Pencarian

Kamis, 23 Oktober 2025

Pemakmuran dan Al-Jamaah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan

Jalan kembali kepada Allah yang paling utama adalah shirat al-mustaqim. Shirat al-mustaqim ditandai dengan suatu gerbang berupa keterbukaan makna suatu ayat kitabullah yang menyingkapkan rahasia dari alam kauniyah terkait dengan diri seorang hamba, sedemikian keterbukaan itu menjadikan seorang hamba memahami untuk apa dirinya diciptakan. Manakala seseorang mengalami suatu keterbukaan suatu ayat Allah demikian, ia telah tiba di gerbang shirat Al-mustaqim. Ia diperintahkan untuk tegak melaksanakan amanah shirat al-mustaqim yang dikenalinya.

﴾۲۱۱﴿فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Maka tegaklah kamu pada jalan yang lurus sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS Huud : 112)

Manakala seseorang mengalami suatu keterbukaan terhadap suatu makna ayat Allah, hendaknya ia berusaha mengenali kedudukannya dalam al-jamaah, setidaknya menyadari bahwa urusan dirinya merupakan bagian dari urusan Rasulullah SAW. Ia harus menemukan petunjuk-petunjuk amal dirinya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hingga ia dapat melaksanakan amr yang diketahuinya selaras dengan arahan Rasulullah SAW. Selanjutnya ia berusaha untuk dapat mengenal shahabat-shahabat yang mengalami keterbukaan ayat Allah untuk dapat bersama-sama melaksanakan amr Rasulullah SAW secara sinergis, hingga dalam bentuk suatu pengetahuan hirarki urusan yang jelas sesuai dengan urusan jaman mereka. Mereka adalah shahabat-shahabat yang telah bertaubat bersama-sama dengan dirinya. Selanjutnya, hendaknya mereka juga menyeru orang-orang yang tampak telah menempuh jalan taubat sekalipun apabila mereka belum mengalami keterbukaan pengenalan gerbang shirat al-mustaqim. Seruan itu akan memudahkan umat dalam mengenali gerbang shirat al-mustaqim. Allah memerintahkan untuk menegakkan perintah Allah bersama dengan orang yang bertaubat bersamanya.

Pemakmuran Bumi

Tegaknya seseorang bersama dengan orang yang bertaubat dalam menegakkan perintah Allah akan mewujudkan sumber pemakmuran di bumi. Terwujudnya pemakmuran bisa dijadikan indikator tambahan tentang ketepatan seseorang dalam memahami perintah Allah karena menunjukkan terhubungnya kehendak Allah hingga ujung alam penciptaan melalui manusia. Manakala suatu pelaksanaan perintah Allah justru mendatangkan kekacauan dalam tatanan bermasyarakat, pemahaman terhadap perintah Allah sebenarnya telah menyimpang sedikit ataupun banyak. Indikator ini bisa menunjukkan adanya penyimpangan pelaksanaan urusan dari ketentuan-ketentuan yang dikehendaki Allah.

﴾۱۶﴿ وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلٰهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)". (QS Huud : 61)

Pada satu segi, shirat al-mustaqim merupakan jalan terbaik untuk mewujudkan pemakmuran di bumi. Seseorang akan mengetahui keadaan di bumi selaras dengan hakikat keadaan kauniyah dan mengetahui pula amal-amal yang bisa dilakukan untuk membawa keadaan kauniyah menuju lebih baik. Apabila beramal dengan landasan pengetahuan yang terbuka, seseorang akan membukakan suatu sumber untuk menjadikan keadaan lebih baik. Keterbukaan pengetahuan pada diri seseorang itu merupakan salah satu sumber, dan mungkin ada banyak sumber-sumber lain yang dapat saling terhubung dalam suatu hubungan al-jamaah.

Pemakmuran yang sebenarnya pada dasarnya terbentuk melalui terhubungnya urusan di alam tertinggi hingga mencapai ujung alam ciptaan berupa alam dunia. Ini adalah peran utama yang harus ditunaikan oleh setiap manusia sebagai makhluk bumi. Pada turunannya, setiap terhubungnya alam yang rendah pada suatu kebenaran dari alam yang lebih tinggi akan mewujudkan suatu bentuk pemakmuran tertentu. Setiap orang hendaknya berusaha untuk melakukan pemakmuran walaupun misalnya hanya mampu dalam bentuk turunannya. Tetapi hendaknya disadari bahwa tidak jarang bentuk-bentuk pemakmuran itu hanya lemah atau semu, atau justru menyimpang apabila terhubung pada kebathilan pada alam yang tinggi. Orang musyrik memperoleh keahlian mewujudkan pemakmuran palsu dari para syaitan yang mereka sembah. Mustahil diwujudkan suatu pemakmuran tanpa menghubungkan suatu kebenaran dari alam yang lebih tinggi menuju alam yang lebih rendah. Semakin murni kebenaran yang dihubungkan menuju alam yang lebih rendah, semakin kokoh kemakmuran yang akan terwujud.

Proses pemakmuran secara ideal dapat dilihat dengan baik melalui proses berumah tangga yang baik. Sepasang suami isteri yang mengenal Allah dan isteri yang taat mengikuti langkah suaminya akan diijinkan untuk membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, maka akan terwujud suatu inisiator proses pemakmuran terbaik bagi umat manusia pada urusan yang diamanahkan. Mereka merupakan sumber pemakmuran untuk semesta diri mereka, bukan hanya pemakmuran untuk keluarga mereka saja. Sebenarnya, para isteri itu merupakan pembawa khazanah duniawi yang menghadirkan alam bumi mereka bagi suaminya, dan para suami merupakan representasi akal yang mengenal kehendak Allah. Apabila keduanya bersinergi melaksanakan urusan Allah, akal suami dapat menghadirkan urusan dari alam yang tertinggi untuk bertemu urusan alam dunia yang dihadirkan oleh isterinya. Keterhubungan sepasang dua insan dalam urusan Allah itu akan mewujudkan proses pemakmuran yang terbaik bagi alam dunia mereka.

Dalam prakteknya tidak semua orang dapat berperan sedemikian sempurna tetapi sebenarnya tetap bisa memberikan sumbangsih pemakmuran selama berusaha menghubungkan kebenaran dari yang tinggi ke alam yang lebih rendah. Seorang menteri keuangan yang berpikir dan bertindak dengan logika lurus dapat meberikan iklim pemakmuran yang sangat baik bagi negerinya dibandingkan dengan menteri keuangan yang lain walaupun keduanya mungkin menggunakan teori ekonomi yang serupa. Kelurusan berpikirnya itu merupakan suatu faktor kebenaran dari alam yang lebih tinggi bukan ilmu ekonominya. Peran menteri demikian merupakan satu mata rantai yang harus disambungkan dengan mata rantai yang lain. Bila iklim pemakmuran itu tidak tersambungkan dengan mata rantai yang lain, pemakmuran yang terbentuk hanya akan sedikit. Setiap orang hendaknya berusaha untuk memberikan peran dirinya dengan sebaik-baiknya untuk memberikan sumbangsih bagi kehidupan berbangsa hingga terwujud kemakmuran bersama. Bila masyarakat tidak dapat mensyukuri, akan sulit mewujudkan kemakmuran bersama dalam suatu bangsa.

Pembinaan Rantai Hubungan

Keterhubungan antara dua kedudukan yang berbeda harus terjadi secara kokoh untuk dapat mewujudkan proses pemakmuran. Setiap laki-laki harus berusaha membina akal dengan sebaik-baiknya agar dapat memahami keadaan kauniyah dengan lurus sedemikian ia dapat menentukan langkah-langkah yang tepat dan perlu dilakukan untuk mewujudkan pemakmuran. Para isteri mengikuti langkah-langkah yang dipahami oleh suaminya dengan ketaatan agar suaminya dapat melangkah dengan baik mewujudkan pemakmuran. Hubungan yang kokoh harus dibentuk di antara keduanya dengan membina kesepahaman dalam melaksanakan urusan terutama apabila suaminya dapat memahami amanah Allah yang harus ditunaikan. Apabila tidak terbangun kesepahaman dalam urusan Allah, ketaatan dan pemahaman itu mungkin akan berdiri masing-masing tidak mewujudkan proses pemakmuran di bumi. Seorang suami mungkin akan memahami kauniyah dengan benar tetapi tidak dapat mewujudkan pemahamannya di alam dunia, dan seorang isteri mungkin penuh ketaatan yang baik kepada suaminya tetapi ketaatannya itu dilaksanakan layaknya suatu beban berat.

Kokohnya hubungan demikian hendaknya dibina pada setiap kedekatan hierarki hingga terbentuk hubungan yang kokoh antara manusia dengan benda-benda sehingga manusia menguasai pemuliaan dan penataan bendawi, bukan hanya dalam bentuk hubungan dan urusan antar manusia. Benda-benda rekayasa manusia hendaknya dapat dibuat dengan mutu sebaik-baiknya berdasarkan pengetahuan materi dan penataan terbaik, tidak dibuat secara asal-asalan hingga mudah menjadi sampah. Pengetahuan materi merupakan ilmu yang kedudukannya lebih tinggi yang dapat dialirkan menuju terbentuknya materi yang unggul. Tanpa ilmu, tidak ada ilmu yang dapat dialirkan untuk mewujudkan benda yang unggul. Demikian itu merupakan salah satu aspek pemakmuran yang harus diperhatikan oleh umat manusia.

Kedudukan laki-laki dan perempuan merupakan gambaran adanya struktur hierarki dalam kedudukan manusia. Ada orang yang diberi akal lebih besar dan kuat dari yang lain untuk menjadi pemimpin, dan ada orang yang diberi kemampuan yang lebih dalam urusan duniawi hingga diijinkan untuk berkecimpung lebih intensif dalam memakmurkan dunia. Setiap manusia diberi akal yang harus digunakan dengan sebaik-baiknya tidak boleh beralibi untuk mengumbar hasrat duniawi bahwa ia lemah. Pemakmuran dunia itu bersifat perempuan yang harus dilaksanakan mengikuti akal yang bersifat laki-laki. Laki-laki paling sempurna adalah Rasulullah SAW, dan khalifatullah Al-Mahdi merupakan pasangan paling memadai dalam urusan pemakmuran bumi bagi akal Rasulullah SAW. Setiap orang yang lain berkedudukan sebagai pemakmur bumi bagi akal beliau SAW, dalam arti bahwa langkah pemakmuran hanya bernilai benar bila seseorang melakukan selaras tuntunan Rasulullah SAW. Ada warna akal yang kuat pada sebagian umat Rasulullah SAW yang bersifat laki-laki, tetapi sebenarnya akal itu hanya sebagian dari akal Rasulullah SAW, dan sebagian umat mempunyai warna lebih kuat dalam melaksanakan pemakmuran. Kedua warna umat itu harus membentuk hubungan yang kokoh untuk dapat mewujudkan pemakmuran.

Kedekatan dalam hubungan hierarkis demikian hendaknya dibina dan dihormati pada tiap tingkatan hierarki layaknya penghormatan terhadap hubungan pernikahan. Misalnya hubungan antara ilmu dengan produk harus dijaga dan ditingkatkan dengan baik agar diperoleh produk-produk bermutu baik. Hubungan pernikahan merupakan perikatan dua tingkat entitas di tingkat yang tinggi di hadirat Allah yang harus dihormati secara mutlak, sedangkan hubungan yang lain hendaknya dihormati sesuai dengan kedudukannya. Pengabaian penghormatan terhadap hubungan demikian akan menyebabkan kemunkaran menguasai pengetahuan. Orang yang diragukan ijazah pendidikannya bisa dengan mudah menjadi presiden atau wakil presiden karena suatu bangsa mudah berbuat lancang di hadapan Allah tidak menghormati kedudukan pernikahan di antara mereka. Demikian itu seringkali diikuti dengan merajalelanya bala kurawa berhura-hura dengan sumber daya negara, dan orang-orang baik terkurung potensi kebaikan mereka. Banyak orang yang menimba ilmu tidak bisa memperoleh kesempatan bekerja dengan ilmunya karena tatanan masyarakat menjadikan ilmu tidak dibutuhkan. Kuatnya kemunkaran itu bisa saja tampak di komunitas kecil pada fenomena tertentu misalnya dukungan komunitas yang besar pada orang yang tidak mempunyai konsep produk yang benar dengan mutu produk sulit ditingkatkan karena rendahnya penguasaan pengetahuan produk, sedangkan orang yang membawa urusan Allah tidak memperoleh dukungan komunitas karena tidak diterima. Hal demikian menunjukkan menguatnya kemunkaran dan terkurungnya pengetahuan karena kurangnya pembinaan dan penghormatan terhadap hubungan hierarkis.

Prinsip-prinsip proses pemakmuran yang baik dapat dipelajari setiap orang dengan bercermin pada proses pernikahan. Dalam pernikahan, aturan proses itu ditegakkan dengan tegas karena telah kokohnya bentuk perikatan di hadirat Allah, sedangkan dalam proses pemakmuran bangsa setiap orang harus berusaha menerapkannya dengan sebaik-baiknya. Misalnya setiap orang hendaknya menjadi orang yang subur terhadap arahan atasannya dengan berusaha memahami fungsi diri dan melaksanakan arahan atasannya dengan sebaik-baiknya, sekaligus bisa memahami keadaan bawahannya dalam proses pelaksanaan urusan. Setiap orang hendaknya menghindari penyimpangan dari ketentuan yang sah sebagaimana orang menikah harus menghindari kekejian dan pengkhianatan. Banyak bentuk-bentuk aturan dalam pernikahan yang harus dijadikan role model dalam proses pemakmuran bumi agar terwujud pemakmuran.

Pemakmuran hanya dapat dilaksanakan dengan benar apabila prinsip-prinsip agama dipatuhi. Akan sulit mewujudkan pemakmuran apabila prinsip-prinsip yang diajarkan pada setengah bagian agama tidak dipatuhi atau tidak diperhatikan. Keberadaan syirik di antara masyarakat muslimin merupakan kekejian layaknya orang yang berbuat keji dalam rumah tangga. Sebaliknya kekejian di antara muslimin merupakan pintu kesyirikan di antara masyarakat. Orang musyrik tidak mungkin mencintai kebenaran yang merupakan kecintaan kaum muslimin karena mereka lebih mencintai keuntungan materi bagi diri mereka sendiri bahkan apabila harus berkhianat terhadap masyarakat dengan menyembah kejahatan. Para syaitan itu berusaha menyediakan jalan keuntungan bagi orang yang menyembahnya melalui kekacauan yang dibuat sehingga musyrikin selalu berusaha berbuat kekacauan. Tidak jarang kekacauan itu dirumuskan dan dilaksanakan dalam bentuk kebijakan-kebijakan oleh kelompok musyrik apabila mereka berkuasa. Kadangkala ada orang yang menyangka bisa berbuat baik setelah mengikuti proses kesyirikan. Itu hanya merupakan halusinasi saja karena syaitan akan menyertakan banyak kejahatan dalam bentuk-bentuk kebaikan yang mereka lakukan, bahkan sebenarnya syaitan dapat menyatukan diri dalam diri orang yang menyembah mereka sedemikian mereka dipandang baik tetapi sebenarnya jahat. Pemakmuran hanya dapat dilaksanakan dengan benar apabila prinsip-prinsip agama dipatuhi.

Bukan sekadar aturan saja, pembinaan individu agar mampu melakukan pemakmuran sebenarnya akan dapat terbina dengan baik melalui pernikahan. Kemampuan untuk dapat memahami pihak lain harus dibentuk melalui pernikahan di mana setiap orang hendaknya dapat menggunakan pendengaran, penglihatan dan hati dengan sebaik-baiknya untuk memahami pihak lain tidak hanya mengikuti persepsi diri sendiri. Ini akan menumbuhkan kesuburan seseorang dalam memahami kebenaran sedemikian terbentuk hubungan shilaturahmi antara satu orang dengan orang lain dalam melaksanakan proses pemakmuran. Ketangguhan dalam melaksanakan proses harus dibina dengan rasa syukur menghadapi semua rintangan bersama-sama sebagaimana suami isteri mensyukuri keadaan dan rintangan yang menghampiri rumah tangga mereka. Banyak sifat-sifat baik yang mendukung proses pemakmuran dapat ditumbuhkan dengan baik melalui pernikahan.

Kokohnya hubungan yang terbina pada masyarakat akan dipengaruhi pembinaan rumah tangga. Kadangkala masyarakat tampak terhubung erat melalui komunitas yang terbentuk tetapi rumah tangga masing-masing terabaikan, maka hubungan demikian bukan hubungan yang kokoh sebagai pondasi pemakmuran. Rumah tangga merupakan pembentuk pondasi pemakmuran terbaik yang menunjukkan pertumbuhan akhlak secara benar. Seseorang yang buruk dalam rumah tangga sebenarnya tidak baik akhlaknya, dan seseorang yang baik dalam rumah tangga adalah orang yang baik akhlaknya. Ini mungkin tidak berlaku pada rumah tangga baru atau menjelang akad pernikahan. Baik atau buruknya bukanlah yang terdengar oleh orang lain, tetapi bagaimana ia bersikap kepada pasangannya. Tidak jarang masyarakat mendengar keburukan seseorang yang disebar pasangannya, sedangkan mungkin pasangannya itulah yang sebenarnya buruk bersikap dalam rumah tangga. Kebaikan yang dibangun seseorang dalam rumah tangga itu merupakan media terbaik membentuk landasan pemakmuran.

Minggu, 19 Oktober 2025

Menapaki Shirat Al-Mustaqim

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Jalan untuk menjadi hamba yang didekatkan itu adalah shirat al-mustaqim (jalan yang lurus). Shirat al-mustaqim merupakan jalan terpendek yang dapat ditempuh setiap hamba Allah untuk menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah. Penyeru manusia di gerbang shirat al-mustaqim itu adalah kitabullah Alquran. Ini adalah ayat kitabullah Alquran yang dibukakan kepada seorang hamba Allah, maka ayat itu menjadi penyeru kepada hamba itu untuk memasuki shirat al-mustaqim.

﴾۱﴿إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا
﴾۲﴿لِّيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُّسْتَقِيمًا
(1)Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu keterbukaan yang menjelaskan, (2) supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memberi kamu petunjuk kepada jalan yang lurus, (QS Al-Fath : 1-2).

Ayat di atas bercerita tentang gerbang shirat al-mustaqim berupa keterbukaan makna suatu ayat tertentu dari kitabullah Alquran yang merupakan amanah bagi yang memperolehnya. Keterbukaan itu berupa pengetahuan hakikat suatu ayat kitabullah, bukan sekadar pengetahuan dalam tingkatan tafsir ayat kitabullah. Dengan keterbukaan yang diberikan kepada dirinya, seseorang menjadi mengetahui perintah Allah bagi dirinya dan mengetahui keadaan-keadaan kauniyah yang terjadi di semesta dirinya sesuai dengan tuntunan kitabullah tersebut. Ia melihat kesatuan antara ayat Allah pada kauniyah dirinya dengan ayat dalam kitabullah, dan mengetahui peran dirinya di antara ayat-ayat Allah yang terbuka.

Seseorang yang mengalami keterbukaan makna hakikat dari suatu ayat kitabullah yang menjadi amanah dirinya berarti telah tiba pada gerbang shirat al-mustaqim. Hal ini dijelaskan pada ayat kedua surat di atas. Keterbukaan makna ayat-ayat Allah itu menunjukkan kepada seseorang amal-amal yang menjadi jalan penebusan dosa-dosa dirinya baik dosa di masa lalu ataupun dosa pada masa yang akan datang, amal-amal yang merupakan jalan penyempurnaan nikmat Allah bagi dirinya, dan sebagai petunjuk menuju jalan yang lurus. Keadaan ini tidak menunjukkan bahwa seseorang telah diampuni segenap dosanya, disempurnakan nikmat Allah atasnya ataupun telah berada di shirat al-mustaqim, tetapi menunjukkan bahwa ia diberi pengetahuan apa-apa yang dijanjikan tersebut. Ia akan mengetahui amal-amal yang menjadi kehendak Allah sebagaimana tersebut pada ayat yang terbuka dan ia akan memperoleh hal-hal itu apabila ia melaksanakan amal-amal yang terbuka tersebut.

Dalam hal nikmat Allah, ia telah tergolong sebagai orang yang telah memperoleh nikmat Allah manakala memperoleh keterbukaan, akan tetapi penyempurnaan nikmat Allah akan terjadi mengikuti amal-amal shalihnya. Artinya, ia telah mengetahui dengan tepat jalan yang lurus yang harus ditempuh, mengetahui kedudukan suatu kebenaran dengan setimbang tetapi sebenarnya masih banyak nikmat Allah yang dapat ia temukan dalam proses berikut apabila ia menempuh jalan yang lurus. Kesempurnaan nikmat Allah terdapat dalam seluruh kandungan kitabullah Alquran yang telah selesai diturunkan pada waktu haji wada’. Ia dikatakan telah mengenal untuk apa dirinya diciptakan dengan benar. Apabila ia menyimpang dari yang ditunjukkan, ia akan celaka dan apabila ia tidak melaksanakan amal-amal yang ditentukan bagi dirinya ia akan menjadi hamba yang sia-sia saja tidak menjadi dekat kepada Allah.

Pelaksanaan amal tidak selalu ditunjukkan dengan hasil yang diperoleh. Kadang seseorang berusaha keras melaksanakan amal yang ditentukan tetapi tidak mendatangkan hasil yang memadai di alam mulkiyah. Secara nalar, semestinya amal-amal di shirat al-mustaqim akan mendatangkan buah-buah yang sangat menyenangkan tetapi secara realitas upaya demikian tidak selalu berbuah dengan baik. Sekalipun kandungan amal-amal yang dilakukannya sangat baik, mungkin tidak semua orang dapat menerima kebaikannya maka kebaikan yang diusahakan orang tersebut tidak mendatangkan hasil. Ada jalan tertentu yang seharusnya ditempuh untuk memperoleh hasil yang baik di alam mulkiyah yaitu membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, tetapi kadangkala syaitan memperoleh jalan untuk menghalangi upaya seseorang membentuknya. Apabila telah berusaha dengan menempuh jalan terbaik, seseorang hendaknya tidak terlalu memikirkan hasil buahnya dan hendaknya ia bertawakkal kepada Allah.

Mengenal diri dengan benar adalah keterbukaan shirat al-mustaqim, ditandai dengan keterbukaan makna hakikat ayat Allah, tidak melalui cara yang lain. Pengenalan diri tanpa disertai keterbukaan hakikat suatu ayat Allah tidak menunjukkan telah tibanya di shirat al-mustaqim. Boleh jadi pengenalan diri yang terjadi tanpa keterbukaan makna ayat tidak meleset dari fitrah yang benar, tetapi tidak menunjukkan telah tibanya di shirat al-mustaqim. Mungkin ia mengetahui untuk apa diciptakan tetapi tidak mengetahui apa dan bagaimana perintah Allah secara tepat. Pengenalan diri di shirat al-mustaqim benar-benar ditandai dengan keterbukaan makna hakiki dari ayat-ayat Allah berupa ayat dalam firman Allah dan ayat kauniyah. Boleh jadi tidak semua ayat Allah terbuka tetapi hanya bagian khusus yang menjadi amanah dirinya, dan bagian-bagian lain akan terbuka mengikuti amal yang dilakukannya sesuai dengan perintah Allah. Yang penting diperhatikan, pengenalan diri yang sesungguhnya selalu ditandai dengan terbukanya suatu makna hakiki dari ayat kitabullah selaras dengan kauniyah yang terjadi.

Mengikuti Langkah di Shirat Al-Mustaqim

Setelah tiba pada gerbang shirat al-mustaqim, hendaknya seseorang tegak melaksanakan amannah shirat al-mustaqim yang dikenalinya.

﴾۲۱۱﴿فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Maka tegaklah kamu pada jalan yang lurus sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS Huud : 112)

Perintah tegak di atas shirat al-mustaqim itu tidak hanya berlaku kepada dirinya saja, tetapi juga berlaku bagi orang-orang yang telah menempuh jalan taubat bersama dirinya. Orang-orang yang telah menempuh jalan taubat kepada Allah bersama dirinya hendaknya diseru untuk tegak di atas perintah Allah, dan orang-orang yang bertaubat hendaknya menyambut seruan seseorang yang telah mengetahui gerbang shirat al-mustaqim bagi mereka. Orang-orang yang lain bisa mengikuti langkah orang tersebut agar ia lebih mudah mengalami keterbukaan makna hakikat suatu ayat kitabullah yang menjadi amanah dirinya, maka ia akan lebih mudah mengenali gerbang agamanya.

Semestinya umat islam terutama orang-orang yang bertaubat akan mudah mengenali shirat al-mustaqim manakala ada seseorang di antara mereka telah mengenal diri, akan tetapi hal ini hanya terjadi apabila dilakukan proses yang benar. Umat harus membina keikhlasan dalam ibadah kepada Allah. Para Syaikh mempunyai peran sangat besar dalam membentuk umat yang bisa memahami shirat al-mustaqim. Ada hubungan timbal balik yang harus dijaga sang syaikh dan murid, yaitu syaikh harus membina akal para murid agar dapat tumbuh lurus memahami tuntunan Allah, dan murid harus belajar menggunakan akal untuk memahami pengajaran syaikh. Mempersiapkan akal untuk tumbuh dan dapat memahami akan terjadi bila ada keikhlasan pada diri murid.

Mengikuti langkah seseorang di shirat al-mustaqim hanya dapat dilakukan dengan memperhatikan dan melaksanakan ayat-ayat Allah dalam kitabullah yang diamanahkan, tidak bisa dilakukan hanya dengan mengikuti saja perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh orang yang mengenal shirat al-mustaqim. Mengikuti langkah di shirat al-mustaqim adalah berbuat melaksanakan kehendak Allah, bukan mengikuti perbuatan makhluk. Penisbatan suatu amal sebagai perintah Allah harus dilakukan dengan menunjuk ayat kitabullah yang ditunaikan. Banyak orang yang mudah ditipu dengan sesuatu yang dikatakan sebagai perintah Allah tanpa memahami hubungan sesuatu itu dengan kitabullah. Tidak jarang sesuatu yang membahayakan umat manusia dianggap sebagai perintah Allah oleh orang yang bodoh. Orang-orang yang berakal-lah yang dapat mengikuti langkah di shirat al-mustaqim. Karena hubungan demikian seringkali seorang syaikh tidak dapat menyeru para murid untuk segera melangkah di shirat al-mustaqim walaupun ia menginginkannya. Sang syaikh harus membina akal para murid terlebih dahulu sebagai pendahuluan untuk menyeru mereka beramal di shirat al-mustaqim dirinya.

Apabila para murid bisa memahami bimbingan syaikhnya dengan benar, mereka akan mudah mengetahui shirat al-mustaqim. Kenyataannya seringkali para murid tidak dapat memahami langkah yang diserukan sang syaikh. Kadangkala sang syaikh telah mengulang-ulang membaca ayat kitabullah yang merupakan amr kepada sang syaikh tetapi tidak membuat para murid mengerti karena murid tidak menggunakan akalnya. Seringkali tidak ada keberanian pada diri murid untuk mengetahui dengan tepat perintah Allah. Ini menunjukkan kurangnya keikhlasan pada diri murid. Sang syaikh mengharap para murid memahami ayat yang merupakan amanah, tetapi para murid tidak mempunyai keberanian berusaha memahami terkurung dalam waham yang mereka bangun sendiri. Kadangkala murid memperhatikan sang syaikh tetapi tidak memperhatikan perintah Allah. Apabila para murid mempunyai keberanian belajar memahami dengan lurus, sang syaikh akan merawatnya dari pengetahuan atau sikap yang keliru.

Kemudahan mengenal shirat al-mustaqim sebenarnya tidak hanya ditemukan pada hubungan syaikh dan murid. Setiap orang yang mengenal shirat al-mustaqim mempunyai kewajiban mengajak shahabatnya untuk menempuh shirat al-mustaqim, dan itu akan memudahkan sahabatnya untuk mengenal shirat al-mustaqim. Hal ini terutama berlaku pada orang-orang yang urusannya dekat, tetapi setiap orang yang bertaubat bisa mendapatkan manfaat melalui kebersamaan dengan orang-orang yang mengenal shirat al-mustaqim. Orang-orang yang mengenal shirat al-mustaqim sebenarnya terhimpun dan terhubung dalam satu al-jamaah. Dalam hubungan syaikh dan murid, para murid bisa saja mengenal urusan dirinya berada di luar batasan urusan sang syaikh misalnya harus berjuang untuk Rasulullah SAW dalam urusan agama di luar urusan tazkiyatun-nafs. Bisa saja seseorang kemudian harus berjalan beriring dengan syaikh atau mengikuti atasan yang lain, sebagaimana seorang lulusan sekolah tidak harus terus bekerja di sekolah di bawah gurunya. Sebagaimana para Syaikh tidak hanya mengajak penerus urusan tazkiyatun nafs ketika melaksanakan urusannya, setiap orang yang mengenal urusan diri juga demikian dalam pola yang berbeda. Ada orang-orang yang diciptakan untuk memegang urusan terkait dengan orang yang sangat banyak, ada orang-orang yang memegang urusan-urusan hanya tertentu saja, tetapi seluruhnya menyeru pada shirat al-mustaqim.

Manfaat yang benar itu akan diperoleh manakala seseorang berkeinginan untuk mengenal urusan Allah. Sangat banyak orang keliru dalam bersikap terhadap orang-orang yang mengenal shirat al-mustaqim. Di antara sikap yang keliru adalah mengabaikan firman Allah dalam mengikuti seseorang hingga kadangkala bersikap mempertuhankan manusia. Ada kaum yang membaca kitabullah hanya mengikuti apa yang dibacakan panutannya saja dan tidak bisa memahami ayat kitabullah yang dibacakan dengan benar oleh yang lain. Hal ini menunjukkan kurangnya keinginan mengikuti kehendak Allah. Kadangkala suatu kaum mendustakan suatu pemahaman terhadap firman Allah karena mengikuti seseorang, maka hal demikian merupakan sikap mempertuhankan orang lain. Hal ini akan tampak jelas manakala berurusan tentang yang halal dan haram. Manakala suatu kaum menentukan halal dan haram bertentagan dengan ketentuan Allah karena mengikuti orang-orang di antara mereka, mereka itu telah menjadikan orang-orang sebagai tuhan selain Allah.

Sikap ikhlas hendaknya ditunjukkan oleh setiap orang dengan meneliti setiap yang diajarkan kepada dirinya dengan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak boleh ada tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW yang didustakan untuk mengikuti orang lain. Syaikh yang baik akan menekankan kepada murid untuk membaca ayat-ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW daripada mengikuti dirinya, hingga kadang-kadang bersikap layaknya tidak ada perkataan dirinya yang perlu disampaikan karena telah cukupnya firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Hal demikian benar-benar mencukupi untuk umat yang akalnya kuat. Setiap pengajar hendaknya menyampaikan pengajaran kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW sesuai dengan akal umatnya, menghadirkan pembacaan ayat-ayat Allah dengan lengkap sesuai kemampuan umatnya memahami kebenaran.

Sikap ikhlas hendaknya ditunjukkan oleh setiap orang dengan meneliti setiap yang diajarkan kepada dirinya dengan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Anggapan bahwa seseorang telah berada di shirat al-mustaqim hanya bisa bernilai benar bila diketahui ayat Alquran yang dijadikan amanahnya. Menganggap orang lain berada di shirat al-mustaqim tanpa mengetahui ayat kitabullah amanahnya hanya merupakan anggapan prematur tanpa dasar. Pengetahuan shirat al-mustaqim bernilai benar hanya bila ada seruan dari suatu ayat kitabullah. Mungkin amal mereka itu merupakan turunan dari turunan ayat Alquran, tetapi benar-benar ada pengetahuan yang menghubungkan amal itu dengan ayat kitabullah. Yang paling bermanfaat bagi orang umum ketika bersama orang yang mengenal shirat al-mustaqim adalah ayat kitabullah landasannya, sedangkan mengalirnya pengetahuan lain melalui seseorang akan memberikan manfaat penyerta yang bermanfaat besar. Orang bertaubat yang ingin mengikuti berjalan di shirat al-mustaqim hanya dapat melakukannya bila mengetahui amanah dari ayat kitabullah yang harus ditunaikan. Melakukan amal-amal dengan persangkaan saja tanpa mengetahui persis ayat kitabullah yang harus ditunaikan tidak akan menjadikan seseorang bisa ikut melangkah di shirat al-mustaqim.

Umat hendaknya bertanya landasan pengetahuan dan pengajaran yang disampaikan kepada dirinya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Hal ini akan menjadikan pengetahuan seseorang berakar pada perintah Allah bukan hanya mengikuti orang lain. Menanyakan demikian seringkali tidak harus dilakukan secara terbuka kepada pengajarnya kecuali diperlukan karena boleh jadi akan merepotkan. Seseorang seringkali cukup bertanya kepada diri sendiri dengan membuka tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Walaupun demikian selalu ada kemungkinan tumbuh pemahaman keliru maka bila perlu ia harus bertanya dan mendengarkan peringatan-peringatan dari syaikhnya dan mau mendengarkan pula pemahaman dari orang lain. Setiap syaikh akan bertanggungjawab atas kelurusan pemahaman para muridnya terhadap ayat-ayat Allah, maka apabila sang syaikh bertanya kepada muridnya tentang pemahamannya, para murid hendaknya menjelaskan semua yang dipahami kepada sang syaikh tanpa menyembunyikan sesuatupun, termasuk apa-apa yang mungkin dibisikkan oleh syaitan.

Berkomitmen terhadap para hamba Allah harus terbentuk dalam diri manusia dan dimurnikan dengan kebenaran. Menolong Allah harus dilaksanakan dalam al-jamaah. Kesungguh-sungguhan seseorang dalam menolong Allah harus terbentuk hingga dalam bentuk kesungguh-sungguhan membantu orang-orang yang melaksanakan perintah Allah, tidak terjebak hanya dalam hubungan subjektif antara dirinya dengan Allah saja. Apabila seseorang mengenali saudaranya bersungguh-sungguh berjuang untuk perintah kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, ia berusaha menolong saudaranya tersebut. Pengenalan demikian ini menunjukkan adanya sikap hanif, bukan ubudiyah hawa nafsu. Apabila dirinya orang yang mengenal shirat al-mustaqim, ia harus bersungguh-sungguh menolong umat manusia untuk mengenal kehendak Allah. Seseorang tidak boleh menolong Allah dalam suatu kebanggaan diri sebagai wakil Allah yang berhak untuk menempati kedudukan Allah di antara para manusia, harus menyeru manusia mengabdi kepada Allah bukan mengabdi kepada dirinya.

Minggu, 12 Oktober 2025

Mensyukuri Pendengaran Bashirah dan Fu’ad

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Allah menjadikan nabi Muhammad SAW sebagai rasulullah yang merupakan makhluk yang dapat memberikan penjelasan terhadap asma Allah dengan cara yang terbaik. Setiap orang hendaknya berusaha memahami kebenaran dalam bentuk citra dari ma’rifat Rasulullah SAW tanpa menyimpang, dan membantu terwujudnya ma’rifat tersebut dengan memahami jati diri dan memahami batas-batas dirinya di antara al-jamaah. Sikap demikian akan mendatangkan kebaikan yang sangat banyak dalam kehidupan di bumi dan seluruh alam semesta. Manakala seseorang tidak mengenal citra dari ma’rifat Rasulullah SAW, mereka tidak akan melahirkan kebaikan dalam kehidupan. Kadangkala seseorang atau suatu kaum berusaha mewujudkan kebaikan di bumi dengan jalan mereka sendiri, maka mereka selalu terkalahkan atau bahkan berbuat kerusakan.

Akal dan Indera Bathin

Kaum ‘Aad bisa menjadi contoh bagaimana kerusakan menimpa umat manusia karena mereka menempuh jalan mereka sendiri tidak berusaha untuk memahami dan mengikuti petunjuk Allah. Allah telah menjadikan mereka kaum yang teguh kedudukannya di bumi lebih baik daripada manusia lainnya. Tidak hanya keteguhan kehidupan di bumi, kaum ‘Aad merupakan kaum yang telah diberi pendengaran, penglihatan dan fu’ad-fu’ad. Di jaman ini, kaum demikian dapat dibayangkan sebagai kaum yang kokoh dan spiritualis. Kenyataannya mereka kemudian ditimpa adzab Allah.

﴾۶۲﴿وَلَقَدْ مَكَّنَّاهُمْ فِيمَا إِن مَّكَّنَّاكُمْ فِيهِ وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْئِدَةً فَمَا أَغْنَىٰ عَنْهُمْ سَمْعُهُمْ وَلَا أَبْصَارُهُمْ وَلَا أَفْئِدَتُهُم مِّن شَيْءٍ إِذْ كَانُوا يَجْحَدُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَحَاقَ بِهِم مَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِؤُونَ
Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit-pun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka diliputi oleh apa yang mereka memperolok-olokkannya. (QS Al-Ahqaaf : 26)

Spiritualitas yang disebut di atas berbentuk kekuatan bathin berupa kekuatan pendengaran, penglihatan dan fu’ad. Pada umumya kekuatan bathin demikian dibangun dengan mengikuti syariat penggembalaan jasmaniah dan hawa nafsu. Baiknya spiritualitas suatu kaum tidak bisa dijadikan ukuran bahwa kaum tersebut akan selamat. Spiritualitas harus disertai dengan iktikad mengikuti kehendak Allah. Ayat ini menegaskan bahwa spiritualitas yang tampak pada suatu kaum tidak selalu berkorelasi dengan keselarasan terhadap kehendak Allah. Demikian pula kekokohan kedudukan suatu kaum dalam kehidupan di bumi tidak selalu berkorelasi dengan keselarasan terhadap kehendak Allah. Spiritualitas bisa berjalan sendiri tanpa selaras dengan kehendak Allah dan hal demikian bisa menyebabkan suatu kaum menjadi celaka. Demikian pula kekokohan kedudukan di bumi tidak selalu berkorelasi dengan keselarasan terhadap kehendak Allah, dan hal itu bisa menyebabkan suatu kaum celaka. Barangkali spiritualitas itu berkorelasi lebih kuat dengan kokohnya kehidupan di bumi daripada keselarasan dengan kehendak Allah, tetapi Allah tidak menghendaki kekokohan kedudukan di bumi dengan spiritualitas tanpa keinginan mengabdi dengan melaksanakan kehendak Allah.

Membangun kekokohan kehidupan dunia pada dasarnya dapat dilakukan dengan membangun spiritualitas bangsa, tetapi upaya itu harus disertai pula dengan keinginan untuk mentaati kehendak Allah. Manakala suatu kaum membina spiritualitas diri, mereka akan lebih mempunyai kekuatan untuk mencapai kedudukan yang kokoh di bumi. Tanpa spiritualitas, manusia akan lambat bertumbuh atau tumbuh liar layaknya binatang ternak yang tidak bisa membangun suatu sinergi antara satu orang dengan yang lain atau bahkan mendatangkan madlarat antara satu pihak dengan pihak lainnya. Kekokohan kehidupan di bumi dapat dibangun dengan membina spiritualitas bangsa, tetapi hal itu tidak menjadi jamninan bahwa suatu kaum akan selamat. Keselamatan suatu kaum dengan membangun spiritualitas hanya ditemukan pada adanya keinginan untuk mentaati Allah.

Spiritualitas yang benar harus dibangun untuk mentaati kehendak Allah dengan landasan pemahaman yang benar. Di jaman ini, iktikad mengikuti kehendak Allah harus diwujudkan melalui ketaatan pada tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Tanpa mengikuti Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, membangun spiritualitas di kalangan umat islam dapat berbalik mendatangkan kebinasaan. Membina spiritualitas harus dilakukan dengan mengikuti langkah Rasulullah SAW dan dimanfaatkan untuk mewujudkan cita-cita Rasulullah SAW bagi umatnya dengan berlandaskan tuntunan kitabullah Alquran. Membina spiritualitas tidak boleh digunakan hanya untuk membangun kekokohan kehidupan duniawi tanpa suatu keinginan menyatukan diri dalam Al-jamaah yang disegel dengan kebenaran ajaran Rasulullah SAW.

Pembinaan spiritualias yang benar secara ideal harus terlihat wujudnya dalam bentuk amal shalih, berupa amal yang terlahir mengikuti pemahaman terhadap tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Barangkali tidak semua orang bisa beramal atau memahami kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW secara mandiri, tetapi ia bisa memikirkan kebenaran dari ayat yang dibacakan kepadanya, maka langkah demikian termasuk mengikuti kitabullah dan merupakan bayangan pembinaan spiritualitas yang benar. Tentu saja amal demikian akan mendatangkan kekokohan dalam kehidupan dunia, tetapi amal itu lebih bertujuan untuk beribadah kepada Allah bukan untuk kemegahan dunia. Manakala kehidupan dunia justru menjadi rapuh, boleh jadi pemahaman yang diikuti keliru. Rapuh dalam hal ini menunjukkan kehidupan tanpa makna dan kebaikan, termasuk dalam hal ini pemaknaan-pemaknaan kosong tentang kehidupan. Sekalipun kehidupan dunia dijadikan tampak berantakan, seseorang yang beramal shalih dengan pemahaman yang benar tidaklah rapuh karena sebenarnya hidup dengan kokoh dengan pondasi pemahamannya.

Manakala kekuatan bathiniah tidak digunakan untuk memahami dan beramal shalih sesuai dengan kehendak Allah, kekuatan-kekuatan bathiniah itu tidak memberikan manfaat kepada orang-orang yang diberi. Manusia yang memperoleh kekuatan itu akan menyimpang dengan kesesatan yang sangat jauh dari kebenaran karena kekuatannya. Mereka mungkin saja akan menentang ayat-ayat Allah baik ayat-ayat kauniyah ataupun ayat-ayat kitabullah dengan persepsi-persepsi mereka sendiri melalui pendengaran, penglihatan dan akal yang diberikan kepada mereka. Mereka mungkin akan menganggap persepsi bathiniah mereka sebagai yang paling benar dan orang-orang yang lain tidak benar sehingga ayat kauniyah yang telah tampak jelas bagi orang lain kebenarannya tetap dianggap salah. Bahkan bukan tidak mungkin kekuatan bathiniah mereka menjadikan mereka menentang firman-firman Allah dalam kitabullah menyangka indera mereka lebih benar daripada firman Allah.

Hal demikian akan menyebabkan suatu kaum tidak dapat tumbuh dan melangkah maju mengikuti kebenaran. Orang-orang yang diberi kekuatan dan pengetahuan lebih sedikit mungkin harus mengalah dalam pendapat-pendapat orang yang inderawinya kuat sedangkan pengetahuan mereka merupakan kebenaran atau benih-benih kebenaran hingga kebenaran yang mungkin mereka kenali tidak dapat tumbuh menjadi kebaikan bagi kaum tersebut. Demikian pula orang-orang yang mengenali amal-amal shalih yang seharusnya ditunaikan mungkin harus terhalang untuk beramal shalih atau mengupayakan suatu jalan keluar yang bermanfaat bagi kaumnya. Kaum yang bergantung atau mempertuhankan kekuatan indera bathiniah mereka tidak akan memperoleh manfaat sedikitpun dengan sikap menggantungkan diri pada kekuatan bathiniah diri mereka. Setiap orang harus berusaha memahami kehendak Allah dengan kekuatan bathiniah yang diberikan, dan kehendak Allah itu adalah yang tertulis dalam kitabullah Alquran serta selaras dengan kauniyah yang terjadi.

Tetap Lurus dengan Indera Bathin

Kesesatan karena kekuatan bathiniah yang diberikan bisa terjadi karena sebab intrinsik berupa kebodohan hawa nafsu ataupun karena sebab ekstrinsik berupa tipuan syaitan. Manakala memperoleh kekuatan bathiniah, hawa nafsu mungkin menyangka bahwa mereka mempunyai kecerdasan yang lebih dalam memahami kebenaran hingga mereka lupa berpegang pada tuntunan yang diturunkan Allah. Sikap demikian bisa terjadi hingga seseorang justru mempertuhankan hawa nafsu diri mereka, menganggap segala sesuatu yang dipersepsi kekuatan bathiniah mereka merupakan bentuk kesatuan kebenaran diri dengan Allah sedemikian mereka bisa justru menentang firman-firman Allah untuk mengikuti persepsi diri. Syaitan sangat menyukai orang-orang demikian dan akan membantu memberikan petunjuk-petunjuk dengan menyelipkan kesesatan-kesesatan dengan sangat halus sedemikian manusia akan mempersepsi bahwa petunjuk-petunjuk itu benar-benar sebagai petunjuk Allah. Selain cara itu, syaitan selalu ingin dan berusaha memasukkan visi-visi kepada orang-orang yang mempunyai indera bathiniah.

Kesesatan demikian itu bisa terjadi secara meluas tidak hanya terjadi atas perseorangan. Seseorang yang tersesat kemudian diikuti oleh masyrakat. Orang-orang yang mengikuti mereka seringkali meninggalkan ajaran-ajaran yang sebenarnya dapat dipahami dengan mudah sebagai penjabaran yang benar dari firman Allah untuk mengikuti perkataan-perkataan yang dikatakan sebagai perintah Allah sedangkan mereka tidak dapat memahami kebenaran perkataan itu. Mungkin mereka tidak dapat memahami hubungan perkataan itu dengan ayat kitabullah ataupun ayat kauniyah dengan kecerdasan yang dimiliki, tetapi terpaksa meyakini kebenaran perkataan itu karena label kebenaran yang disematkan pada perkataan. Kadangkala mereka membalik-balik logika untuk dapat memahami. Manakala mereka memilih meninggalkan firman Allah dalam Alquran untuk mengikuti perkataan mereka, maka itu tanda yang jelas bahwa mereka itu telah mempertuhankan hawa nafsu atau mempertuhankan manusia. Kadang tanda yang jelas itu tidak tampak, tetapi sebenarnya suatu kaum sebenarnya telah terjebak mempertuhankan hawa nafsu. Hal-hal demikian lebih sering dan mudah terjadi pada kaum yang diberi Allah kekuatan-kekuatan bathin berupa pendengaran, mata dan fuad.

Kaum mukminin harus berhati-hati dengan kekuatan bathiniah yang diberikan kepada mereka dengan selalu memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam melangkah. Perintah Allah yang benar hanyalah apa-apa yang ditemukan landasannya dari kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, tidak boleh diyakini kebenarannya berdasar persepsi kekuatan bathiniah yang diberikan. Hal ini tidak menunjukkan bahwa semua persepsi kekuatan bathiniah selalu menyimpang dari tuntunan Allah, tetapi lebih menjelaskan tingkat kepentingan dalam membina akal memahami kehendak Allah. Apa yang tertera dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW itu akan lebih memperkuat akal dan lebih benar dibandingkan kebenaran apapun, dan kebenaran yang lain itu hanya tangga untuk memahami tuntunan Allah. Memahami kehendak Allah tidak boleh terjadi secara terbalik atau bercampur dengan kehendak syaitan, dan hendaknya dijauhkan dari pengaruh hawa nafsu. Terlalu banyak mengikuti persepsi kekuatan bathiniah boleh jadi akan melemahkan kekuatan akal dalam memahami dengan benar kehendak-Nya. Seluruh persepsi bathiniah yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hendaknya dibuang jauh tidak boleh diikuti, karena hal itu menjadikan manusia mempertuhankan hawa nafsu atau mempertuhankan manusia.

Kehati-hatian ini harus lebih diperhatikan manakala kekuatan bathiniah di antara umat sangat kuat. Boleh jadi Allah menurunkan urusan penjelasan distingsi masalah pembinaan akal dengan masalah kekuatan bathiniah kepada salah seorang di antara mereka. Urusan demikian mungkin saja justru diturunkan kepada orang-orang yang kekuatan bathiniahnya lemah atau justru dilemahkan Allah dan hanya mempunyai iktikad berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Apabila hal ini terjadi, mengikuti tuntunan Allah hanya bisa dilakukan dengan mengikuti berpegang teguh pada tuntunan Allah, dan harus dengan meninggalkan kekuatan bathiniah yang keliru atau lemah dalam memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Masalah kelemahan indera bathiniah itu dan kesalahan-kesalahan manusiawi yang ditimbulkannya tidak akan menjadikan mereka penentang Allah karena sebenarnya Allah sedang menjelaskan pentingnya membina akal dibandingkan membina kekuatan indera bathiniah, agar umat manusia memahami kedudukan keduanya dengan tepat. Kekuatan bathiniah justru bisa menjadi sumber kesesatan yang sangat jauh apabila tidak digunakan dengan tepat oleh orang-orang beriman.

Kehancuran akan terjadi apabila suatu kaum membantah ayat-ayat Allah yang dibacakan kepada mereka karena mengikuti persepsi kekuatan bathiniah mereka, dan memperolok-olokkan pembacaan ayat-ayat Allah. Pada firman Allah di atas, olok-olok itu tidak dibatasi terhadap ayat Allah saja, tetapi juga segenap olok-olok terkait dengan ayat-ayat Allah. Mungkin mereka tidak memperolok-olok ayat Allah secara langsung tetapi memperolok-olok orang yang menyampaikan ayat-ayat Allah maka itu termasuk olok-olok yang dimaksud ayat di atas. Sebenarnya perbuatan demikian akan membuat orang yang memperolok-olok tidak dapat memahami ayat-ayat Allah yang dibacakan. Boleh jadi yang memperolok itu juga merasa sebagai orang yang membaca ayat-ayat Allah tetapi tidak bisa memahami ayat-ayat Allah yang dibacakan karena mereka memperolok-olok pembacanya dengan kekuatan bathiniah pada diri mereka. Karenanya mereka membantah ayat Allah. Dalam banyak hal, olok-olok yang mereka lakukan itu sebenarnya merupakan celaan yang seharusnya diarahkan pada keadaan diri mereka sendiri, sedangkan objek olok-olok itu merupakan cermin yang memantulkan keadaan diri mereka. Ketercelaan itu merupakan suatu satu hal yang akan menjadi siksa atas suatu kaum yang membantah ayat-ayat Allah.

Seringkali ketercelaan suatu kaum tersembunyikan dalam keteguhan kedudukan dalam kehidupan dunia. Karena keteguhan kedudukan, mereka tidak dapat melihat ketercelaan dalam diri mereka dan tidak memperoleh cermin untuk itu. Dalam keadaan itu, olok-olok mereka itu sebenarnya cermin bagi mereka. Hanya saja kadangkala perlu informasi yang cukup untuk memahami bahwa olok-olok yang mereka perbuat itu merupakan cermin bagi diri yang akan diketahui apabila seseorang mau menerima kebenaran dari ayat Allah. Apabila suatu kaum lebih meyakini kekuatan bathiniah mereka sendiri dibandingkan ayat-ayat Allah, mereka tidak akan menyadari keberadaan cermin tersebut.

Senin, 06 Oktober 2025

Mengenal Batas Diri dengan Sunnah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Setelah tiba pada gerbang shirat al-mustaqim, hendaknya seseorang tegak melaksanakan amannah shirat al-mustaqim yang dikenalinya.

﴾۲۱۱﴿فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Maka tegaklah kamu pada jalan yang lurus sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS Huud : 112)

Orang yang memperoleh keterbukaan terhadap ayat kitabullah yang merupakan amanah bagi dirinya diperintahkan untuk melaksanakan amanah sebagaimana diperintahkan ayat kitabullah yang dibukakan. Pelaksanaan amanah itu harus dilakukan secara berjamaah dengan orang-orang yang bertaubat bersama dirinya, dan hendaknya tidak melampaui batas. Ada pagar-pagar yang merupakan batasan urusan Allah dan setiap orang harus berada pada pagar-pagar urusan itu. Ada pula pintu jalan yang diharamkan yang tidak boleh dilalui, manakala seseorang melalui pintu keharaman itu maka ia akan celaka. Seseorang yang tidak mengenal batas diri kadang-kadang tidak mengerti manakala dirinya merusak sunnah Rasulullah SAW dan bahkan ketika menentang firman Allah.

Batas-batas diri dalam pelaksanaan amanah dapat diibaratkan suatu pemerintahan negara. Seorang presiden melaksanakan pemerintahan untuk mewujudkan keadilan dan kemakmuran di negerinya. Ia dibantu dengan menteri-menteri, panglima, para gubernur, bupati dan seluruh jajaran dalam pemerintahannya. Masing-masing mempunyai lingkup tugas dan wewenang membantu presiden mewujudkan cita-cita berbangsa. Tidak boleh ada seorangpun menteri atau seseorang dalam jajaran pemerintahan yang membangun loyalitas kepada begal negara, dan atau membuat kebijakan yang merugikan pihak lain baik sejawatnya anak buahnya ataupun masyarakat luas. Seluruh jajaran, gubernur dan komponen masyarakat lainnya harus berusaha bekerja secara sinergis, tidak boleh saling merugikan antara warganya ataupun warga propinsi lainnya dengan kebijakan yang buruk.

Arah Langkah Rasulullah SAW dan Batas Diri

Dalam agama, setiap orang hendaknya berusaha memahami cita-cita Rasulullah SAW bagi umatnya dan membantu terwujudnya cita-cita tersebut dengan memahami jati diri dan memahami batas-batas dirinya di antara al-jamaah. Ia tidak melanggar batas itu terhadap washilahnya, terhadap sahabat sejawatnya ataupun terhadap orang-orang yang mengikuti dirinya dan yang mengikuti orang lain. Setiap orang mempunyai amal shalih berupa amal dari bagian urusan Rasulullah SAW yang dapat diketahui dari kitabullah Alquran dan ayat kauniyah yang terhampar pada ruang dan jamannya. Mengetahui batas-batas urusan Rasulullah SAW yang dijadikan bagian untuk dirinya akan menjadikan seseorang dapat berjalan tanpa melampaui batas.

Tingkat pemahaman seseorang terhadap cita-cita Rasulullah SAW di antara manusia mempunyai perbedaan-perbedaan intensitas yang menunjukkan kedekatan seseorang kepada Allah. Kedekatan itu ditentukan dengan tingkat kemuliaan akhlak. Setiap orang harus membina akhlak mulia dalam dirinya. Kemuliaan akhlak itu ditunjukkan dengan tingkat pemahaman terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, baik intensitas pengetahuan maupun penghayatan yang benar terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Iblis mempunyai pengetahuan yang sangat banyak tetapi tidak menghayati tuntunan Allah dengan benar, maka ia tidak dapat dikatakan berakhlak mulia. Ada manusia-manusia yang mempunyai ilmu sangat banyak tetapi mungkin saja ia tersesat jalannya karena tidak berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ada pula orang-orang yang berpakaian dan bergaya layaknya alim ulama tetapi tidak mengetahui penghayatan terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka ia sebenarnya belum cukup membina akhlak mulia. Setiap orang harus terus berusaha meningkatkan pemahaman terhadap tuntunan Rasulullah SAW dengan membina akhlak mulia.

Tingkat paling tinggi yang dapat dicapai seseorang dalam memahami kehendak Allah adalah terbentuknya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Membentuk bayt demikian menunjukkan keberhasilan pembinaan akhlak hingga mampu berperan sosial dengan landasan pemahaman terhadap kehendak Allah. Dalam perspektif langkah taubat, hal itu menunjukkan keberhasilan mengikuti langkah kedua uswatun hasanah. Rasulullah SAW merupakan uswatun hasanah dalam penyempurnaan kemuliaan akhlak, yaitu membentuk akhlak Alquran. Nabi Ibrahim a.s merupakan uswatun hasanah dalam membentuk akhlak mulia terutama dalam peran sebagai makhluk sosial dengan membentuk bayt. Kedua uswatun hasanah tersebut merupakan utusan paling sempurna dalam memperkenalkan asma Allah kepada makhluk di alam ciptaan, dan setiap manusia harus berusaha membentuk akhlak mulia dengan mengikuti kedua uswatun hasanah baik sebagai hamba Allah ataupun sebagai makhluk sosial tanpa terpisahkan.

Arah langkah Rasulullah SAW akan dipahami oleh orang-orang yang berusaha untuk membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Demikian pula batas-batas diri akan dikenali orang-orang yang berusaha membentuk bayt mengikuti tuntunan Rasulullah SAW. Jalan demikian merupakan tuntunan kedua uswatun hasanah sunnah Rasulullah SAW dan millah nabi Ibrahim a.s yang bersifat haqq hingga seseorang dapat mengenal jati diri penciptaannya dan batas-batas diri yang harus ditaati tidak dilampaui.

Dalam perspektif sosial, membentuk bayt menunjuk pada usaha pemuliaan umat manusia dengan pengetahuan kebenaran (ma’rifah) dan menghindari kebodohan (munkar), menegakkan amar ma’ruf nahy munkar. Landasan pemuliaan itu adalah pembentukan akhlak mulia terutama akal dalam membina ma’rifat kepada Allah dan menghindari kemunkaran-kemunkaran. Artinya, proses pemuliaan umat itu sebenarnya hanya dikatakan berhasil apabila umat manusia mampu mentaati perintah-perintah Allah dengan landasan pemahaman (ma’rifat) terhadap kebaikan-kebaikan dalam perintah-perintah Allah dan menghindari kebodohan dengan mengetahui keburukan dalam kebodohan-kebodohan itu. Kadangkala ditemukan suatu kaum mentaati perintah dan larangan tetapi memotong akal mereka untuk memahami (ma’rifat) kebaikan dalam perintah dan keburukan dalam larangan. Hal itu tidak menunjukkan keberhasilan pemuliaan karena memotong akal sebenarnya hanya menjaga kebodohan umat. Kegagalan pemuliaan umat dalam kasus itu terjadi dalam hal pemotongan akal untuk memahami ma’rifat dan keburukan kemunkaran, bukan karena ketaatan yang dilakukan. Di antara tandanya, kadangkala umat terjerumus dalam kebodohan dengan ketaatan mereka tidak mengerti tujuan dari perbuatan yang mereka lakukan. Pijakan utama dan pijakan awal proses pemuliaan umat manusia itu adalah pembentukan bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah sesuai dengan tuntunan Allah.

Keberhasilan membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah merupakan puncak kemampuan manusia dalam memahami kehendak Allah sedemikian seseorang bisa dianggap layak untuk menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah (muqarrabun). Kedekatan itu merupakan anugerah, tidak dapat diupayakan oleh manusia. Puncak kemampuan itu tidak diberikan secara tiba-tiba, tetapi harus dimulai dengan upaya membentuk shilaturrahmi terutama dalam bentuk pernikahan. Pernikahan menjadi role model yang memberikan arah kepada manusia dalam membentuk shilaturrahmi dengan masyarakat lebih luas. Upaya memahami kehendak Allah tidak bisa dilakukan hanya dengan membangun hubungan personal kepada Allah, tetapi juga harus disertai membangun hubungan antar makhluk berupa shilaturrahmi. Dalam membangun shilaturrahmi, pernikahan merupakan inti dari pembentukan shilaturrahmi yang akan menentukan keberhasilan proses secara keseluruhan dalam melakukan upaya pemuliaan umat dengan amar ma’ruf nahy munkar.

Pernikahan memberikan suatu contoh ideal shilaturrahmi yang seharusnya dibentuk setiap manusia, di mana seorang laki-laki memperoleh umat yang harus dimuliakan dalam wujud isteri dan anak-anaknya, dan seorang isteri memperoleh washilah pengabdiannya kepada Allah dalam wujud suaminya. Demikian shilaturrahmi yang seharusnya dibentuk oleh setiap orang kepada umatnya, ia memperoleh umat yang harus dimuliakan dalam wujud umatnya dan memperoleh washilah dalam bentuk rijal yang merupakan induk urusannya sebagai jalan turunnya urusan Rasulullah SAW. Adab-adab pergaulan harus dibina di antara umat agar shilaturrahmi di antara mereka dapat terbentuk dengan baik. Keikhlasan untuk mengenal kehendak Allah harus dibina pada diri setiap orang disertai dengan pembinaan kemampuan bersikap menghargai orang lain secara layak untuk menjalin shilaturrahmi. Dalam proses pembinaan akal lebih lanjut, tingkat penghargaan seseorang terhadap orang lain seharusnya disusun sesuai kedudukan objek di sisi Allah, tanpa meninggalkan sedikitpun sikap menghargai makhluk sembarang. Seandainya menemukan orang yang menjadikan hina dirinya sendiri, ia tidak menghinakan mereka lebih dari penghinaan mereka terhadap diri mereka sendiri. Orang yang tidak mampu memberikan penghargaan sesuai kedudukan objek di sisi Allah menunjukkan kekurangsempurnaan dalam membina akhlak, dan ketidakmampuan menghargai makhluk sembarang menunjukkan kegagalan membina akhlak.

Peran keikhlasan dan adab terhadap orang lain dalam menjalin shilaturrahmi ini terlihat menonjol pada proses pernikahan. Seseorang yang thayib hendaknya menemukan pasangan yang thayib dalam tingkat yang setimbang, tidak mencari pasangan yang mempunyai orientasi keikhlasan yang jauh berbeda. Bila seorang laki-laki yang ikhlas menikah dengan perempuan yang menuntut harta dalam jumlah berlebihan, ia akan kesulitan dalam mengurus keluarganya banyak kehilangan kesempatan untuk memahami kehendak Allah. Harta yang baik dalam keberpasangan terletak pada pelaksanaan amr Allah dalam kebersamaan suami isteri, tidak dituntut dan tidak dicari oleh salah satu pihak kepada pihak lain secara berlebihan. Untuk memperkirakan tingkat ekonomi yang bisa diusahakan, kedua pihak hendaknya berusaha memahami bersama potensi amr Allah yang dapat menjadi jalan usaha bagi mereka melalui kesetaraan kufu tidak dilakukan dengan menekan satu pihak menyediakan harta dalam jumlah yang berlebihan. Sikap-sikap demikian akan menentukan keberhasilan shilaturrahmi. Ini adalah contoh peran keikhlasan dalam membina shilaturrahmi.

Adab pergaulan juga akan menentukan keberhasilan shilaturrahmi. Seseorang yang tidak menghargai pasangannya secara layak akan sulit mewujudkan keluarga sebagai bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Menghargai pasangan ini tidaklah berfungsi mensahkan kehausan seseorang terhadap penghargaan pihak lain, tetapi syarat dasar atas setiap pihak untuk dapat menjalin shilaturrahmi sesuai kehendak Allah dalam keluarga. Seseorang mungkin tidak perlu meminta penghormatan pasangannya tetapi pasangannya harus menghormatinya karena ada urusan Allah di antara mereka yang harus ditunaikan dengan menjalin shilaturrahmi. Manakala seseorang memandang hina pasangannya, akan sulit terbentuk landasan shilaturrahmi yang baik dalam keluarga itu dan mereka akan mengalami kesulitan dalam kehidupan dunia. Landasan shilaturrahmi yang buruk itu pada ujungnya akan menimbulkan akibat memutus shilaturrahmi keluarga itu dari umat mereka dan sangat sulit untuk berjuang sendirian dalam kehidupan terputus dari kebersamaan dengan masyarakat besar. Kesulitan ini akan semakin bertambah manakala seorang laki-laki mengemban amanah Allah karena batasan-batasan bagi laki-laki itu dalam mensikapi dunia.

Ketaatan Terhadap Sunnah

Arah langkah Rasulullah SAW akan dipahami oleh orang-orang yang berusaha untuk membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Demikian pula batas-batas diri akan dikenali orang-orang yang berusaha membentuk bayt mengikuti tuntunan Rasulullah SAW. Jalan membina bayt demikian merupakan tuntunan kedua uswatun hasanah sunnah Rasulullah SAW dan millah nabi Ibrahim a.s yang bersifat haqq. Sebagian manusia meletakkan kebenaran arah langkah mereka mengikuti hawa nafsu tanpa mengikuti tuntunan uswatun hasanah. Mereka akan salah dalam menempuh jalan. Boleh jadi sebagian arah langkah mereka benar tetapi menemukan kesalahan atau kesesatan pada ujungnya, atau boleh jadi mereka menempuh jalan yang sesat sejak awal langkah mereka. Mereka tidak akan mengenal jati diri atau batas-batas diri yang harus dipatuhi.

Syaitan juga sangat berkeinginan menyesatkan langkah manusia dengan kekejian dan kemunkaran. Mereka mungkin mendatangi orang-orang yang beribadah kepada Allah dengan pakaian yang tampak indah tetapi sebenarnya bertujuan membajak pengabdian mereka untuk mentaati syaitan. Ini adalah bentuk kekejian. Kekejian itu bisa pula menimpa para perempuan, di mana pengabdian mereka kepada Allah melalui suami dibajak syaitan dibelokkan pengabdiannya melalui laki-laki lain. Mereka bisa saja memandang apa-apa yang mereka lakukan merupakan ibadah yang tulus kepada Allah tetapi sebenarnya telah terbelokkan dalam pengabdian mewujudkan tatanan syaitan ke alam dunia. Syaitan berusaha menyesatkan manusia dengan kekejian.

Demikian pula para syaitan berusaha menahan manusia pada kemunkaran. Manusia dicegah syaitan untuk berkembang akalnya dalam memahami tuntunan Allah. Kadangkala syaitan menampakkan hal menakjubkan untuk mencegah akal manusia berkembang, atau mengajarkan perkataan-perkataan tentang Allah tanpa suatu pengetahuan. Mungkin manusia dijebak dengan gimik-gimik kebenaran tanpa memahami kebaikan dan keburukan dalam ibadah kepada Allah. Mungkin bentuk kemunkaran itu berupa ketaatan melaksanakan perintah dan menghindari larangan tetapi dilakukan dengan meninggalkan penggunaan akal untuk memahami dengan benar kehendak Allah. Manusia harus mentaati perintah Allah dan larangannya, dan tidak akan bisa memahami keseluruhan perintah Allah, akan tetapi setiap manusia harus berusaha memahami sebaik-baiknya kehendak Allah untuk dirinya dengan ketaatan terhadap perintah dan larangan-Nya, tidak boleh tetap berada dalam kemunkaran.

Manakala tidak dapat memerintahkan kekejian dan kemunkaran kepada seorang hamba Allah, kadangkala syaitan berbuat kasar kepada hamba itu untuk mencegah seseorang dan umat manusia membentuk akhlak mulia. Para syaitan membuat fitnah-fitnah atas hamba-hamba Allah terutama terkait dengan upaya mengikuti sunnah Rasulullah SAW dan millah nabi Ibrahim a.s membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Seandainya seseorang tidak terjebak dalam kekejian, syaitan mungkin akan berusaha membuat para isteri terpisah dari suaminya. Syaitan bisa saja menancapkan kekejian pada diri seseorang sekalipun tidak menginginkannya, (yaitu) apabila syaitan itu menemukan sarana untuk itu dari manusia. Suami mungkin akan ditimpa oleh syaitan dengan berita-berita buruk tentang isterinya agar tidak tumbuh jalinan shilaturrahmi dalam pernikahan dan di antara umat secara umum. Masyarakat yang keji dan bodoh akan menjadi media yang sangat baik bagi syaitan dalam memisahkan para isteri dari suaminya, baik dengan kekejian ataupun berita-berita yang tidak benar dan mencegah seseorang memperoleh berita yang benar tentang pasangannya. Dengan cara itu, seseorang mungkin tidak bisa dijadikan syaitan sebagai sarana mewujudkan tatanan syaitan pada umat manusia, tetapi ia juga tidak bisa mewujudkan tatanan di bumi sesuai dengan kehendak Allah.

Rabu, 01 Oktober 2025

Mengenal Batas Diri di Shirat Al-Mustaqim

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Setelah tiba pada gerbang shirat al-mustaqim, hendaknya seseorang tegak melaksanakan amanah shirat al-mustaqim yang dikenalinya.

﴾۲۱۱﴿فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Maka tegaklah kamu pada jalan yang lurus sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS Huud : 112)

Manakala seseorang mengetahui seruan dari suatu hakikat ayat kitabullah yang dibukakan kepada dirinya, ia mendapatkan perintah untuk tegak di atas shirat al-mustaqim. Perintah (amr) Allah pada ayat di atas merujuk pada kandungan ayat kitabullah yang dibukakan kepada diri seorang hamba sebagai amanah yang harus ditunaikan. Boleh jadi amanah itu juga mempunyai bentuk perintah yang tercerap indera sang hamba Allah, sedangkan perintah itu disertai keterbukaan pemahaman atas ayat kitabullah. Bisa juga amanah itu hanya berbentuk keterbukaan hakikat ayat kitabullah saja yang mengandung perintah-perintah Allah. Penanda penting dari perintah Allah adalah adanya keterbukaan kandungan hakikat dari ayat kitabullah. Terkait pengenalan diri (ma’rifatun-nafs), keterbukaan shirat al-mustaqim terjadi pada orang yang mengenal diri. Tetapi ada batasan khusus yang harus terpenuhi orang yang mengenal diri yang mengenal shirat al-mustaqim. Syaitan pada dasarnya juga mendorong manusia yang dipandangnya potensial dimanfaatkan untuk mendekati pohon khuldi. Ma’rifatun-nafs yang menunjukkan keterbukaan shirat al-mustaqim adalah pengenalan diri yang disertai tanda berupa keterbukaan suatu ayat kitabullah sebagai amanah yang harus ditunaikan.

Perintah tegak di atas shirat al-mustaqim itu tidak hanya berlaku kepada dirinya saja, tetapi juga berlaku bagi orang-orang yang telah menempuh jalan taubat bersama dirinya. Orang-orang yang telah menempuh jalan taubat kepada Allah bersama dirinya hendaknya diseru untuk tegak di atas perintah Allah, dan orang-orang yang bertaubat hendaknya menyambut seruan seseorang yang telah mengetahui gerbang shirat al-mustaqim bagi mereka. Akan banyak yang memahami shirat al-mustaqim dari kalangan orang-orang yang bertaubat manakala mereka mau mengikuti seruan orang yang mengenali gerbang shirat al-mustaqim. Orang yang perlu diseru menuju shirat al-mustaqim adalah orang-orang yang bertaubat bersamanya agar nilai-nilai kebaikan yang diserukan tumbuh subur di antara masyarakat. Kedekatan penyeru dan orang yang diseru dalam kebersamaan akan memudahkan pelaksanaan amanah Allah.

Memahami dengan lurus urusan di shirat al-mustaqim harus dilakukan dengan nafs yang bersih dan akal yang kuat tidak tercampuri dengan dorongan hawa nafsu yang buruk. Orang-orang yang tidak menempuh jalan taubat akan berguncang dan menyimpang manakala kitabullah Alquran dilimpahkan kepadanya karena kebodohan dan kedzaliman nafs mereka. Hanya orang-orang yang telah diberi akal yang kuat di atas akhlak mulia yang mampu menerima limpahan kitabullah Alquran. Orang demikian berasal dari orang-orang yang telah menempuh jalan taubat hingga tahap tertentu yang dekat-dekat dengan orang yang berada di shirat al-mustaqim. Sekalipun Allah belum memberikan keterbukaan ayat kitabullah kepada mereka, akal mereka bisa memahami suatu kebenaran dari sisi Allah dan kebersamaan dengan orang yang diberi keterbukaan diharapkan akan dapat menjaga mereka dari penyimpangan.

Proses taubat harus dilakukan sebelum manusia diseru ke shirat al-mustaqim sedemikian akal mereka mampu dan cukup kuat dalam berpegang pada tuntunan kitabullah alquran dan sunnah Rasulullah SAW, tidak menggantikan kedudukan keduanya dengan hal-hal yang lain. Setiap orang yang diseru hendaknya mempunyai kemampuan untuk merasakan bahwa kebenaran tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW berada pada tingkatan yang tertinggi. Kebenaran petunjuk-petunjuk yang lain hanya berfungsi untuk menunjukkan manusia pada kebenaran yang tertinggi tersebut. Tidak jarang apa yang dianggap manusia sebagai kebenaran kadangkala sebenarnya merupakan penyimpangan. Proses taubat harus dilakukan sedemikian seseorang dapat membenarkan suatu bacaan kebenaran yang dekat dengan tuntunan kitabullah Alquran dibandingkan kebenaran yang hanya merupakan gimik.

Kitabullah dan Batas Diri

Proses taubat harus dilakukan benar-benar untuk menjadikan manusia yang bertaubat dapat memahami penjelasan-penjelasan (al-bayaan) dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW karena sikap demikian akan mengantarkan mereka mendekat pada shirat al-mustaqim. Seandainya belum dibukakan kepada mereka kandungan kitabullah, setidaknya mereka dapat memahami kebenaran yang dibacakan kepada mereka dari kitabullah sehingga dapat melangkah di shirat al-mustaqim bersama orang-orang yang telah sampai pada gerbang shirat al-mustaqim. Tidak sedikit orang yang menempuh jalan taubat tetapi tidak berproses dengan benar untuk dapat mengenali penjelasan-penjelasan yang benar dan dekat dengan hakikat dari kitabullah. Manakala dibacakan penjelasan kitabullah mereka tidak mengenali kebenaran penjelasan itu dan lebih memilih mengikuti waham mereka sendiri.

Penyimpangan demikian mungkin terjadi pada proses taubat atau pada orang-orang yang bertaubat. Bila orang-orang yang bertaubat mendustakan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk mengikuti waham mereka sendiri, proses taubat yang demikian merupakan proses taubat yang gagal. Penyimpangan pada orang tertentu bisa terjadi karena kelemahan nafs. Selain masalah kelemahan nafs, penyimpangan dalam proses memahami amanah Allah juga bisa timbul dari faktor luar seperti syaitan atau ilmu-ilmu setengah benar dan setengah merusak. Syaitan akan menjadikan manusia memandang indah diri mereka sendiri hingga tidak menyadari manakala mereka tersesat dari tuntunan Allah. Seringkali seseorang kemudian memisahkan diri dari al-jamaah.

Ada ilmu-ilmu yang bersifat fitnah yang menyimpangkan langkah taubat. Ilmu itu menampakkan tanda-tanda perkembangan taubat yang baik tetapi sebagian dari ilmu itu mendatangkan kerusakan yang besar. Ilmu Harut Marut misalnya, ilmu demikian itu mungkin akan memunculkan suatu tanda perkembangan taubat yang baik tetapi sebenarnya mengandung potensi kerusakan yang sangat besar. Ikhtisar dari tanda perjalanan taubat manusia mungkin akan tampak pada seseorang yang menggunakan ilmu Harut dan Marut, tetapi penjabaran dari ikhtisar tersebut menyimpang dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Misalnya mungkin seseorang memperoleh suatu pengetahuan tentang penataan umat, tetapi justru pada pelaksanaannya merusak rumah tangga sebagai inti dari penataan umat manusia.

Ilmu-ilmu demikian harus dihindari oleh orang-orang yang bertaubat. Kerusakan yang ditimbulkan oleh ilmu demikian sebenarnya bisa sangat luas, bukan sekadar seseorang yang tertipu. Orang-orang mungkin akan merasa berkembang sebagai orang-orang yang bertaubat tetapi sebenarnya tidak menempuh arah taubat yang benar. Tanda-tanda yang tumbuh pada diri mereka sebagian menunjukkan perkembangan taubat yang baik tetapi justru pada bagian inti terjadi kerusakan. Sangat sulit mendeteksi penyimpangan yang terjadi akibat ilmu demikian kecuali apabila seseorang berpegang teguh kepada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala seseorang lebih mempercayai pendapat dirinya, ia akan tertipu dengan ilmu tersebut. Hanya kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW yang dapat mengungkap kelemahan pada ilmu Harut dan Marut.

Pemahaman terhadap tuntunan ayat kitabullah yang merupakan pengantar menuju shirat al mustaqim yang harus dibina dengan sebaik-baiknya sedemikian hingga setiap orang yang mengikuti langkah di shirat al-mustaqim mengerti tentang batas diri mereka dalam melaksanakan amr Allah tidak melampauinya. Manakala tidak disertai pemahaman terhadap ayat kitabullah, seseorang yang berusaha beramal shalih dengan mengenal diri bisa saja tidak mengerti batas-batas diri. Objek dari perintah ayat kitabullah harus dipahami dengan benar oleh setiap orang, dan masing mengetahui batas-batas yang harus dipatuhi. Ada pagar-pagar terluar berupa batasan urusan Allah dan setiap orang harus berada di dalam batas pagar-pagar urusan itu. Ada pula pintu jalan yang diharamkan yang tidak boleh dilalui, manakala seseorang melalui pintu keharaman itu maka ia akan celaka. Seseorang yang tidak mengenal batas diri seringkali tidak mengerti bahwa dirinya telah merusak sunnah Rasulullah SAW dan bahkan ketika menentang firman Allah.

Dalam agama, setiap orang hendaknya berusaha memahami cita-cita Rasulullah SAW bagi umatnya dan membantu terwujudnya cita-cita tersebut dengan memahami jati diri dan memahami batas-batas dirinya di antara al-jamaah. Batas-batas diri itu dapat diibaratkan suatu pemerintahan negara. Seorang presiden melaksanakan pemerintahan untuk mewujudkan keadilan dan kemakmuran di negerinya. Ia dibantu dengan menteri-menteri, panglima, para gubernur, bupati dan seluruh jajaran dalam pemerintahannya. Masing-masing mempunyai lingkup tugas dan wewenang membantu presiden mewujudkan cita-cita berbangsa. Tidak boleh ada seorangpun menteri atau seseorang dalam jajaran pemerintahan yang membangun loyalitas kepada begal negara, dan atau membuat kebijakan yang merugikan pihak lain baik sejawatnya anak buahnya ataupun masyarakat luas. Seluruh jajaran, gubernur dan komponen masyarakat lainnya harus berusaha bekerja secara sinergis, tidak boleh saling merugikan antara warganya ataupun warga propinsi lainnya dengan kebijakan yang buruk. Demikian itu gambaran tentang batas-batas yang tidak boleh dilampaui. Setiap orang hendaknya berusaha memahami cita-cita Rasulullah SAW bagi umatnya dan membantu terwujudnya cita-cita tersebut dengan memahami jati diri dan memahami batas-batas dirinya di antara al-jamaah. Ia tidak melanggar batas itu terhadap atasannya, terhadap rekan sejawatnya ataupun terhadap orang-orang yang mengikuti dirinya.

Mendengarkan Pengajaran

Mengenal batas-batas diri di antara al-jamaah dapat dilakukan dengan berusaha memahami amanah dari kitabullah Alquran hingga mengenal bentuk amanah yang diberikan kepada dirinya, dan juga mengenal shahabatnya atau washilahnya. Mengenal orang-orang dekatnya akan sangat membantu pengenalan batas-batas diri. Hal demikian dimulai dari mengikuti seruan orang lain ke gerbang shirat al-mustaqim. Apabila orang-orang bertaubat mengabaikan seruan untuk menuju gerbang shirat al-mustaqim, mereka akan sulit menemukan jati diri dan batas-batas dirinya. Gerbang shirat al-mustaqim itu sebenarnya merupakan gerbang bersama orang yang dibukakan amanahnya dan orang-orang yang bertaubat bersamanya.

Sikap mengabaikan seruan menuju gerbang shirat al-mustaqim menjadikan manusia terjerat sebagai orang-orang yang musuh Allah, orang dzalim atau setidaknya mereka menjadi golongan orang-orang yang mengabaikan Alquran.

﴾۲۲﴿وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنتَقِمُونَ
Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang benar-benar telah diberi pengajaran ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan menjadi musuh bagi para pendosa (QS As-Sajdah : 22)

Ayat di atas berbicara tentang sikap manusia terhadap pengajaran tentang ayat Allah. Secara tersirat, ayat ini terkait dengan orang-orang yang sebenarnya layak untuk diberi pengajaran ayat-ayat Allah akan tetapi mereka bersikap berpaling dari pengajaran tersebut. Secara umum, pengajaran ayat Allah harus dilakukan dengan cara-cara tertentu disesuaikan dengan orang-orang yang mendengarnya. Pentaubat yang diseru untuk melangkah di shirat al-mustaqim termasuk dalam kategori demikian, mereka benar-benar diberi pengajaran tentang ayat-ayat Allah tentang shirat al-mustaqim untuk ruang dan jamannya. Manakala seseorang mengajarkan ayat-ayat Allah kepada orang lain, orang-orang yang diajar itu sebenarnya dinilai telah layak menerima pengajaran itu. Bila orang yang diajar berpaling dari pengajaran itu, maka mereka yang berpaling itu adalah orang-orang yang paling dzalim.

Berpaling adalah mengarahkan wajah menuju sesuatu yang lain. Berpaling dari pengajaran ayat-ayat Allah menunjukkan bahwa seseorang memilih mengikuti pengajaran selain dari ayat-ayat Allah. Banyak tingkatan kebenaran yang datang pada setiap diri manusia, dari kebenaran hakikat dari sisi Allah berupa albayaan yang diajarkan Arrahman kepada seorang hamba, kebenaran tafsir mengikuti firman Allah, kebenaran-kebenaran gimmik menggunakan firman Allah hingga dosa-dosa yang diubah menjadi kebenaran-kebenaran subjektif orang-orang tertentu. Pengajaran kebenaran yang paling benar bagi manusia pada umumnya berbentuk al-bayaan. Firman Allah dalam Alquran berada di atas tingkatan pengajaran karena berfungsi sebagai parameter kebenaran, dan tidak setiap orang dapat memahami firman tersebut secara langsung. Manakala seseorang memperoleh pengajaran dalam bentuk al-bayaan kemudian berpaling mengikuti kebenaran yang tidak jelas, ia termasuk dalam golongan orang-orang yang paling dzalim.

Faktor utama keberpalingan adalah kurangnya keikhlasan dalam beribadah kepada Allah. Seringkali seseorang berusaha mencari kebenaran tetapi tidak benar-benar ikhlas untuk ibadah kepada Allah sehingga mereka hanya mengikuti perkataan-perkataan orang, baik diri sendiri ataupun orang lain, kurang iktikad untuk mengikuti firman Allah. Kadangkala seseorang mempunyai keikhlasan tetapi kembali menjadi pupus dengan pengetahuan yang salah. Kurang ikhlas atau pupusnya keikhlasan itu akan menjadikan seseorang tidak mengikuti firman Allah. Ketika hakikat dari firman Allah yang disampaikan kepadanya dapat terpahami, mereka memilih mengikuti perkataan makhluk daripada firman Allah. Sama saja keadaan orang demikian baik ia memahami atau tidak memahami. Pahamnya terhadap firman Allah tidak lebih baik daripada tidak pahamnya karena ia berpaling dari pengajaran ayat-ayat Allah ketika dapat memahami.

Keberpalingan seseorang dari pengajaran ayat Allah akan menjadikannya sebagai golongan pendosa dan mendatangkan sikap permusuhan Allah. Allah menjadikan diri-Nya musuh bagi orang-orang yang berpaling dari pengajaran ayat-ayat Allah karena dosa-dosa mereka. Langkah yang akan mereka lakukan setelah itu sebenarnya akan mendatangkan kesulitan bagi umat manusia berupa dosa-dosa, dan langkah-langkah itu menjadi lawan bagi orang-orang yang berkeinginan untuk mewujudkan kehendak Allah. Banyak di antara pikiran orang-orang berpaling dari pengajaran ayat Allah itu bertentangan dengan kehendak Allah, dan juga langkah mereka berlawanan dengan langkah yang perlu dilakukan orang-orang yang menghambakan diri kepada Allah, maka Allah menyatakan diri-Nya sebagai musuh bagi mereka. Pembalasan permusuhan itu mungkin dilakukan saat itu juga, atau ditunda di dunia hingga waktu yang ditentukan, atau dibalaskan di akhirat.