Pencarian

Minggu, 01 Februari 2026

Tauhid dan Washilah Kepada Allah

 Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Para rasul mengajarkan tauhid dalam bentuk penyatuan langkah hamba Allah selaras dengan kehendak Allah. Penyatuan demikian harus ditempuh oleh umat Rasulullah SAW dengan pembinaan dalam diri, dimulai dari keadaan yang tercerai berai menuju keadaan yang mengarah pada penyatuan terhadap kehendak Allah. Banyak orang yang merasa mengikuti tuntunan Allah tetapi sebenarnya hanya mencomot potongan-potongan kebenaran tanpa melangkah menuju penyatuan terhadap kehendak Allah. Seringkali orang-orang demikian merasa sebagai orang-orang yang benar atau membawa kebenaran tanpa memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala mereka justru berbuat kerusakan yang besar dengan waham mereka sendiri tanpa menyadari kerusakan yang mereka lakukan. Orang-orang demikian tidak mengikuti langkah tauhid yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para rasul yang lain. Yang mengikuti langkah bertauhid adalah orang yang berusaha mengetahui kehendak Allah dan melaksanakannnya, bukan orang yang mengaku mengikuti.

Arah proses yang harus dijadikan pedoman dalam mengikuti langkah tauhid Rasulullah SAW dan khalilullah Ibrahim a.s adalah membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Bentuk bayt demikian adalah keluarga yang bersatu dalam mewujudkan kehendak Allah di bumi layaknya langkah keluarga nabi Ibrahim a.s beserta siti Hajar dan Ismail meninggikan pondasi baytullah. Hanya orang-orang yang mengarah pada pembentukan bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah saja yang benar-benar mengikuti langkah Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s. Manakala seseorang atau suatu kaum hanya mengikuti contoh tanpa mengetahui arah melangkah, mereka sebenarnya belum mengikuti Rasulullah SAW. Kadangkala seseorang atau suatu kaum melakukan kebaikan-kebaikan tetapi juga melakukan perusakan terhadap bayt atau pernikahan di antara mereka dan kemudian menyangka telah mengikuti langkah Rasulullah SAW. Hal demikian menunjukkan rusaknya langkah mengikuti tuntunan kitabullah dan Rasulullah SAW. Kebaikan mereka hanya pada kulitnya saja, tetapi inti dari agama mereka justru rusak.

Inti dari pembinaan bayt dalam meninggikan dan mendzikirkan asma Allah adalah pembinaan Al-Arham (الْأَرْحَامَ). Penyatuan diri seseorang terhadap kehendak Allah terjadi melalui penyatuan al-arham yang tumbuh dalam diri mereka terhadap Ar-Rahim, salah satu dari asma Allah yang tertinggi.

﴾۱﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari nafs wahidah, dan dari padanya Allah menciptakan pasangannya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan kasih sayang. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS An-Nisaa’ : 1)

Hubungan kasih sayang (الْأَرْحَامَ) merupakan isi di dalam nafs yang harus ditumbuhkan setiap orang dalam kehidupan, dan pernikahan merupakan media paling utama yang berguna untuk membina hubungan kasih sayang hingga dapat menghubungkan diri seseorang kepada Allah mencapai tauhid yang hakiki. Karena itu pernikahan merupakan sasaran utama pembinaan manusia dalam bertauhid. Hubungan kasih sayang itu merupakan perpanjangan dari sifat rahman dan rahim yang tumbuh di dalam jiwa setiap manusia. Terdapat banyak bentuk hubungan kasih sayang yang dapat terbentuk di antara manusia, dan yang paling utama adalah hubungan kasih sayang dalam keluarga dan intinya terdapat pada hubungan pernikahan. Manakala kasih sayang dalam pernikahan tumbuh dengan baik, akan tumbuh pula hubungan kasih sayang pada diri seseorang terhadap keluarga dan terhadap masyarakat. Manakala kasih sayang dalam pernikahan rusak, akan kering pula kasih sayang pada diri seseorang terhadap keluarganya dan terhadap masyarakat. Kadangkala suatu hubungan kasih sayang seseorang terhadap masyarakat bersifat palsu karena pernikahan yang rusak, dan kadangkala sifat kasih sayang tumbuh dengan benar akan tetapi kerdil. Pernikahan merupakan media menumbuhkan asma Allah terutama sifat rahman dan rahim.

Memahami Kebenaran Secara Utuh

Banyak orang yang ingin membina tauhid dalam dirinya akan tetapi tidak memperoleh jalan untuk mengenal tauhid yang terbaik. Sebagian orang membina tauhid dengan membentuk imajinasi dalam pikiran mereka tentang Allah. Sebagian orang melangkah membina diri untuk memahami kehendak Allah akan tetapi tidak selaras dengan tuntunan Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s. Sebagian manusia hanya mengikuti perkataan orang lain tanpa keberanian mengikuti kebenaran. Setiap orang demikian mungkin melakukan proses tauhid dengan membaca kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan tetapi tidak benar-benar memahami pembinaan yang sebaik-baiknya. Keinginan membina tauhid itu sendiri merupakan sesuatu yang berharga dalam diri setiap orang, akan tetapi seringkali hawa nafsu atau kebodohan mengalahkan keinginan baik itu. Seringkali seseorang yang berusaha bertauhid terjebak merasa menjadi orang yang paling benar tanpa mengetahui kebodohan dirinya. Banyak orang tergelincir justru mengikuti syaitan karena merasa tinggi dengan ilmu yang dikumpulkan. Setiap orang harus berusaha memahami tuntunan dengan utuh.

Utuhnya pemahaman seseorang terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan terjadi manakala mereka berhasil membentuk bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Maksud dari utuhnya pemahaman adalah benarnya pemahaman terhadap tuntunan sedemikian pemahaman yang terbentuk tidak mengandung potensi merusak, bukan tuntutan tentang sempurnanya pemahaman terhadap kehendak Allah. Utuhnya pemahaman ini hendaknya diperhatikan dengan benar-benar berusaha memahami kebaikan dari ilmu. Ilmu yang benar itu akan mendatangkan kebaikan bukan suatu waham kebenaran saja. Manakala suatu pengetahuan terlihat mendatangkan kerusakan, hal itu bukan ilmu yang benar. Manakala suatu pengetahuan belum terlihat kebaikannya, pengetahuan itu belum menjadi ilmu. Suatu pengetahuan menjadi ilmu yang benar apabila seseorang melihat kebaikan dalam ilmu itu. Hendaknya diperhatikan bahwa hasil penilaian seseorang terhadap pengetahuan akan sangat dipengaruhi akhlak masing-masing tidak dapat dipersamakan nilai suatu pengetahuan antara satu orang dengan orang lain.

Tidak jarang seseorang merasa sebagai orang yang benar tetapi sebenarnya hanya prasangka saja karena ia tidak memperhatikan keutuhan pemahamannya. Seseorang mungkin saja mempunyai cara pandang yang salah tanpa menyadarinya, dan hal itu wajar saja terjadi pada banyak orang. Akan tetapi hal itu akan menjadi suatu yang berbahaya manakala orang tersebut memandang kesalahan itu sebagai kebenaran. Seseorang akan sulit kembali kepada kebenaran manakala kesalahan dipandang sebagai kebenaran, sedangkan prasangka dalam intensitas demikian seringkali menjadi kendaraan syaitan untuk mendatangkan kerusakan. Setiap orang hendaknya memperhatikan keutuhan kebenaran yang mereka ikuti agar tidak terjebak pada kebenaran parsial yang berbahaya, dan hal itu lebih mudah dilakukan dengan memperhatikan arah berupa terbentuknya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Seseorang tidak harus merasa takut mengikuti kebenaran sekalipun baru parsial, akan tetapi harus disertai kemampuan untuk menyadari kesalahan yang mungkin terjadi. Manakala seseorang tidak mampu menyadari kesalahan, ia akan mudah dimanfaatkan syaitan.

Mencari kebenaran harus dilakukan dengan menggunakan akal secara setimbang. Kebenaran mungkin akan ditemukan manusia yang mencarinya dalam berbagai bentuk yang bercampur-campur bahkan dengan kebathilan dan setiap diri harus memilah antara kebenaran yang ada dengan sesuatu yang salah. Hal ini harus dilakukan dengan setimbang, tidak membuang sepenuhnya kebenaran karena adanya kebathilan atau tidak menghakimi suatu kesalahan secara berlebihan dari kesalahan yang terjadi. Tindakan demikian akan menambah kekuatan akal. Manakala seseorang mengikuti orang lain secara membuta tanpa berusaha memahami kebaikan pada langkah yang diikuti, mereka tidak akan menjadikan akalnya kuat dalam memahami kebenaran sekalipun jika langkahnya benar. Tidak jarang orang demikian terjemurus pada kerusakan. Demikian pula manakala seseorang bersikap berlebihan menolak kebenaran karena adanya kesalahan di dalamnya, atau menghakimi secara berlebihan tanpa melihat kedudukan kesalahan itu, akal mereka akan tetap lemah dalam memahami kehendak Allah. Orang demikian seringkali mudah menghakimi orang lain salah tanpa mengetahui kesalahannya, dan itu adalah kebodohan.

Kerusakan oleh orang-orang yang salah dalam membina tauhid akan semakin besar manakala mereka tidak menyadari kesalahannya. Bentuk-bentuk yang diharamkan Allah harus diperhatikan oleh orang yang membina tauhid karena hal-hal yang diharamkan itu akan merusak tauhid mereka. Wajar saja bila seseorang salah dalam perjalanan mereka membina tauhid, tetapi sikap mereka terhadap kesalahan akan berpengaruh terhadap akibat yang timbul. Akibat dari hal itu akan dipengaruhi sikap mereka terhadap kesalahan yang diperbuat. Orang yang melakukan kesalahan dengan suatu kesungguhan iktikad menganggap kesalahannya sebagai perintah Allah akan mendatangkan kerusakan yang paling besar. Apabila seseorang melakukan kesalahan dan menyadari kesalahannya serta berusaha menghindari kesalahan yang sama, ia mungkin tidak menimbulkan kerusakan karena Allah menutupi kesalahannya. Manakala seseorang atau suatu kaum tidak mengarahkan kehidupan mereka untuk sungguh-sungguh mengikuti Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, sistem kesadaran mereka terhadap kesalahan yang terjadi akan lemah.

Mengetahui arah itu akan memudahkan untuk melihat jalan dan menyadari kesalahan. Yang paling penting bagi setiap orang adalah berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sayangnya banyak orang yang merasa berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sedangkan mereka tidak mengetahui maksud dari tuntunan tersebut. Orang demikian kadangkala membantah ketika diberitahu kesalahan mereka dan mungkin mereka menguatkan diri dengan meminta pendapat orang lain tentang kebenaran diri mereka, sedangkan yang dimintai pendapat juga tidak mempunyai pemahaman. Hal demikian akan mendatangkan kebodohan yang menguat di masyarakat, merasa benar dengan kebodohan sendiri. Setiap orang harus berusaha melangkah mengikuti Rasulullah SAW dengan arah yang benar, tidak hanya meniru contoh tanpa mengarah pada tauhid yang benar. Arah akhir yang benar itu adalah terbentukya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.

Lurusnya Al-Arham

Bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah adalah pasangan suami dan isteri yang membina al-arham dalam diri mereka hingga terhubung pada Ar-Rahim.

dari Abdurrahman bin ‘Auf r.a ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda :
قَالَ اللهُ تعالى: أَنَا اللهُ وَأَنَا الرَّحْمنُ, خَلَقْتُ الرَّحِمَ وَشَقَقْتُ لَهَا اسْمًا مِنْ اسْمِي فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ وَمَنْ قَطَعَهَا قَطَعْتُهُ
Allah SWT berfirman, ‘Aku adalah Allah, dan Aku adalah Ar-Rahman, Aku menciptakan Ar-Rahim, dan Aku mengambilkan baginya satu nama dari nama-Ku. Maka barangsiapa yang menyambungnya niscaya Aku menyambung (hubungan dengan)nya dan barangsiapa yang memutuskannya niscaya Aku memutuskan (hubungan dengan)nya.”(HR. at-Tirmidzi no. 1907, Abu Daud 1694, dan Ahmad 1662 dan 1683.)

Tauhid hakiki akan diketahui seseorang manakala seseorang terhubung kepada Ar-Rahim. Terhubungnya seseorang terhadap Ar-Rahim terjadi melalui pertumbuhan Al-arham. Hubungan kasih sayang (الْأَرْحَامَ) merupakan isi di dalam nafs yang harus ditumbuhkan setiap orang dalam kehidupan, dan pernikahan merupakan media paling utama yang berguna untuk membina hubungan kasih sayang hingga dapat menghubungkan diri seseorang kepada Allah mencapai tauhid yang hakiki. Hubungan kasih sayang itu merupakan perpanjangan dari sifat rahman dan rahim yang tumbuh di dalam jiwa setiap manusia. Pertumbuhan al-arham itulah yang akan menyambungkan seseorang terhadap Ar-Rahim.

Pembinaan bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah harus dibina dengan memahami tuntunan Allah melalui pernikahan. Pembinaan pernikahan demikian itu harus dilakukan dengan mengikuti ketentuan-ketentuan Allah. Ada hal-hal yang diharamkan yang harus diharamkan berupa kekejian (al-fakhsya’) baik yang dzahir ataupun yang bathin, permusuhan (al-baghyu), dosa-dosa, kesyirikan dan perkataan-perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan. Apabila ketentuan-ketentuan itu tidak diperhatikan, manusia tidak akan dapat membina tauhid dengan benar untuk menuju penyatuan al-arham dalam diri mereka terhadap Ar-Rahim. Apabila al-arham dalam diri mereka tumbuh, ia tidak akan terhubung terhadap Ar-Rahim dan mungkin akan ditunggangi atau terhubung pada entitas lain di langit yang jahat. Sekalipun tampak baik, langkah mereka sangat mungkin akan mendatangkan kerusakan yang besar karena tidak taatnya seseorang dalam membangun pemahaman terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Pembinaan untuk mengenal Allah harus dijauhkan dari hal-hal yang diharamkan, karena hal yang haram menumbuhkan kerusakan dalam pengenalan kepada Allah. Sangat banyak kerusakan bisa terjadi karena hal yang diharamkan sedangkan manusia tidak menyadari kerusakan yang dilakukan. Setiap orang harus tumbuh akalnya untuk memahami keburukan dalam hal yang diharamkan Allah. Ada keburukan dalam hal yang haram yang secara umum diketahui manusia tanpa perlu pemberitahuan, walaupun mungkin saja menjadi terlihat rumit pada sebagian manusia. Sebagian keburukan hal yang haram baru diketahui manusia apabila menggunakan akal. Misalnya dalam perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan, seringkali manusia memandang baik perkataan demikian karena tampak layaknya perkataan yang memperkenalkan Allah pada makhluk, tetapi mungkin sebenarnya mendatangkan keruwetan logika berpikir dan merusak kemampuan akal. Demikian pula manakala seseorang menemukan suatu perkataan atau tindakan yang menimbulkan permusuhan di antara orang-orang yang benar atau beriman, perkataan itu tidak boleh dipersepsi sebagai perintah Allah sekalipun dikatakan kepadanya bahwa itu perintah Allah. Setiap orang harus memahami bahwa Allah tidak menghendaki permusuhan antara manusia. Pernyataan sebagai perintah Allah demikian itu merupakan perkataan tentang Allah tanpa pengetahuan. Membangun kesadaran tentang hal ini membutuhkan tumbuhnya akal. Setiap orang harus menjauhkan diri dari apa yang diharamkan Allah dalam membina pengenalan kepada kehendak Allah.

Ujung dari pembinaan yang harus dijadikan tujuan adalah terhubungnya seseorang kepada Ar-Rahiim dengan menumbuhkan Al-arham dalam dirinya. Pembinaan bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah merupakan representasi pembinaan al-arham yang paling utama. Seseorang dapat memulai setengah pembinaan agama dirinya dengan melakukan pernikahan, dan pembinaan itu dapat dilakukan seterusnya hingga seseorang mampu menunaikan agamanya secara utuh. Pembinaan melalui pernikahan mencakup pembinaan agama dari awal hingga tercapainya tujuan beragama, sedangkan terkandung di dalam proses pernikahan itu pengajaran-pengajaran yang banyak hingga seseorang memahami urusan Allah dengan utuh. Manakala seseorang berbangga dengan pencapaian pengajaran-pengajaran secara parsial tanpa mengarahkan pembinaan menuju ujung sasaran yang harus dicapai, ia akan mudah tersimpangkan oleh syaitan dengan kebanggaannya. Kadangkala seseorang mengabaikan kebenaran karena kebanggaannya, sedangkan ia belum benar-benar bertauhid berupa tersambungnya washilah kepada Ar-Rahim.

Tanda dari terhubungnya seseorang terhadap Ar-Rahim diantaranya adalah pengenalan seseorang terhadap kedudukan Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s sebagai dua uswatun hasanah hingga ia mengetahui kedudukan dirinya dalam al-jamaah. Hal ini tentu saja harus disertai dengan kesadaran tentang pentingnya mengikuti langkah-langkah yang dicontohkan uswatun hasanah dengan benar. Seseorang yang bersaksi kedudukan uswatun hasanah tetapi tidak memahami atau bahkan merusak langkah yang dicontohkan uswatun hasanah menunjukkan dirinya tidak mengenal kedudukan Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s. Mungkin saja sebenarnya ia justru terlempar jauh dari Al-jamaah tanpa menyadarinya. Orang yang mengenal kedudukan dua uswatun hasanah akan berusaha mewujudkan tuntunan uswatun hasanah, bukan mewujudkan keinginan diri sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar