Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus ditempuh dengan lurus sebagaimana jalan Rasulullah SAW dimi’rajkan hingga ufuk tertinggi tidak menyimpang. Keselamatan perjalanan setiap hamba Allah bergantung pada kesesuaian langkahnya terhadap sunnah Rasulullah SAW. Tidak ada orang yang selamat menempuh perjalanan dengan menyimpang dari langkah Rasulullah SAW. Lurusnya langkah seseorang akan ditentukan dengan ketaatannya terhadap tuntunan kitabullah, ketaatan terhadap sunnah Rasulullah SAW serta pada ulul amr di antara mereka. Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk taat kepada Allah dan taat kepada Rasulullah SAW dan ulul amr.
﴾۹۵﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An-Nisaa : 59)
Manusia berpikir dengan cara berpikir yang bermacam-macam, dan pikiran yang benar hanyalah pikiran yang terbit dari orang-orang yang selamat mengikuti tuntunan kitabullah. Di suatu negara besar dan kuat, seorang presiden memimpin bangsanya untuk kembali menjadi bangsa yang besar. Mereka kemudian merampok negara Venezuela, Iran dan Kuba untuk merampas kekayaan alam di negeri tersebut. Ini adalah cara berpikir yang salah. Besarnya suatu bangsa tidak ditentukan hanya berdasar penguasaan kekayaan di dunia, akan tetapi di antaranya adalah bagaimana setiap manusia dapat memberikan sumbangsih manfaat bagi kehidupan. Merampok negeri-negeri lain adalah contoh cara berpikir yang keliru pada manusia.
Cara berpikir keliru demikian dapat terjadi tidak hanya pada orang-orang musyrik tetapi juga orang-orang yang tidak membina diri dengan benar mengikuti langkah Rasulullah SAW, baik mereka orang kafir, orang yang tidak cukup baik mengikuti langkah Rasulullah SAW ataupun orang yang membina diri secara menyimpang. Ada presiden yang ingin mensejahterakan rakyatnya dengan makanan jasmaniah. Sebagian muslimin mengikuti ajaran orang-orang musyrik berpecah-belah dengan kebanggaan kebenaran yang mereka pahami, tidak berusaha membina persaudaraan mengikuti langkah Rasulullah SAW. Sebagian muslimin berusaha mengikuti langkah Rasulullah SAW akan tetapi tidak memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah dengan seksama. Akan muncul kerusakan-kerusakan dari apa yang mereka perbuat. Sebagian mungkin membuat kerusakan yang kecil, dan sebagian membuat kerusakan yang besar.
Untuk berbuat kebaikan, seseorang harus taat kepada Allah. Ketaatan kepada Allah hanya dapat dilakukan dengan mentaati tuntunan yang diturunkan melalui Rasulullah SAW. Rasulullah SAW merupakan satu-satunya sumber utama mengalirnya kebenaran dari sisi Allah. Setiap kebenaran dari sisi Allah mengalir melaui Rasulullah SAW baik berupa kitabullah Alquran ataupun sunnah beliau SAW. Akan tetapi walaupun sumber utamanya tunggal, kebenaran dapat ditemukan oleh makhluk mengalir melalui banyak bentuk sumber yang seluruhnya sebenarnya berpokok pada tuntunan yang diturunkan melalui Rasulullah SAW. Segala sesuatu yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW merupakan kebathilan. Tunggalnya sumber pengaliran kebenaran merupakan mekanisme kepastian bahwa Allah benar-benar menurunkan kebenaran secara haq tidak berselisih satu kebenaran dengan kebenaran yang lain. Tidak ada makhluk yang bisa mengaku mengenal kebenaran sedangkan ia bertentangan dengan apa yang disampaikan Rasulullah SAW. Tidak ada makhluk yang bisa mengaku melakukan ketaatan kepada Allah dengan menyimpang dari tuntunan Rasulullah SAW. Semua pengakuan tentang sesuatu dari sisi Allah harus dapat dibuktikan dengan tuntunan yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. Kebenaran yang diturunkan Allah bersifat menunggal dan dapat ditemukan hanya pada diri Rasulullah SAW.
Ada orang-orang yang bisa mengalirkan kebenaran dari sisi Allah kepada semesta mereka, tetapi sebenarnya hanya bersifat perpanjangan dari Rasulullah SAW. Mereka bukan makhluk yang berdiri sendiri mengalirkan kebenaran dari sisi Allah, tetapi seluruhnya bersandar kepada Rasulullah SAW. Ada makhluk-makhluk yang bisa mengalirkan potongan kebenaran dari alam yang tinggi tanpa bersandar kepada Rasulullah SAW tetapi merupakan kebenaran palsu yang menipu manusia. Ini tidak menunjukkan bahwa orang yang mengenal kebenaran tanpa mengenal sebelumnya dari ajaran Rasulullah SAW selalu merupakan kebenaran palsu. Boleh jadi mereka sebenarnya mengikuti Rasulullah SAW tetapi belum sampai mengenal Rasulullah SAW. Hanya kebenaran yang tidak dapat dibuktikan keselarasannya dengan tuntunan Rasulullah SAW merupakan kebenaran palsu. Bisa jadi kebenaran palsu itu berupa kebenaran yang bercampur dengan kebathilan, atau boleh jadi berupa kebathilan yang dibungkus dengan keindahan.
Mentaati Ulul Amri
Orang yang mengalirkan kebenaran sebagai perpanjangan dari Rasulullah SAW adalah para ulul amr, yaitu orang-orang yang mengenal urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman mereka. Ketaatan seseorang kepada Allah harus terbentuk hingga ketaatan yang nyata berupa ketaatan kepada ulul amr, tidak sebatas pada bentuk yang dipandang sebagai ketaatan kepada Allah ataupun ketaatan kepada Rasulullah SAW. Ketaatan harus terbentuk pada wujud ketaatan yang nyata layaknya ketaatan seorang isteri kepada suami, bukan hanya bentuk ketaatan kepada sesuatu yang sebenarnya belum nyata bagi seseorang. Allah merupakan dzat yang Maha Wujud, dan Rasulullah SAW benar-benar merupakan pembawa kebenaran dari sisi Allah, akan tetapi boleh jadi Maha Wujud-Nya dan kedudukan Rasulullah SAW sebenarnya tidak benar-benar nyata dalam pandangan seseorang. Kadangkala orang demikian memandang dirinya mentaati Allah dan mentaati Rasulullah SAW ketika menentang ulul amri. Pandangan ketaatan demikian merupakan ketaatan yang tidak jelas kenyataannya. Ketaatan seseorang kepada Allah harus terbentuk hingga ketaatan yang nyata berupa ketaatan kepada ulul amr.
Arahan dari para ulul amri dapat dipandang sebagai petunjuk oleh pengikutnya, sebagai perpanjangan dari petunjuk Allah kepada mereka. Tentu saja ini hanya berlaku bagi orang-orang yang mengharapkan petunjuk Allah melalui kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka bisa berupaya memahami urusan Allah melalui tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan penjelasan dari ulul amri, maka penjelasan ulul amri itu menjadi perpanjangan dari petunjuk Allah. Umat hendaknya tidak berlebih-lebihan bersikap memandang terlalu tinggi ulul amri sebagai wakil Allah hingga melupakan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan tidak pula memandang lebih rendah dari kedudukan ulul amri sebagai pemimpin yang harus ditaati. Dengan cara demikian, perkataan dari ulul amri dapat dipandang sebagai petunjuk bagi umat untuk mengenal urusan Allah dengan tepat.
Seruan para ulul amri dilakukan berdasarkan pengetahuan terhadap urusan Allah yang diturunkan kepada diri sebagai bagian dari urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman mereka. Pada pokoknya, mereka menyeru urusan yang harus ia tunaikan bersama umatnya, dan pada umumnya mereka mempunyai pengetahuan secara terbatas terhadap urusan sahabat yang terkait dengan dirinya sesuai tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mungkin saja mereka tidak selalu menyampaikan urusan Allah, maka hendaknya setiap orang berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak ada ulul amri yang mempunyai keberanian menentang tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mungkin mereka berbuat dosa tetapi mempunyai rasa takut terhadap tuntunan Allah dan sunnah Rasulullah SAW tidak berani menentangnya. Ketaatan kepada Allah akan terwujud manakala umat mentaati ulul amri berdasarkan pengetahuan terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Banyak orang tidak mempunyai kepedulian terhadap kehendak Allah maka mereka tidak mengenali ulul amri yang ada di antara mereka. Manakala suatu umat tidak mengenal ulul amri, mereka akan terpimpin oleh orang-orang yang buruk, yang mungkin saja menyamar sebagai ulul amri. Tidak sedikit kaum yang terjajah oleh kekuasan kedzaliman tanpa mengetahui jalan keluar dari kedzaliman itu. Barangkali mereka mengubah-ubah sistem pemilihan pemimpin untuk mendapatkan pemimpin yang baik akan tetapi tetap saja pemimpin yang terpilih adalah orang-orang yang dzalim di antara mereka dan kehidupan berbangsa tetap dalam keadaan buruk. Hal demikian terjadi karena sebenarnya mereka tidak mempedulikan urusan Allah yang harus ditunaikan. Para ulul amri yang ada di antara mereka mungkin tersia-sia saja tidak dapat berbuat banyak menyeru umat untuk mempedulikan urusan Allah. Umat yang bisa mengenal ulul amri di antara mereka akan menjadi mulia karena sebenarnya mereka mempunyai kepedulian terhadap urusan Allah yang harus ditunaikan.
Para ulul amri itu adalah orang yang mengenal kedudukan diri dalam Al-Jamaah mengerjakan amal berdasar urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman mereka. Ulul amri bukan orang yang bekerja hanya pada urusan diri sendiri, akan tetapi bekerja untuk mewujudkan urusan Rasulullah SAW bersama ulul amri yang lain. Manakala seseorang dipandang sebagai ulul amri hanya bekerja untuk urusan diri sendiri, barangkali mereka belum benar-benar mengetahui urusan jamaah. Satu orang dengan ulul amri yang lain mempunyai pengetahuan hubungan urusan di antara mereka. Ulul amri yang mengerjakan urusan al-jamaah akan mempunyai pengetahuan tentang hubungan dirinya dengan ulul amri yang lain yang dekat dengan dirinya. Mungkin saja satu ulul amri belum mengenal ulul amri lainnya dalam bentuk manusianya, akan tetapi mempunyai pengetahuan tentang hubungan urusan yang harus terjalin di antara sahabat ulul amri, tidak bekerja untuk urusan sendiri secara acak.
Kedudukan para ulul amri membentuk suatu barisan bershaf-shaf dengan kedudukan yang berbeda-beda. Satu atau sekelompok orang mungkin berada pada shaf lebih tinggi dibanding yang lain dan yang lain mengikuti pemimpinnya. Setiap orang harus berusaha mengikuti pemimpinnya dengan sebaik-baiknya secara bersambung hingga Rasulullah SAW. Contoh hubungan demikian misalnya dalam hubungan imam agama hingga murid-murid seorang syaikh. Seorang pemimpin agama harus memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk urusannya. Mungkin ia terhubung langsung tanpa perantara kepada Rasulullah SAW dan tinggi kedudukannya, tetapi tetap ada bentuk ketaatan yang harus ia penuhi. Shaf berikutnya, para pembimbing tazkiyatun-nafs harus mentaati imam agama mewujudkan mandat yang disampaikan imam agamanya dengan memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ketaatan terhadap imam agama merupakan bentuk ketaatan terhadap ulul amr yang harus dipenuhi pembimbing tazkiyatun-nafs. Shaf berikutnya, para murid mengikuti arahan pembimbing tazkiyatun-nafs dengan memperhatikan arahan dari pemimpin agamanya dan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Hal demikian berlaku pada setiap bidang urusan yang diturunkan kepada ulul amr, tidak terbatas pada urusan tazkiyatun-nafs. Tidak ada seseorang yang terbebas dari tugas ketaatan. Penyimpangan dari hal demikian akan menyebabkan rusaknya ketaatan.
Hubungan demikian tidak menunjukkan kemuliaan, tetapi menunjukkan suatu hirarki kaum mukminin dalam mewujudkan urusan Allah. Kemuliaan setiap makhluk ditentukan dengan ketakwaan masing-masing. Hubungan hirarki demikian terbentuk karena jati diri yang dibawa setiap manusia dengan kapasitas menanggung amanah yang ditentukan Allah. Sekalipun seseorang berada dalam kedudukan sepenuhnya sebagai pengikut tanpa ada pengikutnya, mereka bisa saja benar-benar memberikan sumbangan yang bernilai sangat besar dengan ketakwaan. Para pemimpin mungkin memperoleh pemahaman yang besar, tetapi tidak mempunyai kemampuan untuk mewujudkan tanpa bantuan para pengikutnya. Dalam banyak kasus, terwujudnya kehendak Allah lebih banyak terlihat karena pengetahuan dari masyarakat umum yang ingin menyatukan diri dalam urusan Allah. Kualitas dari pewujudan kehendak Allah ditentukan oleh ketakwaan setiap pihak yang ingin berperan mewujudkan kehendak Allah.
Ulul Amr dan Menolong Allah
Para ulul amri menyeru umat untuk mengenal urusan Rasulullah SAW dan mungkin pula menyerukan pekerjaan yang perlu dibantu dari urusan dirinya. Membantu pelaksanaan urusan ulul amri merupakan bagian dari amal shalih yang mudah ditemukan oleh umat manusia. Bekerja membantu mewujudkan seruan ulul amri merupakan bentuk amal shalih, karena sebenarnya mereka juga membantu Rasulullah SAW mewujudkan kehendak Allah. Amal yang diperintahkan ulul amri hendaknya tidak dipandang atau disikapi hanya sebagai usaha coba-coba menemukan amal shalih. Misalnya bila ulul amri memerintahkan suatu upaya membuat radar yang dapat mendeteksi pesawat-pesawat siluman musuh, amal demikian dapat digolongkan sebagai mata yang mengawasi musuh islam, bagian dari tugas pasukan Rasulullah SAW yang diturunkan melalui ulul amr. Perintah ulul amri demikian muncul karena kebutuhan yang diketahui oleh ulul amri sebagai urusan Allah, bukan urusan yang dibuat-buat oleh ulul amri untuk kebutuhan hawa nafsunya. Seandainya seseorang mempunyai potensi untuk disumbangkan dalam mewujudkan hal demikian, upaya yang dilakukan untuk mewujudkan perintah itu merupakan suatu amal shalih.
Mungkin tidak semua orang memperoleh bagian dalam perintah Allah dari ulul amri tertentu karena barangkali urusannya yang sesungguhnya turun melalui ulul amri yang lain. Seandainya seseorang membantu ulul amri dalam urusan selain dalam urusan yang ditetapkan Allah tetapi dibutuhkan ulul amri, sebenarnya ulul amri telah meneguhkan dirinya untuk melaksanakan urusan Allah maka seseorang sebenarnya membantu urusan Allah. Mungkin bukan amal shalih dalam kategori perintah Allah, tetapi tetap saja ia membantu urusan Allah yang akan mengantarkannya kepada washilah yang tepat bagi dirinya. Ulul amri itu mungkin akan mengantarkan orang yang membantunya pada ulul amri dengan urusan yang paling tepat dengan keadaan orang yang membantu. Sebenarnya ada hubungan antara satu ulul amri terhadap ulul amri yang lain, dan mereka saling membantu terlaksananya urusan Allah yang diturunkan kepada mereka hingga terwujud kehendak Allah dengan kualitas terbaiknya. Manakala ada urusan Allah pada salah satu ulul amri yang terbengkalai, mungkin ulul amr yang lain sebenarnya tidak benar-benar memperhatikan urusan Allah yang harus ditunaikan, atau tidak benar-benar mengenal urusan Allah yang harus ditunaikan.
Tidak jarang suatu kaum merasa telah berusaha mentaati Allah tetapi sebenarnya dalam keadaan mensia-siakan kebenaran yang diserukan kepada mereka maka mereka tetap dalam keadaan yang buruk. Kebaikan dari sisi Allah akan mengalir kepada orang-orang yang peduli kepada urusan Allah, yaitu dengan memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW serta mentaati ulul amri. Orang yang memperhatikan ulul amri akan tetapi mengikutinya menentang tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebenarnya tidak memperhatikan urusan Allah. Pelaksanaan perintah Allah dan ketaatan kepada Rasulullah SAW tidak dapat dilakukan dengan menentang tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan dalih mentaati ulul amri. Memperhatikan perintah Allah hanya dapat dilakukan dengan memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ada orang yang tidak mengetahui urusan Allah dan menyeru manusia untuk urusan yang mereka lakukan, maka seruan mereka tidak menjadikan seseorang menjadi mengenal urusan Allah. Ulul amr adalah orang yang mengenal urusan Allah untuk mereka bersama umatnya.
Ketaatan kepada Allah dengan memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan mendatangkan kebaikan bagi alam semesta. Urusan Allah diturunkan melalui ulul amri dan umat dapat turut serta mewujudkan kehendak Allah bersama para ulul amri di antara mereka. Urusan yang merupakan kehendak Allah adalah urusan yang ditemukan perintahnya dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kesertaan dalam mewujudkan urusan itu menjadikan seseorang beramal shalih sesuai dengan kehendak Allah, dengan berusaha memahami tuntunan kitabullah dengan mengikuti arahan ulul amri. Hal demikian telah cukup untuk beramal shalih dan akan mendatangkan kebaikan yang banyak bagi kehidupan di bumi. Adapun orang yang mengetahui perintah Allah untuk dirinya selaras dengan kitabullah, hal itu merupakan keutamaan yang lebih baik. Hal itu benar apabila tidak berselisih dengan ulul amri. Adapun jika berselisih, seseorang hendaknya mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW setelah terbukti arahan ulil amri salah berdasarkan timbangan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, bukan berdasar pendapat sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar