Pencarian

Senin, 06 Oktober 2025

Mengenal Batas Diri dengan Sunnah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Setelah tiba pada gerbang shirat al-mustaqim, hendaknya seseorang tegak melaksanakan amannah shirat al-mustaqim yang dikenalinya.

﴾۲۱۱﴿فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Maka tegaklah kamu pada jalan yang lurus sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS Huud : 112)

Orang yang memperoleh keterbukaan terhadap ayat kitabullah yang merupakan amanah bagi dirinya diperintahkan untuk melaksanakan amanah sebagaimana diperintahkan ayat kitabullah yang dibukakan. Pelaksanaan amanah itu harus dilakukan secara berjamaah dengan orang-orang yang bertaubat bersama dirinya, dan hendaknya tidak melampaui batas. Ada pagar-pagar yang merupakan batasan urusan Allah dan setiap orang harus berada pada pagar-pagar urusan itu. Ada pula pintu jalan yang diharamkan yang tidak boleh dilalui, manakala seseorang melalui pintu keharaman itu maka ia akan celaka. Seseorang yang tidak mengenal batas diri kadang-kadang tidak mengerti manakala dirinya merusak sunnah Rasulullah SAW dan bahkan ketika menentang firman Allah.

Batas-batas diri dalam pelaksanaan amanah dapat diibaratkan suatu pemerintahan negara. Seorang presiden melaksanakan pemerintahan untuk mewujudkan keadilan dan kemakmuran di negerinya. Ia dibantu dengan menteri-menteri, panglima, para gubernur, bupati dan seluruh jajaran dalam pemerintahannya. Masing-masing mempunyai lingkup tugas dan wewenang membantu presiden mewujudkan cita-cita berbangsa. Tidak boleh ada seorangpun menteri atau seseorang dalam jajaran pemerintahan yang membangun loyalitas kepada begal negara, dan atau membuat kebijakan yang merugikan pihak lain baik sejawatnya anak buahnya ataupun masyarakat luas. Seluruh jajaran, gubernur dan komponen masyarakat lainnya harus berusaha bekerja secara sinergis, tidak boleh saling merugikan antara warganya ataupun warga propinsi lainnya dengan kebijakan yang buruk.

Arah Langkah Rasulullah SAW dan Batas Diri

Dalam agama, setiap orang hendaknya berusaha memahami cita-cita Rasulullah SAW bagi umatnya dan membantu terwujudnya cita-cita tersebut dengan memahami jati diri dan memahami batas-batas dirinya di antara al-jamaah. Ia tidak melanggar batas itu terhadap washilahnya, terhadap sahabat sejawatnya ataupun terhadap orang-orang yang mengikuti dirinya dan yang mengikuti orang lain. Setiap orang mempunyai amal shalih berupa amal dari bagian urusan Rasulullah SAW yang dapat diketahui dari kitabullah Alquran dan ayat kauniyah yang terhampar pada ruang dan jamannya. Mengetahui batas-batas urusan Rasulullah SAW yang dijadikan bagian untuk dirinya akan menjadikan seseorang dapat berjalan tanpa melampaui batas.

Tingkat pemahaman seseorang terhadap cita-cita Rasulullah SAW di antara manusia mempunyai perbedaan-perbedaan intensitas yang menunjukkan kedekatan seseorang kepada Allah. Kedekatan itu ditentukan dengan tingkat kemuliaan akhlak. Setiap orang harus membina akhlak mulia dalam dirinya. Kemuliaan akhlak itu ditunjukkan dengan tingkat pemahaman terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, baik intensitas pengetahuan maupun penghayatan yang benar terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Iblis mempunyai pengetahuan yang sangat banyak tetapi tidak menghayati tuntunan Allah dengan benar, maka ia tidak dapat dikatakan berakhlak mulia. Ada manusia-manusia yang mempunyai ilmu sangat banyak tetapi mungkin saja ia tersesat jalannya karena tidak berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ada pula orang-orang yang berpakaian dan bergaya layaknya alim ulama tetapi tidak mengetahui penghayatan terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka ia sebenarnya belum cukup membina akhlak mulia. Setiap orang harus terus berusaha meningkatkan pemahaman terhadap tuntunan Rasulullah SAW dengan membina akhlak mulia.

Tingkat paling tinggi yang dapat dicapai seseorang dalam memahami kehendak Allah adalah terbentuknya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Membentuk bayt demikian menunjukkan keberhasilan pembinaan akhlak hingga mampu berperan sosial dengan landasan pemahaman terhadap kehendak Allah. Dalam perspektif langkah taubat, hal itu menunjukkan keberhasilan mengikuti langkah kedua uswatun hasanah. Rasulullah SAW merupakan uswatun hasanah dalam penyempurnaan kemuliaan akhlak, yaitu membentuk akhlak Alquran. Nabi Ibrahim a.s merupakan uswatun hasanah dalam membentuk akhlak mulia terutama dalam peran sebagai makhluk sosial dengan membentuk bayt. Kedua uswatun hasanah tersebut merupakan utusan paling sempurna dalam memperkenalkan asma Allah kepada makhluk di alam ciptaan, dan setiap manusia harus berusaha membentuk akhlak mulia dengan mengikuti kedua uswatun hasanah baik sebagai hamba Allah ataupun sebagai makhluk sosial tanpa terpisahkan.

Arah langkah Rasulullah SAW akan dipahami oleh orang-orang yang berusaha untuk membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Demikian pula batas-batas diri akan dikenali orang-orang yang berusaha membentuk bayt mengikuti tuntunan Rasulullah SAW. Jalan demikian merupakan tuntunan kedua uswatun hasanah sunnah Rasulullah SAW dan millah nabi Ibrahim a.s yang bersifat haqq hingga seseorang dapat mengenal jati diri penciptaannya dan batas-batas diri yang harus ditaati tidak dilampaui.

Dalam perspektif sosial, membentuk bayt menunjuk pada usaha pemuliaan umat manusia dengan pengetahuan kebenaran (ma’rifah) dan menghindari kebodohan (munkar), menegakkan amar ma’ruf nahy munkar. Landasan pemuliaan itu adalah pembentukan akhlak mulia terutama akal dalam membina ma’rifat kepada Allah dan menghindari kemunkaran-kemunkaran. Artinya, proses pemuliaan umat itu sebenarnya hanya dikatakan berhasil apabila umat manusia mampu mentaati perintah-perintah Allah dengan landasan pemahaman (ma’rifat) terhadap kebaikan-kebaikan dalam perintah-perintah Allah dan menghindari kebodohan dengan mengetahui keburukan dalam kebodohan-kebodohan itu. Kadangkala ditemukan suatu kaum mentaati perintah dan larangan tetapi memotong akal mereka untuk memahami (ma’rifat) kebaikan dalam perintah dan keburukan dalam larangan. Hal itu tidak menunjukkan keberhasilan pemuliaan karena memotong akal sebenarnya hanya menjaga kebodohan umat. Kegagalan pemuliaan umat dalam kasus itu terjadi dalam hal pemotongan akal untuk memahami ma’rifat dan keburukan kemunkaran, bukan karena ketaatan yang dilakukan. Di antara tandanya, kadangkala umat terjerumus dalam kebodohan dengan ketaatan mereka tidak mengerti tujuan dari perbuatan yang mereka lakukan. Pijakan utama dan pijakan awal proses pemuliaan umat manusia itu adalah pembentukan bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah sesuai dengan tuntunan Allah.

Keberhasilan membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah merupakan puncak kemampuan manusia dalam memahami kehendak Allah sedemikian seseorang bisa dianggap layak untuk menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah (muqarrabun). Kedekatan itu merupakan anugerah, tidak dapat diupayakan oleh manusia. Puncak kemampuan itu tidak diberikan secara tiba-tiba, tetapi harus dimulai dengan upaya membentuk shilaturrahmi terutama dalam bentuk pernikahan. Pernikahan menjadi role model yang memberikan arah kepada manusia dalam membentuk shilaturrahmi dengan masyarakat lebih luas. Upaya memahami kehendak Allah tidak bisa dilakukan hanya dengan membangun hubungan personal kepada Allah, tetapi juga harus disertai membangun hubungan antar makhluk berupa shilaturrahmi. Dalam membangun shilaturrahmi, pernikahan merupakan inti dari pembentukan shilaturrahmi yang akan menentukan keberhasilan proses secara keseluruhan dalam melakukan upaya pemuliaan umat dengan amar ma’ruf nahy munkar.

Pernikahan memberikan suatu contoh ideal shilaturrahmi yang seharusnya dibentuk setiap manusia, di mana seorang laki-laki memperoleh umat yang harus dimuliakan dalam wujud isteri dan anak-anaknya, dan seorang isteri memperoleh washilah pengabdiannya kepada Allah dalam wujud suaminya. Demikian shilaturrahmi yang seharusnya dibentuk oleh setiap orang kepada umatnya, ia memperoleh umat yang harus dimuliakan dalam wujud umatnya dan memperoleh washilah dalam bentuk rijal yang merupakan induk urusannya sebagai jalan turunnya urusan Rasulullah SAW. Adab-adab pergaulan harus dibina di antara umat agar shilaturrahmi di antara mereka dapat terbentuk dengan baik. Keikhlasan untuk mengenal kehendak Allah harus dibina pada diri setiap orang disertai dengan pembinaan kemampuan bersikap menghargai orang lain secara layak untuk menjalin shilaturrahmi. Dalam proses pembinaan akal lebih lanjut, tingkat penghargaan seseorang terhadap orang lain seharusnya disusun sesuai kedudukan objek di sisi Allah, tanpa meninggalkan sedikitpun sikap menghargai makhluk sembarang. Seandainya menemukan orang yang menjadikan hina dirinya sendiri, ia tidak menghinakan mereka lebih dari penghinaan mereka terhadap diri mereka sendiri. Orang yang tidak mampu memberikan penghargaan sesuai kedudukan objek di sisi Allah menunjukkan kekurangsempurnaan dalam membina akhlak, dan ketidakmampuan menghargai makhluk sembarang menunjukkan kegagalan membina akhlak.

Peran keikhlasan dan adab terhadap orang lain dalam menjalin shilaturrahmi ini terlihat menonjol pada proses pernikahan. Seseorang yang thayib hendaknya menemukan pasangan yang thayib dalam tingkat yang setimbang, tidak mencari pasangan yang mempunyai orientasi keikhlasan yang jauh berbeda. Bila seorang laki-laki yang ikhlas menikah dengan perempuan yang menuntut harta dalam jumlah berlebihan, ia akan kesulitan dalam mengurus keluarganya banyak kehilangan kesempatan untuk memahami kehendak Allah. Harta yang baik dalam keberpasangan terletak pada pelaksanaan amr Allah dalam kebersamaan suami isteri, tidak dituntut dan tidak dicari oleh salah satu pihak kepada pihak lain secara berlebihan. Untuk memperkirakan tingkat ekonomi yang bisa diusahakan, kedua pihak hendaknya berusaha memahami bersama potensi amr Allah yang dapat menjadi jalan usaha bagi mereka melalui kesetaraan kufu tidak dilakukan dengan menekan satu pihak menyediakan harta dalam jumlah yang berlebihan. Sikap-sikap demikian akan menentukan keberhasilan shilaturrahmi. Ini adalah contoh peran keikhlasan dalam membina shilaturrahmi.

Adab pergaulan juga akan menentukan keberhasilan shilaturrahmi. Seseorang yang tidak menghargai pasangannya secara layak akan sulit mewujudkan keluarga sebagai bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Menghargai pasangan ini tidaklah berfungsi mensahkan kehausan seseorang terhadap penghargaan pihak lain, tetapi syarat dasar atas setiap pihak untuk dapat menjalin shilaturrahmi sesuai kehendak Allah dalam keluarga. Seseorang mungkin tidak perlu meminta penghormatan pasangannya tetapi pasangannya harus menghormatinya karena ada urusan Allah di antara mereka yang harus ditunaikan dengan menjalin shilaturrahmi. Manakala seseorang memandang hina pasangannya, akan sulit terbentuk landasan shilaturrahmi yang baik dalam keluarga itu dan mereka akan mengalami kesulitan dalam kehidupan dunia. Landasan shilaturrahmi yang buruk itu pada ujungnya akan menimbulkan akibat memutus shilaturrahmi keluarga itu dari umat mereka dan sangat sulit untuk berjuang sendirian dalam kehidupan terputus dari kebersamaan dengan masyarakat besar. Kesulitan ini akan semakin bertambah manakala seorang laki-laki mengemban amanah Allah karena batasan-batasan bagi laki-laki itu dalam mensikapi dunia.

Ketaatan Terhadap Sunnah

Arah langkah Rasulullah SAW akan dipahami oleh orang-orang yang berusaha untuk membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Demikian pula batas-batas diri akan dikenali orang-orang yang berusaha membentuk bayt mengikuti tuntunan Rasulullah SAW. Jalan membina bayt demikian merupakan tuntunan kedua uswatun hasanah sunnah Rasulullah SAW dan millah nabi Ibrahim a.s yang bersifat haqq. Sebagian manusia meletakkan kebenaran arah langkah mereka mengikuti hawa nafsu tanpa mengikuti tuntunan uswatun hasanah. Mereka akan salah dalam menempuh jalan. Boleh jadi sebagian arah langkah mereka benar tetapi menemukan kesalahan atau kesesatan pada ujungnya, atau boleh jadi mereka menempuh jalan yang sesat sejak awal langkah mereka. Mereka tidak akan mengenal jati diri atau batas-batas diri yang harus dipatuhi.

Syaitan juga sangat berkeinginan menyesatkan langkah manusia dengan kekejian dan kemunkaran. Mereka mungkin mendatangi orang-orang yang beribadah kepada Allah dengan pakaian yang tampak indah tetapi sebenarnya bertujuan membajak pengabdian mereka untuk mentaati syaitan. Ini adalah bentuk kekejian. Kekejian itu bisa pula menimpa para perempuan, di mana pengabdian mereka kepada Allah melalui suami dibajak syaitan dibelokkan pengabdiannya melalui laki-laki lain. Mereka bisa saja memandang apa-apa yang mereka lakukan merupakan ibadah yang tulus kepada Allah tetapi sebenarnya telah terbelokkan dalam pengabdian mewujudkan tatanan syaitan ke alam dunia. Syaitan berusaha menyesatkan manusia dengan kekejian.

Demikian pula para syaitan berusaha menahan manusia pada kemunkaran. Manusia dicegah syaitan untuk berkembang akalnya dalam memahami tuntunan Allah. Kadangkala syaitan menampakkan hal menakjubkan untuk mencegah akal manusia berkembang, atau mengajarkan perkataan-perkataan tentang Allah tanpa suatu pengetahuan. Mungkin manusia dijebak dengan gimik-gimik kebenaran tanpa memahami kebaikan dan keburukan dalam ibadah kepada Allah. Mungkin bentuk kemunkaran itu berupa ketaatan melaksanakan perintah dan menghindari larangan tetapi dilakukan dengan meninggalkan penggunaan akal untuk memahami dengan benar kehendak Allah. Manusia harus mentaati perintah Allah dan larangannya, dan tidak akan bisa memahami keseluruhan perintah Allah, akan tetapi setiap manusia harus berusaha memahami sebaik-baiknya kehendak Allah untuk dirinya dengan ketaatan terhadap perintah dan larangan-Nya, tidak boleh tetap berada dalam kemunkaran.

Manakala tidak dapat memerintahkan kekejian dan kemunkaran kepada seorang hamba Allah, kadangkala syaitan berbuat kasar kepada hamba itu untuk mencegah seseorang dan umat manusia membentuk akhlak mulia. Para syaitan membuat fitnah-fitnah atas hamba-hamba Allah terutama terkait dengan upaya mengikuti sunnah Rasulullah SAW dan millah nabi Ibrahim a.s membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Seandainya seseorang tidak terjebak dalam kekejian, syaitan mungkin akan berusaha membuat para isteri terpisah dari suaminya. Syaitan bisa saja menancapkan kekejian pada diri seseorang sekalipun tidak menginginkannya, (yaitu) apabila syaitan itu menemukan sarana untuk itu dari manusia. Suami mungkin akan ditimpa oleh syaitan dengan berita-berita buruk tentang isterinya agar tidak tumbuh jalinan shilaturrahmi dalam pernikahan dan di antara umat secara umum. Masyarakat yang keji dan bodoh akan menjadi media yang sangat baik bagi syaitan dalam memisahkan para isteri dari suaminya, baik dengan kekejian ataupun berita-berita yang tidak benar dan mencegah seseorang memperoleh berita yang benar tentang pasangannya. Dengan cara itu, seseorang mungkin tidak bisa dijadikan syaitan sebagai sarana mewujudkan tatanan syaitan pada umat manusia, tetapi ia juga tidak bisa mewujudkan tatanan di bumi sesuai dengan kehendak Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar