Pencarian

Selasa, 14 April 2026

Imam dan Pelaksanaan Urusan Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Rasulullah SAW adalah tauladan yang tertinggi bagi semesta alam, sebagai makhluk yang diberi kemampuan mengenal tajalliat Allah di ufuk yang tertinggi. Selain tauladan Rasulullah SAW, Allah juga menurunkan tauladan itu agar umat manusia merasa mudah untuk mengikuti langkah-langkah yang ditempuh. Nabi Musa a.s merupakan pemimpin yang menyeru untuk berhijrah menuju tempat yang dijanjikan bagi setiap manusia. Orang-orang yang berhasil mengikuti langkah nabi Musa a.s sebagian akan menjadi pemimpin-pemimpin yang bisa memberikan petunjuk kepada umat manusia.

﴾۴۲﴿وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami (QS As-Sajdah : 24)

Keberhasilan seseorang dalam mengikuti langkah nabi Musa a.s ditunjukkan dengan pengenalan diri untuk apa dirinya diciptakan. Mengenal untuk apa diri diciptakan adalah sampainya seseorang pada tanah yang dijanjikan. Ia akan mengenal tempat tinggal untuk melaksanakan amal-amal yang ditentukan Allah bagi dirinya. Manakala seseorang mengenal dirinya, ia akan mempunyai pengetahuan yang sangat luas terkait dengan urusan-urusan dirinya, dan dengan pengetahuan itu ia dapat memberikan petunjuk kepada orang lain urusan-urusan Allah yang terhampar di alam kauniyah mereka.

Luasnya pengetahuan itu terjadi melalui suatu keterbukaan (al-fath). Seseorang akan secara tiba-tiba mengetahui keadaan kauniyah dirinya secara luas sesuai dalam penjelasan kitabullah dan mengetahui amal-amal yang dapat dilakukannya sebagai penebus dosa-dosa dirinya yang telah lalu dan yang akan datang, mengenal nikmat Allah bagi dirinya dan memperoleh petunjuk tentang shirat al-mustaqim. Mereka akan melihat ayat-ayat Allah dalam kehidupan mereka. Pengenalan diri bukan terjadi melalui usaha pengumpulan fragmen-fragmen pengetahuan, tetapi melalui karunia Allah berupa suatu pembukaan pengetahuan. Usaha mengumpulkan pengetahuan akan mengarahkan diri seseorang untuk memperoleh karunia keterbukaan, tetapi karunia keterbukaan itu bukan ilmu yang dikumpulkan seseorang dengan usahanya.

Orang yang mengenal dirinya akan mempunyai keyakinan terhadap ayat-ayat Allah tanpa suatu keraguan. Keyakinan itu berlandaskan pada pengetahuan dari karunia keterbukaan, bukan suatu keyakinan yang dibuat-buat. Keyakinan mereka itu terbentuk tanpa ada kebenaran yang harus diabaikan baik dari ayat kauniyah maupun ayat kitabullah. Mungkin keyakinan itu berbeda dengan persepsi masyarakat kebanyakan, akan tetapi hakikat dari ayat Allah sebenarnya lebih diketahui oleh orang yang mengenal diri. Mungkin ia belum mengetahui suatu kebenaran tertentu di balik suatu ayat Allah karena tidak terbuka kepada dirinya, akan tetapi apa yang belum dia ketahui itu tidak bertentangan dengan keyakinan dalam dirinya. Mungkin pula apa yang disampaikan kepada orang lain tidak sepenuhnya berdasar keterbukaan yang dikaruniakan sedemikian tidak semua yang disampaikan dalam kualitas hakikat, tetapi ia mempunyai pengetahuan hakikat terkait ayat-ayat Allah yang menjadi landasan keyakinannya. Hal itu tidak menjadikan status keyakinannya hanya dibuat-buat, tetapi hanya menunjukkan batasan keterbukaan kepada dirinya. Keyakinan yang dibuat-buat mungkin harus disusun dengan mengabaikan atau bahkan menentang adanya suatu kebenaran pada suatu peristiwa kauniyah ataupun pada suatu ayat Allah tertentu.

Memperhatikan Urusan Allah Bersama Pemimpin

Dengan keyakinan demikian, orang-orang yang berhasil mengikuti langkah nabi Musa a.s berhijrah ke tanah yang dijanjikan akan layak dijadikan pemimpin. Mereka mempunyai pengetahuan-pengetahuan untuk menunjukkan umat mereka pada urusan-urusan Allah yang perlu dikerjakan. Ada syarat-syarat lain yang membatasi hingga tidak semua orang mengenal diri dijadikan pemimpin bagi umatnya, akan tetapi sebenarnya mereka telah mempunyai pengetahuan-pengetahuan terkait ayat-ayat Allah sebagai bekal memimpin. Pengetahuan terkait ayat-ayat Allah inilah bekal utama yang menjadikan mereka layak untuk dijadikan pemimpin yang dapat menunjukkan umatnya kepada urusan Allah.

Orang yang mengenal diri dan dijadikan Allah sebagai pemimpin bertugas menunjukkan umatnya pada urusan-urusan Allah yang perlu dikerjakan. Urusan-urusan Allah yang perlu dikerjakan itu benar-benar berurusan dengan ayat kauniyah yang terjadi terkait dengan suatu hakikat tertentu, bukan urusan-urusan yang dibuat agar manusia menjadi sibuk tanpa mengenal hakikat yang terjadi atau urusan mengejar fatamorgana. Mungkin mereka menunjukkan ayat kitabullah saja kepada umatnya agar umatnya memikirkan apa yang perlu diperbuat, atau mungkin mereka menunjukkan pembacaan kauniyah berdasar kitabullah agar umat dapat merumuskan langkah yang perlu dilakukan secara berjamaah, dan mungkin banyak cara lain yang bisa mereka pakai untuk memperkenalkan umatnya terhadap urusan Allah yang perlu dikerjakan. Yang lebih penting bagi mereka adalah agar umatnya menyadari urusan Allah yang harus dikerjakan, bukan hanya peduli urusan diri sendiri, atau agar umatnya tidak mengerjakan sesuatu tanpa mengenal urusan Allah.

Tugas pemimpin adalah menunjukkan urusan Allah yang perlu dikerjakan, sedangkan mengenali amal-amal yang perlu dikerjakan adalah tugas bagi setiap orang yang diarahkan. Seorang pemimpin hendaknya memberitahukan kepada umat agar umat mengetahui arah, dalam batas yang ia ketahui merupakan kebaikan dalam urusan Allah. Pemimpin tidak perlu mendiktekan amal-amal hingga urusan yang terlalu terperinci karena mungkin akan menutup potensi sumbangan karya terbaik dari umatnya. Umat hendaknya dapat merumuskan amal yang perlu dia kerjakan dengan kemampuan yang terbaik dari diri mereka selaras dengan arahan dari pemimpinnya.

Orang yang mengenal diri pada dasarnya mempunyai pengetahuan tentang urusan-urusan yang merupakan tanggung jawab dirinya. Urusan-urusan itu bisa diketahui dalam bentuk terperinci dengan batas-batas tertentu yang terkait dengan urusan-urusan sesama mukmin yang lain. Misalnya boleh jadi ia mengetahui urusan dirinya dan hubungan urusannya dengan tujuh orang sahabatnya atau sejumlah sahabat yang lain secara khusus. Hal demikian itu merupakan contoh sifat pengetahuan tentang urusan yang harus ditunaikan. Manakala seseorang hanya mengetahui urusannya tanpa mengetahui batas-batasnya, pengetahuan urusan itu sebenarnya masih bersifat samar. Jelasnya urusan yang harus ditunaikan seseorang itu sebenarnya ditunjukkan dengan jelasnya kedudukan dirinya dalam jalinan Al-Jamaah yang menunaikan urusan Rasulullah SAW, bukan pengetahuan yang bersifat berdiri sendiri secara bebas. Kebaikan dalam urusan Allah akan diketahui dengan mengetahui batas-batas urusan Allah yang harus ia tunaikan.

Umat hendaknya berusaha mengenali urusan Allah yang harus ditunaikan bersama dengan pemimpinnya, yaitu dengan cara memastikan bahwa urusan yang mereka kerjakan benar-benar merupakan urusan yang diperintahkan dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ia hendaknya mengenali pokok dari perintahnya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan mengenali kandungan dari pokok perintah itu yang disampaikan oleh pemimpinnya, kemudian ia menggunakan pikiran dan akalnya untuk mewujudkan amal berdasarkan pemahaman yang dilakukannya. Mereka bisa bersama-sama dengan orang yang lain memahami dan memikirkan arahan yang mereka terima untuk diwujudkan dengan lebih baik.

Di antara masalah umat dewasa ini adalah terbengkalainya urusan dari sisi Allah, sedangkan umat islam sibuk mengerjakan urusan tanpa mengetahui urusan Allah, atau mengerjakan urusan tanpa mengenali secara menyeluruh urusannya sebagai bagian dari Al-jamaah. Banyak umat islam tidak mengenal pemimpin yang menghubungkan mereka terhadap urusan Allah. Sebagian orang mungkin berusaha mengenali urusan Allah akan tetapi tidak dilakukan dengan seksama dengan mengenal urusan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sebagian memilih pemimpin hanya berdasarkan hawa nafsu dan sedikit harta yang diberikan. Ini sangat menyedihkan. Urusan Allah tidak akan terlaksana oleh umat manakala mereka mengabaikan pemimpin yang ditentukan Allah.

Ada beberapa contoh terabaikannya urusan Allah. Di tingkat bangsa, ketika kaum musyrikin berperang dengan muslimin, pemimpin negara muslim justru membela musyrikin menyediakan keamanan dan sarana penyerangan. Ini menunjukkan terbengkalainya urusan dari sisi Allah karena kurang memperhatikan pemimpin. Umat tidak mengetahui urusan yang harus ditunaikan dari sisi Allah karena kurang memperhatikan pemimpin. Di tingkat rumah tangga, pembinaan rumah tangga muslimin tampak tidak dibina dengan benar. Ini merupakan bentuk pengabaian urusan Allah tentang kepemimpinan dalam tingkat fundamental. Rumah tangga merupakan media inti bagi setiap orang untuk membangun visi pemimpin dan kepemimpinan, sedemikian suatu bangsa akan dapat bersatu secara terpimpin bila umat terdidik. Banyak rumah tangga muslimin yang berantakan karena kurangnya pembinaan, atau keliru dalam pembinaannya. Pasangan-pasangan yang berusaha keras membina rumah tangga mengikuti tuntunan agama justru dihalangi atau bahkan dibiarkan menjadi sasaran perusakan rumah tangga hingga tidak dapat mewujudkan rumah tangga yang baik. Hal seperti ini tidak boleh terjadi, karena rumah tangga merupakan setengah bagian agama dan inti dari pembinaan bangsa. Pemimpin harus menyusun landasan pembinaan rumah tangga berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tanpa pembinaan rumah tangga yang benar, suatu bangsa akan menjadi bangsa yang rapuh tidak mengetahui tatanan berbangsa dan bernegara.

Pemimpin dan Petunjuk

Para pemimpin dalam kategori mengenal diri dapat memberikan petunjuk sebagai perpanjangan petunjuk Allah kepada manusia. Arahan dari para pemimpin demikian dapat dihitung sebagai petunjuk oleh orang-orang yang ingin mendapatkan petunjuk, selama mereka mengetahui bahwa arahan itu merupakan bagian dari kandungan ayat Allah. Manakala seseorang atau umat tidak mengetahuinya, arahan itu belum bersifat petunjuk bagi mereka. Mereka boleh dan diperintahkan berpegang pada arahan pemimpin demikian dan mengikutinya agar kemudian bisa memahami petunjuk akan tetapi harus disadari bahwa mereka belum memperoleh petunjuk melalui arahan itu. Arahan itu menjadi petunjuk manakala seseorang memahami bahwa itu bagian dari kandungan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala mereka melihat pertentangan suatu arahan pemimpin dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, arahan itu tidak boleh dipandang sebagai petunjuk dan tidak boleh diikuti sekalipun dengan berharap untuk mendapat petunjuk.

Banyak ragam sikap orang terhadap petunjuk melalui pemimpin yang sebenarnya. Orang yang paling memperoleh manfaat dari arahan pemimpin demikian adalah orang-orang yang menginginkan petunjuk dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka akan melihat penjelasan kandungan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam arahan itu sedemikian arahan itu menjadi petunjuk yang jelas bagi kehidupan mereka. Banyak manusia tidak memperoleh manfaat dari arahan karena waham yang terbentuk dalam diri mereka. Seringkali perkataan-perkataan yang tidak jelas kedudukannya dari kitabullah dianggap sebagai petunjuk oleh orang-orang yang mengikuti waham. Ada orang-orang yang tidak memperoleh manfaat karena kurangnya keinginan untuk memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sekalipun arahan yang mereka dengar benar-benar merupakan bagian dari penjelasan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka tidak mampu melihat kebenaran dalam penjelasan itu. Karena itu, arahan itu tidak bisa menjadi petunjuk bagi mereka. Tidak sedikit pula orang yang bisa memahami kebenaran dalam suatu arahan sebagai bagian kandungan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, akan tetapi pengetahuan itu tidak diikutinya maka itu tidak menjadi petunjuk baginya, hanya menjadi pengetahuan saja. Akhlak mereka menjadikan tidak membutuhkan pelaksanaan amanah kitabullah itu.

Keterbukaan petunjuk atas diri seseorang hanya terjadi atas ijin Allah. Tidak ada usaha orang lain yang dapat membuka hati seseorang untuk menerima petunjuk, tetapi seseorang dapat berharap kepada Allah untuk mendapatkan petunjuk dengan menata hati untuk menghamba kepada Allah dengan benar. Manakala seseorang menginginkan memperoleh petunjuk dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka mungkin akan diijinkan Allah untuk memahami petunjuk. Tanpa keinginan demikian, tidak ada upaya orang lain yang bisa membukakan petunjuk. Lebih mudah bagi nabi Isa a.s untuk membangkitkan orang mati badannya dengan ijin Allah, tetapi beliau a.s merasa sangat berat untuk menjadikan cerdas orang-orang yang bersikap bodoh. Bodoh dalam hal ini adalah mengikuti pendapat diri sendiri saja. Untuk memperoleh petunjuk dari manusia, seseorang harus berharap kepada Allah untuk memberikan petunjuk, dan berpegang kepada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai wasilah petunjuk yang tidak pernah salah, dan memperhatikan perkataan imam yang memberikan petunjuk agar ia memahami petunjuk yang diberikan.

Inti dari kepemimpinan dalam agama adalah menunjukkan umat kepada urusan Allah. Kemampuan mempengaruhi atau menggerakkan umat untuk melakukan hal-hal yang ditentukan merupakan bagian lain dari kepemimpinan dalam agama sedangkan keterampilan utamanya adalah menunjukkan umat kepada urusan Allah. Keberhasilan mewujudkan kehendak Allah ditentukan oleh kebersamaan umat dalam mewujudkannya setelah memahaminya, bukan hasil dari satu orang saja. Dalam realita terkait kebersamaan, rumah tangga yang baik akan menentukan keberhasilan seorang pemimpin dalam melaksanakan tugasnya. Sekalipun sama-sama beramal menunaikan urusan Allah, seseorang akan lebih berhasil melaksanakannya manakala rumah tangganya lebih baik. Keberhasilan pelaksanaan itu bukan kriteria utama untuk diangkat sebagai pemimpin, tetapi setiap orang harus berusaha membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Allah menjadikan sebagian dari orang-orang yang mengenal diri sebagai pemimpin bagi umat manusia, yaitu orang yang sabar di antara orang-orang yang mengenal diri. Kriteria sabar lebih dipentingkan dalam agama dibandingkan kemampuan bersikap tegas dan disiplin. Bukan berarti ketegasan dan disiplin tidak dibutuhkan, akan tetapi sifat sabar lebih diperhatikan dalam menentukan kepemimpinan.

Kepemimpinan dalam agama terbentuk melalui kehendak Allah yang mengangkatnya dari orang-orang yang telah mengenal diri berhijrah ke tanah yang dijanjikan. Ada perbedaan kedudukan dari setiap imam yang ditentukan, dan masing-masing mengenal kedudukan dirinya dalam jalinan Al-jamaah, mengenal sahabat yang dekat dalam jalinan itu dan setidaknya mengenal Rasulullah SAW sebagai pemimpin tertinggi. Banyak orang yang terobsesi dengan kepemimpinan. Seorang Donald Trump mengilustrasikan diri dalam pakaian merah putih. Hal itu sama sekali tidak pantas dan tidak menjadikannya seorang pemimpin yang layak. Sang Merah Putih adalah pemimpin yang merupakan kekayaan simpanan milik Rasulullah SAW, dan sangat tidak pantas Donald Trump mengilustrasikan diri dalam citra demikian. Mungkin saja ada orang-orang yang terobsesi dengan kepemimpinan layaknya Donald Trump dalam bentuk yang lebih halus. Kaum mukminin yang sesungguhnya akan mengenal kedudukan Sang Merah Putih dalam jalinan Al-Jamaah, selain kedudukan dirinya sendiri dalam Al-Jamaah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar