Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Setelah tiba pada gerbang shirat al-mustaqim, hendaknya seseorang tegak melaksanakan amanah shirat al-mustaqim yang dikenalinya.
﴾۲۱۱﴿فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Maka tegaklah kamu pada jalan yang lurus sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS Huud : 112)
Manakala seseorang mengetahui seruan dari suatu hakikat ayat kitabullah yang dibukakan kepada dirinya, ia mendapatkan perintah untuk tegak di atas shirat al-mustaqim. Perintah (amr) Allah pada ayat di atas merujuk pada kandungan ayat kitabullah yang dibukakan kepada diri seorang hamba sebagai amanah yang harus ditunaikan. Boleh jadi amanah itu juga mempunyai bentuk perintah yang tercerap indera sang hamba Allah, sedangkan perintah itu disertai keterbukaan pemahaman atas ayat kitabullah. Bisa juga amanah itu hanya berbentuk keterbukaan hakikat ayat kitabullah saja yang mengandung perintah-perintah Allah. Penanda penting dari perintah Allah adalah adanya keterbukaan kandungan hakikat dari ayat kitabullah. Terkait pengenalan diri (ma’rifatun-nafs), keterbukaan shirat al-mustaqim terjadi pada orang yang mengenal diri. Tetapi ada batasan khusus yang harus terpenuhi orang yang mengenal diri yang mengenal shirat al-mustaqim. Syaitan pada dasarnya juga mendorong manusia yang dipandangnya potensial dimanfaatkan untuk mendekati pohon khuldi. Ma’rifatun-nafs yang menunjukkan keterbukaan shirat al-mustaqim adalah pengenalan diri yang disertai tanda berupa keterbukaan suatu ayat kitabullah sebagai amanah yang harus ditunaikan.
Perintah tegak di atas shirat al-mustaqim itu tidak hanya berlaku kepada dirinya saja, tetapi juga berlaku bagi orang-orang yang telah menempuh jalan taubat bersama dirinya. Orang-orang yang telah menempuh jalan taubat kepada Allah bersama dirinya hendaknya diseru untuk tegak di atas perintah Allah, dan orang-orang yang bertaubat hendaknya menyambut seruan seseorang yang telah mengetahui gerbang shirat al-mustaqim bagi mereka. Akan banyak yang memahami shirat al-mustaqim dari kalangan orang-orang yang bertaubat manakala mereka mau mengikuti seruan orang yang mengenali gerbang shirat al-mustaqim. Orang yang perlu diseru menuju shirat al-mustaqim adalah orang-orang yang bertaubat bersamanya agar nilai-nilai kebaikan yang diserukan tumbuh subur di antara masyarakat. Kedekatan penyeru dan orang yang diseru dalam kebersamaan akan memudahkan pelaksanaan amanah Allah.
Memahami dengan lurus urusan di shirat al-mustaqim harus dilakukan dengan nafs yang bersih dan akal yang kuat tidak tercampuri dengan dorongan hawa nafsu yang buruk. Orang-orang yang tidak menempuh jalan taubat akan berguncang dan menyimpang manakala kitabullah Alquran dilimpahkan kepadanya karena kebodohan dan kedzaliman nafs mereka. Hanya orang-orang yang telah diberi akal yang kuat di atas akhlak mulia yang mampu menerima limpahan kitabullah Alquran. Orang demikian berasal dari orang-orang yang telah menempuh jalan taubat hingga tahap tertentu yang dekat-dekat dengan orang yang berada di shirat al-mustaqim. Sekalipun Allah belum memberikan keterbukaan ayat kitabullah kepada mereka, akal mereka bisa memahami suatu kebenaran dari sisi Allah dan kebersamaan dengan orang yang diberi keterbukaan diharapkan akan dapat menjaga mereka dari penyimpangan.
Proses taubat harus dilakukan sebelum manusia diseru ke shirat al-mustaqim sedemikian akal mereka mampu dan cukup kuat dalam berpegang pada tuntunan kitabullah alquran dan sunnah Rasulullah SAW, tidak menggantikan kedudukan keduanya dengan hal-hal yang lain. Setiap orang yang diseru hendaknya mempunyai kemampuan untuk merasakan bahwa kebenaran tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW berada pada tingkatan yang tertinggi. Kebenaran petunjuk-petunjuk yang lain hanya berfungsi untuk menunjukkan manusia pada kebenaran yang tertinggi tersebut. Tidak jarang apa yang dianggap manusia sebagai kebenaran kadangkala sebenarnya merupakan penyimpangan. Proses taubat harus dilakukan sedemikian seseorang dapat membenarkan suatu bacaan kebenaran yang dekat dengan tuntunan kitabullah Alquran dibandingkan kebenaran yang hanya merupakan gimik.
Kitabullah dan Batas Diri
Proses taubat harus dilakukan benar-benar untuk menjadikan manusia yang bertaubat dapat memahami penjelasan-penjelasan (al-bayaan) dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW karena sikap demikian akan mengantarkan mereka mendekat pada shirat al-mustaqim. Seandainya belum dibukakan kepada mereka kandungan kitabullah, setidaknya mereka dapat memahami kebenaran yang dibacakan kepada mereka dari kitabullah sehingga dapat melangkah di shirat al-mustaqim bersama orang-orang yang telah sampai pada gerbang shirat al-mustaqim. Tidak sedikit orang yang menempuh jalan taubat tetapi tidak berproses dengan benar untuk dapat mengenali penjelasan-penjelasan yang benar dan dekat dengan hakikat dari kitabullah. Manakala dibacakan penjelasan kitabullah mereka tidak mengenali kebenaran penjelasan itu dan lebih memilih mengikuti waham mereka sendiri.
Penyimpangan demikian mungkin terjadi pada proses taubat atau pada orang-orang yang bertaubat. Bila orang-orang yang bertaubat mendustakan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk mengikuti waham mereka sendiri, proses taubat yang demikian merupakan proses taubat yang gagal. Penyimpangan pada orang tertentu bisa terjadi karena kelemahan nafs. Selain masalah kelemahan nafs, penyimpangan dalam proses memahami amanah Allah juga bisa timbul dari faktor luar seperti syaitan atau ilmu-ilmu setengah benar dan setengah merusak. Syaitan akan menjadikan manusia memandang indah diri mereka sendiri hingga tidak menyadari manakala mereka tersesat dari tuntunan Allah. Seringkali seseorang kemudian memisahkan diri dari al-jamaah.
Ada ilmu-ilmu yang bersifat fitnah yang menyimpangkan langkah taubat. Ilmu itu menampakkan tanda-tanda perkembangan taubat yang baik tetapi sebagian dari ilmu itu mendatangkan kerusakan yang besar. Ilmu Harut Marut misalnya, ilmu demikian itu mungkin akan memunculkan suatu tanda perkembangan taubat yang baik tetapi sebenarnya mengandung potensi kerusakan yang sangat besar. Ikhtisar dari tanda perjalanan taubat manusia mungkin akan tampak pada seseorang yang menggunakan ilmu Harut dan Marut, tetapi penjabaran dari ikhtisar tersebut menyimpang dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Misalnya mungkin seseorang memperoleh suatu pengetahuan tentang penataan umat, tetapi justru pada pelaksanaannya merusak rumah tangga sebagai inti dari penataan umat manusia.
Ilmu-ilmu demikian harus dihindari oleh orang-orang yang bertaubat. Kerusakan yang ditimbulkan oleh ilmu demikian sebenarnya bisa sangat luas, bukan sekadar seseorang yang tertipu. Orang-orang mungkin akan merasa berkembang sebagai orang-orang yang bertaubat tetapi sebenarnya tidak menempuh arah taubat yang benar. Tanda-tanda yang tumbuh pada diri mereka sebagian menunjukkan perkembangan taubat yang baik tetapi justru pada bagian inti terjadi kerusakan. Sangat sulit mendeteksi penyimpangan yang terjadi akibat ilmu demikian kecuali apabila seseorang berpegang teguh kepada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala seseorang lebih mempercayai pendapat dirinya, ia akan tertipu dengan ilmu tersebut. Hanya kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW yang dapat mengungkap kelemahan pada ilmu Harut dan Marut.
Pemahaman terhadap tuntunan ayat kitabullah yang merupakan pengantar menuju shirat al mustaqim yang harus dibina dengan sebaik-baiknya sedemikian hingga setiap orang yang mengikuti langkah di shirat al-mustaqim mengerti tentang batas diri mereka dalam melaksanakan amr Allah tidak melampauinya. Manakala tidak disertai pemahaman terhadap ayat kitabullah, seseorang yang berusaha beramal shalih dengan mengenal diri bisa saja tidak mengerti batas-batas diri. Objek dari perintah ayat kitabullah harus dipahami dengan benar oleh setiap orang, dan masing mengetahui batas-batas yang harus dipatuhi. Ada pagar-pagar terluar berupa batasan urusan Allah dan setiap orang harus berada di dalam batas pagar-pagar urusan itu. Ada pula pintu jalan yang diharamkan yang tidak boleh dilalui, manakala seseorang melalui pintu keharaman itu maka ia akan celaka. Seseorang yang tidak mengenal batas diri seringkali tidak mengerti bahwa dirinya telah merusak sunnah Rasulullah SAW dan bahkan ketika menentang firman Allah.
Dalam agama, setiap orang hendaknya berusaha memahami cita-cita Rasulullah SAW bagi umatnya dan membantu terwujudnya cita-cita tersebut dengan memahami jati diri dan memahami batas-batas dirinya di antara al-jamaah. Batas-batas diri itu dapat diibaratkan suatu pemerintahan negara. Seorang presiden melaksanakan pemerintahan untuk mewujudkan keadilan dan kemakmuran di negerinya. Ia dibantu dengan menteri-menteri, panglima, para gubernur, bupati dan seluruh jajaran dalam pemerintahannya. Masing-masing mempunyai lingkup tugas dan wewenang membantu presiden mewujudkan cita-cita berbangsa. Tidak boleh ada seorangpun menteri atau seseorang dalam jajaran pemerintahan yang membangun loyalitas kepada begal negara, dan atau membuat kebijakan yang merugikan pihak lain baik sejawatnya anak buahnya ataupun masyarakat luas. Seluruh jajaran, gubernur dan komponen masyarakat lainnya harus berusaha bekerja secara sinergis, tidak boleh saling merugikan antara warganya ataupun warga propinsi lainnya dengan kebijakan yang buruk. Demikian itu gambaran tentang batas-batas yang tidak boleh dilampaui. Setiap orang hendaknya berusaha memahami cita-cita Rasulullah SAW bagi umatnya dan membantu terwujudnya cita-cita tersebut dengan memahami jati diri dan memahami batas-batas dirinya di antara al-jamaah. Ia tidak melanggar batas itu terhadap atasannya, terhadap rekan sejawatnya ataupun terhadap orang-orang yang mengikuti dirinya.
Mendengarkan Pengajaran
Mengenal batas-batas diri di antara al-jamaah dapat dilakukan dengan berusaha memahami amanah dari kitabullah Alquran hingga mengenal bentuk amanah yang diberikan kepada dirinya, dan juga mengenal shahabatnya atau washilahnya. Mengenal orang-orang dekatnya akan sangat membantu pengenalan batas-batas diri. Hal demikian dimulai dari mengikuti seruan orang lain ke gerbang shirat al-mustaqim. Apabila orang-orang bertaubat mengabaikan seruan untuk menuju gerbang shirat al-mustaqim, mereka akan sulit menemukan jati diri dan batas-batas dirinya. Gerbang shirat al-mustaqim itu sebenarnya merupakan gerbang bersama orang yang dibukakan amanahnya dan orang-orang yang bertaubat bersamanya.
Sikap mengabaikan seruan menuju gerbang shirat al-mustaqim menjadikan manusia terjerat sebagai orang-orang yang musuh Allah, orang dzalim atau setidaknya mereka menjadi golongan orang-orang yang mengabaikan Alquran.
﴾۲۲﴿وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنتَقِمُونَ
Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang benar-benar telah diberi pengajaran ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan menjadi musuh bagi para pendosa (QS As-Sajdah : 22)
Ayat di atas berbicara tentang sikap manusia terhadap pengajaran tentang ayat Allah. Secara tersirat, ayat ini terkait dengan orang-orang yang sebenarnya layak untuk diberi pengajaran ayat-ayat Allah akan tetapi mereka bersikap berpaling dari pengajaran tersebut. Secara umum, pengajaran ayat Allah harus dilakukan dengan cara-cara tertentu disesuaikan dengan orang-orang yang mendengarnya. Pentaubat yang diseru untuk melangkah di shirat al-mustaqim termasuk dalam kategori demikian, mereka benar-benar diberi pengajaran tentang ayat-ayat Allah tentang shirat al-mustaqim untuk ruang dan jamannya. Manakala seseorang mengajarkan ayat-ayat Allah kepada orang lain, orang-orang yang diajar itu sebenarnya dinilai telah layak menerima pengajaran itu. Bila orang yang diajar berpaling dari pengajaran itu, maka mereka yang berpaling itu adalah orang-orang yang paling dzalim.
Berpaling adalah mengarahkan wajah menuju sesuatu yang lain. Berpaling dari pengajaran ayat-ayat Allah menunjukkan bahwa seseorang memilih mengikuti pengajaran selain dari ayat-ayat Allah. Banyak tingkatan kebenaran yang datang pada setiap diri manusia, dari kebenaran hakikat dari sisi Allah berupa albayaan yang diajarkan Arrahman kepada seorang hamba, kebenaran tafsir mengikuti firman Allah, kebenaran-kebenaran gimmik menggunakan firman Allah hingga dosa-dosa yang diubah menjadi kebenaran-kebenaran subjektif orang-orang tertentu. Pengajaran kebenaran yang paling benar bagi manusia pada umumnya berbentuk al-bayaan. Firman Allah dalam Alquran berada di atas tingkatan pengajaran karena berfungsi sebagai parameter kebenaran, dan tidak setiap orang dapat memahami firman tersebut secara langsung. Manakala seseorang memperoleh pengajaran dalam bentuk al-bayaan kemudian berpaling mengikuti kebenaran yang tidak jelas, ia termasuk dalam golongan orang-orang yang paling dzalim.
Faktor utama keberpalingan adalah kurangnya keikhlasan dalam beribadah kepada Allah. Seringkali seseorang berusaha mencari kebenaran tetapi tidak benar-benar ikhlas untuk ibadah kepada Allah sehingga mereka hanya mengikuti perkataan-perkataan orang, baik diri sendiri ataupun orang lain, kurang iktikad untuk mengikuti firman Allah. Kadangkala seseorang mempunyai keikhlasan tetapi kembali menjadi pupus dengan pengetahuan yang salah. Kurang ikhlas atau pupusnya keikhlasan itu akan menjadikan seseorang tidak mengikuti firman Allah. Ketika hakikat dari firman Allah yang disampaikan kepadanya dapat terpahami, mereka memilih mengikuti perkataan makhluk daripada firman Allah. Sama saja keadaan orang demikian baik ia memahami atau tidak memahami. Pahamnya terhadap firman Allah tidak lebih baik daripada tidak pahamnya karena ia berpaling dari pengajaran ayat-ayat Allah ketika dapat memahami.
Keberpalingan seseorang dari pengajaran ayat Allah akan menjadikannya sebagai golongan pendosa dan mendatangkan sikap permusuhan Allah. Allah menjadikan diri-Nya musuh bagi orang-orang yang berpaling dari pengajaran ayat-ayat Allah karena dosa-dosa mereka. Langkah yang akan mereka lakukan setelah itu sebenarnya akan mendatangkan kesulitan bagi umat manusia berupa dosa-dosa, dan langkah-langkah itu menjadi lawan bagi orang-orang yang berkeinginan untuk mewujudkan kehendak Allah. Banyak di antara pikiran orang-orang berpaling dari pengajaran ayat Allah itu bertentangan dengan kehendak Allah, dan juga langkah mereka berlawanan dengan langkah yang perlu dilakukan orang-orang yang menghambakan diri kepada Allah, maka Allah menyatakan diri-Nya sebagai musuh bagi mereka. Pembalasan permusuhan itu mungkin dilakukan saat itu juga, atau ditunda di dunia hingga waktu yang ditentukan, atau dibalaskan di akhirat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar