Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk berjihad di jalan Allah.
﴾۸۳﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ أَرَضِيتُم بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ
Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: "berangkatlah pada jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin kepada dunia? Apakah kamu rela dengan kehidupan di dunia dibandingkan akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan) akhirat hanyalah sedikit. ( QS At-Taubah 38-3)
Perintah ini harus diperhatikan oleh setiap mukmin. Ada orang-orang beriman yang merasa berat untuk berangkat berjihad karena keinginan mereka kepada dunia. Pemakmuran bumi yang dilakukan seseorang dalam bentuk menempatkan diri sebagai pihak yang memperoleh keuntungan saja merupakan wujud dari lebih berat keinginan kepada dunia. Dari sudut pandang pemakmuran dunia, jihad merupakan penataan sumber-sumber pemakmuran duniawi hingga upaya pemakmuran yang dilakukan manusia dapat terhubung dengan kehendak Allah. Banyak pemakmuran dilakukan manusia di dunia tetapi tidak benar-benar mendatangkan pemakmuran. Banyak sisi negatif yang mungkin menyertai pemakmuran yang dilakukan tanpa terhubung pada kehendak Allah. Mungkin sebagian manusia memperoleh pemakmuran tetapi sebagian lain dirugikan. Banyak bentuk negatif dari pemakmuran yang dilakukan tanpa memahami kehendak Allah.
Setiap orang harus melakukan jihad hingga mencapai jihad di jalan Allah. Jalan Allah adalah jalan yang dikenali oleh orang-orang yang mengenal kehendak Allah atas diri mereka. Mungkin banyak orang yang menyeru untuk berjihad di jalan Allah akan tetapi sebenarnya tidak mengenali kehendak Allah, maka hal demikian tidak menunjukkan jalan Allah. Setiap mukmin hendaknya memeriksa seruan yang disampaikan. Ada seruan jihad yang sebenarnya dibuat untuk tujuan yang bathil. Ada pula seruan yang terwujud tanpa pemahaman yang tepat. Mungkin seruan mereka merupakan kebaikan yang mendatangkan kebaikan di dunia ataupun di akhirat, tetapi jihad yang mereka lakukan belumlah mencapai pengenalan terhadap jalan Allah. Di antara seruan-seruan untuk jihad, setiap orang harus berusaha memahami dan mengikuti langkah berdasarkan pemahaman yang terbaik sebagai jalan jihad. Setiap orang harus berjihad dengan pemahaman terbaik yang diperoleh dirinya, karena jihad itu akan mengantarkan diri mereka masing-masing untuk mengenal jalan Allah.
Jihad di jalan Allah merupakan kewajiban bagi setiap mukmin. Seseorang yang mengenal Allah dan mengetahui urusan jamannya harus menyeru mukminin lain untuk menunaikan urusan Allah untuk jamannya. Seruan itu adalah seruan jihad di jalan Allah. Kaum mukminin yang mengetahui seruan itu hendaknya ikut serta berjihad untuk menunaikan amanah Allah, dan jihad itu menjadi jihad di jalan Allah bagi diri masing-masing. Kehadiran seseorang yang mengenal Allah pada dasarnya dapat mengangkat suatu kaum yang menolongnya untuk mengenal jalan Allah, dan umat itu menjadi kaum yang memperoleh berkah dari kehadiran orang tersebut. Hal itu akan mendatangkan manfaat yang sangat besar bagi kaum tersebut dan umat manusia pada umumnya bila seruannya disambut. Bila seruannya diabaikan, kaum tersebut akan ditimpa kehinaan dalam berbagai bentuknya misalnya kebodohan atau pemimpin yang bodoh. Apabila suatu kaum menyambut suatu seruan jihad dan tidak ada perbaikan dari jihad mereka, jihad itu sangat mungkin bukan jihad di jalan Allah. Kadangkala suatu jihad tampak seperti jihad di jalan Allah akan tetapi sebenarnya tidak benar-benar tepat karena disimpangkan, maka ia bukan jihad di jalan Allah yang secara efektif mendatangkan kebaikan bagi umat manusia.
Mengikuti yang terbaik merupakan kunci agar seseorang mengalir menuju jalan Allah. Setiap orang pada dasarnya harus membangun konstruk pemahaman terhadap kehendak Allah dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Pemahaman itu dapat diperoleh dengan jalan membaca secara langsung tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan memenuhi syarat-syarat yang ditentukan. Selain itu ada orang-orang yang mengajarkan kandungan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang memudahkan seseorang untuk membangun konstruk pemahaman terhadap kehendak Allah dengan benar. Hal ini harus dilakukan dengan cara yang benar, dengan berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai dasar kebenaran. Konstruk pengetahuan yang benar akan menjadikan seseorang dapat memahami kehendak Allah hingga mengetahui kehendak Allah secara spesifik dalam urusan yang ditangani atau urusan yang diperintahkan. Tanpa konstruk pengetahuan yang benar, seseorang tidak akan bisa menimbang bobot kebenaran secara tepat. Mungkin suatu kebenaran dianggap halusinasi, atau suatu kebathilan dianggap karomah yang ditunjukkan oleh wali Allah. Hal itu bisa terjadi karena tidak terbangunnya konstruk pemahaman yang benar.
Berjamaah dalam Jihad
Pada dasarnya jihad di jalan Allah merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap mukmin secara berjamaah, bukan tugas individu. Untuk ikut berjamaah, seseorang tidak harus mencapai pemahaman terhadap perintah Allah secara khusus bagi pribadinya, tetapi setiap mukmin harus bisa memahami secara jelas bahwa apa yang mereka lakukan bersama pimpinan jamaahnya merupakan upaya merealisasikan perintah Allah. Ia harus bisa mengerti teks dan konteks perintah Allah yang sedang mereka tunaikan, maka ia telah ikut berjamaah. Mengikuti yang terbaik harus dilakukan setiap orang dengan berusaha mencerap kebenaran yang disampaikan hingga ia memahami, kemudian ia mengikuti setelah memahami kebaikannya. Ini adalah jihad yang harus dilaksanakan setiap orang. Berjihad sendirian hanya boleh dilakukan manakala seseorang berada di atas jalan Allah benar-benar sendirian saja. Sebenarnya ada kewajiban infaq atas kaum mukminin untuk membiayai jihad di jalan Allah. Infaq itu bisa digunakan untuk membiayai suatu jihad termasuk untuk memberi nafkah bagi mujahid yang membutuhkan. Mukminin harus melahirkan amal-amal jihadnya di jalan Allah baik ia memperoleh biaya dari infaq ataupun tidak memperolehnya. Manakala mekanisme kebersamaan itu tidak ada, jihad di jalan Allah akan menjadi usaha yang sangat berat.
Amal dalam jihad di jalan Allah hanyalah amal yang dilakukan seseorang sebagai bagian dari Al-jamaah, bukan amal untuk keinginan atau kepentingan diri sendiri. Al-Jamaah dalam hal ini adalah orang yang di atas kebenaran, tidak ditentukan dari jumlah pengikut. Hanya amal untuk urusan Allah saja yang merupakan jihad di jalan Allah, dan hal ini terkait dengan imam yang harus ditaati dalam urusannya. Tanpa suatu pengesahan dari Al-Jamaah, suatu amal belum bisa digolongkan sebagai jihad di jalan Allah. Pada puncaknya sahnya amal sebagai jihad di jalan Allah itu berupa landasan amal yang jelas dari perintah kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, yang dapat dipahami secara tekstual dan kontekstual. Landasan perintah itu tidak bisa hanya berupa klaim tentang adanya suatu perintah Allah. Pada tingkat operasinal, amal itu bisa berbentuk aktifitas kebumian terkait dengan realisasi perintah kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, amal yang tumbuh sebagai cabang ataupun ranting dari perintah kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Teks dan konteks tersebut bukan hal yang boleh diperdebatkan, dimana setiap orang bisa dan harus ikut memahami, bukan pemahaman yang dibuat-buat hingga layak diperdebatkan.
Banyak masalah di antara umat dalam masalah jihad di jalan Allah. Tidak jarang seseorang mengabaikan kebenaran atau pemahaman yang terbaik yang disampaikan karena terwahami oleh kebenaran diri sendiri. Bahkan kadangkala seseorang menentang firman Allah terkait keadaan yang jelas terlihat pada diri sendiri hanya karena mengikuti waham kebenaran diri atau mengikuti suatu pendapat tertentu yang dipandang benar. Hal demikian menunjukkan seseorang tidak mengikuti yang terbaik atau mengikuti kebathilan. Ada orang-orang yang disesatkan Allah di atas ilmu mereka. Mereka orang yang berilmu akan tetapi sebenarnya berada dalam kesesatan sedemikian mereka sulit melihat kebathilan yang mereka ikuti. Kaum demikian termasuk kaum yang paling sulit diseru untuk mengikuti jalan Allah karena merasa telah berada di jalan Allah. Sebenarnya mereka tidak melihat perintah Allah secara jelas dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, atau tidak melihat dengan jelas hubungan amal mereka dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasuullah SAW. Mereka mungkin merasa menunaikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tetapi sebenarnya apa yang mereka tunaikan tidak berdasar dan tidak selaras dengan apa yang diperintahkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bahkan mungkin saja keadaan mereka jelas bertentangan dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tetapi mereka mempunyai ilmu yang membenarkan keadaan mereka.
Masalah Besar Jihad di Jalan Allah Jaman Mutakhir
Orang yang berjihad akan menemukan banyak tantangan, misalnya mereka bisa saja terhalang untuk memperoleh biaya untuk berjihad. Bukan berarti Allah tidak menolong orang yang berjihad. Seringkali Allah menurunkan petunjuk bagi orang yang berjihad terkait urusan yang harus diupayakan akan tetapi kadangkala ada yang bisa menjegal atau menghalangi pelaksanaan petunjuk-petunjuk yang diturunkan. Boleh jadi Allah belum membukakan keberhasilan dalam wujud duniawi atas jihad yang harus dilakukan, tetapi banyak pengetahuan yang muncul bagi orang yang berjihad. Keadaan semacam ini tidak boleh menjadi alasan bagi seseorang meninggalkan jihadnya. Jihad harus tetap ditunaikan sekalipun manakala ia harus melakukan sendirian saja.
Tentu saja ia harus tetap berhati-hati bahwa ia mungkin sendirian karena berada di jalan yang salah. Tetapi selama tidak ada orang yang bisa menunjukkan kesalahan secara fundamental pada jalannya, ia harus tetap menegakkan jihadnya sekalipun dalam kesendirian. Bisa saja seseorang benar-benar memahami jalan Allah sendirian, dan orang lain tetap mengikuti jalan yang salah mengikuti hawa nafsu. Rasulullah SAW sangat bersedih dengan keadaan umatnya di akhir jaman, di mana beliau SAW berseru kepada Allah pada saat mengajar : Yaa Allah umatku, umatku. Ini merupakan bentuk kesedihan beliau SAW atas keadaan mayoritas umat yang disesatkan tidak memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dan millah nabi Ibrahim a.s, hanya mengikuti kebenaran menurut hawa nafsu sendiri. Perbuatan umat demikian menyakiti Rasulullah SAW. Sekalipun seseorang sendirian di jalan Allah, ia harus tetap menegakkan jihadnya tidak boleh meninggalkan jalan jihad yang ditentukan baginya.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَلَا قَوْلَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي إِبْرَاهِيمَ { رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنْ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي } الْآيَةَ وَقَالَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَام { إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ } فَرَفَعَ يَدَيْهِ وَقَالَ اللَّهُمَّ أُمَّتِي أُمَّتِي وَبَكَى فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ وَرَبُّكَ أَعْلَمُ فَسَلْهُ مَا يُبْكِيكَ فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام فَسَأَلَهُ فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَا قَالَ وَهُوَ أَعْلَمُ فَقَالَ اللَّهُ يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ فَقُلْ إِنَّا سَنُرْضِيكَ فِي أُمَّتِكَ وَلَا نَسُوءُكَ
Dari Abdullah bin Amr bin al-'Ash bahwa Nabi SAW membaca firman Allah mengenai Ibrahim: "Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, Maka Sesungguhnya orang itu termasuk golonganku"' (QS Ibrahim: 36) , Dan mengenai Isa a.s : "Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana" (Qs. Al Maidah: 118), kemudian beliau mengangkat kedua tangannya seraya berdo'a: "Ya Allah, umatku, umatku" dengan bercucuran air mata. Kemudian Allah 'azza wajalla berkata kepada malaikat Jibril: "Temuilah Muhammad -dan Rabbmulah yang lebih tahu- dan tanyakan kepadanya, 'Apa yang membuatmu menangis? ' Maka malaikat Jibril pun bertanya kepada beliau, dan Beliau SAW menjawabnya dengan apa yang dikatakan Allah -dan Allah lebih mengetahui hal itu-. Kemudian Allah berkata: 'Wahai Jibril, temuilah Muhammad dan katakan bahwa Kami akan membuatmu ridha dengan umatmu dan tidak akan menyakitimu '.HR Muslim)
Umat Rasulullah SAW akan menyakiti hati Rasulullah SAW hingga Rasulullah SAW menangis sedih. Allah SWT lebih mengetahui perihal menangisnya Rasulullah SAW terkait umatnya, dan Jibril a.s diperintahkan untuk mengetahui perihal itu dari Rasulullah SAW. Hanya kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW yang lebih menjelaskan keadaan yang bisa membuat Rasulullah SAW menangis. Seandainya seseorang bisa bertanya kepada Jibril a.s, pengetahuan yang bisa disampaikan terkait perihal itu tidak akan lebih baik dari berita kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Boleh jadi orang-orang yang ikhlas dalam ibadah kepada Allah dapat merasakan kesedihan Rasulullah SAW karena keadaan itu. Mungkin mereka akan menjadi sakit pula merasakan bagian dari rasa sakitnya Rasulullah SAW.
Umat Rasulullah SAW akan menyakiti hati Rasulullah SAW hingga Rasulullah SAW menangis sedih. Kesedihan beliau SAW muncul karena umat tidak mengikuti langkah nabi Ibrahim a.s dan justru mengikuti berhala-berhala. Ada baiknya mukminin lebih menggali pengertian tentang berhala. Suasana penyembahan berhala di jaman ini sebenarnya bisa lebih tergambar pada hadirnya artis-artis ataupun klub-klub yang menjadi objek pujaan suatu kaum daripada patung modern, tetapi dalam intensitas bahwa patung sesembahan itu dapat memenuhi harapan para penyembahnya. Orang-orang jaman ini mungkin bisa dikatakan tidak bisa menangkap makna berhala dari penyembahan patung karena telah redupnya patung sebagai citra berhala. Hanya sebagian kecil saja orang yang mengerti makna patung sebagai berhala sebagaimana para penyembah patung Ba’al. Dalam beberapa kasus, penyembahan berhala itu dilakukan suatu kaum dengan suatu kesadaran bahwa berhala itu merupakan manifestasi tuhan yang dapat dipahami oleh penyembahnya.
Keserupaan pemujaan berhala ini sebenarnya masih mungkin ditemukan di kalangan umat Rasulullah SAW. Akan muncul kaum yang menyakiti Rasulullah SAW dengan berhala-berhala yang dianggap sebagai representasi dari hadirnya tuhan kepada mereka hingga pantas untuk disembah. Tentu berhala-berhala itu bukan dalam bentuk patung, tetapi sesuatu yang dianggap secara bathil sebagai representasi dari kehadiran Allah. Misalnya mungkin seorang muslim memandang perkataan seseorang di antara mereka lebih benar daripada firman dalam kitabullah sedangkan firman itu bisa dimengerti dengan mudah, maka hal demikian itu termasuk penyembahan berhala. Dari salah satu hadits dari ‘Adiy bin Hatim, dapat diketahui bahwa ikut mengharamkan yang halal atau mengharamkan yang halal merupakan perbuatan menjadikan para ulama dan rahib sebagai tuhan. Tindakan itu hanyalah batas penunjuk yang jelas tentang pemujaan berhala, sedangkan adanya pemujaan itu sendiri mungkin memunculkan fenomena yang banyak bukan sekadar perbuatan menghalalkan dan mengharamkan.
Menghindari berhala-berhala harus dilakukan oleh setiap orang beriman dengan memperkuat langkah mengikuti millah nabi Ibrahim a.s. Millah merupakan proses meningkatkan kualitas penyembahan kepada Allah melalui pembinaan akhlak mulia sedemikian seorang mukmin dapat semakin mengerti kehendak Allah atas diri mereka dan mempunyai kekuatan untuk melaksanakannya. Setiap mukmin harus melakukan tazkiyatun-nafs untuk membina diri sebagai misykat cahaya agar terbentuk akhlak yang dapat memahami cahaya Allah. Dengan pemahaman terhadap cahaya Allah, setiap orang harus menjalin shilaturrahmi agar diberi sarana untuk mewujudkan pemahaman terhadap cahaya Allah. Shilaturrahmi ini pada intinya berbentuk rumah tangga yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Itu merupakan bentuk penyembahan kepada Allah yang sebaik-baiknya. Mukmin tidak boleh terus menerus bersembah dalam kebodohan. Dengan pembinaan demikian, kaum mukminin akan terhindar dari penyembahan terhadap berhala-berhala dalam segala bentuknya. Demikian itu cara menghindari berhala-berhala yang harus dilakukan mukminin. Menyimpangnya seseorang dari millah nabi Ibrahim a.s akan menjadikan manusia mudah terjatuh pada penyembahan berhala-berhala, dan akan menyakiti hati Rasulullah SAW. Setiap orang harus berusaha untuk semakin memahami dan melaksanakan kehendak Allah dengan lebih baik, tidak terjebak dalam penyembahan-penyembahan kepada yang lain baik berbentuk patung, artis-artis, klub-klub lah raga, manusia-manusia ataupun segala bentuk berhala-berhala yang mungkin terbentuk di pikiran atau hati umat manusia. Menjaga kelurusan pemahaman itu dapat dilakukan dengan membangun dan mengukur semua pemahaman dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Allah akan mengubah umat yang menyakiti Rasulullah SAW menjadi umat yang Rasulullah SAW ridha dengan mereka dan mereka tidak lagi menyakiti Rasulullah SAW. Janji Allah ini merupakan harapan bagi orang-orang yang mengikuti langkah nabi Ibrahim a.s bahwa sahabat mereka akan menjadi kaum yang sama di jalan Allah. Dengan harapan demikian mereka tidak meninggalkan sahabatnya sekalipun mungkin ikut merasakan sakitnya Rasulullah SAW. Barangkali mereka berharap perubahan itu tidak terjadi secara keras atau menyakitkan, tetapi dengan cara yang sebaik-baiknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar