Pencarian

Minggu, 20 April 2025

Shirat Al-Mustaqim dan Misykat Cahaya

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Dalam kehidupan dunia, ada banyak jalan kehidupan yang ditempuh oleh manusia. Di antara jalan-jalan yang ditempuh manusia, ada suatu bentuk jalan kehidupan yang merupakan jalan yang lurus untuk kembali kepada Allah. Sebagian besar manusia belum mampu mengenal jalan kehidupan yang ditentukan bagi dirinya. Bila ia mengikuti shirat al-mustaqim orang-orang yang mengenalnya, ia akan menemukan al-jamaah.

﴾۳۵۱﴿وَأَنَّ هٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
dan bahwa ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (QS Al-An’aam : 153)

Seseorang dikatakan mengenal shirat al-mustaqim apabila ia mengenal amanah Allah dalam kitabullah Alquran yang diberikan sebagai tugas bagi dirinya dalam kehidupannya. Alquran akan menjadi penyeru kepada seseorang untuk melangkah di atas shirat al-mustaqim secara istiqamah. Manakala orang demikian mengikuti seruan yang menyimpangkan dirinya dari seruan kitabullah Alquran, ia akan tercerai-berai atau tersesat. Tidak mengikuti suatu shirat al mustaqim merupakan pelanggaran terhadap perintah Allah, karena muslimin diperintahkan untuk mengikuti shirat al mustaqim, dan bahkan diperintahkan pula untuk meninggalkan jalan-jalan yang lain karena akan mencerai-beraikan mereka dari jalan Allah. Muslimin yang mengetahui seruan kitabullah Alquran untuk melangkah padanya, maka ia adalah muslim yang telah mengetahui shirat al mustaqim. Hendaknya mereka mengikuti seruan kitabullah Alquran tersebut dan meninggalkan langkah-langkah yang lain.

Meninggalkan langkah selain shirat al mustaqim berlaku bagi setiap muslimin, tetapi kadangkala tidak dapat diterapkan karena sebagian kaum muslimin belum memahami shirat al mustaqim. Mengikuti shirat al mustaqim harus dilakukan berdasarkan suatu pemahaman bahwa yang mereka lakukan benar-benar merupakan perintah Allah. Orang yang tidak meyakini bahwa amal yang telah dan sedang mereka lakukan adalah perintah Allah hendaknya tidak berhenti berusaha untuk menemukan amal yang benar-benar merupakan perintah Allah. Perintah meninggalkan amal-amal selain shirat al-mustaqim tidak boleh dilupakan, tetapi belum tentu apa yang telah dan sedang mereka lakukan adalah shirat al-mustaqim, karena itu seseorang mungkin tidak harus meninggalkan kemungkinan-kemungkinan amal yang lain manakala belum meyakini amalnya berada pada shirat al mustaqim. Mengikuti shirat al mustaqim harus dibina berdasarkan pemahaman terhadap petunjuk-petunjuk Allah, dan usaha itu harus dilakukan dengan meningggalkan jalan-jalan kehidupan yang terlihat tidak perlu ditempuh.

Muslim demikian hendaknya lebih sungguh-sungguh mencari pengetahuan tentang kehendak Allah untuk memahami shirat al mustaqim. Dengan bertambahnya keyakinan tentang benarnya pemahaman dan amalnya, seseorang hendaknya semakin mengikutinya hingga ia mampu meninggalkan jalan-jalan kehidupan lain selain shirat al-mustaqim. Mengikuti suatu jalan kehidupan tertentu tanpa suatu landasan pemahaman kebenaran akan menjadikan seseorang menjadi buta dari jalan Allah, tetapi mengikuti semua jalan kehidupan manusia akan mencerai-beraikan kehidupannya dari jalan yang benar. Setiap orang hendaknya mengikuti jalan kehidupan tertentu yang dinilai paling baik tanpa memandang buruk jalan kehidupan yang baik lainnya dengan bersikap mau memikirkan kebenaran yang disampaikan orang lain. Dengan cara demikian, ia akan mengalir menuju shirat al mustaqim di mana ia dapat membangun keyakinan sepenuhnya bahwa ia telah mengikuti shirat al-mustaqim. Orang-orang yang telah mengikuti shirat al mustaqim akan terlihat sebagai kaum yang dapat memahami kebenaran sekalipun dari orang lain, tetapi dapat bersikap keras terhadap kebathilan, tidak terbalik-balik dalam bersikap.

Banyak bentuk amal orang-orang yang berusaha mengikuti kebenaran. Ada kelompok muslimin yang sebenarnya dibina oleh orang-orang musyrik sebagaimana kaum khawarij yang dibentuk musyrikin berdasar bantuan syaitan menggunakan ayat-ayat Allah dan hadits-hadits nabi SAW. Ada orang-orang yang mencari bagian duniawi yang banyak dengan menggunakan ajaran-ajaran agama. Ada orang-orang yang berusaha untuk berjuang untuk menegakkan agama tetapi belum benar-benar memahami petunjuk Allah. Orang-orang yang mengenal shirat al mustaqim adalah orang-orang yang memahami ayat-ayat Allah dan memahami amr jami’ Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman mereka, dan mereka berjuang untuk merealisasikan petunjuk-petunjuk Allah di alam dunia. Mereka bersifat rahman dan rahim terhadap semua makhluk tanpa meninggalkan sikap keras terhadap orang-orang yang berbuat kebathilan dan kejahatan terhadap orang lain dengan sikap sejauh kemampuan dan keadaan diri mereka.

Memilih jalan yang harus diikuti harus dilakukan dengan mempertimbangkan keadaan-keadaan di atas, tidak bersikap membuta mengikuti orang lain. Bila ia mengenal golongan khawarij berdasarkan nash yang jelas, ia harus menghindari mengikutinya karena mereka akan keluar jauh dari islam. Manakala ia mengetahui seorang panutan hanya memanfaatkan ilmu untuk mengumpulkan harta tanpa memanfaatkannya untuk sabilillah secara proporsional, ia hendaknya tidak terus mengikutinya. Apabila ia menemukan bahwa pemahamannya terhadap jalan Allah berhenti pada pemahaman hawa nafsu atau waham-waham saja, hendaknya ia berusaha menemukan pemahaman yang lebih bermakna bagi kehidupan dirinya. Bahkan di antara orang-orang yang mengikuti shirat pun mungkin ada orang-orang yang tergelincir atau tersesat, karenanya sikap membuta sama sekali tidak boleh dilakukan. Setiap orang harus membina pemahaman terhadap perintah Allah dengan benar. Bisa saja seseorang yang telah mencapai tahap perjalanan tertentu kemudian tersesat, maka orang yang mengikutinya akan menjadi ikut tersesat apabila tidak disertai membina pemahaman terhadap perintah Allah. Bila setiap orang membina pemahaman dengan benar, mereka tidak akan mengikuti kesesatan yang terjadi walaupun mungkin belum pula mampu mencegah kesesatan yang terjadi, setidaknya ia tidak ikut tersesat.

Shirat al mustaqim akan dapat dirasakan manakala seseorang bisa merasakan makna-makna hakiki kehidupan berdasarkan tuntunan Allah, bukan makna-makna yang dibuat-buat tetapi makna-makna dimana ia mengetahui kebaikan-kebaikan yang dapat dilakukan bersama orang-orang yang mengenal shirat al-mustaqim. Apabila seseorang merasakan hal demikian, hendaknya ia mengikuti shirat al mustaqim dan mulai berusaha meninggalkan jalan-jalan lain yang kurang bermakna. Hendaknya ia jujur dalam mengikuti langkah-langkah tidak memaksakan diri untuk mengerjakan urusan-urusan yang ia tidak memahami maknanya. Ia harus berusaha lebih dekat dengan seseorang yang bisa membantu dirinya membina makna kehidupan yang lebih baik, tidak berusaha mencapai tempat setinggi-tingginya tanpa mengenal makna kebaikan yang dapat dilakukannya dengan kedudukan itu. Dalam suatu jamaah, setiap orang mempunyai kedudukan tertentu bersama sahabatnya, maka langkah demikian akan menjadikan seseorang mengenal kedudukan dirinya dalam amr jami’ Rasulullah SAW. Hasrat untuk berada pada kedudukan setinggi-tingginya kadangkala merupakan kebodohan karena mungkin ia akan terlalaikan dari amal-amal yang seharusnya ia kerjakan.

Pembinaan demikian tidak boleh melupakan dasar-dasarnya. Alquran dan sunnah Rasulullah SAW adalah landasan paling kokoh yang tidak boleh ditinggalkan, dan keduanya menjadi bahan untuk membina pemahaman sepanjang perjalanan taubat. Selain keduanya, ada orang-orang yang akan sangat membantu pembinaan memahami petunjuk Allah, maka hendaknya mereka mentaati orang-orang tersebut tidak meninggalkannya kecuali manakala mereka meninggalkan Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Meninggalkan tuntunan orang-orang yang menuntun akan menjadikan seseorang meninggalkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala mereka menemukan sahabat, hendaknya mereka bersama-sama dengan sahabatnya karena akan membina sifat kasih sayang dan lebih mengarahkan jalan yang benar. Seorang suami atau isteri merupakan setengah bagian dari agama karena mewakili fungsi kebersamaan demikian. Tetapi hal ini tidak bersifat mutlak. Kadangkala seseorang harus membina makna kehidupan tanpa sahabat. Hal itu bisa saja terjadi tetapi ia tidak boleh terpisah dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sebenarnya demikian ini sangat jarang terjadi. Secara umum, kaum muslimin harus berkeinginan mengikuti langkah-langkah orang benar di atas shirat al mustaqim tanpa ingin dipandang sebagai tokoh perintis.

Memahami dengan Misykat Cahaya

Memahami shirat al mustaqim tidak dapat dibangun dengan pikiran-pikiran yang tidak tertuntun. Setiap muslim harus berusaha untuk melakukan tazkiyatun-nafs untuk memperkuat akal dalam memahami kehendak Allah dengan tepat. Tazkiyatun nafs dilakukan dengan berbagai proses meliputi pembinaan jasmaniah untuk dapat mengarahkan wajah seluruh aspek jasmani kepada Allah, pensucian nafs agar cahaya Allah dapat sampai ke dalam qalb tanpa terhalang noda-noda yang mengotori pemahaman, dan membina nafs agar dapat membentuk bayangan dari cahaya Allah hingga terbentuk bayangan kehendak Allah secara tepat.

﴾۵۳﴿ اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS An-Nuur : 35)

Pembinaan pemahaman terhadap kehendak Allah dalam diri muslimin itu dapat diibaratkan dengan pembinaan misykat cahaya. Gambaran misykat cahaya dapat ditemukan dalam bentuk kamera atau mata manusia. Misykat cahaya berfungsi untuk membentuk bayangan sesuai dengan objek yang dibidik. Manakala seseorang membidik objek pohon dengan kamera, ia sebenarnya membentuk bayangan di dalam kamera dari cahaya pohon yang dibidik. Manusia sebenarnya dapat diibaratkan layaknya suatu kamera bagi cahaya Allah, di mana seorang beriman dapat membentuk bayangan dalam qalbnya sebagai gambar dari kehendak Allah bagi dirinya. Pembinaan pemahaman terhadap kehendak Allah dalam diri manusia harus dilakukan dengan membentuk diri manusia sebagai misykat cahaya terhadap cahaya Allah.

Jasmani manusia merupakan badan kamera yang menahan cahaya-cahaya yang datang secara acak agar tidak merusak bayangan yang terbentuk. Badan kamera hanya mempunyai satu lubang cahaya yaitu pada lensa, sedangkan cahaya yang tidak melalui lensa tidak boleh menembus badan kamera. Jasmani manusia harus dibina agar dapat ikhlas menghadapkan wajah semata-mata kepada Allah tidak melewatkan banyak hal ke dalam dirinya. Bila manusia menginginkan banyak hal dari selain Allah, ia telah melewatkan banyak cahaya ke dalam dirinya yang akan merusak cahaya Allah. Tidak akan terbentuk bayangan cahaya Allah dalam jasmani yang menginginkan banyak hal dari selain Allah.

Nafs manusia merupakan lensa yang mengarahkan cahaya hingga dapat terbentuk bayangan yang tajam. Untuk dapat membentuk bayangan yang baik, lensa harus dibersihkan dari kotoran-kotoran yang mengganggu. Manakala suatu lensa kotor, akan terbentuk bayangan-bayangan yang keliru di dalam misykat bukan bayangan yang benar dari cahaya yang datang. Selain bersih dari kotoran, lensa harus diposisikan secara tepat terhadap cahaya yang datang. Tanpa mengatur lensa, tidak akan terbentuk bayangan yang tajam dalam misykat atau bahkan tidak terbentuk bayangan sama sekali. Tidak kalah penting, untuk membentuk bayangan cahaya Allah setiap misykat harus diarahkan kepada sumber cahaya yang benar.

Proses tazkiyatun nafs harus dilakukan hingga seseorang dapat membentuk pemahaman terhadap kehendak Allah. Membentuk pemahaman itu adalah membentuk bayangan cahaya Allah dalam qalb. Untuk membentuknya, setiap orang harus mampu menggunakan penalaran yang benar dan memilih berita yang benar dan berguna. Bila seseorang menggunakan penalaran yang rusak, bayangan cahaya yang terbentuk tidak akan benar. Demikian pula manakala menggunakan sembarang berita tanpa menimbang kebenaran atau nilai manfaatnya, mereka sebenarnya hanya membentuk bayangan yang sia-sia bukan cahaya Allah. Setiap orang harus benar-benar menggunakan penalaran yang benar dan memilih berita yang benar, dan itu yang akan membentuk bayangan cahaya Allah dengan benar.

Seseorang tidak boleh mencomot sembarang berita untuk digunakan sebagai bahan olah penalaran. Ini tidak berarti boleh bersikap abai terhadap semua berita, tetapi hendaknya setiap berita dinilai bobot kebenaran yang ada padanya sebelum benar-benar digunakan sebagai bahan olah penalaran. Berita benar yang disampaikan berdasarkan kitabullah hendaknya diperhatikan dengan sungguh-sungguh karena tidak ada berita yang lebih benar dari kitabullah Alquran. Kafir terhadapnya ataupun lebih mempercayai berita selain dari kitabullah sama saja bobotnya, yaitu mereka akan sesat menjadi ahli neraka. Kadangkala ditemukan kelompok manusia yang tidak mempunyai keberanian untuk memahami berita benar yang disampaikan berdasarkan kitabullah Alquran. Orang yang paling sesat justru berasal dari kalangan orang yang mempunyai mata, telinga dan hati bathiniah tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat Allah. Orang beriman hendaknya berusaha memahami berita benar, dengan tidak berhasrat memberikan komentar terhadap segala persoalan kecuali diperlukan karena ia akan kehilangan kesempatan menilai bobot berita yang dihadapinya. Hendaknya ia membina suatu struktur pengetahuan yang memberikan manfaat bagi dirinya, hingga ia dapat memilih berita yang benar untuk melakukan olah penalaran yang benar hingga dapat memahami kehendak Allah dengan benar.

Dasar penalaran yang benar dan berita yang benar harus dibina dengan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, karena keduanya merupakan berita yang paling benar. Memilih berita yang benar selanjutnya akan dapat dilakukan dengan berlandaskan struktur pengetahuan yang telah ada. Bila tidak terbina landasan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, seseorang tidak akan mempunyai landasan dalam memilih berita yang benar hingga mudah terombang-ambing dalam berbagai keinginan ataupun berita yang mungkin sebenarnya tidak bermanfaat. Manusia akan terus dalam keadaan mengambang tidak mempunyai pijakan yang kokoh untuk melangkah. Kadangkala bukan sekadar mengambang, tetapi manusia bisa saja tersesat dengan ilmunya sendiri. Dasar-dasar dari kitabullah harus dibina agar manusia dapat berkembang dalam menalar secara benar sehingga terbentuk sebagai misykat untuk memahami cahaya Allah.

Terbentuknya misykat inilah yang akan mengantarkan seseorang dapat mengenali shirat al mustaqim, mengikutinya dan meninggalkan jalan-jalan lain yang mencerai-beraikan diri mereka dari jalan Allah. Shirat al mustaqim tidak dapat dikenali dengan benar berdasarkan pendapat hawa nafsu, tetapi harus dibentuk dengan membentuk pemahaman terhadap kehendak Allah melalui pembentukan misykat cahaya yang dapat berfungsi dengan benar. Dengan misykat yang benar, seseorang atau suatu kaum akan memiliki kecenderungan menyatu dalam jalan Allah, berbeda dengan pemahaman hawa nafsu yang cenderung beradu kebenaran. Ada misykat-misykat cahaya yang dapat membentuk bayangan cahaya tetapi tidak sepenuhnya bayangan cahaya Allah, tetapi menyangka semua bayangan yang terbentuk adalah cahaya Allah. Hal itu bisa sangat berbahaya dan harus benar-benar diperhatikan. Setiap orang harus dibentuk untuk memahami tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW dengan membentuk misykat dengan hanya satu lubang cahaya yang mengarah pada ayat Allah, atau banyak ayat-ayat Allah. Yang penting bahwa bayangan yang terbentuk adalah bayangan cahaya Allah, hingga bersih dari bayangan-bayangan dari yang lain.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar