Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Para rasul mengajarkan tauhid dalam bentuk penyatuan langkah hamba Allah selaras dengan kehendak Allah. Penyatuan demikian harus dimulai dengan pembinaan diri dengan sifat-sifat yang baik selaras dengan kehendak Allah membentuk akhlak mulia. Akhlak mulia harus dibentuk sedemikian seseorang dapat memahami kehendak Allah dengan benar dengan membina diri sebagai misykat cahaya. Pemahaman terhadap ayat Allah harus dengan nafs yang disucikan Allah setelah seseorang menempuh proses tazkiyatun-nafs. Arah langkah membina tauhid yang diajarkan Rasulullah SAW dan para rasul utusan Allah yaitu berproses membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.
Pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah bukan hanya merupakan pemahaman terhadap konsep-konsep langit tetapi juga akan mendatangkan pemakmuran di bumi. Suatu pemahaman dapat diuji dengan cara ini, untuk menentukan apakah suatu pemahaman terhadap tuntunan Allah telah bersifat benar atau tidak tepat. Kadangkala dijumpai kaum yang tidak memandang baik kehidupan yang baik di dunia, maka hal itu merupakan pandangan yang tidak tepat dalam mengikuti tuntunan Allah. Memang seringkali dijumpai manusia berlomba dalam kehidupan dunia hingga melanggar ketentuan Allah tanpa mengetahui kehidupan yang baik, tetapi sebenarnya ada bentuk kehidupan yang baik di dunia yang harus terlahir melalui pemahaman terhadap kehendak Allah. Orang-orang beriman harus berusaha untuk memahami tuntunan Allah hingga mempunyai pengetahuan tentang cara untuk mewujudkan kehidupan yang baik.
Pengetahuan demikian hanya dapat dibangun dengan pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah. Untuk pembinaan pemahaman yang benar, Ada ketentuan dasar yang harus dipahami manusia di antaranya berupa hal-hal yang diharamkan Allah. Manakala ketentuan itu dilanggar, pemahaman manusia terhadap tuntunan Allah akan menyimpang dari apa yang dikehendaki Allah.
﴾۳۳﴿قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan berkata terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui" (QS Al-A’raaf : 33)
Pada pokoknya, Allah mengharamkan bagi manusia (1) perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, (2) perbuatan dosa, (3) Permusuhan atau melanggar hak orang lain tanpa alasan yang benar, (4) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (5) berkata tentang Allah tanpa suatu pengetahuan.
Itu adalah pokok dari keharaman yang ditentukan bagi manusia. Apabila ketentuan-ketentuan haram di atas tidak diperhatikan oleh manusia, pemahaman mereka terhadap tuntunan Allah akan menyimpang. Penyimpangan dalam pemahaman itu dapat mendatangkan madlarat terhadap kehidupan umat manusia ataupun kehidupan beragama orang-orang beriman. Mungkin saja kehidupan masyarakat menjadi kacau dan perhatian muslimin terhadap masalah itu tidak memadai. Banyak contoh kasus yang dapat terjadi. Penegak hukum menegakkan hukum tanpa mengerti keadilan dimana hukum hanya dijadikan permainan orang yang kuat. Nusantara negeri yang kaya sumber daya tetapi masyarakatnya sulit untuk sejahtera, dan kaum muslimin tidak mengetahui masalah yang terjadi. Kadang ada orang meninggalkan tuntunan kitabullah Alquran untuk melaksanakan perintah Allah mengikuti waham sendiri. Ini merupakan kesalahan pemahaman tentang perintah Allah. Hal demikian bisa menjadi contoh-contoh kasus yang bisa terjadi sebagai dampak dari penyimpangan dalam memahami tuntunan Allah. Sebagian muslim mungkin tidak memahami tuntunan, dan sebagian mungkin memahami tuntunan secara keliru. Seandainya orang beriman memahami tuntunan Allah dengan benar secara berjamaah, masalah-masalah yang buruk di masyarakat seharusnya dapat dihindarkan. Sebenarnya tuntunan Allah terhadap mukminin meliputi permasalahan demikian dan tugas orang beriman adalah mewujudkan kehidupan bermasyarakat yang baik dengan memahami dan mengikuti tuntunan dengan benar.
