Pencarian

Minggu, 19 April 2026

Tazkiyatun-Nafs Untuk Membina Akhlak

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Untuk pembinaan akhlak mulia, pembinaan harus mengarah pada pembinaan misykat cahaya. Misykat cahaya merupakan gambaran tentang akhlak tertinggi berupa akhlak rahmaniah yang seharusnya dibentuk pada setiap diri orang beriman. Secara singkat akhlak rahmaniah dapat dikatakan sebagai keinginan memberitakan kehendak Allah mengikuti tuntunan kitabullah Alquran. Setiap orang beriman mempunyai potensi membentuk gambaran tentang kehendak Allah dalam diri masing-masing. Gambaran kehendak Allah itu dibentuk dengan akhlak mulia tertentu yaitu terbentuknya misykat cahaya diri. Penjelasan kehendak Allah dari orang yang membina diri sebagai misykat cahaya itu adalah mitsal bagi cahaya Allah, bukan mitsal bagi Allah. Metode pembinaan demikian merupakan pembinaan tauhid yang diajarkan Rasulullah SAW.

﴾۵۳﴿ اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah misykat, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang penuh berkah, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QSAn-Nuur : 35)

Misykat cahaya dapat digambarkan layaknya suatu kamera yang berfungsi membentuk gambar dari objek yang dibidik. Terdapat badan kamera yang kedap cahaya dengan suatu lubang kecil yang dapat dibuka pada saat pengambilan gambar. Badan kamera itu adalah gambaran bagi misykat yang tidak tembus cahaya. Terdapat pula lensa yang mengarahkan cahaya membentuk bayangan dari objek yang dibidik. Lensa itu merupakan ibarat dari zujajah (bola kaca) yang terdapat dalam misykat cahaya. Pembinaan pemahaman terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang paling utama harus dilakukan dengan membentuk akhlak sebagai misykat cahaya.

Setiap orang mempunyai khazanah pengetahuan yang sangat luas dari sisi Allah yang dapat ditemukan manakala masing-masing membina diri sebagai misykat cahaya. Pengetahuan yang bersumber dari kitabullah demikian akan mendatangkan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan di bumi. Manfaat demikian akan semakin besar nilainya apabila terbentuk keberjamaahan dalam menunaikan kehendak Allah. Sebenarnya khazanah pengetahuan satu orang dengan orang lain itu saling terkait dan berjalin hingga lebih sempurna memanifestasikan kehendak Allah. Hasil sinergi dua orang mukmin yang berjamaah mewujudkan kehendak Allah tidak sama dengan hasil satu orang ditambah hasil sahabatnya, tetapi dapat beranak-pinak menjadi sangat banyak. Demikian pula manakala mukmin yang berjamaah semakin banyak, akan semakin besar pula hasilnya secara eksponensial, bukan bertambah secara linier.

Langkah Tazkiyatun Nafs

Setiap orang beriman hendaknya berusaha memperhatikan ayat Allah pada kauniyah berdasarkan petunjuk ayat kitabullah. Ayat kauniyah dan ayat kitabullah itu merupakan cahaya Allah yang terpancar bagi makhluk. Keselarasan dua ayat Allah ini akan diperoleh oleh orang-orang yang telah mensucikan diri (menempuh tazkiyatun-nafs) hingga Allah membersihkan hatinya. Manakala seseorang belum mampu menyelaraskan pemahaman terhadap kedua ayat tersebut, ia sebenarnya belum cukup dibersihkan. Ia tidak boleh berpegang erat pada pemikirannya sendiri, dan hendaknya menemukan dan mengikuti guru yang dapat menuntun tazkiyatun-nafs. Cukuplah bagi seseorang mengikuti apa yang disampaikan oleh gurunya dengan berpegang pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tanpa memaksakan penggunaan suatu ayat kitabullah untuk fenomena tertentu ataupun memperselisihkannya.

Tugasnya saat itu adalah melakukan proses tazkiyatun-nafs hingga Allah membersihkan dirinya, bukan menyentuh ayat-ayat kitabullah. Boleh jadi kesadaran dirinya sebenarnya masih cenderung menimbulkan kerusakan, dan itu harus diikuti dengan memohon ampun atas dosa-dosanya hingga Allah menumbuhkan kesadaran yang mengarah pada kebaikan. Kesadaran yang mengarah pada keburukan dapat menimbulkan kerusakan pada pemahamannya ketika menyentuh kitabullah. Pengetahuan tentang ayat kitabullah hendaknya diperhatikan sebagai hapalan dan pengetahuan dasar beragama, dan pengetahuan kauniyah hendaknya dipahami dengan sebaik-baiknya dengan penalaran yang benar. Kedua ilmu tersebut bermanfaat sebagai pagar keselamatan dalam melangkah dan sebagai pondasi membangun pemahaman terhadap ayat-ayat Allah pada tahap berikutnya. Tugas demikian ini merupakan tugas temporer yang seharusnya berubah mengikuti perkembangan.

Setelah melakukan tazkiyatun-nafs, seseorang akan mudah memahami kebenaran yang disampaikan kepada dirinya berdasarkan struktur pemahaman yang benar yang terbentuk dalam dirinya. Ia akan mudah memahami perkataan orang-orang yang menyampaikan kebenaran, dan memperoleh kemampuan mengenali kebathilan sekalipun kala muncul dalam diri sendiri dan ditampakkan dalam wujud yang baik. Kadangkala tanda itu disertai kemampuan merasakan hawa nafsu orang-orang yang memfasih-fasihkan diri atau mengenali kebathilan pada perkataan orang lain. Seandainya ada orang lain yang memfasihkan diri dengan kebenaran, ia dapat melihat kebenaran pada perkataan yang disampaikan, dan mensikapi hawa nafsu orang lain tersebut secara terpisah. Ia tidak menyalahkan kebenarannya walaupun mungkin tidak mau bersama atau mengikutinya. Dalam tingkat lanjut, seharusnya setiap orang dapat mengenali kebathilan sekalipun keluar dari lisan orang yang pandai. Sikap demikian ini adalah sasaran yang harus dicapai setiap orang yang melakukan tazkiyatun-nafs. Seorang yang bertaubat harus membentuk kecerdasan mengenali kebenaran dan kebathilan dengan hatinya tidak boleh terjebak pada kebodohan dan faham sempit atau waham diri sendiri.

Harus tumbuh kemampuan menimbang bobot nilai kebenaran dan kebathilan dalam diri orang yang bertaubat. Pengabaian seseorang terhadap kebenaran dan juga pembiaran kebodohan menunjukkan akal yang lemah mendekati kekufuran. Harus tumbuh kekuatan mengenal kebenaran pada orang yang menempuh tazkiyatun-nafs agar pengetahuan terhadap kehendak Allah tumbuh. Tumbuhnya pengetahuan dalam diri seseorang harus diarahkan dengan baik hingga terbentuk pengetahuan yang kokoh. Akan dijumpai beberapa modus pokok dalam pertumbuhan pengetahuan dengan berbagai macam ragamnya. Sebagian pengetahuan tumbuh secara jelas di atas pengetahuan yang telah ada, dan sebagian pengetahuan tumbuh secara baru tanpa terhubung secara kuat terhadap struktur pengetahuan yang telah ada. Pengetahuan yang baru itu harus disikapi dengan hati-hati. Sebagian pengetahuan yang baru merupakan kebathilan yang menghancurkan, dan ada pengetahuan baru yang bersifat meluaskan atau mengembangkan pengetahuan seseorang secara cepat, dan sebagian pengetahuan baru merupakan berita yang harus digunakan untuk menata ulang struktur pengetahuan yang keliru yang telah terbangun dalam diri seseorang. Kemampuan menimbang bobot nilai kebenaran dan kebathilan atau manfaat dan madlarat merupakan landasan yang harus terbina dalam mensikapi pertumbuhan pengetahuan demikian.

Setelah seseorang mencapai keadaan yang dibersihkan, ditandai dengan mudahnya memahami kebenaran, ia hendaknya menumbuhkan sifat rahman dan rahim dalam dirinya dengan memperhatikan keadaan kauniyah yang terjadi di lingkungan dirinya dengan landasan keinginan yang baik dan membaca kauniyah itu sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bila seseorang hanya peduli tentang dirinya tidak memperhatikan keadaan lingkungannya, ia sebenarnya tidak mempedulikan ayat Allah. Membaca kitabullah saja tanpa suatu kepedulian terhadap keadaan kauniyah mungkin akan menumbuhkan kesombongan. Memperhatikan keadaan lingkungan saja tanpa memperhatikan tuntunan kitabullah tidak akan menjadikan seseorang bisa mengenal cahaya Allah. Kepedulian terhadap keadaan kauniyah selaras dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasullllah SAW akan menjadikan seseorang mengarahkan pandangan pada cahaya Allah. Tumbuhnya sifat rahman dan rahim akan menjadikan seseorang dapat mengatur fokus zujajah dirinya untuk membentuk bayangan dari cahaya Allah yang terpancar pada ayat kauniyah dan ayat kitabullah.

Tanpa kemampuan menimbang bobot nilai manfaat dan madlarat pada suatu pengetahuan, seseorang akan terkurung dalam waham atau menyimpang dari langkah yang benar. Ada orang-orang yang tidak bisa memperoleh landasan berpijak untuk amalnya karena selalu meragukan pengetahuan kebenaran yang ada dalam dirinya. Ada pula orang-orang yang menyimpang karena meyakini kebenaran setiap pengetahuan yang sampai kepada dirinya tanpa menimbang pengetahuan itu dengan benar. Mungkin saja suatu kaum terkurung dalam suatu doktrin karena tidak mampu melihat manfaaat dari suatu pengetahuan kebenaran. Bisa saja kombinasi peristiwa itu terjadi secara bersamaan, seseorang tidak mempunyai pijakan pengetahuan yang kokoh dan meyakini kebenaran bisikan-bisikan yang sampai kepada diri mereka, hingga ia beramal tanpa pijakan dan meyakini kebenaran amal-amal yang buruk tetapi merasa sebagai hamba Allah yang paling benar. Sangat banyak keburukan yang dapat terjadi di masyarakat manakala manusia tidak mempunyai kemampuan menimbang bobot nilai manfaat dan madlarat pada pengetahuan yang diperoleh. Manakala mempunyai kemampuan menimbang, seseorang akan dapat memilih atau menentukan langkah yang paling besar nilai manfaatnya dan tidak tertimpa madlarat.

Struktur pengetahuan yang benar akan menjadi pokok dari kemampuan seseorang menimbang kebenaran. Struktur pengetahuan yang lemah dan kerdil hanya akan memampukan seseorang menimbang lingkup pengetahuan yang sedikit, dan struktur yang kuat akan mampu menimbang masalah dengan kokoh. Struktur pohon yang salah akan menghasilkan timbangan yang salah, dan struktur pohon yang benar akan menghasilkan timbangan yang benar. Benarnya struktur pohon adalah kesesuaian pengetahuan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap orang harus menumbuhkan struktur pengetahuan kebenaran yang benar dan kokoh sesuai dengan penciptaan dirinya hingga dapat menimbang kebenaran secara benar dan akurat, dimulai dengan pembinaan pengetahuan yang benar mengikuti ajaran guru-guru yang mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan kemudian diharapkan dapat memahami secara mandiri kebenaran yang sampai kepada dirinya masing-masing.

Tanpa guru, struktur pengetahuan yang telah tumbuh seringkali merupakan struktur yang salah, dan berikutnya mungkin akan menumbuhkan struktur pengetahuan yang salah pula. Guru juga mengajarkan proses bertaubat sesuai dengan perkembangan muridnya hingga murid tidak menjadi rusak karena proses tazkiyatun-nafs yang berlebihan. Ibarat orang yang mengajar anak usia dini, anak-anak harus diajar untuk banyak bergerak karena keringat mereka harus keluar untuk membentuk kecerdasan terlebih dahulu, baru kemudian anak-anak diajar membaca dan berhitung pada usia yang cukup sebagai dasar untuk menelaah keilmuan, dan seterusnya hingga mereka dapat menelaah keilmuan sesuai perkembangan mereka. Tidak mungkin seorang anak kecil langsung diajar menelaah keilmuan karena mereka akan terpatahkan tidak akan mampu memahami tanpa konstruk diri yang memadai. Banyak anak kecil menjadi korban dari kurang pengetahuannya para pengajar usia dini hingga perkembangan mereka tidak baik.

Membina Akhlak secara Lurus

Kepedulian seseorang terhadap ayat-ayat Allah akan menumbuhkan pengetahuan berdasarkan cahaya Allah. Akan terbentuk bayangan dari cahaya Allah dalam diri yang menjadikan seseorang memahami ayat-ayat Allah. Dengan terus memperhatikan ketajaman dari bayangan yang terbentuk, seseorang akan semakin mengenal kehendak Allah yang harus ditunaikan. Ia akan dapat melangkah mendekat pada jati diri penciptaannya dengan beramal shalih sesuai dengan bayangan cahaya Allah yang terbentuk. Pada titik tertentu, Allah akan membukakan kepada dirinya pengetahuan tentang penciptaan dirinya hingga ia mengenal untuk apa dirinya diciptakan dan mengenal shirat al-mustaqim yang harus ditempuh dalam kehidupan dirinya.

Kaum muslimin saat ini harus berjuang dengan sungguh-sungguh untuk memahami dan menerapkan sendi-sendi kehidupan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupan berbangsa. Tanpa pembinaan misykat cahaya, sendi-sendi kehidupan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebenarnya hanya suatu pemahaman yang rapuh tidak benar-benar terbentuk pemahaman. Pemahaman yang kokoh terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hanya dapat dibentuk dengan pembinaan misykat cahaya.

Pembinaan misykat cahaya pada umat tidak boleh menyimpang dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ketidaktuntasan dalam proses tazkiyatun-nafs akan menjadi sumber penyimpangan dalam pembinaan misykat cahaya. Dampak dari penyimpangan akan mendatangkan madlarat yang sangat besar. Mungkin saja terjadi proses yang berkebalikan dari apa yang menjadi tujuan, misalnya terjadinya pembodohan atau pemiskinan umat karena upaya yang dilakukan. Madlarat yang terjadi dengan penyimpangan ini bisa sangat besar dampaknya bagi umat. Bagi Rasulullah SAW, menyimpangnya seorang yang alim lebih menakutkan beliau SAW daripada kerusakan yang ditimbulkan oleh Dajjal. Kerusakan karena tergelincirnya seorang alim akan menjadi beban berat umat. Dajjal mungkin tidak akan menyesatkan orang-orang yang kuat, tetapi tergelincirnya seorang alim akan bisa menyeret hingga orang-orang terbaik menuju kebodohan.

Lurusnya jalan yang ditempuh mukminin harus ditempuh sebagaimana jalan Rasulullah SAW dimi’rajkan hingga ufuk tertinggi tidak menyimpang. Setiap tahap harus ditempuh dengan seksama untuk dapat melangkah ada tahap berikutnya, menutup setiap potensi langkah menyimpang. Tazkiyatun-nafs harus dilakukan dengan sasaran yang jelas hingga langkah dapat memahami kandungan kitabullah dengan benar. Memahami kandungan kitabullah harus dilakukan dengan tepat hingga seseorang mengenal untuk apa diciptakan. Pengenalan diri itu harus dicapai dengan parameter pemahaman yang benar, amal-amal yang terwujud dari pemahaman yang terbentuk mengantarkan diri seseorang untuk membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, tidak meninggikan hal yang lain. Demikian langkah bertaubat harus dilakukan dengan lurus mengikuti langkah Rasulullah SAW.

Contoh penyimpangan yang sering terjadi pada orang yang menempuh tazkiyatun-nafs adalah kurangnya penggunaan akal untuk memahami ayat Allah. Mereka membina qalbu, pendengaran dan penglihatan bathiniah akan tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah. Salah satu sebab demikian berupa terlalu memandang tinggi derajat indera bathiniah melupakan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Indera bathiniah tidak digunakan untuk memahami lebih dalam ayat-ayat Allah tetapi justru terjebak menggali khazanah indera bathiniah sendiri. Ini sikap tidak tepat. Indera bathiniah harus digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah dengan lebih seksama. Akal harus tumbuh untuk mampu menggali bobot nilai ayat-ayat Allah baik ayat kauniyah maupun ayat kitabullah. Sikap demikian mendatangkan akibat buruk. Tidak jarang orang yang mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW menjadi korban pendapat indera bathiniah mereka sendiri, karena itu upaya membina umat mengikuti tuntunan kitabullah menjadi rusak.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar