Pencarian

Kamis, 11 Juni 2026

Menguatkan Pondasi Jihad

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk berjihad di jalan Allah.

﴾۰۲﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ اللَّهِ وَأُولٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
﴾۱۲﴿يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُم بِرَحْمَةٍ مِّنْهُ وَرِضْوَانٍ وَجَنَّاتٍ لَّهُمْ فِيهَا نَعِيمٌ مُّقِيمٌ
(20) orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.(21) Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari pada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kenikmatan yang menetap QS At-Taubah : 20-21)

Setiap orang harus berusaha mengenali jalan jihad masing-masing hingga mengenali jihad di jalan Allah dengan baik. Seseorang mungkin harus berjihad untuk berikrar dua kalimah syahadat untuk menjadi muslim. Seorang muslim mungkin harus menempuh jalan tazkiyatun nafs agar iman masuk ke dalam hati mereka. orang yang menempuh jalan tazkiyatun nafs mungkin harus berjuang mengalahkan hawa nafsu dan berjuang memahami tuntunan kitabullah secara lurus. Seorang yang mengenal diri mungkin harus berjuang mengenali urusan yang dikenalinya dalam urusan Rasulullah SAW agar ia tetap dalam Al-Jamaah, dan ia berusaha membina bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya. Demikian seterusnya sedemikian setiap orang beriman membentuk akhlak mulia untuk memperoleh kesempurnaan iman. Dengan terbentuknya keimanan, seseorang akan mengenali sungguh-sungguh jihad di jalan Allah, bukan hanya persangkaan di jalan Allah saja. Setiap orang harus menemukan jihad masing-masing hingga mengenal jihad di jalan Allah.

Setiap orang harus melakukan jihad hingga mencapai jihad di jalan Allah. Jalan Allah adalah jalan yang dikenali oleh orang-orang yang mengenal kehendak Allah, yang diperoleh orang yang telah beriman dan telah berhijrah. Berjihad di jalan Allah adalah bersungguh-sungguh melakukan usaha untuk menunaikan kehendak Allah atas diri manusia. Jihad di jalan Allah tidak hanya ditunaikan oleh orang-orang yang secara pasti mengenal kehendak Allah atas diri mereka, karena orang-orang yang mengikuti langkah jihad di jalan Allah juga akan dihitung sebagai berjihad di jalan Allah selama niatnya ikhlas untuk Allah dan mengetahui tuntunan-tuntunan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW terkait dengan jihad yang mereka lakukan. Sebaliknya sekalipun mengikuti jihad bersama Rasulullah SAW di jalan Allah, seseorang yang niatnya tidak benar akan tetap menjadi orang yang celaka sekalipun ia terbunuh dalam jihad itu. Setiap orang harus berusaha membangun keikhlasan dalam berjihad dan membangun pengetahuan terkait dasar-dasar jihad yang dilakukan.

Prakondisi Jihad di Jalan Allah

Terdapat dua keadaan yang menjadi syarat agar suatu jihad bisa mengarah menjadi jihad di jalan Allah, yaitu beriman dan berhijrah. Dengan terpenuhinya kedua syarat tersebut, jihad yang dilakukan suatu kaum akan menjadi lurus sehingga efektif mendatangkan hasil-hasil berupa kebaikan. Banyak orang yang berjihad tetapi keimanan yang mereka ikuti hanya lemah, maka jihad mereka tidak mendatangkan hasil yang baik. Mungkin suatu kaum sibuk melakukan banyak amal-amal yang dipandang baik, tetapi amal-amal mereka tidak menyentuh akar masalah yang dihadapi. Keimanan yang lurus dan hijrah akan menjadikan jihad oleh suatu kaum mendatangkan kebaikan dengan efektif.

Keimanan bukan hanya ditunjukkan dengan adanya rasa percaya, tetapi juga pengetahuan dan keyakinan tentang adanya kebaikan pada hal-hal yang menjadi objek keimanan mereka. Percaya adanya Allah saja belum tentu menunjukkan seseorang beriman kepada Allah. Iman kepada Allah ditunjukkan dengan adanya pengetahuan dan keyakinan tentang kehendak Allah yang mengarahkan diri mereka pada kebaikan. Keimanan terhadap kitabullah juga ditunjukkan dengan pengetahuan seseorang terhadap kandungan dalam ayat demi ayat kitabullah, bukan sekadar mempercayai bahwa Alquran adalah firman yang diturunkan Allah. Kepercayaan demikian baru merupakan dasar keimanan. Orang-orang yang berserah diri (islam) tidak selalu tergolong sebagai orang-orang beriman. Keislaman ditunjukkan dengan sikap berserah terhadap ketentuan-ketentuan Allah dengan berusaha mengikuti perintah dan laorangan Rasulullah SAW, sedangkan keimanan ditunjukkan dengan adanya cahaya iman dari Allah yang memasuki hati seseorang, sedemikian orang tersebut menjadi beriman.

Pengetahuan dan keyakinan adanya kebaikan ini bukan berupa keyakinan membuta atau dibuat-buat, tetapi karena terbentuknya akhlak yang baik sedemikian seseorang mengerti nilai-nilai kebaikan pada objek yang diimaninya. Dalam jihad, orang beriman melangkah dengan suatu pengenalan terhadap nilai kebaikan dalam jihadnya, bukan melangkah dengan dasar fanatisme. Seseorang boleh saja berjihad berdasar niat hanya berupa persangkaan kebaikan saja, tetapi ia baru dalam kategori muslim, bukan orang beriman. Seorang yang beriman mengenal kebaikan dalam objek yang diimani. Orang beriman tidak mungkin menentang  ayat kitabullah. Orang beriman tidak terjebak pada suatu hal sia-sia atau keburukan yang dibuat indah oleh syaitan kecuali ia mengetahui kesalahan dalam langkahnya. Manakala seseorang terjebak pada hal demikian dan ia memandangnya baik, ia sebenarnya belum beriman dalam urusan tersebut. Akhlaknya belum mampu mengenali kesia-siaan atau keburukan pada urusan tersebut, maka sebenarnya ia belum beriman dalam urusan tersebut.

Ada banyak tingkatan keimanan yang mungkin ada pada seorang mukmin. Belum adanya keimanan tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang kafir. Kekafiran menunjukkan tidak adanya keimanan, tetapi ada banyak tingkatan yang mungkin ditemukan di antara keimanan dan kekafiran. Dalam keimanan-pun sangat banyak adanya tingkatan keimanan. Mungkin seseorang beriman dalam hatinya secara remang-remang saja hingga belum bisa benar-benar mengenali keburukan dan kebaikan pada suatu urusan. Mungkin pula seseorang telah beriman pada urusan-urusan tertentu dan belum beriman pada urusan tertentu lainnya. Keadaan demikian menunjukkan bahwa imannya belum sempurna. Keimanan adalah pengenalan terhadap nilai kebaikan dalam aspek keimanan karena terbentuknya akhlak mulia selaras dengan akhlak yang dikehendaki Allah.

Berhijrah dilakukan dengan berusaha selalu meningkatkan akhlak menuju kemuliaan sedemikian keimanan setiap mukmin menjadi sempurna relatif untuk dirinya sendiri. Kesempurnaan relatif ditandai dengan pengenalan seseorang terhadap untuk apa dirinya diciptakan. Seseorang yang mengenal nafsnya dikatakan telah mengenal rabb-nya. Ini adalah kesempurnaan iman secara relatif. Kesempurnaan iman mutlak ada pada diri Rasulullah SAW di mana beliau SAW mengenal seluruh kebenaran yang hendak diperkenalkan Allah kepada seluruh alam semesta, sedangkan kesempurnaan iman relatif bisa diperoleh oleh orang-orang yang mengenal penciptaan dirinya. Mereka mengenal kehendak Allah setidaknya untuk diri mereka sendiri, dan bisa menunjukkan (sebagian) kehendak Allah bagi orang lain atau umatnya. Mereka mengenal tuntunan Allah terkait urusan yang harus ditunaikannya, dan diberi kemudahan untuk memahami tuntunan Allah yang lain dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka dapat melihat langkah-langkah yang mendatangkan kebaikan bagi diri sendiri dan bagi umat mereka dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap orang beriman hendaknya berhijrah menuju peningkatan kemuliaan akhlak secara lurus.

Fundamen Berjihad dan Pertumbuhannya

Orang yang menyeru jihad di jalan Allah harus memperhatikan keadaan orang yang diseru berdasarkan keimanan dan hijrah mereka. orang yang berjihad di jalan Allah harus membangun pondasi keimanan terlebih dahulu sebagai pijakan untuk berjihad, dan mempunyai keinginan untuk berhijrah mewujudkan kehidupan yang lebih mulia dalam pandangan Allah tidak terus menerus hidup hanya memperturutkan hasrat rendah atau terus hidup tanpa arah. Manakala keimanan umat dalam keadaan ruwet bercampur-campur dengan kebathilan, jihad di jalan Allah akan sulit ditegakkan dengan lurus atau sulit mendatangkan hasil. Keimanan umat harus dibangun terlebih dahulu sedemikian umat mempunyai keimanan yang lurus. Demikian pula umat hendaknya mempunyai visi arah kehidupan yang harus ditempuh dan bisa dicapai sesuai dengan keadaan masing-masing, baik arah yang dekat ataupun cita-cita akhir dekat kepada Allah, tidak terjebak mensikapi keimanan layaknya utopia yang tidak mungkin diraih. Dengan keimanan dan visi melangkah, umat islam hendaknya diseru untuk berjihad.

Jihad di jalan Allah tidak selalu berbentuk peperangan secara fisik. Misalnya kaum khawarij berusaha meruntuhkan islam dengan menyebarkan ajaran tauhid yang mereka buat sendiri, maka ajaran demikian harus diluruskan dengan tauhid yang benar. Demikian pula kaum musyrikin membuat gerakan-gerakan menyemarakkan LGBT hingga bisa meluas di masyarakat agar manusia dan tatanan masyarakat menjadi berantakan, maka mencegah penyebaran waham LGBT merupakan jihad. Melawan hal-hal demikian termasuk jihad di jalan Allah. Pengajaran tauhid yang benar harus ditegakkan di antara kaum beriman terlebih dahulu untuk meluruskan jalan tauhid di antara umat islam. Mustahil menegakkan jihad secara lurus berdasarkan tauhid yang diajarkan oleh kaum khawarij. Muslimin tidak akan mengerti apa yang harus diluruskan dengan jihad manakala mereka tidak mengetahui jalan tauhid yang lurus, sedangkan sangat sulit membangun kemakmuran muslimin manakala tauhid mereka masih sama dengan tauhid kaum khawarij. Jihad menegakkan tauhid dan melawan perusakan masyarakat secara halus termasuk jihad di jalan Allah.

Dewasa ini upaya jihad orang-orang beriman tampaknya sangat lemah karena perhatian kaum mukminin terhadap kebenaran dari sisi Allah terlihat kurang memadai. Sebagian pengajaran kebenaran tampak hanya tersia-sia, dibiarkan tidak dipahami mukminin. Bahkan pengajaran tauhid sekalipun tidak mendapat perhatian yang mencukupi. Kaum munafiq khawarij sedemikian besar berinfaq untuk menyebarluaskan tauhid palsu, sedangkan kaum mukminin tidak terlihat berkeinginan menggali pengetahuan tentang tauhid dan tidak berjihad secara cukup untuk menyebarluaskan tauhid mengikuti Rasulullah SAW. Demikian pula tidak terlihat kaum mukminin berjihad secara sistematis melakukan pembinaan keluarga sebagai bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya, sedemikian gerakan LGBT tidak mempunyai lawan berupa kebenaran yang memadai hingga kesesatan LGBT bisa diterima oleh sebagian masyarakat. Masyarakat sendiri tidak mempunyai visi yang mencukupi seberapa merusaknya LGBT bagi manusia dan tatanan masyarakat sehingga ide LGBT bisa masuk. Melawan dosa-dosa demikian termasuk sebagai jihad di jalan Allah.

Tauhid dan pembinaan bayt merupakan benteng paling fundamental bagi kaum mukminin melawan perusakan akhlak manusia. Apabila kaum mukminin tidak cukup memperhatikan pembinaan fundamen tersebut, akan sangat sulit bagi kaum mukminin untuk memakmurkan bumi dengan amal shalih. Suatu kaum mungkin memandang suatu persoalan tertentu sebagai perusak, tetapi orang yang lain tidak bisa memahami kerusakan yang terjadi karena kurangnya pembinaan tauhid dan arah hijrah yang benar. Banyak masalah dapat timbul dalam jihad di jalan Allah karena kurangnya keimanan dan keinginan berhijrah di antara kaum mukminin. Kadangkala terjadi perselisihan berupa tidak adanya titik temu dalam melihat masalah dalam jihad. Misalnya mungkin sebagian orang beriman mungkin mengeluhkan suatu persoalan tertentu yang tidak diperhatikan oleh mukminin lain, sedangkan mukminin yang lain memperhatikan kebenaran yang lain yang mereka kenali. Mungkin masing-masing mengeluhkan hal yang tidak diperhatikan atau disia-siakan oleh umat manusia. Masing-masing pihak mengeluhkan satu hal dari pihak lain tanpa titik temu di antara keduanya. Persoalan ini bisa terjadi apabila manusia tidak mengerti fundamen-fundamen dalam pembinaan manusia.

Tauhid dan pembinaan bayt harus menjadi perhatian utama pembinaan sebagai fundamen pembinaan akhlak mulia. Kaum yang tidak membina akhlak mulia dengan fundamen yang benar tidak akan memahami ayat Allah yang digelar. Tidak jarang mereka tidak mengenali kebenaran yang disampaikan, dan tidak mempunyai perhatian yang mencukupi terhadap ayat-ayat yang digelar bagi mereka. Demikian pula kaum yang keimanan mereka tumbuh secara menyimpang, mereka mungkin memperhatikan ayat Allah akan tetapi dilakukan secara menyimpang tidak selaras dengan tuntunan Allah. Untuk membangkitkan kepedulian suatu kaum terhadap ayat-ayat Allah, hendaknya dibina keimanan dan keinginan berhijrah pada diri mereka secara benar. Pembinaan keimanan secara keliru akan membengkokkan proses yang seharusnya terjadi di antara kaum mukminin.

Pembinaan keimanan dan keinginan berhijrah harus dilakukan hingga umat menjadi bagian dari al-jamaah yang saling tolong menolong dalam kebaktian dan ketakwaan, tidak saling menjatuhkan satu dengan yang lain. Persoalan demikian seringkali menyentuh dasar pembinaan dan mendatangkan madlarat yang nyata bagi umat. Ketika seorang mukmin, yang biasanya dihormati manusia, menjatuhkan orang lain, orang tersebut akan kehilangan pijakan untuk beramal. Bila yang dijatuhkan adalah seorang mukmin, amr Allah yang ada pada dirinya akan tersia-sia. Kesalahan pembinaan demikian ini seringkali terkait dengan keimanan yang tidak lurus. Bila keimanan yang dibina lurus, seharusnya umat akan terbina dengan sendirinya sebagai kaum yang tolong menolong dalam berbakti dan ketakwaan. Bila keimanan menyimpang, suatu kaum bisa menjadi kaum yang menjatuhkan orang yang berbakti dan bertakwa. Kadangkala tiba-tiba seseorang yang berusaha berbakti dan bertakwa dijatuhkan dari landasan beramalnya tanpa alasan yang dibenarkan, maka jihad di jalan Allah bagi mereka terbengkalai.

Untuk tumbuh sebagai kaum yang berjihad di jalan Allah, pembinaan harus dilakukan dengan tertib dan terintegrasi. Keinginan mengenal kebenaran dan kehendak Allah, shilaturrahmi dengan sesama mukmin hingga terjalin hubungan yang semestinya, membentuk sikap saling tolong menolong kepada sesama mukmin, dan mengembangkan kemampuan mengenal dan memanfaatkan alam semesta, semuanya harus dikembangkan dengan tertib dan terintegrasi untuk dijadikan sebagai bekal jihad. Sebagai dasar, setiap mukmin hendaknya dibina untuk dapat memahami kebenaran dan kehendak Allah dengan benar. Berikutnya, setiap mukmin hendaknya dibina untuk mengenal orang-orang yang juga berjuang untuk mengikuti kehendak Allah hingga terbentuk shilaturrahmi. Shilaturrahmi selain membentuk kekuatan bersama dalam berjihad juga berfungsi menjaga kelurusan langkah di jalan Allah. Beberapa mukmin yang berusaha bersama mengenal kehendak Allah bisa menjadi cermin kelurusan langkah masing-masing satu sama lain. Berikutnya kebersamaan di antara mukminin harus disusun sesuai dengan potensi yang dapat dikenali, sedemikian setiap orang bisa berperan memberikan potensi manfaat masing-masing bagi sahabatnya dan umat manusia secara keseluruhan. Dengan keadaan yang terbentuk melalui pembinaan sebelumnya, mukminin hendaknya melangkah mengenali potensi alam semesta dan memanfaatkannya dengan cara yang sebaik-baiknya, maka jihad dapat ditegakkan dengan baik.

Dewasa ini, tertib dan integrasi pembinaan tampak kurang diperhatikan. Tauhid yang dibuat oleh kaum musyrikin tetap saja digunakan sebagai bahan pengajaran di antara muslimin. Pembinaan keluarga sebagai basis pembinaan shilaturahmi tidak memperoleh perhatian yang memadai dari kaum mukminin dan bahkan cenderung dirusak. Tata bernegara tampak dilaksanakan oleh kaum mukminin tanpa pengetahuan terkait shilaturrahmi, di mana para pejabat hanya mengejar kedudukan dan mencari keuntungan dari kedudukan mereka. Adapun fundamen tata negara yang dikenali oleh mukmin di antara mereka tidak dikembangkan hingga dapat menjadi prinsip operasinal bernegara. Ini merupakan satu tanda kurangnya perhatian kaum mukminin terhadap kebenaran dan shilaturahmi di antara mereka. Kekayaan alam negeri-negeri muslim banyak dimanfaatkan di atas kerakusan tidak memberikan manfaat yang sewajarnya bagi masyarakat luas. Hal demikian harus memperoleh perhatian kaum mukminin. Kaum mukminin harus melakukan pembinaan secara tertib dan terintegrasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar