Pencarian

Selasa, 19 Mei 2026

Pengembangan Potensi Manusia sebagai Pilar Pemakmuran

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Jalan untuk menjadi hamba yang didekatkan di antaranya adalah melakukan pemakmuran bumi. Allah menciptakan manusia dari bumi dan menjadikannya sebagai pemakmurnya. Itu adalah tugas bagi manusia yang dijadikan sebagai jalan kembali kepada-Nya. Dengan jalan demikian, Allah sebenarnya dekat kepada hambaNya dan memperkenankan doa.

﴾۱۶﴿ وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلٰهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)" QS huud ; 61)

pemakmuran bumi dapat dilakukan dengan menegakkan pilar-pilarnya. Pilar-pilar pemakmuran itu berupa : 1. Tauhid dan keikhlasan, 2. Shilaturrahmi, 3. Pengembangan potensi diri, 4. Pengembangan potensi wilayah, 5. Jihad, 6. Sinergi dan kesetimbangan alam, 7. Pengolahan basis data. Tegaknya pilar secara sempurna akan terjadi apabila seseorang dapat membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Pilar-pilar tersebut tidak akan dapat ditegakkan oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah. Semakin sempurna taubat seseorang kepada Allah, semakin tegak pilar yang dapat ia tegakkan.

Kepedulian terhadap Potensi Manusia

Pemakmuran akan terlaksana apabila potensi manusia yang menghuni bumi berkembang dengan baik dan dapat mengerjakan tugas-tugas terkait kedudukan diri mereka. Setiap orang pada dasarnya ditugaskan untuk mengerjakan tugas-tugas tertentu di alam dunia ini sebagai sarana untuk mengenal Allah. Untuk tugas-tugas itu, masing-masing manusia sebenarnya diberi potensi kekuatan untuk melaksanakan tugas yang harus diemban. Kekuatan itu bukan hanya berbentuk pengetahuan tetapi juga keterampilan untuk membangkitkan proses perubahan seperti yang diharapkan. Kekuatan-kekuatan itu seringkali tersembunyi dari pandangan masing-masing dan setiap orang harus berusaha untuk membangkitkan potensi kekuatan yang diberikan kepada diri mereka.

Potensi setiap diri manusia terkait erat dengan ayat-ayat Allah yang terjadi pada alam kauniyah diri mereka dan kedudukan diri dalam Al-Jamaah. Potensi diri manusia akan bangkit mengikuti akalnya apabila mereka mengerjakan urusan yang diberikan. Seseorang yang berada pada keadaan yang tepat akan lebih mudah untuk melihat ayat-ayat Allah yang terhampar bagi dirinya, sehingga ia bisa memahami potensi dirinya dengan lebih mudah. Demikian pula manakala seseorang berada pada suatu Al-Jamaah yang mengerti urusan jaman mereka akan lebih mudah untuk mengenal potensi diri mereka untuk disumbangkan kepada Al-Jamaah karena telah terarahnya urusan yang dikerjakan, dan ia akan mudah menempatkan diri pada langkah Al-Jamaah berdasarkan potensi yang ada pada diri masing-masing. Manakala seseorang hidup di antara kaum yang kafir, mungkin ia tidak nmemperoleh kemudahan untuk mengenal urusan yang perlu dilakukan.

Pengembangan potensi manusia harus dilakukan agar seseorang atau suatu bangsa mempunyai kemampuan untuk membangkitkan proses pemakmuran di bumi. Pembinaan potensi manusia dapat dilakukan dengan memperhatikan ayat-ayat Allah pada kauniyah mereka hingga orang-orang pada suatu kaum mengetahui perilaku objek pada ayat Allah yang diperhatikan. Pembinaan itu harus dilakukan hingga terbentuk pengetahuan yang benar dan mendasar terkait kehidupan alam bumi dan terbentuk keterampilan melakukan proses pemakmuran berdasarkan pengetajhuan itu. Keterampilan demikian hendaknya disertai kemampuan bekerja bersama dengan orang lain. Kebanyakan orang harus dibina agar dapat bekerjasama dengan orang lain untuk melakukan proses, tidak boleh dibina hanya untuk bekerja sendirian. Hanya sebagian kecil orang yang seharusnya bekerja dengan sedikit orang atau sendiri.

Masyarakat mempunyai pengaruh yang besar dalam pembinaan potensi manusia di antara mereka. Ada bentuk budaya yang harus diperhatikan agar potensi manusia yang ada pada mereka berkembang dengan baik, dan ada budaya-budaya buruk yang mempersulit pengembangan potensi manusia. Kaum yang menggunakan akal untuk memahami tuntunan Allah akan menjadi kaum yang menyuburkan pembinaan potensi manusia selama mereka tidak menyimpang dalam menggunakan akal. Kadangkala suatu kaum merasa berbudaya baik sedangkan mereka membunuh potensi manusia di antara mereka. Ada bermacam-macam pola pembunuhan potensi yang dapat terjadi. Mungkin ada orang yang mempunyai pengetahuan yang baik tidak diberi tempat untuk mengembangkan keterampilan memakmurkan bumi berdasarkan pengetahuannya. Mungkin ada orang yang ingin mengabdi kepada Allah justru diperbudak untuk mengabdi secara keliru bukan dikembangkan pengetahuannya mengenal urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman. Kadangkala orang-orang yang mempunyai potensi yang terlihat berbeda kemudian tidak dihormati potensi dirinya. Banyak macam budaya yang bisa membunuh pengembangan potensi manusia. 

Budaya yang menyuburkan pertumbuhan potensi manusia ditumbuhkan melalui pilar tauhid dan shilaturrahmi. Masyarakat yang bertauhid dan membangun shilaturrahmi akan bisa menghormati secara benar setiap perkembangan manusia, tidak terjebak menghakimi orang-orang berdasarkan selera masing-masing. Dengan tauhid masyarakat memperleh landasan yang kokoh dalam menilai kebenaran, dan dengan shilaturrahmi setiap komponen masyarakat bisa membangun kesepahaman dalam melangkah terhindar dari prasangka buruk. Hal ini pada dasarnya berlaku timbal balik. Manakala suatu kaum mudah terjebak dalam prasangka buruk sebenarnya shilaturrahmi di antara mereka buruk. Demikian pula manakala kebenaran yang mereka anut dalam keadaan kacau, tauhid di antara mereka sebenarnya tidak lurus. Kadangkala suatu kaum merasa bertauhid sedangkan kebenaran di antara mereka tersia-sia dan prasangka buruk terhadap orang-orang yang menyampaikan kebenaran begitu kuat. Kadangkala mereka sedemikian terhalangi untuk berprasangka baik terhadap orang lain hingga bisa saja seseorang dibuat memandang buruk jodohnya hanya berdasar perasaan, atau bahkan seorang isteri dibuat memandang buruk suaminya atau sebaliknya karena dihambatnya proses komunikasi di antara mereka. Hal itu menunjukkan rusaknya shilaturrahmi di antara mereka. Hal demikian itu bisa menjadi tanda bahwa pengembangan potensi manusia di antara mereka sebenarnya sangat buruk atau justru sebenarnya terjadi perusakan potensi manusia.

Pengembangan potensi manusia harus dilakukan mengarah pada terbentuknya masyarakat bertauhid dan bershilaturrahmi mewujudkan kebenaran dan kasih sayang di antara manusia,. Potensi diri masing-masing orang di antara masyarakat harus digunakan sebagai alat untuk dapat memberikan manfaat diri dengan sebaik-baiknya. Manakala orang bertauhid dan bershilaturrahmi tidak mempunyai pengetahuan dan keterampilan, manfaat yang muncul di antara mereka hanya sedikit hingga pemakmuran mungkin tidak terjadi. Sebaliknya, manakala pengembangan potensi tidak berlandaskan tauhid dan shilaturrahmi, berkembangnya potensi manusia itu bisa berbalik menimbulkan kesengsaraan bagi masyarakat. Kerusakan pengembangan potensi manusia banyak yang terjadi bukan karena berkurangnya penguasaan pengetahuan dan keterampilan, tetapi karena rusaknya arah pembinaan manusia. Orang-orang yang dibina agar berpengetahuan dan terampil kemudian membuat langkah-langkah yang merugikan masyarakat, tidak berbuat yang terbaik bagi masyarakat. Ini merupakan akhlak yang buruk.

Pengembangan potensi manusia harus dilakukan sedemikian seseorang memperoleh kedudukan yang terbaik untuk memanfaatkan potensi yang berkembang pada diri mereka. Semakin kokoh kedudukan yang diberikan kepada seseorang, ia akan semakin mudah berusaha untuk memberikan manfaat kepada masyarakatnya. Demikian pula sebaliknya, semakin lemah kedudukan yang diberikan kepada seseorang, semakin banyak kesulitan ditemukan seseorang dalam upaya memberikan manfaat dari potensi dirinya. Manakala seseorang dicabut dari kedudukan yang seharusnya, mereka akan kesulitan untuk memberikan manfaat dirinya. Setiap orang harus diberi kedudukan yang layak sesuai dengan kemampuan dirinya tidak dihalangi untuk memberikan manfaat. Seseorang yang sangat berpotensi besar sekalipun tidak akan bisa memberikan manfaat kepada orang lain apabila tidak memperoleh kedudukan yang layak.

Kedudukan paling mendasar bagi seseorang untuk memberikan manfaat bagi masyarakat berdasar potensi yang diberikan Allah adalah kedudukan dalam keluarga. Kokohnya kedudukan seseorang dalam keluarga akan menambahkan kekuatan kedudukan dirinya di masyarakat. Demikian pula manakala seseorang kehilangan kedudukan dirinya dalam keluarga, ia bisa kehilangan seluruh kedudukan sosialnya. Bila suatu masyarakat tidak memperhatikan azas demikian, mereka sebenarnya tidaklah memperhatikan pengembangan potensi manusia di antara mereka dengan benar. Kadangkala suatu masyarakat terwahami suatu keinginan untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas akan tetapi tidak memperhatikan kedudukan dasar manusia yang harus diberikan, maka sebenarnya mereka hanya mengikuti hawa nafsu saja. Setiap orang harus diberikan hak untuk hidup berkeluarga dengan sebaik-baiknya. Para lajang diberi haknya untuk menemukan pasangan yang terbaik bagi dirinya. Para suami diberi hak untuk membimbing dan mengajak keluarganya untuk beribadah kepada Allah, dan para isteri dibina untuk bisa memahami amal shalih suaminya tidak hanya dididik menuntut suami untuk mengejar keinginan isterinya. Bila hak demikian dilanggar, tidak ada pengembangan potensi manusia yang dilakukan dengan benar.

Orang yang telah berkembang akalnya dalam memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hendaknya didukung sedemikian mereka dapat memberikan manfaat diri mereka dengan sebaik-baiknya. Perkembangan akal pada diri seseorang itu ditunjukkan dengan kemampuan memahami perintah-perintah yang ada pada suatu ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW baik perintah yang tertulis ataupun penjelasan-penjelasan yang tersirat dibalik segala sesuatu yang tertulis. Kalam kitabullah bagi orang-orang demikian merupakan kalam yang berbicara, dan mereka menghidupkan sebagian pemahaman dan semangat Rasulullah SAW dalam kalam itu. Itu adalah tanda dari akal yang berkembang pada diri seseorang sehingga layak didukung, bukan orang yang mencomot apa yang ada dalam kitabullah untuk mencari keuntungan sendiri.

Mengentaskan Penjajahan

Setiap elemen masyarakat hendaknya mempunyai kepedulian terhadap pengembangan potensi manusia di antara mereka. Pengembangan potensi manusia dapat dibentuk oleh setiap masyarakat tidak harus bergantung pada pemerintah. Dalam beberapa kasus, pemerintah suatu masyarakat sebenarnya hanyalah administratur penjajahan atas suatu negeri yang justru berfungsi untuk menghambat kemajuan suatu bangsa. Tatanan yang dirumuskan administratur tidak jarang menimbulkan kerugian yang banyak bagi kehidupan bermasyarakat. Banyak kalangan mungkin merasa kehidupannya dipersulit oleh pemerintah. Ini tidak bersifat umum seluruhnya. Boleh jadi ada banyak aparatur pemerintah yang mempunyai keinginan besar memakmurkan kehidupan bangsa, akan tetapi mereka terikat pada tatanan yang lebih besar sedemikian hanya dapat berusaha secara terbatas. Dalam keadaan demikian, masyarakat sendiri harus berusaha mengembangkan potensi manusia yang ada di sekitar mereka agar tumbuh manusia-manusia yang bertauhid dan mempunyai kasih-sayang yang besar dengan sesama. Membuat perlawanan-perlawanan tanpa suatu konsep berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak jarang menjebak manusia dalam kekacauan, justru membuat kerusakan yang banyak terhadap tatanan dan kesejahteraan masyarakat.

Dalam agama, kemerdekaan atau penjajahan atas suatu kaum bukanlah sesuatu yang bersifat esensial karena hanya merupakan cerminan dari keadaan nafs manusia pada kaum tersebut. Para pengikut nabi Isa a.s diperintahkan untuk memberikan koin pajak kepada raja sebagai hak raja. Ajaran nabi Isa a.s belum mengajarkan pembebasan diri dari penjajahan dalam tingkat duniawi. Mengikuti ajaran demikian bukanlah suatu kesalahan. Dalam Islam, penjajahan merupakan manifestasi dari keterjajahan manusia terhadap hawa nafsu atau waham diri sendiri. Apabila suatu kaum bisa memahami kebenaran dan mengikutinya, maka penjajahan akan tersingkir dari kaum tersebut bila disertai dengan perjuangan menegakkan pilar-pilar kebenaran. Penjajahan atas suatu kaum tidak akan terangkat manakala masyarakat tidak memahami kebenaran yang diturunkan Allah dan berjihad untuk menegakkannya. Keadaan diri mereka sendiri itulah yang menjajah mereka. Masyarakat yang rakus akan terjajah dengan kerakusannya, masyarakt yang bodoh akan terjajah dengan kebodohannya dan seterusnya. Kadangkala suatu bangsa terlilit dalam penjajahan yang rumit. Penjajahan akan terangkat manakala suatu masyarakat terbentuk sebagai orang yang mampu memahami kebenaran hingga dapat diperjuangkan untuk menggantikan tatanan penjajahan. Konsep ekonomi, keuangan, perbankan dan semua aspek kehidupan yang lain berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW harus dipersiapkan terlebih dahulu oleh suatu kaum untuak menggantikan tatanan penjajahan, maka penjajahan itu dapat disingkirkan dengan cara yang baik dari mereka. Tanpa suatu persiapan, menghapuskan penjajahan seringkali tidak dapat terwujud dengan baik. Kadangkala suatu bangsa tampak merdeka tetapi sebenarnya tetap dalam kungkungan penjajahan. Memahami kehendak Allah dengan benar merupakan kunci menyingkirkan penjajahan dari suatu bangsa. Manakala suatu kaum mengikuti kebenaran yang salah, mereka tidak akan terbebas dari penjajahan atas diri mereka.

Usaha mengembangkan potensi manusia secara mandiri dapat dilakukan masyarakat setidaknya dengan tidak merusak kedudukan dasar seseorang. Seorangpun tidak boleh diganggu kedudukan dasarnya tanpa suatu alasan yang dibenarkan, terlebih lagi orang yang membangun tauhid di masyarakat. Lebih baik lagi apabila masyarakat bisa mendukung upaya membangun masyarakat untuk bertauhid. Untuk hal itu, kaum muslimin hendaknya memperhatikan kebenaran agar dapat mendukung dan tidak menghalangi seseorang mendatangkan manfaat. Bila muslimin hanya mengikuti kebenaran yang mereka tentukan sendiri tanpa berlandaskan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka mungkin justru akan membunuh potensi sumber daya manusia yang ada di antara mereka. Mungkin saja orang-orang yang berjuang untuk menegakkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW justru menjadi orang-orang yang tersingkir karena kaum muslimin hanya mengikuti kebenaran mereka sendiri tanpa memperhatikan asas-asas sikap dan tindakan mereka dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Hal demikian menambah kesulitan bagi orang-orang yang berusaha meningkatkan potensi sumber daya manusia.

Kamis, 14 Mei 2026

Beberapa Pilar Pemakmuran

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Penyaksian terhadap risalah Rasulullah SAW merupakan bukti kebenaran musyahadah seseorang terhadap Ilahiah Allah. Musyahadah terhadap risalah itu secara tersirat dijadikan sebagai bagian dari ummul kitab. Dalam umul kitab, musyahadah itu sebenarnya tidak berdiri sendiri. Seorang mukmin yang benar kesaksiannya terhadap risalah sebenarnya juga akan mempunyai pengetahuan tentang khalilullah Ibrahim a.s sebagai uswatun hasanah, dan juga mempunyai pengetahuan tentang khalifatullah sebagai perpanjangan bayangan Rasulullah SAW di alam bumi.

﴾۳﴿الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
﴾۴﴿مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
(3)Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (4) Raja di Hari Agama (QS Al-Faatihah : 3-4)

Allah memperkenalkan diri-Nya kepada makhluk dalam berbagai derajat. Derajat tertinggi adalah asma Ar-Rahman yang beristiwa di atas ‘Arsy. Pada derajat yang berdekatan, Allah memperkenalkan diri-Nya dengan asma Ar-Rahim, berkedudukan sangat tinggi melekat pada ‘arsy. Rasulullah SAW merupakan insan paling sempurna yang diberi kemampuan memanifestasikan asma yang tertinggi Ar-Rahman, dan nabi Ibrahim a.s merupakan insan yang diberi kemampuan memanifestasikan asma Ar-Rahiim secara sempurna. Kedua insan tersebut merupakan uswatun hasanah yang memanifestasikan asma Allah dengan benar sepanjang masa. Kedua asma itu dipanjangkan bayangannya hingga asma yang bertakhta di Kursy sebagai Malik (raja), dan khalifatullah Al-Mahdi merupakan insan yang diberi kemampuan memanifestasikan asma Malik.

Derajat-derajat tajalliat di atas menunjukkan tingkatan fundamen jalan kembali kepada Allah. Jalan kembali itu hendaknya ditempuh oleh setiap hamba Allah dengan memperhatikan tingkatan tersebut dimulai dengan membina sifat rahman seperti Rasulullah SAW, sifat rahim seperti khalilullah hingga melakukan pemakmuran bumi sebagaimana khalifatullah. Ibadah setiap manusia berbentuk pemakmuran bumi yang harus dilakukan sesuai dengan penciptaan diri dan keadaan masing-masing dalam bentuk amal-amal. Untuk melakukan pemakmuran, setiap orang harus membina diri mengikuti tuntunan uswatun hasanah. Pemakmuran tidak akan benar-benar dapat dilakukan apabila tidak terbangun sifat rahman dan rahim pada diri manusia yang melaksanakannya.

Sifat rahman ditunjukkan dengan kemampuan seseorang untuk memahami kehendak Allah yang digelar melalui ayat-ayat-Nya, selaras antara ayat kauniyah dengan ayat kitabullah. Sifat ini merupakan pembentuk utama akhlak mulia. Sifat rahman terbentuk melalui pembinaan akhlak hamba Allah sebagai misykat cahaya yang dapat membentuk bayangan dari cahaya Allah. Sifat rahim merupakan pembentuk akhlak mulia yang akan mendukung terbentuknya sifat rahman pada diri seseorang. Tanpa adanya sifat rahim, sifat rahman tidak akan terbentuk pada diri seseorang. Manakala seseorang membentuk sifat rahman tanpa membina sifat rahim, bayangan cahaya Allah yang terbentuk bisa kacau, tidak benar dalam membentuk bayangan kehendak Allah. Pemakmuran bumi yang sebenarnya akan terbentuk manakala sifat rahman dan sifat rahim telah terbentuk. Semakin besar sifat rahman dan sifat rahim terbentuk, semakin besar pula potensi pemakmuran yang dapat diwujudkan oleh suatu kaum.

Pilar-Pilar Pemakmuran

Suatu pemakmuran terbentuk melalui upaya suatu kaum, bukan upaya perorangan, dan masing-masing orang bisa menyumbangkan pemakmuran. Tingkat pemakmuran yang dapat disumbangkan ditentukan dengan akhlak yang terbentuk pada diri masing-masing. Terdapat pilar-pilar yang harus ditegakkan untuk melakukan pemakmuran. Pilar pemakmuran adalah kumpulan prinsip yang harus diperhatikan untuk melaksanakan proses pemakmuran. Semakin lengkap pilar pemakmuran ditegakkan, kemakmuran yang dapat terbentuk akan semakin kokoh. Pilar pemakmuran berupa aspek-aspek rahmaniah yang dapat dikenal oleh manusia, dapat berkembang dari pokok-pokoknya hingga cabang dan ranting yang lebih terinci. Kesempurnaan pemakmuran bangsa akan terwujud pada masa khalifatullah Al-Mahdi.

Pilar-pilar pemakmuran secara lengkap akan termanifestasikan oleh khalifatullah Al-Mahdi, akan tetapi kaum mukminin boleh saja memperkirakan pilar-pilar yang akan ditegakkan sebagai sarana untuk melakukan pemakmuran, terutama bila dilakukan untuk membantu Rasulullah SAW dan khalifatullah. Pada dasarnya setiap orang bisa memperoleh pengetahuan urusan dirinya sebagai bagian dari urusan Rasulullah SAW dan khalifatullah. Perkiraan dalam pernyataan di atas boleh dilakukan dengan menghitung berdasar pengetahuan parsial diri. Sebagian ulama memberikan beberapa pedoman tentang pilar-pilar tersebut secara garis besar misalnya dengan menyebutkan adanya tujuh pilar. Boleh saja mukminin lain berusaha menelisik upaya yang dapat atau harus dilakukan untuk membantu urusan sang Imam. Bangsa Iran dalam hal ini terlihat sangat mengharapkan kedatangan khalifatullah dengan menegakkan pilar jihad.

Dengan mengharap memahami kebenaran, penulis berusaha mengidentifikasi pilar-pilar yang perlu ditegakkan untuk mewujudkan pemakmuran untuk membantu terselenggaranya amr Allah. Pilar-pilar itu dapat disebutkan berupa : 1. Tauhid dan keikhlasan, 2. Shilaturrahmi, 3. Pengembangan potensi diri, 4. Pengembangan potensi wilayah, 5. Jihad, 6. Sinergi dan kesetimbangan alam, 7. Pengelolaan dan basis data

Tegaknya pilar secara sempurna akan terjadi apabila seseorang dapat membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Pilar-pilar tersebut tidak akan dapat ditegakkan oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah. Semakin sempurna taubat seseorang kepada Allah, semakin tegak pilar yang dapat ia tegakkan. Misalnya Imam Khameini bersama bangsa Iran terlihat telah berjuang menegakkan pilar jihad melawan kedzaliman. Bayangan paling dekat Imam Khameini tampak pada IRGC yang secara senyap berhasil menegakkan jihad perlawanan secara memadai terhadap kedzaliman. Bayangan lebih jauh, bangsa Iran secara hampir menyeluruh mempunyai integritas dalam menegakkan jihad sebagai p[ilar pemakmuran. Barangkali mereka tidak terlihat kaya raya ataupun megah pada semua aspek, akan tetapi bisa tampil bermartabat dengan kekuatan tempur yang sangat kuat. Sekilas pilar-pilar yang lain juga tumbuh baik tidak buruk akan tetapi tidak terlihat sekuat kekuatan jihad mereka. Tegaknya pilar pemakmuran demikian terjadi apabila ada seseorang yang berhasil membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Alangkah baiknya bila kaum muslimin yang lain bisa belajar dari bangsa Iran dalam menegakkan pilar jihad untuk negeri masing-masing, dan meneruskan jihad sang Imam dari negeri masing-masing.

Pilar Tauhid

Pilar tauhid dan keikhlasan harus dibina oleh setiap orang dan setiap bangsa. Pada intinya, tauhid dan keikhlasan bertujuan membentuk manusia untuk bisa mengenal kehendak Allah, berbentuk pembinaan akhlak menuju kemuliaan, dimulai dari ucapan syahadatain dan diikuti proses tazkiyatun-nafs, membina akhlak sebagai misykat cahaya hingga membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, dan kemudian dijadikan hamba yang didekatkan. Tauhid demikian akan menjadikan seseorang atau suatu bangsa mengalami proses pembinaan akhlak menuju kemuliaan. Dewasa ini pilar tauhid yang utuh demikian dicerai-beraikan oleh kaum khawarij hingga ajaran tauhid dikenali hanya dalam bentuk angan-angan tauhid saja. Dengan rumusan tauhid yang populer dewasa ini, seseorang hanya akan terus berada pada pintu masuk tauhid saja, tidak melangkah membina tauhid dengan sebenarnya.

Pada tingkat bangsa, barangkali tidak semua orang pada suatu bangsa mempunyai cukup keinginan untuk kembali menjadi makhluk mulia. Barangkali ada orang-orang yang membina diri hingga menjadi misykat cahaya, dan ada orang-orang yang tetap berkeinginan berkecimpung pada harta benda dunia yang banyak dan merasa cukup dengan itu, dan sangat banyak macam akhlak manusia yang ada di antara keduanya yang tidak bisa dipersamakan satu dengan yang lain. Pembinaan tauhid yang harus diterapkan adalah bahwa setiap orang dan lapisan akhlak harus bisa bertindak berpihak pada kebaikan bersama berdasarkan tuntunan Allah. Orang-orang yang telah membina diri sebagai misykat cahaya harus mempunyai kemampuan membedakan antara perintah Allah dengan sesuatu yang bathil sedemikian ia bertindak mengikuti tuntunan Allah bukan mengerjakan sesuatu yang bathil. Para pemegang kekuasaan hendaknya mampu memikirkan dan menentukan kebijakan yang memberikan manfaat terbaik bagi masyarakat umum dengan menimbang aspek kebaikan secara lebih seksama. Pemimpin bangsa di negeri yang subur seharusnya bukan hanya memikirkan gizi untuk anak-anak, tetapi mampu membuat kebijakan yang membuat bangsa dapat melakukan proses produktif pada setiap lapis masyarakat termasuk pemenuhan gizi anak-anak sebagai masalah jasmaniah dengan mempertimbangkan aspek berbangsa secara lebih lengkap, dari pengetahuan tentang kehendak Allah melalui ayat-ayat yang digelar hingga hal-hal duniawi bangsa termasuk aspek jasmaniah pemenuhan gizi anak-anak bangsa. Demikian pula masyarakat bawah hendaknya dapat melaksanakan urusannya dengan mengikuti aturan yang baik menurut agama. Pedagang harus bermuamalah dengan jujur, dan demikian pula setiap orang yang berusaha untuk dirinya sendiri hendaknya dapat dibina untuk berkomitmen terhadap kebaikan bersama tidak mementingkan diri sendiri.

Banyak masalah bisa timbul karena kurangnya pembinaan tauhid. Akan banyak perselisihan yang tidak mempunyai ujung pangkal karena tidak adanya referensi kebenaran, di mana kebenaran hanya ditentukan hawa nafsu. Seorang yang berakhlak tinggi tetapi tidak berkomitmen terhadap tuntunan Allah akan menimbulkan kerusakan yang sangat besar karena mereka sebenarnya justru akan tertipu langkah syaitan, karena syaitan pasti akan menggunakannya. Perumusan kebijakan di tingkat pemegang kuasa akan mudah dipengaruhi kepentingan-kepentingan parasitis dan dibuat tampak baik, dimana penguasa tidak dapat melihat kebaikan dan keburukan dari kebijakan yang harus dirumuskan. Dalam taraf tertentu, kebijakan di antara penguasa bisa saja dibuat sungguh-sungguh untuk kepentingan parasitis. Masyarakat bawah mungkin menjadi orang-orang yang mudah diperalat oleh kepentingan parasitis karena kurangnya pengetahuan dan kaburnya kebenaran. Di masyarakat umum, mungkin akan banyak terjadi penipuan terhadap sesama karena buruknya akhlak bangsa. Orang yang bodoh bisa merasa pandai, dan orang-orang yang pandai bisa dianggap bodoh. Sangat banyak macam masalah yang bisa timbul karena kurangnya pembinaan tauhid.

Pilar tauhid harus ditegakkan di bangsa muslimin hingga bentuk-bentuk syariat terkait kehidupan sehari-hari. Ilmu-ilmu fiqih hendaknya dihidupkan sedemikian setiap orang mengerti makna kebaikan dari ketentuan yang diajarkan bagi kehidupan mereka dalam bermasyarakat. Orang-orang yang telah diberi kekuatan-kekuatan indera bathiniah hendaknya dibina untuk dapat menggunakan kekuatan mereka untuk memahami ayat-ayat Allah. Orang-orang yang bisa memahami kehendak Allah hendaknya berusaha untuk tetap berada di jalan yang lurus berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW menghindari langkah-langkah syaitan yang mungkin menipu. Demikian setiap lapisan dalam masyarakat hendaknya dibina untuk bertauhid sesuai dengan keadaan masing-masing. Setiap penyimpangan dari tauhid akan memberikan dampak buruk bagi kehidupan bermasyarakat, dan semakin besar penyimpangan yang terjadi semakin besar dampak buruk yang ditimbulkan.

Pilar Shilaturrahmi

Pilar tauhid harus disertai dengan penegakan pilar shilaturrahmi. Shilaturrahmi dalam bentuk idealnya adalah terhubungnya seseorang dalam jalinan Al-Jamaah yang melaksanakan urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman, dengan pemahaman terhadap peran yang harus dilaksanakan untuk pelaksanaan urusan tersebut. Ia mengenal hubungan dirinya dengan sahabat-sahabat yang berjuang bersama, bisa memahami arahan wasilahnya, dapat memberikan bantuan kepada sahabatnya dan dapat memberikan arahan kepada orang-orang yang membantunya karena mengerti kedudukan dirinya dalam Al-Jamaah, tidak berbuat kontraproduktif yang menyebabkan kerusakan hubungan Al-Jamaah dan kerugian dalam perjuangan Al-Jamaah. Demikian itu bentuk shilaturrahmi dalam bentuk idealnya. Dalam realitas, banyak bentuk perpanjangan shilaturrahmi yang dapat atau harus dibangun oleh setiap manusia, tidak hanya shilaturrahmi dalam bentuk ideal, dan seluruh bentuk shilaturrahmi itu mendatangkan manfaat yang besar bagi umat manusia.

Menegakkan pilar shilaturrahmi secara ideal harus dilakukan dari dua arah, yaitu memperkenalkan urusan yang harus ditunaikan dan membina umat untuk layak mengenal urusan Rasulullah SAW. Seseorang yang mengetahui urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya harus memperkenalkan urusan itu kepada orang-orang yang berhak untuk mengenal. Orang-orang yang berhak untuk mengenal urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya itu adalah orang-orang beriman yang telah membina akhlak dirinya hingga dapat menggunakan akal untuk memahami ayat-ayat Allah. Kondisi demikian harus dipenuhi agar pelaksanaan urusan Rasulullah SAW dilakukan secara sinergis tidak berbantah-bantahan. Orang yang tidak mampu menggunakan akal tidak perlu dilibatkan dengan intensitas tertentu karena bisa saja mendatangkan madlarat bagi perjuangan Al-Jamaah.

Pembinaan umat harus dilakukan agar umat dapat mengenal urusan ruang dan jamannya. Dasar pembinaan shilaturrahmi yang ideal adalah pernikahan. Pada dasarnya penempatan seseorang pada urusan haq dirinya merupakan pertumbuhkembangan dari pernikahan. Peran ideal seorang isteri terhadap suaminya merupakan gambaran terbaik bagi duduk peran seseorang dalam perjuangan Rasulullah SAW yang harus dikenal setiap orang, dan pernikahan bagi seorang laki-laki merupakan media terbaik pencarian peran diri dalam urusan Rasulullah SAW. Seorang isteri telah menentukan jalan ibadah kepada Allah ketika menikah, terlepas jodohnya baik ataupun buruk baginya. Ia hanya perlu mensyukuri pernikahannya untuk menemukan jalan ibadahnya kepada Allah. Perjuangan seorang wanita untuk mengenal jalan ibadah terbaiknya dilakukan sebelum menentukan jodohnya, dimana seorang wanita harus mengendalikan hawa nafsu dan syahwat dalam menentukan suami, dan tidak jarang harus berusaha mentaati petunjuk yang diberikan kepada dirinya. Seorang laki-laki menemukan media untuk mengenal jalan ibadah hakiki baginya ketika menikah, maka ia harus menggunakan akalnya untuk memahami kehendak Allah melalui pernikahannya. Pernikahan merupakan media pembinaan shilaturrahmi yang paling ideal bagi setiap mukmin.

Pilar shilaturrahmi akan roboh manakala fiqih pernikahan dirusak atau tidak dihormati, dan hubungan shilaturahmi di masyarakat akan menjadi rusak karena rusaknya pernikahan. Para perempuan lajang harus dibina untuk mengendalikan keinginan duniawi dan hawa nafsu untuk mengenali dan memilih jodoh yang terbaik bagi jalan ibadahnya kepada Allah, dan tidak jarang harus berusaha mentaati petunjuk Allah yang sampai kepada dirinya. Para perempuan dan para isteri tidak boleh dididik untuk memberontak terhadap suaminya sekalipun dengan ide perjuangan untuk agama. Ada penyimpangan perempuan dalam bentuk yang tampak indah berupa perjuangan untuk agama, tetapi sebenarnya merupakan kekejian. Perempuan tidak boleh terjebak dalam waham hingga memberontak terhadap suami. Kadangkala perempuan lajang mengenali jodohnya dalam bentuk yang tidak diinginkan hawa nafsunya kemudian ia menyebarkan hal-hal buruk untuk mencegah perjodohannya. Hal demikian termasuk hal yang merusak silaturrahmi yang tidak boleh dilakukan. Menyebarkan hal buruk itu mendatangkan kerusakan bagi masyarakat, sedangkan penolakan terhadap petunjuk jodoh merupakan ketidakbersyukuran kepada Allah. Para laki-laki hendaknya dibina untuk dapat membaca ayat-ayat Allah melalui pernikahan yang mereka jalani untuk membina shilaturrahmi yang terbaik.

Senin, 11 Mei 2026

Menimbang Manfaat Ilmu

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan hingga seseorang mengenal shirat al-mustaqim dan menempuhnya dengan hati-hati dan seksama tidak terjebak pada langkah-langkah yang menyimpang. Pengenalan shirat al-mustaqim berupa suatu keterbukaan pengetahuan tentang jalan kehidupan yang dikehendaki Allah. Pengetahuan itu bisa sangat luas walaupun tetap terbatas. Dengan pengetahuan itu, seseorang bisa bersaksi bahwa “Tiada Ilah selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah rasulullah”. Seseorang yang memperoleh nikmat Allah bisa mengetahui keadaan kauniyah dengan benar melampaui batas persepsi indera jasmaniah dirinya. Mungkin pula akan ditemukan sangat banyak jebakan pengetahuan yang keliru, maka setiap orang hendaknya menggunakan pengetahuan yang jelas manfaat bagi jalan kehidupan mereka, tidak bermudah menggunakan atau mempercayai setiap pengetahuan yang terbuka kepada dirinya. Syaitan akan menyertai keterbukaan pengetahuan seseorang, di mana tanduk syaitan terbit bersama terbitnya matahari.

Integritas Ilmu Terhadap Rasulullah SAW

Tidak semua kebenaran dapat dimengerti dengan mudah oleh masyarakat umum. Misalnya pengetahuan tentang pasukan syaitan. Dalam banyak kasus, pengetahuan demikian dapat menjerumuskan manusia dalam tipuan syaitan. Pengetahuan-pengetahuan terkait syaitan tidak perlu dipelajari oleh manusia kecuali dengan cara mengikuti penjelasan yang disampaikan oleh para nabi. Setiap orang hendaknya berusaha memahami dengan tepat apa yang dimaksud oleh para nabi dalam ajarannya, tidak membuat makna yang menyimpang. Dalam hal ini syaitan akan mendorong manusia yang ingin memperoleh pengetahuan tentang mereka agar menyimpang. Setiap orang hendaknya berusaha untuk memahami dengan benar nilai dari pengetahuan yang diperolehnya.

Akan tetapi sebenarnya tidak tertutup kemungkinan seseorang memperoleh pengetahuan demikian dengan benar. Ilmu yang benar itu bisa bermanfaat karena duduk pada urusannya secara benar. Misalnya mungkin ada orang-orang yang mempunyai komitmen yang kuat terhadap jamaah, berkeinginan untuk membantu urusan Rasulullah SAW. Mungkin orang demikian kemudian memahami urusan Rasulullah SAW terkait alam syaitan. Pemahaman demikian itupun seringkali bukan pengetahuan yang diperoleh secara mandiri, tetapi berada di belakang pemahaman terhadap urusan seorang wasilah misalnya khalifatullah Al-Mahdi. Bagi yang memperolehnya, ia mengetahui bahwa pengetahuan tentang syaitan itu hanya merupakan sisi koin yang lain dari pengetahuan yang diperoleh karena komitmen membantu khalifatullah untuk menolong urusan Rasulullah SAW. Bila suatu ilmu mempunyai kedudukan demikian, ilmu yang tampak seperti fitnah itu bisa memberikan manfaat, dan itu merupakan ilmu yang bisa dianggap benar selama tidak disalahgunakan.

Ilmu demikian tergolong ilmu yang bersumber dari kitabullah Alquran. Sebagai penjelasan, ayat 3 dan 4 surat Al-Fatihah sebenarnya dapat dipandang sebagai penjelasan tentang kedudukan kedua uswatun hasanah dan khalifatullah. Penyaksian seseorang terhadap risalah Rasulullah SAW merupakan bukti kebenaran musyahadah seseorang terhadap Ilahiah Allah. Musyahadah terhadap risalah itu telah dijadikan sebagai bagian dari ummul kitab. Dalam umul kitab, musyahadah itu sebenarnya tidak berdiri sendiri. Seorang mukmin yang benar kesaksiannya terhadap risalah sebenarnya juga akan mempunyai pengetahuan tentang khalilullah Ibrahim a.s sebagai uswatun hasanah, dan juga mempunyai pengetahuan tentang khalifatullah sebagai perpanjangan bayangan Rasulullah SAW di alam dunia.

﴾۳﴿الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
﴾۴﴿مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
(3)Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (4) Raja di Hari Agama (QS Al-Faatihah : 3-4)

Allah memperkenalkan diri-Nya kepada makhluk dalam berbagai derajat. Derajat tertinggi adalah asma Ar-Rahman yang beristiwa di atas ‘Arsy. Pada derajat yang berdekatan, Allah memperkenalkan diri-Nya dengan asma Ar-Rahim, berkedudukan sangat tinggi melekat pada ‘arsy. Rasulullah SAW merupakan insan paling sempurna yang diberi kemampuan memanifestasikan asma yang tertinggi Ar-Rahman, dan nabi Ibrahim a.s merupakan insan yang diberi kemampuan memanifestasikan asma Ar-Rahiim secara sempurna. Kedua insan tersebut merupakan uswatun hasanah yang memanifestasikan asma Allah dengan benar sepanjang masa. Kedua asma itu dipanjangkan bayangannya hingga asma yang bertakhta di Kursy sebagai Malik (raja), dan khalifatullah Al-Mahdi merupakan insan yang diberi kemampuan memanifestasikan asma Malik. Asma Malik hanya merupakan manifestasi asma Allah yang bersifat temporer pada waktu yang ditentukan yaitu pada hari agama, dan khalifatullah bukan termasuk sebagai uswatun hasanah.

Hari agama pada satu sisi adalah landmark dimulainya masa kekuasaan khalifatullah Al-Mahdi, dan sisi lainnya merupakan landmark berakhirnya kekuasaan Iblis sebagai penguasa bumi. Kebanyakan muslimin tidak tepat merujukkan istilah hari agama. Sebagian besar merujukkan hari agama sebagai hari pembalasan atau hari-hari di alam akhirat. Sebenarnya Alquran sendiri telah menunjukkan apa yang dimaksud sebagai hari agama. Hari agama adalah hari di mana kekuasaan Iblis di dunia seharusnya akan berakhir. Iblis meminta perpanjangan waktu penguasaan kepada Allah, dari yang seharusnya berakhir pada hari agama memohon diperpanjang hingga hari kebangkitan. Allah mengabulkannya akan tetapi hanya hingga hari yang ditentukan, yaitu hari kiamat. Hari agama sebenarnya adalah hari-hari dimana khalifatullah Al-Mahdi diberi kekuasaan di bumi sedemikian agama yang telah sempurna diturunkan kepada Rasulullah SAW ditegakkan. Pada masa kekuasaan khalifatullah itu Allah memperkenalkan tajalliat diri-Nya sebagai Malik.

Pengetahuan seseorang tentang Iblis dan balatentaranya merupakan sisi koin yang lain dari pengetahuan terhadap khalifatullah Al-Mahdi. Pencarian pengetahuan tentang Rasulullah SAW, Khalilullah a.s dan khalifatullah merupakan bentuk utama pencarian pengetahuan dalam beribadah kepada Allah, sedangkan pengetahuan tentang syaitan hanya imbas yang tumbuh dari pengetahuan yang harus dicari hamba Allah. Pengetahuan imbas saja kadang berbahaya tidak boleh diusahakan dengan niat mencarinya. Pengetahuan demikian bisa bermanfaat manakala merupakan imbas karena kepedulian seseorang terhadap urusan Rasulullah SAW dan perpanjangannya. Seseorang yang peduli pada urusan khalifatullah akan terdorong untuk memperoleh pengetahuan tentang apa yang seharusnya dikerjakan termasuk dalam hal ini pengetahuan tentang musuh yang harus dihadapi sang khalifatullah. Manakala seseorang memperoleh pengetahuan yang mencurigakan dengan jalan yang haqq seperti di atas, pengetahuan itu bisa tidak berbahaya bagi dirinya dan justru memberikan manfaat yang besar bagi umat manusia.

Dengan terintegrasi pada kebenaran universal, pengetahuan-pengetahuan yang sekilas tampak berbahaya bisa memberikan manfaat kepada orang-orang yang memperolehnya selama pengetahuan itu benar. Misalnya boleh jadi seseorang melihat sepak terjang para syaitan pengikut Asytoret memalsukan nilai-nilai pengajaran agama, maka ia bisa berusaha menangkalnya dengan merumuskan ilmu tauhid yang lebih mendekati kehendak Allah. Atau manakala seseorang melihat iblis pengamat memporakporandakan tatanan kaum mukminin melalui perusakan pernikahan, ia bisa menyeru kaum mukminin untuk menata barisan dengan benar mengikuti tuntunan Allah sekalipun apabila ia bukan musuh si pengamat secara langsung. Seseorang yang mengetahui tipu daya dapat membantu sahabatnya yang berurusan untuk menghadapi tipu daya Iblis. Demikian gambaran manfaat yang dapat diperoleh dari ilmu yang terintegrasi dengan kebenaran Rasulullah SAW.

Melampaui Kesemuan Pada Ilmu

Pada sisi lainnya, ada pengetahuan-pengetahuan yang tampaknya berkilau akan tetapi sebenarnya merupakan fitnah. Syaitan menyesatkan manusia tidak hanya menggunakan ilmu yang salah, akan tetapi juga menggunakan kebenaran yang tidak diketahui nilainya. Iblis dahulu mendorong Adam dan Hawa untuk mendatangi pohon khuldi. Pada dasarnya setiap manusia merupakan pohon yang harus tumbuh dan berbuah sebagai kalimah Allah. Itu merupakan kebenaran. Tetapi sebenarnya syaitan bisa menggunakan kebenaran yang tidak diketahui nilainya oleh manusia untuk menyesatkan mereka. Manakala seseorang tergesa-gesa atau bisa dibuat tergesa-gesa mendatangi pohon thayibah dirinya, syaitan sebenarnya menunggu mereka pada pohon itu. Tanduk syaitan akan terbit bersama dengan terbitnya matahari. Setiap orang harus membina keikhlasan yang kokoh dalam berusaha mengenali pohon thayibah dirinya sedemikian ia bisa mengenali tanduk syaitan yang menyertai pohon thayibah manakala berbuah.

Seseorang yang kokoh dalam keikhlasan akan lebih berusaha mengenali kedudukan dirinya dalam urusan Rasulullah SAW, tidak menempatkan dirinya dalam urusan mandiri yang terpisah. Pengetahuan yang mereka bangun seringkali disertai pengetahuan tentang silsilah urusan dirinya. Misalnya jika seseorang adalah pembantu khalifatullah maka ia mengenal khalifatullah sebagai wasilah yang menghubungkan dirinya kepada Rasulullah SAW. Seseorang yang merasa sebagai puncak pemegang urusan menunjukkan ia tidak sepenuhnya mengetahui kedudukan Rasulullah SAW, termasuk bagi urusan dirinya. Itu bisa menjadi tanda bahwa ia mungkin mengikuti tanduk syaitan. Seseorang yang benar akan mengetahui dirinya merupakan bagian dari amr jami’ Rasulullah SAW bukan sumber urusan. Yang penting bagi orang yang benar adalah pelaksanaan urusan Rasulullah SAW bukan urusan dirinya sendiri. Mungkin ia tidak peduli urusan dirinya. Ia hanya memperhatikan urusan yang keluar dalam bentuk ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan menggunakan apa yang ada dalam dirinya untuk mewujudkan urusan dari firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW tidak mengutamakan apa yang ada dalam dirinya. Seandainya ia berjumpa dengan wasilahnya, ia akan lebih mendengarkan arahan wasilahnya daripada yang ada dalam dirinya karena arahan itu lebih sempurna mendekati urusan Rasulullah SAW.

Dalam pelaksanaan amal, seseorang yang mengenal urusan diri perlu memperhatikan banyak hal. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW terkait urusan dan pelaksanaan urusan yang harus ditunaikan. Selanjutnya ia harus memperhatikan segala sesuatu yang terkandung dalam dirinya berupa pengetahuan-pengetahuan internal ataupun hal lain yang ada dalam dirinya. Ia juga perlu memperhatikan objek untuk mewujudkan amalnya dan bila perlu melakukan penyesuaian seperlunya dengan keadaan. Kadangkala keadaan yang harus diperhatikan terkait dengan langkah musuh yang merusak urusannya. Misalnya seseorang mengetahui urusan musuh, ia perlu mempertimbangkan kerusakan yang telah diperbuat oleh musuhnya dan memperbaikinya dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala keadaan yang harus diperhatikan adalah sinergi dengan sahabat-sahabat yang menolong agama baik dalam urusan wasilah yang sama atau sahabat yang lebih jauh.

Mengenal urusan wasilah kepada Rasulullah SAW akan menjadikan seseorang dapat bekerjasama dengan sahabatnya. Misalnya apabila urusan seseorang adalah membantu khalifatullah pada satu bagian urusan, ia dapat membantu sahabatnya dalam membantu khalifatullah pada bagian yang lain sesuai dengan keadaan dirinya. Hubungan bantu membantu ini pasti ada, tidak ada seseorang yang diciptakan dengan urusan sendirian. Bila ia tidak mengenal urusan wasilahnya, ia mungkin tidak menyadari manfaat dari urusan sahabatnya hingga ia mungkin bekerja sendiri tanpa peduli sahabatnya atau justru merusak urusan sahabatnya yang lain. Ia mungkin hanya memandang penting urusannya sendiri dan memandang yang lain tidak penting. Lebih buruk lagi mungkin seseorang memandang sahabatnya sebagai pesaing atau justru lawan karena kurangnya pemahaman terhadap urusan Al-Jamaah. Hal demikian tidak boleh terjadi. Setiap orang hendaknya berusaha menemukan dirinya sebagai bagian dari Al-Jamaah yang membantu pelaksanaan urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya. Pengenalan sebagai bagian Al-Jamaah hendaknya dibentuk hingga seseorang mengetahui urusan jaman dan hubungan wasilah yang seharusnya dibentuk pada jamaah tersebut, bukan terus menerus hanya sebagai kumpulan orang-orang yang bekerja bersama tanpa mengetahui hubungan urusan masing-masing dengan sahabatnya. Saling membantu di jalan Allah berlaku bagi setiap muslim.

Bukan hanya membantu, seseorang perlu bisa melihat apa yang bisa menolong dirinya menempuh jalan Allah dari sahabatnya. Hal itu bisa dilakukan dengan benar bila setiap orang berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan benar. Keberhasilan seorang mukmin dalam mengenali urusan jaman sebenarnya akan sangat memudahkan mukminin lain untuk mengenal urusan bagi dirinya. Manakala seseorang mengenali urusannya, seharusnya kaum mukminin lainnya akan mudah mengikuti langkahnya mengenali urusan Allah yang harus ditunaikan dengan memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang ditunaikan sahabatnya. Akan tetapi tidak jarang suatu kaum terliputi oleh waham yang menjadikan mereka sulit untuk mengenali urusan Allah. Kadangkala suatu kaum hanya mengikuti suatu ajaran tanpa memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang ditunaikan, maka mereka tidak menemukan urusan Allah hanya mengikuti doktrin secara membuta. Kadangkala seseorang tidak berhati-hati memahami urusan Allah hingga terjebak mengerjakan urusan sendiri bukan mengerjakan urusan Allah, tetapi menyangka itu urusan Allah. Bila tidak memperhatikan tuntunan Allah, suatu kaum tersebut akan kesulitan untuk mengenal urusan Allah. Urusan Allah akan ditemukan oleh orang yang mengikuti sahabatnya dengan memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Setiap orang harus membangun ilmu yang terintegrasi dengan Rasulullah SAW agar ilmu yang diperoleh semakin bertambah bobot manfaatnya semakin mendekati nilai hakikat. Banyak muslimin yang tidak melangkah dengan benar hingga menjadi tersesat. Sebagian muslimin yang bodoh mengikuti nilai-nilai syaitaniah yang disusun dengan dalil-dalil tanpa berusaha memahami hingga menjadi kaum khawarij yang terlempar dari islam. Sebagian muslimin mengasah kemampuan menggunakan akal tetapi tidak mengintegrasikan pemahaman mereka dengan amr jami’ Rasulullah SAW sedemikian mereka berbuat baik secara menyimpang dari maksud Rasulullah SAW menjadi ahlul bidah. Dalam beberapa hal, amal yang dipandang ahlul bid’ah sebagai kebaikan itu sebenarnya menghancurkan upaya orang-orang yang benar-benar peduli dengan pelaksanaan urusan Rasulullah SAW. Beberapa kaum muslimin mungkin hanya memperhatikan urusan diri sendiri hingga tidak berjalan mendekat kepada Allah dengan melaksanakan amal-amal yang ditentukan bagi mereka, terus saja berada di tepian jurang dalam ibadahnya kepada Allah.

Sabtu, 09 Mei 2026

Berubahnya Nikmat Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan hati-hati dan seksama tidak terjebak pada langkah-langkah yang menyimpang. Penyimpangan langkah dari sunnah Rasulullah SAW dapat terjadi pada seluruh tingkat perjalanan manusia, bahkan sekalipun manakala seseorang telah mengenal nikmat Allah bagi diri mereka. Setiap orang atau setiap kaum hendaknya selalu berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam mensyukuri nikmat yang dianugerahkan kepada mereka.

﴾۳۵﴿ذٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِّعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَىٰ قَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Anfaal : 53)

Pada dasarnya Allah tidaklah mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan kepada suatu kaum, akan tetapi tetap saja nikmat Allah tersebut dapat berubah yaitu manakala mereka mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri. Orang-orang yang telah memperoleh nikmat Allah sebenarnya hanya mengerjakan urusan-urusan yang diturunkan Allah kepada mereka, maka hendaknya mereka menunaikan urusan-urusan itu sesuai dengan petunjuk Allah. Amal demikian itulah yang mengekalkan mereka dalam nikmat Allah. Urusan-urusan yang dikerjakan sesuai dengan kehendak Allah, untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan Allah, dikerjakan sesuai dengan tuntunan-tuntunan Allah yang secara jelas sesuai dengan tuntunan yang nyata berupa kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW itu merupakan bentuk kebersyukuran terhadap nikmat Allah yang menjadikan seseorang diberi lebih banyak nikmat lagi.

Boleh jadi ada orang-orang yang tidak mensyukuri nikmat Allah. Suatu kaum mungkin saja tidak mengerjakan amal yang diperintahkan Allah, atau tidak peduli tujuan yang dikehendaki Allah atas amal harus dilakukan, atau mengerjakan amal dengan cara yang tidak dikehendaki Allah dan bentuk amal lainnya yang serupa, maka hal itu sebenarnya merupakan perbuatan mengubah nikmat Allah. Apabila mereka bertindak tidak sesuai dengan petunjuk-petunjuk Allah, mereka sebenarnya mengubah nikmat Allah yang dilimpahkan atas diri mereka. Hal itu akan menjadi sebab berubahnya suatu nikmat Allah atas diri suatu kaum.

Mengubah nikmat Allah dapat terjadi karena kurangnya keikhlasan dalam beribadah kepada Allah. Bisa saja seseorang memandang dirinya tinggi di antara manusia karena urusan Allah yang dianugerahkan kepada diri mereka sedemikian mereka menyombongkan diri dengannya. Mungkin juga seseorang lebih menginginkan apa yang tampak baik bagi pandangannya daripada yang diperintahkan Allah hingga ia mengusahakan tujuannya sendiri. Tidak jarang suatu kaum sangat menginginkan sesuatu yang kurang sempurna yang tampak baik dalam pandangan mereka, sedangkan hal itu bisa saja mendatangkan keburukan atas kaum tersebut ketika mereka melupakan petunjuk Allah. Mereka kehilangan orientasi beribadah kepada Allah karena nikmat yang dianugerahkan kepada mereka.

Pengubahan nikmat semacam ini merupakan suatu hal yang bisa saja terjadi atas suatu kaum apabila kaum tersebut tidak memperhatikan petunjuk-petunjuk Allah. Tidak ada seseorang atau suatu kaum yang bisa merasa aman memperoleh nikmat Allah hingga boleh melupakan petunjuk-petunjuk Allah dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, karena nikmat tersebut bisa berubah tanpa mereka ketahui perubahannya. Perubahan sifat nikmat itu hanya akan diketahui oleh seseorang yang benar-benar berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Apabila seseorang atau suatu kaum berpegang pada keyakinannya sendiri bahwa mereka kaum yang lurus, nikmat mereka sebenarnya telah berubah. Ketika Allah mengubah nikmat-Nya atas suatu kaum, sebenarnya kaum itu sendirilah yang mengubah apa-apa yang ada pada nafs mereka. Allah tidak mengubah nikmat yang dianugerahkan kepada suatu kaum kecuali kaum tersebut mengubah apa-apa yang ada pada nafs mereka. Perubahan nikmat itu sebenarnya menunjukkan apa yang ada pada nafs mereka.

Beberapa Dampak Karena Berubahnya Nikmat Allah

Nikmat Allah adalah pengetahuan yang diberikan kepada manusia tentang jalan kehidupan yang dikehendaki Allah. Orang-orang yang diberi nikmat Allah akan memperoleh pengetahuan tentang shirat al-mustaqim, yaitu jalan kehidupan yang paling pendek yang dapat ditempuh seorang hamba Allah untuk menjadi hamba yang didekatkan. Pengenalan shirat al-mustaqim berupa suatu keterbukaan pengetahuan tentang jalan kehidupan yang dikehendaki Allah, seringkali bukan berupa pengetahuan yang dikumpulkan manusia melalui upaya dalam kehidupannya. Berjalan bersama orang yang mengenal shirat al-mustaqim mendatangkan manfaat yang sangat besar dan bisa pula menjadikan diri seseorang mengenal jalan untuk menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah.

Pada dasarnya, nikmat Allah akan mendatangkan suatu manfaat yang besar bagi kehidupan umat manusia hingga masyarakat dapat hidup sejahtera, akan tetapi manfaat ittu tidak selalu dapat mengalir dalam wujud yang nyata. Masyarakat yang kafir mungkin saja menghalangi jalan mengalirnya nikmat Allah melalui orang yang memperolehnya. Seorang yang memperoleh nikmat Allah mungkin saja tampak sebagai orang yang tidak bermanfaat di masyarakat. Problemnya ada pada masyaarakat bukan orang yang memperoleh nikmat Allah. Kadangkala problem itu bisa sedemikian tersembunyi karena peliknya masalah. Suatu kaum yang ingin bertaubat tetapi tersesat mungkin saja memandang orang yang memperoleh nikmat Allah sebagai suatu masalah bagi mereka. Mereka memilih waham mereka sendiri untuk kembali kepada Allah dibandingkan berpegang pada al-bayaan yang diberikan kepada seseorang di antara mereka. Masalah paling pelik dapat terjadi terutama apabila Allah mengubah nikmat-Nya yang diberikan kepada hamba-Nya.

Banyak masalah dapat timbul dari pengubahan nikmat Allah yang dianugerahkan atas suatu kaum. Sesuatu yang dipandang tampak mendatangkan kebaikan seringkali justru mendatangkan keburukan bagi mereka, hanya karena berubahnya sifat nikmat Allah. Seseorang mungkin merasa tinggi derajatnya di sisi Allah sedangkan sebenarnya mungkin saja Allah menghinakannya seperti syaitan dihinakan. Syaitan tidaklah kehilangan pengetahuan-pengetahuannya akan tetapi pengetahuan-pengetahuan itu sebenarnya hanya pengetahuan yang tidak berharga. Demikian pula manakala nikmat atas suatu kaum diubah Allah, nikmat-nikmat itu mungkin tampak tetap melekat pada mereka akan tetapi sebenarnya Allah telah mengubah nilai dari nikmat-nikmat yang mereka peroleh. Ilmu mereka bisa saja tidak dicabut akan tetapi justru mendatangkan keuntungan bagi pihak syaitan.

Kehidupan masyarakat akan menjadi pelik karena berubahnya nikmat Allah, misalnya munculnya banyak pengangguran dari orang-orang yang sebenarnya mempunyai potensi memberikan manfaat yang besar. Mungkin banyak orang yang ingin membangun tatanan bermasyarakat sesuai dengan potensi diri, akan tetapi orang-orang yang potensi diri mereka telah berkembang justru menjadi orang-orang yang tersia-siakan karena berubahnya nikmat Allah. Mungkin pula para pemegang jabatan di antara mereka justru berasal dari kalangan orang-orang yang jahat hingga mereka menyingkirkan orang-orang yang baik. Kehidupan orang-orang yang baik justru menjadi sulit, melaksanakan urusan Allah tanpa ada yang mendukung langkah mereka. Manakala bersungguh-sungguh melaksanakan amal shalih, mungkin mereka ditekan oleh keluarga sendiri untuk mencari penghidupan yang lebih baik tidak menyadari bahwa upaya berdasar amal shalih itu akan mendatangkan kebaikan secara umum. Mungkin sangat banyak orang bersuara untuk memperoleh pekerjaan, tetapi upaya untuk mewujudkan tatanan yang baik justru disingkirkan oleh masyarakat sendiri.

Setiap hamba Allah hendaknya selalu berusaha ikhlas, mengenal dengan benar kehendak Allah atas hamba-hamba-Nya. Prinsip paling dasar dari kehendak Allah yang benar adalah adanya sifat rahman dan rahim. Tidak ada kehendak Allah yang memunculkan madlarat mencelakakan bagi makhluk, dan setiap orang yang ikhlas hendaknya berusaha mengenali sifat rahman dan rahim dalam kehendak-Nya. Manakala seseorang merasa mengetahui kehendak Allah tetapi tidak bisa mengenali kebaikan dalam kehendak Allah yang diketahuinya, ia sebenarnya belum benar-benar mengenal kehendak-Nya. Manakala diketahui dengan benar adanya madlarat dalam kehendak yang dikenali, pengetahuan tentang kehendak-Nya itu hanya pengetahuan yang palsu. Manakala kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bertentangan dengan pengetahuannya, pengetahuan demikian itu merupakan kesesatan. Manakala ia mengetahui adanya kebaikan dalam kehendak yang dikenalinya, boleh jadi itu merupakan pengenalan yang benar terhadap kehendak-Nya. Selanjutnya ia hendaknya memperhatikan benar-benar cara menunaikan kehendak itu sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak ada seseorang mengenal kehendak Allah tanpa mengenali adanya kebaikan di dalamnya. Suatu kebaikan dalam kehendak Allah hanya ada pada keselarasan dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak ada kebaikan pada sesuatu yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Mengenali kehendak Allah hendaknya ditimbang secara seksama, selaras dengan ayat kitabullah dan ayat kauniyah. Kehendak Allah terkait ruang dan jaman kehidupan selalu tercermin dalam keadaan kauniyah jaman itu. Keselarasan pemahaman dengan ayat Allah itu harus ditimbang kebenarannya dengan logika yang benar. Keselarasan tidak boleh ditimbang dengan memandang segala sesuatu yang muncul atau terpikirkan dalam diri merupakan kebenaran yang selaras dengan kitabullah. Keselarasan itu terjadi manakala apa yang muncul atau terpikirkan itu sesuai dengan redaksi kitabullah, sedangkan apabila yang muncul atau terpikirkan itu bertentangan dengan redaksi kitabullah, maka pikiran itu menyimpang tidak boleh dikatakan selaras kitabullah. Ini merupakan logika dasar yang sebenarnya bisa dimengerti oleh setiap orang, (dan mungkin sebenarnya tidak perlu dijelaskan), akan tetapi kadangkala seseorang atau suatu kaum bisa berlogika dengan cara yang berbeda dan merasa benar dengan logikanya. Dengan logika yang keliru, nikmat Allah yang telah dianugerahkan bagi mereka dapat diubah hingga mendatangkan madlarat bagi manusia.

Beberapa Keadaan Orang yang Memperoleh Nikmat Allah

Nikmat Allah adalah pengetahuan yang diberikan kepada manusia tentang kehidupan dan jalan kehidupan yang dikehendaki Allah berupa shirat al-mustaqim. Pengenalan shirat al-mustaqim berupa suatu keterbukaan pengetahuan tentang jalan kehidupan yang dikehendaki Allah. Pengetahuan itu bisa sangat luas walaupun terbatas, dan seringkali bukan berupa pengetahuan yang dikumpulkan manusia melalui upaya dalam kehidupannya. Dengan pengetahuan itu, seseorang bisa bersaksi bahwa “Tiada Ilah selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah rasulullah”. Seseorang yang memperoleh nikmat Allah bisa mengetahui keadaan kauniyah dengan benar melampaui batas persepsi indera jasmaniah dirinya. Mungkin akan ditemukan sangat banyak jebakan pengetahuan yang keliru, maka setiap orang hendaknya menggunakan pengetahuan yang jelas manfaat bagi jalan kehidupan mereka, tidak bermudah menggunakan atau mempercayai setiap pengetahuan yang terbuka kepada dirinya hingga mungkin bisa mengubah nikmat Allah.

Berikut ini contoh pengetahuan yang bisa diperoleh dari nikmat Allah. Dewasa ini kehidupan umat manusia tampak berguncang, sedangkan keadaan ini sebenarnya baru merupakan permulaan. Saat ini, kekuatan Iblis atas diri dunia sebenarnya sangat dibatasi atas kehendak Allah. Iblis besar yang menentang perintah bersujud kepada Adam sedang dan masih kehilangan banyak kekuatannya, karena staf-staf pembantu utamanya telah disingkirkan atas kehendak Allah dari membantu urusannya. Ia seolah sendirian saja karena pembantunya hanya syaitan yang jauh lebih rendah. Semyaza (pemimpin para pengamat/the watchers) dengan setidaknya dua ratus eselon tertinggi urusan mereka diikat dalam penjara hingga waktu yang ditentukan. Azazil staf Iblis dengan banyak pembantu urusannya ditimbun dalam batuan yang tajam hingga tidak dapat membantu mengatur manusia. Demikian pula Terafim dan Abadon telah ditangkap tidak diijinkan untuk membantu Iblis “menata” manusia dalam kehidupan di bumi. Ba’al, Ashera dan Asytoret sebagai pembantu-pembantu utama lain Iblis telah terbunuh oleh para malaikat hingga tidak dapat membantu Iblis. Kehidupan manusia pada jaman ini sebenarnya berada dalam keamanan anugerah Allah dari godaan syaitan yang kuat. Keamanan ini akan terjadi hingga waktu yang ditentukan, yaitu manakala para pembantu utama Iblis itu diijinkan Allah untuk dilepaskan kembali termasuk yang telah terbunuh. Dajjal adalah manifestasi dari kembalinya Ba’al ke dunia. Ia bukan dalam bentuk sapi sebagaimana yang disembah musyrikin penguasa dunia saat ini, tetapi jauh lebih mengerikan, dan ia akan bersekutu dengan manusia untuk menguasai dunia.

Sebagian kisah ini dapat ditemukan dalam kitab nabi Idris a.s. dan sebagian merupakan contoh pengetahuan keadaan kauniyah yang dapat diperoleh melalui nikmat Allah. Pengetahuan demikian sebagian tidak dapat dicari manusia, tetapi seringkali bersifat keterbukaan pengetahuan terkait keadaan. Keterbukaan demikian berhubungan erat dengan shirat al-mustaqim yang ditentukan bagi seseorang. Mukmin hendaknya melaksanakan apa yang ditentukan dalam shirat al-mustaqim dengan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang terkait dengan urusannya. Shirat al-mustaqim tidak berbentuk pelaksanaan perintah-perintah yang bersifat acak, tetapi berupa amal-amal yang ditentukan bagi seseorang sesuai dengan pengetahuan tentang keadaan kauniyah yang didapat melalui keterbukaan (al-fath) pengetahuan dari sisi Allah.

Urusan Allah yang ditentukan bagi manusia seringkali bukan berupa pengetahuan yang sesuai dengan hawa nafsu. Kadangkala hawa nafsu manusia bergejolak manakala mendengar berita sekalipun yang baik. Misalnya manakala seorang syaikh memberitakan tentang kebangkitan Islam, sebagian murid mungkin akan berusaha dengan keras untuk mewujudkan apa yang mereka bayangkan dengan hawa nafsu tentang apa yang diberitakan tanpa mengetahui lebih lengkap bagaimana penjelasan syaikh tentang kebangkitan Islam. Upaya demikian seringkali tidak menyentuh apa yang diajarkan sang syaikh dan mengecewakan syaikh karena murid tidak mengerti urusan Allah. Urusan Allah terkait apa yang syaikh jelaskan harus diperhatikan seluruhnya termasuk dalam urusan yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan hawa nafsu. Mungkin saja para murid seharusnya memikirkan terlebih dahulu tantangan keadaan yang mereka hadapi sebelum tergesa mengejar kemakmuran yang ada dalam bayangan hawa nafsu mereka, sebagai bukti keikhlasan diri mereka.

Bagi orang beriman, tantangan bagi mereka tidaklah kecil. Walaupun dengan terkekangnya Azazil dan pengikutnya, umat manusia masih terancam dengan perang bom nuklir. Kaum musyrikin penyembah Ba’al juga masih bisa menjadi pemimpin bangsa yang besar walaupun Ba’al telah terbunuh. Terbunuhnya Ashera juga tidak menyebabkan manusia terbebas dari lilitan sistem ekonomi ribawi yang merugikan sebagian besar manusia. Demikian pula pengikut Asytoret masih menikmati kedudukan sebagai pemimpin-pemimpin agama yang bekerja untuk kalangan musyrikin dengan pengetahuan yang mereka buat untuk melenakan manusia merasa dalam kebenaran. Pengikut Terafim masih dengan leluasa membuat penyakit-penyakit dan pura-pura menyediakan obat bagi manusia. Bagi sebagian orang yang mengetahui, keadaan kaum mukminin saat ini sedemikian menjadi berantakan karena ulah “si pengamat” anak buah Semyaza. Itu contoh bentuk-bentuk tantangan bagi kaum mukminin, dan tantangan itu sebenarnya akan menjadi lebih lebih besar pada masa yang ditentukan menghadapi tujuh pembantu utama syaitan yang dikembalikan berperan di dunia.

Tantangan itu harus dihadapi dengan nikmat yang lurus. Manakala suatu kaum mengikuti nikmat yang telah diubah, nikmat itu akan berpihak pada syaitan bukan pada urusan Allah. Setiap mukmin hendaknya memperhatikan dengan sungguh-sungguh urusan dan pelaksanaan urusan yang diketahuinya berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Selasa, 05 Mei 2026

Membangkitkan Perubahan Kaum

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti jalan Rasulullah SAW akan mendatangkan kebaikan bagi umat manusia. Hal itu dimulai dari perubahan-perubahan yang terjadi pada nafs orang-orang mukmin yang mengikuti langkah Rasulullah SAW hingga mendatangkan perubahan yang lebih baik dalam kehidupan.

﴾۱۱﴿لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS Ar-Ra’du : 11)

Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada nafs mereka. Perubahan keadaan suatu kaum akan terjadi mengikuti perubahan dalam nafs-nafs pada kaum tersebut. Manakala nafs suatu kaum berubah menjadi baik, keadaan mereka akan berubah menjadi baik. Manakala nafs suatu kaum berubah menjadi lebih buruk, keadaan mereka akan menjadi lebih buruk. Perubahan-perubahan keadaan suatu kaum akan ditentukan dengan perubahan nafs-nafs pada kaum tersebut.

Banyak orang yang menyangka bahwa perubahan suatu kaum akan terjadi apabila kaum tersebut berusaha untuk mengubah keadaan mereka. Ini merupakan suatu pengertian yang kurang tepat. Sangat banyak kaum yang memandang keadaan diri mereka buruk dan kemudian berusaha mengubah tatanan di antara mereka untuk memperbaiki keadaan, tetapi hasil dari usaha yang mereka lakukan itu tidak menunjukkan perbaikan akan tetapi seringkali hanya usaha yang sia-sia saja atau bahkan justru keadaan berubah menjadi lebih buruk. Untuk memperoleh perubahan keadaan menuju kebaikan, suatu kaum hendaknya mengubah nafs mereka menjadi lebih baik, dimulai dari nafs masing-masing diikuti dengan amar ma’ruf nahy munkar agar nafs kaum menjadi lebih baik. Perubahan keadaan nafs menuju lebih baik itulah yang akan mendatangkan perubahan yang lebih baik.

Perubahan nafs menjadi lebih baik akan diperoleh manakala setiap individu bertaubat kepada Allah dengan membina akhlak yang mulia. Pembentuk akhlak mulia yang paling utama adalah sifat rahman dan sifat rahim. Akhlak adalah bentuk konstruk diri, tidak sepenuhnya ditunjukkan dengan etika. Akhlak yang baik akan menerbitkan etika yang baik, tetapi etika yang baik belum tentu menunjukkan akhlak yang baik. Hubungan etika dan etika tidak sepenuhnya terhubung secara lurus. Kadangkala manusia harus bersikap keras karena akhlak yang baik hingga mungkin saja dipandang beretika kurang baik, tetapi sebenarnya hasil yang diperoleh adalah kebaikan. Perang yang terjadi di Iran sedikit atau banyak dapat menunjukkan terbentuknya akhlak mulia. Akhlak rahmaniah seorang hamba Allah akan terbentuk dengan baik apabila ia membina diri sebagai misykat cahaya Allah.

Pembinaan akhlak mulia akan menjadikan nafs-nafs di masyarakat menjadi semakin baik dan keadaan mereka akan semakin baik. Pembinaan itu harus dilakukan terhadap masyarakat secara menyeluruh. Masyarakat yang masih gemar terhadap kehidupan duniawi hingga berbuat dosa hendaknya dibina untuk mengenal nilai-nilai yang lebih luhur daripada materi duniawi hingga mereka terhindar dari berbuat jahat. Masyarakat yang menginginkan nilai-nilai luhur hendaknya diseru untuk bertaubat agar dapat mengenal sumber keluhuran dan jalan mengalirnya hingga terwujud dalam kehidupan dunia. Orang yang bertaubat hendaknya dibina di atas sifat rahman dan rahim dan diberikan makanan akal yang selayaknya agar dapat memahami ayat-ayat Allah baik di alam kauniyah maupun dari kitabullah hingga mereka terbentuk sebagai misykat cahaya yang dapat membentuk bayangan dari cahaya Allah. Orang-orang yang telah membentuk misykat cahaya hendaknya diberi kedudukan yang semestinya agar mampu beramal shalih hingga kehendak Allah yang terbentuk dalam diri mereka dapat termanifestasi memberikan manfaat bagi kehidupan bersama. Demikian pembinaan akhlak mulia hendaknya dilaksanakan secara menyeluruh. 

Mengubah Keadaan dengan Mengubah Diri

Perubahan keadaan suatu kaum terjadi bukan hanya karena perbaikan akhlak saja, tetapi bagaimana suatu nafs dengan perbaikan akhlak memperoleh objek yang tepat bagi dirinya. Perubahan keadaan suatu kaum menuju kebaikan akan terjadi manakala nafs-nafs bersanding dengan objek yang tepat. Yang mengubah keadaan adalah perubahan apa-apa yang ada pada nafs mereka, bukan hanya perubahan nafs mereka. Setiap perubahan akhlak suatu nafs akan membutuhkan objek yang berubah, kadangkala berubah jenisnya dan kadangkala hanya berubah kualitasnya. Apabila perubahan akhlak nafs tidak disertai dengan perubahan objek yang tepat bagi diri mereka, perubahan yang terjadi hanya akan sedikit saja. Semakin kuat akal seseorang dalam memahami tuntunan Allah, hendaknya ia semakin bersungguh-sungguh melaksanakan apa yang dipahami dari tuntunan Allah. Seseorang yang telah membentuk misykat cahaya harus mengurusi sepenuhnya bidang yang menjadi objek bagi dirinya tidak dicegah dari urusannya. Mengubah apa yang ada pada nafs-nafs umat yang akan mendatangkan kebaikan bagi umat.

Pernikahan adalah sesuatu yang paling utama dari apa yang ada pada nafs. Pasangan menikah merupakan sesuatu di luar diri seseorang dalam bentuk paling serupa dengan dirinya hingga dapat berproses bersama, dan ia dihadirkan melalui suatu perjanjian di hadirat Allah. Seseorang bisa menemukan bagian dirinya berupa jasmani, nafs dan amr Allah yang sama dalam wujud pasangannya. Pernikahan merupakan sesuatu yang ada pada nafs yang paling haq, yang menjadi sumber proses perubahan kebaikan yang dapat dibuat oleh manusia. Proses perubahan pada suatu kaum menuju kebaikan ditentukan oleh kebaikan pernikahan mereka. Manakala suatu pernikahan rusak, proses perubahan suatu kaum oleh pasangan itu akan menjadi rusak. Sekalipun seorang nabi, ia tidak akan bisa memberikan sumbangsih perubahan menuju kebaikan apabila pernikahannya tidak mendukungnya. Kerusakan pernikahan suatu bangsa akan mendatangkan kehancuran bagi bangsa itu.

Para nabi diperintahkan untuk menempatkan manusia pada urusannya. Pokok dari menempatkan manusia pada urusannya adalah menemukan pasangan yang tepat atau paling baik, kemudian membina mereka untuk mengenali nafs wahidah diri mereka. Pernikahan akan membuat pasangan manusia memperoleh tempat pertumbuhan layaknya pohon yang ditanam di ladang. Dengan proses demikian, mereka akan menemukan urusan Allah bagi masing-masing. Para nabi tidak membuka lapangan pekerjaan bagi orang-orang yang mengikutinya untuk menempatkan mereka pada urusan masing-masing, tetapi para nabi membuka pemahaman umat terhadap penciptaan diri mereka sendiri. Mungkin nabi menunjuk beberapa orang untuk kedudukan tertentu, tetapi utamanya adalah setiap orang dapat memahami penciptaan diri mereka. Setiap individu dapat menyumbangkan peran menolong agama dan menolong usaha para nabi dengan mengenali jodoh yang tepat dan membina pernikahan mereka dengan sebaik-baiknya, karena setiap individu diberi bagian kemampuan untuk mengusahakan yang terbaik bagi diri masing-masing dan pasangannya melalui pernikahan. Setiap manusia diberi kemampuan untuk mengidentifikasi jodohnya, berkomunikasi dan berkembang bersama dan bersinergi melaksanakan amal dan urusan agama melalui pernikahan. Setiap orang mempunyai kemampuan untuk menolong urusan nabi menempatkan manusia pada urusannya melalui pernikahannya. Kemampuan demikian itu akan menjadi bekal untuk menyumbangkan peran bagi masyarakat yang lebih besar.

Menempatkan manusia pada urusannya merupakan bagian dari agama. Dari sudut pandang pernikahan, menempatkan manusia pada tempatnya merupakan bagian dari pernikahan, karena sasaran dari pernikahan berkedudukan sangat tinggi lebih tinggi dari mengenal urusan diri, yaitu bersasaran membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Setiap tingkatan proses dalam proses taubat memperoleh media terbaik berupa pernikahan, termasuk proses dalam upaya mengenal urusan diri. Menempatkan manusia pada urusannya akan menjadi mudah bila pembinaan pernikahan dilakukan dengan sebaik-baiknya, dan sebaliknya tidak bisa dilakukan bila pembinaan pernikahan dirusak. Merusak pembinaan pernikahan pada dasarnya mendatangkan kerusakan fundamental pada tatanan manusia hingga tatanan manusia yang telah diikrarkan di hadapan Allah. Merusak pernikahan bernilai sama dengan mencabut atau mengusir seseorang dari urusannya. Tidak ada manfaat yang diperoleh orang lain atau suatu kaum manakala seseorang mengenal urusan Allah bila pernikahannya dirusak. Bahkan orang demikian akan menjadi beban kehidupan bermasyarakat.

Perubahan suatu kaum akan terjadi dengan perubahan apa yang ada pada nafs-nafs mereka. Hal ini dimulai dari perubahan nafs menuju kebaikan, kemudian nafs itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka, dari yang terdekat berupa pasangan menikahnya hingga menjangkau bergeraknya perubahan suatu kaum menuju perbaikan. Proses perubahan ini hendaknya tidak diputus pada mata rantainya, terutama mata rantai ikatan suami isteri karena akan memutuskan seluruh proses perubahan menuju kebaikan oleh individu yang mungkin telah mampu memberi manfaat. Individu yang telah mengenal urusan diri sekalipun akan mudah diusir dari urusannya manakala ikatan suami isteri mereka dirusak, hingga bahkan mereka akan kesulitan berusaha untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri.

Tetap Mengharapkan Petunjuk Allah

Allah Maha Mengetahui segala sesuatu baik yang tampak ataupun tersembunyi dari pandangan makhluk-Nya. Allah Maha Mengetahui seluruh potensi dan sebab perubahan-perubahan yang mungkin terjadi atas suatu kaum, baik potensi yang tumbuh membesar ataupun potensi yang kurang sempurna. Tidak jarang suatu kaum sangat menginginkan sesuatu yang kurang sempurna yang tampak baik dalam pandangan mereka, sedangkan hal itu bisa saja mendatangkan kehendak Allah untuk menimpakan keburukan atas kaum tersebut. Manakala Allah berkehendak menimpakan keburukan atas suatu kaum, tidak ada yang bisa mencegah keburukan itu menimpa atas diri mereka, dan tidak ada pula yang dapat melindungi diri mereka dari keburukan itu.

Keinginan terhadap sesuatu itu merupakan tanda kurangnya keikhlasan manusia dalam menghamba kepada Allah. Manakala Allah menampakkan suatu kebaikan, manusia lebih menginginkan kebaikan itu daripada menghamba kepada Allah hingga mereka melupakan petunjuk Allah. Manakala manusia berbuat demikian, bisa saja hal itu mendatangkan kehendak Allah untuk menimpakan keburukan atas diri mereka. Keinginan mereka terhadap sesuatu yang tampak baik itu sendiri adalah keburukan yang mengundang keburukan. Setiap hamba Allah hendaknya terus berusaha memahami petunjuk Allah hingga pemahaman mereka semakin bertambah. Mustahil seorang hamba memahami secara sempurna seluruh petunjuk Allah, tetapi hal itu bukan suatu sebab yang mendatangkan keburukan. Keinginan untuk terus memahami petunjuk Allah itulah yang merupakan kehendak Allah untuk hamba-Nya, dan merasa sempurnanya pemahaman diri merupakan tanda kurang sempurnanya potensi keikhlasan yang dapat dilahirkan.

Allah tidaklah mengubah nikmat yang telah dilimpahkan atas suatu kaum hingga mereka mengubah apa-apa yang ada pada nafs-nafs mereka. Orang-orang yang telah memperoleh nikmat Allah bersanding dengan urusan-urusan yang diturunkan Allah kepada mereka, maka hendaknya mereka menunaikan urusan-urusan itu sesuai dengan petunjuk Allah. Apabila mereka bertindak tidak sesuai dengan petunjuk-petunjuk Allah, mereka sebenarnya mengubah apa-apa yang seharusnya ada pada nafs-nafs mereka. Demikian pula apabila mereka mengabaikan urusan-urusan yang disampaikan kepada mereka, mereka mengubah apa-apa yang ada pada nafs-nafs mereka.

﴾۳۵﴿ذٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِّعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَىٰ قَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Anfaal : 53)

Setiap hamba Allah hendaknya memperhatikan dengan sungguh-sungguh petunjuk-petunjuk terkait urusan yang harus mereka laksanakan, tidak terburu-buru mengejar hasil yang mereka inginkan atau harus dicapai. Itu merupakan suatu bentuk keikhlasan. Menyimpangnya pelaksanaan nikmat Allah oleh seseorang dari ketentuan yang digariskan dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW merupakan bentuk pengubahan nikmat Allah yang akan mendatangkan pengubahan nikmat oleh Allah. Manakala suatu nikmat telah Allah ubah, nikmat itu tidak lagi mendatangkan manfaat yang semestinya, berupa berkurangnya manfaat atau justru menjadi suatu madlarat. Sangat banyak bentuk nikmat-nikmat Allah yang bisa berubah, karena Allah mengubahnya. Suatu pemahaman tertentu dapat berubah menjadi waham yang menghalangi hamba Allah untuk mengerti kehendak Allah. Suatu amal tertentu yang diperintahkan dapat berubah mendatangkan kerusakan karena dilaksanakan tanpa berpegang pada petunjuk Allah yang lain. Suatu ketetapan tertentu yang baik dapat berubah menjadi suatu fitnah karena kurangnya keikhlasan dalam beribadah kepada Allah. Sangat banyak bentuk-bentuk nikmat yang dapat berubah sifat karena Allah mengubahnya.

Setiap orang harus berusaha untuk memahami kehendak Allah dengan sempurna, tanpa merasa sempurna. Sebenarnya tidak ada makhluk yang bisa memahami kehendak Allah secara sempurna, tetapi akan berbahaya manakala para hamba Allah tidak mau berusaha memahami. Hanya Rasulullah SAW yang bisa memahami secara sempurna sebatas apa yang dikehendaki Allah, sedangkan syaitan merasa sempurna. Tidak menjadi masalah manakala seseorang salah dalam memahami kehendak Allah, tetapi akan menjadi sangat berbahaya manakala ia tidak bisa menyadari kesalahannya. Tidak menjadi masalah apabila seseorang tidak sempurna dalam memahami, tetapi akan menjadi masalah manakala seseorang tidak mau memahami kebenaran yang disampaikan kepada dirinya. Masalah-masalah itu harus dihindari oleh setiap hamba Allah dengan berusaha memperhatikan sungguh-sungguh petunjuk Allah. Manakala hamba Allah lalai dalam memperhatikan petunjuk Allah, nikmat Allah yang ada pada mereka dapat berubah sifatnya karena Allah mungkin saja mengubahnya.

Merasa sempurna memahami tidak selalu berwujud tinggi hati. Merasa sempurna memahami seringkali muncul dalam bentuk mengabaikan kebenaran dan merendahkan orang lain. Manakala seseorang berbicara benar, orang yang merasa sempurna tidak mau memperhatikan kebenaran yang disampaikan dan menganggap remeh orang yang menyampaikan. Atau sebaliknya, seseorang yang menyampaikan kebenaran dipandang remeh kemudian ia tidak bisa mendengar kebenaran yang disampaikan orang tersebut. Ini merupakan bentuk kesombongan yang bisa menjadi tanda seseorang merasa sempurna. Hamba Allah harus selalu berusaha memahami kebenaran yang disampaikan kepada dirinya, baik oleh orang yang terpandang ataupun orang yang jahat. Mungkin tidak harus selalu mengikuti orang yang menyampaikan, akan tetapi harus bisa mengerti kebenaran yang disampaikan tidak boleh mengabaikannya.