Pencarian

Jumat, 30 Januari 2026

Shilaturrahmi untuk Memperoleh Washilah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Para rasul mengajarkan tauhid dalam bentuk penyatuan langkah hamba Allah selaras dengan kehendak Allah. Penyatuan demikian harus dimulai dengan pembinaan diri dengan sifat-sifat yang baik selaras dengan kehendak Allah membentuk akhlak mulia. Tauhid demikian dapat dengan mudah diingat dan dipahami apabila orang-orang beriman benar-benar menghayati makna doa “Bismillahirrahmaanirrahiim”, yang artinya “dengan asma Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”. Untuk benarnya pembinaan akhlak demikian, ada arah langkah membina tauhid yang diajarkan Rasulullah SAW dan para rasul utusan Allah yaitu berproses membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.

Dalam pembinaan bayt, terkandung suatu proses pembinaan akhlak manusia menuju kemuliaan berupa pembinaan hubungan kasih sayang (الْأَرْحَامَ).

﴾۱﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari nafs wahidah, dan dari padanya Allah menciptakan pasangannya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan kasih sayang. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS An-Nisaa’ : 1)

Hubungan kasih sayang (الْأَرْحَامَ) merupakan isi di dalam nafs yang harus ditumbuhkan setiap orang dalam kehidupan mereka, dan pernikahan merupakan media paling utama yang berguna untuk membina hubungan kasih sayang. Hubungan kasih sayang itu merupakan perpanjangan dari sifat rahman dan rahim yang tumbuh di dalam jiwa setiap manusia. Terdapat banyak bentuk hubungan kasih sayang yang dapat terbentuk di antara manusia, dan yang paling utama adalah hubungan kasih sayang dalam keluarga dan intinya terdapat pada hubungan pernikahan. Manakala kasih sayang dalam pernikahan tumbuh dengan baik, akan tumbuh pula hubungan kasih sayang pada diri seseorang terhadap keluarga dan terhadap masyarakat. Manakala kasih sayang dalam pernikahan rusak, akan kering pula kasih sayang pada diri seseorang terhadap keluarganya dan terhadap masyarakat. Kadangkala suatu hubungan kasih sayang seseorang terhadap masyarakat bersifat palsu karena pernikahan yang rusak, dan kadangkala sifat kasih sayang tumbuh dengan benar akan tetapi kerdil. Pernikahan merupakan media menumbuhkan asma Allah terutama sifat rahman dan rahim. Pertumbuhannya dalam diri seseorang akan terganggu manakala hubungan nafs wahidah diri seseorang dengan pasangannya diganggu.

Keberhasilan dalam membina pernikahan akan mewujudkan suatu bayt yang memperoleh izin Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya. Fungsi sosial diri pasangan itu akan berjalan dengan baik selaras dengan kehendak Allah. Seorang suami yang mengenal amal yang ditetapkan bagi dirinya akan berhasil menempati kedudukan dirinya dan melaksanakan amal yang ditetapkan sesuai dengan dengan kehendak Allah. Gambarannya, apabila jati diri suami adalah raja, ia akan mengetahui fungsi dirinya sebagai raja, dan ia memperoleh jalan untuk mengatur rakyat dan wilayah kerajaannya. Bila ia tidak berhasil membina pernikahannya, ia mungkin mengetahui jati dirinya sebagai raja akan tetapi tidak memperoleh jalan mengatur rakyat dan wilayah kerajaannya. Jangankan kerajaan, bahkan isterinya pun kadangkala tidak mau mengakui atau tidak mau mengenali fungsi diri mereka. Hal itu menunjukkan kegagalan membentuk bayt yang memperoleh ijin Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya.

Tanda keberhasilan pembinaan pernikahan dapat dilihat dari pertumbuhan hubungan kasih sayang (الْأَرْحَامَ) di antara suami dan isteri. Pada dasarnya setiap pihak dapat menumbuhkan sendiri rasa kasih sayang tetapi hanya secara terbatas bila pertumbuhan hanya sepihak. Manakala pertumbuhan (الْأَرْحَامَ) terjadi pada kedua pihak, hubungan kasih sayang itu akan menjadi subur dan saling menguatkan. Seorang suami dapat tumbuh membentuk misykat cahaya mengenal asma Allah melalui pernikahan sekalipun apabila isterinya tidak mengimbanginya, yaitu apabila ia menumbuhkan (الْأَرْحَامَ) secara lurus. Demikian pula seorang isteri dapat tumbuh menjadi perempuan subur yang memakmurkan negerinya manakala ia menumbuhkan (الْأَرْحَامَ) dalam dirinya secara lurus, sekalipun suaminya tidak tumbuh mengenal asma Allah. Suatu negeri akan rusak apabila (الْأَرْحَامَ) dalam pernikahan tumbuh secara keji. Keberhasilan pembinaan pernikahan akan terjadi manakala pihak suami dan isteri dapat membina hubungan kasih sayang (الْأَرْحَامَ) bersama-sama secara timbal balik dalam pernikahan mereka.

Kesuburan pertumbuhan al-arham akan mempengaruhi kesuburan pengetahuan seseorang atau pasangan terhadap kehendak-kehendak Allah. Seseorang bisa memperoleh pengetahuan tentang kehendak Allah melalui keberpasangan mereka, dan pengetahuan terhadap kehendak Allah itu akan menjadi semakin dalam apabila al-arham tumbuh kuat. Kadangkala seseorang hanya mempunyai pengetahuan berupa kilasan-kilasan tanpa memperoleh kedalaman makna karena kerdilnya pertumbuhan al-arham dalam dirinya. Ada orang-orang yang memperoleh kedalaman pengetahuan dan ia memperoleh jangkauan terhadap objek dari pengetahuannya karena kebersamaan pertumbuhan al-arham dalam pernikahannya. Ada pula orang-orang yang memperoleh kedalaman pengetahuan karena pertumbuhan al-arham tetapi tidak memperoleh jangkauan terhadap objek pengetahuannya karena pertumbuhan al-arham hanya sepihak. Pertumbuhan al-arham akan mempengaruhi pengetahahuan manusia terhadap kehendak-kehendak Allah.

Agama adalah pengenalan dan pelaksanaan fitrah diri seseorang berupa nafs wahidah. Pengenalan nafs wahidah tersebut terjadi dengan terkumpulnya pengetahuan seseorang terhadap kehendak Allah. Terkumpulnya pengetahuan dipengaruhi dengan pertumbuhan al-arham dalam diri. Terkumpulnya pengetahuan tersebut akan mengarahkan seseorang untuk mengenal diri, tetapi pengenalan terhadap nafs wahidah itu akan terjadi secara tiba-tiba berupa keterbukaan pengetahuan terhadap fitrah diri, suatu proses yang diskrit tetapi tetap berkorelasi dengan terkumpulnya pengetahuan. Dengan pengetahuan yang terkumpul, seseorang akan mengarah pada pengenalan diri tetapi tidak akan mencapai pengenalan diri kecuali Allah membukakan pengenalan diri tersebut. Sekalipun demikian, kumpulan pengetahuan itu sangat berguna untuk dijadikan landasan dalam beramal shalih. Seseorang dapat beramal shalih dengan terkumpulnya pengetahuan terhadap kehendak Allah melalui usahanya, tetapi bobot amal itu sama sekali tidak sama dengan orang yang memperoleh keterbukaan terhadap pengenalan nafs wahidah.

Washilah Kepada Ar-Rahim

Salah satu hal yang membedakan bobot amal shalih orang yang mengenal nafs wahidah dan amal shalih orang yang (baru) mengumpulkan pengetahuan kehendak Allah melalui usahanya adalah keterhubungan dengan Allah. Orang yang mengalami keterbukaan pengenalan terhadap nafs wahidah akan terhubung kepada Allah dengan mekanisme tertentu. Keterhubungan seseorang dengan Allah terjadi melalui keterhubungan dirinya kepada Ar-Rahim.

dari Abdurrahman bin ‘Auf r.a ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda :
قَالَ اللهُ تعالى: أَنَا اللهُ وَأَنَا الرَّحْمنُ, خَلَقْتُ الرَّحِمَ وَشَقَقْتُ لَهَا اسْمًا مِنْ اسْمِي فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ وَمَنْ قَطَعَهَا قَطَعْتُهُ
Allah SWT berfirman, ‘Aku adalah Allah, dan Aku adalah Ar-Rahman, Aku menciptakan Ar-Rahim, dan Aku mengambilkan baginya satu nama dari nama-Ku. Maka barangsiapa yang menyambungnya niscaya Aku menyambung (hubungan dengan)nya dan barangsiapa yang memutuskannya niscaya Aku memutuskan (hubungan dengan)nya.”(HR. at-Tirmidzi no. 1907, Abu Daud 1694, dan Ahmad 1662 dan 1683.)

Orang yang mengenal nafs wahidah dirinya dikatakan sebagai orang yang telah mengenal Allah (ma’rifatullah). Sebenarnya ma’rifatnya seseorang yang mengenal nafs wahidah tidaklah menunjukkan sempurnanya pengetahuan dirinya kepada Allah, hanya menunjukkan lurusnya pengetahuan dirinya terhadap Allah. Pengenalan nafs wahidah terkait dengan pengenalan kepada Allah melalui beberapa turunan, di antaranya pengenalan terhadap Ar-Rahman, pengenalan terhadap Ar-Rahim hingga pengenalan terhadap suatu asma’ tertentu yang diperkenalkan Allah kepada diri seseorang yang mengenal nafs wahidah. Nafs wahidah seseorang itu hanya memperoleh kemampuan mengenal asma’ tertentu yang diperkenalkan kepada dirinya, dan asma’ itu yang mengenal Ar-Rahim, dan Ar-Rahim itu yang terhubung kepada Ar-Rahman. Ada rangkaian washilah yang terbentuk yang menjadikan seseorang dikatakan mengenal Allah.

Manusia yang mengenal Allah dalam tajalli Ar-Rahman hanyalah Rasulullah SAW dan beliau SAW menghimpun seluruh pengetahuan terkait asma Allah. Manusia yang mengenal Allah dalam tajalli Ar-Rahim adalah nabi Ibrahim a.s. Kedua manusia itu menjadi uswatun hasanah bagi setiap makhluk yang ingin mengenal Allah. Tidak ada makhluk yang dapat mengenal Allah tanpa melalui pengenalan terhadap kedua uswatun hasanah. Adapun para nabi selain kedua uswatun hasanah tersebut, sebagian manusia harus terhubung melalui mereka a.s dan sebagian makhluk tidak harus terhubung melalui mereka a.s, akan tetapi seluruh nabi menjelaskan tentang kehendak Allah. Tidak ada orang mengenal Allah tetapi merasa sendirian dalam mengenal Allah.

Kisah yang menggambarkan rangkaian demikian dapat ditemukan pada kisah nabi Musa a.s. Manakala beliau bertemu dengan pohon berapi di lembah Thuwa yang mengatakan diri-Nya : “sesungguhnya Aku adalah Aku, (yaitu) Allah tidak ada tuhan selain Aku”, nabi Musa a.s saat itu sebenarnya bertemu dengan tajalli asma Allah yang diperkenalkan kepada beliau a.s. Pada suatu kesempatan yang lain, beliau a.s memohon kepada Allah untuk melihat rabb dalam bentuk sebenarnya. Beliau a.s mengetahui bahwa rabb yang memperkenalkan diri-Nya kepadanya hanya merupakan bentuk turunan dari rabb yang sesungguhnya. Maka beliau a.s diperintahkan untuk melihat suatu bukit dan hal itu menyebabkan beliau a.s pingsan atau mati sementara waktu. Yang dilihat nabi Musa a.s pada bukit itu merupakan tajalli asma Allah dalam derajat yang lebih tinggi dan pasti bukan tajalli Ar-Rahman. Tajalli Ar-Rahman hanya terjadi paling rendah di firdaus manakala Ia berkehendak menurunkan diri-Nya, dan umumnya tajalli-Nya berada di atas ‘Arsy.

Demikian hubungan seseorang dengan Allah sebenarnya terjadi melalui berbagai penurunan hingga seseorang mengenal Allah sesuai dengan keadaan diri masing-masing. Tidak ada seseorang mengenal Allah dengan sempurna, tetapi hanya mengenal apa yang diperkenalkan Allah kepada dirinya sebagai bagian dari Rasulullah SAW. Rasulullah SAW adalah makhluk yang paling mengenal Allah, tetapi sebenarnya beliau SAW hanya mengenal apa yang diperkenalkan Allah, bukan mengenal Allah secara sempurna. Tanda dari benarnya pengenalan seseorang kepada Allah adalah pengenalan dirinya terhadap kedudukan Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s. Tidak mungkin seseorang yang mengenal Allah mengabaikan kedudukan Rasulullah SAW dalam bertindak. Seseorang yang mengenal Allah akan berusaha bertindak sebatas dalam urusan dirinya saja yang diambil dari urusan Rasulullah SAW, tidak akan membuat tindakan sendiri di luar tuntunan Rasulullah SAW misalnya menghalalkan yang diharamkan dan lain-lain. Mungkin ia bertindak salah, tetapi tidak ada keinginan keluar dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Tumbuhnya pengenalan makhluk kepada Allah terjadi melalui tumbuhnya al-arham. Terhubungnya seseorang kepada Allah terjadi melalui terhubungnya al-arham dalam diri seseorang hingga mengenal Ar-Rahim. Keterhubungan seseorang kepada Ar-Rahim merupakan bentuk hakiki dari shilaturrahmi. Banyak bentuk turunan dari shilaturrahmi dan bentuk-bentuk turunan dari shilaturrahmi dalam hubungan manusia di bumi akan mendatangkan manfaat semisal dari manfaat shilaturrahmi. Bahkan sebenarnya hubungan terhadap Ar-Rahim hanya akan tumbuh dari shilaturrahmi dalam bentuk-bentuk duniawi yang merupakan turunan dari shilaturrahmi yang hakiki.

Sarana Membina Shilaturrahmi

Media paling baik dalam menumbuhkan hubungan kasih sayang di dunia adalah pernikahan dan hubungan keluarga. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فِى اْلأَهْلِ وَمَثرَاةٌ فِى الْمَالِ وَمَنْسَأَةٌ فِى اْلأَثَرِ
Sesungguhnya silaturrahim adalah rasa cinta di dalam keluarga, bertambahnya harta, dan memperkokoh jejak (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi)

Hadits di atas merupakan tuntunan bagi orang beriman dalam membina shilaturrahmi dalam media terbaik berupa pernikahan. Pernikahan merupakan cerminan di alam dunia bagi hubungan nafs wahidah dengan jasmani seseorang, dan representasi dari jalan keterhubungan seorang hamba Allah dengan Ar-Rahim. Pembinaan shilaturrahmi di media pernikahan hendaknya dilakukan selayaknya sebagai cerminan dari pembinaan hubungan seorang hamba dengan Ar-Rahim, dimanifestasikan dalam parameter terbinanya mahabbah antara dua insan menikah, penambahan harta bagi mereka, serta terbentuknya jejak yang kokoh di bumi sebagai hamba Allah.

Mahabbah dalam pernikahan hendaknya ditumbuhkan layaknya hubungan hamba Allah dengan Ar-Rahim, di mana seorang hamba mencintai Ar-Rahim dengan mengenal kebaikan yang tersimpan pada Ar-Rahim. Demikianlah seorang isteri hendaknya mencintai suaminya sebagai sumber kebaikan dari sisi Allah bagi dirinya. Baik ataupun buruk seorang suami, ia adalah wujud yang dihadirkan bagi diri seorang isteri untuk mengabdi kepada Allah sedemikian ia dapat mengabdi kepada Allah dalam bentuk amal yang nyata. Hendaknya ia bersyukur terhadap kehadiran suami yang menikahi dirinya dengan membina mahabbah karena Allah. Manakala suami memperoleh pengetahuan tentang kebaikan dari sisi Allah, isteri hendaknya mendukung dengan jiwa raga untuk mewujudkannya, tidak memaksa suaminya mengikuti keinginan sendiri atau keinginan orang lain. Demikian pula suami hendaknya mencintai isteri dan keluarganya sebagai bagian dari dirinya sendiri yang harus dimuliakan hingga bentuk-bentuk duniawi. Suatu mahabbah yang tumbuh di antara pasangan suami isteri akan memudahkan pasangan itu dalam menambah harta benda dan memperkokoh jejak keberadaan diri mereka sebagai hamba Allah.

Di antara tujuan menumbuhkan al-arham melalui pernikahan adalah mengumpulkan harta dan membuat karya-karya sebagai jejak sebagai hamba Allah yang dapat dilihat oleh makhluk lain. Mengumpulkan harta melalui pembinaan shilaturrahmi bukanlah perbuatan yang didasari sikap tamak ataupun rasa takut kekurangan, tetapi suatu usaha mengumpulkan segala sesuatu yang terserak bagi diri mereka yang dilakukan dengan melaksanakan amal-amal yang ditentukan Allah. Pelaksanaan amal demikian merupakan suatu ibadah yang akan menambah harta bagi mereka, dan harta itu tidak membahayakan. Demikian pula membuat karya-karya perlu dilakukan para hamba Allah sebagai jejak orang beriman dengan membina Al-Arham. Amal demikian tidak boleh dilakukan untuk kemasyhuran diri, tetapi dilakukan untuk menunjukkan kehendak-kehendak Allah kepada manusia sebagai suatu jalan kehidupan bertaubat kepada Allah, sebagaimana nabi Ibrahim a.s meninggalkan jejak yang panjang bagi seluruh hamba Allah berupa pembangunan bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Terbinanya Al-arham di antara suami dan isteri akan memanjangkan dan memperkokoh jejak langkah mereka dalam memberitakan khazanah di sisi Allah.

Banyak mukminin tidak berhasil dalam membina shilaturrahmi dalam pernikahan. Banyak mukminat tidak dapat mensyukuri jodoh yang diberikan kepada dirinya, lebih mencintai harta ataupun tergoda laki-laki lain daripada mensyukuri kehidupan bersama suami yang dinikahkan di hadapan Allah. Kadangkala seorang mukminat tidak mau menikah dengan jodoh yang baik bagi dirinya karena calon suaminya dipandang tidak mempunyai harta yang mencukupi dirinya. Banyak mukminat tidak menyadari bahwa peran keumatan dirinya adalah menumbuhkan kekayaan bersama suami dan memperkokoh jejak langkah melalui pernikahan. Demikian pula banyak mukminin yang tidak sungguh-sungguh mengharap kedekatan kepada Allah melalui jalan yang disediakan, tidak mensyukuri sarana yang disediakan bagi dirinya. Sumber kegagalan kadangkala datang dari syaitan yang berhasil memperoleh jalan merusak pembinaan shilaturahmi pernikahan sedemikian pembinaan gagal atau keberhasilan hanya terjadi pada satu pihak saja. Hal itu membuat syiar agama tidak dapat tersebar dengan baik kepada umat. Hal demikian menjadi suatu masalah penyebab umat tetap terbelakang dan berada dalam kemiskinan sekalipun tanpa gangguan dari musyrikin. Orang beriman hendaknya berusaha tidak dalam keadaan demikian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar