Pencarian

Minggu, 18 Mei 2025

Kitabullah Sebagai Landasan Amal Shalih

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Jalan kembali kepada Allah terbentang bagi manusia sejak di alam dunia hingga tiba di sisi Allah. Jalan kembali ini bukan hanya berbentuk permohonan ampunan saja, tetapi juga dalam bentuk amal-amal kehidupan dunia. Permohonan ampunan terhadap dosa-dosa merupakan bentuk dasar jalan kembali kepada Allah, sedangkan orang yang telah berjalan akan menemukan bentuk-bentuk amal duniawi yang harus dikerjakannya sedangkan ia terus memohon ampunan atas dosa dan kesalahan yang mungkin dilakukannya. Amal-amal duniawi yang dikerjakan mengikuti kehendak Allah merupakan jalan kembali yang dibentangkan Allah bagi umat manusia dalam bentuk yang lebih jelas.

Amal-amal demikian selalu terhubung dengan pengetahuan tentang ayat kauniyah yang terintegrasi dengan ayat kitabullah, dan dilakukan sesuai dengan syariat-syariat yang ditentukan Allah tidak melanggarnya. Hal ini perlu diperhatikan. Mungkin saja seseorang mencari jalan kembali kepada Allah tetapi tidak waspada terhadap syaitan hingga suatu perintah Allah dilakukan dengan melanggar ketentuan Allah, maka ia justru membantu syaitan. Suatu perintah Allah kadangkala membangkitkan hawa nafsu yang mendorong keinginan untuk dipandang sebagai pahlawan bagi manusia, maka ia menjadi menyimpang. Kadangkala seseorang menyangka bahwa ia telah sampai kepada Allah hingga berbuat dzalim terhadap manusia dalam urusan Allah. Banyak hal yang dapat menyimpangkan manusia dari jalan kembali kepada Allah, maka hendaknya setiap orang memperhatikan tuntunan kitabullah.

Allah memberikan peringatan kepada umat manusia sebagaimana kisah pada ayat berikut :

﴾۲۰۱﴿وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُوا الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُم بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan atas kerajaan Sulaiman, padahal Sulaiman tidak kafir, hanya syaitan-syaitan lah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (dari ilmunya) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya fitnah, sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka (para syaitan) mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan ilmu itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (para syaitan) tidak memberi mudharat dengan ilmu itu kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka (manusia) mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepada mereka (manusia) dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa barangsiapa yang membelinya, tiadalah baginya akhlak (demikian) di akhirat, dan amat buruklah perbuatan mereka menjual dirinya dengan ilmu itu, kalau mereka mengetahui. (QS Al-Baqarah : 102)

Kitabullah memberitahukan bahwa sekelompok manusia mengikuti bacaan-bacaan syaitan atas kerajaan nabi Sulaiman a.s sedangkan tuntunan pada bacaan itu sangatlah kafir. Bukan nabi Sulaiman yang memberikan tuntunan demikian, tetapi syaitan-lah yang kafir. Para pengikut bacaan syaitan itu saat ini dapat kita lihat di timur tengah dalam bentuk gerakan zionisme yang melakukan genosida di palestina atas nama agama. Gerakan demikian itu telah ada sejak jaman setelah nabi Sulaiman a.s, dan nampak jelas pada jaman ini. Bila seseorang mengamati dengan baik gerakan zionisme, ia akan menemukan bahwa zionisme sebenarnya tidaklah hanya di bumi palestina. Mereka mempunyai dukungan senjata yang sangat besar di amerika dan bagian dunia lainnya, sedangkan pengaruh ekonomi dan politik serta pengaruh lain mereka menjangkau hampir seluruh dunia tanpa disadari oleh manusia yang mengikutinya. Perbankan modern di dunia hampir sepenuhnya mengikuti konsep zion. Orang-orang beriman hendaknya bisa memahami tuntunan kitabullah terkait dengan gerakan pengikut bacaan syaitan.

Licinnya Berpijak  Waham

Kebanyakan orang beriman yang bertaubat terliputi waham hingga tidak dapat membaca tuntunan kitabullah terkait alam kauniyah mereka. Waham itu syaitan bangkitkan bagi umat manusia dan diliputkan atas manusia dengan sarana berupa dua bentuk ilmu, yaitu ilmu sihir dan ilmu Harut dan Marut. Kedua ilmu itu efektif diterapkan bagi seluruh kalangan manusia, baik bagi orang-orang yang jahat ataupun bagi orang-orang yang beriman. Bagi orang kebanyakan, syaitan menggunakan ilmu sihir bersama orang-orang yang bersekutu dengan mereka. Bagi orang beriman, syaitan menggunakan ilmu Harut dan Marut bersama orang-orang yang mereka tipu dari kalangan orang beriman. Kedua ilmu itu akan menutupkan waham atas seluruh golongan manusia dari kalangan orang-orang jahat hingga kalangan orang-orang yang beriman.

Dengan ilmu sihir, syaitan menjadikan orang-orang yang bersekutu dengan mereka sebagai pembesar-pembesar bagi manusia. Manusia akan memandang pembesar-pembesar yang mengikuti ilmu sihir sebagai orang yang sangat berjasa sekaligus melihat pula kelicikan-kelicikan yang dilakukannya sebagai tipu muslihat dalam menjaga kekuasaan mereka. Sekalipun merasakan tetapi manusia tidak dapat menentukan langkah yang baik untuk masalah itu. Tidak semua pembesar manusia merupakan pengikut sihir syaitan, atau boleh dikatakan hanya sedikit pembesar manusia yang mengikuti sihir syaitan, tetapi hampir seluruh dunia terpengaruh oleh sihir syaitan karena pengaruh-pengaruh yang dibuat melalui jalan yang lain misalnya pengaruh ekonomi ataupun politik serta pengaruh lainnya.

Ilmu Harut dan Marut dipergunakan syaitan untuk mengurung orang-orang beriman dalam waham mereka sendiri tidak mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Orang beriman pastilah berkeinginan untuk memberikan kebaikan bagi alam semesta mereka, tetapi manakala ilmu Harut dan Marut mempengaruhi, mereka akan memandang apa-apa yang mereka pahami lebih baik daripada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bagaimanapun ilmu Harut dan Marut merupakan fitnah. Sekalipun manusia memandang baik apa-apa yang ada pada mereka, sebenarnya apa yang mereka lakukan mengikuti ilmu Harut dan Marut mendatangkan kerusakan yang sangat besar bagi umat manusia. Pandangan baik terhadap diri mereka itu merupakan pengaruh dari ilmu Harut dan Marut. Ilmu itu akan menipu manusia dalam bentuk-bentuk yang terlihat indah.

Akhlak manusia tidak boleh dibentuk dengan ilmu Harut dan Marut, karena sekalipun akhlak itu tampak menakjubkan di alam dunia hingga alam barzakh, akhlak itu akan terlepas kelak di akhirat. مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ . Ilmu Harut dan Marut itu hanyalah sebuah fitnah. Manakala seseorang menggunakan ilmu Harut dan Marut, ia akan kehilangan manfaat kehidupan dunia. Kehidupan dunia sangat bermanfaat untuk membina akhlak manusia. Seseorang mungkin harus mengulang kembali pembinaan akhlak dirinya di alam akhirat, karena ilmu Harut dan Marut akan menyebabkan mereka kehilangan akhlak yang diperoleh dari kehidupan di dunia. Mungkin akhlaknya di dunia sudah tampak indah, tetapi bila keindahannya karena mengikuti ilmu Harut dan Marut itu maka akhlak itu akan musnah. Kehidupan akhirat akan sangat panjang dibandingkan dengan kehidupan di dunia, sedangkan tidak ada tanda-tanda yang mengarahkan pembinaan diri dalam kehidupan akhirat.

Pembinaan akhlak umat manusia harus dibentuk dengan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW tidak menyimpang darinya. Akhlak berdasar kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW itulah akhlak yang sebenarnya, tidak akan hilang manakala telah terbentuk selama dirinya sendiri tidak membuangnya. Membentuk akhlak mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan membersihkan jiwa (tazkiyatun Nafs) agar seseorang dapat mengenal kandungan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Tanpa tazkiyatun-nafs, seseorang hanya akan membentuk pemahaman pada tingkatan hawa nafsu saja. Proses tazkiyatun-nafs dapat diibaratkan layaknya mempersiapkan lahan untuk bercocok tanam. Ia harus dibersihkan dari gulma dan tanaman pengganggu, serta dibersihkan dari penyakit-penyakit yang dapat menghinggapi tanaman yang ditanam.

Pembinaan akhlak itu sendiri adalah menumbuhkan benih diri manusia hingga tumbuh pohon diri berupa kalimah Thayyibah. Benih diri itu merupakan jati diri manusia berupa kalimah thayyibah yang akan tumbuh manakala memperoleh stimulasi dari kalimah thayibah kitabullah Alquran. Kedua kalimah itu merupakan dua hal yang sama, kalimah sebagai benih dalam diri manusia dan kalimah dalam bentuk ayat kitabullah Alquran. Kalimah yang tumbuh dalam diri manusia harus serupa dengan kalimah dalam kitabullah Alquran, dibentuk melalui mekanisme misykat cahaya sebagaimana kamera membentuk gambar objek. Manakala kalimah diri yang tumbuh diketahui menyimpang atau melanggar kalimah dalam kitabullah, kalimah itu harus dipotong agar tidak tumbuh sebagai pohon yang liar tanpa suatu landasan dari tuntunan Allah. Hal ini harus dipahami secara hati-hati. Tidak semua ilmu yang belum diketahui manusia secara umum merupakan ilmu liar. Pohon bisa menumbuhkan buah yang mungkin tidak disebutkan secara langsung dalam kitabullah, tetapi buah itu merangkum pengetahuan-pengetahuan dari ayat-ayat yang tersebar baik ayat kitabullah maupun ayat kauniyah yang tersebar pada semesta diri mereka.

Menumbuhkan kalimah thayibah merupakan bagian dari jalan kembali kepada Allah yang harus diutamakan. Kadangkala suatu kaum menempuh proses tazkiyatun-nafs tetapi tidak digunakan untuk berusaha memahami tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Hal ini seperti orang-orang yang mengolah lahan tetapi tidak menanam tanaman, tentulah tidak ada pohon yang tumbuh. Mereka tampak sebagai orang-orang yang baik tetapi tidak dapat memahami perintah Allah. Benih-benih yang seharusnya ditanam itu berupa ayat-ayat dari kitabullah yang terkait dengan ayat-ayat kauniyah. Setiap orang yang menempuh jalan taubat hendaknya mempunyai suatu perhatian terhadap tuntunan ayat kitabullah yang sesuai dengan keadaan diri mereka tanpa mengada-ada, maka ayat itu akan menjadi cahaya yang menumbuhkan benih kalimah thayibah yang telah dititipkan dalam diri mereka.

Ilmu Harut dan Marut dimanfaatkan syaitan untuk membelokkan manusia dari memahami tuntunan kitabullah dengan menyuburkan waham kebaikan dalam diri. Sebagian pemahaman manusia bisa tumbuh dari kitabullah dan pemahaman yang lain turun dari syaitan, sedemikian manusia tidak mengenali apa yang diselipkan syaitan bagi diri mereka. Hal ini dapat dihindari apabila orang beriman berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Akan tetapi syaitan akan menghalangi upaya ini, di antaranya yang paling ampuh adalah dengan akhlak semu yang ditumbuhkan dengan ilmu Harut dan Marut. Manusia akan mempercayai akhlak yang tampak megah di mata mereka daripada tuntunan kitabullah. Kepercayaan ini akan tumbuh secara rumit melibatkan kebenaran-kebenaran yang dipergunakan secara tidak semestinya. Bila orang-orang beriman dapat mengikuti tuntunan kitabullah secara tulus tanpa terjerat kerumitan demikian, mereka akan dapat melihat secara tepat ayat-ayat Allah untuk menumbuhkan benih kalimah thayibah pada diri mereka.

Akhlak yang tumbuh mengikuti ilmu Harut dan Marut pada dasarnya sama dengan para perempuan yang berakhlak (tampak) benar-benar berjubah agung di alam dunia akan tetapi akan telanjang kelak di akhirat. Akhlak demikian merupakan dampak secara langsung ilmu Harut dan Marut. Dampak ilmu itu tidak terbatas pada keadaan demikian. Ada orang-orang yang akan dipaksa tercerai dari keutuhan dirinya sedangkan ia menginginkan keutuhan nafs wahidah, atau tertelanjangi dari jalan ketakwaannya. Bagian dari ilmu Harut Marut yang sangat diperhatikan oleh syaitan adalah memisahkan isteri dari suaminya. Perempuan-perempuan dibuat menjadi pejuang agama yang meninggalkan jalan ibadah yang ditetapkan baginya berupa suaminya, maka mereka menjadi perempuan-perempuan yang berjubah di alam dunia tetapi kelak di akhirat akan telanjang. Itu adalah dampak langsung dari fitnah ilmu Harut dan Marut.

Para laki-laki yang terkena fitnah ilmu Harut Marut pada dasarnya sama dengan perempuan demikian. Mereka berakhlak megah di alam dunia, tetapi kelak di akhirat akhlak itu akan terlepas dari mereka karena tidak berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Akhlak yang akan bertahan hingga seseorang hadir di hadapan Allah hanyalah akhlak yang dibina selaras dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sedikitnya akhlak demikian itu akan bertahan hingga abadi, dan banyaknya akhlak itu akan menjadikan seseorang bertambah kemuliaan di sisi Allah. Amal-amal yang dilakukan manusia dengan kemegahan semu tanpa mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW justru akan menjadi beban yang harus dibersihkan di hadapan Allah, bukan mendatangkan timbangan hakikat yang mendatangkan bobot bernilai baginya.

Akhlak yang Lurus

Kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW akan membentuk manusia berakhlak lurus. Ada kelompok di antara manusia yang mengambil tandingan-tandingan selain Allah karena tidak lurusnya akhlak diri mereka. Mereka tidak membina akhlak diri mereka mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

﴾۵۶۱﴿وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
Dan diantara manusia ada orang-orang yang mengambil tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat adzab, bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).(QS Al-Baqarah : 165)

Golongan demikian itu adalah orang-orang yang menjadikan Allah sebagai tuhan mereka dan mereka mencintai Allah, tetapi mereka juga mencintai makhluk lain sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah. Masalah pada mereka bukan berupa kekufuran kepada Allah, tetapi bahwa kecintaan mereka kepada makhluk yang mereka cintai setara dengan kecintaan mereka kepada Allah. Perbuatan demikian seringkali tumbuh tanpa disadari dalam bentuk mengikuti perintah-perintah orang yang mereka cintai tanpa memperhatikan perintah Allah. Atau manakala suatu ayat Allah dibacakan, mereka mengabaikan bacaan itu karena bukan dibacakan oleh orang yang mereka cintai layaknya Allah, maka mereka mengabaikan urusan Allah. Barangkali mereka memandang bahwa makhluk-makhluk itu adalah representasi Allah kepada diri mereka maka mereka mencintai makhluk itu sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah. Kadangkala mereka melakukan itu tanpa persetujuan makhluk-makhluk yang mereka cintai, karena rasa takut kepada Allah pada orang yang dicintai. Adapun makhluk yang menyukainya hanyalah makhluk bodoh yang tidak mengenal Allah. Iblis sebenarnya merasa takut kepada Allah kala menjadikan manusia menyembah mereka, tetapi rasa hasad pada diri mereka mengalahkan rasa takut kepada Allah.

Dalam kasus tertentu bisa ditemukan bukti bahwa mereka tidaklah mencintai makhluk karena mencintai Allah, tetapi menunjukkan dengan jelas bahwa sikap mereka itu menjadikan tandingan-tandingan selain Allah. Manakala makhluk-makhluk yang mereka cintai menyelisihi atau menentang tuntunan kitabullah Alquran, mungkin mereka akan lebih mengikuti makhluk yang mereka cintai, maka akan terlihat bahwa mereka menjadikan makhluk sebagai tandingan-tandingan selain Allah. Kecintaan kepada mereka dalam rangka kecintaan kepada Allah tidak terbukti karena pelanggaran kepada tuntunan Allah. Cara pandang bahwa makhluk-makhluk yang mereka cintai adalah representasi Allah mengandung bahaya yang besar karena mudah menggelincirkan seseorang untuk mengambil tandingan-tandingan bagi Allah. Setiap orang harus menilai kedudukan makhluk secara semestinya, bahwa Muhammad SAW adalah rasulullah dan kitabullah Alquran adalah firman Allah. Orang-orang beriman hendaknya tidak menjadikan makhluk sebagai objek kecintaan (mahabbah) tanpa suatu landasan yang benar. Landasan itu berupa bukti kedudukan orang yang dicintai dalam penjelasan kitabullah dan urusan Rasulullah SAW. Sangat tidak boleh menjadikan makhluk sebagai tara (bandingan) bagi Allah. Mencintai makhluk sebagai perpanjangan kecintaan kepada Allah hendaknya dilakukan dengan mengukur keselarasan makhluk yang dicintai dengan bagian yang mereka peroleh dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak mengada-adakan perpanjangan kecintaan kepada Allah tanpa dasar yang jelas.

Akhlak yang tumbuh dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW inilah yang dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kehidupan umat manusia, tidak teralihkan oleh waham walaupun itu waham kebaikan. Mereka akan mengenali kauniyah yang terjadi selaras dengan hakikat dari sisi Allah, maka mereka akan mengetahui amal yang perlu dilakukan. Manusia-manusia terlaknat yang mengikuti bacaan syaitan untuk mendirikan kerajaan bagi mereka mempunyai ilmu-ilmu yang berasal dari syaitan, dan ini akan sulit ditandingi oleh umat manusia lainnya bila tidak menumbuhkan dan membina akhlak yang benar-benar bersumber dari kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Syaitan-pun berkepentingan membina akhlak manusia yang tampak megah bagi manusia tetapi sebenarnya hanya merupakan fitnah. Akhlak itu mereka jadikan kunci untuk merusak umat manusia dengan bentuk-bentuk kekejian yang dipandang baik oleh manusia, sebagaimana para perempuan yang berjubah di alam dunia tetapi menyimpang dari jalan ibadah yang benar. Itu akan mendatangkan fitnah yang sangat besar. Manusia harus membina diri mereka dengan pengetahuan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW agar dapat memberi manfaat sebaik-baiknya bagi semesta mereka.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar