Pencarian

Kamis, 04 Juni 2026

Jihad dan Pemakmuran Dunia

 Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk berjihad di jalan Allah.

﴾۸۳﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ أَرَضِيتُم بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ
Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: "Berangkatlah pada jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin kepada dunia? Apakah kamu rela dengan kehidupan di dunia dibandingkan akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan) akhirat hanyalah sedikit. ( QS At-Taubah 38-3)

Ada orang-orang beriman yang merasa berat untuk berangkat berjihad karena keinginan mereka kepada dunia. Ayat ini tidak menunjukkan bahwa jihad bertentangan dengan pemakmuran duniawi, tetapi merupakan upaya penataan sumber-sumber pemakmuran duniawi secara tepat, secara khusus agar pemakmuran yang dilakukan dapat terhubung dengan kehendak Allah. Banyak pemakmuran dilakukan manusia di dunia tetapi tidak benar-benar mendatangkan pemakmuran. Banyak sisi negatif yang mungkin menyertai pemakmuran yang dilakukan tanpa terhubung pada kehendak Allah. Mungkin sebagian manusia memperoleh pemakmuran tetapi sebagian lain dirugikan. Banyak bentuk negatif dari pemakmuran yang dilakukan tanpa memahami kehendak Allah. Bentuk negatif itu sebagian mungkin bisa disembunyikan di kehidupan dunia akan tetapi kelak akan terbuka di akhirat. Pemakmuran bumi dalam bentuk hanya menempatkan diri sebagai pihak yang memperoleh keuntungan itulah yang disebut sebagai seseorang yang lebih berat keinginan kepada dunia.

Berbagai Sumber Pemakmuran

Banyak bentuk pemakmuran dapat dilakukan manusia di dunia, karena banyak bentuk sumber pemakmuran yang dapat digunakan. Sebagian besar manusia menggunakan prinsip-prinsip duniawi saja dalam pemakmuran yang mereka lakukan. Sebagian manusia melakukan kesyirikan menjadi pelayan bagi syaitan untuk memperoleh kemakmuran dari layanan yang mereka lakukan. Sebagian orang syirik dengan berusaha mengikuti keinginan diri sendiri saja, tidak menjadi pelayan syaitan tetapi tetap saja perbuatan mereka merugikan masyarakat besar. Sebagian manusia ingin melakukan pemakmuran dengan prinsip-prinsip tuntunan agama akan tetapi tidak disertai dengan pemahaman yang sungguh-sungguh terhadap tuntunan agama hanya berusaha menerapkan apa yang diperoleh. Mereka mungkin tampak terlalu memaksakan ayat-ayat secara mentah. Hanya sedikit orang-orang yang berusaha menerapkan tuntunan Allah dengan landasan pemahaman yang benar. Di antara orang-orang demikian adalah para rasul yang menyeru kepada jihad. Ada pula orang-orang selain para rasul yang juga memahami tuntunan Allah dengan benar dan berusaha menerapkan pemahamannya untuk pemakmuran dunia. orang-orang demikian itulah yang melakukan jihad di jalan Allah melaksanakan perintah Allah. Setiap bentuk usaha pemakmuran akan mendatangkan tanda-tanda kemakmuran, akan tetapi sebenarnya tidak benar-benar mendatangkan pemakmuran kecuali pemakmuran yang dilakukan atas dasar jihad di jalan Allah.

Kekuatan akal bangsa merupakan sumber utama pemakmuran suatu bangsa. Mustahil membangun bangsa menjadi makmur apabila akal mereka rusak. Ada tingkatan-tingkatan dalam sumber pemakmuran yang mendatangkan kemakmuran dengan benar, dan sumber pemakmuran dalam tingkatan yang paling baik adalah kebenaran dari sisi Allah. Membangun kecerdasan bangsa adalah pembuka sumber pemakmuran. Upaya mencerdaskan bangsa harus dilakukan dengan memperhatikan sumbernya pada tingkatan yang lebih tinggi terlebih dahulu diikuti dengan upaya pada tingkatan yang lebih rendah, tidak bisa dilakukan secara acak. Kadangkala suatu bangsa mengutamakan hal elementer jasmaniah untuk membangun kecerdasan tetapi mengacaukan akal yang lebih tinggi, maka seluruh kecerdasan bangsa menjadi rusak. Kerusakan demikian itu dapat menyebabkan kerusakan secara menyeluruh, dari kerusakan akal bangsa, rusaknya penguasaan bangsa terhadap science dan teknologi, maupun kerusakan kesehatan masyarakat sendiri karena salah membina jasmaniah. Orang-orang yang berakal akan tersingkir sedangkan orang-orang bodoh memperoleh kekuasaan.

Sebagai gambaran, seseorang mungkin menginginkan bangsanya untuk cerdas dan cara yang diusahakan adalah memberikan makanan bagi jasmani bangsanya. Ini adalah bentuk upaya mencerdaskan bangsa dengan mengolah sumber pemakmuran dalam tingkatan yang paling rendah. Usaha ini sangat elementer dan tidak fundamental karena banyak proses lain pembentuk kecerdasan yang sebenarnya harus lebih diperhatikan. Hasil usaha demikian saja akan sulit diprediksi oleh kebanyakan manusia. Boleh jadi anak-anak yang diberi makanan justru mengalami masalah obesitas atau masalah jasmaniah lainnya dan kecerdasannya tidak terbangun karena cara mencerdaskan bangsa yang ditempuh hanya pada tingkatan paling rendah. Upaya pencerdasan harus dilakukan dengan memperhatikan sumber pencerdasan, tidak hanya pada ujung bendawi. Pengolahan kecerdasan yang paling sempurna adalah membina akal untuk memahami ayat-ayat Allah. Sangat banyak hal lain yang menjadi media membangun kecerdasan bangsa di antara pemberian makanan jasmaniah dan pembinaan akal, misalnya penguasaan bangsa terhadap science dan teknologi.

Jihad merupakan pembuka jalan untuk melakukan penataan hingga umat manusia dapat melakukan upaya pemakmuran mengikuti tuntunan Allah. Membangun pemakmuran duniawi hanya dapat dilakukan dengan baik apabila orang-orang beriman berjihad untuk melakukan penataan mengikuti kehendak Allah. Jihad sendiri dapat ditunaikan dengan benar hanya apabila orang beriman membina akalnya dengan benar. Apabila akal terbangun secara keliru, akan banyak kerusakan yang terjadi dalam tatanan umat sedemikian umat justru akan menjadi terbelakang. Mungkin mereka merasa mengenal kehendak Allah sedangkan pemahaman mereka sebenarnya rusak. Mungkin mereka merasa berusaha membangun keilmuan tetapi keilmuan yang terbangun justru merusak prinsip-prinsip keilmuan. Mungkin seseorang berusaha untuk memberdayakan manusia untuk bisa melakukan upaya pemakmuran akan tetapi justru menyingkirkan orang-orang yang berpotensi besar memakmurkan. Mungkin mereka merasa membangun kesejahteraan duniawi tetapi sebenarnya tatanan duniawi menjadi kocar-kacir sedemikian umat manusia justru menjadi sengsara. Banyak keadaan lain yang bisa terjadi menunjukkan adanya selisih antara niat dan realisasi yang berbeda karena akal yang kurang lurus. Suatu jihad tidak boleh menjadikan kehidupan umat manusia menjadi lebih rusak. Suatu jihad harus dilakukan di jalan Allah, yaitu jalan untuk kembali kepada Allah berdasarkan pemahaman akal yang lurus.

Sebagian dari orang-orang beriman adalah orang-orang yang lebih berat ke dunia dan rela dengan kehidupan dunia. Mereka menginginkan dunia lebih berat daripada akhirat. Pada satu sisi, mereka dapat dilihat layaknya orang-orang yang tidak memikirkan akal sebagai bekal akhirat. Dunia yang mereka berat terhadapnya itu tidak mengantar mereka untuk mengenal hakikat-hakikat dari sisi Allah. Mungkin mereka hanya mengenal kebenaran dari apa yang dikatakan orang lain kepada mereka saja. Ini merupakan bentuk akhlak yang salah dalam diri orang beriman. Akhlak yang harus terbentuk pada diri orang beriman adalah kecintaan terhadap kebenaran dari sisi Allah dengan akal sebagai sumber kemakmuran yang tetap bisa mengalir hingga kehidupan akhirat. Segala sesuatu yang bersifat duniawi akan hilang dari diri seseorang setidaknya ketika kematian telah tiba, tetapi manusia dapat mengenal kebenaran dari alam dunia dengan membangun sumber pengalirannya dalam dirinya melalui pembinaan akal. Akal yang mengalirkan pengetahuan itulah yang akan dibawa manusia hingga ke alam akhirat sedemikian ia akan tetap memperoleh kemakmuran hingga alam akhirat.

Di akhirat, manusia akan menemukan bentuk kehidupan yang mempunyai realitas lebih tinggi dibandingkan kehidupan di dunia. Api di alam akhirat jauh lebih panas dibandingkan api dalam kehidupan dunia, dan manusia akan menemukan lebih banyak jenis api di akhirat dibandingkan di alam dunia. Demikian pula realitas bendawi seperti emas, permata dan setiap macam benda duniawi akan ditemukan dalam realitas yang lebih tinggi, tidak bercampur dengan kotoran sebagaimana benda-benda di dunia, dan mudah ditemukan dalam dalam jumlah yang diinginkan setiap manusia yang bisa menemukannya. Setiap hal yang dapat ditemukan manusia di alam dunia dapat ditemukan di akhirat dalam realitas yang lebih tinggi. Setiap orang akan menemukan sesuatu yang terbangun pada akalnya. Benar-benar setiap orang akan menemukan akhirat sesuai dengan akhlak dan akal yang terbina pada diri mereka, sedemikian mereka tidak akan merasa bosan dengan realitas yang mereka temukan di alam akhirat. Manakala seseorang tidak mempunyai akal yang benar dalam urusan yang mereka inginkan, mungkin mereka akan merasa bosan dengan melimpahnya realitas yang bisa mereka temukan di akhirat. Sebagian orang yang salah akalnya akan dijemput para malaikat di telaga haudh Rasulullah SAW untuk ditempatkan sesuai dengan keadaan mereka, tetapi sebenarnya tempat mereka dengan akal demikian sangatlah menyiksa.

Memahami Jalan Allah sebagai Syarat Jihad

Hanya jalan Allah saja yang mendatangkan pemakmuran sepenuhnya. Sebagai contoh, bangsa Iran terlihat telah berkembang sangat kuat karena jihad mereka di jalan Allah. Hanya citra mereka saja yang dibuat tampak buruk oleh kaum musyrikin, sedangkan kehidupan bermasyarakat mereka sangat baik. Sifat perkembangan bangsa tersebut berbeda dengan kaum musyrikin yang menjadi kuat karena kelicikan dan kejahatan yang mendatangkan kesengsaraan bagi para jajahan mereka, atau terhadap masyarakat umumnya. Demikian pula perkembangan kehidupan muslimin yang mengenal jalan Allah berbeda dengan muslimin lain yang tidak mengenal jalan Allah. Di negeri muslim yang lain, sekian banyak potensi kekayaan bangsa hancur atau dihancurkan untuk mewujudkan ide-ide mentah tanpa dukungan pengetahuan ilmiah bangsa mereka sendiri. Masyarakat tidak dibina atau didukung untuk mengenali potensi yang ada pada wilayahnya, dan didatangkan orang asing untuk mengolah wilayah. Mereka menyangka apa yang dilakukan akan mendatangkan kemakmuran, sedangkan kekayaan alam yang sangat besar yang menjadi hak intelektual anak-anak bangsa menjadi rusak. Anak-anak bangsa terlantar kecerdasannya hanya karena para penguasa mengejar apa yang mereka sangka sebuah kemakmuran. Hal ini bisa terjadi karena masyarakat tidak mengenal jalan Allah.

Jalan Allah hanya dikenali oleh orang-orang yang mengenal kehendak Allah atas diri mereka. Mungkin mudah ditemukan banyak orang yang menyeru untuk berjihad di jalan Allah akan tetapi sebenarnya tidak mengenali kehendak Allah atas diri mereka, maka hal demikian tidak benar-benar menunjukkan jalan Allah. Ada seruan-seruan yang sebenarnya dibuat untuk tujuan yang bathil. Ada pula seruan yang terwujud tanpa pemahaman yang tepat. Mungkin seruan mereka merupakan kebaikan yang mendatangkan kebaikan di dunia ataupun di akhirat, tetapi jihad yang mereka lakukan belumlah mencapai pengenalan terhadap jalan Allah. Amal yang mereka serukan boleh jadi akan mengantarkan manusia ke surga. Surga Allah sangatlah luas dan banyak tingkatan, dan tingkatan yang tinggi hanya bisa diperoleh oleh orang-orang yang menempuh jalan Allah, sedangkan amal orang-orang yang berbuat kebaikan saja akan mengantarkan masing-masing ke surga bagi orang-orang kebanyakan. Jalan Allah adalah jalan yang mengantarkan seseorang kembali kepada Allah, dikenali oleh orang yang mengenali kehendak Allah atas diri mereka, baik hanya kehendak atas masing-masing ataupun kehendak atas umat manusia.

Orang-orang yang berada di jalan Allah memahami kehendak Allah berdasarkan tuntunan ayat-ayat Allah terkait urusan mereka. Mereka memahami keadaan kauniyah selaras dengan ayat kitabullah, dan mereka mempunyai pengetahuan tentang amal yang harus dilakukan berdasarkan tuntunan kitabullah. Memahami kehendak Allah di jaman setelah Rasulullah SAW tidaklah terjadi dengan ilham-ilham saja, tetapi harus disertai dengan pemahaman terhadap tuntunan ayat-ayat kitabullah. Mungkin seorang muslim memahami suatu ayat kauniyah kemudian memperoleh penjelasan dari ayat kitabullah tentang pemahamannya. Mungkin seseorang memperoleh ilham terkait suatu perkara kemudian mengetahui tuntunan kitabullah terkait ilhamnya. Mungkin seseorang memperhatikan ayat kitabullah dan memahaminya kemudian melihat ayat kauniyah terkait pemahamannya itu. Pemahaman-pemahaman demikian bisa merupakan pemahaman yang benar terhadap kehendak Allah. Tanpa memahami ayat kitabullah, seseorang tidaklah bisa dikatakan memahami kehendak Allah.

Pada beberapa kaum, pemahaman terhadap kehendak Allah kadangkala diukur dari kekuatan indera bathiniah mempersepsi alam-alam bathiniah. Ini bukanlah kaidah yang benar. Pemahaman terhadap kehendak Allah harus diukur berdasarkan pemahaman terhadap ayat-ayat Allah, baik ayat kauniyah maupun kitabullah. Kekuatan indera-indera bathiniah tidak boleh digunakan untuk menentukan benarnya pemahaman terhadap kehendak Allah, hanya boleh digunakan sebagai pengantar untuk memahami kehendak Allah. Indera-indera bathiniah harus digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah hingga terbentuk pemahaman yang benar terhadap kehendak Allah. Menyangka kekuatan persepsi indera bathiniah sebagai standar kebenaran dari Allah akan mendatangkan kesalahan yang besar. Kesesatan akibat mengikuti kaidah yang keliru dalam urusan indera bathiniah bisa mendatangkan kesesatan yang sejauh-jauhnya karena mudahnya campur tangan kejahatan dari alam yang tinggi.

Amal berdasarkan pemahaman terhadap ayat kitabullah ini harus benar-benar diperhatikan oleh orang-orang yang ingin menempuh jalan Allah. Kadangkala orang menyangka berjihad di jalan Allah mengikuti langkah-langkah manusia tanpa memperhatikan firman Allah dalam kitabullah, maka mereka tidak berada di jalan Allah. Bahkan kadangkala sekalipun orang yang diikuti adalah orang yang mengenal jalan Allah, yang mengikuti tidak di jalan Allah karena tidak memperhatikan tuntunan kitabullah. Bukan tidak mungkin ketaklidan manusia mengikuti orang lain menjadikan mereka sebagai orang yang menentang tuntunan kitabullah sedangkan mereka ingin berjihad di jalan Allah. Manakala ada orang lain membacakan kehendak Allah berdasarkan kitabullah, mereka mengabaikan atau justru mendustakan apa yang dibacakan kepada mereka karena taklid kepada manusia, maka mereka menjadi para pendusta terhadap jalan Allah. Dasar pemahaman terhadap ayat kitabullah ini harus benar-benar diperhatikan oleh orang yang ingin menemukan jalan Allah, agar keinginan dan usaha orang beriman di jalan Allah tidak menjadi sia-sia.

Bobot dari pemahaman terhadap ayat Allah ini harus lebih berat ada pada setiap mukmin daripada keinginan kepada harta duniawi. Bila tidak, mereka itu termasuk orang yang berat kepada dunia dan rela terhadap kehidupan dunia. Kemakmuran kehidupan dunia harus dipandang hanya sebagai hasil dari jihad di jalan Allah, bukan sesuatu yang diinginkan. Hasil-hasil duniawi boleh dipandang sebagai indikator dari jihad yang dilakukan. Usaha di jalan Allah pastilah mendatangkan kemakmuran, tidak sebaliknya. Tanda dari usaha di jalan Allah adalah berkembangnya akal manusia. Mustahil orang yang benar berusaha di jalan Allah menjadi lebih bodoh akalnya. Manakala suatu bangsa menjadi lebih bodoh, mereka mungkin menempuh jalan yang salah, bukan menempuh jalan Allah. indikator dari benarnya jalan seseorang harus diukur dengan tuntunan kitabullah. Banyak kaum mengukur kebenaran hanya berdasar hawa nafsu mereka sedemikian orang yang benar dipandang salah dan orang yang salah diagungkan, sedangkan tuntunan kitabullah diabaikan. Hal demikian merupakan bentuk kebodohan suatu umat.



Senin, 25 Mei 2026

Menegakkan Pilar Jihad

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Jalan untuk menjadi hamba yang didekatkan di antaranya adalah melakukan pemakmuran bumi. Allah menciptakan manusia dari bumi dan menjadikannya sebagai pemakmurnya. Itu adalah tugas bagi manusia yang dijadikan sebagai jalan kembali kepada-Nya. Dengan jalan demikian, Allah sebenarnya dekat kepada hambaNya dan memperkenankan doa.

﴾۱۶﴿ وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلٰهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)" QS huud ; 61)

pemakmuran bumi dapat dilakukan dengan menegakkan pilar-pilarnya. Pilar-pilar pemakmuran itu berupa : 1. Tauhid dan keikhlasan, 2. Shilaturrahmi, 3. Pengembangan potensi diri, 4. Pengembangan potensi wilayah, 5. Jihad, 6. Sinergi dan kesetimbangan alam, 7. Pengolahan basis data. Tegaknya pilar secara sempurna akan terjadi apabila seseorang dapat membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Pilar-pilar tersebut tidak akan dapat ditegakkan oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah. Semakin sempurna taubat seseorang kepada Allah, semakin tegak pilar yang dapat ia tegakkan.

Jalan Allah sebagai Pokok Jihad

Jihad diambil dari kata al-juhd ( اَلْجُهْدُ ) yang artinya tenaga dan beban, dikatakan, جَاهَدَ – يُجَاهِدُ – جِهَادًا أَوْ مُجَاهَدَةً ,” apabila ia mencurahkan dan mengerahkan tenaga. Rasulullah SAW menjelaskan perihal jihad dengan bermacam-macam cara secara luas, dengan berbagai hal yang perlu dilakukan oleh setiap muslim. Jihad secara umum berupa upaya sungguh-sungguh untuk melaksanakan sesuatu yang disukai Allah dan juga upaya sungguh-sungguh untuk menolak segala sesuatu yang dibenci Allah seperti kemaksiatan, perbuatan dosa, kefasikan dan lain-lain. Dapat dikatakan bahwa jihad adalah mencurahkan segala daya dan upaya untuk mewujudkan kebaikan dari sisi Allah dan menghindari kerusakan yang tidak disukai Allah. Adapun jihad dalam pengertian khusus adalah berperang di jalan Allah SWT dengan senjata dalam rangka membela agama-Nya menghadapi orang-orang kafir.

Sekalipun cara Rasulullah SAW menjelaskan bermacam-macam, seluruh jihad selalu terkait dengan jalan Allah (sabilillah). Setiap hamba Allah harus berusaha untuk mengenal jalan Allah karena seluruh jihad pada dasarnya hanya dilakukan untuk menempuh jalan Allah, baik jihad yang bersifat pribadi maupun jihad yang bersifat bersama-sama. Tidak ada jihad yang boleh dilakukan secara menyimpang dari jalan Allah. pokok dari jihad adalah bahwa setiap muslim harus berusaha menemukan jalan Allah, baik ia berusaha mencari ilmu, mengenali dorongan hawa nafsu dan syahwat dirinya untuk membersihkan ibadah kepada Allah, atau hingga ia mengenali dan melaksanakan jihad yang sungguh-sungguh perlu dilakukan oleh kaum mukminin dalam memerangi musuh-musuh Islam.

Pengetahuan tentang jihad di jalan Allah harus dipahami berdasar tuntunan yang benar. Dewasa ini banyak seruan jihad yang palsu yang diserukan oleh musuh-musuh Allah. Musuh-musuh Islam dari kalangan musyrikin sebenarnya juga membangkitkan seruan kepada umat islam untuk berjihad tetapi untuk kepentingan musyrikin. Seruan itu disampaikan melalui sebagian kaum munafiq yang lebih menginginkan kehidupan duniawi, yang kemudian diikuti oleh banyak muslimin yang berakal sungsang. Selain seruan palsu demikian, keadaan muslimin sendiri saat ini berada dalam kegelapan karena banyaknya kebenaran yang bisa disembunyikan syaitan dari pandangan muslimin. Syaitan tidak akan mampu menyembunyikan petunjuk Allah, tetapi pandangan muslimin yang ditutupi dari petunjuk. Kegelapan demikian terlihat jelas terutama bagi pandangan orang-orang yang mengetahui. Seandainya tidak dalam kegelapan, kaum muslimin tidak akan bisa dikuasai musyrikin. Banyak kebenaran yang berhasil disembunyikan dari pandangan kaum muslimin. Ditemukan pula di jaman ini para penjual diri yang siap menjadi bunglon yang masuk kepada setiap golongan untuk menimbulkan fitnah dan merusak citra islam semacam Abu Janda, memanfaatkan ketersembunyian kebenaran dari kaum muslimin.

Sekalipun bentuk jihad sangat beragam, ada hal pokok yang menjadikan bentuk-bentuk usaha tertentu sebagai jihad. Pada pokoknya, jihad harus dilakukan di jalan Allah, bukan di jalan yang lain. Pengetahuan tentang jalan Allah harus diperkuat agar setiap muslimin dapat berjihad dengan benar dalam setiap keadaan. Niat jihad harus diwujudkan dengan benar dengan dasar pengetahuan tentang jalan Allah. Dengan pengetahuan tentang jalan Allah, jihad dapat diwujudkan dengan benar. Kaum mukminin yang berakal dapat berjihad di jalan Allah tanpa menyimpang ke jalan yang lain. Kaum muslimin umumnya dapat menemukan jihadnya dalam menumbuhkan akhlak mulia dalam dirinya selaras dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak terjerumus mengikuti hawa nafsu dan syahwat dirinya ataupun seruan orang-orang musyrik yang menjebak dengan ajaran-ajaran yang dibuat berdasar tuntunan tanpa nilai yang benar. Demikian pula setiap pihak dapat menemukan bentuk jihadnya dengan benar dengan mengenal jalan Allah. Tanpa memperkuat pengetahuan tentang jalan Allah, kaum muslimin akan sulit untuk menemukan dan melaksanakan jihad yang benar, yaitu jihad di jalan Allah.

Pengetahuan tentang jalan Allah itu adalah pengetahuan jalan yang dibangun di atas pembinaan tauhid dan shilaturrahmi. Pengetahuan tentang pembinaan kedua hal tersebut saat ini sebenarnya sangat disembunyikan dari pandangan kaum muslimin. Pembinaan tauhid adalah pembinaan akhlak mukminin agar dapat dapat memahami dan melasanakan kehendak Allah, dimulai dari pengucapan kedua kalimah syahadat, diikuti proses tazkiyatun-nafs, kemudian dilakukan pembinaan akal membentuk diri sebagai misykat cahaya agar dapat memahami kehendak Allah, kemudian diikuti dengan pembinaan bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah agar bisa menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah. Itu adalah pembinaan tauhid. Pengajaran tauhid demikian itu saat ini sangat disembunyikan oleh kaum musyrikin melalui kaum munafikin di antara muslimin. Pembinaan shilaturrahmi pada puncaknya berupa usaha yang dilakukan agar mukminin bisa mengenal kedudukan diri dalam Al-Jamaah yang menunaikan urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya. Dengan pembinaan tauhid dan shilaturrahmi yang benar, pengetahuan tentang jalan Allah akan diperoleh oleh muslimin secara benar.

Penopang Jihad

Jihad di jalan Allah harus dilakukan tidak terbatas pada pengetahuan tauhid dan shilaturrahmi. Kaum mukminin harus mewujudkan kekuatan berjihad dan mempersiapkan bekalnya dengan mengembangkan potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam. Mengembangkan sumber daya manusia harus dilakukan agar kaum mukminin mempunyai kekuatan untuk melaksanakan urusan Allah yang mereka pahami, terutama pemahaman-pemahaman yang benar-benar bersumber dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap orang yang memahami tuntunan Allah selaras dengan keadaan kauniyah hendaknya tidak dihalangi untuk menunaikan kehendak Allah yang dikenalnya mengikuti tuntunan Allah, dan lebih baik lagi bila kaum mukminin memberikan dukungan untuk mewujudkan pelaksanaan kehendak Allah. Pelaksanaan kehendak Allah itu seharusnya dilakukan hingga dalam bentuk penataan sumber daya alam yang ada agar jihad di jalan Allah itu dapat berlangsung dengan baik. Penataan manusia dan alam demikian hendaknya dapat dilakukan hingga kaum mukminin membentuk diri sebagai Al-Jamaah.

Saat ini kaum musyrikin dengan leluasa mengembangkan sumber daya manusia munafiqin untuk memperkuat langkah kaum musyrikin. Kaum musyrikin saat ini banyak membentuk kekuatan-kekuatan proksi untuk menundukkan kaum muslimin, dan banyak kaum muslimin mendukung proksi yang dibuat kaum musyrikin. Misalnya banyak muslimin yang mendukung ISIS atau Alqaida yang merupakan kekuatan bentukan musyrikin. Ketika banyak bukti telah tampak bahwa mereka adalah proksi musyrikin, proksi itu dibubarkan tetapi orang-orang kunci Alqaida atau ISIS dan proksi-proksi lain itu dicitrakan baik untuk dijadikan pemimpin bagi muslimin yang bodoh. Di sisi lain, dijumpai bahwa kaum mukminin buruk dalam mendukung pengembangan sumber daya mukminin. Kaum mukminin dilemahkan dengan cara yang berbeda, diantaranya dijadikan melangkah tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Orang-orang mukmin yang potensial untuk menunjukkan jalan Allah justru difitnah agar dipandang buruk, dilemahkan, dihalangi untuk berjihad karena mukminin mengikuti hawa nafsu. Demikian pula pengelolaan sumber daya alam di kalangan muslimin tidak dilakukan dengan baik. Banyak sumber daya alam yang ada di wilayah muslimin diolah justru untuk kepentingan kekuatan langkah kaum musyrikin tanpa disadari oleh kaum muslimin.

Tentu tidak semua mukminin demikian. Bangsa Iran berusaha menegakkan jihad terutama untuk bangsa mereka sendiri, dan beberapa pihak terbantu. Mereka berhasil mengelola sumber daya manusia hingga terbentuk bangsa yang kuat menegakkan jihad melawan musyrikin, mampu mengelola sumber daya alam untuk kepentingan jihad mereka hingga kaum musyrikin merasa gentar dengan kekuatan jihad mereka. Kaum muslimin di seluruh dunia hendaknya berusaha untuk mengambil pelajaran dari mereka, dan tidak membiarkan mukminin Iran berjuang sendiri untuk islam. Kaum muslimin harus mempersiapkan diri untuk meneruskan perjuangan mewujudkan tatanan mengikuti tuntunan Allah sedemikian dunia tidak terus menerus dikuasai oleh kaum musyrikin. Kemakmuran yang sebenarnya dan keadilan masyarakat akan terbentuk hanya apabila kaum muslimin menegakkan tatanan mengikuti tuntunan Allah.

Pemakmuran bumi hanya dapat dilakukan dengan tegaknya jihad. Sangat banyak pengetahuan syaitan yang disembah kaum musyrikin terkait pengelolaan sumber daya sedemikian kekayaan hanya terkumpul pada penyembah-penyembah syaitan yang ditopang dengan pemelaratan terhadap kaum yang beriman. Tidak ada kaum musyrikin yang berusaha mendatangkan pemakmuran kecuali untuk diri mereka sendiri. Kadang mereka merampok suatu bangsa dan perampokan itu dijadikan indah dalam pandangan dunia. Kadangkala para syaitan sembahan mereka menuntut kerjasama di antara kaum musyrikin dalam pengelolaan sumber daya bumi, akan tetapi tidak pernah ada upaya musyrikin dalam pengelolaan sumber daya yang berusaha memakmurkan masyarakat secara adil. Kaum muslimin harus berusaha mengenal tuntunan Allah terkait dengan proses pengelolaan sumber daya yang ada di bumi sedemikian terbentuk keadilan dalam pemakmuran bumi.

Kewajiban Jihad Bagi Setiap Mukmin

Setiap muslim dan mukmin harus berusaha menemukan jihad mereka, baik jihad pribadi ataupun jihad Al-jamaah. Setiap orang hendaknya menunaikan jihad yang mereka kenali. Ada bentuk-bentuk jihad pribadi yang ditentukan bagi setiap muslim pada setiap tahap langkah membina akhlak. Seorang muslim mungkin berada pada tahap harus berjuang menegakkan syariat secara lengkap seperti shalat 5 waktu, atau harus berjuang mengalahkan dorongan hawa nafsu melalui tazkiyatun nafs, atau harus berjuang untuk memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW mengalahkan waham diri atau masyarakat, dan bentuk-bentuk jihad pribadi yang lain yang dapat ditemui pada setiap tahap perkembangan. Setiap muslim harus menempuh perjalanan tauhid dan harus mengenali bentuk jihad tertentu yang diperintahkan pada setiap perkembangan perjalanan bertauhid.

Pada puncaknya, seseorang yang menempuh perjalanan tauhid akan menemukan perintah untuk berjihad menegakkan perintah Allah bahkan dengan meninggalkan keinginan dunia mereka.

﴾۸۳﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ أَرَضِيتُم بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ
Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: "Berangkatlah pada jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin kepada dunia? Apakah kamu rela dengan kehidupan di dunia dibandingkan akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan) akhirat hanyalah sedikit. ( QS At-Taubah 38-3)

Setiap mukminin pada jaman Rasulullah SAW seluruhnya menemukan perintah pada ayat di atas karena jelasnya kebenaran berkat kehadiran Rasulullah SAW. Pada jaman ini, ada banyak macam seruan jihad, bahkan ada seruan jihad yang keliru. Seruan jihad jaman ini bisa dilakukan oleh siapapun termasuk musyrikin yang berkepentingan mengalahkan kaum mukminin. Setiap muslim dan mukmin harus menempuh jihad pribadi mereka agar dapat menemukan bentuk jihad bersama Al-jamaah yang harus ditegakkan secara berjamaah. Walaupun terpisah dari jaman Rasulullah SAW, perintah demikian sebenarnya juga akan ditemui oleh orang-orang setiap jaman yang mengenal kedudukan dirinya dalam Al-Jamaah yang menunaikan urusan Rasulullah SAW. Orang-orang demikian termasuk orang-orang yang diperintah Allah untuk berjihad dengan meninggalkan kepentingan duniawi mereka. Mereka akan ditanya dengan ayat tersebut di atas.

Pertanyaan itu sebenarnya juga akan ditanyakan kepada orang-orang yang bertaubat. Orang-orang yang menempuh jalan taubat kepada Allah harus mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan di atas, mempersiapkan diri memahami seruan jihad bersama Al-Jamaah. Dalam beberapa hal, keengganan menjawab seruan berjihad dapat dihitung sebagai kemurtadan, yaitu berbaliknya langkah dari jalan Allah. Setiap orang yang bertaubat harus membentuk iktikad yang kuat untuk menjadi hamba Allah secara ikhlash hingga meninggalkan hal lain bila perlu, dan membentuk akhlak mulia untuk dapat memahami tuntunan Allah, bukan hanya mengikuti waham ataupun hawa nafsu. Apabila seseorang atau suatu kaum tidak membentuk akhlak secara benar, mereka tidak akan bisa memahami perintah Allah dalam urusan jihad yang harus ditunaikan. Bila suatu kaum dapat memahami perintah Allah terkait jihad yang harus mereka tunaikan, jihad itu hendaknya ditegakkan bersama-sama dengan jamaah muslimin.

Dalam realitas, banyak proses yang dapat menyebabkan jihad orang-orang yang bertaubat menjadi keropos. Ada orang-orang bertaubat yang menyisakan hatinya untuk mencintai dunia sedemikian iktikad mereka untuk melangkah bertaubat menjadi keropos. Ada orang-orang yang tulus tetapi pengetahuannya keropos, tidak benar-benar berkeinginan untuk menghamba kepada kehendak Allah tetapi hanya mengikuti pengetahuan yang mereka anggap benar. Manakala mereka berjumpa dengan orang-orang yang berjihad menunaikan urusan Rasulullah SAW, mereka tidak bisa memahami kebenaran urusan yang haq tersebut. Ada pula orang-orang yang terombang-ambing tanpa keyakinan, mempercayai suatu kebenaran akan tetapi tidak mempunyai keberanian untuk mengikutinya. Banyak keadaan lain yang bisa menyebabkan suatu jihad menjadi keropos.

Syaitan bisa saja menebarkan jerat sedemikian jihad untuk menegakkan urusan Rasulullah SAW menjadi terbengkalai. Kadangkala seorang isteri tidak mempunyai keberanian untuk mengikuti suaminya berjuang sedemikian jihad di jalan Allah yang harus mereka lakukan menjadi berantakan, hingga mungkin tidak ada infaq sedikitpun untuk jihad bahkan dari mujahid sendiri. Infaq di jalan Allah bukan suatu hal yang menunjukkan keinginan mujahid terhadap dunia. Upaya jihad harus dilakukan di dunia dan membutuhkan biaya secara duniawi. Infaq bukan keinginan duniawi mujahid, tetapi merupakan perintah Allah terkait harta manusia sedangkan harta infaq itu digunakan untuk berjihad berubah menjadi kebaikan. Keberhasilan jihad akan menyuburkan harta di dunia dari infaq yang diberikan.

Jumat, 22 Mei 2026

Pengembangan Potensi Wilayah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Jalan untuk menjadi hamba yang didekatkan di antaranya adalah melakukan pemakmuran bumi. Allah menciptakan manusia dari bumi dan menjadikannya sebagai pemakmurnya. Itu adalah tugas bagi manusia yang dijadikan sebagai jalan kembali kepada-Nya. Dengan jalan demikian, Allah sebenarnya dekat kepada hambaNya dan memperkenankan doa.

﴾۱۶﴿ وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلٰهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)" QS huud ; 61)

pemakmuran bumi dapat dilakukan dengan menegakkan pilar-pilarnya. Pilar-pilar pemakmuran itu berupa : 1. Tauhid dan keikhlasan, 2. Shilaturrahmi, 3. Pengembangan potensi diri, 4. Pengembangan potensi alam, 5. Jihad, 6. Sinergi dan kesetimbangan alam, 7. Pengolahan basis data. Tegaknya pilar secara sempurna akan terjadi apabila seseorang dapat membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Pilar-pilar tersebut tidak akan dapat ditegakkan oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah. Semakin sempurna taubat seseorang kepada Allah, semakin tegak pilar yang dapat ia tegakkan.

Proses Pengembangan Potensi

Manusia ditempatkan di alam bumi pada wilayah tertentu dengan berbagai karakteristik wilayah alam. Karakteristik-karakteristik wilayah itu merupakan ayat-ayat Allah yang digelar bagi orang yang bertempat tinggal pada wilayah tersebut. Allah menggelar ayat-ayat kauniyah di alam semesta dengan berbagai lapis pengetahuan yang sangat banyak hampir tidak terbatas yang dapat diperoleh manusia. Dalam satu objek yang sama, dapat ditemukan berbagai pengetahuan oleh setiap manusia. Satu orang dapat menemukan suatu pengetahuan, dan orang lain dapat menemukan pengetahuan yang berbeda dari satu hal yang sama. Misalnya satu jenis tumbuhan bisa memberikan pengetahuan yang berbeda-beda kepada setiap orang, berbeda pengetahuan antara tukang gembala, farmakolog dan ahli teknik kehutanan. Pada setiap objek yang ada di suatu wilayah, terdapat sangat banyak pengetahuan yang dapat diperoleh oleh manusia.

Pengembangan potensi alam dilakukan dengan mengembangkan pengetahuan manusia terhadap alam sebelum pengembangannya. Alam jasmaniah pada dasarnya bersifat relatif tertentu, tetapi pengetahuan manusia penghuninya terhadap alam dapat berkembang sangat luas. Pengembangan pengetahuan itulah yang merupakan potensi pemakmuran. Setiap manusia diciptakan untuk urusan tertentu, dan urusan yang ditetapkan baginya itu sebenarnya terkait dengan wilayah tempat ia berdiam dengan segala dinamika yang terjadi. Ada orang-orang yang diciptakan untuk urusan yang sangat spesifik urusan duniawi tertentu dengan penerapan secara mendalam, ada orang-orang yang diciptakan untuk urusan yang sangat luas dengan tugas menerapkan aturan-aturan dan pengetahuan-pengetahuan dasar. Bukan berarti pengetahuannya hanya pada dasar-dasar. Sekalipun menerapkan aturan dan pengetahuan dasar, pengetahuan yang bisa diperoleh mungkin saja sangat mendalam, hanya saja tidak diberi kemampuan melaksanakan urusan secara khusus dan mendalam. Sangat banyak ragam urusan manusia yang tidak dapat disebutkan, tetapi seluruhnya berhubungan dengan tempat tinggalnya di bumi.

Setiap manusia diperintahkan untuk menjadi pemakmur bumi tempat dirinya tinggal sebagai sarana ibadah dirinya kepada Allah Yang Maha Esa. Perintah itu sebenarnya hanya akan bisa dipenuhi secara benar oleh orang-orang tertentu, yaitu orang yang memohon ampunan Allah dan bertaubat kepada Allah. Kebanyakan manusia terliputi oleh syahwat dan hawa nafsu sedemikian kesadaran untuk memakmurkan bumi mereka tidak tumbuh, sedangkan yang tumbuh justru dari benih keserakahan dan kebutuhan penghormatan dari orang lain. Kadang benih itu tumbuh sangat besar sedemikian membuahkan kerusakan bagi kehidupan di bumi. Mereka mungkin hanya berkeinginan untuk pemakmuran diri saja tidak dapat memikirkan pemakmuran bumi secara menyeluruh. Manakala seseorang memohon ampunan, nafs mereka akan dijadikan bersih dan akalnya akan tumbuh untuk dapat memahami ayat-ayat Allah, sesuai dengan yang diperkenalkan Allah bukan pemahaman yang menyimpang. Dengan pemahaman dan iktikad yang benar, mereka melakukan pemakmuran di bumi secara setimbang. Ini sangat penting sebagai modal pemakmuran.

Banyak orang yang berkeinginan baik kemudian berusaha menggunakan pikiran dan akal akan tetapi tidak disertai dengan langkah memohon ampunan dan taubat, kemudian pikiran dan akal mereka menyimpang dari hakikat yang hendak diperkenalkan Allah. Orang-orang demikian mungkin memandang bahwa apa-apa yang ada dalam pikiran dan akal mereka sangat baik dan bermanfaat, akan tetapi tidak mengetahui bahwa sebenarnya ada penyimpangan-penyimpangan di dalamnya. Kesalahan suatu pemahaman sangat wajar terjadi dan tidak berbahaya bila seeseorang dapat menyadari kesalahannya, tetapi kesalahan yang sama bisa menjadi sangat berbahaya manakala seseorang tidak memohon ampunan dan tidak bertaubat. Suatu hasil pemikiran atau akal yang menyimpang bisa menjadi sangat berbahaya di tangan orang-orang yang merasa baik dengan penyimpangannya. Memohon ampunan dan bertaubat sangat penting dilakukan oleh setiap orang yang ingin memakmurkan bumi agar tidak menimbulkan kerusakan. Taubat dalam hal ini ditunjukkan dengan sikap seseorang memperhatikan dan mengikuti kebenaran yang ditunjukkan kepadanya. Setiap orang harus bisa menyusun pemahaman terhadap kebenaran dan tetap tegak mampu melihat kesalahan yang mungkin dilakukan, tidak memandang diri sendiri suci.

Kesalahan dalam berpikir dan menggunakan akal tidak jarang membuat upaya orang-orang menegakkan kehendak Allah tidak berhasil. Seseorang atau suatu kaum mungkin berusaha menegakkan kebenaran tetapi perintah dan larangan yang diperintahkan Allah kepada mereka justru ditinggalkan karena mengikuti kebenaran dalam pikiran mereka sendiri. Mereka memandang indah kebenaran pikiran mereka sendiri yang sebenarnya telah menyimpang dari tuntunan Allah, dan mereka meninggalkan ayat-ayat yang digelar Allah karena mengikuti kebenaran dalam pikiran mereka sendiri. Tidak jarang upaya demikian mendatangkan hasil yang berkebalikan dengan kehendak Allah. Misalnya Allah berkehendak manusia menjadi pandai, sedangkan suatu ajaran yang dipandang baik mungkin justru menjadikan manusia bodoh. Hal semacam ini sangat berbahaya karena sebenarnya pikiran demikian itu seringkali datang dari syaitan. Dampaknya, orang-orang beriman yang ingin melaksanakan perintah Allah dengan benar mungkin menjadi merasa sangat payah melakukan usaha. Bisa juga masyarakat mereka justru menjadi berantakann, karena keindahan langkah mereka itu sebenarnya fitnah. Bisa saja perintah Allah yang seharusnya ditegakkan justru ditinggalkan.

Ayat-ayat Allah yang digelar di alam kauniyah harus dipahami dengan tepat. Misalnya manakala membaca kesulitan dalam kehidupan, setiap orang hendaknya menimbang dengan seksama bahwa ada kesulitan yang disebabkan kesalahan sendiri sebagai adzab, dan ada kesulitan karena Allah menguji kehidupan manusia. Manakala suatu kaum mengingkari atau menghalangi pelaksanaan petunjuk Allah, kesulitan demikian harus dibaca sebagai adzab bagi mereka tidak boleh dipandang sebagai ujian yang membersihkan jiwa. Hanya orang yang menyadari kesalahan dan kekufuran mereka terhadap nikmat petunjuk yang akan dibersihkan jiwanya. Orang yang memandang kesulitan mereka sebagai pembersihan tanpa menyadari kesalahan diri akan selalu terlilit kesulitan sebagai adzab karena kebodohan mereka dalam membaca tuntunan Allah. Adzab itu tidak akan membersihkan dosa hingga mereka menyadari sebab-sebab dari adzab yang turun dan memohon ampunan atas kesalahan.

Setiap orang harus membangun keyakinan terhadap suatu kebenaran yang dapat dipahaminya, dengan tidak menutup pikiran dan akalnya untuk menerima penjelasan kebenaran yang lebih baik. Ia hendaknya bisa berpegang kuat terhadap kebenaran yang dapat dipahaminyan tanpa meragukannya, tetapi harus tetap bisa melihat kemungkinan adanya kekurangan atau kesalahan dalam pemahamannya dan mengerti manakala ada yang menjelaskan dan tetap bisa melihat kebenaran pada sesuatu yang lebih baik. Suatu hakikat akan terbuka apabila seseorang memahami ayat kauniyah dengan tepat, berupa keterbukaan makna kandungan ayat kitabullah terkait dengan ayat kauniyah yang diperhatikan. Itu akan menjadi sumber pemakmuran.

Setiap orang harus menghormati potongan-potongan kebenaran dengan selayaknya dalam membaca ayat-ayat Allah agar terbentuk pengetahuan yang benar. Orang atau kaum yang sering mengabaikan kebenaran akan mudah terjatuh pada kesesatan. Orang-orang yang benar di antara kaum itu akan mudah disingkirkan dari kedudukannya, dan kaum itu menjadi sesat tanpa menyadarinya. Kedua hal itu merupakan tanda dari kesombongan. Suatu kebenaran akan terbangun dari potongan-potongan kebenaran, dan kebenaran tidak akan dikenali oleh orang-orang yang tidak menghormati kebenaran. Misalnya dalam melakukan suatu penelitian, setiap orang harus menggunakan metode yang benar, tidak boleh menggunakan metode-metode yang telah diketahui salah. Ini merupakan bentuk penghormatan terhadap kebenaran. Manakala seseorang menggunakan metode yang jelas diketahui kesalahannya, hasil-hasil yang diperoleh dari penelitian itu akan salah atau tidak berguna. Manakala hasil penelitian menunjukkan potensi yang besar, potensi itu sangat mungkin hanya ilusi. Manakala hasil penelitian menunjukkan bahaya yang besar, bahaya itu sebenarnya mungkin tidak ada. Penelitan itu tidak mendatangkan hasil karena metode yang salah. Hal semacam ini berlaku pada setiap upaya membaca ayat-ayat Allah tidak hanya dalam penelitian. Setiap orang harus menghormati potongan kebenaran dalam membaca ayat-ayat Allah.

Pengetahuan yang benar tentang ayat-ayat Allah yang digelar di alam kauniyah akan menjadi modal bagi seseorang untuk melakukan pemakmuran bumi. Setiap orang sebenarnya mempunyai objek pengamatan pada ayat-ayat Allah yang terjadi di wilayah mereka. Pengetahuan yang benar terkait ayat-ayat Allah dapat digunakan setiap orang untuk melaksanakan penghambaan kepada Allah. Penghambaan (ibadah) setiap manusia kepada Allah pada dasarnya bukan hanya berbentuk syariat-syariat yang ditentukan, tetapi juga berbentuk amal-amal jasmaniah yang mendatangkan mashlahat bagi kehidupan dunia. Upaya pemakmuran alam dunia yang dilakukan dengan hati yang bersih oleh orang-orang yang bertaubat kepada Allah merupakan bentuk ibadah yang ditentukan Allah bagi setiap orang. Semakin banyak pengetahuan ayat Allah yang diperoleh oleh orang yang bertaubat, semakin besar potensi pemakmuran yang dapat dilakukan di suatu wilayah.

Pemakmuran bagi orang berakal bukan berbentuk berlimpahnya harta benda dunia. Pengusahaan kelimpahan harta benda dunia merupakan beban tanggung jawab yang besar di hadapan Allah. Hal ini tidak berarti orang berakal hanya menginginkan kecukupan makan saja. Adanya pemikiran demikian pada seorang pemimpin bisa dicurigai merupakan tanda kuatnya loby dari orang-orang yang bisa mencari keuntungan dari tatanan masyarakat yang rusak. Tidak pula berarti orang berakal menginginkan kekurangan dalam pemenuhan kebutuhan. Kemakmuran yang diharapkan oleh orang-orang berakal berupa bermanfaatnya pengetahuan yang ada pada mereka bagi kesejahteraan masyarakat dan alam semesta. Bentuk berlimpahnya harta benda duniawi dapat diterima oleh orang-orang berakal manakala diperoleh dari pemanfaatan pengetahuan yang ada pada mereka. Manakala ilmu pengetahuan yang ada pada diri mereka tidak bisa memberikan manfaat bagi masyarakat, orang berakal akan merasa sedih atau sengsara bukan karena kekurangan harta benda, tetapi karena kurangnya akal masyarakat untuk mengenal nilai ilmu pengetahuan. Dewasa ini, kebanyakan manusia menginginkan kelimpahan harta benda dunia tanpa perlu mengetahui kadar pengetahuan yang ada pada diri mereka. Ini merupakan bentuk kemakmuran semu.

Manusia sebagai Kunci Pengembangan

Manfaat dari pengetahuan yang diperoleh manusia akan sangat bergantung kepada orang-orang yang menguasainya. Pemakmuran bumi tidak hanya ditentukan oleh orang-orang yang memegang pengetahuan saja. Manakala seseorang yang shalih mempunyai pengetahuan yang banyak tentang ayat-ayat Allah, ia mempunyai potensi pemakmuran bumi yang besar. Sebaliknya manakala seseorang yang jahat mempunyai pengetahuan yang banyak, mereka mempunyai potensi yang besar untuk merusak. Terwujudnya potensi yang baik itu akan mudah apabila para penguasa tatanan manusia mempunyai keinginan yang baik atas pengetahuan yang ada di antara mereka, dan seringkali menjadi sia-sia manakala penguasa mereka orang yang bodoh atau jahat. Pemakmuran bumi bergantung kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan baik dari sisi kualitasnya ataupun kuantitasnya.

Khalifatullah sebenarnya adalah pemimpin pemakmuran bumi. Dalam tatanan semesta, khalifatullah merupakan perpanjangan dari kedua uswatun hasanah. Tatanan itu merupakan bayangan dari tatanan tajalli Allah, di mana Ar-Rahman dan Ar-Rahiim adalah inti tajalli Allah sedangkan Malik merupakan nafakh ruh Ar-Rahman sebagai perpanjangan dari tajalli inti. Hal ini menunjukkan bahwa pemakmuran bumi hanyalah perpanjangan dari terbinanya sifat rahman dan rahim. Setiap orang harus membina akhlak mulia berupa sifat rahman dan rahim terlebih dahulu, maka ia akan memperoleh kemampuan untuk melakukan pemakmuran bumi dengan benar menggunakan pengetahuan ayat-ayat Allah.

Dalam realitas kehidupan bumi, pengetahuan tentang alam kauniyah dengan mudah diperoleh oleh setiap orang sekalipun apabila ia tidak memperhatikan tuntunan Allah. Pengetahuan itu bisa berupa pengetahuan yang benar, bisa pengetahuan yang salah, atau bisa berupa suatu pengetahuan setengah kebenaran. Banyak pengetahuan duniawi bersifat netral, bisa digunakan untuk kebaikan ataupun kejahatan. Orang-orang yang jahat bisa menggunakan pengetahuan-pengetahuan duniawi yang benar untuk keuntungan mereka secara curang dengan semangat parasitis mencampurkan ilmu pengetahuan dalam metode mereka. Tugas orang beriman adalah merangkai pengetahuan dari potongan-potongan pengetahuan yang benar agar pengetahuan yang mereka susun mendatangkan manfaat yang besar bagi pemakmuran bumi. Rangkaian pengetahuan dan pemanfaatannya itulah yang akan mudah tersambung dengan tuntunan ayat-ayat kitabullah sehingga seseorang bisa mudah mengenal kehendak Allah dengan pengetahuan duniawinya.

Dewasa ini bisa dikatakan bahwa usaha orang jahat menggunakan pengetahuan untuk kehidupan manusia dilakukan lebih intensif daripada orang-orang beriman. Misalnya penggunaan perhitungan dalam muamalah, perhitungan keuangan dan ekonomi hingga saat ini banyak menggunakan sistem riba yang merugikan. Pengembangan teknologi nuklir banyak dimanfaatkan oleh orang-orang jahat untuk membuat bom yang merusak bukan pengembangan energi yang bersih. Jaringan komputer pada dasarnya dikembangkan untuk kepentingan tentara untuk memperoleh keunggulan atas pihak lain. Banyak penggunaan pengetahuan secara intensif dilakukan untuk kepentingan orang-orang yang sebenarnya jahat, dibanding penggunaannya oleh orang yang baik. Masyarakat umum dan muslim secara umum bersikap pragmatis sekadar berusaha menemukan kehidupan yang layak dalam tatanan yang sudah ada tanpa perlu memikirkan tuntunan yang harus diwujudkan dari sisi Allah. Sebagian orang beriman barangkali berusaha untuk lebih mengenal semesta diri mereka, tetapi mungkin terhenti hanya pada permulaannya saja karena akal yang kurang berkembang atau justru terkekang dengan aturan yang keliru. Inisiatif di antara mukminin untuk mencari pengetahuan secara lebih luas tampak kurang tumbuh, atau manakala tumbuh terkendala atau terkekang dengan batasan yang tidak perlu. Usaha demikian itu menjadikan potensi alam mereka tidak berkembang karena akal masyarakat yang kurang berkembang.

Selasa, 19 Mei 2026

Pengembangan Potensi Manusia sebagai Pilar Pemakmuran

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Jalan untuk menjadi hamba yang didekatkan di antaranya adalah melakukan pemakmuran bumi. Allah menciptakan manusia dari bumi dan menjadikannya sebagai pemakmurnya. Itu adalah tugas bagi manusia yang dijadikan sebagai jalan kembali kepada-Nya. Dengan jalan demikian, Allah sebenarnya dekat kepada hambaNya dan memperkenankan doa.

﴾۱۶﴿ وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلٰهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)" QS huud ; 61)

pemakmuran bumi dapat dilakukan dengan menegakkan pilar-pilarnya. Pilar-pilar pemakmuran itu berupa : 1. Tauhid dan keikhlasan, 2. Shilaturrahmi, 3. Pengembangan potensi diri, 4. Pengembangan potensi wilayah, 5. Jihad, 6. Sinergi dan kesetimbangan alam, 7. Pengolahan basis data. Tegaknya pilar secara sempurna akan terjadi apabila seseorang dapat membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Pilar-pilar tersebut tidak akan dapat ditegakkan oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah. Semakin sempurna taubat seseorang kepada Allah, semakin tegak pilar yang dapat ia tegakkan.

Kepedulian terhadap Potensi Manusia

Pemakmuran akan terlaksana apabila potensi manusia yang menghuni bumi berkembang dengan baik dan dapat mengerjakan tugas-tugas terkait kedudukan diri mereka. Setiap orang pada dasarnya ditugaskan untuk mengerjakan tugas-tugas tertentu di alam dunia ini sebagai sarana untuk mengenal Allah. Untuk tugas-tugas itu, masing-masing manusia sebenarnya diberi potensi kekuatan untuk melaksanakan tugas yang harus diemban. Kekuatan itu bukan hanya berbentuk pengetahuan tetapi juga keterampilan untuk membangkitkan proses perubahan seperti yang diharapkan. Kekuatan-kekuatan itu seringkali tersembunyi dari pandangan masing-masing dan setiap orang harus berusaha untuk membangkitkan potensi kekuatan yang diberikan kepada diri mereka.

Potensi setiap diri manusia terkait erat dengan ayat-ayat Allah yang terjadi pada alam kauniyah diri mereka dan kedudukan diri dalam Al-Jamaah. Potensi diri manusia akan bangkit mengikuti akalnya apabila mereka mengerjakan urusan yang diberikan. Seseorang yang berada pada keadaan yang tepat akan lebih mudah untuk melihat ayat-ayat Allah yang terhampar bagi dirinya, sehingga ia bisa memahami potensi dirinya dengan lebih mudah. Demikian pula manakala seseorang berada pada suatu Al-Jamaah yang mengerti urusan jaman mereka akan lebih mudah untuk mengenal potensi diri mereka untuk disumbangkan kepada Al-Jamaah karena telah terarahnya urusan yang dikerjakan, dan ia akan mudah menempatkan diri pada langkah Al-Jamaah berdasarkan potensi yang ada pada diri masing-masing. Manakala seseorang hidup di antara kaum yang kafir, mungkin ia tidak nmemperoleh kemudahan untuk mengenal urusan yang perlu dilakukan.

Pengembangan potensi manusia harus dilakukan agar seseorang atau suatu bangsa mempunyai kemampuan untuk membangkitkan proses pemakmuran di bumi. Pembinaan potensi manusia dapat dilakukan dengan memperhatikan ayat-ayat Allah pada kauniyah mereka hingga orang-orang pada suatu kaum mengetahui perilaku objek pada ayat Allah yang diperhatikan. Pembinaan itu harus dilakukan hingga terbentuk pengetahuan yang benar dan mendasar terkait kehidupan alam bumi dan terbentuk keterampilan melakukan proses pemakmuran berdasarkan pengetajhuan itu. Keterampilan demikian hendaknya disertai kemampuan bekerja bersama dengan orang lain. Kebanyakan orang harus dibina agar dapat bekerjasama dengan orang lain untuk melakukan proses, tidak boleh dibina hanya untuk bekerja sendirian. Hanya sebagian kecil orang yang seharusnya bekerja dengan sedikit orang atau sendiri.

Masyarakat mempunyai pengaruh yang besar dalam pembinaan potensi manusia di antara mereka. Ada bentuk budaya yang harus diperhatikan agar potensi manusia yang ada pada mereka berkembang dengan baik, dan ada budaya-budaya buruk yang mempersulit pengembangan potensi manusia. Kaum yang menggunakan akal untuk memahami tuntunan Allah akan menjadi kaum yang menyuburkan pembinaan potensi manusia selama mereka tidak menyimpang dalam menggunakan akal. Kadangkala suatu kaum merasa berbudaya baik sedangkan mereka membunuh potensi manusia di antara mereka. Ada bermacam-macam pola pembunuhan potensi yang dapat terjadi. Mungkin ada orang yang mempunyai pengetahuan yang baik tidak diberi tempat untuk mengembangkan keterampilan memakmurkan bumi berdasarkan pengetahuannya. Mungkin ada orang yang ingin mengabdi kepada Allah justru diperbudak untuk mengabdi secara keliru bukan dikembangkan pengetahuannya mengenal urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman. Kadangkala orang-orang yang mempunyai potensi yang terlihat berbeda kemudian tidak dihormati potensi dirinya. Banyak macam budaya yang bisa membunuh pengembangan potensi manusia. 

Budaya yang menyuburkan pertumbuhan potensi manusia ditumbuhkan melalui pilar tauhid dan shilaturrahmi. Masyarakat yang bertauhid dan membangun shilaturrahmi akan bisa menghormati secara benar setiap perkembangan manusia, tidak terjebak menghakimi orang-orang berdasarkan selera masing-masing. Dengan tauhid masyarakat memperleh landasan yang kokoh dalam menilai kebenaran, dan dengan shilaturrahmi setiap komponen masyarakat bisa membangun kesepahaman dalam melangkah terhindar dari prasangka buruk. Hal ini pada dasarnya berlaku timbal balik. Manakala suatu kaum mudah terjebak dalam prasangka buruk sebenarnya shilaturrahmi di antara mereka buruk. Demikian pula manakala kebenaran yang mereka anut dalam keadaan kacau, tauhid di antara mereka sebenarnya tidak lurus. Kadangkala suatu kaum merasa bertauhid sedangkan kebenaran di antara mereka tersia-sia dan prasangka buruk terhadap orang-orang yang menyampaikan kebenaran begitu kuat. Kadangkala mereka sedemikian terhalangi untuk berprasangka baik terhadap orang lain hingga bisa saja seseorang dibuat memandang buruk jodohnya hanya berdasar perasaan, atau bahkan seorang isteri dibuat memandang buruk suaminya atau sebaliknya karena dihambatnya proses komunikasi di antara mereka. Hal itu menunjukkan rusaknya shilaturrahmi di antara mereka. Hal demikian itu bisa menjadi tanda bahwa pengembangan potensi manusia di antara mereka sebenarnya sangat buruk atau justru sebenarnya terjadi perusakan potensi manusia.

Pengembangan potensi manusia harus dilakukan mengarah pada terbentuknya masyarakat bertauhid dan bershilaturrahmi mewujudkan kebenaran dan kasih sayang di antara manusia,. Potensi diri masing-masing orang di antara masyarakat harus digunakan sebagai alat untuk dapat memberikan manfaat diri dengan sebaik-baiknya. Manakala orang bertauhid dan bershilaturrahmi tidak mempunyai pengetahuan dan keterampilan, manfaat yang muncul di antara mereka hanya sedikit hingga pemakmuran mungkin tidak terjadi. Sebaliknya, manakala pengembangan potensi tidak berlandaskan tauhid dan shilaturrahmi, berkembangnya potensi manusia itu bisa berbalik menimbulkan kesengsaraan bagi masyarakat. Kerusakan pengembangan potensi manusia banyak yang terjadi bukan karena berkurangnya penguasaan pengetahuan dan keterampilan, tetapi karena rusaknya arah pembinaan manusia. Orang-orang yang dibina agar berpengetahuan dan terampil kemudian membuat langkah-langkah yang merugikan masyarakat, tidak berbuat yang terbaik bagi masyarakat. Ini merupakan akhlak yang buruk.

Pengembangan potensi manusia harus dilakukan sedemikian seseorang memperoleh kedudukan yang terbaik untuk memanfaatkan potensi yang berkembang pada diri mereka. Semakin kokoh kedudukan yang diberikan kepada seseorang, ia akan semakin mudah berusaha untuk memberikan manfaat kepada masyarakatnya. Demikian pula sebaliknya, semakin lemah kedudukan yang diberikan kepada seseorang, semakin banyak kesulitan ditemukan seseorang dalam upaya memberikan manfaat dari potensi dirinya. Manakala seseorang dicabut dari kedudukan yang seharusnya, mereka akan kesulitan untuk memberikan manfaat dirinya. Setiap orang harus diberi kedudukan yang layak sesuai dengan kemampuan dirinya tidak dihalangi untuk memberikan manfaat. Seseorang yang sangat berpotensi besar sekalipun tidak akan bisa memberikan manfaat kepada orang lain apabila tidak memperoleh kedudukan yang layak.

Kedudukan paling mendasar bagi seseorang untuk memberikan manfaat bagi masyarakat berdasar potensi yang diberikan Allah adalah kedudukan dalam keluarga. Kokohnya kedudukan seseorang dalam keluarga akan menambahkan kekuatan kedudukan dirinya di masyarakat. Demikian pula manakala seseorang kehilangan kedudukan dirinya dalam keluarga, ia bisa kehilangan seluruh kedudukan sosialnya. Bila suatu masyarakat tidak memperhatikan azas demikian, mereka sebenarnya tidaklah memperhatikan pengembangan potensi manusia di antara mereka dengan benar. Kadangkala suatu masyarakat terwahami suatu keinginan untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas akan tetapi tidak memperhatikan kedudukan dasar manusia yang harus diberikan, maka sebenarnya mereka hanya mengikuti hawa nafsu saja. Setiap orang harus diberikan hak untuk hidup berkeluarga dengan sebaik-baiknya. Para lajang diberi haknya untuk menemukan pasangan yang terbaik bagi dirinya. Para suami diberi hak untuk membimbing dan mengajak keluarganya untuk beribadah kepada Allah, dan para isteri dibina untuk bisa memahami amal shalih suaminya tidak hanya dididik menuntut suami untuk mengejar keinginan isterinya. Bila hak demikian dilanggar, tidak ada pengembangan potensi manusia yang dilakukan dengan benar.

Orang yang telah berkembang akalnya dalam memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hendaknya didukung sedemikian mereka dapat memberikan manfaat diri mereka dengan sebaik-baiknya. Perkembangan akal pada diri seseorang itu ditunjukkan dengan kemampuan memahami perintah-perintah yang ada pada suatu ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW baik perintah yang tertulis ataupun penjelasan-penjelasan yang tersirat dibalik segala sesuatu yang tertulis. Kalam kitabullah bagi orang-orang demikian merupakan kalam yang berbicara, dan mereka menghidupkan sebagian pemahaman dan semangat Rasulullah SAW dalam kalam itu. Itu adalah tanda dari akal yang berkembang pada diri seseorang sehingga layak didukung, bukan orang yang mencomot apa yang ada dalam kitabullah untuk mencari keuntungan sendiri.

Mengentaskan Penjajahan

Setiap elemen masyarakat hendaknya mempunyai kepedulian terhadap pengembangan potensi manusia di antara mereka. Pengembangan potensi manusia dapat dibentuk oleh setiap masyarakat tidak harus bergantung pada pemerintah. Dalam beberapa kasus, pemerintah suatu masyarakat sebenarnya hanyalah administratur penjajahan atas suatu negeri yang justru berfungsi untuk menghambat kemajuan suatu bangsa. Tatanan yang dirumuskan administratur tidak jarang menimbulkan kerugian yang banyak bagi kehidupan bermasyarakat. Banyak kalangan mungkin merasa kehidupannya dipersulit oleh pemerintah. Ini tidak bersifat umum seluruhnya. Boleh jadi ada banyak aparatur pemerintah yang mempunyai keinginan besar memakmurkan kehidupan bangsa, akan tetapi mereka terikat pada tatanan yang lebih besar sedemikian hanya dapat berusaha secara terbatas. Dalam keadaan demikian, masyarakat sendiri harus berusaha mengembangkan potensi manusia yang ada di sekitar mereka agar tumbuh manusia-manusia yang bertauhid dan mempunyai kasih-sayang yang besar dengan sesama. Membuat perlawanan-perlawanan tanpa suatu konsep berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak jarang menjebak manusia dalam kekacauan, justru membuat kerusakan yang banyak terhadap tatanan dan kesejahteraan masyarakat.

Dalam agama, kemerdekaan atau penjajahan atas suatu kaum bukanlah sesuatu yang bersifat esensial karena hanya merupakan cerminan dari keadaan nafs manusia pada kaum tersebut. Para pengikut nabi Isa a.s diperintahkan untuk memberikan koin pajak kepada raja sebagai hak raja. Ajaran nabi Isa a.s belum mengajarkan pembebasan diri dari penjajahan dalam tingkat duniawi. Mengikuti ajaran demikian bukanlah suatu kesalahan. Dalam Islam, penjajahan merupakan manifestasi dari keterjajahan manusia terhadap hawa nafsu atau waham diri sendiri. Apabila suatu kaum bisa memahami kebenaran dan mengikutinya, maka penjajahan akan tersingkir dari kaum tersebut bila disertai dengan perjuangan menegakkan pilar-pilar kebenaran. Penjajahan atas suatu kaum tidak akan terangkat manakala masyarakat tidak memahami kebenaran yang diturunkan Allah dan berjihad untuk menegakkannya. Keadaan diri mereka sendiri itulah yang menjajah mereka. Masyarakat yang rakus akan terjajah dengan kerakusannya, masyarakt yang bodoh akan terjajah dengan kebodohannya dan seterusnya. Kadangkala suatu bangsa terlilit dalam penjajahan yang rumit. Penjajahan akan terangkat manakala suatu masyarakat terbentuk sebagai orang yang mampu memahami kebenaran hingga dapat diperjuangkan untuk menggantikan tatanan penjajahan. Konsep ekonomi, keuangan, perbankan dan semua aspek kehidupan yang lain berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW harus dipersiapkan terlebih dahulu oleh suatu kaum untuak menggantikan tatanan penjajahan, maka penjajahan itu dapat disingkirkan dengan cara yang baik dari mereka. Tanpa suatu persiapan, menghapuskan penjajahan seringkali tidak dapat terwujud dengan baik. Kadangkala suatu bangsa tampak merdeka tetapi sebenarnya tetap dalam kungkungan penjajahan. Memahami kehendak Allah dengan benar merupakan kunci menyingkirkan penjajahan dari suatu bangsa. Manakala suatu kaum mengikuti kebenaran yang salah, mereka tidak akan terbebas dari penjajahan atas diri mereka.

Usaha mengembangkan potensi manusia secara mandiri dapat dilakukan masyarakat setidaknya dengan tidak merusak kedudukan dasar seseorang. Seorangpun tidak boleh diganggu kedudukan dasarnya tanpa suatu alasan yang dibenarkan, terlebih lagi orang yang membangun tauhid di masyarakat. Lebih baik lagi apabila masyarakat bisa mendukung upaya membangun masyarakat untuk bertauhid. Untuk hal itu, kaum muslimin hendaknya memperhatikan kebenaran agar dapat mendukung dan tidak menghalangi seseorang mendatangkan manfaat. Bila muslimin hanya mengikuti kebenaran yang mereka tentukan sendiri tanpa berlandaskan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka mungkin justru akan membunuh potensi sumber daya manusia yang ada di antara mereka. Mungkin saja orang-orang yang berjuang untuk menegakkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW justru menjadi orang-orang yang tersingkir karena kaum muslimin hanya mengikuti kebenaran mereka sendiri tanpa memperhatikan asas-asas sikap dan tindakan mereka dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Hal demikian menambah kesulitan bagi orang-orang yang berusaha meningkatkan potensi sumber daya manusia.

Kamis, 14 Mei 2026

Beberapa Pilar Pemakmuran

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Penyaksian terhadap risalah Rasulullah SAW merupakan bukti kebenaran musyahadah seseorang terhadap Ilahiah Allah. Musyahadah terhadap risalah itu secara tersirat dijadikan sebagai bagian dari ummul kitab. Dalam umul kitab, musyahadah itu sebenarnya tidak berdiri sendiri. Seorang mukmin yang benar kesaksiannya terhadap risalah sebenarnya juga akan mempunyai pengetahuan tentang khalilullah Ibrahim a.s sebagai uswatun hasanah, dan juga mempunyai pengetahuan tentang khalifatullah sebagai perpanjangan bayangan Rasulullah SAW di alam bumi.

﴾۳﴿الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
﴾۴﴿مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
(3)Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (4) Raja di Hari Agama (QS Al-Faatihah : 3-4)

Allah memperkenalkan diri-Nya kepada makhluk dalam berbagai derajat. Derajat tertinggi adalah asma Ar-Rahman yang beristiwa di atas ‘Arsy. Pada derajat yang berdekatan, Allah memperkenalkan diri-Nya dengan asma Ar-Rahim, berkedudukan sangat tinggi melekat pada ‘arsy. Rasulullah SAW merupakan insan paling sempurna yang diberi kemampuan memanifestasikan asma yang tertinggi Ar-Rahman, dan nabi Ibrahim a.s merupakan insan yang diberi kemampuan memanifestasikan asma Ar-Rahiim secara sempurna. Kedua insan tersebut merupakan uswatun hasanah yang memanifestasikan asma Allah dengan benar sepanjang masa. Kedua asma itu dipanjangkan bayangannya hingga asma yang bertakhta di Kursy sebagai Malik (raja), dan khalifatullah Al-Mahdi merupakan insan yang diberi kemampuan memanifestasikan asma Malik.

Derajat-derajat tajalliat di atas menunjukkan tingkatan fundamen jalan kembali kepada Allah. Jalan kembali itu hendaknya ditempuh oleh setiap hamba Allah dengan memperhatikan tingkatan tersebut dimulai dengan membina sifat rahman seperti Rasulullah SAW, sifat rahim seperti khalilullah hingga melakukan pemakmuran bumi sebagaimana khalifatullah. Ibadah setiap manusia berbentuk pemakmuran bumi yang harus dilakukan sesuai dengan penciptaan diri dan keadaan masing-masing dalam bentuk amal-amal. Untuk melakukan pemakmuran, setiap orang harus membina diri mengikuti tuntunan uswatun hasanah. Pemakmuran tidak akan benar-benar dapat dilakukan apabila tidak terbangun sifat rahman dan rahim pada diri manusia yang melaksanakannya.

Sifat rahman ditunjukkan dengan kemampuan seseorang untuk memahami kehendak Allah yang digelar melalui ayat-ayat-Nya, selaras antara ayat kauniyah dengan ayat kitabullah. Sifat ini merupakan pembentuk utama akhlak mulia. Sifat rahman terbentuk melalui pembinaan akhlak hamba Allah sebagai misykat cahaya yang dapat membentuk bayangan dari cahaya Allah. Sifat rahim merupakan pembentuk akhlak mulia yang akan mendukung terbentuknya sifat rahman pada diri seseorang. Tanpa adanya sifat rahim, sifat rahman tidak akan terbentuk pada diri seseorang. Manakala seseorang membentuk sifat rahman tanpa membina sifat rahim, bayangan cahaya Allah yang terbentuk bisa kacau, tidak benar dalam membentuk bayangan kehendak Allah. Pemakmuran bumi yang sebenarnya akan terbentuk manakala sifat rahman dan sifat rahim telah terbentuk. Semakin besar sifat rahman dan sifat rahim terbentuk, semakin besar pula potensi pemakmuran yang dapat diwujudkan oleh suatu kaum.

Pilar-Pilar Pemakmuran

Suatu pemakmuran terbentuk melalui upaya suatu kaum, bukan upaya perorangan, dan masing-masing orang bisa menyumbangkan pemakmuran. Tingkat pemakmuran yang dapat disumbangkan ditentukan dengan akhlak yang terbentuk pada diri masing-masing. Terdapat pilar-pilar yang harus ditegakkan untuk melakukan pemakmuran. Pilar pemakmuran adalah kumpulan prinsip yang harus diperhatikan untuk melaksanakan proses pemakmuran. Semakin lengkap pilar pemakmuran ditegakkan, kemakmuran yang dapat terbentuk akan semakin kokoh. Pilar pemakmuran berupa aspek-aspek rahmaniah yang dapat dikenal oleh manusia, dapat berkembang dari pokok-pokoknya hingga cabang dan ranting yang lebih terinci. Kesempurnaan pemakmuran bangsa akan terwujud pada masa khalifatullah Al-Mahdi.

Pilar-pilar pemakmuran secara lengkap akan termanifestasikan oleh khalifatullah Al-Mahdi, akan tetapi kaum mukminin boleh saja memperkirakan pilar-pilar yang akan ditegakkan sebagai sarana untuk melakukan pemakmuran, terutama bila dilakukan untuk membantu Rasulullah SAW dan khalifatullah. Pada dasarnya setiap orang bisa memperoleh pengetahuan urusan dirinya sebagai bagian dari urusan Rasulullah SAW dan khalifatullah. Perkiraan dalam pernyataan di atas boleh dilakukan dengan menghitung berdasar pengetahuan parsial diri. Sebagian ulama memberikan beberapa pedoman tentang pilar-pilar tersebut secara garis besar misalnya dengan menyebutkan adanya tujuh pilar. Boleh saja mukminin lain berusaha menelisik upaya yang dapat atau harus dilakukan untuk membantu urusan sang Imam. Bangsa Iran dalam hal ini terlihat sangat mengharapkan kedatangan khalifatullah dengan menegakkan pilar jihad.

Dengan mengharap memahami kebenaran, penulis berusaha mengidentifikasi pilar-pilar yang perlu ditegakkan untuk mewujudkan pemakmuran untuk membantu terselenggaranya amr Allah. Pilar-pilar itu dapat disebutkan berupa : 1. Tauhid dan keikhlasan, 2. Shilaturrahmi, 3. Pengembangan potensi diri, 4. Pengembangan potensi wilayah, 5. Jihad, 6. Sinergi dan kesetimbangan alam, 7. Pengelolaan dan basis data

Tegaknya pilar secara sempurna akan terjadi apabila seseorang dapat membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Pilar-pilar tersebut tidak akan dapat ditegakkan oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah. Semakin sempurna taubat seseorang kepada Allah, semakin tegak pilar yang dapat ia tegakkan. Misalnya Imam Khameini bersama bangsa Iran terlihat telah berjuang menegakkan pilar jihad melawan kedzaliman. Bayangan paling dekat Imam Khameini tampak pada IRGC yang secara senyap berhasil menegakkan jihad perlawanan secara memadai terhadap kedzaliman. Bayangan lebih jauh, bangsa Iran secara hampir menyeluruh mempunyai integritas dalam menegakkan jihad sebagai p[ilar pemakmuran. Barangkali mereka tidak terlihat kaya raya ataupun megah pada semua aspek, akan tetapi bisa tampil bermartabat dengan kekuatan tempur yang sangat kuat. Sekilas pilar-pilar yang lain juga tumbuh baik tidak buruk akan tetapi tidak terlihat sekuat kekuatan jihad mereka. Tegaknya pilar pemakmuran demikian terjadi apabila ada seseorang yang berhasil membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Alangkah baiknya bila kaum muslimin yang lain bisa belajar dari bangsa Iran dalam menegakkan pilar jihad untuk negeri masing-masing, dan meneruskan jihad sang Imam dari negeri masing-masing.

Pilar Tauhid

Pilar tauhid dan keikhlasan harus dibina oleh setiap orang dan setiap bangsa. Pada intinya, tauhid dan keikhlasan bertujuan membentuk manusia untuk bisa mengenal kehendak Allah, berbentuk pembinaan akhlak menuju kemuliaan, dimulai dari ucapan syahadatain dan diikuti proses tazkiyatun-nafs, membina akhlak sebagai misykat cahaya hingga membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, dan kemudian dijadikan hamba yang didekatkan. Tauhid demikian akan menjadikan seseorang atau suatu bangsa mengalami proses pembinaan akhlak menuju kemuliaan. Dewasa ini pilar tauhid yang utuh demikian dicerai-beraikan oleh kaum khawarij hingga ajaran tauhid dikenali hanya dalam bentuk angan-angan tauhid saja. Dengan rumusan tauhid yang populer dewasa ini, seseorang hanya akan terus berada pada pintu masuk tauhid saja, tidak melangkah membina tauhid dengan sebenarnya.

Pada tingkat bangsa, barangkali tidak semua orang pada suatu bangsa mempunyai cukup keinginan untuk kembali menjadi makhluk mulia. Barangkali ada orang-orang yang membina diri hingga menjadi misykat cahaya, dan ada orang-orang yang tetap berkeinginan berkecimpung pada harta benda dunia yang banyak dan merasa cukup dengan itu, dan sangat banyak macam akhlak manusia yang ada di antara keduanya yang tidak bisa dipersamakan satu dengan yang lain. Pembinaan tauhid yang harus diterapkan adalah bahwa setiap orang dan lapisan akhlak harus bisa bertindak berpihak pada kebaikan bersama berdasarkan tuntunan Allah. Orang-orang yang telah membina diri sebagai misykat cahaya harus mempunyai kemampuan membedakan antara perintah Allah dengan sesuatu yang bathil sedemikian ia bertindak mengikuti tuntunan Allah bukan mengerjakan sesuatu yang bathil. Para pemegang kekuasaan hendaknya mampu memikirkan dan menentukan kebijakan yang memberikan manfaat terbaik bagi masyarakat umum dengan menimbang aspek kebaikan secara lebih seksama. Pemimpin bangsa di negeri yang subur seharusnya bukan hanya memikirkan gizi untuk anak-anak, tetapi mampu membuat kebijakan yang membuat bangsa dapat melakukan proses produktif pada setiap lapis masyarakat termasuk pemenuhan gizi anak-anak sebagai masalah jasmaniah dengan mempertimbangkan aspek berbangsa secara lebih lengkap, dari pengetahuan tentang kehendak Allah melalui ayat-ayat yang digelar hingga hal-hal duniawi bangsa termasuk aspek jasmaniah pemenuhan gizi anak-anak bangsa. Demikian pula masyarakat bawah hendaknya dapat melaksanakan urusannya dengan mengikuti aturan yang baik menurut agama. Pedagang harus bermuamalah dengan jujur, dan demikian pula setiap orang yang berusaha untuk dirinya sendiri hendaknya dapat dibina untuk berkomitmen terhadap kebaikan bersama tidak mementingkan diri sendiri.

Banyak masalah bisa timbul karena kurangnya pembinaan tauhid. Akan banyak perselisihan yang tidak mempunyai ujung pangkal karena tidak adanya referensi kebenaran, di mana kebenaran hanya ditentukan hawa nafsu. Seorang yang berakhlak tinggi tetapi tidak berkomitmen terhadap tuntunan Allah akan menimbulkan kerusakan yang sangat besar karena mereka sebenarnya justru akan tertipu langkah syaitan, karena syaitan pasti akan menggunakannya. Perumusan kebijakan di tingkat pemegang kuasa akan mudah dipengaruhi kepentingan-kepentingan parasitis dan dibuat tampak baik, dimana penguasa tidak dapat melihat kebaikan dan keburukan dari kebijakan yang harus dirumuskan. Dalam taraf tertentu, kebijakan di antara penguasa bisa saja dibuat sungguh-sungguh untuk kepentingan parasitis. Masyarakat bawah mungkin menjadi orang-orang yang mudah diperalat oleh kepentingan parasitis karena kurangnya pengetahuan dan kaburnya kebenaran. Di masyarakat umum, mungkin akan banyak terjadi penipuan terhadap sesama karena buruknya akhlak bangsa. Orang yang bodoh bisa merasa pandai, dan orang-orang yang pandai bisa dianggap bodoh. Sangat banyak macam masalah yang bisa timbul karena kurangnya pembinaan tauhid.

Pilar tauhid harus ditegakkan di bangsa muslimin hingga bentuk-bentuk syariat terkait kehidupan sehari-hari. Ilmu-ilmu fiqih hendaknya dihidupkan sedemikian setiap orang mengerti makna kebaikan dari ketentuan yang diajarkan bagi kehidupan mereka dalam bermasyarakat. Orang-orang yang telah diberi kekuatan-kekuatan indera bathiniah hendaknya dibina untuk dapat menggunakan kekuatan mereka untuk memahami ayat-ayat Allah. Orang-orang yang bisa memahami kehendak Allah hendaknya berusaha untuk tetap berada di jalan yang lurus berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW menghindari langkah-langkah syaitan yang mungkin menipu. Demikian setiap lapisan dalam masyarakat hendaknya dibina untuk bertauhid sesuai dengan keadaan masing-masing. Setiap penyimpangan dari tauhid akan memberikan dampak buruk bagi kehidupan bermasyarakat, dan semakin besar penyimpangan yang terjadi semakin besar dampak buruk yang ditimbulkan.

Pilar Shilaturrahmi

Pilar tauhid harus disertai dengan penegakan pilar shilaturrahmi. Shilaturrahmi dalam bentuk idealnya adalah terhubungnya seseorang dalam jalinan Al-Jamaah yang melaksanakan urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman, dengan pemahaman terhadap peran yang harus dilaksanakan untuk pelaksanaan urusan tersebut. Ia mengenal hubungan dirinya dengan sahabat-sahabat yang berjuang bersama, bisa memahami arahan wasilahnya, dapat memberikan bantuan kepada sahabatnya dan dapat memberikan arahan kepada orang-orang yang membantunya karena mengerti kedudukan dirinya dalam Al-Jamaah, tidak berbuat kontraproduktif yang menyebabkan kerusakan hubungan Al-Jamaah dan kerugian dalam perjuangan Al-Jamaah. Demikian itu bentuk shilaturrahmi dalam bentuk idealnya. Dalam realitas, banyak bentuk perpanjangan shilaturrahmi yang dapat atau harus dibangun oleh setiap manusia, tidak hanya shilaturrahmi dalam bentuk ideal, dan seluruh bentuk shilaturrahmi itu mendatangkan manfaat yang besar bagi umat manusia.

Menegakkan pilar shilaturrahmi secara ideal harus dilakukan dari dua arah, yaitu memperkenalkan urusan yang harus ditunaikan dan membina umat untuk layak mengenal urusan Rasulullah SAW. Seseorang yang mengetahui urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya harus memperkenalkan urusan itu kepada orang-orang yang berhak untuk mengenal. Orang-orang yang berhak untuk mengenal urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya itu adalah orang-orang beriman yang telah membina akhlak dirinya hingga dapat menggunakan akal untuk memahami ayat-ayat Allah. Kondisi demikian harus dipenuhi agar pelaksanaan urusan Rasulullah SAW dilakukan secara sinergis tidak berbantah-bantahan. Orang yang tidak mampu menggunakan akal tidak perlu dilibatkan dengan intensitas tertentu karena bisa saja mendatangkan madlarat bagi perjuangan Al-Jamaah.

Pembinaan umat harus dilakukan agar umat dapat mengenal urusan ruang dan jamannya. Dasar pembinaan shilaturrahmi yang ideal adalah pernikahan. Pada dasarnya penempatan seseorang pada urusan haq dirinya merupakan pertumbuhkembangan dari pernikahan. Peran ideal seorang isteri terhadap suaminya merupakan gambaran terbaik bagi duduk peran seseorang dalam perjuangan Rasulullah SAW yang harus dikenal setiap orang, dan pernikahan bagi seorang laki-laki merupakan media terbaik pencarian peran diri dalam urusan Rasulullah SAW. Seorang isteri telah menentukan jalan ibadah kepada Allah ketika menikah, terlepas jodohnya baik ataupun buruk baginya. Ia hanya perlu mensyukuri pernikahannya untuk menemukan jalan ibadahnya kepada Allah. Perjuangan seorang wanita untuk mengenal jalan ibadah terbaiknya dilakukan sebelum menentukan jodohnya, dimana seorang wanita harus mengendalikan hawa nafsu dan syahwat dalam menentukan suami, dan tidak jarang harus berusaha mentaati petunjuk yang diberikan kepada dirinya. Seorang laki-laki menemukan media untuk mengenal jalan ibadah hakiki baginya ketika menikah, maka ia harus menggunakan akalnya untuk memahami kehendak Allah melalui pernikahannya. Pernikahan merupakan media pembinaan shilaturrahmi yang paling ideal bagi setiap mukmin.

Pilar shilaturrahmi akan roboh manakala fiqih pernikahan dirusak atau tidak dihormati, dan hubungan shilaturahmi di masyarakat akan menjadi rusak karena rusaknya pernikahan. Para perempuan lajang harus dibina untuk mengendalikan keinginan duniawi dan hawa nafsu untuk mengenali dan memilih jodoh yang terbaik bagi jalan ibadahnya kepada Allah, dan tidak jarang harus berusaha mentaati petunjuk Allah yang sampai kepada dirinya. Para perempuan dan para isteri tidak boleh dididik untuk memberontak terhadap suaminya sekalipun dengan ide perjuangan untuk agama. Ada penyimpangan perempuan dalam bentuk yang tampak indah berupa perjuangan untuk agama, tetapi sebenarnya merupakan kekejian. Perempuan tidak boleh terjebak dalam waham hingga memberontak terhadap suami. Kadangkala perempuan lajang mengenali jodohnya dalam bentuk yang tidak diinginkan hawa nafsunya kemudian ia menyebarkan hal-hal buruk untuk mencegah perjodohannya. Hal demikian termasuk hal yang merusak silaturrahmi yang tidak boleh dilakukan. Menyebarkan hal buruk itu mendatangkan kerusakan bagi masyarakat, sedangkan penolakan terhadap petunjuk jodoh merupakan ketidakbersyukuran kepada Allah. Para laki-laki hendaknya dibina untuk dapat membaca ayat-ayat Allah melalui pernikahan yang mereka jalani untuk membina shilaturrahmi yang terbaik.