Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Jalan untuk menjadi hamba yang didekatkan di antaranya adalah melakukan pemakmuran bumi. Allah menciptakan manusia dari bumi dan menjadikannya sebagai pemakmurnya. Itu adalah tugas bagi manusia yang dijadikan sebagai jalan kembali kepada-Nya. Dengan jalan demikian, Allah sebenarnya dekat kepada hambaNya dan memperkenankan doa.
﴾۱۶﴿ وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلٰهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)" QS huud ; 61)
pemakmuran bumi dapat dilakukan dengan menegakkan pilar-pilarnya. Pilar-pilar pemakmuran itu berupa : 1. Tauhid dan keikhlasan, 2. Shilaturrahmi, 3. Pengembangan potensi diri, 4. Pengembangan potensi alam, 5. Jihad, 6. Sinergi dan kesetimbangan alam, 7. Pengolahan basis data. Tegaknya pilar secara sempurna akan terjadi apabila seseorang dapat membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Pilar-pilar tersebut tidak akan dapat ditegakkan oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah. Semakin sempurna taubat seseorang kepada Allah, semakin tegak pilar yang dapat ia tegakkan.
Proses Pengembangan Potensi
Manusia ditempatkan di alam bumi pada wilayah tertentu dengan berbagai karakteristik wilayah alam. Karakteristik-karakteristik wilayah itu merupakan ayat-ayat Allah yang digelar bagi orang yang bertempat tinggal pada wilayah tersebut. Allah menggelar ayat-ayat kauniyah di alam semesta dengan berbagai lapis pengetahuan yang sangat banyak hampir tidak terbatas yang dapat diperoleh manusia. Dalam satu objek yang sama, dapat ditemukan berbagai pengetahuan oleh setiap manusia. Satu orang dapat menemukan suatu pengetahuan, dan orang lain dapat menemukan pengetahuan yang berbeda dari satu hal yang sama. Misalnya satu jenis tumbuhan bisa memberikan pengetahuan yang berbeda-beda kepada setiap orang, berbeda pengetahuan antara tukang gembala, farmakolog dan ahli teknik kehutanan. Pada setiap objek yang ada di suatu wilayah, terdapat sangat banyak pengetahuan yang dapat diperoleh oleh manusia.
Pengembangan potensi alam dilakukan dengan mengembangkan pengetahuan manusia terhadap alam sebelum pengembangannya. Alam jasmaniah pada dasarnya bersifat relatif tertentu, tetapi pengetahuan manusia penghuninya terhadap alam dapat berkembang sangat luas. Pengembangan pengetahuan itulah yang merupakan potensi pemakmuran. Setiap manusia diciptakan untuk urusan tertentu, dan urusan yang ditetapkan baginya itu sebenarnya terkait dengan wilayah tempat ia berdiam dengan segala dinamika yang terjadi. Ada orang-orang yang diciptakan untuk urusan yang sangat spesifik urusan duniawi tertentu dengan penerapan secara mendalam, ada orang-orang yang diciptakan untuk urusan yang sangat luas dengan tugas menerapkan aturan-aturan dan pengetahuan-pengetahuan dasar. Bukan berarti pengetahuannya hanya pada dasar-dasar. Sekalipun menerapkan aturan dan pengetahuan dasar, pengetahuan yang bisa diperoleh mungkin saja sangat mendalam, hanya saja tidak diberi kemampuan melaksanakan urusan secara khusus dan mendalam. Sangat banyak ragam urusan manusia yang tidak dapat disebutkan, tetapi seluruhnya berhubungan dengan tempat tinggalnya di bumi.
Setiap manusia diperintahkan untuk menjadi pemakmur bumi tempat dirinya tinggal sebagai sarana ibadah dirinya kepada Allah Yang Maha Esa. Perintah itu sebenarnya hanya akan bisa dipenuhi secara benar oleh orang-orang tertentu, yaitu orang yang memohon ampunan Allah dan bertaubat kepada Allah. Kebanyakan manusia terliputi oleh syahwat dan hawa nafsu sedemikian kesadaran untuk memakmurkan bumi mereka tidak tumbuh, sedangkan yang tumbuh justru dari benih keserakahan dan kebutuhan penghormatan dari orang lain. Kadang benih itu tumbuh sangat besar sedemikian membuahkan kerusakan bagi kehidupan di bumi. Mereka mungkin hanya berkeinginan untuk pemakmuran diri saja tidak dapat memikirkan pemakmuran bumi secara menyeluruh. Manakala seseorang memohon ampunan, nafs mereka akan dijadikan bersih dan akalnya akan tumbuh untuk dapat memahami ayat-ayat Allah, sesuai dengan yang diperkenalkan Allah bukan pemahaman yang menyimpang. Dengan pemahaman dan iktikad yang benar, mereka melakukan pemakmuran di bumi secara setimbang. Ini sangat penting sebagai modal pemakmuran.
Banyak orang yang berkeinginan baik kemudian berusaha menggunakan pikiran dan akal akan tetapi tidak disertai dengan langkah memohon ampunan dan taubat, kemudian pikiran dan akal mereka menyimpang dari hakikat yang hendak diperkenalkan Allah. Orang-orang demikian mungkin memandang bahwa apa-apa yang ada dalam pikiran dan akal mereka sangat baik dan bermanfaat, akan tetapi tidak mengetahui bahwa sebenarnya ada penyimpangan-penyimpangan di dalamnya. Kesalahan suatu pemahaman sangat wajar terjadi dan tidak berbahaya bila seeseorang dapat menyadari kesalahannya, tetapi kesalahan yang sama bisa menjadi sangat berbahaya manakala seseorang tidak memohon ampunan dan tidak bertaubat. Suatu hasil pemikiran atau akal yang menyimpang bisa menjadi sangat berbahaya di tangan orang-orang yang merasa baik dengan penyimpangannya. Memohon ampunan dan bertaubat sangat penting dilakukan oleh setiap orang yang ingin memakmurkan bumi agar tidak menimbulkan kerusakan. Taubat dalam hal ini ditunjukkan dengan sikap seseorang memperhatikan dan mengikuti kebenaran yang ditunjukkan kepadanya. Setiap orang harus bisa menyusun pemahaman terhadap kebenaran dan tetap tegak mampu melihat kesalahan yang mungkin dilakukan, tidak memandang diri sendiri suci.
Kesalahan dalam berpikir dan menggunakan akal tidak jarang membuat upaya orang-orang menegakkan kehendak Allah tidak berhasil. Seseorang atau suatu kaum mungkin berusaha menegakkan kebenaran tetapi perintah dan larangan yang diperintahkan Allah kepada mereka justru ditinggalkan karena mengikuti kebenaran dalam pikiran mereka sendiri. Mereka memandang indah kebenaran pikiran mereka sendiri yang sebenarnya telah menyimpang dari tuntunan Allah, dan mereka meninggalkan ayat-ayat yang digelar Allah karena mengikuti kebenaran dalam pikiran mereka sendiri. Tidak jarang upaya demikian mendatangkan hasil yang berkebalikan dengan kehendak Allah. Misalnya Allah berkehendak manusia menjadi pandai, sedangkan suatu ajaran yang dipandang baik mungkin justru menjadikan manusia bodoh. Hal semacam ini sangat berbahaya karena sebenarnya pikiran demikian itu seringkali datang dari syaitan. Dampaknya, orang-orang beriman yang ingin melaksanakan perintah Allah dengan benar mungkin menjadi merasa sangat payah melakukan usaha. Bisa juga masyarakat mereka justru menjadi berantakann, karena keindahan langkah mereka itu sebenarnya fitnah. Bisa saja perintah Allah yang seharusnya ditegakkan justru ditinggalkan.
Ayat-ayat Allah yang digelar di alam kauniyah harus dipahami dengan tepat. Misalnya manakala membaca kesulitan dalam kehidupan, setiap orang hendaknya menimbang dengan seksama bahwa ada kesulitan yang disebabkan kesalahan sendiri sebagai adzab, dan ada kesulitan karena Allah menguji kehidupan manusia. Manakala suatu kaum mengingkari atau menghalangi pelaksanaan petunjuk Allah, kesulitan demikian harus dibaca sebagai adzab bagi mereka tidak boleh dipandang sebagai ujian yang membersihkan jiwa. Hanya orang yang menyadari kesalahan dan kekufuran mereka terhadap nikmat petunjuk yang akan dibersihkan jiwanya. Orang yang memandang kesulitan mereka sebagai pembersihan tanpa menyadari kesalahan diri akan selalu terlilit kesulitan sebagai adzab karena kebodohan mereka dalam membaca tuntunan Allah. Adzab itu tidak akan membersihkan dosa hingga mereka menyadari sebab-sebab dari adzab yang turun dan memohon ampunan atas kesalahan.
Setiap orang harus membangun keyakinan terhadap suatu kebenaran yang dapat dipahaminya, dengan tidak menutup pikiran dan akalnya untuk menerima penjelasan kebenaran yang lebih baik. Ia hendaknya bisa berpegang kuat terhadap kebenaran yang dapat dipahaminyan tanpa meragukannya, tetapi harus tetap bisa melihat kemungkinan adanya kekurangan atau kesalahan dalam pemahamannya dan mengerti manakala ada yang menjelaskan dan tetap bisa melihat kebenaran pada sesuatu yang lebih baik. Suatu hakikat akan terbuka apabila seseorang memahami ayat kauniyah dengan tepat, berupa keterbukaan makna kandungan ayat kitabullah terkait dengan ayat kauniyah yang diperhatikan. Itu akan menjadi sumber pemakmuran.
Setiap orang harus menghormati potongan-potongan kebenaran dengan selayaknya dalam membaca ayat-ayat Allah agar terbentuk pengetahuan yang benar. Orang atau kaum yang sering mengabaikan kebenaran akan mudah terjatuh pada kesesatan. Orang-orang yang benar di antara kaum itu akan mudah disingkirkan dari kedudukannya, dan kaum itu menjadi sesat tanpa menyadarinya. Kedua hal itu merupakan tanda dari kesombongan. Suatu kebenaran akan terbangun dari potongan-potongan kebenaran, dan kebenaran tidak akan dikenali oleh orang-orang yang tidak menghormati kebenaran. Misalnya dalam melakukan suatu penelitian, setiap orang harus menggunakan metode yang benar, tidak boleh menggunakan metode-metode yang telah diketahui salah. Ini merupakan bentuk penghormatan terhadap kebenaran. Manakala seseorang menggunakan metode yang jelas diketahui kesalahannya, hasil-hasil yang diperoleh dari penelitian itu akan salah atau tidak berguna. Manakala hasil penelitian menunjukkan potensi yang besar, potensi itu sangat mungkin hanya ilusi. Manakala hasil penelitian menunjukkan bahaya yang besar, bahaya itu sebenarnya mungkin tidak ada. Penelitan itu tidak mendatangkan hasil karena metode yang salah. Hal semacam ini berlaku pada setiap upaya membaca ayat-ayat Allah tidak hanya dalam penelitian. Setiap orang harus menghormati potongan kebenaran dalam membaca ayat-ayat Allah.
Pengetahuan yang benar tentang ayat-ayat Allah yang digelar di alam kauniyah akan menjadi modal bagi seseorang untuk melakukan pemakmuran bumi. Setiap orang sebenarnya mempunyai objek pengamatan pada ayat-ayat Allah yang terjadi di wilayah mereka. Pengetahuan yang benar terkait ayat-ayat Allah dapat digunakan setiap orang untuk melaksanakan penghambaan kepada Allah. Penghambaan (ibadah) setiap manusia kepada Allah pada dasarnya bukan hanya berbentuk syariat-syariat yang ditentukan, tetapi juga berbentuk amal-amal jasmaniah yang mendatangkan mashlahat bagi kehidupan dunia. Upaya pemakmuran alam dunia yang dilakukan dengan hati yang bersih oleh orang-orang yang bertaubat kepada Allah merupakan bentuk ibadah yang ditentukan Allah bagi setiap orang. Semakin banyak pengetahuan ayat Allah yang diperoleh oleh orang yang bertaubat, semakin besar potensi pemakmuran yang dapat dilakukan di suatu wilayah.
Pemakmuran bagi orang berakal bukan berbentuk berlimpahnya harta benda dunia. Pengusahaan kelimpahan harta benda dunia merupakan beban tanggung jawab yang besar di hadapan Allah. Hal ini tidak berarti orang berakal hanya menginginkan kecukupan makan saja. Adanya pemikiran demikian pada seorang pemimpin bisa dicurigai merupakan tanda kuatnya loby dari orang-orang yang bisa mencari keuntungan dari tatanan masyarakat yang rusak. Tidak pula berarti orang berakal menginginkan kekurangan dalam pemenuhan kebutuhan. Kemakmuran yang diharapkan oleh orang-orang berakal berupa bermanfaatnya pengetahuan yang ada pada mereka bagi kesejahteraan masyarakat dan alam semesta. Bentuk berlimpahnya harta benda duniawi dapat diterima oleh orang-orang berakal manakala diperoleh dari pemanfaatan pengetahuan yang ada pada mereka. Manakala ilmu pengetahuan yang ada pada diri mereka tidak bisa memberikan manfaat bagi masyarakat, orang berakal akan merasa sedih atau sengsara bukan karena kekurangan harta benda, tetapi karena kurangnya akal masyarakat untuk mengenal nilai ilmu pengetahuan. Dewasa ini, kebanyakan manusia menginginkan kelimpahan harta benda dunia tanpa perlu mengetahui kadar pengetahuan yang ada pada diri mereka. Ini merupakan bentuk kemakmuran semu.
Manusia sebagai Kunci Pengembangan
Manfaat dari pengetahuan yang diperoleh manusia akan sangat bergantung kepada orang-orang yang menguasainya. Pemakmuran bumi tidak hanya ditentukan oleh orang-orang yang memegang pengetahuan saja. Manakala seseorang yang shalih mempunyai pengetahuan yang banyak tentang ayat-ayat Allah, ia mempunyai potensi pemakmuran bumi yang besar. Sebaliknya manakala seseorang yang jahat mempunyai pengetahuan yang banyak, mereka mempunyai potensi yang besar untuk merusak. Terwujudnya potensi yang baik itu akan mudah apabila para penguasa tatanan manusia mempunyai keinginan yang baik atas pengetahuan yang ada di antara mereka, dan seringkali menjadi sia-sia manakala penguasa mereka orang yang bodoh atau jahat. Pemakmuran bumi bergantung kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan baik dari sisi kualitasnya ataupun kuantitasnya.
Khalifatullah sebenarnya adalah pemimpin pemakmuran bumi. Dalam tatanan semesta, khalifatullah merupakan perpanjangan dari kedua uswatun hasanah. Tatanan itu merupakan bayangan dari tatanan tajalli Allah, di mana Ar-Rahman dan Ar-Rahiim adalah inti tajalli Allah sedangkan Malik merupakan nafakh ruh Ar-Rahman sebagai perpanjangan dari tajalli inti. Hal ini menunjukkan bahwa pemakmuran bumi hanyalah perpanjangan dari terbinanya sifat rahman dan rahim. Setiap orang harus membina akhlak mulia berupa sifat rahman dan rahim terlebih dahulu, maka ia akan memperoleh kemampuan untuk melakukan pemakmuran bumi dengan benar menggunakan pengetahuan ayat-ayat Allah.
Dalam realitas kehidupan bumi, pengetahuan tentang alam kauniyah dengan mudah diperoleh oleh setiap orang sekalipun apabila ia tidak memperhatikan tuntunan Allah. Pengetahuan itu bisa berupa pengetahuan yang benar, bisa pengetahuan yang salah, atau bisa berupa suatu pengetahuan setengah kebenaran. Banyak pengetahuan duniawi bersifat netral, bisa digunakan untuk kebaikan ataupun kejahatan. Orang-orang yang jahat bisa menggunakan pengetahuan-pengetahuan duniawi yang benar untuk keuntungan mereka secara curang dengan semangat parasitis mencampurkan ilmu pengetahuan dalam metode mereka. Tugas orang beriman adalah merangkai pengetahuan dari potongan-potongan pengetahuan yang benar agar pengetahuan yang mereka susun mendatangkan manfaat yang besar bagi pemakmuran bumi. Rangkaian pengetahuan dan pemanfaatannya itulah yang akan mudah tersambung dengan tuntunan ayat-ayat kitabullah sehingga seseorang bisa mudah mengenal kehendak Allah dengan pengetahuan duniawinya.
Dewasa ini bisa dikatakan bahwa usaha orang jahat menggunakan pengetahuan untuk kehidupan manusia dilakukan lebih intensif daripada orang-orang beriman. Misalnya penggunaan perhitungan dalam muamalah, perhitungan keuangan dan ekonomi hingga saat ini banyak menggunakan sistem riba yang merugikan. Pengembangan teknologi nuklir banyak dimanfaatkan oleh orang-orang jahat untuk membuat bom yang merusak bukan pengembangan energi yang bersih. Jaringan komputer pada dasarnya dikembangkan untuk kepentingan tentara untuk memperoleh keunggulan atas pihak lain. Banyak penggunaan pengetahuan secara intensif dilakukan untuk kepentingan orang-orang yang sebenarnya jahat, dibanding penggunaannya oleh orang yang baik. Masyarakat umum dan muslim secara umum bersikap pragmatis sekadar berusaha menemukan kehidupan yang layak dalam tatanan yang sudah ada tanpa perlu memikirkan tuntunan yang harus diwujudkan dari sisi Allah. Sebagian orang beriman barangkali berusaha untuk lebih mengenal semesta diri mereka, tetapi mungkin terhenti hanya pada permulaannya saja karena akal yang kurang berkembang atau justru terkekang dengan aturan yang keliru. Inisiatif di antara mukminin untuk mencari pengetahuan secara lebih luas tampak kurang tumbuh, atau manakala tumbuh terkendala atau terkekang dengan batasan yang tidak perlu. Usaha demikian itu menjadikan potensi alam mereka tidak berkembang karena akal masyarakat yang kurang berkembang.