Pencarian

Selasa, 14 Juli 2026

Fundamen Pembinaan Tatanan Bermasyarakat

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Jalan kehidupan untuk kembali kepada Allah diberikan kepada orang-orang yang memperoleh nikmat Allah. Tumbuhnya akal manusia dan masyarakat merupakan bagian dari nikmat Allah dan kematian akal dalam memahami kehendak Allah merupakan bagian keingkaran. Akal adalah kemampuan seseorang untuk dapat memahami kehendak Allah dengan benar, dibina menempuh jalan kembali kepada Allah mengikuti uswatun hasanah membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Banyak orang yang merasa beribadah dengan sebaik-baiknya kepada Allah tetapi tidak melakukan tazkiyatun-nafs dan langkah lain dalam taubat mengikuti langkah uswatun hasanah, maka pemahaman mereka itu sebenarnya hanyalah pemahaman berdasarkan hawa nafsu. Akal hanya akan tumbuh manakala seseorang melangkah bertaubat dengan tazkiyatun nafs dan langkah taubat lain hingga membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Nikmat Allah akan dipahami oleh orang-orang yang berakal, dan tidak akan diperoleh orang yang tidak tumbuh akalnya.

Kebaikan dalam kehidupan di alam dunia akan terwujud manakala masyarakat membina akal agar dapat mengikuti langkah para ulama dan fuqaha, yaitu para ulama dan fuqaha yang mengenal kehendak Allah. Ulama dan fuqaha demikian pada dasarnya telah membawa benih-benih kebaikan bagi umat manusia yang bermanfaat untuk kehidupan di alam dunia dan alam-alam selanjutnya, akan tetapi benih itu harus disemaikan di umat manusia dengan akal yang memahami nilai kebaikannya dan beramal berdasarkan pengetahuan itu agar tumbuh kebaikan secara nyata. Manakala manusia tidak mau menumbuhkan benih-benih kebaikan dari ulama dan fuqaha, umat manusia akan mengalami kesulitan.

Dari Anas ibn Malik r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda :

ﺳﻴﺎٔﺗﻲ ﺯﻣﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍٔﻣﺘﻲ ﻳﻔﺮﻭﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ،ﻓﻴﺒﺘﻠﻴﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺜﻼﺙ ﺑﻠﻴﺎﺕ ﺍٔﻭﻻﻫﺎ ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻣﻦ ﻛﺴﺒﻬﻢ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻳﺴﻠّﻂ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺳﻠﻄﺎﻧﺎ ﻇﺎﻟﻤﺎ ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻳﺨﺮﺟﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺑﻐﻴﺮ ﺍٕﻳﻤﺎﻥ
Akan datang satu masa dimana umatku akan lari (menjauh) dari ulama dan fuqaha, maka Allah akan mendatangkan tiga bencana atas mereka: 1. Allah akan mengangkat barokah dari usaha mereka, 2. Allah akan menguasakan atas mereka pemimpin yang dzalim, 3. Allah akan keluarkan dari dunia tanpa iman (HR Abu Nuaim)

Mengikuti para ulama merupakan bentuk kebersyukuran terhadap nikmat Allah yang dapat dilakukan oleh masyarakat umum. Dalam hal ini mengikuti ulama dan fuqaha adalah yang dilakukan dengan membina akal tidak dilakukan dengan sikap membuta. Sikap mengikuti harus disertai dengan berusaha memahami nilai-nilai kebaikan dari apa yang mereka serukan. Inti dari nikmat Allah itu adalah akal yang memahami, bukan pada sekadar kepatuhannya. Manakala kepatuhan dilakukan dengan mematikan akal untuk memahami ayat Allah, hal itu merupakan pengingkaran terhadap nikmat Allah. Langkah yang terbaik adalah mematuhi ulama dengan menumbuhkan akal untuk memahami ajaran ulama.

Banyak orang yang keliru dalam mengikuti langkah ulama dan fuqaha, terutama kekeliruan berupa tidak menggunakan akal. Menggunakan akal adalah membangun fasilitas dalam diri berupa akhlak mulia untuk memahami bobot nilai dari kebenaran. Ada orang yang merasa menggunakan akal dengan kesukaan membantah apa yang diajarkan tidak memikirkan nilai kebaikan dari yang disampaikan ulama. Ada orang yang benar-benar menganggap apa yang disampaikan kepada mereka merupakan kebenaran hingga mereka menganggap perkataan yang disampaikan merupakan firman Allah tanpa membangun fasilitas dalam dirinya untuk memahami kebenaran yang disampaikan. Kaum muslimin hendaknya membangun dalam dirinya kemampuan untuk mengetahui bobot nilai suatu kebenaran dengan tepat dengan akhlak mulia hingga masing-masing mengenal kehendak Allah dalam firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Landasan membangun akhlak itu adalah sifat rahman dan rahim.

Agama Dzulkhuwaisirah

Banyak orang islam yang membina akhlak secara keliru. Tidak sedikit kaum muslimin mengikuti langkah Dzulkhuwaisirah dalam membina diri sebagai hamba Allah. Mereka membanggakan syariat-syariat yang mereka pegang untuk mendatangkan kekacauan terhadap kaum muslimin yang lain dengan tuduhan-tuduhan yang tidak tepat seperti ahli bid’ah, khurafat, penyembah kubur dan tuduhan-tuduhan lain yang tidak benar. Hal itu terjadi karena mereka membanggakan syariat yang mereka laksanakan tidak memahami bahwa landasan paling penting akhlak mulia adalah sifat rahman dan rahim. Itu adalah nilai dari pengajaran Dzulkhuwaisirah. Mereka menyangka Allah akan menyukai apa yang mereka pahami, sedangkan bagi muslimin lain pemahaman mereka tampak sebagai suatu kebodohan. Allah sama sekali tidak membutuhkan pelaksanaan syariat dari manusia. Yang Allah sukai dari manusia adalah akhlak mulia yang dapat memahami kebenaran dari firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW dan mampu beramal kebaikan dengan pemahaman tersebut.

Keadaan tersebut akan bisa tercapai dengan pelaksanaan syariat secara tepat, tanpa membanggakan pelaksanaan syariat tersebut. Tanda kebanggaan itu diantaranya kebodohan terhadap nilai syariat, sering mempertanyakan hal kecil yang memberatkan diri dan tidak perlu, tidak membangun akhlak yang mampu mengenal perkara yang perlu ditunaikan untuk mewujudkan kebaikan. Kaum muslimin hendaknya berbuat dengan apa yang diketahui merupakan kebaikan dari tuntunan Allah, dan menghindari perbuatan yang diketahui merupakan keburukan, tidak memberatkan diri dengan apa yang tidak diketahui. Allah tidak membutuhkan pelaksanaan syariat dari manusia, dan sebaliknya manusia yang membutuhkan pelaksanaan syariat untuk dirinya. Muslimin tidak perlu memberatkan diri mengulik rincian syariat yang ia tidak membutuhkan. Misalnya seseorang tidak perlu bertanya dan berbangga tentang hukum menggunakan pengeras suara untuk berkhutbah, atau pelaksanaan tarawih berjamaah dan sebagainya. Agama Dzulkhuwaisirah akan menjebak manusia dengan kebanggaan pelaksanaan rincian syariat, dan berikutnya membuat kekacauan di kalangan muslimin dengan rincian syariat yang sebenarnya tidak mereka pahami. Hanya sebagian muslimin saja yang harus menjaga dan mensyiarkan rincian dari tuntunan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tanpa perlu membanggakan dan/atau membangkitkan kekacauan pada kaum muslimin.

Kaum yang mengikuti agama Dzulkhuwaisirah akan mengalami kerusakan akal. Mereka menyangka bahwa rincian syariat yang mereka lakukan dengan kebodohan itu akan menjadi persembahan kepada Allah. Mereka sebenarnya hanya menjadi hamba para tetua mereka yang menipu dengan rincian syariat tanpa membangun akhlak mulia yang berakal untuk memahami kehendak Allah. Mereka seringkali tidak mampu melihat realitas ayat Allah dan justru menimbulkan kekacauan bagi kaum muslimin. Keburukan yang mereka tuduhkan kepada kaum muslimin seringkali merupakan keadaan mereka sendiri tetapi mereka tidak bisa menyadari karena parahnya kebodohan mereka. Mereka memandang diri mereka adalah yang terbaik dalam mengikuti sunnah Rasulullah SAW, sedangkan penghayatan mereka mengikuti Dzulkhuwaisirah. Anggapan demikian itu hanya anggapan kosong. Tidak ada pelaksanaan sunnah yang benar jika dilakukan mengikuti Dzulkhuwaisirah. Mereka kebanyakan akan menjadi pembela kaum musyrikin untuk mengalahkan perjuangan kaum muslimin. Dewasa ini sekian gencar kaum yang bodoh itu memecah belah dan mencela perjuangan kaum muslimin, selaras dan senada dengan upaya tuan mereka kaum musyrikin. Hal itu bukan suatu kebetulan, tetapi mereka itu memang merupakan bagian dari kaum musyrikin.

Ahli Bid’ah

Ada pula orang-orang yang keliru dalam membina akhlak mengikuti ahlul bid’ah, membuat dan melaksanakan amal-amal yang tidak ada dalam tuntunan Allah. Kaum demikian memandang amal yang mereka lakukan sebagai perintah Allah, sedangkan tidak ada perintah Allah terkait perkara yang mereka lakukan. Mereka juga tidak memahami amal yang mereka lakukan. Sebagian di antara mereka adalah orang-orang yang mempunyai penglihatan tetapi tidak digunakan untuk melihat ayat-ayat Allah, mempunyai pendengaran tetapi tidak digunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah, dan mempunyai qalb tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah. Banyak perbuatan bid’ah yang dipandang baik oleh umat manusia akan tetapi sebenarnya mendatangkan keburukan. Mereka tidak mau atau sulit memahami ayat-ayat Allah yang disampaikan atau digelar bagi mereka dan kemudian bersibuk mengerjakan amal-amal yang lain, maka urusan Allah ditinggalkan. Ditinggalkannya ayat-ayat Allah itu mendatangkan kerusakan bagi umat manusia.

Yang bisa dipandang bid’ah adalah amal yang dianggap oleh pelakunya sebagai realisasi suatu perintah tertentu dari Allah kepada mereka, sedangkan amal itu sebenarnya tidak ada dasarnya dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Barangkali ada suasana megalomania sebagai hamba yang khusus dalam amal tersebut, tetapi tidak selalu ada atau tampak. Demikian itulah bid’ah, hendaknya masalah ini tidak dikacaukan atau dituduhkan terhadap amal-amal yang dilakukan dengan mengharapkan kebaikan. Pemeluk agama Dzulkhuwaisirah menggunakan terminologi bid’ah secara rancu untuk membangkitkan perselisihan di antara muslimin tanpa berusaha memahami tuntunan dengan sebaik-baiknya. Sangat banyak orang yang melakukan sesuatu digolongkan sebagai ahli bid’ah, sedangkan yang dituduh tidak menganggap diri mereka sebagai penerima perintah Allah. Orang yang beramal dengan berharap untuk memperoleh kebaikan dengan amalnya banyak dituduh bid’ah oleh pengikut Dzulkhuwaisirah. Tuduhan itu adalah tuduhan yang tidak berdasar.

Sasaran dari amal-amal ahlul bid’ah adalah pembodohan dan ditinggalkannya urusan Allah yang seharusnya dilaksanakan oleh kaum mukminin. Ayat-ayat Allah yang digelar pada ayat kuaniyah tidak dipahami dengan baik, dan mukminin disibukkan dengan amal-amal yang dibuat-buat sendiri tanpa peduli dengan ayat-ayat Allah. Amal mereka berdiri sendiri tanpa hubungan yang kokoh terhadap suatu tuntunan tertentu dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tetapi dikatakan bahwa amal itu merupakan perintah Allah. Anggapan bahwa amal mereka merupakan perintah Allah itu merupakan suatu bid’ah yang akan merusak keadaan kaum mukminin. Akal kaum mukminin akan tercerabut dari ayat-ayat Allah hanya berpijak pada persepsi inderawi sendiri saja, tidak mengakar pada realitas ayat Allah. Amal bid’ah ini seringkali terlihat baik tetapi sebenarnya meninggalkan urusan Allah yang seharusnya diperhatikan oleh kaum mukminin. Seandainya anggapan itu adalah harapan terhadap jalan ibadah berupa pelaksanaan urusan Allah, hati mereka akan terbuka terhadap ayat-ayat Allah. Seandainya mereka berusaha memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan teliti, kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan meluruskan amal-amal mereka. Sayangnya seringkali mereka menganggap pemahaman diri mereka adalah perintah Allah, maka anggapan itu menjadi selubung penutup bid’ah yang mereka lakukan.

Pembinaan Masyarakat

Kesalahan-kesalahan pembinaan akhlak akan menjadikan umat manusia sebagai kaum yang meninggalkan ulama dan fuqaha. Akhlak yang keliru menjadikan manusia tidak mengenal kebenaran dan penyampainya. Ulama dan fuqaha yang sebenarnya adalah ulama dan fuqaha yang memahami dengan benar realitas kauniyah berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasululullah SAW. Ada orang-orang yang mengetahui keadaan kauniyah diri mereka tetapi tidak mempunyai pengetahuan tentang tuntunan Allah terkait kauniyah itu, maka mereka belum mencapai kedudukan ulama. Ada orang yang banyak membaca tuntunan kitabullah tetapi tidak mengetahui hubungannya dengan realitas kauniyah yang digelar, maka mereka tidak mengerti perintah Allah yang harus ditunaikan. Ulama dan fuqaha adalah orang-orang yang mengetahui kandungan dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW terkait dengan keadaan kauniyah mereka sedemikian mereka mempunyai pengetahuan untuk menentukan langkah yang perlu dilakukan untuk memperoleh kebaikan bagi kehidupan mereka.

Ulama dan fuqaha demikian itulah yang dapat mendatangkan kebaikan bagi kasab kaum muslimin di suatu negeri dan menjadikan Allah mengangkat pemimpin yang baik bagi negeri tersebut, serta dapat menunjukkan keimanan yang sungguh-sungguh. Akan tetapi ulama dan fuqaha tidak bisa berbuat sendirian mendatangkan kebaikan-kebaikan tersebut. Manakala suatu kaum meninggalkan ulama dan fuqaha, seluruh kaum akan ditimpa keadaan yang buruk berupa sulitnya kasab kaum tersebut, diangkatnya pemimpin yang dzalim dan kematian tanpa iman. Ulama dan fuqaha itu akan tampak sebagai orang yang susah kala ditinggalkan kaumnya. Seringkali kaum yang meninggalkan ulama dan fuqaha tidak menyadari keadaan, menyangka bahwa mereka adalah orang-orang yang berbuat kebaikan tanpa mengetahui bahwa sebenarnya mereka mengalami kesulitan karena urusan Allah yang ditinggalkan, dengan ditinggalkannya ulama dan fuqaha.

Meninggalkan ulama dan fuqaha menunjukkan manusia meninggalkan urusan Allah yang harus ditunaikan. Ini bukan masalah panteisme. Usaha manusia untuk memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW belum tentu dilakukan dengan benar. Perselisihan di antara kaum muslimin bisa saja terjadi sedangkan masing-masing berpegang pada tuntunan kitabullah. Hal itu bisa terjadi karena ada yang tidak tepat dalam memahami kitabullah. Ulama dan fuqaha bisa memahami dengan benar kandungan dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, selaras dengan pemahaman terhadap kauniyah yang digelar bagi masing-masing. Manakala ada ulama dan fuqaha yang benar ditinggalkan umat, mereka sebenarnya meninggalkan urusan Allah sekalipun mereka berusaha keras untuk berbuat kebaikan mengikuti hawa nafsu masing-masing.

Menyeru pemakmuran kehidupan alam dunia dengan akal yang memahami merupakan tugas para ulama. Ulama harus memikirkan agar kasab kehidupan bangsa menjadi lebih baik, menunjukkan pemimpin dari orang yang baik tidak dzalim, dan mengenalkan keimanan yang sebenarnya, keimanan yang tidak terlepas ketika kematian menghampiri. Penataan umat manusia hendaknya dilakukan secara menyeluruh, baik penataan masing-masing individu maupun penataan masyarakat dimulai dari penataan keluarga. Sebenarnya ada suatu tatanan dalam diri individu yang ditentukan Allah, dan tatanan itu hanya dapat dicapai melalui pembinaan akhlak. Secara ideal, manusia harus menundukkan keinginan duniawi dan hawa nafsu untuk mengikuti nafs wahidah, dan nafs wahidah mengikuti ruh yang mengajarkan urusan Allah. Tanpa pembinaan akhlak, manusia atau masyarakat tidak akan mengetahui tatanan yang ditentukan. Selain itu ada penataan yang harus dilakukan di tingkat masyarakat, dimulai dengan upaya penataan keluarga dan diluaskan hingga terbentuk tatanan masyarakat. Bila tatanan keluarga dirusak, masyarakat akan ikut menjadi rusak bahkan seandainya individu di masyarakat tersebut adalah orang-orang yang shalih.

Hal demikian hanya dapat dicapai melalui pembinaan akhlak dengan keimanan yang benar. Banyak orang yang merasa beriman tetapi sebenarnya tidak menyentuh tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak jarang ditemui orang beriman yang selalu memandang masalah hanya dari satu sudut pandang, misalnya dipandang ujian dari Allah. Hal demikian mungkin benar tetapi bisa saja hanya berlaku pada satu tahap atau satu kasus tertentu saja. Ada banyak kasus penyebab kesulitan dalam kehidupan yang harus diungkap selaras dengan petunjuk Allah. Misalnya bisa saja kesulitan itu sebenarnya merupakan dampak dari sikap yang salah yang harus diperbaiki. Kesalahan demikian tidak sama dengan ujian Allah karena akan mendatangkan kesulitan di dunia dan juga kelak di akhirat. Kadangkala keimanan menjadi lebih buruk dari itu. Misalnya mungkin saja ada orang-orang yang memperoleh petunjuk untuk memperbaiki keadaan diri mereka dan masyarakatnya, tetapi umat manusia kemudian merusak pelaksanaan petunjuk itu karena keimanan yang keliru hingga menghalangi seseorang dari agamanya. Dengan keimanan yang keliru demikian keadaan masyarakat akan semakin berantakan. Setiap orang harus menambah keimanan secara benar dengan berusaha menggali tuntunan kitabullah terkait kehidupan masing-masing.

Jumat, 10 Juli 2026

Berbagai Nikmat Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Perjalanan taubat kepada Allah yang benar akan mendatangkan keselamatan bagi manusia dari kekejaman perilaku duniawi para makhluk. Keselamatan demikian merupakan suatu wujud dari nikmat Allah kepada umat manusia yang mengikuti tuntunan Allah. Orang-orang yang tidak mengikuti tuntunan Allah akan selalu berada pada kungkungan kekejaman duniawi, sedangkan orang-orang yang mengikuti tuntunan Allah dengan benar akan terlepas dari kungkungan duniawi. Barangkali kungkungan kejamnya dunia itu akan mengejar, akan tetapi orang yang tetap mengikuti tuntunan Allah akan terlepas dari kejaran kungkungan kekejaman dunia. Keterlepasan dari kungkungan kekejaman dunia itu merupakan bagian dari nikmat Allah.

﴾۶﴿وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ أَنجَاكُم مِّنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ وَيُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ وَفِي ذٰلِكُم بَلَاءٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari Fir'aun dan pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu; dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari Tuhanmu".(QS Ibrahim : 6)

Fir’aun adalah para raja di negeri mesir, merupakan sosok yang menggambarkan kekuatan duniawi atas manusia, dan dengan rekayasa perilaku duniawi mereka berkuasa. Mereka para penyembah dewa-dewa kesesatan dengan mengharapkan diberi kekuasaan duniawi. Perilaku duniawi sendiri pada umumnya berada dalam kekuasaan syaitan hingga hari yang ditentukan. Apabila manusia mempertuhankan kehidupan duniawi, sebenarnya mereka secara tidak langsung menjadikan diri mereka sebagai budak bagi syaitan. Sebagian orang-orang beriman diberi kekuasaan atas harta tertentu hingga dapat menguasai harta mereka, tetapi sebagian terjatuh diperbudak harta. Setiap manusia akan terikat pada suatu kungkungan dunia apabila mereka tidak mengikuti tuntunan Allah terkait alam dunia mereka.

Keterlepasan manusia dari kungkungan kekejaman alam dunia karena mengikuti tuntunan Allah merupakan suatu bentuk nikmat Allah yang berlaku bagi masyarakat luas. Nikmat Allah secara khusus berbentuk pengetahuan tentang jalan kembali kepada Allah yang ditentukan bagi diri seseorang dan kemampuan melangkah mengikuti pengetahuan itu. Nikmat demikian itu merupakan tujuan puncak dari kehidupan manusia di dunia. Selain nikmat khusus demikian, Allah juga memberikan nikmat-nikmat yang menjadi pengantar manusia untuk mencapai nikmat Allah yang khusus. Di antara bentuk nikmat pengantar demikian adalah keterlepasan manusia dari kungkungan kekejaman alam duniawi dengan mengikuti tuntunan Allah.

Ciri utama kekejaman alam duniawi adalah pembunuhan anak-anak laki-laki dan dibiarkannya hidup anak-anak perempuan. Para laki-laki adalah para pemilik akal yang mampu memahami ayat-ayat Allah, sedangkan para perempuan adalah kesuburan dalam mewujudkan bentuk-bentuk duniawi. Kekejaman alam duniawi dapat ditandai dengan kecenderungan penghilangan calon-calon pemilik akal, penghilangan akal ketika masih dalam bentuk belum terlihat, hingga hanya menyisakan potensi-potensi duniawi bagi diri seorang manusia. Apabila manusia hanya berusaha untuk kehidupan alam duniawi saja tanpa keinginan memikirkan kebenaran, mereka sebenarnya dalam pengaruh kekejaman duniawi. Orang yang terlepas dari kekejaman duniawi akan terlihat mampu memahami dan memikirkan kebenaran yang bermanfaat bagi manusia banyak. Mereka tidak membunuh anak perempuan dan membiarkan anak laki-laki, tetapi mengasuh seluruh bentuk anak-anak agar terbentuk kehidupan dunia yang makmur dan sejahtera.

Tumbuhnya akal manusia dan masyarakat merupakan bagian dari nikmat Allah, dan kematian akal dalam memahami kehendak Allah merupakan bagian keingkaran. Mengikuti para ulama merupakan bentuk kebersyukuran terhadap nikmat Allah yang dapat dilakukan oleh masyarakat umum. Dalam hal ini mengikuti ulama dan fuqaha tidak boleh dilakukan dengan sikap membuta, tetapi disertai dengan berusaha memahami nilai-nilai kebaikan dari apa yang mereka serukan. Inti dari nikmat Allah itu adalah akal yang memahami, bukan pada kepatuhannya. Manakala kepatuhan dilakukan dengan mematikan akal untuk memahami ayat Allah, hal itu merupakan pengingkaran terhadap nikmat Allah. Langkah yang terbaik adalah mematuhi ulama dengan menumbuhkan akal untuk memahami ajaran ulama. Mematuhi ajaran orang yang dipandang sebagai ulama dengan mematikan akal merupakan kepatuhan yang salah dan hal itu akan mendatangkan bala bencana bagi orang-orang yang melakukannya. Kematian akal akan mendatangkan bala bencana dari sisi Allah. Kesalahan dalam mensikapi keilmuan  akan mengundang tiga bencana atas suatu kaum bahkan manakala mereka beriman, yaitu : 1. Allah akan mengangkat barokah dari usaha mereka, 2. Allah akan menguasakan atas mereka pemimpin yang dzalim, 3. Allah akan keluarkan dari dunia tanpa iman

Mengikuti para ulama merupakan bentuk kebersyukuran terhadap nikmat Allah yang dapat dilakukan oleh masyarakat umum. Orang-orang yang mengenal shirat al-mustaqim harus bersyukur atas nikmat yang dilimpahkan kepada mereka dengan melaksanakan perintah-perintah Allah yang mereka pahami sebagai jalan untuk kembali kepada Allah, sedangkan masyarakat umum harus mensyukuri nikmat Allah dengan berusaha memahami tuntunan-tuntunan Allah terkait dengan kehidupan mereka dengan menggunakan akal dan mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW serta apa yang mereka pahami dari para ulama dan fuqaha. Melangkah bersama ulama dan fuqaha yang mengenal Allah akan mendatangkan kemakmuran bagi negeri.

Tumbuhnya Akal dan Kedekatan dengan Ulama

Dewasa ini, keadaan umat islam di nusantara tampak sangat tidak baik-baik saja. Penghidupan kasab di antara kaum muslimin tampak sangat sulit. Harga-harga bergerak tidak terkendali karena para penguasa yang melakukan korupsi besar-besaran. Para ahli tersingkirkan dari kedudukannya oleh orang bodoh yang dekat dengan penguasa. Negara diurus oleh orang tanpa keahlian. Di masyarakat umum, menjalankan usaha menjadi sangat sulit karena umumnya penggunaan cara-cara yang tidak dihalalkan, dan rakyat harus menanggung beban penghidupan yang berat karena keadaan demikian. Sangat banyak fenomena kesulitan dalam kehidupan muslimin dewasa ini. Keadaan demikian menunjukkan bahwa sebenarnya umat islam nusantara masih terkungkung dalam kekejaman dunia karena tidak mengikuti tuntunan Allah.

Dari Anas ibn Malik r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda :

ﺳﻴﺎٔﺗﻲ ﺯﻣﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍٔﻣﺘﻲ ﻳﻔﺮﻭﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ،ﻓﻴﺒﺘﻠﻴﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺜﻼﺙ ﺑﻠﻴﺎﺕ ﺍٔﻭﻻﻫﺎ ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻣﻦ ﻛﺴﺒﻬﻢ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻳﺴﻠّﻂ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺳﻠﻄﺎﻧﺎ ﻇﺎﻟﻤﺎ ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻳﺨﺮﺟﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺑﻐﻴﺮ ﺍٕﻳﻤﺎﻥ
Akan datang satu masa dimana umatku akan lari (menjauh) dari ulama dan fuqaha, maka Allah akan mendatangkan tiga bencana atas mereka: 1. Allah akan mengangkat barokah dari usaha mereka, 2. Allah akan menguasakan atas mereka pemimpin yang dzalim, 3. Allah akan keluarkan dari dunia tanpa iman (HR Abu Nuaim)

Keadaan ini terjadi karena ditinggalkannya para ulama oleh umat. Umat Islam hendaknya berusaha untuk tidak meninggalkan ulama dan fuqaha di antara mereka, khususnya ulama dan fuqaha yang mengenal Allah. Apabila mereka tidak mengenalnya, hendaknya mereka berusaha mencari dengan berusaha mengenali ilmu yang bisa dinilai sebagai penjelasan hakikat-hakikat dari sisi Allah dengan sepenuh kemampuan akalnya tidak hanya mengikuti perkataan orang. Anak-anak laki-laki mereka tidak boleh terbunuh hingga menjadi sebab mereka terkungkung dalam kekejaman dunia. Manakala akal tidak digunakan untuk mengenali kebenaran, mereka sebenarnya ikut membunuh anak-anak laki-laki mereka sendiri. Mungkin bukan kekejaman dunia yang membunuh anak-anak laki-laki mereka, tetapi mereka sendiri yang membunuhnya. Dalam perjalanan manusia menumbuhkan akal, masih banyak bahaya lain yang dapat membunuh anak-anak laki-laki karena hal demikian sebenarnya merupakan upaya syaitan, bukan hanya natur duniawi saja. Setiap upaya pembunuhan akal manusia, ada keinginan syaitan yang mungkin tersembunyi dari pandangan manusia.

Menyeru pemakmuran kehidupan alam dunia dengan akal yang memahami merupakan tugas para ulama. Ulama tidak boleh terlalai memperhatikan hal ini, dan masyarakat hendaknya memperhatikan. Ulama harus memikirkan agar kasab kehidupan bangsa menjadi lebih baik, menunjukkan pemimpin dari orang yang baik tidak dzalim, dan mengenalkan keimanan yang sebenarnya, keimanan yang tidak terlepas ketika kematian menghampiri. Hal-hal itu dapat dirumuskan dengan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sangat rugi manusia yang keimanan mereka tanggal ketika kematian tiba. Hal demikian biasanya terjadi karena mereka mengikuti keimanan tanpa berusaha memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, atau mensia-siakan pengajaran tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk mengikuti sistem keimanan mereka sendiri. Apabila ulama dan fuqaha tidak mengusahakan demikian, mereka akan menanggung tanggung jawab yang sangat berat di alam akhirat.

Keulamaan dan kefaqihan bukanlah berbentuk hafalan-hafalan terhadap bunyi dalil-dalil, tetapi pengetahuan terhadap kandungan yang ada pada lafadz-lafadz petunjuk dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk diterapkan dalam kehidupan. Pengetahuan itu tidak hanya bermanfaat untuk masa depan, tetapi juga terkait dengan kehidupan sejak di alam dunia. Kadangkala seseorang meninggalkan pemahaman terkait kehidupan hari ini karena mengharapkan kehidupan yang akan datang. Ini merupakan bentuk kurangnya pengetahuan terhadap kandungan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Para ulama dan fuqaha adalah orang yang mempunyai pengetahuan bentuk kehidupan yang seharusnya diusahakan manusia saat ini berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sehingga dapat memperoleh kebaikan yang abadi, baik untuk masa depan ataupun masa yang dekat dan hari ini.

Keberhasilan dan kegagalan pemakmuran tentu bukan hanya tanggung jawab ulama dan fuqaha. Ulama dan fuqaha hanya bertanggung jawab menyeru manusia untuk memahami urusan Allah yang harus ditunaikan, sedangkan menjaga pertumbuhan akal dan melangkah mengikuti kehendak Allah merupakan tanggung jawab masing-masing manusia di masyarakat. Pada umat nabi Muhammad SAW, banyak orang di antara umat yang meninggalkan para ulama. Bila tidak ada seruan tentang urusan Allah di masyarakat, itu adalah kesalahan ulama dan fuqaha. Bila seruan terkait nikmat Allah itu salah maka itu kesalahan ulama dan fuqaha. Bila seruan itu tidak efektif, mungkin itu kesalahan ulama dan fuqaha bersama dengan lemahnya akal masyarakat. Bila seruan itu tidak diikuti oleh masyarakat, kegagalan dalam pemakmuran negeri merupakan kegagalan masyarakat. Kadangkala tanggung jawab kesalahan itu terletak pada para pemimpin masyarakat yang tidak menyiarkan secara memadai seruan yang benar. Tidak jarang masyarakat justru terjebak dalam kesibukan menyiarkan sesuatu yang kurang mendatangkan manfaat bagi umat manusia dan meninggalkan yang penting dilakukan. Nusantara saat ini terasa berada dalam keadaan yang sangat memprihatinkan, hendaknya setiap pihak menghisab diri masing-masing.

Kadangkala suatu masyarakat bertanya-tanya mengapa mereka tetap mengalami kesulitan kehidupan sedangkan mereka telah hidup dekat dengan ulama dan fuqaha mereka. Tumbuhnya kehidupan yang baik itu mengikuti tumbuhnya akal pada diri mereka. Barangkali mereka belum cukup menumbuhkan akal untuk memahami ayat-ayat Allah ketika mengikuti para ulama mereka, maka kedekatan ataupun kepatuhan itu pada dasarnya belum benar-benar terjadi. Bila suatu masyarakat hidup dekat dengan ulama mereka dengan akal yang ditumbuhkan, maka kehidupan mereka akan menjadi baik. Hendaknya dipahami bahwa para ulama itu sungguh-sungguh ingin dengan pengajarannya menumbuhkan akal manusia untuk memahami ayat Allah, bukan untuk patuh pada para ulama dan fuqaha. Mestinya tumbuhnya akal itu juga akan menumbuhkan kepatuhan. Jika seandainya tidak tumbuh kepatuhan, pertumbuhan akal masyarakat mungkin menyimpang. Bukan mustahil ajaran yang diikuti keliru maka kekeliruan itu menghambat tumbuhnya akal. Ajaran yang benar-benar keliru akan menumbuhkan fitnah di antara masyarakat yang justru menimbulkan kesengsaraan bagi umat. Setiap orang hendaknya berusaha untuk menumbuhkan akal sebagai sarana untuk dekat kepada para ulama dan fuqaha di antara mereka, tidak hanya dekat dengan membuta terhadap kehendak Allah. Tanda ajaran yang benar adalah meningkatnya pemahaman umat terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk urusan yang seharusnya mereka kerjakan.

Penting diperhatikan bahwa ulama dan fuqaha yang harus mereka ikuti adalah ulama dan fuqaha yang mengerti dengan benar kehendak Allah untuk ruang dan jaman mereka. Para ulama dan fuqaha adalah orang yang mempunyai pengetahuan bentuk kehidupan yang diusahakan manusia saat ini berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sehingga dapat memenuhi harapan manusia terhadap kebaikan yang abadi, baik masa depan ataupun masa yang dekat dan hari ini. Kandungan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW meliputi hal demikian. Mungkin seorang ulama tidak memperoleh seluruh pengetahuan tentang berbagai aspek kehidupan, tetapi pasti mempunyai pengetahuan terhadap aspek tertentu dari kehidupan. Pada aspek yang tidak diketahui, seseorang berilmu tidak akan berpegang dengan  pengetahuan yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ada orang yang berpengetahuan benar dalam sebagian urusan, tetapi memperoleh pula bagian pengetahuan yang lain mendatangkan kerusakan. Hal demikian merupakan bagian dari tipu daya syaitan kepada orang yang tidak benar-benar membina kemuliaan akhlak sehingga tidak dapat merasakan keburukan dari suatu ajaran yang sampai kepada diri mereka. Seorang ulama tidak akan berpendapat atau berbuat menyalahi tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW kecuali ia merasakan suatu kesalahan dalam perkara itu baik samar-samar ataupun secara jelas.

Selasa, 07 Juli 2026

Usaha Bersyukur Untuk Menumbuhkan Berkah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Di antara tanda benarnya mengikuti langkah Rasulullah SAW adalah terwujudnya pemakmuran alam dunia. Ada bentuk-bentuk keimanan yang harus ditumbuhkan umat dengan memperbaiki kemuliaan akhlak. Keimanan yang ditumbuhkan oleh umat manusia merupakan benih yang akan tumbuh sebagai kesejahteraan dunia. Suatu keimanan tidak akan mendatangkan kerusakan di bumi kecuali keimanan itu sesuatu yang salah. Ini sangat dimengerti oleh orang yang beriman dengan benar. Akan tetapi ada orang-orang yang tidak benar dalam beriman sedemikian keimanan itu menjadi sesuatu yang mendatangkan kerusakan bagi kehidupan di dunia.

﴾۹۱﴿فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّن قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: "Ya Tuhanku berilah aku kedudukan untuk mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh".(QS An-Naml :19)

Nabi Sulaiman a.s adalah seorang pemakmur bumi yang mendirikan bayt Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah di Yerusalem. Beliau seorang yang beriman dengan benar dan mengerti amanah yang harus ditunaikan untuk memakmurkan bumi. Walaupun demikian, sebagian makhluk tetap merasa terancam bahwa mereka akan terinjak-injak oleh langkah nabi Sulaiman a.s dan pasukannya sedangkan beliau tidak menyadari kerusakan yang terjadi. Hal itu merupakan suatu dugaan yang tidak sesuai dengan pengetahuan nabi Sulaiman terkait langkah yang akan beliau tempuh. Karena itu beliau tersenyum dan tertawa dengan perkataan mereka.

Nabi Sulaiman a.s mempunyai pengetahuan tentang apa yang harus dicapai melalui pelaksanaan amanahnya, dan pasti langkahnya tidak akan mendatangkan kerusakan bagi koloni semut sekalipun, baik dari iktikadnya ataupun dari dampak sampingan yang tidak disadari. Pengetahuan nabi Sulaiman a.s mencakup sasaran, tujuan dan dampak samping dari apa yang dilakukan. Keimanan demikian ini hendaknya juga diusahakan oleh orang-orang beriman. Umat hendaknya tidak mengikuti suatu keimanan secara ngawur hingga melakukan tindakan yang merusak. Kadangkala manusia mempercayai suatu keimanan secara ngawur sedangkan perbuatan mereka merusak. Sebagian merusak karena dampak sampingan yang tidak disadari, sebagian berupa keimanan yang tidak benar. Bahkan ada pula orang yang percaya dengan suatu keimanan yang sebenarnya merusak agama, diri mereka sendiri dan orang-orang yang dekat dengan diri mereka, bukan keimanan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan di bumi. Hal demikian biasanya terjadi atas orang-orang yang tidak menggunakan akal. Keimanan yang benar akan mendatangkan kebaikan bagi kehidupan di bumi, dapat dibuktikan melalui evaluasi yang komprehensif terhadap nilai manfaat keimanan. Keimanan bukan sekadar suatu kepercayaan terhadap suatu nilai yang dianggap benar.

Ini tidak membatasi keimanan hanya dilakukan dalam batas lingkup pengetahuan seseorang. Mungkin sangat banyak manusia harus mengikuti suatu keimanan yang belum dapat ia buktikan nilai manfaatnya, tetapi hendaknya ia berusaha memahami nilai manfaat dari keimanannya. Cara demikian akan meningkatkan keimanan. Sangat banyak kebenaran digelar Allah di alam ciptaannya yang tidak dapat dipahami seorang manusia dengan pikirannya sendiri, tetapi sebenarnya dapat dipahami oleh orang-orang yang berakal. Orang berakal mungkin memahami rahasia atau hakikat dibalik suatu fenomena yang terjadi dan mengetahui amal yang paling bermanfaat dalam urusan fenomena tersebut, sedangkan orang lain mungkin saja tidak mengetahui. Bila seseorang atau suatu umat mengikuti orang berakal tersebut, mereka bisa ikut memahami kebenaran yang diperjuangkan. Dengan demikian mereka dapat meningkatkan keimanan diri mereka. Hanya saja tidak jarang dijumpai orang yang mengajarkan sesuatu yang ditampakkan sebagai suatu kebenaran tetapi kosong. Umat yang mengikuti tidak akan menemukan sesuatu yang memberikan nilai manfaat melalui keimanan demikian sedangkan mereka bersusah payah mengikutinya. Kadang dijumpai pula kaum yang membeo mengatakan kebenaran yang tidak mereka pahami karena hanya mengikuti perkataan orang lain. Kadangkala suatu kaum meninggalkan kebenaran hanya untuk mengikuti perkataan yang kosong dari nilai manfaat. Setiap orang hendaknya berusaha memahami nilai manfaat dari suatu keimanan yang mereka ikuti.

Kedudukan Tertentu untuk Bersyukur

Sekalipun nabi Sulaiman a.s telah mengetahui nilai manfaat dari apa yang diperjuangkannya, beliau tidaklah menyombongkan diri dengan langkah yang ditempuh. Ketika beliau mendengar perkataan semut yang merasa takut dengan dampak langkah nabi Sulaiman, beliau berdoa kepada Allah : "Ya Tuhanku berikanlah aku kedudukan (yang tepat) untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan (kedudukan) untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh". Nabi Sulaiman a.s memohon kepada Allah agar menempatkan dirinya pada kedudukan yang mendukungnya bersyukur atas nikmat yang telah dikaruniakan Allah kepada beliau dan kedua orang tuanya, dan memohon agar beliau diberi kedudukan untuk beramal shalih yang diridhai Allah, serta memohon agar dimasukkan ke dalam golongan hamba yang shalih dengan rahmat Allah.

Doa ini dikenal sebagai doa usia 40 tahun. Usia 40 tahun komariah adalah usia di mana orang beriman bisa mengenal nikmat Allah yang dikaruniakan kepada dirinya. Mereka akan mengenal nikmat Allah yang menjadi amanah bagi dirinya, mengenal peran diri mengikuti peran orang tuanya apabila orang tuanya mengenal dirinya, dan mengenal amal shalih yang diridhai Allah. Dari ayat lain, mereka akan mengharap kebaikan pada keadaan anak keturunan mereka. Ini adalah keadaan yang bisa terjadi dan harapan-harapan yang tumbuh pada orang beriman pada usia 40 tahun. Mereka mengharapkan untuk memperoleh kedudukan yang tepat agar dapat mensyukuri nikmat Allah, dapat beramal shalih yang diridhai Allah dan menjadi hamba yang memperoleh rahmat Allah hingga menjadi golongan orang shalih, serta berharap anak keturunannya memperoleh kebaikan dalam kehidupannya.

Doa ini sangat penting atas orang beriman yang memperoleh nikmat Allah. Usaha syaitan untuk menghalangi orang untuk dapat mensyukuri nikmat Allah terhadap diri mereka sangat kuat. Mereka seringkali tidak memperoleh kedudukan yang mendukung kebersyukuran atas nikmat Allah yang dikenalnya karena syaitan pasti berusaha keras menghalangi mereka untuk bersyukur dengan berbagai cara. Demikian pula tidak jarang mereka menemukan bahwa keluarga mereka dalam keadaan berantakan hingga tidak mampu membantu pelaksanaan urusan Allah, karena syaitan menjadikannya berantakan. Itu merupakan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi atas mukmin yang memperoleh nikmat Allah. Sangat banyak kemungkinan dapat terjadi. Yang penting bagi orang beriman yang mengenal nikmat Allah adalah harapan kepada Allah agar ia memperoleh kedudukan untuk bersyukur atas nikmat Allah dan kemampuan beramal shalih yang diridhai Allah, serta diberikan keshalihan bagi keluarganya untuk mendukung amal shalih yang harus ditunaikan.

Dari satu sisi, pendukung kebersyukuran seseorang pada ayat di atas merupakan buah dari terbentuknya rumah tangga yang baik. Kedudukan yang diperoleh seseorang di antara umat dalam beramal shalih merupakan cerminan dari cara pandang isteri terhadap suaminya. Apabila seorang isteri dapat memahami kebenaran amal shalih suaminya dan memahami nilai kepentingan urusannya, suaminya akan mempunyai kedudukan yang kokoh di masyarakat dalam bersyukur dan melakukan amal shalih. Apabila seorang isteri memandang rendah pengenalan amal shalih yang diperoleh suaminya, mereka seringkali kesulitan untuk memperoleh kedudukan yang layak untuk melaksanakan amal shalih, karena cara pandang masyarakat dalam urusan amal shalih akan menyerupai cara pandang isteri kepada suaminya. Kadangkala seorang isteri sangat baik terhadap suaminya tetapi tidak bisa memahami kepentingan amal shalih suaminya, maka amal shalih itu akan terbengkalai. Demikian pula dalam pendidikan anak-anak, mereka akan lebih mudah mendidik anak keturunan menjadi shalih apabila terbentuk rumah tangga yang baik, dan sulit mendidik anak menjadi shalih apabila rumah tangga mereka buruk. Dapat dikatakan bahwa kandungan doa di atas terkait erat dengan pembinaan bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.

Upaya syaitan menghalangi seseorang untuk bersyukur kadang dilakukan secara meluas hingga melibatkan masyarakat di sekitar orang yang memperoleh nikmat Allah, dan dilakukan dengan sasaran merusak pokok yang membuahkan sarana bersyukur, yaitu kerusakan rumah tangga. Seseorang yang mengenal nikmat Allah dan ingin bersyukur dibuat syaitan untuk tidak dapat bersyukur karena tidak terwujudnya sarana bersyukur. Mereka tidak ingin meninggalkan kebersyukuran akan tetapi tidak memperoleh sarana bersyukur secara layak, tidak memperoleh kedudukan yang layak untuk menunaikan amanah dan tidak mempunyai kekuatan yang cukup untuk beramal shalih. Syaitan menjadikan keadaan mereka demikian dan Allah mengijinkan hal itu terjadi atas mereka. Dalam beberapa kasus, Allah mengijinkan keadaan demikian terjadi karena masyarakat yang tidak bisa mensyukuri nikmat Allah yang dikaruniakan di antara mereka.

Masyarakat yang Bersyukur

Tegak dan makmurnya suatu bangsa juga dipengaruhi oleh kebersyukuran masyarakat secara luas, tidak hanya seseorang yang memperoleh nikmat Allah. Wujud kemakmuran secara fisik ditentukan terutama kebersyukuran kaum perempuan. Manakala para perempuan suatu negeri kufur terhadap suami-suami mereka, negeri itu akan runtuh. Upaya masyarakat untuk menumbuhkan pemakmuran akan menjadi sangat sulit karena gersangnya para perempuan. Dalam tingkat yang lain, suatu bangsa akan hidup dengan tingkat kemampuan berpikir yang rendah karena tidak mampu bersyukur, tidak membentuk pengetahuan kebenaran yang kokoh dan kurang akal untuk memahami kehendak Allah yang harus diwujudkan dalam kehidupan. Barangkali mereka menyangka pemikiran-pemikiran mereka merupakan kebenaran padahal hanya hawa nafsu saja karena tidak mengetahui nikmat Allah. Tegak dan makmurnya suatu bangsa akan terwujud apabila masyarakat secara luas dapat bersyukur, yaitu bisa memahami kebenaran yang disampaikan kepada mereka dan ikut berperan dalam amal yang harus ditunaikan layaknya istri membantu suaminya.

Di antara ketidakbersyukuran masyarakat berbentuk ditinggalkannya para ulama dan fuqaha oleh kaum muslimin dan mukminin. Karena perbuatan demikian, Allah akan menurunkan tiga bencana berupa : 1. Allah akan mengangkat barokah dari usaha mereka, 2. Allah akan menguasakan atas mereka pemimpin yang dzalim, 3. Allah akan keluarkan dari dunia tanpa iman. Bentuk kesengsaraan demikian itu bukanlah suatu ujian dari sisi Allah yang membersihkan orang-orang yang meninggalkannya, karena mungkin mereka akan mati dalam keadaan tanpa iman. Itu merupakan bencana dunia dan akhirat.

Dari Anas ibn Malik r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda :

ﺳﻴﺎٔﺗﻲ ﺯﻣﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍٔﻣﺘﻲ ﻳﻔﺮﻭﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ،ﻓﻴﺒﺘﻠﻴﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺜﻼﺙ ﺑﻠﻴﺎﺕ ﺍٔﻭﻻﻫﺎ ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻣﻦ ﻛﺴﺒﻬﻢ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻳﺴﻠّﻂ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺳﻠﻄﺎﻧﺎ ﻇﺎﻟﻤﺎ ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻳﺨﺮﺟﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺑﻐﻴﺮ ﺍٕﻳﻤﺎﻥ
Akan datang satu masa dimana umatku akan lari (menjauh) dari ulama dan fuqaha, maka Allah akan mendatangkan tiga bencana atas mereka: 1. Allah akan mengangkat barokah dari usaha mereka, 2. Allah akan menguasakan atas mereka pemimpin yang dzalim, 3. Allah akan keluarkan dari dunia tanpa iman (HR Abu Nuaim)

Kaum muslimin dan mukminin di nusantara pada jaman ini tampak secara jelas mengalami kesulitan berupa 2 musibah di atas. Usaha mereka tampak mengalami kesulitan. Kekayaan negeri diserahkan kepada orang-orang asing, harta terkumpul pada orang-orang jahat di antara mereka, sedangkan masyarakat yang baik harus memikul beban kehidupan dalam kemelaratan. Para cendekiawan di tingkat universitas hanya memperoleh imbalan yang sangat kecil tidak sesuai dengan kapasitas mereka. Ini merupakan bentuk diangkatnya barakah dari usaha masyarakat. Demikian pula pemimpin berbuat secara dzalim. Sekalipun dahulu pemimpin itu tampak sebagai orang yang dapat diharapkan, kenyataannya ia tidak dapat berbuat banyak melawan sistem yang menggurita karena diijinkan Allah.

Hal itu terjadi karena ditinggalkannya ulama dan fuqaha yang ada di antara mereka. Cukuplah dua tanda menjadi peringatan bagi mukminin. Tanda ketiga merupakan hal yang sulit dibuktikan, tetapi itu akan menjadi penyesalan yang sangat besar bagi orang-orang yang ingin membuktikan. Tidak perlu kaum mukminin mengandalkan status keimanannya untuk menentang ayat Allah atau meninggalkan ilmu yang diperoleh dari firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW, karena keimanan demikian itu akan ditanggalkan. Mungkin ada yang tanggal ketika kematian tiba, mungkin tanggal pada hari akhirat, atau mungkin kelak ketika di haudh Rasulullah SAW. Keimanan yang tanggal itu akan menjadikan seseorang masuk neraka karena keadilan Allah. Mustahil seseorang akan nyaman tinggal di surga dalam keadaan telanjang misalnya, tentulah ia akan memilih tinggal ditempat yang ia merasa layak bersama yang lain. Kaum mukminin harus berusaha mengenali pengetahuan-pengetahuan yang dapat mengentaskan dua kesulitan yang menimpa diri mereka dengan menempatkan orang-orang sesuai dengan keadaannya, terutama terhadap orang-orang yang mengenal nikmat Allah dan membutuhkan sarana bersyukur.

Kebutuhan paling dasar orang yang memperoleh nikmat Allah untuk bersyukur adalah rumah tangga yang baik, karena dasar pjakan mereka berupa bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Umat muslimin dan mukminin hendaknya tidak merusak rumah tangga siapapun di antara mereka apalagi orang yang memperoleh nikmat Allah. Pembinaan rumah tangga di kalangan muslimin saat ini tampak lemah dan cenderung rusak. Banyak dijumpai para perempuan yang dibunuh dengan kejam oleh pasangannya karena tidak dijaganya adab mereka terhadap pasangannya. Demikian pula banyak rumah tangga yang tidak dapat melangkah secara layak menempuh kehidupan. Banyak pasangan orang beriman yang berselisih paham dalam rumah tangga mereka, dan bahkan terjadi perusakan ketentuan berumah tangga. Seorang guru besar menuduh penetapan aturan LGBT sebagai pengalihan isu, tidak paham dengan fundamennya rumah tangga yang benar dalam bernegara. Dengan fenomena ini, bisa dikatakan sebagian kaum muslimin tidak menghargai pembinaan rumah tangga. Perusakan demikian termasuk perusakan masyarakat yang paling berat, fitnah terbesar bagi umat manusia. Kurangnya penghargaan atau perusakan terhadap bayt itu akan mendatangkan dampak paling buruk apabila terjadi atas keluarga orang-orang yang memperoleh nikmat Allah.

Untuk memperbaiki keadaan umat, hendaknya umat kembali kepada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan mengikuti pengetahuan para ulama dan fuqaha. Upaya itu akan lebih berhasil apabila umat islam memperbaiki apa yang telah dirusak. Ada orang yang berbuat dan tidak menyadari bahwa mereka berbuat kerusakan maka kerusakan itu terus bertambah. Ada orang yang menyadari kesalahan kemudian ia tidak lagi berbuat kesalahan tetapi ia tidak memperbaiki kesalahan yang terjadi, maka dampak kerusakan itu mungkin tetap muncul dari kesalahannya. Ada orang yang menyadari kesalahan dan bertobat dengan memperbaiki kesalahan dan dampak kesalahannya hingga berubah menjadi kebaikan, maka hal demikian itu merupakan perbuatan memperbaiki apa yang dirusak. Itu adalah bertaubat dengan cara yang paling baik. Para ulama dan fuqaha mempunyai pengetahuan tentang kerusakan-kerusakan yang telah terjadi dalam bidangnya.

Jumat, 03 Juli 2026

Landasan Pensejahteraan Bangsa

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Di antara tanda benarnya mengikuti langkah Rasulullah SAW adalah terwujudnya pemakmuran alam dunia. Ada bentuk-bentuk keimanan yang harus ditumbuhkan umat Rasulullah SAW dengan memperbaiki kemuliaan akhlak. Keimanan yang ditumbuhkan oleh umat manusia merupakan benih yang akan tumbuh sebagai kesejahteraan dunia. Kebanyakan manusia hanya mengikuti hawa nafsu dan keinginan duniawi dalam mensikapi kehidupan dunia, dan hal demikian harus dikendalikan manusia dengan taubat. Lebih lanjut, taubat harus menjadikan manusia memahami fenomena kauniyah yang terjadi dan memikirkan langkah untuk menuju keadaan yang lebih baik.

﴾۶۹﴿وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS Al-A’raaf : 96)

Setiap manusia hendaknya beriman dan bertakwa agar Allah membukakan barakah dari langit dan bumi. Keimanan adalah cahaya Allah yang menerangi kehidupan, bukan sekadar suatu kepercayaan tentang benarnya sesuatu. Misalnya ayat kitabullah apabila dipahami dengan benar kandungan kebaikan yang ada padanya, maka itu merupakan keimanan berupa cahaya. Itu berlaku baik manakala seseorang mampu memahami sendiri ataupun manakala ia mendengarnya dari orang lain. Seseorang menjadi beriman apabila ayat yang disampaikan kepada mereka menjadi cahaya yang menerangi kehidupan.

Pengimanan itu dapat dilakukan melalui proses taubat kepada Allah dengan berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Seseorang yang kafir hendaknya melangkah untuk berserah diri (islam). Kaum muslimin harus melangkah untuk melakukan tazkiyatun-nafs. Orang yang disucikan harus berusaha untuk memahami tuntunan Allah baik yang dijumpai pada ayat kitabullah ataupun ayat kauniyah bagi mereka. Orang yang bisa memahami ayat Allah hendaknya berusaha untuk mengenal untuk peran apa dirinya diciptakan. Orang yang mengenal untuk apa dirinya diciptakan harus berusaha membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah agar ia menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah. Seluruh proses itu hendaknya dilakukan dengan berpegang erat pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sesuai dengan keadaan masing-masing.

Keberkahan dari langit dan bumi akan dibukakan kepada suatu negeri dengan orang-orang beriman apabila mereka bertakwa. Keimanan yang terbentuk itu harus ditindaklanjuti dengan amal-amal shalih yang dilakukan berdasarkan keimanan yang benar. Amal-amal shalih demikian itu merupakan wujud ketakwaan yang harus dilakukan agar keberkahan dari langit dan bumi dibukakan.

Keimanan kaum harus disusun dengan benar mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap orang harus dibina untuk bisa memahami kebenaran dengan baik. Pemahaman terhadap ayat kitabullah harus diajarkan dengan tepat dan terinci selaras dengan segala yang tercantum dalam kitabullah, sesuai dengan perkembangan manusia yang diajar. Hendaknya setiap orang dapat memahami nilai kepentingan dari ayat-ayat kitabullah sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan, tidak mengabaikan kebenaran di dalamnya hingga manusia hanya mengejar keinginan diri sendiri. Kadangkala suatu kaum berjuang untuk kebenaran tetapi tidak benar-benar memperjuangkan firman Allah. Suatu kaum akan lemah bila mengikuti kebenaran dalam pikiran sendiri tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, atau menganggap persepsi indera dan pikirannya sendiri sebagai shirat al-mustaqim. Hal demikian merupakan bentuk keimanan yang lemah atau bahkan menyimpang. Memahami dan berbuat mengikuti ayat Allah baik kitabullah maupun kauniyah akan menanamkan keimanan yang benar dan kokoh.

Kadangkala suatu kaum justru mencegah upaya pewujudan amal shalih dari keimanan yang benar di antara mereka, maka mereka itu sebenarnya menutup pintu-pintu keberkahan yang hendak dibukakan Allah. Mereka mencegah orang-orang yang beriman di antara mereka untuk bertakwa, dan itu menutup pintu keberkahan. Keimanan yang salah bisa melahirkan tindakan menutup pintu berkah. Misalnya ada orang-orang yang diberi kekuatan indera bathiniah berupa pendengaran, penglihatan dan qalb akan tetapi mereka tidak menggunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah. Kadangkala kaum demikian lebih mengikuti persepsi indera-indera bathiniah mereka daripada memahami dan melaksanakan tuntunan-tuntunan Allah. Itu adalah keimanan yang salah. Penghambaan demikian tidak jarang berbenturan dengan penghambaan orang-orang yang ingin mengikuti tuntunan Allah dan sunnah Rasulullah SAW, sedemikian langkah mereka untuk mengikuti tuntunan Allah dan Rasulullah SAW tertutup. Jalan ketakwaan itu menjadi tertutup dan pintu-pintu berkah menjadi tertutup. Itu merupakan salah satu contoh keimanan yang keliru.

Penghambat Perkembangan

Akan datang pada masa setelah Rasulullah SAW suatu keadaan yang tidak baik berupa monopoli kebenaran dan pelaksanaan perkara-perkara yang tidak dipahami nilainya.

Dari Abdullah Ibn Mas’ud r.a berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda :
إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِى أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَأْمُرُ مَنْ أَدْرَكَ مِنَّا ذَلِكَ قَالَ تُؤَدُّونَ الْحَقَّ الَّذِى عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُونَ اللَّهَ الَّذِى لَكُمْ
Sesungguhnya setelahku akan terjadi monopoli dan perkara-perkara yang kamu akan mengingkarinya. Para sahabat bertanya, “Apakah yang anda perintahkan kepada orang di antara kami yang mendapati hal itu?” Beliau menjawab, “Kamu tunaikan kewajibanmu dan kamu meminta hakmu kepada Allah”. [HR Muttafaq ‘alaihi]

Monopoli pada hadits di atas disebut dengan kata أَثَرَةٌ yang menunjukkan makna pengutamaan diri seseorang atas orang-orang lain, bahwa ada orang-orang yang menganggap dirinya lebih utama dibandingkan dengan orang-orang lain pada umumnya hingga ia merasa mempunyai hak khusus yang tidak diberikan kepada orang lain sedangkan anggapan itu sebenarnya tidak mempunyai landasan yang dibenarkan. Contoh di masyarakat umum, mungkin ada wakil rakyat yang merasa berhak untuk mencela atau mengintimidasi dokter yang menangani kecelakaan dirinya. Pengutamaan diri demikian berlaku secara luas tidak hanya dalam perkara tertentu, bisa terjadi dari masyarakat umum hingga mungkin saja terjadi di antara orang-orang beriman yang tidak bertakwa kepada Allah.

Anggapan pengutamaan diri yang terjadi pada umat Rasulullah SAW dalam hadits di atas adalah pengutamaan diri tanpa suatu alasan yang benar. Tentu saja ada orang-orang beriman yang memperoleh keutamaan di antara mukminin lainnya, dan keutamaan itu diketahui secara umum berdasarkan ketentuan dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Orang-orang beriman dan berilmu misalnya, mereka memperoleh keutamaan beberapa derajat dari sisi Allah hingga layak dan seharusnya diutamakan di antara umat Rasulullah SAW. Pengutamaan mereka akan mengangkat umat secara umum dengan keimanan dan ilmu yang diajarkan. Apabila umat tidak memberikan keutamaannya, merekan seluruhnya akan hidup dalam kesulitan karena hancurnya tatanan masyarakat dan hilangnya berkah dalam kasab.

Walaupun demikian, monopoli ( أَثَرَةٌ ) juga bisa terjadi pada masalah keilmuan karena adanya ilmu-ilmu yang bathil. Hal ini akan menghambat pemakmuran. Syaitan juga menggalakkan ilmu yang merupakan fitnah di antara orang beriman. Di antara tanda keilmuan demikian adalah monopoli keilmuan, di mana kebenaran ilmu yang mereka akui hanya berasal dari satu orang atau orang-orang tertentu. Kadang dijumpai sifat megalomania, ditandai dengan ketidakmampuan memahami kebenaran dari orang lain dan meremehkan orangnya. Ini tanda megalomania yang benar. Kadangkala seseorang dipandang mengalami megalomania sedangkan ia masih bisa memahami kebenaran dari orang lain. Misalnya seseorang yang menuliskan pengetahuan dari kitabullah bisa saja dipandang megalomania karena mengagumi kandungan kitabullah. Sebenarnya ia tidak bisa dikatakan megalomania selama bisa memahami kebenaran dari orang lain. Bila tidak bisa memahami ilmu yang benar dari orang-orang lain, atau sulit untuk melihat kebenaran sekalipun berlandaskan pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka barulah ia mengalami megalomania. Umat akan menjadi sulit mengenali ilmu-ilmu yang lurus yang bermanfaat untuk mendatangkan kebaikan bagi umat karena monopoli kebenaran. Pokok masalahnya terletak pada monopoli kebenarannya, bukan benar atau salahnya keilmuan yang diikuti. Mungkin banyak bagian ilmunya benar, tetapi ada suatu kesalahan yang membuat masyarakat menjadi sulit sejahtera. Bila monopoli keilmuan tidak terjadi, kesalahan itu sebenarnya mudah dikembalikan ke pemahaman yang benar.

Keilmuan di antara orang beriman harus dikembangkan dengan sebaik-baiknya tidak dibatasi dengan monopoli kebenaran. Keilmuan yang berkembang pada orang-orang beriman akan mengangkat derajat umat, tidak hanya dalam sudut pandang dunia tetapi juga derajat di sisi Allah. Manakala keilmuan dibatasi dengan monopoli, umat akan sangat mudah terjatuh pada kedudukan yang rendah. Monopoli keilmuan itu hanya dibatasi pada Rasulullah SAW, sedangkan keilmuan umat manusia dan seluruh makhluk secara umum bersifat berbagi pengetahuan. Ada perbedaan kedudukan di antara orang-orang beriman karena derajat ilmunya, tetapi hal demikian tidak boleh dijadikan alasan membatasi perkembangan keilmuan. Sekalipun orang hanya berkembang pada ilmu-ilmu duniawi, ia harus dihormati keilmuannya dan dijaga perkembangannya tidak dikebiri dengan dalil-dalil agama secara salah. Ilmu yang berkedudukan tinggi hendaknya digunakan untuk menjaga agar manusia khususnya orang beriman agar tidak menyimpang dari jalan Allah, dan hendaknya memberikan visi pengembangan ilmu agar keilmuan setiap manusia berkembang selama tidak menyimpang dari kebenaran.

Ketika suatu monopoli keilmuan terjadi, biasanya pemonopoli tidak mengerti kedudukan keilmuan mereka. Ini barangkali sedikit berbeda dengan monopoli yang lebih mendekati sifat jasmaniah karena lebih mudah dikuantifikasi. Monopoli keilmuan seringkali tidak hanya terhadap keilmuan yang lebih rendah, akan tetapi setiap keilmuan akan cenderung dimonopoli. Hal-hal yang fundamental bagi perkembangan manusia dan masyarakat bisa kemudian menjadi pudar atau hilang karena monopoli. Ini bisa mendatangkan madlarat yang sangat besar bagi umat manusia. Manusia akan menjadi semakin kacau tidak tahu tatanan yang harus diwujudkan hanya mengikuti hawa nafsu sendiri. Bisa saja orang-orang berilmu di antara masyarakat justru disingkirkan hingga tidak berguna diganti dengan anak ingusan yang tidak punya pengalaman sama sekali karena penentu kebijakan hanya mengikuti hawa nafsu sendiri. Ilmu paling fundamental bagi manusia dan masyarakat adalah ilmu tauhid dan shilaturrahmi.

Masyarakat yang membangun fundamen baik akan mengenali dan mengerjakan urusan-urusan yang ma’ruf sedemikian terjadi perubahan menuju kebaikan. Masyarakat dengan fundamen yang buruk akan mengalami kehidupan yang semakin kacau. Mereka akan mengerjakan urusan-urusan yang tidak jelas tingkat kepentingannya. Misalnya suatu negara yang besar dengan jumlah penduduk ratusan juta dipimpin oleh pemimpin yang menitikberatkan urusan utamanya pada memberi makanan anak-anak. Ini merupakan contoh urusan yang banyak diingkari oleh penduduk negara itu sendiri. Seharusnya pemimpin negara menitikberatkan urusan pada hal-hal yang lebih fundamental mencerdaskan kehidupan bangsa bukan pada memberikan makanan. Bisa ditemukan sangat banyak urusan yang sebenarnya diingkari oleh orang berakal, tidak terbatas hanya pada kasus memberi makan. Dalam keilmuan pun bisa saja dijumpai pelaksanaan urusan yang sebenarnya diingkari oleh pelaksananya. 

Timbangan Amal dan Implementasi

Kaum mukminin yang berakal hendaknya mengenali bobot urusan yang dilaksanakan apakah ma’ruf atau munkar dengan membangun kerangka arah dan tujuan yang harus ditempuh dalam kehidupan dunia. Kerangka itu hendaknya dibentuk dari pemahaman terhadap ayat Allah. Dengan kerangka itu mukminin bisa menilai bobot nilai dari urusan yang dikerjakan. Dalam langkah taubat misalnya, mukminin bisa menilai urusan yang tepat untuk dikerjakan sesuai dengan keadaan masing-masing. Seorang yang disucikan akan berusaha memahami ayat Allah dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Seorang muslim akan berusaha untuk melakukan tazkiyatun-nafs agar dapat memahami ayat Allah dengan selamat dijauhkan dari hawa nafsu dan keinginan sendiri, dan seterusnya. Mungkin setiap amal terkait taubat harus dilakukan, tetapi ia mengenali sasaran yang harus dicapai. Mustahil seseorang mengenal diri tanpa berusaha mengenali terlebih dahulu urusan Allah yang harus ditunaikan. Orang yang mengetahui keadaan dirinya akan memilih sasaran yang bisa diraih dari keadaan diri. Itu adalah contoh kerangka arah dan tujuan untuk menimbang bobot kema’rufan dan kebodohan sebagai nilai dalam urusan yang dikerjakan. Kerangka arah dan tujuan itu tidak terbatas pada urusan taubat, tetapi juga pada setiap bidang kehidupan seperti pemakmuran dan lain sebagainya.

Sekalipun seseorang dapat melihat bobot nilai dalam urusan yang dikerjakan, orang beriman belum tentu mempunyai kesempatan untuk mengarahkan usaha manusia untuk memperoleh bobot yang terbaik. Tentu bukan tidak berkeinginan memberikan arahan, tetapi mungkin mereka tidak diberi kesempatan untuk menunjukkan arah yang terbaik. Manakala terjadi demikian, Rasulullah SAW memerintahkan kepada orang beriman untuk menunaikan kebenaran-kebenaran yang harus ditunaikan, sedangkan tentang hak diri mereka hendaknya mereka meminta kepada Allah. Sekalipun seorang beriman tidak memperoleh haknya dari manusia, mereka harus tetap menunaikan kebenaran yang harus ditunaikan, sedangkan terkait hak mereka hendaknya mereka memohon kepada Allah.

Ini adalah tugas orang beriman. Barangkali tugas ini terasa berat. Seseorang harus menunaikan tugas-tugasnya dalam urusan kebenaran tanpa kepastian memperoleh hak-hak yang seharusnya diperoleh melalui manusia atau masyarakat. Mereka seolah-olah harus bekerja tanpa imbalan. Ini tidak terkait dengan keikhlasan atau pengotoran terhadap amal, tetapi tentang tatanan yang jauh dari tuntunan Allah hingga menghambat hak manusia. Pada umumnya sebagai makhluk sosial, manakala seorang beriman beramal maka akan datang imbalan rezeki dari Allah yang mengalir secara wajar melalui masyarakat manusia. Tetapi dalam keadaan tertentu, amal mereka itu bisa saja tidak memperoleh imbalan melalui masyarakat secara layak atau bahkan sama sekali tidak ada. Masalahnya berakar pada monopoli dan urusan yang diingkari. Gambarannya seperti penyunatan anggaran pendidikan untuk program makan anak-anak dan kehilangan karena korupsi, maka pendidikan terdampak secara ekonomi. Dalam keadaan demikian, orang beriman harus tetap menunaikan kebenaran yang dikenali dan memohon haknya kepada Allah, tidak boleh mangkir dari pelaksanaan urusan yang diturunkan Allah.

Tauhid merupakan fundamen yang harus dibangun pada penataan umat manusia dan khususnya umat Islam. Tauhid dalam hal ini adalah pembinaan manusia untuk mengenal kehendak Allah dengan benar berdasarkan sifat rahman dan rahim, bukan tauhid yang dibuat-buat dalam bentuk tiga tauhid dan sebagainya. Setiap orang hendaknya didorong untuk bertaubat kepada Allah. Orang-orang kafir dan ahlul kitab hendaknya diseru untuk berserah diri dengan keislaman. Orang islam hendaknya diseru untuk melakukan tazkiyatun-nafs agar dapat memahami ayat-ayat Allah dengan bersih dijauhkan dari dorongan hawa nafsu dan syahwat. Orang yang disucikan hendaknya diajarkan untuk memahami ayat-ayat Allah secara komprehensif hingga dapat mengenal urusan Allah untuk ruang dan jaman mereka. Orang yang mengenal urusan Allah untuk ruang dan jamannya hendaknya diarahkan untuk mengenal peran dirinya bagi Al-jamaah membantu pelaksanaan urusan Rasulullah SAW. Orang yang mengenal peran dirinya hendaknya membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah hingga ia menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah. Demikian itulah tauhid yang harus dijadikan fundamen membangun kehidupan masyarakat, bukan teori tauhid yang selesai dipahami dalam lima menit. Dengan pondasi tauhid yang benar, masyarakat akan tertata hingga pemakmuran dapat tumbuh di masyarakat, bangsa dan dunia secara keseluruhan.