Pencarian

Jumat, 03 Juli 2026

Landasan Pensejahteraan Bangsa

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Di antara tanda benarnya mengikuti langkah Rasulullah SAW adalah terwujudnya pemakmuran alam dunia. Ada bentuk-bentuk keimanan yang harus ditumbuhkan umat Rasulullah SAW dengan memperbaiki kemuliaan akhlak. Keimanan yang ditumbuhkan oleh umat manusia merupakan benih yang akan tumbuh sebagai kesejahteraan dunia. Kebanyakan manusia hanya mengikuti hawa nafsu dan keinginan duniawi dalam mensikapi kehidupan dunia, dan hal demikian harus dikendalikan manusia dengan taubat. Lebih lanjut, taubat harus menjadikan manusia memahami fenomena kauniyah yang terjadi dan memikirkan langkah untuk menuju keadaan yang lebih baik.

﴾۶۹﴿وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS Al-A’raaf : 96)

Setiap manusia hendaknya beriman dan bertakwa agar Allah membukakan barakah dari langit dan bumi. Keimanan adalah cahaya Allah yang menerangi kehidupan, bukan sekadar suatu kepercayaan tentang benarnya sesuatu. Misalnya ayat kitabullah apabila dipahami dengan benar kandungan kebaikan yang ada padanya, maka itu merupakan keimanan berupa cahaya. Itu berlaku baik manakala seseorang mampu memahami sendiri ataupun manakala ia mendengarnya dari orang lain. Seseorang menjadi beriman apabila ayat yang disampaikan kepada mereka menjadi cahaya yang menerangi kehidupan.

Pengimanan itu dapat dilakukan melalui proses taubat kepada Allah dengan berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Seseorang yang kafir hendaknya melangkah untuk berserah diri (islam). Kaum muslimin harus melangkah untuk melakukan tazkiyatun-nafs. Orang yang disucikan harus berusaha untuk memahami tuntunan Allah baik yang dijumpai pada ayat kitabullah ataupun ayat kauniyah bagi mereka. Orang yang bisa memahami ayat Allah hendaknya berusaha untuk mengenal untuk peran apa dirinya diciptakan. Orang yang mengenal untuk apa dirinya diciptakan harus berusaha membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah agar ia menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah. Seluruh proses itu hendaknya dilakukan dengan berpegang erat pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sesuai dengan keadaan masing-masing.

Keberkahan dari langit dan bumi akan dibukakan kepada suatu negeri dengan orang-orang beriman apabila mereka bertakwa. Keimanan yang terbentuk itu harus ditindaklanjuti dengan amal-amal shalih yang dilakukan berdasarkan keimanan yang benar. Amal-amal shalih demikian itu merupakan wujud ketakwaan yang harus dilakukan agar keberkahan dari langit dan bumi dibukakan.

Keimanan kaum harus disusun dengan benar mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap orang harus dibina untuk bisa memahami kebenaran dengan baik. Pemahaman terhadap ayat kitabullah harus diajarkan dengan tepat dan terinci selaras dengan segala yang tercantum dalam kitabullah, sesuai dengan perkembangan manusia yang diajar. Hendaknya setiap orang dapat memahami nilai kepentingan dari ayat-ayat kitabullah sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan, tidak mengabaikan kebenaran di dalamnya hingga manusia hanya mengejar keinginan diri sendiri. Kadangkala suatu kaum berjuang untuk kebenaran tetapi tidak benar-benar memperjuangkan firman Allah. Suatu kaum akan lemah bila mengikuti kebenaran dalam pikiran sendiri tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, atau menganggap persepsi indera dan pikirannya sendiri sebagai shirat al-mustaqim. Hal demikian merupakan bentuk keimanan yang lemah atau bahkan menyimpang. Memahami dan berbuat mengikuti ayat Allah baik kitabullah maupun kauniyah akan menanamkan keimanan yang benar dan kokoh.

Kadangkala suatu kaum justru mencegah upaya pewujudan amal shalih dari keimanan yang benar di antara mereka, maka mereka itu sebenarnya menutup pintu-pintu keberkahan yang hendak dibukakan Allah. Mereka mencegah orang-orang yang beriman di antara mereka untuk bertakwa, dan itu menutup pintu keberkahan. Keimanan yang salah bisa melahirkan tindakan menutup pintu berkah. Misalnya ada orang-orang yang diberi kekuatan indera bathiniah berupa pendengaran, penglihatan dan qalb akan tetapi mereka tidak menggunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah. Kadangkala kaum demikian lebih mengikuti persepsi indera-indera bathiniah mereka daripada memahami dan melaksanakan tuntunan-tuntunan Allah. Itu adalah keimanan yang salah. Penghambaan demikian tidak jarang berbenturan dengan penghambaan orang-orang yang ingin mengikuti tuntunan Allah dan sunnah Rasulullah SAW, sedemikian langkah mereka untuk mengikuti tuntunan Allah dan Rasulullah SAW tertutup. Jalan ketakwaan itu menjadi tertutup dan pintu-pintu berkah menjadi tertutup. Itu merupakan salah satu contoh keimanan yang keliru.

Penghambat Perkembangan

Akan datang pada masa setelah Rasulullah SAW suatu keadaan yang tidak baik berupa monopoli kebenaran dan pelaksanaan perkara-perkara yang tidak dipahami nilainya.

Dari Abdullah Ibn Mas’ud r.a berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda :
إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِى أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَأْمُرُ مَنْ أَدْرَكَ مِنَّا ذَلِكَ قَالَ تُؤَدُّونَ الْحَقَّ الَّذِى عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُونَ اللَّهَ الَّذِى لَكُمْ
Sesungguhnya setelahku akan terjadi monopoli dan perkara-perkara yang kamu akan mengingkarinya. Para sahabat bertanya, “Apakah yang anda perintahkan kepada orang di antara kami yang mendapati hal itu?” Beliau menjawab, “Kamu tunaikan kewajibanmu dan kamu meminta hakmu kepada Allah”. [HR Muttafaq ‘alaihi]

Monopoli pada hadits di atas disebut dengan kata أَثَرَةٌ yang menunjukkan makna pengutamaan diri seseorang atas orang-orang lain, bahwa ada orang-orang yang menganggap dirinya lebih utama dibandingkan dengan orang-orang lain pada umumnya hingga ia merasa mempunyai hak khusus yang tidak diberikan kepada orang lain sedangkan anggapan itu sebenarnya tidak mempunyai landasan yang dibenarkan. Contoh di masyarakat umum, mungkin ada wakil rakyat yang merasa berhak untuk mencela atau mengintimidasi dokter yang menangani kecelakaan dirinya. Pengutamaan diri demikian berlaku secara luas tidak hanya dalam perkara tertentu, bisa terjadi dari masyarakat umum hingga mungkin saja terjadi di antara orang-orang beriman yang tidak bertakwa kepada Allah.

Anggapan pengutamaan diri yang terjadi pada umat Rasulullah SAW dalam hadits di atas adalah pengutamaan diri tanpa suatu alasan yang benar. Tentu saja ada orang-orang beriman yang memperoleh keutamaan di antara mukminin lainnya, dan keutamaan itu diketahui secara umum berdasarkan ketentuan dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Orang-orang beriman dan berilmu misalnya, mereka memperoleh keutamaan beberapa derajat dari sisi Allah hingga layak dan seharusnya diutamakan di antara umat Rasulullah SAW. Pengutamaan mereka akan mengangkat umat secara umum dengan keimanan dan ilmu yang diajarkan. Apabila umat tidak memberikan keutamaannya, merekan seluruhnya akan hidup dalam kesulitan karena hancurnya tatanan masyarakat dan hilangnya berkah dalam kasab.

Walaupun demikian, monopoli ( أَثَرَةٌ ) juga bisa terjadi pada masalah keilmuan karena adanya ilmu-ilmu yang bathil. Hal ini akan menghambat pemakmuran. Syaitan juga menggalakkan ilmu yang merupakan fitnah di antara orang beriman. Di antara tanda keilmuan demikian adalah monopoli keilmuan, di mana kebenaran ilmu yang mereka akui hanya berasal dari satu orang atau orang-orang tertentu. Kadang dijumpai sifat megalomania, ditandai dengan ketidakmampuan memahami kebenaran dari orang lain dan meremehkan orangnya. Ini tanda megalomania yang benar. Kadangkala seseorang dipandang mengalami megalomania sedangkan ia masih bisa memahami kebenaran dari orang lain. Misalnya seseorang yang menuliskan pengetahuan dari kitabullah bisa saja dipandang megalomania karena mengagumi kandungan kitabullah. Sebenarnya ia tidak bisa dikatakan megalomania selama bisa memahami kebenaran dari orang lain. Bila tidak bisa memahami ilmu yang benar dari orang-orang lain, atau sulit untuk melihat kebenaran sekalipun berlandaskan pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka barulah ia mengalami megalomania. Umat akan menjadi sulit mengenali ilmu-ilmu yang lurus yang bermanfaat untuk mendatangkan kebaikan bagi umat karena monopoli kebenaran. Pokok masalahnya terletak pada monopoli kebenarannya, bukan benar atau salahnya keilmuan yang diikuti. Mungkin banyak bagian ilmunya benar, tetapi ada suatu kesalahan yang membuat masyarakat menjadi sulit sejahtera. Bila monopoli keilmuan tidak terjadi, kesalahan itu sebenarnya mudah dikembalikan ke pemahaman yang benar.

Keilmuan di antara orang beriman harus dikembangkan dengan sebaik-baiknya tidak dibatasi dengan monopoli kebenaran. Keilmuan yang berkembang pada orang-orang beriman akan mengangkat derajat umat, tidak hanya dalam sudut pandang dunia tetapi juga derajat di sisi Allah. Manakala keilmuan dibatasi dengan monopoli, umat akan sangat mudah terjatuh pada kedudukan yang rendah. Monopoli keilmuan itu hanya dibatasi pada Rasulullah SAW, sedangkan keilmuan umat manusia dan seluruh makhluk secara umum bersifat berbagi pengetahuan. Ada perbedaan kedudukan di antara orang-orang beriman karena derajat ilmunya, tetapi hal demikian tidak boleh dijadikan alasan membatasi perkembangan keilmuan. Sekalipun orang hanya berkembang pada ilmu-ilmu duniawi, ia harus dihormati keilmuannya dan dijaga perkembangannya tidak dikebiri dengan dalil-dalil agama secara salah. Ilmu yang berkedudukan tinggi hendaknya digunakan untuk menjaga agar manusia khususnya orang beriman agar tidak menyimpang dari jalan Allah, dan hendaknya memberikan visi pengembangan ilmu agar keilmuan setiap manusia berkembang selama tidak menyimpang dari kebenaran.

Ketika suatu monopoli keilmuan terjadi, biasanya pemonopoli tidak mengerti kedudukan keilmuan mereka. Ini barangkali sedikit berbeda dengan monopoli yang lebih mendekati sifat jasmaniah karena lebih mudah dikuantifikasi. Monopoli keilmuan seringkali tidak hanya terhadap keilmuan yang lebih rendah, akan tetapi setiap keilmuan akan cenderung dimonopoli. Hal-hal yang fundamental bagi perkembangan manusia dan masyarakat bisa kemudian menjadi pudar atau hilang karena monopoli. Ini bisa mendatangkan madlarat yang sangat besar bagi umat manusia. Manusia akan menjadi semakin kacau tidak tahu tatanan yang harus diwujudkan hanya mengikuti hawa nafsu sendiri. Bisa saja orang-orang berilmu di antara masyarakat justru disingkirkan hingga tidak berguna diganti dengan anak ingusan yang tidak punya pengalaman sama sekali karena penentu kebijakan hanya mengikuti hawa nafsu sendiri. Ilmu paling fundamental bagi manusia dan masyarakat adalah ilmu tauhid dan shilaturrahmi.

Masyarakat yang membangun fundamen baik akan mengenali dan mengerjakan urusan-urusan yang ma’ruf sedemikian terjadi perubahan menuju kebaikan. Masyarakat dengan fundamen yang buruk akan mengalami kehidupan yang semakin kacau. Mereka akan mengerjakan urusan-urusan yang tidak jelas tingkat kepentingannya. Misalnya suatu negara yang besar dengan jumlah penduduk ratusan juta dipimpin oleh pemimpin yang menitikberatkan urusan utamanya pada memberi makanan anak-anak. Ini merupakan contoh urusan yang banyak diingkari oleh penduduk negara itu sendiri. Seharusnya pemimpin negara menitikberatkan urusan pada hal-hal yang lebih fundamental mencerdaskan kehidupan bangsa bukan pada memberikan makanan. Bisa ditemukan sangat banyak urusan yang sebenarnya diingkari oleh orang berakal, tidak terbatas hanya pada kasus memberi makan. Dalam keilmuan pun bisa saja dijumpai pelaksanaan urusan yang sebenarnya diingkari oleh pelaksananya. 

Timbangan Amal dan Implementasi

Kaum mukminin yang berakal hendaknya mengenali bobot urusan yang dilaksanakan apakah ma’ruf atau munkar dengan membangun kerangka arah dan tujuan yang harus ditempuh dalam kehidupan dunia. Kerangka itu hendaknya dibentuk dari pemahaman terhadap ayat Allah. Dengan kerangka itu mukminin bisa menilai bobot nilai dari urusan yang dikerjakan. Dalam langkah taubat misalnya, mukminin bisa menilai urusan yang tepat untuk dikerjakan sesuai dengan keadaan masing-masing. Seorang yang disucikan akan berusaha memahami ayat Allah dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Seorang muslim akan berusaha untuk melakukan tazkiyatun-nafs agar dapat memahami ayat Allah dengan selamat dijauhkan dari hawa nafsu dan keinginan sendiri, dan seterusnya. Mungkin setiap amal terkait taubat harus dilakukan, tetapi ia mengenali sasaran yang harus dicapai. Mustahil seseorang mengenal diri tanpa berusaha mengenali terlebih dahulu urusan Allah yang harus ditunaikan. Orang yang mengetahui keadaan dirinya akan memilih sasaran yang bisa diraih dari keadaan diri. Itu adalah contoh kerangka arah dan tujuan untuk menimbang bobot kema’rufan dan kebodohan sebagai nilai dalam urusan yang dikerjakan. Kerangka arah dan tujuan itu tidak terbatas pada urusan taubat, tetapi juga pada setiap bidang kehidupan seperti pemakmuran dan lain sebagainya.

Sekalipun seseorang dapat melihat bobot nilai dalam urusan yang dikerjakan, orang beriman belum tentu mempunyai kesempatan untuk mengarahkan usaha manusia untuk memperoleh bobot yang terbaik. Tentu bukan tidak berkeinginan memberikan arahan, tetapi mungkin mereka tidak diberi kesempatan untuk menunjukkan arah yang terbaik. Manakala terjadi demikian, Rasulullah SAW memerintahkan kepada orang beriman untuk menunaikan kebenaran-kebenaran yang harus ditunaikan, sedangkan tentang hak diri mereka hendaknya mereka meminta kepada Allah. Sekalipun seorang beriman tidak memperoleh haknya dari manusia, mereka harus tetap menunaikan kebenaran yang harus ditunaikan, sedangkan terkait hak mereka hendaknya mereka memohon kepada Allah.

Ini adalah tugas orang beriman. Barangkali tugas ini terasa berat. Seseorang harus menunaikan tugas-tugasnya dalam urusan kebenaran tanpa kepastian memperoleh hak-hak yang seharusnya diperoleh melalui manusia atau masyarakat. Mereka seolah-olah harus bekerja tanpa imbalan. Ini tidak terkait dengan keikhlasan atau pengotoran terhadap amal, tetapi tentang tatanan yang jauh dari tuntunan Allah hingga menghambat hak manusia. Pada umumnya sebagai makhluk sosial, manakala seorang beriman beramal maka akan datang imbalan rezeki dari Allah yang mengalir secara wajar melalui masyarakat manusia. Tetapi dalam keadaan tertentu, amal mereka itu bisa saja tidak memperoleh imbalan melalui masyarakat secara layak atau bahkan sama sekali tidak ada. Masalahnya berakar pada monopoli dan urusan yang diingkari. Gambarannya seperti penyunatan anggaran pendidikan untuk program makan anak-anak dan kehilangan karena korupsi, maka pendidikan terdampak secara ekonomi. Dalam keadaan demikian, orang beriman harus tetap menunaikan kebenaran yang dikenali dan memohon haknya kepada Allah, tidak boleh mangkir dari pelaksanaan urusan yang diturunkan Allah.

Tauhid merupakan fundamen yang harus dibangun pada penataan umat manusia dan khususnya umat Islam. Tauhid dalam hal ini adalah pembinaan manusia untuk mengenal kehendak Allah dengan benar berdasarkan sifat rahman dan rahim, bukan tauhid yang dibuat-buat dalam bentuk tiga tauhid dan sebagainya. Setiap orang hendaknya didorong untuk bertaubat kepada Allah. Orang-orang kafir dan ahlul kitab hendaknya diseru untuk berserah diri dengan keislaman. Orang islam hendaknya diseru untuk melakukan tazkiyatun-nafs agar dapat memahami ayat-ayat Allah dengan bersih dijauhkan dari dorongan hawa nafsu dan syahwat. Orang yang disucikan hendaknya diajarkan untuk memahami ayat-ayat Allah secara komprehensif hingga dapat mengenal urusan Allah untuk ruang dan jaman mereka. Orang yang mengenal urusan Allah untuk ruang dan jamannya hendaknya diarahkan untuk mengenal peran dirinya bagi Al-jamaah membantu pelaksanaan urusan Rasulullah SAW. Orang yang mengenal peran dirinya hendaknya membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah hingga ia menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah. Demikian itulah tauhid yang harus dijadikan fundamen membangun kehidupan masyarakat, bukan teori tauhid yang selesai dipahami dalam lima menit. Dengan pondasi tauhid yang benar, masyarakat akan tertata hingga pemakmuran dapat tumbuh di masyarakat, bangsa dan dunia secara keseluruhan.

Rabu, 01 Juli 2026

Membangun Kesejahteraan Bangsa

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Di antara tanda benarnya mengikuti langkah Rasulullah SAW adalah terwujudnya pemakmuran alam dunia. Dengan taubat seseorang dibentuk untuk dapat mempersepsi dengan benar fenomena yang terjadi di alam dunia, mampu memahami makna yang terkandung pada apa yang terjadi dan mampu memikirkan langkah untuk membentuk keadaan yang lebih baik. Keadaan demikian merupakan bentuk keimanan yang harus diwujudkan umat Rasulullah SAW dengan memperbaiki kemuliaan akhlak melalui taubat. Kebanyakan manusia hanya mengikuti hawa nafsu dan keinginan duniawi dalam mensikapi kehidupan dunia, dan hal demikian itulah yang dikendalikan dari manusia dengan taubat. Lebih lanjut, taubat harus menjadikan manusia memahami fenomena kauniyah yang terjadi dan memikirkan langkah untuk menuju keadaan yang lebih baik.

﴾۶۹﴿وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS Al-A’raaf : 96)

Setiap manusia hendaknya beriman dan bertakwa agar Allah membukakan barakah dari langit dan bumi. Keimanan adalah cahaya Allah yang menerangi kehidupan, bukan sekadar suatu kepercayaan tentang benarnya sesuatu. Misalnya ayat kitabullah apabila dipahami dengan benar kandungan kebaikan yang ada padanya, maka itu merupakan keimanan berupa cahaya. Itu berlaku baik manakala seseorang mampu memahami sendiri ataupun manakala ia mendengarnya dari orang lain. Bila sekadar percaya bahwa ayat itu merupakan firman Allah, maka kepercayaan demikian belum menjadi suatu cahaya iman yang menerangi. Mungkin seseorang bukan tergolong kafir terhadap suatu ayat, akan tetapi bisa saja ia belum menjadi beriman dengan ayat tersebut. Mungkin saja seseorang baru mencapai keislaman belum keimanan. Seseorang menjadi beriman apabila ayat yang disampaikan kepada mereka menjadi cahaya yang menerangi kehidupan.

Keimanan diperoleh melalui pembentukan akhlak mulia, bukan melalui pemikiran logika. Suatu akhlak tertentu akan mendatangkan suatu pemahaman terhadap kebaikan setara dengan akhlaknya. Akhlak yang mulia akan memahami kebaikan dari tuntunan Allah secara lebih baik, dan akhlak yang buruk akan sulit memahami kebaikan dari tuntunan yang disampaikan. Seseorang dengan akhlak yang buruk mungkin bisa memahami perkataan dengan baik akan tetapi dorongan yang muncul dari pemahaman itu akan buruk. Hal itu sebenarnya merupakan pemahaman yang buruk. Pemahaman terhadap kebaikan harus dilakukan melalui pembinaan akhlak mulia.

Pembinaan akhlak mulia itu harus dilakukan melalui proses taubat kepada Allah dengan berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Seseorang yang kafir hendaknya melangkah untuk berserah diri (islam). Kaum muslimin harus melangkah untuk melakukan tazkiyatun-nafs. Orang yang disucikan harus berusaha untuk memahami tuntunan Allah baik yang dijumpai pada ayat kitabullah ataupun ayat kauniyah bagi mereka. Orang yang bisa memahami ayat Allah hendaknya berusaha untuk mengenal untuk peran apa dirinya diciptakan. Orang yang mengenal untuk apa dirinya diciptakan harus berusaha membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah agar ia menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah. Seluruh proses itu hendaknya dilakukan dengan berpegang erat pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sesuai dengan keadaan masing-masing. Ada yang harus membina pemahaman dengan mengikuti pengajaran orang lain, ada yang harus beramal shalih dengan menemukan sahabat, dan ada yang harus bergantung sepenuhnya kepada Allah saja, dan lain-lain yang seluruhnya harus dilakukan dengan berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tanpa melepaskannya. Manakala menyimpang, ia harus melepaskan selain kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak boleh terbalik. Kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW itu merupakan pembentuk akhlak mulia dan keimanan yang paling benar.

Iman dan Takwa Sebagai Pilar Kesejahteraan

Dengan pembinaan akhlak mulia, keimanan akan terbentuk pada suatu bangsa, dan Allah membukakan keberkahan dari langit dan bumi kepada mereka apabila mereka bertakwa. Keimanan yang terbentuk itu harus ditindaklanjuti dengan amal-amal shalih yang dilakukan berdasarkan keimanan yang benar. Amal-amal shalih demikian itu merupakan wujud ketakwaan yang harus dilakukan agar keberkahan dari langit dan bumi dibukakan. Apabila keimanan dibiarkan hanya berupa keyakinan tanpa suatu amal shalih, keberkahan itu tidak akan terbuka. Kadangkala suatu kaum hanya berwacana dengan keimanan-keimanan tanpa amal shalih yang nyata. Kadangkala suatu kaum justru mencegah upaya pewujudan amal shalih dari keimanan yang benar di antara mereka, maka mereka itu sebenarnya menutup pintu-pintu keberkahan yang hendak dibukakan Allah. Mereka mencegah orang-orang yang beriman di antara mereka untuk bertakwa, dan itu menutup pintu keberkahan.

Keimanan yang salah bisa melahirkan tindakan menutup pintu berkah. Misalnya ada orang-orang yang diberi kekuatan indera bathiniah berupa pendengaran, penglihatan dan qalb akan tetapi mereka tidak menggunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah. Kadangkala kaum demikian lebih mengikuti persepsi indera-indera bathiniah mereka daripada memahami dan melaksanakan tuntunan-tuntunan Allah. Itu adalah keimanan yang salah. Penghambaan demikian tidak jarang berbenturan dengan penghambaan orang-orang yang ingin mengikuti tuntunan Allah dan sunnah Rasulullah SAW, sedemikian langkah mereka untuk mengikuti tuntunan Allah dan Rasulullah SAW tertutup. Jalan ketakwaan itu menjadi tertutup dan pintu-pintu berkah menjadi tertutup. Itu merupakan salah satu contoh keimanan yang keliru. Mungkin banyak kasus lain yang dapat menutup pintu berkah bagi suatu bangsa.

Keimanan harus dibangun dengan benar. Setiap orang harus berusaha membangun keinginan menempuh shirat al-mustaqim dengan memahami makna shirat al-mustaqim, bahwa sebenarnya shirat itu berfungsi mengantarkan orang beriman bertemu dengan rabb-nya di ujung shirat tersebut. Shirat al-mustaqim itu ditandai dengan suatu seruan ayat kitabullah yang menjadi amanah. Setiap muslimin hendaknya berusaha menemukan ayat kitabullah yang menyeru mereka untuk beramal, dan itu harus dilakukan dengan menempuh jalan taubat. Banyak orang merasa berada di shirat al-mustaqim tanpa suatu pemahaman terhadap ayat kitabullah yang harus diperjuangkan, maka itu belum shirat al-mustaqim yang sebenarnya. Orang yang berada di shirat al-mustaqim benar-benar terbangkitkan motivasi mereka berjuang karena suatu ayat tertentu dari kitabullah yang terbuka kepada mereka, atau yang mereka pahami dengan benar. Membangun pemahaman yang benar terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW itu merupakan keimanan yang benar.

Memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW merupakan indikator yang lebih baik tentang benarnya keimanan daripada terminologi yang lain, misalnya terminologi mengenal Allah. Tidak jarang manusia keliru memahami terminologi mengenal Allah. Misalnya mungkin suatu kaum bersemangat untuk mengenal diri, tetapi tidak mau memahami urusan yang diperintahkan Allah melalui ayat-ayat-Nya. Keinginan demikian merupakan angan-angan. Seseorang akan mengenal diri apabila ia mempunyai keinginan menghamba kepada Allah menunaikan urusan-Nya, tidak akan mengenal melalui hasrat diri sendiri saja. Kadang terjadi perselisihan tentang kebenaran di antara umat. Sebagian bersandar pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah dan sebagian bersandar pada pendapat orang yang dianggap mengenal Allah tanpa mau memahami masalah berdasar ayat Allah. Lebih penting bagi umat untuk membina pemahaman terhadap ayat-ayat Allah mengikuti kitabullah, bukan taat hanya berdasarkan keyakinan pengenalan kepada Allah. Pemahaman terhadap tuntunan menjadi indikator yang lebih baik tentang keimanan yang benar, yang memunculkan keberkahan bagi suatu bangsa.

Keimanan kaum harus disusun dengan benar mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak boleh menyimpangkan umat. Setiap orang harus dibina untuk bisa memahami kebenaran dengan baik. Pemahaman terhadap ayat kitabullah itu harus diperoleh dengan tepat dan terinci selaras dengan segala yang tercantum dalam kitabullah, tidak berselisih berdasarkan ide besar ayatnya saja dengan pemahaman ala kadarnya. Bila berpendapat dengan berusaha memahami ayat kitabullah secara tepat dan terinci, perbincangan orang beriman akan tersusun dalam suatu pengetahuan besar keimanan, bukan perselisihan. Manakala seseorang yang mengenal shirat al-mustaqim membacakan ayat-ayat Allah yang sedang digelar, hendaknya setiap orang dapat memahami nilai kepentingannya, tidak mengabaikan kebenaran dalam pembacaannya. Mereka harus bisa mengerti kebaikan dari ayat yang dibacakan dan harus diperjuangkan. Suatu kaum akan lemah bila mengikuti kebenaran dalam pikiran sendiri tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, menganggap persepsi indera dan pikirannya sendiri sebagai shirat al-mustaqim. Hal demikian merupakan bentuk keimanan yang lemah yang mungkin akan tanggal ketika kematian tiba. Memahami dan berbuat mengikuti ayat Allah baik kitabullah maupun kauniyah akan menanamkan keimanan yang tidak akan tanggal ketika kematian tiba.

Merintis Kemakmuran

Pemakmuran suatu negeri harus dimulai dari ilmu para ulama, yaitu ulama yang mengenal Allah. Mengenal Allah dalam hal ini berupa terbinanya misykat cahaya yang dapat membentuk bayangan cahaya Allah. Misykat ini akan menjadikan mereka mengenal bagaimana rabb-nya akan mengenalkan diri-Nya. Mungkin mereka belum bertemu (liqaa’) dengan rabb-nya, tetapi telah mengenal bagaimana rabb-nya akan memperkenalkan diri-Nya kepadanya. Mereka juga mengetahui jalan untuk menjadi hamba yang didekatkan, jalan berupa amal yang ditentukan baginya dan amal itu ia ketahui disebutkan dalam kitabullah Alquran. Jalan itu adalah shirat al-mustaqim yang ditandai adanya suatu seruan dari ayat Alquran. Jalan itu bukan rekaan atau tebakan tanpa ada penyerunya dari kitabullah Alquran. Mereka mengetahui bahwa mereka akan bertemu rabb-nya apabila ia melaksanakan amal-amal itu. Mereka itu adalah ulama yang dapat mengusahakan pemakmuran bangsanya. Dalam perjalanan mereka akan menjumpai banyak keterbukaan ayat-ayat lain Alquran yang menjelaskan upaya yang harus dilakukan untuk mewujudkan seruan yang tertulis pada gerbang shirat al-mustaqim.

Ulama yang demikian itulah orang yang bisa membukakan keberkahan dari langit dan bumi hingga terwujud pemakmuran alam dunia. Bentuk dari pengetahuan mereka bukan hanya dalil-dalil saja, tetapi berupa pengetahuan integral antara hakikat di sisi Allah dengan keadaan alam kauniyah, sedemikian ilmu itu dapat mendatangkan perbaikan bagi kasab penghidupan bangsa, menentukan pemimpin yang baik bagi bangsa tersebut, dan menunjukkan keimanan sesungguhnya yang tidak akan tanggal dengan datangnya kematian. Banyak orang yang menggunakan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk merumuskan kehidupan yang lebih baik akan tetapi sebenarnya tidak menyentuh kandungan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hanya menyentuh redaksinya saja. Hal demikian merupakan suatu kebaikan selama dilakukan dengan ikhlas tidak ada iktikad tersembunyi pada perumusannya. Sebenarnya keikhlasan itu sendiri akan mendorong manusia untuk bisa menyentuh kandungan dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW manakala hati mereka bersih. Tetapi harus diperhatikan bahwa banyak pula orang munafik bahkan musyrik menggunakan ayat kitabullah untuk membuat-buat pengetahuan yang bathil bagi umat islam. Setiap muslim hendaknya berusaha menemukan ulama yang mengerti kandungan dalam kitabullah selaras dengan keadan kauniyah, sebagai sarana mendekati ulama yang sesungguhnya.

Sayangnya banyak umat islam tidak mengenali para ulama. Hal itu menyebabkan kehidupan di alam dunia menjadi sulit.

Dari Anas ibn Malik r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda :

ﺳﻴﺎٔﺗﻲ ﺯﻣﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍٔﻣﺘﻲ ﻳﻔﺮﻭﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ،ﻓﻴﺒﺘﻠﻴﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺜﻼﺙ ﺑﻠﻴﺎﺕ ﺍٔﻭﻻﻫﺎ ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻣﻦ ﻛﺴﺒﻬﻢ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻳﺴﻠّﻂ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺳﻠﻄﺎﻧﺎ ﻇﺎﻟﻤﺎ ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻳﺨﺮﺟﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺑﻐﻴﺮ ﺍٕﻳﻤﺎﻥ
Akan datang satu masa dimana umatku akan lari (menjauh) dari ulama dan fuqaha, maka Allah akan mendatangkan tiga bencana atas mereka: 1. Allah akan mengangkat barokah dari usaha mereka, 2. Allah akan menguasakan atas mereka pemimpin yang dzalim, 3. Allah akan keluarkan dari dunia dengan tanpa iman (HR Abu Nuaim)

Dewasa ini, keadaan umat islam di nusantara tampak sangat tidak baik-baik saja. Penghidupan kasab di antara kaum muslimin tampak sangat sulit. Harga-harga bergerak tidak terkendali karena para penguasa yang melakukan krupsi besar-besaran. Para ahli tersingkirkan dari kedudukannya oleh orang bodoh yang dekat dengan penguasa. Negara diurus oleh orang tanpa keahlian. Di masyarakat umum, menjalankan usaha menjadi sangat sulit karena umumnya penggunaan cara-cara yang tidak dihalalkan, dan rakyat harus menanggung beban penghidupan yang berat karena keadaan demikian. Sangat banyak fenomena kesulitan dalam kehidupan muslimin dewasa ini.

Keadaan ini terjadi karena ditinggalkannya para ulama oleh umat. Umat Islam hendaknya berusaha untuk tidak meninggalkan ulama dan fuqaha di antara mereka, khususnya ulama dan fuqaha yang mengenal Allah. Apabila mereka tidak mengenalnya, hendaknya mereka berusaha mencari dengan berusaha mengenali ilmu yang bisa dinilai sebagai penjelasan hakikat-hakikat dari sisi Allah dengan sepenuh kemampuan akalnya tidak hanya mengikuti perkataan orang. Melangkah bersama ulama dan fuqaha yang mengenal Allah akan mendatangkan kemakmuran bagi negeri mereka. Kasab kehidupan mereka akan menjadi lebih baik atau mudah dan pemimpin mereka akan diangkat dari orang yang baik tidak dzalim, dan mereka akan mengenal keimanan yang sebenarnya, keimanan yang tidak terlepas ketika kematian menghampiri. Sangat rugi manusia yang keimanan mereka tanggal ketika kematian tiba. Hal demikian biasanya terjadi karena mereka mengikuti keimanan tanpa berusaha memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, atau mensia-siakan pengajaran tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk mengikuti sistem keimanan mereka sendiri.

Ini adalah jalan agar berkah Allah dibukakan kepada suatu negeri. Jalan yang lain akan menjebak manusia menuju keadaan-keadaan yang lebih buruk. Allah akan menurunkan keburukan melalui upaya-upaya yang dilakukan orang-orang yang tidak mengikuti ayat-ayat Allah ataupun mendustakan ayat-ayat Allah. Mungkin mereka mengira usaha mereka akan mendatangkan kebaikan sedangkan Allah menetapkan keburukan karena kurangnya iman terhadap ayat-ayat Allah. Sebagai gambaran, dahulu seorang pemimpin tampak sangat buruk. Ketika pemimpin berganti, masyarakat negeri berharap kehidupan yang lebih baik karena sosok yang dipandang lebih baik. Kenyataannya, sosok yang dipandang lebih baik itu justru mendatangkan banyak kekonyolan. Itu merupakan ketetapan Allah karena umat atau masyarakat tidak memperhatikan tuntunan Allah. Untuk membukakan berkah dari langit dan bumi, umat manusia hendaknya beriman dan bertakwa. Iman dan takwa yang benar itu hendaknya dilakukan dengan mengikuti ulama dan fuqaha yang bertakwa.

Minggu, 28 Juni 2026

Membentuk Masyarakat Sejahtera

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan sejak kehidupan di alam dunia. Di antara tanda benarnya mengikuti langkah Rasulullah SAW adalah terwujudnya pemakmuran alam dunia. Bertaubat kepada Allah tidaklah menjauhkan manusia dari alam dunia, hanya saja harus dilakukan dengan disertai pengendalian diri agar dapat beramal dengan benar untuk alam dunia. Dengan bertaubat seseorang dibentuk untuk dapat mempersepsi dengan benar fenomena yang terjadi di alam dunia, mampu memahami makna yang terkandung pada apa yang terjadi dan mampu memikirkan langkah untuk membentuk keadaan yang lebih baik. Keadaan demikian dapat terjadi apabila seseorang memperbaiki kemuliaan akhlak dengan bertaubat. Kebanyakan manusia hanya mengikuti hawa nafsu dan keinginan duniawi dalam mensikapi kehidupan dunia, dan hal demikian itulah yang dikendalikan dari manusia dengan taubat. Pada tingkat lebih lanjut, taubat harus menjadikan manusia memahami fenomena kauniyah yang terjadi dan memikirkan langkah untuk menuju keadaan yang lebih baik.

Orang yang mengikuti langkah taubat akan menemukan suatu jamaah yang mempunyai pengetahuan yang benar, mengenal dan menjadi saksi Rasulullah SAW. Mereka itu adalah para ulama. Sayangnya banyak para ulama yang tidak dikenali oleh masyarakat karena kurangnya akal masyarakat. Hal itu menyebabkan kehidupan di alam dunia menjadi sulit.

Dari Anas ibn Malik r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda :

ﺳﻴﺎٔﺗﻲ ﺯﻣﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍٔﻣﺘﻲ ﻳﻔﺮﻭﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ،ﻓﻴﺒﺘﻠﻴﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺜﻼﺙ ﺑﻠﻴﺎﺕ ﺍٔﻭﻻﻫﺎ ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻣﻦ ﻛﺴﺒﻬﻢ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻳﺴﻠّﻂ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺳﻠﻄﺎﻧﺎ ﻇﺎﻟﻤﺎ ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻳﺨﺮﺟﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺑﻐﻴﺮ ﺍٕﻳﻤﺎﻥ
Akan datang satu masa dimana umatku akan lari (menjauh) dari ulama dan fuqaha, maka Allah akan mendatangkan tiga bencana atas mereka: 1. Allah akan mengangkat barokah dari usaha mereka, 2. Allah akan menguasakan atas mereka pemimpin yang dzalim, 3. Allah akan keluarkan dari dunia dengan tanpa iman (HR Abu Nuaim)

Akan dijumpai suatu masa di mana umat Rasulullah SAW akan lari menjauh dari ulama dan para fuqaha. Hal ini harus dipahami secara lebih baik. Sekian banyak para ulama dengan pengikut-pengikut yang berjuang bersama tidak mampu mewujudkan pemakmuran bangsa. Bangsa ini tetap dililit dengan sulitnya penghidupan dengan pemimpin yang dzalim. Sebagian kalangan justru mengalami kesulitan karena ketaatan kepada para ulama mereka. Ulama yang sebenarnya adalah orang-orang yang mempunyai pengetahuan dari sisi Allah berupa hakikat-hakikat, sedemikian pengetahuan itu menjadikan mereka takut kepada Allah. Mereka berusaha melangkah mengikuti tuntunan Allah untuk hampir setiap usaha yang mereka lakukan, tidak mengabaikan tuntunan Allah. Hasil dari pengetahuan mereka mendatangkan kemakmuran bagi kehidupan alam dunia.

Dewasa ini, keadaan umat islam tampak sangat tidak baik-baik saja. Penghidupan kasab di antara kaum muslimin tampak sangat sulit. Harga-harga bergerak tidak terkendali karena para penguasa yang melakukan korupsi besar-besaran. Para ahli tersingkirkan dari kedudukannya oleh orang bodoh yang dekat dengan penguasa. Negara diurus oleh orang tanpa keahlian. Di masyarakat umum, menjalankan usaha menjadi sangat sulit karena umumnya penggunaan cara-cara yang tidak dihalalkan, dan rakyat harus menanggung beban penghidupan yang berat karena keadaan demikian. Sangat banyak fenomena kesulitan dalam kehidupan muslimin dewasa ini.

Ulama Sebagai Perintis

Pemakmuran suatu negeri harus dimulai dari ilmu para ulama, yaitu ulama yang mengenal Allah. Mengenal Allah dalam hal ini berupa terbinanya misykat cahaya yang dapat membentuk bayangan cahaya Allah. Misykat ini akan menjadikan seseorang mengenal bagaimana rabb-nya akan mengenalkan diri-Nya. Mungkin mereka belum bertemu (liqaa’) dengan rabb-nya, tetapi telah mengenal bagaimana rabb-nya akan memperkenalkan diri-Nya kepadanya. Mereka juga mengetahui jalan untuk menjadi hamba yang didekatkan, jalan berupa amal yang ditentukan baginya dan amal itu ia ketahui disebutkan dalam kitabullah Alquran. Jalan itu adalah shirat al-mustaqim yang ditandai adanya suatu seruan dari ayat Alquran. Jalan itu bukan rekaan atau tebakan tanpa ada penyerunya dari kitabullah Alquran. Mereka mengetahui bahwa mereka akan bertemu rabb-nya apabila ia melaksanakan amal-amal itu. Mereka itu adalah ulama yang dapat mengusahakan pemakmuran bangsanya. Dalam perjalanan mereka akan menjumpai banyak keterbukaan ayat-ayat lain Alquran yang menjelaskan upaya yang harus dilakukan untuk mewujudkan seruan yang tertulis pada gerbang shirat al-mustaqim.

Ulama yang demikian itulah orang yang bisa menurunkan suatu hakikat dari sisi Allah hingga mewujud di alam dunia hingga terwujud pemakmuran alam dunia. Bentuk dari pengetahuan mereka bukan hanya dalil-dalil saja, tetapi berupa pengetahuan integral antara hakikat di sisi Allah dengan keadaan alam kauniyah, sedemikian ilmu itu dapat mendatangkan perbaikan bagi kasab penghidupan bangsa, menentukan pemimpin yang baik bagi bangsa tersebut, dan menunjukkan keimanan sesungguhnya yang tidak akan tanggal dengan datangnya kematian. Banyak orang yang menggunakan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk merumuskan kehidupan yang lebih baik akan tetapi sebenarnya tidak menyentuh kandungan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hanya menyentuh redaksinya saja. Hal demikian merupakan suatu kebaikan selama dilakukan dengan ikhlas tidak ada iktikad tersembunyi pada perumusannya. Sebenarnya keikhlasan itu sendiri akan mendorong manusia untuk bisa menyentuh kandungan dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW manakala hati mereka bersih. Tetapi harus diperhatikan bahwa banyak pula orang munafik bahkan musyrik menggunakan ayat kitabullah untuk membuat-buat pengetahuan yang bathil bagi umat islam. Setiap muslim hendaknya berusaha menemukan ulama yang mengerti kandungan dalam kitabullah selaras dengan keadan kauniyah, sebagai sarana mendekati ulama yang sesungguhnya.

Ada banyak bentuk ilmu yang mungkin diturunkan kepada orang yang mengenal Allah, dan macam-macam ilmu itu menentukan kedudukan dalam Al-Jamaah. Sebagian mempunyai pengetahuan paling fundamental berupa pembinaan tauhid, dan ilmu demikian ini merupakan ilmu yang paling penting dalam membentuk akhlak mulia. Ilmu yang lain berupa pengetahuan yang berangsur dari fundamental hingga yang lebih aplikatif, misalnmya ilmu pembinaan shilaturrahmi, ilmu penegakan jihad, ilmu pembinaan sumber daya manusia, ilmu pengolahan sumber daya alam, dan ilmu-ilmu lainnya. Pengetahuan yang lebih fundamental harus lebih diperhatikan agar aplikasi yang mengikutinya tidak menyimpang. Setiap orang harus memperhatikan pengetahuan-pengetahuan yang lebih fundamental tidak memisahkan diri. Pembina shilaturrahmi tidak boleh mengabaikan arahan dari pembinaan tauhid karena akan pengabaian akan menjadikan mereka menyimpang. Demikian seterusnya hingga pengolahan sumber daya alam tidak boleh menyalahi semua prinsip-prinsip yang lebih fundamental.

Pengetahuan para ulama dan fuqaha demikian pada tahap awal bisa bersifat pokok-pokok saja, dan berkembang semakin terinci seiring dengan perkembangan diri. Sebagian ulama berkembang hingga bisa memperoleh pengetahuan terhadap keadaan kauniyah secara terinci, dan rincian itu berkembang dari pokok pengetahuan yang benar. Yang harus diperhatikan oleh umat adalah pokok-pokok pengetahuan terlebih dahulu, yaitu pengetahuan yang tumbuh di atas kitabullah. Pengetahuan rincian hendaknya diperhatikan dengan prioritas berikutnya tanpa mengabaikan sikap taat kepada ulama. Mengutamakan perhatian terhadap pengetahuan rinci terlebih dahulu, atau mengagungkan pengetahuan rincian tanpa memperhatikan pokoknya bisa berbahaya bagi umat. Syaitan bisa menurunkan pengetahuan-pengetahuan rinci kepada seseorang meniru pengetahuan yang benar untuk menipu umat manusia yang tidak memperhatikan pokok kebenaran. Ada orang-orang yang mudah menerima pengetahuan kauniyah tanpa pokok pengetahuan yang benar, sedemikian mereka mudah disesatkan karena tidak dapat mengukur nilai manfaat dan madlarat dari pengetahuan yang diterimanya. Hal demikian bisa dimanfaatkan syaitan untuk menyesatkan manusia.

Ulama yang mengenal Allah mungkin saja berbuat salah, akan tetapi tidak akan mau menyimpang dari jalan Allah. Manakala mereka berbuat salah, mereka akan memandang kesalahan itu adalah kesalahan dirinya tidak akan mau menjadikan perbuatannya sebagai bagian dari perintah Allah. Dengan sikap demikian, mereka bisa meminta ampunan kepada Allah, tidak terus berbuat dzalim dengan memandang agung diri sendiri hingga menyimpang dari jalan Allah. Memandang perbuatan salah sebagai bagian perintah Allah akan menjadikan manusia kehilangan kemampuan melihat jalan yang benar-benar diperintahkan Allah. Itu menyerupai cara pandang syaitan terhadap dirinya sendiri. Seorang ulama yang berbuat salah akan berusaha mengkoreksi langkahnya agar kembali berada di jalan benar untuk menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah. Umat yang ingin mengikuti langkah ulama hendaknya memperhatikan sikap ulamanya ketika melakukan salah, apakah ia berusaha kembali kepada jalan Allah atau justru menjadikan amal menyimpangnya sebagai tauladan atau bagian amal shalih. Bila umat memperhatikan kesalahannya, sebenarnya setiap manusia berbuat salah. Kesalahan manusia tidak perlu dipermasalahkan kecuali karena madlarat yang mengikutinya. Manakala seseorang salah mensikapi kesalahan, madlarat yang mengikuti bisa sangat besar karena syaitan sangat menyukai kesesatan karena kesalahan bersikap tersebut.

Menjaga Kedekatan dengan Ulama

Umat Islam hendaknya berusaha untuk tidak meninggalkan ulama dan fuqaha di antara mereka, khususnya ulama dan fuqaha yang mengenal Allah. Apabila mereka tidak mengenalnya, hendaknya mereka berusaha mencari dengan berusaha mengenali ilmu yang bisa dinilai sebagai penjelasan hakikat-hakikat dari sisi Allah dengan sepenuh kemampuan akalnya tidak hanya mengikuti perkataan orang. Melangkah bersama ulama dan fuqaha yang mengenal Allah akan mendatangkan kemakmuran bagi negeri mereka. Kasab kehidupan mereka akan menjadi lebih baik atau mudah dan pemimpin mereka akan diangkat dari orang yang baik tidak dzalim, dan mereka akan mengenal keimanan yang sebenarnya, keimanan yang tidak terlepas ketika kematian menghampiri. Sangat rugi manusia yang keimanan mereka tanggal ketika kematian tiba. Hal demikian biasanya terjadi karena mereka mengikuti keimanan tanpa berusaha memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, atau mensia-siakan pengajaran tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk mengikuti sistem keimanan mereka sendiri.

Gambarannya, barangkali setiap orang berharap menempuh shirat al-mustaqim. Akan tetapi sedikit orang yang memahami makna shirat al-mustaqim, bahwa sebenarnya shirat itu berfungsi mengantarkan orang beriman bertemu dengan rabb-nya di ujung shirat tersebut. Rabb manusia berada di atas shirat al-mustaqim. Sedikit pula orang yang mengerti dan waspada bahwa tanda shirat al-mustaqim itu adalah seruan ayat kitabullah yang menjadi amanah. Banyak orang merasa berada di shirat al-mustaqim tanpa suatu pemahaman terhadap ayat kitabullah yang harus diperjuangkan. Manakala seseorang yang mengenal shirat al-mustaqim membacakan ayat-ayat Allah yang sedang digelar, mereka mengabaikan kebenaran dalam pembacaannya. Mereka tidak mengerti kebaikan dari ayat yang dibacakan dan harus diperjuangkan. Kadangkala pengabaian itu disertai dengan mengikuti kebenaran dalam pikiran sendiri tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, menganggap persepsi indera dan pikirannya sebagai shirat al-mustaqim. Hal demikian merupakan bentuk keimanan yang lemah yang mungkin akan tanggal ketika kematian tiba. Memahami dan berbuat mengikuti ayat Allah baik kitabullah maupun kauniyah akan menanamkan keimanan yang tidak akan tanggal.

Barangkali sangat sedikit orang yang mengenal shirat al-mustaqim, dan mereka itu membawa berkah yang besar bagi keselamatan umat manusia. Keselamatan tidak hanya bagi orang yang mengenal shirat al-mustaqim saja, tetapi juga bagi orang yang mengharapkan dengan benar shirat al-mustaqim, bukan hanya yang berangan-angan saja. Banyak orang merasa berharap shirat al-mustaqim tetapi abai atau bahkan mendustakan pembacaaan ayat Allah yang benar tidak mau memahami arti penting makna ayat Allah yang ditunjukkan ulama, maka orang demikian itu sebenarnya hanya berangan-angan shirat al-mustaqim saja. Berharap shirat al-mustaqim harus disertai dengan berusaha memahami ayat-ayat Allah baik kitabullah ataupun keadaan kauniyah. Harapan terhadap shirat al-mustaqim itu akan menjadi mudah terwujud apabila seseorang mengenal, mengikuti dan mendekat kepada ulama dan fuqaha, yaitu ulama dan fuqaha yang mengenal Allah.

Tidak sedikit muslimin yang meninggalkan ulama dan fuqaha. Tandanya yaitu diangkatnya pemimpin yang dzalim bagi mereka dan kasab penghidupan yang sulit. Apabila umat islam tidak meninggalkan ulama dan fuqaha mereka, kasab penghidupan tidak akan menjadi sangat sulit dan pemimpin mereka akan diangkat dari orang yang baik. Keadaan demikian hendaknya diperhatikan oleh kaum muslimin. Mereka mungkin telah berjuang untuk memperbaiki keadaan tetapi mengabaikan ulama dan fuqaha sedangkan yang ditinggalkan adalah ulama dan fuqaha yang mengenal Allah dan sebenarnya berjuang di shirat al-mustaqim. Dengan demikian maka mereka berbuat meninggalkan ulama dan fuqaha yang mengakibatkan kehidupan menjadi sulit, dan pemimpin mereka diangkat dari orang yang dzalim. Iman demikian mungkin akan tanggal manakala kematian mendatangi, karena telah ditinggalkannya perjuangan di shirat al-mustaqim, berupa perjuangan melaksanakan perintah Allah dari ayat kitabullah.

Sebagian orang meninggalkan ulama dan fuqaha dengan mendustakan apa-apa yang diperjuangkan. Syaitan mungkin saja menutup penglihatan, pendengaran dan akal mereka untuk memahami apa yang diserukan oleh para ulama dan fuqaha sedemikian shirat al-mustaqim itu didustakan. Sebagian orang mungkin meninggalkan ulama dengan menganggap para ulama dan fuqaha tidak berbuat apa-apa, tidak seperti diri mereka yang telah berjuang dengan harta dan amalnya. Mereka yang demikian itu tidak mengerti nilai kebenaran hingga tidak dapat membedakan arah perjalanan yang benar dan yang sia-sia. Ilmu yang disampaikan para ulama dan fuqaha itu tentu saja sangat bernilai apabila diikuti, dan ilmu itu tidak mendatangkan hasil karena kebodohan mereka saja bukan karena ulama tidak berbuat apa-apa. Sebagian orang mungkin meninggalkan ulama dan fuqaha dengan menganggap ilmu yang diberikan para ulama dan fuqaha bukan sesuatu yang harus atau layak untuk diperjuangkan, tidak tergerak untuk memperjuangkan ilmu tersebut. Itu merupakan merupakan bentuk yang ringan tetapi tetap saja merupakan kebodohan dan merupakan perbuatan meninggalkan para ulama dan fuqaha, sedemikian keadaan masyarakat menjadi sulit memperoleh kasab yang layak dan pemimpin mereka dari kalangan orang yang dzalim. Banyak bentuk perbuatan meninggalkan para ulama dan fuqaha yang dapat mengakibatkan hal demikian.

Mendekat kepada ulama harus dilakukan dengan akal yang benar. Setiap orang harus membangun keinginan mengenal Allah yang Maha Mulia, serta membangun keinginan untuk bertemu dengan sumber segala kemuliaan tersebut, membangun pemahaman terhadap jalan-jalan yang dapat mengantarkan menjadi dekat kepada Allah. Banyak orang terjebak pada waham dalam beragama. Jalan mendekat kepada Allah adalah melaksanakan amanah yang telah disampaikan Allah melalui kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan itulah yang dimaksud sebagai shirat al-mustaqim. Setiap orang beriman hendaknya memperhatikan pembacaan ayat-ayat Allah dengan sebaik-baiknya hingga memahami kebaikan-kebaikan dari pengetahuan yang diperoleh dan dapat berpikir untuk menempuh langkah paling baik. Apabila seseorang mendekati ulama dan fuqaha dengan tetap dalam kebodohannya, ia sebenarnya tidak menjadi dekat dengan ulama dan fuqaha. Akal dan pikiran yang menguat berdasarkan kebenaran itulah yang menjadi sarana mendekat kepada ulama dan fuqaha, yang akan menghilangkan kesulitan kasab di masyarakat, menjadikan pemimpin dari kalangan orang yang lebih layak dan membangun keimanan yang kokoh.