Pencarian

Jumat, 30 Januari 2026

Shilaturrahmi untuk Memperoleh Washilah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Para rasul mengajarkan tauhid dalam bentuk penyatuan langkah hamba Allah selaras dengan kehendak Allah. Penyatuan demikian harus dimulai dengan pembinaan diri dengan sifat-sifat yang baik selaras dengan kehendak Allah membentuk akhlak mulia. Tauhid demikian dapat dengan mudah diingat dan dipahami apabila orang-orang beriman benar-benar menghayati makna doa “Bismillahirrahmaanirrahiim”, yang artinya “dengan asma Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”. Untuk benarnya pembinaan akhlak demikian, ada arah langkah membina tauhid yang diajarkan Rasulullah SAW dan para rasul utusan Allah yaitu berproses membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.

Dalam pembinaan bayt, terkandung suatu proses pembinaan akhlak manusia menuju kemuliaan berupa pembinaan hubungan kasih sayang (الْأَرْحَامَ).

﴾۱﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari nafs wahidah, dan dari padanya Allah menciptakan pasangannya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan kasih sayang. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS An-Nisaa’ : 1)

Hubungan kasih sayang (الْأَرْحَامَ) merupakan isi di dalam nafs yang harus ditumbuhkan setiap orang dalam kehidupan mereka, dan pernikahan merupakan media paling utama yang berguna untuk membina hubungan kasih sayang. Hubungan kasih sayang itu merupakan perpanjangan dari sifat rahman dan rahim yang tumbuh di dalam jiwa setiap manusia. Terdapat banyak bentuk hubungan kasih sayang yang dapat terbentuk di antara manusia, dan yang paling utama adalah hubungan kasih sayang dalam keluarga dan intinya terdapat pada hubungan pernikahan. Manakala kasih sayang dalam pernikahan tumbuh dengan baik, akan tumbuh pula hubungan kasih sayang pada diri seseorang terhadap keluarga dan terhadap masyarakat. Manakala kasih sayang dalam pernikahan rusak, akan kering pula kasih sayang pada diri seseorang terhadap keluarganya dan terhadap masyarakat. Kadangkala suatu hubungan kasih sayang seseorang terhadap masyarakat bersifat palsu karena pernikahan yang rusak, dan kadangkala sifat kasih sayang tumbuh dengan benar akan tetapi kerdil. Pernikahan merupakan media menumbuhkan asma Allah terutama sifat rahman dan rahim. Pertumbuhannya dalam diri seseorang akan terganggu manakala hubungan nafs wahidah diri seseorang dengan pasangannya diganggu.

Keberhasilan dalam membina pernikahan akan mewujudkan suatu bayt yang memperoleh izin Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya. Fungsi sosial diri pasangan itu akan berjalan dengan baik selaras dengan kehendak Allah. Seorang suami yang mengenal amal yang ditetapkan bagi dirinya akan berhasil menempati kedudukan dirinya dan melaksanakan amal yang ditetapkan sesuai dengan dengan kehendak Allah. Gambarannya, apabila jati diri suami adalah raja, ia akan mengetahui fungsi dirinya sebagai raja, dan ia memperoleh jalan untuk mengatur rakyat dan wilayah kerajaannya. Bila ia tidak berhasil membina pernikahannya, ia mungkin mengetahui jati dirinya sebagai raja akan tetapi tidak memperoleh jalan mengatur rakyat dan wilayah kerajaannya. Jangankan kerajaan, bahkan isterinya pun kadangkala tidak mau mengakui atau tidak mau mengenali fungsi diri mereka. Hal itu menunjukkan kegagalan membentuk bayt yang memperoleh ijin Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya.

Tanda keberhasilan pembinaan pernikahan dapat dilihat dari pertumbuhan hubungan kasih sayang (الْأَرْحَامَ) di antara suami dan isteri. Pada dasarnya setiap pihak dapat menumbuhkan sendiri rasa kasih sayang tetapi hanya secara terbatas bila pertumbuhan hanya sepihak. Manakala pertumbuhan (الْأَرْحَامَ) terjadi pada kedua pihak, hubungan kasih sayang itu akan menjadi subur dan saling menguatkan. Seorang suami dapat tumbuh membentuk misykat cahaya mengenal asma Allah melalui pernikahan sekalipun apabila isterinya tidak mengimbanginya, yaitu apabila ia menumbuhkan (الْأَرْحَامَ) secara lurus. Demikian pula seorang isteri dapat tumbuh menjadi perempuan subur yang memakmurkan negerinya manakala ia menumbuhkan (الْأَرْحَامَ) dalam dirinya secara lurus, sekalipun suaminya tidak tumbuh mengenal asma Allah. Suatu negeri akan rusak apabila (الْأَرْحَامَ) dalam pernikahan tumbuh secara keji. Keberhasilan pembinaan pernikahan akan terjadi manakala pihak suami dan isteri dapat membina hubungan kasih sayang (الْأَرْحَامَ) bersama-sama secara timbal balik dalam pernikahan mereka.

Kesuburan pertumbuhan al-arham akan mempengaruhi kesuburan pengetahuan seseorang atau pasangan terhadap kehendak-kehendak Allah. Seseorang bisa memperoleh pengetahuan tentang kehendak Allah melalui keberpasangan mereka, dan pengetahuan terhadap kehendak Allah itu akan menjadi semakin dalam apabila al-arham tumbuh kuat. Kadangkala seseorang hanya mempunyai pengetahuan berupa kilasan-kilasan tanpa memperoleh kedalaman makna karena kerdilnya pertumbuhan al-arham dalam dirinya. Ada orang-orang yang memperoleh kedalaman pengetahuan dan ia memperoleh jangkauan terhadap objek dari pengetahuannya karena kebersamaan pertumbuhan al-arham dalam pernikahannya. Ada pula orang-orang yang memperoleh kedalaman pengetahuan karena pertumbuhan al-arham tetapi tidak memperoleh jangkauan terhadap objek pengetahuannya karena pertumbuhan al-arham hanya sepihak. Pertumbuhan al-arham akan mempengaruhi pengetahahuan manusia terhadap kehendak-kehendak Allah.

Agama adalah pengenalan dan pelaksanaan fitrah diri seseorang berupa nafs wahidah. Pengenalan nafs wahidah tersebut terjadi dengan terkumpulnya pengetahuan seseorang terhadap kehendak Allah. Terkumpulnya pengetahuan dipengaruhi dengan pertumbuhan al-arham dalam diri. Terkumpulnya pengetahuan tersebut akan mengarahkan seseorang untuk mengenal diri, tetapi pengenalan terhadap nafs wahidah itu akan terjadi secara tiba-tiba berupa keterbukaan pengetahuan terhadap fitrah diri, suatu proses yang diskrit tetapi tetap berkorelasi dengan terkumpulnya pengetahuan. Dengan pengetahuan yang terkumpul, seseorang akan mengarah pada pengenalan diri tetapi tidak akan mencapai pengenalan diri kecuali Allah membukakan pengenalan diri tersebut. Sekalipun demikian, kumpulan pengetahuan itu sangat berguna untuk dijadikan landasan dalam beramal shalih. Seseorang dapat beramal shalih dengan terkumpulnya pengetahuan terhadap kehendak Allah melalui usahanya, tetapi bobot amal itu sama sekali tidak sama dengan orang yang memperoleh keterbukaan terhadap pengenalan nafs wahidah.

Washilah Kepada Ar-Rahim

Salah satu hal yang membedakan bobot amal shalih orang yang mengenal nafs wahidah dan amal shalih orang yang (baru) mengumpulkan pengetahuan kehendak Allah melalui usahanya adalah keterhubungan dengan Allah. Orang yang mengalami keterbukaan pengenalan terhadap nafs wahidah akan terhubung kepada Allah dengan mekanisme tertentu. Keterhubungan seseorang dengan Allah terjadi melalui keterhubungan dirinya kepada Ar-Rahim.

dari Abdurrahman bin ‘Auf r.a ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda :
قَالَ اللهُ تعالى: أَنَا اللهُ وَأَنَا الرَّحْمنُ, خَلَقْتُ الرَّحِمَ وَشَقَقْتُ لَهَا اسْمًا مِنْ اسْمِي فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ وَمَنْ قَطَعَهَا قَطَعْتُهُ
Allah SWT berfirman, ‘Aku adalah Allah, dan Aku adalah Ar-Rahman, Aku menciptakan Ar-Rahim, dan Aku mengambilkan baginya satu nama dari nama-Ku. Maka barangsiapa yang menyambungnya niscaya Aku menyambung (hubungan dengan)nya dan barangsiapa yang memutuskannya niscaya Aku memutuskan (hubungan dengan)nya.”(HR. at-Tirmidzi no. 1907, Abu Daud 1694, dan Ahmad 1662 dan 1683.)

Orang yang mengenal nafs wahidah dirinya dikatakan sebagai orang yang telah mengenal Allah (ma’rifatullah). Sebenarnya ma’rifatnya seseorang yang mengenal nafs wahidah tidaklah menunjukkan sempurnanya pengetahuan dirinya kepada Allah, hanya menunjukkan lurusnya pengetahuan dirinya terhadap Allah. Pengenalan nafs wahidah terkait dengan pengenalan kepada Allah melalui beberapa turunan, di antaranya pengenalan terhadap Ar-Rahman, pengenalan terhadap Ar-Rahim hingga pengenalan terhadap suatu asma’ tertentu yang diperkenalkan Allah kepada diri seseorang yang mengenal nafs wahidah. Nafs wahidah seseorang itu hanya memperoleh kemampuan mengenal asma’ tertentu yang diperkenalkan kepada dirinya, dan asma’ itu yang mengenal Ar-Rahim, dan Ar-Rahim itu yang terhubung kepada Ar-Rahman. Ada rangkaian washilah yang terbentuk yang menjadikan seseorang dikatakan mengenal Allah.

Manusia yang mengenal Allah dalam tajalli Ar-Rahman hanyalah Rasulullah SAW dan beliau SAW menghimpun seluruh pengetahuan terkait asma Allah. Manusia yang mengenal Allah dalam tajalli Ar-Rahim adalah nabi Ibrahim a.s. Kedua manusia itu menjadi uswatun hasanah bagi setiap makhluk yang ingin mengenal Allah. Tidak ada makhluk yang dapat mengenal Allah tanpa melalui pengenalan terhadap kedua uswatun hasanah. Adapun para nabi selain kedua uswatun hasanah tersebut, sebagian manusia harus terhubung melalui mereka a.s dan sebagian makhluk tidak harus terhubung melalui mereka a.s, akan tetapi seluruh nabi menjelaskan tentang kehendak Allah. Tidak ada orang mengenal Allah tetapi merasa sendirian dalam mengenal Allah.

Kisah yang menggambarkan rangkaian demikian dapat ditemukan pada kisah nabi Musa a.s. Manakala beliau bertemu dengan pohon berapi di lembah Thuwa yang mengatakan diri-Nya : “sesungguhnya Aku adalah Aku, (yaitu) Allah tidak ada tuhan selain Aku”, nabi Musa a.s saat itu sebenarnya bertemu dengan tajalli asma Allah yang diperkenalkan kepada beliau a.s. Pada suatu kesempatan yang lain, beliau a.s memohon kepada Allah untuk melihat rabb dalam bentuk sebenarnya. Beliau a.s mengetahui bahwa rabb yang memperkenalkan diri-Nya kepadanya hanya merupakan bentuk turunan dari rabb yang sesungguhnya. Maka beliau a.s diperintahkan untuk melihat suatu bukit dan hal itu menyebabkan beliau a.s pingsan atau mati sementara waktu. Yang dilihat nabi Musa a.s pada bukit itu merupakan tajalli asma Allah dalam derajat yang lebih tinggi dan pasti bukan tajalli Ar-Rahman. Tajalli Ar-Rahman hanya terjadi paling rendah di firdaus manakala Ia berkehendak menurunkan diri-Nya, dan umumnya tajalli-Nya berada di atas ‘Arsy.

Demikian hubungan seseorang dengan Allah sebenarnya terjadi melalui berbagai penurunan hingga seseorang mengenal Allah sesuai dengan keadaan diri masing-masing. Tidak ada seseorang mengenal Allah dengan sempurna, tetapi hanya mengenal apa yang diperkenalkan Allah kepada dirinya sebagai bagian dari Rasulullah SAW. Rasulullah SAW adalah makhluk yang paling mengenal Allah, tetapi sebenarnya beliau SAW hanya mengenal apa yang diperkenalkan Allah, bukan mengenal Allah secara sempurna. Tanda dari benarnya pengenalan seseorang kepada Allah adalah pengenalan dirinya terhadap kedudukan Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s. Tidak mungkin seseorang yang mengenal Allah mengabaikan kedudukan Rasulullah SAW dalam bertindak. Seseorang yang mengenal Allah akan berusaha bertindak sebatas dalam urusan dirinya saja yang diambil dari urusan Rasulullah SAW, tidak akan membuat tindakan sendiri di luar tuntunan Rasulullah SAW misalnya menghalalkan yang diharamkan dan lain-lain. Mungkin ia bertindak salah, tetapi tidak ada keinginan keluar dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Tumbuhnya pengenalan makhluk kepada Allah terjadi melalui tumbuhnya al-arham. Terhubungnya seseorang kepada Allah terjadi melalui terhubungnya al-arham dalam diri seseorang hingga mengenal Ar-Rahim. Keterhubungan seseorang kepada Ar-Rahim merupakan bentuk hakiki dari shilaturrahmi. Banyak bentuk turunan dari shilaturrahmi dan bentuk-bentuk turunan dari shilaturrahmi dalam hubungan manusia di bumi akan mendatangkan manfaat semisal dari manfaat shilaturrahmi. Bahkan sebenarnya hubungan terhadap Ar-Rahim hanya akan tumbuh dari shilaturrahmi dalam bentuk-bentuk duniawi yang merupakan turunan dari shilaturrahmi yang hakiki.

Sarana Membina Shilaturrahmi

Media paling baik dalam menumbuhkan hubungan kasih sayang di dunia adalah pernikahan dan hubungan keluarga. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فِى اْلأَهْلِ وَمَثرَاةٌ فِى الْمَالِ وَمَنْسَأَةٌ فِى اْلأَثَرِ
Sesungguhnya silaturrahim adalah rasa cinta di dalam keluarga, bertambahnya harta, dan memperkokoh jejak (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi)

Hadits di atas merupakan tuntunan bagi orang beriman dalam membina shilaturrahmi dalam media terbaik berupa pernikahan. Pernikahan merupakan cerminan di alam dunia bagi hubungan nafs wahidah dengan jasmani seseorang, dan representasi dari jalan keterhubungan seorang hamba Allah dengan Ar-Rahim. Pembinaan shilaturrahmi di media pernikahan hendaknya dilakukan selayaknya sebagai cerminan dari pembinaan hubungan seorang hamba dengan Ar-Rahim, dimanifestasikan dalam parameter terbinanya mahabbah antara dua insan menikah, penambahan harta bagi mereka, serta terbentuknya jejak yang kokoh di bumi sebagai hamba Allah.

Mahabbah dalam pernikahan hendaknya ditumbuhkan layaknya hubungan hamba Allah dengan Ar-Rahim, di mana seorang hamba mencintai Ar-Rahim dengan mengenal kebaikan yang tersimpan pada Ar-Rahim. Demikianlah seorang isteri hendaknya mencintai suaminya sebagai sumber kebaikan dari sisi Allah bagi dirinya. Baik ataupun buruk seorang suami, ia adalah wujud yang dihadirkan bagi diri seorang isteri untuk mengabdi kepada Allah sedemikian ia dapat mengabdi kepada Allah dalam bentuk amal yang nyata. Hendaknya ia bersyukur terhadap kehadiran suami yang menikahi dirinya dengan membina mahabbah karena Allah. Manakala suami memperoleh pengetahuan tentang kebaikan dari sisi Allah, isteri hendaknya mendukung dengan jiwa raga untuk mewujudkannya, tidak memaksa suaminya mengikuti keinginan sendiri atau keinginan orang lain. Demikian pula suami hendaknya mencintai isteri dan keluarganya sebagai bagian dari dirinya sendiri yang harus dimuliakan hingga bentuk-bentuk duniawi. Suatu mahabbah yang tumbuh di antara pasangan suami isteri akan memudahkan pasangan itu dalam menambah harta benda dan memperkokoh jejak keberadaan diri mereka sebagai hamba Allah.

Di antara tujuan menumbuhkan al-arham melalui pernikahan adalah mengumpulkan harta dan membuat karya-karya sebagai jejak sebagai hamba Allah yang dapat dilihat oleh makhluk lain. Mengumpulkan harta melalui pembinaan shilaturrahmi bukanlah perbuatan yang didasari sikap tamak ataupun rasa takut kekurangan, tetapi suatu usaha mengumpulkan segala sesuatu yang terserak bagi diri mereka yang dilakukan dengan melaksanakan amal-amal yang ditentukan Allah. Pelaksanaan amal demikian merupakan suatu ibadah yang akan menambah harta bagi mereka, dan harta itu tidak membahayakan. Demikian pula membuat karya-karya perlu dilakukan para hamba Allah sebagai jejak orang beriman dengan membina Al-Arham. Amal demikian tidak boleh dilakukan untuk kemasyhuran diri, tetapi dilakukan untuk menunjukkan kehendak-kehendak Allah kepada manusia sebagai suatu jalan kehidupan bertaubat kepada Allah, sebagaimana nabi Ibrahim a.s meninggalkan jejak yang panjang bagi seluruh hamba Allah berupa pembangunan bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Terbinanya Al-arham di antara suami dan isteri akan memanjangkan dan memperkokoh jejak langkah mereka dalam memberitakan khazanah di sisi Allah.

Banyak mukminin tidak berhasil dalam membina shilaturrahmi dalam pernikahan. Banyak mukminat tidak dapat mensyukuri jodoh yang diberikan kepada dirinya, lebih mencintai harta ataupun tergoda laki-laki lain daripada mensyukuri kehidupan bersama suami yang dinikahkan di hadapan Allah. Kadangkala seorang mukminat tidak mau menikah dengan jodoh yang baik bagi dirinya karena calon suaminya dipandang tidak mempunyai harta yang mencukupi dirinya. Banyak mukminat tidak menyadari bahwa peran keumatan dirinya adalah menumbuhkan kekayaan bersama suami dan memperkokoh jejak langkah melalui pernikahan. Demikian pula banyak mukminin yang tidak sungguh-sungguh mengharap kedekatan kepada Allah melalui jalan yang disediakan, tidak mensyukuri sarana yang disediakan bagi dirinya. Sumber kegagalan kadangkala datang dari syaitan yang berhasil memperoleh jalan merusak pembinaan shilaturahmi pernikahan sedemikian pembinaan gagal atau keberhasilan hanya terjadi pada satu pihak saja. Hal itu membuat syiar agama tidak dapat tersebar dengan baik kepada umat. Hal demikian menjadi suatu masalah penyebab umat tetap terbelakang dan berada dalam kemiskinan sekalipun tanpa gangguan dari musyrikin. Orang beriman hendaknya berusaha tidak dalam keadaan demikian.

Rabu, 28 Januari 2026

Menghindari Penyimpangan dalam Bertauhid

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Rasulullah SAW merupakan tauladan utama bagi seluruh makhluk dalam beribadah kepada Allah. Setiap rasul diutus kepada umat masing-masing menyeru kepada umatnya untuk beribadah kepada Allah dan menjauhi taghut. Tidak ada rasul yang tidak menyeru manusia untuk beribadah kepada Allah semata-mata dan menafikan ilah yang lain selain Allah, dan setiap rasul itu menjelaskan bagian dari suatu sunnah Rasulullah SAW.

﴾۶۳﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (QS An-Nahl : 36).

Dalam istilah saat ini, setiap rasul yang diutus Allah selalu menyeru kepada tauhid. Tauhid secara bahasa merupakan bentuk masdar dari fi’il wahhada-yuwahhidu (dengan huruf ha di tasydid), yang artinya menjadikan sesuatu satu saja. Secara istilah, tauhid menunjuk pada perintah beribadah semata-mata kepada Allah dan menjauhkan ibadah dari kesyirikan. Dewasa ini sebenarnya telah terjadi pergeseran makna tauhid dalam langkah mewujudkannya. Proses pembinaan tauhid yang dilakukan dewasa ini kebanyakan menyimpang tidak sebagaimana mestinya. Pengajaran tauhid dewasa ini dilakukan dengan membuat suatu gambaran dalam pikiran tentang Allah Yang Maha Esa. Hal ini sebenarnya hanya benar untuk pembinaan dasar tauhid saja, bukan pembinaan tauhid yang seharusnya. Tidak sedikit manusia terjerumus pada penyimpangan berupa pembinaan lanjut yang dilakukan untuk membenarkan penyerangan terhadap muslim lain. Hal ini merupakan penyimpangan yang jauh dari ajaran tauhid para nabi.

Para rasul mengajarkan tauhid dalam bentuk penyatuan langkah hamba Allah selaras dengan kehendak Allah. Penyatuan demikian harus dimulai dengan pembinaan diri dengan sifat-sifat yang baik selaras dengan kehendak Allah membentuk akhlak mulia. Manakala akhlak mulia telah terbentuk, seseorang akan mempunyai cara berpikir selaras dengan tuntunan kitabullah. Apabila ia mempelajari tuntunan kitabullah ia akan mengerti secara tepat kehendak Allah yang seharusnya ditunaikan sesuai dengan keadaan kauniyahnya. Tauhid demikian dapat dengan mudah diingat dan dipahami apabila orang-orang beriman benar-benar menghayati makna doa iftitah “Bismillahirrahmaanirrahiim”, yang artinya “dengan asma Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”. Doa itu merupakan pokok dari tauhid yang diajarkan para rasul yang diutus Allah kepada setiap umat.

Arah langkah membina tauhid yang diajarkan Rasulullah SAW dan para rasul utusan Allah adalah berproses membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah serta langkah-langkah lain yang mendukung terbinanya bayt demikian. Keadaan terdekat dari terbentuknya bayt adalah proses pembinaan diri sebagai misykat cahaya untuk memahami ayat-ayat Allah dengan benar. Pemahaman terhadap ayat Allah tidak boleh dibuat-buat dengan cara berpikir sembarangan, tetapi harus dengan akhlak yang baik, dengan nafs yang disucikan Allah setelah seseorang menempuh proses tazkiyatun-nafs. Dengan terbentuknya akhlak mulia, seseorang akan memperoleh pemahaman berdasar akhlaknya yang mulia manakala mengikuti firman Allah dalam kitabullah. Membina tauhid sesuai ajaran para rasul harus dilakukan sepanjang masa dengan tujuan menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah baik setelah kematiannya ataupun apabila Allah memberikan karunia mi’raj sebagai hamba yang didekatkan.

Tauhid mengikuti tuntunan rasulullah akan menjadikan seseorang memahami ayat-ayat Allah secara terpadu antara ayat kitabullah dan ayat kauniyah. Pengetahuan mereka terhadap kehendak Allah dapat membentuk akar terhadap alam bumi mereka, bukan hanya suatu konsep yang melangit saja. Orang yang mengikuti pengajaran tauhid para rasul akan tumbuh sebagai hamba Allah yang memahami perintah Allah yang harus ditunaikan dalam kehidupan di bumi hingga dalam bentuk-bentuk amaliah duniawi, bukan hanya perintah-perintah langit saja. Gambaran keadaan akidah mereka seperti pohon yang baik, akarnya mengakar kuat ke bumi dan cabang-cabangnya merentang di langit. Ini sangat berbeda dengan tauhid yang dibuat-buat manusia. Tauhid yang dibuat-buat hanya akan membentuk pohon yang buruk, tercerabut akarnya dari bumi tidak dapat berdiri tegak, konsep pengetahuan yang tidak bisa membentuk akar ke alam bumi. Tidak sedikit orang islam kemudian terperosok mengikuti akidah ibnu Dzulkhuwaisirah yang justru menjadi penggonggong kepada umat Rasulullah SAW dengan konsep akidah pohon yang buruk, atau bahkan mencabik umat Rasulullah SAW manakala tuan mereka memerintahkan sebagaimana terjadi di negeri terberkahi Yaman dan Syam.

Beberapa Penyimpangan dalam Bertauhid

Penyimpangan terbesar pengajaran tauhid dewasa ini adalah penggunaan tauhid untuk membenarkan penyerangan terhadap sesama muslimin. Umumnya hal ini dilakukan dengan melakukan tuduhan kesyirikan, bid’ah, khurafat, tawassul dan lain-lain masalah yang diada-adakan sedemikian suatu kaum merasa berhak menyerang muslimin yang lain. Mereka menggunakan setengah kebenaran sebagai pembenar bagi langkah-langkah keliru yang dilakukan. Mereka tidak benar-benar berusaha memahami dengan benar terminologi yang digunakan sesuai dengan konteks yang diajarkan Rasulullah SAW kemudian menganggap kedudukan diri mereka lebih tinggi dibandingkan kaum yang lain dengan setengah kebenaran itu. Itu adalah tauhid yang tidak benar yang diajarkan oleh kaum tertentu. Sayangnya kebanyakan muslimin terpengaruh oleh dasar-dasar ajaran mereka. Mungkin hanya sebagian saja yang mengikuti langkah yang keliru hingga menyimpang sebagai khawarij, tetapi kebanyakan kaum muslimin menjadi kehilangan pengajaran para rasul tentang tauhid yang sebenarnya, yang dibina mengikuti langkah Rasulullah SAW dan para rasul yang lain.

Benar bahwa perintah ibadah kepada Alquran hampir selalu diiringi dengan menghindari kesyirikan, tetapi harus dipahami bahwa perintah utamanya adalah agar seseorang beribadah kepada Allah dan ia menghindari kesyirikan dalam ibadahnya, bukan menuduh muslimin lain melakukan kesyirikan. Setiap muslim harus berusaha mengenali bentuk penghambaan dirinya kepada Allah terlebih dahulu oleh masing-masing, baru kemudian ia menelisik kesyirikan-kesyirikan yang mungkin terselip dalam penghambaan dirinya. Selama ia belum mengenal bentuk penghambaan dirinya, ia tidak perlu memerangi muslimin lain dengan tuduhan kesyirikan dan lain-lain. Apabila memerangi kesyirikan, hendaknya ia memerangi orang musyrik yang menyembah syaitan sedemikian syaitan itu memberikan keuntungan kepada penyembahnya, tidak memerangi muslimin yang tidak membangun hubungan secara jelas dengan syaitan. Muslimin yang tidak mengetahui tipuan syaitan atas diri mereka hendaknya diberitahu kemungkinan tipuan itu bukan diperangi.

Yang dimaksud bentuk penghambaan kepada Allah adalah mengenali dan melaksanakan amal-amal yang telah ditetapkan Allah sejak sebelum kelahiran diri di alam dunia. Allah telah mengalungkan bagi setiap manusia amal-amal yang harus ditunaikan dalam kehidupan di dunia, maka amal-amal itu merupakan bentuk penghambaan dirinya di dunia kepada Allah.

﴾۳۱﴿وَكُلَّ إِنسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنشُورًا
Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka (QS Al-Israa’ : 13)

Perintah untuk beribadah kepada Allah adalah perintah untuk mengenali dan melaksanakan amal-amal yang telah ditetapkan bagi diri setiap manusia sebagaimana ayat di atas. Untuk mengenali amal-amal tersebut, Allah menyediakan bagi hamba-hamba-Nya syariat-syariat yang dapat dilakukan sedemikian para hamba Allah dapat memohon petunjuk atau dapat memperoleh petunjuk manakala Allah memberikan petunjuk. Allah tidak membutuhkan pelaksanaan syariat itu dari hamba-hamba-Nya tetapi para hamba Allah yang seharusnya bergembira dengan syariat-syariat yang diberikan. Syariat-syariat Allah itu bukan sesuatu yang boleh dipertuhankan, tetapi harus selalu dilaksanakan dalam batas minimal tertentu agar manusia tidak menjadi rusak karena jauh dari cahaya Allah. Semakin banyak seseorang melaksanakan syariat, akan semakin lebar jalan petunjuk yang dapat ditemukannya. Para pengikut ibnu Dzulkhuawaisirah terjatuh pada sikap mempertuhankan syariat melupakan ibadah yang sesungguhnya kepada Allah.

Sangat penting bagi setiap muslimin untuk melangkah lebih lanjut mengenali bentuk ibadah yang seharusnya dilakukan, dan menghindarkan ibadah diri mereka dari kesyirikan diri. Kebanyakan umat muslim tidak memperhatikan langkah lanjutan untuk beribadah kepada Allah dan berhenti pada dasar-dasar tauhid, dan orang-orang yang mengikuti ajaran ibnu Dzulkhuwaisirah dijerumuskan dalam penyerangan kepada muslimin dengan menyusun tuduhan kesyirikan kepada orang lain. Sangat penting bagi setiap muslimin untuk melangkah lebih lanjut mengenali bentuk ibadah yang seharusnya dilakukan, dan menghindarkan ibadah diri mereka dari kesyirikan diri, bukan menyerang muslimin lain dengan tuduhan kesyirikan. Itulah maksud dari perintah ibadah semata-mata kepada Allah dan menghindarkan diri dari kesyirikan. Yang dimaksud orang musyrik hingga layak diperangi adalah orang-orang yang mencari keuntungan bagi diri sendiri dengan menjalin hubungan kepada syaitan, bukan orang yang mencari jalan kedekatan kepada Allah yang (mungkin dipandang) dilakukan dengan tidak tepat.

Setiap amal yang ditetapkan bagi manusia merupakan bagian dari kitabullah Alquran. Tidak ada amal yang ditetapkan secara acak tanpa suatu landasan dari tuntunan kitabullah Alquran. Setiap hamba Allah harus memperoleh landasan dari kitabullah tentang amal-amal yang ditentukan bagi dirinya. Pada prinsipnya  langkah itu merupakan langkah untuk memastikan bahwa amal yang harus ditunaikan merupakan bagian dari kitabullah Alquran. Pada tingkatan operasional, pengenalan dan pengamalan amal itu harus diarahkan untuk tujuan yang ditetapkan dalam kitabullah Alquran. Penjelasan tentang arah tujuan, sasaran, cara operasional dan lain-lain terkait amal yang ditentukan itu secara jelas akan ditemukan dari kitabullah Alquran. Seringkali Alquran tidak menunjukkan makna secara jelas kepada masyarakat umum, tetapi sangat memberikan arah dan tujuan yang terinci bagi orang-orang yang telah mengenal amal yang ditetapkan bagi dirinya. Secara keberjamaahan, tuntunan yang diperoleh dari kitabullah Alquran merupakan bukti bahwa peran dirinya merupakan bagian dari Al-Jamaah umat Rasulullah SAW. Ia akan mengetahui peran dirinya benar-benar merupakan bagian dari urusan Rasulullah SAW. Orang yang tidak mengetahui landasan amalnya dari tuntunan kitabullah boleh dikatakan baru memperoleh kabar tentang amalnya, bukan mengetahui amal yang harus ditunaikan sebagai bentuk ibadah yang sesungguhnya kepada Allah.

Amal-amal yang ditetapkan ini harus disikapi dengan tepat. Sebagian kaum terlalu mengagungkan amal yang ditetapkan hingga melupakan penghambaan kepada Allah sebagai landasan pengenalannya. Kaum demikian seringkali memandang penuh keinginan kepada amal yang ditetapkan tetapi justru lalai memperhatikan tuntunan kitabullah. Amal yang ditetapkan merupakan bentuk ibadah di shirat al-mustaqim yang akan dikenali orang yang ingin sungguh-sungguh beribadah kepada Allah. Amal ini tidak akan dikenali oleh orang yang ingin mengenalnya tanpa keinginan menghambakan diri kepada Allah. Keinginan menghamba kepada Allah itu ditunjukkan dengan perhatian terhadap tuntunan Allah dan melaksanakan perintah dalam tuntunan Allah, yang dapat dilakukan sekalipun seseorang belum mengenal amal yang ditentukan baginya. Manakala seseorang lalai memperhatikan tuntunan kitabullah, keinginan ibadah pada dirinya sebenarnya hanya kecil, dan hasrat menjadi terpandang mungkin lebih besar. Keinginan menghamba itu tidak pula boleh lenyap manakala seseorang mengenal amalnya. Seseorang bisa saja terjatuh menjadi pelayan bagi amalnya dan meninggikan diri dengan amalnya melupakan penghambaan kepada Allah, yaitu apabila ia tidak memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW terkait pelaksanaan amalnya. Orang yang tetap beribadah kepada Allah dengan amal yang ditetapkan adalah orang yang tetap memperhatikan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW manakala menunaikan amalnya. Mereka berusaha untuk tetap menjadi bagian dari Al-Jamaah umat Rasulullah SAW, tidak ingin menjadi orang yang terpisah ketika menunaikan amalnya.

Banyak hal tidak baik manakala seseorang menghamba pada amalnya. Kaum demikian seringkali tidak mau memperhatikan tuntunan kitabullah Alquran manakala tuntunan itu diserukan kepada mereka, sedangkan mereka lebih memperhatikan urusan-urusan yang mereka sukai daripada urusan Allah. Kadangkala mereka menganggap urusan mereka sebagai urusan Allah tanpa mengetahui landasannya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala urusan yang mereka kerjakan benar merupakan bagian dari urusan Allah yang harus dikerjakan, mereka mungkin tidak memperhatikan sasaran, tujuan dan kaidah serta langkah yang diperintahkan Allah dalam kitabullah Alquran atau dalam kata lain mereka mengerjakan urusan Allah untuk iktikad mereka sendiri. Mereka mungkin tidak berbuat kesalahan, tetapi sebenarnya tidak memperhatikan kehendak Allah. Apapun keadaan yang terjadi, mempertuhankan amal demikian akan menjadikan urusan Allah tercerai-berai, dan sebenarnya mereka tercerai-berai dari Al-jamaah. Tauhid berwujud penyatuan langkah hamba Allah terhadap kehendak Allah. Bentuk penyatuan demikian akan terlihat menyatu dalam pelaksanaannya dalam bentuk satu Al-Jamaah yang melaksanakan urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman masing-masing. Setiap orang akan mengerjakan hal-hal yang tampak berbeda, akan tetapi mempunyai urusan yang sama untuk menyeru manusia menjadi dekat kepada Allah dengan akhlak mulia. Urusan itu seluruhnya termaktub dalam kitabullah Alquran tidak ada yang tertinggal sedikitpun. Setiap orang hendaknya mencari penyatuan langkah dirinya terhadap kehendak Allah dengan berusaha memahami tuntunan kitabullah Alquran berdasarkan akhlak mulia.

Dalam kehidupan dunia, pemahaman terhadap tuntunan kitabullah Alquran itu tersebar pada banyak hamba-hamba Allah. Setiap orang hendaknya mencari pemahaman-pemahaman itu dan mengumpulkannya untuk beribadah kepada Allah. Dalam perjalanannya mereka akan menemukan kebenaran itu dalam bentuk kepingan-kepingan yang kadangkala bercampur dengan kesalahan-kesalahan. Ada pula orang yang berjumpa dengan seseorang yang memperoleh pengetahuan kebenaran yang besar, tetapi tetap saja seseorang harus memahami melalui kepingan-kepingan. Kebenaran yang dapat dipahami diri itu hanyalah kepingan kebenaran, bukan kebenaran utuh sebagaimana yang diajarkan. Kadangkala pencari ilmu juga menjumpai orang yang mengaku sebagai ulama ataupun pembawa kebenaran tetapi sebenarnya tidak memahami kebenaran. Hal-hal demikian hendaknya diperhatikan dengan benar oleh setiap orang yang berusaha memahami tuntunan kitabullah.

Timbangan yang dapat dijadikan indikasi kebenaran diantaranya adalah diperolehnya kebaikan dan menuju arah taubat yang benar. Suatu seruan untuk tazkiyatun-nafs merupakan indikator arah yang benar, dan memandang suci diri sendiri merupakan indikator kepalsuan. Penguatan pikiran dan akal yang benar melalui tazkiyatun-nafs menunjukkan indikator kebenaran, dan sebaliknya setiap langkah yang menjadikan manusia bodoh dan lemah merupakan indikasi kepalsuan. Memahami ayat-ayat kitabullah dan kauniyah secara tepat menunjukkan kebenaran, dan memanfaatkan ayat Alquran untuk kepentingan tersembunyi merupakan indikator kepalsuan. Bayt yang meninggikan dan mendzikirkan asma Allah merupakan kebenaran, sebaliknya bayt meninggikan selain asma Allah merupakan kepalsuan. Bayt yang baik merupakan bayt yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan masyarakat, bukan bayt yang menyimpang dari tuntunan Allah. Setiap orang hendaknya menimbang kesudahan yang baik dalam mengikuti langkah-langkah orang lain.

Senin, 26 Januari 2026

Membangun Komitmen Ketaatan

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Jalan kembali kepada Allah demikian terbentang sejak kehidupan di bumi dalam wujud tugas pemakmuran bumi. Pemakmuran bumi akan terwujud dari pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah. Benarnya pemahaman itu adalah keselarasan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala seseorang menyimpang dari tuntuan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, langkah penyimpangan itu tidak akan dapat mendatangkan pemakmuran sekalipun mereka berusaha keras untuk melakukan pemakmuran. Seringkali mereka justru melakukan kerusakan di bumi dengan amal-amal mereka, mungkin tanpa mereka sadari. Hal demikian muncul dari pemahaman yang salah terhadap sunnah Rasulullah SAW.

Allah memerintahkan orang beriman untuk memperhatikan masalah ketaatan dan perkataan yang ma’ruf. Hal ini terkait dengan adanya orang-orang yang yang tidak taat dan membuat perkataan-perkataan secara menyimpang dari tuntunan Allah. Hendaknya orang-orang beriman menghindari langkah orang yang tidak taat kepada tuntunan Allah dan menghindari mengikuti perkataan yang menyimpang dari tuntunan Allah. Mereka tidak benar-benar memahami kehendak Allah dengan tepat dan mereka melakukan ketidaktaatan dengan membantah tuntunan yang disampaikan kepada mereka.

﴾۱۲﴿طَاعَةٌ وَقَوْلٌ مَّعْرُوفٌ فَإِذَا عَزَمَ الْأَمْرُ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ
(Perhatikanlah) ketaatan dan (perhatikanlah) perkataan yang ma’ruf. Maka (perhatikanlah) manakala amr Allah telah ditetapkan, apabila mereka membenarkan Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka. (QS Muhammad : 21)

Ketaatan yang haq terkait erat dengan penyatuan usaha manusia atau suatu kaum terhadap upaya pelaksanaan urusan Allah. Dalam kehidupan di bumi, setiap orang sebenarnya diberi tugas untuk melaksanakan urusan pemakmuran bumi bersama orang-orang yang lain, akan tetapi kebanyakan orang terlupa dengan tugas yang harus mereka tunaikan. Sebagian manusia memakmurkan jasmaniah diri mereka sendiri tanpa memperhatikan kebaikan-kebaikan yang seharusnya diberikan kepada orang lain, sebagian orang melakukan pemakmuran mengikuti pemikiran dan hawa nafsu sendiri, sebagian orang terjebak dalam kehidupan sinkretik tanpa memikirkan pemakmuran bumi yang harus dilakukan bersama orang lain, sebagian orang melakukan ketaatan kepada pemegang urusan Allah, dan banyak macam bentuk kehidupan manusia terkait pemakmuran yang harus dilakukan. Orang-orang yang benar dalam usahanya untuk melakukan pemakmuran bumi adalah orang-orang yang menemukan washilah untuk pelaksanaan perintah Allah pada diri seorang ulul amr, dan ia mentaati pelaksanaan urusan itu. Mereka adalah orang-orang yang mentaati Allah dan mentaati Rasulullah SAW dan ulul amr di antara mereka.

Ketaatan terlahir dari kebutuhan seseorang terhadap pemimpin. Ini pada dasarnya adalah fitrah dari nafs wahidah tetapi dapat muncul turunannya di setiap tingkat entitas diri seorang manusia. Ketaatan seseorang akan terbentuk sesuai dengan kebutuhan dirinya tentang pemimpin yang layak baginya. Seseorang yang sangat menginginkan ibadah yang sungguh-sungguh kepada Allah akan mengarah pada terbentuknya ketaatan kepada imam yang benar dalam wujud ulul amr, sedangkan orang yang menginginkan dunia akan membentuk ketaatan kepada pemimpin yang mampu memudahkan ketersediaan kebutuhan dunianya. Dalam perjalanannya, manusia mungkin tidak langsung bisa menemukan ulul amr yang memperoleh pengetahuan tentang kehendak Allah, tetapi harus memulai ketaatannya dari kegelapan. Tidak ada ketaatan yang tercela selama tidak menjadikan berbuat maksiat kepada Allah, tetapi hendaknya seseorang selalu membangun ketaatan yang lebih baik dengan selalu membangun paradigma kehidupan yang lebih baik. Ia harus memperhatikan perkataan-perkataan yang ma’ruf dengan berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Perkataan yang ma’ruf merupakan bahan membangun bentuk ketaatan terhadap ulul amr dalam pelaksanaan urusan Allah.

Dari ‘Ali r.a berkata, “Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ.
Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam hal yang ma’ruf.’” [Muttafaq ‘alaih].

Ketaatan harus dilakukan hanya dalam hal yang ma’ruf. Kata إِنَّمَا yang diartikan “hanya” menunjukkan batasan atas suatu masalah. Kalimat tersebut tidak memberikan perintah untuk tidak taat atau melakukan perbantahan terhadap hal yang tidak diketahui kema’rufannya, tetapi bahwa hendaknya setiap mukmin membangun komitmen ketaatan tertentu dengan landasan kema’rufannya. Jelas kalimat itu mencegah orang beriman untuk melakukan ketaatan dalam hal yang bertentangan dengan kehendak Allah atau maksiat, tetapi tidak terbatas pada masalah tersebut. Perkataan ini ditujukan kepada orang beriman yang ingin menemukan washilah mengikuti kebenaran dan berusaha membangun komitmen ketaatan yang bernilai mulia. Setiap orang beriman hendaknya mencari ketaatannya berlandaskan hal yang ma’ruf tidak membiarkan dirinya terombang-ambing mengikuti langkah orang lain terus-menerus tanpa mengetahui nilai ma’rifatnya.

Perkataan yang ma’ruf adalah perkataan-perkataan yang mengantarkan seseorang untuk mengenal kehendak Allah dengan benar sedemikian seseorang menjadi lebih kokoh dalam ibadahnya kepada Allah. Pengenalan terhadap kehendak Allah bukan hanya tentang tatacara syariat atau norma-norma kebaikan saja tetapi juga termasuk kehendak-kehendak terkait amal-amal duniawi yang harus dilaksanakan untuk mewujudkan kehendak Allah di bumi. Manakala seseorang mengetahui kehendak Allah atas dirinya, ia dapat menghambakan dirinya kepada Allah dengan pengetahuan tersebut, dan itu adalah penghambaan yang kokoh dalam kehidupan di bumi. Pengenalan terhadap kehendak Allah melalui perkataan-perkataan yang ma’ruf itu harus diketahui landasannya dari tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, bukan sesuatu yang dikatakan sebagai kehendak Allah tanpa mempunyai landasan dari tuntunan kitabullah. Penghambaan dengan cara demikian akan menjadikan seseorang mengenal ulul amr yang harus ditaati dalam pelaksaan urusan-urusan diri mereka.

Banyak muslimin yang tidak membangun komitmen ketaatan kepada Allah karena terjebak pada waham sendiri. Kebanyakan muslimin tidak membangun komitmen ketaatan kepada Allah hingga terwujud dalam tingkatan amal duniawi, merasa telah cukup dengan mentaati larangan dalam tuntunan secara umum dan melaksanakan ibadah-ibadah umum. Sebagian orang beriman membangun suatu struktur pengetahuan tanpa sungguh-sungguh berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka membuat status-status manusia dan kemudian mereka mengikutinya berdasar status yang mereka buat, tidak mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan memahami perkataan yang ma’ruf secara tepat. Hal demikian itu tidaklah membangun ketaatan kepada Allah, tetapi hanya mengikuti perkataan bapak-bapak mereka saja. Setiap orang islam dan beriman harus membangun komitmen ketaatan kepada Allah dengan membangun pemahaman terhadap perkataan yang ma’ruf dengan landasan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hingga ketaatan itu terwujud dalam tingkatan amal-amal duniawi.

Di antara manusia, banyak orang yang membuat-buat sistem ketaatan tanpa landasan perkataan yang ma’ruf. Ada yang membuat-buat sistem itu untuk mencapai keinginan diri mereka sendiri, ada pula yang memandang bahwa diri mereka adalah pembawa kebenaran tetapi sebenarnya tidak benar-benar mengikuti perkataan yang ma’ruf. Kadangkala suatu kaum membangun sistem ketaatan untuk norma-norma kebaikan tanpa memikirkan lebih lanjut bentuk ketaatan yang kokoh kepada Allah. Orang-orang beriman hendaknya tidak masuk sepenuhnya pada kelompok demikian dengan sepenuh ketaatan, karena ketaatan hanya dilakukan dalam batas kema’rufan. Di antara maksudnya adalah agar akal orang beriman tidak terjebak untuk tunduk kepada selain Allah dengan tetap menyisakan ruang bagi akal untuk memahami perkataan yang ma’ruf. Apabila ia mengikuti seseorang yang salah, masih tetap ada ketaatannya kepada Allah tidak terseret pada kesalahan orang lain. Manakala seseorang memahami bahwa suatu perkataan adalah perkataan yang ma’ruf, hendaknya mereka mentaatinya dengan sungguh-sungguh. Ketaatan yang sungguh-sungguh hanya dilakukan di atas perkataan yang ma’ruf. Seandainya seseorang mengikuti seorang ulul amri, ketaatan yang sebenarnya hanya terjadi apabila ia memahami bahwa perkataan ulul amr itu adalah perkataan yang ma’ruf. Manakala seseorang mengikuti ulul amr tanpa memahami ma’rufnya perkataan ulul amri, ketaatan itu kurang nilainya karena kurangnya pemahaman terhadap perkataan yang ma’ruf.

Ulul amr adalah orang yang memperoleh pengetahuan tentang kehendak Allah yang harus ditunaikan di bumi. Setiap orang pada dasarnya bisa mengetahui urusan Allah yang harus ditunaikan masing-masing, tetapi keadaan demikian hanya dicapai oleh orang-orang yang membina diri sebagai misykat cahaya hingga seseorang mengetahui kehendak Allah melalui bayangan yang terbentuk dari cahaya Allah. Terdapat perbedaan jenis urusan pada setiap manusia. Ada orang yang urusannya keumatan yang luas, dan ada yang bersifat lebih sempit dari itu. Tidak semua orang yang berusaha membina misykat cahaya berhasil membentuk bayangan yang benar dari cahaya Allah. Sebagian membentuk bayangan yang buram dari cahaya Allah, sebagian membentuk bayangan dari cahaya selain cahaya Allah, dan hanya sedikit orang yang benar-benar membentuk bayangan yang benar dari cahaya Allah. Semua pengenalan diri mereka terhadap kehendak Allah dapat dijelaskan secara mudah berdasarkan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, tidak membutuhkan logika yang ruwet walaupun mungkin memerlukan banyak penalaran. Tidak ada orang yang mengenal kehendak Allah tetapi bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka yang mengenal dengan benar kehendak Allah ditandai dengan mengenal kedudukan diri mereka dalam urusan Rasulullah SAW secara tepat bersama dengan orang-orang yang mengenalnya dalam suatu Al-jamaah. Mereka beramal shalih dengan perintah yang mereka kenal secara berjamaah dalam urusan yang ditentukan dalam amr Rasulullah SAW. Manakala seseorang belum mengenal kedudukan diri dalam urusan Rasulullah SAW, ia sebenarnya belum benar dalam mengenal urusan Allah.

Ketaatan dan perkataan yang ma’ruf akan berjalan beriring mengantarkan manusia untuk mengenal kebenaran dalam Al-jamaah. Mengenal kebenaran pada puncaknya adalah mengenal bahwa nabi Muhammad SAW adalah Rasulullah SAW, sedangkan langkah menuju puncak itu disusun melalui pengenalan keping-keping kebenaran dari orang-orang yang mengenalnya. Suatu perkataan yang benar akan mengantarkan seseorang mengenal orang yang layak untuk ditaati, hingga pada akhirnya ia akan mengenal hubungan dirinya kepada Rasulullah SAW melalui banyak orang sebagai Al-jamaah. Bertambahnya pengetahuan kebenaran akan menjadikan seseorang mengenal lebih banyak orang yang benar, dan ia tidak memandang salah orang yang benar. Kadangkala seseorang mengenal kebenaran tetapi kemudian memandang dirinya satu-satunya orang yang benar. Manakala seseorang merasa dirinya sebagai satu-satunya orang yang benar tanpa mengenal kebenaran yang lain, ia mungkin telah terjatuh pada tipuan syaitan terutama apabila tidak mengenal Rasulullah SAW sebagai pembawa kebenaran. Orang demikian kadangkala memandang bahkan gurunya pun salah hanya karena mengikuti pendapat sendiri tanpa bisa menunjukkan kesalahannya.

Dampak Kurangnya Ketaatan

Memperhatikan ketaatan dan perkataan yang ma’ruf akan menjadikan orang-orang beriman mengenal urusan Allah yang harus ditunaikan oleh orang-orang beriman secara berjamaah. Manakala Allah menetapkan suatu urusan yang harus ditunaikan kaum mukminin, orang yang memperhatikan ketaatan dan perkataan yang ma’ruf akan mudah membenarkan ketetapan urusan yang diturunkan Allah. Orang-orang yang membenarkan urusan yang ditetapkan Allah pada dasarnya membenarkan Allah. Apabila orang-orang beriman tidak memperhatikan ketaatan mereka dan ma’rufnya perkataan-perkataan mereka, mereka akan kesulitan untuk mengenali ketetapan Allah atas urusan yang harus ditunaikan. Mereka boleh jadi akan melakukan usaha-usaha yang mereka pandang baik tetapi sebenarnya tidak berhubungan dengan ketetapan Allah. Mereka tidak memahami keadaan kauniyah dengan tepat berdasarkan tuntunan Allah, hanya mengikuti pandangan mereka sendiri tentang keadaan kauniyah mereka sedemikian usaha mereka hanya mengikuti pandangan sendiri saja. Manakala suatu bahaya mendekati, mereka mungkin tidak mengantisipasi bahaya itu hanya mengikuti hasrat kebaikan dalam pandangan mereka sendiri maka mereka kemudian terjebak dalam bahaya. Orang yang memperhatikan ketaatan dan perkataan yang ma’ruf akan memahami keadaan kauniyah dalam kesatuan al-jamaah selaras dengan pemahaman Rasulullah SAW tidak keluar darinya. Tidak semua pemahaman Rasulullah SAW diketahui mukminin tetapi pemahaman diri mereka terkait keadaan kauniyah tidak keluar dari yang dimaksud Rasulullah SAW.

Sebagian orang yang tidak memperhatikan ketaatan mendatangkan madlarat kepada umat manusia dalam bentuk kerusakan di bumi dan terputusnya jalinan kasih sayang di antara manusia. Bila orang beriman tidak berusaha memperhatikan ketaatan dan menemukan akar perkataan-perkataan yang mereka ikuti dari kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, akan muncul tanda-tanda yang mengikuti mereka. Mereka akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kasih sayang (shilaturrahmi).

﴾۲۲﴿فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ
Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan-hubungan kasih sayang kalian? (QS Muhammad : 22)

Menyimpangnya amal karena kurangnya ketaatan dan perhatian terhadap perkataan yang ma’ruf dapat dilihat pada kerusakan yang terjadi pada umat manusia dan terpotong-potongnya shilaturrahmi di antara umat. Untuk melakukan perbaikan di bumi, setiap manusia harus membina landasan pengetahuan yang tepat terhadap kehendak Allah bagi diri mereka sebagaimana tauhid yang diajarkan para rasul. Pembinaan demikian harus dilakukan secara teliti dengan memperhatikan tugas perkembangan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW, dan mengarahkan perkembangan sesuai dengan langkah yang disunnahkan Rasulullah SAW dan para rasul. Manakala pembinaan dilakukan menyimpang dari langkah para rasul, akan terjadi kerusakan di antara mukminin. Berikutnya, untuk mewujudkan pengetahuan kebenaran, kaum mukminin membutuhkan jalinan shilaturrahmi di antara mereka. Orang yang tidak benar-benar memahami tuntunan Allah akan berbuat sesuatu yang memotong-motong jalinan shilaturrahmi yang seharusnya dibangun di antara mereka untuk mewujudkan pemakmuran di bumi.

Umat muslim tidak boleh memotong-motong tali shilaturrahmi karena mendatangkan laknat Allah, dan akan mendatangkan kesempitan rezeki bagi mereka. Perbuatan memotong tali shilaturrahmi pada dasarnya menunjukkan kurangnya pengetahuan terhadap kehendak Allah yang paling fundamental yaitu agar setiap manusia membina sifat Rahman dan Rahim. Sifat demikian akan tumbuh dengan parameter terhubungnya tali shilaturrahmi. Memotong tali shilaturrahmi sangat bertentangan dengan kehendak Allah. Terpotongnya tali shilaturrahmi tidak selalu dilakukan terkait hubungan diri sendiri, tetapi dapat pula terjadi berupa terpotongnya shilaturrahmi di antara orang lain. Fitnah-fitnah yang disebarkan seseorang kepada masyarakat bisa memotong shilaturrahmi orang-orang yang mereka fitnah. Daya rusak seseorang terhadap shilaturrahmi akan menjadi besar manakala mereka memperoleh kuasa.