Pencarian

Kamis, 01 Januari 2026

Beberapa Petunjuk Alquran Tentang Pembinaan Diri

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Orang-orang yang mengikuti langkah Rasulullah SAW akan menjadi golongan orang yang memperoleh petunjuk jalan yang lurus. Mereka akan mengetahui jalan kehidupan yang harus ditunaikan dalam kehidupan mereka dan mengetahui jalan kembali kepada Allah. Jalan kehidupan yang harus ditunaikan setiap manusia yang dijadikan sebagai jalan kembali kepada Allah berupa shirat al-mustaqim itu sebenarnya telah dijelaskan di dalam kitabullah Alquran.

﴾۶۱﴿يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Dengan (kitab) itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan mengeluarkan mereka dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus (QS Al-Maidah : 16)

Pada ayat di atas, Allah menjelaskan 3 manfaat Alquran bagi orang-orang yang mengikuti keridhaan Allah, yaitu menunjukkan jalan keselamatan, mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang serta memberikan petunjuk jalan yang lurus. Ini adalah tiga manfaat yang akan diperoleh oleh orang-orang yang mengikuti keridhaan Allah dari kitabullah Alquran.

Tiga manfaat tersebut dapat dilihat sebagai tingkatan-tingkatan manfaat yang dapat diperoleh oleh umat Allah. Tingkatan yang paling utama adalah petunjuk jalan yang lurus di mana seseorang mengetahui jalan kehidupan yang harus ditunaikan untuk menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah. Tingkatan pertama manfaat yang dapat diperoleh dari Alquran adalah jalan keselamatan, di mana boleh jadi kebanyakan manusia menjalani penghambaan kepada Allah dengan berada di tepian hingga mudah terjatuh dalam kebinasaan. Orang yang memperhatikan petunjuk kitabullah akan melihat jalan keselamatan dari kitabullah hingga mereka dapat memilih jalan yang selamat. Manfaat tingkat pertengahan yang dapat diperoleh hamba Allah adalah kitabullah mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang.

Jalan yang Selamat

Orang-orang yang berusaha berserah diri merupakan golongan besar umat Allah yang akan mendapatkan manfaat berupa jalan keselamatan manakala berpegang teguh pada tuntunan kitabullah. Setiap orang islam yang berpegang teguh dengan tuntunan kitabullah dalam menempuh jalan kehidupan akan memperoleh jalan yang selamat hingga mereka tidak binasa baik dalam kehidupan dunia ataupun akhirat. Barangkali mereka belum memahami keutamaan-keutamaan bagi hamba dari sisi Allah yang dapat diperoleh, atau apabila mereka hanya mempunyai sedikit ilmu tetapi berpegang teguh pada tuntunan kitabullah maka mereka akan selamat dari kebinasaan.

Kebinasaan-kebinasaan akan ditemukan apabila seseorang tidak berpegang atau menentang tuntunan-tuntunan kitabullah. Hal ini berlaku bagi semua tingkatan manusia baik kafir, orang-orang yang berserah diri, orang-orang yang beriman ataupun orang-orang yang ma’rifatullah. Tidak ada keutamaan pada diri seseorang manakala ia mempunyai keberanian menentang tuntunan kitabullah, karena ia sebenarnya menempatkan diri pada kebinasaan. Semua keutamaan yang ada pada diri seseorang sebenarnya tidak akan berguna manakala ia mengabaikan tuntunan kitabullah dan memilih jalannya mengikuti pendapatnya sendiri. Keutamaan pada diri seseorang itu hanya berasal dari firman Allah yang dihayatinya.

Kehidupan yang Terang

Setelah menempuh jalan keselamatan dengan tuntunan kitabullah Alquran, seseorang akan dikeluarkan oleh kitabullah dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang dengan ijin Allah. Ini adalah manfaat yang dapat diperoleh oleh orang yang diberi iman. Apabila Allah mengijinkan seseorang untuk beriman, iman itu akan menampakkan cahaya Allah ke dalam hatinya. Mereka akan mempunyai kesadaran tentang kebenaran dari sisi Allah dan dapat melihat arah kehidupan mereka sejak dari alam dunia hingga alam akhirat. Mereka memperoleh makna kebenaran ayat-ayat kitabullah yang dapat diterapkan dalam kehidupan mereka sebagai sarana untuk memperoleh ridha Allah. Alquran bukan suatu bacaan dari masa lalu, tetapi sebagai suatu ayat yang menjelaskan fenomena-fenomena yang mereka jumpai dari kehidupan mereka.

Orang-orang yang diijinkan Allah untuk memperoleh keimanan akan diuji dengan berbagai fitnah yang ditemukan dalam berbagai aspek kehidupan. Fitnah adalah sesuatu yang dipersepsi tidak sebagaimana yang sebenarnya. Orang yang benar-benar beriman akan bersikap mengikuti tuntunan kitabullah dengan membangun suatu pemahaman yang benar terhadap suatu peristiwa sekalipun orang lain menganggapnya keliru, dan mereka berusaha menghindari mengikuti fitnah. Orang-orang yang hanya mengikuti perkataan-perkataan orang lain secara keliru tanpa mempunyai kemampuan berusaha mengenal kebenaran manakala datang suatu fitnah, mereka sebenarnya tidak menunjukkan keimanan yang benar. Manakala seseorang tidak melalui suatu fitnah dengan benar, mereka sebenarnya masih berada dalam kegelapan dan tidak beranjak dari kegelapan. Ayat kitabullah itu belum memberikan manfaat mengeluarkan dirinya dari kegelapan. Apabila seseorang berusaha untuk membangun persepsi dan pemahaman berdasarkan tuntunan kitabullah, mereka akan bergeser dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang karena memperoleh manfaat tersebut dari kitabullah.

Banyak orang mengatakan dirinya beriman tetapi terombang-ambing dalam fitnah, bahkan sekalipun ayat-ayat kitabullah disampaikan kepada mereka terkait fitnah tersebut. Bukan sekadar terombang-ambing, bahkan mungkin saja mereka berpihak mengikuti fitnah tersebut. Hal ini benar-benar menjadi indikator tingkat keimanan. Kadangkala orang demikian sama sekali tidak mengetahui manakala mereka telah menentang ayat-ayat kitabullah, maka keadaan demikian ini sangat berbahaya. Sekalipun banyak beramal, seseorang yang tidak membangun pemahaman berdasarkan tuntunan kitabullah sebenarnya tetap berada dalam kegelapan, maka amal-amal mereka tidak akan mendatangkan manfaat secara memadai. Orang-orang demikian tidak akan mengenal amal shalih secara kokoh, hanya dapat beramal berdasarkan persangkaan tentang amal shalih. Amal shalih yang sebenarnya hanya akan dikenali oleh orang-orang yang menyusun pemahaman terhadap kauniyah diri mereka berdasarkan tuntunan kitabullah.

Ayat kitabullah akan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang. Ayat kitabullah ini tidak berdiri sendiri tetapi mempunyai turunan-turunan cahaya terutama melalui misykat cahaya. Perkataan manusia yang benar terkait kandungan dalam kitabullah merupakan bentuk uraian dari cahaya kitabullah, maka hal ini dapat mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Akan tetapi hendaknya setiap orang berhati-hati dengan kebathilan-kebathilan yang menyertai turunan dari cahaya kecuali terhadap sunnah Rasulullah SAW. Hendaknya setiap orang memperhatikan kelurusan perkataan manusia terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap perkataan yang bertentangan dengan kitabullah bukanlah turunan dari kitabullah. Perkataan yang menjelaskan tuntunan kitabullah mungkin merupakan turunan dari cahaya kitabullah, tetapi mungkin saja terselip kebathilan dalam uraian cahaya dari suatu misykat.

Manfaat dari cahaya dan penguraian cahaya itu tergantung pada sikap orang yang mendengarnya. Sikap mereka menentukan apakah semua itu akan menjadi cahaya atau akan berlalu begitu saja. Hanya orang-orang yang merasa membutuhkan kebenaran dan kebaikan yang akan memperoleh manfaat dari cahaya yang disampaikan. Orang yang kufur terhadap suatu kebenaran tidak akan memperoleh manfaat dari cahaya yang disampaikan kepada dirinya. Ada pula kelompok orang-orang yang terwahami sebagai pencari kebenaran tetapi tidak mengenal cahaya yang disampaikan kepada diri mereka karena kebodohan akal mereka. Sebagian kelompok demikian mengalaminya karena kemunafikan, dan sebagian lain terbodohkan akalnya karena mengikuti perkataan taghut yang menyeret mereka dari cahaya menuju kegelapan. Dengan keadaan demikian, mereka merasa menjadi orang-orang yang mencari dan mengikuti kebenaran tetapi sebenarnya tidak mampu mengenali cahaya kebenaran yang disampaikan kepada mereka.

Banyak perkataan yang terlahir dari thaghut, dan perkataan itu akan mengeluarkan seseorang dari cahaya menuju kegelapan. Sasaran dari perkataan taghut itu adalah orang-orang yang telah beriman, bukan orang-orang kafir ataupun sekadar dalam tingkatan muslim. Orang beriman itu akan dituntun dari kehidupan dengan cahaya menuju kehidupan yang gelap. Setiap pemahaman yang bertambah terhadap tuntunan kitabullah akan mendatangkan cahaya yang menerangi, dan setiap hijab yang menghalangi pemahaman terhadap tuntunan kitabullah merupakan upaya taghut membawa manusia menuju kegelapan. Seorang beriman akan menjadi orang kafir manakala menjadikan taghut sebagai wali.

Cara kerja thaghut membawa orang beriman menuju kegelapan dilakukan dengan melepaskan makna tuntunan kitabullah dari orang beriman. Upaya demikian biasanya dimulai dengan mencomot terminologi agama secara longgar tanpa suatu ikatan yang jelas terhadap tuntunan kitabullah. Misalnya suatu ayat membahas suatu tema, tema tersebut (dan ayatnya) kemudian digunakan sebagai bahan pengajaran tetapi penjelasan yang diberikan sebenarnya kurang atau tidak selaras dengan bunyi ayat yang diikuti dan tuntunan komprehensif dari Alquran. Kadangkala digunakan penjelasan yang masih ada ikatan terhadap bunyi ayatnya tetapi makna pentingnya hilang. Kadangkala digunakan kata-kata yang tampak bijak tetapi sebenarnya tidak mempunyai dasar dari kitabullah. Semakin lama pembinaan pemahaman terhadap tuntunan kitabullah menjadi tidak berdasar hingga orang-orang yang mengikutinya tidak dapat memahami tuntunan kitabullah. Bahkan kadangkala suatu kaum tidak dapat memahami redaksi letterlijk dari ayat kitabullah bukan karena rumitnya redaksi tetapi karena konstruk pemahaman keliru yang terbina dalam dirinya. Suatu ayat yang mengatakan sesuatu dengan jelas dan mudah kadang tidak dapat dipahami oleh akal yang digelapkan oleh taghut. Mereka berada dalam kegelapan tetapi merasa sebagai orang-orang yang memperoleh atau mengikuti cahaya. Demikian di antara cara taghut membawa manusia dari cahaya menuju kegelapan.

Orang beriman harus berusaha berpegang erat pada tuntunan kitabullah. Apabila seorang beriman tetap berpegang pada tuntunan kitabullah untuk tetap berada dalam kehidupan yang terang, mereka akan melihat amal shalih – amal shalih yang dapat atau seharusnya dilakukan. Kehidupan yang terang dalam hal ini adalah kehidupan yang terjelaskan oleh tuntunan kitabullah, bukan kehidupan bergelimang harta atau bentuk semacamnya. Akan ada saatnya terjadi suatu keterbukaan terhadap realitas kehidupan secara haqiqi, dan ia akan mengenali jalan kehidupan yang seharusnya ditunaikan sebagai jalan untuk didekatkan kepada Allah. Itu adalah petunjuk shirat al-mustaqim.

Petunjuk Shirat Al-Mustaqim

Petunjuk shirat al-mustaqim merupakan puncak manfaat yang disebutkan dalam ayat ini yang dapat diperoleh setiap hamba Allah dari tuntunan kitabullah Alquran. Petunjuk ini akan diperoleh setelah seseorang menempuh jalan yang selamat tidak binasa, dan kemudian ia hidup dalam kehidupan yang terang mengetahui dan memahami kebenaran pada kauniyah mereka berdasarkan tuntunan kitabullah Alquran. Tanpa menempuh kedua tahapan sebelumnya, seseorang akan memandang shirat al-mustaqim adalah sesuatu yang jauh dan sulit memperolehnya. Apabila seseorang berharap dapat memperoleh petunjuk shirat al-mustaqim hendaknya mereka mencari manfaat-manfaat pendahulunya dari tuntunan kitabullah Alquran, karena hal itu akan meringankan langkah yang harus ditempuh dan menjadikan petunjuk shirat al-mustaqim itu lebih dekat untuk diharap. Shirat al-mustaqim bukan petunjuk yang bisa tiba-tiba ditemukan tanpa seseorang menempuh proses yang mengarahkan diri pada shirat al-mustaqim.

Apabila seseorang mengikuti suatu pengajaran untuk menuju shirat al-mustaqim, hendaknya mereka menimbang pengajaran yang mereka terima berdasarkan manfaat-manfaat dari kitabullah Alquran. Sekiranya suatu pengajaran tidak memberikan suatu pengetahuan tentang jalan yang selamat, pengajaran itu bukanlah pengajaran yang benar. Kaum khawarij menjadi contoh kaum yang tidak selamat mengikuti pengajaran. Mereka mengajarkan kitabullah tetapi arah pembentukan akhlaknya keliru. Kadangkala suatu pengajaran jelas menjerumuskan pada suatu yang mencelakakan ditimbang berdasar kitabullah maka hal demikian merupakan kesesatan bukan sekadar khawarij. Demikian pula sekiranya suatu pengajaran menjadikan akal menjadi tumpul dan kesulitan untuk memahami cahaya Allah, pengajaran demikian bukan berasal dari keimanan tetapi dari thaghut. Para ahlul bid’ah menjadi contoh kaum demikian. Pengajaran demikian pada awalnya seringkali ditemukan berupa selipan-selipan terhadap ajaran kebenaran yang mendatangkan dampak tumpulnya akal, bukan suatu ajaran yang jelas seluruhnya berupa kesesatan. Pengajaran-pengajaran yang rusak demikian tidak selalu tampak buruk, dan seringkali dibungkus dengan keindahan-keindahan yang menyimpang dari tuntunan kitabullah Alquran. Ada penyimpangan yang sedikit dan ada penyimpangan yang besar. Kadangkala penyimpangan itu menunjukkan keselarasan pada sebagian bunyi ayat tertentu tetapi tidak kompak atau bertentangan dengan ayat lain. Suatu keadaa wajar bila manusia tidak memahami kebenaran secara menyeluruh dan kompak, tetapi tidak benar apabila seseorang merasa yakin benar dengan berpendapat secara menyimpang. Bersikap merasa benar dalam penyimpangan menunjukkan rusaknya suatu ajaran sedemikian tidak mungkin mengantar pada shirat al-mustaqim.

Pengajaran yang mengarahkan manusia menuju shirat al-mustaqim selalu menunjukkan jalan yang selamat dan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Kedua manfaat itu menjadi tanda pendahuluan bagi ajaran yang mengantar manusia menuju shirat al-mustaqim. Setiap orang harus membina diri secara kokoh dengan dasar-dasar pengetahuan jalan yang selamat berdasarkan kitabullah sebelum mengaku sebagai orang yang memperoleh cahaya keimanan. Seluruh pengetahuan yang dibina harus selaras kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Demikian pula seseorang harus membina diri untuk mengenal terangnya cahaya kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai cahaya kehidupan. Itu harus menjadi bukti keimanan sebelum berusaha atau mengaku memperoleh jalan yang lurus. Mengenal terangnya keimanan ini seringkali disertai dengan pengetahuan tentang buruknya nilai waham sendiri dibandingkan dengan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala seseorang lebih menyukai mengikuti waham daripada tuntunan kitabullah maka boleh jadi sebenarnya mereka belum beriman. Manakala seseorang merasa berjalan di shirat al-mustaqim sedangkan ia menempuh jalan yang binasa atau ia hanya mengikuti waham sendiri, perasaan itu hanya merupakan persangkaan yang keliru.

Petunjuk shirat al-mustaqim sepenuhnya berbentuk amanah-amanah dari ayat-ayat kitabullah tidak keluar dari kitabullah. Apabila seseorang memperoleh petunjuk amal-amal yang menyimpang atau bertentangan dengan ayat-ayat kitabullah, petunjuk itu samasekali bukan petunjuk shirat al-mustaqim. Ada bentuk-bentuk petunjuk yang diturunkan dari derajat yang lebih rendah daripada Alquran sehingga mungkin tidak disebutkan dalam Alquran, tetapi petunjuk yang benar tidak ada yang bertentangan dengan kitabullah Alquran. Petunjuk-petunjuk dalam derajat di bawah kitabullah Alquran berfungsi sebagai penjelasan dari ayat Alquran, tidak dapat berdiri sendiri menjadi suatu petunjuk yang mutlak. Mungkin saja petunjuk itu bisa digunakan secara operasional, tetapi manakala terjadi perselisihan kebenarannya petunjuk demikian tidak dapat digunakan untuk menentukan kebenaran yang harus diikuti. Perselisihan demikian harus diselesaikan mengacu pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar