Pencarian

Senin, 26 Januari 2026

Membangun Komitmen Ketaatan

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Jalan kembali kepada Allah demikian terbentang sejak kehidupan di bumi dalam wujud tugas pemakmuran bumi. Pemakmuran bumi akan terwujud dari pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah. Benarnya pemahaman itu adalah keselarasan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala seseorang menyimpang dari tuntuan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, langkah penyimpangan itu tidak akan dapat mendatangkan pemakmuran sekalipun mereka berusaha keras untuk melakukan pemakmuran. Seringkali mereka justru melakukan kerusakan di bumi dengan amal-amal mereka, mungkin tanpa mereka sadari. Hal demikian muncul dari pemahaman yang salah terhadap sunnah Rasulullah SAW.

Allah memerintahkan orang beriman untuk memperhatikan masalah ketaatan dan perkataan yang ma’ruf. Hal ini terkait dengan adanya orang-orang yang yang tidak taat dan membuat perkataan-perkataan secara menyimpang dari tuntunan Allah. Hendaknya orang-orang beriman menghindari langkah orang yang tidak taat kepada tuntunan Allah dan menghindari mengikuti perkataan yang menyimpang dari tuntunan Allah. Mereka tidak benar-benar memahami kehendak Allah dengan tepat dan mereka melakukan ketidaktaatan dengan membantah tuntunan yang disampaikan kepada mereka.

﴾۱۲﴿طَاعَةٌ وَقَوْلٌ مَّعْرُوفٌ فَإِذَا عَزَمَ الْأَمْرُ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ
(Perhatikanlah) ketaatan dan (perhatikanlah) perkataan yang ma’ruf. Maka (perhatikanlah) manakala amr Allah telah ditetapkan, apabila mereka membenarkan Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka. (QS Muhammad : 21)

Ketaatan yang haq terkait erat dengan penyatuan usaha manusia atau suatu kaum terhadap upaya pelaksanaan urusan Allah. Dalam kehidupan di bumi, setiap orang sebenarnya diberi tugas untuk melaksanakan urusan pemakmuran bumi bersama orang-orang yang lain, akan tetapi kebanyakan orang terlupa dengan tugas yang harus mereka tunaikan. Sebagian manusia memakmurkan jasmaniah diri mereka sendiri tanpa memperhatikan kebaikan-kebaikan yang seharusnya diberikan kepada orang lain, sebagian orang melakukan pemakmuran mengikuti pemikiran dan hawa nafsu sendiri, sebagian orang terjebak dalam kehidupan sinkretik tanpa memikirkan pemakmuran bumi yang harus dilakukan bersama orang lain, sebagian orang melakukan ketaatan kepada pemegang urusan Allah, dan banyak macam bentuk kehidupan manusia terkait pemakmuran yang harus dilakukan. Orang-orang yang benar dalam usahanya untuk melakukan pemakmuran bumi adalah orang-orang yang menemukan washilah untuk pelaksanaan perintah Allah pada diri seorang ulul amr, dan ia mentaati pelaksanaan urusan itu. Mereka adalah orang-orang yang mentaati Allah dan mentaati Rasulullah SAW dan ulul amr di antara mereka.

Ketaatan terlahir dari kebutuhan seseorang terhadap pemimpin. Ini pada dasarnya adalah fitrah dari nafs wahidah tetapi dapat muncul turunannya di setiap tingkat entitas diri seorang manusia. Ketaatan seseorang akan terbentuk sesuai dengan kebutuhan dirinya tentang pemimpin yang layak baginya. Seseorang yang sangat menginginkan ibadah yang sungguh-sungguh kepada Allah akan mengarah pada terbentuknya ketaatan kepada imam yang benar dalam wujud ulul amr, sedangkan orang yang menginginkan dunia akan membentuk ketaatan kepada pemimpin yang mampu memudahkan ketersediaan kebutuhan dunianya. Dalam perjalanannya, manusia mungkin tidak langsung bisa menemukan ulul amr yang memperoleh pengetahuan tentang kehendak Allah, tetapi harus memulai ketaatannya dari kegelapan. Tidak ada ketaatan yang tercela selama tidak menjadikan berbuat maksiat kepada Allah, tetapi hendaknya seseorang selalu membangun ketaatan yang lebih baik dengan selalu membangun paradigma kehidupan yang lebih baik. Ia harus memperhatikan perkataan-perkataan yang ma’ruf dengan berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Perkataan yang ma’ruf merupakan bahan membangun bentuk ketaatan terhadap ulul amr dalam pelaksanaan urusan Allah.

Dari ‘Ali r.a berkata, “Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ.
Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam hal yang ma’ruf.’” [Muttafaq ‘alaih].

Ketaatan harus dilakukan hanya dalam hal yang ma’ruf. Kata إِنَّمَا yang diartikan “hanya” menunjukkan batasan atas suatu masalah. Kalimat tersebut tidak memberikan perintah untuk tidak taat atau melakukan perbantahan terhadap hal yang tidak diketahui kema’rufannya, tetapi bahwa hendaknya setiap mukmin membangun komitmen ketaatan tertentu dengan landasan kema’rufannya. Jelas kalimat itu mencegah orang beriman untuk melakukan ketaatan dalam hal yang bertentangan dengan kehendak Allah atau maksiat, tetapi tidak terbatas pada masalah tersebut. Perkataan ini ditujukan kepada orang beriman yang ingin menemukan washilah mengikuti kebenaran dan berusaha membangun komitmen ketaatan yang bernilai mulia. Setiap orang beriman hendaknya mencari ketaatannya berlandaskan hal yang ma’ruf tidak membiarkan dirinya terombang-ambing mengikuti langkah orang lain terus-menerus tanpa mengetahui nilai ma’rifatnya.

Perkataan yang ma’ruf adalah perkataan-perkataan yang mengantarkan seseorang untuk mengenal kehendak Allah dengan benar sedemikian seseorang menjadi lebih kokoh dalam ibadahnya kepada Allah. Pengenalan terhadap kehendak Allah bukan hanya tentang tatacara syariat atau norma-norma kebaikan saja tetapi juga termasuk kehendak-kehendak terkait amal-amal duniawi yang harus dilaksanakan untuk mewujudkan kehendak Allah di bumi. Manakala seseorang mengetahui kehendak Allah atas dirinya, ia dapat menghambakan dirinya kepada Allah dengan pengetahuan tersebut, dan itu adalah penghambaan yang kokoh dalam kehidupan di bumi. Pengenalan terhadap kehendak Allah melalui perkataan-perkataan yang ma’ruf itu harus diketahui landasannya dari tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, bukan sesuatu yang dikatakan sebagai kehendak Allah tanpa mempunyai landasan dari tuntunan kitabullah. Penghambaan dengan cara demikian akan menjadikan seseorang mengenal ulul amr yang harus ditaati dalam pelaksaan urusan-urusan diri mereka.

Banyak muslimin yang tidak membangun komitmen ketaatan kepada Allah karena terjebak pada waham sendiri. Kebanyakan muslimin tidak membangun komitmen ketaatan kepada Allah hingga terwujud dalam tingkatan amal duniawi, merasa telah cukup dengan mentaati larangan dalam tuntunan secara umum dan melaksanakan ibadah-ibadah umum. Sebagian orang beriman membangun suatu struktur pengetahuan tanpa sungguh-sungguh berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka membuat status-status manusia dan kemudian mereka mengikutinya berdasar status yang mereka buat, tidak mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan memahami perkataan yang ma’ruf secara tepat. Hal demikian itu tidaklah membangun ketaatan kepada Allah, tetapi hanya mengikuti perkataan bapak-bapak mereka saja. Setiap orang islam dan beriman harus membangun komitmen ketaatan kepada Allah dengan membangun pemahaman terhadap perkataan yang ma’ruf dengan landasan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hingga ketaatan itu terwujud dalam tingkatan amal-amal duniawi.

Di antara manusia, banyak orang yang membuat-buat sistem ketaatan tanpa landasan perkataan yang ma’ruf. Ada yang membuat-buat sistem itu untuk mencapai keinginan diri mereka sendiri, ada pula yang memandang bahwa diri mereka adalah pembawa kebenaran tetapi sebenarnya tidak benar-benar mengikuti perkataan yang ma’ruf. Kadangkala suatu kaum membangun sistem ketaatan untuk norma-norma kebaikan tanpa memikirkan lebih lanjut bentuk ketaatan yang kokoh kepada Allah. Orang-orang beriman hendaknya tidak masuk sepenuhnya pada kelompok demikian dengan sepenuh ketaatan, karena ketaatan hanya dilakukan dalam batas kema’rufan. Di antara maksudnya adalah agar akal orang beriman tidak terjebak untuk tunduk kepada selain Allah dengan tetap menyisakan ruang bagi akal untuk memahami perkataan yang ma’ruf. Apabila ia mengikuti seseorang yang salah, masih tetap ada ketaatannya kepada Allah tidak terseret pada kesalahan orang lain. Manakala seseorang memahami bahwa suatu perkataan adalah perkataan yang ma’ruf, hendaknya mereka mentaatinya dengan sungguh-sungguh. Ketaatan yang sungguh-sungguh hanya dilakukan di atas perkataan yang ma’ruf. Seandainya seseorang mengikuti seorang ulul amri, ketaatan yang sebenarnya hanya terjadi apabila ia memahami bahwa perkataan ulul amr itu adalah perkataan yang ma’ruf. Manakala seseorang mengikuti ulul amr tanpa memahami ma’rufnya perkataan ulul amri, ketaatan itu kurang nilainya karena kurangnya pemahaman terhadap perkataan yang ma’ruf.

Ulul amr adalah orang yang memperoleh pengetahuan tentang kehendak Allah yang harus ditunaikan di bumi. Setiap orang pada dasarnya bisa mengetahui urusan Allah yang harus ditunaikan masing-masing, tetapi keadaan demikian hanya dicapai oleh orang-orang yang membina diri sebagai misykat cahaya hingga seseorang mengetahui kehendak Allah melalui bayangan yang terbentuk dari cahaya Allah. Terdapat perbedaan jenis urusan pada setiap manusia. Ada orang yang urusannya keumatan yang luas, dan ada yang bersifat lebih sempit dari itu. Tidak semua orang yang berusaha membina misykat cahaya berhasil membentuk bayangan yang benar dari cahaya Allah. Sebagian membentuk bayangan yang buram dari cahaya Allah, sebagian membentuk bayangan dari cahaya selain cahaya Allah, dan hanya sedikit orang yang benar-benar membentuk bayangan yang benar dari cahaya Allah. Semua pengenalan diri mereka terhadap kehendak Allah dapat dijelaskan secara mudah berdasarkan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, tidak membutuhkan logika yang ruwet walaupun mungkin memerlukan banyak penalaran. Tidak ada orang yang mengenal kehendak Allah tetapi bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka yang mengenal dengan benar kehendak Allah ditandai dengan mengenal kedudukan diri mereka dalam urusan Rasulullah SAW secara tepat bersama dengan orang-orang yang mengenalnya dalam suatu Al-jamaah. Mereka beramal shalih dengan perintah yang mereka kenal secara berjamaah dalam urusan yang ditentukan dalam amr Rasulullah SAW. Manakala seseorang belum mengenal kedudukan diri dalam urusan Rasulullah SAW, ia sebenarnya belum benar dalam mengenal urusan Allah.

Ketaatan dan perkataan yang ma’ruf akan berjalan beriring mengantarkan manusia untuk mengenal kebenaran dalam Al-jamaah. Mengenal kebenaran pada puncaknya adalah mengenal bahwa nabi Muhammad SAW adalah Rasulullah SAW, sedangkan langkah menuju puncak itu disusun melalui pengenalan keping-keping kebenaran dari orang-orang yang mengenalnya. Suatu perkataan yang benar akan mengantarkan seseorang mengenal orang yang layak untuk ditaati, hingga pada akhirnya ia akan mengenal hubungan dirinya kepada Rasulullah SAW melalui banyak orang sebagai Al-jamaah. Bertambahnya pengetahuan kebenaran akan menjadikan seseorang mengenal lebih banyak orang yang benar, dan ia tidak memandang salah orang yang benar. Kadangkala seseorang mengenal kebenaran tetapi kemudian memandang dirinya satu-satunya orang yang benar. Manakala seseorang merasa dirinya sebagai satu-satunya orang yang benar tanpa mengenal kebenaran yang lain, ia mungkin telah terjatuh pada tipuan syaitan terutama apabila tidak mengenal Rasulullah SAW sebagai pembawa kebenaran. Orang demikian kadangkala memandang bahkan gurunya pun salah hanya karena mengikuti pendapat sendiri tanpa bisa menunjukkan kesalahannya.

Dampak Kurangnya Ketaatan

Memperhatikan ketaatan dan perkataan yang ma’ruf akan menjadikan orang-orang beriman mengenal urusan Allah yang harus ditunaikan oleh orang-orang beriman secara berjamaah. Manakala Allah menetapkan suatu urusan yang harus ditunaikan kaum mukminin, orang yang memperhatikan ketaatan dan perkataan yang ma’ruf akan mudah membenarkan ketetapan urusan yang diturunkan Allah. Orang-orang yang membenarkan urusan yang ditetapkan Allah pada dasarnya membenarkan Allah. Apabila orang-orang beriman tidak memperhatikan ketaatan mereka dan ma’rufnya perkataan-perkataan mereka, mereka akan kesulitan untuk mengenali ketetapan Allah atas urusan yang harus ditunaikan. Mereka boleh jadi akan melakukan usaha-usaha yang mereka pandang baik tetapi sebenarnya tidak berhubungan dengan ketetapan Allah. Mereka tidak memahami keadaan kauniyah dengan tepat berdasarkan tuntunan Allah, hanya mengikuti pandangan mereka sendiri tentang keadaan kauniyah mereka sedemikian usaha mereka hanya mengikuti pandangan sendiri saja. Manakala suatu bahaya mendekati, mereka mungkin tidak mengantisipasi bahaya itu hanya mengikuti hasrat kebaikan dalam pandangan mereka sendiri maka mereka kemudian terjebak dalam bahaya. Orang yang memperhatikan ketaatan dan perkataan yang ma’ruf akan memahami keadaan kauniyah dalam kesatuan al-jamaah selaras dengan pemahaman Rasulullah SAW tidak keluar darinya. Tidak semua pemahaman Rasulullah SAW diketahui mukminin tetapi pemahaman diri mereka terkait keadaan kauniyah tidak keluar dari yang dimaksud Rasulullah SAW.

Sebagian orang yang tidak memperhatikan ketaatan mendatangkan madlarat kepada umat manusia dalam bentuk kerusakan di bumi dan terputusnya jalinan kasih sayang di antara manusia. Bila orang beriman tidak berusaha memperhatikan ketaatan dan menemukan akar perkataan-perkataan yang mereka ikuti dari kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, akan muncul tanda-tanda yang mengikuti mereka. Mereka akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kasih sayang (shilaturrahmi).

﴾۲۲﴿فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ
Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan-hubungan kasih sayang kalian? (QS Muhammad : 22)

Menyimpangnya amal karena kurangnya ketaatan dan perhatian terhadap perkataan yang ma’ruf dapat dilihat pada kerusakan yang terjadi pada umat manusia dan terpotong-potongnya shilaturrahmi di antara umat. Untuk melakukan perbaikan di bumi, setiap manusia harus membina landasan pengetahuan yang tepat terhadap kehendak Allah bagi diri mereka sebagaimana tauhid yang diajarkan para rasul. Pembinaan demikian harus dilakukan secara teliti dengan memperhatikan tugas perkembangan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW, dan mengarahkan perkembangan sesuai dengan langkah yang disunnahkan Rasulullah SAW dan para rasul. Manakala pembinaan dilakukan menyimpang dari langkah para rasul, akan terjadi kerusakan di antara mukminin. Berikutnya, untuk mewujudkan pengetahuan kebenaran, kaum mukminin membutuhkan jalinan shilaturrahmi di antara mereka. Orang yang tidak benar-benar memahami tuntunan Allah akan berbuat sesuatu yang memotong-motong jalinan shilaturrahmi yang seharusnya dibangun di antara mereka untuk mewujudkan pemakmuran di bumi.

Umat muslim tidak boleh memotong-motong tali shilaturrahmi karena mendatangkan laknat Allah, dan akan mendatangkan kesempitan rezeki bagi mereka. Perbuatan memotong tali shilaturrahmi pada dasarnya menunjukkan kurangnya pengetahuan terhadap kehendak Allah yang paling fundamental yaitu agar setiap manusia membina sifat Rahman dan Rahim. Sifat demikian akan tumbuh dengan parameter terhubungnya tali shilaturrahmi. Memotong tali shilaturrahmi sangat bertentangan dengan kehendak Allah. Terpotongnya tali shilaturrahmi tidak selalu dilakukan terkait hubungan diri sendiri, tetapi dapat pula terjadi berupa terpotongnya shilaturrahmi di antara orang lain. Fitnah-fitnah yang disebarkan seseorang kepada masyarakat bisa memotong shilaturrahmi orang-orang yang mereka fitnah. Daya rusak seseorang terhadap shilaturrahmi akan menjadi besar manakala mereka memperoleh kuasa.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar