Pencarian

Kamis, 18 Juni 2026

Menyempurnakan Ibadah Kepada Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Tidaklah manusia dan jin diciptakan Allah kecuali untuk beribadah kepada Allah.

﴾۶۵﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. QS Adz-Dzariyaat : 56)

Ibadah merupakan pengabdian yang dilakukan untuk melaksanakan urusan Dzat yang diibadahi. Bentuk ibadah kepada Allah mencakup beberapa tingkatan, dari ibadah berupa contoh yang disyariatkan baik berupa kewajiban-kewajiban ataupun sunnah-sunnah, ataupun ibadah dalam bentuk pengabdian berupa amal-amal yang harus ditunaikan untuk mewujudkan kehendak Allah yang telah dijelaskan dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Ada kaum yang membatasi ibadah kepada Allah hanya bentuk-bentuk ibadah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW saja, maka batasan demikian sebenarnya belum mencukupi batasan-batasan ibadah. Batasan ibadah demikian hanya merupakan syarat permulaan untuk memenuhi perintah ibadah. Ibadah harus dilakukan hingga bentuk-bentuk amal dzahiriah yang lahir dari pemahaman terhadap kehendak Allah yang diperoleh melalui penjelasan ayat kitabullah dan ayat kauniyah yang digelar. Alquran merupakan petunjuk Allah yang diturunkan bagi makhluk yang berakal, menjelaskan seluruh kebenaran yang hendak diperkenalkan Allah kepada makhluk sepanjang masa. Alquran berlaku tidak hanya untuk sesuatu yang terjadi pada jaman Rasulullah SAW saja atau beberapa qurun setelahnya saja tetapi sepanjang masa. Bentuk ibadah yang sepenuhnya bagi hamba-Nya mencakup pelaksanaan amal-amal dzahiriah untuk mewujudkan kehendak Allah yang dipahami dari tuntunan kitabullah Alquran, selain ibadah yang disyariatkan sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Bentuk Ibadah yang sepenuhnya akan dikenali oleh mukminin yang benar-benar ikhlas dalam beribadah kepada Allah, berupa pengenalan terhadap amal-amal yang ditetapkan bagi diri masing-masing sebelum kelahiran mereka ke alam dunia. Bagi tiap-tiap manusia telah ditetapkan amal perbuatan yang harus mereka tunaikan dalam kehidupan di alam dunia sebagaimana tetapnya kalung pada lehernya. Amal-amal itu merupakan kesempurnaan ibadah setiap manusia, berupa jalan ibadah hingga dalam bentuk amal-amal duniawi mereka. Ibadah dalam bentuk syariat yang dicontohkan Rasulullah SAW merupakan bentuk ibadah dasar yang harus dilakukan setiap muslim, dan setiap muslim hendaknya berusaha menyempurnakan ibadahnya dalam bentuk mengenal dan melaksanakan amal-amal yang ditentukan bagi masing-masing.

﴾۳۱﴿وَكُلَّ إِنسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنشُورًا
Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. (QS Al-Isra’:13)

Tidak semua amal yang dilakukan manusia merupakan amal yang ditetapkan sebagaimana ayat di atas, dan bahkan kebanyakan manusia mengerjakan amal yang tidak ditetapkan baginya atau mereka beramal tanpa mengetahui amal yang ditetapkan baginya. Amal yang ditetapkan bagi manusia merupakan amal shalih yang paling hakiki, amal yang akan membukakan baginya pengetahuan hakikat-hakikat dari sisi Allah yang dapat diketahui berdasarkan tuntunan kitabullah Alquran. Amal yang ditetapkan itu sepenuhnya merupakan perintah-perintah yang terkait dengan suatu urusan tertentu dari kitabullah Alquran tidak keluar darinya.

Ini tidak membatasi amal shalih hanya pada amal yang ditetapkan. Setiap orang harus berusaha untuk beramal dengan landasan pengetahuan yang benar tentang kehendak Allah, maka amal itu menjadi amal shalih. Pengetahuan yang benar tentang kehendak Allah itu merupakan landasan bagi amal shalih. Manakala seseorang tidak mempedulikan kehendak Allah, tidak ada amal shalih yang terwujud dari mereka sekalipun mungkin tampak sebagai amal yang baik. Setiap orang hendaknya berusaha dengan sebaik-baiknya untuk memperoleh pengetahuan tentang kehendak Allah. Usaha demikian akan lebih mudah dilakukan dengan mengikuti langkah orang yang telah mengenal amal yang ditetapkan, disertai dengan berusaha memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW terkait dengan amal yang dilakukannya. Manakala seseorang yang mengenal amal yang ditetapkan baginya tidak dipedulikan, manusia yang mengabaikan akan terjebak pada usaha yang sulit dan cenderung sia-sia layaknya orang yang mengabaikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Membina Kerangka Ibadah

Ibadah dalam bentuk syariat yang dicontohkan Rasulullah SAW merupakan jalan yang disediakan Allah bagi hamba-Nya untuk memperoleh pengetahuan tentang kehendak-Nya. Allah sama sekali tidak membutuhkan pelaksanaan syariat yang dicontohkan, tetapi makhluk-lah yang membutuhkan syariat itu agar mereka tetap bisa mengenali kemuliaan di alam yang tinggi tidak terjerat dalam kehidupan rendah alam dunia. Allah mewajibkan syariat itu bagi makhluk sebagai bentuk rahman dan rahim-Nya agar makhluk dapat mengubah akhlak diri mereka menjadi mulia. Syarat utama terbentuknya kemuliaan akhlak pada diri makhluk adalah terbentuknya sifat rahman dan sifat rahim. Ibadah yang dikehendaki Allah atas diri manusia adalah beramal dengan amal-amal mengikuti tuntunan Allah yang dilakukan berdasarkan akhlak mulia berupa sifat rahman dan rahim. Sifat rahman adalah kemampuan yang harus dibentuk setiap manusia untuk dapat memahami kehendak Allah dengan benar, yaitu memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW berdasarkan keinginan mulia. Sifat rahman ditandai dengan kecintaan kepada kemuliaan Allah yang terpancar melalui berbagai media yang diturunkan-Nya, terutama kebenaran dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka mengenal kemuliaan yang terpancar dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan akal yang benar. Sifat rahim merupakan sifat ingin memberikan kebaikan kepada makhluk lain. Dalam beberapa kasus, kebaikan itu mungkin tampak tidak menyenangkan akan tetapi memberikan kebaikan.

Sifat Rahman

Sifat Rahman terbentuk melalui proses taubat, dimulai dengan tazkiyatun-nafs, mempelajari kandungan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mengenal diri dan membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Terbentuknya sifat rahman pada diri seorang manusia harus diwujudkan dalam bentuk amal-amal dzahiriah dan seringkali berbentuk amal-amal duniawi bukan ibadah mahdlah. Amal-amal demikian merupakan amal shalih, yaitu amal-amal yang dilakukan berdasarkan pengenalan yang benar oleh seseorang terhadap kehendak Allah. Amal-amal shalih demikian itu merupakan bentuk ibadah yang dikehendaki Allah atas diri seseorang. Ibadah yang sepenuhnya harus dilakukan oleh seseorang terbentuk melalui proses pembentukan akhlak mulia hingga seseorang mengenal kehendak Allah, bukan hanya melakukan yang dicontohkan Rasulullah SAW. Allah sama sekali tidak membutuhkan pelaksanaan syariat oleh manusia, akan tetapi Dia menghendaki makhluk agar menjadi mulia dengan syariat yang harus ditempuh untuk membentuk akhlak mulia.

Memahami kehendak Allah pada pokoknya adalah memahami realitas kauniyah sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sebagian orang berkembang akalnya hingga dapat menentukan pilihan secara benar pada cabang-cabang atau ranting-ranting dari persoalan yang tumbuh dari suatu ayat tertentu dengan bertanya atau memohon jawaban kepada Allah. Penentuan pilihan demikian benar selama dilakukan dengan pemahaman terhadap pokoknya, yaitu memahami realitas sesuai dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Jawaban demikian  harus digunakan dengan terlebih dahulu diuji hubungannya dengan realitas dan ayat kitabullah. Ada jawaban yang benar dan ada jawaban yang dikehendaki Allah untuk menyesatkan orang yang tidak berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bertanya atau memohon kepada Allah terkait suatu perkara hendaknya tidak dilakukan dalam perkara yang telah diketahui tercantum dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan tidak dilakukan untuk perkara yang tidak jelas kedudukannya misalnya menanyakan segala sesuatu secara sembarang. Setiap pemahaman yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bernilai salah, baik pemahaman itu diperoleh melalui usaha memahami ataupun melalui memohon jawaban kepada Allah.

Sifat Rahim

Sifat rahman sebenarnya tidak dapat berdiri sendiri pada diri seorang makhluk. Setiap sifat rahman selalu bersanding dengan sifat rahim yaitu sifat menyayangi orang lain. Akal pada diri seseorang dalam memahami kehendak Allah hanya akan tumbuh dengan benar apabila ada sifat menyayangi orang lain. Suatu pemahaman terhadap tuntunan kitabullah yang tumbuh dari sifat kejam atau keras hati tanpa rasa menyayangi orang lain tidak menunjukkan adanya akal, tetapi hanya merupakan hasil pikiran saja. Banyak orang munafiq yang menggunakan ayat-ayat Allah hanya berdasarkan pikiran saja untuk keuntungan mereka tanpa ada keinginan menyayangi orang lain, misalnya memenangkan perkara yang diperselisihkan. orang-orang musyrik juga menyusun ajaran yang menyesatkan manusia menggunakan penggalan ayat-ayat Allah, sedemikian kaum muslimin tersesat dan manusia memandang buruk ajaran Islam karena melihat apa yang dibuat kaum musyrikin. Pemahaman yang benar terhadap ayat-ayat Allah hanya akan tumbuh dengan benar pada diri seseorang apabila disertai dengan sifat menyayangi orang lain.

Sifat rahim harus dibina dan diwujudkan dengan menjalin shilaturrahmi kepada orang lain, tidak dibiarkan hanya sebagai benih berupa keinginan saja memberikan kebaikan kepada orang lain. Setiap muslim hendaknya menjalin hubungan baik dengan orang lain sesuai keadaan masing-masing. Bagi orang beriman, shilaturrahmi hendaknya dibentuk terutama untuk mendukung langkah mewujudkan kehendak Allah, membentuk suatu jamaah dengan hubungan tertentu antara satu orang dengan yang lain. Inti pembentukan jamaah demikian dilakukan dan dikembangkan dengan membina pernikahan. Setiap orang beriman hendaknya berusaha mengenal peran masing-masing dalam hubungan sosial yang dibentuk. Seorang suami berusaha mengenal khazanah yang ada pada isterinya dan berusaha mewujudkan khazanah itu, dan seorang isteri berusaha dengan sebaik-baiknya untuk mengimbangi dan membantu mewujudkan upaya suaminya menunaikan amal. Pengenalan khazanah itu hendaknya diluaskan dengan menjalin hubungan shilaturrahmi dengan jamaah yang lain mewujudkan khazanah-khazanah yang dapat dikenal. Orang-orang yang mengenal suatu kandungan kitabullah Alquran harus berusaha mengenal sahabat yang mengenal kandungan lain kitabullah untuk memimpin mukminin lain merumuskan amal-amal yang perlu dilakukan. Hubungan shilaturrahmi demikian apabila mungkin harus dikembangkan untuk diterapkan dalam bernegara agar terbentuk tatanan masyarakat madani.

Shilaturrahmi merupakan landasan pertumbuhan sosial bagi setiap orang. Tanpa suatu shilaturrahmi, seseorang tidak akan dapat berkembang secara sosial. Pertumbuhan sosial ini sangat ditentukan oleh pernikahan. Tidak ada seorang laki-laki yang dapat berperan sosial dengan baik tanpa seorang isteri yang baik mendampinginya. Hubungan sosial yang dibentuk melalui keluarga yang baik akan membentuk hubungan yang sesuai dengan keadaan diri seseorang. Pembinaan shilaturrahmi yang baik akan tercapai dengan pembinaan keluarga yang baik. Pasangan menikah yang baik akan berfungsi layaknya pakaian memancarkan aura yang tepat dari diri seseorang sehingga terbentuk hubungan sosial yang tepat baginya. Pakaian yang buruk akan memancarkan aura kehinaan dari diri seseorang dalam pandangan masyarakat sedemikian mereka akan sulit membentuk shilaturahmi yang baik. Kadangkala aura yang dipancarkan pakaian itu sendiri bisa mengalahkan nilai intrinsik yang sebenarnya ada pada diri seseorang hingga menimbulkan fitnah atas diri seseorang.

Sebagai gambaran, kadangkala seseorang ingin membentuk hubungan sosial untuk suatu perjuangan yang baik bagi negerinya, akan tetapi mungkin yang datang kepada mereka justru para penjahat yang menggerogoti harta dan perjuangannya karena aura yang tidak tepat dipancarkan orang tersebut. Hal demikian itu mudah terjadi bila pembinaan shilaturrahmi tidak dilakukan melalui pembinaan keluarga yang baik. Kadangkala syaitan dan musyrikin penyembahnya bisa menempatkan wakil dari mereka sebagai pembantu terdekat bagi orang yang baik demikian hingga perjuangannya menjadi kacau atau bahkan orang itu sendiri menjadi rusak. Demikian pula kadangkala seseorang yang ikhlas berjuang untuk agamanya tidak dipercaya oleh masyarakat karena keluarganya berantakan. Mungkin saja pembacaan ayat kitabullah yang benar tidak dipandang ada nilainya oleh masyarakat atau komunitasnya, dan begitu pula amal-amalnya dipandang sebagai sumber masalah bagi orang lain. Demikian itu contoh yang bisa terjadi karena shilaturrahmi yang tidak dilandaskan pada pembinaan keluarga. Membentuk komunitas sosial harus dilakukan dengan membina keluarga yang baik, karena hal itu akan menjadikan komunitas yang dibentuk dapat berjalan searah dengan visi diri, terutama apabila seseorang berkeinginan untuk menjadi pelayan bagi kehendak Allah. 

Bagi para hamba Allah, kehendak Allah seringkali tidak dapat ditunaikan tanpa keluarga membersamai. Orang beriman harus membina suatu bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah sebagai bagian dari tahap perkembangan taubat yang harus dilalui. Bayt demikian itu merupakan sarana yang sangat penting dalam pelaksanaan kehendak Allah, dan merupakan suatu penanda bahwa langkah taubat seseorang berada pada jalan yang benar. Melewatkan urusan demikian merupakan tanda kesesatan. Mungkin seseorang tidak berhasil membina bayt tetapi ia tidak melewatkan perhatian terhadap pembinaan bayt, maka ia sebenarnya masih berada di jalan yang benar. Sebaliknya mungkin seseorang berhasil berperan sosial untuk masyarakatnya akan tetapi melupakan pembinaan keluarganya, maka boleh jadi ia berada dalam kesesatan. Mungkin mereka hanya memperturutkan hawa nafsu saja, atau menginginkan harta dan kedudukan di antara manusia, atau syaitan dan hal lain yang merupakan tanda ia tidak di jalan Allah. orang yang beriman harus membina keluarga sebagai bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Rumah yang baik juga berfungsi bagi setiap orang, bukan hanya bagi orang-orang yang shalih. Seorang fir’aun pun menjadi lebih terpandang dibanding fir’aun lainnya manakala menikah dengan Asiyah binti Muzahim.

Pernikahan merupakan wahana pertumbuhan paling baik bagi sifat rahman dan rahim. Manakala seseorang tidak bisa tumbuh menyayangi keluarga sendiri, kasih sayangnya kepada orang lain mungkin merupakan kasih sayang palsu, atau kasih sayang yang tidak selaras dengan kehendak Allah. Ukuran demikian ini bersifat subjektif, hanya dapat digunakan untuk mengukur diri sendiri karena kompleksnya variabel dalam rumah tangga yang tidak dapat dilihat orang lain. Kadangkala kasih sayang dan sifat baik tidak tumbuh bersama dalam pernikahan, maka orang lain tidak bisa mengukur tanda pertumbuhan kasih sayang mereka dengan benar. Kasih sayang dalam keluarga merupakan bentuk kasih sayang yang paling kokoh dan benar karena ujian intensif yang terjadi dalam rumah tangga. Tumbuhnya kasih sayang dalam keluarga itu merupakan landasan kekuatan untuk menjalin shilaturrahmi dengan orang lain, sedemikian pewujudan pengetahuan terhadap kehendak Allah dapat dilaksanakan. Terputusnya kasih sayang dalam keluarga akan memutuskan penopang upaya pewujudan pengetahuan seseorang terhadap kehendak Allah.

Dengan fungsi sosial semacam ini, pernikahan menjadi setengah bagian dari agama. Untuk memahami hal ini, Agama harus ini dilihat sebagai pelaksanaan ibadah yang seutuhnya berupa pelaksanaan ibadah yang dicontohkan Rasulullah SAW dan pelaksanaan amal-amal yang diwujudkan berdasarkan pemahaman terhadap kehendak Allah melalui tuntunan kitabullah dan ayat kauniyah yang terjadi. Manakala agama dibatasi pada syariat ibadah yang dicontohkan Rasulullah SAW, agama sebagai setengah bagian dari agama menjadi sulit dipahami. Agama harus dipahami dalam lingkup yang lebih lengkap dalam pelaksanaan kehendak Allah. Agama merupakan pelaksanaan fitrah penciptaan diri manusia, bukan sekadar pelaksanaan syariat yang dicontohkan Rasulullah SAW saja. Kaum musyrikin benar-benar membangkitkan batasan amal dalam agama secara sempit sebagai sarana membangkitkan firqah-firqah dengan kebanggaan-kebanggaan yang keliru di antara firqah-firqah di antara kaum muslimin. Dengan berusaha memahami batasan agama secara lebih lengkap, kebanggaan yang keliru sebagai bahan memecah-belah umat islam akan terkurangi.

Jumat, 12 Juni 2026

Kemenangan Dengan Jihad di Jalan Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk berjihad di jalan Allah.

﴾۰۲﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ اللَّهِ وَأُولٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
﴾۱۲﴿يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُم بِرَحْمَةٍ مِّنْهُ وَرِضْوَانٍ وَجَنَّاتٍ لَّهُمْ فِيهَا نَعِيمٌ مُّقِيمٌ
(20) orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (21) Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari pada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kenikmatan yang menetap QS At-Taubah : 20-21)

Setiap orang harus berusaha mengenali jalan jihad masing-masing hingga mengenali jihad di jalan Allah dengan baik. Jalan Allah adalah jalan yang dikenali oleh orang-orang yang mengenal kehendak Allah, yang diperoleh orang yang telah beriman dan telah berhijrah. Berjihad di jalan Allah adalah bersungguh-sungguh melakukan usaha untuk menunaikan kehendak Allah atas diri manusia. Jihad di jalan Allah tidak hanya ditunaikan oleh orang-orang yang secara pasti mengenal kehendak Allah atas diri mereka, karena orang-orang yang mengikuti langkah jihad di jalan Allah juga akan dihitung sebagai berjihad di jalan Allah selama niatnya ikhlas untuk Allah sedangkan mereka mengetahui tuntunan-tuntunan dari firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW terkait dengan jihad yang mereka lakukan. Sebaliknya sekalipun mengikuti jihad bersama Rasulullah SAW di jalan Allah, seseorang yang niatnya tidak benar akan tetap menjadi orang yang celaka sekalipun ia terbunuh dalam jihad itu.

Syarat-Syarat Kemenangan

Terdapat dua keadaan yang menjadi syarat agar suatu jihad menjadi jihad di jalan Allah, yaitu beriman dan berhijrah. Dengan terpenuhinya kedua syarat tersebut, jihad yang dilakukan suatu kaum akan menjadi lurus sehingga efektif mendatangkan hasil-hasil berupa kebaikan. Banyak orang yang berjihad tetapi keimanan mereka atau yang mereka ikuti hanya lemah, maka jihad mereka tidak mendatangkan hasil yang baik. Mungkin suatu kaum sibuk melakukan banyak amal-amal yang dipandang baik, tetapi amal-amal mereka tidak menyentuh akar masalah yang dihadapi. Keimanan yang lurus dan hijrah akan menjadikan jihad oleh suatu kaum mendatangkan kebaikan dengan efektif.

Orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka akan mempunyai derajat yang tinggi di sisi Allah. Normalnya, tingginya derajat manusia di sisi Allah juga akan menampakkan ketinggian derajat mereka dalam pandangan manusia. orang yang beriman dan berhijrah dan berjihad di jalan Allah akan tampak sebagaimana layaknya orang-orang yang berpengetahuan dengan cahaya keimanan mereka, sedemikian mereka dapat mensikapi peristiwa-peristiwa yang terjadi secara tepat sesuai dengan cahaya Allah yang mereka pahami. Mereka bukan orang-orang yang tidak mempunyai pengetahuan terhadap peristiwa-peristiwa di alam kauniyah hingga bisa bisa dipermainkan. Walaupun demikian, mungkin saja tingginya derajat di sisi Allah itu ditutupi dengan suatu fitnah, terutama bagi pandangan umat manusia yang akalnya lemah.

Orang yang beriman, berhijrah dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka adalah orang-orang yang memperoleh kemenangan. Manakala seluruh syarat berjihad di jalan Allah sebagaimana tersebut di atas telah dipenuhi oleh kaum mukminin, mereka akan menjadi orang-orang yang memperoleh kemenangan. Mungkin banyak orang beriman yang merasa telah berjihad di jalan Allah akan tetapi tidak tampak bagi mereka tanda-tanda kemenangan, maka seharusnya mereka memeriksa kembali persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi dalam jihad mereka. Setiap orang hendaknya memeriksa keimanan mereka, memeriksa hijrah mereka, memeriksa apa yang mereka anggap sebagai jalan Allah, memeriksa infaq dari harta mereka dan memeriksa keikhlasan mereka dalam melaksanakan jihad. Adanya kekuorangan dalam syarat-syarat yang harus dipenuhi akan menjadikan jihad tidak mendatangkan kemenangan.

Suatu jihad di jalan Allah bukan berbentuk suatu usaha coba-coba, tetapi usaha yang dilakukan di atas suatu pengetahuan berdasarkan keimanan. Pengetahuan demikian bersifat mudah dipahami oleh orang yang ingin mengikuti. Mungkin ada orang yang mengingkari karena tidak ada keinginan kembali kepada Allah, akan tetapi sebenarnya pengetahuan demikian itu bukan sesuatu yang bisa diperdebatkan. Orang yang mengenal jalan Allah akan memahami firman-firman Allah terkait langkah yang harus dilakukan. Manakala suatu jihad dilakukan di atas kebutaan terhadap langkah yang dituntun Allah, jihad itu bukan jihad di jalan Allah. Setiap jihad di jalan Allah dilakukan dengan pengetahuan berdasar keimanan. Dalam hal ini, keimanan bukan hanya rasa percaya, tetapi juga pengetahuan dan keyakinan tentang adanya kebaikan pada hal-hal yang menjadi objek keimanan. Percaya adanya Allah saja belum tentu menunjukkan seseorang beriman kepada Allah. Iman kepada Allah ditunjukkan dengan adanya pengetahuan dan keyakinan tentang kehendak Allah yang mengarahkan diri mereka pada kebaikan. Keimanan terhadap kitabullah ditunjukkan dengan pengetahuan terhadap kandungan ayat demi ayat kitabullah, bukan sekadar mempercayai bahwa Alquran adalah firman yang diturunkan Allah. Langkah jihad di jalan Allah hanya dilakukan di atas pengetahuan dari cahaya Allah. Mungkin banyak orang berjihad untuk suatu kebaikan tetapi sebenarnya belum mencapai jihad di jalan Allah, maka jihad mereka tidak mendatangkan kemenangan.

Salah satu penyakit besar yang berpotensi besar menghalangi umat untuk berjihad di jalan Allah yang umum terjadi diantaranya berupa keengganan menggunakan akal untuk memahami penjelasan-penjelasan tuntunan Allah. Sebagian orang beriman tidak mau membuka mata terhadap persoalan umat yang terjadi, tidak mau memasang telinga untuk mendengar ayat Allah yang dijelaskan kepada mereka bahkan kala terkait peristiwa kauniyah, tidak pula menggunakan hati untuk memahami ayat-ayat Allah yang harus diperjuangkan. Mereka berjuang untuk urusan yang hinggap dalam benak mereka sendiri tanpa merasa perlu memahami masalah yang terjadi menurut tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Amal yang terbentuk dari orang yang berpenyakit demikian seringkali berupa kesibukan yang banyak akan tetapi tidak menyentuh masalah yang terjadi. Mereka seolah-olah banyak beramal shalih tetapi tidak mendatangkan hasil yang semestinya, dan sebenarnya mereka jauh dari kemenangan. Banyak muslim atau mukmin yang tidak mempunyai perhatian terhadap penjelasan-penjelasan terkait tuntunan kitabullah karena merasa telah mempunyai pengetahuan tentang jalan Allah.

Faktor kemenangan yang terbesar bagi orang yang berjihad di jalan Allah itu sendiri berupa terangnya jalan karena pengetahuan berdasar keimanan. Mungkin seseorang mati syahid dalam jihadnya sebelum mencapai kemenangan di alam dunia, akan tetapi kematiannya itu sendiri merupakan kemenangan bagi mereka. Alam setelah kematian akan menjadi terang benderang bagi mereka, lebih terang daripada terangnya pengetahuan mereka sebelumnya dalam kehidupan di alam dunia. Manakala seseorang tidak meninggal dalam jihad di jalan Allah, mereka akan selalu melihat jalan yang terang dalam jihadnya di jalan Allah berdasarkan tuntunan cahaya Allah, hingga mereka bisa memperoleh kemenangan di alam dunia melalui jihad mereka. Manakala suatu kaum berjihad di jalan Allah dalam kegelapan, mungkin mereka belum benar-benar menghayati tuntunan Allah bagi jihad mereka. Jihad di jalan Allah dilakukan dengan suatu pandangan berdasarkan pengetahuan yang terang.

Faktor kemenangan lain yang harus diperhatikan adalah jihad dengan sepenuh jiwa dan infaq dengan harta. Orang yang telah mempunyai pengetahuan atau penglihatan tentang jalan Allah harus bersungguh-sungguh “menjual” dirinya kepada Allah untuk melaksanakan jihad di jalan Allah. Hal ini harus dilakukan apabila seseorang telah melihat jalan Allah berdasarkan cahaya Allah yang dipahami, baik dengan pikirannya ataupun akalnya. Sangat banyak hal yang mungkin akan menghalangi seseorang “menjual” dirinya. Keinginan terhadap keinginan duniawi merupakan penghalang yang ada dalam diri setiap manusia. Selain itu mungkin umat akan menghalangi. Mungkin keluarga akan selalu mengajukan tuntutan nafkah bagi mereka sedemikian seseorang tidak bisa sepenuhnya berjihad di jalan Allah. Dalam hal keluarga, sebenarnya keluarga perlu disertakan dalam jihad dengan membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, akan tetapi mungkin saja pembinaan demikian tidak berhasil dilakukan sedemikian upaya “menjual” nafs untuk jihad di jalan Allah menjadi terhambat. Ini akan mempengaruhi terwujudnya kemenangan. Demikian pula masyarakat luas mungkin mendatangkan halangan bagi seseorang untuk menjual diri mereka kepada Allah, dan menghalangi datangnya kemenangan.

Infaq dalam bentuk harta merupakan faktor kemenangan dalam jihad di jalan Allah yang mudah dipahami oleh manusia secara umum. Setiap usaha akan membutuhkan modal usaha, dan modal ini harus dikelola oleh kaum mukmin dengan sebaik-baiknya sebagai pelancar melaksanakan jihad di jalan Allah. Sebenarnya ada sedikit perbedaan pandangan antara masyarakat umum tentang modal dengan infaqa orang yang berinfaq di jalan Allah. Infaq di jalan Allah merupakan harta yang akan ditumbuhkan Allah sebagai kebaikan-kebaikan di semesta alam. Bila hanya sedikit infaq yang diberikan di jalan Allah, akan sedikit pula kebaikan yang tumbuh, walaupun tetap saja harta itu dilipatgandakan sebagai kebaikan. Yang penting diperhatikan oleh orang yang berinfaq, pertumbuhan atau pelipatgandaan kebaikan yang akan muncul dari harta yang diinfaqkan akan ditentukan oleh bentuk jihad yang dilakukan oleh pemakai infaq. Manakala infaq diberikan kepada orang-orang munafiq, mungkin harta infaq yang diberikan hanya akan hangus atau membakar balik tidak tumbuh sebagai kebaikan. Infaq yang digunakan untuk kebaikan akan mendatangkan kebaikan dalam lipatganda tertentu. Infaq yang sebaik-baiknya adalah yang diberikan untuk jihad di jalan Allah. Infaq demikian akan tumbuh menjadi kebaikan yang sebaik-baiknya. Kadangkala umat memberikan infaq yang besar pada urusan-urusan yang tidak penting dan justru membiarkan jihad di jalan Allah tidak memperoleh infaq, sedangkan jihad itu yang akan melipatgandakan kebaikan paling besar dari infaq yang diberikan.

Berbagai Ladang Jihad

Dunia islam saat ini kebanyakan mungkin bisa dikatakan berada dalam ketiak orang-orang musyrik. Negara masyarakat muslim yang besar ini harus memberikan upeti kepada pihak asing dengan menyerahkan pengelolaan berbagai harta kekayaan alam, sedangkan masyarakat bangsanya sendiri hidup dalam kemiskinan. Pemerintah harus menyediakan fasilitas untuk militer asing agar tidak diguncang dengan pergantian penguasa. Keadaan demikian merupakan bentuk kegelapan yang seharusnya tersingkap dengan keimanan, dan dihilangkan dengan jihad di jalan Allah. Ini bukan persoalan yang sepenuhnya merupakan kesalahan orang-orang yang haus akan kekuasaan, tetapi juga dipengaruhi oleh pembinaan di antara kaum muslimin dan mukminin. Bila masyarakat muslim dan mukmin dapat melihat jalan Allah kemudian mereka beriman, berhijrah dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka, bangsa muslim akan menjadi bangsa yang memperoleh derajat yang tinggi dan memperoleh kemenangan.

Sayangnya tampaknya hal demikian belum terjadi. Kebanyakan muslimin hanya dapat berkeluh kesah tentang kesulitan yang menimpa diri mereka tanpa mengetahui jalan keluar yang dapat diusahakan. Kitabullah yang bisa memberikan penjelasan tentang keadaan mereka tidak tersentuh kandungannya oleh kebanyakan muslim. Ada sebagian muslimin tidak mengetahui jalan untuk memahami, sebagian yang mengetahui jalan merasa malas untuk memahami hanya mengikuti persangkaan kebenaran yang telah terbentuk, sebagian yang bersemangat berjihad hanya memperturutkan pikiran sendiri. orang-orang yang bisa memahami justru tidak dihiraukan. Kebanyakan masyarakat muslimin dan mukminin hanya mengikuti perkataan orang-orang yang mereka pandang benar tanpa berusaha mengikuti tuntunan kitabullah. Dengan berbagai keadaan, tuntunan kitabullah tentang keadaan yang terjadi atas diri kaum muslimin itu menjadi tidak tersentuh, maka kaum muslimin hanya dapat mengeluh tentang keadaan mereka.

Apabila masyarakat muslim mau mengikuti ajaran yang dapat menyentuh tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW secara benar, mereka sebenarnya akan mengetahui jalan Allah, dan mereka akan memperoleh jalan untuk berjihad di jalan Allah. Jihad di jalan Allah itulah yang akan mengantarkan kaum muslimin untuk memperoleh derajat yang tinggi dan memperoleh kemenangan. Ini berlaku apabila disertai dengan memenuhi persyaratan-persyaratan yang lain. Upaya muslim mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan menghadapi berbagai halangan dan rintangan yang sangat banyak. Banyak pengajaran-pengajaran palsu yang dibuat oleh kaum musyrikin agar muslimin tidak bisa mengikuti tuntunan Allah. Musyrikin benar-benar berusaha agar muslimin dan mukminin tidak bisa memperhatikan pengajaran yang benar yang menyentuh kandungan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ada pula bakal ditemukan upaya jihad tetapi sebenarnya hanya merupakan dasar ajaran yang benar belum menyentuh kandungan kitabullah. Ada pula pengajaran-pengajaran yang tampak tinggi akan tetapi sebenarnya menyimpang dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sangat banyak halangan yang harus dihadapi oleh kaum muslimin dan mukminin untuk mengenal dan mengikuti ajaran yang menyentuh tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW secara benar. Setiap muslim harus bersungguh-sungguh menggunakan pikiran dan akalnya dengan benar agar dapat mengenali ajaran yang menyentuh tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW secara benar.

Pada kenyataannya, kebanyakan muslimin dan mukminin tidak m3emperhatikan tuntunan Allah dengan benar. orang yang berjuang untuk menegakkan tuntunan Allah dan sunnah Rasulullah SAW seringkali harus tersingkirkan dari masyarakat terkalahkan oleh yang lain, baik yang jahat seperti kaum yang mengaku-aku sebagai kaum yang paling sunnah tanpa mengerti peringatan Rasulullah SAW tentang ajaran yang mereka ikuti, ataupun kaum yang tidak benar-benar mengerti tentang tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW baik karena kurangnya akal ataupun karena kesesatan. Selama orang yang berjihad di jalan Allah menegakkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hanya menjadi kaum pinggiran di antara umat islam, umat islam akan berada dalam kehidupan yang sempit dan disempitkan oleh kaum musyrikin. Derajat yang tinggi dan kemenangan itu diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman, berhijrah dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka.





Kamis, 11 Juni 2026

Menguatkan Pondasi Jihad

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk berjihad di jalan Allah.

﴾۰۲﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ اللَّهِ وَأُولٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
﴾۱۲﴿يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُم بِرَحْمَةٍ مِّنْهُ وَرِضْوَانٍ وَجَنَّاتٍ لَّهُمْ فِيهَا نَعِيمٌ مُّقِيمٌ
(20) orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.(21) Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari pada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kenikmatan yang menetap QS At-Taubah : 20-21)

Setiap orang harus berusaha mengenali jalan jihad masing-masing hingga mengenali jihad di jalan Allah dengan baik. Seseorang mungkin harus berjihad untuk berikrar dua kalimah syahadat untuk menjadi muslim. Seorang muslim mungkin harus menempuh jalan tazkiyatun nafs agar iman masuk ke dalam hati mereka. orang yang menempuh jalan tazkiyatun nafs mungkin harus berjuang mengalahkan hawa nafsu dan berjuang memahami tuntunan kitabullah secara lurus. Seorang yang mengenal diri mungkin harus berjuang mengenali urusan yang dikenalinya dalam urusan Rasulullah SAW agar ia tetap dalam Al-Jamaah, dan ia berusaha membina bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya. Demikian seterusnya sedemikian setiap orang beriman membentuk akhlak mulia untuk memperoleh kesempurnaan iman. Dengan terbentuknya keimanan, seseorang akan mengenali sungguh-sungguh jihad di jalan Allah, bukan hanya persangkaan di jalan Allah saja. Setiap orang harus menemukan jihad masing-masing hingga mengenal jihad di jalan Allah.

Setiap orang harus melakukan jihad hingga mencapai jihad di jalan Allah. Jalan Allah adalah jalan yang dikenali oleh orang-orang yang mengenal kehendak Allah, yang diperoleh orang yang telah beriman dan telah berhijrah. Berjihad di jalan Allah adalah bersungguh-sungguh melakukan usaha untuk menunaikan kehendak Allah atas diri manusia. Jihad di jalan Allah tidak hanya ditunaikan oleh orang-orang yang secara pasti mengenal kehendak Allah atas diri mereka, karena orang-orang yang mengikuti langkah jihad di jalan Allah juga akan dihitung sebagai berjihad di jalan Allah selama niatnya ikhlas untuk Allah dan mengetahui tuntunan-tuntunan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW terkait dengan jihad yang mereka lakukan. Sebaliknya sekalipun mengikuti jihad bersama Rasulullah SAW di jalan Allah, seseorang yang niatnya tidak benar akan tetap menjadi orang yang celaka sekalipun ia terbunuh dalam jihad itu. Setiap orang harus berusaha membangun keikhlasan dalam berjihad dan membangun pengetahuan terkait dasar-dasar jihad yang dilakukan.

Prakondisi Jihad di Jalan Allah

Terdapat dua keadaan yang menjadi syarat agar suatu jihad bisa mengarah menjadi jihad di jalan Allah, yaitu beriman dan berhijrah. Dengan terpenuhinya kedua syarat tersebut, jihad yang dilakukan suatu kaum akan menjadi lurus sehingga efektif mendatangkan hasil-hasil berupa kebaikan. Banyak orang yang berjihad tetapi keimanan yang mereka ikuti hanya lemah, maka jihad mereka tidak mendatangkan hasil yang baik. Mungkin suatu kaum sibuk melakukan banyak amal-amal yang dipandang baik, tetapi amal-amal mereka tidak menyentuh akar masalah yang dihadapi. Keimanan yang lurus dan hijrah akan menjadikan jihad oleh suatu kaum mendatangkan kebaikan dengan efektif.

Keimanan bukan hanya ditunjukkan dengan adanya rasa percaya, tetapi juga pengetahuan dan keyakinan tentang adanya kebaikan pada hal-hal yang menjadi objek keimanan mereka. Percaya adanya Allah saja belum tentu menunjukkan seseorang beriman kepada Allah. Iman kepada Allah ditunjukkan dengan adanya pengetahuan dan keyakinan tentang kehendak Allah yang mengarahkan diri mereka pada kebaikan. Keimanan terhadap kitabullah juga ditunjukkan dengan pengetahuan seseorang terhadap kandungan dalam ayat demi ayat kitabullah, bukan sekadar mempercayai bahwa Alquran adalah firman yang diturunkan Allah. Kepercayaan demikian baru merupakan dasar keimanan. Orang-orang yang berserah diri (islam) tidak selalu tergolong sebagai orang-orang beriman. Keislaman ditunjukkan dengan sikap berserah terhadap ketentuan-ketentuan Allah dengan berusaha mengikuti perintah dan laorangan Rasulullah SAW, sedangkan keimanan ditunjukkan dengan adanya cahaya iman dari Allah yang memasuki hati seseorang, sedemikian orang tersebut menjadi beriman.

Pengetahuan dan keyakinan adanya kebaikan ini bukan berupa keyakinan membuta atau dibuat-buat, tetapi karena terbentuknya akhlak yang baik sedemikian seseorang mengerti nilai-nilai kebaikan pada objek yang diimaninya. Dalam jihad, orang beriman melangkah dengan suatu pengenalan terhadap nilai kebaikan dalam jihadnya, bukan melangkah dengan dasar fanatisme. Seseorang boleh saja berjihad berdasar niat hanya berupa persangkaan kebaikan saja, tetapi ia baru dalam kategori muslim, bukan orang beriman. Seorang yang beriman mengenal kebaikan dalam objek yang diimani. Orang beriman tidak mungkin menentang  ayat kitabullah. Orang beriman tidak terjebak pada suatu hal sia-sia atau keburukan yang dibuat indah oleh syaitan kecuali ia mengetahui kesalahan dalam langkahnya. Manakala seseorang terjebak pada hal demikian dan ia memandangnya baik, ia sebenarnya belum beriman dalam urusan tersebut. Akhlaknya belum mampu mengenali kesia-siaan atau keburukan pada urusan tersebut, maka sebenarnya ia belum beriman dalam urusan tersebut.

Ada banyak tingkatan keimanan yang mungkin ada pada seorang mukmin. Belum adanya keimanan tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang kafir. Kekafiran menunjukkan tidak adanya keimanan, tetapi ada banyak tingkatan yang mungkin ditemukan di antara keimanan dan kekafiran. Dalam keimanan-pun sangat banyak adanya tingkatan keimanan. Mungkin seseorang beriman dalam hatinya secara remang-remang saja hingga belum bisa benar-benar mengenali keburukan dan kebaikan pada suatu urusan. Mungkin pula seseorang telah beriman pada urusan-urusan tertentu dan belum beriman pada urusan tertentu lainnya. Keadaan demikian menunjukkan bahwa imannya belum sempurna. Keimanan adalah pengenalan terhadap nilai kebaikan dalam aspek keimanan karena terbentuknya akhlak mulia selaras dengan akhlak yang dikehendaki Allah.

Berhijrah dilakukan dengan berusaha selalu meningkatkan akhlak menuju kemuliaan sedemikian keimanan setiap mukmin menjadi sempurna relatif untuk dirinya sendiri. Kesempurnaan relatif ditandai dengan pengenalan seseorang terhadap untuk apa dirinya diciptakan. Seseorang yang mengenal nafsnya dikatakan telah mengenal rabb-nya. Ini adalah kesempurnaan iman secara relatif. Kesempurnaan iman mutlak ada pada diri Rasulullah SAW di mana beliau SAW mengenal seluruh kebenaran yang hendak diperkenalkan Allah kepada seluruh alam semesta, sedangkan kesempurnaan iman relatif bisa diperoleh oleh orang-orang yang mengenal penciptaan dirinya. Mereka mengenal kehendak Allah setidaknya untuk diri mereka sendiri, dan bisa menunjukkan (sebagian) kehendak Allah bagi orang lain atau umatnya. Mereka mengenal tuntunan Allah terkait urusan yang harus ditunaikannya, dan diberi kemudahan untuk memahami tuntunan Allah yang lain dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka dapat melihat langkah-langkah yang mendatangkan kebaikan bagi diri sendiri dan bagi umat mereka dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap orang beriman hendaknya berhijrah menuju peningkatan kemuliaan akhlak secara lurus.

Fundamen Berjihad dan Pertumbuhannya

Orang yang menyeru jihad di jalan Allah harus memperhatikan keadaan orang yang diseru berdasarkan keimanan dan hijrah mereka. orang yang berjihad di jalan Allah harus membangun pondasi keimanan terlebih dahulu sebagai pijakan untuk berjihad, dan mempunyai keinginan untuk berhijrah mewujudkan kehidupan yang lebih mulia dalam pandangan Allah tidak terus menerus hidup hanya memperturutkan hasrat rendah atau terus hidup tanpa arah. Manakala keimanan umat dalam keadaan ruwet bercampur-campur dengan kebathilan, jihad di jalan Allah akan sulit ditegakkan dengan lurus atau sulit mendatangkan hasil. Keimanan umat harus dibangun terlebih dahulu sedemikian umat mempunyai keimanan yang lurus. Demikian pula umat hendaknya mempunyai visi arah kehidupan yang harus ditempuh dan bisa dicapai sesuai dengan keadaan masing-masing, baik arah yang dekat ataupun cita-cita akhir dekat kepada Allah, tidak terjebak mensikapi keimanan layaknya utopia yang tidak mungkin diraih. Dengan keimanan dan visi melangkah, umat islam hendaknya diseru untuk berjihad.

Jihad di jalan Allah tidak selalu berbentuk peperangan secara fisik. Misalnya kaum khawarij berusaha meruntuhkan islam dengan menyebarkan ajaran tauhid yang mereka buat sendiri, maka ajaran demikian harus diluruskan dengan tauhid yang benar. Demikian pula kaum musyrikin membuat gerakan-gerakan menyemarakkan LGBT hingga bisa meluas di masyarakat agar manusia dan tatanan masyarakat menjadi berantakan, maka mencegah penyebaran waham LGBT merupakan jihad. Melawan hal-hal demikian termasuk jihad di jalan Allah. Pengajaran tauhid yang benar harus ditegakkan di antara kaum beriman terlebih dahulu untuk meluruskan jalan tauhid di antara umat islam. Mustahil menegakkan jihad secara lurus berdasarkan tauhid yang diajarkan oleh kaum khawarij. Muslimin tidak akan mengerti apa yang harus diluruskan dengan jihad manakala mereka tidak mengetahui jalan tauhid yang lurus, sedangkan sangat sulit membangun kemakmuran muslimin manakala tauhid mereka masih sama dengan tauhid kaum khawarij. Jihad menegakkan tauhid dan melawan perusakan masyarakat secara halus termasuk jihad di jalan Allah.

Dewasa ini upaya jihad orang-orang beriman tampaknya sangat lemah karena perhatian kaum mukminin terhadap kebenaran dari sisi Allah terlihat kurang memadai. Sebagian pengajaran kebenaran tampak hanya tersia-sia, dibiarkan tidak dipahami mukminin. Bahkan pengajaran tauhid sekalipun tidak mendapat perhatian yang mencukupi. Kaum munafiq khawarij sedemikian besar berinfaq untuk menyebarluaskan tauhid palsu, sedangkan kaum mukminin tidak terlihat berkeinginan menggali pengetahuan tentang tauhid dan tidak berjihad secara cukup untuk menyebarluaskan tauhid mengikuti Rasulullah SAW. Demikian pula tidak terlihat kaum mukminin berjihad secara sistematis melakukan pembinaan keluarga sebagai bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya, sedemikian gerakan LGBT tidak mempunyai lawan berupa kebenaran yang memadai hingga kesesatan LGBT bisa diterima oleh sebagian masyarakat. Masyarakat sendiri tidak mempunyai visi yang mencukupi seberapa merusaknya LGBT bagi manusia dan tatanan masyarakat sehingga ide LGBT bisa masuk. Melawan dosa-dosa demikian termasuk sebagai jihad di jalan Allah.

Tauhid dan pembinaan bayt merupakan benteng paling fundamental bagi kaum mukminin melawan perusakan akhlak manusia. Apabila kaum mukminin tidak cukup memperhatikan pembinaan fundamen tersebut, akan sangat sulit bagi kaum mukminin untuk memakmurkan bumi dengan amal shalih. Suatu kaum mungkin memandang suatu persoalan tertentu sebagai perusak, tetapi orang yang lain tidak bisa memahami kerusakan yang terjadi karena kurangnya pembinaan tauhid dan arah hijrah yang benar. Banyak masalah dapat timbul dalam jihad di jalan Allah karena kurangnya keimanan dan keinginan berhijrah di antara kaum mukminin. Kadangkala terjadi perselisihan berupa tidak adanya titik temu dalam melihat masalah dalam jihad. Misalnya mungkin sebagian orang beriman mungkin mengeluhkan suatu persoalan tertentu yang tidak diperhatikan oleh mukminin lain, sedangkan mukminin yang lain memperhatikan kebenaran yang lain yang mereka kenali. Mungkin masing-masing mengeluhkan hal yang tidak diperhatikan atau disia-siakan oleh umat manusia. Masing-masing pihak mengeluhkan satu hal dari pihak lain tanpa titik temu di antara keduanya. Persoalan ini bisa terjadi apabila manusia tidak mengerti fundamen-fundamen dalam pembinaan manusia.

Tauhid dan pembinaan bayt harus menjadi perhatian utama pembinaan sebagai fundamen pembinaan akhlak mulia. Kaum yang tidak membina akhlak mulia dengan fundamen yang benar tidak akan memahami ayat Allah yang digelar. Tidak jarang mereka tidak mengenali kebenaran yang disampaikan, dan tidak mempunyai perhatian yang mencukupi terhadap ayat-ayat yang digelar bagi mereka. Demikian pula kaum yang keimanan mereka tumbuh secara menyimpang, mereka mungkin memperhatikan ayat Allah akan tetapi dilakukan secara menyimpang tidak selaras dengan tuntunan Allah. Untuk membangkitkan kepedulian suatu kaum terhadap ayat-ayat Allah, hendaknya dibina keimanan dan keinginan berhijrah pada diri mereka secara benar. Pembinaan keimanan secara keliru akan membengkokkan proses yang seharusnya terjadi di antara kaum mukminin.

Pembinaan keimanan dan keinginan berhijrah harus dilakukan hingga umat menjadi bagian dari al-jamaah yang saling tolong menolong dalam kebaktian dan ketakwaan, tidak saling menjatuhkan satu dengan yang lain. Persoalan demikian seringkali menyentuh dasar pembinaan dan mendatangkan madlarat yang nyata bagi umat. Ketika seorang mukmin, yang biasanya dihormati manusia, menjatuhkan orang lain, orang tersebut akan kehilangan pijakan untuk beramal. Bila yang dijatuhkan adalah seorang mukmin, amr Allah yang ada pada dirinya akan tersia-sia. Kesalahan pembinaan demikian ini seringkali terkait dengan keimanan yang tidak lurus. Bila keimanan yang dibina lurus, seharusnya umat akan terbina dengan sendirinya sebagai kaum yang tolong menolong dalam berbakti dan ketakwaan. Bila keimanan menyimpang, suatu kaum bisa menjadi kaum yang menjatuhkan orang yang berbakti dan bertakwa. Kadangkala tiba-tiba seseorang yang berusaha berbakti dan bertakwa dijatuhkan dari landasan beramalnya tanpa alasan yang dibenarkan, maka jihad di jalan Allah bagi mereka terbengkalai.

Untuk tumbuh sebagai kaum yang berjihad di jalan Allah, pembinaan harus dilakukan dengan tertib dan terintegrasi. Keinginan mengenal kebenaran dan kehendak Allah, shilaturrahmi dengan sesama mukmin hingga terjalin hubungan yang semestinya, membentuk sikap saling tolong menolong kepada sesama mukmin, dan mengembangkan kemampuan mengenal dan memanfaatkan alam semesta, semuanya harus dikembangkan dengan tertib dan terintegrasi untuk dijadikan sebagai bekal jihad. Sebagai dasar, setiap mukmin hendaknya dibina untuk dapat memahami kebenaran dan kehendak Allah dengan benar. Berikutnya, setiap mukmin hendaknya dibina untuk mengenal orang-orang yang juga berjuang untuk mengikuti kehendak Allah hingga terbentuk shilaturrahmi. Shilaturrahmi selain membentuk kekuatan bersama dalam berjihad juga berfungsi menjaga kelurusan langkah di jalan Allah. Beberapa mukmin yang berusaha bersama mengenal kehendak Allah bisa menjadi cermin kelurusan langkah masing-masing satu sama lain. Berikutnya kebersamaan di antara mukminin harus disusun sesuai dengan potensi yang dapat dikenali, sedemikian setiap orang bisa berperan memberikan potensi manfaat masing-masing bagi sahabatnya dan umat manusia secara keseluruhan. Dengan keadaan yang terbentuk melalui pembinaan sebelumnya, mukminin hendaknya melangkah mengenali potensi alam semesta dan memanfaatkannya dengan cara yang sebaik-baiknya, maka jihad dapat ditegakkan dengan baik.

Dewasa ini, tertib dan integrasi pembinaan tampak kurang diperhatikan. Tauhid yang dibuat oleh kaum musyrikin tetap saja digunakan sebagai bahan pengajaran di antara muslimin. Pembinaan keluarga sebagai basis pembinaan shilaturahmi tidak memperoleh perhatian yang memadai dari kaum mukminin dan bahkan cenderung dirusak. Tata bernegara tampak dilaksanakan oleh kaum mukminin tanpa pengetahuan terkait shilaturrahmi, di mana para pejabat hanya mengejar kedudukan dan mencari keuntungan dari kedudukan mereka. Adapun fundamen tata negara yang dikenali oleh mukmin di antara mereka tidak dikembangkan hingga dapat menjadi prinsip operasinal bernegara. Ini merupakan satu tanda kurangnya perhatian kaum mukminin terhadap kebenaran dan shilaturahmi di antara mereka. Kekayaan alam negeri-negeri muslim banyak dimanfaatkan di atas kerakusan tidak memberikan manfaat yang sewajarnya bagi masyarakat luas. Hal demikian harus memperoleh perhatian kaum mukminin. Kaum mukminin harus melakukan pembinaan secara tertib dan terintegrasi.

Minggu, 07 Juni 2026

Menegakkan Jihad Secara Berjamaah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk berjihad di jalan Allah.

﴾۸۳﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ أَرَضِيتُم بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ
Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: "berangkatlah pada jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin kepada dunia? Apakah kamu rela dengan kehidupan di dunia dibandingkan akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan) akhirat hanyalah sedikit. ( QS At-Taubah 38-3)

Perintah ini harus diperhatikan oleh setiap mukmin. Ada orang-orang beriman yang merasa berat untuk berangkat berjihad karena keinginan mereka kepada dunia. Pemakmuran bumi yang dilakukan seseorang dalam bentuk menempatkan diri sebagai pihak yang memperoleh keuntungan saja merupakan wujud dari lebih berat keinginan kepada dunia. Dari sudut pandang pemakmuran dunia, jihad merupakan penataan sumber-sumber pemakmuran duniawi hingga upaya pemakmuran yang dilakukan manusia dapat terhubung dengan kehendak Allah. Banyak pemakmuran dilakukan manusia di dunia tetapi tidak benar-benar mendatangkan pemakmuran. Banyak sisi negatif yang mungkin menyertai pemakmuran yang dilakukan tanpa terhubung pada kehendak Allah. Mungkin sebagian manusia memperoleh pemakmuran tetapi sebagian lain dirugikan. Banyak bentuk negatif dari pemakmuran yang dilakukan tanpa memahami kehendak Allah.

Setiap orang harus melakukan jihad hingga mencapai jihad di jalan Allah. Jalan Allah adalah jalan yang dikenali oleh orang-orang yang mengenal kehendak Allah atas diri mereka. Mungkin banyak orang yang menyeru untuk berjihad di jalan Allah akan tetapi sebenarnya tidak mengenali kehendak Allah, maka hal demikian tidak menunjukkan jalan Allah. Setiap mukmin hendaknya memeriksa seruan yang disampaikan. Ada seruan jihad yang sebenarnya dibuat untuk tujuan yang bathil. Ada pula seruan yang terwujud tanpa pemahaman yang tepat. Mungkin seruan mereka merupakan kebaikan yang mendatangkan kebaikan di dunia ataupun di akhirat, tetapi jihad yang mereka lakukan belumlah mencapai pengenalan terhadap jalan Allah. Di antara seruan-seruan untuk jihad, setiap orang harus berusaha memahami dan mengikuti langkah berdasarkan pemahaman yang terbaik sebagai jalan jihad. Setiap orang harus berjihad dengan pemahaman terbaik yang diperoleh dirinya, karena jihad itu akan mengantarkan diri mereka masing-masing untuk mengenal jalan Allah.

Jihad di jalan Allah merupakan kewajiban bagi setiap mukmin. Seseorang yang mengenal Allah dan mengetahui urusan jamannya harus menyeru mukminin lain untuk menunaikan urusan Allah untuk jamannya. Seruan itu adalah seruan jihad di jalan Allah. Kaum mukminin yang mengetahui seruan itu hendaknya ikut serta berjihad untuk menunaikan amanah Allah, dan jihad itu menjadi jihad di jalan Allah bagi diri masing-masing. Kehadiran seseorang yang mengenal Allah pada dasarnya dapat mengangkat suatu kaum yang menolongnya untuk mengenal jalan Allah, dan umat itu menjadi kaum yang memperoleh berkah dari kehadiran orang tersebut. Hal itu akan mendatangkan manfaat yang sangat besar bagi kaum tersebut dan umat manusia pada umumnya bila seruannya disambut. Bila seruannya diabaikan, kaum tersebut akan ditimpa kehinaan dalam berbagai bentuknya misalnya kebodohan atau pemimpin yang bodoh. Apabila suatu kaum menyambut suatu seruan jihad dan tidak ada perbaikan dari jihad mereka, jihad itu sangat mungkin bukan jihad di jalan Allah. Kadangkala suatu jihad tampak seperti jihad di jalan Allah akan tetapi sebenarnya tidak benar-benar tepat karena disimpangkan, maka ia bukan jihad di jalan Allah yang secara efektif mendatangkan kebaikan bagi umat manusia.

Mengikuti yang terbaik merupakan kunci agar seseorang mengalir menuju jalan Allah. Setiap orang pada dasarnya harus membangun konstruk pemahaman terhadap kehendak Allah dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Pemahaman itu dapat diperoleh dengan jalan membaca secara langsung tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan memenuhi syarat-syarat yang ditentukan. Selain itu ada orang-orang yang mengajarkan kandungan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang memudahkan seseorang untuk membangun konstruk pemahaman terhadap kehendak Allah dengan benar. Hal ini harus dilakukan dengan cara yang benar, dengan berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai dasar kebenaran. Konstruk pengetahuan yang benar akan menjadikan seseorang dapat memahami kehendak Allah hingga mengetahui kehendak Allah secara spesifik dalam urusan yang ditangani atau urusan yang diperintahkan. Tanpa konstruk pengetahuan yang benar, seseorang tidak akan bisa menimbang bobot kebenaran secara tepat. Mungkin suatu kebenaran dianggap halusinasi, atau suatu kebathilan dianggap karomah yang ditunjukkan oleh wali Allah. Hal itu bisa terjadi karena tidak terbangunnya konstruk pemahaman yang benar.

Berjamaah dalam Jihad

Pada dasarnya jihad di jalan Allah merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap mukmin secara berjamaah, bukan tugas individu. Untuk ikut berjamaah, seseorang tidak harus mencapai pemahaman terhadap perintah Allah secara khusus bagi pribadinya, tetapi setiap mukmin harus bisa memahami secara jelas bahwa apa yang mereka lakukan bersama pimpinan jamaahnya merupakan upaya merealisasikan perintah Allah. Ia harus bisa mengerti teks dan konteks perintah Allah yang sedang mereka tunaikan, maka ia telah ikut berjamaah. Mengikuti yang terbaik harus dilakukan setiap orang dengan berusaha mencerap kebenaran yang disampaikan hingga ia memahami, kemudian ia mengikuti setelah memahami kebaikannya. Ini adalah jihad yang harus dilaksanakan setiap orang. Berjihad sendirian hanya boleh dilakukan manakala seseorang berada di atas jalan Allah benar-benar sendirian saja. Sebenarnya ada kewajiban infaq atas kaum mukminin untuk membiayai jihad di jalan Allah. Infaq itu bisa digunakan untuk membiayai suatu jihad termasuk untuk memberi nafkah bagi mujahid yang membutuhkan. Mukminin harus melahirkan amal-amal jihadnya di jalan Allah baik ia memperoleh biaya dari infaq ataupun tidak memperolehnya. Manakala mekanisme kebersamaan itu tidak ada, jihad di jalan Allah akan menjadi usaha yang sangat berat.

Amal dalam jihad di jalan Allah hanyalah amal yang dilakukan seseorang sebagai bagian dari Al-jamaah, bukan amal untuk keinginan atau kepentingan diri sendiri. Al-Jamaah dalam hal ini adalah orang yang di atas kebenaran, tidak ditentukan dari jumlah pengikut. Hanya amal untuk urusan Allah saja yang merupakan jihad di jalan Allah, dan hal ini terkait dengan imam yang harus ditaati dalam urusannya. Tanpa suatu pengesahan dari Al-Jamaah, suatu amal belum bisa digolongkan sebagai jihad di jalan Allah. Pada puncaknya sahnya amal sebagai jihad di jalan Allah itu berupa landasan amal yang jelas dari perintah kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, yang dapat dipahami secara tekstual dan kontekstual. Landasan perintah itu tidak bisa hanya berupa klaim tentang adanya suatu perintah Allah. Pada tingkat operasinal, amal itu bisa berbentuk aktifitas kebumian terkait dengan realisasi perintah kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, amal yang tumbuh sebagai cabang ataupun ranting dari perintah kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Teks dan konteks tersebut bukan hal yang boleh diperdebatkan, dimana setiap orang bisa dan harus ikut memahami, bukan pemahaman yang dibuat-buat hingga layak diperdebatkan.

Banyak masalah di antara umat dalam masalah jihad di jalan Allah. Tidak jarang seseorang mengabaikan kebenaran atau pemahaman yang terbaik yang disampaikan karena terwahami oleh kebenaran diri sendiri. Bahkan kadangkala seseorang menentang firman Allah terkait keadaan yang jelas terlihat pada diri sendiri hanya karena mengikuti waham kebenaran diri atau mengikuti suatu pendapat tertentu yang dipandang benar. Hal demikian menunjukkan seseorang tidak mengikuti yang terbaik atau mengikuti kebathilan. Ada orang-orang yang disesatkan Allah di atas ilmu mereka. Mereka orang yang berilmu akan tetapi sebenarnya berada dalam kesesatan sedemikian mereka sulit melihat kebathilan yang mereka ikuti. Kaum demikian termasuk kaum yang paling sulit diseru untuk mengikuti jalan Allah karena merasa telah berada di jalan Allah. Sebenarnya mereka tidak melihat perintah Allah secara jelas dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, atau tidak melihat dengan jelas hubungan amal mereka dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasuullah SAW. Mereka mungkin merasa menunaikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tetapi sebenarnya apa yang mereka tunaikan tidak berdasar dan tidak selaras dengan apa yang diperintahkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bahkan mungkin saja keadaan mereka jelas bertentangan dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tetapi mereka mempunyai ilmu yang membenarkan keadaan mereka.

Masalah Besar Jihad di Jalan Allah Jaman Mutakhir

Orang yang berjihad akan menemukan banyak tantangan, misalnya mereka bisa saja terhalang untuk memperoleh biaya untuk berjihad. Bukan berarti Allah tidak menolong orang yang berjihad. Seringkali Allah menurunkan petunjuk bagi orang yang berjihad terkait urusan yang harus diupayakan akan tetapi kadangkala ada yang bisa menjegal atau menghalangi pelaksanaan petunjuk-petunjuk yang diturunkan. Boleh jadi Allah belum membukakan keberhasilan dalam wujud duniawi atas jihad yang harus dilakukan, tetapi banyak pengetahuan yang muncul bagi orang yang berjihad. Keadaan semacam ini tidak boleh menjadi alasan bagi seseorang meninggalkan jihadnya. Jihad harus tetap ditunaikan sekalipun manakala ia harus melakukan sendirian saja.

Tentu saja ia harus tetap berhati-hati bahwa ia mungkin sendirian karena berada di jalan yang salah. Tetapi selama tidak ada orang yang bisa menunjukkan kesalahan secara fundamental pada jalannya, ia harus tetap menegakkan jihadnya sekalipun dalam kesendirian. Bisa saja seseorang benar-benar memahami jalan Allah sendirian, dan orang lain tetap mengikuti jalan yang salah mengikuti hawa nafsu. Rasulullah SAW sangat bersedih dengan keadaan umatnya di akhir jaman, di mana beliau SAW berseru kepada Allah pada saat mengajar : Yaa Allah umatku, umatku. Ini merupakan bentuk kesedihan beliau SAW atas keadaan mayoritas umat yang disesatkan tidak memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dan millah nabi Ibrahim a.s, hanya mengikuti kebenaran menurut hawa nafsu sendiri. Perbuatan umat demikian menyakiti Rasulullah SAW. Sekalipun seseorang sendirian di jalan Allah, ia harus tetap menegakkan jihadnya tidak boleh meninggalkan jalan jihad yang ditentukan baginya.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَلَا قَوْلَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي إِبْرَاهِيمَ { رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنْ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي } الْآيَةَ وَقَالَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَام { إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ } فَرَفَعَ يَدَيْهِ وَقَالَ اللَّهُمَّ أُمَّتِي أُمَّتِي وَبَكَى فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ وَرَبُّكَ أَعْلَمُ فَسَلْهُ مَا يُبْكِيكَ فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام فَسَأَلَهُ فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَا قَالَ وَهُوَ أَعْلَمُ فَقَالَ اللَّهُ يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ فَقُلْ إِنَّا سَنُرْضِيكَ فِي أُمَّتِكَ وَلَا نَسُوءُكَ
Dari Abdullah bin Amr bin al-'Ash bahwa Nabi SAW membaca firman Allah mengenai Ibrahim: "Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, Maka Sesungguhnya orang itu termasuk golonganku"' (QS Ibrahim: 36) , Dan mengenai Isa a.s : "Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana" (Qs. Al Maidah: 118), kemudian beliau mengangkat kedua tangannya seraya berdo'a: "Ya Allah, umatku, umatku" dengan bercucuran air mata. Kemudian Allah 'azza wajalla berkata kepada malaikat Jibril: "Temuilah Muhammad -dan Rabbmulah yang lebih tahu- dan tanyakan kepadanya, 'Apa yang membuatmu menangis? ' Maka malaikat Jibril pun bertanya kepada beliau, dan Beliau SAW menjawabnya dengan apa yang dikatakan Allah -dan Allah lebih mengetahui hal itu-. Kemudian Allah berkata: 'Wahai Jibril, temuilah Muhammad dan katakan bahwa Kami akan membuatmu ridha dengan umatmu dan tidak akan menyakitimu '.HR Muslim)

Umat Rasulullah SAW akan menyakiti hati Rasulullah SAW hingga Rasulullah SAW menangis sedih. Allah SWT lebih mengetahui perihal menangisnya Rasulullah SAW terkait umatnya, dan Jibril a.s diperintahkan untuk mengetahui perihal itu dari Rasulullah SAW. Hanya kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW yang lebih menjelaskan keadaan yang bisa membuat Rasulullah SAW menangis. Seandainya seseorang bisa bertanya kepada Jibril a.s, pengetahuan yang bisa disampaikan terkait perihal itu tidak akan lebih baik dari berita kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Boleh jadi orang-orang yang ikhlas dalam ibadah kepada Allah dapat merasakan kesedihan Rasulullah SAW karena keadaan itu. Mungkin mereka akan menjadi sakit pula merasakan bagian dari rasa sakitnya Rasulullah SAW.

Umat Rasulullah SAW akan menyakiti hati Rasulullah SAW hingga Rasulullah SAW menangis sedih. Kesedihan beliau SAW muncul karena umat tidak mengikuti langkah nabi Ibrahim a.s dan justru mengikuti berhala-berhala. Ada baiknya mukminin lebih menggali pengertian tentang berhala. Suasana penyembahan berhala di jaman ini sebenarnya bisa lebih tergambar pada hadirnya artis-artis ataupun klub-klub yang menjadi objek pujaan suatu kaum daripada patung modern, tetapi dalam intensitas bahwa patung sesembahan itu dapat memenuhi harapan para penyembahnya. Orang-orang jaman ini mungkin bisa dikatakan tidak bisa menangkap makna berhala dari penyembahan patung karena telah redupnya patung sebagai citra berhala. Hanya sebagian kecil saja orang yang mengerti makna patung sebagai berhala sebagaimana para penyembah patung Ba’al. Dalam beberapa kasus, penyembahan berhala itu dilakukan suatu kaum dengan suatu kesadaran bahwa berhala itu merupakan manifestasi tuhan yang dapat dipahami oleh penyembahnya.

Keserupaan pemujaan berhala ini sebenarnya masih mungkin ditemukan di kalangan umat Rasulullah SAW. Akan muncul kaum yang menyakiti Rasulullah SAW dengan berhala-berhala yang dianggap sebagai representasi dari hadirnya tuhan kepada mereka hingga pantas untuk disembah. Tentu berhala-berhala itu bukan dalam bentuk patung, tetapi sesuatu yang dianggap secara bathil sebagai representasi dari kehadiran Allah. Misalnya mungkin seorang muslim memandang perkataan seseorang di antara mereka lebih benar daripada firman dalam kitabullah sedangkan firman itu bisa dimengerti dengan mudah, maka hal demikian itu termasuk penyembahan berhala. Dari salah satu hadits dari ‘Adiy bin Hatim, dapat diketahui bahwa ikut mengharamkan yang halal atau mengharamkan yang halal merupakan perbuatan menjadikan para ulama dan rahib sebagai tuhan. Tindakan itu hanyalah batas penunjuk yang jelas tentang pemujaan berhala, sedangkan adanya pemujaan itu sendiri mungkin memunculkan fenomena yang banyak bukan sekadar perbuatan menghalalkan dan mengharamkan.

Menghindari berhala-berhala harus dilakukan oleh setiap orang beriman dengan memperkuat langkah mengikuti millah nabi Ibrahim a.s. Millah merupakan proses meningkatkan kualitas penyembahan kepada Allah melalui pembinaan akhlak mulia sedemikian seorang mukmin dapat semakin mengerti kehendak Allah atas diri mereka dan mempunyai kekuatan untuk melaksanakannya. Setiap mukmin harus melakukan tazkiyatun-nafs untuk membina diri sebagai misykat cahaya agar terbentuk akhlak yang dapat memahami cahaya Allah. Dengan pemahaman terhadap cahaya Allah, setiap orang harus menjalin shilaturrahmi agar diberi sarana untuk mewujudkan pemahaman terhadap cahaya Allah. Shilaturrahmi ini pada intinya berbentuk rumah tangga yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Itu merupakan bentuk penyembahan kepada Allah yang sebaik-baiknya. Mukmin tidak boleh terus menerus bersembah dalam kebodohan. Dengan pembinaan demikian, kaum mukminin akan terhindar dari penyembahan terhadap berhala-berhala dalam segala bentuknya. Demikian itu cara menghindari berhala-berhala yang harus dilakukan mukminin. Menyimpangnya seseorang dari millah nabi Ibrahim a.s akan menjadikan manusia mudah terjatuh pada penyembahan berhala-berhala, dan akan menyakiti hati Rasulullah SAW. Setiap orang harus berusaha untuk semakin memahami dan melaksanakan kehendak Allah dengan lebih baik, tidak terjebak dalam penyembahan-penyembahan kepada yang lain baik berbentuk patung, artis-artis, klub-klub lah raga, manusia-manusia ataupun segala bentuk berhala-berhala yang mungkin terbentuk di pikiran atau hati umat manusia. Menjaga kelurusan pemahaman itu dapat dilakukan dengan membangun dan mengukur semua pemahaman dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Allah akan mengubah umat yang menyakiti Rasulullah SAW menjadi umat yang Rasulullah SAW ridha dengan mereka dan mereka tidak lagi menyakiti Rasulullah SAW. Janji Allah ini merupakan harapan bagi orang-orang yang mengikuti langkah nabi Ibrahim a.s bahwa sahabat mereka akan menjadi kaum yang sama di jalan Allah. Dengan harapan demikian mereka tidak meninggalkan sahabatnya sekalipun mungkin ikut merasakan sakitnya Rasulullah SAW. Barangkali mereka berharap perubahan itu tidak terjadi secara keras atau menyakitkan, tetapi dengan cara yang sebaik-baiknya.



Kamis, 04 Juni 2026

Jihad dan Pemakmuran Dunia

 Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk berjihad di jalan Allah.

﴾۸۳﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ أَرَضِيتُم بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ
Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: "Berangkatlah pada jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin kepada dunia? Apakah kamu rela dengan kehidupan di dunia dibandingkan akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan) akhirat hanyalah sedikit. ( QS At-Taubah 38-3)

Ada orang-orang beriman yang merasa berat untuk berangkat berjihad karena keinginan mereka kepada dunia. Ayat ini tidak menunjukkan bahwa jihad bertentangan dengan pemakmuran duniawi, tetapi merupakan upaya penataan sumber-sumber pemakmuran duniawi secara tepat, secara khusus agar pemakmuran yang dilakukan dapat terhubung dengan kehendak Allah. Banyak pemakmuran dilakukan manusia di dunia tetapi tidak benar-benar mendatangkan pemakmuran. Banyak sisi negatif yang mungkin menyertai pemakmuran yang dilakukan tanpa terhubung pada kehendak Allah. Mungkin sebagian manusia memperoleh pemakmuran tetapi sebagian lain dirugikan. Banyak bentuk negatif dari pemakmuran yang dilakukan tanpa memahami kehendak Allah. Bentuk negatif itu sebagian mungkin bisa disembunyikan di kehidupan dunia akan tetapi kelak akan terbuka di akhirat. Pemakmuran bumi dalam bentuk hanya menempatkan diri sebagai pihak yang memperoleh keuntungan itulah yang disebut sebagai seseorang yang lebih berat keinginan kepada dunia.

Berbagai Sumber Pemakmuran

Banyak bentuk pemakmuran dapat dilakukan manusia di dunia, karena banyak bentuk sumber pemakmuran yang dapat digunakan. Sebagian besar manusia menggunakan prinsip-prinsip duniawi saja dalam pemakmuran yang mereka lakukan. Sebagian manusia melakukan kesyirikan menjadi pelayan bagi syaitan untuk memperoleh kemakmuran dari layanan yang mereka lakukan. Sebagian orang syirik dengan berusaha mengikuti keinginan diri sendiri saja, tidak menjadi pelayan syaitan tetapi tetap saja perbuatan mereka merugikan masyarakat besar. Sebagian manusia ingin melakukan pemakmuran dengan prinsip-prinsip tuntunan agama akan tetapi tidak disertai dengan pemahaman yang sungguh-sungguh terhadap tuntunan agama hanya berusaha menerapkan apa yang diperoleh. Mereka mungkin tampak terlalu memaksakan ayat-ayat secara mentah. Hanya sedikit orang-orang yang berusaha menerapkan tuntunan Allah dengan landasan pemahaman yang benar. Di antara orang-orang demikian adalah para rasul yang menyeru kepada jihad. Ada pula orang-orang selain para rasul yang juga memahami tuntunan Allah dengan benar dan berusaha menerapkan pemahamannya untuk pemakmuran dunia. orang-orang demikian itulah yang melakukan jihad di jalan Allah melaksanakan perintah Allah. Setiap bentuk usaha pemakmuran akan mendatangkan tanda-tanda kemakmuran, akan tetapi sebenarnya tidak benar-benar mendatangkan pemakmuran kecuali pemakmuran yang dilakukan atas dasar jihad di jalan Allah.

Kekuatan akal bangsa merupakan sumber utama pemakmuran suatu bangsa. Mustahil membangun bangsa menjadi makmur apabila akal mereka rusak. Ada tingkatan-tingkatan dalam sumber pemakmuran yang mendatangkan kemakmuran dengan benar, dan sumber pemakmuran dalam tingkatan yang paling baik adalah kebenaran dari sisi Allah. Membangun kecerdasan bangsa adalah pembuka sumber pemakmuran. Upaya mencerdaskan bangsa harus dilakukan dengan memperhatikan sumbernya pada tingkatan yang lebih tinggi terlebih dahulu diikuti dengan upaya pada tingkatan yang lebih rendah, tidak bisa dilakukan secara acak. Kadangkala suatu bangsa mengutamakan hal elementer jasmaniah untuk membangun kecerdasan tetapi mengacaukan akal yang lebih tinggi, maka seluruh kecerdasan bangsa menjadi rusak. Kerusakan demikian itu dapat menyebabkan kerusakan secara menyeluruh, dari kerusakan akal bangsa, rusaknya penguasaan bangsa terhadap science dan teknologi, maupun kerusakan kesehatan masyarakat sendiri karena salah membina jasmaniah. Orang-orang yang berakal akan tersingkir sedangkan orang-orang bodoh memperoleh kekuasaan.

Sebagai gambaran, seseorang mungkin menginginkan bangsanya untuk cerdas dan cara yang diusahakan adalah memberikan makanan bagi jasmani bangsanya. Ini adalah bentuk upaya mencerdaskan bangsa dengan mengolah sumber pemakmuran dalam tingkatan yang paling rendah. Usaha ini sangat elementer dan tidak fundamental karena banyak proses lain pembentuk kecerdasan yang sebenarnya harus lebih diperhatikan. Hasil usaha demikian saja akan sulit diprediksi oleh kebanyakan manusia. Boleh jadi anak-anak yang diberi makanan justru mengalami masalah obesitas atau masalah jasmaniah lainnya dan kecerdasannya tidak terbangun karena cara mencerdaskan bangsa yang ditempuh hanya pada tingkatan paling rendah. Upaya pencerdasan harus dilakukan dengan memperhatikan sumber pencerdasan, tidak hanya pada ujung bendawi. Pengolahan kecerdasan yang paling sempurna adalah membina akal untuk memahami ayat-ayat Allah. Sangat banyak hal lain yang menjadi media membangun kecerdasan bangsa di antara pemberian makanan jasmaniah dan pembinaan akal, misalnya penguasaan bangsa terhadap science dan teknologi.

Jihad merupakan pembuka jalan untuk melakukan penataan hingga umat manusia dapat melakukan upaya pemakmuran mengikuti tuntunan Allah. Membangun pemakmuran duniawi hanya dapat dilakukan dengan baik apabila orang-orang beriman berjihad untuk melakukan penataan mengikuti kehendak Allah. Jihad sendiri dapat ditunaikan dengan benar hanya apabila orang beriman membina akalnya dengan benar. Apabila akal terbangun secara keliru, akan banyak kerusakan yang terjadi dalam tatanan umat sedemikian umat justru akan menjadi terbelakang. Mungkin mereka merasa mengenal kehendak Allah sedangkan pemahaman mereka sebenarnya rusak. Mungkin mereka merasa berusaha membangun keilmuan tetapi keilmuan yang terbangun justru merusak prinsip-prinsip keilmuan. Mungkin seseorang berusaha untuk memberdayakan manusia untuk bisa melakukan upaya pemakmuran akan tetapi justru menyingkirkan orang-orang yang berpotensi besar memakmurkan. Mungkin mereka merasa membangun kesejahteraan duniawi tetapi sebenarnya tatanan duniawi menjadi kocar-kacir sedemikian umat manusia justru menjadi sengsara. Banyak keadaan lain yang bisa terjadi menunjukkan adanya selisih antara niat dan realisasi yang berbeda karena akal yang kurang lurus. Suatu jihad tidak boleh menjadikan kehidupan umat manusia menjadi lebih rusak. Suatu jihad harus dilakukan di jalan Allah, yaitu jalan untuk kembali kepada Allah berdasarkan pemahaman akal yang lurus.

Sebagian dari orang-orang beriman adalah orang-orang yang lebih berat ke dunia dan rela dengan kehidupan dunia. Mereka menginginkan dunia lebih berat daripada akhirat. Pada satu sisi, mereka dapat dilihat layaknya orang-orang yang tidak memikirkan akal sebagai bekal akhirat. Dunia yang mereka berat terhadapnya itu tidak mengantar mereka untuk mengenal hakikat-hakikat dari sisi Allah. Mungkin mereka hanya mengenal kebenaran dari apa yang dikatakan orang lain kepada mereka saja. Ini merupakan bentuk akhlak yang salah dalam diri orang beriman. Akhlak yang harus terbentuk pada diri orang beriman adalah kecintaan terhadap kebenaran dari sisi Allah dengan akal sebagai sumber kemakmuran yang tetap bisa mengalir hingga kehidupan akhirat. Segala sesuatu yang bersifat duniawi akan hilang dari diri seseorang setidaknya ketika kematian telah tiba, tetapi manusia dapat mengenal kebenaran dari alam dunia dengan membangun sumber pengalirannya dalam dirinya melalui pembinaan akal. Akal yang mengalirkan pengetahuan itulah yang akan dibawa manusia hingga ke alam akhirat sedemikian ia akan tetap memperoleh kemakmuran hingga alam akhirat.

Di akhirat, manusia akan menemukan bentuk kehidupan yang mempunyai realitas lebih tinggi dibandingkan kehidupan di dunia. Api di alam akhirat jauh lebih panas dibandingkan api dalam kehidupan dunia, dan manusia akan menemukan lebih banyak jenis api di akhirat dibandingkan di alam dunia. Demikian pula realitas bendawi seperti emas, permata dan setiap macam benda duniawi akan ditemukan dalam realitas yang lebih tinggi, tidak bercampur dengan kotoran sebagaimana benda-benda di dunia, dan mudah ditemukan dalam dalam jumlah yang diinginkan setiap manusia yang bisa menemukannya. Setiap hal yang dapat ditemukan manusia di alam dunia dapat ditemukan di akhirat dalam realitas yang lebih tinggi. Setiap orang akan menemukan sesuatu yang terbangun pada akalnya. Benar-benar setiap orang akan menemukan akhirat sesuai dengan akhlak dan akal yang terbina pada diri mereka, sedemikian mereka tidak akan merasa bosan dengan realitas yang mereka temukan di alam akhirat. Manakala seseorang tidak mempunyai akal yang benar dalam urusan yang mereka inginkan, mungkin mereka akan merasa bosan dengan melimpahnya realitas yang bisa mereka temukan di akhirat. Sebagian orang yang salah akalnya akan dijemput para malaikat di telaga haudh Rasulullah SAW untuk ditempatkan sesuai dengan keadaan mereka, tetapi sebenarnya tempat mereka dengan akal demikian sangatlah menyiksa.

Memahami Jalan Allah sebagai Syarat Jihad

Hanya jalan Allah saja yang mendatangkan pemakmuran sepenuhnya. Sebagai contoh, bangsa Iran terlihat telah berkembang sangat kuat karena jihad mereka di jalan Allah. Hanya citra mereka saja yang dibuat tampak buruk oleh kaum musyrikin, sedangkan kehidupan bermasyarakat mereka sangat baik. Sifat perkembangan bangsa tersebut berbeda dengan kaum musyrikin yang menjadi kuat karena kelicikan dan kejahatan yang mendatangkan kesengsaraan bagi para jajahan mereka, atau terhadap masyarakat umumnya. Demikian pula perkembangan kehidupan muslimin yang mengenal jalan Allah berbeda dengan muslimin lain yang tidak mengenal jalan Allah. Di negeri muslim yang lain, sekian banyak potensi kekayaan bangsa hancur atau dihancurkan untuk mewujudkan ide-ide mentah tanpa dukungan pengetahuan ilmiah bangsa mereka sendiri. Masyarakat tidak dibina atau didukung untuk mengenali potensi yang ada pada wilayahnya, dan didatangkan orang asing untuk mengolah wilayah. Mereka menyangka apa yang dilakukan akan mendatangkan kemakmuran, sedangkan kekayaan alam yang sangat besar yang menjadi hak intelektual anak-anak bangsa menjadi rusak. Anak-anak bangsa terlantar kecerdasannya hanya karena para penguasa mengejar apa yang mereka sangka sebuah kemakmuran. Hal ini bisa terjadi karena masyarakat tidak mengenal jalan Allah.

Jalan Allah hanya dikenali oleh orang-orang yang mengenal kehendak Allah atas diri mereka. Mungkin mudah ditemukan banyak orang yang menyeru untuk berjihad di jalan Allah akan tetapi sebenarnya tidak mengenali kehendak Allah atas diri mereka, maka hal demikian tidak benar-benar menunjukkan jalan Allah. Ada seruan-seruan yang sebenarnya dibuat untuk tujuan yang bathil. Ada pula seruan yang terwujud tanpa pemahaman yang tepat. Mungkin seruan mereka merupakan kebaikan yang mendatangkan kebaikan di dunia ataupun di akhirat, tetapi jihad yang mereka lakukan belumlah mencapai pengenalan terhadap jalan Allah. Amal yang mereka serukan boleh jadi akan mengantarkan manusia ke surga. Surga Allah sangatlah luas dan banyak tingkatan, dan tingkatan yang tinggi hanya bisa diperoleh oleh orang-orang yang menempuh jalan Allah, sedangkan amal orang-orang yang berbuat kebaikan saja akan mengantarkan masing-masing ke surga bagi orang-orang kebanyakan. Jalan Allah adalah jalan yang mengantarkan seseorang kembali kepada Allah, dikenali oleh orang yang mengenali kehendak Allah atas diri mereka, baik hanya kehendak atas masing-masing ataupun kehendak atas umat manusia.

Orang-orang yang berada di jalan Allah memahami kehendak Allah berdasarkan tuntunan ayat-ayat Allah terkait urusan mereka. Mereka memahami keadaan kauniyah selaras dengan ayat kitabullah, dan mereka mempunyai pengetahuan tentang amal yang harus dilakukan berdasarkan tuntunan kitabullah. Memahami kehendak Allah di jaman setelah Rasulullah SAW tidaklah terjadi dengan ilham-ilham saja, tetapi harus disertai dengan pemahaman terhadap tuntunan ayat-ayat kitabullah. Mungkin seorang muslim memahami suatu ayat kauniyah kemudian memperoleh penjelasan dari ayat kitabullah tentang pemahamannya. Mungkin seseorang memperoleh ilham terkait suatu perkara kemudian mengetahui tuntunan kitabullah terkait ilhamnya. Mungkin seseorang memperhatikan ayat kitabullah dan memahaminya kemudian melihat ayat kauniyah terkait pemahamannya itu. Pemahaman-pemahaman demikian bisa merupakan pemahaman yang benar terhadap kehendak Allah. Tanpa memahami ayat kitabullah, seseorang tidaklah bisa dikatakan memahami kehendak Allah.

Pada beberapa kaum, pemahaman terhadap kehendak Allah kadangkala diukur dari kekuatan indera bathiniah mempersepsi alam-alam bathiniah. Ini bukanlah kaidah yang benar. Pemahaman terhadap kehendak Allah harus diukur berdasarkan pemahaman terhadap ayat-ayat Allah, baik ayat kauniyah maupun kitabullah. Kekuatan indera-indera bathiniah tidak boleh digunakan untuk menentukan benarnya pemahaman terhadap kehendak Allah, hanya boleh digunakan sebagai pengantar untuk memahami kehendak Allah. Indera-indera bathiniah harus digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah hingga terbentuk pemahaman yang benar terhadap kehendak Allah. Menyangka kekuatan persepsi indera bathiniah sebagai standar kebenaran dari Allah akan mendatangkan kesalahan yang besar. Kesesatan akibat mengikuti kaidah yang keliru dalam urusan indera bathiniah bisa mendatangkan kesesatan yang sejauh-jauhnya karena mudahnya campur tangan kejahatan dari alam yang tinggi.

Amal berdasarkan pemahaman terhadap ayat kitabullah ini harus benar-benar diperhatikan oleh orang-orang yang ingin menempuh jalan Allah. Kadangkala orang menyangka berjihad di jalan Allah mengikuti langkah-langkah manusia tanpa memperhatikan firman Allah dalam kitabullah, maka mereka tidak berada di jalan Allah. Bahkan kadangkala sekalipun orang yang diikuti adalah orang yang mengenal jalan Allah, yang mengikuti tidak di jalan Allah karena tidak memperhatikan tuntunan kitabullah. Bukan tidak mungkin ketaklidan manusia mengikuti orang lain menjadikan mereka sebagai orang yang menentang tuntunan kitabullah sedangkan mereka ingin berjihad di jalan Allah. Manakala ada orang lain membacakan kehendak Allah berdasarkan kitabullah, mereka mengabaikan atau justru mendustakan apa yang dibacakan kepada mereka karena taklid kepada manusia, maka mereka menjadi para pendusta terhadap jalan Allah. Dasar pemahaman terhadap ayat kitabullah ini harus benar-benar diperhatikan oleh orang yang ingin menemukan jalan Allah, agar keinginan dan usaha orang beriman di jalan Allah tidak menjadi sia-sia.

Bobot dari pemahaman terhadap ayat Allah ini harus lebih berat ada pada setiap mukmin daripada keinginan kepada harta duniawi. Bila tidak, mereka itu termasuk orang yang berat kepada dunia dan rela terhadap kehidupan dunia. Kemakmuran kehidupan dunia harus dipandang hanya sebagai hasil dari jihad di jalan Allah, bukan sesuatu yang diinginkan. Hasil-hasil duniawi boleh dipandang sebagai indikator dari jihad yang dilakukan. Usaha di jalan Allah pastilah mendatangkan kemakmuran, tidak sebaliknya. Tanda dari usaha di jalan Allah adalah berkembangnya akal manusia. Mustahil orang yang benar berusaha di jalan Allah menjadi lebih bodoh akalnya. Manakala suatu bangsa menjadi lebih bodoh, mereka mungkin menempuh jalan yang salah, bukan menempuh jalan Allah. indikator dari benarnya jalan seseorang harus diukur dengan tuntunan kitabullah. Banyak kaum mengukur kebenaran hanya berdasar hawa nafsu mereka sedemikian orang yang benar dipandang salah dan orang yang salah diagungkan, sedangkan tuntunan kitabullah diabaikan. Hal demikian merupakan bentuk kebodohan suatu umat.