Pencarian

Senin, 27 April 2026

Akhlak Mulia dan Sifat Rahmaniah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW membentuk akhlak al-karimah dilakukan dengan membina sifat rahman dan rahim di dalam diri. Sifat rahman adalah keinginan memberikan kebaikan berupa kebenaran dan secara khusus pengetahuan tentang kehendak Allah, sedangkan sifat rahim berupa keinginan untuk memberikan kebaikan secara umum terhadap semua makhluk. Kedua sifat itu adalah unsur utama membentuk akhlak al-karimah. Sifat-sifat tersebut harus diwujudkan oleh setiap orang yang ingin mengikuti langkah Rasulullah SAW disertai dengan adab yang baik. Akhlak mulia hanya terbentuk pada orang-orang yang membina sifat rahman dan rahim. Ada orang-orang munafik yang membina adab yang baik hingga mungkin mengagumkan tetapi tidak mempunyai keinginan membina sifat rahman dan rahim, maka sebenarnya tidak terbentuk akhlak al-karimah pada diri orang tersebut. Tuntunan pertama dalam kitabullah adalah ayat berikut :

﴾۱﴿بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (l-Fatihah : 1)

Ayat tersebut merupakan dasar tuntunan dalam pembinaan akhlak mulia mengikuti langkah Rasulullah SAW. Membina sifat rahman dan rahim merupakan syarat utama yang harus dipenuhi setiap hamba Allah untuk bertauhid. Tauhid dalam bentuk ini harus dipahami oleh setiap hamba Allah dengan baik. Dewasa ini, kebanyakan muslimin bertauhid hanya dengan membentuk imajinasi semu bertauhid, tidak mengetahui langkah yang benar-benar memperkuat langkah tauhid. Kebanyakan muslim dewasa ini bertauhid dengan membayangkan bahwa ia benar-benar melakukan amal-amalnya hanya untuk Allah, tidak mengetahui bahwa ibadah yang sebenarnya adalah amal yang diperbuat dengan landasan pengetahuan terhadap kehendak Allah. Seorang hamba yang benar adalah hamba yang mengerjakan apa yang ia ketahui diperintahkan oleh tuannya, bukan hamba yang mengerjakan amal-amal secara acak sembarangan dan membayangkan amal itu dilaksanakan untuk tuannya.

Tingginya Derajat Sifat Rahmaniah

Sifat rahmaniah merupakan akhlak tertinggi yang harus dibentuk oleh setiap hamba Allah. Kedudukan akhlak ini lebih tinggi dibandingkan dengan akhlak rahim, walaupun sebenarnya tidak ada sifat rahman tanpa sifat rahim karena keduanya merupakan kesatuan dari dua sifat yang harus ditumbuhkan oleh orang beriman. Sekalipun merupakan kesatuan, setiap orang harus mempunyai gambaran tentang lebih tingginya kedudukan sifat rahman. Banyak potensi kekacauan yang mungkin terjadi manakala umat manusia atau para hamba Allah tidak mempunyai gambaran tentang tingginya kedudukan sifat rahmaniah, sebagaimana kekacauan umat manusia manakala arah kehidupan manusia ditentukan oleh para perempuan.

Sebagai ilustrasi, seorang presiden negara adi daya berkoar-koar berkeinginan menegakkan perdamaian di dunia kemudian ia mengambil tindakan menyerang negara muslim yang hidup dalam kedamaian. Presiden adi daya itu sebenarnya hanya mengikuti pendapat sendiri tentang perdamaian dunia tidak mempunyai gambaran yang benar tentang perdamaian dunia. Ia tidak mempunyai landasan yang benar sedikitpun untuk menimbang perdamaian dunia yang seharusnya dibentuk, tidak mempertimbangkan cara pandang negara-negara lain termasuk negara yang diserang untuk menegakkan perdamaian dunia. Perdamaian dalam pandangan presiden negara adi daya itu hanyalah perdamaian yang mendukung kepentingan diri mereka sendiri beserta orang-orang yang mendukung mereka.

Pada kasus yang lain, ada sebagian muslimin yang berbantah-bantah dan berselisih dengan golongan muslimin lain hingga menggolongkan muslimin lainnya ahli bid’ah, ayat syaitan dan penggolongan buruk lainnya. Keduanya saling berbangga-bangga dengan dasar-dasar kebenaran yang mereka pilih sendiri tanpa berusaha untuk memahami kebaikan, dan tidak pula berusaha memahami kebenaran yang disampaikan pihak lainnya. Setiap pihak tidak berusaha memahami dengan tepat kerangka kebenaran yang mereka pilih berdasarkan pertimbangan kebaikan yang harus diwujudkan, hanya membanggakan kebenaran yang mereka susun, kemudian mereka menyerang pihak lainnya dengan kerangka kebenaran mereka sendiri.

Ada pula orang-orang beriman yang membina kasih sayang tetapi mengabaikan sifat rahmaniah. Mereka membangun sifat baik tetapi tanpa  keinginan memahami dengan benar tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka tertutup memandang baik diri mereka sendiri. Sifat menyayangi itu mungkin terwujud hingga bentuk-bentuk menjaga umat dari kesesatan, akan tetapi mereka sendiri tidak berhati-hati dengan kesesatan. Kadangkala seseorang dipandang sesat dan dengan kasih sayang yang ada diseru untuk kembali kepada kebenaran sesuai dengan pikiran mereka. Kadangkala seorang telah menemukan bentuk perjuangan dirinya dari kitabullah diseru untuk kembali berjamaah sedangkan jamaah yang dimaksud tidak mewadahi bentuk perjuangannya, karena wadah yang mereka bentuk sebenarnya hanya berdasar waham tidak berdasar pemahaman tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kelompok mukminin yang seharusnya bisa berjalan beriring meninggikan kalimat Allah kemudian berselisih karena kurangnya keinginan memahami tuntunan. Bisa saja orang yang benar dipandang sesat dan (seolah) dipaksa untuk kembali, sedangkan orang yang diharapkan kembali pada kebenaran sama sekali tidak bisa memahami apa yang diserukan sahabatnya, tidak mengetahui apa yang sesat dalam dirinya. Mungkin saja orang-orang yang menyeru tidak dapat memberitahu apa yang salah dari orang-orang yang diseru, atau sebaliknya karena tertutupnya mereka oleh waham, tertutup dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW karena pandangan baik terhadap diri mereka sendiri. Kasus semacam ini akan mendatangkan kekacauan.

Keadaan demikian sebenarnya sangat buruk, menunjukkan bahwa manusia hanya mengikuti pendapat mereka sendiri. Dengan keadaan demikian, para hamba Allah tidak akan bisa melangkah mewujudkan kebaikan bagi kehidupan mereka berdasarkan tuntunan Allah. Mungkin setiap pihak di antara orang beriman ingin mewujudkan kebaikan, akan tetapi langkah untuk mewujudkan kebaikan saling berlawanan. Orang yang mengetahui langkah yang dituntun dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW mungkin akan terhalang dengan pencegahan orang-orang yang merasa diri mereka baik. Sebaliknya orang-orang yang merasa diri mereka baik sebenarnya tidak mempunyai pengetahuan tentang kehendak Allah berdasar tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka tertutup pikiran mereka sendiri. Kehidupan umat hamba Allah akan menjadi buruk karena keadaan demikian dan mungkin tidak mempunyai jalan keluar untuk mewujudkan tuntunan dari sisi Allah. Mewujudkan kebaikan dari sisi Allah hanya dapat dilakukan dengan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Seandainya setiap pihak kaum muslimin dan mukminin memahami kedudukan sifat rahmaniah dalam membina akhlak mulia, mereka akan mudah untuk menemukan langkah yang haru ditempuh, dan bahkan menemukan bentuk ibadah yang diperintahkan Allah hingga mereka bertauhid dengan sebenar-benarnya, tidak hanya beribadah hanya berdasarkan waham saja. Ibadah hanya dengan waham saja kadangkala mendatangkan keburukan. Kadangkala terjadi perselisihan yang tidak dapat diselesaikan di antara orang beriman. Perselisihan antara orang beriman harus diputuskan dengan merujuk pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak diputuskan dengan mengandalkan persangkaan diri sendiri. Tanpa sifat rahmaniah, perselisihan di antara orang beriman mungkin saja tidak memperoleh jalan penyelesaian.

Sifat rahman akan menumbuhkan persatuan hamba Allah. Bila terjadi perselisihan, keinginan baik satu pihak terhadap pihak lain saja kadangkala tidak membantu menyelesaikan perselisihan, kecuali dengan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Misalnya boleh jadi setiap pihak yang berselisih sebenarnya menginginkan kebaikan atas pihak lain, misalnya berupa kembalinya pihak yang lain pada kebenaran. Tetapi bisa jadi sebenarnya para pihak itu hanya bisa melihat kesalahan pihak lain tanpa kemampuan mengetahui kesesatan dalam dirinya. Perbaikan hanya bisa terjadi apabila seseorang mengetahui apa yang harus diperbaiki dari dirinya. Kemampuan mengetahui kesesatan dalam diri masing-masing orang beriman seringkali hanya diperoleh dengan sifat rahmaniah manakala memperoleh kabar dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, baik tuntunan itu diberitahukan sahabatnya ataupun ia mengetahui dengan sendirinya. Manakala yang diberitahu tidak mempunyai sifat rahmaniah, pemberitahuan demikian hanya akan sia-sia saja sedangkan setiap pihak merasa sebagai orang yang baik. Atau bila satu pihak hanya memberitahu pihak lain kesalahan atau kesesatannya tanpa menunjukkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang terkait, pemberitahuan itu bisa saja tidak dipahami orang beriman sahabatnya. Demikian gambaran pentingnya memahami tingginya kedudukan sifat rahman dibandingkan sifat baik yang lain termasuk sifat rahim.

Sifat rahmaniah akan memunculkan kemakmuran pada suatu kaum. Manakala suatu kaum tidak membina sifat rahmaniah, mereka tidak akan mengetahui sumber-sumber kemakmuran dan cara mengalirkannya. Upaya kaum yang tidak membina sifat rahmaniah seringkali terjebak dalam langkah di tempat, atau terjebak usaha yang berputar-putar saja dari satu masalah kepada masalah yang lain. Mereka menyangka bahwa perpindahan dari satu masalah mendatangkan keadaan yang lebih baik, tetapi sebenarnya tidak demikian, hanya memindahkan satu masalah kepada masalah yang lain. Manakala suatu kaum membina pengetahuan terhadap kehendak Allah, pengetahuan terhadap kehendak Allah itu akan memindahkan keadaan mereka menuju keadaan yang lebih baik. Suatu kaum akan mengetahui sumber kemakmuran dan cara mengalirkannya. Repotnya, seringkali kaum yang tidak membina sifat rahmaniah seringkali tidak menyadari masalahnya maka mereka terus terjebak dalam keadaan yang sama tanpa melangkah menuju perbaikan sedangkan mereka merasa sudah benar melangkahnya.

Membina Sifat Rahmaniah

Untuk pembinaan sifat rahmaniah, setiap hamba Allah harus dibina mengarah pada pembinaan misykat cahaya. Misykat cahaya merupakan gambaran tentang akhlak tertinggi berupa akhlak rahmaniah yang seharusnya dibentuk pada setiap diri orang beriman. Setiap orang beriman mempunyai potensi kemampuan menemukan gambaran tentang kehendak Allah dalam diri masing-masing, dibentuk dengan akhlak mulia berupa terbentuknya misykat cahaya diri.

﴾۵۳﴿ اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah misykat, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang penuh berkah, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QSAn-Nuur : 35)

Misykat cahaya dapat digambarkan layaknya suatu kamera yang berfungsi membentuk gambar dari objek yang dibidik. Terdapat badan kamera yang kedap cahaya dengan suatu lubang kecil yang dapat dibuka pada saat pengambilan gambar. Badan kamera itu adalah gambaran bagi misykat yang tidak tembus cahaya. Terdapat pula lensa yang mengarahkan cahaya membentuk bayangan dari objek yang dibidik. Lensa itu merupakan ibarat dari zujajah (bola kaca) yang terdapat dalam misykat cahaya. Pembinaan sifat rahman yang paling utama dilakukan dengan membentuk akhlak sebagai misykat cahaya.

Langkah awal membina misykat cahaya adalah tazkiyatun-nafs. Setelah melakukan tazkiyatun-nafs, seseorang akan mudah memahami kebenaran yang disampaikan kepada dirinya. Ia akan mudah memahami perkataan orang-orang yang menyampaikan kebenaran, dan memperoleh kemampuan mengenali kebathilan sekalipun kala muncul dalam diri sendiri dan ditampakkan dalam wujud yang baik. Kadangkala tanda itu disertai kemampuan merasakan hawa nafsu orang-orang yang memfasih-fasihkan diri atau mengenali kebathilan pada perkataan orang lain. Seandainya ada orang lain yang memfasihkan diri dengan kebenaran, ia dapat melihat kebenaran pada perkataan yang disampaikan, dan mensikapi hawa nafsu orang lain tersebut secara terpisah. Dalam tingkat lanjut, seharusnya setiap orang dapat mengenali kebathilan sekalipun keluar dari lisan orang yang pandai. Sikap demikian ini adalah sasaran yang harus dicapai setiap orang yang melakukan tazkiyatun-nafs. Seorang yang bertaubat harus membentuk kecerdasan mengenali dan menimbang kebenaran dan kebathilan dengan hatinya tidak boleh terjebak pada kebodohan dan faham sempit atau waham diri sendiri.

Setelah seseorang mencapai keadaan yang dibersihkan, ditandai dengan mudahnya memahami kebenaran, ia hendaknya menumbuhkan sifat rahman dan rahim dalam dirinya dengan memperhatikan keadaan kauniyah yang terjadi di lingkungan dirinya dengan landasan keinginan mulia dan membaca kauniyah itu sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bila seseorang hanya peduli tentang dirinya tidak memperhatikan keadaan lingkungannya, ia sebenarnya tidak mempedulikan ayat Allah. Membaca kitabullah saja tanpa suatu kepedulian terhadap keadaan kauniyah mungkin akan menumbuhkan kesombongan. Memperhatikan keadaan lingkungan saja tanpa memperhatikan tuntunan kitabullah tidak akan menjadikan seseorang bisa mengenal cahaya Allah. Kepedulian terhadap keadaan kauniyah selaras dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasullllah SAW akan menjadikan seseorang mengarahkan pandangan pada cahaya Allah. Tumbuhnya sifat rahman dan rahim akan menjadikan seseorang dapat mengatur fokus zujajah dirinya untuk membentuk bayangan dari cahaya Allah yang terpancar pada ayat kauniyah dan ayat kitabullah.

Tanpa kemampuan menimbang bobot nilai manfaat dan madlarat pada suatu pengetahuan, seseorang akan terkurung dalam waham atau menyimpang dari langkah yang benar. Ada orang-orang yang tidak memperoleh landasan berpijak untuk amalnya karena selalu meragukan pengetahuan kebenaran yang ada dalam dirinya. Ada pula orang-orang yang menyimpang karena meyakini kebenaran setiap pengetahuan yang sampai kepada dirinya tanpa menimbang pengetahuan itu dengan benar. Mungkin saja suatu kaum terkurung dalam suatu doktrin karena tidak mampu melihat manfaaat dari suatu pengetahuan kebenaran. Bisa saja kombinasi peristiwa itu terjadi secara bersamaan, seseorang tidak mempunyai pijakan pengetahuan yang kokoh dan meyakini kebenaran bisikan-bisikan yang sampai kepada diri mereka, hingga ia beramal tanpa pijakan dan meyakini kebenaran amal-amal yang buruk tetapi merasa sebagai hamba Allah yang paling benar. Sangat banyak keburukan yang dapat terjadi di masyarakat manakala manusia tidak mempunyai kemampuan menimbang bobot nilai manfaat dan madlarat pada pengetahuan yang diperoleh. Manakala mempunyai kemampuan menimbang, seseorang akan dapat memilih atau menentukan langkah yang paling besar nilai manfaatnya dan tidak tertimpa madlarat.

Membina diri sebagai misykat cahaya akan mengantarkan seorang hamba untuk memahami kehendak Allah atas diri mereka hingga mereka menjadi hamba Allah yang benar, hamba yang mengerjakan perintah Allah dengan pemahaman, bukan sekadar hamba yang berbuat secara acak dan sembarangan dan mengira perbuatannya dilakukan semata-mata bagi Allah. Berbuat baik untuk Allah tanpa memahami perintah Allah itu merupakan kebaikan bagi para penempuh tauhid awal, tetapi seharusnya hamba Allah tidak terhenti hanya pada langkah awal bertauhid. Setiap hamba Allah harus berusaha memahami kehendak Allah atas dirinya dengan membina diri sebagai misykat cahaya hingga ia menjadi hamba Allah yang sebenarnya.

Jumat, 24 April 2026

Membangun Ketaatan Kepada Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus ditempuh dengan lurus sebagaimana jalan Rasulullah SAW dimi’rajkan hingga ufuk tertinggi tidak menyimpang. Keselamatan perjalanan setiap hamba Allah bergantung pada kesesuaian langkahnya terhadap sunnah Rasulullah SAW. Tidak ada orang yang selamat menempuh perjalanan dengan menyimpang dari langkah Rasulullah SAW. Lurusnya langkah seseorang akan ditentukan dengan ketaatannya terhadap tuntunan kitabullah, ketaatan terhadap sunnah Rasulullah SAW serta pada ulul amr di antara mereka. Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk taat kepada Allah dan taat kepada Rasulullah SAW dan ulul amr.

﴾۹۵﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An-Nisaa : 59)

Manusia berpikir dengan cara berpikir yang bermacam-macam, dan pikiran yang benar hanyalah pikiran yang terbit dari orang-orang yang selamat mengikuti tuntunan kitabullah. Di suatu negara besar dan kuat, seorang presiden memimpin bangsanya untuk kembali menjadi bangsa yang besar. Mereka kemudian merampok negara Venezuela, Iran dan Kuba untuk merampas kekayaan alam di negeri tersebut. Ini adalah cara berpikir yang salah. Besarnya suatu bangsa tidak ditentukan hanya berdasar penguasaan kekayaan di dunia, akan tetapi di antaranya adalah bagaimana setiap manusia dapat memberikan sumbangsih manfaat bagi kehidupan. Merampok negeri-negeri lain adalah contoh cara berpikir yang keliru pada manusia.

Cara berpikir keliru demikian dapat terjadi tidak hanya pada orang-orang musyrik tetapi juga orang-orang yang tidak membina diri dengan benar mengikuti langkah Rasulullah SAW, baik mereka orang kafir, orang yang tidak cukup baik mengikuti langkah Rasulullah SAW ataupun orang yang membina diri secara menyimpang. Ada presiden yang ingin mensejahterakan rakyatnya dengan makanan jasmaniah. Sebagian muslimin mengikuti ajaran orang-orang musyrik berpecah-belah dengan kebanggaan kebenaran yang mereka pahami, tidak berusaha membina persaudaraan mengikuti langkah Rasulullah SAW. Sebagian muslimin berusaha mengikuti langkah Rasulullah SAW akan tetapi tidak memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah dengan seksama. Akan muncul kerusakan-kerusakan dari apa yang mereka perbuat. Sebagian mungkin membuat kerusakan yang kecil, dan sebagian membuat kerusakan yang besar.

Untuk berbuat kebaikan, seseorang harus taat kepada Allah. Ketaatan kepada Allah hanya dapat dilakukan dengan mentaati tuntunan yang diturunkan melalui Rasulullah SAW. Rasulullah SAW merupakan satu-satunya sumber utama mengalirnya kebenaran dari sisi Allah. Setiap kebenaran dari sisi Allah mengalir melaui Rasulullah SAW baik berupa kitabullah Alquran ataupun sunnah beliau SAW. Akan tetapi walaupun sumber utamanya tunggal, kebenaran dapat ditemukan oleh makhluk mengalir melalui banyak bentuk sumber yang seluruhnya sebenarnya berpokok pada tuntunan yang diturunkan melalui Rasulullah SAW. Segala sesuatu yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW merupakan kebathilan. Tunggalnya sumber pengaliran kebenaran merupakan mekanisme kepastian bahwa Allah benar-benar menurunkan kebenaran secara haq tidak berselisih satu kebenaran dengan kebenaran yang lain. Tidak ada makhluk yang bisa mengaku mengenal kebenaran sedangkan ia bertentangan dengan apa yang disampaikan Rasulullah SAW. Tidak ada makhluk yang bisa mengaku melakukan ketaatan kepada Allah dengan menyimpang dari tuntunan Rasulullah SAW. Semua pengakuan tentang sesuatu dari sisi Allah harus dapat dibuktikan dengan tuntunan yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. Kebenaran yang diturunkan Allah bersifat menunggal dan dapat ditemukan hanya pada diri Rasulullah SAW.

Ada orang-orang yang bisa mengalirkan kebenaran dari sisi Allah kepada semesta mereka, tetapi sebenarnya hanya bersifat perpanjangan dari Rasulullah SAW. Mereka bukan makhluk yang berdiri sendiri mengalirkan kebenaran dari sisi Allah, tetapi seluruhnya bersandar kepada Rasulullah SAW. Ada makhluk-makhluk yang bisa mengalirkan potongan kebenaran dari alam yang tinggi tanpa bersandar kepada Rasulullah SAW tetapi merupakan kebenaran palsu yang menipu manusia. Ini tidak menunjukkan bahwa orang yang mengenal kebenaran tanpa mengenal sebelumnya dari ajaran Rasulullah SAW selalu merupakan kebenaran palsu. Boleh jadi mereka sebenarnya mengikuti Rasulullah SAW tetapi belum sampai mengenal Rasulullah SAW. Hanya kebenaran yang tidak dapat dibuktikan keselarasannya dengan tuntunan Rasulullah SAW merupakan kebenaran palsu. Bisa jadi kebenaran palsu itu berupa kebenaran yang bercampur dengan kebathilan, atau boleh jadi berupa kebathilan yang dibungkus dengan keindahan.

Mentaati Ulul Amri

Orang yang mengalirkan kebenaran sebagai perpanjangan dari Rasulullah SAW adalah para ulul amr, yaitu orang-orang yang mengenal urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman mereka. Ketaatan seseorang kepada Allah harus terbentuk hingga ketaatan yang nyata berupa ketaatan kepada ulul amr, tidak sebatas pada bentuk yang dipandang sebagai ketaatan kepada Allah ataupun ketaatan kepada Rasulullah SAW. Ketaatan harus terbentuk pada wujud ketaatan yang nyata layaknya ketaatan seorang isteri kepada suami, bukan hanya bentuk ketaatan kepada sesuatu yang sebenarnya belum nyata bagi seseorang. Allah merupakan dzat yang Maha Wujud, dan Rasulullah SAW benar-benar merupakan pembawa kebenaran dari sisi Allah, akan tetapi boleh jadi Maha Wujud-Nya dan kedudukan Rasulullah SAW sebenarnya tidak benar-benar nyata dalam pandangan seseorang. Kadangkala orang demikian memandang dirinya mentaati Allah dan mentaati Rasulullah SAW ketika menentang ulul amri. Pandangan ketaatan demikian merupakan ketaatan yang tidak jelas kenyataannya. Ketaatan seseorang kepada Allah harus terbentuk hingga ketaatan yang nyata berupa ketaatan kepada ulul amr.

Arahan dari para ulul amri dapat dipandang sebagai petunjuk oleh pengikutnya, sebagai perpanjangan dari petunjuk Allah kepada mereka. Tentu saja ini hanya berlaku bagi orang-orang yang mengharapkan petunjuk Allah melalui kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka bisa berupaya memahami urusan Allah melalui tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan penjelasan dari ulul amri, maka penjelasan ulul amri itu menjadi perpanjangan dari petunjuk Allah. Umat hendaknya tidak berlebih-lebihan bersikap memandang terlalu tinggi ulul amri sebagai wakil Allah hingga melupakan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan tidak pula memandang lebih rendah dari kedudukan ulul amri sebagai pemimpin yang harus ditaati. Dengan cara demikian, perkataan dari ulul amri dapat dipandang sebagai petunjuk bagi umat untuk mengenal urusan Allah dengan tepat.

Seruan para ulul amri dilakukan berdasarkan pengetahuan terhadap urusan Allah yang diturunkan kepada diri sebagai bagian dari urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman mereka. Pada pokoknya, mereka menyeru urusan yang harus ia tunaikan bersama umatnya, dan pada umumnya mereka mempunyai pengetahuan secara terbatas terhadap urusan sahabat yang terkait dengan dirinya sesuai tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mungkin saja mereka tidak selalu menyampaikan urusan Allah, maka hendaknya setiap orang berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak ada ulul amri yang mempunyai keberanian menentang tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mungkin mereka berbuat dosa tetapi mempunyai rasa takut terhadap tuntunan Allah dan sunnah Rasulullah SAW tidak berani menentangnya. Ketaatan kepada Allah akan terwujud manakala umat mentaati ulul amri berdasarkan pengetahuan terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Banyak orang tidak mempunyai kepedulian terhadap kehendak Allah maka mereka tidak mengenali ulul amri yang ada di antara mereka. Manakala suatu umat tidak mengenal ulul amri, mereka akan terpimpin oleh orang-orang yang buruk, yang mungkin saja menyamar sebagai ulul amri. Tidak sedikit kaum yang terjajah oleh kekuasan kedzaliman tanpa mengetahui jalan keluar dari kedzaliman itu. Barangkali mereka mengubah-ubah sistem pemilihan pemimpin untuk mendapatkan pemimpin yang baik akan tetapi tetap saja pemimpin yang terpilih adalah orang-orang yang dzalim di antara mereka dan kehidupan berbangsa tetap dalam keadaan buruk. Hal demikian terjadi karena sebenarnya mereka tidak mempedulikan urusan Allah yang harus ditunaikan. Para ulul amri yang ada di antara mereka mungkin tersia-sia saja tidak dapat berbuat banyak menyeru umat untuk mempedulikan urusan Allah. Umat yang bisa mengenal ulul amri di antara mereka akan menjadi mulia karena sebenarnya mereka mempunyai kepedulian terhadap urusan Allah yang harus ditunaikan.

Para ulul amri itu adalah orang yang mengenal kedudukan diri dalam Al-Jamaah mengerjakan amal berdasar urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman mereka. Ulul amri bukan orang yang bekerja hanya pada urusan diri sendiri, akan tetapi bekerja untuk mewujudkan urusan Rasulullah SAW bersama ulul amri yang lain. Manakala seseorang dipandang sebagai ulul amri hanya bekerja untuk urusan diri sendiri, barangkali mereka belum benar-benar mengetahui urusan jamaah. Satu orang dengan ulul amri yang lain mempunyai pengetahuan hubungan urusan di antara mereka. Ulul amri yang mengerjakan urusan al-jamaah akan mempunyai pengetahuan tentang hubungan dirinya dengan ulul amri yang lain yang dekat dengan dirinya. Mungkin saja satu ulul amri belum mengenal ulul amri lainnya dalam bentuk manusianya, akan tetapi mempunyai pengetahuan tentang hubungan urusan yang harus terjalin di antara sahabat ulul amri, tidak bekerja untuk urusan sendiri secara acak.

Kedudukan para ulul amri membentuk suatu barisan bershaf-shaf dengan kedudukan yang berbeda-beda. Satu atau sekelompok orang mungkin berada pada shaf lebih tinggi dibanding yang lain dan yang lain mengikuti pemimpinnya. Setiap orang harus berusaha mengikuti pemimpinnya dengan sebaik-baiknya secara bersambung hingga Rasulullah SAW. Contoh hubungan demikian misalnya dalam hubungan imam agama hingga murid-murid seorang syaikh. Seorang pemimpin agama harus memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk urusannya. Mungkin ia terhubung langsung tanpa perantara kepada Rasulullah SAW dan tinggi kedudukannya, tetapi tetap ada bentuk ketaatan yang harus ia penuhi. Shaf berikutnya, para pembimbing tazkiyatun-nafs harus mentaati imam agama mewujudkan mandat yang disampaikan imam agamanya dengan memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ketaatan terhadap imam agama merupakan bentuk ketaatan terhadap ulul amr yang harus dipenuhi pembimbing tazkiyatun-nafs. Shaf berikutnya, para murid mengikuti arahan pembimbing tazkiyatun-nafs dengan memperhatikan arahan dari pemimpin agamanya dan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Hal demikian berlaku pada setiap bidang urusan yang diturunkan kepada ulul amr, tidak terbatas pada urusan tazkiyatun-nafs. Tidak ada seseorang yang terbebas dari tugas ketaatan. Penyimpangan dari hal demikian akan menyebabkan rusaknya ketaatan.

Hubungan demikian tidak menunjukkan kemuliaan, tetapi menunjukkan suatu hirarki kaum mukminin dalam mewujudkan urusan Allah. Kemuliaan setiap makhluk ditentukan dengan ketakwaan masing-masing. Hubungan hirarki demikian terbentuk karena jati diri yang dibawa setiap manusia dengan kapasitas menanggung amanah yang ditentukan Allah. Sekalipun seseorang berada dalam kedudukan sepenuhnya sebagai pengikut tanpa ada pengikutnya, mereka bisa saja benar-benar memberikan sumbangan yang bernilai sangat besar dengan ketakwaan. Para pemimpin mungkin memperoleh pemahaman yang besar, tetapi tidak mempunyai kemampuan untuk mewujudkan tanpa bantuan para pengikutnya. Dalam banyak kasus, terwujudnya kehendak Allah lebih banyak terlihat karena pengetahuan dari masyarakat umum yang ingin menyatukan diri dalam urusan Allah. Kualitas dari pewujudan kehendak Allah ditentukan oleh ketakwaan setiap pihak yang ingin berperan mewujudkan kehendak Allah.

Ulul Amr dan Menolong Allah

Para ulul amri menyeru umat untuk mengenal urusan Rasulullah SAW dan mungkin pula menyerukan pekerjaan yang perlu dibantu dari urusan dirinya. Membantu pelaksanaan urusan ulul amri merupakan bagian dari amal shalih yang mudah ditemukan oleh umat manusia. Bekerja membantu mewujudkan seruan ulul amri merupakan bentuk amal shalih, karena sebenarnya mereka juga membantu Rasulullah SAW mewujudkan kehendak Allah. Amal yang diperintahkan ulul amri hendaknya tidak dipandang atau disikapi hanya sebagai usaha coba-coba menemukan amal shalih. Misalnya bila ulul amri memerintahkan suatu upaya membuat radar yang dapat mendeteksi pesawat-pesawat siluman musuh, amal demikian dapat digolongkan sebagai mata yang mengawasi musuh islam, bagian dari tugas pasukan Rasulullah SAW yang diturunkan melalui ulul amr. Perintah ulul amri demikian muncul karena kebutuhan yang diketahui oleh ulul amri sebagai urusan Allah, bukan urusan yang dibuat-buat oleh ulul amri untuk kebutuhan hawa nafsunya. Seandainya seseorang mempunyai potensi untuk disumbangkan dalam mewujudkan hal demikian, upaya yang dilakukan untuk mewujudkan perintah itu merupakan suatu amal shalih.

Mungkin tidak semua orang memperoleh bagian dalam perintah Allah dari ulul amri tertentu karena barangkali urusannya yang sesungguhnya turun melalui ulul amri yang lain. Seandainya seseorang membantu ulul amri dalam urusan selain dalam urusan yang ditetapkan Allah tetapi dibutuhkan ulul amri, sebenarnya ulul amri telah meneguhkan dirinya untuk melaksanakan urusan Allah maka seseorang sebenarnya membantu urusan Allah. Mungkin bukan amal shalih dalam kategori perintah Allah, tetapi tetap saja ia membantu urusan Allah yang akan mengantarkannya kepada washilah yang tepat bagi dirinya. Ulul amri itu mungkin akan mengantarkan orang yang membantunya pada ulul amri dengan urusan yang paling tepat dengan keadaan orang yang membantu. Sebenarnya ada hubungan antara satu ulul amri terhadap ulul amri yang lain, dan mereka saling membantu terlaksananya urusan Allah yang diturunkan kepada mereka hingga terwujud kehendak Allah dengan kualitas terbaiknya. Manakala ada urusan Allah pada salah satu ulul amri yang terbengkalai, mungkin ulul amr yang lain sebenarnya tidak benar-benar memperhatikan urusan Allah yang harus ditunaikan, atau tidak benar-benar mengenal urusan Allah yang harus ditunaikan.

Tidak jarang suatu kaum merasa telah berusaha mentaati Allah tetapi sebenarnya dalam keadaan mensia-siakan kebenaran yang diserukan kepada mereka maka mereka tetap dalam keadaan yang buruk. Kebaikan dari sisi Allah akan mengalir kepada orang-orang yang peduli kepada urusan Allah, yaitu dengan memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW serta mentaati ulul amri. Orang yang memperhatikan ulul amri akan tetapi mengikutinya menentang tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebenarnya tidak memperhatikan urusan Allah. Pelaksanaan perintah Allah dan ketaatan kepada Rasulullah SAW tidak dapat dilakukan dengan menentang tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan dalih mentaati ulul amri. Memperhatikan perintah Allah hanya dapat dilakukan dengan memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ada orang yang tidak mengetahui urusan Allah dan menyeru manusia untuk urusan yang mereka lakukan, maka seruan mereka tidak menjadikan seseorang menjadi mengenal urusan Allah. Ulul amr adalah orang yang mengenal urusan Allah untuk mereka bersama umatnya.

Ketaatan kepada Allah dengan memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan mendatangkan kebaikan bagi alam semesta. Urusan Allah diturunkan melalui ulul amri dan umat dapat turut serta mewujudkan kehendak Allah bersama para ulul amri di antara mereka. Urusan yang merupakan kehendak Allah adalah urusan yang ditemukan perintahnya dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kesertaan dalam mewujudkan urusan itu menjadikan seseorang beramal shalih sesuai dengan kehendak Allah, dengan berusaha memahami tuntunan kitabullah dengan mengikuti arahan ulul amri. Hal demikian telah cukup untuk beramal shalih dan akan mendatangkan kebaikan yang banyak bagi kehidupan di bumi. Adapun orang yang mengetahui perintah Allah untuk dirinya selaras dengan kitabullah, hal itu merupakan keutamaan yang lebih baik. Hal itu benar apabila tidak berselisih dengan ulul amri. Adapun jika berselisih, seseorang hendaknya mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW setelah terbukti arahan ulil amri salah berdasarkan timbangan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, bukan berdasar pendapat sendiri.

Minggu, 19 April 2026

Tazkiyatun-Nafs Untuk Membina Akhlak

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Untuk pembinaan akhlak mulia, pembinaan harus mengarah pada pembinaan misykat cahaya. Misykat cahaya merupakan gambaran tentang akhlak tertinggi berupa akhlak rahmaniah yang seharusnya dibentuk pada setiap diri orang beriman. Secara singkat akhlak rahmaniah dapat dikatakan sebagai keinginan memberitakan kehendak Allah mengikuti tuntunan kitabullah Alquran. Setiap orang beriman mempunyai potensi membentuk gambaran tentang kehendak Allah dalam diri masing-masing. Gambaran kehendak Allah itu dibentuk dengan akhlak mulia tertentu yaitu terbentuknya misykat cahaya diri. Penjelasan kehendak Allah dari orang yang membina diri sebagai misykat cahaya itu adalah mitsal bagi cahaya Allah, bukan mitsal bagi Allah. Metode pembinaan demikian merupakan pembinaan tauhid yang diajarkan Rasulullah SAW.

﴾۵۳﴿ اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah misykat, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang penuh berkah, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QSAn-Nuur : 35)

Misykat cahaya dapat digambarkan layaknya suatu kamera yang berfungsi membentuk gambar dari objek yang dibidik. Terdapat badan kamera yang kedap cahaya dengan suatu lubang kecil yang dapat dibuka pada saat pengambilan gambar. Badan kamera itu adalah gambaran bagi misykat yang tidak tembus cahaya. Terdapat pula lensa yang mengarahkan cahaya membentuk bayangan dari objek yang dibidik. Lensa itu merupakan ibarat dari zujajah (bola kaca) yang terdapat dalam misykat cahaya. Pembinaan pemahaman terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang paling utama harus dilakukan dengan membentuk akhlak sebagai misykat cahaya.

Setiap orang mempunyai khazanah pengetahuan yang sangat luas dari sisi Allah yang dapat ditemukan manakala masing-masing membina diri sebagai misykat cahaya. Pengetahuan yang bersumber dari kitabullah demikian akan mendatangkan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan di bumi. Manfaat demikian akan semakin besar nilainya apabila terbentuk keberjamaahan dalam menunaikan kehendak Allah. Sebenarnya khazanah pengetahuan satu orang dengan orang lain itu saling terkait dan berjalin hingga lebih sempurna memanifestasikan kehendak Allah. Hasil sinergi dua orang mukmin yang berjamaah mewujudkan kehendak Allah tidak sama dengan hasil satu orang ditambah hasil sahabatnya, tetapi dapat beranak-pinak menjadi sangat banyak. Demikian pula manakala mukmin yang berjamaah semakin banyak, akan semakin besar pula hasilnya secara eksponensial, bukan bertambah secara linier.

Langkah Tazkiyatun Nafs

Setiap orang beriman hendaknya berusaha memperhatikan ayat Allah pada kauniyah berdasarkan petunjuk ayat kitabullah. Ayat kauniyah dan ayat kitabullah itu merupakan cahaya Allah yang terpancar bagi makhluk. Keselarasan dua ayat Allah ini akan diperoleh oleh orang-orang yang telah mensucikan diri (menempuh tazkiyatun-nafs) hingga Allah membersihkan hatinya. Manakala seseorang belum mampu menyelaraskan pemahaman terhadap kedua ayat tersebut, ia sebenarnya belum cukup dibersihkan. Ia tidak boleh berpegang erat pada pemikirannya sendiri, dan hendaknya menemukan dan mengikuti guru yang dapat menuntun tazkiyatun-nafs. Cukuplah bagi seseorang mengikuti apa yang disampaikan oleh gurunya dengan berpegang pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tanpa memaksakan penggunaan suatu ayat kitabullah untuk fenomena tertentu ataupun memperselisihkannya.

Tugasnya saat itu adalah melakukan proses tazkiyatun-nafs hingga Allah membersihkan dirinya, bukan menyentuh ayat-ayat kitabullah. Boleh jadi kesadaran dirinya sebenarnya masih cenderung menimbulkan kerusakan, dan itu harus diikuti dengan memohon ampun atas dosa-dosanya hingga Allah menumbuhkan kesadaran yang mengarah pada kebaikan. Kesadaran yang mengarah pada keburukan dapat menimbulkan kerusakan pada pemahamannya ketika menyentuh kitabullah. Pengetahuan tentang ayat kitabullah hendaknya diperhatikan sebagai hapalan dan pengetahuan dasar beragama, dan pengetahuan kauniyah hendaknya dipahami dengan sebaik-baiknya dengan penalaran yang benar. Kedua ilmu tersebut bermanfaat sebagai pagar keselamatan dalam melangkah dan sebagai pondasi membangun pemahaman terhadap ayat-ayat Allah pada tahap berikutnya. Tugas demikian ini merupakan tugas temporer yang seharusnya berubah mengikuti perkembangan.

Setelah melakukan tazkiyatun-nafs, seseorang akan mudah memahami kebenaran yang disampaikan kepada dirinya berdasarkan struktur pemahaman yang benar yang terbentuk dalam dirinya. Ia akan mudah memahami perkataan orang-orang yang menyampaikan kebenaran, dan memperoleh kemampuan mengenali kebathilan sekalipun kala muncul dalam diri sendiri dan ditampakkan dalam wujud yang baik. Kadangkala tanda itu disertai kemampuan merasakan hawa nafsu orang-orang yang memfasih-fasihkan diri atau mengenali kebathilan pada perkataan orang lain. Seandainya ada orang lain yang memfasihkan diri dengan kebenaran, ia dapat melihat kebenaran pada perkataan yang disampaikan, dan mensikapi hawa nafsu orang lain tersebut secara terpisah. Ia tidak menyalahkan kebenarannya walaupun mungkin tidak mau bersama atau mengikutinya. Dalam tingkat lanjut, seharusnya setiap orang dapat mengenali kebathilan sekalipun keluar dari lisan orang yang pandai. Sikap demikian ini adalah sasaran yang harus dicapai setiap orang yang melakukan tazkiyatun-nafs. Seorang yang bertaubat harus membentuk kecerdasan mengenali kebenaran dan kebathilan dengan hatinya tidak boleh terjebak pada kebodohan dan faham sempit atau waham diri sendiri.

Harus tumbuh kemampuan menimbang bobot nilai kebenaran dan kebathilan dalam diri orang yang bertaubat. Pengabaian seseorang terhadap kebenaran dan juga pembiaran kebodohan menunjukkan akal yang lemah mendekati kekufuran. Harus tumbuh kekuatan mengenal kebenaran pada orang yang menempuh tazkiyatun-nafs agar pengetahuan terhadap kehendak Allah tumbuh. Tumbuhnya pengetahuan dalam diri seseorang harus diarahkan dengan baik hingga terbentuk pengetahuan yang kokoh. Akan dijumpai beberapa modus pokok dalam pertumbuhan pengetahuan dengan berbagai macam ragamnya. Sebagian pengetahuan tumbuh secara jelas di atas pengetahuan yang telah ada, dan sebagian pengetahuan tumbuh secara baru tanpa terhubung secara kuat terhadap struktur pengetahuan yang telah ada. Pengetahuan yang baru itu harus disikapi dengan hati-hati. Sebagian pengetahuan yang baru merupakan kebathilan yang menghancurkan, dan ada pengetahuan baru yang bersifat meluaskan atau mengembangkan pengetahuan seseorang secara cepat, dan sebagian pengetahuan baru merupakan berita yang harus digunakan untuk menata ulang struktur pengetahuan yang keliru yang telah terbangun dalam diri seseorang. Kemampuan menimbang bobot nilai kebenaran dan kebathilan atau manfaat dan madlarat merupakan landasan yang harus terbina dalam mensikapi pertumbuhan pengetahuan demikian.

Setelah seseorang mencapai keadaan yang dibersihkan, ditandai dengan mudahnya memahami kebenaran, ia hendaknya menumbuhkan sifat rahman dan rahim dalam dirinya dengan memperhatikan keadaan kauniyah yang terjadi di lingkungan dirinya dengan landasan keinginan yang baik dan membaca kauniyah itu sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bila seseorang hanya peduli tentang dirinya tidak memperhatikan keadaan lingkungannya, ia sebenarnya tidak mempedulikan ayat Allah. Membaca kitabullah saja tanpa suatu kepedulian terhadap keadaan kauniyah mungkin akan menumbuhkan kesombongan. Memperhatikan keadaan lingkungan saja tanpa memperhatikan tuntunan kitabullah tidak akan menjadikan seseorang bisa mengenal cahaya Allah. Kepedulian terhadap keadaan kauniyah selaras dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasullllah SAW akan menjadikan seseorang mengarahkan pandangan pada cahaya Allah. Tumbuhnya sifat rahman dan rahim akan menjadikan seseorang dapat mengatur fokus zujajah dirinya untuk membentuk bayangan dari cahaya Allah yang terpancar pada ayat kauniyah dan ayat kitabullah.

Tanpa kemampuan menimbang bobot nilai manfaat dan madlarat pada suatu pengetahuan, seseorang akan terkurung dalam waham atau menyimpang dari langkah yang benar. Ada orang-orang yang tidak bisa memperoleh landasan berpijak untuk amalnya karena selalu meragukan pengetahuan kebenaran yang ada dalam dirinya. Ada pula orang-orang yang menyimpang karena meyakini kebenaran setiap pengetahuan yang sampai kepada dirinya tanpa menimbang pengetahuan itu dengan benar. Mungkin saja suatu kaum terkurung dalam suatu doktrin karena tidak mampu melihat manfaaat dari suatu pengetahuan kebenaran. Bisa saja kombinasi peristiwa itu terjadi secara bersamaan, seseorang tidak mempunyai pijakan pengetahuan yang kokoh dan meyakini kebenaran bisikan-bisikan yang sampai kepada diri mereka, hingga ia beramal tanpa pijakan dan meyakini kebenaran amal-amal yang buruk tetapi merasa sebagai hamba Allah yang paling benar. Sangat banyak keburukan yang dapat terjadi di masyarakat manakala manusia tidak mempunyai kemampuan menimbang bobot nilai manfaat dan madlarat pada pengetahuan yang diperoleh. Manakala mempunyai kemampuan menimbang, seseorang akan dapat memilih atau menentukan langkah yang paling besar nilai manfaatnya dan tidak tertimpa madlarat.

Struktur pengetahuan yang benar akan menjadi pokok dari kemampuan seseorang menimbang kebenaran. Struktur pengetahuan yang lemah dan kerdil hanya akan memampukan seseorang menimbang lingkup pengetahuan yang sedikit, dan struktur yang kuat akan mampu menimbang masalah dengan kokoh. Struktur pohon yang salah akan menghasilkan timbangan yang salah, dan struktur pohon yang benar akan menghasilkan timbangan yang benar. Benarnya struktur pohon adalah kesesuaian pengetahuan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap orang harus menumbuhkan struktur pengetahuan kebenaran yang benar dan kokoh sesuai dengan penciptaan dirinya hingga dapat menimbang kebenaran secara benar dan akurat, dimulai dengan pembinaan pengetahuan yang benar mengikuti ajaran guru-guru yang mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan kemudian diharapkan dapat memahami secara mandiri kebenaran yang sampai kepada dirinya masing-masing.

Tanpa guru, struktur pengetahuan yang telah tumbuh seringkali merupakan struktur yang salah, dan berikutnya mungkin akan menumbuhkan struktur pengetahuan yang salah pula. Guru juga mengajarkan proses bertaubat sesuai dengan perkembangan muridnya hingga murid tidak menjadi rusak karena proses tazkiyatun-nafs yang berlebihan. Ibarat orang yang mengajar anak usia dini, anak-anak harus diajar untuk banyak bergerak karena keringat mereka harus keluar untuk membentuk kecerdasan terlebih dahulu, baru kemudian anak-anak diajar membaca dan berhitung pada usia yang cukup sebagai dasar untuk menelaah keilmuan, dan seterusnya hingga mereka dapat menelaah keilmuan sesuai perkembangan mereka. Tidak mungkin seorang anak kecil langsung diajar menelaah keilmuan karena mereka akan terpatahkan tidak akan mampu memahami tanpa konstruk diri yang memadai. Banyak anak kecil menjadi korban dari kurang pengetahuannya para pengajar usia dini hingga perkembangan mereka tidak baik.

Membina Akhlak secara Lurus

Kepedulian seseorang terhadap ayat-ayat Allah akan menumbuhkan pengetahuan berdasarkan cahaya Allah. Akan terbentuk bayangan dari cahaya Allah dalam diri yang menjadikan seseorang memahami ayat-ayat Allah. Dengan terus memperhatikan ketajaman dari bayangan yang terbentuk, seseorang akan semakin mengenal kehendak Allah yang harus ditunaikan. Ia akan dapat melangkah mendekat pada jati diri penciptaannya dengan beramal shalih sesuai dengan bayangan cahaya Allah yang terbentuk. Pada titik tertentu, Allah akan membukakan kepada dirinya pengetahuan tentang penciptaan dirinya hingga ia mengenal untuk apa dirinya diciptakan dan mengenal shirat al-mustaqim yang harus ditempuh dalam kehidupan dirinya.

Kaum muslimin saat ini harus berjuang dengan sungguh-sungguh untuk memahami dan menerapkan sendi-sendi kehidupan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupan berbangsa. Tanpa pembinaan misykat cahaya, sendi-sendi kehidupan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebenarnya hanya suatu pemahaman yang rapuh tidak benar-benar terbentuk pemahaman. Pemahaman yang kokoh terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hanya dapat dibentuk dengan pembinaan misykat cahaya.

Pembinaan misykat cahaya pada umat tidak boleh menyimpang dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ketidaktuntasan dalam proses tazkiyatun-nafs akan menjadi sumber penyimpangan dalam pembinaan misykat cahaya. Dampak dari penyimpangan akan mendatangkan madlarat yang sangat besar. Mungkin saja terjadi proses yang berkebalikan dari apa yang menjadi tujuan, misalnya terjadinya pembodohan atau pemiskinan umat karena upaya yang dilakukan. Madlarat yang terjadi dengan penyimpangan ini bisa sangat besar dampaknya bagi umat. Bagi Rasulullah SAW, menyimpangnya seorang yang alim lebih menakutkan beliau SAW daripada kerusakan yang ditimbulkan oleh Dajjal. Kerusakan karena tergelincirnya seorang alim akan menjadi beban berat umat. Dajjal mungkin tidak akan menyesatkan orang-orang yang kuat, tetapi tergelincirnya seorang alim akan bisa menyeret hingga orang-orang terbaik menuju kebodohan.

Lurusnya jalan yang ditempuh mukminin harus ditempuh sebagaimana jalan Rasulullah SAW dimi’rajkan hingga ufuk tertinggi tidak menyimpang. Setiap tahap harus ditempuh dengan seksama untuk dapat melangkah ada tahap berikutnya, menutup setiap potensi langkah menyimpang. Tazkiyatun-nafs harus dilakukan dengan sasaran yang jelas hingga langkah dapat memahami kandungan kitabullah dengan benar. Memahami kandungan kitabullah harus dilakukan dengan tepat hingga seseorang mengenal untuk apa diciptakan. Pengenalan diri itu harus dicapai dengan parameter pemahaman yang benar, amal-amal yang terwujud dari pemahaman yang terbentuk mengantarkan diri seseorang untuk membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, tidak meninggikan hal yang lain. Demikian langkah bertaubat harus dilakukan dengan lurus mengikuti langkah Rasulullah SAW.

Contoh penyimpangan yang sering terjadi pada orang yang menempuh tazkiyatun-nafs adalah kurangnya penggunaan akal untuk memahami ayat Allah. Mereka membina qalbu, pendengaran dan penglihatan bathiniah akan tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah. Salah satu sebab demikian berupa terlalu memandang tinggi derajat indera bathiniah melupakan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Indera bathiniah tidak digunakan untuk memahami lebih dalam ayat-ayat Allah tetapi justru terjebak menggali khazanah indera bathiniah sendiri. Ini sikap tidak tepat. Indera bathiniah harus digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah dengan lebih seksama. Akal harus tumbuh untuk mampu menggali bobot nilai ayat-ayat Allah baik ayat kauniyah maupun ayat kitabullah. Sikap demikian mendatangkan akibat buruk. Tidak jarang orang yang mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW menjadi korban pendapat indera bathiniah mereka sendiri, karena itu upaya membina umat mengikuti tuntunan kitabullah menjadi rusak.



Jumat, 17 April 2026

Kokohnya Bangsa Dengan Akhlak Mulia

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan membentuk akhlak mulia sebagaimana kehendak Allah atas manusia agar manusia layak menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah. Akhlak mulia tidak terbatas pada pembinaan adab yang tampak pada fisik, tetapi juga terkait dengan kemuliaan konstruk diri manusia sebagai makhluk Allah. Kecerdasan dalam memahami ayat-ayat Allah dan beramal sesuai dengan pemahaman tersebut merupakan bagian dari tanda adanya akhlak mulia, sebagai tanda terbentuknya konstruk diri manusia yang dapat memahami kehendak Allah. Manakala seseorang lemah kemampuannya dalam memahami kehendak Allah, hal itu merupakan tanda lemahnya akhlak mulia dalam dirinya. Setiap hamba Allah hendaknya membina diri menjadi makhluk yang berakhlak mulia, di antara tandanya yaitu dapat memahami ayat-ayat Allah.

Dewasa ini, kemampuan umat Islam dalam memahami ayat-ayat Allah sebenarnya banyak melemah tidak sebagaimana ajaran Islam yang seharusnya. Kaum musyrikin turut serta menyebarkan Islam dengan ajaran-ajaran yang sebenarnya tidak memperkuat dan justru melemahkan akal umat Islam. Dengan ajaran-ajaran demikian itu, umat Islam justru berpecah-belah menjadi beberapa golongan dan setiap golongan berbangga dengan ajaran yang ada pada diri masing-masing, tidak berusaha untuk memahami tuntunan Islam sesuai dengan kehendak Allah. Selain itu, jalan yang diajarkan Rasulullah SAW untuk membentuk akhlak mulia juga menjadi kabur dari pandangan umat Islam.

﴾۱۳﴿ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ…...
﴾۲۳﴿مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
.. dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, (32) yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.( QS Ar-Ruum : 31-32)

Tanda pelemahan yang dapat dilihat misalnya pada lemahnya sendi-sendi kehidupan muslimin dalam mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tatanan ekonomi dan keuangan bangsa-bangsa muslim dewasa ini kebanyakan hanya mengadopsi tatanan ekonomi kaum musyrikin, tanpa menyadari betapa lemah daya tahan bangsa manakala mengikuti tatanan demikian. Demikian pula terjadi di sektor-sektor yang lain seperti geopolitik, pendidikan, agama, pengelolaan sumber daya alam, kesehatan dan lingkungan hidup, penataan sumber daya manusia dan lain-lain. Hanya sedikit bangsa yang kuat dalam memahami dan mengendalikan tatanan-tatanan demikian mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Dari satu sisi, pelemahan kaum muslimin terjadi karena pelemahan pembinaan akhlak mulia karena tercampurnya ajaran kaum musyrikin ke dalam ajaran Islam.

Pembinaan akhlak yang lemah menyebabkan banyak kelemahan dalam bernegara. Kepala negara harus menjilat pantat penguasa dunia untuk memperoleh dan mempertahankan kedudukannya. Sekian besar kekayaan tidak dapat dinikmati oleh bangsa karena harus dikorupsi untuk memperoleh dan mempertahankan kekuasaan. Hal itu tentunya akan menjalar pada bawahan-bawahannya. Sekian besar nilai korupsi dapat terjadi di suatu bangsa karena lemahnya pembinaan akhlak. Orang-orang yang ingin memperoleh kedudukan harus mengikuti langkah atasannya untuk korupsi. Para koruptor memperoleh jalan yang sangat luas memperoleh kedudukan untuk melakukan korupsi dengan dukungan secara struktural sedemikian setiap lapis jabatan ditekan untuk melakukan korupsi. Orang-orang yang baik tidak mengetahui jalan untuk mengentaskan bangsa dari budaya korupsi. Dengan budaya demikian, sulit untuk membentuk bangsa yang kuat dan beradab. Untuk menjadi bangsa yang kuat, pembinaan akhlak harus dilakukan dengan baik mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Beberapa Masalah Pembinaan

Kaum muslimin saat ini harus berjuang dengan sungguh-sungguh untuk memahami dan menerapkan sendi-sendi kehidupan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupan berbangsa. Telah tampak bagi setiap orang bahwa terjadi perubahan tatanan dunia melalui peperangan yang terjadi antara Islam yang diwakili Iran dengan persekutuan Amerika dan Israel yang merupakan wujud kekuatan musyrikin. Apabila kaum muslimin tidak menggunakan akalnya untuk memahami dan menerapkan tuntunan Islam dalam sendi-sendi berbangsa, perubahan itu akan menjadi proses yang sangat berat bagi muslimin. Beratnya perubahan itu akan menjadi hal sia-sia apabila muslimin tidak memahami tuntunan Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Sangat buruklah apabila perubahan itu tidak mengubah keadaan muslimin menjadi lebih baik.

Akan banyak halangan yang akan menghadang upaya kaum muslimin untuk memahami dan menerapkan tatanan mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, termasuk dari kaum muslimin sendiri terutama yang terafiliasi dengan kaum musyrikin. Sebenarnya telah ada upaya kaum muslimin untuk memahami tuntunan islam sesuai realitas jaman, dan betapa kerasnya celaan pembela musyrikin terhadap upaya demikian. Mereka hanya menjadi pencela dan mengaku sebagai kaum yang paling memahami tuntunan Islam. Terlepas bahwa barangkali upaya memahami tuntunan sesuai realitas jaman itu mungkin belum sepenuhnya dilakukan mengikuti tuntunan, celaan itu menunjukkan adanya tantangan untuk memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk jaman sekarang. Selain celaan-celaan dari kaum pencela, bukan tidak mungkin perumusan pemahaman tentang sendi kehidupan diganggu dengan rumusan-rumusan palsu yang diglorifikasi keislamannya, seperti pengajaran akidah yang dibuat oleh musyrikin dan diglorifikasi kebenarannya sebagai yang paling benar islamnya. Hampir pasti bahwa rumusan yang benar akan ditenggelamkan oleh syaitan dan musyrikin dengan rumusan-rumusan palsu yang diglorifikasi.

Umat islam harus berusaha benar-benar mengikuti kebenaran dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak terpengaruh oleh pendapat-pendapat yang mengagungkan rumusan-rumusan yang menyimpang. Kadangkala penenggelaman rumusan yang benar dilakukan dengan sedikit kebenaran yang dibangga-banggakan hingga potongan kebenaran itu tampak sebagai kebenaran yang megah tetapi tidak sepenuhnya selaras dengan tuntunan kitabullah. Tentu saja tidak ditemukan kesalahan karena wujudnya berupa potongan kebenaran, yang ditampakkan megah. Dengan tampak megahnya potongan kebenaran itu, orang tidak melihat kebenaran yang utuh mengikuti tuntunan kitabullah hingga kebenaran utuhnya terlupakan. Hal demikian dapat dihindari apabila umat berusaha mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Apabila umat berusaha mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, kesalahan-kesalahan rumusan dapat lebih mudah diperbaiki hingga umat tidak terus terjebak dalam keindahan yang salah ataupun potongan kebenaran.

Pembinaan Akhlak dengan Tauhid

Untuk pembinaan yang benar, akhlak yang harus dibina oleh kaum mukminin harus mengarah pada pembinaan misykat cahaya. Misykat cahaya merupakan gambaran tentang akhlak tertinggi berupa akhlak rahmaniah yang seharusnya dibentuk pada setiap diri orang beriman. Secara singkat akhlak rahmaniah dapat dikatakan sebagai kegemaran untuk memberi kebaikan berupa memberitakan tentang kehendak Allah melalui tuntunan kitabullah Alquran. Setiap orang beriman mempunyai potensi dapat menemukan gambaran tentang kehendak Allah dalam diri masing-masing. Gambaran kehendak itu dibentuk dari cahaya Allah dengan akhlak mulia tertentu. Gambaran tentang kehendak Allah itu dapat dibentuk dengan berusaha membina misykat cahaya diri. Penjelasan dari orang yang membina diri sebagai misykat cahaya itu adalah mitsal bagi cahaya Allah, bukan mitsal bagi Allah. Metode pembinaan demikian merupakan pembinaan tauhid yang diajarkan Rasulullah SAW.

﴾۵۳﴿ اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah misykat, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang penuh berkah, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QSAn-Nuur : 35)

Misykat cahaya dapat digambarkan layaknya suatu kamera. Kamera berfungsi membentuk cahaya dari objek yang dibidik menjadi suatu bayangan gambar. Terdapat badan kamera yang kedap cahaya dengan suatu lubang kecil yang dapat dibuka pada saat pengambilan gambar. Badan kamera itu adalah gambaran bagi misykat yang tidak tembus cahaya. Terdapat pula lensa yang mengarahkan cahaya membentuk bayangan dari objek yang dibidik. Lensa itu merupakan ibarat dari zujajah (bola kaca) yang terdapat dalam misykat cahaya.

Pembinaan pemahaman terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang paling utama harus dilakukan dengan membentuk akhlak sebagai misykat cahaya. Dewasa ini, kaidah tentang keilmuan kitabullah Alquran banyak bergeser dari basis akhlak kepada basis hafalan. Sebagian muslim berusaha untuk memperoleh ilmu dari kitabullah Alquran akan tetapi melupakan proses pembinaan misykat cahaya sedemikian ilmu mereka hanya merupakan suatu hafalan. Ilmu demikian ini akan bermanfaat untuk menjaga seorang muslim tergelincir ke neraka, tetapi tidak bisa membangun pemahaman terhadap kehendak Allah secara utuh dan mutakhir. Seseorang tidak dapat membaca secara tepat ayat Allah pada kauniyahnya selaras dengan tuntunan kitabullah.

Setiap orang mempunyai khazanah pengetahuan yang sangat luas yang dapat ditemukan manakala masing-masing membina diri sebagai misykat cahaya. Pengetahuan yang bersumber dari kitabullah demikian akan mendatangkan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan di bumi. Manfaat demikian akan semakin besar nilainya apabila terbentuk kebersamaan dalam menunaikan kehendak Allah. Sebenarnya khazanah pengetahuan satu orang dengan orang lain itu saling terkait dan berjalin hingga lebih sempurna memanifestasikan kehendak Allah. Kadangkala seseorang yang mengenal diri dipandang tidak berguna di antara masyaraka. Manakala hanya sendirian, manfaat itu seringkali tidak disadari oleh umat. Seorang nabi akan menjadi orang paling besar manfaatnya di antara orang beriman, akan tetapi barangkali menjadi seseorang yang dipandang paling tidak berguna di antara orang-orang kafir.

Pembinaan misykat cahaya pada umat tidak boleh menyimpang dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Dampak dari penyimpangan dari pembinaan misykat cahaya akan mendatangkan madlarat yang sangat besar. Mungkin saja terjadi proses yang berkebalikan dari apa yang menjadi tujuan, misalnya terjadinya pembodohan atau pemiskinan umat. Madlarat yang terjadi dengan penyimpangan ini bisa sangat besar dampaknya bagi umat. Bagi Rasulullah SAW, menyimpangnya seorang yang alim lebih beliau SAW takutkan daripada kerusakan yang ditimbulkan oleh Dajjal. Kerusakan karena tergelincirnya seorang alim akan menjadi beban berat umat. Dajjal mungkin akan menyesatkan orang-orang yang lemah imannya, tetapi tergelincirnya seorang alim akan bisa menyeret jamaah orang beriman hingga orang-orang terbaik yang mempunyai tanggung jawab keumatan.

Setiap orang beriman hendaknya berusaha memperhatikan ayat Allah pada kauniyah berdasarkan petunjuk ayat kitabullah. Ayat kauniyah dan ayat kitabullah itu merupakan cahaya Allah yang terpancar bagi makhluk. Keselarasan dua ayat Allah ini akan diperoleh oleh orang-orang yang telah mensucikan diri (menempuh tazkiyatun-nafs) hingga Allah membersihkan hatinya. Manakala seseorang belum mampu menyelaraskan pemahaman terhadap kedua ayat tersebut, ia sebenarnya belum cukup dibersihkan. Ia tidak boleh berpegang erat pada pemikirannya sendiri, dan hendaknya menemukan dan mengikuti guru yang dapat menuntun tazkiyatun-nafs. Pengetahuan tentang ayat kitabullah yang dapat dipahami hendaknya tidak dilepaskan, dan pengetahuan kauniyah hendaknya dipahami dengan sebaik-baiknya dengan penalaran yang benar tanpa memaksakan penggunaan suatu ayat kitabullah yang terkait ataupun memperselisihkannya. Tugasnya saat itu adalah melakukan proses tazkiyatun-nafs hingga Allah membersihkan dirinya, bukan menyentuh ayat-ayat kitabullah. Boleh jadi kesadaran dirinya sebenarnya masih cenderung menimbulkan kerusakan, dan itu harus disadari dengan memohon ampun atas dosa-dosanya hingga Allah menumbuhkan kesadaran yang mengarah pada kebaikan. Kesadaran yang mengarah pada keburukan itu dapat menimbulkan kerusakan pada pemahaman terhadap kitabullah.

Setelah melakukan tazkiyatun-nafs, seseorang akan mudah memahami kebenaran yang disampaikan kepada dirinya. Ia akan mudah memahami perkataan orang-orang yang tulus menyampaikan kebenaran, dan kadang disertai kemampuan merasakan orang-orang yang memfasih-fasihkan diri. Ini harus terjadi pada setiap orang yang melakukan tazkiyatun-nafs, tidak boleh terjebak pada faham sempit kelompok sendiri. Seandainya ada orang lain yang memfasihkan diri dengan kebenaran, ia dapat melihat kebenaran pada perkataan yang disampaikan, dan mensikapi hawa nafsu orang lain tersebut secara terpisah. Ia tidak menyalahkan kebenarannya walaupun mungkin tidak mau bersama atau mengikutinya. Dalam tingkat lanjut, seharusnya setiap orang harus dapat mengenali kebathilan dari lisan orang yang pandai.

Setelah seseorang mencapai keadaan yang dibersihkan, ditandai mudah memahami kebenaran, ia hendaknya menumbuhkan sifat rahman dan rahim dalam dirinya dengan memperhatikan keadaan kauniyah yang terjadi di lingkungan dirinya dan berusaha membaca kauniyah itu sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bila seseorang hanya peduli tentang dirinya tidak memperhatikan keadaan lingkungannya, ia sebenarnya tidak mempedulikan ayat Allah. Membaca kitabullah tanpa suatu kepedulian terhadap keadaan lingkungan akan mudah menumbuhkan kesombongan. Memperhatikan keadaan lingkungan saja tanpa memperhatikan tuntunan kitabullah tidak akan menjadikan seseorang bisa mengenal cahaya Allah. Sifat rahman dan rahim itu akan menjadikan seseorang dapat mengatur fokus zujajah dirinya untuk membentuk bayangan dari cahaya Allah dengan benar.

Kepedulian seseorang terhadap ayat-ayat Allah akan menumbuhkan pengetahuan berdasarkan cahaya Allah. Terbentuk bayangan dari cahaya Allah dalam dirinya yang menjadikan dirinya memahami ayat-ayat Allah. Dengan terus memperhatikan ketajaman dari bayangan yang terbentuk, seseorang akan semakin mengenal kehendak Allah yang harus ditunaikan. Ia akan dapat melangkah mendekat pada jati diri penciptaannya dengan beramal shalih sesuai dengan bayangan cahaya Allah yang terbentuk. Pada titik tertentu, Allah akan membukakan kepada dirinya pengetahuan tentang penciptaan dirinya hingga ia mengenal untuk apa dirinya diciptakan dan mengenal shirat al-mustaqim yang harus ditempuh dalam kehidupan dirinya.

Kaum muslimin saat ini harus berjuang dengan sungguh-sungguh untuk memahami dan menerapkan sendi-sendi kehidupan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupan berbangsa dengan membina misykat cahaya. Tanpa pembinaan misykat cahaya, sendi-sendi kehidupan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebenarnya hanya suatu pemahaman yang rapuh tidak benar-benar terbentuk pemahaman. Pemahaman yang kokoh terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hanya dapat dibentuk dengan pembinaan misykat cahaya.

Selasa, 14 April 2026

Imam dan Pelaksanaan Urusan Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Rasulullah SAW adalah tauladan yang tertinggi bagi semesta alam, sebagai makhluk yang diberi kemampuan mengenal tajalliat Allah di ufuk yang tertinggi. Selain tauladan Rasulullah SAW, Allah juga menurunkan tauladan itu agar umat manusia merasa mudah untuk mengikuti langkah-langkah yang ditempuh. Nabi Musa a.s merupakan pemimpin yang menyeru untuk berhijrah menuju tempat yang dijanjikan bagi setiap manusia. Orang-orang yang berhasil mengikuti langkah nabi Musa a.s sebagian akan menjadi pemimpin-pemimpin yang bisa memberikan petunjuk kepada umat manusia.

﴾۴۲﴿وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami (QS As-Sajdah : 24)

Keberhasilan seseorang dalam mengikuti langkah nabi Musa a.s ditunjukkan dengan pengenalan diri untuk apa dirinya diciptakan. Mengenal untuk apa diri diciptakan adalah sampainya seseorang pada tanah yang dijanjikan. Ia akan mengenal tempat tinggal untuk melaksanakan amal-amal yang ditentukan Allah bagi dirinya. Manakala seseorang mengenal dirinya, ia akan mempunyai pengetahuan yang sangat luas terkait dengan urusan-urusan dirinya, dan dengan pengetahuan itu ia dapat memberikan petunjuk kepada orang lain urusan-urusan Allah yang terhampar di alam kauniyah mereka.

Luasnya pengetahuan itu terjadi melalui suatu keterbukaan (al-fath). Seseorang akan secara tiba-tiba mengetahui keadaan kauniyah dirinya secara luas sesuai dalam penjelasan kitabullah dan mengetahui amal-amal yang dapat dilakukannya sebagai penebus dosa-dosa dirinya yang telah lalu dan yang akan datang, mengenal nikmat Allah bagi dirinya dan memperoleh petunjuk tentang shirat al-mustaqim. Mereka akan melihat ayat-ayat Allah dalam kehidupan mereka. Pengenalan diri bukan terjadi melalui usaha pengumpulan fragmen-fragmen pengetahuan, tetapi melalui karunia Allah berupa suatu pembukaan pengetahuan. Usaha mengumpulkan pengetahuan akan mengarahkan diri seseorang untuk memperoleh karunia keterbukaan, tetapi karunia keterbukaan itu bukan ilmu yang dikumpulkan seseorang dengan usahanya.

Orang yang mengenal dirinya akan mempunyai keyakinan terhadap ayat-ayat Allah tanpa suatu keraguan. Keyakinan itu berlandaskan pada pengetahuan dari karunia keterbukaan, bukan suatu keyakinan yang dibuat-buat. Keyakinan mereka itu terbentuk tanpa ada kebenaran yang harus diabaikan baik dari ayat kauniyah maupun ayat kitabullah. Mungkin keyakinan itu berbeda dengan persepsi masyarakat kebanyakan, akan tetapi hakikat dari ayat Allah sebenarnya lebih diketahui oleh orang yang mengenal diri. Mungkin ia belum mengetahui suatu kebenaran tertentu di balik suatu ayat Allah karena tidak terbuka kepada dirinya, akan tetapi apa yang belum dia ketahui itu tidak bertentangan dengan keyakinan dalam dirinya. Mungkin pula apa yang disampaikan kepada orang lain tidak sepenuhnya berdasar keterbukaan yang dikaruniakan sedemikian tidak semua yang disampaikan dalam kualitas hakikat, tetapi ia mempunyai pengetahuan hakikat terkait ayat-ayat Allah yang menjadi landasan keyakinannya. Hal itu tidak menjadikan status keyakinannya hanya dibuat-buat, tetapi hanya menunjukkan batasan keterbukaan kepada dirinya. Keyakinan yang dibuat-buat mungkin harus disusun dengan mengabaikan atau bahkan menentang adanya suatu kebenaran pada suatu peristiwa kauniyah ataupun pada suatu ayat Allah tertentu.

Memperhatikan Urusan Allah Bersama Pemimpin

Dengan keyakinan demikian, orang-orang yang berhasil mengikuti langkah nabi Musa a.s berhijrah ke tanah yang dijanjikan akan layak dijadikan pemimpin. Mereka mempunyai pengetahuan-pengetahuan untuk menunjukkan umat mereka pada urusan-urusan Allah yang perlu dikerjakan. Ada syarat-syarat lain yang membatasi hingga tidak semua orang mengenal diri dijadikan pemimpin bagi umatnya, akan tetapi sebenarnya mereka telah mempunyai pengetahuan-pengetahuan terkait ayat-ayat Allah sebagai bekal memimpin. Pengetahuan terkait ayat-ayat Allah inilah bekal utama yang menjadikan mereka layak untuk dijadikan pemimpin yang dapat menunjukkan umatnya kepada urusan Allah.

Orang yang mengenal diri dan dijadikan Allah sebagai pemimpin bertugas menunjukkan umatnya pada urusan-urusan Allah yang perlu dikerjakan. Urusan-urusan Allah yang perlu dikerjakan itu benar-benar berurusan dengan ayat kauniyah yang terjadi terkait dengan suatu hakikat tertentu, bukan urusan-urusan yang dibuat agar manusia menjadi sibuk tanpa mengenal hakikat yang terjadi atau urusan mengejar fatamorgana. Mungkin mereka menunjukkan ayat kitabullah saja kepada umatnya agar umatnya memikirkan apa yang perlu diperbuat, atau mungkin mereka menunjukkan pembacaan kauniyah berdasar kitabullah agar umat dapat merumuskan langkah yang perlu dilakukan secara berjamaah, dan mungkin banyak cara lain yang bisa mereka pakai untuk memperkenalkan umatnya terhadap urusan Allah yang perlu dikerjakan. Yang lebih penting bagi mereka adalah agar umatnya menyadari urusan Allah yang harus dikerjakan, bukan hanya peduli urusan diri sendiri, atau agar umatnya tidak mengerjakan sesuatu tanpa mengenal urusan Allah.

Tugas pemimpin adalah menunjukkan urusan Allah yang perlu dikerjakan, sedangkan mengenali amal-amal yang perlu dikerjakan adalah tugas bagi setiap orang yang diarahkan. Seorang pemimpin hendaknya memberitahukan kepada umat agar umat mengetahui arah, dalam batas yang ia ketahui merupakan kebaikan dalam urusan Allah. Pemimpin tidak perlu mendiktekan amal-amal hingga urusan yang terlalu terperinci karena mungkin akan menutup potensi sumbangan karya terbaik dari umatnya. Umat hendaknya dapat merumuskan amal yang perlu dia kerjakan dengan kemampuan yang terbaik dari diri mereka selaras dengan arahan dari pemimpinnya.

Orang yang mengenal diri pada dasarnya mempunyai pengetahuan tentang urusan-urusan yang merupakan tanggung jawab dirinya. Urusan-urusan itu bisa diketahui dalam bentuk terperinci dengan batas-batas tertentu yang terkait dengan urusan-urusan sesama mukmin yang lain. Misalnya boleh jadi ia mengetahui urusan dirinya dan hubungan urusannya dengan tujuh orang sahabatnya atau sejumlah sahabat yang lain secara khusus. Hal demikian itu merupakan contoh sifat pengetahuan tentang urusan yang harus ditunaikan. Manakala seseorang hanya mengetahui urusannya tanpa mengetahui batas-batasnya, pengetahuan urusan itu sebenarnya masih bersifat samar. Jelasnya urusan yang harus ditunaikan seseorang itu sebenarnya ditunjukkan dengan jelasnya kedudukan dirinya dalam jalinan Al-Jamaah yang menunaikan urusan Rasulullah SAW, bukan pengetahuan yang bersifat berdiri sendiri secara bebas. Kebaikan dalam urusan Allah akan diketahui dengan mengetahui batas-batas urusan Allah yang harus ia tunaikan.

Umat hendaknya berusaha mengenali urusan Allah yang harus ditunaikan bersama dengan pemimpinnya, yaitu dengan cara memastikan bahwa urusan yang mereka kerjakan benar-benar merupakan urusan yang diperintahkan dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ia hendaknya mengenali pokok dari perintahnya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan mengenali kandungan dari pokok perintah itu yang disampaikan oleh pemimpinnya, kemudian ia menggunakan pikiran dan akalnya untuk mewujudkan amal berdasarkan pemahaman yang dilakukannya. Mereka bisa bersama-sama dengan orang yang lain memahami dan memikirkan arahan yang mereka terima untuk diwujudkan dengan lebih baik.

Di antara masalah umat dewasa ini adalah terbengkalainya urusan dari sisi Allah, sedangkan umat islam sibuk mengerjakan urusan tanpa mengetahui urusan Allah, atau mengerjakan urusan tanpa mengenali secara menyeluruh urusannya sebagai bagian dari Al-jamaah. Banyak umat islam tidak mengenal pemimpin yang menghubungkan mereka terhadap urusan Allah. Sebagian orang mungkin berusaha mengenali urusan Allah akan tetapi tidak dilakukan dengan seksama dengan mengenal urusan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sebagian memilih pemimpin hanya berdasarkan hawa nafsu dan sedikit harta yang diberikan. Ini sangat menyedihkan. Urusan Allah tidak akan terlaksana oleh umat manakala mereka mengabaikan pemimpin yang ditentukan Allah.

Ada beberapa contoh terabaikannya urusan Allah. Di tingkat bangsa, ketika kaum musyrikin berperang dengan muslimin, pemimpin negara muslim justru membela musyrikin menyediakan keamanan dan sarana penyerangan. Ini menunjukkan terbengkalainya urusan dari sisi Allah karena kurang memperhatikan pemimpin. Umat tidak mengetahui urusan yang harus ditunaikan dari sisi Allah karena kurang memperhatikan pemimpin. Di tingkat rumah tangga, pembinaan rumah tangga muslimin tampak tidak dibina dengan benar. Ini merupakan bentuk pengabaian urusan Allah tentang kepemimpinan dalam tingkat fundamental. Rumah tangga merupakan media inti bagi setiap orang untuk membangun visi pemimpin dan kepemimpinan, sedemikian suatu bangsa akan dapat bersatu secara terpimpin bila umat terdidik. Banyak rumah tangga muslimin yang berantakan karena kurangnya pembinaan, atau keliru dalam pembinaannya. Pasangan-pasangan yang berusaha keras membina rumah tangga mengikuti tuntunan agama justru dihalangi atau bahkan dibiarkan menjadi sasaran perusakan rumah tangga hingga tidak dapat mewujudkan rumah tangga yang baik. Hal seperti ini tidak boleh terjadi, karena rumah tangga merupakan setengah bagian agama dan inti dari pembinaan bangsa. Pemimpin harus menyusun landasan pembinaan rumah tangga berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tanpa pembinaan rumah tangga yang benar, suatu bangsa akan menjadi bangsa yang rapuh tidak mengetahui tatanan berbangsa dan bernegara.

Pemimpin dan Petunjuk

Para pemimpin dalam kategori mengenal diri dapat memberikan petunjuk sebagai perpanjangan petunjuk Allah kepada manusia. Arahan dari para pemimpin demikian dapat dihitung sebagai petunjuk oleh orang-orang yang ingin mendapatkan petunjuk, selama mereka mengetahui bahwa arahan itu merupakan bagian dari kandungan ayat Allah. Manakala seseorang atau umat tidak mengetahuinya, arahan itu belum bersifat petunjuk bagi mereka. Mereka boleh dan diperintahkan berpegang pada arahan pemimpin demikian dan mengikutinya agar kemudian bisa memahami petunjuk akan tetapi harus disadari bahwa mereka belum memperoleh petunjuk melalui arahan itu. Arahan itu menjadi petunjuk manakala seseorang memahami bahwa itu bagian dari kandungan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala mereka melihat pertentangan suatu arahan pemimpin dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, arahan itu tidak boleh dipandang sebagai petunjuk dan tidak boleh diikuti sekalipun dengan berharap untuk mendapat petunjuk.

Banyak ragam sikap orang terhadap petunjuk melalui pemimpin yang sebenarnya. Orang yang paling memperoleh manfaat dari arahan pemimpin demikian adalah orang-orang yang menginginkan petunjuk dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka akan melihat penjelasan kandungan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam arahan itu sedemikian arahan itu menjadi petunjuk yang jelas bagi kehidupan mereka. Banyak manusia tidak memperoleh manfaat dari arahan karena waham yang terbentuk dalam diri mereka. Seringkali perkataan-perkataan yang tidak jelas kedudukannya dari kitabullah dianggap sebagai petunjuk oleh orang-orang yang mengikuti waham. Ada orang-orang yang tidak memperoleh manfaat karena kurangnya keinginan untuk memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sekalipun arahan yang mereka dengar benar-benar merupakan bagian dari penjelasan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka tidak mampu melihat kebenaran dalam penjelasan itu. Karena itu, arahan itu tidak bisa menjadi petunjuk bagi mereka. Tidak sedikit pula orang yang bisa memahami kebenaran dalam suatu arahan sebagai bagian kandungan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, akan tetapi pengetahuan itu tidak diikutinya maka itu tidak menjadi petunjuk baginya, hanya menjadi pengetahuan saja. Akhlak mereka menjadikan tidak membutuhkan pelaksanaan amanah kitabullah itu.

Keterbukaan petunjuk atas diri seseorang hanya terjadi atas ijin Allah. Tidak ada usaha orang lain yang dapat membuka hati seseorang untuk menerima petunjuk, tetapi seseorang dapat berharap kepada Allah untuk mendapatkan petunjuk dengan menata hati untuk menghamba kepada Allah dengan benar. Manakala seseorang menginginkan memperoleh petunjuk dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka mungkin akan diijinkan Allah untuk memahami petunjuk. Tanpa keinginan demikian, tidak ada upaya orang lain yang bisa membukakan petunjuk. Lebih mudah bagi nabi Isa a.s untuk membangkitkan orang mati badannya dengan ijin Allah, tetapi beliau a.s merasa sangat berat untuk menjadikan cerdas orang-orang yang bersikap bodoh. Bodoh dalam hal ini adalah mengikuti pendapat diri sendiri saja. Untuk memperoleh petunjuk dari manusia, seseorang harus berharap kepada Allah untuk memberikan petunjuk, dan berpegang kepada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai wasilah petunjuk yang tidak pernah salah, dan memperhatikan perkataan imam yang memberikan petunjuk agar ia memahami petunjuk yang diberikan.

Inti dari kepemimpinan dalam agama adalah menunjukkan umat kepada urusan Allah. Kemampuan mempengaruhi atau menggerakkan umat untuk melakukan hal-hal yang ditentukan merupakan bagian lain dari kepemimpinan dalam agama sedangkan keterampilan utamanya adalah menunjukkan umat kepada urusan Allah. Keberhasilan mewujudkan kehendak Allah ditentukan oleh kebersamaan umat dalam mewujudkannya setelah memahaminya, bukan hasil dari satu orang saja. Dalam realita terkait kebersamaan, rumah tangga yang baik akan menentukan keberhasilan seorang pemimpin dalam melaksanakan tugasnya. Sekalipun sama-sama beramal menunaikan urusan Allah, seseorang akan lebih berhasil melaksanakannya manakala rumah tangganya lebih baik. Keberhasilan pelaksanaan itu bukan kriteria utama untuk diangkat sebagai pemimpin, tetapi setiap orang harus berusaha membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Allah menjadikan sebagian dari orang-orang yang mengenal diri sebagai pemimpin bagi umat manusia, yaitu orang yang sabar di antara orang-orang yang mengenal diri. Kriteria sabar lebih dipentingkan dalam agama dibandingkan kemampuan bersikap tegas dan disiplin. Bukan berarti ketegasan dan disiplin tidak dibutuhkan, akan tetapi sifat sabar lebih diperhatikan dalam menentukan kepemimpinan.

Kepemimpinan dalam agama terbentuk melalui kehendak Allah yang mengangkatnya dari orang-orang yang telah mengenal diri berhijrah ke tanah yang dijanjikan. Ada perbedaan kedudukan dari setiap imam yang ditentukan, dan masing-masing mengenal kedudukan dirinya dalam jalinan Al-jamaah, mengenal sahabat yang dekat dalam jalinan itu dan setidaknya mengenal Rasulullah SAW sebagai pemimpin tertinggi. Banyak orang yang terobsesi dengan kepemimpinan. Seorang Donald Trump mengilustrasikan diri dalam pakaian merah putih. Hal itu sama sekali tidak pantas dan tidak menjadikannya seorang pemimpin yang layak. Sang Merah Putih adalah pemimpin yang merupakan kekayaan simpanan milik Rasulullah SAW, dan sangat tidak pantas Donald Trump mengilustrasikan diri dalam citra demikian. Mungkin saja ada orang-orang yang terobsesi dengan kepemimpinan layaknya Donald Trump dalam bentuk yang lebih halus. Kaum mukminin yang sesungguhnya akan mengenal kedudukan Sang Merah Putih dalam jalinan Al-Jamaah, selain kedudukan dirinya sendiri dalam Al-Jamaah.