Pencarian

Senin, 12 Mei 2025

Pentingnya Pondasi Pembinaan yang Kokoh

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW dilakukan dengan membina diri dalam akhlak mulia sedemikian seseorang dapat memberikan manfaat dirinya dengan sebaik-baiknya. Pembinaan demikian harus dilakukan dengan berlandaskan ketakwaan dan harapan terhadap keridlaan Allah. Tanpa berlandaskan ketakwaan dan harapan akan ridha Allah, seseorang akan membina diri seperti membangun bangunan di tepi jurang yang mudah jatuh.

﴾۹۰۱﴿أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ تَقْوَىٰ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَم مَّنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS At-Taubah : 109)

Ayat di atas secara dzahir terkait dengan masjid dhirar dan larangan untuk menegakkan shalat di masjid dhirar. Masjid dhirar adalah masjid yang didirikan oleh orang-orang munafiq untuk menimbulkan madharat kepada kaum mukminin, menyebarkan kekufuran dan memecah belah kaum muslimin serta melakukan pengintaian terhadap gerakan-gerakan umat islam bekerja sama dengan orang-orang yang ingin memerangi umat islam. Umat islam dan kaum mukminin harus menyadari bahwa ada masjid-masjid yang didirikan dengan tujuan yang tidak baik terhadap kaum mukminin. Masjid demikian ini benar-benar ada, tidak hanya ada pada jaman Rasulullah SAW, tetapi akan selalu ada sepanjang jaman selama ada musuh-musuh yang memerangi kaum mukminin.

Secara bathin, ayat tersebut terkait dengan pembinaan diri dalam bersujud kepada Allah. Ada orang-orang yang membina dirinya untuk bersujud kepada Allah dengan ketakwaan dan harapan terhadap keridhaan Allah bagi dirinya, maka pembinaan tersebut merupakan pembinaan yang baik. Sebagian orang lainnya melakukan pembinaan dirinya di tepian jurang yang mudah runtuh, tidak berdasarkan ketakwaan dan harapan terhadap keridhaan Allah. Manakala seseorang membina dirinya dengan cara demikian, pondasi pembinaan mereka akan tergerus oleh keadaan hingga meruntuhkan binaan diri mereka dan menghanyutkan mereka menuju neraka.

Kata (فَانْهَارَ) menunjuk pada suatu konsekuensi terhanyutnya sesuatu hingga terbawa menuju suatu tempat. Pada dasarnya alam ciptaan Allah mengandung suatu kejahatan bagi manusia dalam kandungan yang berbeda-beda tergantung pada sikap manusia. Manakala seseorang tidak bertakwa, semesta seseorang membawa kecenderungan menyeret orang tersebut hingga mereka dapat terhanyut di dalamnya seperti sungai yang dapat menggerus bangunan-bangunan yang didirikan di bantarannya. Demikian orang-orang yang membina diri mereka tanpa suatu landasan ketakwaan dan harapan terhadap keridhaan Allah bagi dirinya akan terhanyut oleh alam ciptaan hingga menyeret mereka menuju neraka jahannam.

Pembinaan di tepi jurang demikian sering ditemukan di antara masyarakat. Misalanya boleh jadi ketika masa pendidikan, seseorang membangun idealisme tentang suatu ajaran agama atau suatu perjuangan yang tampak memberikan manfaat bagi umat manusia. Akan tetapi manakala terjun di pergaulan masyarakat, mereka berubah turut serta dalam arus pragmatis mencari keuntungan duniawi bagi diri mereka sendiri dan kelompoknya tanpa merasa malu merugikan orang-orang lain. Hal itu menunjukkan suatu pembinaan yang dilakukan di tepi jurang. Hal demikian tidak seharusnya terjadi. Setiap orang hendaknya membina dirinya secara kokoh tanpa terseret arus pragmatis kehidupan manusia.

Runtuhnya pembinaan di tepi jurang terjadi karena runtuhnya bangunan yang akan menyeret orang-orangnya menuju jahannam. Kadang suatu jamaah orang islam bergerak dalam bidang tertentu kemudian sebagian di antara pemimpin mereka berkhianat terhadap islam dan berbuat sesuatu yang mendatangkan madlarat, maka jamaah itu kemudian terseret untuk mengikuti perbuatan yang menyeret mereka menuju neraka. Ini merupakan contoh bangunan yang terhanyut dan menyeret manusia menuju jurang. Hal demikian tidak seharusnya terjadi. Setiap orang hendaknya membina dirinya dan mengikuti suatu jamaah yang mempunyai tujuan yang berdiri secara kokoh tanpa terseret arus pragmatis kehidupan manusia, dimulai dengan pembinaan diri dalam akhlak mulia. Semua bangunan yang kokoh tidak ditepi jurang mempunyai inti berupa pembinaan akhlak mulia.

Sebagaimana masjid-masjid dhirar, pembinaan-pembinaan demikian seringkali dilakukan oleh kaum munafiq untuk melemahkan orang-orang islam dalam mengikuti perintah Allah. Mereka membuat rumusan-rumusan yang tampak benar dari tuntunan islam dengan menghilangkan nilai kebaikan yang ada di dalamnya. Mereka tidak membuat rumusan-rumusan itu dari sesuatu yang sesat, hanya rumusan itu akan mudah terhanyut oleh kesesatan karena dibangun di tepian jurang tidak dibangun di dalam jurang. Seandainya membuat rumusan tauhid, mereka membuat rumusan tauhid dengan menghilangkan nilai kebaikan yang ada pada tauhid, sebagaimana kaum pagan bersembah sepertti Dzulkhuwaisirah bersembah. Ibadah-ibadah dan amal-amal yang dilakukan tidak menjadikan orang yang mengikuti mereka berakhlak mulia, hanya membangun waham sebagai hamba Allah yang paling baik.

Setiap orang hendaknya berusaha membina dirinya di atas landasan ketakwaan dan harapan terhadap keridhaan Allah. Ketakwaan menunjuk pada keinginan yang kuat pada diri seseorang untuk dapat mengenal dan beramal selaras dengan kehendak Allah. Seseorang yang berusaha untuk mengenal kehendak Allah dengan benar dan beramal berdasarkan pengenalan itu, maka ia adalah orang yang bertakwa, sekalipun ketakwaan itu mungkin hanya berupa titik-titik kecil. Semakin besar usahanya tersebut, semakin besar pula nilai ketakwaan yang ada pada dirinya. Ada orang yang tidak mempunyai keinginan untuk mengenal kehendak Allah, maka ia bukan orang yang bertakwa. Ada pula orang yang berusaha mengenal kehendak Allah dengan cara yang keliru, maka ia tidak bertakwa. Misalnya seseorang yang beramal berdasarkan perkataan manusia yang dikatakan sebagai kehendak Allah tanpa menimbang nilai kebaikan dari perkataan itu atau tanpa mencari landasannya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka orang tersebut keliru dalam mencari pengenalan terhadap kehendak Allah. Sekalipun tampak berusaha mengenal kehendak Allah, tetapi usaha yang dilakukan keliru maka ia tidak termasuk sebagai orang yang bertakwa. 

Mewujudkan Amal yang Tepat

Dengan suatu ketakwaan, seseorang dapat berharap memperoleh keridhaan Allah. Manakala seseorang telah mengetahui kehendak Allah maka ia dapat melakukan amal-amal berdasarkan pengetahuan itu. Turunnya keridhaan Allah akan tampak bagi seorang hamba manakala ia mengetahui kehendak Allah dan amal-amal yang harus dilakukan. Tetapi ridha Allah tidak hanya karena pengetahuan demikian. Setiap hamba Allah perlu beramal agar Allah memberikan ridha-Nya. Diperlukan sikap sungguh-sungguh dalam beramal agar Allah memberikan ridha kepada hamba-Nya. Kesungguhan dalam beramal tidak dapat muncul tanpa suatu landasan pengetahuan yang benar dan perkataan yang benar. 

Untuk memperoleh kekuatan beramal, hendaknya seseorang berusaha mengartikulasikan pengetahuan yang benar. Pengetahuan yang benar itu adalah pengetahuan tentang kehendak Allah sebagai bagian ketakwaan, dan seseorang harus berusaha untuk mengartikulasikan pengetahuan itu terhadap semesta diri mereka. Itu adalah perkataan yang benar. Dengan ketakwaan dan perkataan yang benar, Allah akan memperbaiki amal-amal seseorang dan mengampuni dosa-dosa yang diperbuatnya. Pengetahuan tanpa suatu ketakwaan tidak melahirkan perkataan yang tepat.

﴾۰۷﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
﴾۱۷﴿يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
(70)Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, (71)niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (QS Al-Ahzaab : 70-71)

Perkataan yang benar pada ayat di atas menunjuk pada perkataan yang akurat dalam mengungkap pengetahuan yang ada pada diri. Hal itu akan menjadikan seseorang memahami amal dirinya secara tepat sesuai dengan kehendak Allah, dan membuat orang lain dapat mengenali pula amal-amal yang seharusnya dilakukan. Perkataan demikian itu boleh bersifat menjelaskan secara lebih lebar tanpa memanjangkan perkataan. Alquran pada dasarnya telah menjelaskan seluruh hakikat secara tepat, tetapi tidak semua orang dapat mengenali hakikat-hakikat yang terkandung di dalamnya. Seseorang yang disucikan mungkin akan memperoleh suatu bentuk penjelasan (al-bayaan) tentang suatu ayat Alquran terkait dengan kauniyan diri seseorang, maka ia boleh menjelaskan kepada orang lain tentang al-bayaan itu kepada orang lain agar orang lain memperoleh manfaat dari al-bayaan itu. Akan tetapi hendaknya ia tidak berpanjang-panjang menjelaskannya kepada orang lain.

Perkataan yang benar merupakan implikasi langsung pengetahuan tentang kebenaran. Kadangkala suatu pengetahuan yang benar belum dapat diamalkan tetapi hampir selalu dapat dikatakan. Terkait ketakwaan dan ridha Allah, seseorang hendaknya tidak bermudah-mudah menolak atau menentang para pemimpin mereka karena alasan ketakwaan. Demikian pula setiap orang harus taat dalam mengikuti syariat tidak harus mengerti terlebih dahulu tujuan dari suatu atau setiap syariat. Kadangkala para pemimpin manusia memerlukan amal-amal dari kaum mereka sedangkan kaumnya tidak mengetahui nilai dari amal yang harus mereka laksanakan. Selama kaum tersebut tidak mengetahui madlarat dari amal yang diperintahkan, hendaknya mereka melaksanakan amal tersebut walaupun tidak mengetahui nilai dari amalnya atau landasannya, seraya ia memikirkan nilai dari amalnya. Apabila ia mengetahui madlarat dari perintahnya, hendaknya ia menyampaikan madlarat itu kepada yang memerintahkannya dan apabila diperlukan ia boleh menolak perintahnya. Nilai dari suatu amal seorang hamba kadangkala tidak semata-mata ditentukan dari nilai amalnya saja tetapi juga ketentuan-ketentuan lain yang terkait amalnya. Adapun perkataan yang benar, maka setiap orang hendaknya berusaha untuk mengatakan kebenaran tanpa meningggalkan empati terhadap pendengarnya.

Usaha demikian kadangkala tidak mudah dilakukan. Bukan tidak mungkin seseorang sama sekali tidak mendapat pintu masuk menyampaikan perkataan yang benar bahkan untuk keluarga atau isterinya sekalipun. Orang yang menentang tidak selalu dari kalangan orang-orang yang bersifat jahat. Sangat banyak orang yang berfikir pragmatis mengikuti arus kehidupan orang kebanyakan yang mungkin memandang perkataan yang tepat sebagai perkataan aneh. Demikian pula orang-orang yang mempunyai pengetahuan keliru akan menentang perkataan-perkataan yang tepat. Menyampaikan perkataan yang tepat kadangkala menjadikan seseorang dipandang masyarakat sebagai orang yang tidak mau bermusyawarah karena kultur mayoritas masyarakat yang mungkin saja bersifat gemar menghukumi tanpa memahami. Tentu bukan masalah orang yang bertakwa tidak mau bermusyawarah, tetapi bahwa perkataan benar yang disampaikan mungkin tidak memperoleh pintu atau tidak mendapatkan tempat di antara masyarakat karena jauhnya pengetahuan umum masyarakat terhadap kebenaran. Bila kebenaran yang disampaikan sekira telah bisa mendapat tempat atau pintu masuk pada masyarakat, orang bertakwa tentu berkeinginan bermusyawarah.

Ketakwaan dan perkataan yang benar ini akan menjadikan seseorang mengerti amal-amal yang tepat untuk dilakukan. Mungkin seseorang yang bertakwa mengalami kesulitan untuk melahirkan amal sesuai dengan pengetahuannya dan harus mengikuti amal yang lain sebelum dapat beramal maka amal mereka bukan amal-amal yang terbaik. Dengan perkataan yang tepat, Allah akan mengishlahkan amal-amal seseorang mengikuti ketakwaan dan perkataan tepat yang disampaikannya. Seringkali amal perbuatan yang baik harus dilakukan dengan usaha yang keras. Apabila seseorang tidak mengatakan pengetahuannya dengan tepat, jalan untuk mewujudkan amal-amal itu akan tampak berat, tidak terbuka atau akan menjadi semakin berat. Manakala seseorang mengatakan pengetahuannya secara menyimpang dari kebenaran yang diketahuinya, ia akan kesulitan untuk menemukan amal terbaik yang harus dilakukan. Apabila ia mengatakan yang tepat dan benar, amalnya akan terbuka mengikuti perkataannya. Sedikit banyak akan ada orang yang memahami perkataan yang benar dan mungkin masyarakat akan mulai menyingkap waham yang menutup diri mereka untuk mengikuti perkataan yang tepat.

Dalam urusan waham, syaitan sangat berkepentingan untuk tetap menutupkan waham kepada umat manusia. Mereka berkepentingan untuk menutup pikiran sedemikian seluruh manusia tertutup pikirannya dengan waham agar tidak dapat memahami perkataan yang benar. Menutupkan waham demikian kadangkala tidak bertujuan untuk munculnya kejahatan dari diri manusia secara langsung, tetapi hanya bertujuan agar menutup mereka dari memahami atau mengikuti perkataan yang benar. Seseorang yang baik mungkin saja ditutupi dengan waham bukan untuk kejahatan. Seseorang atau suatu kaum tidak boleh menghakimi bahwa seseorang yang mengatakan perkataan yang tepat sebagai kepala batu selama masyarakat tidak mengetahui atau menunjukkan kesalahan perkataannya tersebut. Mungkin saja terjadi seseorang yang mengatakan perkataan yang tepat benar-benar kesulitan menghadapi waham masyarakat bukan karena kejahatan masyarakatnya. Apalagi bila syaitan memperoleh sekutu dari kalangan manusia untuk menahan waham terhadap masyarakat, maka waham itu akan bertahan sangat kuat.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar