Pencarian

Minggu, 16 Februari 2025

Kemudahan Membina Kalimah Thayibah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Hendaknya setiap orang memperhatikan langkah dirinya dalam mengikuti langkah Rasulullah SAW. Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan membentuk diri sebagai kalimah thayibah sesuai kehendak Allah, yaitu sebagaimana pohon thayibah yang akarnya teguh ke bumi dan cabangnya menjulang ke langit. Ini adalah keadaan yang harus terbentuk pada diri setiap muslim dalam mengikuti langkah Rasulullah SAW. Tanpa membentuk kalimah thayibah, seseorang yang berjihad tidak dapat dikatakan sebagai pengikut Rasulullah SAW karena mungkin jihad mereka hanya mengikuti hawa nafsu sendiri.

﴾۴۲﴿أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, (QS Ibrahim : 24)

Pohon thayibah merupakan pemahaman yang terbentuk pada diri seseorang terhadap cahaya Allah karena terbentuknya misykat diri. Jasmani manusia hendaknya dapat mengikhlaskan dirinya semata-mata untuk beribadah kepada Allah, tidak menginginkan banyak hal yang lain karena keinginan terhadap banyak hal akan menjadi lubang-lubang yang mengganggu terbentuknya bayangan misykat. Nafs manusia ibarat lensa yang mengatur fokus cahaya hingga terbentuk bayangan, nafs itu harus bersih dari noda-noda dan dapat bergerak mencari fokus yang sesuai untuk cahaya yang datang. Kalimah thayibah itu harus membentuk pohon thayibah diri yang akarnya teguh menghunjam ke bumi dan cabangnya menjulang ke langit.

Pohon thayibah tidak boleh tumbuh tanpa mempunyai akar di bumi, karena pohon yang tercerabut dari buminya adalah pohon yang buruk. Berakarnya manusia di bumi ditunjukkan dengan karya-karya dan amal shalih yang terhubung pada kauniyah bumi. Tidak semua karya yang merupakan akar pohon thayibah di bumi harus melahirkan benda fisik. Penataan umat termasuk sebagai akar pohon thayibah di bumi sekalipun tidak langsung terwujud benda fisik. Kadangkala penataan umat mendatangkan kemakmuran di tingkat fisik setelah berbagai tahapan proses. Terdapat beberapa sumber dalam diri manusia yang dapat memunculkan kekaryaan, baik berupa hawa nafsu, keinginan berkasih-sayang kepada orang lain ataupun keinginan mewujudkan kehendak Allah. Karya-karya yang bersumber dari hawa nafsu akan memberikan kepuasan bagi hawa nafsu baik diri sendiri atau orang lain atau justru kedengkian dari orang lain. Suatu keinginan memberikan kebaikan kepada orang lain akan melahirkan karya yang memberikan manfaat besar bagi manusia. Kekaryaan demikian terlahir melalui suatu kesadaran tentang kebutuhan umat terhadap karya tersebut, karenanya akan memberikan manfaat yang sebaik-baiknya. Karya yang bersumber dari kehendak Allah akan memberikan suatu penataan yang baik di bumi dalam berbagai tingkatan alam yang terkait.

Ketercerabutan suatu pohon dari bumi ditunjukkan dengan tidak adanya manfaat pada buah-buah yang dihasilkan. Kadangkala seseorang memperoleh pemahaman-pemahaman yang menyimpang dari tuntunan Allah sedemikian orang-orang yang mengikutinya tidak bisa memperoleh manfaat dari pemahaman-pemahaman yang diterimanya. Hal demikian menunjukkan bahwa pohon itu tercerabut dari bumi. Pada fisiknya, pohon yang buruk itu berbentuk pohon, dengan akar dan cabang-cabang yang tumbuh, tetapi pengetahuan dari pohon itu tidak memberikan manfaat dalam kehidupan di bumi. Manakala seseorang menerima petunjuk, hendaknya ia berusaha menemukan manfaat dari petunjuknya dalam kehidupan termasuk kehidupan di bumi. Kadangkala seseorang menerima suatu petunjuk dan mendewakan petunjuk itu sebagai firman Allah tanpa mengetahui makna petunjuknya, baik dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW ataupun makna berdasarkan manfaatnya bagi kebaikan dalam kebaikan di alam dunia. Atau suatu kaum boleh jadi mengikuti suatu petunjuk pada seseorang di antara mereka tanpa berusaha memahami konteksnya dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW ataupun kebaikan petunjuk itu bagi kehidupan dunia. Hal demikian dapat menyebabkan tumbuhnya pohon yang buruk tercerabut dari buminya.

Kemudahan Dalam Mengenal Perintah Allah

Membentuk pemahaman terhadap kehendak Allah merupakan hal yang mudah bagi orang-orang yang dimudahkan, dan merupakan hal yang sangat sulit bagi orang yang tidak dimudahkan. Allah tidak berbuat tidak adil dalam perkara demikian. Orang-orang yang dimudahkan untuk mengenal kehendak Allah terjadi karena keadaan orang itu, sedangkan sekian banyak manusia yang beriman atau merasa beriman tidak berhasil untuk mengenal pohon thayibah diri dengan usaha keras yang mereka lakukan. Kemudahan orang-orang yang mengenal kehendak Allah terjadi karena Allah memudahkan baginya untuk mengetahui kehendak-Nya. Allah menjelaskan kepada orang-orang demikian sebagian perintah dari perintah-perintah-Nya, maka orang-orang tersebut kemudian mempunyai kemudahan untuk mengenal sebagian dari perintah Allah.

﴾۸۸﴿وَأَمَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُ جَزَاءً الْحُسْنَىٰ وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا
Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang baik (al-husna), dan akan kami katakan kepadanya perintah dari perintah-perintah kami secara mudah (QS Al-kahfi : 88).

Pengetahuan seseorang tentang perintah Allah berbentuk bagian dari perintah Allah. Manakala seseorang mengenal perintah Allah tanpa mengenal bahwa perintah itu merupakan bagian dari urusan yang lebih besar, ia telah keluar dari al-jamaah. Apabila seseorang mengenal perintah Allah sebagai keseluruhan dari perintah Allah, ia sebenarnya tidak benar-benar mengenal perintah Allah. Hanya Rasulullah SAW yang mengenal keseluruhan dari perintah Allah, sedangkan orang lain mengenal hanya bagian-bagian dari perintah Allah. Sebagian memperoleh bagian yang besar dan sebagian memperoleh bagian yang merupakan penjelasan dari bagian besarnya hingga kadangkala perintah itu berupa amal-amal yang praktis dan fisis. Setinggi-tingginya makhluk, ia mengenal perintah Allah bagi dirinya itu sebagai bagian dari amr jami’ Rasulullah SAW tanpa ada suatu washilah di antaranya, sedangkan kebanyakan manusia mengenal perintah Allah itu sebagai bagian dari washilahnya kepada Rasulullah SAW. Seandainya seseorang belum mengenal washilahnya kepada Rasulullah SAW, setidaknya ia harus mengetahui bahwa perintah Allah itu merupakan bagian dari perintah-perintah Allah dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, bukan perintah yang menjadikan dirinya pemangku tunggal perintah Allah.

Ayat di atas merupakan cuplikan dari perkataan Iskandar Dzulqarnain tentang suatu kaum yang ditemuinya. Iskandar Dzulqarnain mengampu suatu bagian dari perintah Allah yang sebagian seharusnya diberikan kepada orang-orang yang ditemuinya, secara khusus kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Iskandar mengetahui bahwa ia membawa bagian tertentu dari perintah Allah, dan beliau membagikan dari bagiannya kepada orang-orang yang berhak di antara mereka. Bila hidup setelah zaman Rasulullah SAW, tentu beliau mengetahui bagian bagi dirinya dari tuntunan kitabullah Alquran, dan tentu menunjukkan dari kitabullah bagian yang bisa diberikan kepada orang lain, tidak hanya mengatakan urusan mengikuti pendapatnya sendiri.

Pada dasarnya, seseorang dapat memberikan suatu urusan dari Allah kepada orang lain dan sebaliknya seseorang dapat mencari urusannya Allah bagi dirinya melalui orang lain yang telah mengetahui urusan Allah yang terkait urusannya. Hubungan demikian membentuk hubungan washilah satu orang dengan orang lain. Hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa seseorang dapat menemukan secara benar urusan Allah untuk dirinya tanpa melalui orang lain, yaitu selama ia tetap mengetahui landasan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan mengetahui bahwa urusan Allah itu merupakan bagian dari urusan Allah bagi Aljamaah, bukan urusan Allah yang diberikan secara tunggal. Ia bisa mengenal kebenaran yang ada pada orang lain manakala orang itu menyampaikan kebenaran, dan merupakan keutamaan bila ia dapat mengenali kedudukan kebenaran itu.

Untuk dapat mengenali urusan diri melalui orang lain, seseorang harus beriman dan beramal shalih. Boleh jadi orang tersebut memberitahukan urusan Allah kepadanya, atau Allah menjadikan hatinya memahami urusan itu. Beriman dalam hal ini menunjukkan adanya suatu keyakinan terhadap kebenaran yang disampaikan. Keyakinan itu bukan suatu keyakinan membuta, tetapi berupa keyakinan karena terbentuknya sikap yang benar yang sama dengan berita kebenaran itu. Terdapat dua kondisi untuk hal semacam ini, yaitu (1) berita kebenarannya bernilai benar, dan (2)benarnya sikap orang yang mendengar. Seseorang yang membenarkan berita yang salah atau sebaliknya seseorang yang mendustakan berita yang benar tidak termasuk sebagai keimanan. Tidak terpenuhinya salah satu atau kedua kondisi di atas akan menjadikan seseorang terhalang dari mengenal urusan diri, sedangkan terpenuhinya kedua keadaan di atas akan menjadikan proses mengenal urusan menjadi mudah.

Syarat-syarat itu akan terlihat jelas bila seseorang berurusan dengan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala suatu berita yang dikatakan sebagai kebenaran bertentangan dengan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, berita kebenaran itu jelas bernilai salah. Manakala seseorang membenarkan berita yang salah demikian, ia telah bersikap salah. Bila ia mengikuti firman Allah daripada berita kebenaran yang salah, maka ia akan mempunyai kesempatan untuk bersikap benar. Bila ia membenarkan berita yang salah dengan meninggalkan firman Allah, ia tidak dapat dikatakan beriman. Sebaliknya, apabila suatu berita yang benar disampaikan dengan tuntunan kitabullah, hendaknya setiap orang membina dirinya untuk mampu membenarkan berita kebenaran itu hingga ia memahami kebenaran itu. Ia harus meninggalkan kabar kebenaran itu bila terbukti kesalahan logikanya atau ia boleh mengikuti kebenaran lain bila ia menemukan penjelasan yang lebih baik. Dengan jalan demikian, seseorang akan menjadi orang yang beriman hingga dimudahkan untuk mengenal urusan Allah untuk dirinya. Mustahil seseorang jaman ini dapat mengenal urusan Allah bagi dirinya dengan benar tanpa berpegang pada tuntunan Allah.

Pahala Kebaikan Al-husna

Keimanan dan amal shalih akan mendatangkan pahala kebaikan berupa al-husna. Pada bagian besarnya, al-husna berupa pengetahuan tentang kehendak Allah sehingga seseorang dapat beribadah mengikuti pengetahuannya tentang kehendak Allah. Alhusna akan mendatangkan keihsanan dalam beramal. Pengetahuan itu akan menjadi bekal baginya untuk mengenal amr dari amr Allah yang menjadi amanah baginya. Dengan terkumpulnya alhusna pada diri seseorang, Allah akan memfirmankan kepadanya amr-nya dari amr-Nya hingga orang tersebut mengenal suatu amr dari amr-amr Allah.

Tanpa al-husna, manusia akan terjebak dalam suatu waham kebenaran. Banyak orang yang berusaha untuk beramal shalih tetapi tidak keluar dari waham kebenaran mereka. Mereka beramal dengan tujuan dapat mengetahui amr Allah untuk diri mereka tetapi tidak beranjak mengenal perintah itu karena hanya mengikuti waham kebenaran. Hal ini terjadi karena sebenarnya mereka hanya mengikuti perkataan manusia, tidak bersungguh-sungguh ingin mengetahui kandungan firman Allah terkait dengan amal-amal yang mereka lakukan. Bukan berarti seseorang tidak boleh mengikuti langkah manusia lainnya, tetapi hendaknya ia melakukan dengan tetap berpegang pada tuntunan Allah. Kadangkala suatu kaum lebih mengikuti perkataan manusia daripada firman Allah hingga meninggalkan firman Allah yang disampaikan. Hal bukanlah suatu keimanan, karena itu mereka tidak memperoleh al-husna. Amal-amal shalih yang mereka lakukan bukanlah amal-amal shalih karena tidak mempunyai landasan keimanan, maka amal-amal itu tidak mendatangkan kemudahan dalam mengenal amr Allah.

Suatu kebenaran tertentu bisa menjadi penghalang bagi kebenaran yang lain karena syaitan memanfaatkan hawa nafsu manusia dan kebodohan mereka. Misalnya Rasulllah SAW menggunakan sistem kalender bulan, kemudian sebagian kaum bersikap berlebih-lebihan, membanggakan sistem kalender tunggal yang mereka ikuti hingga mencela orang-orang yang menggunakan sistem kalender matahari. Sikap demikian merupakan kebodohan dalam mengikuti kebenaran, karena matahari termasuk dalam ayat Allah dan sangat banyak manfaat dalam sistem kalender matahari. Banyak kasus lain terjadi yang menunjukkan suatu kebenaran menutup kebenaran yang lain, termasuk dalam urusan amr Allah. Karena sikap demikian, manusia tidak dapat mengenal kebenaran ayat-ayat Allah yang dihamparkan bagi mereka. Hal demikian terjadi karena manusia mengikuti kebenaran tanpa menggunakan akal untuk mengenal kebenaran hakikat dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka tidaklah mengenal al-husna yang dapat mengenalkan kepada amr Allah.

Di jaman ini, tidak sah bagi seseorang mengampu suatu urusan tanpa mengetahui landasannya dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak sah belum tentu salah, tetapi menunjukkan bahwa mungkin Allah tidak benar-benar menyampaikan perintah-Nya kepada sang hamba. Mungkin hamba itu harus belajar lebih banyak hingga kualifikasi tertentu sedemikian layak untuk disahkan. Bila diibaratkan dengan pekerjaan pembangunan jembatan, seorang pengawas pekerjaan beton harus mengetahui bentuk dan tempat beton dituangkan, mengetahui kualitas beton memenuhi syarat kekuatan dan kemudahan dibentuk, serta beton tidak menjadi debu ketika beban kendaraan melintas. Pengawas itu mengetahui rancangan pembuatan jembatan dan mengetahui cara pelaksanaan pekerjaan dirinya secara tepat untuk pembangunan jembatan secara keseluruhan. Ia tidak bekerja sendiri menuangkan beton dan mencetaknya secara sembarangan tanpa mengikuti rencana pembangunan. Ia tidak boleh melaksanakan pekerjaan berdasarkan perintah dari orang yang tidak berhak untuk memerintahkan. Demikian gambaran bahwa suatu ayat kitabullah harus diketahui kandungan maknanya dan implikasi teknis yang harus dipenuhi oleh seorang hamba dalam melaksanakan perintah Allah yang diperuntukkan bagi dirinya, tidak boleh digunakan atau dilaksanakan secara serampangan.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar