat rahim telah terbentuk. Semakin besar sifat rahman dan sifat rahim terbentuk, semakin besar pula potensi pemakmuran yang dapat diwujudkan oleh suatu kaum.

Pilar-Pilar Pemakmuran

Suatu pemakmuran terbentuk melalui upaya suatu kaum, bukan upaya perorangan, dan masing-masing orang bisa menyumbangkan pemakmuran. Tingkat pemakmuran yang dapat disumbangkan ditentukan dengan akhlak yang terbentuk pada diri masing-masing. Terdapat pilar-pilar yang harus ditegakkan untuk melakukan pemakmuran. Pilar pemakmuran adalah kumpulan prinsip yang harus diperhatikan untuk melaksanakan proses pemakmuran. Semakin lengkap pilar pemakmuran ditegakkan, kemakmuran yang dapat terbentuk akan semakin kokoh. Pilar pemakmuran berupa aspek-aspek rahmaniah yang dapat dikenal oleh manusia, dapat berkembang dari pokok-pokoknya hingga cabang dan ranting yang lebih terinci. Kesempurnaan pemakmuran bangsa akan terwujud pada masa khalifatullah Al-Mahdi.

Pilar-pilar pemakmuran secara lengkap akan termanifestasikan oleh khalifatullah Al-Mahdi, akan tetapi kaum mukminin boleh saja memperkirakan pilar-pilar yang akan ditegakkan sebagai sarana untuk melakukan pemakmuran, terutama bila dilakukan untuk membantu Rasulullah SAW dan khalifatullah. Pada dasarnya setiap orang bisa memperoleh pengetahuan urusan dirinya sebagai bagian dari urusan Rasulullah SAW dan khalifatullah. Perkiraan dalam pernyataan di atas boleh dilakukan dengan menghitung berdasar pengetahuan parsial diri. Sebagian ulama memberikan beberapa pedoman tentang pilar-pilar tersebut secara garis besar misalnya dengan menyebutkan adanya tujuh pilar. Boleh saja mukminin lain berusaha menelisik upaya yang dapat atau harus dilakukan untuk membantu urusan sang Imam. Bangsa Iran dalam hal ini terlihat sangat mengharapkan kedatangan khalifatullah dengan menegakkan pilar jihad.

Dengan mengharap memahami kebenaran, penulis berusaha mengidentifikasi pilar-pilar yang perlu ditegakkan untuk mewujudkan pemakmuran untuk membantu terselenggaranya amr Allah. Pilar-pilar itu dapat disebutkan berupa : 1. Tauhid dan keikhlasan, 2. Shilaturrahmi, 3. Pengembangan potensi diri, 4. Pengembangan potensi wilayah, 5. Jihad, 6. Sinergi dan kesetimbangan alam, 7. Pengelolaan dan basis data

Tegaknya pilar secara sempurna akan terjadi apabila seseorang dapat membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Pilar-pilar tersebut tidak akan dapat ditegakkan oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah. Semakin sempurna taubat seseorang kepada Allah, semakin tegak pilar yang dapat ia tegakkan. Misalnya Imam Khameini bersama bangsa Iran terlihat telah berjuang menegakkan pilar jihad melawan kedzaliman. Bayangan paling dekat Imam Khameini tampak pada IRGC yang secara senyap berhasil menegakkan jihad perlawanan secara memadai terhadap kedzaliman. Bayangan lebih jauh, bangsa Iran secara hampir menyeluruh mempunyai integritas dalam menegakkan jihad sebagai p[ilar pemakmuran. Barangkali mereka tidak terlihat kaya raya ataupun megah pada semua aspek, akan tetapi bisa tampil bermartabat dengan kekuatan tempur yang sangat kuat. Sekilas pilar-pilar yang lain juga tumbuh baik tidak buruk akan tetapi tidak terlihat sekuat kekuatan jihad mereka. Tegaknya pilar pemakmuran demikian terjadi apabila ada seseorang yang berhasil membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Alangkah baiknya bila kaum muslimin yang lain bisa belajar dari bangsa Iran dalam menegakkan pilar jihad untuk negeri masing-masing, dan meneruskan jihad sang Imam dari negeri masing-masing.

Pilar Tauhid

Pilar tauhid dan keikhlasan harus dibina oleh setiap orang dan setiap bangsa. Pada intinya, tauhid dan keikhlasan bertujuan membentuk manusia untuk bisa mengenal kehendak Allah, berbentuk pembinaan akhlak menuju kemuliaan, dimulai dari ucapan syahadatain dan diikuti proses tazkiyatun-nafs, membina akhlak sebagai misykat cahaya hingga membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, dan kemudian dijadikan hamba yang didekatkan. Tauhid demikian akan menjadikan seseorang atau suatu bangsa mengalami proses pembinaan akhlak menuju kemuliaan. Dewasa ini pilar tauhid yang utuh demikian dicerai-beraikan oleh kaum khawarij hingga ajaran tauhid dikenali hanya dalam bentuk angan-angan tauhid saja. Dengan rumusan tauhid yang populer dewasa ini, seseorang hanya akan terus berada pada pintu masuk tauhid saja, tidak melangkah membina tauhid dengan sebenarnya.

Pada tingkat bangsa, barangkali tidak semua orang pada suatu bangsa mempunyai cukup keinginan untuk kembali menjadi makhluk mulia. Barangkali ada orang-orang yang membina diri hingga menjadi misykat cahaya, dan ada orang-orang yang tetap berkeinginan berkecimpung pada harta benda dunia yang banyak dan merasa cukup dengan itu, dan sangat banyak macam akhlak manusia yang ada di antara keduanya yang tidak bisa dipersamakan satu dengan yang lain. Pembinaan tauhid yang harus diterapkan adalah bahwa setiap orang dan lapisan akhlak harus bisa bertindak berpihak pada kebaikan bersama berdasarkan tuntunan Allah. Orang-orang yang telah membina diri sebagai misykat cahaya harus mempunyai kemampuan membedakan antara perintah Allah dengan sesuatu yang bathil sedemikian ia bertindak mengikuti tuntunan Allah bukan mengerjakan sesuatu yang bathil. Para pemegang kekuasaan hendaknya mampu memikirkan dan menentukan kebijakan yang memberikan manfaat terbaik bagi masyarakat umum dengan menimbang aspek kebaikan secara lebih seksama. Pemimpin bangsa di negeri yang subur seharusnya bukan hanya memikirkan gizi untuk anak-anak, tetapi mampu membuat kebijakan yang membuat bangsa dapat melakukan proses produktif pada setiap lapis masyarakat termasuk pemenuhan gizi anak-anak sebagai masalah jasmaniah dengan mempertimbangkan aspek berbangsa secara lebih lengkap, dari pengetahuan tentang kehendak Allah melalui ayat-ayat yang digelar hingga hal-hal duniawi bangsa termasuk aspek jasmaniah pemenuhan gizi anak-anak bangsa. Demikian pula masyarakat bawah hendaknya dapat melaksanakan urusannya dengan mengikuti aturan yang baik menurut agama. Pedagang harus bermuamalah dengan jujur, dan demikian pula setiap orang yang berusaha untuk dirinya sendiri hendaknya dapat dibina untuk berkomitmen terhadap kebaikan bersama tidak mementingkan diri sendiri.

Banyak masalah bisa timbul karena kurangnya pembinaan tauhid. Akan banyak perselisihan yang tidak mempunyai ujung pangkal karena tidak adanya referensi kebenaran, di mana kebenaran hanya ditentukan hawa nafsu. Seorang yang berakhlak tinggi tetapi tidak berkomitmen terhadap tuntunan Allah akan menimbulkan kerusakan yang sangat besar karena mereka sebenarnya justru akan tertipu langkah syaitan, karena syaitan pasti akan menggunakannya. Perumusan kebijakan di tingkat pemegang kuasa akan mudah dipengaruhi kepentingan-kepentingan parasitis dan dibuat tampak baik, dimana penguasa tidak dapat melihat kebaikan dan keburukan dari kebijakan yang harus dirumuskan. Dalam taraf tertentu, kebijakan di antara penguasa bisa saja dibuat sungguh-sungguh untuk kepentingan parasitis. Masyarakat bawah mungkin menjadi orang-orang yang mudah diperalat oleh kepentingan parasitis karena kurangnya pengetahuan dan kaburnya kebenaran. Di masyarakat umum, mungkin akan banyak terjadi penipuan terhadap sesama karena buruknya akhlak bangsa. Orang yang bodoh bisa merasa pandai, dan orang-orang yang pandai bisa dianggap bodoh. Sangat banyak macam masalah yang bisa timbul karena kurangnya pembinaan tauhid.

Pilar tauhid harus ditegakkan di bangsa muslimin hingga bentuk-bentuk syariat terkait kehidupan sehari-hari. Ilmu-ilmu fiqih hendaknya dihidupkan sedemikian setiap orang mengerti makna kebaikan dari ketentuan yang diajarkan bagi kehidupan mereka dalam bermasyarakat. Orang-orang yang telah diberi kekuatan-kekuatan indera bathiniah hendaknya dibina untuk dapat menggunakan kekuatan mereka untuk memahami ayat-ayat Allah. Orang-orang yang bisa memahami kehendak Allah hendaknya berusaha untuk tetap berada di jalan yang lurus berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW menghindari langkah-langkah syaitan yang mungkin menipu. Demikian setiap lapisan dalam masyarakat hendaknya dibina untuk bertauhid sesuai dengan keadaan masing-masing. Setiap penyimpangan dari tauhid akan memberikan dampak buruk bagi kehidupan bermasyarakat, dan semakin besar penyimpangan yang terjadi semakin besar dampak buruk yang ditimbulkan.

Pilar Shilaturrahmi

Pilar tauhid harus disertai dengan penegakan pilar shilaturrahmi. Shilaturrahmi dalam bentuk idealnya adalah terhubungnya seseorang dalam jalinan Al-Jamaah yang melaksanakan urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman, dengan pemahaman terhadap peran yang harus dilaksanakan untuk pelaksanaan urusan tersebut. Ia mengenal hubungan dirinya dengan sahabat-sahabat yang berjuang bersama, bisa memahami arahan wasilahnya, dapat memberikan bantuan kepada sahabatnya dan dapat memberikan arahan kepada orang-orang yang membantunya karena mengerti kedudukan dirinya dalam Al-Jamaah, tidak berbuat kontraproduktif yang menyebabkan kerusakan hubungan Al-Jamaah dan kerugian dalam perjuangan Al-Jamaah. Demikian itu bentuk shilaturrahmi dalam bentuk idealnya. Dalam realitas, banyak bentuk perpanjangan shilaturrahmi yang dapat atau harus dibangun oleh setiap manusia, tidak hanya shilaturrahmi dalam bentuk ideal, dan seluruh bentuk shilaturrahmi itu mendatangkan manfaat yang besar bagi umat manusia.

Menegakkan pilar shilaturrahmi secara ideal harus dilakukan dari dua arah, yaitu memperkenalkan urusan yang harus ditunaikan dan membina umat untuk layak mengenal urusan Rasulullah SAW. Seseorang yang mengetahui urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya harus memperkenalkan urusan itu kepada orang-orang yang berhak untuk mengenal. Orang-orang yang berhak untuk mengenal urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya itu adalah orang-orang beriman yang telah membina akhlak dirinya hingga dapat menggunakan akal untuk memahami ayat-ayat Allah. Kondisi demikian harus dipenuhi agar pelaksanaan urusan Rasulullah SAW dilakukan secara sinergis tidak berbantah-bantahan. Orang yang tidak mampu menggunakan akal tidak perlu dilibatkan dengan intensitas tertentu karena bisa saja mendatangkan madlarat bagi perjuangan Al-Jamaah.

Pembinaan umat harus dilakukan agar umat dapat mengenal urusan ruang dan jamannya. Dasar pembinaan shilaturrahmi yang ideal adalah pernikahan. Pada dasarnya penempatan seseorang pada urusan haq dirinya merupakan pertumbuhkembangan dari pernikahan. Peran ideal seorang isteri terhadap suaminya merupakan gambaran terbaik bagi duduk peran seseorang dalam perjuangan Rasulullah SAW yang harus dikenal setiap orang, dan pernikahan bagi seorang laki-laki merupakan media terbaik pencarian peran diri dalam urusan Rasulullah SAW. Seorang isteri telah menentukan jalan ibadah kepada Allah ketika menikah, terlepas jodohnya baik ataupun buruk baginya. Ia hanya perlu mensyukuri pernikahannya untuk menemukan jalan ibadahnya kepada Allah. Perjuangan seorang wanita untuk mengenal jalan ibadah terbaiknya dilakukan sebelum menentukan jodohnya, dimana seorang wanita harus mengendalikan hawa nafsu dan syahwat dalam menentukan suami, dan tidak jarang harus berusaha mentaati petunjuk yang diberikan kepada dirinya. Seorang laki-laki menemukan media untuk mengenal jalan ibadah hakiki baginya ketika menikah, maka ia harus menggunakan akalnya untuk memahami kehendak Allah melalui pernikahannya. Pernikahan merupakan media pembinaan shilaturrahmi yang paling ideal bagi setiap mukmin.

Pilar shilaturrahmi akan roboh manakala fiqih pernikahan dirusak atau tidak dihormati, dan hubungan shilaturahmi di masyarakat akan menjadi rusak karena rusaknya pernikahan. Para perempuan lajang harus dibina untuk mengendalikan keinginan duniawi dan hawa nafsu untuk mengenali dan memilih jodoh yang terbaik bagi jalan ibadahnya kepada Allah, dan tidak jarang harus berusaha mentaati petunjuk Allah yang sampai kepada dirinya. Para perempuan dan para isteri tidak boleh dididik untuk memberontak terhadap suaminya sekalipun dengan ide perjuangan untuk agama. Ada penyimpangan perempuan dalam bentuk yang tampak indah berupa perjuangan untuk agama, tetapi sebenarnya merupakan kekejian. Perempuan tidak boleh terjebak dalam waham hingga memberontak terhadap suami. Kadangkala perempuan lajang mengenali jodohnya dalam bentuk yang tidak diinginkan hawa nafsunya kemudian ia menyebarkan hal-hal buruk untuk mencegah perjodohannya. Hal demikian termasuk hal yang merusak silaturrahmi yang tidak boleh dilakukan. Menyebarkan hal buruk itu mendatangkan kerusakan bagi masyarakat, sedangkan penolakan terhadap petunjuk jodoh merupakan ketidakbersyukuran kepada Allah. Para laki-laki hendaknya dibina untuk dapat membaca ayat-ayat Allah melalui pernikahan yang mereka jalani untuk membina shilaturrahmi yang terbaik.

Senin, 11 Mei 2026

Menimbang Manfaat Ilmu

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan hingga seseorang mengenal shirat al-mustaqim dan menempuhnya dengan hati-hati dan seksama tidak terjebak pada langkah-langkah yang menyimpang. Pengenalan shirat al-mustaqim berupa suatu keterbukaan pengetahuan tentang jalan kehidupan yang dikehendaki Allah. Pengetahuan itu bisa sangat luas walaupun tetap terbatas. Dengan pengetahuan itu, seseorang bisa bersaksi bahwa “Tiada Ilah selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah rasulullah”. Seseorang yang memperoleh nikmat Allah bisa mengetahui keadaan kauniyah dengan benar melampaui batas persepsi indera jasmaniah dirinya. Mungkin pula akan ditemukan sangat banyak jebakan pengetahuan yang keliru, maka setiap orang hendaknya menggunakan pengetahuan yang jelas manfaat bagi jalan kehidupan mereka, tidak bermudah menggunakan atau mempercayai setiap pengetahuan yang terbuka kepada dirinya. Syaitan akan menyertai keterbukaan pengetahuan seseorang, di mana tanduk syaitan terbit bersama terbitnya matahari.

Integritas Ilmu Terhadap Rasulullah SAW

Tidak semua kebenaran dapat dimengerti dengan mudah oleh masyarakat umum. Misalnya pengetahuan tentang pasukan syaitan. Dalam banyak kasus, pengetahuan demikian dapat menjerumuskan manusia dalam tipuan syaitan. Pengetahuan-pengetahuan terkait syaitan tidak perlu dipelajari oleh manusia kecuali dengan cara mengikuti penjelasan yang disampaikan oleh para nabi. Setiap orang hendaknya berusaha memahami dengan tepat apa yang dimaksud oleh para nabi dalam ajarannya, tidak membuat makna yang menyimpang. Dalam hal ini syaitan akan mendorong manusia yang ingin memperoleh pengetahuan tentang mereka agar menyimpang. Setiap orang hendaknya berusaha untuk memahami dengan benar nilai dari pengetahuan yang diperolehnya.

Akan tetapi sebenarnya tidak tertutup kemungkinan seseorang memperoleh pengetahuan demikian dengan benar. Ilmu yang benar itu bisa bermanfaat karena duduk pada urusannya secara benar. Misalnya mungkin ada orang-orang yang mempunyai komitmen yang kuat terhadap jamaah, berkeinginan untuk membantu urusan Rasulullah SAW. Mungkin orang demikian kemudian memahami urusan Rasulullah SAW terkait alam syaitan. Pemahaman demikian itupun seringkali bukan pengetahuan yang diperoleh secara mandiri, tetapi berada di belakang pemahaman terhadap urusan seorang wasilah misalnya khalifatullah Al-Mahdi. Bagi yang memperolehnya, ia mengetahui bahwa pengetahuan tentang syaitan itu hanya merupakan sisi koin yang lain dari pengetahuan yang diperoleh karena komitmen membantu khalifatullah untuk menolong urusan Rasulullah SAW. Bila suatu ilmu mempunyai kedudukan demikian, ilmu yang tampak seperti fitnah itu bisa memberikan manfaat, dan itu merupakan ilmu yang bisa dianggap benar selama tidak disalahgunakan.

Ilmu demikian tergolong ilmu yang bersumber dari kitabullah Alquran. Sebagai penjelasan, ayat 3 dan 4 surat Al-Fatihah sebenarnya dapat dipandang sebagai penjelasan tentang kedudukan kedua uswatun hasanah dan khalifatullah. Penyaksian seseorang terhadap risalah Rasulullah SAW merupakan bukti kebenaran musyahadah seseorang terhadap Ilahiah Allah. Musyahadah terhadap risalah itu telah dijadikan sebagai bagian dari ummul kitab. Dalam umul kitab, musyahadah itu sebenarnya tidak berdiri sendiri. Seorang mukmin yang benar kesaksiannya terhadap risalah sebenarnya juga akan mempunyai pengetahuan tentang khalilullah Ibrahim a.s sebagai uswatun hasanah, dan juga mempunyai pengetahuan tentang khalifatullah sebagai perpanjangan bayangan Rasulullah SAW di alam dunia.

﴾۳﴿الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
﴾۴﴿مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
(3)Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (4) Raja di Hari Agama (QS Al-Faatihah : 3-4)

Allah memperkenalkan diri-Nya kepada makhluk dalam berbagai derajat. Derajat tertinggi adalah asma Ar-Rahman yang beristiwa di atas ‘Arsy. Pada derajat yang berdekatan, Allah memperkenalkan diri-Nya dengan asma Ar-Rahim, berkedudukan sangat tinggi melekat pada ‘arsy. Rasulullah SAW merupakan insan paling sempurna yang diberi kemampuan memanifestasikan asma yang tertinggi Ar-Rahman, dan nabi Ibrahim a.s merupakan insan yang diberi kemampuan memanifestasikan asma Ar-Rahiim secara sempurna. Kedua insan tersebut merupakan uswatun hasanah yang memanifestasikan asma Allah dengan benar sepanjang masa. Kedua asma itu dipanjangkan bayangannya hingga asma yang bertakhta di Kursy sebagai Malik (raja), dan khalifatullah Al-Mahdi merupakan insan yang diberi kemampuan memanifestasikan asma Malik. Asma Malik hanya merupakan manifestasi asma Allah yang bersifat temporer pada waktu yang ditentukan yaitu pada hari agama, dan khalifatullah bukan termasuk sebagai uswatun hasanah.

Hari agama pada satu sisi adalah landmark dimulainya masa kekuasaan khalifatullah Al-Mahdi, dan sisi lainnya merupakan landmark berakhirnya kekuasaan Iblis sebagai penguasa bumi. Kebanyakan muslimin tidak tepat merujukkan istilah hari agama. Sebagian besar merujukkan hari agama sebagai hari pembalasan atau hari-hari di alam akhirat. Sebenarnya Alquran sendiri telah menunjukkan apa yang dimaksud sebagai hari agama. Hari agama adalah hari di mana kekuasaan Iblis di dunia seharusnya akan berakhir. Iblis meminta perpanjangan waktu penguasaan kepada Allah, dari yang seharusnya berakhir pada hari agama memohon diperpanjang hingga hari kebangkitan. Allah mengabulkannya akan tetapi hanya hingga hari yang ditentukan, yaitu hari kiamat. Hari agama sebenarnya adalah hari-hari dimana khalifatullah Al-Mahdi diberi kekuasaan di bumi sedemikian agama yang telah sempurna diturunkan kepada Rasulullah SAW ditegakkan. Pada masa kekuasaan khalifatullah itu Allah memperkenalkan tajalliat diri-Nya sebagai Malik.

Pengetahuan seseorang tentang Iblis dan balatentaranya merupakan sisi koin yang lain dari pengetahuan terhadap khalifatullah Al-Mahdi. Pencarian pengetahuan tentang Rasulullah SAW, Khalilullah a.s dan khalifatullah merupakan bentuk utama pencarian pengetahuan dalam beribadah kepada Allah, sedangkan pengetahuan tentang syaitan hanya imbas yang tumbuh dari pengetahuan yang harus dicari hamba Allah. Pengetahuan imbas saja kadang berbahaya tidak boleh diusahakan dengan niat mencarinya. Pengetahuan demikian bisa bermanfaat manakala merupakan imbas karena kepedulian seseorang terhadap urusan Rasulullah SAW dan perpanjangannya. Seseorang yang peduli pada urusan khalifatullah akan terdorong untuk memperoleh pengetahuan tentang apa yang seharusnya dikerjakan termasuk dalam hal ini pengetahuan tentang musuh yang harus dihadapi sang khalifatullah. Manakala seseorang memperoleh pengetahuan yang mencurigakan dengan jalan yang haqq seperti di atas, pengetahuan itu bisa tidak berbahaya bagi dirinya dan justru memberikan manfaat yang besar bagi umat manusia.

Dengan terintegrasi pada kebenaran universal, pengetahuan-pengetahuan yang sekilas tampak berbahaya bisa memberikan manfaat kepada orang-orang yang memperolehnya selama pengetahuan itu benar. Misalnya boleh jadi seseorang melihat sepak terjang para syaitan pengikut Asytoret memalsukan nilai-nilai pengajaran agama, maka ia bisa berusaha menangkalnya dengan merumuskan ilmu tauhid yang lebih mendekati kehendak Allah. Atau manakala seseorang melihat iblis pengamat memporakporandakan tatanan kaum mukminin melalui perusakan pernikahan, ia bisa menyeru kaum mukminin untuk menata barisan dengan benar mengikuti tuntunan Allah sekalipun apabila ia bukan musuh si pengamat secara langsung. Seseorang yang mengetahui tipu daya dapat membantu sahabatnya yang berurusan untuk menghadapi tipu daya Iblis. Demikian gambaran manfaat yang dapat diperoleh dari ilmu yang terintegrasi dengan kebenaran Rasulullah SAW.

Melampaui Kesemuan Pada Ilmu

Pada sisi lainnya, ada pengetahuan-pengetahuan yang tampaknya berkilau akan tetapi sebenarnya merupakan fitnah. Syaitan menyesatkan manusia tidak hanya menggunakan ilmu yang salah, akan tetapi juga menggunakan kebenaran yang tidak diketahui nilainya. Iblis dahulu mendorong Adam dan Hawa untuk mendatangi pohon khuldi. Pada dasarnya setiap manusia merupakan pohon yang harus tumbuh dan berbuah sebagai kalimah Allah. Itu merupakan kebenaran. Tetapi sebenarnya syaitan bisa menggunakan kebenaran yang tidak diketahui nilainya oleh manusia untuk menyesatkan mereka. Manakala seseorang tergesa-gesa atau bisa dibuat tergesa-gesa mendatangi pohon thayibah dirinya, syaitan sebenarnya menunggu mereka pada pohon itu. Tanduk syaitan akan terbit bersama dengan terbitnya matahari. Setiap orang harus membina keikhlasan yang kokoh dalam berusaha mengenali pohon thayibah dirinya sedemikian ia bisa mengenali tanduk syaitan yang menyertai pohon thayibah manakala berbuah.

Seseorang yang kokoh dalam keikhlasan akan lebih berusaha mengenali kedudukan dirinya dalam urusan Rasulullah SAW, tidak menempatkan dirinya dalam urusan mandiri yang terpisah. Pengetahuan yang mereka bangun seringkali disertai pengetahuan tentang silsilah urusan dirinya. Misalnya jika seseorang adalah pembantu khalifatullah maka ia mengenal khalifatullah sebagai wasilah yang menghubungkan dirinya kepada Rasulullah SAW. Seseorang yang merasa sebagai puncak pemegang urusan menunjukkan ia tidak sepenuhnya mengetahui kedudukan Rasulullah SAW, termasuk bagi urusan dirinya. Itu bisa menjadi tanda bahwa ia mungkin mengikuti tanduk syaitan. Seseorang yang benar akan mengetahui dirinya merupakan bagian dari amr jami’ Rasulullah SAW bukan sumber urusan. Yang penting bagi orang yang benar adalah pelaksanaan urusan Rasulullah SAW bukan urusan dirinya sendiri. Mungkin ia tidak peduli urusan dirinya. Ia hanya memperhatikan urusan yang keluar dalam bentuk ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan menggunakan apa yang ada dalam dirinya untuk mewujudkan urusan dari firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW tidak mengutamakan apa yang ada dalam dirinya. Seandainya ia berjumpa dengan wasilahnya, ia akan lebih mendengarkan arahan wasilahnya daripada yang ada dalam dirinya karena arahan itu lebih sempurna mendekati urusan Rasulullah SAW.

Dalam pelaksanaan amal, seseorang yang mengenal urusan diri perlu memperhatikan banyak hal. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW terkait urusan dan pelaksanaan urusan yang harus ditunaikan. Selanjutnya ia harus memperhatikan segala sesuatu yang terkandung dalam dirinya berupa pengetahuan-pengetahuan internal ataupun hal lain yang ada dalam dirinya. Ia juga perlu memperhatikan objek untuk mewujudkan amalnya dan bila perlu melakukan penyesuaian seperlunya dengan keadaan. Kadangkala keadaan yang harus diperhatikan terkait dengan langkah musuh yang merusak urusannya. Misalnya seseorang mengetahui urusan musuh, ia perlu mempertimbangkan kerusakan yang telah diperbuat oleh musuhnya dan memperbaikinya dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala keadaan yang harus diperhatikan adalah sinergi dengan sahabat-sahabat yang menolong agama baik dalam urusan wasilah yang sama atau sahabat yang lebih jauh.

Mengenal urusan wasilah kepada Rasulullah SAW akan menjadikan seseorang dapat bekerjasama dengan sahabatnya. Misalnya apabila urusan seseorang adalah membantu khalifatullah pada satu bagian urusan, ia dapat membantu sahabatnya dalam membantu khalifatullah pada bagian yang lain sesuai dengan keadaan dirinya. Hubungan bantu membantu ini pasti ada, tidak ada seseorang yang diciptakan dengan urusan sendirian. Bila ia tidak mengenal urusan wasilahnya, ia mungkin tidak menyadari manfaat dari urusan sahabatnya hingga ia mungkin bekerja sendiri tanpa peduli sahabatnya atau justru merusak urusan sahabatnya yang lain. Ia mungkin hanya memandang penting urusannya sendiri dan memandang yang lain tidak penting. Lebih buruk lagi mungkin seseorang memandang sahabatnya sebagai pesaing atau justru lawan karena kurangnya pemahaman terhadap urusan Al-Jamaah. Hal demikian tidak boleh terjadi. Setiap orang hendaknya berusaha menemukan dirinya sebagai bagian dari Al-Jamaah yang membantu pelaksanaan urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya. Pengenalan sebagai bagian Al-Jamaah hendaknya dibentuk hingga seseorang mengetahui urusan jaman dan hubungan wasilah yang seharusnya dibentuk pada jamaah tersebut, bukan terus menerus hanya sebagai kumpulan orang-orang yang bekerja bersama tanpa mengetahui hubungan urusan masing-masing dengan sahabatnya. Saling membantu di jalan Allah berlaku bagi setiap muslim.

Bukan hanya membantu, seseorang perlu bisa melihat apa yang bisa menolong dirinya menempuh jalan Allah dari sahabatnya. Hal itu bisa dilakukan dengan benar bila setiap orang berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan benar. Keberhasilan seorang mukmin dalam mengenali urusan jaman sebenarnya akan sangat memudahkan mukminin lain untuk mengenal urusan bagi dirinya. Manakala seseorang mengenali urusannya, seharusnya kaum mukminin lainnya akan mudah mengikuti langkahnya mengenali urusan Allah yang harus ditunaikan dengan memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang ditunaikan sahabatnya. Akan tetapi tidak jarang suatu kaum terliputi oleh waham yang menjadikan mereka sulit untuk mengenali urusan Allah. Kadangkala suatu kaum hanya mengikuti suatu ajaran tanpa memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang ditunaikan, maka mereka tidak menemukan urusan Allah hanya mengikuti doktrin secara membuta. Kadangkala seseorang tidak berhati-hati memahami urusan Allah hingga terjebak mengerjakan urusan sendiri bukan mengerjakan urusan Allah, tetapi menyangka itu urusan Allah. Bila tidak memperhatikan tuntunan Allah, suatu kaum tersebut akan kesulitan untuk mengenal urusan Allah. Urusan Allah akan ditemukan oleh orang yang mengikuti sahabatnya dengan memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Setiap orang harus membangun ilmu yang terintegrasi dengan Rasulullah SAW agar ilmu yang diperoleh semakin bertambah bobot manfaatnya semakin mendekati nilai hakikat. Banyak muslimin yang tidak melangkah dengan benar hingga menjadi tersesat. Sebagian muslimin yang bodoh mengikuti nilai-nilai syaitaniah yang disusun dengan dalil-dalil tanpa berusaha memahami hingga menjadi kaum khawarij yang terlempar dari islam. Sebagian muslimin mengasah kemampuan menggunakan akal tetapi tidak mengintegrasikan pemahaman mereka dengan amr jami’ Rasulullah SAW sedemikian mereka berbuat baik secara menyimpang dari maksud Rasulullah SAW menjadi ahlul bidah. Dalam beberapa hal, amal yang dipandang ahlul bid’ah sebagai kebaikan itu sebenarnya menghancurkan upaya orang-orang yang benar-benar peduli dengan pelaksanaan urusan Rasulullah SAW. Beberapa kaum muslimin mungkin hanya memperhatikan urusan diri sendiri hingga tidak berjalan mendekat kepada Allah dengan melaksanakan amal-amal yang ditentukan bagi mereka, terus saja berada di tepian jurang dalam ibadahnya kepada Allah.

Sabtu, 09 Mei 2026

Berubahnya Nikmat Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan hati-hati dan seksama tidak terjebak pada langkah-langkah yang menyimpang. Penyimpangan langkah dari sunnah Rasulullah SAW dapat terjadi pada seluruh tingkat perjalanan manusia, bahkan sekalipun manakala seseorang telah mengenal nikmat Allah bagi diri mereka. Setiap orang atau setiap kaum hendaknya selalu berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam mensyukuri nikmat yang dianugerahkan kepada mereka.

﴾۳۵﴿ذٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِّعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَىٰ قَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Anfaal : 53)

Pada dasarnya Allah tidaklah mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan kepada suatu kaum, akan tetapi tetap saja nikmat Allah tersebut dapat berubah yaitu manakala mereka mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri. Orang-orang yang telah memperoleh nikmat Allah sebenarnya hanya mengerjakan urusan-urusan yang diturunkan Allah kepada mereka, maka hendaknya mereka menunaikan urusan-urusan itu sesuai dengan petunjuk Allah. Amal demikian itulah yang mengekalkan mereka dalam nikmat Allah. Urusan-urusan yang dikerjakan sesuai dengan kehendak Allah, untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan Allah, dikerjakan sesuai dengan tuntunan-tuntunan Allah yang secara jelas sesuai dengan tuntunan yang nyata berupa kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW itu merupakan bentuk kebersyukuran terhadap nikmat Allah yang menjadikan seseorang diberi lebih banyak nikmat lagi.

Boleh jadi ada orang-orang yang tidak mensyukuri nikmat Allah. Suatu kaum mungkin saja tidak mengerjakan amal yang diperintahkan Allah, atau tidak peduli tujuan yang dikehendaki Allah atas amal harus dilakukan, atau mengerjakan amal dengan cara yang tidak dikehendaki Allah dan bentuk amal lainnya yang serupa, maka hal itu sebenarnya merupakan perbuatan mengubah nikmat Allah. Apabila mereka bertindak tidak sesuai dengan petunjuk-petunjuk Allah, mereka sebenarnya mengubah nikmat Allah yang dilimpahkan atas diri mereka. Hal itu akan menjadi sebab berubahnya suatu nikmat Allah atas diri suatu kaum.

Mengubah nikmat Allah dapat terjadi karena kurangnya keikhlasan dalam beribadah kepada Allah. Bisa saja seseorang memandang dirinya tinggi di antara manusia karena urusan Allah yang dianugerahkan kepada diri mereka sedemikian mereka menyombongkan diri dengannya. Mungkin juga seseorang lebih menginginkan apa yang tampak baik bagi pandangannya daripada yang diperintahkan Allah hingga ia mengusahakan tujuannya sendiri. Tidak jarang suatu kaum sangat menginginkan sesuatu yang kurang sempurna yang tampak baik dalam pandangan mereka, sedangkan hal itu bisa saja mendatangkan keburukan atas kaum tersebut ketika mereka melupakan petunjuk Allah. Mereka kehilangan orientasi beribadah kepada Allah karena nikmat yang dianugerahkan kepada mereka.

Pengubahan nikmat semacam ini merupakan suatu hal yang bisa saja terjadi atas suatu kaum apabila kaum tersebut tidak memperhatikan petunjuk-petunjuk Allah. Tidak ada seseorang atau suatu kaum yang bisa merasa aman memperoleh nikmat Allah hingga boleh melupakan petunjuk-petunjuk Allah dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, karena nikmat tersebut bisa berubah tanpa mereka ketahui perubahannya. Perubahan sifat nikmat itu hanya akan diketahui oleh seseorang yang benar-benar berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Apabila seseorang atau suatu kaum berpegang pada keyakinannya sendiri bahwa mereka kaum yang lurus, nikmat mereka sebenarnya telah berubah. Ketika Allah mengubah nikmat-Nya atas suatu kaum, sebenarnya kaum itu sendirilah yang mengubah apa-apa yang ada pada nafs mereka. Allah tidak mengubah nikmat yang dianugerahkan kepada suatu kaum kecuali kaum tersebut mengubah apa-apa yang ada pada nafs mereka. Perubahan nikmat itu sebenarnya menunjukkan apa yang ada pada nafs mereka.

Beberapa Dampak Karena Berubahnya Nikmat Allah

Nikmat Allah adalah pengetahuan yang diberikan kepada manusia tentang jalan kehidupan yang dikehendaki Allah. Orang-orang yang diberi nikmat Allah akan memperoleh pengetahuan tentang shirat al-mustaqim, yaitu jalan kehidupan yang paling pendek yang dapat ditempuh seorang hamba Allah untuk menjadi hamba yang didekatkan. Pengenalan shirat al-mustaqim berupa suatu keterbukaan pengetahuan tentang jalan kehidupan yang dikehendaki Allah, seringkali bukan berupa pengetahuan yang dikumpulkan manusia melalui upaya dalam kehidupannya. Berjalan bersama orang yang mengenal shirat al-mustaqim mendatangkan manfaat yang sangat besar dan bisa pula menjadikan diri seseorang mengenal jalan untuk menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah.

Pada dasarnya, nikmat Allah akan mendatangkan suatu manfaat yang besar bagi kehidupan umat manusia hingga masyarakat dapat hidup sejahtera, akan tetapi manfaat ittu tidak selalu dapat mengalir dalam wujud yang nyata. Masyarakat yang kafir mungkin saja menghalangi jalan mengalirnya nikmat Allah melalui orang yang memperolehnya. Seorang yang memperoleh nikmat Allah mungkin saja tampak sebagai orang yang tidak bermanfaat di masyarakat. Problemnya ada pada masyaarakat bukan orang yang memperoleh nikmat Allah. Kadangkala problem itu bisa sedemikian tersembunyi karena peliknya masalah. Suatu kaum yang ingin bertaubat tetapi tersesat mungkin saja memandang orang yang memperoleh nikmat Allah sebagai suatu masalah bagi mereka. Mereka memilih waham mereka sendiri untuk kembali kepada Allah dibandingkan berpegang pada al-bayaan yang diberikan kepada seseorang di antara mereka. Masalah paling pelik dapat terjadi terutama apabila Allah mengubah nikmat-Nya yang diberikan kepada hamba-Nya.

Banyak masalah dapat timbul dari pengubahan nikmat Allah yang dianugerahkan atas suatu kaum. Sesuatu yang dipandang tampak mendatangkan kebaikan seringkali justru mendatangkan keburukan bagi mereka, hanya karena berubahnya sifat nikmat Allah. Seseorang mungkin merasa tinggi derajatnya di sisi Allah sedangkan sebenarnya mungkin saja Allah menghinakannya seperti syaitan dihinakan. Syaitan tidaklah kehilangan pengetahuan-pengetahuannya akan tetapi pengetahuan-pengetahuan itu sebenarnya hanya pengetahuan yang tidak berharga. Demikian pula manakala nikmat atas suatu kaum diubah Allah, nikmat-nikmat itu mungkin tampak tetap melekat pada mereka akan tetapi sebenarnya Allah telah mengubah nilai dari nikmat-nikmat yang mereka peroleh. Ilmu mereka bisa saja tidak dicabut akan tetapi justru mendatangkan keuntungan bagi pihak syaitan.

Kehidupan masyarakat akan menjadi pelik karena berubahnya nikmat Allah, misalnya munculnya banyak pengangguran dari orang-orang yang sebenarnya mempunyai potensi memberikan manfaat yang besar. Mungkin banyak orang yang ingin membangun tatanan bermasyarakat sesuai dengan potensi diri, akan tetapi orang-orang yang potensi diri mereka telah berkembang justru menjadi orang-orang yang tersia-siakan karena berubahnya nikmat Allah. Mungkin pula para pemegang jabatan di antara mereka justru berasal dari kalangan orang-orang yang jahat hingga mereka menyingkirkan orang-orang yang baik. Kehidupan orang-orang yang baik justru menjadi sulit, melaksanakan urusan Allah tanpa ada yang mendukung langkah mereka. Manakala bersungguh-sungguh melaksanakan amal shalih, mungkin mereka ditekan oleh keluarga sendiri untuk mencari penghidupan yang lebih baik tidak menyadari bahwa upaya berdasar amal shalih itu akan mendatangkan kebaikan secara umum. Mungkin sangat banyak orang bersuara untuk memperoleh pekerjaan, tetapi upaya untuk mewujudkan tatanan yang baik justru disingkirkan oleh masyarakat sendiri.

Setiap hamba Allah hendaknya selalu berusaha ikhlas, mengenal dengan benar kehendak Allah atas hamba-hamba-Nya. Prinsip paling dasar dari kehendak Allah yang benar adalah adanya sifat rahman dan rahim. Tidak ada kehendak Allah yang memunculkan madlarat mencelakakan bagi makhluk, dan setiap orang yang ikhlas hendaknya berusaha mengenali sifat rahman dan rahim dalam kehendak-Nya. Manakala seseorang merasa mengetahui kehendak Allah tetapi tidak bisa mengenali kebaikan dalam kehendak Allah yang diketahuinya, ia sebenarnya belum benar-benar mengenal kehendak-Nya. Manakala diketahui dengan benar adanya madlarat dalam kehendak yang dikenali, pengetahuan tentang kehendak-Nya itu hanya pengetahuan yang palsu. Manakala kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bertentangan dengan pengetahuannya, pengetahuan demikian itu merupakan kesesatan. Manakala ia mengetahui adanya kebaikan dalam kehendak yang dikenalinya, boleh jadi itu merupakan pengenalan yang benar terhadap kehendak-Nya. Selanjutnya ia hendaknya memperhatikan benar-benar cara menunaikan kehendak itu sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak ada seseorang mengenal kehendak Allah tanpa mengenali adanya kebaikan di dalamnya. Suatu kebaikan dalam kehendak Allah hanya ada pada keselarasan dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak ada kebaikan pada sesuatu yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Mengenali kehendak Allah hendaknya ditimbang secara seksama, selaras dengan ayat kitabullah dan ayat kauniyah. Kehendak Allah terkait ruang dan jaman kehidupan selalu tercermin dalam keadaan kauniyah jaman itu. Keselarasan pemahaman dengan ayat Allah itu harus ditimbang kebenarannya dengan logika yang benar. Keselarasan tidak boleh ditimbang dengan memandang segala sesuatu yang muncul atau terpikirkan dalam diri merupakan kebenaran yang selaras dengan kitabullah. Keselarasan itu terjadi manakala apa yang muncul atau terpikirkan itu sesuai dengan redaksi kitabullah, sedangkan apabila yang muncul atau terpikirkan itu bertentangan dengan redaksi kitabullah, maka pikiran itu menyimpang tidak boleh dikatakan selaras kitabullah. Ini merupakan logika dasar yang sebenarnya bisa dimengerti oleh setiap orang, (dan mungkin sebenarnya tidak perlu dijelaskan), akan tetapi kadangkala seseorang atau suatu kaum bisa berlogika dengan cara yang berbeda dan merasa benar dengan logikanya. Dengan logika yang keliru, nikmat Allah yang telah dianugerahkan bagi mereka dapat diubah hingga mendatangkan madlarat bagi manusia.

Beberapa Keadaan Orang yang Memperoleh Nikmat Allah

Nikmat Allah adalah pengetahuan yang diberikan kepada manusia tentang kehidupan dan jalan kehidupan yang dikehendaki Allah berupa shirat al-mustaqim. Pengenalan shirat al-mustaqim berupa suatu keterbukaan pengetahuan tentang jalan kehidupan yang dikehendaki Allah. Pengetahuan itu bisa sangat luas walaupun terbatas, dan seringkali bukan berupa pengetahuan yang dikumpulkan manusia melalui upaya dalam kehidupannya. Dengan pengetahuan itu, seseorang bisa bersaksi bahwa “Tiada Ilah selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah rasulullah”. Seseorang yang memperoleh nikmat Allah bisa mengetahui keadaan kauniyah dengan benar melampaui batas persepsi indera jasmaniah dirinya. Mungkin akan ditemukan sangat banyak jebakan pengetahuan yang keliru, maka setiap orang hendaknya menggunakan pengetahuan yang jelas manfaat bagi jalan kehidupan mereka, tidak bermudah menggunakan atau mempercayai setiap pengetahuan yang terbuka kepada dirinya hingga mungkin bisa mengubah nikmat Allah.

Berikut ini contoh pengetahuan yang bisa diperoleh dari nikmat Allah. Dewasa ini kehidupan umat manusia tampak berguncang, sedangkan keadaan ini sebenarnya baru merupakan permulaan. Saat ini, kekuatan Iblis atas diri dunia sebenarnya sangat dibatasi atas kehendak Allah. Iblis besar yang menentang perintah bersujud kepada Adam sedang dan masih kehilangan banyak kekuatannya, karena staf-staf pembantu utamanya telah disingkirkan atas kehendak Allah dari membantu urusannya. Ia seolah sendirian saja karena pembantunya hanya syaitan yang jauh lebih rendah. Semyaza (pemimpin para pengamat/the watchers) dengan setidaknya dua ratus eselon tertinggi urusan mereka diikat dalam penjara hingga waktu yang ditentukan. Azazil staf Iblis dengan banyak pembantu urusannya ditimbun dalam batuan yang tajam hingga tidak dapat membantu mengatur manusia. Demikian pula Terafim dan Abadon telah ditangkap tidak diijinkan untuk membantu Iblis “menata” manusia dalam kehidupan di bumi. Ba’al, Ashera dan Asytoret sebagai pembantu-pembantu utama lain Iblis telah terbunuh oleh para malaikat hingga tidak dapat membantu Iblis. Kehidupan manusia pada jaman ini sebenarnya berada dalam keamanan anugerah Allah dari godaan syaitan yang kuat. Keamanan ini akan terjadi hingga waktu yang ditentukan, yaitu manakala para pembantu utama Iblis itu diijinkan Allah untuk dilepaskan kembali termasuk yang telah terbunuh. Dajjal adalah manifestasi dari kembalinya Ba’al ke dunia. Ia bukan dalam bentuk sapi sebagaimana yang disembah musyrikin penguasa dunia saat ini, tetapi jauh lebih mengerikan, dan ia akan bersekutu dengan manusia untuk menguasai dunia.

Sebagian kisah ini dapat ditemukan dalam kitab nabi Idris a.s. dan sebagian merupakan contoh pengetahuan keadaan kauniyah yang dapat diperoleh melalui nikmat Allah. Pengetahuan demikian sebagian tidak dapat dicari manusia, tetapi seringkali bersifat keterbukaan pengetahuan terkait keadaan. Keterbukaan demikian berhubungan erat dengan shirat al-mustaqim yang ditentukan bagi seseorang. Mukmin hendaknya melaksanakan apa yang ditentukan dalam shirat al-mustaqim dengan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang terkait dengan urusannya. Shirat al-mustaqim tidak berbentuk pelaksanaan perintah-perintah yang bersifat acak, tetapi berupa amal-amal yang ditentukan bagi seseorang sesuai dengan pengetahuan tentang keadaan kauniyah yang didapat melalui keterbukaan (al-fath) pengetahuan dari sisi Allah.

Urusan Allah yang ditentukan bagi manusia seringkali bukan berupa pengetahuan yang sesuai dengan hawa nafsu. Kadangkala hawa nafsu manusia bergejolak manakala mendengar berita sekalipun yang baik. Misalnya manakala seorang syaikh memberitakan tentang kebangkitan Islam, sebagian murid mungkin akan berusaha dengan keras untuk mewujudkan apa yang mereka bayangkan dengan hawa nafsu tentang apa yang diberitakan tanpa mengetahui lebih lengkap bagaimana penjelasan syaikh tentang kebangkitan Islam. Upaya demikian seringkali tidak menyentuh apa yang diajarkan sang syaikh dan mengecewakan syaikh karena murid tidak mengerti urusan Allah. Urusan Allah terkait apa yang syaikh jelaskan harus diperhatikan seluruhnya termasuk dalam urusan yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan hawa nafsu. Mungkin saja para murid seharusnya memikirkan terlebih dahulu tantangan keadaan yang mereka hadapi sebelum tergesa mengejar kemakmuran yang ada dalam bayangan hawa nafsu mereka, sebagai bukti keikhlasan diri mereka.

Bagi orang beriman, tantangan bagi mereka tidaklah kecil. Walaupun dengan terkekangnya Azazil dan pengikutnya, umat manusia masih terancam dengan perang bom nuklir. Kaum musyrikin penyembah Ba’al juga masih bisa menjadi pemimpin bangsa yang besar walaupun Ba’al telah terbunuh. Terbunuhnya Ashera juga tidak menyebabkan manusia terbebas dari lilitan sistem ekonomi ribawi yang merugikan sebagian besar manusia. Demikian pula pengikut Asytoret masih menikmati kedudukan sebagai pemimpin-pemimpin agama yang bekerja untuk kalangan musyrikin dengan pengetahuan yang mereka buat untuk melenakan manusia merasa dalam kebenaran. Pengikut Terafim masih dengan leluasa membuat penyakit-penyakit dan pura-pura menyediakan obat bagi manusia. Bagi sebagian orang yang mengetahui, keadaan kaum mukminin saat ini sedemikian menjadi berantakan karena ulah “si pengamat” anak buah Semyaza. Itu contoh bentuk-bentuk tantangan bagi kaum mukminin, dan tantangan itu sebenarnya akan menjadi lebih lebih besar pada masa yang ditentukan menghadapi tujuh pembantu utama syaitan yang dikembalikan berperan di dunia.

Tantangan itu harus dihadapi dengan nikmat yang lurus. Manakala suatu kaum mengikuti nikmat yang telah diubah, nikmat itu akan berpihak pada syaitan bukan pada urusan Allah. Setiap mukmin hendaknya memperhatikan dengan sungguh-sungguh urusan dan pelaksanaan urusan yang diketahuinya berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.