Perkataan Tentang Allah Tanpa Pengetahuan
Allah mengharamkan perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan. Itu merupakan tuntutan bagi kaum muslimin untuk bertauhid secara benar dengan hanya mengatakan perkataan yang benar tentang segala sesuatu dari sisi Allah dengan pengetahuan. Muslimin dituntut untuk bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dengan pengetahuan, dan dilarang untuk mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa mempunyai pengetahuan. Ini adalah tuntutan terhadap setiap muslim dalam bertauhid. Hal ini juga mencegah manusia agar tidak mudah ditipu syaitan.
Alquran dan sunnah Rasulullah SAW telah menjelaskan segala sesuatu tentang kebenaran dari sisi Allah dengan sempurna, dan seluruh perkataan dari kedua tuntunan itu adalah benar tidak ada yang keliru. Walaupun demikian, mungkin saja terjadi kesalahan pada diri orang-orang yang berusaha memahaminya atau orang yang menyampaikannya. Kaum muslimin sebenarnya tidak diperbolehkan membuat-buat perkataan terkait dengan kitabullah Alquran. Ini merupakan tuntutan agar seseorang mengatakan sesuatu dari Alquran dengan pengetahuan yang selaras dengan kehendak Allah, tidak mengatakan sesuatu darinya berdasarkan pemikiran sendiri. Membahas kandungan Alquran saja tanpa komitmen untuk berbuat kebaikan berdasar cahaya Allah tidak akan menjadikan manusia mempunyai pengetahuan yang benar tentang Allah. Pengetahuan selaras dengan kehendak Allah itu hanya diketahui oleh orang yang mempunyai komitmen kepada Allah untuk menyiarkan kemuliaan dari cahaya kitabullah Alquran setelah membina dirinya sebagai misykat cahaya membentuk akhlak mulia.
Kaum muslimin hendaknya juga berhati-hati dalam mengikuti perkataan tentang Allah agar tidak teerjebak mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa pengetahuan. Setiap orang hendaknya memperhatikan kebaikan dari perkataan-perkataan tauhid yang mereka ikuti, tidak bermudah-mudah untuk meyakini suatu perkataan berasal dari Allah tanpa berharap kepada Allah untuk memberikan pemahaman yang selaras dengan kehendak-Nya. Ini bukan sebuah larangan mengikuti penjelasan dari orang lain, tetapi hendaknya setiap orang tidak melupakan harapan kepada Allah untuk memberikan pemahaman selaras dengan kehendak-Nya, tidak terjerumus mengikuti perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan. Tidak pula terlarang bagi seseorang untuk mengikuti kebenaran yang bersifat relatif parsial selama ia tidak menutup diri dari pemahaman terhadap kebenaran yang lebih baik. Nabi Ibrahim a.s telah mencontohkan sikap hanif dalam mengenal Allah, walaupun muslimin jaman ini tidak perlu terlalu jauh melangkah dengan menyembah benda-benda.
Mencari pengetahuan yang benar terkait perkataan tentang Allah hendaknya dilakukan dengan membangun tauhid yang kokoh, ditempuh dengan membina diri sebagai misykat cahaya. Perkataan yang benar tentang Allah akan terbentuk dalam diri seseorang yang membina diri sebagai misykat cahaya. Cahaya Allah yang mereka terima akan membentuk suatu bayangan tentang kehendak Allah karena misykat cahaya yang terbentuk, sedemikian mereka mempunyai pengetahuan terkait perkataan tentang Allah. Manakala suatu ayat kitabullah dibaca, mereka mengetahui apa yang disampaikan dalam ayat tersebut. Demikian pula manakala ayat kauniyah mereka lihat, mereka melihat suatu hakikat dari sisi Allah terkait fenomena yang terlihat. Pemahaman mereka terkait ayat-ayat Allah itu terintegrasi membentuk pengetahuan yang selaras dengan kehendak Allah.
Sebagian kelompok muslimin membangun suatu kerangka bertauhid dengan perkataan-perkataan tentang Allah tanpa mempunyai pengetahuan, secara sembarangan mencomot ayat-ayat Allah tanpa suatu komitmen mengenal kebaikan dari sisi Allah untuk berbagi kepada orang lain sebagai wujud kasih sayang. Konsep yang mereka bangun tanpa pengetahuan itu menjadikan manusia tidak dapat memahami kebaikan dalam tuntunan Allah, hanya membangun pengetahuan tentang Allah secara keliru. Di antara yang mengajarkan perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan itu adalah kaum khawarij. Mereka justru menjadi penyerang orang-orang yang berusaha menjadi hamba Allah dengan benar, menyerang hamba Allah dengan perkataan-perkataan mereka tentang Allah tanpa pengetahuan.
Selain kaum khawarij, ada kelompok lain di antara kaum muslimin yang bermudah-mudah mengatakan sesuatu yang ada pada mereka sebagai kehendak Allah. Apa-apa yang melintas dalam persepsi indera mereka kemudian dipandang sebagai kehendak Allah tanpa berusaha mengetahui kedudukannya secara tepat dalam urusan Allah sebagaimana telah dicantumkan dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak pula mereka memikirkan akibat buruk dari apa yang mereka pandang sebagai perintah Allah. Tidak jarang sesuatu yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dianggap pula sebagai perintah Allah. Perkataan demikian itu termasuk sebagai perkataan tentang Allah tanpa landasan pengetahuan, dan hal itu merupakan hal yang diharamkan Allah. Di antara kelompok demikian itu adalah para ahli bid’ah yang mengerjakan banyak urusan-urusan tanpa memperhatikan urusan Rasulullah SAW.
Sikap para ahlul bid’ah akan mengganggu upaya Al-Jamaah. Orang-orang yang mengetahui urusan Rasulullah SAW yang harus diwujudkan pada ruang dan jaman mereka adalah bagian dari Al-jamaah. Kaum muslimin ahlul bid’ah mungkin akan melakukan usaha tanpa arah yang tepat karena tidak memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sedemikian sumber daya kaum muslimin akan tersedot melakukan upaya tanpa memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka mungkin meninggalkan usaha Al-Jamaah untuk mewujudkan urusan mereka sendiri. Bukan tidak mungkin pula mereka menghalangi atau menghancurkan usaha Al-jamaah sedangkan mereka memandang diri mereka melaksanakan urusan Allah. Keadaan ini bisa menjadi kuncian bagi mukminin yang tidak ingin terjebak kekacauan perselisihan, dimana mukminin hanya bisa menjauh. Hal demikian terjadi disebabkan menyimpangnya pemahaman terhadap kehendak Allah karena tidak mengharamkan apa yang diharamkan Allah dalam bentuk perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan. Untuk memahami dengan tepat kehendak Allah, setiap orang harus mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan menghalalkan apa yang dihalalkan Allah.
Mencari Pengetahuan Melalui Urusan Allah
Mengumpulkan pengetahuan tentang Allah bukanlah perkara mudah. Allah Maha Tinggi sedangkan manusia berada di alam bumi yang rendah. Demikian pula menyampaikan kepada manusia perkataan tentang Allah berdasarkan pengetahuan bukanlah perkara mudah. Sekalipun demikian selalu ada jalan bagi manusia untuk memperoleh pengetahuan tentang Allah. Allah memperkenalkan diri kepada manusia melalui berbagai urusan yang harus ditunaikan manusia hingga di alam dunia. Pengetahuan tentang Allah itu dapat diperoleh manusia dengan berusaha mengetahui urusan Allah yang harus ditunaikan masing-masing.
Setiap urusan Allah diturunkan melalui Rasulullah SAW dalam wujud kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan urusan Allah itu bisa membuahkan urusan-urusan yang banyak bagi setiap manusia. Setiap orang hendaknya berusaha mengenal urusan yang harus dikerjakan dirinya melalui pengenalan terhadap urusan Allah. Mengenal urusan Allah dan Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman menjadi jalan yang lebih aman bagi setiap mukmin untuk mengenal urusan diri sendiri, tidak sebaliknya. Kadangkala suatu kaum mengerjakan urusan-urusan sendiri yang mereka pandang baik disertai sikap mengabaikan seruan untuk melaksanakan urusan Allah dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka mereka itu akan menjadi golongan ahli bid’ah. Seringkali akan ditemukan adanya hal-hal yang diharamkan Allah dalam upaya mereka melaksanakan urusan. Orang yang ingin mengenal urusan dirinya hendaknya mencari pengenalannya melalui kepedulian terhadap urusan Rasulullah SAW, yaitu memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bersamaan dengan memperhatikan kauniyah diri mereka. Pengetahuan terkait perkatan tentang Allah selalu mempunyai landasan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, bukan berupa pengetahuan tentang keutamaan diri sendiri saja.
Seluruh urusan yang disebutkan dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW adalah urusan Allah. Urusan Allah yang hendak Dia perkenalkan tidak dibatasi oleh perkataan manusia, dan hanya dibatasi oleh kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Hanya Rasulullah SAW saja yang mengenal seluruh urusan itu secara sempurna. Seseorang hanya akan mengenal urusan yang harus ditunaikan dirinya sebagai bagian dari urusan Rasulullah SAW. Sayangnya hanya sedikit orang yang mengenal urusan dirinya yang merupakan bagian dari urusan Rasulullah SAW.
Kadangkala seorang muslim keliru dalam membuat batasan tentang urusan Allah. Mungkin saja ada muslim yang membatasi perintah Allah hanya dalam urusan-urusan tertentu terutama terkait dirinya saja, melupakan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai batasannya. Ketika ada orang lain mengerjakan urusan yang tidak benar-benar terkait dirinya, ia tidak memandang orang tersebut mengerjakan urusan Allah. Kadangkala seseorang tidak dapat mengenali washilah dirinya karena pembatasan keliru yang dilakukannya, memandang dirinya puncak dari urusan mengabaikan urusan Rasulullah SAW. Membatasi urusan Allah itu mungkin benar manakala seseorang merupakan pemangku urusan jamannya semisal khalifatullah Al-Mahdi. Seringkali orang keliru mengenal batasan urusan Allah. Hal itu bisa jadi disebabkan karena mungkin seseorang tidak benar-benar mengetahui urusan Allah bahkan bagi dirinya, dimana pengetahuan tentang urusan dirinya pun mungkin masih menyimpang dari tuntunan kitabullah. Pemangku urusan jaman yang benar akan menunjukkan urusan-urusan Allah kepada manusia berdasar ayat Allah, bukan membatasi urusan umat dalam batas urusan dirinya saja. Ia mengetahui batas urusan Allah adalah kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Kekeliruan batasan urusan Allah bisa juga terjadi dengan bentuk membatasi urusan Allah hanya pada urusan yang dicontohkan Rasulullah SAW semasa hidupnya saja. Kaum demikian membatasi pemahaman menurut kaum salaf saja tidak menyadari bahwa kitabullah merupakan pedoman sepanjang masa. Mereka memandang urusan Allah hanya dalam bentuk ibadah-ibadah mahdlah, dan selanjutnya umat islam diseret dalam perselisihan dalam ketelitian dalam melaksanakan ibadah mahdlah diajak bersaing dengan tatacara Dzulkhuwaisirah melaksanakan ibadahnya. Mereka tidak berusaha mengenal urusan Rasulullah SAW dengan hati yang jernih dan justru mencegah manusia untuk mengenal urusan yang seharusnya ditunaikan sebagai langkah mengikuti Rasulullah SAW.