Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Dalam kehidupan dunia, ada banyak jalan kehidupan yang ditempuh oleh manusia. Di antara jalan-jalan yang ditempuh manusia, ada suatu bentuk jalan kehidupan yang merupakan jalan yang lurus untuk kembali kepada Allah. Sebagian besar manusia belum mampu mengenal jalan kehidupan yang ditentukan bagi dirinya. Seseorang dikatakan mengenal shirat al-mustaqim apabila ia mengenal amanah Allah dalam kitabullah Alquran yang menjadi tugas bagi dirinya. Kaum muslimin diperintahkan untuk mengikuti shirat al mustaqim, dan diperintahkan pula untuk meninggalkan jalan-jalan yang lain karena akan mencerai-beraikan mereka dari jalan Allah. Bila muslimin mengikuti shirat al-mustaqim dari orang-orang yang mengenalnya, ia akan menemukan al-jamaah.
Perintah mengikuti shirat al mustaqim dan meninggalkan jalan-jalan yang lain berlaku apabila seorang muslim telah mengetahui kejelasan benarnya petunjuk yang datang kepada mereka. Setiap muslim harus berusaha untuk bersegera memahami kebenaran petunjuk yang disampaikan kepada mereka, dan kemudian mengikuti jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang mengikuti kebenaran tidak berlama-lama dengan kebodohan diri mereka sendiri.
﴾۵۱۱﴿وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia berkuasa dalam urusan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS An-Nisaa’ : 115)
setiap orang harus berusaha untuk mengikuti langkah para rasul dan orang-orang beriman setelah memperoleh kejelasan petunjuk yang mereka ikuti, tidak berlama-lama dalam kebodohan. Berlama-lama dalam kebodohan sendiri dalam banyak kasus menunjukkan keadaan yang tidak baik. Boleh jadi orang demikian merupakan orang-orang yang tidak menggunakan akal atau ia sebenarnya adalah orang kafir. Seandainya setiap manusia menggunakan akalnya dengan baik, ia akan mudah memahami kebenaran yang disampaikan oleh para rasul Allah. Usaha memahami merupakan usaha yang ditentukan secara intrinsik diri manusia, tidak dipengaruhi oleh keadaan luar, tidak seperti usaha yang bisa diwujudkan dari pemahaman bisa jadi sangat dipengaruhi oleh keadaan-keadaan orang lain, tidak sepenuhnya ditentukan keadaan internal. Karena itu, berlama-lama tidak memahami kebenaran yang disampaikan oleh rasul merupakan pertanda keadaan yang tidak baik pada diri seseorang atau suatu kaum.
Manakala seseorang menemukan rasul atau orang-orang beriman yang dapat menjelaskan petunjuk-petunjuk Allah dengan benar, hendaknya mereka bersegera untuk mengikuti langkah-langkah yang ditempuh rasul dan orang-orang beriman yang bersama rasul tersebut, tidak terus menerus mengikuti langkah kaum selain rasul dan orang beriman tersebut. Yang dimaksud orang beriman pada ayat di atas adalah orang-orang yang benar-benar mengikuti langkah rasul Allah dengan benar dalam sebuah jihad yang jelas berlandaskan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka memahami tuntunan yang mereka ikuti dalam jihad dengan pemahaman yang benar tidak menyimpang, dan apa yang mereka perjuangkan merupakan hal-hal yang dapat dimengerti kesesuaiannya dengan kauniyah yang terjadi.
Langkah rasul dan orang beriman adalah langkah yang diwarnai dengan kejelasan karena Allah menurunkan al-bayaan kepada mereka, yaitu suatu penjelasan tentang ayat-ayat yang saling berkaitan antara ayat kauniyah dan ayat kitabullah. Dengan al-bayaan, orang beriman memahami peristiwa kauniyah pada semesta mereka sesuai dengan tuntunan ayat-ayat kitabullah. Keduanya adalah ayat Allah yang saling berkaitan, yaitu ayat kitabullah sebagai hakikat dari ayat kauniyah yang terjadi. Langkah orang beriman merupakan amal-amal yang terwujud dari pengetahuan hakikat terkait hal-hal yang terjadi pada semesta mereka. Rasul Allah memimpin orang-orang beriman dalam memahami ayat-ayat Allah sesuai dengan kehendak Allah, dan mereka melakukan amal-amal berdasarkan pemahaman tersebut dalam bentuk sesuai keadaan masing-masing.
Langkah orang beriman adalah langkah mereka bersama rasul. Apabila mereka hanya mengikuti waham dan keinginan mereka sendiri, langkah mereka itu tidak dihitung sebagai langkah orang beriman, tanpa menggolongkan bahwa mereka kafir. Kadangkala orang beriman melaksanakan sesuatu yang tampak bersama dengan rasul tetapi tidak berusaha untuk benar-benar memahami makna dari tuntunan rasul tersebut, maka amal demikian hanya terlahir dari hawa nafsu meskipun tampak bersesuaian dengan amal yang ditentukan. Orang-orang munafiq atau orang yang terhinggapi penyakit nifaq seringkali melakukan perbuatan demikian, karena mereka menginginkan terpandang di antara manusia dengan amal-amal. Mereka tidak akan memperoleh al-bayaan untuk langkah-langkah mereka sekalipun amal itu sesuai dengan keadaan kauniyah dan tuntunan rasul. Orang-orang yang beriman akan mengalami kejumudan dalam melaksanakan amal yang demikian karena tidak memperoleh kebaikan bagi bathin mereka dalam amalnya, sedangkan orang munafiq akan memandangnya baik-baik saja.
Orang-orang beriman mungkin tidak menguasai sepenuhnya pengetahuan rasul Allah, tetapi mereka tidak mempunyai keinginan sedikitpun untuk meninggalkan ajaran rasul. Manakala mengerjakan suatu amal, mereka berusaha memahami maksud amal mereka sesuai dengan yang diajarkan rasul, tidak ingin mengerjakan agenda diri mereka sendiri yang tidak mempunyai landasan dari tuntunan Rasulullah SAW. Bila rasul memperingatkan kesalahan yang mereka lakukan, mereka akan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang terjadi hingga sesuai dengan langkah yang ditunjukkan rasul, tidak bersikap merasa lebih pandai dan lebih mengetahui keadaan daripada rasul. Manakala seseorang tidak bersikap demikian, ia tidak termasuk orang beriman yang layak untuk diikuti langkahnya sebagaimana langkah Rasulullah SAW.
Setiap orang hendaknya berusaha menemukan jalan yang ditempuh para rasul Allah dan orang-orang beriman yang bersama dengan mereka. Jalan itu adalah jalan yang terang penuh dengan penjelasan tentang makna kehidupan. Apabila mereka telah menemukan jalan itu, hendaknya mereka ikut melangkah bersama dengan orang-orang beriman yang mengikuti langkah tersebut. Mungkin ada kesalahan-kesalahan dalam langkah yang dilakukan orang-orang beriman maka hendaknya mereka bersabar dan berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak meninggalkan langkah itu. Apabila ia bisa memberikan peringatan terhadap kesalahan orang beriman, hendaknya ia memberikan peringatan agar orang beriman selamat. Apabila tidak mampu, kesalahan itu tanggungan orang-orang yang melakukannya. Hendaknya ia berusaha untuk memberikan petunjuk dari suatu kebaikan yang diketahuinya manakala melangkah di jalan Allah agar memberikan manfaat kepada orang beriman lainnya.
Bila seseorang tidak mengikuti langkah rasul dan langkah orang beriman setelah memperoleh kejelasan dari petunjuk Allah, Allah tidak akan menjadikannya sebagai orang sengsara di dunia, tetapi ia akan menjadi ahli neraka kelak di akhirat. Ia mungkin akan menjadi orang yang menguasai urusan yang diinginkannya di alam dunia, tetapi kelak di akhirat akan dimasukkan sebagai ahli neraka.
Memohon Perlindungan Ketika Membaca Kitabullah
Pada masa tertentu seseorang mungkin tidak menemukan rasul atau orang-orang beriman yang bersama dengan rasul Allah yang dapat menjelaskan petunjuk dengan benar. Bukan tidak ada, tetapi ia tidak mudah menemukannya. Tidak semua penjelasan yang ditemukan merupakan penjelasan yang benar tentang petunjuk Allah walaupun penjelasan-penjelasan itu dilakukan dengan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Ada suatu kelompok yang selama ratusan tahun berjuang untuk memurnikan agama tanpa membuat umat islam dapat memahami kebaikan dari langkah-langkah yang mereka lakukan, dan sebenarnya mereka sendiri tidak memahami kebaikan yang mereka perjuangkan kecuali karena waham yang dibangun sendiri. Mereka memperjuangkan sesuatu yang telah dijaga Allah kemurniannya dan Allah tidak memerintahkan mereka untuk menjaga. Mereka menyimpang dalam memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak mengerti pokok ajaran Rasulullah SAW hingga upaya mereka mendatangkan fitnah bagi agama Allah. Mereka adalah kaum khawarij.
Kaum muslimin harus memohon perlindungan kepada Allah dari syaitan sekalipun sedang membaca kitabullah Alquran. Kitabullah Alquran sendiri merupakan perkataan yang paling benar tanpa suatu kebathilan sedikitpun di dalamnya, tetapi di dalam diri manusia terdapat tempat duduk bagi syaitan yang dapat membelokkan makna yang diperoleh dari pembacaan seseorang terhadap kitabullah. Manakala seseorang membaca tanpa keikhlasan yang memadai, syaitan dapat membelokkan pemahaman yang timbul tanpa membengkokkan lafadz dari kitabullah Alquran.
﴾۸۹﴿فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. (QS An-Nahl : 98)
Perintah di atas tidak boleh menimbulkan sedikitpun keraguan dalam hati para hamba Allah terhadap kebenaran kitabullah Alquran. Permohonan perlindungan dari bisikan syaitan itu dilakukan terkait dengan diri mereka masing-masing, bukan terkait dengan kitabullah Alquran sama sekali. Setiap kekeliruan dalam pembacaan Alquran muncul dari diri manusia sepenuhnya sama sekali bukan dari Alquran. Syaitan menggunakan celah dalam diri manusia untuk menyelipkan kekacauan dalam makna dari kitabullah. Apabila manusia tidak memohon perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk manakala membaca kitabullah Alquran, maka ia tidak terlindungi dari upaya syaitan menyelipkan makna yang keliru dalam pembacaannya terhadap kitabullah Alquran.
Terkait dengan permohonan perlindungan tersebut, ada niat yang harus diperhatikan setiap hamba Allah sebelum membaca kitabullah Alquran, dan ada tindakan yang harus diperhatikan setelah membaca kitabullah Alquran. Niat setiap hamba Allah dalam membaca kitabullah harus ikhlas untuk meningkatkan kemuliaan akhlak mengikuti kitabullah dengan terbinanya sifat-sifat rahman dan rahim. Adapun suatu pemahaman yang timbul setelah membacanya harus diserahkan kepada Allah dengan bertawakkal, tidak menganggap pemahamannya adalah pemahaman sempurna dan mutlak kebenarannya, disertai pula dengan berharap Allah meridhai pemahaman yang diperoleh.
Pemahaman terbaik yang diperoleh dari pembacaan kitabullah Alquran harus diikuti oleh setiap hamba Allah tanpa meragukan petunjuknya sedikitpun selama tidak menyimpang dari lafadz kitabullah. Keyakinan itu hendaknya disertai sikap bahwa mungkin pemahamannya bukanlah pemahaman sempurna atau paling sempurna. Tidak boleh muncul suatu keraguan terhadap suatu pemahaman dari Alquran selama tidak menyimpang dari lafadz Alquran. Syaitan bisa membelokkan pemahaman yang terbentuk dengan pemahaman yang tidak benar-benar berakar pada lafadz kitabullah, atau dengan suatu pemahaman yang benar-benar menyimpang. Hendaknya para hamba Allah tidak membiarkan pemahaman yang tumbuh tanpa benar-benar terkait dengan kitabullah Alquran tanpa memeriksa nilai-nilai yang tumbuh dari pemahaman yang tumbuh itu. Kadang pemahaman yang belum benar-benar berakar tidak keliru maknanya, tetapi membutuhkan akal lebih kuat untuk mengerti keterkaitannya. Kadang pemahaman demikian dijadikan pijakan syaitan untuk menyimpangkan manusia sedikit demi sedikit. Karena sifat demikian itu, Allah memerintahkan kepada manusia untuk memohon perlindungan kepada Allah dari syaitan bahkan ketika mereka akan dan sedang membaca kitabullah Alquran.
Setiap orang harus bertawakkal kepada Allah setelah mencari petunjuk kitabullah Alquran. Para hamba Allah tidak boleh merasa gamang dengan petunjuk yang diterima dari kitabullah Alquran, tanpa menutup mata bahwa dirinya mungkin saja berbuat salah. Setiap kesalahan itu berasal dari dirinya, bukan dari kitabullah Alquran maka hendaknya ia bertawakkal. Tawakkal dilakukan dengan berharap agar Allah memberikan kekuatan untuk mengikuti kebenaran yang bisa ia peroleh dari pembacaan kitabullah Alquran, dan berharap pula Allah menunjukkan kesalahan yang mungkin terjadi pada pemahamannya dan membetulkan kesalahan itu. Manakala seseorang merasa gamang dalam upaya memahami kitabullah Alquran, syaitan sebenarnya menjebak dirinya dalam kegamangan itu. Setiap orang harus membangun keyakinan dengan kebenaran Alquran walaupun mungkin hanya sedikit dan berharap memperoleh kebenaran yang lebih baik dan besar dari Alquran dengan sikap tawakkal.
Setiap orang harus meyakini semua pemahaman yang selaras dengan kitabullah Alquran. Bila seseorang tidak mempunyai keyakinan terhadap pemahaman yang selaras dengan lafadz kitabullah, ia akan kehilangan jalan untuk mencari petunjuk karena kitabullah Alquran adalah petunjuk yang paling benar. Bila seseorang merasa yakin bahwa pemahamannya sempurna atau paling sempurna, syaitan akan menutup akalnya untuk memahami kitabullah dengan benar. Segala pemahaman yang muncul dari pembacaan kitabullah harus ditimbang nilainya berdasarkan kebaikan. Semua pemahaman yang diterima hendaknya digunakan untuk berbuat kebaikan, tidak boleh digunakan untuk berbuat aniaya terhadap orang lain. Sekalipun benar, bila digunakan untuk perbuatan aniaya maka seseorang telah terjebak oleh tipuan syaitan. Semua pemahaman dari kitabullah Alquran yang mendatangkan kebaikan harus digunakan untuk melangkah untuk kebaikan karena itu termasuk petunjuk, sedangkan pemahaman yang mendatangkan akibat buruk datang dari syaitan. Mereka memperoleh pijakan pada keburukan diri seseorang. Dalam godaan syaitan ini, sangat banyak orang memandang pemahaman yang buruk itu sebagai suatu kebaikan karena syaitan berusaha menjadikan setiap orang memandang indah keburukan.
Sikap demikian juga berlaku manakala mengikuti orang lain. Semua pengajaran yang dilakukan mengikuti tuntunan kitabullah Alquran dengan tujuan yang baik merupakan kebaikan, dan semua pengajaran yang bertentangan dengan kitabullah Alquran merupakan kebathilan. Setiap orang harus mempunyai keyakinan terhadap tuntunan kitabullah Alquran, dan berhati-hati terhadap bisikan syaitan melalui kelemahan dalam diri manusia baik dirinya ataupun orang lain. Syaitan benar-benar berusaha menyelipkan keburukan melalui hawa nafsu manusia dan menampakkan indah pada pandangan manusia. Apabila orang yang diikuti mempunyai iktikad tidak baik, ajaran yang tampak baik itu bukanlah petunjuk yang menjelaskan karena akan menjatuhkan manusia. Mereka akan berbuat kerusakan di antara manusia bahkan mungkin saja merusak di dalam kalangan muslimin sendiri. Kaum khawarij menjadi contoh bagaimana syaitan menggunakan ayat-ayat kitabullah untuk merusak muslimin dengan berpijak pada hawa nafsu beragama. Selain cara itu, kadangkala syaitan menipu orang-orang yang beriktikad baik melalui kebodohan manusia, sedemikian bahwa orang yang berkeinginan baik itu melakukan sesuatu yang diinginkan syaitan dan merasa melaksanakan suatu perintah Allah. Setiap orang harus berpegang teguh pada tuntunan kitabullah Alquran dengan memohon perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar