Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Setiap orang yang ingin beribadah kepada Allah hendaknya mengikuti langkah Rasulullah SAW dan para nabi. Manakala seseorang ingin mengabdi kepada Allah, ia sebenarnya telah berada di daerah yang selamat, akan tetapi mungkin ia masih berada dekat dengan jurang sedemikian ia akan mudah terjatuh ke neraka. Mengikuti langkah para nabi akan menjauhkan seseorang dari tepi jurang neraka. Semakin dekat langkah seseorang dalam mengikuti langkah Rasulullah SAW, ia akan semakin terjauhkan dari tepi jurang.
﴾۹۰۱﴿أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ تَقْوَىٰ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَم مَّنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunan di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim (QS At-Taubah :109)
Rasulullah SAW adalah tauladan yang tertinggi bagi semesta alam, sebagai makhluk yang diberi kemampuan mengenal tajalliat Allah di ufuk yang tertinggi. Allah juga menurunkan tauladan itu agar umat manusia merasa mudah untuk mengikuti langkah-langkah yang ditempuh. Nabi Ibrahim a.s merupakan tauladan yang menjelaskan lebih terinci dan nyata arah langkah yang perlu dilakukan oleh setiap manusia di bumi dalam mengikuti langkah Rasulullah SAW agar menjadi hamba yang didekatkan. Para nabi yang lain juga memberikan rincian langkah yang perlu dilakukan untuk mengikuti Rasulullah SAW, hanya saja kedudukan nabi Ibrahim a.s lebih khusus, merupakan segel yang mengesahkan keselamatan seseorang yang menempuhnya. Seseorang yang telah mengikuti nabi Ibrahim a.s akan dikatakan telah mengikuti Rasulullah SAW. Sebaliknya bila seseorang mengikuti langkah nabi yang lain dan mengingkari atau melenceng dari millah nabi Ibrahim a.s, maka orang tersebut akan celaka.
Dekatnya seseorang dalam mengikuti Rasulullah SAW ditunjukkan dari kejelasan dan ketepatan dalam memahami dan melaksanakan ayat-ayat Allah dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Secara akhlak, orang yang lebih dekat adalah orang yang membentuk diri sebagai misykat cahaya sedemikian cahaya Allah dapat dibentuk bayangannya secara tepat dan tajam. Nafs mereka terbentuk sebagai nafs yang penuh kasih sayang kepada makhluk yang lain dan menginginkan kebaikan atas semua makhluk manakala makhluk bisa menjadi baik, dan mereka menghadapkan wajah mereka kepada Allah berusaha mewujudkan apa-apa yang menjadi kehendak Allah sesuai dengan bayangan cahaya Allah yang terbentuk. Mereka itulah orang-orang yang telah menjauh dari tepi jurang neraka.
Keinginan dan upaya mewujudkan kehendak Allah secara tepat adalah bentuk ketakwaan. Bentuk dasar ketakwaan dapat dikenali oleh setiap orang berupa amal-amal yang terwujud dari pemahaman terhadap petunjuk Allah terutama sebagaimana tertera dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Dalam prakteknya, mengenali ketakwaan seringkali membutuhkan pemahaman yang lebih lengkap. Pemahaman berdasar misykat cahaya bisa saja tampak sama dalam pandangan awam dengan pemikiran orang-orang yang mencomot ayat Allah untuk mendukung keinginan mereka sendiri, dan bahkan bisa tampak sama dengan bid’ah-bid’ah yang dibisikkan oleh syaitan-syaitan. Ketakwaan seseorang itu berupa amal yang dilakukan berdasarkan pemahaman terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, serta sesuai dengan kauniyah yang terjadi. Perintah Allah yang dipahami dengan misykat cahaya terbentuk dengan disertai pemahaman terhadap ayat kauniyah yang digelar Allah, bukan pemahaman yang disusun-susun tanpa terkait kebenaran di alam kauniyah. Perbedaan lebih jelas akan terlihat manakala terjadi perselisihan dalam upaya mewujudkan tuntunan kitabullah. Manakala satu pihak yang berselisih tidak mau memperhatikan ayat kauniyah dalam menentukan langkah, mereka itu bukan orang yang bertakwa.
Kaum mukminin hendaknya ikut mewujudkan pembangunan berdasarkan ketakwaan dan tidak ikut-ikutan mengikuti pembangunan di tepi jurang neraka. Artinya, sangat penting bagi setiap orang untuk memahami ayat Allah secara komprehensif dari ayat kitabullah dan ayat kauniyah sebelum melaksanakan amal-amal, menghindari hiruk pikuk amal tanpa landasan pemahaman. Bukan mencegah beramal, tetapi hendaknya setiap orang lebih berusaha memahami ayat Allah secara tepat sebagai landasan amal mereka. Ketakwaan itu terbentuk dari pemahaman terhadap kehendak Allah dan keinginan berusaha mewujudkan kehendak itu dengan tepat. Orang-orang yang bertakwa itu tidak membangun di tepian jurang, tetapi membangun di atas ketakwaan dan ridha Allah. Manakala pembangunan dilakukan di tepian jurang yang mudah runtuh tidak di atas landasan ketakwaan, bangunan itu akan mudah runtuh dan menyeret bangunan dan orang-orangnya menuju neraka jahannam.
Ada urusan-urusan yang tampak baik dalam pandangan manusia akan tetapi sebenarnya bukan suatu ketakwaan, misalnya perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan tanpa suatu landasan perintah dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala seseorang berbuat baik saja tanpa suatu keinginan mewujudkan perintah Allah, amalnya itu adalah amal yang baik belum masuk kategori ketakwaan. Apabila perbuatan itu dilakukan dari bisikan syaitan yang mungkin tidak disadari manusia, perbuatan itu merupakan bid’ah. Demikian pula manakala perbuatan itu dilakukan tanpa landasan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dan dipandang sebagai perintah Allah, maka perbuatan itu merupakan bid’ah. Ketakwaan terlahir dari kesadaran terhadap keadaan yang tumbuh berlandaskan perintah Allah dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak hanya berdasarkan pendapat diri sendiri saja.
Banyak kejadian seseorang tidak tepat dalam menilai ketakwaan. Kadangkala seseorang mengetahui sedikit dari kitabullah kemudian melakukan perbuatan yang banyak tanpa melihat ayat kitabullah dan kemudian menyangka dirinya bertakwa. Adapula orang-orang yang mudah percaya terhadap pernyataan ketakwaan seseorang dan menyangka mereka berbuat ketakwaan bersamanya tanpa mencari landasan perbuatan mereka dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Hal demikian belum menunjukkan ketakwaan. Ketakwaan harus ditunjukkan dengan sikap berbuat dengan selalu memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk urusan yang mereka kerjakan. Mungkin mereka memperoleh sedikit pengetahuan dari perhatian mereka terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW maka mereka memperoleh ketakwaan walaupun mungkin hanya sedikit. Mungkin mereka memperoleh banyak pengetahuan dari perhatian yang dilakukan dan beramal dengannya, maka mereka adalah orang bertakwa sekalipun tidak mengatakan diri mereka bertakwa. Ketakwaan tidak ditunjukkan dengan pengakuan seseorang tentang ketakwaannya, tetapi dari keterhubungannya dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Sikap demikian mempengaruhi pembangunan yang dilakukan. Orang yang tidak bertakwa sebenarnya tidak menjauh dari tepi jurang yang dapat menghanyutkan bangunan mereka, bahkan menghanyutkan hingga ke neraka jahannam. Manakala mereka membangun sesuatu, apa yang mereka bangun itu kemudian mudah runtuh dan runtuh kembali. Sangat baik apabila mereka menyadari keruntuhan bangunan itu dan kemudian berpindah menuju ketakwaan. Manakala mereka tidak menyadari keadaan itu, orang-orang yang bertakwa di antara mereka tidak dapat membantu atau menolong mereka. Orang yang bertakwa itu juga kesulitan untuk mewujudkan ketakwaannya karena kebodohan. Sang ruhul qudus Nabi Isa a.s menyanggupi dan tidak akan mengalami kesulitan untuk mendoakan orang mati jasmaninya untuk bangkit kembali, akan tetapi beliau a.s akan berlari menjauh manakala diminta mendoakan orang-orang bodoh yang tidak mau menjadi cerdas. Kecerdasan hamba Allah itu berasal dari ketakwaannya.
Dewasa ini ketakwaan di antara kaum muslimin sangat jarang ditemukan. Kebanyakan muslimin tidak memahami kauniyah mereka dengan landasan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Misalnya banyak muslimin tidak mau memahami tipu daya yang dilakukan oleh kaum musyrikin dengan landasan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala suatu negeri muslimin ditaklukkan oleh musyrikin menggunakan kaki-tangan mereka dari kalangan muslimin, banyak kaum muslimin bersorak atas kemenangan musyrikin karena berkuasanya orang-orang yang mereka pandang sebagai golongan sendiri. Orang yang bersorak itu tidak memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tentang kauniyah yang terjadi. Pada waktu ini, sebagian kaum muslimin mungkin tidak memperhatikan persoalan muslimin di negeri persia disibukkan dengan mengejar waham mereka sendiri tanpa melihat kauniyah yang terjadi. Manakala diseru untuk memperhatikan ayat Allah, mereka tidak memperhatikan seruan itu hanya mengejar terwujudnya waham sendiri. Itu menunjukkan kurangnya ketakwaan di antara muslimin.
Kaum musyrikin sebenarnya juga menyediakan masjid-masjid bagi muslimin berupa masjid-masjid Dhirar. Masjid itu mereka gunakan untuk mengintai dan memunculkan madlarat bagi kaum muslimin. Kaum muslimin hendaknya tidak melaksanakan shalat pada masjid-masjid dhirar. Hal itu bisa mendatangkan keruntuhan kaum muslimin karena upaya kaum musyrikin. Suatu negeri muslim yang cukup kuat bisa dijatuhkan kaum musyrikin dengan menggunakan pasukan muslimin dari masjid-masjid dhirar, dan mungkin sebagian kaum muslimin akan bersorak atas kekalahan mereka dari musyrikin dan menyanjung boneka-boneka musyrikin yang dijadikan pemimpin bagi mereka. Masjid-masjid demikian akan dapat dihindari apabila kaum muslimin bertakwa kepada Allah, berpegang teguh dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sayangnya kebanyakan muslimin lebih mengikuti hawa nafsu mereka sendiri dalam beragama tidak memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Setiap orang beriman harus berusaha untuk beramal dengan dasar pemahaman terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kebenaran urusan dari sisi Allah dapat ditemukan seluruhnya dalam kitabullah. Manakala suatu urusan tidak ditemukan tuntunannya dalam kitabullah, tingkat kepentingan dari urusan itu tidak mencapai derajat urusan Allah dan tidak boleh dikatakan perintah Allah. Mungkin urusan demikian merupakan pengantar untuk membantu urusan Allah yang harus ditempatkan sesuai dengan kepentingannya. Urusan langit ataupun urusan bumi yang tidak diketahui landasannya dari tuntunan kitabullah bukan termasuk dalam kategori urusan Allah.
Sangat penting bagi setiap orang untuk selalu berusaha menemukan kedudukan dirinya dalam urusan Rasulullah SAW. Hal itu bisa ditemukan dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan/atau melalui Al-Jamaah. Manakala seseorang mempunyai pengetahuan atau keterampilan tertentu sedangkan ia tidak mengetahui urusan Allah terkait pengetahuan atau keterampilan tersebut, ia akan bisa menemukan hubungannya dengan urusan Allah melalui Al-Jamaah yang mengenal urusan diri sebagai bagian dari urusan Rasulullah SAW. Pengetahuan atau keterampilan tersebut mungkin akan menemukan kedudukannya di antara Al-Jamaah.
Menjadi Komponen Bangunan Yang Kokoh
Banyak orang yang terlena dalam berusaha menemukan kedudukan diri dalam urusan Rasulullah SAW. Bukan hanya orang-orang awam saja yang bisa terlena, tetapi juga orang-orang yang telah memperoleh indera-indera bathiniah dapat terlena dalam berusaha menemukan kedudukan diri dalam urusan Rasulullah SAW.
﴾۹۷۱﴿وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS Al-A’raaf : 179)
Ayat di atas merupakan masalah utama yang sering dihadapi para syaikh dari murid-muridnya. Para syaikh itu bertugas untuk mensucikan nafs para murid dan mengajarkan kepada mereka pengajaran-pengajaran kitabullah dan hikmah. Untuk dapat memahami pengajaran tersebut, para murid dibina untuk menata qalb dan menggunakan indera-indera bathiniah untuk memahami ayat Allah. Yang sering terjadi, setelah terlatih dengan inderanya, para murid tidak menggunakan qalb dan indera-indera bathiniah mereka untuk memahami ayat-ayat Allah. Barangkali sebagian murid justru terlena dengan kekuatan bathiniah yang mereka kenal hingga terjebak pada kekaguman dengan kekuatan bathiniah itu atau justru terjebak kesombongan. Dengan keadaan itu, para murid tidak menggunakan qalb dan indera bathiniah mereka untuk memahami ayat Allah.
Indera bathiniah mempunyai kekuatan lebih besar daripada indera-indera jasmaniah, akan tetapi tetap mempunyai batasan kekuatan dan persepsi yang dihasilkannya tidak selalu benar. Seseorang yang memperoleh indera bathiniah mempunyai kepekaan terhadap alam yang lebih luas, termasuk kepekaan terhadap alam langit. Sekalipun mempunyai kekuatan yang lebih besar, indera harus difungsikan sebagaimana mestinya yaitu digunakan sebagai indera untuk memahami ayat-ayat Allah. Banyak orang salah dalam bersikap dengan indera bathiniah yang diberikan, menjadikan persepsi dari indera-indera mereka sebagai sumber kebenaran. Hal ini bisa sangat berbahaya. Sangat banyak alam langit yang jahat dan tidak baik, dan alam langit sangat luas sedemikian kesesatan yang terjadi akan menjadikan seseorang tersesat dengan sejauh-jauhnya kesesatan.
Setiap murid hendaknya memperhatikan hal ini. Dinilai dari eskalasi masalah, masalah ini bukan dipermasalahkan sang syaikh saja, tetapi Allah-lah yang mempermasalahkan. Banyak orang yang mengenal kekuatan bathiniah itu menjadi lebih sesat daripada orang-orang yang tidak memperolehnya, yaitu manakala mereka mensikapi persepsi indera bathiniah mereka sebagai sumber kebenaran, tidak menggunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah. Setiap orang harus berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dan berusaha memahami ayat-ayat Allah menggunakan indera-inderanya, tidak menjadikan persepsi inderanya sebagai sandaran kebenaran. Sandaran kebenaran yang dijamin Allah kebenarannya adalah tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Sangat banyak jalan mengalirnya kebenaran yang dapat ditemukan manusia hingga seseorang dapat memahami kebenaran, akan tetapi tidak ada jaminan kebenaran pada selain kedua sumber utama tersebut.
Pendustaan atau penentangan terhadap kebenaran dari tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW menunjukkan kekufuran penentangnya, sedangkan pendustaan terhadap kebenaran yang datang melalui jalan yang lain menunjukkan kelemahan akal pendustanya. Orang fanatik biasanya termasuk kelompok demikian. Setiap orang harus menggunakan akalnya dengan benar agar terbentuk akhlak mulia. Sifat-sifat buruk dan kebodohan harus dihindari seperti menghakimi orang lain tanpa mengetahui kesalahannya, dan seruan kebenaran harus dipahami agar dapat mengikuti langkah Rasulullah SAW dengan benar. Manakala mengetahui kesalahan sahabatnya, hendaknya ia memberitahu apa yang lebih baik dari kesalahannya tidak (sekadar) menghujat kesalahannya. Sebaliknya manakala mengetahui kebenaran dari sahabatnya, hendaknya ia memikirkannya dan mengikutinya apabila memahami, terutama manakala memahami berdasar tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap orang harus berusaha memahami ayat-ayat Allah dengan sebaik-baiknya tidak hanya mengikuti persepsi sendiri, tidak boleh terus berada di atas kebodohan tanpa mengetahui kebaikan dan keburukan pada dirinya.
Menggunakan akal akan menjadikan seseorang dapat membangun pada tempat yang kokoh jauh dari tepi jurang yang mudah runtuh. Setiap orang harus mewujudkan diri sebagai komponen yang kokoh bagi bangunan itu dengan akal yang kuat, dan menempatkan diri di atas pondasi yang kuat jauh dari tepi jurang, mengikuti Al-jamaah yang membangun di atas urusan Allah dengan landasan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Orang yang membangun kebaikan mereka tanpa memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebenarnya hanya komponen bangunan yang lemah, dan mereka membangun di tepi jurang yang mudah runtuh dan hanyut ke neraka.