Pencarian

Minggu, 27 April 2025

Mengikuti Bashirah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Rasulullah SAW bersama orang-orang yang mengikuti menyeru umat manusia untuk kembali kepada Allah. Kembali kepada Allah merupakan usaha yang harus dilakukan sepanjang kehidupan sejak di bumi hingga kelak di akhirat, menempuh perjalanan yang sangat jauh. Ada orang-orang yang menempuh jalan yang paling pendek berupa shirat al mustaqim untuk kembali kepada Allah, dan sebagian besar manusia menempuh perjalanan berliku-liku yang sangat jauh hingga mungkin banyak orang tidak mengetahui lagi apa makna kehidupan diri mereka atau tidak mengetahui jalan untuk kembali kepada Allah. Rasulullah SAW menyeru umat manusia untuk dapat menemukan jalan kembali tersebut dan menyeru untuk menempuh jalan kembali. Demikian pula orang-orang beriman yang bersama beliau SAW menyeru manusia kepada Allah.

﴾۸۰۱﴿قُلْ هٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Katakanlah: "Inilah jalan-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah di atas bashirah, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". (QS Yusuf : 108)

Seruan tersebut dilakukan di atas bashirah yang jelas. Bashirah menunjukkan suatu pengetahuan terhadap kebenaran yang harus dijadikan arah melangkah. Orang-orang yang bersama Rasulullah SAW mempunyai pengetahuan tentang arah langkah yang perlu ditempuh umat manusia sebagai jalan kembali kepada Allah. Bashirah bukan berbentuk kilasan penglihatan-penglihatan mata bathin, tetapi suatu pengetahuan yang integral tentang kehendak Allah.

Rasulullah SAW menyeru umat manusia kembali kepada Allah berdasarkan bashirah yang jelas tentang kemuliaan yang dihamparkan Allah hingga di alam dunia. Seruan itu akan menjadikan manusia menjadi lebih mulia karena kedekatan kepada Allah, dan terwujud kehidupan yang lebih baik bagi seluruh makhluk. Demikian pula orang-orang yang mengikuti Rasulullah SAW menyeru dengan bashirah. Ada banyak kelompok-kelompok manusia atau muslimin yang mengatakan bahwa mereka menyeru kepada Allah tetapi sebenarnya mereka tidak mempunyai bashirah yang mampu menunjukkan jalan menuju kemuliaan. Sebagian seruan mereka menjadikan manusia bodoh dalam memahami tuntunan kitabullah, kehilangan kemampuan menggunakan akal untuk memahami tuntunan. Hal demikian bukanlah seruan kepada Allah. Seruan kepada Allah akan menjadikan manusia mengenal nilai-nilai kemuliaan yang akan mengantarkan manusia untuk dekat kepada Allah.

Contoh yang jelas tentang bashirah dapat dilihat pada pengetahuan urusan keberpasangan, di mana seseorang memperoleh suatu pengetahuan tentang suatu hakikat langit terkait jodoh diikuti pula dengan pengetahuan di bumi berupa pasangan jodohnya dari kalangan makhluk bumi. Di tingkat hakikat, diketahui bahwa setiap laki-laki diciptakan dari suatu nafs wahidah tertentu, dan setiap perempuan diciptakan dari nafs wahidah laki-laki tertentu. Suatu keberpasangan yang baik akan menumbuhkan kesuburan pada manusia hingga manusia dapat berkembang dengan baik. Itu adalah hakikat dari penciptaan manusia di alam yang tinggi yang dekat dengan Allah. Dalam kehidupan dunia, seseorang yang mempunyai bashirah mungkin mengetahui jodohnya yang demikian. Tidak banyak orang yang mengenal pasangan yang diciptakan dari nafs wahidah yang sama. Kebanyakan manusia melakukan pernikahan bukan berdasarkan hakikat penciptaan dirinya, dan hanya sedikit orang yang memperhatikan hakikat keberpasangan dirinya tersebut. Kebanyakan manusia memilih jodoh karena kecantikan/ketampanan, karena harta atau kedudukan dan hal-hal lain. Dari sedikit orang yang memperhatikan hakikat perjodohannya, tidak banyak orang yang benar-benar mengenal pasangannya. Di antara orang yang memperoleh petunjuk tentang jodohnya, tidak sedikit orang yang tidak mau menerima jodoh yang ada dalam petunjuknya. Bashirah mencakup pengetahuan yang benar secara integral tentang ketentuan Allah dari alam hakikat hingga alam praktis duniawi.

Bashirah membentuk pengetahuan yang integral tentang suatu urusan sesuai dengan kehendak Allah, sedemikian seseorang dapat bertindak secara praktis di bumi sesuai dengan kehendak Allah. Bashirah dalam urusan nafs wahidah di atas dapat ditemukan dalam bentuk integralitas pengetahuan dari pengetahuan tentang konsep perjodohan, pengenalan terhadap jodoh di alam dunia hingga amal-amal praktis dalam menempuh biduk rumah tangga dan segala hal yang terkait dengan pernikahan yang ditentukan Allah bagi dirinya. Sangat banyak ketentuan Allah bagi seseorang dalam menempuh pelaksanaan suatu urusan, dan setiap hamba harus berusaha untuk sebanyak mungkin memahami dan bertindak sesuai dengan ketentuan yang digariskan. Dalam setiap pilihan perbuatan, ada potensi hakikat yang bisa dicapai oleh seorang dengan amalnya dan ada pula potensi keharaman yang tidak boleh dilakukan hamba Allah. Hakikat itu akan menjadi bobot kebaikan, dan yang diharamkan itu akan menjadi dosa yang bisa menjadi benih tumbuhnya pemahaman yang salah. Seseorang bisa memilih salah satu dari semua kemungkinan perbuatan yang tersedia sehingga ia bisa memperoleh hakikat dalam bobot besar, bobot sedang, bobot kecil atau justru harus menanggung dosa karena pilihan amalnya.

Ada banyak hakikat digelar Allah, dan hakikat-hakikat itu membentuk suatu hubungan yang mengantarkan manusia mengenal Allah. Misalnya al-jamaah dan pernikahan. Al-jamaah merupakan bagian inti dari perjalanan kembali kepada Allah yang harus ditempuh dengan langkah berupa penyatuan nafs wahidah terhadap seruan Rasulullah SAW. Pernikahan merupakan turunan pertama dari penyatuan nafs wahidah yang seharusnya terwujud pada setiap hamba Allah yang mengikuti seruan itu sejak alam dunia. Pernikahan dapat digambarkan sebagai gerbang menuju al-jamaah, dan gerbang itu dihadirkan kepada setiap hamba Allah untuk mengarahkan langkahnya menuju al-jamaah. Penyatuan terhadap langkah Rasulullah SAW terjadi manakala seseorang menjalani pernikahannya sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sangat banyak hakikat-hakikat yang diperkenalkan Allah kepada makhluk dan seluruhnya terhubung dalam kesatuan pengetahuan hakikat yang menggelar ilmu Allah.

Yang dikatakan sebagai orang yang menyeru kepada Allah dengan bashirah yang nyata hanyalah orang yang mengerti arah seruan itu, juga implikasi arah itu pada amal-amal pada tingkatan praktis. Orang tidak sah mengaku menyeru kepada Allah sedangkan amalnya justru menimbulkan perpecahan umat di jalan Allah. Seandainya seseorang tidak mengetahui amal pada tingkatan praktisnya, setidaknya ia tetap menimbang amalnya untuk menyatu dengan Rasulullah SAW tidak menimbulkan perselisihan di jalan Allah. Setiap pelanggaran terhadap penyatuan al-jamaah merupakan penyelisihan atau penentangan terhadap seruan kepada Allah. Kadangkala dijumpai suatu kaum yang menyangka diri mereka menyeru kepada Allah tetapi dengan mudahnya melanggar aturan dengan alasan yang tidak jelas tetapi dipandang baik. Manakala terkait pernikahan, perbuatan semacam itu semisal dengan memindahkan gerbang al-jamaah menuju sesuatu selain al-jamaah. Atau suatu kaum kadangkala memperjuangkan syariat tetapi justru menimbulkan kekisruhan di antara umat islam tanpa mengerti arah penyatuan nafs wahidah. Mereka mengacaukan proses kembali kepada Allah. Hal-hal demikian menunjukkan mereka tidak mengerti makna menyeru kepada Allah dengan bashirah.

Orang-orang yang menyeru di atas bashirah mempunyai pengetahuan terkait urusan yang mereka kerjakan, sedemikian seruan mereka akan menjadikan orang yang diseru menjadi semakin dekat kepada Allah dengan bertambahnya akhlak mulia ataupun unsur-unsur akhlak mulia. Boleh jadi pengetahuan seseorang itu sedikit tetapi dapat mengantarkan orang yang mengikutinya semakin dekat kepada Allah, maka sedikitnya itu termasuk dalam bashirah. Bila suatu seruan menjadikan orang yang diseru semakin buruk, orang tersebut sebenarnya berdosa merusak tatanan Allah, dan ia tidak di atas bashirah. Pelanggaran-pelanggaran terhadap ketentuan yang diberikan Allah bagi hamba-Nya merupakan dosa yang akan mendatangkan kesengsaraan di bumi. Pemutusan shilaturrahmi, mencegah ishlahnya orang beriman, perusakan keberpasangan manusia, perusakan rumah tangga dan hal-hal yang merusak ketentuan-ketentuan Allah bagi manusia merupakan dosa yang merusak ketentuan tatanan dari sisi Allah.

Bersungguh-sungguh Mengikuti Bashirah

Bobot seorang mukmin dalam pandangan Allah terletak pada pengetahuannya terhadap hakikat. Mengumpulkan pengetahuan hakikat paling efektif dilakukan dengan berjihad melaksanakan bashirah tentang ketentuan Allah. Seseorang yang mengenal suatu hakikat tertentu di sisi Allah kemudian harus berjihad menata kehidupannya di bumi sesuai dengan hakikat yang dikenalnya. Sebagai gambaran, mungkin seseorang mengenal jodoh dirinya di bumi yang diciptakan dari nafs wahidah yang sama. Petunjuk itu merupakan suatu bashirah apabila ia memahami manfaat yang dapat diperoleh dengan mengikuti petunjuk sesuai ketentuan-ketentuan Allah dan sesuai dengan kauniyah yang terjadi. Dengan petunjuk itu ia harus berjuang keras untuk mewujudkan penyatuan nafs wahidah tersebut.

Suatu bashirah merupakan pengetahuan dalam mengikuti perintah Allah, dan hal itu seringkali bertentangan dengan keinginan hawa nafsu dan syahwat. Misalnya bisa saja keadaan bumi orang yang berjodoh menurut bashirah sama sekali tidak ideal, tidak bisa dibayangkan sama sekali romantisme keberpasangan. Boleh jadi mereka adalah pihak-pihak yang berseteru sebelum memperoleh petunjuk jodoh, maka mereka harus berjuang untuk melakukan ishlah terlebih dahulu, kemudian menjalin shilaturrahmi, baru dapat mengenal sifat dan sikap yang asli dari masing-masing pihak tanpa tertutup oleh prasangka buruk. Usaha itu kadang harus dilakukan hingga masing-masing meyakini bahwa memang benar mereka berjodoh. Sangat banyak kemungkinan salah paham, salah informasi dan perbedaan pendapat yang bisa terjadi dalam hubungan demikian. Setiap pihak boleh jadi perlu membangun kesepahaman bersama, meluruskan kesalahan-kesalahan informasi dan persepsi dan menselaraskan langkah untuk menerima perbedaan yang mungkin akan tetap ada di antara mereka. Mungkin akan terbantu apabila setiap pihak berkeinginan untuk mengikuti bashirah mereka, tetapi resiko kesalahpahaman itu tetap membayangi.

Upaya mewujudkan bashirah ini sangat menentang tipu daya syaitan hingga para syaitan berusaha keras menghambatnya. Sekadar untuk ishlah saja, kedua pihak itu bisa dibenturkan sangat keras dengan mengobarkan perselisihan yang pernah ada atau dikobarkan perselisihan baru. Shilaturrahmi kadangkala tampak bagaikan hal yang mustahil ditempuh. Syaitan membangkitkan halangan-halangan. Halangan itu bisa dimunculkan syaitan di dalam diri masing-masing pihak ataupun orang-orang lain di masyarakatnya. Kadangkala di tingkat bashirah perjodohan-pun mereka dipermasalahkan oleh orang lain. Boleh jadi ada orang yang merasa lebih mengetahui hakikat urusan mereka dan mempermasalahkannya, sekalipun orang tersebut mungkin tidak mengetahui ketentuan dalam urusan itu. Masyarakat yang tidak berpegang pada tuntunan yang benar atau justru mengikuti takhayyul rentan berbuat demikian, bahkan kadang berbuat tanpa memperhatikan ketentuan halal atau haram. Seringkali jerih payah masing-masing pihak yang berjodoh untuk mewujudkan perjodohan mereka tidak dipertimbangkan dalam bobot kebenaran visinya. Sangat banyak halangan yang bisa dibuat oleh syaitan untuk orang yang berusaha mewujudkan langkah berdasarkan bashirah.

Ada potensi masalah internal pada pasangan demikian berupa kegamangan melaksanakan petunjuk Allah karena perselisihan masa lalu. Masalah mereka sebagai orang beriman boleh jadi bukan berupa dendam perselisihan, tetapi rasa gamang menghadapi akhlak pasangannya yang diketahui berdasar masa lalu. Syaitan banyak berperan dalam perselisihan antara individu-individu berpasangan hingga boleh jadi masing-masing individu dijadikan merasa heran dan tidak percayabahwa partnernya bisa berperilaku sedemikian buruk terhdap dirinya. Banyak prasangka yang bisa timbul dalam diri seseorang karena perlakuan buruk orang lain baik prasangka yang timbul sendiri dalam pikiran manusia ataupun prasangka yang dihembuskan syaitan, dan syaitan sangat berkepentingan dengan prasangka-prasangka manusia untuk siasat mereka. Kegamangan demikian dapat diredam dengan suatu shilaturahmi yang baik atau ta'aruf agar pasangan bisa lebih mengenal akhlak yang sebenarnya tidak berdasar persepsi yang salah atau kesalahan informasi. Tetapi upaya demikian ini juga akan dihalangi atau dibiaskan syaitan baik melalui diri masing-masing ataupun masyarakat yang buruk.

Demikian itu gambaran yang jelas tentang suatu bashirah khususnya tentang perjodohan. Bashirah itu berupa suatu visi tentang perintah Allah yang memberikan manfaat untuk menuju kemuliaan baik diri sendiri ataupun umat manusia secara keseluruhan. Banyak hal yang akan diketahui oleh orang-orang yang diberi bashirah terkait proses menuju kemuliaan berdasarkan bashirah. Bashirah perjodohan itu bukan suatu luapan keinginan syahwat atau hawa nafsu yang muncul melalui penglihatan bathin, tetapi suatu urusan yang haq dari sisi Allah untuk mewujudkan kemuliaan. Banyak orang yang memperoleh suatu penglihatan jodoh tetapi tidak mempunyai pengetahuan tentang manfaat sesuai ketentuan Allah atau bahkan tidak mengukur kehalalannya berdasarkan syariat, maka hal demikian bukanlah suatu bashirah. Manakala seseorang memperoleh bashirah, hendaknya umat tidak menganggap remeh. Tidak jarang umat menimbulkan gangguan terhadap orang yang mempunyai bashirah hingga menambah kesulitan dalam menempuh langkah mengikuti bashirah.

Dalam situasi perselisihan atau perbantahan, setiap orang harus berusaha melangkah yang terbaik. Pada dasarnya perbantahan tidak diperbolehkan terjadi di antara orang beriman. Manakala seseorang mempunyai visi perjodohan dirinya, ia boleh mengusahakan terwujudnya perjodohan itu dengan dialog manakala terjebak pada situasi yang mengarah perbantahan. Boleh jadi pihak jodohnya perlu diperjuangkan pula haknya untuk menempuh setengah bagian agamanya. Bila pihak jodohnya tidak sepakat dengan dengan visi perjodohan itu, berdialog memperjuangkan visi dalam situasi perbantahan itu tidak berguna dan tidak perlu dilakukan. Boleh jadi visi itu hanya berasal dari syahwat diri, hawa nafsu atau syaitan. Dalam kasus lainnya, usaha dialog sekalipun tampak diperlukan kadang justru meluaskan terbakarnya persoalan lain. Misalnya manakala umat seseorang dihasut untuk durhaka padanya karena persoalan visi yang diperoleh, ia berhak berjuang untuk mencegah meluasnya hasutan durhaka itu dengan dialog atau berbantah kepada penghasutnya agar tidak menambah persoalan dalam upaya mengikuti bashirahnya. Pihak-pihak yang memperoleh visi perjodohan yang sama tidak boleh menempuh langkah yang menimbulkan masalah meluasnya persoalan bagi pihak lainnya, karena itu akan merusak hubungan mereka sendiri.

Setiap orang harus berusaha mengikuti bashirahnya. Bashirah itu merupakan jalan kembali bagi dirinya kepada Allah yang layak untuk diperjuangkan. Bila seseorang berjalan untuk mewujudkan bashirahnya, akan banyak hakikat terkait urusan bashirahnya yang terbuka sekalipun jika bashirahnya itu belum atau tidak terwujud. Kadangkala jalan untuk mewujudkan bashirah terbuka setelah semua kesulitan yang ditempuh. Apabila ia telah berusaha melaksanakan bashirah dirinya, ia dapat menyeru orang lain kepada Allah dengan benar berdasarkan bashirahnya. Bila ia mengingkari bashirah jalan kehidupan dirinya, ia tidak berada di atas bashirah dan seruan itu tidak dihitung sebagai bashirah yang benar. Manakala seseorang tidak mempunyai bashirah yang benar baik karena bashirah yang keliru ataupun mengingkari bashirah yang benar, ia tidak berada di atas bashirah. Orang yang bersama Rasulullah SAW menyeru manusia kepada Allah hanyalah orang-orang yang menyeru dengan bashirah yang nyata. Bashirah yang benar itulah yang akan mengantarkan manusia untuk dekat kepada Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar