Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Orang-orang yang mengikuti langkah Rasulullah SAW dengan benar akan menjadi orang-orang yang bersaudara dengan hati yang tersusun antara satu orang dengan orang yang lain. Persaudaraan demikian itu sangatlah menakjubkan bagi para makhluk, di mana hati satu orang tersusun dengan hati orang lain. Itu adalah keadaan al-jamaah. Barangkali tidak semua muslim atau semua orang beriman dalam keadaan demikian. Ada jalan panjang yang harus ditempuh oleh orang beriman agar mereka dapat membentuk persaudaraan dengan hati yang tersusun antara satu dengan yang lain.
﴾۳۰۱﴿وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu bermusuh-musuhan maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS Ali Imran : 103)
Orang-orang beriman yang bersaudara demikian adalah orang-orang yang telah memanjat tali Allah menempuh jalan kembali bertaubat kepada Allah. Allah yang menyusun hati mereka. Mereka memanjat tali Allah dengan meringankan diri dari beban-beban yang memberatkan berupa beban syahwat, hawa nafsu ataupun sifat-sifat syaitaniah yang mewarnai diri mereka yang menyebabkan permusuhan, dan mereka juga membangun visi tentang nikmat Allah agar dapat terlepas dari permusuhan-permusuhan. Dengan mengingat nikmat Allah, maka mereka dapat berpegang teguh dengan tali Allah secara benar dan kemudian hati mereka menjadi tersusun bersama orang-orang beriman lain yang menjalani proses yang sama.
Kehidupan manusia di bumi sebenarnya membawa beban-beban yang sangat banyak dan setiap orang harus berusaha menata diri mereka agar dapat berjalan mendekat kepada Allah dengan beban yang sanggup dibawa. Syahwat dan hawa nafsu yang tertata merupakan beban yang dapat dibawa manusia kembali kepada Allah, sedangkan sifat-sifat syaitaniah dan urusan-urusan syaitan atas diri manusia tidak akan sanggup ditanggung manusia untuk kembali kepada Allah. Setiap manusia harus membersihkan diri mereka dari sifat-sifat syaitaniah agar dapat berpegang pada tali Allah, dan kemudian menata syahwat dan hawa nafsu diri agar dapat memanjat tali Allah untuk mencari nikmat Allah. Manakala seseorang tidak menjauhkan diri dari sifat-sifat syaitaniah ataupun bisikan syaitan, mereka tidak akan dapat berpegang pada tali Allah dengan benar. Manakala seseorang tidak berusaha menata dan mengendalikan syahwat dan hawa nafsu, sebenarnya syahwat dan hawa nafsu mereka yang menarik mereka berjalan menuju yang mereka sukai menjauh dari jalan taubat kepada Allah.
Ciri-ciri utama kekuasaan syaitan, syahwat dan hawa nafsu atas diri manusia adalah timbulnya permusuhan-permusuhan di antara manusia. Syahwat dan hawa nafsu yang tidak terkendali akan membuat manusia berbuat apa yang mereka sukai tanpa memahami hak-hak dan batas-batas terhadap orang lain. Hal itu akan menimbulkan perselisihan dan permusuhan dengan orang lain. Demikian pula sifat-sifat manusia seperti amarah atau kerakusan dan sifat-sifat badaniah dan hawa nafsu lainnya yang tidak terdidik sering mendatangkan permusuhan. Tanpa suatu bisikan syaitan, orang yang mengikuti syahwat dan hawa nafsu liar akan menjadi bermusuh-musuhan dengan orang lain. Sifat-sifat syaitaniah pada diri manusia mempunyai dampak intensitas permusuhan yang lebih tinggi. Kesombongan, hasad (iri dan dengki) sangat mudah mendatangkan permusuhan di antara manusia.
Syaitan akan memperkuat permusuhan manusia, dan syaitan itu benar-benar berkeinginan untuk menjadikan manusia bermusuh-musuhan. Tidak hanya terhadap orang yang mengikuti syahwat dan hawa nafsu mereka, syaitan akan berusaha menimbulkan permusuhan-permusuhan di antara orang-orang yang berusaha berpegang pada tali Allah. Setiap orang harus berusaha memperhatikan dampak dari usaha-usaha yang mereka lakukan. Bila usaha mereka menimbulkan permusuhan-permusuhan di antara manusia, maka boleh jadi usaha mereka diwarnai dengan hawa nafsu, syahwat ataupun bisikan-bisikan syaitan. Boleh jadi permusuhan yang timbul itu bukan pada diri mereka sendiri, tetapi bisikan syaitan itu bisa saja menimbulkan permusuhan di antara pihak-pihak lain sedemikian orang yang mengikuti bisikan itu tampak mengadu-domba pihak-pihak yang kemudian menjadi bermusuhan.
Berpegang pada Kitabullah dan Persaudaraan
Untuk menghindari permusuhan, setiap orang hendaknya mengusahakan memperoleh nikmat Allah. Muslimin hendaknya mencari pelajaran tentang keadaan orang-orang yang memperoleh nikmat Allah dan berusaha untuk mengikuti mereka dengan berpegang teguh pada tali Allah dan tidak berpecah-belah. Tali Allah itu adalah Alquran, kitabullah yang diwujudkan di alam dunia sebagai turunan dari hakikat-hakikat yang ada di tangan Allah. Segala yang ditentukan dalam kitabullah hendaknya diikuti, tidak melanggar apa-apa yang dilarang di dalamnya Manakala seseorang menentang sesuatu yang dituliskan dalam kitabullah, ia akan celaka sekalipun bila ia meyakini kebenaran perbuatan yang dilakukannya.
Orang-orang yang diberi nikmat Allah pada dasarnya mengambil urusan mereka masing-masing dari kitabullah Alquran, maka hendaknya kaum muslimin berusaha mengikuti langkah mereka dan mengambil langkahnya dari Alquran. Mengikuti langkah orang-orang yang telah memanjat tali Allah akan menjadikan seseorang dapat berpegang dengan tali Allah, dan mereka akan memperoleh nikmat Allah manakala telah berpegang tali Allah dengan benar. Ini keniscayaan. Apabila suatu kaum tidak memperoleh kejelasan dalam mengikuti langkah orang lain yang berpegang pada tali Allah, hendaknya mereka berusaha memperhatikan tali Allah yang mereka pegang, tidak sekadar mengikuti langkah orang lain. Tanpa berpegang pada tali Allah, seseorang tidak akan memperoleh nikmat Allah.
Berpegang pada tali Allah secara benar akan menghilangkan potensi berpecah-belah. Orang yang berpegangteguh pada tali Allah akan dapat memberikan penjelasan yang tepat tentang kebaikan dalam mengikuti tali Allah. Banyak pihak menggunakan ayat-ayat kitabullah untuk membuat perselisihan di antara manusia, atau menggunakannya untuk mencari kedudukan dan harta benda di antara manusia, maka mereka tidak benar-benar bisa menunjukkan kebaikan dalam berpegang pada tali Allah. Ada pula orang-orang yang keliru atau kurang jelas dalam memahami maksud dari ayat-ayat kitabullah, maka mereka mungkin akan memberikan penjelasan yang salah kepada orang lain. Orang yang berpegang pada tali Allah dengan benar akan memperoleh suatu kejelasan tentang kebaikan dalam mengikuti tuntunan kitabullah, sedemikian bahwa mengikuti mereka akan menghindarkan dari berpecah-belah dengan orang lain.
Berpecah-belah menunjukkan perselisihan di antara orang-orang yang ingin menjadi baik. Pertentangan mungkin saja dilakukan orang yang mengikuti kitabullah tetapi hanya terhadap orang-orang yang berkeinginan tidak baik atau terhadap orang yang menempuh jalan keliru, tidak terhadap orang-orang yang berkeinginan baik walaupun mungkin lemah atau salah bertindak. Kadangkala orang berkeinginan baik tetapi sebenarnya ia berbuat kerusakan dan kejahatan karena ia menentang tuntunan Allah atau mengikuti syaitan, maka hal demikian merupakan jalan yang keliru yang perlu ditentang. Biasanya orang di jalan yang keliru sulit untuk menyadari kerusakan dan kejahatan yang mereka lakukan karena telinga, mata dan qalb mereka tidak digunakan untuk memahami kebenaran tetapi untuk membangun kebenaran sendiri. Kadangkala seseorang ingin menjadi baik tetapi ia lalai dalam melakukan amalnya, maka hal demikian merupakan kesalahan yang tidak perlu ditentang. Mereka seringkali mudah untuk diingatkan atau bahkan dapat merasakan sendiri kesalahan yang mereka perbuat. Menentang orang-orang yang jahat atau menempuh jalan yang keliru tidak termasuk dalam berpecah-belah tetapi merupakan usaha amar ma’ruf nahy munkar. Menunjukkan kebaikan kepada orang yang salah dilakukan dengan seruan kepada kebaikan.
Sebaliknya memusuhi orang-orang yang berkeinginan baik merupakan perbuatan berpecah-belah. Apabila suatu kelompok di antara umat memisahkan diri dari urusan umat sedangkan umat itu mengupayakan kebaikan, kelompok itu berpecah-belah. Demikian pula sebaliknya apabila orang-orang yang mengusahakan kebaikan ditindas atas nama agama, maka penindasan demikian merupakan tindakan berpecah-belah sekalipun yang melakukannya orang yang lebih banyak. Penindasan oleh orang kafir bukan berpecah belah. Mendukung seseorang untuk berbuat buruk terhadap orang lain termasuk berpecah-belah. Tidak berpecah-belah harus dilakukan dengan perbuatan baik mengikuti tuntunan kitabullah tidak menganiaya atau mempersulit orang-orang yang mengusahakan kebaikan dengan jalan yang baik. Mengikuti kitabullah dikatakan benar apabila dilakukan di atas pemahaman terhadap firman Allah dengan landasan sikap rahman dan rahim. Mengadu kebenaran antar kelompok dengan menggunakan materi kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak termasuk dalam tindakan mengikuti kitabullah, dan sikap demikian termasuk kesyirikan berupa kebanggaan dengan menganggap kebenaran hanya ada pada diri mereka sendiri.
Tidak dikatakan berpegang teguh dengan kitabullah orang-orang yang masih gemar dengan berpecah-belah. Kegemaran itu boleh jadi tampak dalam bentuk samar, misalnya sikap suka menyalahkan tanpa menunjukkan yang lebih baik. Seseorang yang melihat tuntunan dari tali Allah niscaya ingin berbagi tuntunan itu kepada orang lain agar dapat menjalani bersama-sama. Landasan sikap berbagi kebenaran di antara orang yang mengikuti tuntunan itu adalah rahmaniah dan rahimiah, bukan keinginan menonjolkan kebenaran sendiri atau menyalahkan kebenaran orang lain. Apabila melihat kesalahan orang lain, mereka berkeinginan mencegah sahabatnya agar tidak terus berbuat kesalahan dan ingin menunjukkan yang lebih baik, bukan ingin mengungkap kesalahan. Kadangkala seseorang yang mempunyai sedikit ilmu tanpa memahami mempersalahkan sahabatnya tanpa mau menunjukkan kesalahan yang terjadi ataupun amal yang lebih baik. Hal itu tidak dapat dibenarkan, baik sahabatnya memang bersalah ataupun bila sahabatnya di atas kebenaran karena akan membuat manusia berpecah-belah. Orang yang melakukan kesalahan hendaknya ditunjukkan ke arah yang benar, dan orang yang berbuat kebenaran didukung untuk beramal yang mendatangkan manfaat.
Apabila seseorang telah berpegang pada kitabullah dengan benar, ia akan terangkat sebagai golongan orang-orang yang Allah susun hatinya bersama mukminin yang lain yang berpegang teguh dengan kitabullah. Mereka akan memperoleh nikmat Allah hingga menjadi golongan yang bersaudara. Pada dasarnya urusan/perintah Allah di antara orang-orang beriman berhubungan satu dengan yang lain sedemikian satu orang dapat melihat urusannya pada orang lain, sedangkan perintah Allah itu terdapat pada tali Allah. Pelaksanaan urusan secara berjamaah itu akan menumbuhkan hubungan di antara hati-hati kaum mukminin hingga mereka menjadi bersaudara. Persaudaraan itu tumbuh di atas tali Allah. Apabila suatu umat tidak dapat menemukan urusan Allah bagi dirinya dari sahabatnya, boleh jadi mereka tidak sungguh-sungguh memperhatikan tuntunan kitabullah yang mereka tunaikan, atau dikatakan tidak berpegang pada tali Allah. Kadangkala dua orang yang berjuang bersama tidak dapat bersatu karena tidak memahami dasar perjuangan sahabatnya bukan karena berselisih. Bila mereka mempunyai landasan perintah Allah dari kitabullah Alquran dan mereka memperhatikan sungguh-sungguh landasan itu, mereka akan memperoleh cahaya untuk menuju nikmat Allah untuk menuju persaudaraan. Bila memperoleh cahaya dari tali Allah, suatu kaum tidak terus-menerus hanya meraba-raba dalam kegelapan urusan Allah bagi mereka.
Nafs Wahidah dan Persatuan
Umat harus berusaha sekuat tenaga agar tidak berpecah-belah sekalipun hawa nafsu mereka ingin berselisih dengan yang lain. Usaha untuk tidak berpecah-belah itu akan menjadi semakin mudah apabila nafs mereka tersucikan dan tumbuh padanya persaudaraan dengan orang-orang beriman lainnya karena pemahaman mereka yang selaras terhadap kitabullah. Bila tidak melakukan tazkiyatun nafs, orang-orang beriman akan selalu merasa berat menanggung beban untuk mengendalikan hawa nafsu berselisih dengan mukmin lainnya. Keadaan memperoleh nikmat Allah merupakan hasil dari penyatuan nafs wahidah. Mereka orang-orang yang menempuh jalan tazkiyatun-nafs, karena yang dapat tumbuh menyatu dengan kebenaran hanya orang-orang yang disucikan jiwanya. Manakala seseorang masih dikuasai hawa nafsu dan syahwat atau bahkan syaitan, mereka tidak dapat menyatu dalam al-jamaah dalam persaudaraan dari hati.
Perkembangan nafs wahidah terkait pula dengan pernikahan, sedemikian suatu persatuan umat akan sulit terbentuk manakala para perempuan tidak dibina dengan baik atau justru dirusak dengan pembinaan yang salah. Pernikahan merupakan setengah bagian dari agama yang sangat terkait dengan perkembangan nafs wahidah seseorang. Tentang umul mukminin Siti Khadijah r.a, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa tanpa Khadijah r.a, beliau SAW tidak akan menjadi nabi. Hal itu terkait dengan perkembangan yang seharusnya terjadi pada nafs wahidah. Boleh jadi tanpa pernikahan yang baik seseorang bisa menjadi suci dan diberi pengetahuan kebenaran yang banyak tetapi tidak mempunyai kemampuan atau kesempatan untuk memberitakannya kepada umatnya karena tidak berkembangnya nafs wahidah secara semestinya. Secara keumatan, tidak terbentuk susunan yang membina hubungan dirinya dengan umatnya, karenanya ia tidak mempunyai kemampuan untuk menyeru umatnya untuk mengikuti kebenaran yang dikenalinya.
Persaudaraan di antara orang-orang beriman yang terbina di atas nafs wahidah memiliki keserupaan dengan hubungan yang tumbuh dalam pernikahan. Seseorang di antara orang beriman boleh jadi merupakan sumber urusan bagi yang lain sebagaimana seorang suami merupakan sumber urusan bagi perempuan dalam ibadahnya kepada Allah. Ada pula hubungan urusan di antara orang beriman dalam bentuk horisontal layaknya seorang isteri dengan madunya. Sebenarnya baiknya pernikahan seseorang merupakan media yang menumbuhkan pula hubungan seseorang dengan orang-orang beriman lainnya dalam urusan penyatuan nafs wahidah umat. Baiknya pembinaan pernikahan suatu umat akan menumbuhkan penyatuan umat dan tidak bercerai berai, sedangkan rusaknya pembinaan pernikahan umat akan memunculkan fenomena perselisihan yang cenderung marak dan menguat. Untuk memecah belah, syaitan menggunakan cara pemisahan suami dan isteri sebagai jalan utama membuat fitnah yang besar di antara manusia. Ini terkait dengan pencegahan penyatuan nafs wahidah di antara orang-orang beriman.
Pembinaan yang benar harus dilakukan baik terhadap kaum laki-laki ataupun kaum perempuan. Kaum laki-laki harus dibina untuk dapat menemukan amal shalih melalui Rasulullah SAW dan orang-orang shalih yang bersama dengan beliau SAW, tidak menyimpang mengikuti urusan yang tidak jelas asal-usulnya. Urusan para laki-laki diturunkan Allah melalui Rasulullah SAW dan dibagi dengan orang-orang yang bersama dengan beliau SAW. Dengan pengetahuan tentang amal shalihnya, mereka hendaknya menyayangi keluarganya dan orang-orang lain. Kaum perempuan harus dibina untuk dapat menghormati suaminya dan mentaati, tidak bersikap hanya mengikuti hawa nafsu diri mereka. Urusan Allah bagi kaum perempuan diturunkan melalui suaminya, tidak melalui laki-laki lain maka hendaknya mereka memperhatikan suaminya untuk memperhatikan urusan Allah.
Apabila seorang perempuan meninggalkan suaminya untuk mengikuti laki-laki lain, ia akan menjadi perempuan keji. Umat akan menjadi rusak apabila para perempuan mereka keji. Demikian pula apabila para perempuan dibiarkan tanpa ketaatan kepada suaminya, maka umat akan menjadi kaum yang liar tanpa ketaatan kepada para ulul amri dan pemimpin mereka. Ini merupakan kerusakan besar. Merusak para perempuan bangsa akan menjadikan bangsa itu runtuh sekalipun seandainya para laki-laki mereka adalah orang-orang yang shalih karena keshalihan mereka tidak akan terwujud di alam dunia. Kaum perempuan demikian ini semisal dengan para laki-laki yang meninggalkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam membina peradaban, maka mereka hanya akan menemukan hasil yang buruk bagi usaha-usaha yang mereka lakukan. Manakala ada orang yang menyeru untuk mewujudkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, hendaknya mereka memperhatikan seruan itu, dan mengikutinya manakala telah memahami kebenarannya. Bila umat meninggalkan seruan orang demikian, mereka sangat mungkin telah meninggalkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk mengikuti waham sendiri. Manakala seruan seseorang yang telah melangkah dengan benar bersama Rasulullah SAW diabaikan, suatu kaum pada dasarnya mengabaikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar