Pencarian

Minggu, 21 Juni 2026

Bermajelis dengan Baik

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan beramal untuk pemakmuran bumi. Setiap muslim hendaknya menjalin hubungan baik dengan muslim lain sesuai keadaan masing-masing. Di antara orang beriman, shilaturrahmi hendaknya dibentuk untuk mewujudkan kehendak Allah, membentuk suatu jamaah dengan hubungan tertentu antara satu orang dengan yang lain. Menjalin hubungan shilaturrahmi dengan jamaah yang lain harus dilakukan untuk mewujudkan khazanah-khazanah yang dikenal di antara orang beriman. orang-orang yang mengenal suatu kandungan kitabullah Alquran harus berusaha mengenal sahabat yang mengenal suatu kandungan lain kitabullah, dan memimpin mukminin lain untuk merumuskan amal-amal yang perlu dilakukan.

Di antara wahana untuk menjalin shilaturrahmi orang-orang beriman adalah bermajelis.

﴾۱۱﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah. Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. QS Al-Mujaadilah : 11)

Ayat di atas memberikan petunjuk tentang prinsip-prinsip bermajlis. Allah meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Mereka itu hendaknya dijadikan pemimpin-pemimpin dalam majelis musyawarah karena sebenarnya Allah meninggikan orang-orang demikian di antara kaum muslimin dan mukminin. Iman dan ilmu adalah nilai-nilai yang harus diangkat melalui majelis-majelis orang beriman. Dengan keimanan dan keilmuan di antara orang-orang beriman, Allah hendak meninggikan derajat kaum beriman seluruhnya melalui majelis musyawarah yang mereka selenggarakan. 

Keilmuan yang ada di antara orang beriman ada banyak macamnya dan banyak pula bentuk hubungan keilmuan antara satu orang dengan orang lain. Sebagian hubungan keilmuan di antara mereka berbentuk fundamen dan cabang, ada keilmuan seseorang yang menjadi fundamen bagi keilmuan orang lain yang merupakan cabang-cabang dari fundamen itu, dan ada hubungan sejajar antar keilmuan, di mana keilmuan sebagian orang dengan sebagian yang lain merupakan sahabat yang sejajar dan harus bekerja sama.

Untuk terwujudnya pemakmuran, diperintahkan kepada sebagian orang beriman untuk melapangkan diri dalam majelis. Perintah ini terutama ditujukan kepada orang beriman untuk menerima sahabatnya yang berkedudukan sejajar dengan dengan dirinya, sedemikian sahabatnya itu dapat bekerjasama dengan baik dalam menyelenggarakan urusan yang harus ditunaikan. orang beriman tidak perlu merasa takut urusan mereka akan menjadi sempit karena bertambahnya sahabat yang melaksanakan urusan yang sama bersama mereka. Urusan yang harus mereka kerjakan akan menjadi meluas karena Allah akan meluaskan urusan mereka. Setiap orang beriman pada dasarnya mempunyai ilmu yang unik untuk ditambahkan bagi majelis mereka, sedemikian urusan mereka tidak berdesak-desakan satu dengan lainnya.

Peluasan ini berlaku apabila orang beriman dapat melapangkan diri untuk menerima sumbangan dari sahabat yang diberi tempat. Manakala orang beriman merasa terganggu dalam hal kepakaran diri atau senioritas diri di antara majelis yang telah ada, majelis itu akan menjadi sempit bukan karena menyempitnya majelis, tetapi karena mereka tidak melapangkan majelis. Selain itu, meluasnya majelis juga dipengaruhi dengan penempatan yang tepat. Mungkin suatu keputusan menempatkan seseorang pada suatu kedudukan di antara majelis tidak tepat sedemikian orang yang tempatkan tidak meluaskan majelis. Menempatkan seseorang harus diukur berdasarkan keimanan dan keilmuan yang ada pada orang yang ditempatkan, tidak boleh menempatkan mengikuti keinginan yang menempatkan saja. Menempatkan seseorang berilmu tidak perlu menunggu seseorang meninggikan diri dengan iman dan ilmunya. Kadangkala suatu kaum mengabaikan keimanan dan keilmuan yang tumbuh pada diri seseorang dan ia tidak diberi kedudukan untuk ilmunya, maka sikap demikian sebenarnya merusak tatanan. Tidak jarang banyak ilmuwan menjadi sia-sia karena penempatan yang berantakan. Hal demikian mempengaruhi luasnya/sempitnya majelis yang dibentuk orang-orang beriman. Setiap orang harus ditempatkan dengan tepat berdasarkan keimanan dan keilmuan yang tampak pada diri masing-masing. orang yang lebih beriman dan lebih berilmu ditempatkan lebih tinggi karena Allah meninggikan derajat mereka.

Diperintahkan pula bagi sebagian orang beriman untuk berdiri. orang-orang yang beriman dan berilmu adalah orang-orang yang diperintahkan untuk berdiri, maka hendaknya mereka berdiri untuk memberikan sumbangan pandangan atau bahkan pengarahan kepada majelis orang beriman. Kata انشُزُوا menunjukkan perintah meninggikan diri layaknya kata nusyuz. Hal ini pada dasarnya tidak boleh dilakukan seseorang dalam suatu majelis kecuali hanya untuk menunjukkan kepada majelis tentang keimanan dan keilmuan sehingga dapat diikuti oleh majelis. orang beriman tidak boleh melakukan nusyuz dengan dasar perkataan : “saya akan lawan” karena harga diri dan hal bathil lainnya. Keimanan dan keilmuan yang harus ditinggikan merupakan materi yang akan menjadikan derajat orang-orang beriman dalam majelis itu menjadi teorangkat, karena Allah mengangkat derajat orang yang beriman dan diberi ilmu. Sekiranya ia tidak mengetahui tingginya nilai kebenaran dalam apa yang ia angkat, hendaknya ia tidak meninggikan diri di antara majlis. Ia hendaknya memberikan pandangan dirinya tanpa berusaha meninggikan dirinya.

Tidak mudah bagi seseorang untuk mengukur diri apakah ia harus meninggikan diri atau tidak, dan seberapa tinggi ia harus meninggikan diri. Ia harus benar-benar memahami makna keimanan dan ilmunya, dan ia harus mengukur pula apakah majlis bisa menerima keimanan dan keilmuannya. Tidak sedikit masyarakat yang tidak benar-benar menghargai keimanan dan keilmuan, bahkan manakala suatu kaum mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang mencari kebenaran. Ketika dibacakan dengan benar kepada mereka ayat-ayat Allah yang harus diperhatikan untuk menemukan amal shalih, mereka mungkin tidak memperhatikan nilai dari bacaan itu. Ini sebenarnya merupakan sikap pengabaian terhadap kebenaran. Manakala ayat-ayat kitabullah dan maknanya yang telah jelas tidak diperhatikan, mereka sebenarnya tidak mencari kebenaran. Ayat kitabullah merupakan kebenaran hakiki dari sisi Allah yang Maha Tinggi, tidak ada yang lebih penting nilai kebenarannya dari ayat kitabullah. Ayat ini seharusnya dapat dipahami oleh setiap orang beriman yang mencari kebenaran. Manakala seseorang menyangka mencari kebenaran tetapi mengabaikan kebenaran dari kitabullah, persangkaan mereka itu hanya persangkaan kosong. Keadaan demikian akan mempersulit mukmin dalam meninggikan keimanan dan keilmuan di hadapan majelis.

Sebagai pertimbangan meninggikan diri, hendaknya diperhatikan hirarki keilmuan dan keimanan secara tepat. Fundamen ilmu agama berupa pembinaan pengetahuan tentang kehendak Allah harus ditempatkan sebagai hal yang paling penting. Berikutnya kaum mukminin harus memperhatikan pembinaan shilaturrahmi di antara mereka. Pemberdayaan potensi orang-orang beriman menjadi perhatian berikutnya sebelum memperhatikan pengolahan sumber daya alam. Demikian pula hal-hal terkait jihad yang perlu dilakukan oleh jamaah mukminin harus diperhatikan bersamaan. Setiap aspek keimanan dan keilmuan mempunyai hierarki yang harus ditempatkan dengan tepat sebagai bahan untuk mempertimbangkan apakah seseorang harus meninggikan diri atau harus mengikuti arus majelis.

Kedekatan dengan Ulama

Allah meninggikan orang beriman dan orang berilmu beberapa derajat, akan tetapi mungkin bukan usaha yang mudah bagi seseorang yang beriman dan diberi ilmu untuk meninggikan diri manakala diperintahkan untuk meninggikan diri. Hal ini bisa terjadi karena mungkin saja suatu kaum meninggalkan orang-orang berilmu yang ada di antara mereka.

Dari Anas ibn Malik r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda :
ﺳﻴﺎٔﺗﻲ ﺯﻣﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍٔﻣﺘﻲ ﻳﻔﺮﻭﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ،ﻓﻴﺒﺘﻠﻴﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺜﻼﺙ ﺑﻠﻴﺎﺕ ﺍٔﻭﻻﻫﺎ ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻣﻦ ﻛﺴﺒﻬﻢ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻳﺴﻠّﻂ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺳﻠﻄﺎﻧﺎ ﻇﺎﻟﻤﺎ ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻳﺨﺮﺟﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺑﻐﻴﺮ ﺍٕﻳﻤﺎﻥ
Akan datang satu masa dimana umatku akan lari (menjauh) dari ulama dan fuqaha, maka Allah akan mendatangkan tiga bencana atas mereka: 1. Allah akan mengangkat barokah dari usaha mereka, 2. Allah akan menguasakan atas mereka pemimpin yang dhalim, 3. Allah akan keluarkan dari dunia dengan tanpa iman HR Abu Nuaim)

Akan dijumpai suatu masa di mana umat Rasulullah SAW akan lari menjauh dari orang-orang yang diberi ilmu dan dari para fuqaha di antara mereka. Para ulama dan fuqaha yang dimaksudkan secara khusus adalah ulama yang diberi pengetahuan tentang hakikat dari sisi Allah, berupa pengetahuan realitas kauniyah selaras ayat-ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Para fuqaha adalah orang-orang yang dapat menerapkan pengetahuan hakikat dari sisi Allah ke aspek-aspek kehidupan manusia. Pengetahuan hakikat pada umumnya bersifat keterbukaan bukan pengetahuan yang disusun-susun. Walaupun dari keterbukaan, hakikat dapat diverifikasi kebenarannya dengan ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kadang suatu kaum mengalami keterbukaan pengetahuan tetapi tidak mengetahui bagaimana kebenaran pengetahuan itu harus dibuktikan, maka pengetahuan demikian belum merupakan pengetahuan hakikat. Sebaliknya kadang bukti kebenaran harus berjenjang. Pengetahuan hakikat selalu berakar pada suatu tuntunan tertentu dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. orang yang lari menjauh dari ulama dan fuqaha adalah orang yang menjauhkan diri dari orang yang mempunyai pengetahuan hakikat dan penerapan hakikat dalam kehidupan.

Umat Rasulullah SAW akan mengalami suatu jaman dimana mereka sebenarnya meninggalkan para ulama dan fuqaha. Boleh jadi sebagian dari mereka tidak merasa meninggalkannya, di mana mereka itu adalah orang-orang beriman akan tetapi sebenarnya keimanan mereka itu akan terlepas ketika kematiannya datang. Hal demikian terjadi karena mereka meninggalkan kebenaran dari hakikat yang disampaikan kepada mereka, tidak ingin menerapkan pengetahuan hakikat dalam kehidupan dunia. Mereka beriman tetapi tidak mau memahami hakikat yang disampaikan kepada mereka. Boleh jadi mereka mempunyai mata tetapi tidak digunakan untuk melihat realitas yang digelar, mereka mempunyai telinga akan tetapi tidak digunakan untuk mendengarkan penjelasan yang disampaikan, dan mereka mempunyai hati tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat kitabullah yang disampaikan kepada mereka. Perbuatan demikian termasuk dalam kategori berlari menjauh dari para ulama dan fuqaha.

Mestinya orang-orang beriman juga menjalin kedekatan dan menyatu dengan ulama dan fuqaha, bukan hanya mengikuti ilmunya. Untuk menjalin kesatuan demikian, hendaknya mereka berusaha untuk memahami ilmu dan fiqh yang disampaikan oleh ulama dan fuqaha. Ketersambungan upaya orang beriman pada kehendak Allah harus dibentuk juga melalui wujud-wujud manusia yang memperoleh ilmu, bukan hanya melalui keilmuan saja. Para ulama dan fuqaha itu adalah wujud manusia yang dapat menghubungkan upaya manusia terhadap kehendak Allah. orang yang mengikuti ilmunya saja mungkin memperoleh kekuatan untuk terhubung pada kehendak Allah secara terbatas, tetapi mereka akan terlepas manakala mendustakan atau durhaka kepada orang yang diberi ilmu itu. Ibarat tali, ilmu seseorang itu tali yang ia ulurkan kepada orang lain hingga mereka dapat berpegang. Ketika mendustakan, tali itu bisa terlepas dari orang yang mengulurkan sedangkan orang lain memegang talinya. Keterhubungan terhadap kehendak Allah itu harus dibina dengan penyatuan langkah bersama orang-orang yang diberi ilmu, tidak sekadar menggunakan ilmunya saja.

Penyatuan dengan ulama dan fuqaha harus dilakukan dengan berusaha memahami ilmunya. Tanpa keinginan terhadap ilmu yang bermanfaat, akan sulit menjalin kesatuan dengan ulama. Para ulama dan fuqaha itu benar-benar menginginkan manusia untuk berakal memahami ilmu hingga dapat memahami kehendak Allah, sama sekali tidak ingin memperoleh pengikut yang mengikuti pendapat mereka secara membuta. Orang yang mengikuti dengan membuta akan menjadi tanggungan yang berat bagi ulama kelak di hadapan Allah, sehingga tidak mungkin ulama dan fuqaha melangkah membodohkan manusia dengan taklid. Orang yang membodohkan manusia agar bertaklid tidak termasuk dalam golongan ulama dan fuqaha. Mungkin seorang ulama atau fuqaha memaksakan seseorang pada suatu ilmu tertentu karena adanya keterbatasan untuk menjelaskan ilmu, tetapi sebenarnya tidak menginginkan pengikutnya untuk tetap bodoh dalam mengikuti. Para ulama dan fuqaha itu pasti ingin menjadikan akal pengikutnya lebih kuat, walaupun mungkin langkah itu tidak dipahami oleh pengikutnya.

Kaum muslimin harus berhati-hati dengan proses pembodohan dengan sesuatu yang ditampakkan sebagai ilmu. Banyak muslimin terjebak pada definisi ulama hanya mengikuti hawa nafsu. Pada jaman umat lari dari ulama dan fuqaha, mungkin akan banyak dijumpai pula ulama palsu. Mungkin ulama yang mereka ikuti berasal dari kalangan ashaghir yang sebenarnya hanya mencari dunia dengan ilmu mereka. Mungkin pula dijumpai orang-orang yang tersesat berdasarkan ilmu mereka. Banyak kasus lain bisa terjadi terkait dengan status keulamaan dan kefuqahaan. Ulama dan fuqaha yang benar adalah ulama yang dan fuqaha yang menginginkan manusia seluruhnya untuk memahami kehendak Allah, tidak menginginkan memperoleh pengikut dari kalangan umat manusia. Ulama dan fuqaha yang palsu akan menjadikan umat manusia bodoh agar mau menjadi pengikut bagi mereka, baik karena ulama itu menginginkannya ataupun karena mereka mengikuti tipuan syaitan. Umat Rasulullah SAW hendaknnya bersikap tepat dalam perkara ini. Keinginan untuk mengabdi kepada Allah dengan memahami kehendak-Nya secara benar harus ditumbuhkan dengan kuat, tidak sekadar mengikuti apa yang mereka anggap sebagai ulama dan fuqaha. Ini adalah bagian dari keikhlasan. Keikhlasan ini akan mencegah umat Rasulullah SAW lari menjauh dari ulama dan fuqaha yang benar.

Dampak Karena Jauh Dari Ulama

Perbuatan lari menjauh orang beriman juga akan diikuti oleh muslimin yang lainnya. Mungkin mereka mengikuti dalam bentuk yang lain bukan durhaka, mendustakan atau menjauhi ulama dan fuqaha secara langsung karena mungkin kurang dekatnya mereka. Dampak dari larinya mukminin dan muslimin dari ulama dan fuqaha akan membuat keadaan masyarakat menjadi sulit. Jalan kehidupan untuk memperoleh rejeki (kasab) akan menjadi sulit dan akan diangkat pemimpin-pemimpin yang dzalim bagi mereka, serta kematian tanpa iman.

Dewasa ini dapat disaksikan bahwa kesulitan dalam berusaha mencari penghidupan ditimpakan atas kaum muslimin secara luas, dan diangkat bagi mereka penguasa yang dzalim. Penguasa dapat berbuat semena-mena menjual kekayaan bangsa kepada pihak asing untuk mengambil keuntungan diri sendiri secara berlebih, tidak memberdayakan anak bangsa untuk mengolah kekayaan mereka sendiri. Banyak fasilitas diberikan kepada parasit masyarakat sebagai sarana mempertahankan kekuasaan. Hukum ditegakkan ketika mengganggu kepentingan penguasa, dan dimanfaatkan untuk mencari tambahan penghasilan yang buruk untuk penegak hukum. Menjadi ulama ditinggalkan umat hingga sulit mengusahakan dakwah dan syiar untuk membentuk kehidupan yang baik. Menjadi orang berilmu sulit menerapkan ilmu dengan benar karena kepentingan tersembunyi yang dipaksakan. orang yang setia dengan ilmunya sulit memperoleh tempat secara layak dalam kasabnya. Masyarakat kecil sulit memperoleh pekerjaan. Tidak bekerja tidak memperoleh uang, ketika mendapat pekerjaan justru terlibat hutang. Kadangkala masyarakat bertanya, kehidupan macam apakah yang digelar bagi mereka hingga kasab mereka menjadi sulit?. Sangat banyak macam kesulitan yang menimpa penghidupan umat jaman ini hanya karena umat lari meninggalkan ulama dan fuqaha di antara mereka. Bukan tidak ada ulama dan fuqaha, tetapi mereka meninggalkan ulama dan fuqaha yang ada di antara mereka. Mungkin mereka tidak menyadari, tetapi mereka meninggalkan ulama dalam bentuk tidak pedulinya mukminin terhadap hakikat-hakikat yang harus diperjuangkan.

Keilmuan orang beriman harus dikembangkan mencakup keilmuan yang menimbulkan pengaruh baik terhadap keadaan kasab umat, tidak hanya sikap personal dalam hubungan kepada Allah. Hal ini bisa tercapai apabila mereka mengikuti ulama dan fuqaha yang benar, tidak mudah terjebak dalam kurungan kebodohan dalam bertuhan. Untuk mewujudkan keadaan yang baik dalam penghidupan umat, kaum mukminin harus membentuk majelis dengan benar. orang-orang yang diberi ilmu diberi kedudukan yang semestinya, setiap orang diberi kedudukan dengan tepat diukur berdasarkan ilmu, tidak diabaikan keilmuan yang benar pada masing-masing hanya karena mengikuti pendapat atau pandangan sendiri. Setiap orang harus dapat meluaskan tempat duduk mereka manakala diperlukan, dan orang yang diperintahkan untuk meninggikan diri hendaknya meninggikan diri mereka dalam majelis tidak berdiam diri, hingga kaum mukminin mengetahui ilmu yang harus diikuti dan diterapkan dalam kehidupan untuk memperbaiki keadaan mereka.

Kamis, 18 Juni 2026

Menyempurnakan Ibadah Kepada Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Tidaklah manusia dan jin diciptakan Allah kecuali untuk beribadah kepada Allah.

﴾۶۵﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. QS Adz-Dzariyaat : 56)

Ibadah merupakan pengabdian yang dilakukan untuk melaksanakan urusan Dzat yang diibadahi. Bentuk ibadah kepada Allah mencakup beberapa tingkatan, dari ibadah berupa contoh yang disyariatkan baik berupa kewajiban-kewajiban ataupun sunnah-sunnah, ataupun ibadah dalam bentuk pengabdian berupa amal-amal yang harus ditunaikan untuk mewujudkan kehendak Allah yang telah dijelaskan dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Ada kaum yang membatasi ibadah kepada Allah hanya bentuk-bentuk ibadah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW saja, maka batasan demikian sebenarnya belum mencukupi batasan-batasan ibadah. Batasan ibadah demikian hanya merupakan syarat permulaan untuk memenuhi perintah ibadah. Ibadah harus dilakukan hingga bentuk-bentuk amal dzahiriah yang lahir dari pemahaman terhadap kehendak Allah yang diperoleh melalui penjelasan ayat kitabullah dan ayat kauniyah yang digelar. Alquran merupakan petunjuk Allah yang diturunkan bagi makhluk yang berakal, menjelaskan seluruh kebenaran yang hendak diperkenalkan Allah kepada makhluk sepanjang masa. Alquran berlaku tidak hanya untuk sesuatu yang terjadi pada jaman Rasulullah SAW saja atau beberapa qurun setelahnya saja tetapi sepanjang masa. Bentuk ibadah yang sepenuhnya bagi hamba-Nya mencakup pelaksanaan amal-amal dzahiriah untuk mewujudkan kehendak Allah yang dipahami dari tuntunan kitabullah Alquran, selain ibadah yang disyariatkan sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Bentuk Ibadah yang sepenuhnya akan dikenali oleh mukminin yang benar-benar ikhlas dalam beribadah kepada Allah, berupa pengenalan terhadap amal-amal yang ditetapkan bagi diri masing-masing sebelum kelahiran mereka ke alam dunia. Bagi tiap-tiap manusia telah ditetapkan amal perbuatan yang harus mereka tunaikan dalam kehidupan di alam dunia sebagaimana tetapnya kalung pada lehernya. Amal-amal itu merupakan kesempurnaan ibadah setiap manusia, berupa jalan ibadah hingga dalam bentuk amal-amal duniawi mereka. Ibadah dalam bentuk syariat yang dicontohkan Rasulullah SAW merupakan bentuk ibadah dasar yang harus dilakukan setiap muslim, dan setiap muslim hendaknya berusaha menyempurnakan ibadahnya dalam bentuk mengenal dan melaksanakan amal-amal yang ditentukan bagi masing-masing.

﴾۳۱﴿وَكُلَّ إِنسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنشُورًا
Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. (QS Al-Isra’:13)

Tidak semua amal yang dilakukan manusia merupakan amal yang ditetapkan sebagaimana ayat di atas, dan bahkan kebanyakan manusia mengerjakan amal yang tidak ditetapkan baginya atau mereka beramal tanpa mengetahui amal yang ditetapkan baginya. Amal yang ditetapkan bagi manusia merupakan amal shalih yang paling hakiki, amal yang akan membukakan baginya pengetahuan hakikat-hakikat dari sisi Allah yang dapat diketahui berdasarkan tuntunan kitabullah Alquran. Amal yang ditetapkan itu sepenuhnya merupakan perintah-perintah yang terkait dengan suatu urusan tertentu dari kitabullah Alquran tidak keluar darinya.

Ini tidak membatasi amal shalih hanya pada amal yang ditetapkan. Setiap orang harus berusaha untuk beramal dengan landasan pengetahuan yang benar tentang kehendak Allah, maka amal itu menjadi amal shalih. Pengetahuan yang benar tentang kehendak Allah itu merupakan landasan bagi amal shalih. Manakala seseorang tidak mempedulikan kehendak Allah, tidak ada amal shalih yang terwujud dari mereka sekalipun mungkin tampak sebagai amal yang baik. Setiap orang hendaknya berusaha dengan sebaik-baiknya untuk memperoleh pengetahuan tentang kehendak Allah. Usaha demikian akan lebih mudah dilakukan dengan mengikuti langkah orang yang telah mengenal amal yang ditetapkan, disertai dengan berusaha memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW terkait dengan amal yang dilakukannya. Manakala seseorang yang mengenal amal yang ditetapkan baginya tidak dipedulikan, manusia yang mengabaikan akan terjebak pada usaha yang sulit dan cenderung sia-sia layaknya orang yang mengabaikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Membina Kerangka Ibadah

Ibadah dalam bentuk syariat yang dicontohkan Rasulullah SAW merupakan jalan yang disediakan Allah bagi hamba-Nya untuk memperoleh pengetahuan tentang kehendak-Nya. Allah sama sekali tidak membutuhkan pelaksanaan syariat yang dicontohkan, tetapi makhluk-lah yang membutuhkan syariat itu agar mereka tetap bisa mengenali kemuliaan di alam yang tinggi tidak terjerat dalam kehidupan rendah alam dunia. Allah mewajibkan syariat itu bagi makhluk sebagai bentuk rahman dan rahim-Nya agar makhluk dapat mengubah akhlak diri mereka menjadi mulia. Syarat utama terbentuknya kemuliaan akhlak pada diri makhluk adalah terbentuknya sifat rahman dan sifat rahim. Ibadah yang dikehendaki Allah atas diri manusia adalah beramal dengan amal-amal mengikuti tuntunan Allah yang dilakukan berdasarkan akhlak mulia berupa sifat rahman dan rahim. Sifat rahman adalah kemampuan yang harus dibentuk setiap manusia untuk dapat memahami kehendak Allah dengan benar, yaitu memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW berdasarkan keinginan mulia. Sifat rahman ditandai dengan kecintaan kepada kemuliaan Allah yang terpancar melalui berbagai media yang diturunkan-Nya, terutama kebenaran dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka mengenal kemuliaan yang terpancar dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan akal yang benar. Sifat rahim merupakan sifat ingin memberikan kebaikan kepada makhluk lain. Dalam beberapa kasus, kebaikan itu mungkin tampak tidak menyenangkan akan tetapi memberikan kebaikan.

Sifat Rahman

Sifat Rahman terbentuk melalui proses taubat, dimulai dengan tazkiyatun-nafs, mempelajari kandungan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mengenal diri dan membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Terbentuknya sifat rahman pada diri seorang manusia harus diwujudkan dalam bentuk amal-amal dzahiriah dan seringkali berbentuk amal-amal duniawi bukan ibadah mahdlah. Amal-amal demikian merupakan amal shalih, yaitu amal-amal yang dilakukan berdasarkan pengenalan yang benar oleh seseorang terhadap kehendak Allah. Amal-amal shalih demikian itu merupakan bentuk ibadah yang dikehendaki Allah atas diri seseorang. Ibadah yang sepenuhnya harus dilakukan oleh seseorang terbentuk melalui proses pembentukan akhlak mulia hingga seseorang mengenal kehendak Allah, bukan hanya melakukan yang dicontohkan Rasulullah SAW. Allah sama sekali tidak membutuhkan pelaksanaan syariat oleh manusia, akan tetapi Dia menghendaki makhluk agar menjadi mulia dengan syariat yang harus ditempuh untuk membentuk akhlak mulia.

Memahami kehendak Allah pada pokoknya adalah memahami realitas kauniyah sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sebagian orang berkembang akalnya hingga dapat menentukan pilihan secara benar pada cabang-cabang atau ranting-ranting dari persoalan yang tumbuh dari suatu ayat tertentu dengan bertanya atau memohon jawaban kepada Allah. Penentuan pilihan demikian benar selama dilakukan dengan pemahaman terhadap pokoknya, yaitu memahami realitas sesuai dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Jawaban demikian  harus digunakan dengan terlebih dahulu diuji hubungannya dengan realitas dan ayat kitabullah. Ada jawaban yang benar dan ada jawaban yang dikehendaki Allah untuk menyesatkan orang yang tidak berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bertanya atau memohon kepada Allah terkait suatu perkara hendaknya tidak dilakukan dalam perkara yang telah diketahui tercantum dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan tidak dilakukan untuk perkara yang tidak jelas kedudukannya misalnya menanyakan segala sesuatu secara sembarang. Setiap pemahaman yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bernilai salah, baik pemahaman itu diperoleh melalui usaha memahami ataupun melalui memohon jawaban kepada Allah.

Sifat Rahim

Sifat rahman sebenarnya tidak dapat berdiri sendiri pada diri seorang makhluk. Setiap sifat rahman selalu bersanding dengan sifat rahim yaitu sifat menyayangi orang lain. Akal pada diri seseorang dalam memahami kehendak Allah hanya akan tumbuh dengan benar apabila ada sifat menyayangi orang lain. Suatu pemahaman terhadap tuntunan kitabullah yang tumbuh dari sifat kejam atau keras hati tanpa rasa menyayangi orang lain tidak menunjukkan adanya akal, tetapi hanya merupakan hasil pikiran saja. Banyak orang munafiq yang menggunakan ayat-ayat Allah hanya berdasarkan pikiran saja untuk keuntungan mereka tanpa ada keinginan menyayangi orang lain, misalnya memenangkan perkara yang diperselisihkan. orang-orang musyrik juga menyusun ajaran yang menyesatkan manusia menggunakan penggalan ayat-ayat Allah, sedemikian kaum muslimin tersesat dan manusia memandang buruk ajaran Islam karena melihat apa yang dibuat kaum musyrikin. Pemahaman yang benar terhadap ayat-ayat Allah hanya akan tumbuh dengan benar pada diri seseorang apabila disertai dengan sifat menyayangi orang lain.

Sifat rahim harus dibina dan diwujudkan dengan menjalin shilaturrahmi kepada orang lain, tidak dibiarkan hanya sebagai benih berupa keinginan saja memberikan kebaikan kepada orang lain. Setiap muslim hendaknya menjalin hubungan baik dengan orang lain sesuai keadaan masing-masing. Bagi orang beriman, shilaturrahmi hendaknya dibentuk terutama untuk mendukung langkah mewujudkan kehendak Allah, membentuk suatu jamaah dengan hubungan tertentu antara satu orang dengan yang lain. Inti pembentukan jamaah demikian dilakukan dan dikembangkan dengan membina pernikahan. Setiap orang beriman hendaknya berusaha mengenal peran masing-masing dalam hubungan sosial yang dibentuk. Seorang suami berusaha mengenal khazanah yang ada pada isterinya dan berusaha mewujudkan khazanah itu, dan seorang isteri berusaha dengan sebaik-baiknya untuk mengimbangi dan membantu mewujudkan upaya suaminya menunaikan amal. Pengenalan khazanah itu hendaknya diluaskan dengan menjalin hubungan shilaturrahmi dengan jamaah yang lain mewujudkan khazanah-khazanah yang dapat dikenal. Orang-orang yang mengenal suatu kandungan kitabullah Alquran harus berusaha mengenal sahabat yang mengenal kandungan lain kitabullah untuk memimpin mukminin lain merumuskan amal-amal yang perlu dilakukan. Hubungan shilaturrahmi demikian apabila mungkin harus dikembangkan untuk diterapkan dalam bernegara agar terbentuk tatanan masyarakat madani.

Shilaturrahmi merupakan landasan pertumbuhan sosial bagi setiap orang. Tanpa suatu shilaturrahmi, seseorang tidak akan dapat berkembang secara sosial. Pertumbuhan sosial ini sangat ditentukan oleh pernikahan. Tidak ada seorang laki-laki yang dapat berperan sosial dengan baik tanpa seorang isteri yang baik mendampinginya. Hubungan sosial yang dibentuk melalui keluarga yang baik akan membentuk hubungan yang sesuai dengan keadaan diri seseorang. Pembinaan shilaturrahmi yang baik akan tercapai dengan pembinaan keluarga yang baik. Pasangan menikah yang baik akan berfungsi layaknya pakaian memancarkan aura yang tepat dari diri seseorang sehingga terbentuk hubungan sosial yang tepat baginya. Pakaian yang buruk akan memancarkan aura kehinaan dari diri seseorang dalam pandangan masyarakat sedemikian mereka akan sulit membentuk shilaturahmi yang baik. Kadangkala aura yang dipancarkan pakaian itu sendiri bisa mengalahkan nilai intrinsik yang sebenarnya ada pada diri seseorang hingga menimbulkan fitnah atas diri seseorang.

Sebagai gambaran, kadangkala seseorang ingin membentuk hubungan sosial untuk suatu perjuangan yang baik bagi negerinya, akan tetapi mungkin yang datang kepada mereka justru para penjahat yang menggerogoti harta dan perjuangannya karena aura yang tidak tepat dipancarkan orang tersebut. Hal demikian itu mudah terjadi bila pembinaan shilaturrahmi tidak dilakukan melalui pembinaan keluarga yang baik. Kadangkala syaitan dan musyrikin penyembahnya bisa menempatkan wakil dari mereka sebagai pembantu terdekat bagi orang yang baik demikian hingga perjuangannya menjadi kacau atau bahkan orang itu sendiri menjadi rusak. Demikian pula kadangkala seseorang yang ikhlas berjuang untuk agamanya tidak dipercaya oleh masyarakat karena keluarganya berantakan. Mungkin saja pembacaan ayat kitabullah yang benar tidak dipandang ada nilainya oleh masyarakat atau komunitasnya, dan begitu pula amal-amalnya dipandang sebagai sumber masalah bagi orang lain. Demikian itu contoh yang bisa terjadi karena shilaturrahmi yang tidak dilandaskan pada pembinaan keluarga. Membentuk komunitas sosial harus dilakukan dengan membina keluarga yang baik, karena hal itu akan menjadikan komunitas yang dibentuk dapat berjalan searah dengan visi diri, terutama apabila seseorang berkeinginan untuk menjadi pelayan bagi kehendak Allah. 

Bagi para hamba Allah, kehendak Allah seringkali tidak dapat ditunaikan tanpa keluarga membersamai. Orang beriman harus membina suatu bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah sebagai bagian dari tahap perkembangan taubat yang harus dilalui. Bayt demikian itu merupakan sarana yang sangat penting dalam pelaksanaan kehendak Allah, dan merupakan suatu penanda bahwa langkah taubat seseorang berada pada jalan yang benar. Melewatkan urusan demikian merupakan tanda kesesatan. Mungkin seseorang tidak berhasil membina bayt tetapi ia tidak melewatkan perhatian terhadap pembinaan bayt, maka ia sebenarnya masih berada di jalan yang benar. Sebaliknya mungkin seseorang berhasil berperan sosial untuk masyarakatnya akan tetapi melupakan pembinaan keluarganya, maka boleh jadi ia berada dalam kesesatan. Mungkin mereka hanya memperturutkan hawa nafsu saja, atau menginginkan harta dan kedudukan di antara manusia, atau syaitan dan hal lain yang merupakan tanda ia tidak di jalan Allah. orang yang beriman harus membina keluarga sebagai bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Rumah yang baik juga berfungsi bagi setiap orang, bukan hanya bagi orang-orang yang shalih. Seorang fir’aun pun menjadi lebih terpandang dibanding fir’aun lainnya manakala menikah dengan Asiyah binti Muzahim.

Pernikahan merupakan wahana pertumbuhan paling baik bagi sifat rahman dan rahim. Manakala seseorang tidak bisa tumbuh menyayangi keluarga sendiri, kasih sayangnya kepada orang lain mungkin merupakan kasih sayang palsu, atau kasih sayang yang tidak selaras dengan kehendak Allah. Ukuran demikian ini bersifat subjektif, hanya dapat digunakan untuk mengukur diri sendiri karena kompleksnya variabel dalam rumah tangga yang tidak dapat dilihat orang lain. Kadangkala kasih sayang dan sifat baik tidak tumbuh bersama dalam pernikahan, maka orang lain tidak bisa mengukur tanda pertumbuhan kasih sayang mereka dengan benar. Kasih sayang dalam keluarga merupakan bentuk kasih sayang yang paling kokoh dan benar karena ujian intensif yang terjadi dalam rumah tangga. Tumbuhnya kasih sayang dalam keluarga itu merupakan landasan kekuatan untuk menjalin shilaturrahmi dengan orang lain, sedemikian pewujudan pengetahuan terhadap kehendak Allah dapat dilaksanakan. Terputusnya kasih sayang dalam keluarga akan memutuskan penopang upaya pewujudan pengetahuan seseorang terhadap kehendak Allah.

Dengan fungsi sosial semacam ini, pernikahan menjadi setengah bagian dari agama. Untuk memahami hal ini, Agama harus ini dilihat sebagai pelaksanaan ibadah yang seutuhnya berupa pelaksanaan ibadah yang dicontohkan Rasulullah SAW dan pelaksanaan amal-amal yang diwujudkan berdasarkan pemahaman terhadap kehendak Allah melalui tuntunan kitabullah dan ayat kauniyah yang terjadi. Manakala agama dibatasi pada syariat ibadah yang dicontohkan Rasulullah SAW, agama sebagai setengah bagian dari agama menjadi sulit dipahami. Agama harus dipahami dalam lingkup yang lebih lengkap dalam pelaksanaan kehendak Allah. Agama merupakan pelaksanaan fitrah penciptaan diri manusia, bukan sekadar pelaksanaan syariat yang dicontohkan Rasulullah SAW saja. Kaum musyrikin benar-benar membangkitkan batasan amal dalam agama secara sempit sebagai sarana membangkitkan firqah-firqah dengan kebanggaan-kebanggaan yang keliru di antara firqah-firqah di antara kaum muslimin. Dengan berusaha memahami batasan agama secara lebih lengkap, kebanggaan yang keliru sebagai bahan memecah-belah umat islam akan terkurangi.

Jumat, 12 Juni 2026

Kemenangan Dengan Jihad di Jalan Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk berjihad di jalan Allah.

﴾۰۲﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ اللَّهِ وَأُولٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
﴾۱۲﴿يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُم بِرَحْمَةٍ مِّنْهُ وَرِضْوَانٍ وَجَنَّاتٍ لَّهُمْ فِيهَا نَعِيمٌ مُّقِيمٌ
(20) orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (21) Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari pada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kenikmatan yang menetap QS At-Taubah : 20-21)

Setiap orang harus berusaha mengenali jalan jihad masing-masing hingga mengenali jihad di jalan Allah dengan baik. Jalan Allah adalah jalan yang dikenali oleh orang-orang yang mengenal kehendak Allah, yang diperoleh orang yang telah beriman dan telah berhijrah. Berjihad di jalan Allah adalah bersungguh-sungguh melakukan usaha untuk menunaikan kehendak Allah atas diri manusia. Jihad di jalan Allah tidak hanya ditunaikan oleh orang-orang yang secara pasti mengenal kehendak Allah atas diri mereka, karena orang-orang yang mengikuti langkah jihad di jalan Allah juga akan dihitung sebagai berjihad di jalan Allah selama niatnya ikhlas untuk Allah sedangkan mereka mengetahui tuntunan-tuntunan dari firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW terkait dengan jihad yang mereka lakukan. Sebaliknya sekalipun mengikuti jihad bersama Rasulullah SAW di jalan Allah, seseorang yang niatnya tidak benar akan tetap menjadi orang yang celaka sekalipun ia terbunuh dalam jihad itu.

Syarat-Syarat Kemenangan

Terdapat dua keadaan yang menjadi syarat agar suatu jihad menjadi jihad di jalan Allah, yaitu beriman dan berhijrah. Dengan terpenuhinya kedua syarat tersebut, jihad yang dilakukan suatu kaum akan menjadi lurus sehingga efektif mendatangkan hasil-hasil berupa kebaikan. Banyak orang yang berjihad tetapi keimanan mereka atau yang mereka ikuti hanya lemah, maka jihad mereka tidak mendatangkan hasil yang baik. Mungkin suatu kaum sibuk melakukan banyak amal-amal yang dipandang baik, tetapi amal-amal mereka tidak menyentuh akar masalah yang dihadapi. Keimanan yang lurus dan hijrah akan menjadikan jihad oleh suatu kaum mendatangkan kebaikan dengan efektif.

Orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka akan mempunyai derajat yang tinggi di sisi Allah. Normalnya, tingginya derajat manusia di sisi Allah juga akan menampakkan ketinggian derajat mereka dalam pandangan manusia. orang yang beriman dan berhijrah dan berjihad di jalan Allah akan tampak sebagaimana layaknya orang-orang yang berpengetahuan dengan cahaya keimanan mereka, sedemikian mereka dapat mensikapi peristiwa-peristiwa yang terjadi secara tepat sesuai dengan cahaya Allah yang mereka pahami. Mereka bukan orang-orang yang tidak mempunyai pengetahuan terhadap peristiwa-peristiwa di alam kauniyah hingga bisa bisa dipermainkan. Walaupun demikian, mungkin saja tingginya derajat di sisi Allah itu ditutupi dengan suatu fitnah, terutama bagi pandangan umat manusia yang akalnya lemah.

Orang yang beriman, berhijrah dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka adalah orang-orang yang memperoleh kemenangan. Manakala seluruh syarat berjihad di jalan Allah sebagaimana tersebut di atas telah dipenuhi oleh kaum mukminin, mereka akan menjadi orang-orang yang memperoleh kemenangan. Mungkin banyak orang beriman yang merasa telah berjihad di jalan Allah akan tetapi tidak tampak bagi mereka tanda-tanda kemenangan, maka seharusnya mereka memeriksa kembali persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi dalam jihad mereka. Setiap orang hendaknya memeriksa keimanan mereka, memeriksa hijrah mereka, memeriksa apa yang mereka anggap sebagai jalan Allah, memeriksa infaq dari harta mereka dan memeriksa keikhlasan mereka dalam melaksanakan jihad. Adanya kekuorangan dalam syarat-syarat yang harus dipenuhi akan menjadikan jihad tidak mendatangkan kemenangan.

Suatu jihad di jalan Allah bukan berbentuk suatu usaha coba-coba, tetapi usaha yang dilakukan di atas suatu pengetahuan berdasarkan keimanan. Pengetahuan demikian bersifat mudah dipahami oleh orang yang ingin mengikuti. Mungkin ada orang yang mengingkari karena tidak ada keinginan kembali kepada Allah, akan tetapi sebenarnya pengetahuan demikian itu bukan sesuatu yang bisa diperdebatkan. Orang yang mengenal jalan Allah akan memahami firman-firman Allah terkait langkah yang harus dilakukan. Manakala suatu jihad dilakukan di atas kebutaan terhadap langkah yang dituntun Allah, jihad itu bukan jihad di jalan Allah. Setiap jihad di jalan Allah dilakukan dengan pengetahuan berdasar keimanan. Dalam hal ini, keimanan bukan hanya rasa percaya, tetapi juga pengetahuan dan keyakinan tentang adanya kebaikan pada hal-hal yang menjadi objek keimanan. Percaya adanya Allah saja belum tentu menunjukkan seseorang beriman kepada Allah. Iman kepada Allah ditunjukkan dengan adanya pengetahuan dan keyakinan tentang kehendak Allah yang mengarahkan diri mereka pada kebaikan. Keimanan terhadap kitabullah ditunjukkan dengan pengetahuan terhadap kandungan ayat demi ayat kitabullah, bukan sekadar mempercayai bahwa Alquran adalah firman yang diturunkan Allah. Langkah jihad di jalan Allah hanya dilakukan di atas pengetahuan dari cahaya Allah. Mungkin banyak orang berjihad untuk suatu kebaikan tetapi sebenarnya belum mencapai jihad di jalan Allah, maka jihad mereka tidak mendatangkan kemenangan.

Salah satu penyakit besar yang berpotensi besar menghalangi umat untuk berjihad di jalan Allah yang umum terjadi diantaranya berupa keengganan menggunakan akal untuk memahami penjelasan-penjelasan tuntunan Allah. Sebagian orang beriman tidak mau membuka mata terhadap persoalan umat yang terjadi, tidak mau memasang telinga untuk mendengar ayat Allah yang dijelaskan kepada mereka bahkan kala terkait peristiwa kauniyah, tidak pula menggunakan hati untuk memahami ayat-ayat Allah yang harus diperjuangkan. Mereka berjuang untuk urusan yang hinggap dalam benak mereka sendiri tanpa merasa perlu memahami masalah yang terjadi menurut tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Amal yang terbentuk dari orang yang berpenyakit demikian seringkali berupa kesibukan yang banyak akan tetapi tidak menyentuh masalah yang terjadi. Mereka seolah-olah banyak beramal shalih tetapi tidak mendatangkan hasil yang semestinya, dan sebenarnya mereka jauh dari kemenangan. Banyak muslim atau mukmin yang tidak mempunyai perhatian terhadap penjelasan-penjelasan terkait tuntunan kitabullah karena merasa telah mempunyai pengetahuan tentang jalan Allah.

Faktor kemenangan yang terbesar bagi orang yang berjihad di jalan Allah itu sendiri berupa terangnya jalan karena pengetahuan berdasar keimanan. Mungkin seseorang mati syahid dalam jihadnya sebelum mencapai kemenangan di alam dunia, akan tetapi kematiannya itu sendiri merupakan kemenangan bagi mereka. Alam setelah kematian akan menjadi terang benderang bagi mereka, lebih terang daripada terangnya pengetahuan mereka sebelumnya dalam kehidupan di alam dunia. Manakala seseorang tidak meninggal dalam jihad di jalan Allah, mereka akan selalu melihat jalan yang terang dalam jihadnya di jalan Allah berdasarkan tuntunan cahaya Allah, hingga mereka bisa memperoleh kemenangan di alam dunia melalui jihad mereka. Manakala suatu kaum berjihad di jalan Allah dalam kegelapan, mungkin mereka belum benar-benar menghayati tuntunan Allah bagi jihad mereka. Jihad di jalan Allah dilakukan dengan suatu pandangan berdasarkan pengetahuan yang terang.

Faktor kemenangan lain yang harus diperhatikan adalah jihad dengan sepenuh jiwa dan infaq dengan harta. Orang yang telah mempunyai pengetahuan atau penglihatan tentang jalan Allah harus bersungguh-sungguh “menjual” dirinya kepada Allah untuk melaksanakan jihad di jalan Allah. Hal ini harus dilakukan apabila seseorang telah melihat jalan Allah berdasarkan cahaya Allah yang dipahami, baik dengan pikirannya ataupun akalnya. Sangat banyak hal yang mungkin akan menghalangi seseorang “menjual” dirinya. Keinginan terhadap keinginan duniawi merupakan penghalang yang ada dalam diri setiap manusia. Selain itu mungkin umat akan menghalangi. Mungkin keluarga akan selalu mengajukan tuntutan nafkah bagi mereka sedemikian seseorang tidak bisa sepenuhnya berjihad di jalan Allah. Dalam hal keluarga, sebenarnya keluarga perlu disertakan dalam jihad dengan membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, akan tetapi mungkin saja pembinaan demikian tidak berhasil dilakukan sedemikian upaya “menjual” nafs untuk jihad di jalan Allah menjadi terhambat. Ini akan mempengaruhi terwujudnya kemenangan. Demikian pula masyarakat luas mungkin mendatangkan halangan bagi seseorang untuk menjual diri mereka kepada Allah, dan menghalangi datangnya kemenangan.

Infaq dalam bentuk harta merupakan faktor kemenangan dalam jihad di jalan Allah yang mudah dipahami oleh manusia secara umum. Setiap usaha akan membutuhkan modal usaha, dan modal ini harus dikelola oleh kaum mukmin dengan sebaik-baiknya sebagai pelancar melaksanakan jihad di jalan Allah. Sebenarnya ada sedikit perbedaan pandangan antara masyarakat umum tentang modal dengan infaqa orang yang berinfaq di jalan Allah. Infaq di jalan Allah merupakan harta yang akan ditumbuhkan Allah sebagai kebaikan-kebaikan di semesta alam. Bila hanya sedikit infaq yang diberikan di jalan Allah, akan sedikit pula kebaikan yang tumbuh, walaupun tetap saja harta itu dilipatgandakan sebagai kebaikan. Yang penting diperhatikan oleh orang yang berinfaq, pertumbuhan atau pelipatgandaan kebaikan yang akan muncul dari harta yang diinfaqkan akan ditentukan oleh bentuk jihad yang dilakukan oleh pemakai infaq. Manakala infaq diberikan kepada orang-orang munafiq, mungkin harta infaq yang diberikan hanya akan hangus atau membakar balik tidak tumbuh sebagai kebaikan. Infaq yang digunakan untuk kebaikan akan mendatangkan kebaikan dalam lipatganda tertentu. Infaq yang sebaik-baiknya adalah yang diberikan untuk jihad di jalan Allah. Infaq demikian akan tumbuh menjadi kebaikan yang sebaik-baiknya. Kadangkala umat memberikan infaq yang besar pada urusan-urusan yang tidak penting dan justru membiarkan jihad di jalan Allah tidak memperoleh infaq, sedangkan jihad itu yang akan melipatgandakan kebaikan paling besar dari infaq yang diberikan.

Berbagai Ladang Jihad

Dunia islam saat ini kebanyakan mungkin bisa dikatakan berada dalam ketiak orang-orang musyrik. Negara masyarakat muslim yang besar ini harus memberikan upeti kepada pihak asing dengan menyerahkan pengelolaan berbagai harta kekayaan alam, sedangkan masyarakat bangsanya sendiri hidup dalam kemiskinan. Pemerintah harus menyediakan fasilitas untuk militer asing agar tidak diguncang dengan pergantian penguasa. Keadaan demikian merupakan bentuk kegelapan yang seharusnya tersingkap dengan keimanan, dan dihilangkan dengan jihad di jalan Allah. Ini bukan persoalan yang sepenuhnya merupakan kesalahan orang-orang yang haus akan kekuasaan, tetapi juga dipengaruhi oleh pembinaan di antara kaum muslimin dan mukminin. Bila masyarakat muslim dan mukmin dapat melihat jalan Allah kemudian mereka beriman, berhijrah dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka, bangsa muslim akan menjadi bangsa yang memperoleh derajat yang tinggi dan memperoleh kemenangan.

Sayangnya tampaknya hal demikian belum terjadi. Kebanyakan muslimin hanya dapat berkeluh kesah tentang kesulitan yang menimpa diri mereka tanpa mengetahui jalan keluar yang dapat diusahakan. Kitabullah yang bisa memberikan penjelasan tentang keadaan mereka tidak tersentuh kandungannya oleh kebanyakan muslim. Ada sebagian muslimin tidak mengetahui jalan untuk memahami, sebagian yang mengetahui jalan merasa malas untuk memahami hanya mengikuti persangkaan kebenaran yang telah terbentuk, sebagian yang bersemangat berjihad hanya memperturutkan pikiran sendiri. orang-orang yang bisa memahami justru tidak dihiraukan. Kebanyakan masyarakat muslimin dan mukminin hanya mengikuti perkataan orang-orang yang mereka pandang benar tanpa berusaha mengikuti tuntunan kitabullah. Dengan berbagai keadaan, tuntunan kitabullah tentang keadaan yang terjadi atas diri kaum muslimin itu menjadi tidak tersentuh, maka kaum muslimin hanya dapat mengeluh tentang keadaan mereka.

Apabila masyarakat muslim mau mengikuti ajaran yang dapat menyentuh tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW secara benar, mereka sebenarnya akan mengetahui jalan Allah, dan mereka akan memperoleh jalan untuk berjihad di jalan Allah. Jihad di jalan Allah itulah yang akan mengantarkan kaum muslimin untuk memperoleh derajat yang tinggi dan memperoleh kemenangan. Ini berlaku apabila disertai dengan memenuhi persyaratan-persyaratan yang lain. Upaya muslim mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan menghadapi berbagai halangan dan rintangan yang sangat banyak. Banyak pengajaran-pengajaran palsu yang dibuat oleh kaum musyrikin agar muslimin tidak bisa mengikuti tuntunan Allah. Musyrikin benar-benar berusaha agar muslimin dan mukminin tidak bisa memperhatikan pengajaran yang benar yang menyentuh kandungan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ada pula bakal ditemukan upaya jihad tetapi sebenarnya hanya merupakan dasar ajaran yang benar belum menyentuh kandungan kitabullah. Ada pula pengajaran-pengajaran yang tampak tinggi akan tetapi sebenarnya menyimpang dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sangat banyak halangan yang harus dihadapi oleh kaum muslimin dan mukminin untuk mengenal dan mengikuti ajaran yang menyentuh tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW secara benar. Setiap muslim harus bersungguh-sungguh menggunakan pikiran dan akalnya dengan benar agar dapat mengenali ajaran yang menyentuh tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW secara benar.

Pada kenyataannya, kebanyakan muslimin dan mukminin tidak m3emperhatikan tuntunan Allah dengan benar. orang yang berjuang untuk menegakkan tuntunan Allah dan sunnah Rasulullah SAW seringkali harus tersingkirkan dari masyarakat terkalahkan oleh yang lain, baik yang jahat seperti kaum yang mengaku-aku sebagai kaum yang paling sunnah tanpa mengerti peringatan Rasulullah SAW tentang ajaran yang mereka ikuti, ataupun kaum yang tidak benar-benar mengerti tentang tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW baik karena kurangnya akal ataupun karena kesesatan. Selama orang yang berjihad di jalan Allah menegakkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hanya menjadi kaum pinggiran di antara umat islam, umat islam akan berada dalam kehidupan yang sempit dan disempitkan oleh kaum musyrikin. Derajat yang tinggi dan kemenangan itu diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman, berhijrah dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka.





Kamis, 11 Juni 2026

Menguatkan Pondasi Jihad

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk berjihad di jalan Allah.

﴾۰۲﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ اللَّهِ وَأُولٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
﴾۱۲﴿يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُم بِرَحْمَةٍ مِّنْهُ وَرِضْوَانٍ وَجَنَّاتٍ لَّهُمْ فِيهَا نَعِيمٌ مُّقِيمٌ
(20) orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.(21) Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari pada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kenikmatan yang menetap QS At-Taubah : 20-21)

Setiap orang harus berusaha mengenali jalan jihad masing-masing hingga mengenali jihad di jalan Allah dengan baik. Seseorang mungkin harus berjihad untuk berikrar dua kalimah syahadat untuk menjadi muslim. Seorang muslim mungkin harus menempuh jalan tazkiyatun nafs agar iman masuk ke dalam hati mereka. orang yang menempuh jalan tazkiyatun nafs mungkin harus berjuang mengalahkan hawa nafsu dan berjuang memahami tuntunan kitabullah secara lurus. Seorang yang mengenal diri mungkin harus berjuang mengenali urusan yang dikenalinya dalam urusan Rasulullah SAW agar ia tetap dalam Al-Jamaah, dan ia berusaha membina bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya. Demikian seterusnya sedemikian setiap orang beriman membentuk akhlak mulia untuk memperoleh kesempurnaan iman. Dengan terbentuknya keimanan, seseorang akan mengenali sungguh-sungguh jihad di jalan Allah, bukan hanya persangkaan di jalan Allah saja. Setiap orang harus menemukan jihad masing-masing hingga mengenal jihad di jalan Allah.

Setiap orang harus melakukan jihad hingga mencapai jihad di jalan Allah. Jalan Allah adalah jalan yang dikenali oleh orang-orang yang mengenal kehendak Allah, yang diperoleh orang yang telah beriman dan telah berhijrah. Berjihad di jalan Allah adalah bersungguh-sungguh melakukan usaha untuk menunaikan kehendak Allah atas diri manusia. Jihad di jalan Allah tidak hanya ditunaikan oleh orang-orang yang secara pasti mengenal kehendak Allah atas diri mereka, karena orang-orang yang mengikuti langkah jihad di jalan Allah juga akan dihitung sebagai berjihad di jalan Allah selama niatnya ikhlas untuk Allah dan mengetahui tuntunan-tuntunan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW terkait dengan jihad yang mereka lakukan. Sebaliknya sekalipun mengikuti jihad bersama Rasulullah SAW di jalan Allah, seseorang yang niatnya tidak benar akan tetap menjadi orang yang celaka sekalipun ia terbunuh dalam jihad itu. Setiap orang harus berusaha membangun keikhlasan dalam berjihad dan membangun pengetahuan terkait dasar-dasar jihad yang dilakukan.

Prakondisi Jihad di Jalan Allah

Terdapat dua keadaan yang menjadi syarat agar suatu jihad bisa mengarah menjadi jihad di jalan Allah, yaitu beriman dan berhijrah. Dengan terpenuhinya kedua syarat tersebut, jihad yang dilakukan suatu kaum akan menjadi lurus sehingga efektif mendatangkan hasil-hasil berupa kebaikan. Banyak orang yang berjihad tetapi keimanan yang mereka ikuti hanya lemah, maka jihad mereka tidak mendatangkan hasil yang baik. Mungkin suatu kaum sibuk melakukan banyak amal-amal yang dipandang baik, tetapi amal-amal mereka tidak menyentuh akar masalah yang dihadapi. Keimanan yang lurus dan hijrah akan menjadikan jihad oleh suatu kaum mendatangkan kebaikan dengan efektif.

Keimanan bukan hanya ditunjukkan dengan adanya rasa percaya, tetapi juga pengetahuan dan keyakinan tentang adanya kebaikan pada hal-hal yang menjadi objek keimanan mereka. Percaya adanya Allah saja belum tentu menunjukkan seseorang beriman kepada Allah. Iman kepada Allah ditunjukkan dengan adanya pengetahuan dan keyakinan tentang kehendak Allah yang mengarahkan diri mereka pada kebaikan. Keimanan terhadap kitabullah juga ditunjukkan dengan pengetahuan seseorang terhadap kandungan dalam ayat demi ayat kitabullah, bukan sekadar mempercayai bahwa Alquran adalah firman yang diturunkan Allah. Kepercayaan demikian baru merupakan dasar keimanan. Orang-orang yang berserah diri (islam) tidak selalu tergolong sebagai orang-orang beriman. Keislaman ditunjukkan dengan sikap berserah terhadap ketentuan-ketentuan Allah dengan berusaha mengikuti perintah dan laorangan Rasulullah SAW, sedangkan keimanan ditunjukkan dengan adanya cahaya iman dari Allah yang memasuki hati seseorang, sedemikian orang tersebut menjadi beriman.

Pengetahuan dan keyakinan adanya kebaikan ini bukan berupa keyakinan membuta atau dibuat-buat, tetapi karena terbentuknya akhlak yang baik sedemikian seseorang mengerti nilai-nilai kebaikan pada objek yang diimaninya. Dalam jihad, orang beriman melangkah dengan suatu pengenalan terhadap nilai kebaikan dalam jihadnya, bukan melangkah dengan dasar fanatisme. Seseorang boleh saja berjihad berdasar niat hanya berupa persangkaan kebaikan saja, tetapi ia baru dalam kategori muslim, bukan orang beriman. Seorang yang beriman mengenal kebaikan dalam objek yang diimani. Orang beriman tidak mungkin menentang  ayat kitabullah. Orang beriman tidak terjebak pada suatu hal sia-sia atau keburukan yang dibuat indah oleh syaitan kecuali ia mengetahui kesalahan dalam langkahnya. Manakala seseorang terjebak pada hal demikian dan ia memandangnya baik, ia sebenarnya belum beriman dalam urusan tersebut. Akhlaknya belum mampu mengenali kesia-siaan atau keburukan pada urusan tersebut, maka sebenarnya ia belum beriman dalam urusan tersebut.

Ada banyak tingkatan keimanan yang mungkin ada pada seorang mukmin. Belum adanya keimanan tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang kafir. Kekafiran menunjukkan tidak adanya keimanan, tetapi ada banyak tingkatan yang mungkin ditemukan di antara keimanan dan kekafiran. Dalam keimanan-pun sangat banyak adanya tingkatan keimanan. Mungkin seseorang beriman dalam hatinya secara remang-remang saja hingga belum bisa benar-benar mengenali keburukan dan kebaikan pada suatu urusan. Mungkin pula seseorang telah beriman pada urusan-urusan tertentu dan belum beriman pada urusan tertentu lainnya. Keadaan demikian menunjukkan bahwa imannya belum sempurna. Keimanan adalah pengenalan terhadap nilai kebaikan dalam aspek keimanan karena terbentuknya akhlak mulia selaras dengan akhlak yang dikehendaki Allah.

Berhijrah dilakukan dengan berusaha selalu meningkatkan akhlak menuju kemuliaan sedemikian keimanan setiap mukmin menjadi sempurna relatif untuk dirinya sendiri. Kesempurnaan relatif ditandai dengan pengenalan seseorang terhadap untuk apa dirinya diciptakan. Seseorang yang mengenal nafsnya dikatakan telah mengenal rabb-nya. Ini adalah kesempurnaan iman secara relatif. Kesempurnaan iman mutlak ada pada diri Rasulullah SAW di mana beliau SAW mengenal seluruh kebenaran yang hendak diperkenalkan Allah kepada seluruh alam semesta, sedangkan kesempurnaan iman relatif bisa diperoleh oleh orang-orang yang mengenal penciptaan dirinya. Mereka mengenal kehendak Allah setidaknya untuk diri mereka sendiri, dan bisa menunjukkan (sebagian) kehendak Allah bagi orang lain atau umatnya. Mereka mengenal tuntunan Allah terkait urusan yang harus ditunaikannya, dan diberi kemudahan untuk memahami tuntunan Allah yang lain dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka dapat melihat langkah-langkah yang mendatangkan kebaikan bagi diri sendiri dan bagi umat mereka dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap orang beriman hendaknya berhijrah menuju peningkatan kemuliaan akhlak secara lurus.

Fundamen Berjihad dan Pertumbuhannya

Orang yang menyeru jihad di jalan Allah harus memperhatikan keadaan orang yang diseru berdasarkan keimanan dan hijrah mereka. orang yang berjihad di jalan Allah harus membangun pondasi keimanan terlebih dahulu sebagai pijakan untuk berjihad, dan mempunyai keinginan untuk berhijrah mewujudkan kehidupan yang lebih mulia dalam pandangan Allah tidak terus menerus hidup hanya memperturutkan hasrat rendah atau terus hidup tanpa arah. Manakala keimanan umat dalam keadaan ruwet bercampur-campur dengan kebathilan, jihad di jalan Allah akan sulit ditegakkan dengan lurus atau sulit mendatangkan hasil. Keimanan umat harus dibangun terlebih dahulu sedemikian umat mempunyai keimanan yang lurus. Demikian pula umat hendaknya mempunyai visi arah kehidupan yang harus ditempuh dan bisa dicapai sesuai dengan keadaan masing-masing, baik arah yang dekat ataupun cita-cita akhir dekat kepada Allah, tidak terjebak mensikapi keimanan layaknya utopia yang tidak mungkin diraih. Dengan keimanan dan visi melangkah, umat islam hendaknya diseru untuk berjihad.

Jihad di jalan Allah tidak selalu berbentuk peperangan secara fisik. Misalnya kaum khawarij berusaha meruntuhkan islam dengan menyebarkan ajaran tauhid yang mereka buat sendiri, maka ajaran demikian harus diluruskan dengan tauhid yang benar. Demikian pula kaum musyrikin membuat gerakan-gerakan menyemarakkan LGBT hingga bisa meluas di masyarakat agar manusia dan tatanan masyarakat menjadi berantakan, maka mencegah penyebaran waham LGBT merupakan jihad. Melawan hal-hal demikian termasuk jihad di jalan Allah. Pengajaran tauhid yang benar harus ditegakkan di antara kaum beriman terlebih dahulu untuk meluruskan jalan tauhid di antara umat islam. Mustahil menegakkan jihad secara lurus berdasarkan tauhid yang diajarkan oleh kaum khawarij. Muslimin tidak akan mengerti apa yang harus diluruskan dengan jihad manakala mereka tidak mengetahui jalan tauhid yang lurus, sedangkan sangat sulit membangun kemakmuran muslimin manakala tauhid mereka masih sama dengan tauhid kaum khawarij. Jihad menegakkan tauhid dan melawan perusakan masyarakat secara halus termasuk jihad di jalan Allah.

Dewasa ini upaya jihad orang-orang beriman tampaknya sangat lemah karena perhatian kaum mukminin terhadap kebenaran dari sisi Allah terlihat kurang memadai. Sebagian pengajaran kebenaran tampak hanya tersia-sia, dibiarkan tidak dipahami mukminin. Bahkan pengajaran tauhid sekalipun tidak mendapat perhatian yang mencukupi. Kaum munafiq khawarij sedemikian besar berinfaq untuk menyebarluaskan tauhid palsu, sedangkan kaum mukminin tidak terlihat berkeinginan menggali pengetahuan tentang tauhid dan tidak berjihad secara cukup untuk menyebarluaskan tauhid mengikuti Rasulullah SAW. Demikian pula tidak terlihat kaum mukminin berjihad secara sistematis melakukan pembinaan keluarga sebagai bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya, sedemikian gerakan LGBT tidak mempunyai lawan berupa kebenaran yang memadai hingga kesesatan LGBT bisa diterima oleh sebagian masyarakat. Masyarakat sendiri tidak mempunyai visi yang mencukupi seberapa merusaknya LGBT bagi manusia dan tatanan masyarakat sehingga ide LGBT bisa masuk. Melawan dosa-dosa demikian termasuk sebagai jihad di jalan Allah.

Tauhid dan pembinaan bayt merupakan benteng paling fundamental bagi kaum mukminin melawan perusakan akhlak manusia. Apabila kaum mukminin tidak cukup memperhatikan pembinaan fundamen tersebut, akan sangat sulit bagi kaum mukminin untuk memakmurkan bumi dengan amal shalih. Suatu kaum mungkin memandang suatu persoalan tertentu sebagai perusak, tetapi orang yang lain tidak bisa memahami kerusakan yang terjadi karena kurangnya pembinaan tauhid dan arah hijrah yang benar. Banyak masalah dapat timbul dalam jihad di jalan Allah karena kurangnya keimanan dan keinginan berhijrah di antara kaum mukminin. Kadangkala terjadi perselisihan berupa tidak adanya titik temu dalam melihat masalah dalam jihad. Misalnya mungkin sebagian orang beriman mungkin mengeluhkan suatu persoalan tertentu yang tidak diperhatikan oleh mukminin lain, sedangkan mukminin yang lain memperhatikan kebenaran yang lain yang mereka kenali. Mungkin masing-masing mengeluhkan hal yang tidak diperhatikan atau disia-siakan oleh umat manusia. Masing-masing pihak mengeluhkan satu hal dari pihak lain tanpa titik temu di antara keduanya. Persoalan ini bisa terjadi apabila manusia tidak mengerti fundamen-fundamen dalam pembinaan manusia.

Tauhid dan pembinaan bayt harus menjadi perhatian utama pembinaan sebagai fundamen pembinaan akhlak mulia. Kaum yang tidak membina akhlak mulia dengan fundamen yang benar tidak akan memahami ayat Allah yang digelar. Tidak jarang mereka tidak mengenali kebenaran yang disampaikan, dan tidak mempunyai perhatian yang mencukupi terhadap ayat-ayat yang digelar bagi mereka. Demikian pula kaum yang keimanan mereka tumbuh secara menyimpang, mereka mungkin memperhatikan ayat Allah akan tetapi dilakukan secara menyimpang tidak selaras dengan tuntunan Allah. Untuk membangkitkan kepedulian suatu kaum terhadap ayat-ayat Allah, hendaknya dibina keimanan dan keinginan berhijrah pada diri mereka secara benar. Pembinaan keimanan secara keliru akan membengkokkan proses yang seharusnya terjadi di antara kaum mukminin.

Pembinaan keimanan dan keinginan berhijrah harus dilakukan hingga umat menjadi bagian dari al-jamaah yang saling tolong menolong dalam kebaktian dan ketakwaan, tidak saling menjatuhkan satu dengan yang lain. Persoalan demikian seringkali menyentuh dasar pembinaan dan mendatangkan madlarat yang nyata bagi umat. Ketika seorang mukmin, yang biasanya dihormati manusia, menjatuhkan orang lain, orang tersebut akan kehilangan pijakan untuk beramal. Bila yang dijatuhkan adalah seorang mukmin, amr Allah yang ada pada dirinya akan tersia-sia. Kesalahan pembinaan demikian ini seringkali terkait dengan keimanan yang tidak lurus. Bila keimanan yang dibina lurus, seharusnya umat akan terbina dengan sendirinya sebagai kaum yang tolong menolong dalam berbakti dan ketakwaan. Bila keimanan menyimpang, suatu kaum bisa menjadi kaum yang menjatuhkan orang yang berbakti dan bertakwa. Kadangkala tiba-tiba seseorang yang berusaha berbakti dan bertakwa dijatuhkan dari landasan beramalnya tanpa alasan yang dibenarkan, maka jihad di jalan Allah bagi mereka terbengkalai.

Untuk tumbuh sebagai kaum yang berjihad di jalan Allah, pembinaan harus dilakukan dengan tertib dan terintegrasi. Keinginan mengenal kebenaran dan kehendak Allah, shilaturrahmi dengan sesama mukmin hingga terjalin hubungan yang semestinya, membentuk sikap saling tolong menolong kepada sesama mukmin, dan mengembangkan kemampuan mengenal dan memanfaatkan alam semesta, semuanya harus dikembangkan dengan tertib dan terintegrasi untuk dijadikan sebagai bekal jihad. Sebagai dasar, setiap mukmin hendaknya dibina untuk dapat memahami kebenaran dan kehendak Allah dengan benar. Berikutnya, setiap mukmin hendaknya dibina untuk mengenal orang-orang yang juga berjuang untuk mengikuti kehendak Allah hingga terbentuk shilaturrahmi. Shilaturrahmi selain membentuk kekuatan bersama dalam berjihad juga berfungsi menjaga kelurusan langkah di jalan Allah. Beberapa mukmin yang berusaha bersama mengenal kehendak Allah bisa menjadi cermin kelurusan langkah masing-masing satu sama lain. Berikutnya kebersamaan di antara mukminin harus disusun sesuai dengan potensi yang dapat dikenali, sedemikian setiap orang bisa berperan memberikan potensi manfaat masing-masing bagi sahabatnya dan umat manusia secara keseluruhan. Dengan keadaan yang terbentuk melalui pembinaan sebelumnya, mukminin hendaknya melangkah mengenali potensi alam semesta dan memanfaatkannya dengan cara yang sebaik-baiknya, maka jihad dapat ditegakkan dengan baik.

Dewasa ini, tertib dan integrasi pembinaan tampak kurang diperhatikan. Tauhid yang dibuat oleh kaum musyrikin tetap saja digunakan sebagai bahan pengajaran di antara muslimin. Pembinaan keluarga sebagai basis pembinaan shilaturahmi tidak memperoleh perhatian yang memadai dari kaum mukminin dan bahkan cenderung dirusak. Tata bernegara tampak dilaksanakan oleh kaum mukminin tanpa pengetahuan terkait shilaturrahmi, di mana para pejabat hanya mengejar kedudukan dan mencari keuntungan dari kedudukan mereka. Adapun fundamen tata negara yang dikenali oleh mukmin di antara mereka tidak dikembangkan hingga dapat menjadi prinsip operasinal bernegara. Ini merupakan satu tanda kurangnya perhatian kaum mukminin terhadap kebenaran dan shilaturahmi di antara mereka. Kekayaan alam negeri-negeri muslim banyak dimanfaatkan di atas kerakusan tidak memberikan manfaat yang sewajarnya bagi masyarakat luas. Hal demikian harus memperoleh perhatian kaum mukminin. Kaum mukminin harus melakukan pembinaan secara tertib dan terintegrasi.