Pencarian

Rabu, 21 Mei 2025

Amal Shalih dan Kedekatan Kepada Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Taubat ke jalan Allah harus ditempuh melalui jalan pemakmuran bumi. Seseorang tidak dapat menempuh jalan taubat kepada Allah tanpa memperhatikan proses pemakmuran yang harus diusahakan bagi semesta diri mereka. Orang yang mendekat kepada Allah hanya dengan jalan keasyikan dengan rabb-nya tidaklah menempuh jalan taubat yang sempurna, karena setiap manusia diciptakan untuk menumbuhkan kemakmuran di alam bumi. Sebaliknya proses pemakmuran bumi harus dilaksanakan dengan menempuh jalan taubat kepada Allah. Sangat banyak orang yang tergelincir manakala berusaha menumbuhkan pemakmuran. Banyak peristiwa orang-orang yang semula berkeinginan untuk memakmurkan bumi tetapi kemudian tergelincir dalam hasrat memakmurkan diri sendiri karena kurangnya kekuatan dalam beribadah kepada Allah. Kekuatan ibadah kepada Allah akan bertambah apabila manusia bertaubat kepada Allah.

Hubungan taubat, harapan untuk dekat kepada Allah dan pemakmuran bumi dapat ditemukan penjelasannya pada ayat berikut :

﴾۸۵۱﴿ إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ
Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi'ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber'umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Baqarah : 158)

Haji menunjukkan arti berkunjung, berusaha untuk hadir ke dekat objek yang dicintai dan dihormati. Baitullah merupakan arah yang ditentukan bagi manusia yang menginginkan kehadiran di hadirat Allah. Rasulullah SAW mengalami Isra’ Mi’raj hingga dihadirkan di hadirat Allah di ufuq yang tertinggi dari baitullah al-haram. Bait al haram itulah sarana yang ditentukan bagi para hamba Allah untuk dapat dihadirkan di hadirat Allah melalui mi’raj masing-masing. Orang-orang yang menginginkan memperoleh sarana untuk hadir di hadirat Allah merupakan orang-orang yang berkeinginan untuk berhajji ke baitullah. Mereka mencintai Allah karena kebaikan yang mengalir dari sisi Allah, dan karena cinta mereka kepada Allah mereka menginginkan untuk berhaji ke baitullah.

Baitullah itu dalam wujud fisiknya adalah bangunan yang didirikan oleh nabi Ibrahim a.s bersama keluarganya, siti Hajar r.a dan Ismail a.s. Nilai bathin dari baitullah itu terletak pada pembinaan keluarga dalam meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Tujuan utama pembinaan bayt itu adalah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, dan sangat banyak hal-hal terperinci yang harus diperhatikan setiap orang dalam membina diri kembali kepada Allah. Hal-hal itu telah dicontohkan dengan baik oleh nabi Ibrahim a.s dan keluarganya, dan hal itu diabadikan bagi umat manusia dalam bentuk bait al-haram. Sangat penting bagi manusia untuk memperhatikan nilai bathiniah dalam berhajji dan umrah karena nilai bathiniah itu merupakan inti pembinaan yang dicontohkan beliau a.s. Nilai bathin itu menjangkau setiap manusia tanpa dibatasi dengan kemampuan secara fisik untuk datang ke tanah suci.

Umrah ( اعْتَمَرَ ) menunjuk pada suatu pengusahaan pemakmuran. Orang-orang yang mengerjakan umrah pada ayat di atas tidak hanya menunjuk pada orang-orang yang berangkat ke tanah suci makkah untuk melakukan umrah, tetapi juga orang-orang yang berkeinginan untuk mengusahakan pemakmuran-pemakmuran, mereka termasuk sebagai orang-orang yang berkeinginan umrah. Untuk mengusahakan pemakmuran, arah yang menjadi kunci bagi manusia adalah mengarah menuju baitullah. Ini merupakan suatu gambaran yang jelas bagi manusia bahwa untuk melakukan pemakmuran hendaknya setiap manusia berusaha untuk mengikuti langkah nabi Ibrahim a.s dan Rasulullah SAW membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Langkah kedua uswatun hasanah tersebut merupakan tauladan tentang langkah taubat yang sempurna.

Umrah maupun haji keduanya merupakan sarana untuk dekat kepada Allah, dijadikan gambaran fisik langkah yang harus ditempuh setiap orang yang bertaubat. Umrah dapat dilakukan pada setiap waktu tanpa dibatasi dengan waktu-waktu tertentu, sedangkan hajji hanya dapat dilakukan pada masa hajji. Setiap orang dapat menempuh jalan untuk kedekatan kepada Allah pada setiap saat dengan melakukan pemakmuran kehidupan di bumi tanpa dibatasi dengan waktu-waktu tertentu, sedangkan kehadiran pada kedekatan kepada Allah hanya diberikan pada waktu-waktu tertentu. Rasulullah SAW dimi’rajkan kepada Allah hanya pada satu waktu tertentu, tidak melakukannya dengan keinginan sendiri. Demikian pula bagi hamba Allah yang lain, ada waktu tertentu yang diberikan kepadanya untuk dimi’rajkan ke hadirat Allah yang kadarnya lima puluh ribu tahun. Sebagian besar manusia tidak mengetahui waktu itu, tetapi ada hamba Allah yang mengetahui sesi mi’raj yang dijanjikan baginya.

Pemakmuran bumi ataupun haji hendaknya dilakukan mengarah pada pembentukan bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, tidak dilakukan tanpa arah yang jelas. Pembentukan keluarga demikian itu merupakan elemen fundamental pembentukan pemakmuran ataupun haji. Tanpa usaha pembentukan demikian, tidak akan terwujud pembentukan pemakmuran ataupun haji karena tidak terbentuknya fundamennya. Seandainya terbentuk suatu pemakmuran tanpa fundamen, pemakmuran yang demikian sebenarnya bersifat semu tidak menyentuh landasan pemakmuran yang sebenarnya. Sangat mudah bagi musuh manusia untuk menjadikan pemakmuran yang terbentuk kembali berantakan karena sifat pemakmuran yang semu. Apabila suatu kaum membentuk keluarga untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, pemakmuran yang terbentuk mengikuti proses itu akan kokoh tidak mudah diruntuhkan oleh musuh. Demikian pula manakala seseorang membangun kedekatan kepada Allah tanpa suatu fundamen yang benar, kedekatan yang dicapai itu kelak akan menjadi pertanyaan-pertanyaan berat yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Banyak upaya-upaya pemakmuran yang dilakukan manusia tanpa arah yang benar, maka pemakmuran yang terjadi sebenarnya hanya menyenangkan bagi syahwat dan hawa nafsu manusia, tidak menyentuh pemakmuran manusia secara utuh. Manusia mungkin bersenang-senang dengan pemakmuran-pemakmuran yang dilakukan tetapi hanya merupakan kesenangan-kesenangan jasmaniah ataupun kesenangan-kesenangan hawa nafsu tanpa menyentuh peningkatan kualitas diri mereka. Contohnya, suatu bangsa mungkin mempunyai sarana kereta cepat tetapi hanya merupakan bangunan yang dibuatkan baginya oleh orang asing sedangkan para insinyur yang ada di dalam negeri hanya disingkirkan. Pemakmuran demikian hanya merupakan kesenangan syahwat dan hawa nafsu sedangkan nilai diri bangsa disingkirkan dari diri mereka. Mereka justru harus menanggung hutang karena adanya pemakmuran itu tanpa suatu kesenangan dari jiwa para penduduknya.

Membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah adalah penyatuan nafs wahidah dengan segala sesuatu yang diciptakan bagi dirinya, yang dilakukan sesuai dengan kehendak Allah. Bentuk dasar bayt demikian adalah pernikahan antara seorang laki-laki dengan isteri-isterinya. Berkembangnya suatu bayt akan mewujud dalam bentuk kemakmuran pada pernikahan dengan harta dan anak-anak yang mendukung jihad di jalan Allah dengan karya-karya yang dikehendaki Allah. Penyatuan nafs wahidah sesuai kehendak Allah demikian harus dilakukan termasuk dalam membentuk keluarga ta’addud manakala suatu nafs wahidah diciptakan dalam bentuk ta’addud. Bentuk penyatuan nafs wahidah akan diketahui seseorang manakala ia mengenal nafs wahidah, dan upaya penyatuan nafs wahidah tersebut merupakan upaya membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.

Ada beberapa tahapan yang harus ditempuh seseorang dalam membentuk bayt. Tazkiyatun-nafs merupakan tahapan dasar yang harus ditempuh. Suatu tazkiyatun nafs akan membentuk seseorang untuk dapat memahami cahaya Allah yang terpantul melalui ayat-ayat-Nya. Pemahaman yang terbentuk terhadap cahaya Allah akan mengantarkan seseorang mengenal Allah dengan mengenal diri sendiri. Pengenalan terhadap penciptaan diri sendiri itu merupakan tanah suci tempat seharusnya bayt didirikan. Proses tazkiyatun nafs merupakan proses hijrah yang harus ditempuh seseorang untuk berpindah ke tanah suci dirinya. Setelah menempati tanah suci diri, seseorang dapat berusaha membina bayt untuk mendzikirkan dan meninggikan asma Allah.

Upaya memperoleh pengenalan diri hanya dapat dilakukan seseorang dengan membaca ayat-ayat Allah setelah tazkiyatun nafs. Pengenalan diri tidak dapat dicapai dengan jalan hanya melakukan perhitungan-perhitungan kadar diri. Pengenalan diri merupakan pengenalan terhadap kedudukan diri dalam urusan Allah, maka mengenal urusan Allah itu menjadi prasyarat untuk mengenal diri. Membaca ayat Allah itu jalan utamanya, sedangkan pengukuran kadar-kadar diri akan mengarahkan seseorang secara tepat pada urusan Allah. Tanpa memahami ayat Allah, seseorang tidak akan bisa menemukan kedudukan diri dalam urusan Allah. Boleh jadi seseorang menemukan pengenalan diri, tetapi tidak terhubung dengan urusan Allah. Hal itu telah terjadi sejak penciptaan Adam dan Hawa di surga hingga menyebabkan keduanya tergelincir ke bumi. Pengenalan diri tanpa mengenal urusan Allah pada dasarnya sangat berbahaya karena sangat licinnya jalan kembali kepada Allah.

Tahapan-tahapan demikian pada tingkatan dzahir tidak berjalan sekuensial terurut. Seseorang bisa menikah membentuk rumah tangga jauh sebelum mengenal tanah sucinya, tidak harus dilakukan setelahnya. Akan tetapi hendaknya ia mengenal tahapan keadaan dirinya secara jujur. Apabila ia belum mampu membaca ayat-ayat Allah dengan benar, ia belum menyempurnakan tahap tazkiyatun nafs. Manakala seseorang belum mengetahui kedudukan dirinya dalam jamaah Rasulullah SAW, ia belum mengenal dirinya secara sempurna, dan urusan yang harus ditunaikan dalam kehidupan dunia mungkin tidak benar-benar ia pahami. Bila seseorang mengenal kedudukan dirinya dalam urusan Rasulullah SAW, ia telah mengenal urusan Allah bagi dirinya. Setelah keadaan demikian, ia hendaknya berusaha untuk bersungguh-sungguh mengumpulkan segala yang terserak baginya dengan usaha sebaik-baiknya tanpa suatu kebimbangan karena ia harus melangkah membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Pada dasarnya suatu pernikahan saja akan menjadikan apa yang terserak bagi diri seseorang terkumpul, tetapi pengetahuan tentang manfaatnya akan diperoleh manakala seseorang mengenal kedudukan dirinya.

Menyembunyikan Kebenaran

Membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah akan mendatangkan pemakmuran. Usaha itu akan mendatangkan penolakan yang keras dari alam syaitan. Seseorang mungkin harus berhadapan dengan berbagai lapis perlawanan alam syaitan untuk menghalangi manusia membentuk bayt. Syaitan akan berusaha menghalangi dengan semua usaha termasuk melibatkan kalangan manusia yang dapat dilibatkan. Semua orang yang terlibat dalam upaya syaitan menghalangi akan menjadi orang-orang yang dilaknat Allah dan makhluk-makhluk yang lain akan melaknat pula.

Di antara usaha syaitan demikian adalah menjadikan orang-orang menyembunyikan petunjuk-petunjuk dan penjelasan-penjelasan yang diturunkan Allah terkait dengan tuntunan dalam kitabullah Alquran.

﴾۹۵۱﴿إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati (QS Al-Baqarah : 159)

Allah telah menurunkan kitabullah Alquran kepada Rasulullah SAW, dan Allah sebenarnya juga menurunkan penjelasan-penjelasan dan petunjuk-petunjuk terkait dengan ayat-ayat dalam kitabullah Alquran kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya. Penjelasan-penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah itu terjadi setelah Alquran diturunkan. Orang yang memberikan penjelasan-penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah hanya melakukannya karena mengikuti ayat-ayat dalam kitabullah, dan penjelasan-penjelasan dan petunjuk itu diterimanya dengan mengikuti ayat-ayat kitabullah.

Tidak semua penjelasan dan petunjuk demikian disukai oleh manusia. Sebagian manusia tidak dapat memahami penjelasan dan petunjuk karena pikiran dan akal mereka lemah. Sebagian orang merasa sombong hingga tidak memahami kebenaran. Sebagian orang mungkin terganggu dengan penjelasan dan petunjuk yang disampaikan karena pengaruhnya terhadap kehormatan atau harta mereka. Manakala seseorang merasa terganggu dengan penjelasan dan petunjuk, syaitan akan menghembuskan suatu godaan sedemikian orang-orang yang terbujuk godaan itu akan berusaha menyembunyikan penjelasan-penjelasan dan petunjuk terkait ayat-ayat kitabullah yang disampaikan. Bila seseorang bergerak menyembunyikan penjelasan-penjelasan dan petunjuk-petunjuk yang diturunkan Allah kepada hamba yang dikehendaki-Nya terkait dengan ayat-ayat kitabullah, mereka akan mendapatkan laknat Allah dan kelak makhluk-makhluk yang dapat melaknat akan melaknat pula.

Menyembunyikan penjelasan dan petunjuk Allah dapat terjadi dalam bentuk menghalangi tersampaikannya penjelasan dan petunjuk kepada masyarakat atau mengurangi sebagian dari penjelasan dan petunjuk dengan suatu iktikad tertentu yang kurang baik. Mungkin bukan iktikad buruk tetapi dampak perbuatannya kurang baik. Kadangkala seseorang merasa kurang suka dengan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah dan ia memandang lebih baik mengurangi penjelasan dan petunjuk itu, maka hal itu merupakan upaya menyembunyikan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah. Demikian pula menutup jalan seseorang yang mempunyai kemampuan untuk menyampaikan penjelasan dan petunjuk merupakan perbuatan menyembunyikan penjelasan dan petunjuk. Keterbatasan atau kurangnya kemampuan menyampaikan penjelasan dan petunjuk secara utuh tidak termasuk dalam kategori menyembunyikan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah.

Setiap orang harus berusaha sebaik-baiknya untuk menyampaikan kepada orang lain penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah secara lengkap tanpa dikurangi. Hal itu merupakan bentuk rahmaniah terhadap orang lain. Menyampaikan dapat dilakukan dengan cara yang baik tanpa mengurangi esensi penjelasan yang harus disampaikan, dan tidak boleh dilakukan dengan mengumbar cela dalam diri sendiri. Bila diperlukan, seseorang bisa meminta orang lain untuk menyampaikan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah. Setidaknya manusia tidak menutup jalan orang yang berhak menyampaikan untuk menyampaikan. Suatu sifat rahmaniah akan menjadikan umat manusia mengenal kehendak Allah dengan baik hingga manusia dapat beramal sesuai dengan kehendak Allah bagi dirinya. Manakala seseorang tidak berusaha dengan sebaik-baiknya, ia akan mudah tergelincir sebagai orang yang menyembunyikan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah.

Menyembunyikan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah terkait ayat kitabullah akan mendatangkan laknat Allah dan laknat makhluk yang dapat melaknat. Laknat merupakan sumber kesengsaraan. Orang yang dilaknat Allah usahanya akan mendatangkan kesengsaraan sekalipun memandangnya baik. Dalam hal di atas kesengsaraan itu setidaknya karena tertutupnya penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah. Orang-orang yang menyembunyikan penjelasan-penjelasan dan petunjuk terkait ayat kitabullah akan mendatangkan suatu kesengsaraan bagi umat manusia. Manusia akan terputus washilahnya kepada Allah karena penjelasan dan petunjuk yang disembunyikan. Bila manusia dapat memperoleh penjelasan dan petunjuk secara lengkap untuk memahami kehendak Allah mereka akan dapat mengusahakan kesejahteraan dan kebahagiaan dengan penjelasan dan petunjuk itu, sedangkan manakala penjelasan dan petunjuk itu dihalangai atau dikurangi maka mereka akan kesulitan untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan dengan mengikuti kehendak Allah.


Minggu, 18 Mei 2025

Kitabullah Sebagai Landasan Amal Shalih

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Jalan kembali kepada Allah terbentang bagi manusia sejak di alam dunia hingga tiba di sisi Allah. Jalan kembali ini bukan hanya berbentuk permohonan ampunan saja, tetapi juga dalam bentuk amal-amal kehidupan dunia. Permohonan ampunan terhadap dosa-dosa merupakan bentuk dasar jalan kembali kepada Allah, sedangkan orang yang telah berjalan akan menemukan bentuk-bentuk amal duniawi yang harus dikerjakannya sedangkan ia terus memohon ampunan atas dosa dan kesalahan yang mungkin dilakukannya. Amal-amal duniawi yang dikerjakan mengikuti kehendak Allah merupakan jalan kembali yang dibentangkan Allah bagi umat manusia dalam bentuk yang lebih jelas.

Amal-amal demikian selalu terhubung dengan pengetahuan tentang ayat kauniyah yang terintegrasi dengan ayat kitabullah, dan dilakukan sesuai dengan syariat-syariat yang ditentukan Allah tidak melanggarnya. Hal ini perlu diperhatikan. Mungkin saja seseorang mencari jalan kembali kepada Allah tetapi tidak waspada terhadap syaitan hingga suatu perintah Allah dilakukan dengan melanggar ketentuan Allah, maka ia justru membantu syaitan. Suatu perintah Allah kadangkala membangkitkan hawa nafsu yang mendorong keinginan untuk dipandang sebagai pahlawan bagi manusia, maka ia menjadi menyimpang. Kadangkala seseorang menyangka bahwa ia telah sampai kepada Allah hingga berbuat dzalim terhadap manusia dalam urusan Allah. Banyak hal yang dapat menyimpangkan manusia dari jalan kembali kepada Allah, maka hendaknya setiap orang memperhatikan tuntunan kitabullah.

Allah memberikan peringatan kepada umat manusia sebagaimana kisah pada ayat berikut :

﴾۲۰۱﴿وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُوا الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُم بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan atas kerajaan Sulaiman, padahal Sulaiman tidak kafir, hanya syaitan-syaitan lah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (dari ilmunya) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya fitnah, sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka (para syaitan) mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan ilmu itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (para syaitan) tidak memberi mudharat dengan ilmu itu kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka (manusia) mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepada mereka (manusia) dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa barangsiapa yang membelinya, tiadalah baginya akhlak (demikian) di akhirat, dan amat buruklah perbuatan mereka menjual dirinya dengan ilmu itu, kalau mereka mengetahui. (QS Al-Baqarah : 102)

Kitabullah memberitahukan bahwa sekelompok manusia mengikuti bacaan-bacaan syaitan atas kerajaan nabi Sulaiman a.s sedangkan tuntunan pada bacaan itu sangatlah kafir. Bukan nabi Sulaiman yang memberikan tuntunan demikian, tetapi syaitan-lah yang kafir. Para pengikut bacaan syaitan itu saat ini dapat kita lihat di timur tengah dalam bentuk gerakan zionisme yang melakukan genosida di palestina atas nama agama. Gerakan demikian itu telah ada sejak jaman setelah nabi Sulaiman a.s, dan nampak jelas pada jaman ini. Bila seseorang mengamati dengan baik gerakan zionisme, ia akan menemukan bahwa zionisme sebenarnya tidaklah hanya di bumi palestina. Mereka mempunyai dukungan senjata yang sangat besar di amerika dan bagian dunia lainnya, sedangkan pengaruh ekonomi dan politik serta pengaruh lain mereka menjangkau hampir seluruh dunia tanpa disadari oleh manusia yang mengikutinya. Perbankan modern di dunia hampir sepenuhnya mengikuti konsep zion. Orang-orang beriman hendaknya bisa memahami tuntunan kitabullah terkait dengan gerakan pengikut bacaan syaitan.

Licinnya Berpijak  Waham

Kebanyakan orang beriman yang bertaubat terliputi waham hingga tidak dapat membaca tuntunan kitabullah terkait alam kauniyah mereka. Waham itu syaitan bangkitkan bagi umat manusia dan diliputkan atas manusia dengan sarana berupa dua bentuk ilmu, yaitu ilmu sihir dan ilmu Harut dan Marut. Kedua ilmu itu efektif diterapkan bagi seluruh kalangan manusia, baik bagi orang-orang yang jahat ataupun bagi orang-orang yang beriman. Bagi orang kebanyakan, syaitan menggunakan ilmu sihir bersama orang-orang yang bersekutu dengan mereka. Bagi orang beriman, syaitan menggunakan ilmu Harut dan Marut bersama orang-orang yang mereka tipu dari kalangan orang beriman. Kedua ilmu itu akan menutupkan waham atas seluruh golongan manusia dari kalangan orang-orang jahat hingga kalangan orang-orang yang beriman.

Dengan ilmu sihir, syaitan menjadikan orang-orang yang bersekutu dengan mereka sebagai pembesar-pembesar bagi manusia. Manusia akan memandang pembesar-pembesar yang mengikuti ilmu sihir sebagai orang yang sangat berjasa sekaligus melihat pula kelicikan-kelicikan yang dilakukannya sebagai tipu muslihat dalam menjaga kekuasaan mereka. Sekalipun merasakan tetapi manusia tidak dapat menentukan langkah yang baik untuk masalah itu. Tidak semua pembesar manusia merupakan pengikut sihir syaitan, atau boleh dikatakan hanya sedikit pembesar manusia yang mengikuti sihir syaitan, tetapi hampir seluruh dunia terpengaruh oleh sihir syaitan karena pengaruh-pengaruh yang dibuat melalui jalan yang lain misalnya pengaruh ekonomi ataupun politik serta pengaruh lainnya.

Ilmu Harut dan Marut dipergunakan syaitan untuk mengurung orang-orang beriman dalam waham mereka sendiri tidak mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Orang beriman pastilah berkeinginan untuk memberikan kebaikan bagi alam semesta mereka, tetapi manakala ilmu Harut dan Marut mempengaruhi, mereka akan memandang apa-apa yang mereka pahami lebih baik daripada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bagaimanapun ilmu Harut dan Marut merupakan fitnah. Sekalipun manusia memandang baik apa-apa yang ada pada mereka, sebenarnya apa yang mereka lakukan mengikuti ilmu Harut dan Marut mendatangkan kerusakan yang sangat besar bagi umat manusia. Pandangan baik terhadap diri mereka itu merupakan pengaruh dari ilmu Harut dan Marut. Ilmu itu akan menipu manusia dalam bentuk-bentuk yang terlihat indah.

Akhlak manusia tidak boleh dibentuk dengan ilmu Harut dan Marut, karena sekalipun akhlak itu tampak menakjubkan di alam dunia hingga alam barzakh, akhlak itu akan terlepas kelak di akhirat. مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ . Ilmu Harut dan Marut itu hanyalah sebuah fitnah. Manakala seseorang menggunakan ilmu Harut dan Marut, ia akan kehilangan manfaat kehidupan dunia. Kehidupan dunia sangat bermanfaat untuk membina akhlak manusia. Seseorang mungkin harus mengulang kembali pembinaan akhlak dirinya di alam akhirat, karena ilmu Harut dan Marut akan menyebabkan mereka kehilangan akhlak yang diperoleh dari kehidupan di dunia. Mungkin akhlaknya di dunia sudah tampak indah, tetapi bila keindahannya karena mengikuti ilmu Harut dan Marut itu maka akhlak itu akan musnah. Kehidupan akhirat akan sangat panjang dibandingkan dengan kehidupan di dunia, sedangkan tidak ada tanda-tanda yang mengarahkan pembinaan diri dalam kehidupan akhirat.

Pembinaan akhlak umat manusia harus dibentuk dengan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW tidak menyimpang darinya. Akhlak berdasar kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW itulah akhlak yang sebenarnya, tidak akan hilang manakala telah terbentuk selama dirinya sendiri tidak membuangnya. Membentuk akhlak mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan membersihkan jiwa (tazkiyatun Nafs) agar seseorang dapat mengenal kandungan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Tanpa tazkiyatun-nafs, seseorang hanya akan membentuk pemahaman pada tingkatan hawa nafsu saja. Proses tazkiyatun-nafs dapat diibaratkan layaknya mempersiapkan lahan untuk bercocok tanam. Ia harus dibersihkan dari gulma dan tanaman pengganggu, serta dibersihkan dari penyakit-penyakit yang dapat menghinggapi tanaman yang ditanam.

Pembinaan akhlak itu sendiri adalah menumbuhkan benih diri manusia hingga tumbuh pohon diri berupa kalimah Thayyibah. Benih diri itu merupakan jati diri manusia berupa kalimah thayyibah yang akan tumbuh manakala memperoleh stimulasi dari kalimah thayibah kitabullah Alquran. Kedua kalimah itu merupakan dua hal yang sama, kalimah sebagai benih dalam diri manusia dan kalimah dalam bentuk ayat kitabullah Alquran. Kalimah yang tumbuh dalam diri manusia harus serupa dengan kalimah dalam kitabullah Alquran, dibentuk melalui mekanisme misykat cahaya sebagaimana kamera membentuk gambar objek. Manakala kalimah diri yang tumbuh diketahui menyimpang atau melanggar kalimah dalam kitabullah, kalimah itu harus dipotong agar tidak tumbuh sebagai pohon yang liar tanpa suatu landasan dari tuntunan Allah. Hal ini harus dipahami secara hati-hati. Tidak semua ilmu yang belum diketahui manusia secara umum merupakan ilmu liar. Pohon bisa menumbuhkan buah yang mungkin tidak disebutkan secara langsung dalam kitabullah, tetapi buah itu merangkum pengetahuan-pengetahuan dari ayat-ayat yang tersebar baik ayat kitabullah maupun ayat kauniyah yang tersebar pada semesta diri mereka.

Menumbuhkan kalimah thayibah merupakan bagian dari jalan kembali kepada Allah yang harus diutamakan. Kadangkala suatu kaum menempuh proses tazkiyatun-nafs tetapi tidak digunakan untuk berusaha memahami tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Hal ini seperti orang-orang yang mengolah lahan tetapi tidak menanam tanaman, tentulah tidak ada pohon yang tumbuh. Mereka tampak sebagai orang-orang yang baik tetapi tidak dapat memahami perintah Allah. Benih-benih yang seharusnya ditanam itu berupa ayat-ayat dari kitabullah yang terkait dengan ayat-ayat kauniyah. Setiap orang yang menempuh jalan taubat hendaknya mempunyai suatu perhatian terhadap tuntunan ayat kitabullah yang sesuai dengan keadaan diri mereka tanpa mengada-ada, maka ayat itu akan menjadi cahaya yang menumbuhkan benih kalimah thayibah yang telah dititipkan dalam diri mereka.

Ilmu Harut dan Marut dimanfaatkan syaitan untuk membelokkan manusia dari memahami tuntunan kitabullah dengan menyuburkan waham kebaikan dalam diri. Sebagian pemahaman manusia bisa tumbuh dari kitabullah dan pemahaman yang lain turun dari syaitan, sedemikian manusia tidak mengenali apa yang diselipkan syaitan bagi diri mereka. Hal ini dapat dihindari apabila orang beriman berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Akan tetapi syaitan akan menghalangi upaya ini, di antaranya yang paling ampuh adalah dengan akhlak semu yang ditumbuhkan dengan ilmu Harut dan Marut. Manusia akan mempercayai akhlak yang tampak megah di mata mereka daripada tuntunan kitabullah. Kepercayaan ini akan tumbuh secara rumit melibatkan kebenaran-kebenaran yang dipergunakan secara tidak semestinya. Bila orang-orang beriman dapat mengikuti tuntunan kitabullah secara tulus tanpa terjerat kerumitan demikian, mereka akan dapat melihat secara tepat ayat-ayat Allah untuk menumbuhkan benih kalimah thayibah pada diri mereka.

Akhlak yang tumbuh mengikuti ilmu Harut dan Marut pada dasarnya sama dengan para perempuan yang berakhlak (tampak) benar-benar berjubah agung di alam dunia akan tetapi akan telanjang kelak di akhirat. Akhlak demikian merupakan dampak secara langsung ilmu Harut dan Marut. Dampak ilmu itu tidak terbatas pada keadaan demikian. Ada orang-orang yang akan dipaksa tercerai dari keutuhan dirinya sedangkan ia menginginkan keutuhan nafs wahidah, atau tertelanjangi dari jalan ketakwaannya. Bagian dari ilmu Harut Marut yang sangat diperhatikan oleh syaitan adalah memisahkan isteri dari suaminya. Perempuan-perempuan dibuat menjadi pejuang agama yang meninggalkan jalan ibadah yang ditetapkan baginya berupa suaminya, maka mereka menjadi perempuan-perempuan yang berjubah di alam dunia tetapi kelak di akhirat akan telanjang. Itu adalah dampak langsung dari fitnah ilmu Harut dan Marut.

Para laki-laki yang terkena fitnah ilmu Harut Marut pada dasarnya sama dengan perempuan demikian. Mereka berakhlak megah di alam dunia, tetapi kelak di akhirat akhlak itu akan terlepas dari mereka karena tidak berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Akhlak yang akan bertahan hingga seseorang hadir di hadapan Allah hanyalah akhlak yang dibina selaras dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sedikitnya akhlak demikian itu akan bertahan hingga abadi, dan banyaknya akhlak itu akan menjadikan seseorang bertambah kemuliaan di sisi Allah. Amal-amal yang dilakukan manusia dengan kemegahan semu tanpa mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW justru akan menjadi beban yang harus dibersihkan di hadapan Allah, bukan mendatangkan timbangan hakikat yang mendatangkan bobot bernilai baginya.

Akhlak yang Lurus

Kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW akan membentuk manusia berakhlak lurus. Ada kelompok di antara manusia yang mengambil tandingan-tandingan selain Allah karena tidak lurusnya akhlak diri mereka. Mereka tidak membina akhlak diri mereka mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

﴾۵۶۱﴿وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
Dan diantara manusia ada orang-orang yang mengambil tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat adzab, bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).(QS Al-Baqarah : 165)

Golongan demikian itu adalah orang-orang yang menjadikan Allah sebagai tuhan mereka dan mereka mencintai Allah, tetapi mereka juga mencintai makhluk lain sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah. Masalah pada mereka bukan berupa kekufuran kepada Allah, tetapi bahwa kecintaan mereka kepada makhluk yang mereka cintai setara dengan kecintaan mereka kepada Allah. Perbuatan demikian seringkali tumbuh tanpa disadari dalam bentuk mengikuti perintah-perintah orang yang mereka cintai tanpa memperhatikan perintah Allah. Atau manakala suatu ayat Allah dibacakan, mereka mengabaikan bacaan itu karena bukan dibacakan oleh orang yang mereka cintai layaknya Allah, maka mereka mengabaikan urusan Allah. Barangkali mereka memandang bahwa makhluk-makhluk itu adalah representasi Allah kepada diri mereka maka mereka mencintai makhluk itu sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah. Kadangkala mereka melakukan itu tanpa persetujuan makhluk-makhluk yang mereka cintai, karena rasa takut kepada Allah pada orang yang dicintai. Adapun makhluk yang menyukainya hanyalah makhluk bodoh yang tidak mengenal Allah. Iblis sebenarnya merasa takut kepada Allah kala menjadikan manusia menyembah mereka, tetapi rasa hasad pada diri mereka mengalahkan rasa takut kepada Allah.

Dalam kasus tertentu bisa ditemukan bukti bahwa mereka tidaklah mencintai makhluk karena mencintai Allah, tetapi menunjukkan dengan jelas bahwa sikap mereka itu menjadikan tandingan-tandingan selain Allah. Manakala makhluk-makhluk yang mereka cintai menyelisihi atau menentang tuntunan kitabullah Alquran, mungkin mereka akan lebih mengikuti makhluk yang mereka cintai, maka akan terlihat bahwa mereka menjadikan makhluk sebagai tandingan-tandingan selain Allah. Kecintaan kepada mereka dalam rangka kecintaan kepada Allah tidak terbukti karena pelanggaran kepada tuntunan Allah. Cara pandang bahwa makhluk-makhluk yang mereka cintai adalah representasi Allah mengandung bahaya yang besar karena mudah menggelincirkan seseorang untuk mengambil tandingan-tandingan bagi Allah. Setiap orang harus menilai kedudukan makhluk secara semestinya, bahwa Muhammad SAW adalah rasulullah dan kitabullah Alquran adalah firman Allah. Orang-orang beriman hendaknya tidak menjadikan makhluk sebagai objek kecintaan (mahabbah) tanpa suatu landasan yang benar. Landasan itu berupa bukti kedudukan orang yang dicintai dalam penjelasan kitabullah dan urusan Rasulullah SAW. Sangat tidak boleh menjadikan makhluk sebagai tara (bandingan) bagi Allah. Mencintai makhluk sebagai perpanjangan kecintaan kepada Allah hendaknya dilakukan dengan mengukur keselarasan makhluk yang dicintai dengan bagian yang mereka peroleh dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak mengada-adakan perpanjangan kecintaan kepada Allah tanpa dasar yang jelas.

Akhlak yang tumbuh dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW inilah yang dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kehidupan umat manusia, tidak teralihkan oleh waham walaupun itu waham kebaikan. Mereka akan mengenali kauniyah yang terjadi selaras dengan hakikat dari sisi Allah, maka mereka akan mengetahui amal yang perlu dilakukan. Manusia-manusia terlaknat yang mengikuti bacaan syaitan untuk mendirikan kerajaan bagi mereka mempunyai ilmu-ilmu yang berasal dari syaitan, dan ini akan sulit ditandingi oleh umat manusia lainnya bila tidak menumbuhkan dan membina akhlak yang benar-benar bersumber dari kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Syaitan-pun berkepentingan membina akhlak manusia yang tampak megah bagi manusia tetapi sebenarnya hanya merupakan fitnah. Akhlak itu mereka jadikan kunci untuk merusak umat manusia dengan bentuk-bentuk kekejian yang dipandang baik oleh manusia, sebagaimana para perempuan yang berjubah di alam dunia tetapi menyimpang dari jalan ibadah yang benar. Itu akan mendatangkan fitnah yang sangat besar. Manusia harus membina diri mereka dengan pengetahuan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW agar dapat memberi manfaat sebaik-baiknya bagi semesta mereka.



Selasa, 13 Mei 2025

Pembinaan Akhlak yang Kokoh

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW dilakukan dengan membina akhlak mulia sedemikian seseorang dapat memberikan manfaat dirinya dengan sebaik-baiknya. Pembinaan demikian harus dilakukan dengan berlandaskan ketakwaan dan harapan terhadap keridlaan Allah. Tanpa berlandaskan ketakwaan dan harapan akan ridha Allah, seseorang akan membina diri seperti membangun bangunan di tepi jurang yang mudah jatuh.

﴾۹۰۱﴿أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ تَقْوَىٰ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَم مَّنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS At-Taubah : 109)

Secara bathin, ayat tersebut terkait dengan pembinaan diri dalam bersujud kepada Allah. Ada orang-orang yang membina dirinya untuk bersujud kepada Allah dengan ketakwaan dan harapan terhadap keridhaan Allah bagi dirinya, maka pembinaan tersebut merupakan pembinaan yang baik. Sebagian orang lainnya melakukan pembinaan dirinya di tepian jurang yang mudah runtuh, tidak berdasarkan ketakwaan dan harapan terhadap keridhaan Allah. Manakala seseorang tidak bertakwa, semesta seseorang membawa kecenderungan menyeret orang tersebut hingga mereka dapat terhanyut di dalamnya seperti sungai yang dapat menggerus bangunan-bangunan yang didirikan di bantarannya. Demikian orang-orang yang membina diri mereka tanpa suatu landasan ketakwaan dan harapan terhadap keridhaan Allah akan terhanyut oleh alam ciptaan hingga menyeret mereka menuju neraka jahannam.

Ketakwaan merupakan sumber dari petunjuk Allah. Orang-orang yang berusaha untuk mengenal dan melaksanakan kehendak Allah akan memperoleh petunjuk Allah sedangkan orang-orang yang dzalim tidak akan diberi petunjuk oleh Allah. Petunjuk merupakan penjelasan yang menunjukkan kemuliaan yang dapat diperoleh manakala seseorang berusaha mengikuti kehendak Allah. Boleh jadi petunjuk itu adalah suatu jalan keluar dari suatu masalah, atau boleh jadi berupa penjelasan tentang sesuatu dari sisi Allah, atau boleh jadi bentuk-bentuk lain yang mengantarkan seseorang untuk lebih mengenal kemuliaan Allah. Orang-orang yang bertakwa akan memperoleh petunjuk yang mengantarkan diri mereka untuk lebih mengenal kemuliaan Allah hingga mereka dapat melangkah membina akhlak mulia. Orang-orang dzalim tidak memperoleh petunjuk demikian. Seandainya mereka mendapat petunjuk, sebenarnya mereka tidak melangkah pada akhlak mulia sedangkan petunjuk itu hanyalah persangkaan bahwa mereka mendapat petunjuk.

Kokohnya pondasi pembinaan adalah ketakwaan karena ketakwaan akan membentuk akhlak mulia. Sebagian golongan kaum muslimin menggunakan ayat-ayat Allah untuk menyombongkan diri sebagai orang-orang yang paling benar dengan mencari-cari kesalahan kelompok-kelompok lain yang tidak sama dengan mereka sedangkan mereka yang disalahkan sebenarnya juga ingin mengikuti tuntunan agama. Ini tidak menunjukkan adanya keinginan berakhlak mulia, dan golongan demikian sebenarnya cenderung bersifat mendekati atau tergolong sebagai kaum khawarij. Sebagian orang berusaha mencari petunjuk dan berusaha memberikan petunjuk yang diperolehnya kepada umat manusia tetapi disertai sikap ingin menampakkan kedudukan mereka. Hal ini seringkali disertai berkurangnya upaya menunjukkan kemuliaan Allah karena menonjolkan kedudukan diri. Manakala orang-orang yang mengikuti tidak bertambah akalnya dalam memahami kehendak Allah, tetapi justru menjadi buruk karena kurangnya akal, mereka tidak dapat menyadarinya. Hal ini juga menunjukkan tidak kokohnya akhlak mulia. Orang yang berakhlak mulia akan menunjukkan kemuliaan Allah kepada umat manusia agar umat manusia memahami kemuliaan kehendak Allah dengan akalnya sehingga setiap orang berusaha membentuk akhlak mulia.

Tanda-tanda Pembinaan yang Kokoh

Setiap orang hendaknya membina diri dalam akhlak mulia dengan landasan ketakwaan dan harapan terhadap ridha Allah. Akhlak yang tumbuh dari ketakwaan dan harapan keridhaan Allah itu adalah akhlak mulia yang sebenarnya. Akhlak mulia tidak akan benar-benar tumbuh manakala seseorang membinanya di tepian jurang yang akan runtuh. Ketakwaan kepada Allah dan harapan terhadap ridha Allah akan tumbuh dengan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Seluruh bentuk ketakwaan kepada Allah bersumber dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak menyimpang darinya, dan segala sesuatu yang menyimpang dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak boleh dianggap sebagai ketakwaan. Akan tetapi tidak semua orang yang menggunakan ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah adalah orang yang bertakwa. Ada orang-orang yang memanfaatkan tuntunan kitabullah tanpa suatu ketakwaan.

Lokus pembinaan akhlak terletak pada nafs wahidah. Nafs wahidah merupakan entitas inti penciptaan diri manusia yang dapat mengenal rabb-nya, mengenal kedudukan diri dalam jamaah Rasulullah SAW, mengenal sifat rahman dan rahim yang harus ditumbuhkan dalam kebersamaan dengan apa-apa yang terwujud dari dirinya baik berupa isteri-isterinya ataupun umat mereka. Pengenalan terhadap nafs wahidah merupakan tanda terbentuknya akhlak mulia, karena seseorang akan mengenal urusan dari rabb-nya, mengenal kedudukan diri dalam urusan Rasulullah SAW dan mempunyai pengetahuan yang benar tentang jalan mewujudkan kehendak Allah di alam dunia. Hawa nafsu – hawa nafsu seseorang yang mengenal nafs wahidah akan mempunyai pemimpin dalam beribadah kepada Allah. Hal itu seringkali disertai pula dengan mengenal pemimpin bagi dirinya dari kalangan manusia lainnya, karena nafs wahidah mengenal kedudukannya dalam al-jamaah. Pernikahan merupakan bagian besar dari proses membentuk akhlak mulia.

Tumbuhnya Sifat Baik

Pada pokoknya, akhlak mulia adalah pembinaan sifat rahman dan rahim dalam diri manusia. Banyak masalah terperinci dalam kehidupan manusia yang menunjukkan terbentuknya akhlak mulia sebagai cabang dari terbentuknya sifat rahman dan rahim. Kadangkala seseorang telah membina diri sedemikian ia tampak bisa dan biasa bersikap baik kepada orang lain, tetapi sebenarnya mungkin saja ia belum cukup membina sifat rahman dan rahim manakala diuji dengan suatu urusan yang diturunkan Allah. Misalnya dalam derajat tertentu, seseorang mungkin menerima petunjuk untuk membentuk keluarga ta’addud. Secara umum dalam kasus perintah ta’addud yang benar, ta’addud berfungsi sebagai media penyempurnaan sifat rahmaniah dan rahimiah seseorang bersama keluarganya untuk berkiprah bagi masyarakat. Dari sisi rahmaniah, Allah sebenarnya berkehendak mengajarkan banyak hal melalui keluarga ta’addud. Dari sisi rahimiah, seorang isteri mungkin dituntut untuk dapat membina rasa sayang terhadap suaminya dan terhadap madunya hingga dapat menjadikan diri mereka, suami dan isteri serta madunya sebagai kesatuan nafs wahidah yang utuh. Kadangkala seseorang menolak urusan itu dan tidak mau memahami urusan yang diturunkan Allah. Hal itu menunjukkan kurangnya keinginan untuk memahami kehendak Allah dan kurangnya akhlak mulia. Kadangkala seorang isteri dan madunya tidak dapat saling menyayangi, atau justru saling bersaing untuk dipandang keutamaannya oleh manusia maka pada satu sisi tujuan dari ta’addud itu tidak tercapai. Akhlak mulia harus tumbuh pada setiap diri hingga terbentuk pada cabang-cabang perinciannya.

Sifat rahmaniah tumbuh dalam diri manusia dengan tanda mudahnya seseorang dalam memahami kebenaran. Seseorang yang benar-benar telah tumbuh sifat rahmaniahnya dapat mengenali hakikat-hakikat yang tersampaikan melalui ayat-ayat Allah dalam kitabullah dan kauniyah. Adanya sifat rahmaniah dalam diri seseorang akan terlihat dalam kecerdasan mensikapi kebenaran. Kecerdasan seseorang dalam mengenali dan mengikuti kebenaran ditentukan dengan kekuatan sifat rahmaniah yang ada dalam dirinya. Orang yang mempunyai sifat rahmaniah akan mudah memahami dan mengikuti kebenaran. Orang yang lemah sifat rahmaniahnya akan terlihat pada kesulitan memahami suatu kebenaran. Sifat rahimiyah ditandai dengan kekuatan dalam memberikan kebaikan bagi orang lain. Sifat ini dapat dilihat sangat jelas pada perempuan yang menyayangi anak-anaknya dan kadang pada suaminya. Sifat rahman dan rahim ini harus tumbuh pada setiap orang walaupun dalam proporsi yang berbeda-beda. Sifat rahman lebih dominan tumbuh pada kaum laki-laki, sedangkan sifat rahim tumbuh lebih dominan pada kaum perempuan.

Tumbuhnya akhlak seseorang tidak secara langsung terhubung dengan kesalahan perbuatan atau tindakan. Akhlak berada pada tingkatan berbeda dengan tindakan, tetapi ada suatu hubungan di antara keduanya. Suatu akhlak mulia akan membentuk dalam diri seseorang keinginan mengikuti kehendak Allah, ketidaksukaan terhadap hal syaitaniah, dan keinginan memberikan kebaikan kepada orang lain. Benar atau salahnya perbuatan atau tindakan berada pada urutan setelah akhlak, dipengaruhi oleh banyak hal yang ada atau sampai pada diri seseorang. Kadangkala akhlak baik yang terbentuk pada diri seseorang tidak setimbang maka perbuatannya disalahpahami orang lain. Misalnya seorang suami mungkin berkeinginan tinggi untuk berjihad sedangkan isterinya merasa suaminya tidak menyayangi karena banyak meninggalkan pekerjaan rumah. Hal demikian mungkin merupakan suatu bentuk kesalahan perbuatan atau tindakan, sedangkan akhlak suaminya tidak buruk walaupun tidak setimbang. Bila ada sifat dasar ingin memberikan kebaikan, mengikuti perintah Allah dan tidak menyukai hal syaitaniah, itu menunjukkan akhlak mulia setidaknya benihnya, walaupun perbuatannya salah. Bila seseorang bersikap sombong memandang rendah orang yang mengikuti kehendak Allah, itu menunjukkan akhlak yang buruk.

Suatu akhlak yang buruk akan mendatangkan banyak kesalahan dalam perbuatan manusia. Ketidaktaatan terhadap perintah Allah, kesukaan pada hal-hal yang buruk, atau munculnya sifat-sifat buruk atau mementingkan diri sendiri hingga tidak peduli merugikan orang lain seringkali mengikuti akhlak yang buruk. Kesalahan dari akhlak yang buruk mempunyai dampak kerusakan dalam tingkat yang berbeda daripada kesalahan perbuatan saja. Di pihak orang lain, orang tertentu mungkin mudah memaafkan kesalahan orang lain, tetapi mungkin perlu proses memaafkan lebih panjang bila orang lain merendahkan dirinya ketika ingin mengikuti petunjuk Allah. Kadangkala akhlak buruk tidak berhenti dalam berbuat buruk. Manakala dilakukan ishlah, seseorang mungkin saja menuntut pihak lain untuk mempermalukan diri. Hal demikian tidak masuk akal, tetapi bisa terjadi. Dalam keadaan demikian, seseorang yang berakhlak baik pun akan mudah terjatuh pada kesalahan berbuat.

Keinginan Berjamaah

Mencari pemimpin merupakan bagian tanda adanya akal pada diri seseorang. Seseorang yang mati tanpa suatu baiat di lehernya merupakan kematian jahiliyah. Seseorang yang tidak peduli tentang tuntunan dan pemimpin bagi dirinya adalah seorang jahiliyah. Orang-orang yang membina diri dalam akhlak mulia akan merasakan suatu dorongan dalam dirinya untuk mencari atau menemukan pemimpin bagi dirinya. Pada diri perempuan, dorongan ini bisa berbentuk keinginan menemukan suami yang tepat. Pada kaum laki-laki, pencarian pemimpin demikian muncul dari keinginan berjuang untuk kebenaran dan rasa lemah dalam mengikuti kebenaran, bahwa ia merasa tidak mungkin sendirian berjuang dengan benar tanpa pemimpin dalam urusan Allah.

Suatu kekejian dapat terjadi pada seseorang yang sedang mencari pemimpinnya. Misalnya manakala seseorang mengambil pemimpin sedemikian ia mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram karena mengikuti pemimpinnya, maka ia telah berbuat keji dalam mengambil pemimpin. Hal ini sebagaimana seorang perempuan berbuat keji manakala menjadikan laki-laki selain suaminya sebagai pemimpin dirinya. Kekejian yang terjadi akan menjadikan dirinya berakhlak sangat buruk karena mengikuti syaitan. Setiap orang harus berusaha untuk memperhatikan perintah dan ketentuan-ketentuan dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW agar terhindar dari kekejian.

Kadangkala akal seseorang mengenali pemimpinnya melampaui perkataan manusia hingga ia tampak tidak mengikuti suatu pemimpin di antara manusia, tetapi sebenarnya ia mengenali pemimpinnya yang sesungguhnya. Hal ini jarang terjadi, dan terjadi terutama pada masa kegelapan. Sumber pengenalan pemimpin demikian adalah tumbuhnya pengenalan dalam diri seseorang terhadap kebenaran yang harus dilaksanakan. Ia mungkin mulai dapat merasakan bentuk-bentuk kebenaran yang harus ditunaikan dalam kehidupan di dunia dan pengetahuan itu menjadikannya dapat membayangkan atau merasakan profil imam yang seharusnya memimpin dirinya. Hal demikian bisa berbahaya bila ia tidak mengendalikan diri dalam suatu ketaatan yang nyata. Bayangan tentang profil pemimpin itu dapat mengarahkan seseorang untuk mengenali nafs wahidahnya melalui pengenalan kedudukan dirinya dalam al-jamaah. Seseorang akan benar-benar mengenali pemimpin dalam urusannya manakala ia mengenali nafs wahidah, dan ia akan mengetahui bagian yang benar dan bagian bathilnya bayangan tentang pemimpin yang dahulu tergambar dalam dirinya.

Memberikan Kebaikan

Tumbuhnya akhlak mulia yang kokoh pada diri manusia akan mendatangkan manfaat kebaikan yang sangat banyak bagi kehidupan di bumi. Akhlak mulia seseorang itu tidak tumbuh hanya untuk diri sendiri. Kadangkala seseorang merasa baik dengan hubungan personal terhadap rabb-nya tanpa melihat nilai kebaikan yang dapat diwujudkan di kehidupan dunia, maka hal itu tidak menjadi indikator yang tepat bagi tumbuhnya akhlak mulia. Syaitan dapat mempermainkan keadaan orang-orang demikian dengan mudah, dan lebih sulit bermain dengan orang-orang yang memikirkan nilai kebaikan bagi umat manusia seluruhnya. Nilai kebaikan yang dapat diberikan seseorang kepada orang lain merupakan bagian dari keridhaan Allah terhadap hamba-Nya, karenanya syaitan akan sulit menghanyutkan bangunan yang dihasilkan dari cara pembinaan demikian.

Tumbuhnya sifat rahman dan rahim dalam diri seseorang akan memudahkan seseorang untuk mengenal kebaikan-kebaikan yang dapat dilakukan di bumi hingga ia dapat berbuat kebaikan bagi orang lain. Pengenalan seseorang terhadap kebaikan dapat dicapai hingga keadaan terbaik dalam bentuk mengenal hakikat yang ada di sisi Allah. Ada banyak kebaikan dalam tingkatan lebih rendah tetapi tetap mendatangkan kebaikan. Pengenalan kedudukan diri akan memudahkan seseorang untuk dapat bekerja sama dengan orang lain dalam mewujudkan kebaikan di muka bumi. Dengan nafs wahidah yang tumbuh dengan sifat baik dan menemukan keberjamaahan, seseorang akan memperoleh media yang baik untuk mewujudkan kebaikan-kebaikan yang banyak bagi kehidupan di bumi.

Setiap orang harus bersikap waspada terhadap keadaan memandang baik diri sendiri. Syaitan bisa membuat suatu kaum merasa sebagai orang-orang yang memperoleh petunjuk sedangkan sebenarnya mereka menghalangi manusia dari jalan Allah. Ini suatu keadaan yang sangat kontradiktif tetapi bisa dibuat oleh syaitan. Bangunan akhlak hendaknya selalu diukur dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW berdasarkan ketakwaan dan keridhaan Allah, tidak hanya mengikuti pendapat diri sendiri saja.

Senin, 12 Mei 2025

Pentingnya Pondasi Pembinaan yang Kokoh

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW dilakukan dengan membina diri dalam akhlak mulia sedemikian seseorang dapat memberikan manfaat dirinya dengan sebaik-baiknya. Pembinaan demikian harus dilakukan dengan berlandaskan ketakwaan dan harapan terhadap keridlaan Allah. Tanpa berlandaskan ketakwaan dan harapan akan ridha Allah, seseorang akan membina diri seperti membangun bangunan di tepi jurang yang mudah jatuh.

﴾۹۰۱﴿أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ تَقْوَىٰ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَم مَّنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS At-Taubah : 109)

Ayat di atas secara dzahir terkait dengan masjid dhirar dan larangan untuk menegakkan shalat di masjid dhirar. Masjid dhirar adalah masjid yang didirikan oleh orang-orang munafiq untuk menimbulkan madharat kepada kaum mukminin, menyebarkan kekufuran dan memecah belah kaum muslimin serta melakukan pengintaian terhadap gerakan-gerakan umat islam bekerja sama dengan orang-orang yang ingin memerangi umat islam. Umat islam dan kaum mukminin harus menyadari bahwa ada masjid-masjid yang didirikan dengan tujuan yang tidak baik terhadap kaum mukminin. Masjid demikian ini benar-benar ada, tidak hanya ada pada jaman Rasulullah SAW, tetapi akan selalu ada sepanjang jaman selama ada musuh-musuh yang memerangi kaum mukminin.

Secara bathin, ayat tersebut terkait dengan pembinaan diri dalam bersujud kepada Allah. Ada orang-orang yang membina dirinya untuk bersujud kepada Allah dengan ketakwaan dan harapan terhadap keridhaan Allah bagi dirinya, maka pembinaan tersebut merupakan pembinaan yang baik. Sebagian orang lainnya melakukan pembinaan dirinya di tepian jurang yang mudah runtuh, tidak berdasarkan ketakwaan dan harapan terhadap keridhaan Allah. Manakala seseorang membina dirinya dengan cara demikian, pondasi pembinaan mereka akan tergerus oleh keadaan hingga meruntuhkan binaan diri mereka dan menghanyutkan mereka menuju neraka.

Kata (فَانْهَارَ) menunjuk pada suatu konsekuensi terhanyutnya sesuatu hingga terbawa menuju suatu tempat. Pada dasarnya alam ciptaan Allah mengandung suatu kejahatan bagi manusia dalam kandungan yang berbeda-beda tergantung pada sikap manusia. Manakala seseorang tidak bertakwa, semesta seseorang membawa kecenderungan menyeret orang tersebut hingga mereka dapat terhanyut di dalamnya seperti sungai yang dapat menggerus bangunan-bangunan yang didirikan di bantarannya. Demikian orang-orang yang membina diri mereka tanpa suatu landasan ketakwaan dan harapan terhadap keridhaan Allah bagi dirinya akan terhanyut oleh alam ciptaan hingga menyeret mereka menuju neraka jahannam.

Pembinaan di tepi jurang demikian sering ditemukan di antara masyarakat. Misalanya boleh jadi ketika masa pendidikan, seseorang membangun idealisme tentang suatu ajaran agama atau suatu perjuangan yang tampak memberikan manfaat bagi umat manusia. Akan tetapi manakala terjun di pergaulan masyarakat, mereka berubah turut serta dalam arus pragmatis mencari keuntungan duniawi bagi diri mereka sendiri dan kelompoknya tanpa merasa malu merugikan orang-orang lain. Hal itu menunjukkan suatu pembinaan yang dilakukan di tepi jurang. Hal demikian tidak seharusnya terjadi. Setiap orang hendaknya membina dirinya secara kokoh tanpa terseret arus pragmatis kehidupan manusia.

Runtuhnya pembinaan di tepi jurang terjadi karena runtuhnya bangunan yang akan menyeret orang-orangnya menuju jahannam. Kadang suatu jamaah orang islam bergerak dalam bidang tertentu kemudian sebagian di antara pemimpin mereka berkhianat terhadap islam dan berbuat sesuatu yang mendatangkan madlarat, maka jamaah itu kemudian terseret untuk mengikuti perbuatan yang menyeret mereka menuju neraka. Ini merupakan contoh bangunan yang terhanyut dan menyeret manusia menuju jurang. Hal demikian tidak seharusnya terjadi. Setiap orang hendaknya membina dirinya dan mengikuti suatu jamaah yang mempunyai tujuan yang berdiri secara kokoh tanpa terseret arus pragmatis kehidupan manusia, dimulai dengan pembinaan diri dalam akhlak mulia. Semua bangunan yang kokoh tidak ditepi jurang mempunyai inti berupa pembinaan akhlak mulia.

Sebagaimana masjid-masjid dhirar, pembinaan-pembinaan demikian seringkali dilakukan oleh kaum munafiq untuk melemahkan orang-orang islam dalam mengikuti perintah Allah. Mereka membuat rumusan-rumusan yang tampak benar dari tuntunan islam dengan menghilangkan nilai kebaikan yang ada di dalamnya. Mereka tidak membuat rumusan-rumusan itu dari sesuatu yang sesat, hanya rumusan itu akan mudah terhanyut oleh kesesatan karena dibangun di tepian jurang tidak dibangun di dalam jurang. Seandainya membuat rumusan tauhid, mereka membuat rumusan tauhid dengan menghilangkan nilai kebaikan yang ada pada tauhid, sebagaimana kaum pagan bersembah sepertti Dzulkhuwaisirah bersembah. Ibadah-ibadah dan amal-amal yang dilakukan tidak menjadikan orang yang mengikuti mereka berakhlak mulia, hanya membangun waham sebagai hamba Allah yang paling baik.

Setiap orang hendaknya berusaha membina dirinya di atas landasan ketakwaan dan harapan terhadap keridhaan Allah. Ketakwaan menunjuk pada keinginan yang kuat pada diri seseorang untuk dapat mengenal dan beramal selaras dengan kehendak Allah. Seseorang yang berusaha untuk mengenal kehendak Allah dengan benar dan beramal berdasarkan pengenalan itu, maka ia adalah orang yang bertakwa, sekalipun ketakwaan itu mungkin hanya berupa titik-titik kecil. Semakin besar usahanya tersebut, semakin besar pula nilai ketakwaan yang ada pada dirinya. Ada orang yang tidak mempunyai keinginan untuk mengenal kehendak Allah, maka ia bukan orang yang bertakwa. Ada pula orang yang berusaha mengenal kehendak Allah dengan cara yang keliru, maka ia tidak bertakwa. Misalnya seseorang yang beramal berdasarkan perkataan manusia yang dikatakan sebagai kehendak Allah tanpa menimbang nilai kebaikan dari perkataan itu atau tanpa mencari landasannya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka orang tersebut keliru dalam mencari pengenalan terhadap kehendak Allah. Sekalipun tampak berusaha mengenal kehendak Allah, tetapi usaha yang dilakukan keliru maka ia tidak termasuk sebagai orang yang bertakwa. 

Mewujudkan Amal yang Tepat

Dengan suatu ketakwaan, seseorang dapat berharap memperoleh keridhaan Allah. Manakala seseorang telah mengetahui kehendak Allah maka ia dapat melakukan amal-amal berdasarkan pengetahuan itu. Turunnya keridhaan Allah akan tampak bagi seorang hamba manakala ia mengetahui kehendak Allah dan amal-amal yang harus dilakukan. Tetapi ridha Allah tidak hanya karena pengetahuan demikian. Setiap hamba Allah perlu beramal agar Allah memberikan ridha-Nya. Diperlukan sikap sungguh-sungguh dalam beramal agar Allah memberikan ridha kepada hamba-Nya. Kesungguhan dalam beramal tidak dapat muncul tanpa suatu landasan pengetahuan yang benar dan perkataan yang benar. 

Untuk memperoleh kekuatan beramal, hendaknya seseorang berusaha mengartikulasikan pengetahuan yang benar. Pengetahuan yang benar itu adalah pengetahuan tentang kehendak Allah sebagai bagian ketakwaan, dan seseorang harus berusaha untuk mengartikulasikan pengetahuan itu terhadap semesta diri mereka. Itu adalah perkataan yang benar. Dengan ketakwaan dan perkataan yang benar, Allah akan memperbaiki amal-amal seseorang dan mengampuni dosa-dosa yang diperbuatnya. Pengetahuan tanpa suatu ketakwaan tidak melahirkan perkataan yang tepat.

﴾۰۷﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
﴾۱۷﴿يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
(70)Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, (71)niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (QS Al-Ahzaab : 70-71)

Perkataan yang benar pada ayat di atas menunjuk pada perkataan yang akurat dalam mengungkap pengetahuan yang ada pada diri. Hal itu akan menjadikan seseorang memahami amal dirinya secara tepat sesuai dengan kehendak Allah, dan membuat orang lain dapat mengenali pula amal-amal yang seharusnya dilakukan. Perkataan demikian itu boleh bersifat menjelaskan secara lebih lebar tanpa memanjangkan perkataan. Alquran pada dasarnya telah menjelaskan seluruh hakikat secara tepat, tetapi tidak semua orang dapat mengenali hakikat-hakikat yang terkandung di dalamnya. Seseorang yang disucikan mungkin akan memperoleh suatu bentuk penjelasan (al-bayaan) tentang suatu ayat Alquran terkait dengan kauniyan diri seseorang, maka ia boleh menjelaskan kepada orang lain tentang al-bayaan itu kepada orang lain agar orang lain memperoleh manfaat dari al-bayaan itu. Akan tetapi hendaknya ia tidak berpanjang-panjang menjelaskannya kepada orang lain.

Perkataan yang benar merupakan implikasi langsung pengetahuan tentang kebenaran. Kadangkala suatu pengetahuan yang benar belum dapat diamalkan tetapi hampir selalu dapat dikatakan. Terkait ketakwaan dan ridha Allah, seseorang hendaknya tidak bermudah-mudah menolak atau menentang para pemimpin mereka karena alasan ketakwaan. Demikian pula setiap orang harus taat dalam mengikuti syariat tidak harus mengerti terlebih dahulu tujuan dari suatu atau setiap syariat. Kadangkala para pemimpin manusia memerlukan amal-amal dari kaum mereka sedangkan kaumnya tidak mengetahui nilai dari amal yang harus mereka laksanakan. Selama kaum tersebut tidak mengetahui madlarat dari amal yang diperintahkan, hendaknya mereka melaksanakan amal tersebut walaupun tidak mengetahui nilai dari amalnya atau landasannya, seraya ia memikirkan nilai dari amalnya. Apabila ia mengetahui madlarat dari perintahnya, hendaknya ia menyampaikan madlarat itu kepada yang memerintahkannya dan apabila diperlukan ia boleh menolak perintahnya. Nilai dari suatu amal seorang hamba kadangkala tidak semata-mata ditentukan dari nilai amalnya saja tetapi juga ketentuan-ketentuan lain yang terkait amalnya. Adapun perkataan yang benar, maka setiap orang hendaknya berusaha untuk mengatakan kebenaran tanpa meningggalkan empati terhadap pendengarnya.

Usaha demikian kadangkala tidak mudah dilakukan. Bukan tidak mungkin seseorang sama sekali tidak mendapat pintu masuk menyampaikan perkataan yang benar bahkan untuk keluarga atau isterinya sekalipun. Orang yang menentang tidak selalu dari kalangan orang-orang yang bersifat jahat. Sangat banyak orang yang berfikir pragmatis mengikuti arus kehidupan orang kebanyakan yang mungkin memandang perkataan yang tepat sebagai perkataan aneh. Demikian pula orang-orang yang mempunyai pengetahuan keliru akan menentang perkataan-perkataan yang tepat. Menyampaikan perkataan yang tepat kadangkala menjadikan seseorang dipandang masyarakat sebagai orang yang tidak mau bermusyawarah karena kultur mayoritas masyarakat yang mungkin saja bersifat gemar menghukumi tanpa memahami. Tentu bukan masalah orang yang bertakwa tidak mau bermusyawarah, tetapi bahwa perkataan benar yang disampaikan mungkin tidak memperoleh pintu atau tidak mendapatkan tempat di antara masyarakat karena jauhnya pengetahuan umum masyarakat terhadap kebenaran. Bila kebenaran yang disampaikan sekira telah bisa mendapat tempat atau pintu masuk pada masyarakat, orang bertakwa tentu berkeinginan bermusyawarah.

Ketakwaan dan perkataan yang benar ini akan menjadikan seseorang mengerti amal-amal yang tepat untuk dilakukan. Mungkin seseorang yang bertakwa mengalami kesulitan untuk melahirkan amal sesuai dengan pengetahuannya dan harus mengikuti amal yang lain sebelum dapat beramal maka amal mereka bukan amal-amal yang terbaik. Dengan perkataan yang tepat, Allah akan mengishlahkan amal-amal seseorang mengikuti ketakwaan dan perkataan tepat yang disampaikannya. Seringkali amal perbuatan yang baik harus dilakukan dengan usaha yang keras. Apabila seseorang tidak mengatakan pengetahuannya dengan tepat, jalan untuk mewujudkan amal-amal itu akan tampak berat, tidak terbuka atau akan menjadi semakin berat. Manakala seseorang mengatakan pengetahuannya secara menyimpang dari kebenaran yang diketahuinya, ia akan kesulitan untuk menemukan amal terbaik yang harus dilakukan. Apabila ia mengatakan yang tepat dan benar, amalnya akan terbuka mengikuti perkataannya. Sedikit banyak akan ada orang yang memahami perkataan yang benar dan mungkin masyarakat akan mulai menyingkap waham yang menutup diri mereka untuk mengikuti perkataan yang tepat.

Dalam urusan waham, syaitan sangat berkepentingan untuk tetap menutupkan waham kepada umat manusia. Mereka berkepentingan untuk menutup pikiran sedemikian seluruh manusia tertutup pikirannya dengan waham agar tidak dapat memahami perkataan yang benar. Menutupkan waham demikian kadangkala tidak bertujuan untuk munculnya kejahatan dari diri manusia secara langsung, tetapi hanya bertujuan agar menutup mereka dari memahami atau mengikuti perkataan yang benar. Seseorang yang baik mungkin saja ditutupi dengan waham bukan untuk kejahatan. Seseorang atau suatu kaum tidak boleh menghakimi bahwa seseorang yang mengatakan perkataan yang tepat sebagai kepala batu selama masyarakat tidak mengetahui atau menunjukkan kesalahan perkataannya tersebut. Mungkin saja terjadi seseorang yang mengatakan perkataan yang tepat benar-benar kesulitan menghadapi waham masyarakat bukan karena kejahatan masyarakatnya. Apalagi bila syaitan memperoleh sekutu dari kalangan manusia untuk menahan waham terhadap masyarakat, maka waham itu akan bertahan sangat kuat.









Minggu, 04 Mei 2025

Membina Persatuan dengan Tali Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Orang-orang yang mengikuti langkah Rasulullah SAW dengan benar akan menjadi orang-orang yang bersaudara dengan hati yang tersusun antara satu orang dengan orang yang lain. Persaudaraan demikian itu sangatlah menakjubkan bagi para makhluk, di mana hati satu orang tersusun dengan hati orang lain. Itu adalah keadaan al-jamaah. Barangkali tidak semua muslim atau semua orang beriman dalam keadaan demikian. Ada jalan panjang yang harus ditempuh oleh orang beriman agar mereka dapat membentuk persaudaraan dengan hati yang tersusun antara satu dengan yang lain.

﴾۳۰۱﴿وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu bermusuh-musuhan maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS Ali Imran : 103)

Orang-orang beriman yang bersaudara demikian adalah orang-orang yang telah memanjat tali Allah menempuh jalan kembali bertaubat kepada Allah. Allah yang menyusun hati mereka. Mereka memanjat tali Allah dengan meringankan diri dari beban-beban yang memberatkan berupa beban syahwat, hawa nafsu ataupun sifat-sifat syaitaniah yang mewarnai diri mereka yang menyebabkan permusuhan, dan mereka juga membangun visi tentang nikmat Allah agar dapat terlepas dari permusuhan-permusuhan. Dengan mengingat nikmat Allah, maka mereka dapat berpegang teguh dengan tali Allah secara benar dan kemudian hati mereka menjadi tersusun bersama orang-orang beriman lain yang menjalani proses yang sama.

Kehidupan manusia di bumi sebenarnya membawa beban-beban yang sangat banyak dan setiap orang harus berusaha menata diri mereka agar dapat berjalan mendekat kepada Allah dengan beban yang sanggup dibawa. Syahwat dan hawa nafsu yang tertata merupakan beban yang dapat dibawa manusia kembali kepada Allah, sedangkan sifat-sifat syaitaniah dan urusan-urusan syaitan atas diri manusia tidak akan sanggup ditanggung manusia untuk kembali kepada Allah. Setiap manusia harus membersihkan diri mereka dari sifat-sifat syaitaniah agar dapat berpegang pada tali Allah, dan kemudian menata syahwat dan hawa nafsu diri agar dapat memanjat tali Allah untuk mencari nikmat Allah. Manakala seseorang tidak menjauhkan diri dari sifat-sifat syaitaniah ataupun bisikan syaitan, mereka tidak akan dapat berpegang pada tali Allah dengan benar. Manakala seseorang tidak berusaha menata dan mengendalikan syahwat dan hawa nafsu, sebenarnya syahwat dan hawa nafsu mereka yang menarik mereka berjalan menuju yang mereka sukai menjauh dari jalan taubat kepada Allah.

Ciri-ciri utama kekuasaan syaitan, syahwat dan hawa nafsu atas diri manusia adalah timbulnya permusuhan-permusuhan di antara manusia. Syahwat dan hawa nafsu yang tidak terkendali akan membuat manusia berbuat apa yang mereka sukai tanpa memahami hak-hak dan batas-batas terhadap orang lain. Hal itu akan menimbulkan perselisihan dan permusuhan dengan orang lain. Demikian pula sifat-sifat manusia seperti amarah atau kerakusan dan sifat-sifat badaniah dan hawa nafsu lainnya yang tidak terdidik sering mendatangkan permusuhan. Tanpa suatu bisikan syaitan, orang yang mengikuti syahwat dan hawa nafsu liar akan menjadi bermusuh-musuhan dengan orang lain. Sifat-sifat syaitaniah pada diri manusia mempunyai dampak intensitas permusuhan yang lebih tinggi. Kesombongan, hasad (iri dan dengki) sangat mudah mendatangkan permusuhan di antara manusia.

Syaitan akan memperkuat permusuhan manusia, dan syaitan itu benar-benar berkeinginan untuk menjadikan manusia bermusuh-musuhan. Tidak hanya terhadap orang yang mengikuti syahwat dan hawa nafsu mereka, syaitan akan berusaha menimbulkan permusuhan-permusuhan di antara orang-orang yang berusaha berpegang pada tali Allah. Setiap orang harus berusaha memperhatikan dampak dari usaha-usaha yang mereka lakukan. Bila usaha mereka menimbulkan permusuhan-permusuhan di antara manusia, maka boleh jadi usaha mereka diwarnai dengan hawa nafsu, syahwat ataupun bisikan-bisikan syaitan. Boleh jadi permusuhan yang timbul itu bukan pada diri mereka sendiri, tetapi bisikan syaitan itu bisa saja menimbulkan permusuhan di antara pihak-pihak lain sedemikian orang yang mengikuti bisikan itu tampak mengadu-domba pihak-pihak yang kemudian menjadi bermusuhan.

Berpegang pada Kitabullah dan Persaudaraan

Untuk menghindari permusuhan, setiap orang hendaknya mengusahakan memperoleh nikmat Allah. Muslimin hendaknya mencari pelajaran tentang keadaan orang-orang yang memperoleh nikmat Allah dan berusaha untuk mengikuti mereka dengan berpegang teguh pada tali Allah dan tidak berpecah-belah. Tali Allah itu adalah Alquran, kitabullah yang diwujudkan di alam dunia sebagai turunan dari hakikat-hakikat yang ada di tangan Allah. Segala yang ditentukan dalam kitabullah hendaknya diikuti, tidak melanggar apa-apa yang dilarang di dalamnya Manakala seseorang menentang sesuatu yang dituliskan dalam kitabullah, ia akan celaka sekalipun bila ia meyakini kebenaran perbuatan yang dilakukannya.

Orang-orang yang diberi nikmat Allah pada dasarnya mengambil urusan mereka masing-masing dari kitabullah Alquran, maka hendaknya kaum muslimin berusaha mengikuti langkah mereka dan mengambil langkahnya dari Alquran. Mengikuti langkah orang-orang yang telah memanjat tali Allah akan menjadikan seseorang dapat berpegang dengan tali Allah, dan mereka akan memperoleh nikmat Allah manakala telah berpegang tali Allah dengan benar. Ini keniscayaan. Apabila suatu kaum tidak memperoleh kejelasan dalam mengikuti langkah orang lain yang berpegang pada tali Allah, hendaknya mereka berusaha memperhatikan tali Allah yang mereka pegang, tidak sekadar mengikuti langkah orang lain. Tanpa berpegang pada tali Allah, seseorang tidak akan memperoleh nikmat Allah.

Berpegang pada tali Allah secara benar akan menghilangkan potensi berpecah-belah. Orang yang berpegangteguh pada tali Allah akan dapat memberikan penjelasan yang tepat tentang kebaikan dalam mengikuti tali Allah. Banyak pihak menggunakan ayat-ayat kitabullah untuk membuat perselisihan di antara manusia, atau menggunakannya untuk mencari kedudukan dan harta benda di antara manusia, maka mereka tidak benar-benar bisa menunjukkan kebaikan dalam berpegang pada tali Allah. Ada pula orang-orang yang keliru atau kurang jelas dalam memahami maksud dari ayat-ayat kitabullah, maka mereka mungkin akan memberikan penjelasan yang salah kepada orang lain. Orang yang berpegang pada tali Allah dengan benar akan memperoleh suatu kejelasan tentang kebaikan dalam mengikuti tuntunan kitabullah, sedemikian bahwa mengikuti mereka akan menghindarkan dari berpecah-belah dengan orang lain.

Berpecah-belah menunjukkan perselisihan di antara orang-orang yang ingin menjadi baik. Pertentangan mungkin saja dilakukan orang yang mengikuti kitabullah tetapi hanya terhadap orang-orang yang berkeinginan tidak baik atau terhadap orang yang menempuh jalan keliru, tidak terhadap orang-orang yang berkeinginan baik walaupun mungkin lemah atau salah bertindak. Kadangkala orang berkeinginan baik tetapi sebenarnya ia berbuat kerusakan dan kejahatan karena ia menentang tuntunan Allah atau mengikuti syaitan, maka hal demikian merupakan jalan yang keliru yang perlu ditentang. Biasanya orang di jalan yang keliru sulit untuk menyadari kerusakan dan kejahatan yang mereka lakukan karena telinga, mata dan qalb mereka tidak digunakan untuk memahami kebenaran tetapi untuk membangun kebenaran sendiri. Kadangkala seseorang ingin menjadi baik tetapi ia lalai dalam melakukan amalnya, maka hal demikian merupakan kesalahan yang tidak perlu ditentang. Mereka seringkali mudah untuk diingatkan atau bahkan dapat merasakan sendiri kesalahan yang mereka perbuat. Menentang orang-orang yang jahat atau menempuh jalan yang keliru tidak termasuk dalam berpecah-belah tetapi merupakan usaha amar ma’ruf nahy munkar. Menunjukkan kebaikan kepada orang yang salah dilakukan dengan seruan kepada kebaikan.

Sebaliknya memusuhi orang-orang yang berkeinginan baik merupakan perbuatan berpecah-belah. Apabila suatu kelompok di antara umat memisahkan diri dari urusan umat sedangkan umat itu mengupayakan kebaikan, kelompok itu berpecah-belah. Demikian pula sebaliknya apabila orang-orang yang mengusahakan kebaikan ditindas atas nama agama, maka penindasan demikian merupakan tindakan berpecah-belah sekalipun yang melakukannya orang yang lebih banyak. Penindasan oleh orang kafir bukan berpecah belah. Mendukung seseorang untuk berbuat buruk terhadap orang lain termasuk berpecah-belah. Tidak berpecah-belah harus dilakukan dengan perbuatan baik mengikuti tuntunan kitabullah tidak menganiaya atau mempersulit orang-orang yang mengusahakan kebaikan dengan jalan yang baik. Mengikuti kitabullah dikatakan benar apabila dilakukan di atas pemahaman terhadap firman Allah dengan landasan sikap rahman dan rahim. Mengadu kebenaran antar kelompok dengan menggunakan materi kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak termasuk dalam tindakan mengikuti kitabullah, dan sikap demikian termasuk kesyirikan berupa kebanggaan dengan menganggap kebenaran hanya ada pada diri mereka sendiri.

Tidak dikatakan berpegang teguh dengan kitabullah orang-orang yang masih gemar dengan berpecah-belah. Kegemaran itu boleh jadi tampak dalam bentuk samar, misalnya sikap suka menyalahkan tanpa menunjukkan yang lebih baik. Seseorang yang melihat tuntunan dari tali Allah niscaya ingin berbagi tuntunan itu kepada orang lain agar dapat menjalani bersama-sama. Landasan sikap berbagi kebenaran di antara orang yang mengikuti tuntunan itu adalah rahmaniah dan rahimiah, bukan keinginan menonjolkan kebenaran sendiri atau menyalahkan kebenaran orang lain. Apabila melihat kesalahan orang lain, mereka berkeinginan mencegah sahabatnya agar tidak terus berbuat kesalahan dan ingin menunjukkan yang lebih baik, bukan ingin mengungkap kesalahan. Kadangkala seseorang yang mempunyai sedikit ilmu tanpa memahami mempersalahkan sahabatnya tanpa mau menunjukkan kesalahan yang terjadi ataupun amal yang lebih baik. Hal itu tidak dapat dibenarkan, baik sahabatnya memang bersalah ataupun bila sahabatnya di atas kebenaran karena akan membuat manusia berpecah-belah. Orang yang melakukan kesalahan hendaknya ditunjukkan ke arah yang benar, dan orang yang berbuat kebenaran didukung untuk beramal yang mendatangkan manfaat.

Apabila seseorang telah berpegang pada kitabullah dengan benar, ia akan terangkat sebagai golongan orang-orang yang Allah susun hatinya bersama mukminin yang lain yang berpegang teguh dengan kitabullah. Mereka akan memperoleh nikmat Allah hingga menjadi golongan yang bersaudara. Pada dasarnya urusan/perintah Allah di antara orang-orang beriman berhubungan satu dengan yang lain sedemikian satu orang dapat melihat urusannya pada orang lain, sedangkan perintah Allah itu terdapat pada tali Allah. Pelaksanaan urusan secara berjamaah itu akan menumbuhkan hubungan di antara hati-hati kaum mukminin hingga mereka menjadi bersaudara. Persaudaraan itu tumbuh di atas tali Allah. Apabila suatu umat tidak dapat menemukan urusan Allah bagi dirinya dari sahabatnya, boleh jadi mereka tidak sungguh-sungguh memperhatikan tuntunan kitabullah yang mereka tunaikan, atau dikatakan tidak berpegang pada tali Allah. Kadangkala dua orang yang berjuang bersama tidak dapat bersatu karena tidak memahami dasar perjuangan sahabatnya bukan karena berselisih. Bila mereka mempunyai landasan perintah Allah dari kitabullah Alquran dan mereka memperhatikan sungguh-sungguh landasan itu, mereka akan memperoleh cahaya untuk menuju nikmat Allah untuk menuju persaudaraan. Bila memperoleh cahaya dari tali Allah, suatu kaum tidak terus-menerus hanya meraba-raba dalam kegelapan urusan Allah bagi mereka.

Nafs Wahidah dan Persatuan

Umat harus berusaha sekuat tenaga agar tidak berpecah-belah sekalipun hawa nafsu mereka ingin berselisih dengan yang lain. Usaha untuk tidak berpecah-belah itu akan menjadi semakin mudah apabila nafs mereka tersucikan dan tumbuh padanya persaudaraan dengan orang-orang beriman lainnya karena pemahaman mereka yang selaras terhadap kitabullah. Bila tidak melakukan tazkiyatun nafs, orang-orang beriman akan selalu merasa berat menanggung beban untuk mengendalikan hawa nafsu berselisih dengan mukmin lainnya. Keadaan memperoleh nikmat Allah merupakan hasil dari penyatuan nafs wahidah. Mereka orang-orang yang menempuh jalan tazkiyatun-nafs, karena yang dapat tumbuh menyatu dengan kebenaran hanya orang-orang yang disucikan jiwanya. Manakala seseorang masih dikuasai hawa nafsu dan syahwat atau bahkan syaitan, mereka tidak dapat menyatu dalam al-jamaah dalam persaudaraan dari hati. 

Perkembangan nafs wahidah terkait pula dengan pernikahan, sedemikian suatu persatuan umat akan sulit terbentuk manakala para perempuan tidak dibina dengan baik atau justru dirusak dengan pembinaan yang salah. Pernikahan merupakan setengah bagian dari agama yang sangat terkait dengan perkembangan nafs wahidah seseorang. Tentang umul mukminin Siti Khadijah r.a, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa tanpa Khadijah r.a, beliau SAW tidak akan menjadi nabi. Hal itu terkait dengan perkembangan yang seharusnya terjadi pada nafs wahidah. Boleh jadi tanpa pernikahan yang baik seseorang bisa menjadi suci dan diberi pengetahuan kebenaran yang banyak tetapi tidak mempunyai kemampuan atau kesempatan untuk memberitakannya kepada umatnya karena tidak berkembangnya nafs wahidah secara semestinya. Secara keumatan, tidak terbentuk susunan yang membina hubungan dirinya dengan umatnya, karenanya ia tidak mempunyai kemampuan untuk menyeru umatnya untuk mengikuti kebenaran yang dikenalinya.

Persaudaraan di antara orang-orang beriman yang terbina di atas nafs wahidah memiliki keserupaan dengan hubungan yang tumbuh dalam pernikahan. Seseorang di antara orang beriman boleh jadi merupakan sumber urusan bagi yang lain sebagaimana seorang suami merupakan sumber urusan bagi perempuan dalam ibadahnya kepada Allah. Ada pula hubungan urusan di antara orang beriman dalam bentuk horisontal layaknya seorang isteri dengan madunya. Sebenarnya baiknya pernikahan seseorang merupakan media yang menumbuhkan pula hubungan seseorang dengan orang-orang beriman lainnya dalam urusan penyatuan nafs wahidah umat. Baiknya pembinaan pernikahan suatu umat akan menumbuhkan penyatuan umat dan tidak bercerai berai, sedangkan rusaknya pembinaan pernikahan umat akan memunculkan fenomena perselisihan yang cenderung marak dan menguat. Untuk memecah belah, syaitan menggunakan cara pemisahan suami dan isteri sebagai jalan utama membuat fitnah yang besar di antara manusia. Ini terkait dengan pencegahan penyatuan nafs wahidah di antara orang-orang beriman.

Pembinaan yang benar harus dilakukan baik terhadap kaum laki-laki ataupun kaum perempuan. Kaum laki-laki harus dibina untuk dapat menemukan amal shalih melalui Rasulullah SAW dan orang-orang shalih yang bersama dengan beliau SAW, tidak menyimpang mengikuti urusan yang tidak jelas asal-usulnya. Urusan para laki-laki diturunkan Allah melalui Rasulullah SAW dan dibagi dengan orang-orang yang bersama dengan beliau SAW. Dengan pengetahuan tentang amal shalihnya, mereka hendaknya menyayangi keluarganya dan orang-orang lain. Kaum perempuan harus dibina untuk dapat menghormati suaminya dan mentaati, tidak bersikap hanya mengikuti hawa nafsu diri mereka. Urusan Allah bagi kaum perempuan diturunkan melalui suaminya, tidak melalui laki-laki lain maka hendaknya mereka memperhatikan suaminya untuk memperhatikan urusan Allah.

Apabila seorang perempuan meninggalkan suaminya untuk mengikuti laki-laki lain, ia akan menjadi perempuan keji. Umat akan menjadi rusak apabila para perempuan mereka keji. Demikian pula apabila para perempuan dibiarkan tanpa ketaatan kepada suaminya, maka umat akan menjadi kaum yang liar tanpa ketaatan kepada para ulul amri dan pemimpin mereka. Ini merupakan kerusakan besar. Merusak para perempuan bangsa akan menjadikan bangsa itu runtuh sekalipun seandainya para laki-laki mereka adalah orang-orang yang shalih karena keshalihan mereka tidak akan terwujud di alam dunia. Kaum perempuan demikian ini semisal dengan para laki-laki yang meninggalkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam membina peradaban, maka mereka hanya akan menemukan hasil yang buruk bagi usaha-usaha yang mereka lakukan. Manakala ada orang yang menyeru untuk mewujudkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, hendaknya mereka memperhatikan seruan itu, dan mengikutinya manakala telah memahami kebenarannya. Bila umat meninggalkan seruan orang demikian, mereka sangat mungkin telah meninggalkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk mengikuti waham sendiri. Manakala seruan seseorang yang telah melangkah dengan benar bersama Rasulullah SAW diabaikan, suatu kaum pada dasarnya mengabaikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.