Pencarian

Selasa, 13 Mei 2025

Pembinaan Akhlak yang Kokoh

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW dilakukan dengan membina akhlak mulia sedemikian seseorang dapat memberikan manfaat dirinya dengan sebaik-baiknya. Pembinaan demikian harus dilakukan dengan berlandaskan ketakwaan dan harapan terhadap keridlaan Allah. Tanpa berlandaskan ketakwaan dan harapan akan ridha Allah, seseorang akan membina diri seperti membangun bangunan di tepi jurang yang mudah jatuh.

﴾۹۰۱﴿أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ تَقْوَىٰ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَم مَّنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS At-Taubah : 109)

Secara bathin, ayat tersebut terkait dengan pembinaan diri dalam bersujud kepada Allah. Ada orang-orang yang membina dirinya untuk bersujud kepada Allah dengan ketakwaan dan harapan terhadap keridhaan Allah bagi dirinya, maka pembinaan tersebut merupakan pembinaan yang baik. Sebagian orang lainnya melakukan pembinaan dirinya di tepian jurang yang mudah runtuh, tidak berdasarkan ketakwaan dan harapan terhadap keridhaan Allah. Manakala seseorang tidak bertakwa, semesta seseorang membawa kecenderungan menyeret orang tersebut hingga mereka dapat terhanyut di dalamnya seperti sungai yang dapat menggerus bangunan-bangunan yang didirikan di bantarannya. Demikian orang-orang yang membina diri mereka tanpa suatu landasan ketakwaan dan harapan terhadap keridhaan Allah akan terhanyut oleh alam ciptaan hingga menyeret mereka menuju neraka jahannam.

Ketakwaan merupakan sumber dari petunjuk Allah. Orang-orang yang berusaha untuk mengenal dan melaksanakan kehendak Allah akan memperoleh petunjuk Allah sedangkan orang-orang yang dzalim tidak akan diberi petunjuk oleh Allah. Petunjuk merupakan penjelasan yang menunjukkan kemuliaan yang dapat diperoleh manakala seseorang berusaha mengikuti kehendak Allah. Boleh jadi petunjuk itu adalah suatu jalan keluar dari suatu masalah, atau boleh jadi berupa penjelasan tentang sesuatu dari sisi Allah, atau boleh jadi bentuk-bentuk lain yang mengantarkan seseorang untuk lebih mengenal kemuliaan Allah. Orang-orang yang bertakwa akan memperoleh petunjuk yang mengantarkan diri mereka untuk lebih mengenal kemuliaan Allah hingga mereka dapat melangkah membina akhlak mulia. Orang-orang dzalim tidak memperoleh petunjuk demikian. Seandainya mereka mendapat petunjuk, sebenarnya mereka tidak melangkah pada akhlak mulia sedangkan petunjuk itu hanyalah persangkaan bahwa mereka mendapat petunjuk.

Kokohnya pondasi pembinaan adalah ketakwaan karena ketakwaan akan membentuk akhlak mulia. Sebagian golongan kaum muslimin menggunakan ayat-ayat Allah untuk menyombongkan diri sebagai orang-orang yang paling benar dengan mencari-cari kesalahan kelompok-kelompok lain yang tidak sama dengan mereka sedangkan mereka yang disalahkan sebenarnya juga ingin mengikuti tuntunan agama. Ini tidak menunjukkan adanya keinginan berakhlak mulia, dan golongan demikian sebenarnya cenderung bersifat mendekati atau tergolong sebagai kaum khawarij. Sebagian orang berusaha mencari petunjuk dan berusaha memberikan petunjuk yang diperolehnya kepada umat manusia tetapi disertai sikap ingin menampakkan kedudukan mereka. Hal ini seringkali disertai berkurangnya upaya menunjukkan kemuliaan Allah karena menonjolkan kedudukan diri. Manakala orang-orang yang mengikuti tidak bertambah akalnya dalam memahami kehendak Allah, tetapi justru menjadi buruk karena kurangnya akal, mereka tidak dapat menyadarinya. Hal ini juga menunjukkan tidak kokohnya akhlak mulia. Orang yang berakhlak mulia akan menunjukkan kemuliaan Allah kepada umat manusia agar umat manusia memahami kemuliaan kehendak Allah dengan akalnya sehingga setiap orang berusaha membentuk akhlak mulia.

Tanda-tanda Pembinaan yang Kokoh

Setiap orang hendaknya membina diri dalam akhlak mulia dengan landasan ketakwaan dan harapan terhadap ridha Allah. Akhlak yang tumbuh dari ketakwaan dan harapan keridhaan Allah itu adalah akhlak mulia yang sebenarnya. Akhlak mulia tidak akan benar-benar tumbuh manakala seseorang membinanya di tepian jurang yang akan runtuh. Ketakwaan kepada Allah dan harapan terhadap ridha Allah akan tumbuh dengan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Seluruh bentuk ketakwaan kepada Allah bersumber dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak menyimpang darinya, dan segala sesuatu yang menyimpang dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak boleh dianggap sebagai ketakwaan. Akan tetapi tidak semua orang yang menggunakan ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah adalah orang yang bertakwa. Ada orang-orang yang memanfaatkan tuntunan kitabullah tanpa suatu ketakwaan.

Lokus pembinaan akhlak terletak pada nafs wahidah. Nafs wahidah merupakan entitas inti penciptaan diri manusia yang dapat mengenal rabb-nya, mengenal kedudukan diri dalam jamaah Rasulullah SAW, mengenal sifat rahman dan rahim yang harus ditumbuhkan dalam kebersamaan dengan apa-apa yang terwujud dari dirinya baik berupa isteri-isterinya ataupun umat mereka. Pengenalan terhadap nafs wahidah merupakan tanda terbentuknya akhlak mulia, karena seseorang akan mengenal urusan dari rabb-nya, mengenal kedudukan diri dalam urusan Rasulullah SAW dan mempunyai pengetahuan yang benar tentang jalan mewujudkan kehendak Allah di alam dunia. Hawa nafsu – hawa nafsu seseorang yang mengenal nafs wahidah akan mempunyai pemimpin dalam beribadah kepada Allah. Hal itu seringkali disertai pula dengan mengenal pemimpin bagi dirinya dari kalangan manusia lainnya, karena nafs wahidah mengenal kedudukannya dalam al-jamaah. Pernikahan merupakan bagian besar dari proses membentuk akhlak mulia.

Tumbuhnya Sifat Baik

Pada pokoknya, akhlak mulia adalah pembinaan sifat rahman dan rahim dalam diri manusia. Banyak masalah terperinci dalam kehidupan manusia yang menunjukkan terbentuknya akhlak mulia sebagai cabang dari terbentuknya sifat rahman dan rahim. Kadangkala seseorang telah membina diri sedemikian ia tampak bisa dan biasa bersikap baik kepada orang lain, tetapi sebenarnya mungkin saja ia belum cukup membina sifat rahman dan rahim manakala diuji dengan suatu urusan yang diturunkan Allah. Misalnya dalam derajat tertentu, seseorang mungkin menerima petunjuk untuk membentuk keluarga ta’addud. Secara umum dalam kasus perintah ta’addud yang benar, ta’addud berfungsi sebagai media penyempurnaan sifat rahmaniah dan rahimiah seseorang bersama keluarganya untuk berkiprah bagi masyarakat. Dari sisi rahmaniah, Allah sebenarnya berkehendak mengajarkan banyak hal melalui keluarga ta’addud. Dari sisi rahimiah, seorang isteri mungkin dituntut untuk dapat membina rasa sayang terhadap suaminya dan terhadap madunya hingga dapat menjadikan diri mereka, suami dan isteri serta madunya sebagai kesatuan nafs wahidah yang utuh. Kadangkala seseorang menolak urusan itu dan tidak mau memahami urusan yang diturunkan Allah. Hal itu menunjukkan kurangnya keinginan untuk memahami kehendak Allah dan kurangnya akhlak mulia. Kadangkala seorang isteri dan madunya tidak dapat saling menyayangi, atau justru saling bersaing untuk dipandang keutamaannya oleh manusia maka pada satu sisi tujuan dari ta’addud itu tidak tercapai. Akhlak mulia harus tumbuh pada setiap diri hingga terbentuk pada cabang-cabang perinciannya.

Sifat rahmaniah tumbuh dalam diri manusia dengan tanda mudahnya seseorang dalam memahami kebenaran. Seseorang yang benar-benar telah tumbuh sifat rahmaniahnya dapat mengenali hakikat-hakikat yang tersampaikan melalui ayat-ayat Allah dalam kitabullah dan kauniyah. Adanya sifat rahmaniah dalam diri seseorang akan terlihat dalam kecerdasan mensikapi kebenaran. Kecerdasan seseorang dalam mengenali dan mengikuti kebenaran ditentukan dengan kekuatan sifat rahmaniah yang ada dalam dirinya. Orang yang mempunyai sifat rahmaniah akan mudah memahami dan mengikuti kebenaran. Orang yang lemah sifat rahmaniahnya akan terlihat pada kesulitan memahami suatu kebenaran. Sifat rahimiyah ditandai dengan kekuatan dalam memberikan kebaikan bagi orang lain. Sifat ini dapat dilihat sangat jelas pada perempuan yang menyayangi anak-anaknya dan kadang pada suaminya. Sifat rahman dan rahim ini harus tumbuh pada setiap orang walaupun dalam proporsi yang berbeda-beda. Sifat rahman lebih dominan tumbuh pada kaum laki-laki, sedangkan sifat rahim tumbuh lebih dominan pada kaum perempuan.

Tumbuhnya akhlak seseorang tidak secara langsung terhubung dengan kesalahan perbuatan atau tindakan. Akhlak berada pada tingkatan berbeda dengan tindakan, tetapi ada suatu hubungan di antara keduanya. Suatu akhlak mulia akan membentuk dalam diri seseorang keinginan mengikuti kehendak Allah, ketidaksukaan terhadap hal syaitaniah, dan keinginan memberikan kebaikan kepada orang lain. Benar atau salahnya perbuatan atau tindakan berada pada urutan setelah akhlak, dipengaruhi oleh banyak hal yang ada atau sampai pada diri seseorang. Kadangkala akhlak baik yang terbentuk pada diri seseorang tidak setimbang maka perbuatannya disalahpahami orang lain. Misalnya seorang suami mungkin berkeinginan tinggi untuk berjihad sedangkan isterinya merasa suaminya tidak menyayangi karena banyak meninggalkan pekerjaan rumah. Hal demikian mungkin merupakan suatu bentuk kesalahan perbuatan atau tindakan, sedangkan akhlak suaminya tidak buruk walaupun tidak setimbang. Bila ada sifat dasar ingin memberikan kebaikan, mengikuti perintah Allah dan tidak menyukai hal syaitaniah, itu menunjukkan akhlak mulia setidaknya benihnya, walaupun perbuatannya salah. Bila seseorang bersikap sombong memandang rendah orang yang mengikuti kehendak Allah, itu menunjukkan akhlak yang buruk.

Suatu akhlak yang buruk akan mendatangkan banyak kesalahan dalam perbuatan manusia. Ketidaktaatan terhadap perintah Allah, kesukaan pada hal-hal yang buruk, atau munculnya sifat-sifat buruk atau mementingkan diri sendiri hingga tidak peduli merugikan orang lain seringkali mengikuti akhlak yang buruk. Kesalahan dari akhlak yang buruk mempunyai dampak kerusakan dalam tingkat yang berbeda daripada kesalahan perbuatan saja. Di pihak orang lain, orang tertentu mungkin mudah memaafkan kesalahan orang lain, tetapi mungkin perlu proses memaafkan lebih panjang bila orang lain merendahkan dirinya ketika ingin mengikuti petunjuk Allah. Kadangkala akhlak buruk tidak berhenti dalam berbuat buruk. Manakala dilakukan ishlah, seseorang mungkin saja menuntut pihak lain untuk mempermalukan diri. Hal demikian tidak masuk akal, tetapi bisa terjadi. Dalam keadaan demikian, seseorang yang berakhlak baik pun akan mudah terjatuh pada kesalahan berbuat.

Keinginan Berjamaah

Mencari pemimpin merupakan bagian tanda adanya akal pada diri seseorang. Seseorang yang mati tanpa suatu baiat di lehernya merupakan kematian jahiliyah. Seseorang yang tidak peduli tentang tuntunan dan pemimpin bagi dirinya adalah seorang jahiliyah. Orang-orang yang membina diri dalam akhlak mulia akan merasakan suatu dorongan dalam dirinya untuk mencari atau menemukan pemimpin bagi dirinya. Pada diri perempuan, dorongan ini bisa berbentuk keinginan menemukan suami yang tepat. Pada kaum laki-laki, pencarian pemimpin demikian muncul dari keinginan berjuang untuk kebenaran dan rasa lemah dalam mengikuti kebenaran, bahwa ia merasa tidak mungkin sendirian berjuang dengan benar tanpa pemimpin dalam urusan Allah.

Suatu kekejian dapat terjadi pada seseorang yang sedang mencari pemimpinnya. Misalnya manakala seseorang mengambil pemimpin sedemikian ia mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram karena mengikuti pemimpinnya, maka ia telah berbuat keji dalam mengambil pemimpin. Hal ini sebagaimana seorang perempuan berbuat keji manakala menjadikan laki-laki selain suaminya sebagai pemimpin dirinya. Kekejian yang terjadi akan menjadikan dirinya berakhlak sangat buruk karena mengikuti syaitan. Setiap orang harus berusaha untuk memperhatikan perintah dan ketentuan-ketentuan dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW agar terhindar dari kekejian.

Kadangkala akal seseorang mengenali pemimpinnya melampaui perkataan manusia hingga ia tampak tidak mengikuti suatu pemimpin di antara manusia, tetapi sebenarnya ia mengenali pemimpinnya yang sesungguhnya. Hal ini jarang terjadi, dan terjadi terutama pada masa kegelapan. Sumber pengenalan pemimpin demikian adalah tumbuhnya pengenalan dalam diri seseorang terhadap kebenaran yang harus dilaksanakan. Ia mungkin mulai dapat merasakan bentuk-bentuk kebenaran yang harus ditunaikan dalam kehidupan di dunia dan pengetahuan itu menjadikannya dapat membayangkan atau merasakan profil imam yang seharusnya memimpin dirinya. Hal demikian bisa berbahaya bila ia tidak mengendalikan diri dalam suatu ketaatan yang nyata. Bayangan tentang profil pemimpin itu dapat mengarahkan seseorang untuk mengenali nafs wahidahnya melalui pengenalan kedudukan dirinya dalam al-jamaah. Seseorang akan benar-benar mengenali pemimpin dalam urusannya manakala ia mengenali nafs wahidah, dan ia akan mengetahui bagian yang benar dan bagian bathilnya bayangan tentang pemimpin yang dahulu tergambar dalam dirinya.

Memberikan Kebaikan

Tumbuhnya akhlak mulia yang kokoh pada diri manusia akan mendatangkan manfaat kebaikan yang sangat banyak bagi kehidupan di bumi. Akhlak mulia seseorang itu tidak tumbuh hanya untuk diri sendiri. Kadangkala seseorang merasa baik dengan hubungan personal terhadap rabb-nya tanpa melihat nilai kebaikan yang dapat diwujudkan di kehidupan dunia, maka hal itu tidak menjadi indikator yang tepat bagi tumbuhnya akhlak mulia. Syaitan dapat mempermainkan keadaan orang-orang demikian dengan mudah, dan lebih sulit bermain dengan orang-orang yang memikirkan nilai kebaikan bagi umat manusia seluruhnya. Nilai kebaikan yang dapat diberikan seseorang kepada orang lain merupakan bagian dari keridhaan Allah terhadap hamba-Nya, karenanya syaitan akan sulit menghanyutkan bangunan yang dihasilkan dari cara pembinaan demikian.

Tumbuhnya sifat rahman dan rahim dalam diri seseorang akan memudahkan seseorang untuk mengenal kebaikan-kebaikan yang dapat dilakukan di bumi hingga ia dapat berbuat kebaikan bagi orang lain. Pengenalan seseorang terhadap kebaikan dapat dicapai hingga keadaan terbaik dalam bentuk mengenal hakikat yang ada di sisi Allah. Ada banyak kebaikan dalam tingkatan lebih rendah tetapi tetap mendatangkan kebaikan. Pengenalan kedudukan diri akan memudahkan seseorang untuk dapat bekerja sama dengan orang lain dalam mewujudkan kebaikan di muka bumi. Dengan nafs wahidah yang tumbuh dengan sifat baik dan menemukan keberjamaahan, seseorang akan memperoleh media yang baik untuk mewujudkan kebaikan-kebaikan yang banyak bagi kehidupan di bumi.

Setiap orang harus bersikap waspada terhadap keadaan memandang baik diri sendiri. Syaitan bisa membuat suatu kaum merasa sebagai orang-orang yang memperoleh petunjuk sedangkan sebenarnya mereka menghalangi manusia dari jalan Allah. Ini suatu keadaan yang sangat kontradiktif tetapi bisa dibuat oleh syaitan. Bangunan akhlak hendaknya selalu diukur dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW berdasarkan ketakwaan dan keridhaan Allah, tidak hanya mengikuti pendapat diri sendiri saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar