Pencarian

Jumat, 01 Mei 2026

Mengikuti Jalan Orang Beriman

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Rasulullah SAW merupakan tauladan puncak bagi seluruh hamba Allah. Setiap hamba Allah yang ingin menjadi dekat kepada Allah harus mengikuti langkah beliau SAW tidak boleh menempuh langkah yang lain. Setiap orang yang melangkah menyimpang dari jalan Rasulullah SAW akan dimasukkan ke dalam jahannam sebagai seburuk-buruk tempat kembali. Ini berkebalikan dengan kedekatan kepada Allah sebagai semulia-mulia tempat kembali.

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Dan barang siapa yang menyelisihi Rasul sesudah jelas petunjuk baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. Kami biarkan ia berkuasa atas apa yang ia telah usahakan itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-seburuk tempat kembali . [QS An-Nisaa : 115]

Jalan orang beriman berupa jalan mewujudkan kehendak Allah yang terdapat pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW berdasar suatu penjelasan (al-bayaan) kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bukan pemikiran sendiri. Ada suatu penjelasan (al-bayaan) tentang suatu firman Allah yang menjadi landasan upaya mereka, tetapi penjelasan tersebut sama sekali tidak keluar dari ayat kitabullah. Mereka berusaha mewujudkan suatu tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tanpa berbantah-bantah dengan mukminin lain karena kurang jelasnya pemahaman, melakukannya berdasar suatu kejelasan pemahaman terhadap kehendak Allah. Al-bayaan demikian seringkali terkait dengan realitas yang terjadi dan menyentuh inti persoalan yang harus dihadapi. Al-bayaan akan bisa dipahami dengan benar oleh orang-orang yang membina sifat rahman dan rahim.

Al-bayaan bisa diterima oleh orang-orang yang benar-benar beriman, bukan hanya diperoleh oleh rasul-rasul. Tidak semua orang beriman bisa memperoleh al-bayaan, tetapi hanya orang-orang dalam kualifikasi mengenal shirat al-mustaqim. Mereka adalah orang-orang yang mengalami keterbukaan tentang penciptaan diri mereka disertai dengan pengenalan terhadap shirat al-mustaqim yang harus ditunaikan agar mereka dijadikan hamba yang didekatkan kepada Allah. Shirat al-mustaqim merupakan lintasan paling dekat yang harus ditempuh seorang hamba untuk menjadi dekat dengan Allah, berupa pelaksanaan tugas-tugas yang ditetapkan Allah bagi dirinya sebelum ia dilahirkan ke dunia. Tanda dari orang yang mengenal nafs wahidah adalah mereka mengetahui peran dirinya dalam urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya. Sebenarnya syaitan juga mendorong manusia untuk mengenal diri tetapi pengenalan diri demikian digunakan untuk menyesatkan, seperti pohon khuldi.

Petunjuk yang terjelaskan merupakan pengetahuan yang terintegrasi dan dipahami sesuai dengan realitas. Integrasi pengetahuan yang membentuk petunjuk yang terjelaskan mencakup ayat kitabullah, ayat kauniyah maupun ayat-ayat di dalam qalb. Derajat integritas pemahaman dan petunjuk yang terjelaskan berada di atas persepsi inderawi. Yang disebut petunjuk bukan hanya berbentuk persepsi inderawi tetapi juga disertai terbentuknya pemahaman berupa al-bayaan. Tidak sedikit orang yang berselisih atau menentang orang lain yang memahami atau memberitakan petunjuk yang terjelaskan hanya karena persepsi inderawi yang mereka terima. Mungkin seseorang diberi qalb, diberi pendengaran bathin, dan diberi penglihatan bathin tetapi tidak menggunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah dan realitas yang digelar, maka mereka itu sebenarnya termasuk ahli neraka. Pertentangan demikian merupakan suatu kesesatan dan menyebabkan seseorang termasuk ahli neraka. Jalan yang mereka tempuh bukan termasuk sebagai jalan orang-orang beriman.

Seseorang bisa memahami al-bayaan baik langsung menerimanya atau mendengar perkataan orang lain. Setelah memahami, seseorang bisa menyampaikan al-bayaan yang dipahaminya kepada orang lain, dan demikian orang seterusnya. Manakala seseorang telah memahami suatu penjelasan (al-bayaan) kandungan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka sebenarnya telah menemukan tanda-tanda jalan orang-orang beriman, dan mereka harus mengikuti jalan orang beriman tersebut. Manakala mereka tidak memperhatikan jalan orang-orang beriman, mereka telah menempuh selain jalan orang-orang beriman. Tidak sedikit orang yang memandang pengetahuan diri mereka lebih baik dibandingkan penjelasan yang selaras dengan apa yang diajarkan Rasulullah SAW kemudian mereka menyelisihi penjelasan tersebut. Bila terjadi demikian, mereka menempuh jalan kehidupan selain jalan kehidupan mukminin. Boleh jadi Allah melapangkan bagi mereka penguasaan terhadap implementasi pengetahuan yang ada pada diri mereka hingga barangkali mereka akan memandangnya sebagai suatu berkah karena meluasnya kehidupan mereka, sedangkan sebenarnya tidak demikian. Allah meluaskan kekuasaan mereka dalam menempuh jalan kehidupan yang menyelisihi al-bayaan dan jalan kehidupan kaum mukminin, tetapi kemudian Allah akan memasukkan mereka ke dalam jahannam.

Mengenali Jalan Mukminin

Menempuh jalan selain jalan orang-orang beriman dapat terjadi pada muslimin yang tidak memperhatikan jalan keimanan, atau orang-orang yang memilih mengikuti langkah yang salah. Setiap muslim hendaknya berusaha mengenali dan memperhatikan al-bayaan dan jalan orang-orang beriman dan mengikuti langkah yang ditempuh orang-orang beriman. Demikian pula orang beriman hendaknya memperhatikan langkah orang beriman lainnya, tidak membiarkan orang beriman melangkah sendirian. Adanya seorang beriman yang melangkah sendirian menunjukkan langkah yang celaka, baik orang yang berjalan sendirian yang celaka atau orang banyak yang celaka, atau keduanya celaka. Ini bisa terjadi karena umat tidak memperhatikan jalan orang beriman dan prinsip keberjamaahan kaum mukminin.

Jalan orang-orang beriman adalah apa-apa yang mereka usahakan untuk mewujudkan kehendak Allah sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sesuai al-bayaan kepada mereka. Untuk mengenal jalan orang beriman, hendaknya setiap muslimin benar-benar memperhatikan urusan yang diperjuangkan. Banyak orang yang berusaha untuk mewujudkan kehendak Allah tetapi sebenarnya tidak benar-benar memahami tuntunan Allah dengan tepat. Mereka barangkali bukan orang yang mengikuti selain jalan orang-orang beriman tetapi tidak pula mengikuti jalan orang beriman. Ada pula orang-orang yang merasa benar-benar berada pada jalan orang-orang beriman sedangkan mereka sebenarnya mengabaikan al-bayaan yang diturunkan Allah. Jalan orang-orang beriman adalah apa-apa yang diusahakan untuk mewujudkan kehendak Allah sesuai dengan al-bayaan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Upaya mengenali jalan orang-orang beriman dapat dilakukan dengan membina akhlak al-karimah rahman dan rahim dengan membina diri sebagai misykat cahaya Allah.

Membina diri sebagai misykat cahaya pun harus dilakukan dengan berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak sedikit orang menempuh jalan taubat tetapi tidak membentuk akhlak mulia. Ada orang-orang yang menjadi sombong karena ilmu yang diberikan kepada mereka hingga mereka meremehkan orang lain dan mengabaikan kebenaran, bahkan mengabaikan al-bayaan yang disampaikan kepada mereka. Manakala ada orang lain memberikan peringatan tentang langkah yang menyimpang, mereka tidak mau memperhatikan apa-apa yang diperingatkan sahabatnya, dan kadang menganggap orang tersebut sebagai lawan yang pantas dihinakan. Kadang hal demikian membesar menjadi suatu sikap massa sedemikian orang yang memberikan peringatan itu menjadi objek dipandang buruk suatu kaum. Ia mungkin mestinya menjelaskan albayaan kepada umat tetapi kehilangan tempat berpijak. Manakala satu orang menyadari seruannya atau kesalahan dirinya, massa yang mengikuti sikap mereka belum tentu ikut menyadari hingga tetap bersikap memandang rendah. Mereka tidak bisa menyadari akhlak buruknya. Sebenarnya kaum demikian kurang berakal karena tidak bisa menimbang kebenaran. Semua akhlak mulia harus dibina berdasarkan pemahaman terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak boleh mengikuti waham sendiri.

Orang-orang demikian tidak termasuk orang yang mengikuti jalan orang beriman sekalipun apabila dipandang indah. Ilmu yang bercampur kesombongan demikian itu sebenarnya hanya sedikit. Masalah utamanya bukan ilmu yang sedikit, tetapi kerdilnya akal kaum dalam memahami kebenaran, dan mungkin terkandung kesesatan dalam pemahaman demikian. Kerdilnya akal suatu kaum akan menyebabkan pemahaman terhadap kehendak Allah tidak subur hingga masyarakat menjadi kacau. Kebenaran hanya menjadi jargon-jargon yang tidak dipahami nilai kebaikannya. Orang-orang yang seharusnya menyampaikan al-bayaan justru akan tersingkir karena kerdilnya akal kaum. Kesesatan pemahaman akan mendatangkan kerusakan terhadap kehidupan umat manusia, menjadi racun bagi agama. Mungkin tercampur dalam usaha mereka pemikiran-pemikiran sendiri yang bukan merupakan bagian dari kandungan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, atau pemahaman mereka tidak menyentuh persoalan realitas yang terjadi hingga usaha mereka tidak mendatangkan kebaikan atau bahkan membuat kerusakan tertentu. Jalan orang beriman benar-benar berupa jalan mewujudkan kehendak Allah yang terdapat pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tentu saja ada penjelasan (al-bayaan) tentang suatu firman Allah pada usaha mereka yang mungkin tidak terlihat sepenuhnya sebagai kandungan kitabullah, tetapi sebenarnya penjelasan tersebut sama sekali tidak keluar dari ayat kitabullah. Al-bayaan tersebut merupakan bagian dari kitabullah Alquran bukan pikiran yang dibuat-buat. Al-bayaan demikian seringkali terkait dengan realitas yang terjadi dan menyentuh inti persoalan yang harus dihadapi. Al-bayaan akan sepenuhnya dipahami oleh orang-orang yang membina sifat rahman dan rahim.

Mengenal Bobot Ilmu

Dewasa ini, penjelasan petunjuk untuk mengenali jalan orang beriman sangat sedikit. Hal ini tidak boleh menghalangi manusia untuk menemukan jalan orang beriman. Sumber petunjuk pokok berupa kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW tidak akan pernah hilang dari kalangan muslimin, dan hal itu merupakan hal yang lebih besar daripada penjelasan petunjuknya. Kaum muslimin tetap dapat berpegang pada pokok petunjuk sekalipun penjelasan berupa Al-bayan mungkin telah sulit ditemui. Selama setiap muslim berpegang dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka akan berada pada jalan keselamatan. Hanya saja untuk melakukan pemakmuran, setiap orang harus berusaha untuk mengenal Al-Bayaan. Al-Bayaan itu ilmu yang hidup yang bisa memberikan penjelasan kepada umat hingga dapat mendatangkan kebaikan bagi umat.

Umat Islam dewasa ini banyak terjebak pada ilmu-ilmu yang sebenarnya tidak bersumber dari tuntunan kitabullah Alquran, dan tidak bisa menghubungkan ilmu dengan amanah dari kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Misalnya tentang ilmu hadits. Tentulah ilmu tersebut sangat bermanfaat untuk agama apabila digunakan oleh orang yang berharap menolong agama. Para pendahulu ilmu hadits merupakan para penolong agama. Sayangnya, pengembangan ilmu tersebut dewasa ini banyak digunakan tidak untuk menolong agama tetapi justru membuat kekacauan di antara umat Islam. Para pemegang ilmu hadits dewasa ini cenderung mengambil peran penghakiman terhadap para perawi yang sebenarnya tidak mereka kenal. Dengan kurangnya pengenalan, pemegang ilmu berani mengumbar keburukan perawi-perawi. Tidak jarang pemegang ilmu itu menggunakan ilmunya untuk menghakimi kebenaran yang tidak mereka pahami. Ini telah menyimpang dan sangat berbeda dengan harapan para pendahulu ilmu hadits. Dengan batasan tertentu bisa dikatakan bahwa ilmu hadits yang demikian merupakan ilmu yang tidak diajarkan Rasulullah SAW. Demikian pula muncul pembagian-pembagian ilmu tauhid tanpa ada kejelasan asal-usul pembagiannya. Atau pembagian firqah-firqah di antara umat untuk mengadu domba umat. Mereka melalaikan umat untuk mengenali jalan orang-orang beriman dan menyeretnya untuk berbantah-bantahan. Mereka meninggalkan ilmu untuk mengenali jalan orang beriman dan lebih mementingkan pengenalan firqah-firqah sebagai bahan cacian terhadap golongan lain. Ilmu-ilmu demikian banyak menjebak manusia hingga tidak mengenali arah dari agama yang diajarkan Rasulullah SAW. Setiap muslim hendaknya memperkuat akal untuk mengenali nilai kebaikan dalam suatu ajaran hingga mengenal arah dalam mencari ilmu, tidak terombang-ambing dalam ilmu yang tidak berguna.

Sebagian ilmu merupakan fitnah bagi manusia. Manakala seseorang mempelajarinya, ilmu itu akan mencelakakan dirinya atau bahkan mencelakakan umat manusia. Ada ilmu yang bersifat sia-sia, seperti ilmu-ilmu tauhid yang disusun oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah dan tidak bertakwa kepada Allah. Ilmu demikian tidak menunjukkan kebenaran bagi yang mempelajarinya walaupun mungkin ilmunya tidak salah, hanya menjadi ilmu yang membingungkan umat manusia. Manusia tidak akan memperoleh manfaat dari ilmu demikian. Ada pula ilmu-ilmu yang sebenarnya mempunyai manfaat besar akan tetapi bisa menjadi ilmu yang tidak bermanfaat atau justru merusak manakala tidak dilandasi dengan akhlak mulia. Kebanyakan ilmu bersifat demikian. Setiap muslim hendaknya memperkuat akal untuk mengenali nilai kebaikan dalam suatu ajaran hingga mengenal arah dalam mencari ilmu, tidak terombang-ambing dalam ilmu yang tidak berguna.

Proses membangun akal dan pemahaman terhadap ilmu yang paling mendasar adalah pembinaan akhlak mulia. Pembinaan akhlak mulia yang paling utama adalah membina sifat rahman dan sifat rahim. Sifat rahman adalah keinginan memberikan kebaikan kepada orang lain menunjukkan kebenaran secara khusus memberitakan kehendak Allah. Sifat rahim adalah keinginan memberikan kebaikan secara umum kepada orang lain. Tidak ada akhlak mulia tanpa sifat rahman dan rahim. Pembinaan sifat rahmaniah yang paling utama berupa membina diri sebagai misykat cahaya. Pembinaan akhlak mulia ini merupakan proses tauhid yang sebenarnya, dimana seseorang dapat memanunggalkan amal jasmaniah dirinya dengan kehendak Allah dengan sifat-sifat mulia berdasarkan pemahaman terhadap cahaya Allah.

Jalan orang-orang beriman akan dikenali dengan benar oleh orang-orang yang membina akhlak mulia. Setiap muslim hendaknya membina tauhid dalam dirinya hingga mengenal kehendak Allah bagi dirinya, dan pembinaan tauhid itu akan semakin mudah manakala ia bertemu dengan orang-orang yang menempuh jalan orang-orang beriman.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar