Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Rasulullah SAW merupakan tauladan utama bagi seluruh makhluk dalam beribadah kepada Allah. Setiap rasul diutus kepada umat masing-masing menyeru kepada umatnya untuk beribadah kepada Allah dan menjauhi taghut. Tidak ada rasul yang tidak menyeru manusia untuk beribadah kepada Allah semata-mata dan menafikan ilah yang lain selain Allah, dan setiap rasul itu menjelaskan suatu bagian dari sunnah Rasulullah SAW.
﴾۶۳﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (QS An-Nahl : 36).
Dalam istilah saat ini, setiap rasul yang diutus Allah selalu menyeru kepada tauhid. Tauhid secara bahasa merupakan bentuk masdar dari fi’il wahhada-yuwahhidu (dengan huruf ha di tasydid), yang artinya menjadikan sesuatu satu saja. Secara istilah, tauhid menunjuk pada perintah beribadah semata-mata kepada Allah dan menjauhkan ibadah dari kesyirikan. Barangkali setiap orang beriman mengetahui makna istilah demikian, tetapi sebenarnya banyak orang yang kurang mengetahui langkah yang benar. Tauhid yang diajarkan para rasul dengan apa-apa yang diajarkan oleh kebanyakan muslimin saat ini sebenarnya mengalami sedikit pergeseran.
Para rasul mengajarkan tauhid dalam bentuk penyatuan langkah hamba Allah selaras dengan kehendak Allah. Penyatuan demikian harus dimulai dengan pembinaan diri dengan sifat-sifat yang baik selaras dengan kehendak Allah membentuk akhlak mulia. Manakala akhlak mulia telah terbentuk, seseorang akan mempunyai cara berpikir selaras dengan tuntunan kitabullah. Apabila ia mempelajari tuntunan kitabullah ia akan mengerti secara tepat kehendak Allah yang seharusnya ditunaikan sesuai dengan keadaan kauniyahnya. Tauhid demikian dapat dengan mudah diingat dan dipahami apabila orang-orang beriman benar-benar menghayati makna doa iftitah “Bismillahirrahmaanirrahiim”, yang artinya “dengan asma Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”. Doa itu merupakan pokok dari tauhid yang diajarkan para rasul yang diutus Allah kepada setiap umat.
Dewasa ini terjadi pergeseran makna tauhid dalam langkah mewujudkannya. Barangkali semua orang memahaminya sebagai penyembahan kepada Allah semata-mata dengan menjauhkan diri dari kesyirikan, akan tetapi proses pembinaan yang dilakukan menyimpang tidak sebagaimana mestinya. Proses yang ditempuh dalam tauhid saat ini kebanyakan dilakukan dengan membuat suatu gambaran dalam pikiran tentang Allah Yang Esa kemudian manusia menyembah gambaran dalam pikirannya tersebut. Ini dapat dibenarkan sebagian tetapi harus dengan sikap hati-hati. Konsep tauhid demikian tidak membuat manusia berproses untuk lebih memahami cara beribadah yang sesungguhnya. Selain itu akan ditemukan fenomena adanya perkataan-perkataan tentang Allah yang sebenarnya dibuat-buat saja tanpa ada pemahaman terhadap maksud perkataan itu. Tidak jarang langkah itu kemudian diikuti dengan membuat tuduhan kesyirikan-kesyirikan terhadap orang lain yang tidak mengikuti kelompok mereka. Langkah ini tidak dapat dibenarkan, karena sebenarnya tauhid harus diikuti langkah berusaha memahami kehendak Allah. Tauhid yang demikian ini bukanlah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan rasul-rasul yang lain, tetapi diajarkan oleh ibnu Dzulkhuwaisirah digunakan untuk memunculkan perselisihan-perselisihan di antara kaum muslimin, disusun dengan menggunakan setengah kebenaran yang dikurangi maknanya kemudian ditambahkan ajaran yang merusak umat islam.
Tauhid demikian itu bukanlah tauhid yang kokoh karena orang yang mengikuti tidak akan bisa memahami secara tepat kehendak Allah dan tidak bisa menyusun konstruk pengetahuan yang kokoh. Manusia bisa memahami konsep tauhid demikian dalam beberapa menit dan selanjutnya tidak bisa menambah pengetahuan yang memberikan manfaat bagi diri mereka. Justru akan terbuka jalan menambah keburukan akhlak berupa keahlian mencaci orang lain tanpa mengetahui kegelapan yang terjadi atau cahaya yang seharusnya diikuti. Tidak ada pemahaman terhadap ayat Allah pada kauniyah yang bisa terbentuk melalui tauhid demikian. Pengikutnya hanya akan terkotakkan dalam waham dalil-dalil yang diputar-putar maknanya karena taghut mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan. Pengetahuan demikian hanya merupakan doktrin-doktrin yang tidak dapat berakar di bumi seperti pohon yang buruk tercerabut akarnya dari bumi.
Arah langkah membina tauhid yang diajarkan Rasulullah SAW dan para rasul utusan Allah adalah berproses membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah serta langkah-langkah lain yang mendukung terbinanya bayt demikian. Keadaan terdekat dari terbentuknya bayt adalah proses pembinaan diri sebagai misykat cahaya untuk memahami ayat-ayat Allah dengan benar. Pemahaman terhadap ayat Allah tidak boleh dibuat-buat dengan cara berpikir sembarangan, tetapi harus dengan akhlak yang baik, dengan nafs yang disucikan Allah setelah seseorang menempuh proses tazkiyatun-nafs. Setiap akhlak akan memunculkan pemahaman yang sesuai dengan keadaannya. Akhlak yang kurang baik akan memperoleh makna yang menyimpang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Dengan terbentuknya akhlak mulia, seseorang akan memperoleh pemahaman berdasar akhlaknya yang mulia manakala mengikuti firman Allah dalam kitabullah. Mungkin pemahaman yang diperoleh bukan pemahaman yang sempurna, akan tetapi selaras dengan kehendak Allah dan benar untuk diikuti, setidaknya oleh dirinya sendiri walaupun pemahaman itu mungkin baru sedikit. Dalam fase tertentu, terjadi suatu keterbukaan terhadap makna kitabullah dan pengenalan terhadap jati diri. Membina tauhid sesuai ajaran para rasul harus dilakukan sepanjang masa dengan tujuan menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah baik setelah kematiannya ataupun apabila Allah memberikan karunia mi’raj sebagai hamba yang didekatkan.
Tauhid mengikuti tuntunan rasulullah akan menjadikan seseorang memahami ayat-ayat Allah secara terpadu antara ayat kitabullah dan ayat kauniyah. Pengetahuan mereka terhadap kehendak Allah dapat membentuk akar terhadap alam bumi mereka, bukan hanya suatu konsep yang melangit saja. Gambaran keadaan akidah mereka seperti pohon yang baik, akarnya mengakar kuat ke bumi dan cabang-cabangnya merentang di langit. Ini sangat berbeda dengan tauhid yang dibuat-buat manusia. Tauhid yang dibuat-buat hanya akan membentuk pohon yang buruk, konsep pengetahuan yang tidak bisa membentuk akar ke alam bumi. Tidak sedikit orang islam kemudian terperosok mengikuti akidah ibnu Dzulkhuwaisirah menjadi penggonggong kepada umat Rasulullah SAW dengan konsep akidah pohon yang buruk, atau bahkan mencabik umat Rasulullah SAW manakala tuan mereka memerintahkan sebagaimana terjadi di negeri terberkahi Yaman dan Syam.
Kesudahan Yang Baik dengan Petunjuk
Allah memberikan petunjuk kepada sebagian hamba-Nya, dan sebagian orang yang lain telah tetap bagi mereka kesesatan. Kebanyakan manusia tidak berada pada salah satu dari kedua ujung keadaan itu, tetapi baru mengarah pada salah satu dari keduanya. Kadangkala kesesatan itu tidak terlihat oleh orang-orang kebanyakan sedemikian orang yang sesat dipandang sebagai orang yang mendapat petunjuk, dan orang yang mendapatkan petunjuk dipandang sebagai orang yang sesat. Orang sesat dan yang mendapat petunjuk bisa memakai pakaian yang tampak sama, tetapi sebenarnya nilai keduanya sangat berbeda. Untuk memperoleh kemampuan menilai orang yang mendapat petunjuk dan orang yang sesat, hendaknya manusia berjalan di bumi dan melihat kesudahan orang-orang yang mendustakan. Banyak tanda yang menjadi ciri kesudahan mereka, misalnya kehancuran atau berantakannya keadaan bermasyarakat dan lainnya. Orang-orang yang melangkah menuju kesudahan yang sama dengan para pendusta merupakan orang-orang yang tersesat. Orang-orang yang memperoleh petunjuk akan melangkah menuju kebaikan. Setiap orang hendaknya memperhatikan kesudahan dari langkah-langkah yang mereka ikuti. Kesudahan dalam hal ini dapat menunjuk pada akibat langsung ataupun akibat dalam jangka panjang. Kesesatan itu seringkali tidak dapat dilihat dari perkataan manusia-manusia yang sesat karena mereka menjadikan indah perkataan-perkataan mereka, tetapi tindakan yang mereka lakukan menimbulkan kerusakan.
Tanda-tanda yang mengarah pada kesudahan yang buruk dapat ditemukan pada banyak aspek. Kerusakan itu dapat terjadi pada nafs masing-masing orang karena terpengaruh kesesatan dan nafs itu memunculkan tanda kesudahan yang buruk. Orang yang mengikuti perkataan kaum khawarij akan menjadi orang yang merusak sekalipun mengikuti perkataan yang tampak benar dan indah. Bisa pula ditemukan sebagian perkataan yang diajarkan kepada umat menjadikan manusia tidak mampu menggunakan pikiran dan akal dengan benar, maka hal demikian itu termasuk sebagai tanda kesudahan yang buruk. Pengaruh itu bisa pula terjadi pada tatanan bermasyarakat sedemikian memunculkan tanda kesudahan yang buruk. Kadangkala suatu tatanan bermasyarakat dibuat tanpa dapat dipahami manfaatnya, atau bahkan jelas tampak kerusakan yang akan timbul dari tatanan demikian, maka hal demikian juga menunjukkan tanda kesudahan yang buruk. Misalnya kadangkala ekonomi menjadi sulit karena rusaknya tatanan yang diterapkan di suatu kaum. Demikian pula alam semesta dapat menunjukkan tanda-tanda kesudahan yang buruk karena kesesatan yang diikuti oleh masyarakat. Tanda kesudahan yang buruk demikian hendaknya diperhatikan agar seseorang tidak (terus) terseret menuju kesesatan.
Orang-orang yang memperoleh petunjuk akan menunjukkan tanda berupa tindakan yang mengarah pada perbaikan keadaan umat. Petunjuk yang diberikan kepada mereka juga membuat mereka memahami keadaan duniawi mereka bukan hanya memahami tuntunan langit saja. Sebagian petunjuk langit mungkin tidak dapat dijelaskan kepada kebanyakan manusia, tetapi petunjuk tentang keadaan bumi jarang yang bersifat rahasia. Pemahaman terhadap keadaan bumi kebanyakan bisa dibagikan kepada orang-orang beriman ataupun muslimin lainnya tanpa menimbulkan fitnah, bukan suatu ilmu yang tidak dapat diterangkan. Adapun kerahasiaan lebih bersifat strategi untuk melakukan pencapaian kebaikan, bukan karena potensi timbulnya fitnah karena petunjuk yang diperoleh. Apabila umat menemukan penjelasan keadaan bumi yang menjadikan mereka mengetahui kebaikan yang harus dilakukan, sangat mungkin penjelasan itu dilakukan oleh orang-orang yang memperoleh petunjuk, terutama apabila tidak ditemukan adanya niat buruk ataupun tipuan pada penjelasan itu. Orang yang memperoleh petunjuk berkeinginan memberikan kebaikan kepada umat tanpa keinginan buruk ataupun keinginan untuk kepentingan diri sendiri.
Timbangan yang dapat dijadikan indikasi kesudahan yang baik bagi umat manusia adalah arah taubat yang benar, yaitu terbentuknya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Ini adalah tegaknya struktur sosial diri seseorang dalam menegakkan urusan sesuai dengan kehendak Allah. Ada banyak indikator turunan dari tegaknya bayt demikian. Suatu seruan untuk tazkiyatun-nafs merupakan indikator arah yang benar menuju kesudahan yang baik, dan memandang suci diri sendiri merupakan indikator kesudahan yang buruk. Penguatan pikiran dan akal yang benar melalui tazkiyatun-nafs juga menunjukkan indikator arah kesudahan yang baik bagi manusia, dan sebaliknya setiap langkah yang menjadikan manusia bodoh dan lemah dalam memahami kebenaran merupakan indikasi arah kesudahan yang buruk. Memahami ayat-ayat kitabullah dan kauniyah secara tepat menunjukkan kesudahan yang baik, dan memanfaatkan ayat Alquran untuk kepentingan tersembunyi merupakan indikator kesudahan yang buruk. Bayt yang meninggikan dan mendzikirkan asma Allah merupakan kesudahan yang baik, sebaliknya bayt meninggikan selain asma Allah merupakan kesudahan yang buruk. Bayt yang baik merupakan bayt yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan masyarakat, bukan bayt yang menyimpang dari tuntunan Allah. Setiap orang hendaknya menimbang kesudahan yang baik dalam mengikuti langkah-langkah orang lain agar tidak terseret menuju kesesatan.
Dalam hal ini pikiran dan akal atau kebodohan dan kelemahan adalah dalam memahami kebaikan. Misalnya sekalipun seseorang tidak bisa banyak berbicara, apabila ia bisa memahami dan beramal dengan kebaikan, ia adalah orang yang pikiran dan akalnya kuat. Sebaliknya bila seseorang yang diberi nasihat yang benar-benar baik kemudian tidak melihat kebaikan nasihatnya dan justru berpikir buruk tentang orang yang memberikan nasihatnya, ia adalah seorang yang bodoh. Sekalipun ia menguasai berbagai teori-teori kebenaran yang sangat banyak tetapi tidak dapat memilih sikap yang baik ketika menghadapi kebenaran, ia sebenarnya orang yang bodoh. Demikian pula manakala seseorang hanya mengikuti bisikan-bisikan tanpa kemampuan menimbang kesudahan dari bisikan yang diterimanya, ia adalah orang yang bodoh. Sangat banyak contoh yang menunjukkan tentang kekuatan pikiran dan akal atau kebodohan dan kelemahan yang tidak dapat disebutkan.
Dalam prakteknya tidak mudah mengukur nilai kesudahan pada suatu seruan. Orang yang sesat seringkali juga membahas tema-tema dengan indikator yang sama walaupun sebenarnya tidak tepat nilainya. Begitu pula banyak orang menyeru pada kebaikan tetapi mereka belum benar-benar memahami nilai kebenaran yang diserukan. Pendengar seruan itu dapat menilai baik dan buruknya kesudahan dari seruan itu tidak secara hitam putih tetapi dalam persen-persen yang harus diikuti dan dihindari. Hal demikian merupakan keadaan yang selalu ditemukan, dan keadaan demikian menjadi salah alasan setiap orang untuk bersikap hanif, condong pada kebenaran. Manakala seseorang menentukan sikap secara fanatik, ia akan mudah terjebak pada kesalahan atau akan mengalami kebingungan manakala ada kesalahan yang ditemukan pada yang diikuti. Apabila seseorang hanif, ia bisa mensikapi kebenaran dan mengikutinya dengan mantap, dan mensikapi kesalahan dengan menghindarinya tanpa mencela secara berlebihan kecuali mengajak melihat langkah yang lebih baik. Di sisi lain pembacaan, nilai dalam persen itu kadangkala menunjukkan keadaan akal bukan nilai objeknya. Misalnya bila seseorang menilai kebenaran mengikuti Alquran hanya dalam persen rendah, mungkin sebenarnya keimanan dirinya yang senilai itu. Ia harus memperbaiki dirinya dengan lebih baik. Setiap orang harus bersikap hanif dan berusaha menentukan sikap yang tepat dengan pertimbangan sebaik-baiknya.
Berpegang Teguh Pada Tuntunan
Proses bertauhid mengikuti ajaran rasul harus ditempuh dengan penuh ketakwaan, tidak dapat mengandalkan kekuatan diri sendiri tetapi harus mengandalkan Allah. Sangat banyak hal yang dapat membelokkan perjalanan bertauhid menuju kesesatan. Mengandalkan Allah adalah berusaha sebaik-baiknya menempuh kehidupan mengikuti tuntunannya dengan berharap kepada Allah untuk menuntun kehidupannya, tidak mengharap secara kosong tanpa berusaha berpegang pada tuntunan yang telah diturunkan Allah. Tidaklah seseorang dapat memahami sendiri tuntunan Allah dengan benar tanpa berharap kepada Allah. Berharap kepada Allah tanpa berusaha berpegang pada tuntunan yang telah diturunkan akan sangat mudah ditipu oleh makhluk langit yang jahat yang akan datang sebagai taghut, dan hal demikian sebenarnya bukan sikap ketakwaan yang benar.
Ketakwaan yang benar adalah dengan berharap kepada Allah disertai tindakan berpegang teguh pada tuntunan yang telah diturunkan. Puncak petunjuk Allah adalah pemahaman terhadap ayat kitabullah Alquran. Ada banyak petunjuk yang benar diturunkan kepada manusia tetapi tidak dalam tingkatan sebagaimana kitabullah Alquran, maka petunjuk demikian berfungsi untuk mengantarkan seseorang untuk memahami tuntunan kitabullah Alquran. Manakala seseorang menyalahgunakan petunjuk lain untuk membantah kitabullah Alquran, ia telah menempuh jalan yang sesat maka hendaknya ia bersegera kembali kepada tuntunan kitabullah Alquran tidak terus mengikuti pemahamannya sendiri karena petunjuknya. Tidak jarang suatu petunjuk yang diterima seseorang bukan petunjuk yang benar, atau petunjuknya benar tetapi terselip di dalamnya sesuatu dari hawa nafsu atau syaitan maka Alquran harus digunakan untuk membersihkan petunjuk tersebut. Suatu petunjuk harus digunakan untuk mengantarkan diri seseorang memahami tuntunan kitabullah Alquran dengan benar. Kadangkala ditemukan suatu petunjuk bersifat praktis yang tampak bermanfaat tetapi hanya menjadi pendahuluan untuk selanjutnya syaitan beraksi menyesatkan, baik petunjuk itu benar ataupun tipuan syaitan. Hal demikian dapat diantisipasi apabila seseorang berharap kepada Allah untuk diberi pemahaman terhadap tuntunan kitabullah Alquran terkait petunjuk yang diterima.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar