Pencarian

Senin, 02 Juni 2025

Membina Tauhid

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW dilakukan dengan langkah membina tauhid pada setiap diri orang-orang beriman hingga setiap orang beriman dapat beribadah kepada Allah dengan sebaik-baiknya terbebas dari syirik dan kekufuran. Tauhid harus dibina dalam diri setiap mukmin dengan cara membina akhlak mulia yang tumbuh di atas sifat pengasih dan penyayang.

﴾۱﴿بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.(QS Al-Fatihah : 1)

Hampir setiap orang islam mengetahui terminologi tauhid, tetapi sangat banyak yang tidak mengetahui jalan yang harus ditempuh untuk meningkatkan kualitas tauhid dalam diri mereka. Sebagian besar kaum muslimin menempuh cara pemurnian ibadah dengan membayangkan diri hanya beribadah semata-mata untuk Allah, dan dengan cara itu mereka merasa telah menjadi hamba terbaik dalam beribadah kepada Allah. Sebenarnya tidak demikian. Perasaan menjadi hamba Allah yang beribadah secara murni kepada Allah tidak benar-benar menunjukkan seseorang telah beribadah secara murni kepada Allah. Tauhid tidak dapat dicapai dengan cara hanya mengolah pikiran demikian, tetapi harus dibina dengan selalu melakukan pembinaan akhlak mulia sepanjang kehidupan masing-masing. Pembinaan akhlak mulia hanya dapat dilakukan dengan membina sifat rahman dan sifat rahim sebagai landasan pertumbuhan akhlak.

Setiap orang dituntun untuk selalu berdoa dalam setiap amal yang dilakukan dengan suatu doa yang disebutkan dalam ayat di atas. Itu merupakan tuntunan tentang harapan yang harus ditumbuhkan dalam setiap diri muslim berupa permohonan untuk dapat membina diri dalam sifat rahman dan rahim. Hanya dengan landasan kedua sifat itulah akhlak mulia akan tumbuh dengan benar. Tanpa kedua sifat itu tumbuh dalam diri muslim, mustahil bagi diri mereka untuk membangun akhlak mulia mengikuti Rasulullah SAW, dan sebenarnya mereka tidak akan dapat membina tauhid dalam beribadah kepada Allah. Allah hanya akan dikenal manusia yang membina akhlak mulia, tidak dapat dikenal dengan membangun teori-teori tentang Allah, karena itu tauhid yang sebenarnya hanya dapat dicapai oleh orang-orang yang membina akhlak mulia dengan landasan sifat rahman dan rahim.

Sifat rahman menunjukkan pada pengenalan seseorang terhadap kehendak Allah. Hal itu ditunjukkan dengan kekuatan akal dalam memahami firman Allah dalam Alquran dan pada ayat kauniyah secara sinergis. Ayat kauniyah sebenarnya hanya terwujud berdasarkan firman Allah, karena itu ayat kauniyah merupakan ayat Allah sebagaimana ayat dalam kitabullah, walaupun kebenaran dan kebathilan diijinkan untuk wujud bersama-sama di alam kauniyah. Kebenaran di alam kauniyah itu akan dikenali oleh orang-orang beriman berupa keselarasan ayat kauniyah dengan ayat dalam kitabullah. Sifat rahman dalam diri mukmin menunjuk pada pemahaman mereka terhadap ayat kitabullah selaras dan sinergis dengan ayat kauniyah.

Sifat rahim menunjuk pada keinginan untuk memberikan kebaikan bagi makhluk lain. Gambaran besar sifat ini terdapat pada diri perempuan yang menyayangi anaknya dengan selalu siap memberikan yang terbaik untuk anaknya. Sebenarnya semua manusia mempunyai potensi untuk menumbuhkan rasa sayang terhadap makhluk lain sebagaimana seorang ibu menyayangi anaknya, walaupun mungkin dalam intensitas yang lebih rendah. Setiap orang harus berusaha menumbuhkan sifat demikian dengan sebaik-baiknya.

Sifat rahman berkedudukan lebih utama daripada sifat rahim karena sifat rahim dalam diri seseorang harus tumbuh mengikuti pengetahuan terhadap kehendak Allah. Setiap mukmin hendaknya berusaha untuk memberikan kebaikan dengan sepenuhnya kepada orang-orang yang berusaha mewujudkan kehendak Allah hingga kehendak Allah dapat terwujud di alam dunia. Sebaliknya muslimin tidak boleh memberikan sarana yang terbaik bagi orang-orang yang ingin berbuat jahat karena Allah tidak menyukai orang berbuat jahat. Sifat rahim itu harus tumbuh mengikuti sifat rahman, tidak tumbuh tanpa tuntunan Allah. Bila suatu sifat rahim tumbuh tanpa mengikuti tuntunan Allah, umat manusia tidak akan mengarah menuju kebaikan tetapi akan selalu terjadi pertikaian antara pihak yang taat kepada Allah dengan pihak yang mempunyai sifat jahat kepada makhluk lain.

Akan terjadi sinergi pertumbuhan antara sifat rahman dan rahim manakala seseorang berusaha membina sifat baik. Manakala seseorang berusaha mengikuti kehendak Allah, akan tumbuh dalam diri mereka sifat untuk memberikan kebaikan kepada orang lain secara terarah. Demikian pula manakala seseorang tumbuh keinginan memberikan kebaikan kepada orang lain, maka ia akan mudah memahami kehendak Allah yang terpancar pada ayat kitabullah dan ayat kauniyah yang terjadi di sekitar mereka. Kedua sifat itu akan tumbuh sinergis pada diri mukmin yang membina akhlak mulia. Hanya saja setiap orang akan mempunyai komposisi kandungan yang berbeda-beda. Para mukminat akan tumbuh lebih dominan dalam sifat rahim dibandingkan rahmaniahnya karena akal mereka tidak sekuat laki-laki. Mukminin akan tumbuh lebih dominan dalam sifat rahmaniah karena akal mereka yang kuat. Setiap orang akan tumbuh dengan komposisi yang berbeda-beda tetapi selalu ada kandungan kedua sifat itu pada setiap diri masing-masing yang ingin membina akhlak mulia.

Pertumbuhan akhlak mulia pada diri akan menjadikan seseorang mengenal Allah. Ini adalah pengenalan kepada Allah yang sebenarnya yang terjadi karena terbinanya sifat-sifat baik pada diri seseorang. Kemuliaan sifat Allah akan dikenali oleh orang-orang yang memperoleh percikan sifat mulia. Misalnya seseorang dengan sifat pemaaf-lah yang akan mempunyai penghormatan terhadap sifat pemaaf Allah. Seseorang yang menyimpan sifat pendendam akan memandang buruk sifat pemaaf karena mungkin dipandang lemah. Terbangunnya sifat-sifat mulia pada diri seseorang itulah yang akan mengantarkan mereka untuk mengenal Allah. Pengenalan kepada Allah tidak dapat dibangun dengan mengikuti teori-teori tentang Allah kecuali hanya merupakan waham pengenalan.

Ada sekelompok manusia yang mengajarkan tauhid berupa teori tauhid yang sebenarnya dapat selesai dipahami dalam lima menit, tetapi ditumbuhkan waham bahwa tauhid mereka adalah yang paling baik. Dampak tauhidnya, mereka melakukan penyerangan terhadap muslimin lain dengan tuduhan-tuduhan bid’ah dan kesyirikan atau bahkan serangan dalam bentuk serangan pedang. Hal itu semisal dengan perbuatan Dzulkhuwaisirah yang sangat memperhatikan ritual-ritual kepada Allah tetapi tidak memahami tauhid dalam kehidupan sehari-hari. Mereka tidak membina akhlak mulia untuk memahami jalan ibadah kepada Allah yang sebaik-baiknya, dan memandang bahwa ritual yang mereka lakukan itu adalah ibadah yang paling bersih dari kesyirikan. Ibadah yang paling bersih dari kesyirikan hanya diperoleh oleh orang yang berakhlak mulia yang tumbuh di atas landasan sifat rahman dan rahim.

Berharap Pertemuan dengan Rabb

Tanda tumbuhnya pengenalan seseorang terhadap kemuliaan Allah adalah tumbuhnya harapan pada diri mereka untuk berjumpa dengan Allah. Mereka mempunyai penghormatan terhadap sifat-sifat mulia dan mengetahui bahwa sumber kemuliaan itu adalah Allah, maka mereka mempunyai suatu harapan dan keinginan untuk bertemu dengan Allah. Mungkin harapan itu bercampur dengan rasa takut, tetapi ada harapan yang tumbuh terhadap pertemuan dengan Allah. Orang yang tidak mempunyai harapan untuk bertemu Allah menunjukkan belum tumbuhnya pengenalan dalam diri mereka terhadap kemuliaan Allah. Demikian itulah pengharapan terhadap pertemuan dengan rabb yang seharusnya tumbuh pada diri manusia.

Sebagian orang tidak mengharapkan pertemuan dengan keadaan demikian. Mereka berangan-angan bahwa pertemuan dengan rabb itu berupa diutusnya malaikat untuk menjumpai mereka, atau mereka berharap pertemuan itu berupa perjumpaan dengan rabb. Manakala seseorang berharap dengan cara demikian, sebenarnya mereka belum mempunyai harapan terhadap pertemuan dengan rabb-nya. Sebagian orang yang tidak mengharap perjumpaan dengan rabb-nya mengukur kedudukan di antara mereka melalui perjumpaan dengan malaikat atau perjumpaan dengan rabb-nya, sedangkan sebenarnya kemuliaan terletak pada ketakwaan kepada Allah.

﴾۱۲﴿ وَقَالَ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا لَوْلَا أُنزِلَ عَلَيْنَا الْمَلَائِكَةُ أَوْ نَرَىٰ رَبَّنَا لَقَدِ اسْتَكْبَرُوا فِي أَنفُسِهِمْ وَعَتَوْ عُتُوًّا كَبِيرًا
Berkatalah orang-orang yang tidak mengharap pertemuan(nya) dengan Kami: "Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?" Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas(dalam melakukan) kezaliman". (QS Al-Furqan : 21)

Ayat di atas secara khusus menjelaskan bahwa harapan yang sebenarnya pada seorang hamba terhadap pertemuan dengan rabb lebih dilatarbelakangi keinginan untuk bertemu Dia yang dicintainya karena kemuliaan-Nya. Hal itu hanya tumbuh pada orang yang membina akhlak mulia. Harapan pertemuan dengan rabb yang sebenarnya muncul karena harapan terhadap pertemuan dengan Sang Maha Mulia. Hal ini tidak mengingkari adanya pertemuan wajah seorang hamba dengan rabb-nya, tetapi hal itu merupakan sesuatu yang berat bagi orang-orang yang bertakwa. Orang bertakwa barangkali akan lebih menyukai pertemuan dengan rabb-nya setelah kematiannya kelak karena rasa takutnya, sedangkan ia di dunia lebih menyukai cahaya Allah cukup melalui kitabullah dan ayat-ayat-Nya yang lain.

Sebagian orang memandang bahwa pertemuan dengan Allah itu sebagai hal yang biasa saja, karena itu mereka memandang pertemuan dengan Allah serupa dengan pertemuan dengan manusia. Dengan ringan mereka berkata seandainya Allah menurunkan malaikat kepada mereka, atau seandainya mereka bertemu dengan rabb. Mereka menganggap pertemuan dengan rabb itu biasa saja tanpa perlu kondisi kemuliaan. Hal itu sebenarnya merupakan buah dari kesombongan yang ada dalam diri, memandang besar dirinya hingga merasa layak bertemu rabb-nya atau menerima utusan dari kalangan malaikat Allah tanpa urusan yang jelas.

Kecintaan hamba Allah terhadap kemuliaan harus dibangun dengan kecintaan terhadap kebenaran dari sisi Allah. Kebenaran dari sisi Allah itu terbentang dari sisi Allah menjangkau kehidupan di alam dunia, akan tetapi banyak hal-hal bathil di alam yang jauh dari sisi Allah yang mencampuri kebenaran. Setiap hamba Allah harus memperhatikan ayat-ayat Allah agar mempunyai akal yang mampu memahami kebenaran di antara segala sesuatu yang bercampur-campur antara kebenaran, kecintaan hawa nafsu ataupun tipuan-tipuan syaitan yang mendorong manusia memandang kebathilan sebagai kebenaran. Di setiap saat Allah memberikan hal yang dijadikan pendorong bagi manusia untuk mengenal kebenaran. Ada prinsip-prinsip kebenaran yang selalu diberitakan melalui kitabullah Alquran agar manusia mengenal kebenaran, dan hingga ada kebutuhan-kebutuhan praktis yang sematkan pada setiap orang untuk mendorong manusia mengenal kebenaran sebagaimana hajat terhadap lawan jenis melalui pernikahan.

Banyak manusia yang akalnya tidak cukup untuk memahami kebenaran sehingga mengikuti kebathilan-kebathilan yang dipandang memudahkan kehidupan. Kebanyakan orang tidak mempunyai kemampuan memahami tuntunan ayat-ayat kitabullah yang bermanfaat bagi kehidupan duniawi yang seharusnya menjadi sumber kebaikan yang harus dialirkan melalui diri mereka masing-masing. Akal mereka tertutup waham rasa takut terhadap dogma-dogma kebenaran yang diajarkan kepada mereka tanpa dipahami. Bukan ajarannya salah, tetapi sikap manusia yang menjadikan ajaran yang benar itu sebagai dogma. Sebagian orang memandang diri mereka mencintai kitabullah Alquran yang diturunkan dari sisi Allah, tetapi bisa menentang tuntunan kitabullah yang dibacakan kepada mereka, maka sebenarnya mereka belumlah mencintai kemuliaan dari sisi Allah. Kadangkala keadaan itu tergambar nyata dengan gejala mudahnya mereka tidak menghormati ketentuan-ketentuan dasar dari sisi Allah.

Kecintaan kepada Allah terbentuk melalui akhlak mulia, dan bentuk rincian akhlak mulia itu adalah ketakjuban terhadap cahaya tuntunan Allah yang terpancar hingga di alam dunia serta kecintaan mereka terhadap makhluk lain dengan mengikuti tuntunan Allah. Kedua perincian itu harus ada bersama-sama pada setiap hamba, walaupun setiap orang mungkin mempunyai komposisi yang berbeda-beda. Semakin jelas tuntunan Allah yang tercerap akalnya melalui ayat kitabullah dan ayat kauniyah, akan semakin besar ketakjuban dan kecintaan seorang hamba kepada Allah. Demikian pula semakin besar kecintaan terhadap makhluk lain maka ia akan semakin memahami arti kecintaan kepada Allah. Kecintaan demikian itu akan menumbuhkan harapan pertemuan dengan Allah.

Pembinaan akhlak itu harus dimulai dengan ketaatan dalam menjalankan tuntunan-tuntunan yang ditetapkan. Dengan ketaatan-ketaatan demikian, setiap orang hendaknya menggunakan pikiran untuk mencari pengetahuan yang benar dan menalarnya dengan benar. Dengan berpegang pada tuntunan kitabullah, akal harus digunakan bersama dengan pikiran untuk memahami petunjuk Allah terkait dengan sendi-sendi kehidupan, maka seseorang akan bisa merasakan kebenaran tuntunan Allah dengan rasa takjub yang membangkitkan kecintaan kepada Allah. Tanpa langkah yang benar, pemahaman terhadap kebenaran tuntunan-tuntunan Allah tidak terbentuk, dan tidak terbentuk pula akhlak mulia. Pemahaman terhadap tuntunan Allah lebih utama dari keinginan memberikan kebaikan kepada orang lain. Sangat banyak bentuk-bentuk yang dipandang sebagai kebaikan sebenarnya justru mendatangkan kerusakan.

Mengusahakan kebaikan harus dilakukan dengan seksama dengan mengikuti tuntunan. Tanda mengikuti tuntunan itu adalah terbentuknya diri dalam jamaah Rasulullah SAW. Manakala proses pengusahaan kebaikan justru membuat seseorang keluar dari al-jamaah, mereka sebenarnya tidak berbuat kebaikan karena kebaikan yang mereka lakukan sebenarnya justru merusak. Seringkali orang yang keluar dari al-jamaah memandang diri mereka sebagai kaum yang paling benar, tetapi tidak dapat menunjukkan pemahaman mereka berlandaskan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala mereka menunjukkan sebagian tuntunan yang bisa mereka gunakan tetapi menyalahgunakan tuntunan yang lain. Kadangkala mereka menggunakan tuntunan dengan penalaran yang salah. Hal demikian menjadikan mereka kesulitan atau tidak dapat menyadari dan memperbaiki diri untuk kembali mengikuti al-jamaah.

Manakala seseorang mengetahui amal terbaik yang dapat dilakukan seseorang atau suatu kaum atau umat manusia seluruhnya, ia bisa menyeru orang lain untuk mengerjakan karena akan menjadi amal shalih bagi orang lain juga. Pengetahuan itu terutama bila seseorang mengetahui urusan al-jamaah untuk ruang dan waktunya. Manakala seseorang tidak mengenal kedudukan dirinya dalam al-jamaah, setiap orang harus berusaha memberikan kebaikan dengan melihat keadaan diri masing-masing. Kebaikan itu kadangkala berwujud hal yang tampak kecil misalnya menghormati orang lain berbuat baik sesuai dengan keadaan diri. Hal itu mungkin tidak terlihat sebagai kebaikan dalam pandangan kebanyakan orang, tetapi merupakan hal yang sangat berharga bagi orang yang berbuat. Besarnya nilai ini tidak bersifat subjektif. Besarnya nilai terkait dengan ketentuan amal shalih yang telah ditetapkan Allah bagi setiap orang. Manakala seseorang menghormati perbuatan baik orang lain, ia menghormati ketentuan Allah. Sebaliknya, bila seseorang berusaha menghormati ketentuan Allah ia akan menghormati kebaikan dari seseorang. Bahwa seseorang mungkin tidak benar-benar berada pada amal shalih yang ditentukan, hal itu merupakan tanggung jawab dirinya sendiri bukan tanggung jawab publik.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar