Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Di antara perintah kepada manusia dalam kehidupan di bumi adalah melakukan pemakmuran di bumi. Pemakmuran bumi dapat dilakukan apabila umat manusia mengikuti langkah para rasul. Para rasul mengajarkan tauhid dalam bentuk penyatuan langkah hamba Allah selaras dengan kehendak Allah. Penyatuan demikian harus dimulai dengan pembinaan diri dengan sifat-sifat yang baik selaras dengan kehendak Allah membentuk akhlak mulia. Manakala akhlak mulia telah terbentuk, seseorang akan mempunyai cara berpikir selaras dengan tuntunan kitabullah. Apabila ia mempelajari tuntunan kitabullah ia akan mengerti secara tepat kehendak Allah yang seharusnya ditunaikan sesuai dengan keadaan kauniyahnya. Tauhid demikian dapat dengan mudah diingat dan dipahami apabila orang-orang beriman benar-benar menghayati makna doa iftitah.
﴾۱﴿بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan asma Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QSS Al-Fatihah : 1)
Doa itu merupakan pokok dari tauhid yang diajarkan para rasul yang diutus Allah kepada setiap umat. Setiap orang hendaknya selalu membina diri untuk beramal dengan landasan asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dengan akhlak diri yang pengasih dan penyayang. Seseorang tidak akan dapat beramal dengan landasan asma Maha Pengasih dan Maha Penyayang apabila tidak membina akhlak diri sebagai pengasih dan penyayang. Tauhid mengikuti tuntunan rasulullah akan menjadikan seseorang memahami ayat-ayat Allah secara benar dan terpadu antara ayat kitabullah dan ayat kauniyah. Pengetahuan mereka terhadap kehendak Allah dapat membentuk akar terhadap alam bumi mereka, bukan hanya suatu konsep yang melangit saja. Gambaran keadaan akidah mereka seperti pohon yang baik, akarnya mengakar kuat ke bumi dan cabang-cabangnya merentang di langit. Ini sangat berbeda dengan tauhid yang dibuat-buat manusia.
Bentuk penghambaan seseorang di kehidupan bumi terletak pada pelaksanaan amal-amal yang ditentukan bagi mereka. Seorang hamba adalah orang-orang yang melakukan segala amal yang ditentukan kepadanya oleh tuannya. Demikian pula hamba Allah adalah orang-orang yang melaksanakan amal-amal yang ditentukan Allah bagi diri mereka. Manakala seseorang tidak mengenal amal-amal yang ditentukan Allah bagi diri mereka, sebenarnya ia tidak bisa mengatakan bahwa diri mereka adalah hamba Allah sekalipun ia banyak beramal. Tidak masalah apabila seseorang mengatakan dengan keinginan menjadi hamba Allah, tetapi menganggap diri sebagai hamba Allah yang terbaik tanpa mengenal amal-amal yang ditentukan Allah bagi dirinya merupakan suatu pengakuan yang tidak ada isinya.
Sebenarnya Allah telah mengalungkan ketetapan-ketetapan bagi manusia sejak sebelum kelahiran di bumi, akan tetapi kebanyakan manusia tidak dapat mengingat kembali ketetapan-ketetapan tersebut. Hamba Allah yang sebenarnya adalah orang yang mengenal ketetapan bagi dirinya tersebut dan ia beramal dengannya sebagai sarana beribadah kepada Allah. Jalan untuk mengenali ketetapan-ketetapan tersebut adalah dengan membina diri sebagai misykat cahaya dengan membina akhlak mulia untuk dapat beramal semata-mata bagi Allah. Kemurnian ibadah kepada Allah hanya dapat tercapai dengan mengenal ketetapan diri sebagaimana penciptaan dirinya, tidak boleh dilakukan dengan menganggap muslimin selain dirinya sebagai pelaku kesyirikan. Cara demikian adalah cara yang buruk.
Pemakmuran bumi akan terjadi apabila manusia dapat memahami keadaan kauniyah diri mereka selaras dengan tuntunan kitabullah, dan kemudian beramal shalih sesuai dengan keadaan kauniyah mereka. Barangkali seseorang belum benar-benar mengenal penciptaan dirinya akan tetapi dapat memahami tuntunan kitabullah terkait dengan kauniyah ruang dan jaman dirinya, maka ia akan dapat beramal secara tepat memberikan sumbangsih bagi kemakmuran bumi mereka. Apabila seseorang tidak dapat memahami dengan benar ayat-ayat Allah yang disampaikan kepada mereka, mereka sebenarnya belum bisa benar-benar memberikan sumbangsih yang bermanfaat bagi pemakmuran bumi. Tidak jarang manusia merasa telah ikut serta memakmurkan bumi tetapi sebenarnya tidak memakmurkan atau justru melakukan kerusakan karena kurang paham terhadap perintah Allah.
Benarnya pemahaman seseorang terhadap perintah Allah harus diukur keselarasannya dengan tuntunan kitabullah Alquran mengikuti millah nabi Ibrahim a.s dan langkah Rasulullah Muhammad SAW tidak menyimpang. Itu adalah ketuntasan dalam pembinaan akhlak mulia. Kadangkala dijumpai seseorang membina akhlak dengan benar hingga tahap tertentu tetapi kemudian menyimpang setelah melalui tahap tersebut, maka hal demikian tidak termasuk pembinaan yang benar. Seandainya seseorang telah sempurna mengikuti tahap langkah nabi Musa a.s tetapi kemudian melangkah menyimpang dari millah nabi Ibrahim a.s setelahnya, ia termasuk orang yang menyimpang. Kelurusan pemahaman seseorang terhadap kebenaran ikut menyimpang. Ketuntasan pemahaman seseorang akan dicapai apabila seseorang telah mengikuti kesempurnaan millah nabi Ibrahim a.s membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Manakala telah sempurna mengikuti langkah nabi Ibrahim a.s seseorang telah dianggap tuntas kelurusannya dalam membina pemahaman diri hingga ia dijadikan terhubung dengan nabi Muhammad SAW. Langkah nabi Muhammad SAW menjadi hamba yang didekatkan dengan dimi’rajkan ke ufuk yang tertinggi merupakan kesempurnaan yang bersifat karunia.
Sempurnanya kelurusan pemahaman tidak menunjukkan sempurnanya pemahaman. Seseorang yang telah mengikuti langkah nabi Ibrahim a.s akan mempunyai pemahaman-pemahaman yang lurus, akan tetapi ia tidak mempunyai pemahaman yang sempurna sebagaimana nabi Ibrahim a.s atau Rasulullah SAW. Mungkin saja ia tidak mengetahui suatu perkara dengan benar karena tidak mempunyai pengetahuan kebenaran tentang urusan itu. Hanya saja apabila ia menjelaskan sesuatu dari pengetahuan dirinya, ia menyampaikan kebenaran dari apa yang ia jelaskan tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang harus menghargai kebenaran dalam tingkat apapun agar akalnya tetap tajam memahami kebenaran. Seseorang mungkin saja baru melangkah pada tahap keislaman, tetapi ia berusaha sungguh-sungguh agar ia tidak menyimpang dari islam maka ia termasuk sebagai orang yang benar. Demikian pula pada tahap-tahap langkah keimanan dan seterusnya mungkin saja seseorang melangkah mengikuti tuntunan Allah dengan benar maka ia termasuk orang yang benar tidak perlu dianggap orang yang merusak atau hina atau dianggap musuh. Sebaliknya kadangkala seseorang telah jauh mengikuti sunnah tetapi kemudian melangkah menyimpang dalam mengikuti millah nabi Ibrahim a.s dan sunnah Rasulullah SAW, maka langkah menyimpang demikian tidak perlu diikuti sekalipun tampak baik.
Beberapa Madlarat Pemahaman yang Salah
Pemakmuran bumi akan terwujud dari pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah. Benarnya pemahaman itu adalah keselarasan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala seseorang menyimpang dari tuntuan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, langkah penyimpangan itu tidak akan dapat mendatangkan pemakmuran sekalipun mereka berusaha keras untuk melakukan pemakmuran. Seringkali mereka justru melakukan kerusakan di bumi dengan amal-amal mereka, mungkin tanpa mereka sadari. Hal demikian muncul dari pemahaman yang salah terhadap sunnah Rasulullah SAW.
﴾۲۲﴿فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ
﴾۳۲﴿أُولٰئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَىٰ أَبْصَارَهُمْ
(22)Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan-hubungan kasih sayang kalian?(23)Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. (QS Muhammad : 22-23)
Ayat di atas terkait dengan kaum yang diperintahkan untuk taat kepada tuntunan Allah dan diperintahkan untuk mengatakan perkataan-perkataan yang ma’ruf. Latar belakangnya adalah mereka orang yang tidak taat dan perkataan mereka menyimpang dari tuntunan Allah. Sebenarnya mereka tidak memahami kehendak Allah dengan benar dan tepat dan mereka melakukan ketidaktaatan terhadap tuntunan yang disampaikan kepada mereka. Dengan keadaan demikian, mereka membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kasih sayang (shilaturrahmi) di antara mereka.
Kurangnya keimanan menjadi penyebab perilaku demikian. Orang-orang demikian itu adalah orang-orang yang beriman tetapi tidak sepenuhnya membina keimanan mereka sesuai dengan ayat-ayat Allah. Keimanan yang mereka bina menyimpang dari tuntunan Allah mengikuti waham sendiri, sedemikian beberapa keimanan mereka menjadi tandingan tuntunan Allah. Mereka bukan orang yang tidak mempunyai pengetahuan, tetapi pengetahuan mereka tidak menjadi pembenar terhadap kitabullah Alquran, dan bukan suatu pengetahuan yang menjadikan mereka berma’rifat kepada Allah. Artinya pengetahan mereka tidak benar-benar mempunyai landasan dari tuntunan kitabullah, dan sebagian amal-amal mereka menyimpang dari tuntunan Allah. Bisa saja mereka merasa mengikuti kitabullah atau berma’rifat kepada Allah, tetapi amal mereka tidak sesuai atau bertentangan dengan tuntunan Allah dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Pengaruh perilaku demikian bagi umat Rasulullah SAW dapat ditemukan pada pelaksanaan amr Allah. Ketika amr Allah telah dikukuhkan, sebagian kaum mukminin akan tersibukkan dengan urusan mereka sendiri yang dibuat berdasarkan pengetahuan tanpa dasar yang kokoh dari tuntunan Allah. Amr Allah yang telah ditetapkan bagi mereka ditinggalkan dan hanya sebagian orang saja yang benar-benar memperhatikan amr Allah berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman mereka. Perkataan yang keliru tetapi tampak indah itu menjadi penghalang besar bagi sebagian orang-orang yang mengikutinya. Besarnya halangan itu sedemikian bahwa mereka bisa saja merasa menjadi pelaksana amr Allah tanpa memiliki landasan yang tepat dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka mereka tidak melihat amr Allah yang sebenarnya. Secara umum manusia mudah berbuat salah, tetapi manakala disertai dengan merasa benar dengan kesalahannya maka mereka sulit menemukan kebenaran. Seandainya mereka beriman dengan benar terhadap tuntunan Allah dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW niscaya itu akan lebih baik bagi mereka.
Di antara menyimpangnya amal mereka dapat dilihat pada kerusakan yang terjadi pada umat manusia dan terpotong-potongnya shilaturrahmi di antara umat. Untuk melakukan perbaikan di bumi, setiap manusia harus membina landasan pengetahuan yang tepat terhadap kehendak Allah bagi diri mereka sebagaimana tauhid yang diajarkan para rasul. Pembinaan demikian harus dilakukan secara teliti dengan memperhatikan tugas perkembangan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW, dan mengarahkan perkembangan sesuai dengan langkah yang disunnahkan Rasulullah SAW dan para rasul. Manakala pembinaan dilakukan menyimpang dari langkah para rasul, akan terjadi kerusakan di antara mukminin. Berikutnya, untuk mewujudkan pengetahuan kebenaran, kaum mukminin membutuhkan jalinan shilaturrahmi di antara mereka. Orang yang tidak benar-benar memahami tuntunan Allah akan berbuat sesuatu yang memotong-motong jalinan shilaturrahmi yang seharusnya dibangun di antara mereka untuk mewujudkan pemakmuran di bumi.
Shilaturrahim dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, misalnya dalam hubungan kekerabatan dapat ditemukan adanya hubungan shilaturrahmi hubungan darah. Demikian pula hubungan antara seseorang dengan tetangganya terdapat hubungan shilaturrahmi bertetangga atau bermasyarakat. Dalam pembinaan umat, ada bentuk hubungan shilaturrahmi yang paling penting dibina dalam bentuk hubungan terhadap nabi Muhammad SAW. Setiap manusia hendaknya membina shilaturrahmi dalam bentuk pengetahuan kedudukan dirinya terhadap nabi Muhammad SAW bersama dengan yang lain dalam hubungan Al-Jamaah. Adapula hubungan shilaturrahmi yang berfungsi sebagai sentral pembinaan semua bentuk shilaturrahmi terdapat dalam wujud hubungan pernikahan.
Umat muslim tidak boleh memotong-motong tali shilaturrahmi karena mendatangkan laknat Allah, dan akan mendatangkan kesempitan rezeki bagi mereka. Perbuatan memotong tali shilaturrahmi pada dasarnya menunjukkan kurangnya pengetahuan terhadap kehendak Allah yang paling fundamental yaitu agar setiap manusia membina sifat Rahman dan Rahim. Sifat demikian akan tumbuh dengan parameter terhubungnya tali shilaturrahmi. Memotong tali shilaturrahmi sangat bertentangan dengan kehendak Allah. Terpotongnya tali shilaturrahmi tidak selalu dilakukan terkait hubungan diri sendiri, tetapi dapat pula terjadi berupa terpotongnya shilaturrahmi di antara orang lain. Fitnah-fitnah yang disebarkan seseorang kepada masyarakat bisa memotong shilaturrahmi orang-orang yang mereka fitnah. Daya rusak seseorang terhadap shilaturrahmi akan menjadi besar manakala mereka memperoleh kuasa. Seorang isteri bisa memandang suaminya tidak waras tanpa suatu bukti kegilaan karena omongan orang lain karena orang lain itu mempunyai kuasa. Demikian pula masyarakat luas dapat memandang seseorang orang yang tidak waras tanpa bukti sedikitpun adanya ketidakwarasan, dan hal itu memotong orang tersebut dari shilaturrahminya bermasyarakat. Orang-orang yang memotong-motong shilaturrahmi demikian akan tertimpa laknat Allah, dan jalan rezeki bagi mereka akan menyempit.
Pemakmuran bumi akan terjadi apabila manusia memahami dengan benar tuntunan Allah, yaitu pemahaman yang selaras dengan tuntunan kitabullah mengikuti langkah Rasulullah SAW. Setiap orang beriman harus membina pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah agar terhindar dari kerusakan. Sebaliknya kerusakan akan terjadi apabila manusia tidak memperhatikan ketentuan agama misalnya ketentuan halal dan haram dari Allah. Apabila kekejian (al-fakhsya’) yang dzahir ataupun yang bathin dibiarkan marak terjadi maka akan banyak kerusakan pada manusia dan shilaturrahmi akan mudah menjadi rusak. Suami dan isteri akan menjadi orang-orang asing satu sama lain karena kekejian yang terjadi sedemikian shilaturrahmi di masyarakat menjadi sangat buruk. Demikian pula manakala permusuhan (al-baghyu’) dipertahankan, kerusakan manusia akan terjadi dan shilaturrahmi akan menjadi rusak. Kaum muslimin dan mukminin harus berusaha menjadikan orang beriman yang bermusuhan melakukan ishlah, tidak mencegah orang beriman yang ingin melakukan ishlah. Bila permusuhan di antara satu orang dengan orang lain terus dipelihara oleh masyarakat dan ishlah di antara keduanya dihalang-halangi maka permusuhan itu akan menimbulkan kerusakan dan shilaturrahmi akan terputus. Kadangkala ada orang beriman memusuhi saudaranya sekalipun sebenarnya ia meragukan informasi yang ia peroleh hanya karena masyarakat mencegahnya memastikan informasi yang benar dan memaksakan informasi yang memunculkan permusuhan. Upaya menghindari permusuhan demikian ini harus dilakukan hingga tingkatan praktis misalnya memudahkan memperoleh informasi yang benar antara pihak yang bermusuhan, bahkan apabila ada pihak membutuhkan kebohongan untuk ishlah maka yang lebih penting adalah ishlahnya sekalipun tanpa informasi yang benar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar