Pencarian

Rabu, 28 Januari 2026

Menghindari Penyimpangan dalam Bertauhid

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Rasulullah SAW merupakan tauladan utama bagi seluruh makhluk dalam beribadah kepada Allah. Setiap rasul diutus kepada umat masing-masing menyeru kepada umatnya untuk beribadah kepada Allah dan menjauhi taghut. Tidak ada rasul yang tidak menyeru manusia untuk beribadah kepada Allah semata-mata dan menafikan ilah yang lain selain Allah, dan setiap rasul itu menjelaskan bagian dari suatu sunnah Rasulullah SAW.

﴾۶۳﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (QS An-Nahl : 36).

Dalam istilah saat ini, setiap rasul yang diutus Allah selalu menyeru kepada tauhid. Tauhid secara bahasa merupakan bentuk masdar dari fi’il wahhada-yuwahhidu (dengan huruf ha di tasydid), yang artinya menjadikan sesuatu satu saja. Secara istilah, tauhid menunjuk pada perintah beribadah semata-mata kepada Allah dan menjauhkan ibadah dari kesyirikan. Dewasa ini sebenarnya telah terjadi pergeseran makna tauhid dalam langkah mewujudkannya. Proses pembinaan tauhid yang dilakukan dewasa ini kebanyakan menyimpang tidak sebagaimana mestinya. Pengajaran tauhid dewasa ini dilakukan dengan membuat suatu gambaran dalam pikiran tentang Allah Yang Maha Esa. Hal ini sebenarnya hanya benar untuk pembinaan dasar tauhid saja, bukan pembinaan tauhid yang seharusnya. Tidak sedikit manusia terjerumus pada penyimpangan berupa pembinaan lanjut yang dilakukan untuk membenarkan penyerangan terhadap muslim lain. Hal ini merupakan penyimpangan yang jauh dari ajaran tauhid para nabi.

Para rasul mengajarkan tauhid dalam bentuk penyatuan langkah hamba Allah selaras dengan kehendak Allah. Penyatuan demikian harus dimulai dengan pembinaan diri dengan sifat-sifat yang baik selaras dengan kehendak Allah membentuk akhlak mulia. Manakala akhlak mulia telah terbentuk, seseorang akan mempunyai cara berpikir selaras dengan tuntunan kitabullah. Apabila ia mempelajari tuntunan kitabullah ia akan mengerti secara tepat kehendak Allah yang seharusnya ditunaikan sesuai dengan keadaan kauniyahnya. Tauhid demikian dapat dengan mudah diingat dan dipahami apabila orang-orang beriman benar-benar menghayati makna doa iftitah “Bismillahirrahmaanirrahiim”, yang artinya “dengan asma Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”. Doa itu merupakan pokok dari tauhid yang diajarkan para rasul yang diutus Allah kepada setiap umat.

Arah langkah membina tauhid yang diajarkan Rasulullah SAW dan para rasul utusan Allah adalah berproses membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah serta langkah-langkah lain yang mendukung terbinanya bayt demikian. Keadaan terdekat dari terbentuknya bayt adalah proses pembinaan diri sebagai misykat cahaya untuk memahami ayat-ayat Allah dengan benar. Pemahaman terhadap ayat Allah tidak boleh dibuat-buat dengan cara berpikir sembarangan, tetapi harus dengan akhlak yang baik, dengan nafs yang disucikan Allah setelah seseorang menempuh proses tazkiyatun-nafs. Dengan terbentuknya akhlak mulia, seseorang akan memperoleh pemahaman berdasar akhlaknya yang mulia manakala mengikuti firman Allah dalam kitabullah. Membina tauhid sesuai ajaran para rasul harus dilakukan sepanjang masa dengan tujuan menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah baik setelah kematiannya ataupun apabila Allah memberikan karunia mi’raj sebagai hamba yang didekatkan.

Tauhid mengikuti tuntunan rasulullah akan menjadikan seseorang memahami ayat-ayat Allah secara terpadu antara ayat kitabullah dan ayat kauniyah. Pengetahuan mereka terhadap kehendak Allah dapat membentuk akar terhadap alam bumi mereka, bukan hanya suatu konsep yang melangit saja. Orang yang mengikuti pengajaran tauhid para rasul akan tumbuh sebagai hamba Allah yang memahami perintah Allah yang harus ditunaikan dalam kehidupan di bumi hingga dalam bentuk-bentuk amaliah duniawi, bukan hanya perintah-perintah langit saja. Gambaran keadaan akidah mereka seperti pohon yang baik, akarnya mengakar kuat ke bumi dan cabang-cabangnya merentang di langit. Ini sangat berbeda dengan tauhid yang dibuat-buat manusia. Tauhid yang dibuat-buat hanya akan membentuk pohon yang buruk, tercerabut akarnya dari bumi tidak dapat berdiri tegak, konsep pengetahuan yang tidak bisa membentuk akar ke alam bumi. Tidak sedikit orang islam kemudian terperosok mengikuti akidah ibnu Dzulkhuwaisirah yang justru menjadi penggonggong kepada umat Rasulullah SAW dengan konsep akidah pohon yang buruk, atau bahkan mencabik umat Rasulullah SAW manakala tuan mereka memerintahkan sebagaimana terjadi di negeri terberkahi Yaman dan Syam.

Beberapa Penyimpangan dalam Bertauhid

Penyimpangan terbesar pengajaran tauhid dewasa ini adalah penggunaan tauhid untuk membenarkan penyerangan terhadap sesama muslimin. Umumnya hal ini dilakukan dengan melakukan tuduhan kesyirikan, bid’ah, khurafat, tawassul dan lain-lain masalah yang diada-adakan sedemikian suatu kaum merasa berhak menyerang muslimin yang lain. Mereka menggunakan setengah kebenaran sebagai pembenar bagi langkah-langkah keliru yang dilakukan. Mereka tidak benar-benar berusaha memahami dengan benar terminologi yang digunakan sesuai dengan konteks yang diajarkan Rasulullah SAW kemudian menganggap kedudukan diri mereka lebih tinggi dibandingkan kaum yang lain dengan setengah kebenaran itu. Itu adalah tauhid yang tidak benar yang diajarkan oleh kaum tertentu. Sayangnya kebanyakan muslimin terpengaruh oleh dasar-dasar ajaran mereka. Mungkin hanya sebagian saja yang mengikuti langkah yang keliru hingga menyimpang sebagai khawarij, tetapi kebanyakan kaum muslimin menjadi kehilangan pengajaran para rasul tentang tauhid yang sebenarnya, yang dibina mengikuti langkah Rasulullah SAW dan para rasul yang lain.

Benar bahwa perintah ibadah kepada Alquran hampir selalu diiringi dengan menghindari kesyirikan, tetapi harus dipahami bahwa perintah utamanya adalah agar seseorang beribadah kepada Allah dan ia menghindari kesyirikan dalam ibadahnya, bukan menuduh muslimin lain melakukan kesyirikan. Setiap muslim harus berusaha mengenali bentuk penghambaan dirinya kepada Allah terlebih dahulu oleh masing-masing, baru kemudian ia menelisik kesyirikan-kesyirikan yang mungkin terselip dalam penghambaan dirinya. Selama ia belum mengenal bentuk penghambaan dirinya, ia tidak perlu memerangi muslimin lain dengan tuduhan kesyirikan dan lain-lain. Apabila memerangi kesyirikan, hendaknya ia memerangi orang musyrik yang menyembah syaitan sedemikian syaitan itu memberikan keuntungan kepada penyembahnya, tidak memerangi muslimin yang tidak membangun hubungan secara jelas dengan syaitan. Muslimin yang tidak mengetahui tipuan syaitan atas diri mereka hendaknya diberitahu kemungkinan tipuan itu bukan diperangi.

Yang dimaksud bentuk penghambaan kepada Allah adalah mengenali dan melaksanakan amal-amal yang telah ditetapkan Allah sejak sebelum kelahiran diri di alam dunia. Allah telah mengalungkan bagi setiap manusia amal-amal yang harus ditunaikan dalam kehidupan di dunia, maka amal-amal itu merupakan bentuk penghambaan dirinya di dunia kepada Allah.

﴾۳۱﴿وَكُلَّ إِنسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنشُورًا
Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka (QS Al-Israa’ : 13)

Perintah untuk beribadah kepada Allah adalah perintah untuk mengenali dan melaksanakan amal-amal yang telah ditetapkan bagi diri setiap manusia sebagaimana ayat di atas. Untuk mengenali amal-amal tersebut, Allah menyediakan bagi hamba-hamba-Nya syariat-syariat yang dapat dilakukan sedemikian para hamba Allah dapat memohon petunjuk atau dapat memperoleh petunjuk manakala Allah memberikan petunjuk. Allah tidak membutuhkan pelaksanaan syariat itu dari hamba-hamba-Nya tetapi para hamba Allah yang seharusnya bergembira dengan syariat-syariat yang diberikan. Syariat-syariat Allah itu bukan sesuatu yang boleh dipertuhankan, tetapi harus selalu dilaksanakan dalam batas minimal tertentu agar manusia tidak menjadi rusak karena jauh dari cahaya Allah. Semakin banyak seseorang melaksanakan syariat, akan semakin lebar jalan petunjuk yang dapat ditemukannya. Para pengikut ibnu Dzulkhuawaisirah terjatuh pada sikap mempertuhankan syariat melupakan ibadah yang sesungguhnya kepada Allah.

Sangat penting bagi setiap muslimin untuk melangkah lebih lanjut mengenali bentuk ibadah yang seharusnya dilakukan, dan menghindarkan ibadah diri mereka dari kesyirikan diri. Kebanyakan umat muslim tidak memperhatikan langkah lanjutan untuk beribadah kepada Allah dan berhenti pada dasar-dasar tauhid, dan orang-orang yang mengikuti ajaran ibnu Dzulkhuwaisirah dijerumuskan dalam penyerangan kepada muslimin dengan menyusun tuduhan kesyirikan kepada orang lain. Sangat penting bagi setiap muslimin untuk melangkah lebih lanjut mengenali bentuk ibadah yang seharusnya dilakukan, dan menghindarkan ibadah diri mereka dari kesyirikan diri, bukan menyerang muslimin lain dengan tuduhan kesyirikan. Itulah maksud dari perintah ibadah semata-mata kepada Allah dan menghindarkan diri dari kesyirikan. Yang dimaksud orang musyrik hingga layak diperangi adalah orang-orang yang mencari keuntungan bagi diri sendiri dengan menjalin hubungan kepada syaitan, bukan orang yang mencari jalan kedekatan kepada Allah yang (mungkin dipandang) dilakukan dengan tidak tepat.

Setiap amal yang ditetapkan bagi manusia merupakan bagian dari kitabullah Alquran. Tidak ada amal yang ditetapkan secara acak tanpa suatu landasan dari tuntunan kitabullah Alquran. Setiap hamba Allah harus memperoleh landasan dari kitabullah tentang amal-amal yang ditentukan bagi dirinya. Pada prinsipnya  langkah itu merupakan langkah untuk memastikan bahwa amal yang harus ditunaikan merupakan bagian dari kitabullah Alquran. Pada tingkatan operasional, pengenalan dan pengamalan amal itu harus diarahkan untuk tujuan yang ditetapkan dalam kitabullah Alquran. Penjelasan tentang arah tujuan, sasaran, cara operasional dan lain-lain terkait amal yang ditentukan itu secara jelas akan ditemukan dari kitabullah Alquran. Seringkali Alquran tidak menunjukkan makna secara jelas kepada masyarakat umum, tetapi sangat memberikan arah dan tujuan yang terinci bagi orang-orang yang telah mengenal amal yang ditetapkan bagi dirinya. Secara keberjamaahan, tuntunan yang diperoleh dari kitabullah Alquran merupakan bukti bahwa peran dirinya merupakan bagian dari Al-Jamaah umat Rasulullah SAW. Ia akan mengetahui peran dirinya benar-benar merupakan bagian dari urusan Rasulullah SAW. Orang yang tidak mengetahui landasan amalnya dari tuntunan kitabullah boleh dikatakan baru memperoleh kabar tentang amalnya, bukan mengetahui amal yang harus ditunaikan sebagai bentuk ibadah yang sesungguhnya kepada Allah.

Amal-amal yang ditetapkan ini harus disikapi dengan tepat. Sebagian kaum terlalu mengagungkan amal yang ditetapkan hingga melupakan penghambaan kepada Allah sebagai landasan pengenalannya. Kaum demikian seringkali memandang penuh keinginan kepada amal yang ditetapkan tetapi justru lalai memperhatikan tuntunan kitabullah. Amal yang ditetapkan merupakan bentuk ibadah di shirat al-mustaqim yang akan dikenali orang yang ingin sungguh-sungguh beribadah kepada Allah. Amal ini tidak akan dikenali oleh orang yang ingin mengenalnya tanpa keinginan menghambakan diri kepada Allah. Keinginan menghamba kepada Allah itu ditunjukkan dengan perhatian terhadap tuntunan Allah dan melaksanakan perintah dalam tuntunan Allah, yang dapat dilakukan sekalipun seseorang belum mengenal amal yang ditentukan baginya. Manakala seseorang lalai memperhatikan tuntunan kitabullah, keinginan ibadah pada dirinya sebenarnya hanya kecil, dan hasrat menjadi terpandang mungkin lebih besar. Keinginan menghamba itu tidak pula boleh lenyap manakala seseorang mengenal amalnya. Seseorang bisa saja terjatuh menjadi pelayan bagi amalnya dan meninggikan diri dengan amalnya melupakan penghambaan kepada Allah, yaitu apabila ia tidak memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW terkait pelaksanaan amalnya. Orang yang tetap beribadah kepada Allah dengan amal yang ditetapkan adalah orang yang tetap memperhatikan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW manakala menunaikan amalnya. Mereka berusaha untuk tetap menjadi bagian dari Al-Jamaah umat Rasulullah SAW, tidak ingin menjadi orang yang terpisah ketika menunaikan amalnya.

Banyak hal tidak baik manakala seseorang menghamba pada amalnya. Kaum demikian seringkali tidak mau memperhatikan tuntunan kitabullah Alquran manakala tuntunan itu diserukan kepada mereka, sedangkan mereka lebih memperhatikan urusan-urusan yang mereka sukai daripada urusan Allah. Kadangkala mereka menganggap urusan mereka sebagai urusan Allah tanpa mengetahui landasannya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala urusan yang mereka kerjakan benar merupakan bagian dari urusan Allah yang harus dikerjakan, mereka mungkin tidak memperhatikan sasaran, tujuan dan kaidah serta langkah yang diperintahkan Allah dalam kitabullah Alquran atau dalam kata lain mereka mengerjakan urusan Allah untuk iktikad mereka sendiri. Mereka mungkin tidak berbuat kesalahan, tetapi sebenarnya tidak memperhatikan kehendak Allah. Apapun keadaan yang terjadi, mempertuhankan amal demikian akan menjadikan urusan Allah tercerai-berai, dan sebenarnya mereka tercerai-berai dari Al-jamaah. Tauhid berwujud penyatuan langkah hamba Allah terhadap kehendak Allah. Bentuk penyatuan demikian akan terlihat menyatu dalam pelaksanaannya dalam bentuk satu Al-Jamaah yang melaksanakan urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman masing-masing. Setiap orang akan mengerjakan hal-hal yang tampak berbeda, akan tetapi mempunyai urusan yang sama untuk menyeru manusia menjadi dekat kepada Allah dengan akhlak mulia. Urusan itu seluruhnya termaktub dalam kitabullah Alquran tidak ada yang tertinggal sedikitpun. Setiap orang hendaknya mencari penyatuan langkah dirinya terhadap kehendak Allah dengan berusaha memahami tuntunan kitabullah Alquran berdasarkan akhlak mulia.

Dalam kehidupan dunia, pemahaman terhadap tuntunan kitabullah Alquran itu tersebar pada banyak hamba-hamba Allah. Setiap orang hendaknya mencari pemahaman-pemahaman itu dan mengumpulkannya untuk beribadah kepada Allah. Dalam perjalanannya mereka akan menemukan kebenaran itu dalam bentuk kepingan-kepingan yang kadangkala bercampur dengan kesalahan-kesalahan. Ada pula orang yang berjumpa dengan seseorang yang memperoleh pengetahuan kebenaran yang besar, tetapi tetap saja seseorang harus memahami melalui kepingan-kepingan. Kebenaran yang dapat dipahami diri itu hanyalah kepingan kebenaran, bukan kebenaran utuh sebagaimana yang diajarkan. Kadangkala pencari ilmu juga menjumpai orang yang mengaku sebagai ulama ataupun pembawa kebenaran tetapi sebenarnya tidak memahami kebenaran. Hal-hal demikian hendaknya diperhatikan dengan benar oleh setiap orang yang berusaha memahami tuntunan kitabullah.

Timbangan yang dapat dijadikan indikasi kebenaran diantaranya adalah diperolehnya kebaikan dan menuju arah taubat yang benar. Suatu seruan untuk tazkiyatun-nafs merupakan indikator arah yang benar, dan memandang suci diri sendiri merupakan indikator kepalsuan. Penguatan pikiran dan akal yang benar melalui tazkiyatun-nafs menunjukkan indikator kebenaran, dan sebaliknya setiap langkah yang menjadikan manusia bodoh dan lemah merupakan indikasi kepalsuan. Memahami ayat-ayat kitabullah dan kauniyah secara tepat menunjukkan kebenaran, dan memanfaatkan ayat Alquran untuk kepentingan tersembunyi merupakan indikator kepalsuan. Bayt yang meninggikan dan mendzikirkan asma Allah merupakan kebenaran, sebaliknya bayt meninggikan selain asma Allah merupakan kepalsuan. Bayt yang baik merupakan bayt yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan masyarakat, bukan bayt yang menyimpang dari tuntunan Allah. Setiap orang hendaknya menimbang kesudahan yang baik dalam mengikuti langkah-langkah orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar