Pencarian

Rabu, 07 Januari 2026

Ikhlas dalam Amal Semata-mata Bagi Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Kemuliaan akhlak dan kedekatan seorang hamba kepada Allah akan diperoleh dengan pembinaan pemahaman terhadap kitabullah Alquran al-karim. Pemahaman terhadap Alquran berfungsi sebagai penuntun bagi hamba Allah untuk berproses melakukan ibadah sedemikian ia dapat beribadah secara murni dan bersih.

﴾۲﴿إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّينَ
Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.(QS Az-Zumar : 2)

Allah menuntut kepada para hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya dengan penuh keikhlasan, yaitu berusaha mewujudkan kehendak Allah ke semesta alam. Kemurnian dalam ibadah kepada Allah bukanlah tuntutan mewujudkan bentuk-bentuk amal hanya mengikuti contoh Rasulullah SAW saja secara membuta, tetapi tuntutan untuk berusaha memahami kehendak Allah bagi setiap diri dan berusaha mewujudkan kehendak Allah di alam ciptaan sedemikian makhluk dapat memperoleh manfaat dari pengenalan kepada Allah. Bentuk keikhlasan itu berwujud usaha memahami tuntunan kitabullah yang terkait dengan kehidupan dan mewujudkan pemahaman terhadap tuntunan itu di alam semesta dengan amal shalih.

Ada jalan khusus yang ditentukan Allah bagi makhluk untuk dapat memahami tuntunan kitabullah, yaitu membina diri sebagai misykat cahaya yang berfungsi membentuk bayangan cahaya Allah dalam diri manusia. Misykat cahaya dapat digambarkan layaknya suatu kamera yang membentuk bayangan dari cahaya objek yang dibidik. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh misykat agar terbentuk bayangan yang baik di dalam misykat diri seseorang. Misykat diri itu harus rapat tidak boleh bocor cahaya, dibina dengan keikhlasan dalam ibadah kepada Allah semata-mata. Lensa berupa zujajah itu harus jernih dari kotoran-kotoran hingga dapat membentuk bayangan secara jernih, dapat diatur fokusnya dengan tepat dengan penghayatan sifat rahman dan sifat rahim untuk memahami ayat Allah. Manakala tidak terbentuk sifat rahman dan rahim, fokus lensa itu akan membentuk bayangan yang tidak tepat. Bayangan cahaya yang benar dan tepat itu hanya terbentuk dari zujajah yang terbina dalam sifat rahman dan rahim. Cahaya yang dibentuk bayangannya adalah ayat-ayat Allah berupa ayat kitabullah dan ayat yang digelar di alam kauniyah.

Sangat banyak hal yang harus diperhatikan dalam membina diri sebagai misykat cahaya. Kadangkala suatu misykat cahaya tidak dapat membentuk bayangan dari suatu objek yang dibidik karena zujajah dalam dirinya tidak dibina dalam sifat rahman dan rahim secara selayaknya, maka bayangan yang dibentuk menjadi tidak terarah. Kadangkala zujajah dalam diri seseorang tidak dibersihkan dari noda-noda hawa nafsu hingga bayangan yang terbentuk merupakan bayangan dari noda hawa nafsu bukan bayangan dari cahaya ayat Allah, sedangkan mereka menyangka bayangan pada misykat cahaya dirinya merupakan bayangan kehendak Allah. Kadangkala misykat yang seharusnya kedap cahaya kecuali pada lubang lensa mengalami kebocoran maka bayangan yang terbentuk terkotori dengan cahaya yang tidak seharusnya. Seringkali cahaya kebocoran itu bersumber dari syaitan hingga manusia menjadi tersesat karena menyangka sesuatu yang berasal dari syaitan berasal dari Allah. Setiap orang harus memperhatikan tuntunan kitabullah dalam membina diri sebagai misykat cahaya karena hanya dengan memperhatikan tuntunan kitabullah bayangan cahaya yang terbentuk bisa benar.

Terbentuknya bayangan cahaya Allah dalam misykat diri seseorang itu merupakan modal untuk beribadah kepada Allah secara murni bersih dari pengotor-pengotor dan kesyirikan. Ada suatu kaum melakukan gerakan pemurnian tauhid tanpa terlebih dahulu mengikuti proses pembinaan misykat cahaya, maka hal demikian sebenarnya hanya membangun waham beragama saja. Mereka tidak menjauh dari tepian tauhid tetapi merasa memiliki ilmu tentang murninya ibadah kepada Allah hanya berdasarkan hafalan-hafalan tanpa mengerti maknanya.. Ilmu yang dapat dipahami secara instan itu kemudian dilebar-lebarkan dengan menuntut para pengikutnya untuk selalu menuntut ilmu kepada para syaikh mereka selama hidupnya, sedangkan para pengikutnya sebenarnya tidak lagi membutuhkan ilmu yang mereka ajarkan. Para pengikutnya hanya orang-orang yang dibodoh-bodohkan agar memandang syaikh mereka berilmu. Umat tidak dibina menjadi orang-orang yang membutuhkan ilmu. Mereka akan merasa bosan dengan pengajaran yang disampaikan atau akan menjadi orang-orang yang ilmunya tidak bermanfaat dan merusak, memisahkan ilmu agama dengan ayat kauniyah.

Alquran diturunkan dengan pokok dari setiap kebenaran dari sisi Allah. Kebenaran Alquran itu berada pada kedudukan yang paling tinggi. Di alam semesta ada banyak bentuk-bentuk kebenaran dalam berbagai tingkatan, dari tingkatan tertinggi hingga kebenaran-kebenaran nisbi di alam dunia yang merupakan manifestasi dari pokok ataupun turunan dari kebenaran dalam Alquran. Kebenaran-kebenaran itu hendaknya dipahami oleh para hamba Allah selaras dengan tuntunan kitabullah. Itu adalah usaha memahami kehendak Allah, dan hendaknya pemahaman itu diwujudkan ke alam semesta sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Ketepatan dan ketajaman dalam memahami tuntunan kitabullah untuk diwujudkan ke alam semesta itu merupakan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah.

Manusia hendaknya mengintegrasikan pengetahuan mereka tentang kebenaran, menyatukan kebenaran di alam dunia hingga memahami kebenaran dari sisi Allah dalam wujud ayat Alquran. Kebenaran dari sisi Allah berupa ayat Alquran itu sebenarnya mempunyai penjabaran yang sangat luas di alam dunia, dan sebaliknya ilmu-ilmu di alam kauniyah itu sebenarnya mempunyai sumber dari sisi Allah berupa ayat Alquran. Barangkali tidak semua orang mempunyai kesatuan pengetahuan demikian, atau seseorang mungkin hanya mempunyai pengetahuan tentang sekelumit hubungan ayat kauniyah dengan ayat kitabullah, atau mungkin mereka memahami ayat kauniyah sesuatu yang terpisah dengan ayat kitabullah. Apapun keadaan seseorang, hendaknya mereka berusaha menyatukan pemahaman terhadap ayat kauniyah secara integral dengan ayat kitabullah.

Sebagian orang beriman mungkin pernah mendapatkan petunjuk cara melakukan penyatuan pengetahuan. Dalam suatu riset misalnya, mungkin ada suatu petunjuk tentang target yang harus dicapai dalam pengambilan data. Ada petunjuk konsekuaensi manakala terjadi kegagalan, maka kehidupan akan berantakan. Seringkali orang melambung perasaannya menganggap riset itu sangat penting sedemikian harus berhasil. Sebenarnya konsekuensi demikian itu seringkali lebih disebabkan oleh pentingnya hubungan antara langkah yang perlu dilakukan dengan asas tertentu yang fundamental, bukan karena tingkat kepentingan risetnya saja. Seandainya hanya terkait riset saja, kegagalan itu hanya berpengaruh pada riset saja bukan kehidupan yang berantakan. Mungkin cara pengambilan data itu sebenarnya terkait dengan keberjamaahan sebagai umat Rasulullah SAW sedemikian suatu kegagalan dalam proses pengambilan data sebenarnya menunjukkan ketidaktaatan atau keterputusan dari tuntunan Rasulullah SAW.

Misalnya bisa saja terjadi kesalahan sistemik dalam pengambilan data sedangkan kesalahan sistemik itu sebenarnya cermin kegagalan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW berjamaah. Kegagalan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW itulah yang merupakan sebab berantakan menyebabkan dampak yang jauh lebih besar daripada kegagalan pengambilan datanya. Keberhasilan pengambilan data itu sendiri akan terjadi bila umat berhasil mengikuti tuntunan Rasulullah SAW. Risetnya atau pengambilan data itu sendiri boleh jadi merupakan bagian dari urusan yang disebutkan dari Rasulullah SAW atau urusan yang disebutkan orang-orang yang telah terhubung kepada urusan Rasulullah SAW. Kegagalan pengambilan data itu sangat mungkin terjadi karena tidak pahamnya pelaksana terhadap tuntunan Rasulullah SAW ataupun pesan-pesan yang disampaikan orang-orang dahulu yang telah terhubung kepada Rasulullah SAW dalam urusan itu. Misalnya dalam hikayat Cikapundung, Cikapundung adalah kisah pundung, dan (diketahui kemudian) pundungnya itu karena morat-maritnya sunnah di antara umat Rasulullah SAW. Penyebab pundung ini tidak terbatas pada pengambilan data. Pada waktu wafatnya, Rasulullah SAW sangat merasa berat terkait keadaan umatnya, boleh jadi salah satunya terkait fragmen Cikapundung. Sebab demikian itu yang menyebabkan kehidupan menjadi berantakan.

Orang-orang beriman harus berusaha untuk membangun pemahaman yang menyatukan kebenaran dari tingkat bawah hingga memahami fungsi dirinya bagi urusan Rasulullah SAW dengan mengenal urusan dirinya dari kitabullah Alquran. Banyak kebenaran-kebenaran yang telah disampaikan oleh orang-orang terdahulu agar setiap generasi memperoleh sarana untuk dapat terhubung pada urusan Allah dalam kitabullah. Penghayatan terhadap tuntunan-tuntunan kebenaran yang telah disampaikan itu hendaknya dibina secara tepat, tidak hanya digunakan untuk berbangga-bangga sebagai kaum yang terpilih mengangkat khazanah kebenaran. Apabila suatu kaum dapat memahami tuntunan yang telah diajarkan secara tepat, mereka akan memperoleh jalan untuk membuka khazanah negeri mereka untuk memakmurkan negeri. Tanpa upaya demikian, negeri mereka akan tetap seperti negeri orang yang tidak beriman atau lebih buruk lagi.

Beramal Semata-mata Bagi Allah

Kemurnian ibadah harus diusahakan sedemikian seseorang benar-benar hanya melaksanakan urusan-urusan terkait dengan perintah yang dipahami sebagai amr Allah. Maksud beribadah semata-mata bagi Allah bukanlah beramal berdasarkan prasangka niat bahwa ia beramal semata-mata bagi Allah, tetapi berupa melakukan hanya amal yang merupakan bagian dari urusan Allah saja meninggalkan amal yang lain. Allah memerintahkan kepada putera Adam (manusia) mengosongkan diri untuk beribadah kepada Allah. Ini merupakan perintah agar manusia membersihkan ibadahnya hanya dalam bentuk ibadah yang diketahui merupakan bagian dari urusan yang diperintahkan Allah tidak menyibukkan diri melakukan amal lain yang tidak diketahui urusannya dari sisi Allah. Manusia hendaknya meninggalkan kesibukannya untuk beribadah kepada Allah.

Dalam sebuah hadits qudsi dari Abu Hurairah r.a dari Rasulullah SAW bersabda.

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُوْلُ : يَا ابْنَ آدَمَ! تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِيْ، أَمْلأْ صَدْ رَكَ غِنًى، وَأَسُدَّ فَقْرَكَ، وَإِنْ لاَ تَفْعَلْ مَلأْتُ يَدَكَ شُغْلاً، وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكْ
Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai anak Adam!, kosongkanlah (dirimu) untuk beribadah kepadaKu, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku penuhi kefakiranmu. Jika tidak kalian lakukan niscaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu” ( HR Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim)

Di dunia modern, perintah demikian barangkali terdengar asing bagi manusia karena kehidupan membuat manusia sibuk. Masalah yang membuat perintah itu terdengar asing sebenarnya karena kebanyakan manusia tidak mengenal urusan Allah yang seharusnya ditunaikan dalam kehidupan di dunia. Apabila seseorang mengenal urusan Allah yang harus ditunaikan dirinya, perintah itu bukan suatu hal yang asing. Ia dapat bergiat pada urusan-urusan yang diketahuinya merupakan bagian dari perintah Allah, dan mengosongkan diri dari kegiatan-kegiatan yang tidak menjadi bagian dari perintah Allah. Seringkali orang demikian memandang manusia yang sibuk itu seperti anai-anai yang beterbangan, bergejolak tetapi tidak mempunyai pijakan melangkah menuju arah yang ditentukan.

Perintah pada hadits di atas pada dasarnya ditujukan secara tunggal yaitu kepada anak Adam (tunggal). Terminologi demikian menunjuk pada khalifah Al-Mahdi, tetapi dapat berlaku umum untuk orang-orang yang mengenal urusan Allah yang harus ditunaikan untuk ruang dan jaman masing-masing sebagai khalifah di bumi. Orang-orang yang mengenal urusan Allah yang seharusnya ditunaikan dalam kehidupan di bumi diperintah Allah untuk mengosongkan dirinya dari melakukan amal-amal selain yang diperintahkan, dan diperintahkan untuk sepenuhnya melaksanakan  amal-amal yang ditentukan. Ada orang-orang yang secara pasti mengenal amal-amal yang harus ditunaikan, ada pula yang mengenal amal yang ditentukan dalam bentuk arah-arah yang harus dicapai untuk menghadapi masalah-masalah yang terjadi. Barangkali hal demikian menunjukkan tingkat kekuatan akal atau bashirah masing-masing, tetapi semuanya menunjukkan pengetahuan tentang amal yang harus ditunaikan.

Orang-orang yang belum mengenal urusan Allah yang harus ditunaikan hendaknya juga mendengarkan perintah tersebut dengan berusaha mengenal amal-amal yang ditunaikan, tidak memenuhi hati dan waktunya untuk mencari kepuasan duniawi saja. Mengikuti kegiatan atau memberikan dukungan kepada orang-orang yang mengenal urusan Allah akan sangat membantu proses mengenal urusan Allah. Upaya demikian akan menjadikan seseorang terlibat dalam urusan yang diperintahkan Allah apabila ia berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak hanya mengikuti manusia saja. Bila belum menemukan orang yang mengenal, hendaknya mereka berpegang pada tuntunan kitabullah dan melakukan kebaikan-kebaikan yang ditunjukkan dalam kitabullah dan berharap Allah memberikan petunjuk untuk dapat melaksanakan amal-amal yang ditentukan Allah.

Kemurnian ibadah kepada Allah harus dilakukan hingga para hamba Allah tidak melakukan amal-amal kecuali apa yang merupakan bagian dari urusan Allah bagi diri masing-masing. Barangkali keadaan demikian bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Seringkali seseorang tidak benar-benar terlepas dari ikatan duniawi sekalipun telah mengenal urusan dirinya. Bahkan sekalipun manakala Allah telah melepaskan diri seorang hamba dari kesibukan yang lain, kadangkala orang tersebut tetap bergejolak memikirkan kebutuhan duniawi karena keluarga atau lingkungannya tidak mendukung upayanya. Hal demikian harus dihadapi dengan kuat oleh para hamba Allah. Apabila ia tidak berusaha untuk mewujudkan perintah demikian, ia akan dipenuhi kesibukan dan kebutuhannya tidak akan terpenuhi.

Proses pemurnian ibadah demikian sangat membutuhkan bayt terutama manakala seorang laki-laki mengenal diri. Bayt itu berupa rumah tangga dan keluarga yang dapat memahami bersama urusan Allah yang harus ditunaikan dalam kehidupan di dunia. Para perempuan perlu dibina untuk memahami kehendak Allah melalui jalan yang ditentukan. Kadangkala seorang isteri menempuh agamanya sendiri tanpa mentaati atau memahami urusannya dari suami, atau bahkan menyimpang mengikuti urusannya dari laki-laki lain. Kadangkala perempuan mengada-adakan syarat yang memberatkan bagi laki-laki untuk menikahi dirinya. Manakala tidak dapat memahami, kehidupan keluarga itu akan sangat morat-marit. Seorang suami yang mengenal diri akan benar-benar berusaha memurnikan ibadah kepada Allah dengan melaksanakan amr yang ditunaikan dan meninggalkan urusan lain selain perintah Allah, sedangkan isteri dan keluarganya akan menuntut nafkah dan tidak mempercayai sumber rezeki berdasarkan amal suaminya. Ini merupakan potensi konflik yang besar. Rezeki duniawi mereka akan berantakan karena ketidakpercayaan demikian. Para suami lebih berperan dalam mengupayakan rezeki langit, dan peran isteri mengolahnya bersama mewujudkan rezeki bumi. Perselisihan dalam masalah rezeki itu akan menjadikan rezeki mereka berantakan. Sebenarnya rezeki mereka seharusnya mengalir melalui pelaksanaan amanah yang dikenali suami.

Seringkali masyarakat menambah beban dalam pemurnian ibadah kepada Allah karena kultur yang tidak baik, menghakimi seseorang karena ketaatannya melaksanakan pemurnian ibadah kepada Allah. Manakala Allah menurunkan petunjuk kepada seseorang jalan keluar dari masalah dalam pemurnian ibadah kepada Allah, masyarakaat mungkin justru mencegah jalan keluar itu untuk ditunaikan karena memandang jalan itu sesuatu yang buruk. Mereka memandang buruk karena tidak memahami jalan keluar cara Allah. Mereka tidak menyadari bahwa tindakan demikian mungkin saja memunculkan masalah lebih besar di masyarakat. Masyarakat perlu memahami tuntunan Alquran dan sunnah Rasulullah SAW agar dapat memahami jalan Allah dalam mengangkat kualitas umat manusia, tidak mudah menghakimi petunjuk orang lain berdasarkan hawa nafsu ataupun bisikan syaitan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar