Pencarian

Minggu, 19 Oktober 2025

Menapaki Shirat Al-Mustaqim

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Jalan untuk menjadi hamba yang didekatkan itu adalah shirat al-mustaqim (jalan yang lurus). Shirat al-mustaqim merupakan jalan terpendek yang dapat ditempuh setiap hamba Allah untuk menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah. Penyeru manusia di gerbang shirat al-mustaqim itu adalah kitabullah Alquran. Ini adalah ayat kitabullah Alquran yang dibukakan kepada seorang hamba Allah, maka ayat itu menjadi penyeru kepada hamba itu untuk memasuki shirat al-mustaqim.

﴾۱﴿إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا
﴾۲﴿لِّيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُّسْتَقِيمًا
(1)Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu keterbukaan yang menjelaskan, (2) supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memberi kamu petunjuk kepada jalan yang lurus, (QS Al-Fath : 1-2).

Ayat di atas bercerita tentang gerbang shirat al-mustaqim berupa keterbukaan makna suatu ayat tertentu dari kitabullah Alquran yang merupakan amanah bagi yang memperolehnya. Keterbukaan itu berupa pengetahuan hakikat suatu ayat kitabullah, bukan sekadar pengetahuan dalam tingkatan tafsir ayat kitabullah. Dengan keterbukaan yang diberikan kepada dirinya, seseorang menjadi mengetahui perintah Allah bagi dirinya dan mengetahui keadaan-keadaan kauniyah yang terjadi di semesta dirinya sesuai dengan tuntunan kitabullah tersebut. Ia melihat kesatuan antara ayat Allah pada kauniyah dirinya dengan ayat dalam kitabullah, dan mengetahui peran dirinya di antara ayat-ayat Allah yang terbuka.

Seseorang yang mengalami keterbukaan makna hakikat dari suatu ayat kitabullah yang menjadi amanah dirinya berarti telah tiba pada gerbang shirat al-mustaqim. Hal ini dijelaskan pada ayat kedua surat di atas. Keterbukaan makna ayat-ayat Allah itu menunjukkan kepada seseorang amal-amal yang menjadi jalan penebusan dosa-dosa dirinya baik dosa di masa lalu ataupun dosa pada masa yang akan datang, amal-amal yang merupakan jalan penyempurnaan nikmat Allah bagi dirinya, dan sebagai petunjuk menuju jalan yang lurus. Keadaan ini tidak menunjukkan bahwa seseorang telah diampuni segenap dosanya, disempurnakan nikmat Allah atasnya ataupun telah berada di shirat al-mustaqim, tetapi menunjukkan bahwa ia diberi pengetahuan apa-apa yang dijanjikan tersebut. Ia akan mengetahui amal-amal yang menjadi kehendak Allah sebagaimana tersebut pada ayat yang terbuka dan ia akan memperoleh hal-hal itu apabila ia melaksanakan amal-amal yang terbuka tersebut.

Dalam hal nikmat Allah, ia telah tergolong sebagai orang yang telah memperoleh nikmat Allah manakala memperoleh keterbukaan, akan tetapi penyempurnaan nikmat Allah akan terjadi mengikuti amal-amal shalihnya. Artinya, ia telah mengetahui dengan tepat jalan yang lurus yang harus ditempuh, mengetahui kedudukan suatu kebenaran dengan setimbang tetapi sebenarnya masih banyak nikmat Allah yang dapat ia temukan dalam proses berikut apabila ia menempuh jalan yang lurus. Kesempurnaan nikmat Allah terdapat dalam seluruh kandungan kitabullah Alquran yang telah selesai diturunkan pada waktu haji wada’. Ia dikatakan telah mengenal untuk apa dirinya diciptakan dengan benar. Apabila ia menyimpang dari yang ditunjukkan, ia akan celaka dan apabila ia tidak melaksanakan amal-amal yang ditentukan bagi dirinya ia akan menjadi hamba yang sia-sia saja tidak menjadi dekat kepada Allah.

Pelaksanaan amal tidak selalu ditunjukkan dengan hasil yang diperoleh. Kadang seseorang berusaha keras melaksanakan amal yang ditentukan tetapi tidak mendatangkan hasil yang memadai di alam mulkiyah. Secara nalar, semestinya amal-amal di shirat al-mustaqim akan mendatangkan buah-buah yang sangat menyenangkan tetapi secara realitas upaya demikian tidak selalu berbuah dengan baik. Sekalipun kandungan amal-amal yang dilakukannya sangat baik, mungkin tidak semua orang dapat menerima kebaikannya maka kebaikan yang diusahakan orang tersebut tidak mendatangkan hasil. Ada jalan tertentu yang seharusnya ditempuh untuk memperoleh hasil yang baik di alam mulkiyah yaitu membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, tetapi kadangkala syaitan memperoleh jalan untuk menghalangi upaya seseorang membentuknya. Apabila telah berusaha dengan menempuh jalan terbaik, seseorang hendaknya tidak terlalu memikirkan hasil buahnya dan hendaknya ia bertawakkal kepada Allah.

Mengenal diri dengan benar adalah keterbukaan shirat al-mustaqim, ditandai dengan keterbukaan makna hakikat ayat Allah, tidak melalui cara yang lain. Pengenalan diri tanpa disertai keterbukaan hakikat suatu ayat Allah tidak menunjukkan telah tibanya di shirat al-mustaqim. Boleh jadi pengenalan diri yang terjadi tanpa keterbukaan makna ayat tidak meleset dari fitrah yang benar, tetapi tidak menunjukkan telah tibanya di shirat al-mustaqim. Mungkin ia mengetahui untuk apa diciptakan tetapi tidak mengetahui apa dan bagaimana perintah Allah secara tepat. Pengenalan diri di shirat al-mustaqim benar-benar ditandai dengan keterbukaan makna hakiki dari ayat-ayat Allah berupa ayat dalam firman Allah dan ayat kauniyah. Boleh jadi tidak semua ayat Allah terbuka tetapi hanya bagian khusus yang menjadi amanah dirinya, dan bagian-bagian lain akan terbuka mengikuti amal yang dilakukannya sesuai dengan perintah Allah. Yang penting diperhatikan, pengenalan diri yang sesungguhnya selalu ditandai dengan terbukanya suatu makna hakiki dari ayat kitabullah selaras dengan kauniyah yang terjadi.

Mengikuti Langkah di Shirat Al-Mustaqim

Setelah tiba pada gerbang shirat al-mustaqim, hendaknya seseorang tegak melaksanakan amannah shirat al-mustaqim yang dikenalinya.

﴾۲۱۱﴿فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Maka tegaklah kamu pada jalan yang lurus sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS Huud : 112)

Perintah tegak di atas shirat al-mustaqim itu tidak hanya berlaku kepada dirinya saja, tetapi juga berlaku bagi orang-orang yang telah menempuh jalan taubat bersama dirinya. Orang-orang yang telah menempuh jalan taubat kepada Allah bersama dirinya hendaknya diseru untuk tegak di atas perintah Allah, dan orang-orang yang bertaubat hendaknya menyambut seruan seseorang yang telah mengetahui gerbang shirat al-mustaqim bagi mereka. Orang-orang yang lain bisa mengikuti langkah orang tersebut agar ia lebih mudah mengalami keterbukaan makna hakikat suatu ayat kitabullah yang menjadi amanah dirinya, maka ia akan lebih mudah mengenali gerbang agamanya.

Semestinya umat islam terutama orang-orang yang bertaubat akan mudah mengenali shirat al-mustaqim manakala ada seseorang di antara mereka telah mengenal diri, akan tetapi hal ini hanya terjadi apabila dilakukan proses yang benar. Umat harus membina keikhlasan dalam ibadah kepada Allah. Para Syaikh mempunyai peran sangat besar dalam membentuk umat yang bisa memahami shirat al-mustaqim. Ada hubungan timbal balik yang harus dijaga sang syaikh dan murid, yaitu syaikh harus membina akal para murid agar dapat tumbuh lurus memahami tuntunan Allah, dan murid harus belajar menggunakan akal untuk memahami pengajaran syaikh. Mempersiapkan akal untuk tumbuh dan dapat memahami akan terjadi bila ada keikhlasan pada diri murid.

Mengikuti langkah seseorang di shirat al-mustaqim hanya dapat dilakukan dengan memperhatikan dan melaksanakan ayat-ayat Allah dalam kitabullah yang diamanahkan, tidak bisa dilakukan hanya dengan mengikuti saja perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh orang yang mengenal shirat al-mustaqim. Mengikuti langkah di shirat al-mustaqim adalah berbuat melaksanakan kehendak Allah, bukan mengikuti perbuatan makhluk. Penisbatan suatu amal sebagai perintah Allah harus dilakukan dengan menunjuk ayat kitabullah yang ditunaikan. Banyak orang yang mudah ditipu dengan sesuatu yang dikatakan sebagai perintah Allah tanpa memahami hubungan sesuatu itu dengan kitabullah. Tidak jarang sesuatu yang membahayakan umat manusia dianggap sebagai perintah Allah oleh orang yang bodoh. Orang-orang yang berakal-lah yang dapat mengikuti langkah di shirat al-mustaqim. Karena hubungan demikian seringkali seorang syaikh tidak dapat menyeru para murid untuk segera melangkah di shirat al-mustaqim walaupun ia menginginkannya. Sang syaikh harus membina akal para murid terlebih dahulu sebagai pendahuluan untuk menyeru mereka beramal di shirat al-mustaqim dirinya.

Apabila para murid bisa memahami bimbingan syaikhnya dengan benar, mereka akan mudah mengetahui shirat al-mustaqim. Kenyataannya seringkali para murid tidak dapat memahami langkah yang diserukan sang syaikh. Kadangkala sang syaikh telah mengulang-ulang membaca ayat kitabullah yang merupakan amr kepada sang syaikh tetapi tidak membuat para murid mengerti karena murid tidak menggunakan akalnya. Seringkali tidak ada keberanian pada diri murid untuk mengetahui dengan tepat perintah Allah. Ini menunjukkan kurangnya keikhlasan pada diri murid. Sang syaikh mengharap para murid memahami ayat yang merupakan amanah, tetapi para murid tidak mempunyai keberanian berusaha memahami terkurung dalam waham yang mereka bangun sendiri. Kadangkala murid memperhatikan sang syaikh tetapi tidak memperhatikan perintah Allah. Apabila para murid mempunyai keberanian belajar memahami dengan lurus, sang syaikh akan merawatnya dari pengetahuan atau sikap yang keliru.

Kemudahan mengenal shirat al-mustaqim sebenarnya tidak hanya ditemukan pada hubungan syaikh dan murid. Setiap orang yang mengenal shirat al-mustaqim mempunyai kewajiban mengajak shahabatnya untuk menempuh shirat al-mustaqim, dan itu akan memudahkan sahabatnya untuk mengenal shirat al-mustaqim. Hal ini terutama berlaku pada orang-orang yang urusannya dekat, tetapi setiap orang yang bertaubat bisa mendapatkan manfaat melalui kebersamaan dengan orang-orang yang mengenal shirat al-mustaqim. Orang-orang yang mengenal shirat al-mustaqim sebenarnya terhimpun dan terhubung dalam satu al-jamaah. Dalam hubungan syaikh dan murid, para murid bisa saja mengenal urusan dirinya berada di luar batasan urusan sang syaikh misalnya harus berjuang untuk Rasulullah SAW dalam urusan agama di luar urusan tazkiyatun-nafs. Bisa saja seseorang kemudian harus berjalan beriring dengan syaikh atau mengikuti atasan yang lain, sebagaimana seorang lulusan sekolah tidak harus terus bekerja di sekolah di bawah gurunya. Sebagaimana para Syaikh tidak hanya mengajak penerus urusan tazkiyatun nafs ketika melaksanakan urusannya, setiap orang yang mengenal urusan diri juga demikian dalam pola yang berbeda. Ada orang-orang yang diciptakan untuk memegang urusan terkait dengan orang yang sangat banyak, ada orang-orang yang memegang urusan-urusan hanya tertentu saja, tetapi seluruhnya menyeru pada shirat al-mustaqim.

Manfaat yang benar itu akan diperoleh manakala seseorang berkeinginan untuk mengenal urusan Allah. Sangat banyak orang keliru dalam bersikap terhadap orang-orang yang mengenal shirat al-mustaqim. Di antara sikap yang keliru adalah mengabaikan firman Allah dalam mengikuti seseorang hingga kadangkala bersikap mempertuhankan manusia. Ada kaum yang membaca kitabullah hanya mengikuti apa yang dibacakan panutannya saja dan tidak bisa memahami ayat kitabullah yang dibacakan dengan benar oleh yang lain. Hal ini menunjukkan kurangnya keinginan mengikuti kehendak Allah. Kadangkala suatu kaum mendustakan suatu pemahaman terhadap firman Allah karena mengikuti seseorang, maka hal demikian merupakan sikap mempertuhankan orang lain. Hal ini akan tampak jelas manakala berurusan tentang yang halal dan haram. Manakala suatu kaum menentukan halal dan haram bertentagan dengan ketentuan Allah karena mengikuti orang-orang di antara mereka, mereka itu telah menjadikan orang-orang sebagai tuhan selain Allah.

Sikap ikhlas hendaknya ditunjukkan oleh setiap orang dengan meneliti setiap yang diajarkan kepada dirinya dengan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak boleh ada tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW yang didustakan untuk mengikuti orang lain. Syaikh yang baik akan menekankan kepada murid untuk membaca ayat-ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW daripada mengikuti dirinya, hingga kadang-kadang bersikap layaknya tidak ada perkataan dirinya yang perlu disampaikan karena telah cukupnya firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Hal demikian benar-benar mencukupi untuk umat yang akalnya kuat. Setiap pengajar hendaknya menyampaikan pengajaran kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW sesuai dengan akal umatnya, menghadirkan pembacaan ayat-ayat Allah dengan lengkap sesuai kemampuan umatnya memahami kebenaran.

Sikap ikhlas hendaknya ditunjukkan oleh setiap orang dengan meneliti setiap yang diajarkan kepada dirinya dengan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Anggapan bahwa seseorang telah berada di shirat al-mustaqim hanya bisa bernilai benar bila diketahui ayat Alquran yang dijadikan amanahnya. Menganggap orang lain berada di shirat al-mustaqim tanpa mengetahui ayat kitabullah amanahnya hanya merupakan anggapan prematur tanpa dasar. Pengetahuan shirat al-mustaqim bernilai benar hanya bila ada seruan dari suatu ayat kitabullah. Mungkin amal mereka itu merupakan turunan dari turunan ayat Alquran, tetapi benar-benar ada pengetahuan yang menghubungkan amal itu dengan ayat kitabullah. Yang paling bermanfaat bagi orang umum ketika bersama orang yang mengenal shirat al-mustaqim adalah ayat kitabullah landasannya, sedangkan mengalirnya pengetahuan lain melalui seseorang akan memberikan manfaat penyerta yang bermanfaat besar. Orang bertaubat yang ingin mengikuti berjalan di shirat al-mustaqim hanya dapat melakukannya bila mengetahui amanah dari ayat kitabullah yang harus ditunaikan. Melakukan amal-amal dengan persangkaan saja tanpa mengetahui persis ayat kitabullah yang harus ditunaikan tidak akan menjadikan seseorang bisa ikut melangkah di shirat al-mustaqim.

Umat hendaknya bertanya landasan pengetahuan dan pengajaran yang disampaikan kepada dirinya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Hal ini akan menjadikan pengetahuan seseorang berakar pada perintah Allah bukan hanya mengikuti orang lain. Menanyakan demikian seringkali tidak harus dilakukan secara terbuka kepada pengajarnya kecuali diperlukan karena boleh jadi akan merepotkan. Seseorang seringkali cukup bertanya kepada diri sendiri dengan membuka tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Walaupun demikian selalu ada kemungkinan tumbuh pemahaman keliru maka bila perlu ia harus bertanya dan mendengarkan peringatan-peringatan dari syaikhnya dan mau mendengarkan pula pemahaman dari orang lain. Setiap syaikh akan bertanggungjawab atas kelurusan pemahaman para muridnya terhadap ayat-ayat Allah, maka apabila sang syaikh bertanya kepada muridnya tentang pemahamannya, para murid hendaknya menjelaskan semua yang dipahami kepada sang syaikh tanpa menyembunyikan sesuatupun, termasuk apa-apa yang mungkin dibisikkan oleh syaitan.

Berkomitmen terhadap para hamba Allah harus terbentuk dalam diri manusia dan dimurnikan dengan kebenaran. Menolong Allah harus dilaksanakan dalam al-jamaah. Kesungguh-sungguhan seseorang dalam menolong Allah harus terbentuk hingga dalam bentuk kesungguh-sungguhan membantu orang-orang yang melaksanakan perintah Allah, tidak terjebak hanya dalam hubungan subjektif antara dirinya dengan Allah saja. Apabila seseorang mengenali saudaranya bersungguh-sungguh berjuang untuk perintah kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, ia berusaha menolong saudaranya tersebut. Pengenalan demikian ini menunjukkan adanya sikap hanif, bukan ubudiyah hawa nafsu. Apabila dirinya orang yang mengenal shirat al-mustaqim, ia harus bersungguh-sungguh menolong umat manusia untuk mengenal kehendak Allah. Seseorang tidak boleh menolong Allah dalam suatu kebanggaan diri sebagai wakil Allah yang berhak untuk menempati kedudukan Allah di antara para manusia, harus menyeru manusia mengabdi kepada Allah bukan mengabdi kepada dirinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar