Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Jalan kembali kepada Allah demikian terbentang sejak kehidupan di bumi dalam wujud tugas pemakmuran bumi. Pemakmuran bumi akan terwujud dari pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah. Benarnya pemahaman itu adalah keselarasan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala seseorang menyimpang dari tuntuan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, langkah penyimpangan itu tidak akan dapat mendatangkan pemakmuran sekalipun mereka berusaha keras untuk melakukan pemakmuran. Seringkali mereka justru melakukan kerusakan di bumi dengan amal-amal mereka, mungkin tanpa mereka sadari. Hal demikian muncul dari pemahaman yang salah terhadap sunnah Rasulullah SAW.
﴾۱۲﴿طَاعَةٌ وَقَوْلٌ مَّعْرُوفٌ فَإِذَا عَزَمَ الْأَمْرُ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ
(Perhatikanlah) ketaatan dan (perhatikanlah) perkataan yang ma’ruf. Maka (perhatikanlah) manakala amr Allah telah ditetapkan, apabila mereka membenarkan Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka. (QS Muhammad : 21)
Allah memerintahkan orang beriman untuk memperhatikan perkara ketaatan kepada tuntunan Allah dan memperhatikan perkataan-perkataan yang ma’ruf. Hal ini terkait dengan adanya orang-orang yang tidak taat dan membuat perkataan-perkataan secara menyimpang dari tuntunan Allah sekalipun mereka beriman. Hendaknya orang-orang beriman menghindari langkah orang yang tidak taat kepada tuntunan Allah dan menghindari mengikuti perkataan yang menyimpang dari tuntunan Allah. Mereka tidak benar-benar memahami kehendak Allah dengan tepat dan mereka melakukan ketidaktaatan dengan membantah tuntunan yang disampaikan kepada mereka. Apabila orang-orang beriman mengikuti langkah orang beriman demikian, maka akan terjadi kerusakan dan terpotong-potongnya shilaturrahmi.
Keadaan tidak taat dan mengikuti perkataan tidak ma’ruf bisa terjadi atas orang-orang beriman. Yang tidak boleh diikuti adalah langkah-langkah ketidaktaatan dan perkataan-perkataan yang tidak ma’ruf sedangkan mereka yang melakukannya tetaplah orang yang beriman. Mentaati perintah demikian merupakan tuntutan untuk membina akal yang kuat dalam memahami tuntunan Allah. Keadaan manusia tidaklah hitam putih berupa iman atau kafir, tetapi mempunyai gradasi menerus dari kekufuran yang gelap hingga yang putih bersih mengikuti langkah Rasulullah SAW dengan tepat. Demikian pula banyak orang yang bodoh merasa cukup memahami agama dan menjadikan pengikutnya mengikuti kegelapan sedang mereka tidak mengenal kehendak Allah. Orang yang mengenal kehendak Allah hanyalah orang yang mengetahui batas-batas dirinya sebagai bagian dari Jamaah Rasulullah SAW, bukan orang yang mengaku sebagai pembawa kebenaran. Setiap orang harus berusaha menjadi bagian dari orang-orang yang mengikuti cahaya yang putih bersih dari Rasulullah SAW dan menghindari kegelapan baik kekufuran ataupun kebodohan. Dalam upaya itu, setiap orang bisa memperoleh cahaya walaupun mungkin bukan yang putih bersih. Cahaya-cahaya yang diterima itu harus dipersepsi setiap orang dengan benar dengan akalnya memperhatikan ketaatan dan perkataan yang ma’ruf.
Perkataan yang ma’ruf adalah perkataan-perkataan yang mengantarkan seseorang untuk mengenal kehendak Allah dengan benar sedemikian seseorang menjadi lebih kuat dalam ibadahnya kepada Allah. Manakala seseorang mengetahui kehendak Allah atas dirinya, ia dapat menghambakan dirinya kepada Allah dengan pengetahuan tersebut, dan itu adalah penghambaan yang kokoh dalam kehidupan di bumi. Pengenalan terhadap kehendak Allah yang merupakan perkataan yang ma’ruf bukan hanya tentang tatacara syariat saja tetapi juga termasuk kehendak-kehendak terkait amal-amal duniawi yang harus dilaksanakan untuk mewujudkan kehendak Allah di bumi. Alquran merupakan petunjuk yang hidup sepanjang masa walaupun telah selesai diturunkan pada nabi Muhammad SAW. Sepanjang masa ia memberikan petunjuk-petunjuk bagi orang yang mengikutinya, tidak terbatas petunjuk masalah pada jaman Rasulullah SAW saja. Melaksanakan amal mengikuti tuntunan kitabullah Alquran tidak boleh dikatakan sebagai bid’ah sekalipun misalnya nabi Muhammad SAW belum memberikan contoh amal-amalnya.
Setiap perkataan yang ma’ruf mempunyai landasan dari tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, walaupun mungkin berupa cabang-cabang dari tuntunan tersebut. Tidak ada perkataan ma’ruf yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah Alquran. Manakala seseorang menemukan suatu pemahaman akan tetapi bertentangan dengan tuntunan kitabullah Alquran, hendaknya ia bersegera membuang pengetahuan itu dari khazanah dirinya. Bisa saja suatu perkataan yang ma’ruf tidak disebut dalam redaksi kitabullah Alquran secara langsung akan tetapi berupa perkataan yang tumbuh dari pengetahuan terhadap tuntunan kitabullah tanpa menyimpang sedikitpun, sedangkan perkataan itu bisa mengantarkan seseorang untuk lebih mengenal kehendak Allah dengan lebih baik. Apabila seseorang mengetahui hubungan perkataan itu dari kitabullah Alquran, maka perkataan itu menjadi suatu perkataan yang ma’ruf bagi dirinya. Sebelum ia mengetahui hubungan perkataan itu dengan Alquran, perkataan itu belum menjadi perkataan yang ma’ruf. Bisa saja perkataan itu baik akan tetapi belum menjadi perkataan yang ma’ruf.
Sebagian manusia menggunakan ayat-ayat Allah mengikuti hawa nafsu dan waham mereka sendiri hingga menyesatkan manusia sebagaimana kaum khawarij. Mereka menggunakan ayat-ayat Allah dan sunnah Rasulullah SAW tetapi sebenarnya tidak memahami dan tidak berusaha memahami tuntunan-tuntunan itu dengan benar. Mereka berbangga dengan penggunaan dalil-dalil, tetapi tidak menggunakan dalil itu sebagaimana kehendak Allah. Tuntunan-tuntunan itu tidak digunakan untuk melakukan pembinaan akhlak menuju kemuliaan, tetapi justru digunakan untuk berbangga-bangga dengan waham mereka sendiri. Mereka terpecah belah menjadi beberapa golongan, dan setiap golongan berbangga dengan apa yang mereka pegang sendiri. Mereka tidak mempunyai rasa kasih sayang kepada orang lain kecuali hanya waham saja. Mereka tidak menunjukkan kebaikan yang bermanfaat bagi pembinaan akhlak dari dalil-dalil yang mereka gunakan, tetapi hanya membanggakan kebenaran waham mereka sendiri berdasar dalil-dalil itu. Mereka terlahir dari doktrin tauhid yang dibuat orang-orang musyrik yang menyembah syaitan, dan tidak banyak berbeda dengan tauhidnya para syaitan. Tauhid demikian tidak akan menjadikan manusia mengenal kehendak Allah yang bisa menjadi landasan penghambaan yang benar kepada Allah kecuali hanya sekadar waham. Mereka beribadah kepada Allah hanya berdasarkan perkataan-perkataan tentang Allah tanpa mempunyai pengetahuan tentang kehendak Allah dalam perkataan itu. Ibarat suatu kalimat, tauhid mereka hanyalah kalimat yang buruk layaknya pohon yang buruk, akarnya tercerabut dari bumi tidak dapat menegakkan pohonnya.
Perkataan yang ma’ruf akan diketahui manakala seseorang membina akhlaknya menuju kemuliaan. Akal dan pikiran mereka mengenal kebenaran dari ayat-ayat Allah berdasarkan akhlak mulia, bukan hanya berdasarkan pikiran yang berbangga dengan kebenarannya sendiri. Artinya mereka dapat menunjukkan kebaikan dengan mengikuti tuntunan kitabullah, bukan hanya berbangga dengan waham sendiri. Akhlak demikian dibina dengan membina diri sebagai misykat cahaya layaknya kamera yang dapat mengambil gambar dari cahaya objek yang dibidik. Manakala seseorang tidak membina diri sebagai misykat cahaya, sebenarnya tidak ada pemahaman terhadap ayat-ayat Allah. Artinya, mereka tidak mengetahui kandungan tuntunan yang sebenarnya kecuali hanya berdasarkan pikiran yang menangkap redaksinya saja. Mengikuti tuntunan kitabullah harus dilakukan dengan pikiran, tetapi pikiran yang mengikuti tuntunan kitabullah tidak selalu paham dengan benar. Ibarat membaca buku, pikiran hanya mampu membaca judulnya saja sedangkan akal yang terbentuk melalui akhlak mulia yang mengetahui kandungannya.
Ketaatan adalah ketaatan terhadap tuntunan Allah, baik bersifat pokok terhadap ayat-ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW ataupun yang bersifat cabang seperti ketaatan terhadap ulul amri dan ketaatan pada hal lain terkait dengan kebenaran dari sisi Allah. Dalam ketaatan yang bersifat cabang, ketaatan itu mutlak dilakukan manakala terkait dengan tuntunan Allah. Kadangkala seseorang tidak memerintahkan sesuatu urusan dengan benar, maka ketaatan ditunjukkan dengan ketaatan pada tuntunan Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Hal ini seringkali tidak perlu dilakukan melalui perbantahan, tetapi melalui langkah yang nyata dalam mengikuti tuntunan Allah dan sunnah Rasulullah SAW baik dalam perkataan ataupun perbuatan. Seseorang tidak boleh melakukan ketidaktaatan hanya berdasarkan pikiran sendiri.
Ketaatan dan perkataan yang ma’ruf akan sangat bermanfaat untuk mengenali perintah Allah. Apabila Allah telah menetapkan suatu perintah, orang-orang yang taat dan mengikuti perkataan yang ma’ruf akan dapat membenarkan perintah itu dengan mudah. Mereka akan membenarkan bahwa suatu amr yang diperintahkan kepada mereka merupakan perintah Allah, bukan hanya mengikuti tanpa mengerti manfaatnya. Dengan demikian mereka sebenarnya membenarkan Allah. Perkataan yang ma’ruf dan ketaatan kepada tuntunan Allah merupakan bekal untuk mengenali amr Allah. Apabila orang beriman tidak taat dan tidak mengikuti perkataan yang ma’ruf, mereka akan kesulitan mengenal amr Allah dan mungkin akan terombang-ambing dalam mencari amal yang seharusnya ditunaikan. Bahkan mereka akan terjebak pada perbuatan merusak di bumi dan memotong-motong shilaturrahmi.
Mengenal amr Allah tidak dapat dilakukan tanpa ketaatan dan mengikuti perkataan yang ma’ruf. Kadangkala dijumpai suatu kaum membenarkan suatu perbuatan dan menganggapnya sebagai suatu keimanan tetapi sebenarnya tidak mempunyai landasan pengetahuan dari kitabullah tentang persangkaan mereka. Hal ini tidaklah menjadi tanda pembenaran. Perkataan yang ma’ruf harus disertai dengan pengetahuan terhadap ayat kitabullah yang menjadi landasan perkataan itu, dan pembenaran terhadap amr Allah harus disertai dengan pengetahuan terhadap perkataan yang maruf. Dengan demikian pembenaran terhadap amr Allah harus dilakukan dengan pengetahuan terhadap landasan dari ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Dalam agama, mengenal amr jami’ Rasulullah SAW lebih utama daripada mengenal urusan bagi diri sendiri. Pengenalan terhadap amr jami’ Rasulullah SAW merupakan pintu pengenalan terhadap pengenalan diri sendiri. Perjalanan mengenal amr Allah untuk diri sendiri akan terjadi melalui pengenalan terhadap amr jami’ Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman masing-masing. Pada dasarnya tidak ada kepentingan seseorang mengenal diri sendiri kecuali agar dapat beribadah sebaik-baiknya kepada Allah dengan mengetahui urusan diri sebagai bagian dari urusan Rasulullah SAW. Dalam beberapa kasus, syaitan mendorong manusia untuk mendekati pohon khuldi. Hal ini terutama terjadi manakala manusia berhasrat mengenal diri tanpa melalui jalan pengenalan terhadap Rasulullah SAW. Mengenal urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman diri lebih penting daripada mengenal urusan diri. Musyahadah terhadap risalah Rasulullah SAW menjadi pokok musyahadah terhadap Allah, lebih dari pengenalan diri sendiri. Sangat penting bagi setiap orang untuk memperhatikan perkataan yang ma’ruf yang harus diikuti.
Perkataan tidak Ma’ruf dan Kerusakannya
Kebenaran dari cahaya Allah harus dipastikan dengan tuntunan kitabullah untuk memastikannya sebagai perkataan yang ma’ruf. Apabila orang beriman tidak berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, akal mereka dapat menyimpang hingga membuat perkataan-perkataan yang tidak ma’ruf dan disangka sebagai perkataan yang ma’ruf. Orang beriman hendaknya memperhatikan dan memastikan bahwa perkataan yang mereka ikuti adalah perkataan yang ma’ruf sebagaimana perintah ayat di atas. Bila orang beriman tidak berusaha menemukan akar perkataan-perkataan yang mereka ikuti dari kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, akan muncul tanda-tanda yang mengikuti mereka. Mereka akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kasih sayang (shilaturrahmi).
﴾۲۲﴿فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ
﴾۳۲﴿أُولٰئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَىٰ أَبْصَارَهُمْ
(22)Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan-hubungan kasih sayang kalian? (23)Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. (QS Muhammad : 22-23)
Orang-orang demikian itu adalah orang-orang yang beriman tetapi tidak sepenuhnya membina keimanan mereka sesuai dengan ayat-ayat Allah. Keimanan yang mereka bina menyimpang dari tuntunan Allah karena mengikuti waham sendiri, sedemikian beberapa keimanan mereka menjadi tandingan tuntunan Allah. Mereka bukan orang yang tidak mempunyai pengetahuan, tetapi pengetahuan mereka tidak menjadi pembenar terhadap kitabullah Alquran, dan bukan suatu pengetahuan yang menjadikan mereka berma’rifat kepada Allah.
Untuk melakukan perbaikan di bumi, setiap manusia harus membina landasan pengetahuan yang tepat terhadap kehendak Allah bagi diri mereka sebagaimana tauhid yang diajarkan para rasul. Pembinaan demikian harus dilakukan secara teliti dengan memperhatikan tugas perkembangan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW, dan mengarahkan perkembangan sesuai dengan langkah yang disunnahkan Rasulullah SAW dan para rasul. Manakala pembinaan dilakukan menyimpang dari langkah para rasul, akan terjadi kerusakan di antara mukminin. Juga harus diperhatikan tugas perkembangan, yaitu setiap orang hendaknya beramal dengan memperhatikan tingkat perkembangan dirinya secara tepat. Orang yang belum kuat akalnya hendaknya lebih melakukan tazkiyatun nafs daripada merumuskan keilmuan, sedangkan orang yang mampu memahami hendaknya menyeru orang lain untuk memahami kehendak Allah dengan lebih baik. Seseorang hendaknya tidak berpura-pura dalam bersikap. Misalnya seseorang belum terbangun sikap khasyah manakala belum berilmu, maka hendaknya ia tidak bersikap takut secara berlebihan melakukan setiap amal karena takut kesalahan. Takut demikian merupakan kepura-puraan atau syakwasangka. Tingkat khasyah seseorang itu akan sesuai tingkat pengetahuannya. Setiap orang hendaknya membangun rasa takut sesuai keilmuannya, dengan memperhatikan bahwa dalam setiap keadaan mungkin saja ia berbuat salah.
Apabila manusia mengikuti perkataan yang tidak ma’ruf, mereka akan terjatuh pada perbuatan merusak di bumi dan memutuskan shilaturrahmi. Kerusakan bisa terjadi pada tingkat jasmaniah bumi ataupun lebih tinggi dari itu hingga mengakibatkan kerusakan di bumi. Misalnya manakala suatu kaum menjadi kehilangan kemampuan untuk melihat yang haq sebagai haq, atau melihat yang bathil sebagai kebathilan, hal itu termasuk kerusakan di bumi. Keadaan tingkat bashirah demikian sebenarnya akan mendatangkan kerusakan di bumi. Fungsi utama bashirah adalah kemampuan melihat yang haq sebagai haq dan melihat yang bathil sebagai bathil. Kehilangan kemampuan demikian akan menjebak manusia dalam kejumudan berpikir, tidak mampu melihat masalah yang terjadi dan tidak mampu melangkah menuju kebaikan. Kadangkala kaum demikian justru turut serta menghambat orang untuk memahami agama menjadi senjata kaum musyrik dan syaitan. Manakala seseorang menyeru untuk beramal mengikuti kehendak Allah, masyarakat mungkin justru memandang seruan itu sebagai hal yang buruk karena terbaliknya bashirah mereka dalam mengikuti kehendak Allah.
Shilaturrahmi merupakan jalinan persaudaraan di antara makhluk dalam menghidupkan asma Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Pada pangkalnya shilaturrahmi berada di tingkat nafs, tetapi pangkal itu juga memanjang hingga alam jasmaniah. Jalinan persaudaraan demikian hendaknya diperhatikan dan disuburkan oleh setiap orang beriman tidak dipotong-potong. Orang-orang yang mengikuti perkataan yang tidak ma’ruf seringkali terjebak dalam perbuatan memotong-motong jalinan persaudaraan demikian, sedangkan mereka memandang perbuatan mereka mengikuti petunjuk Allah. Memotong tali shilaturrahmi merupakan petunjuk langsung bahwa seseorang atau suatu kaum mengikuti suatu perkataan yang tidak ma’ruf atau suatu waham. Perkataan yang ma’ruf berkaitan langsung dengan jalinan shilaturrahmi dalam urusan Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar