Pencarian

Minggu, 15 Februari 2026

Haramnya Kekejian

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Para rasul mengajarkan tauhid dalam bentuk penyatuan langkah hamba Allah selaras dengan kehendak Allah. Setiap orang harus berusaha membangun pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah. Orang-orang beriman harus berusaha untuk memahami tuntunan Allah hingga mempunyai pengetahuan tentang cara untuk mewujudkan kehidupan yang baik. Untuk pembinaan pemahaman yang benar, setiap orang harus memahami hal-hal yang diharamkan Allah.

﴾۳۳﴿قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan berkata tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui" (QS Al-A’raaf : 33)

Allah mengharamkan kekejian-kekejian ( الْفَوَاحِشَ) baik yang dzahir ataupun yang bathin. Kekejian akan menyimpangkan manusia dalam membentuk hubungan kepada Allah, yang dapat terjadi pada setiap tingkat tertentu dari hubungan yang seharusnya menjadi media untuk terhubung kepada Allah. Gambaran paling jelas, manakala salah satu dari dua orang yang terikat pada hubungan pernikahan berkhianat terhadap pasangannya, maka orang yang mengkhianati pasangannya itu terjatuh pada perbuatan keji. Demikian pula orang yang dengan sengaja menyebabkan seseorang berkhianat dalam pernikahannya telah terjatuh pada perbuatan keji. Hal ini harus dilihat secara teliti secara syariat. Seorang laki-laki bisa menikahi lebih dari satu perempuan selama ia tidak berbuat berkhianat kepada isterinya. Demikian pula perempuan bisa menikah dengan laki-laki beristeri selama tidak mendorong suaminya berkhianat kepada isterinya. Itu merupakan contoh perbuatan keji yang paling mudah dilihat oleh manusia.

Perbuatan keji dapat ditemukan dalam berbagai bentuk. Manusia diciptakan dari nafs wahidah. Nafs wahidah itu merupakan bagian diri manusia yang mengetahui kedudukan dirinya di sisi Allah, mengetahui kedudukan dirinya dalam perjuangan Rasulullah SAW dan mengetahui kedudukan dirinya dalam jalinan Al-Jamaah. Dari nafs wahidah itu diciptakan berbagai bentuk-bentuk turunannya, baik berupa pasangan nafs dan raganya dari kalangan perempuan, anak-anak laki-laki maupun perempuan yang banyak, dan juga segala sesuatu yang diserakkan bagi mereka di alam dunia, baik berupa kedudukan di masyarakat, harta benda maupun pengetahuan ataupun keahlian-keahlian mengolah potensi-potensi kebumian dan lain sebagainya yang dapat menjadi media membina ibadahnya kepada Allah. Setiap perbuatan yang merusak entitas manusia dan hubungan-hubungannya yang dikehendaki Allah yang dapat menjadi media membina hubungan kepada Allah dapat dipandang sebagai bentuk kekejian.

Menghindari Kekejian

Kekejian dalam bentuk besarnya adalah menyimpangnya manusia dari langkah Rasulullah SAW. Allah memperkenalkan diri-Nya kepada para makhluk melalui suatu tajalli kepada Rasulullah SAW. Setiap manusia bisa mengenal Allah hanya melalui Rasulullah SAW, dan dapat membangun hubungan kepada Allah melalui tajalli yang Dia perkenalkan kepada Rasulullah SAW dan para washilah yang menghubungkan dirinya kepada Rasulullah SAW. Tidak ada orang yang dapat membangun hubungan yang benar kepada Allah tanpa melalui Rasulullah SAW, kecuali hubungan itu hanya suatu bentuk kekejian. Hendaknya setiap orang berhati-hati dalam membangun hubungan kepada Allah karena syaitan akan selalu berusaha untuk menyimpangkan manusia dalam membangun hubungan dirinya kepada Allah. Penyimpangan dalam membangun hubungan kepada Allah itu merupakan bentuk kekejian. Mungkin saja syaitan memperkenalkan dirinya kepada seseorang dan mengatakan bahwa dirinya adalah Allah sedemikian seseorang merasa bahwa ia adalah hamba terbaik sedangkan amalnya mengikuti syaitan. Hal demikian itu merupakan bentuk kekejian yang sangat besar terutama dan khususnya bagi umat Rasulullah SAW.

Hubungan seseorang dengan Allah sebenarnya terjadi melalui berbagai penurunan hingga seseorang bisa mengenal Allah sesuai dengan keadaan diri masing-masing. Dalam urusan tajalli Allah, Allah bertajalli kepada seseorang hanya dalam asma’ tertentu, bukan tajalli sebagai Allah secara sempurna. Tidak ada seseorang mengenal Allah dengan sempurna, tetapi hanya mengenal apa yang diperkenalkan Allah kepada dirinya sebagai bagian dari Rasulullah SAW. Rasulullah SAW adalah makhluk yang paling mengenal Allah, tetapi sebenarnya beliau SAW hanya mengenal apa yang diperkenalkan Allah, bukan mengenal Allah secara sempurna. Tanda dari benarnya pengenalan seseorang kepada Allah adalah pengenalan dirinya terhadap kedudukan Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s. Tidak mungkin seseorang yang mengenal Allah mengabaikan kedudukan Rasulullah SAW dalam bertindak. Seseorang yang mengenal Allah akan berusaha bertindak sebatas dalam urusan dirinya saja yang diambil dari urusan Rasulullah SAW, tidak akan membuat tindakan sendiri di luar tuntunan Rasulullah SAW

Tidak terbatas pada kekejian yang besar, kekejian dapat terjadi dalam setiap hubungan yang menyimpang dari bentuk hubungan yang dikehendaki Allah. Banyak hal yang dapat menyebabkan seseorang terjatuh pada perbuatan keji. Seseorang yang tidak mempedulikan urusan Al-Jamaah untuk mengikuti urusannya sendiri sedangkan ia mengetahuinya termasuk dalam perbuatan keji. Yang dimaksud urusan Al-Jamaah adalah urusan yang dikerjakan oleh umat untuk mewujudkan kehendak Allah untuk ruang dan jaman masing-masing yang dikenali melalui tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Pelaksanaan urusan itu dipimpin oleh orang yang mengetahui urusan jamannya, dan dapat diketahui oleh umat secara luas berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan membaca ayat-ayat kauniyah yang terjadi. Tidak ada urusan Allah yang tidak diketahui landasannya dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Contoh perbuatan keji dapat dilihat pada perbuatan para ahli bid’ah yang mengerjakan urusan tanpa suatu landasan dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Munculnya ahli bid’ah pada dasarnya berasal dari bisikan syaitan sedemikian manusia mengerjakan urusan-urusan yang dipandang urusan Allah tanpa suatu perintah dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Syaitan bisa saja memerintahkan perbuatan-perbuatan yang baik saja pada ahli bid’ah, hanya agar manusia meninggalkan urusan Allah. Perbuatan bid’ah itu seringkali dipandang baik oleh orang-orang yang mengikutinya. Selain itu syaitan juga akan menggunakan manusia untuk membuat kerusakan sebesar-besarnya apabila mereka menemukan kesempatannya. Barangkali ada amal-amal yang aneh yang diperbuat ahli bid’ah, maka amal yang aneh itu merupakan sumber kerusakan yang sangat besar yang diperintahkan syaitan. Amal yang aneh itu bisa menjadi ciri terjadinya bid’ah dan ditinggalkannya urusan Allah.

Urusan Allah bagi Al-jamaah itu dapat diketahui oleh setiap orang beriman berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW selaras keadaan kauniyah. Setiap muslim dapat terhubung pada urusan Al-Jamaah dengan mudah tanpa harus memelintir atau membengkokkan logika untuk memahami urusan yang harus dikerjakan. Mungkin saja terdapat pengetahuan yang tersembunyi dari pandangan manusia umumnya, akan tetapi tidak ada logika pemikiran yang harus dibengkokkan untuk memahami urusan itu. Misalnya tingkah polah kaum musyrikin dalam membuat kesengsaraan manusia di bumi barangkali hanya diketahui oleh sedikit orang, tetapi sebenarnya kabar itu telah disebutkan dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Untuk memahami kabar demikian itu, seseorang hanya perlu melihat keadaan kauniyah secara lebih teliti dengan menghadapi fitnah yang dibuat kaum musyrikin, tidak perlu membengkokkan logika untuk memahaminya. Manakala manusia perlu memelintir atau membengkokkan akal pikirannya untuk memahami suatu urusan, urusan demikian tidak termasuk dalam urusan Allah dan justru langkah syaitan. Orang musyrik juga memelintir logika untuk merusak keadilan dan membuat kekacauan di bumi.

Para ahli bid’ah mengerjakan urusan tanpa landasan urusan dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Urusan yang mereka kerjakan itu seringkali ditemukan tanpa tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW ataupun landasan pengetahuan keadaan kauniyah, kemudian dipandang sebagai perintah Allah. Memandang urusan sebagai perintah Allah tanpa mengetahui landasan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW itu adalah titik awal bid’ah yang berbahaya. Allah melarang perbuatan demikian, yaitu mengharamkan untuk mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa pengetahuan. Kaum demikian seringkali merasa bahwa mereka adalah pemangku urusan Allah sedangkan sebenarnya mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang aspek-aspek urusan yang harus mereka kerjakan dengan mengikuti tuntunan Allah. Seringkali pandangan demikian kemudian menjadikan mereka tidak lagi berusaha mencari landasannya dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW ataupun menilai tingkat kepentingan urusan berdasarkan kauniyah yang terjadi. Mereka sebenarnya mengerjakan urusan tanpa memperhatikan perintah Allah. Mereka bisa tampak sebagai kaum yang mengerjakan urusan Allah tetapi sebenarnya tidak mengikuti kehendak Allah.

Demikian itu adalah contoh dari gambaran-gambaran perbuatan keji yang dapat terjadi di antara umat manusia. Setiap orang hendaknya memperhatikan bahwa perbuatan keji merupakan hal yang diharamkan yang dapat menyimpangkan mereka dalam beribadah kepada Allah. Setiap orang harus membentuk ibadah yang lurus kepada Allah tanpa tersimpangkan oleh kekejian-kekejian yang mungkin dihembuskan oleh syaitan, dengan berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW serta berusaha memahami keadaan kauniyah mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala seseorang memperoleh suatu pemahaman tentang suatu perintah Allah bagi dirinya, hendaknya ia berusaha menemukan landasan perintah itu dari tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW untuk memastikan bahwa perintah itu benar bukan perintah yang menyimpang. Kemudian ia melaksanakan perintah yang benar itu untuk mewujudkan tuntunan kitabullah bukan melaksanakan perintah yang dipersepsi sendiri. Manakala belum menemukan landasan perintah itu dari kitabullah, hendaknya ia tidak mengatakan perintahnya sebagai perintah Allah. Manakala perintah itu baik, ia boleh mengerjakan perintah itu tanpa memandang amalnya sebagai amanah Allah tetapi sebagai usahanya untuk berbuat mengikuti kehendak Allah. Apabila perintah itu buruk atau bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, hendaknya ia memandang perintah itu hanya tipuan syaitan. Tipuan itu akan membuat seseorang terjatuh pada perbuatan keji.

Berusaha menemukan Al-Jamaah akan sangat membantu seseorang agar tidak terjatuh pada perbuatan keji. Seseorang yang mengerjakan urusan Al-Jamaah mempunyai pengetahuan urusan jaman yang harus ditunaikan sebagai urusan Rasulullah SAW, dan mereka akan mempunyai pengetahuan untuk membantu orang lain mengetahui urusan Allah. Biasanya mereka mempunyai pengetahuan tentang orang-orang yang seharusnya dekat urusannya dengan dirinya. Mungkin mereka tidak mengetahui persis urusan sahabatnya, tetapi bisa memberitahu adanya amal-amal yang keliru. Sangat banyak manfaat yang bisa diperoleh apabila seseorang menemukan orang yang mengerjakan urusan Al-Jamaah. Dalam urusan bid’ah, orang yang dalam al-jamaah mungkin akan mempunyai prasangka terputusnya urusan yang dikerjakan ahli bid’ah yang dipandang baik walaupun mungkin tidak atau belum benar-benar dapat menjelaskan apa masalahnya.

Membangun Hubungan Kepada Allah

Berusaha mengenali urusan Allah dan membangun hubungan-hubungan dengan segala sesuatu yang terserak bagi diri harus dilakukan oleh setiap manusia agar menjadi manusia seutuhnya sehingga dapat menumbuhkan pemakmuran di bumi. Membangun hubungan-hubungan itu hendaknya dilakukan sesuai dengan kehendak Allah. Seseorang pastilah tidak secara tiba-tiba mengetahui hubungan yang mesti dibangun, baik pada aspek bathiniah ataupun aspek dzahirnya. Hal yang penting diperhatikan untuk memulai pencarian pengetahuan membangun hubungan-hubungan itu adalah keikhlasan untuk beribadah kepada Allah dengan mengikuti sunnah Rasulullah SAW dan millah nabi Ibrahim a.s. Di antara langkah mengikuti sunnah Rasulullah SAW dan millah nabi Ibrahim a.s adalah melakukan tazkiyatun-nafs dengan belajar mengendalikan hawa nafs dan syahwat, serta melakukan pernikahan.

Pernikahan merupakan setengah bagian agama yang akan diperoleh seseorang manakala dilakukan dengan ikhlas. Setiap orang hendaknya berusaha mengenali pasangan yang ditentukan Allah bagi dirinya dengan mengalahkan dorongan syahwat dan hawa nafsu. Sangat banyak hawa nafsu dan syahwat yang akan menerpa usaha seseorang mengenali pasangan yang diciptakan dari dirinya sendiri. Itu merupakan ujian bagi keikhlasan beribadah dalam diri seseorang. Kecantikan atau ketampanan, kekayaan, kehormatan, kedudukan dan banyak hal lain akan mengombang-ambingkan seseorang untuk sulit mengenali pasangan yang diciptakan dari dirinya. Manakala seseorang masih terombang-ambing dalam berbagai syahwat dan hawa nafsu, mereka tidak akan mengenali pasangan yang diciptakan dari dirinya sendiri dengan tepat.

Setelah mengenali pasangan diri, hendaknya seseorang menikah dengannya. Itu adalah hubungan dasar yang akan membentuk hubungan-hubungan seseorang dengan segala yang terserak bagi diri mereka dan juga menumbuhkan hubungan seseorang terhadap urusan Allah. Urusan Allah akan dikenali seseorang melalui pernikahan yang tepat dimana pasangan merupakan cermin yang tepat memantulkan urusan Allah yang perlu dikerjakan. Dalam beberapa hal, tuntutan duniawi merupakan aspek yang harus dipenuhi sebagai bagian dari urusan Allah, akan tetapi hendaknya pasangan menikah tidak mengutamakan urusan duniawi mereka. Hal demikian itu seringkali menjadikan mereka terluput dari urusan Allah. Usaha mengumpulkan hal yang terserak akan ditemukan pada terlaksananya urusan Allah terhadap umat, hendaknya usaha ini yang dijadikan sarana memenuhi kebutuhan duniawi. Seorang suami akan mengenali urusan Allah dan isteri berperan menghubungkan urusan mereka kepada umatnya, dan terwujudnya hubungan demikian akan memunculkan jalan rezeki yang haq bagi pasangan menikah tersebut.

Pasangan-pasangan yang belum mengenal urusan Allah hendaknya berusaha memenuhi kebutuhan duniawi mereka tanpa melupakan urusan Allah. Manakala rezeki yang diberikan berlebih, hendaknya mereka membantu Al-Jamaah mewujudkan kehendak Allah. Manakala Allah tidak melimpahkan rezeki berlebih, mereka hendaknya tidak bersusah payah mengejar rezeki hingga melupakan urusan Allah. Mereka hendaknya memperhatikan urusan bersama pasangannya, karena kebersamaan mereka merupakan hal yang akan membentuk hubungan dengan hal-hal duniawi mereka hingga memudahkan kehidupan duniawi. Manakala seseorang meninggalkan kepedulian terhadap pasangannya baik dalam bentuk khianat ataupun ketidakpedulian yang lain, kehidupan mereka secara duniawi akan menjadi sulit, dan urusan Allah tidak akan dikenali. Manakala suatu pasangan mulai mengenal urusan Allah, hendaknya mereka bersungguh-sungguh melaksanakan urusan Allah hingga kehendak Allah terwujud di bumi. Itu akan menjadikan mereka mampu mengumpulkan segala sesuatu yang terserak secara haq hingga terwujud pemakmuran di bumi.

Pemakmuran bumi itu akan terbentuk melalui terbentuknya hubungan seseorang dengan segala sesuatu yang terserak bagi dirinya secara haq. Hubungan demikian itu harus terbentuk sesuai dengan kehendak Allah tidak hanya dzahiriahnya saja tetapi hingga aspek bathiniah. Setiap pihak hendaknya membangun kebersyukuran dalam pernikahannya dengan mengenali sakinah di mana masing-masing pihak menemukan urusan Allah dalam diri pasangannya. Seorang isteri tidak boleh membentuk sikap merendahkan suaminya, dan seorang suami hendaknya memikirkan urusan Allah bersama isterinya. Manakala tumbuh sikap merendahkan pasangan, sebaiknya tidak dilakukan pernikahan karena pernikahan itu justru akan menjadi media tumbuhnya kekufuran terhadap nikmat Allah. Setiap pihak harus siap untuk membangun kebersyukuran terhadap pasangannya.

Kamis, 12 Februari 2026

Memahami Dosa dan Kebajikan

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Para rasul mengajarkan tauhid dalam bentuk penyatuan langkah hamba Allah selaras dengan kehendak Allah. Setiap orang harus berusaha membangun pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah. Pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah bukan hanya merupakan pemahaman terhadap konsep-konsep langit tetapi juga akan mendatangkan pemakmuran di bumi. Orang-orang beriman harus berusaha untuk memahami tuntunan Allah hingga mempunyai pengetahuan tentang cara untuk mewujudkan kehidupan yang baik.

Untuk pembinaan pemahaman yang benar, Ada ketentuan dasar yang harus dipahami manusia di antaranya berupa hal-hal yang diharamkan Allah. Manakala ketentuan itu dilanggar, pemahaman manusia terhadap tuntunan Allah akan menyimpang dari apa yang dikehendaki Allah.

﴾۳۳﴿قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan berkata tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui" (QS Al-A’raaf : 33)

Allah mengharamkan dosa ( الْإِثْمَ ) bagi umat manusia. Yang dimaksud dengan dosa ( الْإِثْمَ ) adalah sesuatu yang buruk yang menimpa atau tumbuh pada nafs manusia hingga nafs mendatangkan ketidaksukaan Allah. Dosa dapat terjadi karena perbuatan manusia, perkataan ataupun pikiran-pikiran yang salah baik hal itu terkait dengan akibat kepada orang lain ataupun hanya berakibat pada diri sendiri. Misalnya seseorang yang memakan bangkai barangkali tidak mendatangkan kerugian kepada orang lain, akan tetapi hal itu mendatangkan keburukan pada diri manusia itu dan keburukan itu mendatangkan ketidaksukaan Allah. Setiap manusia harus menjaga diri agar tidak terjatuh sebagai makhluk yang tidak disukai Allah.

Haramnya dosa terkait dengan kehendak Allah atas diri manusia. Manusia diciptakan Allah sebagai khalifatullah dalam citra Ar-Rahman agar dapat berperan memberitakan kepada manusia tentang Ar-Rahman. Ada amal-amal yang ditentukan Allah bagi setiap manusia dan setiap orang hendaknya mengenal amal-amal yang ditentukan bagi dirinya dan melaksanakan amal-amal itu mengikuti arahan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bersama dengan sahabat-sahabatnya dalam suatu Al-Jamaah. Langkah untuk mengenal amal-amal yang ditentukan bagi setiap diri manusia itu akan terbantu dengan ketentuan haramnya dosa, di mana orang yang mengenal dosa bagi dirinya akan berjalan di suatu pagar yang mengarahkan untuk mengenal diri.

Haramnya dosa ( الْإِثْمَ ) juga merupakan bentuk penjagaan agar umat manusia tidak merusak dirinya sendiri hingga tetap layak membentuk diri dalam citra Ar-Rahman. Manakala seseorang bermudah mengerjakan dosa, ia akan mengalami banyak kesulitan dalam membina diri memahami cahaya Allah sedemikian ia tidak dapat memberitakan tentang kehendak Allah kepada manusia yang lain tanpa kesalahan. Nafs mereka akan banyak melakukan pengingkaran tidak akan dapat tenang dalam membentuk zujajah yang berfungsi membentuk bayangan kehendak Allah.

Bersungguh-sungguh Mengenali Kebajikan dan Dosa

Dosa merupakan lawan dari kebajikan (اَلْبِرُّ). Dosa akan menghalangi manusia untuk mengenal kebajikan (al-birr) dan menjadikan manusia resah. Ciri dari dosa adalah ia mendatangkan keresahan dalam hati dan jiwa tidak dapat tenang, berkebalikan tanda dari kebajikan, yaitu mendatangkan ketenangan dalam hati dan jiwa merasa tenteram.

عَنْ ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، أَخْبِرْنِـيْ بِمَـا يَـحِلُّ لِـيْ وَ يَـحْرُمُ عَلَيَّ ؟ قَالَ : فَصَعَّدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَوَّبَ فِيَّ النَّظَرَ ، فَقَالَ : اَلْبِرُّ مَا سَكَنَتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ ، وَاْلإِثْمُ مَا لَـمْ تَسْكُنْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَلاَ يَطْمَئِنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ ، وَإِنْ أَفْتَاكَ الْـمُفْتُوْنَ
Dan dari Abu Tsa’labah al-Khusyani, ia berkata: Aku berkata, “Wahai Rasulullah! Jelaskan apa saja yang halal dan haram bagiku.” Beliau mengarahkan pandangannya kepadaku dengan tatapan yang serius bersabda, “Kebajikan ialah apa saja yang apa saja yang menjadikan jiwa berdiam dan hati menjadi tenteram. Dan dosa ialah apa saja yang menjadikan jiwa tidak tenang dan hati tidak tenteram kendati para pemberi fatwa berfatwa kepadamu.” [HR. Ahmad IV/228, ad-Daarimi II/245-246, Abu Ya’la no. 1583, 1584, dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabîr XXII/no. 40]

Jiwa yang tenteram adalah jiwa yang mempunyai daya tahan dalam menempuh atau melaksanakan sesuatu karena kecocokan nafs dengan sesuatu itu. Pada puncaknya, jiwa yang tenteram itu adalah mengenali nafs wahidah. Gambarannya sebagaimana orang yang menikah dimana setiap pihak mempunyai cara pandang kehidupan yang sama sehingga satu pihak dengan yang lain saling menguatkan langkah hingga terbentuk ketenteraman menghadapi tantangan dan badai kehidupan. Hati yang tenang menunjukkan tidak adanya keresahan dirinya karena sesuatu itu misalnya takut menghadapi masalah dan lain sebagainya. Terbentuknya jiwa yang tenteram dan hati yang tenang menunjukkan bahwa seseorang mengarah pada suatu kebajikan (اَلْبِرُّ) sedangkan jiwa yang tidak tenteram dan hati yang resah menunjukkan bahwa seseorang mengarah pada dosa (الْإِثْمَ).

Penjelasan Rasulullah SAW di atas hendaknya menjadi pedoman bagi manusia dalam mencari bentuk kehidupan yang ditentukan bagi diri masing-masing. Pengenalan terhadap dosa bagi diri sendiri merupakan pengarah bagi seseorang untuk mengenal amal-amal yang ditetapkan bagi dirinya. Manakala seseorang mengenal dosa bagi dirinya maka ia akan bisa menghindari dosanya dan berusaha untuk mengenal kebajikan bagi dirinya. Manakala seseorang mengenal kebajikan bagi dirinya ia akan bisa melangkah menuju kebajikan yang digariskan Allah. Manakala seseorang mengenal dosa dan ia terus menempuh kehidupan yang membuat berdosa, ia akan menjadi orang fasik. Dosa itu menjadi suatu pagar untuk mengarahkan kehidupan menuju kebajikan.

Ada hal penting yang harus diperhatikan seseorang manakala mengukur ketenteraman jiwa dan ketenangan hati dalam berusaha mengenal ketetapan Allah atas diri masing-masing. Seringkali dosa dan kebajikan itu tidak dikenali manusia dengan persepsi sendiri. Seseorang bisa merasa tenang tanpa pengetahuan, atau berbuat dosa dan memandangnya sebagai amal shalih karena mengikuti persepsi sendiri. Membangun pengetahuan berdasar tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan membentuk diri seseorang untuk mampu mengenali dengan benar bentuk dosa dan kebajikan diri sehingga dapat menuntun untuk mengenali amal yang ditetapkan bagi dirinya. Untuk bisa mengenali dosa dan kebajikan dengan benar, seseorang harus membina diri mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Seringkali ketenteraman dan ketenangan itu bersifat relatif. Demikian pula dosa bisa bersifat relatif. Seseorang yang sama sekali tidak mengetahui arah kehidupan bisa tampak hidup tenang mencari harta benda duniawi saja, sedangkan orang yang berpikir sungguh-sungguh tentang makna kehidupan dan ia masih dalam kegelapan akan tampak layaknya orang yang benar-benar terpuruk. Orang yang berpikir sungguh-sungguh tersebut sebenarnya adalah orang yang bisa mengenal dengan benar dosanya walaupun belum mengenal kebajikannya, sedangkan orang yang tenang mengejar kehidupan dunia tanpa tertuntun itu belum mempunyai kemampuan mengenal dosa. Contoh kasus lain tentang relatifnya dosa, seseorang yang makan hal yang diharamkan secara terpaksa bisa saja tidak menjadikannya terjatuh pada dosa. Pada tingkat kebajikan, mungkin saja seseorang mengenal kebajikan dirinya akan tetapi melakukan amal yang bukan kebajikan, sedangkan itu tidak menjadi dosa baginya karena keterpaksaan. Misalnya mungkin ia tidak mampu memperoleh kehidupan yang selayaknya karena haknya dilanggar maka ia tidak berbuat kebajikan.

Orang yang telah membina diri mengenali dosa dan kebajikan diri secara benar harus melangkah menjauhi dosa dan melaksanakan kebajikan diri. Boleh jadi seseorang akan menghadapi berbagai macam perbedaan pendapat dari orang-orang lain termasuk menghadapi perbedaan pendapat dengan para mufti yang memberikan fatwa. Setiap orang harus mengikuti kebajikan diri dan menghindari dosa sekalipun apabila para mufti itu memberikan pendapat yang berbeda. Tentu saja itu berlaku hanya apabila ia mempunyai bukti kebenaran dari pengetahuannya tentang dosa dan kebajikannya. Bila mengikuti dorongan hawa nafsu sendiri saja, maka dorongan hawa nafsu itu sendiri merupakan suatu dosa yang mendatanginya.

Setiap orang harus membina diri mengenali dosa dan kebajikan dengan benar, kemudian mengikuti kebajikan dan menghindari dosa yang dikenalinya itu sekalipun para mufti memberikan fatwa mereka secara berbeda. Tidak boleh bagi seseorang untuk selalu bergantung kepada perkataan orang lain tanpa berusaha membina diri untuk mengenali dosa dan kebajikannya sedemikian ia tidak terjatuh pada dosa karena mengikuti perkataan orang, dan ia dapat mengenali kebajikan yang harus ditunaikan. Pembinaan diri itu harus dilakukan hingga ia mengenali kebajikan yang harus dilakukannya.

Sasaran dari Kebajikan (Al-Birr)

Kebajikan itu berjalan seiring dengan pengenalan diri. Kokohnya ketenteraman jiwa dan tenangnya hati akan terwujud melalui pengenalan diri. Ada hal yang harus diperhatikan oleh orang yang mengenal diri dalam mewujudkan kebajikan, yaitu hendaknya mereka berupaya untuk membangun keimanan secara benar, memberdayakan manusia-manusia yang harus diberdayakan, mendirikan shalat, menunaikan shalat, menepati janji dan bersabar dalam kesempitan, penderitaan dan peperangan. Allah telah menetapkan kepada setiap manusia amal-amal yang harus ditunaikan sebagai amanah, dan amanah itu harus ditunaikan untuk tujuan yang disebutkan di atas.

﴾۷۷۱﴿ لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa (QS Al-Baqarah : 177)

Kebajikan terlahir dari pengenalan diri seseorang terhadap jati diri penciptaannya, yang harus dimanifestasikan hingga kehendak Allah terwujud di masyarakat dan alam semesta. Kebajikan berupa ketenteraman nafs dan tenangnya hati harus diikuti dengan usaha mewujudkan kebajikan sebagaimana ayat di atas, tidak berdiri sendiri sebagai ketenteraman nafs dan tenangnya hati. Untuk mewujudkan kebajikan tersebut, setiap orang termasuk orang yang mengenal kebajikan diri harus memperhatikan kedudukannya dalam al-jamaah, mengetahui batas-batas hak dirinya hingga tidak menyebabkan dirinya melanggar hak orang lain.

Dosa yang terjadi pada masyarakat akan menjadi gangguan atas pewujudan kehendak Allah, baik pada tingkatan pribadi masing-masing orang ataupun upaya kaum mukminin mewujudkan kehendak Allah. Apabila seseorang tidak mengenali dosa-dosanya, mereka tidak akan mengetahui ketenteraman jiwa atas urusan yang tepat dan hati mereka tidak memperoleh ketenteraman. Apabila mereka merasa tenang dengan dosa-dosanya, mereka tidak akan tergerak untuk mengenal kehendak Allah. Kadangkala dosa-dosa itu bukan hanya menghalangi diri mengenal urusannya, tetapi juga menghalangi kaum mukminin mewujudkan kehendak Allah yang mereka kenali.

Dosa seseorang tidak jarang terkait dengan pelanggaran batas hak diri sendiri ataupun pelanggaran hak orang lain tetapi tidak dirasakan. Manakala seseorang melanggar hak orang lain dalam menunaikan amal, ia mungkin sebenarnya tidak benar-benar mengenal kebajikan. Hal itu bisa mendatangkan gangguan terhadap hak-hak umat secara luas. Misalnya manakala seorang syaikh memberikan arahan berupa suatu tanda tertentu terkait harus dimulainya pemakmuran negeri, atau diangkatnya ajaran islam di antara umat, sedangkan tanda itu dibiarkan terlewat saja tanpa diperhatikan para murid, para murid itu mungkin saja sebenarnya telah melanggar hak syaikhnya. Mungkin saja hak yang dilanggar itu bukan hanya hak syaikhnya tetapi juga hak-hak umat secara luas. Boleh jadi sang syaikh tersebut telah melihat rezeki-rezeki yang mendatangi negerinya dan kaumnya untuk terwujudnya kemakmuran, tetapi jalan rezeki itu kemudian dilanggar oleh murid-muridnya. Dosa karena pelangggaran hak demikian akan menjadi gangguan untuk mewujudkan kehendak Allah atas umat manusia. Manakala suatu ketenteraman nafs atau ketenangan hati belum bisa menjadi penggerak mewujudkan tujuan-tujuan kebajikan, ketenteraman nafs dan ketenangan hati itu belum menjadi kebajikan yang sesungguhnya.

Kebajikan ditandai dengan ketenteraman jiwa dan ketenangan hati, dan diwujudkan dalam bentuk yang ditentukan Allah yaitu hendaknya mereka berupaya untuk membangun keimanan secara benar, memberdayakan manusia-manusia yang harus diberdayakan, mendirikan shalat, menunaikan shalat, menepati janji dan bersabar dalam kesempitan, penderitaan dan peperangan. Tanpa pewujudan kehendk Allah demikian, seseorang belum benar-benar mengenal kebajikan atau bahkan justru mengganggu orang-orang yang berusaha mewujudkan kebajikan. Setiap orang harus berusaha kedudukan dirinya dalam Al-Jamaah agar memperoleh penjagaan dalam mewujudkan kebajikan, tidak berbalik dari kebajikan. 

Mewujudkan kemakmuran duniawi melalui jalan kebajikan tidak menunjukkan harapan duniawi, tetapi  merupakan upaya untuk mengenal Allah dengan benar. Manakala seseorang membangun harapan duniawi, ia akan berputus asa dengan keadaan yang akan dihadapi. Bila seseorang berkeinginan mengenal Allah, ia tidak akan berputus asa dengan keadaan yang dihadapi. Mungkin ia akan merasakan sengsara dengan potensi kebinasaan yang dapat menghampiri manusia yang ingin diseru, akan tetapi ia tidak akan meninggalkan upayanya karena tidak adanya hasil. Mungkin saja seseorang bertindak seolah putus asa dengan kesesatan orang lain, tetapi ia tidak berputus asa dari rahmat Allah. Hal demikian harus diwujudkan seseorang dalam mewujudkan kebajikan, bersabar dalam kesempitan, penderitaan dan peperangan.

Selasa, 10 Februari 2026

Haramnya Melanggar Hak Orang Lain

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Para rasul mengajarkan tauhid dalam bentuk penyatuan langkah hamba Allah selaras dengan kehendak Allah. Setiap orang harus berusaha membangun pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah. Pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah bukan hanya merupakan pemahaman terhadap konsep-konsep langit tetapi juga akan mendatangkan pemakmuran di bumi. Orang-orang beriman harus berusaha untuk memahami tuntunan Allah hingga mempunyai pengetahuan tentang cara untuk mewujudkan kehidupan yang baik.

Untuk pembinaan pemahaman yang benar, Ada ketentuan dasar yang harus dipahami manusia di antaranya berupa hal-hal yang diharamkan Allah. Manakala ketentuan itu dilanggar, pemahaman manusia terhadap tuntunan Allah akan menyimpang dari apa yang dikehendaki Allah.

﴾۳۳﴿قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan berkata tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui" (QS Al-A’raaf : 33)

Allah mengharamkan permusuhan dan melanggar hak orang lain tanpa alasan yang dibenarkan (الْبَغْيَ). Permusuhan dan melanggar hak orang lain (الْبَغْيَ) merupakan lawan dari adil, menempatkan segala sesuai dengan kedudukannya. Allah berkehendak atas manusia untuk dapat berbuat adil di bumi sedemikian bumi menjadi sejahtera dengan kehadiran manusia. Agar manusia dapat berbuat adil di bumi, Allah mengharamkan bagi mereka permusuhan dan melanggar hak orang lain tanpa alasan yang dibenarkan karena perbuatan demikian akan menghalangi manusia untuk mengenal keadilan. Keadaan bumi akan tercerai berai manakala manusia berbuat melanggar hak orang lain dan permusuhan, dan bumi akan menjadi gersang karena perbuatan demikian.

Manusia diciptakan Allah sebagai khalifatullah di bumi dari nafs wahidah. Nafs wahidah itu merupakan bagian diri manusia yang mengetahui kedudukan dirinya di sisi Allah, mengetahui kedudukan dirinya dalam perjuangan Rasulullah SAW dan mengetahui kedudukan dirinya dalam jalinan Al-Jamaah. Dari nafs wahidah itu, diciptakan darinya berbagai bentuk-bentuk turunannya, baik berupa pasangan dari kalangan manusia perempuan, anak-anak laki-laki maupun perempuan yang banyak, dan juga segala sesuatu yang diserakkan bagi mereka di alam dunia, baik berupa kedudukan di masyarakat, harta benda maupun pengetahuan ataupun keahlian-keahlian mengolah potensi-potensi kebumian dan lain sebagainya.

Permusuhan dan melanggar hak orang lain (الْبَغْيَ) tidak boleh dilakukan pada semua tingkatan diri manusia baik dari tingkatan nafs wahidah hingga tingkatan harta benda duniawi yang dianggap remeh sekalipun. Menempatkan seseorang yang mengenal nafs wahidah dirinya dalam urusan yang tidak seharusnya merupakan tindakan ( الْبَغْيَ). Demikian pula dalam keberpasangan, perbuatan perzinahan, merampas suami atau isteri orang lain tanpa alasan yang haq, atau menjodohkan orang yang telah mengenal pasangan dirinya kepada pihak lain merupakan tindakan ( الْبَغْيَ). Demikian pula manakala seseorang mengambil harta benda orang lain sekalipun kecil tanpa alasan yang dibenarkan, ia telah berbuat ( الْبَغْيَ). Semua perbuatan yang membuat permusuhan dan melanggar hak orang lain merupakan ( الْبَغْيَ) tidak terbatas pada contoh-contoh di atas.

Dengan menghindari ( الْبَغْيَ), seseorang akan lebih mudah mengenal keadilan. Adab-adab yang menjadi dasar dari sifat adil harus terbentuk pada diri manusia. Sikap tidak berbuat melanggar hak orang lain adalah pijakan bagi seseorang untuk mampu mengenal keadilan. Sikap demikian ini terbentuk dari usaha mengenali batas-batas diri yang harus dipatuhi tidak boleh dilanggar. Apabila seseorang tidak menjaga diri dari perbuatan melanggar hak orang lain dengan upaya mengenali batas-batas diri, mereka tidak akan mampu mengenal keadilan dengan baik. Manakala ia memperoleh sesuatu, mungkin ia akan menyalahgunakan sesuatu yang diberikan kepada dirinya. Hal demikian akan mendatangkan kekacauan dalam kehidupan di bumi. Setiap orang harus mengenali batas-batas dirinya. 

Menjaga Diri dari Pelanggaran 

Untuk menjauhkan diri dari bersikap melanggar hak orang lain, seseorang harus membangun pengetahuan keadilan. Langkah awal untuk mengenal keadilan dapat ditempuh seseorang dengan berusaha mengenali diri sendiri. Suatu pengetahuan tentang diri sendiri akan menumbuhkan pengetahuan tentang keadilan, dan itu akan menjauhkan seseorang dari bersikap melanggar hak orang lain. Semakin banyak pengetahuan seseorang terhadap keadilan, ia akan semakin mengenal batas-batas diri dan batas-batas yang harus dipatuhi oleh banyak orang sedemikian ia dapat bersikap adil. Manakala seseorang tidak mempunyai pengetahuan keadilan, ia sebenarnya berada pada batas-batas diri, baik ia melanggarnya ataupun ia berada di tepian batas-batas diri sedemikian ia mudah melanggar hak orang lain tanpa mempunyai pengetahuan.

Untuk mengenal nafs wahidah, jalan utamanya adalah melalui pernikahan. Turunan pertama dari nafs wahidah adalah pasangan yang diciptakan dari nafs wahidah tersebut. Mengenal pasangan yang ditentukan bagi dirinya merupakan jalan utama bagi seseorang untuk dapat mengenali diri, dan akan membuka pengenalan terhadap segala sesuatu yang terserak bagi mereka. Upaya mengenali pasangan diri dengan tepat harus dilakukan dengan melakukan tazkiyatun-nafs. Manakala seseorang berusaha mengenali jodoh dirinya dengan hawa nafsu dan syahwat, ia tidak akan mengetahui jodoh yang sebenarnya tetapi hanya menemukan jodoh yang diinginkan. Sebaliknya manakala seseorang mengenali jodoh dirinya dengan tepat, ia akan memperoleh setengah bagian dari agamanya dan setengah lagi dapat ia usahakan melalui ketakwaan.

Setiap orang harus bersyukur dengan pemberian pengetahuan terkait bagian dirinya. Manakala seseorang tidak bersyukur dengan petunjuk tentang pasangan dirinya, ia akan terjatuh pada kekufuran, yaitu kufur terhadap nikmat Allah. Manakala seseorang memperoleh pengetahuan tentang pasangan dirinya, ia harus berusaha untuk melangkah sesuai dengan petunjuknya sebagai langkah kebersyukuran. Manakala telah hidup berumah tangga, hendaknya mereka berusaha berbuat sebagaimana tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bersama dengan pasangan menikahnya tidak mengikuti keinginan syahwat dan hawa nafsu sendiri. Dalam kasus tertentu, seorang perempuan dituntut untuk bisa berbagi kedudukan dengan perempuan lain, maka petunjuk demikian merupakan petunjuk yang harus disyukuri. Sangat banyak kebaikan yang dapat tumbuh dari kebersamaan dalam ta’addud mengikuti petunjuk, dan hal itu akan merupakan bentuk pertolongan terhadap jihad Rasulullah SAW. Nilai kebersamaan demikian setara dengan pengenalan para laki-laki terhadap orang-orang yang bersama dirinya dalam Al-jamaah menolong urusan Rasulullah SAW.

Melanggar hak pada tingkatan keberpasangan nafs wahidah merupakan pelanggaran hak yang paling besar. Hak dalam pernikahan merupakan hak yang paling jelas, tertulis perjanjiannya di sisi Allah berupa mitsaqan ghalidza dan setiap pihak yang berpasangan dapat bercerita tentang keberpasangan dirinya dengan pasangannya. Itu merupakan hak yang paling jelas. Mungkin kemampuan bercerita berlaku khusus bagi yang memperoleh petunjuk dan tidak mengingkari petunjuknya, tetapi setiap pasangan yang telah menikah mengetahui nilai kebersamaan diri mereka dengan pasangan menikahnya. Akibat dari pelanggaran hak pada tingkat pernikahan sangatlah besar. Seseorang bisa kehilangan hampir keseluruhan dari bagian dirinya karena (الْبَغْيَ) yang terjadi, baik isteri atau suami hingga segala sesuatu yang merupakan bagian dirinya baik pengetahuan, kedudukan ataupun harta benda dan lain sebagainya. Mungkin hal demikia tidak terlihat orang umum. Sekalipun tidak bercerita sebagaimana pasangan menikah, sesuatu yang merupakan bagian diri seseorang itu sebenarnya dapat diketahui oleh sebagian orang yang mengenalnya. Rezeki yang mengejar bisa tampak pada sebagian orang, tetapi itu bisa terhalang karena pelanggaran hak yang dilakukan orang lain.

Kadangkala kekacauan tatanan pada suatu masyarakat terjadi sedemikian parah hingga penegak hukum justru bertindak melindungi orang-orang yang jahat untuk berbuat jahat daripada melindungi hak-hak dasar masyarakat mereka. Atau para penegak hukum menjadi petugas-petugas pelindung bagi kepentingan orang kuat dengan memberi imbalan duniawi. Hal itu merupakan kedzaliman dan bisa menjadi contoh kekacauan besar pada tatanan masyarakat. Kekacauan besar demikian dapat terjadi karena masyarakat tidak menghormati hak-hak orang lain, terutama pelanggaran hak yang cukup besar seperti pelanggaran hak dalam pernikahan. Menghormati hak-hak orang lain merupakan batasan tatanan sosial. Manakala setiap orang menghormati hak orang lain, kehidupan bermasyarakat akan tertata dengan baik. Sebaliknya manakala suatu masyarakat kehilangan penghormatan terhadap hak-hak orang lain, kehidupan bermasyarakat akan mengalami kekacauan.

Pelanggaran hak ( الْبَغْيَ) tidak terbatas pada urusan yang tinggi. Setiap manusia mempunyai hak atas segala sesuatu yang diberikan kepada dirinya sebagai bagian dirinya, sekalipun apabila ia tidak mengenal tingkat hak dirinya secara pasti. Misalnya mungkin seseorang mempunyai barang mewah sebagai harta yang halal, maka barang itu tetap merupakan hak orang tersebut. Orang lain tidak boleh melanggar hak tersebut, sedangkan pertanggungjawaban di hadapan Allah merupakan tanggung jawab pribadi pemiliknya. Hanya saja hendaknya setiap orang memperhatikan penggunaan hartanya, karena boleh jadi kemewahan itu sebenarnya merupakan bagian dari hak orang lain yang seharusnya ditunaikannya. Penghormatan terhadap hak orang lain sekalipun dalam hal yang terlihat remeh akan mewujudkan tatanan yang baik di masyarakat.

Menumbuhkan Masyarakat yang Kuat

Sifat melanggar hak orang lain bisa tumbuh membesar pada manusia manakala keadaan masyarakat buruk. Misalnya seseorang bisa saja memantapkan diri menjadi begal dalam usahanya mencari nafkah karena keadaan ekonomi masyarakat tidak baik. Tidak hanya dalam keadaan terpaksa, bahkan orang-orang yang nafkahnya tercukupi juga bisa mengambil langkah memasuki lingkungan yang korup agar memperoleh bagian duniawi bagi dirinya, walaupun mengetahui caranya tidak benar. Suatu negara dapat terjerumus pada suatu sistem pemerintah yang parasitik bagi masyarakatnya hingga para pembesar mereka hanya berasal dari para penjahat yang disahkan negara, sedemikian harta-harta hanya akan mengalir kepada orang-orang yang mau dan bisa berbuat jahat sedangkan orang yang baik mengalami kesulitan. Keadaan masyarakat mempengaruhi keberadaan dan kekuatan sifat melanggar hak orang lain.

Seharusnya kaum mukminin menyadari hal demikian dan bertanggungjawab untuk menumbuhkan kesadaran agar masyarakat tidak tumbuh sebagai masyarakat yang leluasa melanggar hak orang lain. Manakala kaum mukminin tidak berusaha untuk memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk menumbuhkan keadaan masyarakat yang kondusif untuk pemerataan hak di antara masyarakat, tidak ada sumber lain yang bisa menumbuhkan keadaan demikian. Sayangnya barangkali masyarakat muslim belum bisa memahami sepenuhnya tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tentang sistem ekonomi yang terbaik. Setiap teori ekonomi berpotensi mengalami kecurangan oleh orang-orang yang curang apabila tidak didukung oleh orang yang mempunyai integritas kuat terhadap keadilan, dan tentulah sistem ekonomi yang terbaik berupa sistem ekonomi mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Untuk bisa memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW secara benar, mukminin harus mengharamkan apa yang diharamkan Allah tidak menghalalkannya, termasuk dalam urusan melanggar hak orang lain. Secara khusus bagi kaum mukminin, tidak melanggar hak orang lain demikian harus ditunaikan lebih menyeluruh mencakup urusan terkait nafs wahidah, keberpasangan nafs wahidah, terbentuknya keluarga yang meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, persoalan keahlian dan pengetahuan yang tumbuh pada setiap orang beriman dan tumbuhnya harta-harta bendawi bagi mereka. Orang beriman mempunyai pengetahuan tentang urusan ini, dan urusan ini tidak diketabui oleh kaum yang lain. Para ahli kitab, orang kafir ataupun musyrikin tidak akan mengetahui keberadaan orang yang mengenal nafs wahidah, bahkan mungkin mereka tidak percaya adanya nafs wahidah. Hanya orang beriman yang mengetahui konsep nafs wahidah, urusan-urusan Allah yang diturunkan melaluinya, keberpasangannya dan perkembangannya dalam hal anak-anak dan harta benda. Orang beriman mempunyai kewajiban memperhatikan urusan-urusan itu. Apabila orang beriman tidak memperhatikan urusan yang diturunkan melalui nafs wahidah di antara mereka, akan terjadi pelanggaran hak manusia secara meluas di antara mereka karena urusan terkait nafs wahidah itu menjadi saluran utama mengalirnya khazanah dari sisi Allah.

Manakala urusan nafs wahidah yang dikenal di antara mukminin diabaikan pelaksanaannya oleh orang beriman, sebenarnya mereka telah melakukan pelanggaran terhadap nafs wahidah tersebut. Demikian pula manakala keberpasangan atau pernikahan di antara orang-orang beriman dirusak, mereka telah melakukan pelanggaran terhadap hak orang beriman, bahkan ini merupakan pelanggaran hak yang mendatangkan fitnah paling besar bagi umat manusia. Mungkin ada orang-orang yang sulit mendapatkan jodoh karena dianggap normalnya pelanggaran terhadap hak-hak orang beriman dalam keberpasangan. Pelanggaran hak orang lain dalam bentuk-bentuk bendawi juga harus diperhatikan. Ada pelanggaran hak bendawi yang terkait dengan pelanggaran hak yang lain, dan ada pula pelanggaran hak bendawi yang berdiri sendiri. Untuk membangun masyarakat yang kokoh, hendaknya orang beriman memperhatikan hak-hak orang lain di antara mereka secara lebih seksama berdasarkan tuntunan Allah.

Tidak jarang seseorang melanggar hak orang lain tanpa menyadari karena kurangnya pemahaman terhadap persoalan dari sisi Allah. Kadangkala pejuang agama di masyarakat terlihat layaknya pengangguran karena kurangnya kesadaran masyarakat terhadap kebenaran, sedangkan apa yang diperjuangkan itu sangat berguna untuk membangun kesejahteraan bersama. Dalam kasus demikian, cara pandang masyarakat yang harus diperbaiki. Sekalipun dipandang tidak baik, ia tetap bernilai karena menurunkan khazanah dari sisi Allah dan sangat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat, bukan hanya konsep-konsep langit yang tidak mengakar ke bumi. Pada satu sisi, hal itu timbul karena kurangnya kesadaran masyarakat terhadap nilai kebenaran. Tidak jarang masyarakat memandang waham kebenaran yang telah mereka bangun lebih bernilai daripada kebenaran dari sisi Allah. Pada sisi lainnya, kegagalan pejuang itu mengangkat nilai penting tuntunan agama kadangkala terjadi karena pelanggaran hak yang dilakukan orang lain terhadap dirinya terkait hak-hak dalam agama. Pelanggaran hak demikian kadangkala tidak disadari oleh orang-orang yang ingin mengikuti kebenaran.

Orang beriman hendaknya tumbuh bersama dalam menumbuhkan keadilan bagi masyarakat. Pertumbuhan itu akan terjadi secara lurus apabila setiap orang beriman memahami apa yang diharamkan bagi mereka. Tidak ada pertumbuhan yang lurus apabila orang beriman tidak mengetahui apa yang diharamkan bagi diri mereka, atau menghalalkan apa yang diharamkan Allah. Akal orang-orang demikian benar-benar tidak akan mampu memahami persoalan secara benar. Memahami persoalan secara benar itu akan diuji dengan menghadapi badai berupa musuh-musuh yang berusaha merusak kehidupan masyarakat. Manakala orang beriman bisa hidup secara damai dengan berbagai persoalan pelanggaran yang terjadi, akal mereka sebenarnya tidak cukup kuat menghadapi persoalan.

Minggu, 08 Februari 2026

Buruknya Kesyirikan Bagi Manusia

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Para rasul mengajarkan tauhid dalam bentuk penyatuan langkah hamba Allah selaras dengan kehendak Allah. Setiap orang harus berusaha membangun pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah. Pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah bukan hanya merupakan pemahaman terhadap konsep-konsep langit tetapi juga akan mendatangkan pemakmuran di bumi. Orang-orang beriman harus berusaha untuk memahami tuntunan Allah hingga mempunyai pengetahuan tentang cara untuk mewujudkan kehidupan yang baik.

Untuk pembinaan pemahaman yang benar, Ada ketentuan dasar yang harus dipahami manusia di antaranya berupa hal-hal yang diharamkan Allah. Manakala ketentuan itu dilanggar, pemahaman manusia terhadap tuntunan Allah akan menyimpang dari apa yang dikehendaki Allah.

﴾۳۳﴿قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan berkata tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui" (QS Al-A’raaf : 33)

Allah mengharamkan kesyirikan bagi setiap manusia. Penyembahan manusia kepada selain Allah akan mendatangkan kerusakan yang sangat besar, baik kerusakan dalam diri para penyembahnya ataupun kepada alam semesta orang-orang yang musyrik. Orang-orang yang menyembah selain Allah akan menjadi parasit bagi alam semesta mereka, secara intrinsik mereka menjadi orang yang buruk dan secara fungsi sosial mereka menjadi makhluk yang mendatangkan kerugian bagi alam semesta.

Kebanyakan manusia tidak menyadari bahwa kehidupan mereka yang sulit sebenarnya terjadi di antaranya karena dihinggapi oleh parasit yang sangat besar berupa kumpulan orang-orang musyrik. File-file back up Jeffrey Epstein dapat menjadi bukti bahwa kehidupan manusia yang sulit dewasa ini sebenarnya terjadi karena parasitisme para penyembah syaitan yang mengatur dunia ini dengan kemampuan yang diperoleh melalui persekutuan dengan syaitan. Hanya sebagian kecil manusia yang menyadari keadaan ini sebelum terungkapnya file Epstein. Epstein hanyalah salah satu penyelenggara ritual kaum musyrikin yang ingin mengatur dunia, tetapi bukti-bukti yang terungkap benar-benar membuat manusia bergidik. Bisnis prostitusi atau file sebagai alat sandera tampaknya hanya kamuflase, sedangkan mereka adalah jaringan penyembah syaitan dan Epstein menjadi organisator event mereka. Masih sangat banyak petinggi yang lebih kaya dan berkuasa di jaringan musyrikin daripada Epstein yang menjadi parasit bagi dunia, membentuk jaringan besar yang menghisap kesejahteraan dari masyarakat dunia.

File epstein sedikit atau banyak dapat mengungkap sepak terjang kaum musyrikin dalam mendatangkan kesulitan bagi dunia. Mereka membentuk suatu persekutuan dalam mengatur dunia dengan cara yang sangat menjijikkan tanpa terlihat oleh manusia. Mereka menjadikan boneka-boneka dari kelompok mereka yang dipandang terhormat oleh masyarakat sebagai penguasa negeri sedangkan para penguasa yang sebenarnya tersembunyi dari pandangan manusia. Barangkali ritual yang mereka lakukan sangat menjijikkan, tetapi perbuatan tipu daya mereka yang mendatangkan kesengsaraan bagi masyarakat dunia harus diperhatikan untuk diantisipasi. Ritual mereka menjadikan mereka bertambah kejahatannya. Tipu daya mereka dalam mengatur kehidupan dunia menjerat manusia dalam kesengsaraan. Mereka menguasai aspek-aspek kehidupan untuk kesejahteraan diri sendiri dengan menyengsarakan masyarakat dunia. Seharusnya umat manusia dan orang-orang beriman memperhatikan perbuatan mereka lebih daripada terhadap ritual yang mereka lakukan.

Kaum mukminin mempunyai tugas untuk memakmurkan bumi. Sayangnya kaum mukminin dewasa ini tidak mempunyai pengetahuan tentang sepak terjang kaum musyrikin bersama syaitan dalam mendatangkan kesulitan yang besar bagi umat manusia, terlena dalam kehidupan duniawi sendiri. Sebagian negeri muslim diporak-porandakan musyrikin manakala ingin membina kesejahteraan, menggunakan pasukan musyrikin bahkan dari kalangan muslimin sendiri. Kaum mukminin di bumi persia selalu dimusuhi kaum musyrikin sedangkan mereka hanya sendirian saja. Sebagian kaum mukminin di negeri yang lain tidak menyadari masalah yang dibuat oleh kaum musyrikin. Mungkin kaum mukminin bukan berkeinginan mengumpulkan materi duniawi yang menjadikan bodoh dari masalah yang terjadi, tetapi karena tidak mau memahami tuntunan kitabullah Alquran terkait urusan yang seharusnya mereka tunaikan. Mereka terlena dengan parameter kesejahteraan yang dibuat sendiri, mengabaikan berbagai permasalahan yang terjadi di antara umat Rasulullah SAW.

Beberapa Kesyirikan di Antara Muslimin

Tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tentulah sangat mencukupi untuk mengatasi langkah-langkah yang dibuat oleh kaum musyrikin, yaitu apabila kaum mukminin dapat memahami tuntunan itu dengan benar. Sayangnya kebanyakan mukminin tidak berusaha sebaik-baiknya untuk memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW selaras dengan kehendak Allah. Tidak banyak orang yang ingin mengetahui kehendak Allah atas diri masing-masing, lebih banyak orang yang ingin memperoleh bagian dari kehidupan baik berupa materi maupun kehormatan menurut hawa nafsu diri. Sebagian manusia ingin mengenal kehendak Allah akan tetapi tidak benar-benar memperhatikan tuntunan Allah berupa kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ada landasan yang benar-benar harus diperhatikan setiap orang beriman yang ingin memahami tuntunan kitabullah dengan benar, yaitu ketentuan tentang yang diharamkan Allah. Apabila hal ini tidak diperhatikan, mereka tidak akan memahami tuntunan kitabullah dengan benar.

Pada pokoknya, Allah mengharamkan bagi manusia (1) perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, (2) perbuatan dosa, (3) Permusuhan atau melanggar hak orang lain tanpa alasan yang benar, (4) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (5) berkata tentang Allah tanpa suatu pengetahuan.

Mempersekutukan Allah dengan sesuatu tanpa sulthan yang diturunkan Allah merupakan salah satu hal yang diharamkan Allah, termasuk bagi kaum mukminin atau muslimin. Sebenarnya kesyirikan bisa saja terjadi di antara kaum muslimin dan mukminin dalam bentuk yang lebih halus, bukan bentuk ritual yang menjijikkan seperti kaum penyembah syaitan. Kaum mukminin muslimin seringkali tidak waspada dengan bentuk-bentuk kesyirikan yang dapat terjadi di antara mereka. Muslimin tidak akan memahami tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW dengan benar dan tepat tanpa memperhatikan kesyirikan yang mungkin mereka lakukan. Kesyirikan besar yang menguasai dunia tidak akan terlihat manakala umat islam tidak memperhatikan tentang kesyirikan yang dapat terjadi di antara mereka sendiri..

Hal ini hendaknya tidak disikapi dengan sembarangan melakukan tuduhan membabi buta bahwa kaum muslimin melakukan kesyirikan, atau bermudah-mudah mengatakan seseorang terjatuh pada kesyirikan karena suatu hal yang dikerjakannya. Allah telah menunjukkan bentuk-bentuk kesyirikan yang bisa terjadi di antara muslimin, dan hendaknya muslimin memperhatikan dan memahami petunjuk itu dengan seksama, agar mereka tidak terjatuh pada kesyirikan dan agar tidak secara ceroboh menuduh muslimin lain melakukan kesyirikan. Sebenarnya orang-orang musyrik membuat pedoman kesyirikan di antara muslimin tetapi pedoman itu dibuat untuk membuat kegaduhan di antara kaum muslimin, bukan bertujuan untuk membuat orang islam memahami ketentuan halal dan haram dalam perkara kesyirikan.

Memecah Belah Agama

Di antara bentuk kesyirikan yang bisa terjadi pada kaum muslimin atau mukminin adalah memecah-belah umat menjadi beberapa golongan, dan setiap golongan berbangga dengan golongannya.

﴾۱۳﴿ مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
﴾۲۳﴿مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
(31) dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, (32) yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka (QS Ar-Ruum : 31-32)

Allah melarang umat islam untuk menjadi kaum musyrikin, yaitu muslim tetapi sebenarnya musyrik. Ciri musyrikin di antara muslimin adalah mereka gemar memecah belah umat islam menjadi bergolongan-golongan, dan tiap-tiap golongan berbangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. Musyrikin demikian membanggakan bahwa mereka adalah kaum yang paling benar dalam ibadah kepada Allah seperti dzulkhuwaisirah, dan yang lain salah. Mereka tidak bersikap tawadhu’ dengan hatinya mengharap pemahaman yang benar kepada Allah, tetapi mengklaim kebenaran ada pada mereka. Kaum musyrikin benar-benar berkeinginan untuk membuat kegaduhan di antara kaum muslimin maka mereka membuat pengajaran-pengajaran kepada kaum muslimin yang membuat muslimin berpecah-belah dan berbangga-bangga dengan ajaran masing-masing.

Berbangga dengan ajaran masing-masing merupakan suatu tanda bahwa seseorang tidak menginginkan suatu kebaikan dalam mengikuti ajaran, tetapi mengikuti hawa nafsu sekalipun dalam hal kebenaran. Beribadah kepada Allah harus dilandasi dengan keikhlasan berbuat kebaikan untuk melayani kehendak Allah, bukan di atas landasan hawa nafsu. Keikhlasan itu akan diketahui seseorang dengan menimbang kebaikan dan keburukan dari suatu langkah atau sikap yang perlu dilakukan. Manakala seseorang berbangga dengan ajaran yang diikutinya, mereka sebenarnya tidak benar-benar menimbang kebaikan dan keburukan dalam mengikuti ajaran itu. Suatu ajaran atau interpretasi manusia terhadap ajaran kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW biasanya tidaklah benar-benar sesuatu yang sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah. Orang yang ikhlas akan berusaha mengikuti kebaikan untuk melayani kehendak Allah, tidak membanggakan kebenaran yang ada pada mereka sendiri.

Menjadikan Manusia Sebagai Tuhan Selain Allah

Bentuk kesyirikan lain yang bisa terjadi di antara kaum muslimin adalah menjadikan manusia sebagai tuhan-tuhan selain Allah layaknya kaum Yahudi atau Nasrani.

Dari ‘Adiy bin Hâtim r.a ia berkata :
أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي عُنُقِي صَلِيبٌ مِنْ ذَهَبٍ فَقَالَ يَا عَدِيُّ اطْرَحْ عَنْكَ هَذَا الْوَثَنَ وَسَمِعْتُهُ يَقْرَأُ فِي سُورَةِ بَرَاءَةَ ((اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ)) قَالَ أَمَا إِنَّهُمْ لَمْ يَكُونُوا يَعْبُدُونَهُمْ وَلَكِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا أَحَلُّوا لَهُمْ شَيْئًا اسْتَحَلُّوهُ وَإِذَا حَرَّمُوا عَلَيْهِمْ شَيْئًا حَرَّمُوهُ
Aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan pada leherku ada (kalung) salib yang terbuat dari emas. Maka beliau bersabda, ‘Hai ‘Adi, buanglah berhala itu darimu!” Dan aku mendengar beliau membaca (ayat al-Qur’an) dalam surat Barâ’ah (at-Taubah, yang artinya), “Mereka (orang-orang Yahudi dan Nashrani) menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb (tuhan-tuhan) selain Allâh”, beliau bersabda, ‘Sesungguhnya mereka itu (para pengikut) tidaklah beribadah kepada mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka). Akan tetapi jika mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka) menghalalkan sesuatu untuk mereka, merekapun menganggap halal. Jika mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka) mengharamkan sesuatu untuk mereka, merekapun menganggap haram”. [HR. Tirmidzi, no: 3095

Manusia akan terjerumus menjadikan manusia sebagai tuhan-tuhan apabila mereka mengikuti langkah para rahib dan orang alim mereka dalam mengharamkan yang dihalalkan Allah dan menghalalkan apa yang diharamkan Allah. Hal ini dapat dihindari dengan memperkuat akal dalam berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap orang harus mengembangkan kemampuan dalam mengenali hal-hal yang diharamkan Allah dan mengharamkannya tidak menghalalkannya. Manakala seseorang ikut menghalalkan apa yang diharamkan Allah karena mengikuti para alim dan rahib di antara mereka, mereka sebenarnya terjerumus pada sikap mempertuhankan manusia selain Allah. Ini merupakan salah satu bentuk kesyirikan yang dapat terjadi di antara umat Allah.

Kehendak Allah berlawanan dengan hal-hal yang diharamkan. Memahami dengan benar kehendak Allah hanya akan terjadi bila hamba Allah menjauhkan diri dari yang diharamkan. Setiap hamba Allah harus beribadah secara lurus kepada Allah jauh dari penyimpangan baik yang dzahir ataupun bathin, menjauhi perbuatan dosa, membentuk kasih sayang jauh dari permusuhan, menghindari kesyirikan dan menghindari perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan. Upaya demikian harus dilakukan dengan menggunakan akal tidak hanya mengikuti saja, karena banyak jebakan syaitan yang membuat manusia yang bodoh terjebak pada hal yang diharamkan Allah. Setiap langkah harus diperhatikan halal dan haramnya secara tepat hingga terlihat kebaikan dan keburukan dalam langkah itu agar terhindar dari hal yang diharamkan Allah.

Mempertuhankan Hawa Nafsu

Bentuk kesyirikan lain yang dapat menyesatkan kaum adalah menjadikan hawa nafsu sebagai ilah. Banyak macam orang-orang yang menjadikan hawa nafsu mereka sebagai ilah. Sebagian dari mereka adalah orang-orang yang berada di atas ilmu akan tetapi Allah menyesatkan mereka dengan ilmunya. Ilmu mereka justru menyebabkan mereka tersesat. Ada pula orang-orang yang hendak ditinggikan Allah dengan ilmu mereka akan tetapi mereka terjatuh karena berpaling ke dunia dan mengikuti hawa nafsu. Menjadikan hawa nafsu sebagai ilah bukan hanya terjadi atas orang berilmu saja. Sebagian orang bodoh mengikuti hawa nafsu mereka tanpa petunjuk ataupun ilmu. Hal demikian termasuk kesyirikan yang bisa terjadi di antara kaum muslimin, dan kaum muslimin harus menghindari hal demikian.

﴾۳۲﴿أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS al-Jatsiyah : 23)

setiap orang harus berusaha membangun penghambaan kepada Allah dengan berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW secara lurus tidak mengikuti dorongan hawa nafsu diri sendiri. Sangat banyak hamba Allah yang bisa tergelincir di atas ilmunya, atau kembali terjatuh ke alam bawah, atau melangkah tanpa arah karena memperturutkan hawa nafsu mereka. Setiap orang harus membina pemahaman diri mengikuti tuntunan Allah berupa kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Demikian itu adalah contoh bentuk-bentuk kesyirikan yang dapat terjadi di antara kaum muslimin. Bentuk-bentuk kesyirikan mungkin tidak terbatas pada tiga hal di atas, tetapi hendaknya manusia tidak membuat tuduhan-tuduhan secara sembarangan kepada muslimin lain tanpa suatu tuntunan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, atau hanya berdasarkan interpretasi sendiri berdasar kebanggaan keyakinannya. Setiap orang harus lebih memperhatikan kesyirikan diri sendiri terlebih dahulu, dan berikutnya mengajak muslimin lain menghindari kesyirikan yang mungkin tersamar dari pandangan kebanyakan.

Jumat, 06 Februari 2026

Bid'ah dan Perkataan Tentang Allah Tanpa Pengetahuan

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Para rasul mengajarkan tauhid dalam bentuk penyatuan langkah hamba Allah selaras dengan kehendak Allah. Setiap orang harus berusaha membangun pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah. Pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah bukan hanya merupakan pemahaman terhadap konsep-konsep langit tetapi juga akan mendatangkan pemakmuran di bumi. Orang-orang beriman harus berusaha untuk memahami tuntunan Allah hingga mempunyai pengetahuan tentang cara untuk mewujudkan kehidupan yang baik.

Untuk pembinaan pemahaman yang benar, Ada ketentuan dasar yang harus dipahami manusia di antaranya berupa hal-hal yang diharamkan Allah. Manakala ketentuan itu dilanggar, pemahaman manusia terhadap tuntunan Allah akan menyimpang dari apa yang dikehendaki Allah.

﴾۳۳﴿قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan berkata tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui" (QS Al-A’raaf : 33)

Allah mengharamkan perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan. Itu merupakan tuntutan bagi kaum muslimin untuk bertauhid secara benar. Perkataan yang benar tentang Allah akan terbentuk dalam diri seseorang yang membina diri sebagai misykat cahaya. Cahaya Allah yang mereka terima akan membentuk suatu bayangan tentang kehendak Allah karena misykat cahaya yang terbentuk, sedemikian mereka mempunyai pengetahuan terkait perkataan tentang Allah. Manakala suatu ayat kitabullah dibaca, mereka mengetahui apa yang disampaikan dalam ayat tersebut. Demikian pula manakala ayat kauniyah mereka lihat, mereka melihat suatu hakikat dari sisi Allah terkait fenomena yang terlihat. Pemahaman mereka terkait ayat-ayat Allah itu terintegrasi membentuk pengetahuan yang selaras dengan kehendak Allah.

Mencari pengetahuan yang benar terkait perkataan tentang Allah hendaknya dilakukan dengan membangun tauhid yang kokoh, ditempuh dengan membina diri sebagai misykat cahaya. Sebagian kelompok muslimin membangun suatu kerangka bertauhid dengan perkataan-perkataan tentang Allah tanpa mempunyai pengetahuan, secara sembarangan mencomot ayat-ayat Allah tanpa suatu komitmen kebaikan sebagai wujud kasih sayang. Konsep yang mereka bangun tanpa pengetahuan itu menjadikan manusia tidak dapat memahami kebaikan dalam tuntunan Allah, hanya membangun pengetahuan tentang Allah secara keliru. Di antara yang mengajarkan perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan itu adalah kaum khawarij. Mereka justru menjadi penyerang orang-orang yang berusaha menjadi hamba Allah dengan benar, menyerang hamba Allah dengan perkataan-perkataan mereka tentang Allah tanpa pengetahuan. Mereka adalah orang-orang yang ditipu dengan konsep tauhid yang dibuat oleh kaum musyrikin.

Munculnya Perbuatan Bid’ah

Selain tipuan oleh kaum musyrikin, kaum mukminin harus berhati-hati terhadap tipuan yang dibuat oleh syaitan secara langsung. Syaitan menggunakan perkataan-perkataan tentang Allah untuk menipu manusia, sedemikian orang-orang yang beriman dapat tertipu dengan perkataan itu. Syaitan bisa hadir ke hadapan manusia yang beriman dengan wujud yang indah dan mengatakan bahwa dirinya adalah Allah tuhan yang harus disembah. Itu salah satu contoh perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan yang digunakan syaitan untuk menipu. Orang yang mengenal Allah akan mengenal bahwa Allah memperkenalkan dirinya dalam suatu tajalli asma-Nya, tidak dengan cara syaitan yang sangat penipu. Tidak hanya demikian, syaitan bisa menipu manusia dengan perkataan-perkataan tentang Allah yang mungkin akan tampak baik dalam pandangan manusia yang tidak mempunyai pengetahuan. Mereka membuat perkataan-perkataan yang diada-adakan.

dari Jabir bin Abdullah ia berkata: Rasulullah SAW biasa memulai khutbah mengucapkan,
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad SAW. Seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim no. 867, Sunan Ibnu Majah no.44)

Sebaik-baik perkataan adalah kitabullah Alquran. Kitabullah menceritakan segala sesuatu dari sisi Allah dengan cara yang paling baik, sempurna dan tidak ada kesalahan di dalamnya, walaupun mungkin kebanyakan manusia tidak mengetahui tingkat kebaikannya. Orang yang mengetahui kebenaran dari sisi Allah akan mengetahui tingkat kebaikan dalam perkataan yang dikandung kitabullah Alquran. Barangkali mereka dapat membuat perkataan-perkataan yang selaras dengan apa yang dikatakan kitabullah Alquran tetapi tidak dapat menyampaikan dengan kesempurnaan, dan boleh jadi ada kesalahan dalam penyampaian dirinya. Mereka menyadari keterbatasan dirinya, dan dapat mengagumi cara berkata-kata kitabullah Alquran dengan keterbatasan dirinya.

Rasulullah SAW dapat menyampaikan dengan cara sebaik-baiknya petunjuk kepada manusia untuk memahami perkataan yang terbaik berupa kitabullah Alquran. Demikian pula orang-orang yang mengikuti langkah beliau SAW mungkin akan diberi kemampuan untuk menunjukkan kepada manusia cara memahami perkataan kitabullah Alquran, akan tetapi barangkali cara mereka menunjukkan tidak sebaik cara Rasulullah SAW menunjukkan. Rasulullah SAW selalu menunjukkan kepada manusia dengan tepat tanpa kesalahan, sedangkan orang lain tidak akan mampu melakukan cara tersebut karena keterbatasan ilmunya dan mungkin saja ia salah dalam menunjukkan. Walaupun demikian, mungkin saja seseorang mempunyai cara menunjukkan kebenaran kepada manusia secara terbatas, dalam batas-batas kemampuan dirinya.

Tidak semua orang menunjukkan kebenaran kepada manusia dengan benar. Ada orang-orang yang menunjukkan cerita tentang kebenaran dari sisi Allah kepada manusia tetapi sebenarnya tidak terhubung dan tidak mengarah untuk memahami perkataan kitabullah Alquran. Perkataan mereka itu hanya cerita-cerita yang dibuat-buat saja tentang Allah. Hendaknya setiap orang menghindari perkataan demikian. Manakala seseorang mencari pengetahuan tentang kebenaran dari sisi Allah, hendaknya mereka berpegang sepenuhnya pada kitabullah Alquran, dan tidak menganggap perkataan-perkataan yang mereka anggap baik sebagai kebenaran dari sisi Allah kecuali telah jelas hubungannya dengan firman Allah. Sekalipun demikian ia hendaknya berusaha memahami kebaikan pada kalimat yang disampaikan orang lain kepadanya, karena boleh jadi perkataan itu akan mengantarkannya memahami perkataan dari sisi Allah. Apabila perkataan yang disampaikan tidak diketahui kebaikannya, ia hendaknya tidak menjadikan perkataan itu sebagai petunjuk jalan. Sebenarnya syaitan juga membuat-buat perkataan tentang Allah dan mengajarkannya kepada manusia agar mereka mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa pengetahuan. Kaum mukminin hendaknya tidak mengikuti bisikan-bisikan ke hatinya tentang sesuatu dari Allah sebelum ia mengetahui tuntunan Allah tentang perkara itu, dan tidak menganggap benar suatu perkataan yang dikatakan dari Allah sebelum ditunjukkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tentang perkara itu.

Berbahayanya suatu perkataan timbul manakala dikatakan bahwa perkataan itu terkait dengan Allah. Orang didorong untuk menghormati perkataan itu layaknya perkataan tentang Allah sedangkan Allah mungkin saja tidak menghendaki perkataan demikian. Orang yang mengenal dan mengikuti suatu kebenaran relatif tetapi tidak menganggapnya sebagai kebenaran dalam tingkat kebenaran dari sisi Allah bukan termasuk orang yang mengikuti perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan, yaitu apabila ia dapat memahami maksud perkataan, menguji manfaat, kebaikan dan keburukan yang dapat timbul dari perkataan kebenaran itu berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala seseorang tidak lagi dapat atau tidak boleh menguji manfaat, kebaikan dan keburukan yang mungkin timbul dari perkataan itu, mungkin ia sebenarnya telah menganggap perkataan itu sebagai perkataan tentang Allah sedangkan ia tidak mempunyai pengetahuan. Setiap orang harus bersikap membenarkan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW baik ia mengetahui atau tidak mengetahui kandungannya, dan harus menimbang perkataan yang lain dengan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW untuk mengetahui bobot kebenarannya, tidak mengikuti secara membuta agar tidak terjebak pada perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan.

Perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan itu merupakan perkataan yang dibuat-buat, dan perkataan yang dibuat-buat itu merupakan bahan terwujudnya amal lahiriah sebagai perbuatan bid’ah. Perbuatan bid’ah dapat dijelaskan sebagai amal-amal yang dipandang sebagai bentuk amal mewujudkan kehendak Allah akan tetapi sebenarnya tidak mempunyai landasan dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Seseorang mungkin berbuat baik tanpa mempunyai sebelumnya pengetahuan tentang amalnya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan tetapi sebenarnya ada tuntunannya, maka amal tersebut bukan bid’ah. Demikian pula manakala seseorang beramal tetapi tidak memandang dirinya sebagai pelaksana bagi kehendak Allah, maka ia tidak berbuat bid’ah. Dengan kata lain, bid’ah terlahir karena memandang diri sebagai pelaksana urusan Allah tanpa landasan yang sah. Suatu bid’ah dilakukan dengan anggapan melaksanakan kehendak Allah sedangkan tidak ada tuntunan tentang hal itu. Bid’ah terlahir dari perkataan-perkataan yang diada-adakan tanpa mempunyai landasan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, atau perkataan-perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan.

Seluruh urusan yang disebutkan dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW adalah urusan Allah. Setiap orang akan memperoleh jalan mengenal amanah dirinya dengan memperhatikan ayat-ayat Allah pada kitabullah dan kauniyah. Jauh lebih mudah bagi seseorang untuk mengenal amanah dirinya apabila menemukan wali mursyid yang menunjukkan cara memahami kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tetapi urusan setiap orang hanya akan dikenali seseorang manakala ia mengenali ayat Allah yang menjadi amanah dirinya. Peran wali mursyid itu tidak terbatas menunjukkan ayat-ayat yang menjadi amanah bagi murid-muridnya, tetapi juga membimbing tazkiyatun-nafs sebagai landasan memahami ayat-ayat Allah, serta menjaga para murid agar tidak menyimpang dari kehendak Allah. Kemampuan seseorang untuk mengenal amanah dirinya dari kitabullah akan muncul setelah melakukan tazkiyatun-nafs, karena itu sangat penting bagi seseorang untuk menempuh jalan tazkiyatun-nafs.

Orang-orang yang memahami amanah dirinya dari kitabullah dan melaksanakan amanah itu sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak dikatakan berbuat bid’ah. Mungkin saja Allah menurunkan ilmu-ilmu yang baru dalam pandangan manusia tetapi sebenarnya merupakan penjelasan dari suatu ayat kitabullah tertentu, maka ilmu dan amal yang terwujud dari penjelasan itu tidak termasuk sebagai bid’ah. Urusan Allah tidak dibatasi oleh perkataan manusia, dan hanya dibatasi oleh kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Hanya Rasulullah SAW saja yang mengenal seluruh urusan itu secara sempurna. Seseorang hanya akan mengenal urusan yang harus ditunaikan dirinya sebagai bagian dari urusan Rasulullah SAW. Sayangnya hanya sedikit orang yang mengenal urusan dirinya yang merupakan bagian dari urusan Rasulullah SAW.

Memperoleh penjelasan ayat kitabullah Alquran (al-bayaan) dan sunnah Rasulullah SAW berbentuk suatu keterbukaan tentang kandungan ayat kitabullah di alam kauniyah. Ia mengetahui keadaan alam kauniyah sesuai dengan tuntunan kitabullah, dan ia mengetahui amal-amal yang harus dilakukan untuk mensikapi keadaan kauniyah tersebut. Ia tidak mengalami keterbukaan seluruh keadaan alam kauniyah, tetapi hanya keadaan kauniyah terkait amal yang harus ia tunaikan di alam dunia. Tidak jarang keterbukaan itu disertai dengan turunnya kemampuan tertentu untuk beramal sesuai dengan kehendak Allah. Melaksanakan amal berdasarkan ilmu demikian tidak termasuk sebagai bid’ah. Benarnya suatu penjelasan ayat kitabullah ditunjukkan dengan tidak menyimpangnya pemahaman yang terbuka dengan bunyi ayat kitabullah yang telah diturunkan kepada Rasulullah SAW. Mungkin seseorang mengalami ketercampuran pengetahuan antara penjelasan ayat kitabullah yang diberikan dengan yang dikumpulkannya hingga salah ketika menjelaskan, tetapi penjelasan mereka tidak menyimpang dari ayat kitabullah.

Kadangkala seseorang mengalami keterbukaan akan tetapi menjadikannya cenderung menyangkal redaksi suatu ayat tertentu dari kitabullah. Ia memperoleh atau mempunyai penjelasan yang menyimpang atau berbeda dengan redaksi kitabullah. Keterbukaan demikian bukanlah keterbukaan sebagai penjelasan (al-bayaan) dari Ar-Rahman, tetapi justru perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan. Tidak ada sedikitpun al-bayaan dari Ar-Rahman yang menyimpang dari bunyi ayat kitabullah, dan seluruh penjelasan yang dibukakan dapat dijelaskan dengan redaksi kitabullah Alquran. Amal-amal dari orang-orang mempunyai kecenderungan menyangkal redaksi ayat kitabullah demikian itu justru merupakan ciri paling nyata dari perbuatan bid’ah. Urusan-urusan yang mereka kerjakan sebenarnya tidak mempunyai landasan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW secara benar, hanya dibuat hubungannya  saja.

Amal dari pengetahuan demikian kadangkala terlihat baik, akan tetapi tidak dapat mengikuti Al-Jamaah dan justru menghalangi Al-jamaah dalam melaksanakan urusan Allah. Selisih penjelasan seseorang dari Al-bayaan demikian akan mendatangkan kerusakan yang besar, sekalipun perbuatan-perbuatan yang lain mungkin tampak baik. Selisih pengetahuan itu akan menyeret seseorang untuk berselisih dengan Al-Jamaah termasuk dalam amal-amalnya. Setiap pihak dalam perselisihan demikian akan memandang dirinya berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, akan tetapi sebenarnya ada yang menyimpang. Masalahnya bukan hanya adanya sedikit penyimpangan yang dapat diperbaiki, tetapi juga terkait dengan lurusnya pemahaman urusan Allah secara menyeluruh. Ketika ada bagian perkataan yang diada-adakan diikuti, sebenarnya ada peran syaitan yang membantu membangun perkataan yang mereka ikuti dengan perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan. Orang yang melakukan bid’ah akan sulit melihat kebenaran secara utuh, atau sulit melihat kesalahan diri. Setiap orang harus kembali meneliti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tentang perkataan mereka dan mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Perbuatan bid’ah juga akan menimbulkan kesulitan bagi manusia dalam kehidupan di dunia. Jalan-jalan pemakmuran akan menyimpang sedemikian manusia akan mengalami kesulitan dalam menjalani kehidupan. Nilai-nilai kebenaran yang diikuti manusia menjadi bengkok sedemikian mungkin saja orang yang benar dikatakan salah dan orang yang salah dikatakan benar, maka upaya untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang baik akan menjadi sulit. Jalan-jalan untuk menumbuhkan kesejahteraan di alam dunia mungkin akan menjadi rusak karena perbuatan-perbuatan mengikuti bid’ah, dan para manusia yang seharusnya menjadi pemakmur bumi mungkin akan melaksanakan pemakmuran secara menyimpang.