Pencarian

Minggu, 12 Oktober 2025

Mensyukuri Pendengaran Bashirah dan Fu’ad

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Allah menjadikan nabi Muhammad SAW sebagai rasulullah yang merupakan makhluk yang dapat memberikan penjelasan terhadap asma Allah dengan cara yang terbaik. Setiap orang hendaknya berusaha memahami kebenaran dalam bentuk citra dari ma’rifat Rasulullah SAW tanpa menyimpang, dan membantu terwujudnya ma’rifat tersebut dengan memahami jati diri dan memahami batas-batas dirinya di antara al-jamaah. Sikap demikian akan mendatangkan kebaikan yang sangat banyak dalam kehidupan di bumi dan seluruh alam semesta. Manakala seseorang tidak mengenal citra dari ma’rifat Rasulullah SAW, mereka tidak akan melahirkan kebaikan dalam kehidupan. Kadangkala seseorang atau suatu kaum berusaha mewujudkan kebaikan di bumi dengan jalan mereka sendiri, maka mereka selalu terkalahkan atau bahkan berbuat kerusakan.

Akal dan Indera Bathin

Kaum ‘Aad bisa menjadi contoh bagaimana kerusakan menimpa umat manusia karena mereka menempuh jalan mereka sendiri tidak berusaha untuk memahami dan mengikuti petunjuk Allah. Allah telah menjadikan mereka kaum yang teguh kedudukannya di bumi lebih baik daripada manusia lainnya. Tidak hanya keteguhan kehidupan di bumi, kaum ‘Aad merupakan kaum yang telah diberi pendengaran, penglihatan dan fu’ad-fu’ad. Di jaman ini, kaum demikian dapat dibayangkan sebagai kaum yang kokoh dan spiritualis. Kenyataannya mereka kemudian ditimpa adzab Allah.

﴾۶۲﴿وَلَقَدْ مَكَّنَّاهُمْ فِيمَا إِن مَّكَّنَّاكُمْ فِيهِ وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْئِدَةً فَمَا أَغْنَىٰ عَنْهُمْ سَمْعُهُمْ وَلَا أَبْصَارُهُمْ وَلَا أَفْئِدَتُهُم مِّن شَيْءٍ إِذْ كَانُوا يَجْحَدُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَحَاقَ بِهِم مَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِؤُونَ
Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit-pun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka diliputi oleh apa yang mereka memperolok-olokkannya. (QS Al-Ahqaaf : 26)

Spiritualitas yang disebut di atas berbentuk kekuatan bathin berupa kekuatan pendengaran, penglihatan dan fu’ad. Pada umumya kekuatan bathin demikian dibangun dengan mengikuti syariat penggembalaan jasmaniah dan hawa nafsu. Baiknya spiritualitas suatu kaum tidak bisa dijadikan ukuran bahwa kaum tersebut akan selamat. Spiritualitas harus disertai dengan iktikad mengikuti kehendak Allah. Ayat ini menegaskan bahwa spiritualitas yang tampak pada suatu kaum tidak selalu berkorelasi dengan keselarasan terhadap kehendak Allah. Demikian pula kekokohan kedudukan suatu kaum dalam kehidupan di bumi tidak selalu berkorelasi dengan keselarasan terhadap kehendak Allah. Spiritualitas bisa berjalan sendiri tanpa selaras dengan kehendak Allah dan hal demikian bisa menyebabkan suatu kaum menjadi celaka. Demikian pula kekokohan kedudukan di bumi tidak selalu berkorelasi dengan keselarasan terhadap kehendak Allah, dan hal itu bisa menyebabkan suatu kaum celaka. Barangkali spiritualitas itu berkorelasi lebih kuat dengan kokohnya kehidupan di bumi daripada keselarasan dengan kehendak Allah, tetapi Allah tidak menghendaki kekokohan kedudukan di bumi dengan spiritualitas tanpa keinginan mengabdi dengan melaksanakan kehendak Allah.

Membangun kekokohan kehidupan dunia pada dasarnya dapat dilakukan dengan membangun spiritualitas bangsa, tetapi upaya itu harus disertai pula dengan keinginan untuk mentaati kehendak Allah. Manakala suatu kaum membina spiritualitas diri, mereka akan lebih mempunyai kekuatan untuk mencapai kedudukan yang kokoh di bumi. Tanpa spiritualitas, manusia akan lambat bertumbuh atau tumbuh liar layaknya binatang ternak yang tidak bisa membangun suatu sinergi antara satu orang dengan yang lain atau bahkan mendatangkan madlarat antara satu pihak dengan pihak lainnya. Kekokohan kehidupan di bumi dapat dibangun dengan membina spiritualitas bangsa, tetapi hal itu tidak menjadi jamninan bahwa suatu kaum akan selamat. Keselamatan suatu kaum dengan membangun spiritualitas hanya ditemukan pada adanya keinginan untuk mentaati Allah.

Spiritualitas yang benar harus dibangun untuk mentaati kehendak Allah dengan landasan pemahaman yang benar. Di jaman ini, iktikad mengikuti kehendak Allah harus diwujudkan melalui ketaatan pada tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Tanpa mengikuti Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, membangun spiritualitas di kalangan umat islam dapat berbalik mendatangkan kebinasaan. Membina spiritualitas harus dilakukan dengan mengikuti langkah Rasulullah SAW dan dimanfaatkan untuk mewujudkan cita-cita Rasulullah SAW bagi umatnya dengan berlandaskan tuntunan kitabullah Alquran. Membina spiritualitas tidak boleh digunakan hanya untuk membangun kekokohan kehidupan duniawi tanpa suatu keinginan menyatukan diri dalam Al-jamaah yang disegel dengan kebenaran ajaran Rasulullah SAW.

Pembinaan spiritualias yang benar secara ideal harus terlihat wujudnya dalam bentuk amal shalih, berupa amal yang terlahir mengikuti pemahaman terhadap tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Barangkali tidak semua orang bisa beramal atau memahami kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW secara mandiri, tetapi ia bisa memikirkan kebenaran dari ayat yang dibacakan kepadanya, maka langkah demikian termasuk mengikuti kitabullah dan merupakan bayangan pembinaan spiritualitas yang benar. Tentu saja amal demikian akan mendatangkan kekokohan dalam kehidupan dunia, tetapi amal itu lebih bertujuan untuk beribadah kepada Allah bukan untuk kemegahan dunia. Manakala kehidupan dunia justru menjadi rapuh, boleh jadi pemahaman yang diikuti keliru. Rapuh dalam hal ini menunjukkan kehidupan tanpa makna dan kebaikan, termasuk dalam hal ini pemaknaan-pemaknaan kosong tentang kehidupan. Sekalipun kehidupan dunia dijadikan tampak berantakan, seseorang yang beramal shalih dengan pemahaman yang benar tidaklah rapuh karena sebenarnya hidup dengan kokoh dengan pondasi pemahamannya.

Manakala kekuatan bathiniah tidak digunakan untuk memahami dan beramal shalih sesuai dengan kehendak Allah, kekuatan-kekuatan bathiniah itu tidak memberikan manfaat kepada orang-orang yang diberi. Manusia yang memperoleh kekuatan itu akan menyimpang dengan kesesatan yang sangat jauh dari kebenaran karena kekuatannya. Mereka mungkin saja akan menentang ayat-ayat Allah baik ayat-ayat kauniyah ataupun ayat-ayat kitabullah dengan persepsi-persepsi mereka sendiri melalui pendengaran, penglihatan dan akal yang diberikan kepada mereka. Mereka mungkin akan menganggap persepsi bathiniah mereka sebagai yang paling benar dan orang-orang yang lain tidak benar sehingga ayat kauniyah yang telah tampak jelas bagi orang lain kebenarannya tetap dianggap salah. Bahkan bukan tidak mungkin kekuatan bathiniah mereka menjadikan mereka menentang firman-firman Allah dalam kitabullah menyangka indera mereka lebih benar daripada firman Allah.

Hal demikian akan menyebabkan suatu kaum tidak dapat tumbuh dan melangkah maju mengikuti kebenaran. Orang-orang yang diberi kekuatan dan pengetahuan lebih sedikit mungkin harus mengalah dalam pendapat-pendapat orang yang inderawinya kuat sedangkan pengetahuan mereka merupakan kebenaran atau benih-benih kebenaran hingga kebenaran yang mungkin mereka kenali tidak dapat tumbuh menjadi kebaikan bagi kaum tersebut. Demikian pula orang-orang yang mengenali amal-amal shalih yang seharusnya ditunaikan mungkin harus terhalang untuk beramal shalih atau mengupayakan suatu jalan keluar yang bermanfaat bagi kaumnya. Kaum yang bergantung atau mempertuhankan kekuatan indera bathiniah mereka tidak akan memperoleh manfaat sedikitpun dengan sikap menggantungkan diri pada kekuatan bathiniah diri mereka. Setiap orang harus berusaha memahami kehendak Allah dengan kekuatan bathiniah yang diberikan, dan kehendak Allah itu adalah yang tertulis dalam kitabullah Alquran serta selaras dengan kauniyah yang terjadi.

Tetap Lurus dengan Indera Bathin

Kesesatan karena kekuatan bathiniah yang diberikan bisa terjadi karena sebab intrinsik berupa kebodohan hawa nafsu ataupun karena sebab ekstrinsik berupa tipuan syaitan. Manakala memperoleh kekuatan bathiniah, hawa nafsu mungkin menyangka bahwa mereka mempunyai kecerdasan yang lebih dalam memahami kebenaran hingga mereka lupa berpegang pada tuntunan yang diturunkan Allah. Sikap demikian bisa terjadi hingga seseorang justru mempertuhankan hawa nafsu diri mereka, menganggap segala sesuatu yang dipersepsi kekuatan bathiniah mereka merupakan bentuk kesatuan kebenaran diri dengan Allah sedemikian mereka bisa justru menentang firman-firman Allah untuk mengikuti persepsi diri. Syaitan sangat menyukai orang-orang demikian dan akan membantu memberikan petunjuk-petunjuk dengan menyelipkan kesesatan-kesesatan dengan sangat halus sedemikian manusia akan mempersepsi bahwa petunjuk-petunjuk itu benar-benar sebagai petunjuk Allah. Selain cara itu, syaitan selalu ingin dan berusaha memasukkan visi-visi kepada orang-orang yang mempunyai indera bathiniah.

Kesesatan demikian itu bisa terjadi secara meluas tidak hanya terjadi atas perseorangan. Seseorang yang tersesat kemudian diikuti oleh masyrakat. Orang-orang yang mengikuti mereka seringkali meninggalkan ajaran-ajaran yang sebenarnya dapat dipahami dengan mudah sebagai penjabaran yang benar dari firman Allah untuk mengikuti perkataan-perkataan yang dikatakan sebagai perintah Allah sedangkan mereka tidak dapat memahami kebenaran perkataan itu. Mungkin mereka tidak dapat memahami hubungan perkataan itu dengan ayat kitabullah ataupun ayat kauniyah dengan kecerdasan yang dimiliki, tetapi terpaksa meyakini kebenaran perkataan itu karena label kebenaran yang disematkan pada perkataan. Kadangkala mereka membalik-balik logika untuk dapat memahami. Manakala mereka memilih meninggalkan firman Allah dalam Alquran untuk mengikuti perkataan mereka, maka itu tanda yang jelas bahwa mereka itu telah mempertuhankan hawa nafsu atau mempertuhankan manusia. Kadang tanda yang jelas itu tidak tampak, tetapi sebenarnya suatu kaum sebenarnya telah terjebak mempertuhankan hawa nafsu. Hal-hal demikian lebih sering dan mudah terjadi pada kaum yang diberi Allah kekuatan-kekuatan bathin berupa pendengaran, mata dan fuad.

Kaum mukminin harus berhati-hati dengan kekuatan bathiniah yang diberikan kepada mereka dengan selalu memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam melangkah. Perintah Allah yang benar hanyalah apa-apa yang ditemukan landasannya dari kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, tidak boleh diyakini kebenarannya berdasar persepsi kekuatan bathiniah yang diberikan. Hal ini tidak menunjukkan bahwa semua persepsi kekuatan bathiniah selalu menyimpang dari tuntunan Allah, tetapi lebih menjelaskan tingkat kepentingan dalam membina akal memahami kehendak Allah. Apa yang tertera dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW itu akan lebih memperkuat akal dan lebih benar dibandingkan kebenaran apapun, dan kebenaran yang lain itu hanya tangga untuk memahami tuntunan Allah. Memahami kehendak Allah tidak boleh terjadi secara terbalik atau bercampur dengan kehendak syaitan, dan hendaknya dijauhkan dari pengaruh hawa nafsu. Terlalu banyak mengikuti persepsi kekuatan bathiniah boleh jadi akan melemahkan kekuatan akal dalam memahami dengan benar kehendak-Nya. Seluruh persepsi bathiniah yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hendaknya dibuang jauh tidak boleh diikuti, karena hal itu menjadikan manusia mempertuhankan hawa nafsu atau mempertuhankan manusia.

Kehati-hatian ini harus lebih diperhatikan manakala kekuatan bathiniah di antara umat sangat kuat. Boleh jadi Allah menurunkan urusan penjelasan distingsi masalah pembinaan akal dengan masalah kekuatan bathiniah kepada salah seorang di antara mereka. Urusan demikian mungkin saja justru diturunkan kepada orang-orang yang kekuatan bathiniahnya lemah atau justru dilemahkan Allah dan hanya mempunyai iktikad berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Apabila hal ini terjadi, mengikuti tuntunan Allah hanya bisa dilakukan dengan mengikuti berpegang teguh pada tuntunan Allah, dan harus dengan meninggalkan kekuatan bathiniah yang keliru atau lemah dalam memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Masalah kelemahan indera bathiniah itu dan kesalahan-kesalahan manusiawi yang ditimbulkannya tidak akan menjadikan mereka penentang Allah karena sebenarnya Allah sedang menjelaskan pentingnya membina akal dibandingkan membina kekuatan indera bathiniah, agar umat manusia memahami kedudukan keduanya dengan tepat. Kekuatan bathiniah justru bisa menjadi sumber kesesatan yang sangat jauh apabila tidak digunakan dengan tepat oleh orang-orang beriman.

Kehancuran akan terjadi apabila suatu kaum membantah ayat-ayat Allah yang dibacakan kepada mereka karena mengikuti persepsi kekuatan bathiniah mereka, dan memperolok-olokkan pembacaan ayat-ayat Allah. Pada firman Allah di atas, olok-olok itu tidak dibatasi terhadap ayat Allah saja, tetapi juga segenap olok-olok terkait dengan ayat-ayat Allah. Mungkin mereka tidak memperolok-olok ayat Allah secara langsung tetapi memperolok-olok orang yang menyampaikan ayat-ayat Allah maka itu termasuk olok-olok yang dimaksud ayat di atas. Sebenarnya perbuatan demikian akan membuat orang yang memperolok-olok tidak dapat memahami ayat-ayat Allah yang dibacakan. Boleh jadi yang memperolok itu juga merasa sebagai orang yang membaca ayat-ayat Allah tetapi tidak bisa memahami ayat-ayat Allah yang dibacakan karena mereka memperolok-olok pembacanya dengan kekuatan bathiniah pada diri mereka. Karenanya mereka membantah ayat Allah. Dalam banyak hal, olok-olok yang mereka lakukan itu sebenarnya merupakan celaan yang seharusnya diarahkan pada keadaan diri mereka sendiri, sedangkan objek olok-olok itu merupakan cermin yang memantulkan keadaan diri mereka. Ketercelaan itu merupakan suatu satu hal yang akan menjadi siksa atas suatu kaum yang membantah ayat-ayat Allah.

Seringkali ketercelaan suatu kaum tersembunyikan dalam keteguhan kedudukan dalam kehidupan dunia. Karena keteguhan kedudukan, mereka tidak dapat melihat ketercelaan dalam diri mereka dan tidak memperoleh cermin untuk itu. Dalam keadaan itu, olok-olok mereka itu sebenarnya cermin bagi mereka. Hanya saja kadangkala perlu informasi yang cukup untuk memahami bahwa olok-olok yang mereka perbuat itu merupakan cermin bagi diri yang akan diketahui apabila seseorang mau menerima kebenaran dari ayat Allah. Apabila suatu kaum lebih meyakini kekuatan bathiniah mereka sendiri dibandingkan ayat-ayat Allah, mereka tidak akan menyadari keberadaan cermin tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar