Pencarian

Kamis, 10 April 2025

Mengikuti Shirat Al-Mustaqim

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Dalam kehidupan dunia, ada banyak jalan kehidupan yang ditempuh oleh manusia. Di antara jalan-jalan yang ditempuh manusia, ada suatu bentuk jalan kehidupan yang merupakan jalan yang lurus untuk kembali kepada Allah. Ada orang-orang yang mengenal shirat al-mustaqim yang ditentukan bagi dirinya dan ia menempuh jalan kehidupan itu, maka ia adalah orang-orang yang hidup di atas shirat al-mustaqim. Ada orang yang mengenal shirat al-mustaqim yang ditentukan bagi dirinya sedangkan ia terhalang untuk menempuh jalan kehidupan itu. Sekalipun demikian, mereka adalah orang yang telah memperoleh petunjuk tentang shirat al-mustaqim. Sebagian besar manusia belum mampu mengenal jalan kehidupan yang ditentukan bagi dirinya. Bila ia mengikuti shirat al-mustaqim orang-orang yang mengenalnya, ia akan menemukan al-jamaah.

﴾۳۵۱﴿وَأَنَّ هٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
dan bahwa ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (QS Al-An’aam : 153)

Seseorang dikatakan mengenal shirat al-mustaqim apabila ia mengenal amanah Allah dalam kitabullah Alquran yang diberikan sebagai tugas bagi dirinya dalam kehidupannya. Alquran akan menjadi penyeru kepada seseorang untuk melangkah di atas shirat al-mustaqim secara istiqamah. Seruan tersebut harus disambut dengan mengerjakan amal-amal yang terkait dengan amanah yang ditentukan baginya dari kitabullah tanpa berbelok mengikuti seruan-seruan lain yang akan membelokkan langkahnya. Manakala seseorang mengikuti seruan yang menyimpangkan dirinya dari seruan kitabullah Alquran, ia akan tercerai-berai atau tersesat.

Shirat al-mustaqim terkait dengan pengenalan terhadap hakikat-hakikat dari sisi Allah yang diperuntukkan bagi seseorang sebagai bekal untuk layak berada di hadirat-Nya. Setiap orang harus berusaha mengisi penuh takaran-takaran hakikat yang diperuntukkan bagi dirinya secara setimbang dalam kehidupannya di dunia, tanpa berlebihan hingga merampas hak orang lain lain dan tidak menyimpang jalannya dalam mencari bagian diri. Upaya tersebut akan dapat dilaksanakan apabila ia beramal sesuai dengan jalan kehidupan yang ditentukan baginya. Suatu kekejian akan menyimpangkan seseorang dari jalannya kembali kepada Allah, dan mungkin pula ia dapat merampas hak orang lain, baik kekejian yang terbentuk pada wujud lahir ataupun kekejian dalam wujud bathiniah. Shirat al-mustaqim menjadi media bagi setiap mukminin untuk dapat mengisi timbangan dirinya dengan hakikat-hakikat dari sisi Allah hingga layak dihadirkan di hadirat Allah kelak.

Shirat al-mustaqim merupakan jalan yang satu yang diberikan kepada Rasulullah SAW, dan jalan itu kemudian terbagi-bagi dalam banyak bentuk sesuai dengan fitrah diri setiap hamba. Shirat al mustaqim yang dipahami seseorang hanya akan bernilai benar apabila shirat itu merupakan bagian dari jalan Rasulullah nabi Muhammad SAW. Setiap shirat yang menyimpang dari jalan Rasulullah SAW tidak boleh dianggap sebagai shirat al-mustaqim. Benarnya shirat sebagai bagian dari jalan Rasulullah SAW harus dapat ditunjukkan dengan tuntunan ayat kitabullah yang menjadi landasan amanah. Manakala seseorang tidak dapat menunjukkan ayat kitabullah yang menjadi amanah bagi dirinya, ia tidak dapat dikatakan telah mengenal shirat al-mustaqim. Setiap orang yang mengenal shirat al-mustaqim mengenal ayat kitabullah yang diperuntukkan bagi dirinya, dan mengetahui ketentuan-ketentuan yang ada dalam ayat itu serta ketentuan yang terkait dengannya dalam ayat kitabullah yang lain sebagai jalan memperoleh tambahan pengenalan hakikat-hakikat.

Manakala seseorang mengenal fitrah dirinya, ia harus berusaha mengenali amanah dengan tepat sesuai dengan perintah Allah dalam kitabullah Alquran. Sasaran yang harus dicapai melalui amal hendaknya dikenali berdasarkan ayat kitabullah agar langkahnya tidak sia-sia. Demikian pula seluruh ketentuan yang ada dalam amanah tersebut serta ketentuan-ketentuan lain yang terkait dengan ayat tersebut hendaknya dikenali dengan baik agar amal yang dilakukan mendatangkan hasil yang terbaik. Selain manfaat yang dapat diperoleh untuk umum, secara pribadi sangat banyak hakikat yang dapat terbuka melalui pemeriksaan pedoman pelaksanaan dari kitabullah. Hakikat-hakikat yang diperoleh itu akan menjadi bobot seorang hamba di hadirat Allah.

Pengenalan seseorang terhadap ayat kitabullah yang menjadi amanah bagi dirinya akan mengantarkan seseorang mengenal kedudukan dirinya dalam amr jami’ Rasulullah SAW. Syahadahnya tentang risalah nabi Muhammad SAW akan menjadi berbobot, bukan suatu syahadat tanpa mengetahui kandungannya. Dengan demikian, ia akan menjadi seorang ahlus-sunnah wal jamaah yang sesungguhnya. Al-jamaah merupakan kumpulan orang-orang beriman yang telah mengenal shirat al-mustaqim, dan mereka beramal untuk menolong agama Allah secara berjamaah sesuai dengan fitrah diri masing-masing.

Orang Yang Diberi Nikmat

Barangkali tidak setiap orang beriman mengenali shirat al-mustaqim bagi dirinya. Sebenarnya orang beriman boleh saja, dan seharusnya mengikuti langkah orang-orang yang mengenal shirat al-mustaqim maka ia akan bisa beramal shalih bersama di shirat al-mustaqim. Amal itu harus dilakukan dengan keimanan, yaitu membina pemahaman terhadap tuntunan Allah terkait amal yang dilakukannya, dan pemahaman itu lebih mudah diperoleh dengan bantuan orang yang mengenal shirat al-mustaqim. Pemahaman terhadap tuntunan Allah merupakan keimanan yang menjadi dasar amal shalih. Seandainya ia belum memahami, ia boleh saja beramal bersama orang yang menempuh shirat al-mustaqim selama amal itu bukan amal yang buruk, tetapi harus dibarengi dengan usaha untuk memahami tuntunan kitabullah terkait amalnya. Apabila tidak bersama mereka, setiap orang harus berusaha beramal shalih dengan pengetahuan dan pemahaman yang ada pada diri mereka sendiri.

Orang beriman hendaknya tidak mengatakan bahwa tidak ada orang yang mengenal shirat al-mustaqim di antara mereka. Akan senantiasa ada segolongan manusia di antara umat Rasulullah SAW yang tegak di atas amr Allah tanpa pernah terputus keberadaannya. Mereka barangkali tersembunyi dari pandangan manusia hingga waktu ketetapan Allah tiba, yaitu perintah agar mereka muncul bagi seluruh umat manusia. Ketidakmengenalan seseorang terhadap golongan yang tegak di atas amr Allah dalam banyak hal menunjukkan kurangnya usahanya untuk dapat bersama mereka. Setiap orang beriman harus berusaha untuk dapat mengenal golongan demikian dan beramal bersama-sama agar dihitung sebagai golongan al-jamaah.

لا تزال طائفة من أمتي قائمة بأمر الله لا يضرهم من خذلهم أو خالفهم حتى يأتي أمر الله وهم ظاهرون على الناس
Akan senantiasa ada segolongan manusia di antara umatku yang selalu tegak di atas amr Allah. Tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang menelantarkan mereka atau menyelisihi mereka sampai datang ketetapan Allah agar mereka muncul kepada (umat) manusia.” (HR. Muslim)

Orang beriman tidak harus benar-benar mengenal golongan itu untuk dapat beramal, tetapi harus selalu berusaha menemukan golongan itu untuk melaksanakan amr Allah. Ia harus memeriksa dan berusaha dengan sebaik-baiknya agar dapat menyertai golongan yang terbaik dalam menunaikan amr Allah. Manakala seorang mukmin dapat mengenali bahwa apa yang dikerjakannya bersama dengan jamaah benar-benar shirat al-mustaqim sesuai dengan apa-apa yang ditentukan dalam kitabullah, hendaknya ia mengikuti dengan sungguh-sunggguh amal-amal yang dilakukan bersama dengan al-jamaah menunaikan amr Allah, dan tidak berkeinginan untuk mengikuti jalan-jalan selain yang telah dikenalinya sebagai pelaksanaan amr Allah. Di antara tandanya, amal dalam shirat al-mustaqim akan terlihat sesuai dengan keadaan kauniyah dan efektif tepat sasaran. Apabila seseorang mengikuti jalan-jalan selain pelaksanaan shirat al-mustaqim setelah mengetahui shirat al-mustaqim untuk jamannya, jalan-jalan yang lain itu akan mencerai-beraikan dirinya dari jalan Allah.

Setiap mukmin hendaknya berusaha mengenali Al-jamaah dari sekian banyak jamaah di antara umat islam. Setiap mukmin hendaknya mengenali kebenaran, baru mereka akan mempunyai bekal untuk mengenali orang-orang yang mengikuti kebenaran. Al-jamaah yang tegak dalam pelaksanaan amr Allah itu bukanlah kelompok-kelompok yang melakukan pengakuan-pengakuan sepihak sebagai kelompok al-jamaah. Kelompok penuntut pengakuan sebagai al-jamaah demikian seringkali merupakan kelompok yang paling tersesat. Ini semisal dengan para pengacau yang mengusung slogan persatuan untuk menyerang dan melabel orang lain sebagai pengacau, sedangkan orang lain tidaklah demikian. Mereka menutupi keburukan dengan pengakuan sepihak. Al-jamaah yang sebenarnya tidak demikian. Al-jamaah merupakan kumpulan orang-orang yang bertakwa, memperhatikan dengan sungguh-sungguh langkah mereka sesuai dengan kehendak Allah tidak mudah melakukan klaim-klaim kebenaran dan takut untuk berbuat menyimpang. Setiap mukminin hendaknya tidak mudah tergiring dalam slogan-slogan yang dilakukan untuk klaim kebenaran, dan memeriksa setiap langkah yang mereka lakukan berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak hanya mengikuti perkataan-perkataan di antara mereka sendiri. Setiap mukmin hendaknya mengenali kebenaran, baru mereka akan mempunyai bekal untuk mengenali orang-orang yang mengikuti kebenaran.

Mengenali Al-jamaah seringkali membutuhkan waktu melalui kebersamaan dengan berbagai kelompok-kelompok yang beramal sebelum seseorang menemukan al-jamaah. Waktu yang dibutuhkan seseorang untuk mengenali kelompok yang memperoleh shirat al-mustaqim akan menjadi tidak terbatas manakala seseorang tidak memohon petunjuk Allah untuk dapat bersama orang-orang yang memperoleh nikmat Allah. Boleh jadi mereka tidak pernah menemukan Al-jamaah sepanjang hidup mereka, hanya terjebak dalam firqah-firqah yang mengaku sebagai pemilik kebenaran. Setiap orang harus memohon petunjuk shirat al-mustaqim dengan sungguh-sungguh kepada Allah, disertai dengan berusaha mengenali kebenaran-kebenaran dari sisi Allah. Sebenarnya setiap muslim telah berdoa demikian, tetapi boleh jadi tidak banyak muslim yang bersungguh-sungguh memikirkan doa utama mereka itu, maka mereka mungkin tidak benar-benar memohon petunjuk. Memohon petunjuk itu harus disertai dengan upaya mengenali kebenaran-kebenaran dengan akal untuk memahami kehendak Allah, tidak boleh hanya mengikuti perkataan manusia tanpa akal yang memahami.

Memastikan langkah bersama al-jamaah harus dilakukan hingga seseorang mengenal kedudukan nabi Muhammad SAW sebagai rasulullah, makhluk yang paling sempurna penghulu seluruh ciptaan Allah. Apabila seseorang tidak mengenal hakikat, pengenalan itu tidak dapat dilakukan dengan sempurna tetapi hanya suatu pengakuan tanpa suatu bukti. Pengakuan persaksian demikian boleh dan harus dilakukan, tetapi hendaknya langkah mukminin tidak berhenti pada pengakuan saja, harus berusaha memperoleh pengetahuan yang mendukung untuk mengenal kedudukan Rasulullah SAW. Tidak jarang manusia terhenti langkahnya dalam upayanya mengenal kedudukan Rasulullah SAW. Peristiwa terhentinya perolehan pengetahuan untuk mengenal Rasulullah SAW tidak hanya terjadi pada tahap pengakuan saja, tetapi bisa saja terjadi karena terjebak pada firqah yang mengaku pemilik kebenaran, atau bahkan terhenti setelah seorang mukmin berjalan mendekat kepada Allah karena terjadi kesesatan, ketergelinciran, dicabutnya amanah dan hal-hal lain yang membuat pengenalan itu berhenti. Setiap orang hendaknya selalu memohon kepada Allah untuk dapat mengenali shirat al-mustaqim. Permohonan petunjuk itu bukan hanya untuk mengenal shirat al-mustaqim secara umum untuk jamannya saja tetapi juga mengenal shirat al-mustaqim untuk dirinya secara khusus.

Kebanyakan manusia lebih mengikuti waham diri mereka atau waham kaum mereka daripada mengikuti kebenaran. Hal ini harus diwaspadai oleh orang beriman. Orang beriman bisa tersesat atau tergelincir hingga tidak mengikuti perintah Allah karena mengikuti pemahaman mereka sendiri. Kaum mukminin tidak boleh mengandalkan diri sendiri dalam menempuh shirat al-mustaqim, tetapi harus menggunakan seluruh sarana yang yang diturunkan Allah dengan sebaik-baiknya. Sarana itu terutama berupa kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Dalam setiap masa, Allah mengutus para pembaharu yang dapat membimbing manusia untuk mengenal jalan Allah, maka pembaharu itu juga merupakan sarana yang diturunkan Allah kepada manusia, terutama dalam menerangkan kehendak Allah untuk jamannya sesuai tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mengikuti pembaharu harus dilakukan dengan berpegang erat pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW karena kekuatan mereka dalam mengenal kehendak Allah tidak seperti Rasulullah SAW dan mereka tidak mengenal seluruh kandungan dari kitabullah hanya bagian saja.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar