Pencarian

Jumat, 17 April 2026

Kokohnya Bangsa Dengan Akhlak Mulia

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan membentuk akhlak mulia sebagaimana kehendak Allah atas manusia agar manusia layak menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah. Akhlak mulia tidak terbatas pada pembinaan adab yang tampak pada fisik, tetapi juga terkait dengan kemuliaan konstruk diri manusia sebagai makhluk Allah. Kecerdasan dalam memahami ayat-ayat Allah dan beramal sesuai dengan pemahaman tersebut merupakan bagian dari tanda adanya akhlak mulia, sebagai tanda terbentuknya konstruk diri manusia yang dapat memahami kehendak Allah. Manakala seseorang lemah kemampuannya dalam memahami kehendak Allah, hal itu merupakan tanda lemahnya akhlak mulia dalam dirinya. Setiap hamba Allah hendaknya membina diri menjadi makhluk yang berakhlak mulia, di antara tandanya yaitu dapat memahami ayat-ayat Allah.

Dewasa ini, kemampuan umat Islam dalam memahami ayat-ayat Allah sebenarnya banyak melemah tidak sebagaimana ajaran Islam yang seharusnya. Kaum musyrikin turut serta menyebarkan Islam dengan ajaran-ajaran yang sebenarnya tidak memperkuat dan justru melemahkan akal umat Islam. Dengan ajaran-ajaran demikian itu, umat Islam justru berpecah-belah menjadi beberapa golongan dan setiap golongan berbangga dengan ajaran yang ada pada diri masing-masing, tidak berusaha untuk memahami tuntunan Islam sesuai dengan kehendak Allah. Selain itu, jalan yang diajarkan Rasulullah SAW untuk membentuk akhlak mulia juga menjadi kabur dari pandangan umat Islam.

﴾۱۳﴿ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ…...
﴾۲۳﴿مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
.. dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, (32) yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.( QS Ar-Ruum : 31-32)

Tanda pelemahan yang dapat dilihat misalnya pada lemahnya sendi-sendi kehidupan muslimin dalam mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tatanan ekonomi dan keuangan bangsa-bangsa muslim dewasa ini kebanyakan hanya mengadopsi tatanan ekonomi kaum musyrikin, tanpa menyadari betapa lemah daya tahan bangsa manakala mengikuti tatanan demikian. Demikian pula terjadi di sektor-sektor yang lain seperti geopolitik, pendidikan, agama, pengelolaan sumber daya alam, kesehatan dan lingkungan hidup, penataan sumber daya manusia dan lain-lain. Hanya sedikit bangsa yang kuat dalam memahami dan mengendalikan tatanan-tatanan demikian mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Dari satu sisi, pelemahan kaum muslimin terjadi karena pelemahan pembinaan akhlak mulia karena tercampurnya ajaran kaum musyrikin ke dalam ajaran Islam.

Pembinaan akhlak yang lemah menyebabkan banyak kelemahan dalam bernegara. Kepala negara harus menjilat pantat penguasa dunia untuk memperoleh dan mempertahankan kedudukannya. Sekian besar kekayaan tidak dapat dinikmati oleh bangsa karena harus dikorupsi untuk memperoleh dan mempertahankan kekuasaan. Hal itu tentunya akan menjalar pada bawahan-bawahannya. Sekian besar nilai korupsi dapat terjadi di suatu bangsa karena lemahnya pembinaan akhlak. Orang-orang yang ingin memperoleh kedudukan harus mengikuti langkah atasannya untuk korupsi. Para koruptor memperoleh jalan yang sangat luas memperoleh kedudukan untuk melakukan korupsi dengan dukungan secara struktural sedemikian setiap lapis jabatan ditekan untuk melakukan korupsi. Orang-orang yang baik tidak mengetahui jalan untuk mengentaskan bangsa dari budaya korupsi. Dengan budaya demikian, sulit untuk membentuk bangsa yang kuat dan beradab. Untuk menjadi bangsa yang kuat, pembinaan akhlak harus dilakukan dengan baik mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Beberapa Masalah Pembinaan

Kaum muslimin saat ini harus berjuang dengan sungguh-sungguh untuk memahami dan menerapkan sendi-sendi kehidupan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupan berbangsa. Telah tampak bagi setiap orang bahwa terjadi perubahan tatanan dunia melalui peperangan yang terjadi antara Islam yang diwakili Iran dengan persekutuan Amerika dan Israel yang merupakan wujud kekuatan musyrikin. Apabila kaum muslimin tidak menggunakan akalnya untuk memahami dan menerapkan tuntunan Islam dalam sendi-sendi berbangsa, perubahan itu akan menjadi proses yang sangat berat bagi muslimin. Beratnya perubahan itu akan menjadi hal sia-sia apabila muslimin tidak memahami tuntunan Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Sangat buruklah apabila perubahan itu tidak mengubah keadaan muslimin menjadi lebih baik.

Akan banyak halangan yang akan menghadang upaya kaum muslimin untuk memahami dan menerapkan tatanan mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, termasuk dari kaum muslimin sendiri terutama yang terafiliasi dengan kaum musyrikin. Sebenarnya telah ada upaya kaum muslimin untuk memahami tuntunan islam sesuai realitas jaman, dan betapa kerasnya celaan pembela musyrikin terhadap upaya demikian. Mereka hanya menjadi pencela dan mengaku sebagai kaum yang paling memahami tuntunan Islam. Terlepas bahwa barangkali upaya memahami tuntunan sesuai realitas jaman itu mungkin belum sepenuhnya dilakukan mengikuti tuntunan, celaan itu menunjukkan adanya tantangan untuk memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk jaman sekarang. Selain celaan-celaan dari kaum pencela, bukan tidak mungkin perumusan pemahaman tentang sendi kehidupan diganggu dengan rumusan-rumusan palsu yang diglorifikasi keislamannya, seperti pengajaran akidah yang dibuat oleh musyrikin dan diglorifikasi kebenarannya sebagai yang paling benar islamnya. Hampir pasti bahwa rumusan yang benar akan ditenggelamkan oleh syaitan dan musyrikin dengan rumusan-rumusan palsu yang diglorifikasi.

Umat islam harus berusaha benar-benar mengikuti kebenaran dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak terpengaruh oleh pendapat-pendapat yang mengagungkan rumusan-rumusan yang menyimpang. Kadangkala penenggelaman rumusan yang benar dilakukan dengan sedikit kebenaran yang dibangga-banggakan hingga potongan kebenaran itu tampak sebagai kebenaran yang megah tetapi tidak sepenuhnya selaras dengan tuntunan kitabullah. Tentu saja tidak ditemukan kesalahan karena wujudnya berupa potongan kebenaran, yang ditampakkan megah. Dengan tampak megahnya potongan kebenaran itu, orang tidak melihat kebenaran yang utuh mengikuti tuntunan kitabullah hingga kebenaran utuhnya terlupakan. Hal demikian dapat dihindari apabila umat berusaha mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Apabila umat berusaha mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, kesalahan-kesalahan rumusan dapat lebih mudah diperbaiki hingga umat tidak terus terjebak dalam keindahan yang salah ataupun potongan kebenaran.

Pembinaan Akhlak dengan Tauhid

Untuk pembinaan yang benar, akhlak yang harus dibina oleh kaum mukminin harus mengarah pada pembinaan misykat cahaya. Misykat cahaya merupakan gambaran tentang akhlak tertinggi berupa akhlak rahmaniah yang seharusnya dibentuk pada setiap diri orang beriman. Secara singkat akhlak rahmaniah dapat dikatakan sebagai kegemaran untuk memberi kebaikan berupa memberitakan tentang kehendak Allah melalui tuntunan kitabullah Alquran. Setiap orang beriman mempunyai potensi dapat menemukan gambaran tentang kehendak Allah dalam diri masing-masing. Gambaran kehendak itu dibentuk dari cahaya Allah dengan akhlak mulia tertentu. Gambaran tentang kehendak Allah itu dapat dibentuk dengan berusaha membina misykat cahaya diri. Penjelasan dari orang yang membina diri sebagai misykat cahaya itu adalah mitsal bagi cahaya Allah, bukan mitsal bagi Allah. Metode pembinaan demikian merupakan pembinaan tauhid yang diajarkan Rasulullah SAW.

﴾۵۳﴿ اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah misykat, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang penuh berkah, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QSAn-Nuur : 35)

Misykat cahaya dapat digambarkan layaknya suatu kamera. Kamera berfungsi membentuk cahaya dari objek yang dibidik menjadi suatu bayangan gambar. Terdapat badan kamera yang kedap cahaya dengan suatu lubang kecil yang dapat dibuka pada saat pengambilan gambar. Badan kamera itu adalah gambaran bagi misykat yang tidak tembus cahaya. Terdapat pula lensa yang mengarahkan cahaya membentuk bayangan dari objek yang dibidik. Lensa itu merupakan ibarat dari zujajah (bola kaca) yang terdapat dalam misykat cahaya.

Pembinaan pemahaman terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang paling utama harus dilakukan dengan membentuk akhlak sebagai misykat cahaya. Dewasa ini, kaidah tentang keilmuan kitabullah Alquran banyak bergeser dari basis akhlak kepada basis hafalan. Sebagian muslim berusaha untuk memperoleh ilmu dari kitabullah Alquran akan tetapi melupakan proses pembinaan misykat cahaya sedemikian ilmu mereka hanya merupakan suatu hafalan. Ilmu demikian ini akan bermanfaat untuk menjaga seorang muslim tergelincir ke neraka, tetapi tidak bisa membangun pemahaman terhadap kehendak Allah secara utuh dan mutakhir. Seseorang tidak dapat membaca secara tepat ayat Allah pada kauniyahnya selaras dengan tuntunan kitabullah.

Setiap orang mempunyai khazanah pengetahuan yang sangat luas yang dapat ditemukan manakala masing-masing membina diri sebagai misykat cahaya. Pengetahuan yang bersumber dari kitabullah demikian akan mendatangkan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan di bumi. Manfaat demikian akan semakin besar nilainya apabila terbentuk kebersamaan dalam menunaikan kehendak Allah. Sebenarnya khazanah pengetahuan satu orang dengan orang lain itu saling terkait dan berjalin hingga lebih sempurna memanifestasikan kehendak Allah. Kadangkala seseorang yang mengenal diri dipandang tidak berguna di antara masyaraka. Manakala hanya sendirian, manfaat itu seringkali tidak disadari oleh umat. Seorang nabi akan menjadi orang paling besar manfaatnya di antara orang beriman, akan tetapi barangkali menjadi seseorang yang dipandang paling tidak berguna di antara orang-orang kafir.

Pembinaan misykat cahaya pada umat tidak boleh menyimpang dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Dampak dari penyimpangan dari pembinaan misykat cahaya akan mendatangkan madlarat yang sangat besar. Mungkin saja terjadi proses yang berkebalikan dari apa yang menjadi tujuan, misalnya terjadinya pembodohan atau pemiskinan umat. Madlarat yang terjadi dengan penyimpangan ini bisa sangat besar dampaknya bagi umat. Bagi Rasulullah SAW, menyimpangnya seorang yang alim lebih beliau SAW takutkan daripada kerusakan yang ditimbulkan oleh Dajjal. Kerusakan karena tergelincirnya seorang alim akan menjadi beban berat umat. Dajjal mungkin akan menyesatkan orang-orang yang lemah imannya, tetapi tergelincirnya seorang alim akan bisa menyeret jamaah orang beriman hingga orang-orang terbaik yang mempunyai tanggung jawab keumatan.

Setiap orang beriman hendaknya berusaha memperhatikan ayat Allah pada kauniyah berdasarkan petunjuk ayat kitabullah. Ayat kauniyah dan ayat kitabullah itu merupakan cahaya Allah yang terpancar bagi makhluk. Keselarasan dua ayat Allah ini akan diperoleh oleh orang-orang yang telah mensucikan diri (menempuh tazkiyatun-nafs) hingga Allah membersihkan hatinya. Manakala seseorang belum mampu menyelaraskan pemahaman terhadap kedua ayat tersebut, ia sebenarnya belum cukup dibersihkan. Ia tidak boleh berpegang erat pada pemikirannya sendiri, dan hendaknya menemukan dan mengikuti guru yang dapat menuntun tazkiyatun-nafs. Pengetahuan tentang ayat kitabullah yang dapat dipahami hendaknya tidak dilepaskan, dan pengetahuan kauniyah hendaknya dipahami dengan sebaik-baiknya dengan penalaran yang benar tanpa memaksakan penggunaan suatu ayat kitabullah yang terkait ataupun memperselisihkannya. Tugasnya saat itu adalah melakukan proses tazkiyatun-nafs hingga Allah membersihkan dirinya, bukan menyentuh ayat-ayat kitabullah. Boleh jadi kesadaran dirinya sebenarnya masih cenderung menimbulkan kerusakan, dan itu harus disadari dengan memohon ampun atas dosa-dosanya hingga Allah menumbuhkan kesadaran yang mengarah pada kebaikan. Kesadaran yang mengarah pada keburukan itu dapat menimbulkan kerusakan pada pemahaman terhadap kitabullah.

Setelah melakukan tazkiyatun-nafs, seseorang akan mudah memahami kebenaran yang disampaikan kepada dirinya. Ia akan mudah memahami perkataan orang-orang yang tulus menyampaikan kebenaran, dan kadang disertai kemampuan merasakan orang-orang yang memfasih-fasihkan diri. Ini harus terjadi pada setiap orang yang melakukan tazkiyatun-nafs, tidak boleh terjebak pada faham sempit kelompok sendiri. Seandainya ada orang lain yang memfasihkan diri dengan kebenaran, ia dapat melihat kebenaran pada perkataan yang disampaikan, dan mensikapi hawa nafsu orang lain tersebut secara terpisah. Ia tidak menyalahkan kebenarannya walaupun mungkin tidak mau bersama atau mengikutinya. Dalam tingkat lanjut, seharusnya setiap orang harus dapat mengenali kebathilan dari lisan orang yang pandai.

Setelah seseorang mencapai keadaan yang dibersihkan, ditandai mudah memahami kebenaran, ia hendaknya menumbuhkan sifat rahman dan rahim dalam dirinya dengan memperhatikan keadaan kauniyah yang terjadi di lingkungan dirinya dan berusaha membaca kauniyah itu sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bila seseorang hanya peduli tentang dirinya tidak memperhatikan keadaan lingkungannya, ia sebenarnya tidak mempedulikan ayat Allah. Membaca kitabullah tanpa suatu kepedulian terhadap keadaan lingkungan akan mudah menumbuhkan kesombongan. Memperhatikan keadaan lingkungan saja tanpa memperhatikan tuntunan kitabullah tidak akan menjadikan seseorang bisa mengenal cahaya Allah. Sifat rahman dan rahim itu akan menjadikan seseorang dapat mengatur fokus zujajah dirinya untuk membentuk bayangan dari cahaya Allah dengan benar.

Kepedulian seseorang terhadap ayat-ayat Allah akan menumbuhkan pengetahuan berdasarkan cahaya Allah. Terbentuk bayangan dari cahaya Allah dalam dirinya yang menjadikan dirinya memahami ayat-ayat Allah. Dengan terus memperhatikan ketajaman dari bayangan yang terbentuk, seseorang akan semakin mengenal kehendak Allah yang harus ditunaikan. Ia akan dapat melangkah mendekat pada jati diri penciptaannya dengan beramal shalih sesuai dengan bayangan cahaya Allah yang terbentuk. Pada titik tertentu, Allah akan membukakan kepada dirinya pengetahuan tentang penciptaan dirinya hingga ia mengenal untuk apa dirinya diciptakan dan mengenal shirat al-mustaqim yang harus ditempuh dalam kehidupan dirinya.

Kaum muslimin saat ini harus berjuang dengan sungguh-sungguh untuk memahami dan menerapkan sendi-sendi kehidupan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupan berbangsa dengan membina misykat cahaya. Tanpa pembinaan misykat cahaya, sendi-sendi kehidupan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebenarnya hanya suatu pemahaman yang rapuh tidak benar-benar terbentuk pemahaman. Pemahaman yang kokoh terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hanya dapat dibentuk dengan pembinaan misykat cahaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar