Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Di antara orang-orang yang mengikuti langkah Rasulullah SAW, ada orang-orang yang mencapai derajat sebagai orang yang sebenar-benarnya beriman. Mereka itu orang-orang yang diberi derajat yang tinggi di sisi Allah, diberi ampunan serta rezeki-rezeki yang mulia.
﴾۴﴿أُولٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia. (QS Al-Anfaal : 4)
Keimanan akan mempengaruhi baiknya langkah dalam kehidupan. Semakin kuat akal seseorang dalam memahami ayat-ayat Allah, semakin baik langkah yang terwujud dalam melaksanakan amal shalih. Amal-amal mereka akan menjadi obat bagi penyakit yang ada di masyarakat, dan menjadi sumber pemakmuran bumi mereka apabila masyarakat mau menerima manfaat dari amalnya. Kadangkala suatu kaum kufur terhadap kebenaran maka amal itu mungkin tidak efektif. Tidak jarang dijumpai orang merasa beriman kepada Allah akan tetapi tidak memahami keadaan yang terjadi bahkan tidak menyadari manakala mereka melakukan kedzaliman dengan kebodohan mereka. Keimanan demikian bukan keimanan yang sebenarnya hanya suatu persangkaan saja. Orang yang baik keimanannya adalah orang-orang yang dapat memahami ayat-ayat Allah dengan benar dan tajam, bukan iman dalam bentuk persangkaan saja. Persangkaan keimanan itu seringkali berupa doktrin-doktrin keimanan yang tumbuh tanpa kemampuan berakar ke bumi tidak mampu memahami kauniyah yang terjadi selaras dengan ayat-ayat kitabullah.
Kaum beriman harus menggunakan akal untuk melaksanakan urusan-urusan Allah, yaitu berusaha memahami ayat kauniyah selaras dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Banyak orang yang berbuat baik tetapi tidak memperhatikan ayat Allah, maka hal ini bukanlah akal. Sebagian mukmin melakukan usaha-usaha berdasarkan cita-cita sendiri tanpa terhubung dengan ayat-ayat Allah. Beramal mengikuti obsesi sendiri tidak akan mendatangkan kebaikan bagi kehidupan orang beriman, baik obsesi dari hawa nafsu sendiri ataupun obsesi yang ditiupkan oleh syaitan untuk mengacaukan langkah orang beriman. Allah menurunkan urusan bagi manusia secara jamaah, tidak berupa urusan masing-masing meskipun setiap orang memperoleh urusan yang berbeda-beda. Allah tidak akan sedikitpun memberikan perintah yang mendatangkan keburukan, sedangkan perintah yang jahat itu dari syaitan atau hawa nafsu manusia. Kaum mukminin harus dapat mengenali kejahatan-kejahatan syaitan, dan mengetahui bahwa kejahatan itu dari syaitan. Hendaknya kaum mukminin tidak bodoh dalam melakukan amal hingga mudah ditipu syaitan.
Sebagian Tanda Orang yang Benar-Benar Beriman
Keimanan yang sesungguhnya pada diri seorang mukmin bukanlah suatu keadaan yang dapat diperoleh dengan mudah. Keimanan demikian seringkali baru akan diperoleh setelah ujian yang besar seperti ujian yang menjadikan mereka terusir dari rumah-rumah mereka. Ujian itu akan memperlihatkan keimanan dalam bentuk konsep-konsep kebenaran yang tumbuh ataupun tindakan-tindakan yang dilakukan secara benar berdasar kebenaran yang telah tumbuh.
﴾۵﴿كَمَا أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِن بَيْتِكَ بِالْحَقِّ وَإِنَّ فَرِيقًا مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ لَكَارِهُونَ
Sebagaimana Tuhanmu telah mengeluarkan kamu dari rumahmu dengan kebenaran, dan sungguh sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya (QS Al-Anfaal : 5)
Ayat di atas agak sulit dipahami, karena sulitnya melihat hubungan antara ayat tersebut dengan ayat sebelumnya dan sesudahnya. Ayat tersebut sebenarnya bercerita tentang suatu manifestasi dari keimanan yang merupakan gerbang dari keimanan yang sebenarnya. Orang-orang yang memasuki gerbang keimanan yang sebenar-benarnya mungkin akan mengalami suatu peristiwa pengusiran dari rumahnya. Mereka itulah yang dijadikan Allah sebagai contoh profil orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Barangkali tidak semua orang yang memasuki gerbang keimanan yang sebenar-benarnya mengalami peristiwa demikian, tetapi mukminin yang terusir dengan kebenaran itu bisa menjadi contoh sebagai orang yang beriman dengan sebenar-benarnya.
Allah menjadikan sebagian orang yang beriman terusir dari rumahnya agar mereka menjadi orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Terusir dari rumah sendiri merupakan keadaan yang sangat tidak nyaman. Seseorang akan kehilangan kedudukan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan, baik untuk diri sendiri ataupun untuk keumatan. Fungsi suatu bayt dalam hal ini mencakup dan tidak terbatas pada fungsi rumah, fungsi mushalla dan fungsi tempat bekerja bagi orang-orang modern. Rumah demikian lebih tepat digambarkan layaknya fungsi suatu istana dari suatu kerajaan. Pada dasarnya setiap orang beriman diarahkan untuk membangun istana masing-masing yang berfungsi untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah sesuai dengan jati diri masing-masing. Itu adalah arah dalam ibadah orang beriman. Arah ini tidak boleh disikapi secara rakus dengan bersikap menginginkan istana, tetapi harus disikapi dengan lebih berfokus pada keinginan untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah sedangkan istana itu merupakan sarana yang seharusnya dibangun. Berhasil membangun istana ataupun tidak, seorang yang beriman tidak akan dituntut tanggung jawabnya selama tidak dengan sengaja mengambil peran menggagalkan.
Allah mengeluarkan orang beriman dari rumahnya dengan kebenaran. Keluarnya mereka dari rumah mereka pada dasarnya akan menambah khazanah kebenaran pada orang-orang mukmin. Dalam prosesnya, keterusiran mereka seringkali terjadi karena perjuangan dalam kebenaran. Mungkin syaitan terlibat secara intensif dalam pengusiran orang beriman dari rumahnya. Demikian pula mungkin ada banyak manusia terlibat dalam peristiwa pengusiran orang-orang beriman. Mereka akan sangat menyukai peristiwa pengusiran orang beriman dari rumah mereka dengan berbagai latar belakang yang membuat mereka senang. Sekalipun demikian, orang beriman yang terusir dari rumahnya akan mengetahui bahwa urusan itu adalah sesuatu yang telah ditetapkan Allah bagi diri mereka. Mereka akan memperoleh pengetahuan-pengetahuan yang banyak dalam peristiwa yang terjadi atas dirinya yang mengungkapkan hakikat dari berbagai keadaan yang terjadi di antara makhluk-makhluk Allah.
Sangat banyak pengetahuan yang terungkap dari peristiwa terusirnya seorang yang beriman dengan kebenaran. Mereka mungkin akan mengetahui bagaimana cara syaitan dalam berusaha menjadikan orang beriman terusir dari rumahnya. Ada bentuk-bentuk keterusiran seseorang dari rumahnya yang mendatangkan fitnah sangat besar bagi manusia, dan semakin besar fitnah yang terjadi pada peristiwa pengusiran itu maka syaitan akan lebih merasa senang. Bentuk keterusiran orang beriman yang paling besar mendatangkan fitnah adalah terpisahnya seorang beriman dari isterinya. Itu menunjukkan keterusiran yang paling fundamental pada diri manusia beriman dari rumahnya. Seandainya seorang beriman terusir jiwanya dari jasmaninya, ia akan menjadi seorang yang mati syahid dan syaitan tidak menyukai, tetapi manakala seorang beriman terusir dari isterinya, peristiwa itu akan mendatangkan fitnah yang paling besar. Keterusiran seorang beriman dari rumah dalam tingkat selain itu tidak akan mendatangkan fitnah sebesar fitnah terpisahnya seseorang dari isterinya, dan seringkali istana bagi mereka dapat kembali dibangun kembali dengan mudah selama masih mau melangkah bersama-sama.
Orang yang mengikuti langkah syaitan akan terjerumus ke neraka, sekalipun dalam hal pengusiran orang beriman dari rumahnya sedangkan hal itu telah ditetapkan Allah. Orang yang kafir akan terjerumus karena kekafirannya, sedangkan orang yang mengikuti syaitan akan mengikuti syaitannya sekalipun apabila ia beriman. Setiap orang beriman harus berusaha untuk membantu mewujudkan keimanan yang ada di antara mereka, atau setidaknya tidak mengusir orang beriman dari rumah mereka. Orang-orang yang mengenal keimanannya di antara suatu kaum hendaknya diberi kesempatan untuk mewujudkan apa yang dikenal dari keimanannya. Orang-orang yang memperoleh penjelasan (al-bayaan) yang diturunkan Allah kepada orang beriman terkait suatu ayat tertentu kitabullah Alquran adalah orang beriman, apabila penjelasan itu tidak menyimpang dari tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Orang beriman hendaknya membantu mewujudkannya, atau setidaknya memberi mereka kesempatan untuk tinggal di rumahnya untuk mewujudkan keimanan yang mereka kenali dari sisi Allah.
Hanya orang yang terusir dengan kebenaran yang bisa tergolong sebagai orang yang memasuki keimanan yang sebenarnya. Tidak semua orang yang terusir dari rumahnya merupakan orang yang benar-benar beriman. Para Yahudi yang terusir dari tanah kanaan saat ini bukan merupakan orang beriman, dan mereka justru orang-orang yang seharusnya diperangi sebagaimana bangsa Israel dahulu yang dibinasakan kaum Yahudi. Ada suatu sejarah di mana bangsa Yehuda diperintahkan untuk memerangi bangsa Israel penyembah berhala sedemikian tidak tersisa dari negeri israel sesuatu yang hidup dan tidak ada harta yang boleh dibawa darinya karena terkutuknya bangsa itu menyembah syaitan. Israel jaman sekarang ini lebih serupa dengan bangsa Israel penyembah berhala pada masa itu, bukan Yahudi yang beribadah kepada Allah. Dewasa ini, langkah suatu bangsa mendeportasi warga Israel dan membersihkan antek-antek israel dari negerinya akan meningkatkan keamanan negeri mereka, karena sedemikian busuknya kesyirikan orang-orang Israel dan orang-orang yang menjadi antek mereka bagi umat manusia. Terusirnya orang-orang demikian bukan dari keimanan. Pada tingkat yang lebih ringan, mungkin ada muslimin yang terusir dari rumahnya akan tetapi mereka tidak mengetahui hakikat dari peristiwa yang terjadi atas dirinya, maka mereka belum tentu termasuk sebagai orang yang beriman dengan sebenarnya. Hanya orang-orang yang terusir dari rumahnya dengan kebenaran saja yang termasuk pada orang-orang yang benar-benar beriman.
Sikap Kaum Mukminin
Sebagian orang beriman tidak menyukai orang-orang yang benar-benar beriman. Boleh jadi waham-waham keimanan mereka akan dibongkar oleh orang-orang yang benar-benar beriman sedemikian mereka tidak menyukai dan kemudian mengusir orang yang benar-benar beriman dari rumahnya. Boleh jadi orang beriman tidak menyukai orang beriman yang terusir dari rumahnya karena keadaan mereka yang buruk tidak menghasilkan sesuatu yang dipandang bermanfaat bagi umat. Tentu saja keadaan mereka buruk karena mereka terusir dari rumahnya tidak bisa produktif. Seandainya ia tetap di rumahnya, tentunya keadaan mereka bisa menjadi lebih baik dan bisa memberikan manfaat lebih besar bagi yang lain. Orang-orang beriman hendaknya tidak membenci orang-orang beriman yang terusir dari rumahnya dengan kebenaran, dan benar-benar berusaha memperhatikan apa yang diserukan oleh orang yang diusir dari rumahnya dengan kebenaran. Mereka yang diusir itu justru orang-orang yang benar-benar beriman.
Orang-orang beriman yang membenci orang-orang beriman yang terusir itu tidak jarang benar-benar membencinya sedemikian seolah-olah mereka menghadapi kematian. Orang-orang tertentu akan memandang bahwa kebenaran yang didatangkan orang-orang terusir itu merupakan kematian bagi mereka, bahwa mereka mungkin tidak lagi mempunyai kehidupan sebagai orang yang terpandang di antara orang beriman. Banyak orang beriman yang tidak mempunyai kekuatan untuk mengikuti kebenaran dari sisi Allah manakala mereka telah mempunyai waham kebenaran sendiri. Mereka memandang bahwa waham mereka adalah kebenaran, sedangkan petunjuk kitabullah yang mendasari suatu pemahaman kebenaran akan membongkar waham itu.
Orang-orang beriman hendaknya berhati-hati manakala terjadi perselisihan di antara mereka yang mana perselisihan itu menyebabkan satu pihak terusir dari rumah mereka. Islam itu ada pada orang yang mengikuti firman Allah dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan benar, bukan pada pihak yang lebih kuat mengusir orang beriman lainnya. Seandainya satu pihak terusir dari antara mereka sedangkan mereka adalah orang yang benar-benar beriman, mereka mungkin telah melepaskan kebenaran yang berdasar pada tuntunan kitabullah sedangkan mereka hanya mengikuti waham saja. Orang yang benar-benar beriman akan tampak dalam langkah mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Menilai kebenaran di antara orang-orang beriman yang saling berbantahan hanya dapat dinilai berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak bisa dinilai dari seberapa pandai mereka berbantah, atau seberapa kuat mereka mempunyai dukungan orang lain dan keadaan-keadaan lainnya. Orang yang benar-benar beriman seringkali justru menjadi korban yang terusir dari rumahnya sehingga mereka tampak sebagai orang-orang yang lemah di antara orang beriman. Mungkin tidak semua orang yang terusir adalah orang yang benar-benar beriman, hanya orang beriman yang terusir dengan kebenaran yang merupakan orang beriman yang sesungguhnya.
Manfaat yang bisa diberikan orang beriman yang terusir dari rumahnya dengan kebenaran itu sangat besar apabila orang-orang beriman bisa menyadarinya. Membenci ataupun ikut mengusir mereka dari rumahnya akan mengurangi atau menghilangkan manfaat yang dapat mereka berikan dan dapat diperoleh umat. Seandainya orang beriman tidak ikut membenci, yang akan dihadapi orang-orang beriman yang terusir itu mungkin hanya kalangan orang-orang musyrik dan kafir. Manakala orang beriman ikut membenci, orang-orang terusir itu akan memilih menghadapi orang beriman pembenci terlebih dahulu sebelum menghadapi kesyirikan ataupun kekufuran orang lain. Mereka lebih menyayangi orang beriman daripada orang kafir karenanya mereka akan lebih disibukkan mengingatkan orang beriman terlebih dahulu, sedangkan orang-orang kafir ataupun musyrik mungkin akan dibiarkan dahulu leluasa melakukan kekafiran mereka ataupun mewujudkan kesyirikan mereka. Apabila orang-orang beriman telah menyadari kebenaran mengikuti tuntunan Allah, mereka bersama-sama dapat mewujudkan kehendak Allah untuk memberikan manfaat yang terbaik kepada seluruh umat manusia. Sekalipun demikian, tentulah orang-orang terusir itu tidak akan mengabaikan kekufuran dan kesyirikan yang terjadi. Mereka hanya tidak mempunyai cukup daya melakukan usaha terbaik menghadapi kesyirikan dan kekufuran karena harus membersihkan kesyirikan dan kekufuran dari kalangan orang beriman terlebih dahulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar