Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Rasulullah SAW bersama orang-orang yang mengikuti menyeru umat manusia untuk kembali kepada Allah. Kembali kepada Allah merupakan usaha yang harus dilakukan sepanjang kehidupan sejak di bumi hingga kelak di akhirat, menempuh perjalanan yang sangat jauh. Ada orang-orang yang menempuh jalan yang paling pendek berupa shirat al mustaqim untuk kembali kepada Allah, dan sebagian besar manusia menempuh perjalanan berliku-liku yang sangat jauh hingga mungkin banyak orang tidak mengetahui lagi apa makna kehidupan diri mereka atau tidak mengetahui jalan untuk kembali kepada Allah. Rasulullah SAW menyeru umat manusia untuk dapat menemukan jalan kembali tersebut dan menyeru untuk menempuh jalan kembali. Demikian pula orang-orang beriman yang bersama beliau SAW menyeru manusia kepada Allah.
﴾۸۰۱﴿قُلْ هٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Katakanlah: "Inilah jalan-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah di atas bashirah, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". (QS Yusuf : 108)
Seruan tersebut dilakukan di atas bashirah yang jelas. Rasulullah SAW mengetahui jalan yang perlu ditempuh setiap manusia untuk kembali kepada Allah apapun keadaan mereka masing-masing. Orang-orang beriman mungkin mengetahui pula secara terbatas jalan kembali kepada Allah bagi dirinya dan orang-orang yang dekat dengan mereka maka mereka ikut menyeru untuk kembali kepada Allah sesuai keadaan masing-masing, setidaknya untuk mengikuti jalan Rasulullah SAW. Seruan itu dilakukan berdasarkan suatu bashirah yang jelas, bukan suatu dorongan hawa nafsu atau tebak-tebakan bahwa apa yang perlu mereka lakukan akan mengantar mereka menemukan jalan kembali. Rasulullah SAW dan orang-orang bersama beliau SAW akan bisa menjelaskan maksud kembali kepada Allah secara tepat sesuai dengan keadaan masing-masing orang. Mungkin ada orang yang berfikir bahwa seruan kembali kepada Allah adalah mengajak mati atau bunuh diri. Tentu tidak demikian. Jawaban tentang jalan kembali kepada Allah akan berbeda antara satu orang dengan orang lainnya sesuai keadaan masing-masing.
Barangkali setiap orang yang bersama dengan Rasulullah SAW mempunyai kekuatan bashirah yang berbeda-beda dalam menunjukkaan jalan kembali kepada orang lain, tetapi mereka mengetahui keberadaan jalan kembali itu untuk bersama dengan Rasulullah SAW. Seorang dengan akal yang sangat kuat akan mampu menjelaskan jalan kembali kepada orang lain dengan sangat jelas dan terperinci hingga mungkin saja orang yang mendengarkan merasa yakin untuk menempuh jalan itu karena telah menjelaskan keadaan dirinya secara khusus dengan sangat terperinci. Mungkin hamba Allah yang lain hanya dapat menjelaskan secara garis besar tentang keadaan diri mereka bersama tanpa dapat menjelaskan secara terperinci keadaan pendengar secara khusus. Sekalipun mungkin hanya dapat menjelaskan secara garis besar, apabila mereka orang yang melangkah bersama dengan Rasulullah SAW maka seseorang akan mendekat pada jalan kembali kepada Allah apabila mau mengikuti seruan hamba Allah tersebut.
Di sisi lain, ada kelompok di antara umat islam yang mengaku menyeru manusia kepada Allah bersama dengan Rasulullah SAW tetapi sebenarnya mereka tidak mengetahui jalan kembali kepada Allah bahkan untuk diri mereka sendiri. Mereka tidak mengenal sedikitpun kehendak Allah atas diri mereka kemudian tergesa-gesa melabel diri mereka sebagai ahlu sunnah, orang-orang yang bersama dengan Rasulullah SAW. Dengan mengikuti sifat dan sikap Dzulkhuwaisirah mereka mengatakan diri sebagai ahlu sunnah, sedangkan mereka tidak mempunyai bashirah sedikitpun tentang apa yang diseru oleh Rasulullah SAW. Mereka mencomot ayat-ayat dan hadits-hadits untuk diterapkan dalam tindakan tanpa membina landasan visi tentang akhlak mulia yang diserukan oleh Rasulullah SAW dalam melangkah kembali kepada Allah.
Ada pula orang-orang yang menempuh jalan kembali kepada Allah tetapi kemudian menyimpang dari jalan Allah. Mereka mengerjakan amal-amal tanpa berpegang pada firman Allah dan mungkin menganggap apa yang mereka kerjakan akan mendatangkan kebaikan bagi umat manusia, maka tetap saja mereka tidak menuju kepada Allah tetapi ke tempat yang lain. Mereka mengerjakan amal hanya mengikuti hawa nafsu sendiri atau seruan yang lain, tidak tidak berupaya melaksanakan penghambaan kepada Allah. Seruan yang lain itu berupa bisikan syaitan ataupun waham-waham yang mereka bina sendiri tanpa tuntunan kitabullah Alquran. Orang-orang yang melangkah bersama Rasulullah SAW akan selalu berusaha mengerjakan amal-amal mereka mengikuti firman Allah tidak mengikuti hawa nafsu diri mereka dan tidak mengikuti perintah syaitan. Mereka akan selalu berusaha memeriksa amal-amal dengan berpegang pada firman Allah. Mungkin ada kesalahan dalam suatu amal pada mereka, tetapi tidak terjadi karena sikap durhaka mengingkari firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW untuk mengikuti hawa nafsu atau syaitan. Bila muslimin melangkah tanpa berusaha memperoleh bashirah dari tuntunan kitabullah Alquran, mereka akan tersesat dalam perjalanan tidak kembali kepada Allah dengan selamat.
Rasulullah SAW adalah pemimpin Al-jamaah, dan orang-orang yang bersama beliau SAW mengenal kedudukan diri masing-masing dalam al-jamaah. Mereka mengenal perintah Allah bagi diri masing-masing di alam dunia sebagai bagian dari perintah Allah kepada Rasulullah SAW, dan sangat mungkin masing-masing mengetahui hubungan dirinya dengan sahabatnya hingga terbentuk al-jamaah. Demikian itulah al-jamaah. Kaum muslimin jaman ini banyak yang mendakwakan dirinya sebagai al-jamaah tetapi tidak sedikitpun mengetahui urusan dirinya di alam dunia yang datang dari sisi Allah, dan klaim demikian digunakan untuk berbuat rusuh di antara kaum muslimin. Pengakuan-pengakuan demikian tidak menunjukkan bahwa mereka adalah al-jamaah yang sebenarnya. Al-jamaah yang sebenarnya mengetahui ayat-ayat Allah di alam dunia selaras dengan ayat kitabullah, dan mengetahui urusan dirinya di alam dunia yang datang dari sisi Allah sebagai bagian dari perintah Allah kepada Rasulullah SAW.
Bashirah dan Akhlak Mulia
Bashirah menunjukkan suatu pengetahuan terhadap kebenaran yang harus dijadikan arah melangkah. Orang-orang yang bersama Rasulullah SAW mempunyai pengetahuan tentang arah langkah yang perlu ditempuh umat manusia sebagai jalan kembali kepada Allah untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Bashirah bukan berbentuk kilasan penglihatan-penglihatan mata bathin, tetapi suatu pengetahuan yang integral tentang kehendak Allah. Kilasan penglihatan mata bathin seringkali diistilahkan sebagai ‘ain atau a’yun (mata/banyak mata), merupakan bahan yang seharusnya digunakan untuk membina bashirah setelah diketahui sebagai berita yang benar. Bila kilasan itu dari hawa nafsu atau alam syaitan, kilasan itu tidak boleh digunakan untuk membangun bashirah.
Bashirah akan menjadi suatu ilmu tentang Allah. Kaum muslimin hendaknya mencari ilmu dengan sungguh-sungguh karena ilmu itu akan menjadikan akhlak mulia. Ilmu tentang Allah dan akhlak sangat berkaitan erat. Ilmu akan membentuk akhlak mulia, dan akhlak mulia akan menjadikan manusia memahami ilmu. Mustahil orang-orang berakhlak buruk bisa mengenali ketinggian nilai ilmu tentang Allah, seperti binatang babi hanya akan mengenali lumpur dan tempat kotor sebagai hal yang berharga bagi mereka, tidak akan mengenali ketinggian nilai mutiara, intan dan emas apabila diberikan kepada mereka.
Dari Anas ibn Malik r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَوَاضِعُ الْعِلْمِ عِنْدَ غَيْرِ أَهْلِهِ كَمُقَلِّدِ الْخَنَازِيرِ الْجَوْهَرَ وَاللُّؤْلُؤَ وَالذَّهَبَ
“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Dan orang yang meletakkan ilmu bukan pada pada ahlinya, seperti seorang yang mengalungkan mutiara, intan, dan emas ke leher babi.” (HR. Ibnu Majah)
Hadits di atas lebih ditujukan kepada orang-orang berilmu agar tidak memberikan ilmu mereka kepada orang-orang yang tidak bisa memahami nilai ilmu yang bisa diberikan. Hendaknya orang-orang yang bisa memberikan ilmu memperbaiki terlebih dahulu akhlak orang-orang yang kerkeinginan memperolehnya. Ilmu-ilmu yang telah diberikan hendaknya membentuk akhlak terlebih dahulu, dan akhlak itu menjadi landasan ilmu berikutnya. Bila sekiranya orang-orang yang akan diberi ilmu tampak akan membawa ilmunya ke tempat-tempat yang hina, hendaknya ilmu itu dicegah terlebih dahulu hingga seseorang mengerti untuk apa ilmu itu harus digunakan. Apabila ilmu diberikan kepada orang-orang yang akan menggunakannya untuk sekadar mencari gelimang harta atau mencari kedudukan di antara manusia, memberikan ilmu itu seperti mengalungkan mutiara, intan dan emas ke leher babi.
Akhlak akan menjadikan seseorang peka terhadap apa yang dibutuhkannya, termasuk ilmu. Orang-orang yang akhlaknya mulia akan peka terhadap kebenaran-kebenaran yang ada di sekitar dirinya, sedangkan orang-orang yang berakhlak buruk akan peka terhadap berbagai pengetahuan siasat untuk mendatangkan keuntungan yang sebesar-besarnya untuk dirinya. Sangat banyak tingkatan akhlak di antara manusia, tidak hanya orang yang jahat dan orang yang peka terhadap kebenaran. Ada orang-orang yang ingin menempuh jalan kembali kepada Allah tetapi tidak mampu membedakan ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang mendatangkan madlarat. Di tingkatan lain, banyak ilmu-ilmu dari kitabullah yang diabaikan oleh orang-orang yang membutuhkan ilmu karena mereka lebih menyukai ilmu-ilmu yang tidak jelas kebenarannya, karena waham mereka menjadikan mereka memandang ilmu dari kitabullah tidak terlalu bermanfaat. Kadangkala seseorang bisa merasakan nilai dari tuntunan kitabullah tetapi tidak mempunyai keberanian untuk mengikuti. Hal demikian juga menunjukkan suatu tingkat akhlak yang kurang. Setiap orang harus bisa mengenali nilai kebenaran pada ayat-ayat Allah yang disampaikan kepada mereka.
Sebagian orang mengatakan bahwa manusia akan serta merta mengetahui suatu kebaikan apabila disampaikan kepada mereka. Sebenarnya tidak selalu demikian, karena manusia akan mempunyai kecenderungan mengikuti akhlaknya. Tanpa memperbaiki akhlak, manusia akan tersesat manakala kembali kepada Allah. Orang-orang yang tersesat mungkin akan marah bila ditunjukkan kesesatan mereka berdasarkan tuntunan kitabullah, sekalipun mereka ingin kembali kepada Allah. Demikian pula orang-orang yang kurang akalnya mungkin menyangka bahwa mereka adalah orang-orang terpilih di antara manusia, sedangkan mereka memilih mengikuti waham mereka sendiri daripada mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Hanya orang-orang yang ingin memperbaiki akhlak saja yang akan mendengar tuntunan kitabullah secara benar, baik untuk beramal ataupun untuk memperbaiki keadaan mereka. Keinginan kembali kepada Allah itu harus ditempuh dengan jalan yang benar yaitu memperbaiki akhlak hingga Allah berkenan dengan akhlak dirinya.
Rasulullah SAW menyeru umat manusia kembali kepada Allah berdasarkan bashirah yang jelas tentang kemuliaan yang dihamparkan Allah hingga di alam dunia. Demikian pula orang-orang yang bersama dengan Rasulullah SAW dalam al-jamaah menyeru manusia kepada Allah dengan bashirah yang jelas. Seruan mereka akan menjadikan manusia menjadi lebih mulia karena kedekatan kepada Allah, dan terwujud kehidupan yang lebih baik bagi seluruh makhluk. Ada banyak kelompok-kelompok manusia atau muslimin yang mengatakan bahwa mereka menyeru kepada Allah tetapi mereka tidak mempunyai bashirah yang mampu menunjukkan jalan menuju kemuliaan. Sebagian seruan mereka menjadikan manusia bodoh dalam memahami tuntunan kitabullah atau bahkan kehilangan kemampuan menggunakan akal untuk memahami tuntunan. Hal demikian bukanlah seruan kepada Allah. Seruan kepada Allah akan menjadikan manusia mengenal nilai-nilai kemuliaan yang akan mengantarkan manusia untuk dekat kepada Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar