Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Kemuliaan akhlak akan mendatangkan kebaikan bagi kehidupan baik untuk kehidupan di akhirat maupun kehidupan di bumi. Allah meneguhkan kehidupan orang-orang beriman dengan perkataan yang teguh dalam kehidupan dunia maupun untuk akhirat.
﴾۷۲﴿يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ
Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan kalimah yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki (QS Ibrahim : 27)
Perkataan yang teguh itu adalah pengetahuan yang teguh terkait aspek-aspek kehidupan, baik kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat. Seseorang yang beriman akan memperoleh pengetahuan tentang kehidupan mereka sedemikian mereka dapat melangkah dengan teguh dalam kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat tidak terombang-ambing dengan harapan yang keliru dan informasi-informasi yang semu. Sangat banyak manusia berharap terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak akan ditemukan, dan sangat banyak informasi dan pengetahuan semu yang dapat dijumpai dalam kehidupan manusia, baik berupa potongan kebenaran yang digunakan untuk tujuan yang keliru atau digunakan secara tidak tepat, ataupun berupa informasi-informasi yang salah dan mempersulit kehidupan. Seseorang yang beriman akan bisa mengetahui hakikat penciptaan dan mengusahakan apa yang ditentukan bagi diri mereka, serta memperoleh informasi dan pengetahuan yang teguh terkait kehidupan diri mereka di dunia ataupun di akhirat tidak terombang-ambing dalam informasi semu.
Perkataan yang teguh adalah perkataan yang benar dan digunakan untuk urusan yang tepat dengan suatu pemahaman terhadap konsekuensi yang mengikuti perkataan tersebut. Perkataan itu bukan suatu perkataan yang dipersepsi selintas kemudian dibenarkan tanpa mengetahui isinya. Dengan perkataan yang teguh, orang beriman pada dasarnya tidak perlu bersikap gamang terhadap permasalahan yang terkait dengan perkataan itu, dan usaha untuk mewujudkan perkataan itu dapat mengarah dengan benar bukan suatu usaha coba-coba. Selanjutnya, seorang beriman dapat menempatkan diri pada usaha mewujudkan perkataan yang teguh yang telah diketahuinya dan menghindarkan diri berkiprah pada sesuatu yang ia tidak mempunyai perkataan yang teguh pada urusan itu. Mungkin seorang mukmin menemukan hanya sedikit perkataan yang teguh tetapi telah mencukupi untuk melakukan usaha yang benar, dan mungkin pula menemukan banyak hal yang harus diupayakan bersama orang lain. Manakala seorang merasa beriman tetapi tidak menemukan perkataan yang teguh, mungkin ia belum benar-benar beriman.
Perkataan paling teguh yang dapat diperoleh seorang mukmin adalah keterbukaan terhadap kandungan kitabullah Alquran, karena setiap ayat kitabullah Alquran merupakan paket hakikat dari sisi Allah. Tidak ada perkataan yang lebih baik daripada ayat kitabullah Alquran. Sekalipun dibandingkan dengan jumlah perkataan yang sangat banyak, satu ayat kitabullah Alquran yang dibukakan kandungannya lebih baik dari seluruh perkataan selain Alquran. Seandainya manusia atau makhluk di seluruh dunia bersaksi tentang kebenaran sesuatu sedangkan kitabullah Alquran mengatakan salah, atau sebaliknya, maka kesaksian makhluk itu lebih ringan daripada firman Allah. Ini nilai kebenaran Alquran yang dibukakan kepada seseorang. Tidak semua perkataan manusia tentang ayat kitabullah merupakan perkataan yang teguh. Kadangkala seseorang mencomot suatu ayat untuk kepentingannya, maka hal demikian tidak menunjukkan perkataan yang teguh. Redaksi kitabullah selalu benar, tetapi penerapannya oleh seseorang tidak selalu benar.
Manakala orang beriman telah memperoleh suatu perkataan yang teguh bagi diri mereka, hendaknya mereka mengusahakan perkataan yang teguh itu agar terwujud ke alam dunia. Itu merupakan amal shalih yang akan meneguhkan kedudukan orang beriman di kehidupan dunia. Kaum muslimin dewasa ini banyak yang tidak mengenal perkataan yang teguh yang harus mereka usahakan. Sebagian mukminin memuntahkan kembali perkataan yang teguh tidak menyusunnya dengan baik. Sebagian kaum mukminin banyak terlihat mengabaikan perkataan-perkataan yang sebenarnya merupakan perkataan yang teguh. Hal ini dapat dilihat pada dampaknya berupa leluasanya kaum musyrikin dan para munafikin yang bersama mereka melakukan agitasi terhadap muslimin, dan orang beriman banyak yang tidak dapat mengambil sikap dalam fitnah-fitnah yang dilancarkan. Tidak pula kebanyakan kaum mukminin dapat menunjukkan keteguhan kedudukan mereka di alam dunia seperti bangsa Iran menunjukkan keteguhan kedudukan mereka. Kebanyakan mukminin tidak mengetahui perkataan teguh yang seharusnya mereka perjuangkan, hanya meraba-raba masalah tanpa memahami makna suatu tuntunan yang teguh.
Mewujudkan Perkataan yang Teguh
Perkataan yang teguh itu merupakan cahaya yang menerangi kehidupan orang beriman. Boleh jadi cahaya itu tidak terwujud di alam dunia, tetapi tetap terlihat oleh orang-orang beriman. Bisa sangat banyak penghalang yang harus dihadapi seseorang dalam mewujudkan cahaya berupa perkataan yang teguh tersebut hingga mencegah pewujudannya. Gambarannya, mukminin di Iran harus menanggung sekian fitnah dan halangan dari kaum musyrikin negeri barat. Perkataan teguh mereka baru tampak dalam pandangan manusia umum manakala perang terjadi. Halangan dan fitnah demikian hampir selalu terjadi pada setiap perkataan yang teguh yang dipahami seseorang hingga belum tentu perkataan yang teguh itu dapat terlihat di alam dunia.
Halangan dan fitnah seperti ulah kaum musyrikin terhadap mukminin Iran sebenarnya bukan halangan yang terbesar. Halangan terbesar atas mukminin itu berbentuk terpisahnya seorang isteri dari suaminya. Hal itu terkait dengan perusakan tauhid, yaitu usaha penyatuan diri seorang hamba terhadap kehendak Allah. Proses tauhid harus ditempuh hamba Allah melalui pembentukan bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah dengan pembinaan pernikahan mengikuti millah nabi Ibrahim a.s membina bayt. Secara sosial, bayt merupakan inti dari pembentukan lingkungan sosial seorang hamba Allah. Secara individu, bayt merupakan media pertumbuhan dan media manifestasi pembinaan akhlak mulia seorang hamba. Manakala pembinaan bayt seorang hamba Allah rusak, media pertumbuhan dan manifestasi akhlak mulia itu dirusak sedemikian seorang hamba akan sulit tumbuh secara sempurna. Demikian pula secara sosial mereka akan terhambat dalam membentuk hubungan sosial yang memadai untuk melaksanakan amanah. Proses penyatuan diri hamba Allah terhadap kehendak-Nya akan terhambat sehingga usaha pewujudan perkataan yang teguh itu akan sulit dilaksanakan.
Bayt menjadi gambaran kesatuan urusan dalam penghambaan kepada Allah. Setiap orang di shirat al-mustaqim pada dasarnya mengerjakan satu urusan yang diturunkan kepada Rasulullah SAW, dan terbagi-bagi kepada setiap makhluk melalui jalur tertentu sebagaimana seorang isteri memperoleh urusan Allah melalui suaminya. Keberjamaahan demikian harus diperhatikan mukminin yang memohon petunjuk shirat Al-mustaqim. Ada orang-orang yang mengharapkan petunjuk tanpa keinginan melangkah di atas kebenaran. Misalnya seorang pemimpin mungkin mengharapkan wangsit sebagai petunjuk dalam menunaikan tugasnya sebagai pemimpin, tetapi ia tidak mempedulikan pemahamannya terhadap kebenaran maka kebijakannya membuat orang yang dipimpin kelimpungan. Mereka tidak mengetahui atau tidak peduli kebenaran petunjuk yang diperoleh, apakah berasal dari Allah atau dari alam syaitan, yang penting ia memperoleh backing yang memberi petunjuk sebagai pemimpin. Seorang yang jahat sepenuhnya akan pandai memanfaatkan wangsitnya, sedangkan orang yang baru akan tampak canggung dalam menggunakan wangsitnya. Itu contoh kurangnya perhatian terhadap kebenaran urusan. Kesatuan urusan dalam penghambaan atau dalam pemakmuran bumi secara benar dapat dibina dengan memperhatikan pembinaan bayt. Syaitan sangat berkeinginan merusak pembinaan bayt di antara mukminin dan mukminat untuk menghambat pewujudan perkataan yang teguh yang mereka pahami.
Yang menjadi sasaran pemisahan pasangan utamanya adalah mukminin dan mukminat. Cara pemisahan yang terjadi bisa sedemikian halus hingga bisa saja masing-masing orang merasa sebagai pejuang agama, tetapi sebenarnya menyimpang dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala pemisahan dilakukan secara kasar manakala memungkinkan. Cara memisahkan secara kasar itu misalnya membentuk akhlak penuntut harta benda secara berlebihan sebagai syarat pernikahan. Suatu pernikahan di antara mukminin dan mukminat hendaknya diniatkan untuk membentuk bayt meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, bukan mengumpulkan kekayaan yang banyak. Untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, setiap manusia dicipta untuk kedudukan tertentu, layaknya seorang isteri diciptakan dengan kedudukan tertentu bagi nafs suaminya. Menemukan pasangan yang paling tepat adalah kunci untuk membentuk bayt demikian. Masalah harta akan terkumpul seiring dengan terkumpulnya apa yang terserak bagi pasangan itu setelah usaha meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, tidak dijadikan syarat awal pernikahan. Kadang ditemukan budaya buruk di masyarakat berupa merendahkann jodoh yang tidak cukup berharta, sekalipun jodohnya beragama dan berpendidikan memadai. Budaya demikian itu akan mendatangkan kerusakan yang besar bagi upaya mewujudkan perkataan yang kokoh dalam kehidupan dunia.
Rusaknya pembinaan bayt di suatu kaum mukminin seringkali merupakan cerminan rusaknya hubungan kaum tersebut terhadap Rasulullah SAW. Berjuang untuk agama harus mendatangkan manfaat bagi umat manusia seluruhnya, dan hal itu hanya bisa terjadi manakala langkah yang ditempuh selaras dengan yang diajarkan Rasulullah SAW. Cermin dari keselarasan langkah itu adalah terbentuknya bayt selaras dengan tuntunan Allah. Suatu kaum mungkin merasa berjuang untuk agama tetapi sebenarnya tidak mengikut langkah Rasulullah SAW hingga tidak mendatangkan manfaat tetapi justru mendatangkan kerusakan. Hal itu seperti para isteri yang berjuang untuk agama dengan meninggalkan suaminya, perjuangannya tidak mendatangkan kebaikan bagi umat dan sebenarnya meninggalkan langkah Rasulullah SAW.
Dalam perjalanan membina bayt, kesalahan dalam beragama harus dihindari. Kekeliruan dalam membina agama itu secara garis besar terdapat dua kelompok, yaitu khawarij dan ahli bid’ah. Khawarij terbentuk dari orang yang mengikuti langkah Dzulkhuwaisirah membanggakan syariat yang mereka lakukan, melupakan langkah Rasulullah SAW membentuk akhlak mulia. Mereka memperhatikan syariat dengan sangat baik untuk membanggakan diri dengan syariat itu dan untuk mencela muslimin lain, tidak dengan niat yang baik membina akhlak mulia. Mereka menjadi pembela-pembela musuh-musuh muslimin menyerang kaum muslimin. Mereka mudah melontarkan fitnah terhadap muslimin lain tanpa menimbang kebenaran fitnah mereka, hanya mengikuti pembesar mereka. Muslimin tidak boleh mengikuti pemahaman mereka dengan berusaha menggunakan akal menimbang urusan yang mereka lakukan di hadapan Allah, tidak membanggakan syariat mereka meniru Dzulkhuwaisirah.
Ahli bid’ah adalah orang-orang yang merasa sebagai pemangku urusan Allah tanpa mengetahui landasan urusan mereka dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sebagian ahli bid’ah melakukan amal-amal yang jelas dilarang kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tetapi memandangnya sebagai urusan Allah. Sebagian ahli bid’ah merasa sebagai pemangku urusan Allah tanpa berusaha memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW terkait urusan mereka hingga urusan yang benar dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tercampur secara tidak jelas dengan urusan hawa nafsu mereka. Banyak kesalahan dari hawa nafsu mereka yang disangka dari Allah, sedangkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak mengajarkan demikian. Sebagian dari ahli bid’ah adalah orang-orang yang mengikuti langkah orang lain dengan memandang urusan mereka benar-benar perintah Allah tanpa berusaha memahami tuntunan Allah terkait urusan yang mereka kerjakan. Kaum mukminin hendaknya menghindari perbuatan-perbuatan bid’ah dengan berusaha sungguh-sungguh mengenal urusan Allah berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Sikap kaum mukminin dalam melaksanakan urusan Allah adalah memperhatikan sungguh-sungguh tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai sumber asli urusan Allah. Seandainya ia adalah pemangku amanah atau telah mengenal amanah atas dirinya, ia hanya menghadirkan kepada umat amanah dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak mengurangi atau menambahnya, tidak meninggikan diri. Boleh saja dalam penyampaiannya ia mengungkapkan ayat-ayat kauniyah di bumi dan di langit sebagai cahaya penerang, tetapi dengan tujuan untuk memudahkan umat memahami perintah dalam ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ia harus berusaha menghindarkan manusia tersesat dalam memandang ayat-ayat kauniyah yang disampaikan sedemikian umat tidak kehilangan hubungannya dengan ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang terkait. Para pengikut hendaknya memperhatikan kaidah ini, bahwa Alquran dan sunnah Rasulullah SAW adalah sumber dari amr, sedangkan perkataan para pemangku amr bersifat menjelaskan amr dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Barangkali pemangku amr tidak selalu menghubungkan penjelasannya dengan kitabullah tetapi sebenarnya mengetahui hubungan urusan itu secara rumit, maka hendaknya mereka mengikuti penjelasan dengan sebaik-baiknya tanpa banyak membantah. Menolak hanya dilakukan untuk penjelasan yang diketahui bertentangan dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Dengan memperhatikan hal ini, setiap orang dapat mengembangkan pemahaman amr dalam dirinya, tidak terkungkung dalam batasan yang sempit. Dengan pemahaman yang baik, setiap orang dapat berperan secara terbaik untuk amr Allah sesuai dengan keadaan diri masing-masing baik ketika belum mengetahui perkataan yang teguh bagi dirinya ataupun ketika telah mengetahuinya.
Kekeliruan pembinaan akhlak yang terjadi baik akhlak buruk, sifat khawarij ataupun ahli bid’ah akan mempersulit pewujudan perkataan yang teguh di antara mukminin. Perkataan yang teguh itu tidak menyebar kepada jamaah, hanya tumbuh pada sebagian kaum mukminin. Ibaratnya apabila seorang isteri terjangkit sifat ahli bid’ah atau sifat khawarij, seorang suami akan sulit untuk mensyiarkan pemahaman dirinya sekalipun benar. Ia akan terbebani dengan berbagai tugas selain amal shalih yang seharusnya dikerjakan. Seandainya ia tidak terbebani tugas yang lain, mungkin ia akan kesulitan untuk memperoleh bekal untuk melaksanakan amal shalihnya sedangkan amal shalihnya tidak tampak indah dalam pandangan orang lain layaknya seseorang dengan pakaian yang buruk atau tidak berpakaian. Ini tidak hanya dalam hubungan suami isteri, tetapi juga kesalahan pembinaan akhlak pada masyarakat umum. Sangat penting bagi kaum mukminin untuk membina akhlak mulia dengan benar mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan seksama.
Pemakmuran akan terjadi mengikuti pengetahuan yang tumbuh berdasarkan keimanan terhadap cahaya-cahaya Allah. Allah telah menciptakan petala langit dan bumi serta menurunkan air ke bumi dari langit yang terdekat. Dengan air yang diturunkan itulah buah-buahan dikeluarkan melalui tanaman-tanaman sebagai rezeki bagi makhluk. Rezeki itulah yang akan mendatangkan proses pemakmuran bumi sedemikian makhluk yang ada di atasnya menjadi sejahtera.
﴾۲۳﴿اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَّكُمْ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْأَنْهَارَ
Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai (QS Ibrahim : 32)
Ayat di atas menjelaskan tentang salah satu proses munculnya rezeki bagi makhluk di bumi. Barangkali di alam bumi banyak proses pengairan yang dapat dilakukan manusia terhadap pohon-pohon di bumi untuk menghasilkan buah-buahan, bukan hanya dari air hujan saja sebagaimana ayat di atas. Hendaknya realitas demikian tidak digunakan untuk mendebat kandungan ayat di atas. Ayat tersebut lebih menjelaskan tentang suatu proses untuk mendatangkan rezeki di bumi, yaitu dengan mensyukuri turunnya hujan pengetahuan dari alam langit ke bumi sebagai sarana untuk menghasilkan buah sebagai rezeki bagi makhluk.