Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Taubat ke jalan Allah harus ditempuh melalui jalan pemakmuran bumi. Seseorang tidak dapat menempuh jalan taubat kepada Allah tanpa memperhatikan proses pemakmuran yang harus diusahakan bagi semesta diri mereka. Orang yang mendekat kepada Allah hanya dengan jalan keasyikan dengan rabb-nya tidaklah menempuh jalan taubat yang sempurna, karena setiap manusia diciptakan untuk menumbuhkan kemakmuran di alam bumi. Sebaliknya proses pemakmuran bumi harus dilaksanakan dengan menempuh jalan taubat kepada Allah. Sangat banyak orang yang tergelincir manakala berusaha menumbuhkan pemakmuran. Banyak peristiwa orang-orang yang semula berkeinginan untuk memakmurkan bumi tetapi kemudian tergelincir dalam hasrat memakmurkan diri sendiri karena kurangnya kekuatan dalam beribadah kepada Allah. Kekuatan ibadah kepada Allah akan bertambah apabila manusia bertaubat kepada Allah.
Hubungan taubat, harapan untuk dekat kepada Allah dan pemakmuran bumi dapat ditemukan penjelasannya pada ayat berikut :
﴾۸۵۱﴿ إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ
Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi'ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber'umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Baqarah : 158)
Haji menunjukkan arti berkunjung, berusaha untuk hadir ke dekat objek yang dicintai dan dihormati. Baitullah merupakan arah yang ditentukan bagi manusia yang menginginkan kehadiran di hadirat Allah. Rasulullah SAW mengalami Isra’ Mi’raj hingga dihadirkan di hadirat Allah di ufuq yang tertinggi dari baitullah al-haram. Bait al haram itulah sarana yang ditentukan bagi para hamba Allah untuk dapat dihadirkan di hadirat Allah melalui mi’raj masing-masing. Orang-orang yang menginginkan memperoleh sarana untuk hadir di hadirat Allah merupakan orang-orang yang berkeinginan untuk berhajji ke baitullah. Mereka mencintai Allah karena kebaikan yang mengalir dari sisi Allah, dan karena cinta mereka kepada Allah mereka menginginkan untuk berhaji ke baitullah.
Baitullah itu dalam wujud fisiknya adalah bangunan yang didirikan oleh nabi Ibrahim a.s bersama keluarganya, siti Hajar r.a dan Ismail a.s. Nilai bathin dari baitullah itu terletak pada pembinaan keluarga dalam meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Tujuan utama pembinaan bayt itu adalah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, dan sangat banyak hal-hal terperinci yang harus diperhatikan setiap orang dalam membina diri kembali kepada Allah. Hal-hal itu telah dicontohkan dengan baik oleh nabi Ibrahim a.s dan keluarganya, dan hal itu diabadikan bagi umat manusia dalam bentuk bait al-haram. Sangat penting bagi manusia untuk memperhatikan nilai bathiniah dalam berhajji dan umrah karena nilai bathiniah itu merupakan inti pembinaan yang dicontohkan beliau a.s. Nilai bathin itu menjangkau setiap manusia tanpa dibatasi dengan kemampuan secara fisik untuk datang ke tanah suci.
‘Umrah ( اعْتَمَرَ ) menunjuk pada suatu pengusahaan pemakmuran. Orang-orang yang mengerjakan umrah pada ayat di atas tidak hanya menunjuk pada orang-orang yang berangkat ke tanah suci makkah untuk melakukan umrah, tetapi juga orang-orang yang berkeinginan untuk mengusahakan pemakmuran-pemakmuran, mereka termasuk sebagai orang-orang yang berkeinginan umrah. Untuk mengusahakan pemakmuran, arah yang menjadi kunci bagi manusia adalah mengarah menuju baitullah. Ini merupakan suatu gambaran yang jelas bagi manusia bahwa untuk melakukan pemakmuran hendaknya setiap manusia berusaha untuk mengikuti langkah nabi Ibrahim a.s dan Rasulullah SAW membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Langkah kedua uswatun hasanah tersebut merupakan tauladan tentang langkah taubat yang sempurna.
Umrah maupun haji keduanya merupakan sarana untuk dekat kepada Allah, dijadikan gambaran fisik langkah yang harus ditempuh setiap orang yang bertaubat. Umrah dapat dilakukan pada setiap waktu tanpa dibatasi dengan waktu-waktu tertentu, sedangkan hajji hanya dapat dilakukan pada masa hajji. Setiap orang dapat menempuh jalan untuk kedekatan kepada Allah pada setiap saat dengan melakukan pemakmuran kehidupan di bumi tanpa dibatasi dengan waktu-waktu tertentu, sedangkan kehadiran pada kedekatan kepada Allah hanya diberikan pada waktu-waktu tertentu. Rasulullah SAW dimi’rajkan kepada Allah hanya pada satu waktu tertentu, tidak melakukannya dengan keinginan sendiri. Demikian pula bagi hamba Allah yang lain, ada waktu tertentu yang diberikan kepadanya untuk dimi’rajkan ke hadirat Allah yang kadarnya lima puluh ribu tahun. Sebagian besar manusia tidak mengetahui waktu itu, tetapi ada hamba Allah yang mengetahui sesi mi’raj yang dijanjikan baginya.
Pemakmuran bumi ataupun haji hendaknya dilakukan mengarah pada pembentukan bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, tidak dilakukan tanpa arah yang jelas. Pembentukan keluarga demikian itu merupakan elemen fundamental pembentukan pemakmuran ataupun haji. Tanpa usaha pembentukan demikian, tidak akan terwujud pembentukan pemakmuran ataupun haji karena tidak terbentuknya fundamennya. Seandainya terbentuk suatu pemakmuran tanpa fundamen, pemakmuran yang demikian sebenarnya bersifat semu tidak menyentuh landasan pemakmuran yang sebenarnya. Sangat mudah bagi musuh manusia untuk menjadikan pemakmuran yang terbentuk kembali berantakan karena sifat pemakmuran yang semu. Apabila suatu kaum membentuk keluarga untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, pemakmuran yang terbentuk mengikuti proses itu akan kokoh tidak mudah diruntuhkan oleh musuh. Demikian pula manakala seseorang membangun kedekatan kepada Allah tanpa suatu fundamen yang benar, kedekatan yang dicapai itu kelak akan menjadi pertanyaan-pertanyaan berat yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Banyak upaya-upaya pemakmuran yang dilakukan manusia tanpa arah yang benar, maka pemakmuran yang terjadi sebenarnya hanya menyenangkan bagi syahwat dan hawa nafsu manusia, tidak menyentuh pemakmuran manusia secara utuh. Manusia mungkin bersenang-senang dengan pemakmuran-pemakmuran yang dilakukan tetapi hanya merupakan kesenangan-kesenangan jasmaniah ataupun kesenangan-kesenangan hawa nafsu tanpa menyentuh peningkatan kualitas diri mereka. Contohnya, suatu bangsa mungkin mempunyai sarana kereta cepat tetapi hanya merupakan bangunan yang dibuatkan baginya oleh orang asing sedangkan para insinyur yang ada di dalam negeri hanya disingkirkan. Pemakmuran demikian hanya merupakan kesenangan syahwat dan hawa nafsu sedangkan nilai diri bangsa disingkirkan dari diri mereka. Mereka justru harus menanggung hutang karena adanya pemakmuran itu tanpa suatu kesenangan dari jiwa para penduduknya.
Membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah adalah penyatuan nafs wahidah dengan segala sesuatu yang diciptakan bagi dirinya, yang dilakukan sesuai dengan kehendak Allah. Bentuk dasar bayt demikian adalah pernikahan antara seorang laki-laki dengan isteri-isterinya. Berkembangnya suatu bayt akan mewujud dalam bentuk kemakmuran pada pernikahan dengan harta dan anak-anak yang mendukung jihad di jalan Allah dengan karya-karya yang dikehendaki Allah. Penyatuan nafs wahidah sesuai kehendak Allah demikian harus dilakukan termasuk dalam membentuk keluarga ta’addud manakala suatu nafs wahidah diciptakan dalam bentuk ta’addud. Bentuk penyatuan nafs wahidah akan diketahui seseorang manakala ia mengenal nafs wahidah, dan upaya penyatuan nafs wahidah tersebut merupakan upaya membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.
Ada beberapa tahapan yang harus ditempuh seseorang dalam membentuk bayt. Tazkiyatun-nafs merupakan tahapan dasar yang harus ditempuh. Suatu tazkiyatun nafs akan membentuk seseorang untuk dapat memahami cahaya Allah yang terpantul melalui ayat-ayat-Nya. Pemahaman yang terbentuk terhadap cahaya Allah akan mengantarkan seseorang mengenal Allah dengan mengenal diri sendiri. Pengenalan terhadap penciptaan diri sendiri itu merupakan tanah suci tempat seharusnya bayt didirikan. Proses tazkiyatun nafs merupakan proses hijrah yang harus ditempuh seseorang untuk berpindah ke tanah suci dirinya. Setelah menempati tanah suci diri, seseorang dapat berusaha membina bayt untuk mendzikirkan dan meninggikan asma Allah.
Upaya memperoleh pengenalan diri hanya dapat dilakukan seseorang dengan membaca ayat-ayat Allah setelah tazkiyatun nafs. Pengenalan diri tidak dapat dicapai dengan jalan hanya melakukan perhitungan-perhitungan kadar diri. Pengenalan diri merupakan pengenalan terhadap kedudukan diri dalam urusan Allah, maka mengenal urusan Allah itu menjadi prasyarat untuk mengenal diri. Membaca ayat Allah itu jalan utamanya, sedangkan pengukuran kadar-kadar diri akan mengarahkan seseorang secara tepat pada urusan Allah. Tanpa memahami ayat Allah, seseorang tidak akan bisa menemukan kedudukan diri dalam urusan Allah. Boleh jadi seseorang menemukan pengenalan diri, tetapi tidak terhubung dengan urusan Allah. Hal itu telah terjadi sejak penciptaan Adam dan Hawa di surga hingga menyebabkan keduanya tergelincir ke bumi. Pengenalan diri tanpa mengenal urusan Allah pada dasarnya sangat berbahaya karena sangat licinnya jalan kembali kepada Allah.
Tahapan-tahapan demikian pada tingkatan dzahir tidak berjalan sekuensial terurut. Seseorang bisa menikah membentuk rumah tangga jauh sebelum mengenal tanah sucinya, tidak harus dilakukan setelahnya. Akan tetapi hendaknya ia mengenal tahapan keadaan dirinya secara jujur. Apabila ia belum mampu membaca ayat-ayat Allah dengan benar, ia belum menyempurnakan tahap tazkiyatun nafs. Manakala seseorang belum mengetahui kedudukan dirinya dalam jamaah Rasulullah SAW, ia belum mengenal dirinya secara sempurna, dan urusan yang harus ditunaikan dalam kehidupan dunia mungkin tidak benar-benar ia pahami. Bila seseorang mengenal kedudukan dirinya dalam urusan Rasulullah SAW, ia telah mengenal urusan Allah bagi dirinya. Setelah keadaan demikian, ia hendaknya berusaha untuk bersungguh-sungguh mengumpulkan segala yang terserak baginya dengan usaha sebaik-baiknya tanpa suatu kebimbangan karena ia harus melangkah membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Pada dasarnya suatu pernikahan saja akan menjadikan apa yang terserak bagi diri seseorang terkumpul, tetapi pengetahuan tentang manfaatnya akan diperoleh manakala seseorang mengenal kedudukan dirinya.
Menyembunyikan Kebenaran
Membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah akan mendatangkan pemakmuran. Usaha itu akan mendatangkan penolakan yang keras dari alam syaitan. Seseorang mungkin harus berhadapan dengan berbagai lapis perlawanan alam syaitan untuk menghalangi manusia membentuk bayt. Syaitan akan berusaha menghalangi dengan semua usaha termasuk melibatkan kalangan manusia yang dapat dilibatkan. Semua orang yang terlibat dalam upaya syaitan menghalangi akan menjadi orang-orang yang dilaknat Allah dan makhluk-makhluk yang lain akan melaknat pula.
Di antara usaha syaitan demikian adalah menjadikan orang-orang menyembunyikan petunjuk-petunjuk dan penjelasan-penjelasan yang diturunkan Allah terkait dengan tuntunan dalam kitabullah Alquran.
﴾۹۵۱﴿إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati (QS Al-Baqarah : 159)
Allah telah menurunkan kitabullah Alquran kepada Rasulullah SAW, dan Allah sebenarnya juga menurunkan penjelasan-penjelasan dan petunjuk-petunjuk terkait dengan ayat-ayat dalam kitabullah Alquran kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya. Penjelasan-penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah itu terjadi setelah Alquran diturunkan. Orang yang memberikan penjelasan-penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah hanya melakukannya karena mengikuti ayat-ayat dalam kitabullah, dan penjelasan-penjelasan dan petunjuk itu diterimanya dengan mengikuti ayat-ayat kitabullah.
Tidak semua penjelasan dan petunjuk demikian disukai oleh manusia. Sebagian manusia tidak dapat memahami penjelasan dan petunjuk karena pikiran dan akal mereka lemah. Sebagian orang merasa sombong hingga tidak memahami kebenaran. Sebagian orang mungkin terganggu dengan penjelasan dan petunjuk yang disampaikan karena pengaruhnya terhadap kehormatan atau harta mereka. Manakala seseorang merasa terganggu dengan penjelasan dan petunjuk, syaitan akan menghembuskan suatu godaan sedemikian orang-orang yang terbujuk godaan itu akan berusaha menyembunyikan penjelasan-penjelasan dan petunjuk terkait ayat-ayat kitabullah yang disampaikan. Bila seseorang bergerak menyembunyikan penjelasan-penjelasan dan petunjuk-petunjuk yang diturunkan Allah kepada hamba yang dikehendaki-Nya terkait dengan ayat-ayat kitabullah, mereka akan mendapatkan laknat Allah dan kelak makhluk-makhluk yang dapat melaknat akan melaknat pula.
Menyembunyikan penjelasan dan petunjuk Allah dapat terjadi dalam bentuk menghalangi tersampaikannya penjelasan dan petunjuk kepada masyarakat atau mengurangi sebagian dari penjelasan dan petunjuk dengan suatu iktikad tertentu yang kurang baik. Mungkin bukan iktikad buruk tetapi dampak perbuatannya kurang baik. Kadangkala seseorang merasa kurang suka dengan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah dan ia memandang lebih baik mengurangi penjelasan dan petunjuk itu, maka hal itu merupakan upaya menyembunyikan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah. Demikian pula menutup jalan seseorang yang mempunyai kemampuan untuk menyampaikan penjelasan dan petunjuk merupakan perbuatan menyembunyikan penjelasan dan petunjuk. Keterbatasan atau kurangnya kemampuan menyampaikan penjelasan dan petunjuk secara utuh tidak termasuk dalam kategori menyembunyikan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah.
Setiap orang harus berusaha sebaik-baiknya untuk menyampaikan kepada orang lain penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah secara lengkap tanpa dikurangi. Hal itu merupakan bentuk rahmaniah terhadap orang lain. Menyampaikan dapat dilakukan dengan cara yang baik tanpa mengurangi esensi penjelasan yang harus disampaikan, dan tidak boleh dilakukan dengan mengumbar cela dalam diri sendiri. Bila diperlukan, seseorang bisa meminta orang lain untuk menyampaikan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah. Setidaknya manusia tidak menutup jalan orang yang berhak menyampaikan untuk menyampaikan. Suatu sifat rahmaniah akan menjadikan umat manusia mengenal kehendak Allah dengan baik hingga manusia dapat beramal sesuai dengan kehendak Allah bagi dirinya. Manakala seseorang tidak berusaha dengan sebaik-baiknya, ia akan mudah tergelincir sebagai orang yang menyembunyikan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah.
Menyembunyikan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah terkait ayat kitabullah akan mendatangkan laknat Allah dan laknat makhluk yang dapat melaknat. Laknat merupakan sumber kesengsaraan. Orang yang dilaknat Allah usahanya akan mendatangkan kesengsaraan sekalipun memandangnya baik. Dalam hal di atas kesengsaraan itu setidaknya karena tertutupnya penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah. Orang-orang yang menyembunyikan penjelasan-penjelasan dan petunjuk terkait ayat kitabullah akan mendatangkan suatu kesengsaraan bagi umat manusia. Manusia akan terputus washilahnya kepada Allah karena penjelasan dan petunjuk yang disembunyikan. Bila manusia dapat memperoleh penjelasan dan petunjuk secara lengkap untuk memahami kehendak Allah mereka akan dapat mengusahakan kesejahteraan dan kebahagiaan dengan penjelasan dan petunjuk itu, sedangkan manakala penjelasan dan petunjuk itu dihalangai atau dikurangi maka mereka akan kesulitan untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan dengan mengikuti kehendak Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar