Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Jalan menuju kedekatan kepada Allah akan ditemukan apabila seseorang membina visi kehidupan berdasarkan tuntunan kitabullah Alquran. Sangat banyak visi kehidupan yang dapat dibangun oleh manusia, dan visi terbaik yang dibangun adalah visi-visi berdasarkan tuntunan kitabullah Alquran. Selain dari visi terbaik itu, ada visi-visi lain yang bermacam-macam hingga dapat ditemukan visi-visi yang menjadikan umat manusia memandang Rasulullah SAW sebagai orang gila. Visi-visi demikian itu adalah visi yang dibangun oleh orang-orang kafir untuk menggelincirkan orang-orang beriman.
﴾۱۵﴿وَإِن يَكَادُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُولُونَ إِنَّهُ لَمَجْنُونٌ
Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar pengajaran (Al Quran) dan mereka berkata: "Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila". (QS Al-Qalam : 52)
Orang-orang kafir sebenarnya membangun visi-visi yang menjadikan orang-orang beriman tergelincir dari mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Visi itu pada ujungnya akan menjadikan orang-orang yang mengikuti Rasulullah SAW mengatakan bahwa Rasulullah SAW adalah orang gila. Barangkali hal itu suatu hal yang tidak mudah dilakukan terhadap orang-orang beriman. Ada jalan yang lebih mudah untuk menggelincirkan orang beriman, yaitu agar mereka mengatakan orang-orang yang memperoleh pengajaran kitabullah Alquran dan menyampaikan kepada umat mereka, mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan sungguh-sungguh adalah orang-orang yang gila.
Pengajaran dari kitabullah Alquran yang diberikan Allah kepada seorang hamba-Nya bisa saja dijadikan oleh orang-orang kafir sebagai bahan untuk menjadikan manusia memandang hamba tersebut sebagai orang gila. Orang yang memperoleh pengajaran dari kitabullah mungkin saja dipandang sebagai orang gila oleh kaumnya karena usaha orang-orang kafir. Kaum muslimin bisa saja menjadi kaum yang mendustakan pengajaran dari kitabullah Alquran yang disampaikan oleh seorang hamba Allah di antara mereka karena cara pandang orang-orang kafir, hingga kaum muslimin memandang hamba Allah tersebut sebagai orang gila. Manakala kaum muslimin memandang hamba Allah yang menyampaikan pengajaran dari kitabullah Alquran sebagai seorang yang gila, mereka sebenarnya telah digelincirkan oleh orang-orang kafir, baik kafirin dari kalangan manusia ataupun kafirin dari kalangan iblis yang bersekutu dengan manusia. Visi yang dibangun oleh orang-orang kafir (bersama para syaitan) dapat menggelincirkan manusia dari jalan Allah hingga mereka mengatakan bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang gila, atau orang-orang yang menerima pengajaran Alquran dan menyampaikannya sebagai orang yang gila.
Mencari Kebenaran
Pengajaran dan ketergelinciran harus diukur dengan berpedoman pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak berdasar pada pikiran sendiri. Kaum muslimin yang berusaha mengikuti pengajaran kitabullah Alquran dengan benar dan sungguh-sungguh adalah orang-orang yang lebih kokoh langkahnya, sedangkan muslimin yang mendustakan pengajaran kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW adalah orang-orang yang tergelincir dari jalan Allah. Manakala dua pihak di antara muslimin menuduh muslimin lainnya tergelincir dari jalan Allah, orang yang menyalahi tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW telah tergelincir. Pihak lain yang benar-benar tegak di atas tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW sepenuhnya mungkin selamat, sedangkan ia tidak ingin menyalahi menyalahi firman-Nya dan sunnah. Orang-orang yang hanya beriktikad mengikuti perintah Allah tanpa memperhatikan firman-Nya dalam kitabullah Alquran tidak akan selamat.
Ketergelinciran bukan kesalahan yang dilakukan orang-orang kafir, menunjukkan kesalahan prinsip pada muslimin yang menjatuhkan langkah mereka dari jalan Allah. Banyak kesalahan yang bisa terjadi di antara muslimin tetapi boleh jadi tidak tergolong sebagai ketergelinciran, ditandai dengan mudahnya pelakunya untuk menyadari kesalahan yang terjadi untuk memohon ampunan atas kesalahan tersebut. Suatu ketergelinciran disebabkan kekeliruan prinsip dalam tatacara menentukan pilihan kehidupan, sedemikian bisa saja seorang muslim atau muslimin menganggap bahwa Rasulullah SAW sebagai orang gila. Suatu ketergelinciran membuat nilai suatu amal tidak dalam posisi yang jelas. Manakala seseorang beramal untuk Allah, ia mungkin tergelincir beramal membantu syaitan. Atau manakala seseorang menginginkan mencapai sasaran dalam agama, ia bagaikan memanjat pohon pinang yang dilicinkan, maka usahanya untuk mencapai sasaran itu sia-sia.
Semua kekeliruan prinsip dalam tatacara menentukan pilihan kehidupan termasuk dalam ketergelinciran walaupun bila mereka tidak sampai memandang Rasulullah SAW sebagai orang gila. Memandang orang yang sungguh-sungguh mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan benar sebagai orang gila juga termasuk tanda-tanda ketergelinciran. Sekalipun tidak menyentuh pengubahan akidah keimanan, ketergelinciran karena pengubahan prinsip-prinsip menentukan langkah kehidupan sangat merusak kehidupan muslimin. Sebagian kaum muslimin akan babak belur karena langkah-langkah yang ditempuh orang yang tergelincir, bahkan Rasulullah SAW mungkin saja dipandang sebagai orang gila karena ketergelinciran mereka.
Dalam banyak kasus, ketergelinciran tidak disebabkan karena adanya niat jahat, tetapi karena kelemahan akal dalam memahami perintah Allah. Seorang muslim tidak boleh tergelincir dalam amal buruk dengan beralasan bahwa ia tidak mempunyai niat buruk dalam amalnya. Allah juga mencela orang-orang yang tidak menggunakan akalnya, tidak hanya mencela orang-orang yang mempunyai sifat-sifat jahat, karena itu hendaknya setiap muslim berusaha untuk menggunakan akalnya untuk memahami perintah Allah dengan benar agar dapat beramal sesuai dengan kehendak Allah. Seluruh amal yang menimbulkan keburukan dalam pandangan Allah tidaklah menjadi kehendak Allah. Allah hanya menghendaki kebaikan yang bersumber dari pengenalan sang hamba kepada kebaikan dalam asma-asma Allah melalui akhlak mulia. Pengenalan seorang hamba terhadap Allah ditunjukkan dengan tingkat pemahamannya terhadap kehendak Allah yang menyertai perintah terkait suatu urusan yang diturunkan sesuai dengan masa-masanya. Manakala seorang muslim mengemban suatu perintah Allah tanpa mengenal kehendak-Nya sedangkan ia bersikap sombong, ia akan mudah tergelincir dalam urusan itu.
Kekeliruan paling mendasar yang menyebabkan seseorang atau suatu kaum tergelincir adalah cara berpegang pada tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW harus dijadikan landasan utama kehidupan orang beriman. Sikap ini harus ditunjukkan umat dalam semua bentuk kehidupan, misalnya tidak menempatkan diri lebih tinggi dari Alquran. Menghukumi tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW dengan pendapat sendiri merupakan tanda seseorang menempatkan diri lebih tinggi dari kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW dan menyebabkan ketergelinciran. Menghakimi orang-orang yang berusaha mengikuti kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW dengan pendapat sendiri tanpa berpegang pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW merupakan kesalahan prinsip dalam melangkah. Mungkin pula suatu kaum menempatkan kedudukan seseorang di antara mereka lebih tinggi dari Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Sekalipun bukan menempatkan tinggi dirinya sendiri, sikap demikian merupakan ketergelinciran. Sikap yang benar adalah sebaliknya, menghukumi pendapat sendiri berdasarkan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Dalam perbedaan pendapat antar muslimin, setiap orang hendaknya berusaha menemukan pemahaman terbaik terhadap tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW tanpa berbantah-bantah. Sikap mencari pemahaman terbaik demikian tidak termasuk kesalahan prinsip, sekalipun misalnya ada kesalahan di dalamnya. Berbantah-bantah menunjukkan tidak pahamnya seseorang terhadap tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, sedangkan melakukan penghakiman terhadap tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW merupakan kesalahan prinsip yang menggelincirkan.
Upaya penggelinciran oleh orang-orang kafir terhadap kaum muslimin terutama dilakukan pada saat suatu pengajaran dari Alquran disampaikan. Pengajaran dalam hal ini berbentuk suatu penjelasan (al-bayan) dari kitabullah Alquran yang diterima oleh seorang hamba Allah kemudian mereka menyampaikan pengajaran itu. Orang-orang kafir akan berusaha menjadikan kaum muslimin memandang bahwa orang yang menyampaikan pengajaran itu adalah orang gila. Manakala kaum muslimin menerima informasi tentang kegilaan orang-orang yang memperoleh pengajaran di antara mereka, hendaknya mereka melakukan pemeriksaan terhadap apa yang disampaikan hamba Allah tersebut berdasarkan Alquran, tidak serta merta ikut menghakimi kegilaannya karena ia akan digelincirkan oleh orang kafir. Apa-apa yang sesuai dengan tuntunan kitabullah Alquran tidak boleh dipandang sebagai kegilaan, dan mungkin suatu saat muslimin akan memahami bahwa penjelasan itu merupakan kebenaran. Apa yang bertentangan dengan kitabullah Alquran merupakan kebathilan yang tidak boleh diikuti. Kebathilan ini menunjukkan adanya suatu kekufuran walaupun di antara muslimin, yaitu muslimin yang tergelincir manakala muslimin dalam suasana tuduhan kegilaan. Di antara yang jelas benarnya dan jelas bathilnya, muslimin harus berusaha mengenali kebenaran-kebenaran yang bermanfaat untuk diikuti dalam menguatkan akalnya memahami kehendak Allah.
Kesalahan prinsip sering dimulai dalam bentuk penghakiman terhadap pemahaman Alquran orang lain dengan pendapat sendiri meninggalkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, sebagai awalan menuju menganggap gila orang yang benar. Sesedikit apapun pemahaman seseorang dalam mengikuti tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, pemahaman itu tidak boleh dihakimi salah selama pemahaman itu benar. Bila pemahaman yang terbentuk salah, hendaknya ia ditunjukkan pada pemahaman yang benar. Sangat penting bagi setiap muslimin untuk mengikuti pemahaman yang lebih baik dalam mengikuti tuntunan kitabullah Alquran. Hendaknya kaum muslimin tidak menghakimi kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, dan menghindari penghakiman yang tidak perlu terhadap langkah muslim lain dalam mengikuti kitabullah Alquran sedangkan ia tidak berbuat kesalahan. Hal demikian hendaknya dilakukan tanpa meninggalkan seruan untuk mengikuti pemahaman terbaik yang bisa diperoleh muslimin di antara mereka. Tanpa bersikap demikian, suatu kaum di antara muslimin akan tergelincir hingga bisa saja menganggap Rasulullah SAW adalah orang gila.
Orang beriman tidak boleh goyah dalam mengikuti firman Allah dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW setelah memperoleh pengajarannya. Hal semacam ini hendaknya tidak menjadikan orang beriman merasa menjadi penguasa kebenaran tanpa merasa perlu mendengarkan kebenaran dari orang lain. Apa yang merupakan penjelasan (al-bayaan) dari kitabullah hendaknya diikuti dengan teguh tanpa perlu memperhatikan tuduhan kegilaan yang mungkin ditujukan kepada dirinya baik oleh orang-orang kafir ataupun oleh kaum muslimin yang tergelincir langkahnya, tetapi dengan tetap berhati-hati memperhatikan kebenaran-kebenaran yang mungkin disampaikan oleh setiap pihak. Selama suatu perkataan kebenaran tidak dimaksudkan buruk misalnya untuk melemahkan atau menyerang, orang beriman harus memperhatikan kebenaran yang disampaikan orang lain. Syaitan mungkin saja banyak menyampaikan kebenaran bagi orang-orang beriman dengan menyelipkan kekufuran di dalamnya yang sangat menghancurkan, maka hendaknya orang beriman mendustakan syaitan. Syaitan mempunyai maksud yang jelas buruknya boleh jadi dengan cara mengajarkan sebagian kebenaran. Di antara manusia, ada sebagian yang mengikuti syaitan dengan ciri-ciri yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW secara jelas, maka hendaknya muslimin tidak mengikuti apa yang mereka ajarkan.
Membina Visi dengan Kitabullah
Kaum muslimin harus membina visi yang tepat dalam kehidupannya berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Visi yang dibangun dengan landasan kokoh demikian akan mengantarkan diri mereka menuju kemuliaan. Visi yang dibangun tanpa landasan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bisa menjadi suatu sumber ketakutan dan kehinaan di alam akhirat kelak. Kemuliaan itu akan terwujud melalui amal-amal shalih yang sesuai dengan kehendak Allah, sedangkan visinya itu sendiri merupakan cahaya yang mendatangkan kedamaian. Dalam kehidupan dunia, visi berdasarkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan memperkokoh pijakan kaum muslimin hingga tidak mudah goyah ataupun tergelincir menjadi kaum yang celaka.
﴾۳۴﴿خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ
pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera. (QS Al-Qalam : 43)
Banyak orang tidak membina visi berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala diseru untuk mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka menolak mengikuti seruan itu dan memilih mengikuti visi yang mereka bangun sendiri tanpa berlandaskan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka boleh jadi menemukan kesejahteraan kehidupan dunia dengan mengikuti visi kehidupan mereka, tanpa mengetahui bahwa nilai dari visi mereka tidak mempunyai arti sedikitpun dibandingkan dengan visi yang diserukan oleh para hamba Allah yang dibina berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Di akhirat kelak, visi mereka akan menjadi beban yang menakutkan dan mereka akan terliputi dengan kehinaan.
Membina visi berdasarkan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan berusaha memahami firman Allah dalam Alquran secara langsung, tidak boleh hanya mengandalkan perkataan makhluk. Adapun perkataan makhluk dapat membantu kaum muslimin untuk dapat lebih memahami firman Allah, maka muslimin boleh mengikuti perkataan makhluk untuk mengikuti firman Allah. Manakala seseorang mengikuti perkataan makhluk dengan meninggalkan firman Allah, ia akan tergelincir. Kadangkala muslimin mengikuti perkataan makhluk tanpa melihat firman Allah maka ia sebenarnya tidak menggunakan akalnya untuk mengikuti firman Allah dan ia akan mudah tergelincir. Mengikuti perkataan makhluk boleh dan harus dilakukan untuk mengikuti firman Allah. Apa-apa yang memberikan kejelasan terhadap firman Allah harus dipikirkan dan dihayati dengan sungguh-sungguh dan apa-apa yang bertentangan harus ditinggalkan. Adapun penghakiman terhadap hal yang bertentangan merupakan tugas bagi sebagian orang yang mampu untuk mencegah kemungkaran. Dengan jalan demikian kaum muslimin akan memperoleh kekuatan akal untuk memahami kehendak Allah melalui firman-Nya.
Tingkat kesejahteraan di alam dunia tidak bisa dijadikan indikator bahwa seseorang telah mengikuti tuntunan Allah dengan benar. Kadangkala manusia menyangka manakala alam mendukung, mereka telah mengikuti tuntunan dengan benar. Sebenarnya Allah juga memberikan istidraj bagi orang-orang yang tidak mau mengikuti kehendak Allah hanya mengikuti pendapat mereka sendiri. Sebagian orang hidup sejahtera manakala mereka menolak seruan untuk bersujud mengikuti kehendak Allah melaksanakan amal-amal yang ditentukan bagi mereka. Manakala suatu seruan untuk melaksanakan kehendak Allah disampaikan kepada mereka dengan jelas dan mereka menolak seruan itu, boleh jadi mereka bisa tetap hidup dengan sejahtera. Dalam banyak kasus, kesejahteraan demikian sebenarnya berumur pendek yang akan benar-benar berakhir manakala kematian mendatangi. Seringkali kesejahteraan itu berakhir sebelum kematian, misalnya manakala akibat penolakan mereka mendatangkan mushibah atas diri mereka atau kaumnya. Banyak hal dapat mengakhiri kesejahteraan orang-orang yang menolak untuk mengikuti seruan tentang kehendak Allah. Kesejahteraan dalam kehidupan dunia tidak bisa dijadikan indikator bahwa seseorang telah membina visi kehidupan mereka dengan benar.
Kesejahteraan yang abadi akan terbentuk berdasarkan visi yang dibangun dengan benar berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sangat banyak makhluk yang dapat memberikan penjelasan yang benar tentang maksud firman Allah, maka hendaknya setiap orang berusaha menemukan perkataan terbaik tentang kehendak Allah. Mungkin saja penjelasan yang benar itu bertingkat-tingkat tanpa ada satu penjelasan yang keliru, walaupun mungkin pula ada penjelasan yang keliru. Benar atau salahnya penjelasan dari makhluk harus diukur berdasarkan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar