Pencarian

Kamis, 23 Oktober 2025

Pemakmuran dan Al-Jamaah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan

Jalan kembali kepada Allah yang paling utama adalah shirat al-mustaqim. Shirat al-mustaqim ditandai dengan suatu gerbang berupa keterbukaan makna suatu ayat kitabullah yang menyingkapkan rahasia dari alam kauniyah terkait dengan diri seorang hamba, sedemikian keterbukaan itu menjadikan seorang hamba memahami untuk apa dirinya diciptakan. Manakala seseorang mengalami suatu keterbukaan suatu ayat Allah demikian, ia telah tiba di gerbang shirat Al-mustaqim. Ia diperintahkan untuk tegak melaksanakan amanah shirat al-mustaqim yang dikenalinya.

﴾۲۱۱﴿فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Maka tegaklah kamu pada jalan yang lurus sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS Huud : 112)

Manakala seseorang mengalami suatu keterbukaan terhadap suatu makna ayat Allah, hendaknya ia berusaha mengenali kedudukannya dalam al-jamaah, setidaknya menyadari bahwa urusan dirinya merupakan bagian dari urusan Rasulullah SAW. Ia harus menemukan petunjuk-petunjuk amal dirinya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hingga ia dapat melaksanakan amr yang diketahuinya selaras dengan arahan Rasulullah SAW. Selanjutnya ia berusaha untuk dapat mengenal shahabat-shahabat yang mengalami keterbukaan ayat Allah untuk dapat bersama-sama melaksanakan amr Rasulullah SAW secara sinergis, hingga dalam bentuk suatu pengetahuan hirarki urusan yang jelas sesuai dengan urusan jaman mereka. Mereka adalah shahabat-shahabat yang telah bertaubat bersama-sama dengan dirinya. Selanjutnya, hendaknya mereka juga menyeru orang-orang yang tampak telah menempuh jalan taubat sekalipun apabila mereka belum mengalami keterbukaan pengenalan gerbang shirat al-mustaqim. Seruan itu akan memudahkan umat dalam mengenali gerbang shirat al-mustaqim. Allah memerintahkan untuk menegakkan perintah Allah bersama dengan orang yang bertaubat bersamanya.

Pemakmuran Bumi

Tegaknya seseorang bersama dengan orang yang bertaubat dalam menegakkan perintah Allah akan mewujudkan sumber pemakmuran di bumi. Terwujudnya pemakmuran bisa dijadikan indikator tambahan tentang ketepatan seseorang dalam memahami perintah Allah karena menunjukkan terhubungnya kehendak Allah hingga ujung alam penciptaan melalui manusia. Manakala suatu pelaksanaan perintah Allah justru mendatangkan kekacauan dalam tatanan bermasyarakat, pemahaman terhadap perintah Allah sebenarnya telah menyimpang sedikit ataupun banyak. Indikator ini bisa menunjukkan adanya penyimpangan pelaksanaan urusan dari ketentuan-ketentuan yang dikehendaki Allah.

﴾۱۶﴿ وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلٰهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)". (QS Huud : 61)

Pada satu segi, shirat al-mustaqim merupakan jalan terbaik untuk mewujudkan pemakmuran di bumi. Seseorang akan mengetahui keadaan di bumi selaras dengan hakikat keadaan kauniyah dan mengetahui pula amal-amal yang bisa dilakukan untuk membawa keadaan kauniyah menuju lebih baik. Apabila beramal dengan landasan pengetahuan yang terbuka, seseorang akan membukakan suatu sumber untuk menjadikan keadaan lebih baik. Keterbukaan pengetahuan pada diri seseorang itu merupakan salah satu sumber, dan mungkin ada banyak sumber-sumber lain yang dapat saling terhubung dalam suatu hubungan al-jamaah.

Pemakmuran yang sebenarnya pada dasarnya terbentuk melalui terhubungnya urusan di alam tertinggi hingga mencapai ujung alam ciptaan berupa alam dunia. Ini adalah peran utama yang harus ditunaikan oleh setiap manusia sebagai makhluk bumi. Pada turunannya, setiap terhubungnya alam yang rendah pada suatu kebenaran dari alam yang lebih tinggi akan mewujudkan suatu bentuk pemakmuran tertentu. Setiap orang hendaknya berusaha untuk melakukan pemakmuran walaupun misalnya hanya mampu dalam bentuk turunannya. Tetapi hendaknya disadari bahwa tidak jarang bentuk-bentuk pemakmuran itu hanya lemah atau semu, atau justru menyimpang apabila terhubung pada kebathilan pada alam yang tinggi. Orang musyrik memperoleh keahlian mewujudkan pemakmuran palsu dari para syaitan yang mereka sembah. Mustahil diwujudkan suatu pemakmuran tanpa menghubungkan suatu kebenaran dari alam yang lebih tinggi menuju alam yang lebih rendah. Semakin murni kebenaran yang dihubungkan menuju alam yang lebih rendah, semakin kokoh kemakmuran yang akan terwujud.

Proses pemakmuran secara ideal dapat dilihat dengan baik melalui proses berumah tangga yang baik. Sepasang suami isteri yang mengenal Allah dan isteri yang taat mengikuti langkah suaminya akan diijinkan untuk membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, maka akan terwujud suatu inisiator proses pemakmuran terbaik bagi umat manusia pada urusan yang diamanahkan. Mereka merupakan sumber pemakmuran untuk semesta diri mereka, bukan hanya pemakmuran untuk keluarga mereka saja. Sebenarnya, para isteri itu merupakan pembawa khazanah duniawi yang menghadirkan alam bumi mereka bagi suaminya, dan para suami merupakan representasi akal yang mengenal kehendak Allah. Apabila keduanya bersinergi melaksanakan urusan Allah, akal suami dapat menghadirkan urusan dari alam yang tertinggi untuk bertemu urusan alam dunia yang dihadirkan oleh isterinya. Keterhubungan sepasang dua insan dalam urusan Allah itu akan mewujudkan proses pemakmuran yang terbaik bagi alam dunia mereka.

Dalam prakteknya tidak semua orang dapat berperan sedemikian sempurna tetapi sebenarnya tetap bisa memberikan sumbangsih pemakmuran selama berusaha menghubungkan kebenaran dari yang tinggi ke alam yang lebih rendah. Seorang menteri keuangan yang berpikir dan bertindak dengan logika lurus dapat meberikan iklim pemakmuran yang sangat baik bagi negerinya dibandingkan dengan menteri keuangan yang lain walaupun keduanya mungkin menggunakan teori ekonomi yang serupa. Kelurusan berpikirnya itu merupakan suatu faktor kebenaran dari alam yang lebih tinggi bukan ilmu ekonominya. Peran menteri demikian merupakan satu mata rantai yang harus disambungkan dengan mata rantai yang lain. Bila iklim pemakmuran itu tidak tersambungkan dengan mata rantai yang lain, pemakmuran yang terbentuk hanya akan sedikit. Setiap orang hendaknya berusaha untuk memberikan peran dirinya dengan sebaik-baiknya untuk memberikan sumbangsih bagi kehidupan berbangsa hingga terwujud kemakmuran bersama. Bila masyarakat tidak dapat mensyukuri, akan sulit mewujudkan kemakmuran bersama dalam suatu bangsa.

Pembinaan Rantai Hubungan

Keterhubungan antara dua kedudukan yang berbeda harus terjadi secara kokoh untuk dapat mewujudkan proses pemakmuran. Setiap laki-laki harus berusaha membina akal dengan sebaik-baiknya agar dapat memahami keadaan kauniyah dengan lurus sedemikian ia dapat menentukan langkah-langkah yang tepat dan perlu dilakukan untuk mewujudkan pemakmuran. Para isteri mengikuti langkah-langkah yang dipahami oleh suaminya dengan ketaatan agar suaminya dapat melangkah dengan baik mewujudkan pemakmuran. Hubungan yang kokoh harus dibentuk di antara keduanya dengan membina kesepahaman dalam melaksanakan urusan terutama apabila suaminya dapat memahami amanah Allah yang harus ditunaikan. Apabila tidak terbangun kesepahaman dalam urusan Allah, ketaatan dan pemahaman itu mungkin akan berdiri masing-masing tidak mewujudkan proses pemakmuran di bumi. Seorang suami mungkin akan memahami kauniyah dengan benar tetapi tidak dapat mewujudkan pemahamannya di alam dunia, dan seorang isteri mungkin penuh ketaatan yang baik kepada suaminya tetapi ketaatannya itu dilaksanakan layaknya suatu beban berat.

Kokohnya hubungan demikian hendaknya dibina pada setiap kedekatan hierarki hingga terbentuk hubungan yang kokoh antara manusia dengan benda-benda sehingga manusia menguasai pemuliaan dan penataan bendawi, bukan hanya dalam bentuk hubungan dan urusan antar manusia. Benda-benda rekayasa manusia hendaknya dapat dibuat dengan mutu sebaik-baiknya berdasarkan pengetahuan materi dan penataan terbaik, tidak dibuat secara asal-asalan hingga mudah menjadi sampah. Pengetahuan materi merupakan ilmu yang kedudukannya lebih tinggi yang dapat dialirkan menuju terbentuknya materi yang unggul. Tanpa ilmu, tidak ada ilmu yang dapat dialirkan untuk mewujudkan benda yang unggul. Demikian itu merupakan salah satu aspek pemakmuran yang harus diperhatikan oleh umat manusia.

Kedudukan laki-laki dan perempuan merupakan gambaran adanya struktur hierarki dalam kedudukan manusia. Ada orang yang diberi akal lebih besar dan kuat dari yang lain untuk menjadi pemimpin, dan ada orang yang diberi kemampuan yang lebih dalam urusan duniawi hingga diijinkan untuk berkecimpung lebih intensif dalam memakmurkan dunia. Setiap manusia diberi akal yang harus digunakan dengan sebaik-baiknya tidak boleh beralibi untuk mengumbar hasrat duniawi bahwa ia lemah. Pemakmuran dunia itu bersifat perempuan yang harus dilaksanakan mengikuti akal yang bersifat laki-laki. Laki-laki paling sempurna adalah Rasulullah SAW, dan khalifatullah Al-Mahdi merupakan pasangan paling memadai dalam urusan pemakmuran bumi bagi akal Rasulullah SAW. Setiap orang yang lain berkedudukan sebagai pemakmur bumi bagi akal beliau SAW, dalam arti bahwa langkah pemakmuran hanya bernilai benar bila seseorang melakukan selaras tuntunan Rasulullah SAW. Ada warna akal yang kuat pada sebagian umat Rasulullah SAW yang bersifat laki-laki, tetapi sebenarnya akal itu hanya sebagian dari akal Rasulullah SAW, dan sebagian umat mempunyai warna lebih kuat dalam melaksanakan pemakmuran. Kedua warna umat itu harus membentuk hubungan yang kokoh untuk dapat mewujudkan pemakmuran.

Kedekatan dalam hubungan hierarkis demikian hendaknya dibina dan dihormati pada tiap tingkatan hierarki layaknya penghormatan terhadap hubungan pernikahan. Misalnya hubungan antara ilmu dengan produk harus dijaga dan ditingkatkan dengan baik agar diperoleh produk-produk bermutu baik. Hubungan pernikahan merupakan perikatan dua tingkat entitas di tingkat yang tinggi di hadirat Allah yang harus dihormati secara mutlak, sedangkan hubungan yang lain hendaknya dihormati sesuai dengan kedudukannya. Pengabaian penghormatan terhadap hubungan demikian akan menyebabkan kemunkaran menguasai pengetahuan. Orang yang diragukan ijazah pendidikannya bisa dengan mudah menjadi presiden atau wakil presiden karena suatu bangsa mudah berbuat lancang di hadapan Allah tidak menghormati kedudukan pernikahan di antara mereka. Demikian itu seringkali diikuti dengan merajalelanya bala kurawa berhura-hura dengan sumber daya negara, dan orang-orang baik terkurung potensi kebaikan mereka. Banyak orang yang menimba ilmu tidak bisa memperoleh kesempatan bekerja dengan ilmunya karena tatanan masyarakat menjadikan ilmu tidak dibutuhkan. Kuatnya kemunkaran itu bisa saja tampak di komunitas kecil pada fenomena tertentu misalnya dukungan komunitas yang besar pada orang yang tidak mempunyai konsep produk yang benar dengan mutu produk sulit ditingkatkan karena rendahnya penguasaan pengetahuan produk, sedangkan orang yang membawa urusan Allah tidak memperoleh dukungan komunitas karena tidak diterima. Hal demikian menunjukkan menguatnya kemunkaran dan terkurungnya pengetahuan karena kurangnya pembinaan dan penghormatan terhadap hubungan hierarkis.

Prinsip-prinsip proses pemakmuran yang baik dapat dipelajari setiap orang dengan bercermin pada proses pernikahan. Dalam pernikahan, aturan proses itu ditegakkan dengan tegas karena telah kokohnya bentuk perikatan di hadirat Allah, sedangkan dalam proses pemakmuran bangsa setiap orang harus berusaha menerapkannya dengan sebaik-baiknya. Misalnya setiap orang hendaknya menjadi orang yang subur terhadap arahan atasannya dengan berusaha memahami fungsi diri dan melaksanakan arahan atasannya dengan sebaik-baiknya, sekaligus bisa memahami keadaan bawahannya dalam proses pelaksanaan urusan. Setiap orang hendaknya menghindari penyimpangan dari ketentuan yang sah sebagaimana orang menikah harus menghindari kekejian dan pengkhianatan. Banyak bentuk-bentuk aturan dalam pernikahan yang harus dijadikan role model dalam proses pemakmuran bumi agar terwujud pemakmuran.

Pemakmuran hanya dapat dilaksanakan dengan benar apabila prinsip-prinsip agama dipatuhi. Akan sulit mewujudkan pemakmuran apabila prinsip-prinsip yang diajarkan pada setengah bagian agama tidak dipatuhi atau tidak diperhatikan. Keberadaan syirik di antara masyarakat muslimin merupakan kekejian layaknya orang yang berbuat keji dalam rumah tangga. Sebaliknya kekejian di antara muslimin merupakan pintu kesyirikan di antara masyarakat. Orang musyrik tidak mungkin mencintai kebenaran yang merupakan kecintaan kaum muslimin karena mereka lebih mencintai keuntungan materi bagi diri mereka sendiri bahkan apabila harus berkhianat terhadap masyarakat dengan menyembah kejahatan. Para syaitan itu berusaha menyediakan jalan keuntungan bagi orang yang menyembahnya melalui kekacauan yang dibuat sehingga musyrikin selalu berusaha berbuat kekacauan. Tidak jarang kekacauan itu dirumuskan dan dilaksanakan dalam bentuk kebijakan-kebijakan oleh kelompok musyrik apabila mereka berkuasa. Kadangkala ada orang yang menyangka bisa berbuat baik setelah mengikuti proses kesyirikan. Itu hanya merupakan halusinasi saja karena syaitan akan menyertakan banyak kejahatan dalam bentuk-bentuk kebaikan yang mereka lakukan, bahkan sebenarnya syaitan dapat menyatukan diri dalam diri orang yang menyembah mereka sedemikian mereka dipandang baik tetapi sebenarnya jahat. Pemakmuran hanya dapat dilaksanakan dengan benar apabila prinsip-prinsip agama dipatuhi.

Bukan sekadar aturan saja, pembinaan individu agar mampu melakukan pemakmuran sebenarnya akan dapat terbina dengan baik melalui pernikahan. Kemampuan untuk dapat memahami pihak lain harus dibentuk melalui pernikahan di mana setiap orang hendaknya dapat menggunakan pendengaran, penglihatan dan hati dengan sebaik-baiknya untuk memahami pihak lain tidak hanya mengikuti persepsi diri sendiri. Ini akan menumbuhkan kesuburan seseorang dalam memahami kebenaran sedemikian terbentuk hubungan shilaturahmi antara satu orang dengan orang lain dalam melaksanakan proses pemakmuran. Ketangguhan dalam melaksanakan proses harus dibina dengan rasa syukur menghadapi semua rintangan bersama-sama sebagaimana suami isteri mensyukuri keadaan dan rintangan yang menghampiri rumah tangga mereka. Banyak sifat-sifat baik yang mendukung proses pemakmuran dapat ditumbuhkan dengan baik melalui pernikahan.

Kokohnya hubungan yang terbina pada masyarakat akan dipengaruhi pembinaan rumah tangga. Kadangkala masyarakat tampak terhubung erat melalui komunitas yang terbentuk tetapi rumah tangga masing-masing terabaikan, maka hubungan demikian bukan hubungan yang kokoh sebagai pondasi pemakmuran. Rumah tangga merupakan pembentuk pondasi pemakmuran terbaik yang menunjukkan pertumbuhan akhlak secara benar. Seseorang yang buruk dalam rumah tangga sebenarnya tidak baik akhlaknya, dan seseorang yang baik dalam rumah tangga adalah orang yang baik akhlaknya. Ini mungkin tidak berlaku pada rumah tangga baru atau menjelang akad pernikahan. Baik atau buruknya bukanlah yang terdengar oleh orang lain, tetapi bagaimana ia bersikap kepada pasangannya. Tidak jarang masyarakat mendengar keburukan seseorang yang disebar pasangannya, sedangkan mungkin pasangannya itulah yang sebenarnya buruk bersikap dalam rumah tangga. Kebaikan yang dibangun seseorang dalam rumah tangga itu merupakan media terbaik membentuk landasan pemakmuran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar