Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Orang-orang yang mengikuti langkah Rasulullah SAW akan menjadi golongan orang yang memperoleh petunjuk jalan yang lurus. Mereka akan mengetahui jalan kehidupan yang harus ditunaikan dalam kehidupan mereka dan mengetahui jalan kembali kepada Allah. Jalan kehidupan yang harus ditunaikan setiap manusia yang dijadikan sebagai jalan kembali kepada Allah berupa shirat al-mustaqim itu seluruhnya telah dijelaskan di dalam kitabullah Alquran.
Alquran juga berfungsi sebagai penuntun bagi hamba Allah untuk berproses melakukan ibadah sedemikian ia dapat beribadah secara murni dan bersih.
﴾۲﴿إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّينَ
Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.(QS Az-Zumar : 2)
Allah menuntut kepada para hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya dengan penuh keikhlasan, yaitu berusaha mewujudkan kehendak Allah ke semesta alam. Kemurnian dalam ibadah kepada Allah bukanlah tuntutan mewujudkan bentuk-bentuk amal hanya mengikuti contoh Rasulullah SAW, tetapi tuntutan untuk berusaha memahami kehendak Allah bagi setiap diri dan berusaha mewujudkan kehendak Allah di alam ciptaan sedemikian makhluk memperoleh manfaat dari mengenal Allah. Bentuk keikhlasan itu berwujud usaha memahami tuntunan kitabullah yang terkait dengan kehidupan dan mewujudkan pemahaman terhadap tuntunan itu di alam semesta dengan amal shalih.
Sebagian kelompok menekankan keikhlasan beribadah kepada Allah dalam bentuk membersihkan kesyirikan, bid'ah dan khurafat dari umat islam dalam bentuk-bentuk syariatnya saja tanpa memahami manfaat tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, sedemikian mereka berakhlak buruk membuat rusuh umat Allah dengan meluncurkan tuduhan-tuduhan yang tidak perlu kepada umat islam lainnnya. Orang tidak bermaksud syirik dituding syirik dan sebagainya. Bentuk-bentuk syariat yang mereka wujudkan sangatlah mengagumkan bukan hanya dari pelaksanaannya saja tetapi juga bersihnya bentuk-bentuk syariat. Syariat-syariat yang seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana untuk beribadah justru dipertuhankan karena mereka tidak menggunakan akal untuk memahami kehendak Allah. Sebenarnya Allah tidak menghendaki keikhlasan agama dalam bentuk demikian, dan hal demikian sebenarnya merupakan rekayasa kaum musyrikin untuk menjadikan umat Rasulullah SAW berpecah-belah. Keikhlasan kepada Allah tidak boleh mengikuti Dzulkhuwaisirah dan keturunannya yang celaka tetapi harus diwujudkan dengan membina pemahaman terhadap tuntunan kitabullah Alquran untuk kehidupan dan berusaha mewujudkan pemahaman terhadap tuntunan kitabullah tersebut di alam semesta.
Alquran diturunkan dengan pokok dari setiap bentuk kebenaran dari sisi Allah. Kebenaran Alquran itu berada pada kedudukan yang paling tinggi. Di alam semesta ada banyak bentuk-bentuk kebenaran dalam berbagai tingkatan, dari tingkatan tertinggi hingga kebenaran-kebenaran nisbi di alam dunia yang merupakan manifestasi dari pokok ataupun turunan dari kebenaran dalam Alquran. Kebenaran-kebenaran itu hendaknya dipahami oleh para hamba Allah selaras dengan tuntunan kitabullah. Itu adalah usaha memahami kehendak Allah, dan hendaknya pemahaman itu diwujudkan ke alam semesta sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Ketepatan dan ketajaman dalam memahami tuntunan kitabullah untuk diwujudkan ke alam semesta itu merupakan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah.
Ibadah yang murni itu harus dilakukan setiap hamba untuk menunaikan agama, yaitu menunaikan fitrah diri yang telah ditetapkan Allah bagi setiap manusia sebelum dilahirkan di bumi. Manusia tidak bertanggungjawab untuk menunaikan seluruh amal, hanya amal-amal yang sesuai dengan fitrah dirinya saja. Sebaliknya penghambaan yang ikhlas oleh seseorang kepada Allah tidak dapat ditunaikan dalam bentuk sembarang amal. Boleh jadi amal demikian baik, tetapi tidak sepenuhnya menunjukkan pembinaan keikhlasan dalam beramal. Manakala seseorang harus memilih amal, hendaknya menyertai pilihannya dengan usaha mengenal kehendak Allah. Penghambaan yang ikhlas harus mengarah pada amal-amal yang terlahir dari pengenalan terhadap fitrah diri. Manakala amal-amal yang ditunaikan seseorang tidak mengarah pada pelaksanaan fitrah diri, hal itu menunjukkan bahwa tidak benar-benar terbentuk keikhlasan dalam diri seseorang. Suatu keikhlasan akan mengarahkan setiap hamba Allah untuk mengenal dan menunaikan amal berdasar fitrah diri.
Alquran menjadi penuntun bagi manusia untuk membangun keikhlasan. Ada prinsip dasar yang harus diperhatikan oleh hamba Allah. Sebenarnya kitabullah Alquran itu hanya benar-benar dipahami oleh orang-orang yang membina diri sebagai misykat cahaya. Alquran hanya tersentuh oleh orang-orang yang disucikan, tidak dapat dipahami hanya dengan menggunakan pikiran-pikiran saja. Orang-orang yang disucikan itu adalah sebagian dari orang yang membina diri membentuk misykat cahaya melalui proses tazkiyatun-nafs. Manakala memasuki tahap disucikan, seseorang akan diijinkan untuk memahami tuntunan dari kitabullah Alquran secara benar. Apabila ia terus membina diri sebagai misykat cahaya, Alquran itu akan menjadi suatu penuntun yang berbicara menuntun seorang hamba untuk memahami kehendak Allah dan mewujudkan pemahaman itu.
Di antara tahapan disucikan dan tahapan kitab yang berbicara, kadangkala seseorang belum sempurna membentuk misykat diri hingga harus bertafakur untuk memperoleh petunjuk dari kitabullah. Hal itu sah selama tidak menyimpang dari tuntunan kitabullah sedangkan ia seseorang yang mensucikan diri hingga disucikan Allah. Manakala petunjuk yang diterima seseorang menyimpang dari tuntunan kitabullah, petunjuk itu merupakan kesesatan dan akan menyesatkan orang-orang yang mengikutinya. Kadangkala seseorang berusaha memahami kitabullah tanpa melakukan tazkiyatun-nafs, maka penafsiran itu salah sekalipun isinya benar. Kesalahan demikian itu terjadi karena proses yang salah, bukan karena kandungan yang salah. Secara pribadi ia boleh berpegang pada pemahamannya, tetapi tidak digunakan untuk membina umat atau membina keimanan diri sendiri, harus berusaha mencari pembina tazkiyatun-nafs dan mentaati nasihatnya. Prinsip membina pemahaman terhadap kitabullah Alquran harus dipenuhi oleh setiap hamba Allah manakala berusaha memahami kandungan kitabullah.
Memurnikan Ibadah Kepada Allah
Orang-orang yang menunaikan agama dengan penghambaan mengikuti tuntunan kitabullah demikian adalah orang yang beribadah secara murni kepada Allah. Ia tidak mengikuti perkataan orang secara bathil, tetapi mengikuti kebenaran dari sisi Allah. Dalam tingkatan praktis mungkin ia harus menjadi bagian dari urusan orang lain dan harus menjadikan orang llain tersebut sebagai wali, tetapi ia tetap mengambil urusan penghambaannya berdasarkan kitabullah. Sikap demikian menunjukkan seseorang tidak mengambil wali-wali selain Allah. Walaupun menjadikan sebagian orang sebagai wali tetapi kewalian yang dilakukan itu sepenuhnya dalam batasan pelaksanaan kehendak Allah.
Ada kelompok manusia yang tidak benar dalam mengambil perwalian kepada manusia hingga mereka tergolong mengambil wali-wali dari selain Allah, yaitu orang-orang yang menyembah manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sangatlah jauh nilai ibadah orang-orang yang beragama secara murni dan orang-orang yang menyembah manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah.
﴾۳﴿أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّار
Ingatlah, hanya bagi Allah-lah agama yang bersih. Dan orang-orang yang mengambil wali-wali selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (QS Az-Zumar : 2-3)
Menyembah manusia adalah mengambil urusan dari orang lain dengan penuh pengabdian dengan mengesampingkan tuntunan Allah. Boleh jadi mereka memperhatikan tuntunan Allah tetapi dengan prioritas perhatian ditempatkan sejajar atau setelah perkataan orang yang disembah, serta menganggap orang tersebut merupakan representasi Allah. Atau bisa saja mereka tidak memperhatikan tuntunan Allah hanya memperhatikan perkataan orang yang disembah. Orang-orang demikian adalah orang-orang yang menyembah wali selain Allah. Mungkin wali yang disembah mengetahui, atau boleh jadi ia tidak mengetahui. Hendaknya wali tersebut melarang manusia menyembah dirinya dan memerintahkan mereka memurnikan ibadah hanya kepada Allah.
Perkara demikian ini sering menimbulkan perselisihan di antara hamba Allah. Misalnya manakala suatu pihak mengingatkan orang lain untuk mengikuti kehendak Allah tidak mengikuti Alquran dengan caranya sendiri. Perselisihan demikian ini sangat membingungkan, di mana mungkin akan muncul pemikiran atau pertanyaan apakah kehendak Allah berbeda dengan firman dalam kitabullah Alquran. Barangkali akan lebih mudah bila dijelaskan masalah kekeliruan cara memahami kitabullah sehingga orang tersebut tidak mengikuti Alquran dengan cara sendiri. Bagaimanapun orang yang mempunyai keinginan mengikuti tuntunan kitabullah Alquran menunjukkan adanya keinginan beribadah kepada Allah sekalipun mungkin dengan cara yang masih keliru. Apabila tidak dijelaskan kekeliruannya dalam tatacara memahami tuntunan Alquran, larangan demikian menimbulkan suatu pertanyaan besar. Orang yang ikhlas tidak akan mentaati larangan mengikuti tuntunan Alquran selama ia tidak mengetahui kesalahannya dalam mengikuti tuntunan kitabullah. Sekalipun seandainya malaikat jibril datang melarangnya, ia tidak akan berhenti mengikuti tuntunan kitabullah hingga jelas kesalahannya dalam mengikuti kitabullah.
Di sisi lain, apabila yang dimaksudkan sebagai mengikuti kehendak Allah itu adalah keharusan mengikuti perkataan seseorang dengan meninggalkan tuntunan kitabullah, maka hal demikian merupakan bentuk penyembahan kepada manusia. Sikap demikian menganggap ada manusia berkedudukan lebih tinggi dari firman-Nya hingga secara tidak langsung menganggap layak menjadi padanan bagi Allah. Sebenarnya Allah dan kehendak-Nya tidak akan dapat dibatasi pada pemahaman seorang manusia, dan seorang manusia tidak akan bisa mengungkapkan atau menjelaskan seluruh kehendak Allah. Rasulullah SAW merupakan satu-satunya makhluk yang memahami seluruh kehendak yang diperkenalkan Allah, tetapi pengungkapan kesatuan kehendak Allah harus dilakukan oleh seluruh manusia sepanjang masa, bukan Rasulullah SAW sendirian. Seorang hamba Allah selain Rasulullah SAW sebenarnya hanya bisa mengenal sekelumit dari kehendak Allah bagi dirinya sendiri tidak mengenal seluruh kehendak Allah. Masing-masing hamba Allah mempunyai kedudukan tertentu di antara hamba Allah lainnya yang akan diketahui apabila seseorang mengenal amanah dirinya dari kitabullah. Hendaknya seseorang tidak menentukan kedudukan dirinya secara prematur dengan bersembah kepada wali-wali selain Allah tanpa mengenal kandungan kitabullah. Kitabullah lebih layak menjadi representasi bagi seluruh kehendak Allah daripada manusia. Manakala suatu kaum membatasi urusan mereka pada perkataan seseorang dengan meninggalkan tuntunan kitabullah, maka mereka sebenarnya terjatuh bersembah kepada wali-wali selain Allah.
Keinginan dekat kepada Allah harus ditempuh melalui jalan yang ditentukan Allah, tidak boleh dilakukan dengan menempuh jalan sendiri melalui penyembahan kepada wali-wali selain Allah. Allah sebenarnya menghadirkan kepada setiap manusia yang menginginkan kedekatan kepada Allah suatu jalan lurus untuk menjadi hamba yang didekatkan. Jalan lurus itu hanya dapat ditempuh dengan ibadah yang ikhlas kepada Allah tidak boleh dilakukan dengan menyembah orang lain. Seandainya seseorang mengikuti orang lain yang lebih alim, dirinya harus lebih memperhatikan langkahnya mengikuti kitabullah tidak sepenuhnya mengikuti langkah orang lain. Indikator keikhlasan ibadah seorang hamba kepada Allah adalah ketepatan dan ketajaman dirinya dalam memahami dan menunaikan kehendak Allah selaras dengan tuntunan kitabullah Alquran. Ketepatan pemahaman ini tidak bisa dibatasi oleh perkataan makhluk, karena setiap makhluk lebih sempit dan mungkin berkedudukan lebih rendah daripada firman Allah Alquran. Manakala seseorang membatasi pemahamannya yang benar terhadap kehendak Allah berdasarkan perkataan manusia, ia sebenarnya telah mempertuhankan manusia tidak beribadah kepada Allah. Kadangkala seseorang harus membatasi amalnya, tetapi tidak perlu membatasi pemahamannya yang benar terhadap firman Allah berdasarkan perkataan manusia.
Mengherankan sekali bahwa ada orang-orang yang menyembah manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah sedekat-dekatnya. Ini adalah pikiran yang sama sekali salah. Sikap demikian ini akan mengarahkan langkah mereka menuju kerusakan, bukan mendatangkan kedekatan kepada Allah. Taghut akan datang kepada mereka dan mereka akan terbentuk sebagai kaum yang berbuat tanpa tuntunan kitabullah hingga mereka bisa saja mengharamkan apa yang dihalalkan Allah dan menghalalkan apa yang diharamkan Allah. Demikian itu merupakan fenomena yang akan dialami oleh suatu kaum yang menjadikan manusia sesembahan selain Allah. Boleh jadi mereka tampak berpegang pada tuntunan kitabullah tetapi sebenarnya akal mereka tertutup untuk memahami tuntunan kitabullah dengan benar. Taghut menjadikan mereka keluar dari cahaya menuju kegelapan. Untuk menghindari hal demikian, setiap orang harus berusaha berpegang dan memahami tuntunan kitabullah dimulai dari redaksi yang dapat dimengerti oleh pikiran, kemudian membina diri sebagai misykat cahaya melalui jalan tazkiyatun-nafs. Tuntunan kitabullah Alquran tidak boleh ditinggalkan oleh manusia sedikitpun agar semua orang selamat menempuh jalan hingga didekatkan kepada Allah. Kitabullah Alquran itu merupakan obat bagi taghut, mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.
Taghut mengajarkan manusia dengan kebohongan-kebohongan dan kekufuran-kekufuran. Ia tidak mengajarkan sesuatu dari kebenaran kecuali terkandung kebohongan di dalamnya. Perbuatan yang diwujudkan dari pengajaran taghut akan mendatangkan kerusakan-kerusakan karena kekufuran yang terkandung di dalam ajaran itu. Seringkali manusia mempercayai pengajaran-pengajaran taghut karena meninggalkan tuntunan kitabullah Alquran. Apabila hamba Allah berpegang teguh dengan tuntunan kitabullah, mereka tidak akan terseret pada kedustaan dan kekufuran dari taghut. Kedustaan dalam hal ini seperti kepalsuan, tampak serupa tetapi mempunyai nilai yang berbeda. Manakala seseorang mengikuti pengajaran-pengajaran taghut tanpa memperhatikan tuntunan kitabullah Alquran maka mereka akan menjadi orang-orang pendusta (palsu) dan kufur.
Perselisihan karena penyembahan kepada wali-wali selain Allah akan dihukumi Allah. Barangkali perselisihan itu sesuatu yang rumit dan sulit untuk diputuskan di antara orang-orang yang berselisih. Satu pihak dengan pihak lain mempunyai pendapat yang dipandang masing-masing sebagai suatu kebenaran. Boleh jadi seseorang atau salah satu pihak tidak mampu meluruskan pemahaman pihak lainnya. Karena keadaan demikian, Allah yang akan menghukumi perselisihan yang terjadi antara hamba Allah dengan orang-orang yang menyembah wali-wali selain Allah. Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang mendustakan kebenaran dan bersikap kufur terhadap kebenaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar