Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Mengikuti langkah Rasulullah SAW membentuk akhlak al-karimah dilakukan dengan membina sifat rahman dan rahim di dalam diri. Sifat rahman adalah keinginan memberikan kebaikan berupa kebenaran dan secara khusus pengetahuan tentang kehendak Allah, sedangkan sifat rahim berupa keinginan untuk memberikan kebaikan secara umum terhadap semua makhluk. Kedua sifat itu adalah unsur utama membentuk akhlak al-karimah. Sifat-sifat tersebut harus diwujudkan oleh setiap orang yang ingin mengikuti langkah Rasulullah SAW disertai dengan adab yang baik. Akhlak mulia hanya terbentuk pada orang-orang yang membina sifat rahman dan rahim. Ada orang-orang munafik yang membina adab yang baik hingga mungkin mengagumkan tetapi tidak mempunyai keinginan membina sifat rahman dan rahim, maka sebenarnya tidak terbentuk akhlak al-karimah pada diri orang tersebut. Tuntunan pertama dalam kitabullah adalah ayat berikut :
﴾۱﴿بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (l-Fatihah : 1)
Ayat tersebut merupakan dasar tuntunan dalam pembinaan akhlak mulia mengikuti langkah Rasulullah SAW. Membina sifat rahman dan rahim merupakan syarat utama yang harus dipenuhi setiap hamba Allah untuk bertauhid. Tauhid dalam bentuk ini harus dipahami oleh setiap hamba Allah dengan baik. Dewasa ini, kebanyakan muslimin bertauhid hanya dengan membentuk imajinasi semu bertauhid, tidak mengetahui langkah yang benar-benar memperkuat langkah tauhid. Kebanyakan muslim dewasa ini bertauhid dengan membayangkan bahwa ia benar-benar melakukan amal-amalnya hanya untuk Allah, tidak mengetahui bahwa ibadah yang sebenarnya adalah amal yang diperbuat dengan landasan pengetahuan terhadap kehendak Allah. Seorang hamba yang benar adalah hamba yang mengerjakan apa yang ia ketahui diperintahkan oleh tuannya, bukan hamba yang mengerjakan amal-amal secara acak sembarangan dan membayangkan amal itu dilaksanakan untuk tuannya.
Tingginya Derajat Sifat Rahmaniah
Sifat rahmaniah merupakan akhlak tertinggi yang harus dibentuk oleh setiap hamba Allah. Kedudukan akhlak ini lebih tinggi dibandingkan dengan akhlak rahim, walaupun sebenarnya tidak ada sifat rahman tanpa sifat rahim karena keduanya merupakan kesatuan dari dua sifat yang harus ditumbuhkan oleh orang beriman. Sekalipun merupakan kesatuan, setiap orang harus mempunyai gambaran tentang lebih tingginya kedudukan sifat rahman. Banyak potensi kekacauan yang mungkin terjadi manakala umat manusia atau para hamba Allah tidak mempunyai gambaran tentang tingginya kedudukan sifat rahmaniah, sebagaimana kekacauan umat manusia manakala arah kehidupan manusia ditentukan oleh para perempuan.
Sebagai ilustrasi, seorang presiden negara adi daya berkoar-koar berkeinginan menegakkan perdamaian di dunia kemudian ia mengambil tindakan menyerang negara muslim yang hidup dalam kedamaian. Presiden adi daya itu sebenarnya hanya mengikuti pendapat sendiri tentang perdamaian dunia tidak mempunyai gambaran yang benar tentang perdamaian dunia. Ia tidak mempunyai landasan yang benar sedikitpun untuk menimbang perdamaian dunia yang seharusnya dibentuk, tidak mempertimbangkan cara pandang negara-negara lain termasuk negara yang diserang untuk menegakkan perdamaian dunia. Perdamaian dalam pandangan presiden negara adi daya itu hanyalah perdamaian yang mendukung kepentingan diri mereka sendiri beserta orang-orang yang mendukung mereka.
Pada kasus yang lain, ada sebagian muslimin yang berbantah-bantah dan berselisih dengan golongan muslimin lain hingga menggolongkan muslimin lainnya ahli bid’ah, ayat syaitan dan penggolongan buruk lainnya. Keduanya saling berbangga-bangga dengan dasar-dasar kebenaran yang mereka pilih sendiri tanpa berusaha untuk memahami kebaikan, dan tidak pula berusaha memahami kebenaran yang disampaikan pihak lainnya. Setiap pihak tidak berusaha memahami dengan tepat kerangka kebenaran yang mereka pilih berdasarkan pertimbangan kebaikan yang harus diwujudkan, hanya membanggakan kebenaran yang mereka susun, kemudian mereka menyerang pihak lainnya dengan kerangka kebenaran mereka sendiri.
Ada pula orang-orang beriman yang membina kasih sayang tetapi mengabaikan sifat rahmaniah. Mereka membangun sifat baik tetapi tanpa keinginan memahami dengan benar tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka tertutup memandang baik diri mereka sendiri. Sifat menyayangi itu mungkin terwujud hingga bentuk-bentuk menjaga umat dari kesesatan, akan tetapi mereka sendiri tidak berhati-hati dengan kesesatan. Kadangkala seseorang dipandang sesat dan dengan kasih sayang yang ada diseru untuk kembali kepada kebenaran sesuai dengan pikiran mereka. Kadangkala seorang telah menemukan bentuk perjuangan dirinya dari kitabullah diseru untuk kembali berjamaah sedangkan jamaah yang dimaksud tidak mewadahi bentuk perjuangannya, karena wadah yang mereka bentuk sebenarnya hanya berdasar waham tidak berdasar pemahaman tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kelompok mukminin yang seharusnya bisa berjalan beriring meninggikan kalimat Allah kemudian berselisih karena kurangnya keinginan memahami tuntunan. Bisa saja orang yang benar dipandang sesat dan (seolah) dipaksa untuk kembali, sedangkan orang yang diharapkan kembali pada kebenaran sama sekali tidak bisa memahami apa yang diserukan sahabatnya, tidak mengetahui apa yang sesat dalam dirinya. Mungkin saja orang-orang yang menyeru tidak dapat memberitahu apa yang salah dari orang-orang yang diseru, atau sebaliknya karena tertutupnya mereka oleh waham, tertutup dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW karena pandangan baik terhadap diri mereka sendiri. Kasus semacam ini akan mendatangkan kekacauan.
Keadaan demikian sebenarnya sangat buruk, menunjukkan bahwa manusia hanya mengikuti pendapat mereka sendiri. Dengan keadaan demikian, para hamba Allah tidak akan bisa melangkah mewujudkan kebaikan bagi kehidupan mereka berdasarkan tuntunan Allah. Mungkin setiap pihak di antara orang beriman ingin mewujudkan kebaikan, akan tetapi langkah untuk mewujudkan kebaikan saling berlawanan. Orang yang mengetahui langkah yang dituntun dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW mungkin akan terhalang dengan pencegahan orang-orang yang merasa diri mereka baik. Sebaliknya orang-orang yang merasa diri mereka baik sebenarnya tidak mempunyai pengetahuan tentang kehendak Allah berdasar tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka tertutup pikiran mereka sendiri. Kehidupan umat hamba Allah akan menjadi buruk karena keadaan demikian dan mungkin tidak mempunyai jalan keluar untuk mewujudkan tuntunan dari sisi Allah. Mewujudkan kebaikan dari sisi Allah hanya dapat dilakukan dengan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Seandainya setiap pihak kaum muslimin dan mukminin memahami kedudukan sifat rahmaniah dalam membina akhlak mulia, mereka akan mudah untuk menemukan langkah yang haru ditempuh, dan bahkan menemukan bentuk ibadah yang diperintahkan Allah hingga mereka bertauhid dengan sebenar-benarnya, tidak hanya beribadah hanya berdasarkan waham saja. Ibadah hanya dengan waham saja kadangkala mendatangkan keburukan. Kadangkala terjadi perselisihan yang tidak dapat diselesaikan di antara orang beriman. Perselisihan antara orang beriman harus diputuskan dengan merujuk pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak diputuskan dengan mengandalkan persangkaan diri sendiri. Tanpa sifat rahmaniah, perselisihan di antara orang beriman mungkin saja tidak memperoleh jalan penyelesaian.
Sifat rahman akan menumbuhkan persatuan hamba Allah. Bila terjadi perselisihan, keinginan baik satu pihak terhadap pihak lain saja kadangkala tidak membantu menyelesaikan perselisihan, kecuali dengan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Misalnya boleh jadi setiap pihak yang berselisih sebenarnya menginginkan kebaikan atas pihak lain, misalnya berupa kembalinya pihak yang lain pada kebenaran. Tetapi bisa jadi sebenarnya para pihak itu hanya bisa melihat kesalahan pihak lain tanpa kemampuan mengetahui kesesatan dalam dirinya. Perbaikan hanya bisa terjadi apabila seseorang mengetahui apa yang harus diperbaiki dari dirinya. Kemampuan mengetahui kesesatan dalam diri masing-masing orang beriman seringkali hanya diperoleh dengan sifat rahmaniah manakala memperoleh kabar dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, baik tuntunan itu diberitahukan sahabatnya ataupun ia mengetahui dengan sendirinya. Manakala yang diberitahu tidak mempunyai sifat rahmaniah, pemberitahuan demikian hanya akan sia-sia saja sedangkan setiap pihak merasa sebagai orang yang baik. Atau bila satu pihak hanya memberitahu pihak lain kesalahan atau kesesatannya tanpa menunjukkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang terkait, pemberitahuan itu bisa saja tidak dipahami orang beriman sahabatnya. Demikian gambaran pentingnya memahami tingginya kedudukan sifat rahman dibandingkan sifat baik yang lain termasuk sifat rahim.
Sifat rahmaniah akan memunculkan kemakmuran pada suatu kaum. Manakala suatu kaum tidak membina sifat rahmaniah, mereka tidak akan mengetahui sumber-sumber kemakmuran dan cara mengalirkannya. Upaya kaum yang tidak membina sifat rahmaniah seringkali terjebak dalam langkah di tempat, atau terjebak usaha yang berputar-putar saja dari satu masalah kepada masalah yang lain. Mereka menyangka bahwa perpindahan dari satu masalah mendatangkan keadaan yang lebih baik, tetapi sebenarnya tidak demikian, hanya memindahkan satu masalah kepada masalah yang lain. Manakala suatu kaum membina pengetahuan terhadap kehendak Allah, pengetahuan terhadap kehendak Allah itu akan memindahkan keadaan mereka menuju keadaan yang lebih baik. Suatu kaum akan mengetahui sumber kemakmuran dan cara mengalirkannya. Repotnya, seringkali kaum yang tidak membina sifat rahmaniah seringkali tidak menyadari masalahnya maka mereka terus terjebak dalam keadaan yang sama tanpa melangkah menuju perbaikan sedangkan mereka merasa sudah benar melangkahnya.
Membina Sifat Rahmaniah
Untuk pembinaan sifat rahmaniah, setiap hamba Allah harus dibina mengarah pada pembinaan misykat cahaya. Misykat cahaya merupakan gambaran tentang akhlak tertinggi berupa akhlak rahmaniah yang seharusnya dibentuk pada setiap diri orang beriman. Setiap orang beriman mempunyai potensi kemampuan menemukan gambaran tentang kehendak Allah dalam diri masing-masing, dibentuk dengan akhlak mulia berupa terbentuknya misykat cahaya diri.
﴾۵۳﴿ اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah misykat, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang penuh berkah, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QSAn-Nuur : 35)
Misykat cahaya dapat digambarkan layaknya suatu kamera yang berfungsi membentuk gambar dari objek yang dibidik. Terdapat badan kamera yang kedap cahaya dengan suatu lubang kecil yang dapat dibuka pada saat pengambilan gambar. Badan kamera itu adalah gambaran bagi misykat yang tidak tembus cahaya. Terdapat pula lensa yang mengarahkan cahaya membentuk bayangan dari objek yang dibidik. Lensa itu merupakan ibarat dari zujajah (bola kaca) yang terdapat dalam misykat cahaya. Pembinaan sifat rahman yang paling utama dilakukan dengan membentuk akhlak sebagai misykat cahaya.
Langkah awal membina misykat cahaya adalah tazkiyatun-nafs. Setelah melakukan tazkiyatun-nafs, seseorang akan mudah memahami kebenaran yang disampaikan kepada dirinya. Ia akan mudah memahami perkataan orang-orang yang menyampaikan kebenaran, dan memperoleh kemampuan mengenali kebathilan sekalipun kala muncul dalam diri sendiri dan ditampakkan dalam wujud yang baik. Kadangkala tanda itu disertai kemampuan merasakan hawa nafsu orang-orang yang memfasih-fasihkan diri atau mengenali kebathilan pada perkataan orang lain. Seandainya ada orang lain yang memfasihkan diri dengan kebenaran, ia dapat melihat kebenaran pada perkataan yang disampaikan, dan mensikapi hawa nafsu orang lain tersebut secara terpisah. Dalam tingkat lanjut, seharusnya setiap orang dapat mengenali kebathilan sekalipun keluar dari lisan orang yang pandai. Sikap demikian ini adalah sasaran yang harus dicapai setiap orang yang melakukan tazkiyatun-nafs. Seorang yang bertaubat harus membentuk kecerdasan mengenali dan menimbang kebenaran dan kebathilan dengan hatinya tidak boleh terjebak pada kebodohan dan faham sempit atau waham diri sendiri.
Setelah seseorang mencapai keadaan yang dibersihkan, ditandai dengan mudahnya memahami kebenaran, ia hendaknya menumbuhkan sifat rahman dan rahim dalam dirinya dengan memperhatikan keadaan kauniyah yang terjadi di lingkungan dirinya dengan landasan keinginan mulia dan membaca kauniyah itu sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bila seseorang hanya peduli tentang dirinya tidak memperhatikan keadaan lingkungannya, ia sebenarnya tidak mempedulikan ayat Allah. Membaca kitabullah saja tanpa suatu kepedulian terhadap keadaan kauniyah mungkin akan menumbuhkan kesombongan. Memperhatikan keadaan lingkungan saja tanpa memperhatikan tuntunan kitabullah tidak akan menjadikan seseorang bisa mengenal cahaya Allah. Kepedulian terhadap keadaan kauniyah selaras dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasullllah SAW akan menjadikan seseorang mengarahkan pandangan pada cahaya Allah. Tumbuhnya sifat rahman dan rahim akan menjadikan seseorang dapat mengatur fokus zujajah dirinya untuk membentuk bayangan dari cahaya Allah yang terpancar pada ayat kauniyah dan ayat kitabullah.
Tanpa kemampuan menimbang bobot nilai manfaat dan madlarat pada suatu pengetahuan, seseorang akan terkurung dalam waham atau menyimpang dari langkah yang benar. Ada orang-orang yang tidak memperoleh landasan berpijak untuk amalnya karena selalu meragukan pengetahuan kebenaran yang ada dalam dirinya. Ada pula orang-orang yang menyimpang karena meyakini kebenaran setiap pengetahuan yang sampai kepada dirinya tanpa menimbang pengetahuan itu dengan benar. Mungkin saja suatu kaum terkurung dalam suatu doktrin karena tidak mampu melihat manfaaat dari suatu pengetahuan kebenaran. Bisa saja kombinasi peristiwa itu terjadi secara bersamaan, seseorang tidak mempunyai pijakan pengetahuan yang kokoh dan meyakini kebenaran bisikan-bisikan yang sampai kepada diri mereka, hingga ia beramal tanpa pijakan dan meyakini kebenaran amal-amal yang buruk tetapi merasa sebagai hamba Allah yang paling benar. Sangat banyak keburukan yang dapat terjadi di masyarakat manakala manusia tidak mempunyai kemampuan menimbang bobot nilai manfaat dan madlarat pada pengetahuan yang diperoleh. Manakala mempunyai kemampuan menimbang, seseorang akan dapat memilih atau menentukan langkah yang paling besar nilai manfaatnya dan tidak tertimpa madlarat.
Membina diri sebagai misykat cahaya akan mengantarkan seorang hamba untuk memahami kehendak Allah atas diri mereka hingga mereka menjadi hamba Allah yang benar, hamba yang mengerjakan perintah Allah dengan pemahaman, bukan sekadar hamba yang berbuat secara acak dan sembarangan dan mengira perbuatannya dilakukan semata-mata bagi Allah. Berbuat baik untuk Allah tanpa memahami perintah Allah itu merupakan kebaikan bagi para penempuh tauhid awal, tetapi seharusnya hamba Allah tidak terhenti hanya pada langkah awal bertauhid. Setiap hamba Allah harus berusaha memahami kehendak Allah atas dirinya dengan membina diri sebagai misykat cahaya hingga ia menjadi hamba Allah yang sebenarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar