Pencarian

Minggu, 15 Maret 2026

Orang yang Sungguh Beriman dengan Ayat Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Di antara orang-orang yang mengikuti langkah Rasulullah SAW, ada orang-orang yang mencapai derajat sebagai orang yang sebenar-benarnya beriman. Mereka itu orang-orang yang diberi derajat yang tinggi di sisi Allah, diberi ampunan serta rezeki-rezeki yang mulia.

﴾۴﴿أُولٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia. (QS Al-Anfaal : 4)

Keimanan akan mempengaruhi baiknya langkah dalam kehidupan. Semakin kuat akal seseorang dalam memahami ayat-ayat Allah, semakin baik langkah yang terwujud dalam melaksanakan amal shalih. Amal-amal mereka akan menjadi obat bagi penyakit yang ada di masyarakat, dan menjadi sumber pemakmuran bumi mereka apabila masyarakat mau menerima manfaat dari amalnya. Kadangkala suatu kaum kufur terhadap kebenaran maka amal itu mungkin tidak efektif. Tidak jarang dijumpai orang merasa beriman kepada Allah akan tetapi tidak memahami keadaan yang terjadi bahkan tidak menyadari manakala mereka melakukan kedzaliman dengan kebodohan mereka. Keimanan demikian bukan keimanan yang sebenarnya hanya suatu persangkaan saja. Orang yang baik keimanannya adalah orang-orang yang dapat memahami ayat-ayat Allah dengan benar dan tajam, bukan iman dalam bentuk persangkaan saja. Persangkaan keimanan itu seringkali berupa doktrin-doktrin keimanan yang tumbuh tanpa kemampuan berakar ke bumi tidak mampu memahami kauniyah yang terjadi selaras dengan ayat-ayat kitabullah.

Kaum beriman harus menggunakan akal untuk melaksanakan urusan-urusan Allah, yaitu berusaha memahami ayat kauniyah selaras dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Banyak orang yang berbuat baik tetapi tidak memperhatikan ayat Allah, maka hal ini bukanlah akal. Sebagian mukmin melakukan usaha-usaha berdasarkan cita-cita sendiri tanpa terhubung dengan ayat-ayat Allah. Beramal mengikuti obsesi sendiri tidak akan mendatangkan kebaikan bagi kehidupan orang beriman, baik obsesi dari hawa nafsu sendiri ataupun obsesi yang ditiupkan oleh syaitan untuk mengacaukan langkah orang beriman. Allah menurunkan urusan bagi manusia secara jamaah, tidak berupa urusan masing-masing meskipun setiap orang memperoleh urusan yang berbeda-beda. Allah tidak akan sedikitpun memberikan perintah yang mendatangkan keburukan, sedangkan perintah yang jahat itu dari syaitan atau hawa nafsu manusia. Kaum mukminin harus dapat mengenali kejahatan-kejahatan syaitan, dan mengetahui bahwa kejahatan itu dari syaitan. Hendaknya kaum mukminin tidak bodoh dalam melakukan amal hingga mudah ditipu syaitan.

Sebagian Tanda Orang yang Benar-Benar Beriman

Keimanan yang sesungguhnya pada diri seorang mukmin bukanlah suatu keadaan yang dapat diperoleh dengan mudah. Keimanan demikian seringkali baru akan diperoleh setelah ujian yang besar seperti ujian yang menjadikan mereka terusir dari rumah-rumah mereka. Ujian itu akan memperlihatkan keimanan dalam bentuk konsep-konsep kebenaran yang tumbuh ataupun tindakan-tindakan yang dilakukan secara benar berdasar kebenaran yang telah tumbuh.

﴾۵﴿كَمَا أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِن بَيْتِكَ بِالْحَقِّ وَإِنَّ فَرِيقًا مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ لَكَارِهُونَ
Sebagaimana Tuhanmu telah mengeluarkan kamu dari rumahmu dengan kebenaran, dan sungguh sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya (QS Al-Anfaal : 5)

Ayat di atas agak sulit dipahami, karena sulitnya melihat hubungan antara ayat tersebut dengan ayat sebelumnya dan sesudahnya. Ayat tersebut sebenarnya bercerita tentang suatu manifestasi dari keimanan yang merupakan gerbang dari keimanan yang sebenarnya. Orang-orang yang memasuki gerbang keimanan yang sebenar-benarnya mungkin akan mengalami suatu peristiwa pengusiran dari rumahnya. Mereka itulah yang dijadikan Allah sebagai contoh profil orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Barangkali tidak semua orang yang memasuki gerbang keimanan yang sebenar-benarnya mengalami peristiwa demikian, tetapi mukminin yang terusir dengan kebenaran itu bisa menjadi contoh sebagai orang yang beriman dengan sebenar-benarnya.

Allah menjadikan sebagian orang yang beriman terusir dari rumahnya agar mereka menjadi orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Terusir dari rumah sendiri merupakan keadaan yang sangat tidak nyaman. Seseorang akan kehilangan kedudukan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan, baik untuk diri sendiri ataupun untuk keumatan. Fungsi suatu bayt dalam hal ini mencakup dan tidak terbatas pada fungsi rumah, fungsi mushalla dan fungsi tempat bekerja bagi orang-orang modern. Rumah demikian lebih tepat digambarkan layaknya fungsi suatu istana dari suatu kerajaan. Pada dasarnya setiap orang beriman diarahkan untuk membangun istana masing-masing yang berfungsi untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah sesuai dengan jati diri masing-masing. Itu adalah arah dalam ibadah orang beriman. Arah ini tidak boleh disikapi secara rakus dengan bersikap menginginkan istana, tetapi harus disikapi dengan lebih berfokus pada keinginan untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah sedangkan istana itu merupakan sarana yang seharusnya dibangun. Berhasil membangun istana ataupun tidak, seorang yang beriman tidak akan dituntut tanggung jawabnya selama tidak dengan sengaja mengambil peran menggagalkan.

Allah mengeluarkan orang beriman dari rumahnya dengan kebenaran. Keluarnya mereka dari rumah mereka pada dasarnya akan menambah khazanah kebenaran pada orang-orang mukmin. Dalam prosesnya, keterusiran mereka seringkali terjadi karena perjuangan dalam kebenaran. Mungkin syaitan terlibat secara intensif dalam pengusiran orang beriman dari rumahnya. Demikian pula mungkin ada banyak manusia terlibat dalam peristiwa pengusiran orang-orang beriman. Mereka akan sangat menyukai peristiwa pengusiran orang beriman dari rumah mereka dengan berbagai latar belakang yang membuat mereka senang. Sekalipun demikian, orang beriman yang terusir dari rumahnya akan mengetahui bahwa urusan itu adalah sesuatu yang telah ditetapkan Allah bagi diri mereka. Mereka akan memperoleh pengetahuan-pengetahuan yang banyak dalam peristiwa yang terjadi atas dirinya yang mengungkapkan hakikat dari berbagai keadaan yang terjadi di antara makhluk-makhluk Allah.

Sangat banyak pengetahuan yang terungkap dari peristiwa terusirnya seorang yang beriman dengan kebenaran. Mereka mungkin akan mengetahui bagaimana cara syaitan dalam berusaha menjadikan orang beriman terusir dari rumahnya. Ada bentuk-bentuk keterusiran seseorang dari rumahnya yang mendatangkan fitnah sangat besar bagi manusia, dan semakin besar fitnah yang terjadi pada peristiwa pengusiran itu maka syaitan akan lebih merasa senang. Bentuk keterusiran orang beriman yang paling besar mendatangkan fitnah adalah terpisahnya seorang beriman dari isterinya. Itu menunjukkan keterusiran yang paling fundamental pada diri manusia beriman dari rumahnya. Seandainya seorang beriman terusir jiwanya dari jasmaninya, ia akan menjadi seorang yang mati syahid dan syaitan tidak menyukai, tetapi manakala seorang beriman terusir dari isterinya, peristiwa itu akan mendatangkan fitnah yang paling besar. Keterusiran seorang beriman dari rumah dalam tingkat selain itu tidak akan mendatangkan fitnah sebesar fitnah terpisahnya seseorang dari isterinya, dan seringkali istana bagi mereka dapat kembali dibangun kembali dengan mudah selama masih mau melangkah bersama-sama.

Orang yang mengikuti langkah syaitan akan terjerumus ke neraka, sekalipun dalam hal pengusiran orang beriman dari rumahnya sedangkan hal itu telah ditetapkan Allah. Orang yang kafir akan terjerumus karena kekafirannya, sedangkan orang yang mengikuti syaitan akan mengikuti syaitannya sekalipun apabila ia beriman. Setiap orang beriman harus berusaha untuk membantu mewujudkan keimanan yang ada di antara mereka, atau setidaknya tidak mengusir orang beriman dari rumah mereka. Orang-orang yang mengenal keimanannya di antara suatu kaum hendaknya diberi kesempatan untuk mewujudkan apa yang dikenal dari keimanannya. Orang-orang yang memperoleh penjelasan (al-bayaan) yang diturunkan Allah kepada orang beriman terkait suatu ayat tertentu kitabullah Alquran adalah orang beriman, apabila penjelasan itu tidak menyimpang dari tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Orang beriman hendaknya membantu mewujudkannya, atau setidaknya memberi mereka kesempatan untuk tinggal di rumahnya untuk mewujudkan keimanan yang mereka kenali dari sisi Allah.

Hanya orang yang terusir dengan kebenaran yang bisa tergolong sebagai orang yang memasuki keimanan yang sebenarnya. Tidak semua orang yang terusir dari rumahnya merupakan orang yang benar-benar beriman. Para Yahudi yang terusir dari tanah kanaan saat ini bukan merupakan orang beriman, dan mereka justru orang-orang yang seharusnya diperangi sebagaimana bangsa Israel dahulu yang dibinasakan kaum Yahudi. Ada suatu sejarah di mana bangsa Yehuda diperintahkan untuk memerangi bangsa Israel penyembah berhala sedemikian tidak tersisa dari negeri israel sesuatu yang hidup dan tidak ada harta yang boleh dibawa darinya karena terkutuknya bangsa itu menyembah syaitan. Israel jaman sekarang ini lebih serupa dengan bangsa Israel penyembah berhala pada masa itu, bukan Yahudi yang beribadah kepada Allah. Dewasa ini, langkah suatu bangsa mendeportasi warga Israel dan membersihkan antek-antek israel dari negerinya akan meningkatkan keamanan negeri mereka, karena sedemikian busuknya kesyirikan orang-orang Israel dan orang-orang yang menjadi antek mereka bagi umat manusia. Terusirnya orang-orang demikian bukan dari keimanan. Pada tingkat yang lebih ringan, mungkin ada muslimin yang terusir dari rumahnya akan tetapi mereka tidak mengetahui hakikat dari peristiwa yang terjadi atas dirinya, maka mereka belum tentu termasuk sebagai orang yang beriman dengan sebenarnya. Hanya orang-orang yang terusir dari rumahnya dengan kebenaran saja yang termasuk pada orang-orang yang benar-benar beriman.

Sikap Kaum Mukminin

Sebagian orang beriman tidak menyukai orang-orang yang benar-benar beriman. Boleh jadi waham-waham keimanan mereka akan dibongkar oleh orang-orang yang benar-benar beriman sedemikian mereka tidak menyukai dan kemudian mengusir orang yang benar-benar beriman dari rumahnya. Boleh jadi orang beriman tidak menyukai orang beriman yang terusir dari rumahnya karena keadaan mereka yang buruk tidak menghasilkan sesuatu yang dipandang bermanfaat bagi umat. Tentu saja keadaan mereka buruk karena mereka terusir dari rumahnya tidak bisa produktif. Seandainya ia tetap di rumahnya, tentunya keadaan mereka bisa menjadi lebih baik dan bisa memberikan manfaat lebih besar bagi yang lain. Orang-orang beriman hendaknya tidak membenci orang-orang beriman yang terusir dari rumahnya dengan kebenaran, dan benar-benar berusaha memperhatikan apa yang diserukan oleh orang yang diusir dari rumahnya dengan kebenaran. Mereka yang diusir itu justru orang-orang yang benar-benar beriman.

Orang-orang beriman yang membenci orang-orang beriman yang terusir itu tidak jarang benar-benar membencinya sedemikian seolah-olah mereka menghadapi kematian. Orang-orang tertentu akan memandang bahwa kebenaran yang didatangkan orang-orang terusir itu merupakan kematian bagi mereka, bahwa mereka mungkin tidak lagi mempunyai kehidupan sebagai orang yang terpandang di antara orang beriman. Banyak orang beriman yang tidak mempunyai kekuatan untuk mengikuti kebenaran dari sisi Allah manakala mereka telah mempunyai waham kebenaran sendiri. Mereka memandang bahwa waham mereka adalah kebenaran, sedangkan petunjuk kitabullah yang mendasari suatu pemahaman kebenaran akan membongkar waham itu.

Orang-orang beriman hendaknya berhati-hati manakala terjadi perselisihan di antara mereka yang mana perselisihan itu menyebabkan satu pihak terusir dari rumah mereka. Islam itu ada pada orang yang mengikuti firman Allah dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan benar, bukan pada pihak yang lebih kuat mengusir orang beriman lainnya. Seandainya satu pihak terusir dari antara mereka sedangkan mereka adalah orang yang benar-benar beriman, mereka mungkin telah melepaskan kebenaran yang berdasar pada tuntunan kitabullah sedangkan mereka hanya mengikuti waham saja. Orang yang benar-benar beriman akan tampak dalam langkah mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Menilai kebenaran di antara orang-orang beriman yang saling berbantahan hanya dapat dinilai berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak bisa dinilai dari seberapa pandai mereka berbantah, atau seberapa kuat mereka mempunyai dukungan orang lain dan keadaan-keadaan lainnya. Orang yang benar-benar beriman seringkali justru menjadi korban yang terusir dari rumahnya sehingga mereka tampak sebagai orang-orang yang lemah di antara orang beriman. Mungkin tidak semua orang yang terusir adalah orang yang benar-benar beriman, hanya orang beriman yang terusir dengan kebenaran yang merupakan orang beriman yang sesungguhnya.

Manfaat yang bisa diberikan orang beriman yang terusir dari rumahnya dengan kebenaran itu sangat besar apabila orang-orang beriman bisa menyadarinya. Membenci ataupun ikut mengusir mereka dari rumahnya akan mengurangi atau menghilangkan manfaat yang dapat mereka berikan dan dapat diperoleh umat. Seandainya orang beriman tidak ikut membenci, yang akan dihadapi orang-orang beriman yang terusir itu mungkin hanya kalangan orang-orang musyrik dan kafir. Manakala orang beriman ikut membenci, orang-orang terusir itu akan memilih menghadapi orang beriman pembenci terlebih dahulu sebelum menghadapi kesyirikan ataupun kekufuran orang lain. Mereka lebih menyayangi orang beriman daripada orang kafir karenanya mereka akan lebih disibukkan mengingatkan orang beriman terlebih dahulu, sedangkan orang-orang kafir ataupun musyrik mungkin akan dibiarkan dahulu leluasa melakukan kekafiran mereka ataupun mewujudkan kesyirikan mereka. Apabila orang-orang beriman telah menyadari kebenaran mengikuti tuntunan Allah, mereka bersama-sama dapat mewujudkan kehendak Allah untuk memberikan manfaat yang terbaik kepada seluruh umat manusia. Sekalipun demikian, tentulah orang-orang terusir itu tidak akan mengabaikan kekufuran dan kesyirikan yang terjadi. Mereka hanya tidak mempunyai cukup daya melakukan usaha terbaik menghadapi kesyirikan dan kekufuran karena harus membersihkan kesyirikan dan kekufuran dari kalangan orang beriman terlebih dahulu.

Rabu, 25 Februari 2026

Membangun di Atas Ketakwaan

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Setiap orang yang ingin beribadah kepada Allah hendaknya mengikuti langkah Rasulullah SAW dan para nabi. Manakala seseorang ingin mengabdi kepada Allah, ia sebenarnya telah berada di daerah yang selamat, akan tetapi mungkin ia masih berada dekat dengan jurang sedemikian ia akan mudah terjatuh ke neraka. Mengikuti langkah para nabi akan menjauhkan seseorang dari tepi jurang neraka. Semakin dekat langkah seseorang dalam mengikuti langkah Rasulullah SAW, ia akan semakin terjauhkan dari tepi jurang.

﴾۹۰۱﴿أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ تَقْوَىٰ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَم مَّنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunan di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim (QS At-Taubah :109)

Rasulullah SAW adalah tauladan yang tertinggi bagi semesta alam, sebagai makhluk yang diberi kemampuan mengenal tajalliat Allah di ufuk yang tertinggi. Allah juga menurunkan tauladan itu agar umat manusia merasa mudah untuk mengikuti langkah-langkah yang ditempuh. Nabi Ibrahim a.s merupakan tauladan yang menjelaskan lebih terinci dan nyata arah langkah yang perlu dilakukan oleh setiap manusia di bumi dalam mengikuti langkah Rasulullah SAW agar menjadi hamba yang didekatkan. Para nabi yang lain juga memberikan rincian langkah yang perlu dilakukan untuk mengikuti Rasulullah SAW, hanya saja kedudukan nabi Ibrahim a.s lebih khusus, merupakan segel yang mengesahkan keselamatan seseorang yang menempuhnya. Seseorang yang telah mengikuti nabi Ibrahim a.s akan dikatakan telah mengikuti Rasulullah SAW. Sebaliknya bila seseorang mengikuti langkah nabi yang lain dan mengingkari atau melenceng dari millah nabi Ibrahim a.s, maka orang tersebut akan celaka.

Dekatnya seseorang dalam mengikuti Rasulullah SAW ditunjukkan dari kejelasan dan ketepatan dalam memahami dan melaksanakan ayat-ayat Allah dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Secara akhlak, orang yang lebih dekat adalah orang yang membentuk diri sebagai misykat cahaya sedemikian cahaya Allah dapat dibentuk bayangannya secara tepat dan tajam. Nafs mereka terbentuk sebagai nafs yang penuh kasih sayang kepada makhluk yang lain dan menginginkan kebaikan atas semua makhluk manakala makhluk bisa menjadi baik, dan mereka menghadapkan wajah mereka kepada Allah berusaha mewujudkan apa-apa yang menjadi kehendak Allah sesuai dengan bayangan cahaya Allah yang terbentuk. Mereka itulah orang-orang yang telah menjauh dari tepi jurang neraka.

Keinginan dan upaya mewujudkan kehendak Allah secara tepat adalah bentuk ketakwaan. Bentuk dasar ketakwaan dapat dikenali oleh setiap orang berupa amal-amal yang terwujud dari pemahaman terhadap petunjuk Allah terutama sebagaimana tertera dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Dalam prakteknya, mengenali ketakwaan seringkali membutuhkan pemahaman yang lebih lengkap. Pemahaman berdasar misykat cahaya bisa saja tampak sama dalam pandangan awam dengan pemikiran orang-orang yang mencomot ayat Allah untuk mendukung keinginan mereka sendiri, dan bahkan bisa tampak sama dengan bid’ah-bid’ah yang dibisikkan oleh syaitan-syaitan. Ketakwaan seseorang itu berupa amal yang dilakukan berdasarkan pemahaman terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, serta sesuai dengan kauniyah yang terjadi. Perintah Allah yang dipahami dengan misykat cahaya terbentuk dengan disertai pemahaman terhadap ayat kauniyah yang digelar Allah, bukan pemahaman yang disusun-susun tanpa terkait kebenaran di alam kauniyah. Perbedaan lebih jelas akan terlihat manakala terjadi perselisihan dalam upaya mewujudkan tuntunan kitabullah. Manakala satu pihak yang berselisih tidak mau memperhatikan ayat kauniyah dalam menentukan langkah, mereka itu bukan orang yang bertakwa.

Kaum mukminin hendaknya ikut mewujudkan pembangunan berdasarkan ketakwaan dan tidak ikut-ikutan mengikuti pembangunan di tepi jurang neraka. Artinya, sangat penting bagi setiap orang untuk memahami ayat Allah secara komprehensif dari ayat kitabullah dan ayat kauniyah sebelum melaksanakan amal-amal, menghindari hiruk pikuk amal tanpa landasan pemahaman. Bukan mencegah beramal, tetapi hendaknya setiap orang lebih berusaha memahami ayat Allah secara tepat sebagai landasan amal mereka. Ketakwaan itu terbentuk dari pemahaman terhadap kehendak Allah dan keinginan berusaha mewujudkan kehendak itu dengan tepat. Orang-orang yang bertakwa itu tidak membangun di tepian jurang, tetapi membangun di atas ketakwaan dan ridha Allah. Manakala pembangunan dilakukan di tepian jurang yang mudah runtuh tidak di atas landasan ketakwaan, bangunan itu akan mudah runtuh dan menyeret bangunan dan orang-orangnya menuju neraka jahannam.

Ada urusan-urusan yang tampak baik dalam pandangan manusia akan tetapi sebenarnya bukan suatu ketakwaan, misalnya perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan tanpa suatu landasan perintah dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala seseorang berbuat baik saja tanpa suatu keinginan mewujudkan perintah Allah, amalnya itu adalah amal yang baik belum masuk kategori ketakwaan. Apabila perbuatan itu dilakukan dari bisikan syaitan yang mungkin tidak disadari manusia, perbuatan itu merupakan bid’ah. Demikian pula manakala perbuatan itu dilakukan tanpa landasan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dan dipandang sebagai perintah Allah, maka perbuatan itu merupakan bid’ah. Ketakwaan terlahir dari kesadaran terhadap keadaan yang tumbuh berlandaskan perintah Allah dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak hanya berdasarkan pendapat diri sendiri saja.

Banyak kejadian seseorang tidak tepat dalam menilai ketakwaan. Kadangkala seseorang mengetahui sedikit dari kitabullah kemudian melakukan perbuatan yang banyak tanpa melihat ayat kitabullah dan kemudian menyangka dirinya bertakwa. Adapula orang-orang yang mudah percaya terhadap pernyataan ketakwaan seseorang dan menyangka mereka berbuat ketakwaan bersamanya tanpa mencari landasan perbuatan mereka dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Hal demikian belum menunjukkan ketakwaan. Ketakwaan harus ditunjukkan dengan sikap berbuat dengan selalu memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk urusan yang mereka kerjakan. Mungkin mereka memperoleh sedikit pengetahuan dari perhatian mereka terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW maka mereka memperoleh ketakwaan walaupun mungkin hanya sedikit. Mungkin mereka memperoleh banyak pengetahuan dari perhatian yang dilakukan dan beramal dengannya, maka mereka adalah orang bertakwa sekalipun tidak mengatakan diri mereka bertakwa. Ketakwaan tidak ditunjukkan dengan pengakuan seseorang tentang ketakwaannya, tetapi dari keterhubungannya dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Sikap demikian mempengaruhi pembangunan yang dilakukan. Orang yang tidak bertakwa sebenarnya tidak menjauh dari tepi jurang yang dapat menghanyutkan bangunan mereka, bahkan menghanyutkan hingga ke neraka jahannam. Manakala mereka membangun sesuatu, apa yang mereka bangun itu kemudian mudah runtuh dan runtuh kembali. Sangat baik apabila mereka menyadari keruntuhan bangunan itu dan kemudian berpindah menuju ketakwaan. Manakala mereka tidak menyadari keadaan itu, orang-orang yang bertakwa di antara mereka tidak dapat membantu atau menolong mereka. Orang yang bertakwa itu juga kesulitan untuk mewujudkan ketakwaannya karena kebodohan. Sang ruhul qudus Nabi Isa a.s menyanggupi dan tidak akan mengalami kesulitan untuk mendoakan orang mati jasmaninya untuk bangkit kembali, akan tetapi beliau a.s akan berlari menjauh manakala diminta mendoakan orang-orang bodoh yang tidak mau menjadi cerdas. Kecerdasan hamba Allah itu berasal dari ketakwaannya.

Dewasa ini ketakwaan di antara kaum muslimin sangat jarang ditemukan. Kebanyakan muslimin tidak memahami kauniyah mereka dengan landasan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Misalnya banyak muslimin tidak mau memahami tipu daya yang dilakukan oleh kaum musyrikin dengan landasan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala suatu negeri muslimin ditaklukkan oleh musyrikin menggunakan kaki-tangan mereka dari kalangan muslimin, banyak kaum muslimin bersorak atas kemenangan musyrikin karena berkuasanya orang-orang yang mereka pandang sebagai golongan sendiri. Orang yang bersorak itu tidak memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tentang kauniyah yang terjadi. Pada waktu ini, sebagian kaum muslimin mungkin tidak memperhatikan persoalan muslimin di negeri persia disibukkan dengan mengejar waham mereka sendiri tanpa melihat kauniyah yang terjadi. Manakala diseru untuk memperhatikan ayat Allah, mereka tidak memperhatikan seruan itu hanya mengejar terwujudnya waham sendiri. Itu menunjukkan kurangnya ketakwaan di antara muslimin.

Kaum musyrikin sebenarnya juga menyediakan masjid-masjid bagi muslimin berupa masjid-masjid Dhirar. Masjid itu mereka gunakan untuk mengintai dan memunculkan madlarat bagi kaum muslimin. Kaum muslimin hendaknya tidak melaksanakan shalat pada masjid-masjid dhirar. Hal itu bisa mendatangkan keruntuhan kaum muslimin karena upaya kaum musyrikin. Suatu negeri muslim yang cukup kuat bisa dijatuhkan kaum musyrikin dengan menggunakan pasukan muslimin dari masjid-masjid dhirar, dan mungkin sebagian kaum muslimin akan bersorak atas kekalahan mereka dari musyrikin dan menyanjung boneka-boneka musyrikin yang dijadikan pemimpin bagi mereka. Masjid-masjid demikian akan dapat dihindari apabila kaum muslimin bertakwa kepada Allah, berpegang teguh dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sayangnya kebanyakan muslimin lebih mengikuti hawa nafsu mereka sendiri dalam beragama tidak memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Setiap orang beriman harus berusaha untuk beramal dengan dasar pemahaman terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kebenaran urusan dari sisi Allah dapat ditemukan seluruhnya dalam kitabullah. Manakala suatu urusan tidak ditemukan tuntunannya dalam kitabullah, tingkat kepentingan dari urusan itu tidak mencapai derajat urusan Allah dan tidak boleh dikatakan perintah Allah. Mungkin urusan demikian merupakan pengantar untuk membantu urusan Allah yang harus ditempatkan sesuai dengan kepentingannya. Urusan langit ataupun urusan bumi yang tidak diketahui landasannya dari tuntunan kitabullah bukan termasuk dalam kategori urusan Allah.

Sangat penting bagi setiap orang untuk selalu berusaha menemukan kedudukan dirinya dalam urusan Rasulullah SAW. Hal itu bisa ditemukan dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan/atau melalui Al-Jamaah. Manakala seseorang mempunyai pengetahuan atau keterampilan tertentu sedangkan ia tidak mengetahui urusan Allah terkait pengetahuan atau keterampilan tersebut, ia akan bisa menemukan hubungannya dengan urusan Allah melalui Al-Jamaah yang mengenal urusan diri sebagai bagian dari urusan Rasulullah SAW. Pengetahuan atau keterampilan tersebut mungkin akan menemukan kedudukannya di antara Al-Jamaah.

Menjadi Komponen Bangunan Yang Kokoh

Banyak orang yang terlena dalam berusaha menemukan kedudukan diri dalam urusan Rasulullah SAW. Bukan hanya orang-orang awam saja yang bisa terlena, tetapi juga orang-orang yang telah memperoleh indera-indera bathiniah dapat terlena dalam berusaha menemukan kedudukan diri dalam urusan Rasulullah SAW.

﴾۹۷۱﴿وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS Al-A’raaf : 179)

Ayat di atas merupakan masalah utama yang sering dihadapi para syaikh dari murid-muridnya. Para syaikh itu bertugas untuk mensucikan nafs para murid dan mengajarkan kepada mereka pengajaran-pengajaran kitabullah dan hikmah. Untuk dapat memahami pengajaran tersebut, para murid dibina untuk menata qalb dan menggunakan indera-indera bathiniah untuk memahami ayat Allah. Yang sering terjadi, setelah terlatih dengan inderanya, para murid tidak menggunakan qalb dan indera-indera bathiniah mereka untuk memahami ayat-ayat Allah. Barangkali sebagian murid justru terlena dengan kekuatan bathiniah yang mereka kenal hingga terjebak pada kekaguman dengan kekuatan bathiniah itu atau justru terjebak kesombongan. Dengan keadaan itu, para murid tidak menggunakan qalb dan indera bathiniah mereka untuk memahami ayat Allah.

Indera bathiniah mempunyai kekuatan lebih besar daripada indera-indera jasmaniah, akan tetapi tetap mempunyai batasan kekuatan dan persepsi yang dihasilkannya tidak selalu benar. Seseorang yang memperoleh indera bathiniah mempunyai kepekaan terhadap alam yang lebih luas, termasuk kepekaan terhadap alam langit. Sekalipun mempunyai kekuatan yang lebih besar, indera harus difungsikan sebagaimana mestinya yaitu digunakan sebagai indera untuk memahami ayat-ayat Allah. Banyak orang salah dalam bersikap dengan indera bathiniah yang diberikan, menjadikan persepsi dari indera-indera mereka sebagai sumber kebenaran. Hal ini bisa sangat berbahaya. Sangat banyak alam langit yang jahat dan tidak baik, dan alam langit sangat luas sedemikian kesesatan yang terjadi akan menjadikan seseorang tersesat dengan sejauh-jauhnya kesesatan.

Setiap murid hendaknya memperhatikan hal ini. Dinilai dari eskalasi masalah, masalah ini bukan dipermasalahkan sang syaikh saja, tetapi Allah-lah yang mempermasalahkan. Banyak orang yang mengenal kekuatan bathiniah itu menjadi lebih sesat daripada orang-orang yang tidak memperolehnya, yaitu manakala mereka mensikapi persepsi indera bathiniah mereka sebagai sumber kebenaran, tidak menggunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah. Setiap orang harus berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dan berusaha memahami ayat-ayat Allah menggunakan indera-inderanya, tidak menjadikan persepsi inderanya sebagai sandaran kebenaran. Sandaran kebenaran yang dijamin Allah kebenarannya adalah tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Sangat banyak jalan mengalirnya kebenaran yang dapat ditemukan manusia hingga seseorang dapat memahami kebenaran, akan tetapi tidak ada jaminan kebenaran pada selain kedua sumber utama tersebut.

Pendustaan atau penentangan terhadap kebenaran dari tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW menunjukkan kekufuran penentangnya, sedangkan pendustaan terhadap kebenaran yang datang melalui jalan yang lain menunjukkan kelemahan akal pendustanya. Orang fanatik biasanya termasuk kelompok demikian. Setiap orang harus menggunakan akalnya dengan benar agar terbentuk akhlak mulia. Sifat-sifat buruk dan kebodohan harus dihindari seperti menghakimi orang lain tanpa mengetahui kesalahannya, dan seruan kebenaran harus dipahami agar dapat mengikuti langkah Rasulullah SAW dengan benar. Manakala mengetahui kesalahan sahabatnya, hendaknya ia memberitahu apa yang lebih baik dari kesalahannya tidak (sekadar) menghujat kesalahannya. Sebaliknya manakala mengetahui kebenaran dari sahabatnya, hendaknya ia memikirkannya dan mengikutinya apabila memahami, terutama manakala memahami berdasar tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap orang harus berusaha memahami ayat-ayat Allah dengan sebaik-baiknya tidak hanya mengikuti persepsi sendiri, tidak boleh terus berada di atas kebodohan tanpa mengetahui kebaikan dan keburukan pada dirinya.

Menggunakan akal akan menjadikan seseorang dapat membangun pada tempat yang kokoh jauh dari tepi jurang yang mudah runtuh. Setiap orang harus mewujudkan diri sebagai komponen yang kokoh bagi bangunan itu dengan akal yang kuat, dan menempatkan diri di atas pondasi yang kuat jauh dari tepi jurang, mengikuti Al-jamaah yang membangun di atas urusan Allah dengan landasan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Orang yang membangun kebaikan mereka tanpa memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebenarnya hanya komponen bangunan yang lemah, dan mereka membangun di tepi jurang yang mudah runtuh dan hanyut ke neraka.


Minggu, 15 Februari 2026

Haramnya Kekejian

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Para rasul mengajarkan tauhid dalam bentuk penyatuan langkah hamba Allah selaras dengan kehendak Allah. Setiap orang harus berusaha membangun pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah. Orang-orang beriman harus berusaha untuk memahami tuntunan Allah hingga mempunyai pengetahuan tentang cara untuk mewujudkan kehidupan yang baik. Untuk pembinaan pemahaman yang benar, setiap orang harus memahami hal-hal yang diharamkan Allah.

﴾۳۳﴿قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan berkata tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui" (QS Al-A’raaf : 33)

Allah mengharamkan kekejian-kekejian ( الْفَوَاحِشَ) baik yang dzahir ataupun yang bathin. Kekejian akan menyimpangkan manusia dalam membentuk hubungan kepada Allah, yang dapat terjadi pada setiap tingkat tertentu dari hubungan yang seharusnya menjadi media untuk terhubung kepada Allah. Gambaran paling jelas, manakala salah satu dari dua orang yang terikat pada hubungan pernikahan berkhianat terhadap pasangannya, maka orang yang mengkhianati pasangannya itu terjatuh pada perbuatan keji. Demikian pula orang yang dengan sengaja menyebabkan seseorang berkhianat dalam pernikahannya telah terjatuh pada perbuatan keji. Hal ini harus dilihat secara teliti secara syariat. Seorang laki-laki bisa menikahi lebih dari satu perempuan selama ia tidak berbuat berkhianat kepada isterinya. Demikian pula perempuan bisa menikah dengan laki-laki beristeri selama tidak mendorong suaminya berkhianat kepada isterinya. Itu merupakan contoh perbuatan keji yang paling mudah dilihat oleh manusia.

Perbuatan keji dapat ditemukan dalam berbagai bentuk. Manusia diciptakan dari nafs wahidah. Nafs wahidah itu merupakan bagian diri manusia yang mengetahui kedudukan dirinya di sisi Allah, mengetahui kedudukan dirinya dalam perjuangan Rasulullah SAW dan mengetahui kedudukan dirinya dalam jalinan Al-Jamaah. Dari nafs wahidah itu diciptakan berbagai bentuk-bentuk turunannya, baik berupa pasangan nafs dan raganya dari kalangan perempuan, anak-anak laki-laki maupun perempuan yang banyak, dan juga segala sesuatu yang diserakkan bagi mereka di alam dunia, baik berupa kedudukan di masyarakat, harta benda maupun pengetahuan ataupun keahlian-keahlian mengolah potensi-potensi kebumian dan lain sebagainya yang dapat menjadi media membina ibadahnya kepada Allah. Setiap perbuatan yang merusak entitas manusia dan hubungan-hubungannya yang dikehendaki Allah yang dapat menjadi media membina hubungan kepada Allah dapat dipandang sebagai bentuk kekejian.

Menghindari Kekejian

Kekejian dalam bentuk besarnya adalah menyimpangnya manusia dari langkah Rasulullah SAW. Allah memperkenalkan diri-Nya kepada para makhluk melalui suatu tajalli kepada Rasulullah SAW. Setiap manusia bisa mengenal Allah hanya melalui Rasulullah SAW, dan dapat membangun hubungan kepada Allah melalui tajalli yang Dia perkenalkan kepada Rasulullah SAW dan para washilah yang menghubungkan dirinya kepada Rasulullah SAW. Tidak ada orang yang dapat membangun hubungan yang benar kepada Allah tanpa melalui Rasulullah SAW, kecuali hubungan itu hanya suatu bentuk kekejian. Hendaknya setiap orang berhati-hati dalam membangun hubungan kepada Allah karena syaitan akan selalu berusaha untuk menyimpangkan manusia dalam membangun hubungan dirinya kepada Allah. Penyimpangan dalam membangun hubungan kepada Allah itu merupakan bentuk kekejian. Mungkin saja syaitan memperkenalkan dirinya kepada seseorang dan mengatakan bahwa dirinya adalah Allah sedemikian seseorang merasa bahwa ia adalah hamba terbaik sedangkan amalnya mengikuti syaitan. Hal demikian itu merupakan bentuk kekejian yang sangat besar terutama dan khususnya bagi umat Rasulullah SAW.

Hubungan seseorang dengan Allah sebenarnya terjadi melalui berbagai penurunan hingga seseorang bisa mengenal Allah sesuai dengan keadaan diri masing-masing. Dalam urusan tajalli Allah, Allah bertajalli kepada seseorang hanya dalam asma’ tertentu, bukan tajalli sebagai Allah secara sempurna. Tidak ada seseorang mengenal Allah dengan sempurna, tetapi hanya mengenal apa yang diperkenalkan Allah kepada dirinya sebagai bagian dari Rasulullah SAW. Rasulullah SAW adalah makhluk yang paling mengenal Allah, tetapi sebenarnya beliau SAW hanya mengenal apa yang diperkenalkan Allah, bukan mengenal Allah secara sempurna. Tanda dari benarnya pengenalan seseorang kepada Allah adalah pengenalan dirinya terhadap kedudukan Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s. Tidak mungkin seseorang yang mengenal Allah mengabaikan kedudukan Rasulullah SAW dalam bertindak. Seseorang yang mengenal Allah akan berusaha bertindak sebatas dalam urusan dirinya saja yang diambil dari urusan Rasulullah SAW, tidak akan membuat tindakan sendiri di luar tuntunan Rasulullah SAW

Tidak terbatas pada kekejian yang besar, kekejian dapat terjadi dalam setiap hubungan yang menyimpang dari bentuk hubungan yang dikehendaki Allah. Banyak hal yang dapat menyebabkan seseorang terjatuh pada perbuatan keji. Seseorang yang tidak mempedulikan urusan Al-Jamaah untuk mengikuti urusannya sendiri sedangkan ia mengetahuinya termasuk dalam perbuatan keji. Yang dimaksud urusan Al-Jamaah adalah urusan yang dikerjakan oleh umat untuk mewujudkan kehendak Allah untuk ruang dan jaman masing-masing yang dikenali melalui tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Pelaksanaan urusan itu dipimpin oleh orang yang mengetahui urusan jamannya, dan dapat diketahui oleh umat secara luas berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan membaca ayat-ayat kauniyah yang terjadi. Tidak ada urusan Allah yang tidak diketahui landasannya dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Contoh perbuatan keji dapat dilihat pada perbuatan para ahli bid’ah yang mengerjakan urusan tanpa suatu landasan dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Munculnya ahli bid’ah pada dasarnya berasal dari bisikan syaitan sedemikian manusia mengerjakan urusan-urusan yang dipandang urusan Allah tanpa suatu perintah dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Syaitan bisa saja memerintahkan perbuatan-perbuatan yang baik saja pada ahli bid’ah, hanya agar manusia meninggalkan urusan Allah. Perbuatan bid’ah itu seringkali dipandang baik oleh orang-orang yang mengikutinya. Selain itu syaitan juga akan menggunakan manusia untuk membuat kerusakan sebesar-besarnya apabila mereka menemukan kesempatannya. Barangkali ada amal-amal yang aneh yang diperbuat ahli bid’ah, maka amal yang aneh itu merupakan sumber kerusakan yang sangat besar yang diperintahkan syaitan. Amal yang aneh itu bisa menjadi ciri terjadinya bid’ah dan ditinggalkannya urusan Allah.

Urusan Allah bagi Al-jamaah itu dapat diketahui oleh setiap orang beriman berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW selaras keadaan kauniyah. Setiap muslim dapat terhubung pada urusan Al-Jamaah dengan mudah tanpa harus memelintir atau membengkokkan logika untuk memahami urusan yang harus dikerjakan. Mungkin saja terdapat pengetahuan yang tersembunyi dari pandangan manusia umumnya, akan tetapi tidak ada logika pemikiran yang harus dibengkokkan untuk memahami urusan itu. Misalnya tingkah polah kaum musyrikin dalam membuat kesengsaraan manusia di bumi barangkali hanya diketahui oleh sedikit orang, tetapi sebenarnya kabar itu telah disebutkan dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Untuk memahami kabar demikian itu, seseorang hanya perlu melihat keadaan kauniyah secara lebih teliti dengan menghadapi fitnah yang dibuat kaum musyrikin, tidak perlu membengkokkan logika untuk memahaminya. Manakala manusia perlu memelintir atau membengkokkan akal pikirannya untuk memahami suatu urusan, urusan demikian tidak termasuk dalam urusan Allah dan justru langkah syaitan. Orang musyrik juga memelintir logika untuk merusak keadilan dan membuat kekacauan di bumi.

Para ahli bid’ah mengerjakan urusan tanpa landasan urusan dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Urusan yang mereka kerjakan itu seringkali ditemukan tanpa tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW ataupun landasan pengetahuan keadaan kauniyah, kemudian dipandang sebagai perintah Allah. Memandang urusan sebagai perintah Allah tanpa mengetahui landasan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW itu adalah titik awal bid’ah yang berbahaya. Allah melarang perbuatan demikian, yaitu mengharamkan untuk mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa pengetahuan. Kaum demikian seringkali merasa bahwa mereka adalah pemangku urusan Allah sedangkan sebenarnya mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang aspek-aspek urusan yang harus mereka kerjakan dengan mengikuti tuntunan Allah. Seringkali pandangan demikian kemudian menjadikan mereka tidak lagi berusaha mencari landasannya dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW ataupun menilai tingkat kepentingan urusan berdasarkan kauniyah yang terjadi. Mereka sebenarnya mengerjakan urusan tanpa memperhatikan perintah Allah. Mereka bisa tampak sebagai kaum yang mengerjakan urusan Allah tetapi sebenarnya tidak mengikuti kehendak Allah.

Demikian itu adalah contoh dari gambaran-gambaran perbuatan keji yang dapat terjadi di antara umat manusia. Setiap orang hendaknya memperhatikan bahwa perbuatan keji merupakan hal yang diharamkan yang dapat menyimpangkan mereka dalam beribadah kepada Allah. Setiap orang harus membentuk ibadah yang lurus kepada Allah tanpa tersimpangkan oleh kekejian-kekejian yang mungkin dihembuskan oleh syaitan, dengan berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW serta berusaha memahami keadaan kauniyah mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala seseorang memperoleh suatu pemahaman tentang suatu perintah Allah bagi dirinya, hendaknya ia berusaha menemukan landasan perintah itu dari tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW untuk memastikan bahwa perintah itu benar bukan perintah yang menyimpang. Kemudian ia melaksanakan perintah yang benar itu untuk mewujudkan tuntunan kitabullah bukan melaksanakan perintah yang dipersepsi sendiri. Manakala belum menemukan landasan perintah itu dari kitabullah, hendaknya ia tidak mengatakan perintahnya sebagai perintah Allah. Manakala perintah itu baik, ia boleh mengerjakan perintah itu tanpa memandang amalnya sebagai amanah Allah tetapi sebagai usahanya untuk berbuat mengikuti kehendak Allah. Apabila perintah itu buruk atau bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, hendaknya ia memandang perintah itu hanya tipuan syaitan. Tipuan itu akan membuat seseorang terjatuh pada perbuatan keji.

Berusaha menemukan Al-Jamaah akan sangat membantu seseorang agar tidak terjatuh pada perbuatan keji. Seseorang yang mengerjakan urusan Al-Jamaah mempunyai pengetahuan urusan jaman yang harus ditunaikan sebagai urusan Rasulullah SAW, dan mereka akan mempunyai pengetahuan untuk membantu orang lain mengetahui urusan Allah. Biasanya mereka mempunyai pengetahuan tentang orang-orang yang seharusnya dekat urusannya dengan dirinya. Mungkin mereka tidak mengetahui persis urusan sahabatnya, tetapi bisa memberitahu adanya amal-amal yang keliru. Sangat banyak manfaat yang bisa diperoleh apabila seseorang menemukan orang yang mengerjakan urusan Al-Jamaah. Dalam urusan bid’ah, orang yang dalam al-jamaah mungkin akan mempunyai prasangka terputusnya urusan yang dikerjakan ahli bid’ah yang dipandang baik walaupun mungkin tidak atau belum benar-benar dapat menjelaskan apa masalahnya.

Membangun Hubungan Kepada Allah

Berusaha mengenali urusan Allah dan membangun hubungan-hubungan dengan segala sesuatu yang terserak bagi diri harus dilakukan oleh setiap manusia agar menjadi manusia seutuhnya sehingga dapat menumbuhkan pemakmuran di bumi. Membangun hubungan-hubungan itu hendaknya dilakukan sesuai dengan kehendak Allah. Seseorang pastilah tidak secara tiba-tiba mengetahui hubungan yang mesti dibangun, baik pada aspek bathiniah ataupun aspek dzahirnya. Hal yang penting diperhatikan untuk memulai pencarian pengetahuan membangun hubungan-hubungan itu adalah keikhlasan untuk beribadah kepada Allah dengan mengikuti sunnah Rasulullah SAW dan millah nabi Ibrahim a.s. Di antara langkah mengikuti sunnah Rasulullah SAW dan millah nabi Ibrahim a.s adalah melakukan tazkiyatun-nafs dengan belajar mengendalikan hawa nafs dan syahwat, serta melakukan pernikahan.

Pernikahan merupakan setengah bagian agama yang akan diperoleh seseorang manakala dilakukan dengan ikhlas. Setiap orang hendaknya berusaha mengenali pasangan yang ditentukan Allah bagi dirinya dengan mengalahkan dorongan syahwat dan hawa nafsu. Sangat banyak hawa nafsu dan syahwat yang akan menerpa usaha seseorang mengenali pasangan yang diciptakan dari dirinya sendiri. Itu merupakan ujian bagi keikhlasan beribadah dalam diri seseorang. Kecantikan atau ketampanan, kekayaan, kehormatan, kedudukan dan banyak hal lain akan mengombang-ambingkan seseorang untuk sulit mengenali pasangan yang diciptakan dari dirinya. Manakala seseorang masih terombang-ambing dalam berbagai syahwat dan hawa nafsu, mereka tidak akan mengenali pasangan yang diciptakan dari dirinya sendiri dengan tepat.

Setelah mengenali pasangan diri, hendaknya seseorang menikah dengannya. Itu adalah hubungan dasar yang akan membentuk hubungan-hubungan seseorang dengan segala yang terserak bagi diri mereka dan juga menumbuhkan hubungan seseorang terhadap urusan Allah. Urusan Allah akan dikenali seseorang melalui pernikahan yang tepat dimana pasangan merupakan cermin yang tepat memantulkan urusan Allah yang perlu dikerjakan. Dalam beberapa hal, tuntutan duniawi merupakan aspek yang harus dipenuhi sebagai bagian dari urusan Allah, akan tetapi hendaknya pasangan menikah tidak mengutamakan urusan duniawi mereka. Hal demikian itu seringkali menjadikan mereka terluput dari urusan Allah. Usaha mengumpulkan hal yang terserak akan ditemukan pada terlaksananya urusan Allah terhadap umat, hendaknya usaha ini yang dijadikan sarana memenuhi kebutuhan duniawi. Seorang suami akan mengenali urusan Allah dan isteri berperan menghubungkan urusan mereka kepada umatnya, dan terwujudnya hubungan demikian akan memunculkan jalan rezeki yang haq bagi pasangan menikah tersebut.

Pasangan-pasangan yang belum mengenal urusan Allah hendaknya berusaha memenuhi kebutuhan duniawi mereka tanpa melupakan urusan Allah. Manakala rezeki yang diberikan berlebih, hendaknya mereka membantu Al-Jamaah mewujudkan kehendak Allah. Manakala Allah tidak melimpahkan rezeki berlebih, mereka hendaknya tidak bersusah payah mengejar rezeki hingga melupakan urusan Allah. Mereka hendaknya memperhatikan urusan bersama pasangannya, karena kebersamaan mereka merupakan hal yang akan membentuk hubungan dengan hal-hal duniawi mereka hingga memudahkan kehidupan duniawi. Manakala seseorang meninggalkan kepedulian terhadap pasangannya baik dalam bentuk khianat ataupun ketidakpedulian yang lain, kehidupan mereka secara duniawi akan menjadi sulit, dan urusan Allah tidak akan dikenali. Manakala suatu pasangan mulai mengenal urusan Allah, hendaknya mereka bersungguh-sungguh melaksanakan urusan Allah hingga kehendak Allah terwujud di bumi. Itu akan menjadikan mereka mampu mengumpulkan segala sesuatu yang terserak secara haq hingga terwujud pemakmuran di bumi.

Pemakmuran bumi itu akan terbentuk melalui terbentuknya hubungan seseorang dengan segala sesuatu yang terserak bagi dirinya secara haq. Hubungan demikian itu harus terbentuk sesuai dengan kehendak Allah tidak hanya dzahiriahnya saja tetapi hingga aspek bathiniah. Setiap pihak hendaknya membangun kebersyukuran dalam pernikahannya dengan mengenali sakinah di mana masing-masing pihak menemukan urusan Allah dalam diri pasangannya. Seorang isteri tidak boleh membentuk sikap merendahkan suaminya, dan seorang suami hendaknya memikirkan urusan Allah bersama isterinya. Manakala tumbuh sikap merendahkan pasangan, sebaiknya tidak dilakukan pernikahan karena pernikahan itu justru akan menjadi media tumbuhnya kekufuran terhadap nikmat Allah. Setiap pihak harus siap untuk membangun kebersyukuran terhadap pasangannya.

Kamis, 12 Februari 2026

Memahami Dosa dan Kebajikan

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Para rasul mengajarkan tauhid dalam bentuk penyatuan langkah hamba Allah selaras dengan kehendak Allah. Setiap orang harus berusaha membangun pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah. Pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah bukan hanya merupakan pemahaman terhadap konsep-konsep langit tetapi juga akan mendatangkan pemakmuran di bumi. Orang-orang beriman harus berusaha untuk memahami tuntunan Allah hingga mempunyai pengetahuan tentang cara untuk mewujudkan kehidupan yang baik.

Untuk pembinaan pemahaman yang benar, Ada ketentuan dasar yang harus dipahami manusia di antaranya berupa hal-hal yang diharamkan Allah. Manakala ketentuan itu dilanggar, pemahaman manusia terhadap tuntunan Allah akan menyimpang dari apa yang dikehendaki Allah.

﴾۳۳﴿قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan berkata tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui" (QS Al-A’raaf : 33)

Allah mengharamkan dosa ( الْإِثْمَ ) bagi umat manusia. Yang dimaksud dengan dosa ( الْإِثْمَ ) adalah sesuatu yang buruk yang menimpa atau tumbuh pada nafs manusia hingga nafs mendatangkan ketidaksukaan Allah. Dosa dapat terjadi karena perbuatan manusia, perkataan ataupun pikiran-pikiran yang salah baik hal itu terkait dengan akibat kepada orang lain ataupun hanya berakibat pada diri sendiri. Misalnya seseorang yang memakan bangkai barangkali tidak mendatangkan kerugian kepada orang lain, akan tetapi hal itu mendatangkan keburukan pada diri manusia itu dan keburukan itu mendatangkan ketidaksukaan Allah. Setiap manusia harus menjaga diri agar tidak terjatuh sebagai makhluk yang tidak disukai Allah.

Haramnya dosa terkait dengan kehendak Allah atas diri manusia. Manusia diciptakan Allah sebagai khalifatullah dalam citra Ar-Rahman agar dapat berperan memberitakan kepada manusia tentang Ar-Rahman. Ada amal-amal yang ditentukan Allah bagi setiap manusia dan setiap orang hendaknya mengenal amal-amal yang ditentukan bagi dirinya dan melaksanakan amal-amal itu mengikuti arahan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bersama dengan sahabat-sahabatnya dalam suatu Al-Jamaah. Langkah untuk mengenal amal-amal yang ditentukan bagi setiap diri manusia itu akan terbantu dengan ketentuan haramnya dosa, di mana orang yang mengenal dosa bagi dirinya akan berjalan di suatu pagar yang mengarahkan untuk mengenal diri.

Haramnya dosa ( الْإِثْمَ ) juga merupakan bentuk penjagaan agar umat manusia tidak merusak dirinya sendiri hingga tetap layak membentuk diri dalam citra Ar-Rahman. Manakala seseorang bermudah mengerjakan dosa, ia akan mengalami banyak kesulitan dalam membina diri memahami cahaya Allah sedemikian ia tidak dapat memberitakan tentang kehendak Allah kepada manusia yang lain tanpa kesalahan. Nafs mereka akan banyak melakukan pengingkaran tidak akan dapat tenang dalam membentuk zujajah yang berfungsi membentuk bayangan kehendak Allah.

Bersungguh-sungguh Mengenali Kebajikan dan Dosa

Dosa merupakan lawan dari kebajikan (اَلْبِرُّ). Dosa akan menghalangi manusia untuk mengenal kebajikan (al-birr) dan menjadikan manusia resah. Ciri dari dosa adalah ia mendatangkan keresahan dalam hati dan jiwa tidak dapat tenang, berkebalikan tanda dari kebajikan, yaitu mendatangkan ketenangan dalam hati dan jiwa merasa tenteram.

عَنْ ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، أَخْبِرْنِـيْ بِمَـا يَـحِلُّ لِـيْ وَ يَـحْرُمُ عَلَيَّ ؟ قَالَ : فَصَعَّدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَوَّبَ فِيَّ النَّظَرَ ، فَقَالَ : اَلْبِرُّ مَا سَكَنَتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ ، وَاْلإِثْمُ مَا لَـمْ تَسْكُنْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَلاَ يَطْمَئِنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ ، وَإِنْ أَفْتَاكَ الْـمُفْتُوْنَ
Dan dari Abu Tsa’labah al-Khusyani, ia berkata: Aku berkata, “Wahai Rasulullah! Jelaskan apa saja yang halal dan haram bagiku.” Beliau mengarahkan pandangannya kepadaku dengan tatapan yang serius bersabda, “Kebajikan ialah apa saja yang apa saja yang menjadikan jiwa berdiam dan hati menjadi tenteram. Dan dosa ialah apa saja yang menjadikan jiwa tidak tenang dan hati tidak tenteram kendati para pemberi fatwa berfatwa kepadamu.” [HR. Ahmad IV/228, ad-Daarimi II/245-246, Abu Ya’la no. 1583, 1584, dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabîr XXII/no. 40]

Jiwa yang tenteram adalah jiwa yang mempunyai daya tahan dalam menempuh atau melaksanakan sesuatu karena kecocokan nafs dengan sesuatu itu. Pada puncaknya, jiwa yang tenteram itu adalah mengenali nafs wahidah. Gambarannya sebagaimana orang yang menikah dimana setiap pihak mempunyai cara pandang kehidupan yang sama sehingga satu pihak dengan yang lain saling menguatkan langkah hingga terbentuk ketenteraman menghadapi tantangan dan badai kehidupan. Hati yang tenang menunjukkan tidak adanya keresahan dirinya karena sesuatu itu misalnya takut menghadapi masalah dan lain sebagainya. Terbentuknya jiwa yang tenteram dan hati yang tenang menunjukkan bahwa seseorang mengarah pada suatu kebajikan (اَلْبِرُّ) sedangkan jiwa yang tidak tenteram dan hati yang resah menunjukkan bahwa seseorang mengarah pada dosa (الْإِثْمَ).

Penjelasan Rasulullah SAW di atas hendaknya menjadi pedoman bagi manusia dalam mencari bentuk kehidupan yang ditentukan bagi diri masing-masing. Pengenalan terhadap dosa bagi diri sendiri merupakan pengarah bagi seseorang untuk mengenal amal-amal yang ditetapkan bagi dirinya. Manakala seseorang mengenal dosa bagi dirinya maka ia akan bisa menghindari dosanya dan berusaha untuk mengenal kebajikan bagi dirinya. Manakala seseorang mengenal kebajikan bagi dirinya ia akan bisa melangkah menuju kebajikan yang digariskan Allah. Manakala seseorang mengenal dosa dan ia terus menempuh kehidupan yang membuat berdosa, ia akan menjadi orang fasik. Dosa itu menjadi suatu pagar untuk mengarahkan kehidupan menuju kebajikan.

Ada hal penting yang harus diperhatikan seseorang manakala mengukur ketenteraman jiwa dan ketenangan hati dalam berusaha mengenal ketetapan Allah atas diri masing-masing. Seringkali dosa dan kebajikan itu tidak dikenali manusia dengan persepsi sendiri. Seseorang bisa merasa tenang tanpa pengetahuan, atau berbuat dosa dan memandangnya sebagai amal shalih karena mengikuti persepsi sendiri. Membangun pengetahuan berdasar tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan membentuk diri seseorang untuk mampu mengenali dengan benar bentuk dosa dan kebajikan diri sehingga dapat menuntun untuk mengenali amal yang ditetapkan bagi dirinya. Untuk bisa mengenali dosa dan kebajikan dengan benar, seseorang harus membina diri mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Seringkali ketenteraman dan ketenangan itu bersifat relatif. Demikian pula dosa bisa bersifat relatif. Seseorang yang sama sekali tidak mengetahui arah kehidupan bisa tampak hidup tenang mencari harta benda duniawi saja, sedangkan orang yang berpikir sungguh-sungguh tentang makna kehidupan dan ia masih dalam kegelapan akan tampak layaknya orang yang benar-benar terpuruk. Orang yang berpikir sungguh-sungguh tersebut sebenarnya adalah orang yang bisa mengenal dengan benar dosanya walaupun belum mengenal kebajikannya, sedangkan orang yang tenang mengejar kehidupan dunia tanpa tertuntun itu belum mempunyai kemampuan mengenal dosa. Contoh kasus lain tentang relatifnya dosa, seseorang yang makan hal yang diharamkan secara terpaksa bisa saja tidak menjadikannya terjatuh pada dosa. Pada tingkat kebajikan, mungkin saja seseorang mengenal kebajikan dirinya akan tetapi melakukan amal yang bukan kebajikan, sedangkan itu tidak menjadi dosa baginya karena keterpaksaan. Misalnya mungkin ia tidak mampu memperoleh kehidupan yang selayaknya karena haknya dilanggar maka ia tidak berbuat kebajikan.

Orang yang telah membina diri mengenali dosa dan kebajikan diri secara benar harus melangkah menjauhi dosa dan melaksanakan kebajikan diri. Boleh jadi seseorang akan menghadapi berbagai macam perbedaan pendapat dari orang-orang lain termasuk menghadapi perbedaan pendapat dengan para mufti yang memberikan fatwa. Setiap orang harus mengikuti kebajikan diri dan menghindari dosa sekalipun apabila para mufti itu memberikan pendapat yang berbeda. Tentu saja itu berlaku hanya apabila ia mempunyai bukti kebenaran dari pengetahuannya tentang dosa dan kebajikannya. Bila mengikuti dorongan hawa nafsu sendiri saja, maka dorongan hawa nafsu itu sendiri merupakan suatu dosa yang mendatanginya.

Setiap orang harus membina diri mengenali dosa dan kebajikan dengan benar, kemudian mengikuti kebajikan dan menghindari dosa yang dikenalinya itu sekalipun para mufti memberikan fatwa mereka secara berbeda. Tidak boleh bagi seseorang untuk selalu bergantung kepada perkataan orang lain tanpa berusaha membina diri untuk mengenali dosa dan kebajikannya sedemikian ia tidak terjatuh pada dosa karena mengikuti perkataan orang, dan ia dapat mengenali kebajikan yang harus ditunaikan. Pembinaan diri itu harus dilakukan hingga ia mengenali kebajikan yang harus dilakukannya.

Sasaran dari Kebajikan (Al-Birr)

Kebajikan itu berjalan seiring dengan pengenalan diri. Kokohnya ketenteraman jiwa dan tenangnya hati akan terwujud melalui pengenalan diri. Ada hal yang harus diperhatikan oleh orang yang mengenal diri dalam mewujudkan kebajikan, yaitu hendaknya mereka berupaya untuk membangun keimanan secara benar, memberdayakan manusia-manusia yang harus diberdayakan, mendirikan shalat, menunaikan shalat, menepati janji dan bersabar dalam kesempitan, penderitaan dan peperangan. Allah telah menetapkan kepada setiap manusia amal-amal yang harus ditunaikan sebagai amanah, dan amanah itu harus ditunaikan untuk tujuan yang disebutkan di atas.

﴾۷۷۱﴿ لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa (QS Al-Baqarah : 177)

Kebajikan terlahir dari pengenalan diri seseorang terhadap jati diri penciptaannya, yang harus dimanifestasikan hingga kehendak Allah terwujud di masyarakat dan alam semesta. Kebajikan berupa ketenteraman nafs dan tenangnya hati harus diikuti dengan usaha mewujudkan kebajikan sebagaimana ayat di atas, tidak berdiri sendiri sebagai ketenteraman nafs dan tenangnya hati. Untuk mewujudkan kebajikan tersebut, setiap orang termasuk orang yang mengenal kebajikan diri harus memperhatikan kedudukannya dalam al-jamaah, mengetahui batas-batas hak dirinya hingga tidak menyebabkan dirinya melanggar hak orang lain.

Dosa yang terjadi pada masyarakat akan menjadi gangguan atas pewujudan kehendak Allah, baik pada tingkatan pribadi masing-masing orang ataupun upaya kaum mukminin mewujudkan kehendak Allah. Apabila seseorang tidak mengenali dosa-dosanya, mereka tidak akan mengetahui ketenteraman jiwa atas urusan yang tepat dan hati mereka tidak memperoleh ketenteraman. Apabila mereka merasa tenang dengan dosa-dosanya, mereka tidak akan tergerak untuk mengenal kehendak Allah. Kadangkala dosa-dosa itu bukan hanya menghalangi diri mengenal urusannya, tetapi juga menghalangi kaum mukminin mewujudkan kehendak Allah yang mereka kenali.

Dosa seseorang tidak jarang terkait dengan pelanggaran batas hak diri sendiri ataupun pelanggaran hak orang lain tetapi tidak dirasakan. Manakala seseorang melanggar hak orang lain dalam menunaikan amal, ia mungkin sebenarnya tidak benar-benar mengenal kebajikan. Hal itu bisa mendatangkan gangguan terhadap hak-hak umat secara luas. Misalnya manakala seorang syaikh memberikan arahan berupa suatu tanda tertentu terkait harus dimulainya pemakmuran negeri, atau diangkatnya ajaran islam di antara umat, sedangkan tanda itu dibiarkan terlewat saja tanpa diperhatikan para murid, para murid itu mungkin saja sebenarnya telah melanggar hak syaikhnya. Mungkin saja hak yang dilanggar itu bukan hanya hak syaikhnya tetapi juga hak-hak umat secara luas. Boleh jadi sang syaikh tersebut telah melihat rezeki-rezeki yang mendatangi negerinya dan kaumnya untuk terwujudnya kemakmuran, tetapi jalan rezeki itu kemudian dilanggar oleh murid-muridnya. Dosa karena pelangggaran hak demikian akan menjadi gangguan untuk mewujudkan kehendak Allah atas umat manusia. Manakala suatu ketenteraman nafs atau ketenangan hati belum bisa menjadi penggerak mewujudkan tujuan-tujuan kebajikan, ketenteraman nafs dan ketenangan hati itu belum menjadi kebajikan yang sesungguhnya.

Kebajikan ditandai dengan ketenteraman jiwa dan ketenangan hati, dan diwujudkan dalam bentuk yang ditentukan Allah yaitu hendaknya mereka berupaya untuk membangun keimanan secara benar, memberdayakan manusia-manusia yang harus diberdayakan, mendirikan shalat, menunaikan shalat, menepati janji dan bersabar dalam kesempitan, penderitaan dan peperangan. Tanpa pewujudan kehendk Allah demikian, seseorang belum benar-benar mengenal kebajikan atau bahkan justru mengganggu orang-orang yang berusaha mewujudkan kebajikan. Setiap orang harus berusaha kedudukan dirinya dalam Al-Jamaah agar memperoleh penjagaan dalam mewujudkan kebajikan, tidak berbalik dari kebajikan. 

Mewujudkan kemakmuran duniawi melalui jalan kebajikan tidak menunjukkan harapan duniawi, tetapi  merupakan upaya untuk mengenal Allah dengan benar. Manakala seseorang membangun harapan duniawi, ia akan berputus asa dengan keadaan yang akan dihadapi. Bila seseorang berkeinginan mengenal Allah, ia tidak akan berputus asa dengan keadaan yang dihadapi. Mungkin ia akan merasakan sengsara dengan potensi kebinasaan yang dapat menghampiri manusia yang ingin diseru, akan tetapi ia tidak akan meninggalkan upayanya karena tidak adanya hasil. Mungkin saja seseorang bertindak seolah putus asa dengan kesesatan orang lain, tetapi ia tidak berputus asa dari rahmat Allah. Hal demikian harus diwujudkan seseorang dalam mewujudkan kebajikan, bersabar dalam kesempitan, penderitaan dan peperangan.

Selasa, 10 Februari 2026

Haramnya Melanggar Hak Orang Lain

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Para rasul mengajarkan tauhid dalam bentuk penyatuan langkah hamba Allah selaras dengan kehendak Allah. Setiap orang harus berusaha membangun pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah. Pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah bukan hanya merupakan pemahaman terhadap konsep-konsep langit tetapi juga akan mendatangkan pemakmuran di bumi. Orang-orang beriman harus berusaha untuk memahami tuntunan Allah hingga mempunyai pengetahuan tentang cara untuk mewujudkan kehidupan yang baik.

Untuk pembinaan pemahaman yang benar, Ada ketentuan dasar yang harus dipahami manusia di antaranya berupa hal-hal yang diharamkan Allah. Manakala ketentuan itu dilanggar, pemahaman manusia terhadap tuntunan Allah akan menyimpang dari apa yang dikehendaki Allah.

﴾۳۳﴿قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan berkata tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui" (QS Al-A’raaf : 33)

Allah mengharamkan permusuhan dan melanggar hak orang lain tanpa alasan yang dibenarkan (الْبَغْيَ). Permusuhan dan melanggar hak orang lain (الْبَغْيَ) merupakan lawan dari adil, menempatkan segala sesuai dengan kedudukannya. Allah berkehendak atas manusia untuk dapat berbuat adil di bumi sedemikian bumi menjadi sejahtera dengan kehadiran manusia. Agar manusia dapat berbuat adil di bumi, Allah mengharamkan bagi mereka permusuhan dan melanggar hak orang lain tanpa alasan yang dibenarkan karena perbuatan demikian akan menghalangi manusia untuk mengenal keadilan. Keadaan bumi akan tercerai berai manakala manusia berbuat melanggar hak orang lain dan permusuhan, dan bumi akan menjadi gersang karena perbuatan demikian.

Manusia diciptakan Allah sebagai khalifatullah di bumi dari nafs wahidah. Nafs wahidah itu merupakan bagian diri manusia yang mengetahui kedudukan dirinya di sisi Allah, mengetahui kedudukan dirinya dalam perjuangan Rasulullah SAW dan mengetahui kedudukan dirinya dalam jalinan Al-Jamaah. Dari nafs wahidah itu, diciptakan darinya berbagai bentuk-bentuk turunannya, baik berupa pasangan dari kalangan manusia perempuan, anak-anak laki-laki maupun perempuan yang banyak, dan juga segala sesuatu yang diserakkan bagi mereka di alam dunia, baik berupa kedudukan di masyarakat, harta benda maupun pengetahuan ataupun keahlian-keahlian mengolah potensi-potensi kebumian dan lain sebagainya.

Permusuhan dan melanggar hak orang lain (الْبَغْيَ) tidak boleh dilakukan pada semua tingkatan diri manusia baik dari tingkatan nafs wahidah hingga tingkatan harta benda duniawi yang dianggap remeh sekalipun. Menempatkan seseorang yang mengenal nafs wahidah dirinya dalam urusan yang tidak seharusnya merupakan tindakan ( الْبَغْيَ). Demikian pula dalam keberpasangan, perbuatan perzinahan, merampas suami atau isteri orang lain tanpa alasan yang haq, atau menjodohkan orang yang telah mengenal pasangan dirinya kepada pihak lain merupakan tindakan ( الْبَغْيَ). Demikian pula manakala seseorang mengambil harta benda orang lain sekalipun kecil tanpa alasan yang dibenarkan, ia telah berbuat ( الْبَغْيَ). Semua perbuatan yang membuat permusuhan dan melanggar hak orang lain merupakan ( الْبَغْيَ) tidak terbatas pada contoh-contoh di atas.

Dengan menghindari ( الْبَغْيَ), seseorang akan lebih mudah mengenal keadilan. Adab-adab yang menjadi dasar dari sifat adil harus terbentuk pada diri manusia. Sikap tidak berbuat melanggar hak orang lain adalah pijakan bagi seseorang untuk mampu mengenal keadilan. Sikap demikian ini terbentuk dari usaha mengenali batas-batas diri yang harus dipatuhi tidak boleh dilanggar. Apabila seseorang tidak menjaga diri dari perbuatan melanggar hak orang lain dengan upaya mengenali batas-batas diri, mereka tidak akan mampu mengenal keadilan dengan baik. Manakala ia memperoleh sesuatu, mungkin ia akan menyalahgunakan sesuatu yang diberikan kepada dirinya. Hal demikian akan mendatangkan kekacauan dalam kehidupan di bumi. Setiap orang harus mengenali batas-batas dirinya. 

Menjaga Diri dari Pelanggaran 

Untuk menjauhkan diri dari bersikap melanggar hak orang lain, seseorang harus membangun pengetahuan keadilan. Langkah awal untuk mengenal keadilan dapat ditempuh seseorang dengan berusaha mengenali diri sendiri. Suatu pengetahuan tentang diri sendiri akan menumbuhkan pengetahuan tentang keadilan, dan itu akan menjauhkan seseorang dari bersikap melanggar hak orang lain. Semakin banyak pengetahuan seseorang terhadap keadilan, ia akan semakin mengenal batas-batas diri dan batas-batas yang harus dipatuhi oleh banyak orang sedemikian ia dapat bersikap adil. Manakala seseorang tidak mempunyai pengetahuan keadilan, ia sebenarnya berada pada batas-batas diri, baik ia melanggarnya ataupun ia berada di tepian batas-batas diri sedemikian ia mudah melanggar hak orang lain tanpa mempunyai pengetahuan.

Untuk mengenal nafs wahidah, jalan utamanya adalah melalui pernikahan. Turunan pertama dari nafs wahidah adalah pasangan yang diciptakan dari nafs wahidah tersebut. Mengenal pasangan yang ditentukan bagi dirinya merupakan jalan utama bagi seseorang untuk dapat mengenali diri, dan akan membuka pengenalan terhadap segala sesuatu yang terserak bagi mereka. Upaya mengenali pasangan diri dengan tepat harus dilakukan dengan melakukan tazkiyatun-nafs. Manakala seseorang berusaha mengenali jodoh dirinya dengan hawa nafsu dan syahwat, ia tidak akan mengetahui jodoh yang sebenarnya tetapi hanya menemukan jodoh yang diinginkan. Sebaliknya manakala seseorang mengenali jodoh dirinya dengan tepat, ia akan memperoleh setengah bagian dari agamanya dan setengah lagi dapat ia usahakan melalui ketakwaan.

Setiap orang harus bersyukur dengan pemberian pengetahuan terkait bagian dirinya. Manakala seseorang tidak bersyukur dengan petunjuk tentang pasangan dirinya, ia akan terjatuh pada kekufuran, yaitu kufur terhadap nikmat Allah. Manakala seseorang memperoleh pengetahuan tentang pasangan dirinya, ia harus berusaha untuk melangkah sesuai dengan petunjuknya sebagai langkah kebersyukuran. Manakala telah hidup berumah tangga, hendaknya mereka berusaha berbuat sebagaimana tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bersama dengan pasangan menikahnya tidak mengikuti keinginan syahwat dan hawa nafsu sendiri. Dalam kasus tertentu, seorang perempuan dituntut untuk bisa berbagi kedudukan dengan perempuan lain, maka petunjuk demikian merupakan petunjuk yang harus disyukuri. Sangat banyak kebaikan yang dapat tumbuh dari kebersamaan dalam ta’addud mengikuti petunjuk, dan hal itu akan merupakan bentuk pertolongan terhadap jihad Rasulullah SAW. Nilai kebersamaan demikian setara dengan pengenalan para laki-laki terhadap orang-orang yang bersama dirinya dalam Al-jamaah menolong urusan Rasulullah SAW.

Melanggar hak pada tingkatan keberpasangan nafs wahidah merupakan pelanggaran hak yang paling besar. Hak dalam pernikahan merupakan hak yang paling jelas, tertulis perjanjiannya di sisi Allah berupa mitsaqan ghalidza dan setiap pihak yang berpasangan dapat bercerita tentang keberpasangan dirinya dengan pasangannya. Itu merupakan hak yang paling jelas. Mungkin kemampuan bercerita berlaku khusus bagi yang memperoleh petunjuk dan tidak mengingkari petunjuknya, tetapi setiap pasangan yang telah menikah mengetahui nilai kebersamaan diri mereka dengan pasangan menikahnya. Akibat dari pelanggaran hak pada tingkat pernikahan sangatlah besar. Seseorang bisa kehilangan hampir keseluruhan dari bagian dirinya karena (الْبَغْيَ) yang terjadi, baik isteri atau suami hingga segala sesuatu yang merupakan bagian dirinya baik pengetahuan, kedudukan ataupun harta benda dan lain sebagainya. Mungkin hal demikia tidak terlihat orang umum. Sekalipun tidak bercerita sebagaimana pasangan menikah, sesuatu yang merupakan bagian diri seseorang itu sebenarnya dapat diketahui oleh sebagian orang yang mengenalnya. Rezeki yang mengejar bisa tampak pada sebagian orang, tetapi itu bisa terhalang karena pelanggaran hak yang dilakukan orang lain.

Kadangkala kekacauan tatanan pada suatu masyarakat terjadi sedemikian parah hingga penegak hukum justru bertindak melindungi orang-orang yang jahat untuk berbuat jahat daripada melindungi hak-hak dasar masyarakat mereka. Atau para penegak hukum menjadi petugas-petugas pelindung bagi kepentingan orang kuat dengan memberi imbalan duniawi. Hal itu merupakan kedzaliman dan bisa menjadi contoh kekacauan besar pada tatanan masyarakat. Kekacauan besar demikian dapat terjadi karena masyarakat tidak menghormati hak-hak orang lain, terutama pelanggaran hak yang cukup besar seperti pelanggaran hak dalam pernikahan. Menghormati hak-hak orang lain merupakan batasan tatanan sosial. Manakala setiap orang menghormati hak orang lain, kehidupan bermasyarakat akan tertata dengan baik. Sebaliknya manakala suatu masyarakat kehilangan penghormatan terhadap hak-hak orang lain, kehidupan bermasyarakat akan mengalami kekacauan.

Pelanggaran hak ( الْبَغْيَ) tidak terbatas pada urusan yang tinggi. Setiap manusia mempunyai hak atas segala sesuatu yang diberikan kepada dirinya sebagai bagian dirinya, sekalipun apabila ia tidak mengenal tingkat hak dirinya secara pasti. Misalnya mungkin seseorang mempunyai barang mewah sebagai harta yang halal, maka barang itu tetap merupakan hak orang tersebut. Orang lain tidak boleh melanggar hak tersebut, sedangkan pertanggungjawaban di hadapan Allah merupakan tanggung jawab pribadi pemiliknya. Hanya saja hendaknya setiap orang memperhatikan penggunaan hartanya, karena boleh jadi kemewahan itu sebenarnya merupakan bagian dari hak orang lain yang seharusnya ditunaikannya. Penghormatan terhadap hak orang lain sekalipun dalam hal yang terlihat remeh akan mewujudkan tatanan yang baik di masyarakat.

Menumbuhkan Masyarakat yang Kuat

Sifat melanggar hak orang lain bisa tumbuh membesar pada manusia manakala keadaan masyarakat buruk. Misalnya seseorang bisa saja memantapkan diri menjadi begal dalam usahanya mencari nafkah karena keadaan ekonomi masyarakat tidak baik. Tidak hanya dalam keadaan terpaksa, bahkan orang-orang yang nafkahnya tercukupi juga bisa mengambil langkah memasuki lingkungan yang korup agar memperoleh bagian duniawi bagi dirinya, walaupun mengetahui caranya tidak benar. Suatu negara dapat terjerumus pada suatu sistem pemerintah yang parasitik bagi masyarakatnya hingga para pembesar mereka hanya berasal dari para penjahat yang disahkan negara, sedemikian harta-harta hanya akan mengalir kepada orang-orang yang mau dan bisa berbuat jahat sedangkan orang yang baik mengalami kesulitan. Keadaan masyarakat mempengaruhi keberadaan dan kekuatan sifat melanggar hak orang lain.

Seharusnya kaum mukminin menyadari hal demikian dan bertanggungjawab untuk menumbuhkan kesadaran agar masyarakat tidak tumbuh sebagai masyarakat yang leluasa melanggar hak orang lain. Manakala kaum mukminin tidak berusaha untuk memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk menumbuhkan keadaan masyarakat yang kondusif untuk pemerataan hak di antara masyarakat, tidak ada sumber lain yang bisa menumbuhkan keadaan demikian. Sayangnya barangkali masyarakat muslim belum bisa memahami sepenuhnya tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tentang sistem ekonomi yang terbaik. Setiap teori ekonomi berpotensi mengalami kecurangan oleh orang-orang yang curang apabila tidak didukung oleh orang yang mempunyai integritas kuat terhadap keadilan, dan tentulah sistem ekonomi yang terbaik berupa sistem ekonomi mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Untuk bisa memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW secara benar, mukminin harus mengharamkan apa yang diharamkan Allah tidak menghalalkannya, termasuk dalam urusan melanggar hak orang lain. Secara khusus bagi kaum mukminin, tidak melanggar hak orang lain demikian harus ditunaikan lebih menyeluruh mencakup urusan terkait nafs wahidah, keberpasangan nafs wahidah, terbentuknya keluarga yang meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, persoalan keahlian dan pengetahuan yang tumbuh pada setiap orang beriman dan tumbuhnya harta-harta bendawi bagi mereka. Orang beriman mempunyai pengetahuan tentang urusan ini, dan urusan ini tidak diketabui oleh kaum yang lain. Para ahli kitab, orang kafir ataupun musyrikin tidak akan mengetahui keberadaan orang yang mengenal nafs wahidah, bahkan mungkin mereka tidak percaya adanya nafs wahidah. Hanya orang beriman yang mengetahui konsep nafs wahidah, urusan-urusan Allah yang diturunkan melaluinya, keberpasangannya dan perkembangannya dalam hal anak-anak dan harta benda. Orang beriman mempunyai kewajiban memperhatikan urusan-urusan itu. Apabila orang beriman tidak memperhatikan urusan yang diturunkan melalui nafs wahidah di antara mereka, akan terjadi pelanggaran hak manusia secara meluas di antara mereka karena urusan terkait nafs wahidah itu menjadi saluran utama mengalirnya khazanah dari sisi Allah.

Manakala urusan nafs wahidah yang dikenal di antara mukminin diabaikan pelaksanaannya oleh orang beriman, sebenarnya mereka telah melakukan pelanggaran terhadap nafs wahidah tersebut. Demikian pula manakala keberpasangan atau pernikahan di antara orang-orang beriman dirusak, mereka telah melakukan pelanggaran terhadap hak orang beriman, bahkan ini merupakan pelanggaran hak yang mendatangkan fitnah paling besar bagi umat manusia. Mungkin ada orang-orang yang sulit mendapatkan jodoh karena dianggap normalnya pelanggaran terhadap hak-hak orang beriman dalam keberpasangan. Pelanggaran hak orang lain dalam bentuk-bentuk bendawi juga harus diperhatikan. Ada pelanggaran hak bendawi yang terkait dengan pelanggaran hak yang lain, dan ada pula pelanggaran hak bendawi yang berdiri sendiri. Untuk membangun masyarakat yang kokoh, hendaknya orang beriman memperhatikan hak-hak orang lain di antara mereka secara lebih seksama berdasarkan tuntunan Allah.

Tidak jarang seseorang melanggar hak orang lain tanpa menyadari karena kurangnya pemahaman terhadap persoalan dari sisi Allah. Kadangkala pejuang agama di masyarakat terlihat layaknya pengangguran karena kurangnya kesadaran masyarakat terhadap kebenaran, sedangkan apa yang diperjuangkan itu sangat berguna untuk membangun kesejahteraan bersama. Dalam kasus demikian, cara pandang masyarakat yang harus diperbaiki. Sekalipun dipandang tidak baik, ia tetap bernilai karena menurunkan khazanah dari sisi Allah dan sangat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat, bukan hanya konsep-konsep langit yang tidak mengakar ke bumi. Pada satu sisi, hal itu timbul karena kurangnya kesadaran masyarakat terhadap nilai kebenaran. Tidak jarang masyarakat memandang waham kebenaran yang telah mereka bangun lebih bernilai daripada kebenaran dari sisi Allah. Pada sisi lainnya, kegagalan pejuang itu mengangkat nilai penting tuntunan agama kadangkala terjadi karena pelanggaran hak yang dilakukan orang lain terhadap dirinya terkait hak-hak dalam agama. Pelanggaran hak demikian kadangkala tidak disadari oleh orang-orang yang ingin mengikuti kebenaran.

Orang beriman hendaknya tumbuh bersama dalam menumbuhkan keadilan bagi masyarakat. Pertumbuhan itu akan terjadi secara lurus apabila setiap orang beriman memahami apa yang diharamkan bagi mereka. Tidak ada pertumbuhan yang lurus apabila orang beriman tidak mengetahui apa yang diharamkan bagi diri mereka, atau menghalalkan apa yang diharamkan Allah. Akal orang-orang demikian benar-benar tidak akan mampu memahami persoalan secara benar. Memahami persoalan secara benar itu akan diuji dengan menghadapi badai berupa musuh-musuh yang berusaha merusak kehidupan masyarakat. Manakala orang beriman bisa hidup secara damai dengan berbagai persoalan pelanggaran yang terjadi, akal mereka sebenarnya tidak cukup kuat menghadapi persoalan.